• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENETAPAN HAKIM DALAM PENGANGKATAN ANAK BAGI YANG BERAGAMA ISLAM SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENETAPAN HAKIM DALAM PENGANGKATAN ANAK BAGI YANG BERAGAMA ISLAM SKRIPSI"

Copied!
176
0
0

Teks penuh

(1)

i

SKRIPSI

Disusun Guna Memenuhi Syarat Tugas Akhir Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I)

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) SALATIGA

Oleh : Eti Fatmawati

21107019

JURUSAN SYARIAH

PROGRAM STUDI AHWAH AL SYAKHSHIYYAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

SALATIGA 2012

(2)
(3)
(4)
(5)

v

Motto

Hidup yang tak menghasilkan apa-apa berarti hidup tiada guna.

Persembahan

1. Untuk Alm Bapakku yang selalu mendo’akanku. Terima kasih Pak atas jasa-jasanya selama ini hingga aku bisa menyelesaikan pendidikan sampai saat ini.

2. Untuk ibukku tercinta paling aku sayang yang selalu mencurahkan do’anya. Yang selalu mendukungku. Senantiasa mendampingiku apapun suasananya. Terimakasih buk karena do’a restu buklah aku bisa sampai saat ini.

3. Untuk bapakku sekarang, Pak Sugiyanto selaku pelatihku. Terima kasih Pak, karena Pae telah ikhlas mengasuhku, untuk menjadikan atlet.

4. Untuk sahabatku ( Rika dan Feby ) yang telah memberi keceriaan padaku.

5. Untuk teman-teman seperjuangan Ahs. 07. Semangat . . . !!! Semoga kita semua diberi keberhailan. Amin . . . .

6. Untuk ibu Luffiana Zahriani MH, selaku pembimbing skripsiku.

7. Untuk ibu Evi Ariyani MH yang telah memberi masukan-masukan skripsiku dan sering ngajak pulang bareng.

8. Untuk segenap pihak yang telah membantuk skripsiku.

Terima kasih untuk semuanya . . . . !!!!

(6)

vi

skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat di dalam skripsi ini Penulis menyadari terselesaikannya skripsi ini juga berkat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga Dr. Imam Sutomo, M.Ag. 2. Ketua Jurusan Syari’ah Drs. Mubasirun, M.Ag

3. Ketua Jurusan Program Studi Ahwal Al Syakhshiyyah Ilyya Muhsin, SHI. M.Si

4. Ketua Pengadilan Negeri Salatiga Sigit Sutriono, SH, M.HUM 5. Ketua Pengadilan Agama Salatiga Drs. Umar Muchlis 6. Ibu Lutfiana Zahriani M.H selaku dosen pembimbing 7. Segenap dosen jurusan syariah

8. Ibu yang ada di rumah

9. Bapak Sugiyoto selaku pelatih lari 10. Teman-teman Ahs. 07

11. Semua pihak yang telah rela membantuku demi terselesaikannya skripsi yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.

Salatiga, 10 September 2012 Penulis

(7)

vii

Ahwal Al Syakhsiyah. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing : Lutfiana Zahriani MH.

Kata kunci : Pengangkatan anak bagi yang beragama Islam.

Pengangkatan anak merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mendapatkan anak, bagi yang belum memiliki keturunan upaya yang dilakukan untuk mengangkat anak harus melalui lembaga pengadilan. Tetapi dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 3 tahun 2006 perubahan atas undang-undang Nomor 7 tahun 1989 tentang peradilan agama, bahwa pengadilan agama diberi kewenangan untuk memeriksa dan mengadili permohonan pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam. tetapi dalam SEMA No 6 Tahun 1983 tentang penyempurnaan SEMA No 2 Tahun 1979 tentang pengangkatan anak mengatur prosedur hukum mengajukan permohonan pengesahan dan /atau permohonan pengangkatan anak antara WNI – WNI, WNI – WNA, memeriksa dan mengadilinya oleh Pengadilan yaitu tetap dalam pilihan hukum Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Agama. Maka dari itu pertanyaan yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah 1. Bagaimana prosedur pengangkatan anak pada Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga dalam penetapan pengangkatan anak yang beragama Islam? 2. Apa dasar hukum hakim Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga dalam penetapan pengangkatan anak yang beragama Islam ? 3. Apakah pertimbangan hakim Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga dalam penetapan pengangkatan anak bagi yang beragama Islam ? 4. Bagaimana ketentuan Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga dalam penetapan pengangkatan anak bagi yang beragama Islam ?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut menggunakan jenis penelitian yuridis normatif yaitu dengan mengacu pada bahan pustaka dan data yang nyata yang menggambarkan situasi dan kejadian tentang pengangkatan anak. dengan sifat penelitian deskriptif analitis yang menggambarkan tentang manusia dan gejala lainnya, melakui pendekatan kualitatif serta melakukan penelitian dengan terjun langsung dilapangan yakni di Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga. KemudiaN dilengkapi dengan data-data yang menunjang terselesaikannya skripsi ini.

Hasil dari temuan penelitian tentang prosedur penetapan dan proses pengajuan pengangkatan anak memiliki kesamaan sedangkan kaitannya dengan dasar hukum pengangkatan anak yang digunakan dipengadilan Negeri Salatiga mencantumkan SEMA dan keputusan Gubernur Jawa Tengah selain dari dasar hukum lain. Dasar hukum pengangkatan anak di pengadilan Agama Salatiga tidak mencantumkan SEMA dan keputusan Gubernur Jawa Tengah tetapi mengambil dari Al Qur’an Al Ahzab ayat 4 dan KHI. Petimbangan hakim Pengadilan Negeri

(8)

viii

pengangkatan anak bagi yang beragama Islam di Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga diantaranya : mengenai kedudukan anak angkat, hak kewarisan dan motivasi pengangkatan anak.

(9)

ix

Pengesahan Keaslian ... iii

Lembar Pengesahan ... iv

Motto dan Persembahan ... v

Kata Pengantar ... vi Abstrak ... vii Daftar Isi ... ix BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 6 C. Tujuan Penelitian ... 6 D. Manfaat Penelitian ... 7 E. Metodologi Penelititan ... 8 F. Sistematika Penulisan ... 16

BAB II KONSEP TENTANG PENGANGKATAN ANAK DAN PROSEDUR PENGANGKATAN ANAK MENURUT PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN ... 19

A. Pengertian Dan Tinjauan Umum Mengenai Beberapa Istilah Anak Angkat ... 19

B. Dasar Hukum Pengangkatan Anak ... 23

C. Prosedur dan Acara Pemeriksaan Permohonan Pengangkatan anak dalam SEMA No 6 Tahun 1983 yang secara teknis ada penyempurnaan SEMA No 2 Tahun 1979 ... 25

D. Motivasi Pengangkatan Anak ... 36

E. Hak-Hak dan Kewajiban Anak Angkat ... 38

(10)

x

BAB III GAMBARAN UMUM PENGADILAN NEGERI SALATIGA DAN PENGADILAN AGAMA SALATIGA DALAM PENGANGKATAN ANAK DI PENGADILAN NEGERI SALATIGA DAN PENGADILAN AGAMA SALATIGA ... 64

A. Gambaran Umum Tentang Pengadilan Negeri Salatiga dan

Pengadilan Agama Salatiga... 64 B. Prosedur Beracara di Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan

Agama Salatiga dalam perkara permohon ... 81 C. Penetapan Pengangkatan Anak di Pengadilan Negeri

Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga bagi yang beragama

Islam ... 86 D. Penetapan Prosedur Pengangkatan Anak Di Pengadilan Negeri

Salatiga Dengan Pengadilan Agama Salatiga Bagi Yang Beragama Islam ... 92 E. Penetapan Permohonan Pengangkatan Anak Di Pengadilan Negeri

Salatiga Dengan Pengadilan Agama Salatiga Bagi Yang Beragama Islam ... 101

BAB IV PROSEDUR PENGANGKATAN ANAK, DASAR HUKUM,

PERTIMBANGAN HAKIM DAN PERBEDAAN KETENTUAN

PENGADILAN NEGERI SALATIGA DAN PENGADILAN AGAMA SALATIGA DALAM PENETAPAN PENGANGKATAN ANAK BAGI YANG BERAGAMA ISLAM ... 146

A. Prosedur Penetapan Pengangkatan Anak di Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga bagi yang beragama

(11)

xi

Anak Bagi Yang Beragama Islam ... 151

D. Ketentuan Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga dalam Penetapan pengangkatan anak bagi yang beragama Islam ... 155 BAB V PENUTUP ... 160 A. Kesimpulan ... 160 B. Saran ... 162 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(12)

1 A. Latar Belakang

Keinginan untuk mempunyai anak adalah naluri manusiawi dan alamiah. Akan tetapi kadang-kadang naluri ini terbentur pada takdir Ilahi, dimana kehendak mempunyai anak tidak tercapai. Artinya tidak semua manusia yang ingin memiliki anak dapat tercapai keinginannya tersebut, karena Tuhan berkehendak lain. Hak asasi manusia merupakan bagian yang termuat Undang-Undang Dasar 1945 dan Konvensi Perserkatan Bangsa-Bangsa tentang hak-hak anak. Dilihat dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara anak adalah pewaris dan sekaligus potret masa depan bangsa di masa datang, generasi penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan.

