BAB II
LANDASAN TEORI
A. Hasil-hasil Penelitian Sebelumnya
Penelitian yang berkaitan dengan nilai-nilai didaktis yang pernah dilakukan sebelumnya di Universitas Muhammadiyah Purwokerto antara tahun 2003-2009 didokumentasikan di perpustakaan. Berikut ini uraian hasil penelitian nilai-nilai didaktis yang pernah dilakukan sebelummnya:
1. “Kajian Nilai-nilai Didaktis cerita anak Berhasil Karena Menabung karya RS. dan Relevansi sebagai Bahan Pengajaran Sastra kelas V di sekolah dasar”, pada
tahun 2003 oleh Sumiatun. Penelitian ini menganalisis teks dengan menggunakan pendekatan struktural. Pendekatan struktural digunakan untuk menggungkapkan karya sastra dari unsur pembangun karya sastra itu sendiri yaitu unsur intrinsik. Kemudian peneliti menelaah nilai-nilai didaktis yang ada dalam cerita, dan mengaitkannya dengan kurikulum di sekolah dasar sebagai bahan pengajaran sastra kelas V.
2. “Kajian Nilai-Nilai Didaktis Dalam Novel Syahadat Cinta Karya Taufiq
Qurohman Alazity Sebagai Bahan Pengajaran Sastra di SMA”, pada tahun 2007
3. “Kajian Nilai-nilai Didaktis dalam novel Cintamu Sebening Embun karya Launa Khalida sebagai Bahan Pengajaran Sastra di SMA”, pada tahun 2009 oleh
Indriyani. Penelitian ini juga menganalisis teks dengan menggunakan pendekatan moral untuk mengungkap nilai-nilai didaktis yang tergambar dalam novel. Dan mengaitkan nilai-nilai didaktis tersebut dengan kurikulum yang ada di Sekolah Menengah Atas untuk dijadikan sebagai bahan pengajaran.
Penelitian ini berbeda dari penelitian yang pernah dilaksanakan sebelumnya sebab nilai didaktis yang ada dalam novel TKDLDNK ini dikaitkan dengan tingkat kesesuaian dan karakteristik sastra anak. Menurut Sarumpaet (dalam Purbani) sastra anak Indonesia lemah dari berbagai segi, baik segi bahasa, penceritaan atau pun penokohan. Pernyataan tersebut dijabarkan oleh Purbani yang menjelaskan bahwa bahasa yang digunakan dalam cerita anak kadang-kadang bukan bahasa anak-anak, melainkan bahasa orang dewasa yang sengaja ditampilkan dalam diri tokoh cerita anak. Berkenaan dengan alur cerita dan penokohan. Alur cerita yang terlampau sederhana, mengandung terlalu banyak konflik yang mudah diselesaikan, penyelesaian yang mudah juga kurang memuaskan sebagian pembaca anak berdasarkan tingkat usia pembaca yang akan berkaitan dengan perkembangan kecerdasan anak. Teknik penokohan serupa, terutama pada cerita-cerita realis (nyata) atau fantasi (khayalan) akan keluar dari cara berpikir logis anak mengenai manusia dan kehidupan, yang menjadi inti dari cerita.
mendeskripsikan keterkaitan antara tema dan amanat berdasarkan pendekatan moral yang digunakan dalam penelitian.
B. Landasan Teori
Pendekatan moral bertolak dari asumsi dasar bahwa salah satu tujuan kehadiran sastra di tengah-tengah pembaca adalah berupaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai mahluk berbudaya, berfikir, dan berketuhanan. Kehadiran tema dan amanat dalam penelitian ini bersifat otonom (berdiri sendiri) yakni tidak berhubungan langsung dengan komponen lain secara struktural, oleh karena itu peneliti akan menjabarkan pengertian tema dan amanat sebagai berikut: 1. Tema secara garis besar adalah ide pokok yang menjadi titik tolak pengarang
dalam menulis sebuah cerita. Tema (theme), menurut Staton dan Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2007: 67) mengungkapkan bahwa tema adalah makna yang terkandung oleh sebuah cerita.
