• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN LANJUT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN LANJUT"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

PENELITIAN LANJUT

PERTUMBUHAN DAN KETIMPANGAN PEMBANGUNAN

EKONOMI ANTAR KABUPATEN DAN KOTA

DI PROVINSI JAWA BARAT

Oleh :

Drs. Suhartono, M.Si Ir. Tri Kurniawati R, M.Si

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS TERBUKA

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

(3)

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Dr. Etty Puji Lestari

NIP : 19740416 2002 12 2 001

Jabatan : Lektor Kepala

Telah menelaah laporan penelitian dengan judul: "Pertumbuhan dan Ketimpangan Pembangunan Ekonomi Antar Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Barat"

Peneliti : Drs. Suhartono, M.Si (Ketua)

Ir. Tri Kurniawati R., M.Si (Anggota)

Menyatakan bahwa laporan tersebut layak diterima sebagai laporan penelitian.

Demikianlah pernyataan ini dibuat untuk dapat dipergunakan seperlunya.

Tangerang Selatan, Desember 2014 Penelaah

Dr. Etty Puji Lestari

(4)

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

BAB III METODE PENELITIAN ... 23

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 25

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 37

DAFTAR PUSTAKA ... 39

(5)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jawa Barat atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut Lapangan Usaha

Tahun 2008-2010 ... 3 Tabel 1.2. PDRB Propinsi Jawa Barat atas Dasar Harga Berlaku ... 4 Tabel 4.1. Jumlah Penduduk Jawa Barat menurut Kabupaten/Kota dan

Jenis Kelamin ... 26 Tabel 4.2. Struktur Ekonomi Jawa Barat Menurut Lapangan Usaha

Atas Dasar Harga Berlaku 2000 Distribusi PDRW Propinsi Jawa Barat Tahun 2011-2012 (dalam persen) ... 28 Tabel 4.3. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Barat Menurut

Kelompok Sektor/Sektor Tahun 2011-2012 ... 29 Tabel 4.4. Klasifikasi Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat

menurut Tipologi Klassen ... 31 Tabel 4.5. Indeks Williamson di Provinsi Jawa Barat ... 33 Tabel 4.6. PDRB Perkapita Harga Konstan 2000 Kabupaten/Kota di

Provinsi Jawa Barat 2003-2012 (Jutaan Rupiah) ... 34 Tabel 4.7 Pertumbuhan Ekonomi dan Indeks Williamson ... 35

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Kerangka Pemikiran Pertumbuhan dan Ketimpangan Pembangunan Ekonomi antar Kabupaten dan Kota di

Provinsi Jawa Barat. ... 8

Gambar 2.1. Kurva “U” Terbalik (Hipotesa Kuznets) ... 15

Gambar 2.2. Kurva Kemungkinan Produksi ... 17

Gambar 2.3. Kurva Lorenz ... 21

Gambar 4.1. Kurve hubungan antara Indeks Williamson dengan Pertumbuhan PDRB Propinsi Jawa Barat Periode 2003-2012 ... 36

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Produk Domestik Regional PDRB Jawa Barat atas dasar harga

konstan 2000 menurut kabupaten/kota ... 41 2. Pertumbuhan PDRB Harga Konstan 2000 Kabupaten/Kota di

Provinsi Jawa Barat 2002-2011 (%) ... 51 3. Rata-rata PDRB dan Pertumbuhan PDRB Perkapita Kabupaten/

Kota di Provinsi Jawa Barat 2002-2011 ... 52 4. Klasifikasi Wilayah Menurut Tipologi Klassen ... 53 5. Hasil Perhitungan Indeks Williamson Kabupaten/Kota di Jawa

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Tujuan utama dari pembangunan ekonomi selain upaya menciptakan pertumbuhan yang setinggi-tingginya, pembangunan hams pula berupaya untuk mengurangi tingkat kemiskinan, ketimpangan pendapatan dan tingkat pengangguran serta adanya upaya untuk menciptakan kesempatan kerja. Dengan adanya penciptaan kesempatan kerja bagi masyarakat ini diharapkan pendapatan masyarakat akan turut meningkat. Hingga akhirnya pendapatan perkapita yang tinggi akan mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula. Karena pertumbuhan ekonomi, hingga saat ini masih menjadi indikator keberhasilan dalam pembangunan, baik pembangunan nasional maupun regional.

Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang pertumbuhan ekonomi dalam wilayah tersebut (Arsyad, 1999). Sedangkan pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan GDP/GNP tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk, atau apakah perubahan struktur ekonomi terjadi atau tidak. Namun demikian, pada umumnya para ekonom memberikan

(9)

pertumbuhan dan pembangunan ekonomi sebagai kenaikan GDP/GNP saja. Sedangkan tujuan utama yang ingin dicapai dari pembangunan ekonomi selain menciptakan pertumbuhan yang setinggi-tingginya, harus pula menghapus atau mengurangi tingkat kemiskinan, ketimpangan, dan tingkat pengangguran. Tolok ukur keberhasilan pembangunan dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi, struktur ekonomi, dan semakin kecilnya ketimpangan pendapatan antar penduduk, antar daerah dan antar sektor.

Kuncoro (2004) menyatakan ada semacam trade off antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan pemerataan pendapatan dalam suatu pembangunan ekonomi. Ketika pembangunan ekonomi lebih ditujukan

untuk pemerataan pendapatan maka pertumbuhan ekonomi akan

membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang tinggi. Begitu pula, sebaliknya jika pembangunan lebih difokuskan untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang tinggi maka akan semakin besar kemungkinan terjadinya ketimpangan dalam distribusi pendapatan.

Pembangunan daerah Jawa Barat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional dalam rangka mencapai sasaran pembangunan yang disesuaikan dengan potensi dan permasalahan pembangunan di daerah. Sebagai prioritas pembangunan daerah Provinsi Jawa Barat meletakkan pembangunan sektor-sektor di bidang ekonomi melalui terwujudnya struktur ekonomi yang seimbang di berbagai sektor. Struktur ekonomi Provinsi Jawa Barat dalam kurun waktu 2008-2010, sector industri pengolahan memberikan sumbangan terbesar terhadap PDRB yaitu sebesar Rp 133.756.556 juta pada tahun 2008 atau sebesar 45,93 persen dan Rp 135.246.774 juta pada tahun 2010 atau sebesar 42 persen.

(10)

Tabel 1.1

Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jawa Barat atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut Lapangan Usaha

Tahun 2008-2010

No. Sektor Tahun

2008 2009 2010 1 Pertanian 37.139.985 41.722.076 42.137.486 2 Pertambangan dan Penggalian 6.850.433 7.424.424 7.464.691 3 Industri dan Pengolahan 133.756.55 131.432.865 135.246.774 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 6 5.985.767 6.839.237 7.315.960 5 Bangunan / Konstruksi 9.730.820 10.299.411 11.810.047 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 56.937.923 62.701.714 70.083.413 7 Pengangkutan dan Telekomunikasi 12.233.940 13.209.254, 15.352.858 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa

Perusahaan 9.075.520 9.618.612 10.564.691 9 Jasa-jasa 19.494.893 20.157.658 21.899.922 PDRB dengan Minyak dan Gas Bumi 291.205.837 303.405.251 321.875.841 PDRB tanpa Minyak dan Gas Bumi 282.745.299 294.324.392 312.842.537 Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat

Berdasarkan struktur ekonomi sektor industri pengolahan merupakan sektor yang paling dominant dalam sumbangan terhadap PDRB yaitu sebesar 42 persen dan diikuti dengan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 22,41 persen dan selanjutnya sektor pertanian sebesar 12,61 persen.

Suatu ekonomi dikatakan mengalami pertumbuhan yang berkembang apabila tingkat kegiatan ekonominya lebih tinggi daripada apa yang dicapai pada masa sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Disini, proses mendapat penekanan karena mengandung unsur dinamis. Para teoretikus ilmu ekonomi pembangunan masa kini masih terus menyempurnakan makna, hakikat dan konsep pertumbuhan ekonomi. Para teoretikus menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya diukur dengan pertambahan (Produk Domestik Bruto) PDB dan PDRB saja, akan tetapi juga diberi bobot yang bersifat immaterial seperti kenikmatan, kepuasan dan kebahagiaan dengan

(11)

rasa aman dan tenteram yang dirasakan oleh masyarakat luas (Lincolin Arsyad, 1999)

Proses akumulasi dan mobilisasi sumber-sumber berupa akumulasi modal, keterampilan tenaga kerja dan sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu daerah merupakan pemicu dalam laju pertumbuhan ekonomi wilayah yang bersangkutan. Adanya heterogenitas dan beragam karateristik suatu wilayah menyebabkan kecenderungan terjadinya ketimpangan antar daerah dan antarsektor ekonomi suatu daerah.

Tabel 1.2.