Pada umumnya manusia tidak puas dengan apa yang dialaminya, sehingga berbagai usaha dilakukan untuk memenuhi kepuasan atau kebutuhan tersebut. Dalam hal ini salah satu upaya yang dilakukan banyak orang untuk mendapatkan anak, salah satunya dengan cara mengangkat anak.

Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam. Akan tetapi sebagai negara hukum, Indonesia tidak lantas memberlakukan hukum Islam sebagai satu-satunya hukum positif mengingat masih ada agama lain yang berkembang selain Islam. Berkaitan dengan

(13)

kedudukan anak angkat, Islam dan Undang-Undang memiliki aturan yang berbeda sehingga hak anak angkat dalam pandangan Islam dan Undang-Undang berbeda. Secara historis, pengangkatan anak (adopsi) sudah dikenal dan berkembang sebelum kerasulan Nabi Muhammad SAW. Istilah pengangkatan anak dikenal dengan At-Tabanni dan sudah ditradisikan secara turun-temurun. Secara faktual diakui bahwa pengangkatan anak telah menjadi adat kebiasaan masyarakat muslim di Indonesia dan telah merambah dalam praktik melalui lembaga peradilan agama, maka sebelum terbentuknya Undang-Undang yang mengatur secara khusus, Presiden Republik Indonesia telah mengeluarkan keputusan nomor 36 Tahun 1990 Convention on the Rights of the Child (Konvensi tentang Hak-hak Anak) serta pengesahan kesejahteraan anak dari hal pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya beralih tanggungjawabnya dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasar putusan pengadilan.

Masih berkaitan dengan persoalan pengangkatan anak bahwa definisi anak angkat dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002, “Anak merupakan amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, bahkan anak dianggap sebagai harta kekayaan yang paling berharga dibandingkan kekayaan harta benda lainnya. Karena dalam diri anak melekat harkat, martabat dan hak-hak sebagai manusia yang harus dilindungi dan dijunjung tinggi“.

Perlu digaris bawahi bahwa pengangkatan anak harus dilakukan dengan proses hukum dengan produk penetapan pengadilan, sekaligus praktik

(14)

pengangkatan anak yang dilakukan melalui pengadilan tersebut telah berkembang baik dilingkungan Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Agama.

Untuk mewujudkan tercapainya peradilan yang mewujudkan tercapainya keadilan, maka masing-masing badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung mempunyai kewenangan mengadili perkara guna menegakkan hukum dan keadilan sebagai berikut.

 Peradilan umum berwenang memeriksa, mengadili dan memutus perkara pidana dan perdata sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

 Peradilan Agama berwenang memeriksa, mengadili, memutus dan menyelesaikan perkara antara orang-orang yang beragama Islam sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

 Peradilan militer berwenang memeriksa, mengadili dan memutus perkara tindak pidana militer sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

 Peradilan tata usaha Negara berwenang memeriksa, mengadili memutus dan menyelesaikan sengketa tata usaha negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pengadilan negeri sebagai salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman yang berada dalam lingkup badan peradilan umum mempunyai kewenangan untuk memeriksa, mengadili dan memutus perkara pidana dan perdata ditingkat pertama. Kewenangan pengadilan negeri dalam perkara pidana

(15)

mencakup segala bentuk tindak pidana, kecuali tindak pidana militer yang merupakan kewenangan peradilan militer. Sedangkan dalam perkara perdata, pengadilan negeri berwenang mengadili perkara perdata secara umum, kecuali perkara perdata tertentu yang merupakan kewenangan pengadilan agama.

Kewenangan pengadilan negeri mengadili perkara perdata mencakup perkara perdata dalan bentuk gugatan dan perkara permohonan. Perkara perdata gugatan adalah perkara yang mengandung sengketa antara dua pihak atau lebih yang disebut Penggugat dan tergugat. Sedangkan perkara permohonan adalah perkara yang tidak mengandung sengketa dan hanya ada satu pihak, yang disebut pemohon. Perkara yang tidak mengandung sengketa disebut juga dengan perkara volunter, sedangkan perkara yang mengandung sengketa disebut perkara contensius.

Pengangkatan anak terbagi dalam dua pengertian, yaitu: pertama, pengangkatan anak dalam arti luas. Ini menimbulkan hubungan nasab sehingga ada hak dan kewajiban selayaknya antara anak sendiri terhadap orang tua sendiri. kedua, ialah pengangkatan anak dalam arti terbatas. yakni pengangkatan anak orang lain ke dalam keluarga sendiri dan hubungan antara anak yang diangkat dan orang tua yang mengangkat hanya terbatas pada hubungan sosial saja.(Soeroso R, 2001 : 176)

Perkara permohonan banyak macamnya tergantung dari apa yang dimohonkan oleh pemohon sesuai dengan kewenangan pengadilan dan permohonan tersebut harus ada urgensi dan dasar hukumnya. Salah satu

(16)

permohonan yang sering diajukan ke pengadilan adalah permohonan pengesahan pengangkatan anak. Pada awalnya, lembaga peradilan yang berwenang memeriksa permohonan pengangkatan anak adalah pengadilan negeri. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor. 3 Tahun 2006 perubahan Atas Undang-Undang Nomor. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, pengadilan agama diberi kewenangan untuk memeriksa dan mengadili permohonan pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam. Dengan adanya Undang-Undang tersebut, kewenangan mengadili permohonan pengangkatan anak bagi pemohon beragama Islam beralih dari pengadilan negeri ke pengadilan agama, namun pengadilan negeri masih menerima dan mengadili permohonan pengangkatan anak bagi pemohon beragama Islam. Hal ini menimbulkan permasalahan tentang kewenangan pengadilan negeri terhadap permohonan pengangkatan anak yang diajukan oleh pemohon beragama Islam setelah berlakunya Undang-Undang Nomor. 3 Tahun 2006.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis menyusun skripsi dengan judul “Penetapan Hakim Dalam Pengangkatan Anak Bagi Yang Beragama Islam (studi kasus di Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga)”.

(17)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi pokok permasalahan kajian penulis skripsi adalah sebagai berikut.

1. Bagaimana prosedur penetapan pengangkatan anak Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga bagi yang beragama Islam?

2. Apa dasar hukum hakim Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga dalam penetapan pengangkatan anak bagi yang beragama Islam?

3. Bagaimana pertimbangan hakim Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga dalam penetapan pengangkatan anak bagi yang beragama Islam?

4. Apakah ketentuan Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga Dalam Penetapan Pengangkatan Anak Bagi Yang Beragama Islam?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukan diatas, maka tujuan utama penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui prosedur Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama Salatiga dalam pengangkatan anak bagi yang beragama Islam.

2. Untuk mengetahui dasar hukum Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama Salatiga dalam mengadili permohonan pengangkatan anak.

(18)

3. Untuk mengetahui pertimbangan hakim Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama Salatiga dalam penetapan pengangkatan anak yang diajukan oleh pemohon beragama Islam.

4. Untuk mengetahui Ketentuan Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga Dalam Penetapan Pengangkatan Anak Bagi Yang Beragama Islam.

D. Manfaat Penelitian

Setiap penelitian mempunyai manfaat karena menghasilkan informasi yang aktual dan akurat sehingga dapat digunakan untuk menjawab dan memecahkan permasalahan dalam penelitian baik secara teoritis maupun praktis. Manfaat teoritis yaitu sebagai langkah pengembangan ilmu lebih lanjut dan manfaat berwujud kegiatan yang nyata yang dapat diaplikasikan oleh pihak-pihak yang terkait.