Hakikat tema, secara sederhana menurut Lukens (dalam Nurgiyantoro, 2007: 260) sebagai gagasan yang mengikat cerita, sehingga tampil sebagai sebuah kesatupaduan yang harmonis. Berbagai penjelasan akan tema yang teruraikan kaitannya dengan penelitian ini, tema akan dinilai dan dipandang dari ide pokok secara moral yang tentunya tidak terlepas dari nilai didaktis. Kesatupaduan ini merupakan bagian yang terbesar dari unsur moral.
Penjabaran mengenai tema sebelumnya, jelas terlihat bahwa tema, yang dipahami sebagai gagasan utama atau makna cerita, tidak lain juga moral. Artinya tema tidak lain juga moral (Nurgiyantoro, 2010: 266). Penyederhaan pemahaman akan tema yang tidak lain juga moral tidak dapat ditolak walau sebenarnya tema lebih dari sekadar moral. Sebab tema mengemban misi yang sangat besar daripada moral. Namun, dalam cerita fiksi anak, penyerderhanaan pemahaman tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. Hal itu terlihat, mempertanyakan apa atau bagaimana tema yang dikandungnya, mendidik atau tidak, jika jawabannya ya, seberapa jauh kadarnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada hakikatnya juga mempertanyakan moral.
Selaras dengan penjelasan moral. Macam moral dalam cerita fiksi dapat bermacam-macam dan berbagai jenis, tergantung dari sudut pandang mana semua itu dilihat. Nurgiyantoro (2010: 66) mengemukakan bahwa moral dilihat dari sudut persoalan hidup manusia dikategorikan ke dalam beberapa macam hubungan antara lain; hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan sesama, hubungan manusia dengan lingkungan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Berdasarkan keempat hubungan tersebut moral dapat dirinci ke dalam jenis-jenis tertentu, yang dapat dipandang sebagai variannya, yang secara konkret ditemukan dalam sebuah cerita yang jumlahnya relative banyak. Dalam hal ini moral ditafsirkan berdarkan sikap dan perilaku.
Selain itu, kedudukan karya sastra terhadap perkembangan anak disampaikan oleh Kurniawan (2009: 2-3) antara lain :
(reading habit) anak, dan kebiasaan membaca ini merupakan kunci untuk menguasai ilmu pengetahuan apapun, karena segala ilmu pengetahuan hanya bisa dipelajari dengan membaca.
2. Dari pembacaan karya sastra yang intens, maka karya sastra bisa meningkatkan aspek kecerdasan kognisi, afeksi, dan psikomotor anak. Hal ini membuktikan bahwa dalam karya sastra ada kehidupan yang menawarkan nilai-nilai moral yang baik untuk perkembangan pikiran dan perasaan anak.
Pernyataan mengenai moral dan kedudukan sastra terhadap perkembangan anak sebelummnya penjelasan pada fiksi anak mempunyai karakteristik yang berbeda pada dari fiksi dewasa. Cerita anak, anak adalah subjek yang menjadi fokus perhatian, dan itu haruslah tercermin secara konkret dalam cerita. Pengertian cerita anak sejalan dengan pendapat Huck Dkk (dalam Nurgiyantoro, 2010: 219) yaitu childrean’s books are books that have the chidren’s eye at the center (buku cerita fiksi anak yang baik
adalah buku cerita yang mengantarkan dan berangkat dari kacamata anak). Tujuan dari kegiatan (penciptaan karya sastra) membaca buku cerita fiksi anak agar anak merasa senang, puas, dan mampu memperoleh pelajaran yang berharga. Hiburan dan perkembangan anak yang didapatkan dari membaca cerita anak ini, juga disampaikan oleh Tarigan (2006: 10-11) berdasarkan bangunan sastra itu sendiri yang terdiri dari unsur intrinsik dan ekstrinsik. Berikut uraiannya.
1. Nilai Instrinsik yang diberikan oleh sastra kepada anak-anak
Pertama, bahwa sastra memberikan kesenangan, kegembiraan, dan
akan tercapai apabila sastra dapat memperluas wawasan cakrawala anak dengan menyajikan pengalaman dan wawasan baru.