PDRB Propinsi Jawa Barat atas Dasar Harga Berlaku

No Kabupaten/Kota 2008 2009 2010*) 2011**) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Kab. Bogor 58.389.411 66.083.789 73.800.701 83.032.460 2 Kab. Sukabumi 15.844.355 16.993.892 18.315.483 19.875.982 3 Kab. Cianjur 15.496.974 16.737.740 18.435.750 20.573.047 4 Kab. Bandung 37.876.700 40.803.638 45.586.297 50.735.043 5 Kab. Garut 20.360.837 22.271.424 24.844.613 27.491.630 6 Kab. Tasikmalaya 10.474.020 11.914.003 12.711.907 13.931.810 7 Kab. Ciamis 14.501.906 15.841.183 17.572.448 19.344.956 8 Kab. Kuningan 7.047.927 8.179.328 9.131.570 10.018.855 9 Kab. Cirebon 15.564.718 17.118.740 19.170.306 20.982.832 10 Kab. Majalengka 8.135.815 8.874.630 10.026.463 10.848.730 11 Kab. Sumedang 10.300.942 11.188.168 12.265.684 13.531.778 12 Kab. Indramayu 14.188.349 16.489.964 18.323.885 20.727.708 13 Kab. Subang 12.298.185 13.603.200 14.200.922 15.917.108 14 Kab. Purwakarta 13.215.853 14.156.385 15.957.021 17.495.416 15 Kab. Karawang 40.623.682 46.694.408 55.006.760 61.967.301 16 Kab. Bekasi 81.460.280 88.161.908 95.763.549 104.865.708 17 Kab. Bandung 14.486.952 15.847.976 17.543.649 19.354.913 18 Kota Bogor 10.089.944 11.904.600 13.908.900 15.487.434 19 Kota Sukabumi 3.697.957 4.394.807 5.175.324 5.921.024 20 Kota Bandung 60.444.487 70.281.163 82.002.176 95.612.863 21 Kota Cirebon 8.933.934 9.877.495 10.931.430 12.117.055 22 Kota Bekasi 20.525.360 31.475.388 35.679.065 40.528.808 23 Kota Depok 12.542.499 14.063.916 16.144.726 17.913.313 24 Kota Cimahi 10.716.291 11.683.705 12.845.602 14.164.831 25 Kota Tasikmalaya 7.150.922 7.769.682 8.469.036 9.274.355 26 Kota Banjar 1.433.562 1.592.877 1.769.539 1.948.592 Jumlah 26 Kab/Kota 534.810.862 594.033.706 666.051.806 743.664.052 Jawa Barat 596.917.066 658.040.584 738.590.405 824.086.278

Sumber :BPS Kabupaten/Kota dan BPS Provinsi Jawa Barat Catatan : *) Angka Perbaikan

(12)

Dari tabel 1.2. di atas dapat diketahui bahwa kabupaten Bekasi merupakan kabupaten yang mempunyai PDRB tertinggi di wilayah provinsi Jawa Barat yaitu 104.865.208 juta pada tahun 2011. Dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan rata-rata sebesar 8,79 per kapita per tahun. Sedangkan daerah yang memiliki PRDB terendah adalah kota Bogor yaitu 1.948.592 juta dalam tahun 2011 dan naik rata-rata per tahun sebesar 10,77 persen.

1.2. Perumusan Masalah

Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses pendapatan perkapita suatu negara meningkat dalam kurun waktu yang panjang dan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan absolut jumlahnya tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak timpang. Perbedaan tingkat pembangunan akan membawa dampak perbedaan tingkat kesejahteraan antar daerah pada akhirnya menyebabkan ketimpangan regional antar daerah semakin besar.

Struktur perekonomian dalam suatu wilayah merupakan faktor dasar yang membedakan keadaan suatu wilayah dengan wilayah lainnya. Perbedaan tersebut sangat erat kaitannya dengan kondisi dan potensi suatu wilayah.

Kesenjangan atau ketimpangan antardaerah merupakan konsekuensi logis pembangunan dan merupakan suatu tahap perubahan dalam pembangunan itu sendiri. Perbedaan tingkat kemajuan ekonomi antardaerah yang berlebihan akan menyebabkan pengaruh yang merugikan (backwash

(13)

effects) mendominasi pengaruh yang menguntungkan {spread effects)

terhadap pertumbuhan daerah, dalam hal ini mengakibatkan proses ketidakseimbangan. Pelaku-pelaku yang mempunyai kekuatan di pasar secara normal akan cenderung meningkat bukannya menurun, sehingga akan mengakibatkan peningkatan ketimpangan antar daerah. Tujuan utama dari usaha pembangunan ekonomi selain menciptakan pertumbuhan yang setinggi-tingginya, harus pula menghapus dan mengurangi tingkat kemiskinan, ketimpangan pendapatan dan tingkat pengangguran. Kesempatan kerja bagi penduduk atau masyarakat akan memberikan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (M.P.Todaro, 2000).

Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Berapa besar tingkat pertumbuhan ekonomi masing-masing kabupaten/ kota di provinsi Jawa Barat.

2. Berapa besar tingkat ketimpangan regional antara kabupaten/kota di provinsi Jawa Barat.

3. Apakah hipotesis Kuznet berlaku di propinsi Jawa Barat.

1.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi masing-masing kabupaten dan kota di provinsi Jawa Barat berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan PDRB perkapita.

2. Untuk mengetahui ketimpangan pertumbuhan ekonomi antar kabupaten dan kota di provinsi Jawa Barat

(14)

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk menambah cakrawala berpikir dengan menerapkan disiplin ilmu yang diperoleh dalam perkuliahan. Sebagai informasi dan masukan bagi pengambilan keputusan (pemerintah daerah) dalam menyusun strategi dan program pembangunan secara lebih terstruktur, efisien, efektif serta mengetahui sepenuhnya implikasi eksternalitas dari setiap keputusan yang diambil pemerintah daerah untuk perencanaan pembangunan daerah dan menentukan kebijaksanaan arah pembangunan ekonomi daerah. Kedua, sebagai referensi untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi wilayah, tingkat pemerataan distribusi pendapatan daerah, dan perkembangan struktur ekonomi wilayah bagi peneliti lain untuk bisa lebih menyempurnakan dan mengembangkannya. Ketiga, sebagai tambahan informasi dan ilmu pengetahuan bagi penulis, khususnya yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi wilayah, dan ketimpangan pembangunan antardaerah.

1.5. Kerangka Pemikiran

Beberapa daerah mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat, sementara beberapa daerah lain mengalami pertumbuhan ekonomi yang lambat. Hal tersebut sangat memungkinkan terjadinya ketidakmerataan atau ketimpangan pendapatan. Kuncoro (2004) menyatakan ada semacam trade

off antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan pemerataan pendapatan

(15)

ditujukan untuk pemerataan pendapatan maka pertumbuhan ekonomi akan membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang tinggi. Begitu pula, sebaliknya jika pembangunan lebih difokuskan untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang tinggi maka akan semakin besar kemungkinan terjadinya ketimpangan dalam pembangunan.

Gambar 1.1. Kerangka Pemikiran Pertumbuhan dan Ketimpangan Pembangunan Ekonomi antar Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Barat.

PDRB

Sektor Ekonomi Pertumbuhan Pendapatan Distribusi

Pertumbuhan dan Ketimpangan Pembangunan Ekonomi Antar Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Barat

(16)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teori Pertumbuhan Ekonomi (Klasik)

2.1.1. Adam Smith

Dalam Lincolin Arsyad (1997) menerangkan bahwa inti dari proses pertumbuhan ekonomi menurut Adam Smith dibedakan menjadi dua aspek utama pertumbuhan ekonomi yaitu:

a. Pertumbuhan output (GDP) total, dan b. Pertumbuhan penduduk

Menurut Smith, sumber daya alam yang tersedia merupakan wadah yang paling mendasar dari kegiatan produksi masyarakat. Jumlah sumber daya alam yang tersedia merupakan "batas maksimum" bagi pertumbuhan suatu perekonomian. Maksudnya, jika sumber daya belum digunakan sepenuhnya maka jumlah penduduk dan stok modal yang ada yang memegang peranan dalam pertumbuhan output. Tetapi pertumbuhan output tersebut akan berhenti jika semua sumberdaya alam tersebut telah digunakan sepenuhnya.

Sumber daya manusia (jumlah penduduk) mempunyai peranan yang pasif dalam proses pertumbuhan output. Maksudnya, jumlah penduduk akan menyesuaikan diri dengan kebutuhan akan tenaga kerja dari suatu masyarakat.

(17)

Stole modal, menurut Smith merupakan unsur produksi yang secara aktif menentukan tingkat output. Peranan sangat sentral dalam proses pertumbuhan output. Jumlah dan tingkat pertumbuhan output tergantung pada laju pertumbuhan stok modal (sampai batas maksimum dari sumber daya alam).

Menurut Smith, stok modal (K) mempunyai dua pengaruh terhadap

output total (Q) yaitu pengaruh langsung dan tidak langsung. Pengaruh

langsung karena pertambahan K (yang diikuti oleh pertambahan tenaga kerja) akan meningkatkan Q. Makin banyak input, makin banyak output. Sedangkan pengaruh tidak langsung adalah peningkatan produktivitas per kapita lewat dimungkinkannya tingkat spesialisasi dan pembagian kerja yang lebih tinggi. Hal ini akan terwujud secara nyata hanya apabila satu syarat lagi terpenuhi yaitu makin luasnya pasar bagi output (M).

Proses pertumbuhan output akan berulang pada tahun-tahun selanjutnya sampai "batas atas" yang dimungkinkan oleh sumber alam yang tersedia. Pada tahap ini proses pertumbuhan berhenti, dan perekonomian telah mencapai posisi stationer (stationary state). Pada posisi ini semua proses pertumbuhan berhenti.

Ada dua faktor penunjang penting dibalik proses akumulasi kapital: 1. Makin meluasnya pasar (M)

2. Adanya tingkat keuntungan di atas tingkat keuntungan minimal

Keduanya saling berkaitan, meluasnya pasar berarti bisa dipertahankan tingkat keuntungan pada tingkat tinggi. Perluasan pasar

(18)

tersebut sebagai syarat kelangsungan proses akumulasi kapital. Potensi pasar akan dicapai setiap warga masyarakat diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk melakukan pertukaran dan kegiatan ekonominya.