Dilihat dari dua sudut pandang di atas, manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya masukan bagi teori hukum syariah terutama dalam memutuskan perkara pengangkatan anak pada Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Agama Salatiga.

b. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi penelitian yang akan dilakukan di masa mendatang sebagai langkah pengembangan ilmu.

(19)

2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti

Diharapkan dengan peneltian ini dapat meningkatkan wawasan serta pengetahuan khususnya putusan perkara pengangkatan anak pada Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Agama Salatiga.

b. Bagi Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Agama Salatiga diharapkan hasil penelitian ini dapat berguna sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam menyusun berbagai kebijakan yang berkaitan dengan kompensasi, kesempatan pengembangan karir, komunikasi dan partisipasi pekerja di waktu mendatang dalam hubunganya dengan perwujudan perkara pengangkatan anak dalam memperlancar pencapaian tujuan Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Agama Salatiga.

E. Metodologi Penelitian

Dalam suatu penelitian diperlukan suatu data yang dapat menunjang penyelesaian penelitian itu sendiri, sehingga dapat memperoleh hasil penelitian yang dapat dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan, oleh karena itu diperlukan suatu metode tertentu. Metode adalah suatu sarana pokok pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, oleh karena suatu penelitian bertujuan untuk mengungkap kebenaran secara sistematis, metodologis, konsisten dengan mengadakan analisa dan konstruksi.

(20)

Maka metode penelitian adalah cara yang teratur dan berpikir secara runtut dan baik dengan menggunakan metode ilmiah yang bertujuan untuk menemukan, mengembangkan dan guna menguji kebenaran maupun ketidakbenaran dari suatu pengetahuan, gejala atau hipotesa. Adapun metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif. Penelitian yuridis normatif adalah pendekatan yang terkait dengan masalah secara sistematik dan akurat mengenai bahan pustaka atau data yang nyata, serta data yang menggambarkan situasi atau kejadian tentang pengangkatan anak di Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga. 2. Sifat Penelitian

Sifat penelitian yang penulis disusun adalah termasuk penelitian yang bersifat deskriptif analistis. Penelitian deskriptif analistis menurut Soerjono Soekanto adalah suatu penelitian yang dimaksud untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan atau gejala-gejala lainnya. Maksudnya adalah terutama mempertegas hipotesa-hipotesa, agar dapat membantu memperkuat teori-teori lama, atau di dalam kerangka penyusunan kerangka baru. (Soejono Soekanto, 2001 : 10).

Dalam pelaksanaan penelitian deskriptif ini tidak terbatas hanya sampai pengumpulan dan penyusunan data saja, tetapi juga meliputi

(21)

analisa dan interpretasi data yang pada akhirnya dapat diambil kesimpulan-kesimpulan yang dapat didasarkan penelitian data itu.

3. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan kualitatif, yaitu pendekatan yang digunakan oleh peneliti dengan mendasarkan pada data-data yang dinyatakan informan secara lisan atau tulisan, dan juga perilaku yang nyata, diteliti dan dipelajari sebagai suatu yang utuh. (Soejono Soekanto, 2001 : 250).

4. Lokasi Penelitian

Untuk memperoleh data-data yang diperlukan, maka penulis melakukan penelitian dengan mengambil lokasi pengadilan agama dan pengadilan negeri salatiga dengan pertimbangan bahwa di Pengadian Negeri dan Pengadilan Agama Salatiga tersedia data yang berkaitan dengan tema penelitian.

5. Jenis dan Sumber Data

Secara umum, maka di dalam penelitian biasanya dibedakan antara data yang diperoleh secara langsung dari masyarakat dan dari bahan-bahan pustaka. Yang diperoleh dari masyarakat dinamakan data primer, sedangkan yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka lazimnya dinamakan data sekunder. (Soejono Soekanto, 2001 : 51).

Jenis data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

(22)

a. Data Primer

Adalah sejumlah keterangan atau fakta yang diperoleh secara langsung dengan melakukan wawancara pada Hakim Pengadilan Negeri Salatiga dan Hakim Pengadilan Agama Salatiga, dan penetapan hakim tentang pengangkatan anak di Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga bagi yang beragama Islam.

b. Data Sekunder

Adalah sejumlah keterangan atau fakta yang diperoleh secara tidak langsung, tetapi melalui penelitian kepustakaan.

1) Bahan Hukum Primer

Yaitu norma atau kaidah dasar, peraturan perundang-undangan. Dalam hal ini yang menjadi bahan hukum primer adalah lain :

a) Undang-Undang Nomor. 3 Tahun 2006 b) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 c) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 d) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979

e) Surat Edaran Mahkamah Agung RI (SEMA) Nomor 2 Tahun 1979 tertanggal 7 April 1979.

f) Surat Edaran Mahkamah Agung RI (SEMA) Nomor 6 Tahun 1983.

g) Staatsblad 1917 Nomor 129, Pasal 5 sampai dengan Pasal 15. h) Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 41/HUK/KEP/VII/1984.

(23)

i) Beberapa Yurisprudensi Mahkamah Agung dan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

(Soimin, 2004 : 28) 2) Bahan Hukum Sekunder

Yaitu hasil karya dari kalangan hukum, hasil-hasil penelitian, artikel koran dan internet serta bahan lain yang berkaitan dengan pokok bahasan.

3) Bahan Hukum Tersier atau Penunjang

Yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, misalnya bahan dari media internet, kamus, ensiklopedia, indeks kumulatif dan sebagainya. (Soerjono Soekanto, 2001 : 52).

6. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam suatu penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam penulisan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

a) Data Primer

Untuk mendapatkan data primer dilakukan dengan wawancara kepada Hakim Pengadilan Negeri maupun Hakim Pengadilan Agama Salatiga. Wawancara yang dilakukan secara terpimpin, terarah, dan mendalam sesuai dengan hal-hal tersebut terkait dengan hukum pemutusan perkara penetapan pengangkatan anak di

(24)

Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga bagi yang beragama Islam.

b) Data Sekunder

Untuk memperoleh data sekunder adalah dengan penelitian atau kepustakaan atau library research guna memperoleh bahan-bahan hukum.

c) Observasi

Tahap observasi yang terfokus, yaitu mulai menyempitkan data atau informasi yang diperlukan sehingga peneliti dapat menemukan pola-pola perilaku dan hubungan yang terus menerus terjadi. Salah satu peranan pokok dalam melakukan observasi ialah untuk menemukan interaksi yang kompleks dengan latar belakang sosial yang alami. Tujuan observasi adalah mendeskripsikan aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas-aktivitas.

Untuk memperoleh data observasi maka penulis melakukan pengamatan secara langsung disertai pencatatan pada bagian-bagian yang ada pada pengangkatan anak melalui Pengadilan Negeri dan Pengedilan Agama Salatiga.

d) Dokumentasi

Merupakan cara pengumpulan data dengan melihat dokumen yang terkait untuk mendapatkan data sekunder/pelengkap yaitu dengan memperhatikan catatan-catatan, laporan serta dokumen resmi yang terkait dengan topik yang diteliti ini diperlukan untuk memperoleh data

(25)

atau informasi maka penulis mencari sumber-sumber referensi buku, serta media internet yang lebih lengkap dalam rangka mendeskripsikan data dan informasi sehingga akan memudahkan dalam proses analisis. 7. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan proses pengorganisasian dan pengurutan data dalam pola, kategori dan uraian dasar, sehingga akan ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. (Lexy J Maleong, 2002: 103). Penulis menggunakan model analisis interaktif (interaktif model of analysis), yaitu data yang dikumpulkan akan dianalisa melalui 3 tahap, yaitu mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Dalam model ini dilakukan suatu proses siklus antar tahap-tahap, sehingga data yang terkumpul akan berhubungan dengan satu sama lain dan benar-benar data yang mendukung penyusunan laporan penelitian. (HB. Sutopo, 2002 : 35). Tiga tahap tersebut adalah :

a) Reduksi Data

Kegiatan ini merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian yang bertujuan untuk mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuang hal-hal yang tidak penting yang muncul dari catatan dan pengumpulan data. Proses ini berlangsung terus-menerus sampai laporan akhir penelitian selesai. (HB. Sutopo, 2002 : 35).