Kedua, sastra dapat mengembangkan imajinasi anak dan membantu mereka
mempertimbangkan, memikirkan alam, insan, pengalaman, atau gagasan dengan berbagai cara. Dengan catatan karya sastra yang baik dapat mengungkapkan serta membangkitkan keanehan dan keingintahuan para anak.
Ketiga, sastra dapat memberikan pengalaman-pengalaman aneh yang seolah-olah dialami sendiri oleh para anak. Karena pandangan-pandangan baru anak diturunkan sebagaimana para anak memperoleh serta memiliki pengalaman aneh melalui sastra itu.
Keempat, sastra dapat mengembangkan wawasan para anak menjadi perilaku insani. Dalam karya sastra tersebut sebagai pengajaran dan didikan yang baik akan moral serta kebaikan-kebaikan yang lain.
Kelima, sastra dapat menyajikan serta memperkenalkan kesemestaan
pengalaman kepada para anak melalui pengemukaan masalah-masalah universal mengenai makna kehidupan dan hubungan manusia dengan alam dan orang lain.
Keenam, sastra merupakan sumber utama bagi penerusan warisan dari satu
generasi ke generasi berikutnya sebagai pemanaham dan penilaian warisan budaya manusia.
2. Nilai Ekstrinisk yang diberikan sastra kepada anak bagi perkembangannya
Perkembangan Bahasa. Dengan menyimak atau membaca karya sastra, maka
Dengan demikian jelas bahwa sastra berfungsi untuk menunjang perkembangan bahasa anak-anak
Perkembangan Kognitif. Pengalaman-pengalaman sastra merupakan salah satu
sarana untuk menunjang perkembangan kognitif atau penalaran anak-anak. Menurut Desmita (2009: 103) kognitif istilah dalam psikolog untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengelolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, pemecahan masalah, dan merencanakan masa depan, memperkirakan, menilai, dan memikirkan lingkungannya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kognitif berkaitan dengan intelektual seseorang dalam mematangkan pemikiran.
Perkembangan Kepribadian. Sastra mempunyai peranan penting dalam
perkembangan kepribadian anak melalui tokoh-tokoh. Secara tidak sadar telah mendorong anak mengendalikan berbagai emosi, misalnya benci, cemas, khawatir, takut, bangga, angkuh, yaitu situasi interaksi antara pembaca dan sastra mempunyai keutuhan tersendiri dalam pembentukan kepribadian bagi seorang anak.
Perkembangan Sosial. Istilah sosialisasi mengacu pada suatu proses yang digunakan oleh anak-anak untuk memperoleh perilaku, norma-norma, dan motivasi-motivasi yang selalu dipantau serta dinilai oleh keluarga mereka dan kelompok budaya mereka. Dan tidak disangkal pula, manusia adalah makhuk sosial yang hidup bermasyarakat. Untuk menjadi anggota masyarakat, maka perlu mengalami proses sosialisasi. Proses sosialisasi yang berpengaruh dalam dunia anak pun terdiri dari tiga
bagian.
b. Proses imitasi atau proses peniruan. Anak-anak memperoleh banyak dari responsi, perilaku, dan kepercayaan/keyakinan dengan cara mengamati orang. c. Proses identifikasi, proses pengenalan ini merupakan proses yang paling penting
bagi sosialisasi. Identifikasi ini, menuntut ikatan emosional dengan model-model yang ada. Anak-anak ingin sekali agar pikiran, perasaan, dan sifat-sifat mereka menjadi sama dengan model yang disukainya.
Berkaitan dengan penjelasan yang dikemukakan oleh Tarigan. Gessel dan Thompson (dalam Pratisi, 2008: 9) menjelaskan tentang kemampuan berbicara berkaitan erat dengan kematangan biologis. Semakin bertambah usia seseorang, akan semakin matang secara biologis. Sehingga kemampuan berbicara juga semakin kompleks. Perkembangan bahasa anak dijelaskan kembali oleh Tarigan (2011: 23-31) mempunyai ciri sebagai berikut :
1. Perkembangan Bahasa Anak Prasekolah umur 2-6
Usia 2-3 tahun, pertumbuhan bahasa terjadi dengan sangat cepat. Anak telah
mempunyai kosakata atau perbendaharaan kata kira-kira 900 (Sembilan ratus) buah. Pada masa ini, anak-anak belajar mengenali dan menyebut/memberi nama tindakan-tindakan dalam gambar.