Aspek kedua dari pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan penduduk yang bersifat pasif dalam proses pertumbuhan output, dalam arti bahwa, dalam jangka panjang berapapun jumlahnya tenaga kerja yang dibutuhkan oleh proses produksi akan tersedia melalui pertumbuhan penduduk.

Penduduk akan meningkat apabila tingkat upah yang berlaku lebih tinggi dari tingkat upah subsisten. Sedangkan tingkat upah itu sendiri ditentukan oleh tarik menarik antara kekuatan permintaan dan penawarannya. Tingkat upah akan tinggi apabila permintaan akan tenaga kerja tumbuh lebih cepat daripada penawarannya dan sebaliknya.

Apabila tingkat upah terus merosot dan jatuh dibawah tingkat upah subsisten, maka laju pertumbuhan penduduk akan menjadi negatif. Pada tingkat upah subsisten, jumlah penduduk konstan.

Permintaan akan tenaga kerja ditentukan oleh stok kapital (K) yang tersedia dan oleh tingkat output masyarakat (Q), sebab tenaga kerja "diminta" karena dibutuhkan dalam proses produksi. Oleh sebab itu, laju pertumbuhan permintaan akan tenaga kerja ditentukan olah laju pertumbuhan stok kapital (akumulasi kapital) dan laju pertumbuhan

(19)

2.1.2 David Ricardo

Menurut Lincolin Arsyad (1997), garis besar proses pertumbuhan dan kesimpulan-kesimpulan dari Ricardo tidak jauh berbeda dengan teori Adam Smith. Tema dari proses pertumbuhan ekonomi masih pada perpacuan antara laju pertumbuhan penduduk dan laju pertumbuhan output. Selain itu Ricardo juga menganggap bahwa jumlah faktor produksi tanah (sumber daya alam) tidak bisa bertambah, sehingga akhirnya menjadi faktor pembatas dalam proses pertumbuhan suatu masyarakat.

Perekonomian yang di ciri-cirikan Ricardo adalah sebagai berikut: 1. Tanah terbatas

2. Tenaga kerja meningkat atau menurun sesuai dengan tingkat upah di atas atau dibawah tingkat upah minimal (tingkat upah alamiah/natural

wage)

3. Akumulasi kapital terjadi apabila tingkat keuntungan yang diperoleh pemilik kapital berada di atas tingkat keuntungan minimal yang diperlukan untuk menarik mereka melakukan investasi

4. Dari waktu ke waktu terjadi kemajuan teknologi 5. Sektor pertanian dominan

Dari faktor produksi tanah dan tenaga kerja, ada satu kekuatan dinamis yang selalu menarik perekonomian kearah tingkat upah minimum, yaitu bekerjanya the law of diminishing return. Pada akumulasi kapital juga berlaku hukum tersebut. Sedangkan yang memperlambat berlakunya hukum tersebut adalah adanya kemajuan tingkat teknologi.

(20)

Inti dari proses pertumbuhan ekonomi adalah proses tarik menarik antara dua kekuatan dinamis, yaitu antara :

a. The law of diminishing return, dan b. Kemajuan teknologi

Dimana akhirnya The law of diminishing return yang akan menang. Keterbatasan faktor produksi tanah akan membatasi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Suatu negara hanya bisa tumbuh sampai batas yang dimungkinkan oleh sumber-sumber alamnya. Apabila potensi sumber alam ini telah dieksploitir secara penuh maka perekonomian berhenti tumbuh, masyarakat akan mencapai posisi stationernya.

2.2. Hipotesis U Terbalik Tentang Ketimpangan : Teori Kuznetz

Banyak perhatian yang telah diberikan terhadap bagaimana distribusi pendapatan berubah dalam masa pembangunan. Simon Kuznets (1995) membuat hipotesis adanya kurva U terbalik (inverted U curve) bahwa mula-mula ketika pembangunan dimulai, distribusi pendapatan akan semakin tidak merata, namun setelah mencapai suatu tingkat pembangunan tertentu, distribusi pendapatan semakin merata. (Mudrajad Kuncoro: 1997).

Berdasarkan hipotesis tersebut, muncul pertanyaan: kenapa terjadi suatu trade-off antara pertumbuhan dan kesenjangan ekonomi dan untuk beberapa lama? Atau berdasarkan kerangka pemikiran yang melandasi "hipotesis Kuznetz", apakah memang terbukti ada suatu korelasi positif jangka panjang setelah beberapa tahun) antara tingkat pendapatan perkapita

(21)

(atau laju pertumbuhan) dan tingkat kemerataan dalam distribusi pendapatan atau suatu korelasi negatif antara tingkat pendapatan per kapita dan besarnya kesenjangan pendapatan? Atau, kalau memang benar relasi antara peningkatan pendapatan rata-rata per kapita (yang mencerminkan semakin tingginya tingkat pembangunan ekonomi) dan tingkat kesenjangan pendapatan berbentuk "kurva U terbalik", sesuai hipotesis Kuznetz, apakah tidak mungkin ketimpangan akan membesar lagi (muncul kurva U terbalik, kedua).

Evolusi kesenjangan dalam distribusi pendapatan pada awalnya didominasi oleh apa yang disebut Hipotesa Kuznetz. Dengan memakai data antar Negara (cross-section) dan data dari sejumlah survey/observasi di setiap negara (time series), Simon Kusnetz menemukan relasi antara kesenjangan pendapatan dan tingkat pendapatan per kapita berbentuk U terbalik. Hasil ini diinterpretasikan sebagai evolusi dari distribusi pendapatan dalam proses transisi dari suatu ekonomi pedesaan {rural) ke suatu ekonomi perkotaan (urban) atau ekonomi industri. Pada awal proses pembangunan, ketimpangan dalam distribusi pendapatan naik sebagai akibat dari proses urbanisasi dan industrialisasi; pada akhir proses pembangunan, ketimpangan menurun, yakni pada saat sektor industri di daerah perkotaan sudah dapat menyerap sebagian besar dari tenaga kerja yang datang dari pedesaan (sektor pertanian) atau pada saat pangsa pertanian lebih kecil di dalam produksi dan penciptaan pendapatan.

(22)

Gambar 2.1

Kurva “U” Terbalik (Hipotesa Kuznets)

Tingkat kesenjangan : Pangsa dari 20% penduduk terkaya di dalam jumlah pendapatan

0 Tingkat pendapatan perkapita Periode (Tingkat Pembangunan)

2.3. Distribusi Pendapatan

Penghapusan kemiskinan dan berkembangnya ketidakmerataan distribusi pendapatan merupakan inti permasalahan pembangunan. Walaupun titik perhatian utama kita pada ketidakmerataan distribusi pendapatan dan harta kekayaan (assets), namun hal tersebut hanyalah merupakan sebagian kecil dari masalah ketidakmerataan yang lebih luas di NSB. Misalnya ketidakmerataan kekuasaan, prestise, status, kepuasan kerja, kondisi kerja, tingkat partisipasi, kebebasan untuk memilih, dan lain-lain.

Pendekatan yang sederhana dalam masalah distribusi pendapatan dan kemiskinan adalah dengan memakai kerangka kemungkinan produksi

(23)

(production Possibility Framework) (Todaro, 1995). Untuk melukiskan

permasalahannya, produksi dalam suatu daerah atau negara dibedakan menjadi dua kelompok barang, yaitu barang kebutuhan pokok (makanan, minuman, pakaian dan perumahan) serta yang kedua barang mewah. Dengan asumsi semua faktor produksi telah dimanfaatkan secara penuh, maka permasalahan yang muncul adalah bagaimana menentukan kombinasi barang yang akan diproduksi dan bagaimana masyarakat menurut pilihannya. Gambar 2.2 berikut ini memberikan gambaran mengenai masalah ini. Sumbu vertikal menunjukkan jumlah produksi barang mewah, sementara sumbu horizontal menunjukkan jumlah produksi barang kebutuhan pokok. Kurva kemungkinan produksi merupakan tempat kedudukan titik-titik kombinasi kedua barang yang diproduksi secara maksimum. Titik A dan B memberikan gambaran tentang kombinasi produksi antara barang mewah dengan barang kebutuhan pokok dalam tingkat pendapatan yang sama besar. Pada titik A lebih banyak barang mewah yang diproduksi bila dibandingkan dengan kebutuhan pokok. Sebaliknya pada titik B lebih sedikit barang mewah dihasilkan untuk masyarakat dibandingkan dengan barang kebutuhan pokok.

(24)

Gambar 2.2

Kurva Kemungkinan Produksi

Dua negara atau daerah dengan pendapatan per kapita yang sama besar mungkin akan berbeda dalam pola produksi atau konsumsinya. Mereka mungkin berada pada titik yang berbeda pada kurva kemungkinan produksi, tergantung pada tingkat pemerataan distribusi pendapatannya. Bagi negara atau daerah dengan pendapatan perkapita yang rendah mungkin tidak merata distribusi pendapatannya, semakin besar pengarah preferensi konsumsi golongan kaya terhadap pola produksi dan permintaan agregat. Walaupun kenyataan golongan kaya hanya merupakan kelompok kecil dalam masyarakat, namun dengan kekuatan daya belinya mereka mampu mempengaruhi pola produksi sehingga mengarah ke barang mewah. Jika distribusi pendapatan lebih merata, pola permintaan akan lebih mendorong produksi kearah barang kebutuhan pokok dan selanjutnya dapat mengurangi kemiskinan dan tingkat hidup masyarakat.