(26)

b) Pengumpulan Data

Penelitian data yang dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian yang umum di gunakan dalam suatu penelitian adalah : observasi, wawancara dan kuisioner. (Usman dan Setiady Akbar : 2000:20)

c) Penyajian Data

Sekumpulan informasi yang memungkinkan kesimpulan riset dapat dilaksanakan (HB. Sutopo, 2002 : 36).

d) Menarik Kesimpulan

Setelah memahami arti dari berbagai hal yang meliputi berbagai hal yang ditemui dengan melakukan pencatatan-pencacatan peraturan, pernyataan-pernyataan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab-akibat, akhirnya peneliti menarik kesimpulan. (HB. Sutopo, 2002 : 37).

Adapun skema analisis interaktif dapat digambarkan sebagai berikut :

(27)

F. Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai sistematika penulisan skripsi yang sesuai dengan aturan baru dalam penulisan ilmiah, maka penulis menyiapkan suatu sistematika penulisan hukum. Adapun sistematika penulisan hukum terbagi dalam 5 (lima) bab yang saling berkaitan dan berhubungan. Sistematika dalam penulisan hukum ini adalah sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini akan diuraikan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan metode penelitian.

BAB II : KONSEP TENTANG PENGANGKATAN ANAK DAN PROSEDUR PENGANGKATAN ANAK MENURUT PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Bab ini akan diuraikan mengenai pengertian dan tinjauan umum mengenai beberapa istilah anak angkat, Dasar hukum pengangkatan anak, Prosedur dan acara pemeriksaan permohonan dalam pengangkatan anak dalam SEMA No 6 Tahun 1983 yang secara teknis ada penyempurnaan SEMA No. 2 Tahun 1979, Motivasi Pengangkatan anak, Hak-hak dan kewajiban anak angkat, Perwalihan anak angkat, Pengasuhan dan pengangkatan anak, Penyelenggaraan dan Perlindungan terhadap anak angkat, Pengangkatan anak dalam catatan sipil, Penentuan Nasab terhadap anak angkat.

(28)

BAB III : GAMBARAN UMUM, PROSEDUR BERACARA DAN PROSEDUR PENETAPAN PENGANGKATAN ANAK DI PENGADILAN NEGERI SALATIGA DAN PENGADILAN AGAMA SALATIGA BAGI YANG BERAGAMA ISLAM

Bab ini akan diuraikan mengenai gambaran umum Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga, prosedur beracara di Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga, prosedur penetapan pengangkatan anak di Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga bagi yang beragama Islam, Penetapan Permohonan Penetapan anak Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga bagi yang beragama Islam, analisis penetapan pengangkatan anak di Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga. Prosedur dasar dari Pengangkatan Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga.

BAB IV : PROSEDUR PENGANGKATAN ANAK, DASAR HUKUM, PERTIMBANGAN HAKIM DAN PERBEDAAN KETENTUAN PENGADILAN NEGERI SALATIGA DAN PENGADILAN AGAMA

SALATIGA DALAM PENETAPAN

PENGANGKATAN ANAK BAGI YANG BERAGAMA ISLAM

Bab ini akan diuraikan Prosedur pengangkatan anak Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama Salatiga, Dasar hukum hakim Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama

(29)

Salatiga dalam penetapan pengangkatan anak bagi yang beragama Islam, Pertimbangan Hakim pengadilan Agama Salatiga dalam penetapan pengangkatan anak bagi yang beragama Islam, Perbedaan ketentuan Pengadilan Negeri Salatiga dan Pengadilan Agama Salatiga dalam penetapan pengangkatan anak bagi yang beragama Islam.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi kesimpulan dan saran DAFTAR PUSTAKA

(30)

19

A. Pengertian Dan Tinjauan Umum Mengenai Beberapa Istilah Anak Angkat. Sebuah kajian akademik dan kajian yuridis pertama-tama harus menemukan konsep definitif dalam kaitannya tentang anak angkat dan pengangkatan anak, berikutnya asas dan tujuan pengangkatan anak, apa saja hak-hak dan kewajiban anak yang harus mendapat perhatian orang tua, kewajiban dan tanggung jawab terhadap masa depan anak, kedudukan, perwalian terhadap anak angkat, penyelenggaraan perlindungan terhadap anak angkat, dan ketentuan pidana kejahatan terhadap anak angkat. Hal ini dapat kita petik beberapa ketentuan di dalam, Hukum pengangkatan anak yang didalamnya melindungi kehidupan anak. Perlindungan terhadap anak angkat akan memiliki payung hukum yang utuh untuk menjamin masa depan anak angkat agar lebih baik.

Undang-Undang Nomor. 23 Tahun 2002, adalah Undang-Undang tentang Perlindungan Anak di Indonesia yang diundangkan tanggal 22 Oktober 2002. Memberikan istilah pengertian tentang anak, (Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk yang masih dalam kandungan) dari masing-masing istilah tersebut dapat memberikan gambaran serta konsepsi yang berbeda-beda. Konsepsi yang berbeda-beda didalam

(31)

pengangkatan anak di atur dalam Pasal 1 yang dapat ditemukannya beberapa istilah dimaksud, anak itu dapat dikategorikan sebagai anak yang berstatus terlantar, anak yang menyandang cacat, anak yang memiliki keunggulan, anak angkat anak asuh. Masing-masing istilah tersebut telah diberikan pengertiannya secara definitif.

Sedangkan anak angkat diberikan definisi sebagai berikut, anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggungjawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungan orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan Republik Indonesia,

(Kamil, 2008:100).

Fuad Muhammad Fachruddin memberikan definisi anak angkat yang berbeda dengan definisi tersebut, yaitu anak angkat dalam konteksi adopsi adalah seorang anak dari seorang ibu dan bapak yang diambil oleh manusia lain untuk dijadikan sebagai anak sendiri. Anak angkat tersebut mengambil nama orang tua angkatnya yang baru dan terputuslah hubungan nasab dengan orang tua.

(Fachruddin, 1991: 41).

Sampai saat ini belum ada Undang-Undang yang secara khusus mengatur tentang pengangkatan anak, namun praktik kenyataannya yang diperoleh dari salah satu kasus tersebut adalah meliputi pengangkatan anak di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat telah melembaga dan menjadi bagian dari budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Sejak

(32)

zaman dahulu dari keinginan masyarakat Indonesia yang belum dikarunia anak telah melakukan pengangkatan anak dengan cara dan motivasi yang berbeda-beda, sesuai dengan sistem hukum adat dan perasaan hukum yang hidup serta berkembang di daerah yang bersangkutan. Pemerintah melalui Menteri Sosial menyatakan bahwa, dalam ini kenyataan kehidupan sosial tidak semua orang tua mempunyai kesanggupan dan kemampuan penuh untuk memenuhi kebutuhan pokok anak dalam rangka mewujudkan kesejahteraan anak. Kenyataan yang demikian mengakibatkan anak menjadi terlantar baik secara rohani, jasmani, maupun sosial.

Di samping itu, meskipun peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pengangkatan anak belum mencukupi, telah ada garis asas hukum bahwa "Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya bahkan Pasal 22AB (Algemene Bepalingen van wetgeving vor Indonesia) secara tegas menentukan bahwa hakim yang menolak untuk menyelesaikan suatu perkara dengan alas an bahwa peraturan perundang-undangan yang bersangkutan tidak menyebutkan, tidak jelas atau tidak lengkap, maka ia dapat dituntut untuk dihukum karena menolak mengadili.

(Kamil, 2005 : 9).

Asas hukum tersebut menunjukkan bahwa sistem hukum di Indonesia juga menjunjung tinggi sistem hukum dalam common law yang menghargai hakim sebagai makhluk mulia dan memiliki hati nurani serta

(33)

kemampuan untuk menangkap sinyal nilai-nilai hukum dan keadilan yang hidup dalam masyarakat sebagai hukum rill yang oleh hakim dapat digali sebagai bahan ramuan untuk menciptakan hukum yurisprudensi dalam menangani kasus yang hukum tertulisnya belum mencukupi seperti hukum pengangkatan anak di Indonesia. Temuan hukum oleh hakim (yurisprudensi) tersebut, ke depannya akan menjadi sumber hukum dalam praktik peradilan.

Hukum pengangkatan Pengangkatan dalam hukum adat juga menjelaskan beberapa aspek hukum seperti hukum Islam serta memiliki segi persamaan dengan hukum adopsi yang dikenal dalam hukum barat yaitu masuknya anak dalam keluarga orang tua yang mengangkatnya dan terputusnya hubungan keluarga dengan keluarga atau orang tua kandung anak angkat. Perbedaan dalam hukum adat disyaratkannya suatu imbalan sebagai pengganti kepada orang tua kandung anak angkat biasanya berupa benda-benda yang dikeramatkan atau dipandang memiliki kekuatan magic.