Usia 3-4 tahun, kosakata atau pembendaharaan kata anak-anak berkembang
dan meningkat sampai kira-kira 1500 (seribu lima ratus) kata. Bahasa dalam konteks ini digunakan sebagai alat membantu anak-anak untuk menemukan atau memahami dunia mereka.
Usia 4-5 tahun, bahasa anak semakin abstrak; mereka menghasilkan
kira-kira 2500 (dua ribu lima ratus) kata. Anak mulai mengunakan preposisi atau kata depan misalnya di atas, di bawah, di dalam dan lain sebagianya.
Usia 5-6 tahun, kebanyakan pada usia ini anak menggunakan bahasa secara
kompleks sesering mungkin. Pada usia ini anak-anak mengerti dan memahami kira-kira 6.000 (enam ribu) kata.
2. Perkembangan Bahsas Anak Masa Sekolah 6-12
Usia 6-8 tahun masa sekolah, perkembangan bahasa anak berlangsung dan
meningkat terus; banyak kata-kata baru masuk ke dalam perbendaharaan kata atau kosakata mereka. Pada usia ini anak-anak mengerti dan memahami kira-kira 9.000 (sembilan ribu) kata.
Usia 8-10 tahun masa sekola, anak-anak mulai menghubungkan konsep
dengan idea tau gagasan umum. Mereka menggunakan penghubung seperti sementara itu, dalam pada itu, kecuali kalau, kalau tidak, dan sejenisnya. Pada usia ini
anak-anak mengerti dan memahami kira-kira 12.000 (dua belas ribu) kata.
Usia 10-12 tahun masa sekolah, anak-anak menggunakan kalimat kompleks
dengan klausa atau kalimat konsesi yang dinyatakan dengan penggunaan namun demikian, meskipun demikian, walaupun begitu, meskipun begitu. Juga seringkali
terlihat penggunaan kata kerja bantu seperti boleh, mungkin, dapat, bisa, akan, hendak, dan sebagainya. Pada usia ini anak-anak mengerti dan memahami kira-kira 15.000 (lima belas ribu) kata.
kecerdasan dan kearifannya sendiri. Purbani (dalam Artikel berjudul; Sastra Anak Indonesia Sebagai Genre, Sebuah Utopia?. Diakses Rabu, 1 Februari 2012 pukul 9:15 wib) menilai kelengkapan berpikir anak untuk menerima 'apa saja, dengan cara bagaimana saja' belum terbangun, akan membuat teks yang ditujukan pada mereka memiliki persyaratan-persyaratan tertentu: teks yang mampu membagi pengetahuan tanpa harus menempatkan pembacanya pada posisi subordinat baik secara sadar maupun tidak sadar. Kekeliruan memahami anak secara umum maupun anak-anak sebagai pembaca suatu cerita dijelaskan kembali oleh Purbani (dalam seminar dengan makalah berjudul; Sastra Anak FBS UNY, Oktober 2003. Diakses Rabu, 1 Februari 2012 pukul 21:12 wib) antara lain sebagai berikut :
1. Pada umumnya nilai-nilai moral adalah tujuan utama menulis cerita, sehingga segala bentuk cerita kita paksakan atau pastikan untuk memuat nilai-nilai tersebut, karena cerita yang tidak bermuatan nilai-nilai moral anggap kurang berbobot.
2. Alur cerita yang terlampau simpel, yang mengandung terlampau banyak kebetulan dan memiliki penyelesaian yang mudah atas konflik yang muncul juga kurang memuaskan sebagian pembaca anak.
3. Kehidupan dalam cerita yang serba cerah dan manis kurang menampilkan dimensi-dimensi kehidupan yang menarik, sehingga terasa menjemukan bagi sebagian pembaca anak, terutama pembaca yang usianya lebih tua.