M

M

(25)

Distribusi pendapatan sebagai suatu ukuran dibedakan menjadi dua ukuran pokok, baik untuk tujuan analisis maupun untuk tujuan kuantitatif (Todaro, 1995) yaitu:

1. Distribusi pendapatan "personal" atau distribusi pendapatan berdasarkan ukuran atau besarnya pendapatan.

Distribusi pendapatan pribadi atau distribusi pendapatan berdasarkan besarnya pendapatan paling banyak digunakan ahli ekonomi. Distribusi ini hanya menyangkut orang per orang atau rumah tangga dan total pendapatan yang mereka terima, dari mana pendapatan yang mereka peroleh tidak dipersoalkan. Tidak dipersoalkan pula berapa banyak yang diperoleh masing-masing individu, apakah merupakan hasil dari pekerjaan mereka atau berasal dari sumber-sumber lain. Selain itu juga diabaikan sumber-sumber pendapatan yang menyangkut lokasi (apakah di wilayah desa atau kota) dan jenis pekerjaan.

2. Distribusi pendataan "fungsional" atau distribusi pendapatan menurut bagian faktor distribusi.

Sistem distribusi ini mempertimbangkan individu-individu sebagai totalitas yang terpisah-pisah. Menurut Ahluwalia (1997) dalam Pramono (1999) dalam "Income Inequality : Some Dimension Of The

Problem" mengenai keadaan distribusi pendapatan di beberapa Negara

dapat digambarkan dalam 2 (dua) hal yaitu:

a. Adalah perbandingan jumlah pendapatan yang diterima oleh berbagai golongan penerima pendapatan dan golongan ini

(26)

didasarkan pada besar pendapatan yang mereka terima. Ahluwalia menggolongkan penduduk penerima pendapatan:

1) 40 persen penduduk menerima pendapatan paling rendah 2) 40 persen penduduk menerima pendapatan menengah 3) 20 persen penduduk menerima pendapatan paling tinggi b. Distribusi pendapatan mutlak

Adalah persentase jumlah penduduk yang pendapatannya mencapai suatu tingkat pendapatan tertentu atau kurang dari padanya. Ukuran umum yang dipakai biasanya adalah kriteria Bank Dunia yaitu ketidakmerataan tertinggi bila 40 persen penduduk dengan distribusi pendapatan terendah menerima kurang dari 12 persen pendapatan nasional. Ketidakmerataan sedang apabila 40 persen penduduk dengan pendapatan terendah menerima 12-17 persen pendapatan nasional. Ketidakmerataan rendah bila 40 persen penduduk dengan pendapatan terendah menerima lebih dari 17 persen dari seluruh pendapatan nasional.

2.3.1. Kurva Lorenz

Cara lain untuk menganalisis distribusi pendapatan perorangan adalah membuat kurva yang disebut kurva Lorenz. Dinamakan kurva Lorenz adalah karena yang memperkenalkan kurva tersebut adalah Conrad Lorenz seorang ahli statistik dari Amerika Serikat. Pada tahun 1905 ia menggambarkan hubungan antara kelompok-kelompok penduduk dan pangsa (share) pendapatan mereka.

(27)

Gambar 2.3 menunjukkan bagaimana cara membuat kurva Lorenz tersebut. Jumlah pendapatan digambarkan pada sumbu horizontal, tidak dalam angka mutlak tetapi dalam persentase kumulatif. Misalnya, titik 20

menunjukkan 20 persen penduduk termiskin (paling rendah

pendapatannya), dan pada titik 60 menunjukkan 60 persen penduduk terbawah pendapatannya, dan pada ujung sumbu horizontal merupakan jumlah 100 persen penduduk yang dihitung pendapatannya.

Sumbu vertikal menunjukkan pangsa pendapatan yang diterima oleh masing-masing persentase jumlah penduduk. Jumlah ini juga kumulatif sampai 100 persen, dengan demikian kedua sumbu itu sama panjangnya dan akhirnya membentuk bujur sangkar.

Sebuah garis diagonal kemudian digambarkan melalui titik origin menuju sudut kanan atas dari bujur sangkar tersebut. Setiap titik pada garis diagonal tersebut menunjukkan bahwa persentase pendapatan yang diterima sama persis dengan persentase penerima pendapatan tersebut. Sebagai contoh, titik tengah dari diagonal tersebut betul-betul menunjukkan bahwa 50 persen pendapatan diterima oleh 50 persen jumlah penduduk. Demikian juga titik 75 atau 25. Dengan kata lain, garis diagonal tersebut menunjukkan distribusi pendapatan dalam keadaan kemerataan sempurna (perfect equality). Oleh karena itu garis tersebut bias juga disebut sebagai garis kemerataan sempurna.

(28)

Gambar 2.3 Kurva Lorenz

Semakin jauh kurva Lorenz tersebut dari garis diagonal (kemerataan sempurna), semakin tinggi derajat ketidakmerataan yang ditunjukkan. Keadaan yang paling ekstrim dari ketidakmeraan sempurna, misalnya keadaan dimana seluruh pendapatan hanya diterima oleh satu orang, akan ditunjukkan oleh berhimpitnya kurva Lorenz tersebut dengan sumbu horizontal bagian bawah dan sumbu vertikal sebelah kanan.

(29)

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada daerah Provinsi Jawa Barat. Data yang digunakan adalah berupa data sekunder yang diperoleh dari pihak terkait. Data yang diperlukan antara lain data berupa PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), data berupa sensus sosial ekonomi masing-masing Kabupaten dan Provinsi Jawa Barat pendapatan per kapita dari masing-masing kabupaten/kota dan Provinsi Jawa Barat yang meliputi 17 kabupaten dan 9 kota. Data yang digunakan selama 5 tahun (2008-2012). Adapun analisis data yang digunakan oleh penulis adalah sebagai berikut;

1. Analisis yang digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi masing-masing daerah adalah Analisis Tipologi Klassen/Daerah (H. Aswandi dan Mudrajat Kuncoro, 2002). Kritera yang digunakan terdiri dari empat;

a. Kuadaran I (pertama) yakni daerah cepat maju dan cepat tumbuh {high

income and high growth) adalah daerah yang memiliki pertumbuhan

ekonomi dan pendapatan per kapita yang lebih tinggi dibandingkan dengan Provinsi Jawa Barat.

b. Kuadran II (kedua) yakni daerah maju tapi tertekan (high income but low

growth) adalah daerah yang memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi,

tetapi tingkat pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan dengan Provinsi Jawa Barat

(30)

c. Kuadaran III (ketiga) yakni daerah berkembang cepat (high growth but low

income) adalah daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi, tetapi

tingkat pendapatan per kapita lebih rendah dibandingkan dengan Provinsi Jawa Barat

d. Dan kuadaran IV (keempat) adalah daerah relatif tertinggal (low growth

and low income) adalah daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan

ekonomi dan pendapatan per kapita lebih rendah dibandingkan dengan Provinsi Jawa Barat

2. Analisis Ketimpangan Ekonomi antar Daerah digunakan 2 jenis analisis yakni;

Y n f Y Y IW ( i ) i/ 2   

Indeks Ketimpangan Williamson (Syafrizal, 1997) yakni analisis yang digunakan sebagai indeks ketimpangan regional (regional inequality) dengan rumusan sebagai berikut;

}] / / ) / [( log ) / ( ) (y y Y x y Y X X I   j j j Dimana;

Yi = PDRB per kapita di Kabupaten i

Y = PDRB per kapita rata-rata di Provinsi Jawa Barat fi = jumlah penduduk di Kabupaten

n = jumlah penduduk di Provinsi Jawa Barat

Dengan indikator bahwa apabila angka indeks ketimpangan Williamson semakin mendekati nol maka menunjukkan ketimpangan yang semakin kecil dan bila angka indeks menunjukkan semakin jauh dari nol maka menunjukkan ketimpangan yang makin melebar.

(31)

3. Kurva U Terbalik oleh Kuznets (M.P. Todaro, 2000) yaitu dimana pada tahap-tahap awal pertumbuhan ekonomi ketimpangan memburuk atau membesar dan pada tahap-tahap berikutnya ketimpang menurun, namun pada suatu waktu ketimpangan akan menaik dan demikian seterusnya sehingga terjadi peristiwa yang berulang kali dan jika digambarkan akan membentuk kurva U-terbalik. Dalam hal ini pembuktian kurva U-Terbalik digunakan sebagai berikut (Mudrajat Kuncoro, 2004);

- Menghubungkan antara angka indeks Williamson dengan Pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Barat

- Menghubungkan antara angka indeks Entropi Theil dengan Pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Barat

Dengan indikator apabila kedua angka indeks tersebut menggambarkan kurva U terbalik, maka teori Kuznets berlaku di Provinsi Jawa Barat sebaliknya apabila kedua angka indeks tidak menggambarkan kurva U terbalik, maka teori Kuznets tidak berlaku di Provinsi Jawa Barat

(32)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Keadaan Geografis dan Demografis Provinsi Jawa Barat

Provinsi Jawa Barat merupakan bagian dari wilayah Indonesia yang merupakan pintu gerbang dengan DKI Jakarta. Secara administratif Provinsi Jawa Barat terbagi menjadi 26 Daerah Tingkat II yaitu 17 kabupaten dan 9 kota.

Letak daratannya dari barat laut ke tenggara. Dilihat dari permukaan tanah/daratannya dapat dibedakan menjadi dua bagian, pertama daerah dataran rendah yang umumnya terletak di sepanjang pantai utara pulau Jawa, sedangkan sebagian lagi termasuk pada dataran tinggi.

Secara geografis terletak di antara 5° 50' - 7° 50' Lintang Selatan dan 104°48' - 108°48' Bujur Timur, dengan batas-batas wilayah:

- Sebelah Utara, berbatasan dengan Laut Jawa dan DKI Jakarta; - Sebelah Timur, berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah; - Sebelah Selatan, berbatasan dengan Samudera Indonesia; - Sebelah Barat, berbatasan dengan Provinsi Banten.