Sudut hukum Islam mengenai pengangkatan anak, pengangkatan anak dalam Islam sangat dianjurkan asalkan tidak memutus hubungan darah antara anak yang diangkat dengan ibu kandungnya, tidak menimbulkan hubungan nasab dan waris dengan orang tua angkatnya. Namun diberikan wasiat wajibah maksimal ⁄ dari harta warisan orang tua angkatnya, sebagaimana ketentuan pasal 209 KHI. (Suparno Usman, Fikih Mawaris : 1997), hlm. 163

(34)

B. Dasar Hukum Pengangkatan Anak

Pengamatan Mahkamah Agung menghasilkan kesimpulan bahwa permohonan pengesahan dan/atau pengangkatan anak yang telah diajukan ke Pengadilan Negeri tampak kian bertambah, baik yang merupakan permohonan khusus pengesahan/pengangkatan anak yang menunjukkan adanya perubahan, pergeseran, dan variasi-variasi pada motivasinya.

Keadaan tersebut merupakan gambaran bahwa kebutuhan masyarakat tentang pengangkatan anak di tengah-tengah masyarakat makin bertambah dan dirasakan bahwa untuk memperoleh jaminan kepastian hukum hanya didapat setelah memperoleh putusan pengadilan. Pengadilan Negeri atau Pengadilan Agama dalam menjalankan tugas pokok kekuasaan kehakiman, menerima, memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan perkara yang diajukan kepadanya, antara lain permohonan pengesahan atau pengangkatan anak, harus mengacu kepada hukum terapannya. Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa Mahkamah Agung sendiri sebagai penanggung jawab atas pembinaan teknis peradilan mengakui bahwa peraturan perundang-undangan dalam bidang pengangkatan anak Warga Negara Indonesia, terutama pengangkatan anak Warga Negara Indonesia oleh Warga Negara Asing ternyata tidak mencukupi, namun ada beberapa peraturan hukum yang dapat dijadikan rujukan bagi hakim dalam menjalankan tugas pokok kekuasaan kehakiman tentang pengangkatan anak, misalnya:

(35)

1. Undang-Undang Nomor. 3 Tahun 2006 yang berlaku mulai tanggal 21 Maret 2006, Pengadilan Agama memiliki kewenangan absolut untuk menerima, memeriksa, dan mengadili perkara permohonan pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam.

2. Undang-Undang nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, bahwa anak adalah tunas potensi dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peras stategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan.

3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang konvensi ILO nomor 182, bahwa pelarangan dan tindakan segera penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak dan undang-undang.

4. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak Keputusan Presiden RI tentang Anak

5. Surat Edaran Mahkamah Agung RI (SEMA) Nomor 2 Tahun 1979 tertanggal 7 April 1979, tentang Pengangkatan Anak yang mengatur prosedur hukum mengajukan permohonan pengesahan dan/atau permohonan pengangkatan anak, memeriksa dan mengadilinya oleh pengadilan.

6. Surat Edaran Mahkamah Agung RI (SEMA) Nomor 6 Tahun 1983 tentang Penyempurnaan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 2 Tahun 1979, yang mulai berlaku sejak tanggal 30 September 1983.

(36)

7. Staatsblad 1917 Nomor 129, Pasal 5 sampai dengan Pasal 15 mengatur masalah adopsi yang merupakan kelengkapan dari KUHPerdata/BW yang ada, dan khusus berlaku bagi golongan masyarakat keturunan Tionghoa. 8. Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 41/HUK/KEP/VII/1984 tentang

Petunjuk Pelaksanaan Perizinan Pengangkatan Anak, yang mulai berlaku sejak tanggal 14 Juni 1984.

9. Beberapa Yurisprudensi Mahkamah Agung dan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, yang dalam praktik peradilan telah diikuti oleh hakim-hakim berikutnya dalam memutuskan atau menetapkan perkara yang sama, secara berulang-ulang, dalam waktu yang lama sampai sekarang.

C. Prosedur dan Acara Pemeriksaan Permohonan Pengangkatan Anak Dalam SEMA No. 6 Tahun 1983 yang secara teknis ada penyempurnaan SEMA No. 2 Tahun 1979.

Berdasarkan hasil pengamatan Mahkamah Agung RI menemukan fakta bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang prosedur, tata cara menerima, memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan permohonan pengangkatan anak dipandang belum mencukupi, maka Mahkamah Agung sebagai lembaga tertinggi yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kekuasaan kehakiman di Indonesia, memandang perlu mengeluarkan surat edaran yang menyempurnakan surat edaran sebelumnya

(37)

yang mengatur prosedur dan syarat-syarat pengajuan permohonan pengangkatan anak.

Di samping Hukum Acara Perdata yang berlaku, prosedur dan syarat-syarat pengangkatan anak secara teknis telah diatur dalam SEMA No. 6 Tahun 1983 tentang Penyempurnaan SEMA No. 2 Tahun 1979 tentang Pengangkatan Anak. Prosedur pengangkatan anak baik antar-WNI, ataupun antar-WNI dan WNA akan diuraikan dalam pembaha.san selanjutnya.

(Kamil, 2008 : 58).

1. Prosedur Permohonan dan Persyaratan Pengangkatan Anak Antar-Warga Negara Indonesia (WNI) keputusan Menteri Sosial RI No 41/HUK/KEP/VII/1984 mengatur tentang syarat-syarat calon orang tua angkat bagi pengangkatan anak warga negara Indonesia (WNI). Yang berada dalam organisasi sosial yaitu :

a. Berstatus kawin dengan berumur 25 tahun maksimal 45 tahun

b. Selisih umur calon antara calon orang tua angkat dengan anak angkat minimal 20 tahun.

c. Pada saat mengajukan permohonan sekurang-kurangnya sudah kawin 5 tahun, dengan mengutamakan keadaan:

1) tidak mungkin mempunyai anak (surat keterangan dokter kebidanan, dokter ahli)

2) belum mempunyai anak

(38)

4) mempunyai anak angkat seorang dan tidak mempunyai anak kandung

d. Dalam keadaan mampu ekonomi berdasarkan surat keterangan pejabat yang berwenang serendah-rendahnya lurah atau kepala desa setempat e. Berkelakuan baik berdasarkan keterangan polisi Republik Indonesia f. Dalam keadaan sehat jasmani dan rohani berdasarkan surat keterangan

dokter pemerintah

g. Mengajukan pernyataan bahwa pengangkatan anak semata-mata untuk kepentingan kesejahteraan anak.

2. Syarat-Syarat Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Kepada Warga Negara Asing dalam Surat Edaran Mahkahmah Agung No 6 Tahun 1983.

a. Pengangkatan anak Warga Negara Asing harus dilakukan melalui suatu yayasan sosial yang memiliki izin dari departemen sosial bahwa yayasan tersebut telah diizinkan bergerak dibidang kegiatan pengangkatan anak, sehingga pengangkatan anak Warga Negara Asing yang lagsung dilakukan antara orangtua kandung anak Warga Negara Asing dengan calon orang tua angkat Warga Negara Indonesia (private

adoption) tidak diperbolehkan.

b. Pengangkatan anak Warga Negara Asing oleh seorang Warga Negara Indonesia yang tidak terikat dalam perkawinan sah/belum menikah

(39)

Surat Edaran Mahkamah Agung No 6 tahun 1983 mengatur syarat calon orang tua angkat bagi anak antar negara:

a. Berstatus kawin dan berumur minimal 25 tahun atau maksimal 45 tahun

b. Pada saat mengajukan permohonan sekurang-kurangnya sudah kawin 5 tahun, dengan mengutamakan keadaan:

1) Tidak mungkin mempunyai anak (surat keterangan dokter kebidanan, dokter ahli)

2) Belum mempunyai anak

3) Mempunyai anak kandung seorang

4) Mempunyai anak angkat seorang dan tidak mempunyai anak kandung

5) Dalam keadaan mampu ekonomi berdasarkan surat keterangan pejabat yang berwenang serendah-rendahnya lurah atau kepala desa setempat.

6) Berkelakuan baik berdasarkan keterangan Polisi Republik Indonesia.

7) Dalam keadaan sehat jasmani dan rohani berdasarkan surat keterangan dokter pemerintah

8) Mengajukan pernyataan tertulis bahwa pengangkatan anak semata-mata untuk kepentingan kesejahteraan anak

(40)

Prosedur menerima, memeriksa dan mengadili perkara permohonan pengangkatan anak antar-WNI harus diperhatikan tahapan-tahapan dan persyaratan sebagai berikut:

a. Syarat dan Bentuk Surat Permohonan

1) Sifat surat permohonan bersifat voluntair.