Dengan demikian, dapat digaris bawahi bahwa karakterisasi cerita fiksi anak juga didukung dan dicerminkan dari apa yang ingin diungkapkan maupun bagaimana cara menungkapkannya. Apalagi hal yang sangat dominan dalam sastra anak yaitu berupa unsur dan fungsi pendidikan (didaktis). Didaktis yang ada dalam karya sastra didefinisikan sebagai upaya pemahaman satuan-satuan pokok pikiran yang dasarnya dari paparan gagasan pengarang, baik berupa tuturan ekspresif, komentar, dialog, lakuan, maupun deskripsi peristiwa dari pengarang (Aminuddin, 1995: 48). Dalam penerapan didaktis, dapat dipahami dari pola berfikir, misalnya mengenai Malin Kundang yang durhaka kepada orang tua. Maka, manusia harus bersifat baik kepada orang tua.
Lewat cerita yang ditampilkan tokoh dan alur cerita yang menarik dan menegangkan, anak akan memperoleh suatu yang berharga tanpa harus disadari olehnya. Nurgiyantoro (2010: 263-264) menilai sesuatu yang mendidik, yang mengandung unsur dan fungsi didaktis, tidak harus disampaikan dengan cara menggurui, karena tidak ada seorang pun yang senang jika terang-terangan digurui, sekali pun itu anak.
1. Nilai Didaktis dalam Sastra
Istilah nilai di dalam bidang filsafat dipakai untuk menunjuk kata benda abstrak yang artinya ‘keberhargaan’ (worth) atau ‘kebaikan’ (goodness), dan kata kerja yang artinya suatu tindakan kejiwaan tertentu dalam menilai atau melakukan penilaian Frankena (dalam Kaelan, 2000: 174).
Dalam nilai sendiri terkandung cita-cita, harapan-harapan, dambaan-dambaan dan keharusan. Max Scheler (dalam Kaelan, 2000: 175) mengemukanan bahwa nilai-nilai yang ada, tidak sama luhurnya dan sama tingginya. Bertes (2007: 139) juga menilai, bahwa nilai merupakan sesuatu yang menarik, sesuatu yang kita cari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang disukai dan diinginkan, singkatnya sesuatu yang baik. Singkatnya, nilai itu sebenarnya adalah suatu kenyataan yang ‘tersembunyi’ dibalik kenyataan-kenyataan lainnya. Adanya nilai itu karena adanya kenyataan yang dilakukan oleh pelaku nilai tersebut.
Begitu juga dalam cerita, biasanya ditemukan istilah nilai hitam dan putih. Pelukisan nilai hitam atau putih dalam karya sastra disebut juga nilai didaktis, nilai yang mengandung unsur kebaikan sebagai tuntunan disebut nilai putih, sebaliknya nilai keburukan dalam hidup digambarkan nilai hitam.
yang mempengaruhi atau menggerakkan tokohnya, kekalahan nilai keburukan, keadaan pendidikan tokohnya yang digambarkan, dan amanat di akhir cerita.
Selaras dengan penjelasan-penjelasan mengenai nilai dan berbagai macam implementasinya dalam karya sastra, nilai-nilai didaktis secara subtantif, sama dengan perilaku, sifat baik, dan moral. Seperti yang telah dijelaskan bahwa nilai didaktis yaitu pendidikan dan pengajaran. Artinya, didaktis itu sendiri berarti mendidik atau memelihara dan memberi latihan kepada pembaca (karya sastra) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Akhlak dalam bahasa arab artinya budipekerti, dan tingkah laku. Kecerdasan pikiran merupakan kepandaian seseorang dalam mengelola psikis atau rohani yang sehat dan jernih. Jadi, dapat disimpulkan, secara garis besar bahwa nilai didaktis ialah pesan moral yang berhubungan dengan sifat leluhur kemanusian.