Berdasarkan hasil digitasi batas wilayah, luas wilayah Provinsi Jawa Barat mencapai 3.711.654,00 hektar. Daratan Jawa Barat dibedakan atas wilayah pegunungan curam (9,5% dari total luas wilayah Jawa Barat) terletak di bagian Selatan dengan ketinggian lebih dari 1.500 m di atas permukaan laut (dpi); wilayah lereng bukit yang landai (36,48%) terletak di bagian Tengah dengan ketinggian 10-1.500 m dpi; dan wilayah daratan luas (54,03%) terletak di bagian Utara dengan ketinggian 0-10 m dpi.

4.2. Keadaan Penduduk

Jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat menurut hasil Sensus Penduduk Tahun 2010 (SP2010) adalah 43.021.826 orang dengan komposisi 21.876.572 laki-laki dan 21.145.254 perempuan. Hal ini

(33)

menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan dengan sex ratio sebesar 103.

Persebaran penduduk antar wilayah di Jawa Barat sangat bervariasi. Kabupaten Bogor merupakan wilayah administrasi yang memiliki jumlah penduduk terbesar di Jawa Barat yaitu sebanyak 4.763.206 orang, disusul Kabupaten Bandung sebanyak 3.174.499 orang dan Kabupaten Bekasi di urutan ketiga dengan jumlah penduduk sebanyak 2.629.551 orang, sebagaimana dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1

Jumlah Penduduk Jawa Barat menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin

No. Kabupaten / Kota Penduduk

Laki-laki Perempuan Total Seks Rasio

(1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Kab. Bogor 2.446.251 2.316.958 4.763.209 105 2 Kab. Bandung 1.617.513 1.556.986 3.174.499 103 3 Kab. Bekasi 1.345.500 1.284.051 2.629.551 104 4 Kab. Garut 1.216.139 1.185.109 2.401.248 102 5 Kota Bandung 1.213.718 1.179.915 2.393.633 102 6 Kab. Sukabumi 1.191.489 1.147.859 2.339.348 103 7 Kota Bekasi 1.182.496 1.153.993 2.336.489 102 8 Kab. Cianjur 1.120.550 1.047.964 2.168.514 106 9 Kab. Karawang 1.095.202 1.030.032 2.125.234 106 10 Kab. Cirebon 1.057.501 1.007.641 2.065.142 104 11 Kota Depok 879.325 857.240 1.736.565 102 12 Kab. Tasikmalaya 835.052 840.492 1.675.544 99 13 Kab. Indramayu 856.190 807.3261 1.663.516 106 14 Kab. Ciamis 757.729 773.630 1.531.359 97 15 Kab. Bandung Barat 771.729 741.905 1.513.634 104 16 Kab. Subang 737.398 724.958 1.462.356 101 17 Kab. Majalengka 582.783 583.950 1.166.733 99 18 Kab. SumedanjL 546.389 544.934 1.091.323 100 19 Kab. Kuningan 521.556 516.002 1.037.558 101 20 Kota Bogor 484.648 464.418 949.066 104 21 Kab. Purwakarta 435.307 416.259 851.566 104 22 Kota Tasikmalaya 320.859 313.565 634.424 102 23 Kota Cimahi 273.900 267.239 541.139 102 24 Kota Sukabumi 152.193 147.054 299.247 103 25 Kota Cirebon 148.095 147.669 295.764 100 26 Kota Banjar 87.060 88.105 175.165 98 Jawa Barat 21.876.572 21.145.254 43.021.826 103 Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat (Hasil Sensus Penduduk 2010)

(34)

Kota Banjar, Kota Cirebon dan Kota Sukabumi adalah tiga kota yang memiliki jumlah penduduk paling sedikit dibandingkan dengan wilayah administrasi lainnya di Jawa Barat. Penduduk Kota Banjar sebanyak 175.165 orang, penduduk kota Cirebon sebanyak 295.764 orang dan penduduk Kota Sukabumi sebanyak 299.247 orang.

Kabupaten Majalengka, Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Ciamis merupakan tiga wilayah administrasi yang memiliki laju pertumbuhan penduduk paling rendah di Jawa Barat, yaitu masing-masing 0,40 persen Kabupaten Majalengka, 0,46 persen Kabupaten Indramayu dan 0,47 persen Kabupaten Ciamis. Kabupaten/kota lain yang memiliki laju pertumbuhan penduduk kurang dari 1 persen adalah Kabupaten Tasikmalaya sebesar 0,88 persen, Kabupaten Kuningan sebesar 0,53 persen, Kabupaten Cirebon sebesar 0,68 persen, Kabupaten Subang sebesar 0,96 persen dan Kota Cirebon sebesar 0,84 persen.

Provinsi Jawa Barat yang memiliki luas wilayah sekitar 37.116,54 kilo meter per segi (sumber : hasil digitasi batas wilayah) dan jumlah penduduk sebanyak 43.021.826 orang, memiliki kepadatan penduduk 1.159 orang per kilo meter persegi, Kota Bandung dan Kota Cimahi memiliki tingkat kepadatan penduduk paling tinggi dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Jawa Barat. Kepadatan penduduk Kota Bandung adalah 14.228 orang per kilo meter persegi, sedangkan kepadatan penduduk Kota Cimahi adalah 13.134 orang per kilo meter persegi.

4.3. Keadaan Ekonomi a. Struktur Ekonomi

Peranan sektor ekonomi suatu daerah terhadap pembentukan PDRB menggambarkan potensi perekonomian suatu wilayah. Tingginya peranan suatu sektor dalam perekonomian, memberikan gambaran bahwa sektor tersebut merupakan sektor andalan yang terus dapat dikembangkan serta menjadi pendorong roda perekonomian semakin berkembang.

(35)

Distribusi persentase PDRB sektoral menunjukkan peranan masing-masing sektor dalam kontribusi terhadap PDRB secara keseluruhan. Semakin besar persentase suatu sektor, semakin besar pula pengaruh sektor tersebut dalam perkembangan ekonomi suatu daerah. Distribusi persentase juga memperlihatkan kontribusi nilai tambah setiap sektor dalam pembentukan PDRB, sehingga tampak sektor-sektor andalan yang menjadi pemicu pertumbuhan di wilayah yang bersangkutan.

Tabel 4.2

Struktur Ekonomi Jawa Barat Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku 2000 Distribusi PDRW Propinsi Jawa Barat Tahun 2011-2012 (dalam persen)

Lapangan Usaha 2011 2012

(1) (2) (3)

1. PRIMER 14,99 13,38

1) Pertanian, perkebunan, peternakan 2) Pertambangan dan penggalian

11,98 2,02 11,52 1,86 2. SEKUNDER 43,70 42,59 3) Industri pengolahan 4) Listrik, Gas dan air bersih 5) Bangunan/konstruksi 37,16 2,55 3,99 35,79 2,51 29,29 3. TERSIER 42,30 44,04

6) Perdagangan, hotel dan restoran 7) Pengangkutan dan komunikasi

8) Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 9) Jasa-jasa 22,58 7,70 2,84 9,17 23,90 7,74 2,95 9,40 PDRB 100 100

Sumber : BPS Provinsi Jawa Barat

Struktur ekonomi Jawa Barat dapat dijelaskan menurut kelompok sektor primer, sekunder dan tersier. Pada tahun 2012 kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Jawa Barat berdasarkan harga berlaku sebesar 13,38%. Kontribusi sektor primer terbesar masih disumbang sektor

(36)

pertanian sebesar 11,52%, sedangkan kontribusi sektor pertambangan dan penggalian hanya 1,86%. Dibandingkan dengan tahun 2011 kontribusi sektor primer mengalami penurunan sebesar 0,46% dari 11,98% pada tahun 2011 menjadi 11,52% pada tahun 2012.

Kelompok sektor tersier masih merupakan penyumbang terbesar bagi PDRB Jawa Barat yaitu sebesar 44,04%, sektor tersier mengalami kenaikan sebesar 1,74% dari 42,30% pada tahun 2011 menjadi 44,04% pada tahun 2012.

Kontribusi terbesar sektor tersier adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 23,90%, sedangkan sektor pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa kontribusi masing-masing sebesar 7,79%, 2,95%, dan 9,40%.

Tabel 4.3

Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Barat Menurut Kelompok Sektor/Sektor Tahun 2011-2012

Kelompok Sektor/Sektor 2011 2012

(1) (2) (3)

1. PRIMER -0,13 -0,24

1) Pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan

2) Pertambangan dan penggalian

-0,01 -0,12 -0,09 -0,15 2. SEKUNDER 3,16 2,36 3) Industri pengolahan 4) Listrik, Gas dan air bersih 5) Bangunan/konstruksi 2,61 0,03 0,52 1,65 0,17 0,53 3. TERSIER 3,45 4,09

6) Perdagangan, hotel dan restoran 7) Pengangkutan dan komunikasi 8) Keuangan, persewaan dan jasa

perusahaan 9) Jasa-jasa 1,76 0,71 0,44 0,53 2,55 0,62 0,36 0,56

Laju pertumbuhan ekonomi 6,48 6,21

(37)

Pada tahun 2012 kelompok sektor yang memberikan sumbangan pertumbuhan terbesar adalah kelompok sektor tersier (4,09%) disusul kelompok sektor sekunder (2,36%). Sedangkan kelompok sektor primer memberikan sumbangan pertumbuhan negatif yaitu sebesar –0,24%. Apabila dilihat berdasarkan sektornya maka sektor pertumbuhan terbesar pada tahun 2012 adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran (2,55%) dan sektor industri pengolahan (1,65%)

4.2. Analisis Tipologi Klassen Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Alat analisis Tipologi Klassen digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi masing-masing daerah. Tipologi Klassen pada dasarnya membagi daerah berdasarkan dua indikator utama, yaitu pertumbuhan ekonomi daerah dan pendapatan per kapita daerah. Dengan menentukan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebagai sumbu vertikal dan rata-rata pendapatan per kapita sebagai sumbu horizontal, daerah yang diamati dapat dibagi menjadi empat klasifikasi, yaitu: daerah cepat-maju dan cepat-tumbuh (high growth and high income), daerah maju tapi tertekan (high income but low growth), daerah berkembang cepat (high growth but low income), dan daerah relatif tertinggal (low growth and low income) (Syafrizal, 1997: 27-38; Kuncoro, 1993; Hil, 1989).