2) Permohonan pengangkatan anak hanya dapat diterima apabila ternyata telah ada urgensi yang memadai, misalnya ada ketentuan undang-undangnya.

3) Permohonan pengangkatan anak dapat dilakukan secara lisan atau tertulis berdasarkan ketentuan hukum acara yang berlaku.

4) Surat permohonan pengangkatan anak dapat ditanda tangani oleh pemohon sendiri, atau oleh kuasa hukumnya.

5) Surat permohonan pengangkatan anak ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri atau Ketua Pengadilan Agama. Pemohon yang beragama Islam yang bermaksud mengajukan permohonan pengangkatan anak berdasarkan Hukum Islam, maka permohonannya diajukan kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal pemohon.

b. Isi Surat Permohonan Pengangkatan Anak

1) Bagian dasar hukum permohonan pengangkatan anak, harus secara jelas diuraikan motivasi yang mendorong untuk mengajukan permohonan pengangkatan anak.

(41)

2) Harus diuraikan secara jelas bahwa permohonan pengangkatan anak, terutama didorong oleh motivasi untuk kebaikan dan/atau kepentingan calon anak angkat, didukung dengan uraian yang memberikan kesan bahwa. Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia calon orang tua angkat benar-benar memiliki kemampuan dari berbagai aspek bagi masa depan anak angkat menjadi lebih baik.

3) Isi petitum permohonan pengangkatan anak bersifat tunggal, yaitu hanya memohon "agar anak bernama A dketapkan sebagai anak angkat dari B." Tanpa ditambahkan permintaan lain, seperti: "agar anak bernama A dketapkan sebagai ahli waris dari si B."

c. Syarat-syarat Permohonan Pengangkatan Anak Antar-WNI

1) Syarat bagi calon orang tua angkat/pemohon, berlaku ketentuan sebagai berikut:

a) Pengangkatan anak yang langsung dilakukan antara orang tua kandung dengan orang tua angkat (private adoption) diperbolehkan.

b) Pengangkatan anak yang dilakukan oleh orang yang tidak terikat dalam perkawinan sah/belum menikah (single parent adoption) diperbolehkan.

c) Calon orang tua angkat harus seagama dengan agama yang dianut oleh calon anak angkat.

(42)

2) Syarat bagi calon anak angkat

a) Dalam hal calon anak angkat berada dalam asuhan suatu yayasan sosial harus dilampirkan surat izin tertulis Menteri Sosial bahwa yayasan yang bersangkutan telah diizinkan bergerak di bidang kegiatan anak.

b) Calon anak angkat yang berada dalam asuhan yayasan sosial, maka harus mempunyai izin tertulis dari Menteri Sosial atau pejabat yang ditunjuk bahwa anak tersebut diizinkan untuk diserahkan sebagai anak angkat.

(Undang-undang Republik Indonesia, Nomor. 23 Tahun 2002, Pasal 39 Ayat (3). "SEMA Nomor. 6 Tahun 1983. Jakarta : Kencana).

3. Prosedur Permohonan dan Persyaratan Pengangkatan Anak WNA oleh Orang Tua Angkat WNI (Intercountry Adoption)

a. Syarat dan Bentuk Surat Permohonan Pengangkatan Anak WNA 1) Surat permohonan bersifat voluntair.

2) Permohonan pengangkatan anak hanya dapat diterima apabila ternyata telah ada urgensi yang memadai, misalnya ada ketentuan undang-undangnya.

3) Permohonan pengangkatan anak dapat dilakukan secara lisan atau tertulis berdasarkan ketentuan hukum acara yang berlaku.

4) Surat permohonan pengangkatan anak dapat ditandatangani oleh pemohon sendiri atau oleh kuasa hukumnya.

(43)

5) Surat permohonan pengangkatan anak ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri atau Ketua Pengadilan Agama yang mewilayahi domisili anak WNA yang akan diangkat.

Pemohon yang beragama Islam yang bermaksud mengajukan permohonan pengangkatan anak berdasarkan Hukum Islam, maka permohonannya diajukan kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal anak WNA yang akan diangkat.

b. Isi Surat Permohonan Pengangkatan Anak WNA

1) Bagian dasar hukum permohonan pengangkatan anak, harus secara jelas diuraikan motivasi yang mendorong niat untuk mengajukan permohonan pengangkatan anak.

2) Harus diuraikan secara jelas bahwa permohonan pengangkatan anak, terutama didorong oleh motivasi untuk kebaikan dan/atau kepentingan calon anak angkat WNA Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia yang bersangkutan, didukung dengan uraian yang memberikan kesan bahwa calon orang tua angkat benar-benar memiliki kemampuan dari berbagai aspek bagi masa depan anak angkat menjadi lebih baik.

3) Isi petitum permohonan pengangkatan anak bersifat tunggal, yaitu hanya memohon "agar anak bernama A ditetapkan sebagai anak angkat dari B." Tanpa ditambahkan permintaan lain, seperti: "agar anak bernama A ditetapkan sebagai ahli waris dari si B."

(44)

c. Syarat-syarat Permohonan Pengangkatan Anak WNA

1) Syarat bagi calon orang tua angkat WNI/pemohon, berlaku ketentuan sebagai berikut:

a) Pengangkatan anak WNA harus dilakukan melalui suatu yayasan sosial yang memiliki izin dari Departemen Sosial bahwa yayasan tersebut telah diizinkan bergerak di bidang kegiatan pengangkatan anak, sehingga pengangkatan anak WNA yang berlangsung dilakukan antara orang tua angkat WNI dengan orang tua kandungnya WNA (private adoption) tidak diperbolehkan.

b) Pengangkatan anak WNA oleh seorang WNI yang tidak terikat dalam perkawinan sah/belum menikah (single parent adoption) tidak diperbolehkan.

c) Calon orang tua angkat harus seagama dengan agama yang dianut oleh calon anak angkat.

2) Syarat bagi Colon Anak Angkat WNA

a) Usia anak angkat harus mencapai 5 tahun.

b) Disertai penjelasan tertulis dari Menteri Sosial atau Pejabat yang ditunjuk bahwa calon anak angkat WNA yang bersangkutan diizinkan untuk diangkat sebagai anak angkat oleh calon orang tua WNI yang bersangkutan.

4. Prosedur Permohonan dan Persyaratan Pengangkatan Anak WNI oleh Orang Tua Angkat WNA (Intercountry Adoption)

(45)

a. Syarat dan Bentuk Surat Permohonan Pengangkatan Anak WNI 1) Surat permohonan bersifat voluntair.

2) Permohonan seperti ini dapat dilakukan secara lisan sesuai dengan hukum acara yang berlaku di Pengadilan Negeri/ Pengadilan Agama. Permohonan juga dapat diajukan secara tertulis.

3) Permohonan pengangkatan anak hanya dapat diterima apabila ternyata telah ada urgensi yang memadai, misalnya ada ketentuan undang-undangnya.

4) Surat permohonan pengangkatan anak dapat ditanda- tangani oleh pemohon sendiri atau oleh kuasa hukumnya. Dalam hal didampingi/dibantu kuasanya, calon orang tua angkat tetap harus hadir dalam pemeriksaan di persidangan.

5) Surat permohonan pengangkatan anak ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri atau Ketua Pengadilan Agama yang mewilayahi domisili anak WNI yang akan diangkat.

Pemohon yang beragama Islam yang bermaksud mengajukan permohonan pengangkatan anak berdasarkan Hukum islam maka permohonannya diajukan kepada pengadilan agama yang mewilayahi tempat tinggal anak WNI yang akan diangkat

b. Isi Surat Permohonan Pengangkatan Anak WNI

1) Bagian dasar hukum permohonan pengangkatan anak, harus secara jelas diuraikan motivasi yang mendorong niat untuk mengajukan permohonan pengangkatan anak.

(46)

2) Harus diuraikan secara jelas bahwa permohonan pengangkatan anak, terutama didorong oleh motivasi untuk kebaikan dan/atau kepentingan calon anak angkat WNI yang bersangkutan, didukung dengan uraian yang memberikan kesan bahwa calon orang tua angkat benar-benar memiliki kemampuan dari berbagai aspek bagi masa depan anak angkat menjadi lebih baik.