Berdasarkan berbagai macam penjelasan tentang nilai didaktis dalam karya sastra. Maka dari objek penelitian yang berkaitan dengan nilai didaktis dalam cerita anak, ada beberapa nilai didaktis yang dominan dalam cerita antara lain tanggung jawab, peduli, berani, kreatif, dan rendah hati. Masing-masing nilai didaktis tersebut dikemukakan oleh Muchlas dan Hariyanto (2011: 51) terkecuali nilai berani yang akan dikemukakan tersendiri oleh Ritongga (2005: 211) dan nilai rendah hati yang akan didefinisikan menurut KBI.
a. Tanggung jawab
stress. Pengontrolan diri ini menumbuhkan disiplin diri terhadap pilihan dan keputusan yang diambil.
b. Peduli
Memperlakukan orang lain dengan sopan dan berkedikasi tinggi terhadap perbedaan, tidak suka menyakiti, menyayangi manusia dan makhluk lain serta cinta damai dalam menghadapi persoalan.
c. Kreatif
Tindakan kreatif ini dapat menyelesaikan masalah secara inovatif, luwes, kritis, berani mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Selain itu pula, jika menampilkan sesuatu yang luar biasa (unik), memiliki ide baru dan dapat membaca situati serta memanfaatkan peluang baru.
d. Berani, besar hati.
Menurut Ritongga (2005: 211) berani adalah kerelaan dan kesiapan mental menanggung semua resiko yang ditimbulkan dari perbuatannya.
e. Rendah Hati
Rendah hati dalam kamus KBI (2008: 68) sama halnya tidak sombong atau angkuh dan selalu merasa dirinya merendah, meskipun mempunyai keistimewaaan.
2. Keterkaitan Moral dengan Nilai Didaktis
yang dikemukakan oleh Wiyatmi (dalam Azis, 2005) bahwa dalam kerangka pendekatan sastra sesuai orientasi sastranya, ajaran moral sebenarnya merupakan perkembangan dari pendekatan pragmatik, yang memandang karya sastra dalam hubungan dan fungsinya bagi pembaca. Selain itu, karya sastra yang baik selalu memberikan pesan moral kepada pembaca untuk berbuat baik, yaitu mengajak pembaca untuk menjunjung tinggi norma-norma sosial. Sebab karya sastra dianggap sebagai sarana pendidikan (didaktis). Hal inilah salah satu komponen yang menjadi alasan ketekaitan moral dengan nilai didaktis.
Menurut KBI (2008: 1041), moral ialah ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban (akhlak, budi pekerti, dan susila). Menurut Saefullah (2007: 16) moral, budi pekerti atau akhlak dalam kehidupan berusaha mencari kebaikan sesuai dengan nilai-nilai luhur agama, adat istiadat, atau bahkan lahir dari kata hati yang suci dan nurani yang jujur. Hal ini akan menimbulkan etika yang menjadikan seseorang moralis (budiman) karena dapat membedakan antara mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk. Sedangkan Krathwohl, dkk (dalam Saefullah, 2007: 20) menjelaskan bahwa moral berhubungan erat dengan pembelajaran afektif yang dimulai dari hal sebagai berikut:
a. Pengenalan atau penerimaan seperti bersedia menerima dan memperhatikan berbagai stimulus (sehingga dengan demikian akan mendengarkan, menghadiri, melihat, dan mepertahankan nilai-nilai kebaikan pada tingkat yang paling rendah).
c. Penghargaan terhadap nilai seperti konsisten berperilaku sesuai dengan suatu nilai meskipun tidak ada pihak lain yang mengharuskan (sehingga dengan demikian akan memilih, menyakinkan, bertindak, dan mengemukakan argumentasi sebagai tingkat berikutnya).
d. Pengorganisasian seperti menunjukan saling berhubungan antar nilai tertentu dalam suatu sistem nilai, serta menentukan nilai-nilai mana yang mempunyai prioritas lebih tingggi dari pada nilai yang lain (sehingga dengan demikian akan memilih, memutuskan, dan mengformulasikan sebagai tingkat yang lebih tinggi). e. Pengalaman seperti menunjukan perilaku yang konsisten dengan menginterasikan
nilai-nilai yang diyakini ke dalam filsafat hidup yang lengkap dan menyakinkan (sehingga dengan demikian akan menunjukan sikap menolak dan menghindari sifat yang dianggap buruk, serta menerima sifat yang dianggap baik).