Kriteria yang digunakan untuk membagi daerah kabupaten/kota dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) daerah cepat-maju dan

cepat tumbuh, daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan

pendapatan per kapita yang lebih tinggi dibanding rata-rata Pulau Sumatera; (2) daerah berkembang cepat adalah daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi, tetapi tingkat pendapatan per kapita lebih rendah dibanding rata-rata Pulau Sumatera. (3) daerah maju tapi tertekan, daerah yang memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi, tetapi tingkat pertumbuhan ekonominya lebih rendah dibanding rata-rata Pulau Sumatera (4) Daerah relatif tertinggal adalah daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang lebih rendah

(38)

Dikatakan “tinggi” apabila indikator di suatu kabupaten/kota lebih tinggi dibandingkan rata-rata sebuah kabupaten/kota di provinsi Jawa Barat dan digolongkan “rendah” apabila indikator di suatu kabupaten/kota lebih rendah dibandingkan rata-rata sebuah kabupaten/ kota di provinsi Jawa Barat. Perkembangan PDRB per kapita dan pertumbuhan PDRB untuk tiap kabupaten/kota dalam kurun waktu 2003-20112, beserta rata-rata nya untuk sebuah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat dapat dilihat pada lampiran 3 dan 4.

Berdasarkan data pada lampiran 1 dan 2, kabupaten/kota di provinsi Jawa Barat dapat dibagi menjadi 4 (empat) klasifikasi sesuai dengan tipologi klassen sebagaimana pada tabel 4.4

Tabel 4.4

Klasifikasi Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat menurut Tipologi Klassen PDRB Per Kapita Laju Pertumbuhan Ydi > Yni (+) Ydi < Yni (-)

rdi > mi (+) (1) Daerah maju dan

tumbuh cepat - Kab. Karawang - Kota Bandung

(II) Daerah berkembang cepat tapi tidak maju - Kab. Bandung - Kab. Tasikmalaya - Kab. Ciamis - Kab. Kuningan - Kab. Cirebon - Kab. Majalengka - Kab. Subang

- Kab. Bandung Barat - Kota Bogor

- Kota Sukabumi - Kota Banjar rdi > mi (-) (III) Daerah maju tapi

tertahan - Kab. Bogor - Kab. Indramayu - Kab. Purwakarta - Kab. Bekasi - Kota Cirebon - Kota Cimahi

(IV) Daerah relatif tertinggal - Kab. Sukabumi - Kab. Cianjur - Kab. Garut - Kab. Sumedang - Kota Bekasi - Kota Depok - Kota Tasikmalaya

(39)

Dari tabel 4.4. dapat dijelaskan bahwa kabupaten Karawang dan kota Bandung merupakan daerah maju dan tumbuh cepat karena kabupaten Karawang merupakan pusat industri dan banyak pabrik dibangun di sekitar Karawang dan kota Bandung merupakan kota tujuan wisata dari daerah sekitar Bandung seperti Jakarta, banyak penduduk Jakarta berlibur ke Bandung baik untuk tujuan wisata alam maupun kuliner dan juga wisata belanja. Dengan pertumbuhan wisata di Bandung juga berdampak pada hunian/hotel-hotel banyak dibangun dengan sendirinya akan meningkatkan pendapatan dan banyak menyerap tenaga kerja.

Terdapat 8 kabupaten dan 3 kota yang termasuk dalam daerah berkembang cepat tapi tidak maju yaitu kabupaten Bandung, kabupaten Tasikmalaya, kabupaten Ciamis, kabupaten Kuningan, kabupaten Cirebon, kabupaten Majalengka, kabupaten Subang, kabupaten Bandung Barat, kabupaten Bogor, kabupaten Sukabumi, dan kabupaten Banjar. Kabupaten dan kota tersebut pada umumnya memiliki sektor yang domonan adalah sektor pertanian, industri pengolahan , perdagangan hotel dan restauran serta jasa jasa,

Sedangkan kabupaten dan kota yang merupakan daerah maju tetapi tertekan meliputi 4 kabupaten dan 2 kota yaitu kabupaten Bogor, kabupaten Indramayu, kabupaten Purwakarta, kabupaten Bekasi, kabupaten Cirebon, dan kabupaten Cimahi. Kabupaten dan kota tersebut pada umumnya

mempunya sektor yang dominan meliputi sektor industri

pengolahan,perdagangan, hotel dan restauran.

Kabupaten dan kota yang termasuk dalam daerah relatif tertinggal meliputi 4 kabupaten dan 3 kota yaitu kabupaten Sukabumi, kabupaten Cianjur, kabupaten Garut, kabupaten Sumedang, kabupaten Bekasi, kabupaten Depok, dan kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten dan kota tersebut pada umumnya mempunyai sektor yang dominan uaitu sektor pertanian, perdagangan, hotel dan restauran serta sektor jasa-jasa

(40)

4.3. Analisis Tingkat Ketimpangan Pembangunan Ekonomi dan Provinsi Jawa Barat

Tingkat ketimpangan pembangunan ekonomi salah satunya dapat diukur melalui Indeks Williamson yang bernilai antara 0-1. Semakin besar nilai Indeks Williamson berarti semakin tinggi ketimpangan ekonomi di suatu wilayah.

Setelah dilakukan perhitungan terhadap ketimpangan pendapatan antara kabupaten dan kota di provinsi Jawa Barat, dapat dilihat bahwa pada tahun 2003-2012 nilai indeks ketimpangan kabupaten/kota di provinsi Jawa Barat berkisar pada nilai 0,6001 sampai dengan 0,6970. Indeks ketimpangan tertinggi terjadi pada tahun 2009 sebesar 0,670 dan terendah terjadi pada tahun 2003 sebesar 0,6001. Sehingga rata-rata Indeks Williamson kabupaten dan kota di provinsi Jawa Barat adalah 0,6625, seperti pada tabel 4.5.

Tabel 4.5.

Indeks Williamson di Provinsi Jawa Barat

Tahun Indeks Williamson

2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 0,6001 0,6003 0,6688 0,6908 0,6910 0,6966 0,6970 0,6256 0,6328 0,6321 Rata-rata 0,6625

Sumber: Data diolah

Tabel 4.5. menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan antara wilayah di provinsi Jawa Barat dari tahun 2003 - 2012 menunjukkan angka

(41)

0,5844. Nilai ketimpangan menurut indeks Williamson terletak antara 0 sampai dengan 1, di mana semakin mendekati nol menunjukkan ketimpangan sangat ringan dan semakin mendekati satu menunjukkan ketimpangan sangat tinggi. Dari kriteria tersebut terlihat bahwa di provinsi Jawa Barat pada tahun 2003-2012 tergolong mempunyai tingkat ketimpangan pendapatan tinggi. Menurut Tambunan (2001) bahwa Vw – 0,50 – 0,69 dikategorikan ketimpangan tinggi.

Tabel 4.6.

PDRB Perkapita Harga Konstan 2000 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat

2003-2012 (Jutaan Rupiah)

No. Kabupaten/Kota Tahun Rata-rata

2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 01 Kab. Bogor 6,04 6,00 6,11 6,30 6,52 6,75 6,95 6,82 7,10 7,32 6,59 02 Kab. Sukabumi 2,98 3,09 3,20 3,30 3,42 3,52 3,62 3,69 3,77 3,90 3,45 03 Kab. Cianjur 3,07 3,16 3,25 3,32 3,42 3,52 3,63 3,82 3,93 4,09 3,52 04 Kab. Bandung 5,10 5,39 5,34 4,01 6,15 6,31 6,52 6,84 7,12 7,39 6,02 05 Kab. Garut 3,71 3,72 3,78 3,84 3,94 4,03 4,22 4,63 4,80 4,95 4,16 06 Kab. Tasikmalaya 2,57 2,66 2,56 2,59 2,73 2,76 2,84 3,29 3,37 3,49 2,89 07 Kab. Ciamis 3,16 3,70 3,82 3,91 4,05 4,20 4,38 4,85 5,01 5,25 4,23 08 Kab. Kuningan 2,87 2,86 2,92 2,98 3,04 3,11 3,22 3,83 3,97 4,15 3,30 09 Kab. Cirebon 2,77 2,90 3,01 3,12 3,25 3,36 3,50 3,93 4,06 4,24 3,41 10 Kab. Majalengka 2,66 2,86 2,97 3,08 3,21 3,34 3,47 3,80 3,90 4,08 3,34 11 Kab. Sumedang 4,05 4,13 4,22 4,31 4,42 4,53 4,70 5,13 5,28 5,47 4,62 12 Kab. Indramayu 7,31 7,64 7,00 7,10 7,22 7,48 7,55 8,63 8,89 9,32 7,81 13 Kab. Subang 3,76 4,00 4,24 4,28 4,44 4,57 4,75 5,03 5,16 5,38 4,56 14 Kab. Purwakarta 7,31 7,30 7,45 7,60 7,77 8,03 8,36 8,50 8,88 9,28 8,05 15 Kab. Karawang 6,62 6,92 7,29 7,66 7,99 8,69 9,24 10,16 10,72 11,52 8,68 16 Kab. Bekasi 19,55 20,33 21,15 21,99 22,87 23,75 24,42 20,91 21,82 22,27 21,91 17 Kab. Bandung Brt 4,56 4,76 4,92 5,32 5,53 5,77 3,09 18 Kota Bogor 3,91 4,03 4,22 4,42 4,63 4,85 5,03 5,04 5,25 5,46 4,68 19 Kota Sukabumi 4,69 4,82 4,94 5,12 5,34 5,53 5,81 6,43 6,72 6,97 5,64 20 Kota Bandung 8,22 8,68 9,23 9,84 10,55 11,28 12,10 13,24 14,14 15,26 11,25 21 Kota Cirebon 16,21 16,94 17,50 18,19 15,68 16,09 16,62 17,70 18,42 19,38 17,27 22 Kota Bekasi 5,66 5,75 5,89 6,10 6,36 6,60 6,72 6,63 6,97 7,23 6,39 23 Kota Depok 3,15 3,28 3,46 3,64 3,84 4,03 4,18 3,75 3,93 4,06 3,73 24 Kota Cimahi 9,92 10,15 10,37 10,61 10,87 11,10 11,28 12,03 12,47 12,90 11,17 25 Kota Tasikmalaya 4,89 4,89 4,96 5,07 5,26 5,45 5,73 6,10 6,34 6,65 5,53 26 Kota Banjar 3,37 3,39 3,48 3,57 3,67 3,83 4,28 4,43 4,62 3,46 Prov. Jawa Barat 5,09 5,84 5,94 6,09 6,23 6,35 6,59 6,83 7,09 7,38 6,49