3) Isi petitum permohonan pengangkatan anak bersifat tunggal, yaitu hanya memohon "agar anak bernama A ditetapkan sebagai anak angkat dari B." Tanpa ditambahkan permintaan lain, seperti: "agar anak bernama A ditetapkan sebagai ahli waris dari si B."

c. Syarat-syarat Permohonan Pengangkatan Anak WNI oleh Orang Tua Angkat WNA

1) Syarat bagi calon orang tua angkat WNA/pemohon, berlaku ketentuan sebagai berikut:

a) Harus telah berdomisili dan bekerja tetap di Indonesia sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun.

b) Harus disertai izin tertulis Menteri Sosial atau Pejabat yang ditunjuk bahwa calon orang tua angkat WNA memperoleh izin untuk mengajukan permohonan pengangkatan anak seorang Warga Negara Indonesia.

c) Pengangkatan anak WNI harus dilakukan melalui suatu yayasan sosial yang memiliki izin dari Departemen Sosial bahwa yayasan tersebut telah diizinkan bergerak di bidang

(47)

kegiatan pengangkatan anak, sehingga pengangkatan anak WNI yang langsung dilakukan antara orang tua kandung WNI dan calon orang tua angkat WNA (private adoption) tidak diperbolehkan.

d) Pengangkatan anak WNI oleh seorang WNA yang tidak terikat dalam perkawinan sah/belum menikah (singleparent adoption) tidak diperbolehkan.

e) Calon orang tua angkat harus seagama dengan agama yang dianut oleh calon anak angkat.

2) Syarat bagi calon anak angkat WNA yang diangkat

a) Usia calon anak angkat harus belum mencapai umur 5 tahun. b) Disertai penjelasan tertulis dari Menteri Sosial atau Pejabat

yang ditunjuk bahwa calon anak angkat WNI yang bersangkutan diizinkan untuk diangkat sebagai anak angkat oleh calon orang tua angkat WNA yang bersangkutan.

(Kamil, 2008 : 59-65)

D. Motivasi Pengangkatan Anak

Dalam praktiknya, pengangkatan anak di kalangan masyarakat Indonesia mempunyai beberapa tujuan dan/atau motivasinya. Tujuannya antara lain adalah untuk meneruskan keturunan, apabila dalam suatu perkawinan tidak memperoleh keturunan. Motivasi ini sangat kuat terhadap pasangan suami istri yang telah divonis tidak mungkin melahirkan anak

(48)

padahal mereka sangat mendambakan kehadiran anak dalam pelukannya di tengah-tengah keluarganya. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, secara tegas menyatakan bahwa tujuan pengangkatan anak, motivasi pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak dan dilakukan berdasarkan adat kebiasaan setempat dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan ini sangat memberikan jaminan perlindungan bagi anak yang sifatnya memang sangat tergantung dari orang tuanya. Praktik pengangkatan anak dengan motivasi komersial, perdagangan, sekadar untuk pancingan dan setelah memperoleh anak, kemudian anak angkat disia-siakan atau diterlantarkan, sangat bertentangan dengan hak-hak yang melekat padaanak. Oleh karena itu, pengangkatan anak harus dilandasi oleh semangat kuat untuk memberikan pertolongan dan perlindungan sehingga masa depan anak angkat akan lebih baikdan lebih maslahat.Harus disadari bahwa pengangkatan anak yang sesuai dengan budaya dan akidah masyarakat Indonesia tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dengan orang tua kandungnya. Hal sensitif yang juga harus disadari oleh calon orang tua angkat dan orang tua kandung adalah bahwa calon orang tua angkat harus seagama dengan agama yang dianut oleh calon anak angkat, hal ini penting diperhatikan oleh karena pengaruh agama orang tua angkat terhadap Anak angkat hanya memiliki satu arus arah dari orang tua angkat terhadap anak angkatnya, jika hal ini terjadi maka akan sangat melukai hati dan nurani serta akidah orang tua kandung anak angkat itu.

(49)

Pengangkatan anak juga mungkin terjadi dilakukan oleh warga Negara Asing terhadap anak-anak Indonesia, hal ini memerlukan adanya ketentuan hukum yang jelas terhadap pengangkatan anak antarwarga negara. Pasal 39 angka 4 UUNo. 23/2002 menyatakan bahwa pengangkatan anak oleh Warga Negara Asing hanya dapat dilakukan sebagai upayaterakhir. Dalam hal asal-usul anak yang akan diangkat tersebut tidak diketahui, misalnya anak itu dibuang oleh ibunya di tempat pembuangan sampah atau di pinggir jalan lalu ditemukan oleh seseorang, maka agama anak disesuaikan dengan agama mayoritas penduduk setempat, yaitu agama penduduk di sekitar tempat pembuangan bayi tersebut.

Kaitannya dengan bimbingan dan pengawasan terhadapanak angkat, Pasal 41 UU No. 23/2002 menegaskan bahwa pemerintah dan masyarakat melakukan bimbingan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengangkatan anak, yang detailnya akan diatur dengan peraturan pemerintah.

(Kamil, 2008 : 68).

E. Hak-hak dan Kewajiban Anak Angkat

Perlindungan terhadap anak di Indonesia termasuk anak angkat bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia,dan sejahtera. Anak angkat dan anak-anak lain pada umumnya adalah

(50)

amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat hak-hak sebagai anak dan harkat serta martabat sebagai manusia seutuhnya, melekat hak-hak yang perlu dihormati dan dijunjung tinggi oleh orang tua angkatnya dan masyarakat pada umumnya, hak-hak anak angkat dimaksud antara lain.

1. berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan darikekerasan dan diskriminasi;

2. berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan statuskewarganegaraan; 3. berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi

sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam bimbingan orang tua; 4. berhak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang

tuanya sendiri;

5. dalam hal karena sesuatu sebab orang tuanya tidak dapat menjamin tumbuh kembang anak, atau anak dalam keadaan terlantar, maka anak tersebut berhak diasuh atau diangkat sebagai anak asuh atau anak angkat oleh orang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 6. berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan

kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial;

7. berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya;

(51)

8. khusus bagi anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus;

9. setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan;

10. setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi perkembangan diri;

11. setiap anak yang menyandang cacat berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial;

12. setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dan perlakuan:

a. diskriminasi;

b. eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual; c. penelantaran;

d. kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan; e. ketidakadilan, dan

f. perlakuan salah lainnya.

Dalam hal orang tua, wali atau pengasuh anak melakukan segala bentuk perlakuan tersebut, maka pelaku dikenakan pemberatan hukuman.

(52)

13. setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir;

14. setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari: a. penyalahgunaan dalam kegiatan politik;

b. pelibatan dalam sengketa bersenjata; c. pelibatan dalam kerusuhan sosial;

d. pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsure kekerasan; dan e. pelibatan dalam peperangan.

15. setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. Setiap anak berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum. Penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir;

16. setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk:

a. mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa;

b. memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku; dan

c. membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektifdan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum.

(53)

17. setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan dengan hukum berhak dirahasiakan.

18. setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya.

Di samping hak-hak yang dijamin oleh undang-undang tersebut, anak-anak dan/atau termasuk anak-anak angkat memiliki kewajiban-kewajiban sebagai kewajiban asasi yang juga harus dilaksanakan oleh seorang anak, yaitu bahwa setiap anak berkewajiban untuk:

a. menghormati orang tua, wali, dan guru;

b. mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman; c. mencintai tanah air, bangsa, dan Negara

d. menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya; dan e. melaksanakan etika dan akhlak yang mulia.

(Kamil, 2008 : 68-71)

F. Perwalian Anak Angkat

Secara umum masalah perwalian anak pada umumnyadiatur pada Bab VII Undang-Undang Perlindungan Anak. Pasal 33 memberikan ketentuan rincian kondisi anak dan perwaliannya pada saat itu. Perwalian terhadap anak angkat, dapat dikaji dari aspek defmisi anak angkat sebagaimana diatur Pasal 1 angka 9 UU No. 23/2002 yang menyatakan bahwa "Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua,

(54)

pendidikan, dan membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungan orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan.

Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia Bertitik tolak dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa perwalian terhadap anak angkat telah beralih dari orang tua kandungnya kepada orang tua angkatnya. Jadi orang tua angkat memiliki hak dan bertanggung jawab perwalian terhadap anak angkatnya, termasuk perwalian terhadap harta kekayaan. Oleh karena itu, apabila anak angkat telah dewasa, maka orang tua angkat wajib memberikan pertanggungjawaban atas pengelolaan harta kekayaan anak angkatnya tersebut. Pasal 33 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa:

1. Dalam hal orang tua anak tidak cakap melakukan perbuatan hukum, atau tidak diketahui tempat tinggal atau keberadaannya, maka seseorang atau badan hukum yang memenuhi persyaratan dapat ditunjuk sebagai wali dari anak yang bersangkutan.

2. Untuk menjadi wali anak yang berada di bawah perwalian- nya, dilakukan melalui penetapan pengadilan.

3. Wali yang ditunjuk sebagai wali seseorang anak, agamanya harus sama dengan agama yang dianut anak.

4. Untuk kepentingan anak, wali tersebut, wajib mengelola harta milik anak yang bersangkutan.

5. Ketentuan mengenai syarat dan tata cara penunjukan wali, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Wali yang ditunjuk berdasarkan

(55)

penetapan pengadilan tersebut, dapat mewakili anak untuk melakukan perbuatan hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak. Dalam hal anak belum mendapat penetapan pengadilan mengenai wali, maka harta kekayaan anak tersebut dapat diurus oleh balai harta peninggalan atau lembaga lain yang mempunyai kewenangan untuk itu. Balai harta peninggalan atau lembaga lain yang mempunyai kewenangan, bertindak sebagai wali pengawas untuk mewakili kepentingan anak. Pengurus harta anak tersebut harus mendapat penetapan pengadilan.

Dalam hal wali yang ditunjuk ternyata di kemudian hari tidak cakap melakukan perbuatan hukum atau menyalahgunakan kekuasaannya sebagai wali, maka status perwaliannya dicabut dan ditunjuk orang lain sebagai wali melalui penetapan pengadilan. Dalam hal wali meninggal dunia, ditunjuk orang lain sebagai wali melalui penetapan pengadilan. (Kamil, 2008 : 73-75).

G. Pengasuhan dan Pengangkatan Anak

Pengasuhan atau mengasuh adalah "menjaga dan memelihara anak kecil, membimbing agar bisa mandiri, sedangkan pengangkatan anak berarti suatu upaya penyatuan seseorang anak yang diketahuinya bahwa ia sebagai anak orang lain ke dalam keluarganya. Ia diperlakukan sebagai anak dari segi kecintaan, pemberian nafkah, pendidikan dan pelayanan dalam segala kebutuhannya, bukan diperlakukan sebagai anak nasab-nya. Sendiri.

(56)

(Kamus besar bahasa Indonesia, 1997 : 43).

Dalam undang-undang perlindungan anak tepatnya pada Pasal 37 sampai dengan Pasal 41 telah diatur beberapa ketentuan tentang pengasuhan dan pengangkatan anak. Pengasuhan anak ditujukan kepada anak yang orang tuanya tidak dapat menjamin tumbuh kembang anaknya secara wajar, baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial. Pengasuhan anak tersebut, dilakukan oleh lembaga yang mempunyai kewenangan untuk Hukum Perlindungon dan Pengangkatan Anak di Indonesia itu. Dalam hal lembaga berdasarkan agama, maka anak yang diasuh harus yang seagama dengan agama yang menjadi landasan lembaga yang bersangkutan. Dalam hal pengasuhan anak dilakukan oleh lembaga yang tidak berlandaskan agama, maka pelaksanaan pengasuhan anak harus memperhatikan agama yang dianut anak yang bersangkutan. Pengasuhan anak oleh lembaga dapat dilakukan di dalam atau di luar Panti Sosial. Perseorangan yang ingin berpartisipasi dapat melalui lembaga-lembaga tersebut di atas.

Pengasuhan anak tersebut, dilaksanakan tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak, dan kondisi fisik dan/atau mental. Pengasuhan anak tersebut, diselenggarakan melalui kegiatan bimbingan, pemeliharaan, perawatan dan pendidikan secara berkesinambungan, serta dengan memberikan bantuan biaya dan/atau fasilitas lain, untuk menjamin tumbuh kembang anak secara optimal, baik fisik, mental, spiritual maupun sosial, tanpa memengaruhi agama yang dianut anak. Pengasuhan anak merupakan

(57)

cikal bakal dari lahirnya lembaga pengangkatan anak yang memiliki sifat yang lebih substantif dan luas bagi masa depan anak. Oleh karena itu, dalam Undang-Undang Perlindungan Anak secara khusus mengatur ketentuan-ketentuan khusus bagi anak angkat guna menghindari penyalahgunaan dan penyelewengan terhadap "Prosedur tentang permohonan pengasuhan dan/atau pengangkatan anak akan diuraikan di bawah. "Lembaga atau perorangan yang melakukan kegiatan pengasuhan tersebut, disebut orang tua asuh. Di Indonesia telah dibentuk apa yang disebut Gerakan Orang Tua Asuh (GNOTA) yang bertujuan untuk membantu anak-anak yang kurang mampu dalam biaya pendidikan anak yang diangkatnya. Ketentuan-ketentuan ini diatur pada pasal 39 sampai dengan Pasal 41, bahwa:

1. pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak dan dilakukan berdasarkan adat kebiasaan setempat dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

2. pengangkatan anak tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dengan orang tua kandungnya;

3. calon orang tua angkat harus seagama dengan agama yang dianut oleh calon anak angkat;

4. pengangkatan anak oleh Warga Negara Asing hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir;

5. dalam hal asal usul anak tidak diketahui, maka agama anak disesuaikan dengan agama mayoritas penduduk setempat;

(58)

6. orang tua angkat wajib memberitahukan kepada anak angkatnya mengenai asal usulnya dan orang tua kandungnya;

7. pemberitahuan asal usul dan orang tua kandungnya, dilakukan dengan memerhatikan kesiapan anak yang bersangkutan;

8. pemerintah dan masyarakat melakukan bimbingan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengangkatan anak;

(Kamil, 2008 : 75-77).

H. Penyelenggaraan Perlindungan terhadap Anak Angkat

Penyelenggaraan perlindungan terhadap anak angkat meliputi berbagai aspek kehidupan dengan mengacu kepada hak-hak asasi anak yang melekat padanya sejak anak itu dilahirkan, meliputi:

1. perlindungan terhadap agama; 2. perlindungan terhadap kesehatan; 3. perlindungan terhadap pendidikan; 4. perlindungan terhadap hak sosial;

5. perlindungan yang sifatnya khusus/eksepsional;

Setiap anak mendapat perlindungan untuk beribadah menurut agamanya. Sebelum anak dapat menentukan pilihannya, agama yang dipeluk anak tersebut mengikuti agama orang tuanya. Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, orang tua, wali, dan lembaga sosial menjamin perlindungan anak dalam memeluk agamanya, meliputi pembinaan, pembimbingan, dan pengamalan ajaran agama bagi anak.

Gambar

Tabel  3.1 Wilayah yang menjadi kewenangan Pengadilan Negeri Salatiga  2)  Wewenang Mutlak
Gambar 3.1 Struktur Organisasi Pengadilan Negeri Salatiga
Tabel 3.2 Daftar Hakim Pengadilan Negeri Salatiga Tahun 2012

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai kesiapan karakter mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP UMS dalam implementasi Kurikulum 2013..

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik hidroksiapatit (HA) yang disintesis dari tulang sotong ( Sepia sp. ) dan komposit HA-kitosan untuk

Penelitian tentang Persepsi Mahasiswa FISIP UNDIP Terhadap Kebijakan.. Rcmunerasi ini terwujud berawal dari keprihatinan penulis akan situasi dan kondisi

Bila kita berpuasa karena Allah dan dengan sungguh-sungguh dan tidak mengharapkan sesuatu atau untuk kepentingan duniawi maka kita akan dijauhkan dari neraka dan diampuni

Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan dengan telah ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2012 tentang Koordinasi Penataan

Literasi media dalam kajian ini didefinisikan sebagai satu set perspektif merangkumi pengetahuan, emosi dan kemahiran yang digunakan secara aktif oleh pengguna

Dalam acara dimaksud harus membawa dokumen asli yang saudara upload pada Aplikasi LPSE Kabupaten Deli Serdang dan membawa Surat Keterangan Domisili Perusahaan dari Lurah/ Kepala

Misalnya pengguna ingin mengetahui bahasa Madura atau bahasa lain di pulau Jawa dari sebuah kata bahasa Sunda, maka pengguna dapat langsung memasukkan kata dalam