Penjelasan yang ada tentang moral, bahwa Moralitas menunjuk ke persesuaian nilai moral atau kelompok sosial. Terbentuknya nilai-nilai moral seseorang mengikuti suatu proses perkembangan yang meliputi aspek intelektual dan dorongan hati nurani. Begitu pula dengan peranan sastra dalam pendidikan moral terdapat pada karya-karya sastra yang sarat muatan didaktis. Nilai didaktis yang secara lebih luas meliputi segala aspek nilai kehidupan ini, dalam karya cipta sastra menurut Rianto (2008) bisa dipahami melalui satuan-satuan pokok pikiran yang disarikan dari paparan gagasan pengarang atau penyair, baik berupa tuturan ekspresif, komentar, dialog, lakuan, maupun deskriptif peristiwa.
dalam cerita menurut Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2007: 320) suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil (dan ditafsirkan) lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca. Hal itu merupakan “petunjuk” yang sengaja diberikan oleh pengarang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan, seperti sikap, tingkah laku, dan sopan santun pergaulan. Sebagaimana model yang ditampilkan dalam cerita itu lewat sikap dan tingkah laku tokoh-tokohnya (perilaku baik). Dengan demikian, jika dalam sebuah karya ditampilkan sikap dan tingkah laku tokoh-tokoh kurang terpuji, baik mereka berlaku sebagai tokoh antagonis maupun protagonis, tidaklah berarti bahwa pengarang menyarankan kepada pembaca untuk bersikap dan bertindak secara demikian. Melainkan sikap dan tingkah laku tersebut hanyalah model agar tidak diikuti.
Jenis ajaran moral itu sendiri menurut Nurgiyantoro (2007: 323-325) mencangkup masalah yang boleh dikatakan, bersifat tak terbatas. Permasalahan moral tersebut mencangkup seluruh persoalan hidup dan kehidupan, seluruh persoalan yang menyangkut harkat dan martabat manusia. Secara garis besar persoalan hidup dan kehidupan manusia dibedakan ke dalam persoalan sebagai berikut :
a. Hubungan manusia dengan diri sendiri.
Persoalan manusia dengan dirinya dapat bermacam-macam jenis dan tingkat intensitasnya. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari kaitanya dengan persoalan hubungan sesama dengan tuhan. Permasalahan dengan diri sendiri misalnya eksistensi diri, harga diri, rasa percaya diri, dan lain sebagainya.
Masalah-masalah yang berupa hubungan antarsesama hubungan sosial antara lain berwujud: persahabatan yang kokoh maupun rapuh, kesetian, penghianatan, kekeluargaan, dan lain sebagainya.
c. Hubungan manusia dengan tuhannya.
Kepercayaan yang tinggi terhadap adanya Tuhan Sang Maha Pencipta dengan berbuat sesuai perintah dan tuntutan-Nya serta manjauhi segala larangan-Nya.
Kehadiran moral dalam cerita fiksi dapat dipandang sebagai semacam saran terhadap perilaku moral tertentu yang bersifat praktis, tetapi bukan resep atau petunjuk bertingkahlaku. Dikatakan praktis karena disampaikan lewat sikap dan perilaku konkret sebagaimana yang ditampilkan oleh para tokoh cerita. Tokoh-tokoh cerita tersebut dapat dipandang sebagai model untuk menunjuk dan mendialogkan kehidupan sebagaimana yang diidealkan penulis cerita. Dengan demikian, kehadiran unsur moral dalam cerita fiksi, terutama fiksi anak, tentulah merupakan sesuatu yang mesti ada secara langsung atau tidak langsung mengakui bahwa sesuatu yang baik harus diperjuangkan dan dimenangkan.
Menurut Nurgiyantoro (2007: 267-268) Teknik penyampaian moral pun tidak berbeda halnya dengan teknik penyampaian tema, yaitu dapat bersifat eksplisit dan implisit, penyampaian langsung atau tidak langsung, secara terang-terangan atau terselubung. Apa yang dikemukakan tentang fungsi tema yang didaktis juga berlaku untuk moral (fiksi anak). Seperti yang dikatakan Lukens (dalam Nurgiyantoro, 2007: 268) sastra anak hadir tidak untuk mengajar, melainkan membantu kita untuk memahami sesuatu.