(42)

Berdasarkan tabel 4.6 dapat dikatakan bahwa dalam kurun waktu 2003 - 2012 kabupaten dan kota yang mempunyai tingkat pendapatan perkapita tertinggi yaitu kabupaten Bekasi yaitu 21,91 juta dan terendah kabupaten Tasik Malaya yaitu 2,89 juta.

4.4. Hipotesis Kuznet tentang “U” Terbalik di Provinsi Jawa Barat

Hipotesis Kuznet yang menunjukkan hubungan antara ketimpangan dengan pertumbuhan ekonomi yang berbentuk U terbalik yang menjelaskan bahwa pada tahap-tahap awal pertumbuhan ekonomi ketimpangan memburuk atau membesar dan pada tahap-tahap berikutnya ketimpangan menurun, namun pada suatu waktu ketimpangan akan menaik dan demikian seterusnya sehingga terjadi peristiwa yang berulang kali dan jika digambarkan kurva U terbalik. Dalam hal ini hubungan antara angka Indeks Williamson dengan pertumbuhan PDRB provinsi Jawa Barat dapat dilihat pada tabel 4.7

Tabel 4.7

Pertumbuhan Ekonomi dan Indeks Williamson

Tahun Pertumbuhan Ekonomi Indeks Williamson

2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 3,72 3,74 2,31 1,94 4,99 3,62 3,74 6,21 3,84 4,26 0,6001 0,6003 0,6688 0,6908 0,6910 0,6966 0,6970 0,6256 0,6328 0,6321 Rata-rata 3,79 0,6625

(43)

0,6970 0,6966 0,6910 0,6908 0,6796 0,6688 0,6603 0,6558 0,6328 0,6256 3,72 3,74 2,31 1,94 4,99 3,62 3,74 6,21 3,84 4,26 Pertumbuhan

Gambar 4.1. Kurve hubungan antara Indeks Williamson dengan Pertumbuhan PDRB Propinsi Jawa Barat

Periode 2003-2012

Dari gambar 4.1 dapat diketahui bahwa U terbalik tidak sempurna. Sehingga dapat dikatakan bahwa di Provinsi Jawa Barat pada masa-masa awal pertumbuhan ketimpangan memburuk dan masa berikutnya ketimpangan menurun, namun pada periode 2005 – 2009 terjadi kenikan ketimpangna, namun pada tahun berikutnya 2010 menurun dan tahun 2011 dan 2012 terjadi kenaikan lagi. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis kuznets dapat dikatakan tidak berlaku di Provinsi Jawa Barat

0,6001 0,6003 0,6688 0,6908 0,6910 0,6966 0,6970 0,6256 0,6328 0,6321 In d e k s W il li a m so n

(44)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:

1. Struktur pertumbuhan ekonomi kabupaten dan kota di provinsi Jawa Barat terbagi dalam empat pola yaitu: perekonomian maju dan tumbuh cepat terdiri dari kabupaten Karawang dan kota Bandung; daerah berkembang cepat tapi tidak maju yaitu kabupaten Bandung, kabupaten Tasikmalaya, kabupaten Ciamis, kabupaten Kuningan, kabupaten Cirebon, kabupaten Majalengka, kabupaten Subang, kabupaten Bandung Barat, kabupaten Bogor, kabupaten Sukabumi, dan kabupaten Banjar. Sedangkan kabupaten dan kota yang merupakan daerah maju tetapi tertekan meliputi 4 kabupaten dan 2 kota yaitu kabupaten Bogor, kabupaten Indramayu, kabupaten Purwakarta, kabupaten Bekasi, kabupaten Cirebon, dan kabupaten Cimahi. Kabupaten dan kota yang termasuk dalam daerah relatif tertinggal meliputi 4 kabupaten dan 3 kota yaitu kabupaten Sukabumi, kabupaten Cianjur, kabupaten Garut, kabupaten Sumedang, kabupaten Bekasi, kabupaten Depok, dan kabupaten Tasikmalaya.

2. Indeks Williamson di provinsi Jawa Barat berkisar pada angka 0,5844 yang menunjukkan bahwa tingkat ketimpangan pembangunan di provinsi Jawa Barat adalah tinggi.

(45)

3. Hipotesis Kuznet tentang hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan pembangunan berbentuk U terbalik tidak berlaku di propinsi Jawa Barat

B. Saran

1. Tingkat pertumbuhan ekonomi yang meningkat menyebabkan ketimpangan meningkat, sehingga pemerintah perlu melaksanakan upaya pemerataan pembangunan, khususnya di daerah lain selain kabupaten Karawang dan kota Bandung.

2. Kerja sama antar daerah kabupaten dan kota dengan pemerintah provinsi perlu dilakukan agar pelaksanaan pembangunan dapat terlaksana seara menyeluruh, sehingga pemerataan pembangunan dapat tercapai dan ketimpangan pembangunan dapat diperkeil.

(46)

DAFTAR PUSTAKA

Amin Pujiati. 2008. Analisis Pertumbuhan Ekonomi di Karesidenan Semarang Era Desentralisasi Fiskal, Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 13 No. 2, Yogyakarta.

Arsyad, Lincolin. 1990. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi

Daerah, Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta.

Aswandi, H. dan Kuncoro, Mudrajad. 2002. Evaluasi Penetapan Kawasan Andalan: Studi Empirik di Kalimantan Selatan 1993-1999. Jurnal Ekonomi

dan Bisnis Indonesia, Vol. 17, No. 1, 2002, 27-28.

Bapeda, 2012. Kompilasi dan Analisis PDRB Kabupaten/Kota di Jawa Barat, Bandung: Pusdalitbang.

BPS, 2013. Jawa Barat dalam Angka, Bandung.

Dewi dkk, 2014. Analisis Ketimpangan Pembangunan Antara Kabupaten/Kota di

Propinsi Bali. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol. 4 No. 02, FEB Universitas

Udayana Denpasar

Pramono Hariadi dkk. 2008. Ketimpangan Distribusi Pendapatan di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 13 No. 2, Yogyakarta.

Sjafrizal. 1997. Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Regional Wilayah Indonesia Bagian Barat. Prisma LP3ES, No. 3 Tahun XXVI.

Todaro, M.P. 2000. Economic Development, Seventh Edition, New York, Addition Wesley Longman, Inc.

(47)

Lampiran 1

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) JAWA BARAT ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 MENURUT KABUPATEN/KOTA

TAHUN 2002 (JUTAAN RUPIAH)

No. Kabupaten/Kota PDRB JUMLAH

PENDUDUK PDRB / KAPITA 01 Kab. Bogor 21.385.612,93 3.610.432 5,92 02 Kab. Sukabumi 6.331.391,75 2.195.273 2,88 03 Kab. Cianjur 6.094.911,49 2.004.957 3,04 04 Kab. Bandung 19.457.630,88 4.343.864 4,48 05 Kab. Garut 7.880.905,43 2.116.956 3,72 06 Kab. Tasikmalaya 3.901.465,81 2.122.197 1,84 07 Kab. Ciamis 5.594.396,19 1.653.783 3,38 08 Kab. Kuningan 2.844.195,79 1.005.702 2,83 09 Kab. Cirebon 5.487.853,44 2.018.352 2,72 10 Kab. Majalengka 3.039.562,16 1.151.595 2,64 11 Kab. Sumedang 3.979.480,63 995.610 4,00 12 Kab. Indramayu 13.812.336,63 1.702.030 8,12 13 Kab. Subang 4.889.793,86 1.364.622 3,58 14 Kab. Purwakarta 5.191.883,28 724.630 7,16 15 Kab. Karawang 12.074.444,03 1.846.981 6,54 16 Kab. Bekasi 34.987.215,16 1.791.027 19,53 71 Kota Bogor 2.986.837,37 809.140 3,69 72 Kota Sukabumi 1.202.798,55 262.118 4,59 73 Kota Bandung 17.226.733,10 2.211.554 7,79 74 Kota Cirebon 4.241.695,14 279.544 15,17 75 Kota Bekasi 10.019.135,93 1.810.160 5,53 76 Kota Depok 3.924.054,35 1.271.419 3,09 77 Kota Cimahi 78 Kota Tasikmalaya Jumlah 196.554.333,90 37.291.946,00 122,25

(48)

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) JAWA BARAT ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 MENURUT KABUPATEN/KOTA

TAHUN 2004 (MILIAR RUPIAH)

No. Kabupaten/Kota PDRB JUMLAH

PENDUDUK PDRB / KAPITA 01 Kab. Bogor 23.671 3.945.411 0,00600 02 Kab. Sukabumi 6.828 2.210.091 0,00309 03 Kab. Cianjur 6.570 2.079.306 0,00316 04 Kab. Bandung 21.575 4.002.290 0,00539 05 Kab. Garut 8.418 2.260.478 0,00372 06 Kab. Tasikmalaya 4.178 1.569.292 0,00266 07 Kab. Ciamis 5.632 1.522.928 0,00370 08 Kab. Kuningan 3.073 1.073.172 0,00286 09 Kab. Cirebon 6.038 2.084.572 0,00290 10 Kab. Majalengka 3.387 1.184.760 0,00286 11 Kab. Sumedang 4.311 1.043.340 0,00413 12 Kab. Indramayu 13.369 1.749.170 0,00764 13 Kab. Subang 5.634 1.406.976 0,00400 14 Kab. Purwakarta 5.547 760.220 0,00730 15 Kab. Karawang 13.424 1.939.674 0,00692 16 Kab. Bekasi 38.977 1.917.248 0,02033 71 Kota Bogor 3.361 833.523 0,00403 72 Kota Sukabumi 1.341 278.418 0,00482 73 Kota Bandung 19.875 2.290.464 0,00868 74 Kota Cirebon 4.690 276.912 0,01694 75 Kota Bekasi 11.113 1.931.976 0,00575 76 Kota Depok 4.441 1.353.249 0,00328 77 Kota Cimahi 4.898 482.763 0,01015 78 Kota Tasikmalaya 2.833 579.128 0,00489 79 Kota Banjar 562 166.868 0,00337 Jumlah 223.746 38.942.229 0,14857

(49)

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) JAWA BARAT ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 MENURUT KABUPATEN/KOTA

TAHUN 2005 (MILIAR RUPIAH)

No. Kabupaten/Kota PDRB JUMLAH

PENDUDUK PDRB / KAPITA 01 Kab. Bogor 25.056 4.100.934 0,00611 02 Kab. Sukabumi 7.126 2.224.993 0,00320 03 Kab. Cianjur 6.821 2.098.644 0,00325 04 Kab. Bandung 22.773 4.263.934 0,00534 05 Kab. Garut 8.768 2.321.070 0,00378 06 Kab. Tasikmalaya 4.337 1.693.479 0,00256 07 Kab. Ciamis 5.890 1.542.661 0,00382 08 Kab. Kuningan 3.198 1.096.848 0,00292 09 Kab. Cirebon 6.344 2.107.918 0,00301 10 Kab. Majalengka 3.538 1.191.490 0,00297 11 Kab. Sumedang 4.506 1.067.361 0,00422 12 Kab. Indramayu 12.323 1.760.286 0,00700 13 Kab. Subang 6.026 1.421.973 0,00424 14 Kab. Purwakarta 5.742 770.660 0,00745 15 Kab. Karawang 14.480 1.985.574 0,00729 16 Kab. Bekasi 41.319 1.953.380 0,02115 71 Kota Bogor 3.567 844.778 0,00422 72 Kota Sukabumi 1.421 287.760 0,00494 73 Kota Bandung 21.371 2.315.895 0,00923 74 Kota Cirebon 4.920 281.089 0,01750 75 Kota Bekasi 11.740 1.994.850 0,00589 76 Kota Depok 4.750 1.373.860 0,00346 77 Kota Cimahi 5.122 493.698 0,01037 78 Kota Tasikmalaya 2.947 594.158 0,00496 79 Kota Banjar 588 173.576 0,00339 Jumlah 234.673 39.960.869 0,15227

(50)

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) JAWA BARAT ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 MENURUT KABUPATEN/KOTA

TAHUN 2006 (MILIAR RUPIAH)

No. Kabupaten/Kota PDRB JUMLAH

PENDUDUK PDRB / KAPITA 01 Kab. Bogor 26.546 4.216.186 0,00630 02 Kab. Sukabumi 7.405 2.240.901 0,00330 03 Kab. Cianjur 7.048 2.125.023 0,00332 04 Kab. Bandung 17.640 4.399.128 0,00401 05 Kab. Garut 9.129 2.375.725 0,00384 06 Kab. Tasikmalaya 4.511 1.743.324 0,00259 07 Kab. Ciamis 6.116 1.565.121 0,00391 08 Kab. Kuningan 3.330 1.118.776 0,00298 09 Kab. Cirebon 6.670 2.134.656 0,00312 10 Kab. Majalengka 3.686 1.197.994 0,00308 11 Kab. Sumedang 4.694 1.089.889 0,00431 12 Kab. Indramayu 12.621 1.778.396 0,00710 13 Kab. Subang 6.174 1.441.191 0,00428 14 Kab. Purwakarta 5.964 784.797 0,00760 15 Kab. Karawang 15.568 2.031.128 0,00766 16 Kab. Bekasi 43.793 1.991.230 0,02199 71 Kota Bogor 3.782 855.846 0,00442 72 Kota Sukabumi 1.509 294.646 0,00512 73 Kota Bandung 23.043 2.340.624 0,00984 74 Kota Cirebon 5.192 285.363 0,01819 75 Kota Bekasi 12.453 2.040.258 0,00610 76 Kota Depok 5.066 1.393.568 0,00364 77 Kota Cimahi 5.369 506.250 0,01061 78 Kota Tasikmalaya 3.098 610.456 0,00507 79 Kota Banjar 616 177.118 0,00348 Jumlah 241.023 40.737.594 0,15586

(51)

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) JAWA BARAT ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 MENURUT KABUPATEN/KOTA

TAHUN 2007 (MILIAR RUPIAH)

No. Kabupaten/Kota PDRB JUMLAH

PENDUDUK PDRB / KAPITA 01 Kab. Bogor 28.151 4.316.236 0,00652 02 Kab. Sukabumi 7.715 2.258.253 0,00342 03 Kab. Cianjur 7.343 2.149.121 0,00342 04 Kab. Bandung 18.684 3.038.038 0,00615 05 Kab. Garut 9.563 2.429.167 0,00394 06 Kab. Tasikmalaya 4.884 1.792.092 0,00273 07 Kab. Ciamis 6.422 1.586.076 0,00405 08 Kab. Kuningan 3.471 1.140.777 0,00304 09 Kab. Cirebon 7.027 2.162.644 0,00325 10 Kab. Majalengka 3.866 1.204.379 0,00321 11 Kab. Sumedang 4.912 1.112.336 0,00442 12 Kab. Indramayu 12.956 1.795.372 0,00722 13 Kab. Subang 6.473 1.459.077 0,00444 14 Kab. Purwakarta 6.204 798.272 0,00777 15 Kab. Karawang 16.559 2.073.356 0,00799 16 Kab. Bekasi 46.481 2.032.008 0,02287 17 Kab Bandung Barat 6.811 1.493.225 0,00456 71 Kota Bogor 4.013 866.034 0,00463 72 Kota Sukabumi 1.607 300.694 0,00534 73 Kota Bandung 24.942 2.364.312 0,01055 74 Kota Cirebon 4.554 290.450 0,01568 75 Kota Bekasi 13.255 2.084.831 0,00636 76 Kota Depok 5.423 1.412.772 0,00384 77 Kota Cimahi 5.639 518.985 0,01087 78 Kota Tasikmalaya 3.283 624.478 0,00526 79 Kota Banjar 646 180.744 0,00357 Jumlah 260.884 41.483.729 0,16508

Gambar

Gambar 1.1.  Kerangka Pemikiran Pertumbuhan dan Ketimpangan Pembangunan  Ekonomi antar Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Barat
Gambar 2.3  Kurva Lorenz
Gambar 4.1. Kurve hubungan antara Indeks Williamson   dengan Pertumbuhan PDRB Propinsi Jawa Barat

Referensi

Dokumen terkait

Kasus: paket yang diterima lebih besar dari yang dapat dikirimkan =&gt; ditampung dalam buffer. Kasus ekstrim: terjadi penundaan akibat antrian pengiriman =&gt; congestion

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persepsi masyarakat atau nasabah terhadap kualitas layanan yang diberikan oleh lembaga keuangan perbankan, khususnya pada Bank

Untuk temuan kerang/ moluska yang ditemukan di situs Hatusua sendiri termasuk dalam kategori Zona Kawanan Sahul dimana Chicoreus cornucervi merupakan kerang/

THEME AND THEMATIC PROGRESSION IN STUDENTS ’ RECOUNT TEXTS Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu..

Sehubungan dengan telah selesainya masa evaluasi penawaran administrasi, teknis dan harga untuk pemilihan langsung Pekerjaan Pembangunan Gedung Kantor Sekretariat

Three alleles, each generated by primers OPB-14, OPA-17 and OPA-04 were present in sweet orange and absent in any genotypes belonging to citranges, while primer OPB-05 amplified

Prestasi kerja merupakan hasil yang dicapai oleh seseorang selama bekerja sesuai dengan tugas yang dibebankan kepada karyawan tersebut yang didasarkan pada keterampilan yang

Tidak adanya ketentuan dan tidak diberikannya bantuan hukum kepada tersangka dan terdakwa yang melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana di bawah 5 (lima)