BAB II TINJAUAN PUSTAKA. cuaca dan kandungan unsur hara didalam tanah, juga harus memperoleh cukup air.

17 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Potensi Irigasi

Agar tanaman dapat hidup dengan subur, selain dipengaruhi oleh faktor cuaca dan kandungan unsur hara didalam tanah, juga harus memperoleh cukup air. Pemberian air yang mencukupi merupakan faktor penting bagi pertumbuhan tanaman. Demikian pula halnya dengan usaha meningkatkan produktivitas suatu lahan pertanian. Ketersediaan air merupakan faktor penting, tanpa air yang cukup produktivitas suatu lahan tidak maksimal. Salah satu upaya penyediaan air bagi lahan pertanian adalah dengan membangun irigasi.

Menurut Dumairi (1992) irigasi adalah usaha pengadaan dan pengaturan air secara buatan, baik air tanah maupun air permukaan untuk menunjang pertanian. Sedangkan Daerah Irigasi adalah suatu kesatuan wilayah yang mendapatkan air dari suatu jaringan irigasi. Berdasarkan cara pengaturan, pengukuran, serta kelengkapan fasilitas, jaringan irigasi dapat dikelompokkan menjadi tigas jenis, yaitu : jaringan irigasi sederhana, jaringan irigasi semi teknis dan jaringan irigasi teknis.

Sutopo (1990) mengemukakan bahwa tanaman pangan seperti padi, jagung, kedelai dan sebagainya hanya tumbuh dan berproduksi dengan baik apabila memperoleh air cukup pada saat yang tepat. Pada suatu studi menunjukkan kurangnya pengendalian air merupakan pembatas tunggal terbesar

(2)

dan bertanggung jawab terhadap perbedaan 35 persen antara hasil aktual dan potensial.

Pasandaran, E (1991) menyatakan bahwa dalam peningkatan produksi pangan, irigasi mempunyai peranan penting, yaitu :

1. Menyediakan air untuk tanaman dan dapat digunakan untuk mengatur kelembaban tanah

2. Membantu menyuburkan tanah melalui bahan – bahan kandungan yang dibawa oleh air

3. Memungkinkan penggunaan pupuk dan obat – obatan dalam dosis tinggi 4. Dapat menekan perkembangan hama penyakit tertentu

5. Dapat menekan pertumbuhan gulma 6. Memudahkan pengolahan tanah

Menurut laporan Bank Dunia 1983 menyebutkan bahwa kenaikan produksi beras di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor dengan nilai kontribusi (sebagai faktor tunggal) terhadap kenaikan sebagai berikut :

1. Air atau irigasi 16 persen

2. Penggunaan bibit unggul 5 persen

3. Penerapan teknologi seperti pupuk, pestisida dan lain – lain 4 persen, dan sisanya sebesar 75 persen merupakan interaksi dari ketiga faktor tersebut (Suzanna dan Hutapea, 1995).

Agro ekosistem padi sawah irigasi sampai saat ini merupakan kontributor terbesar bagi produksi padi di Indonesia.

(3)

Selama kurun waktu lima dasawarsa, antara tahun 1950 – 2000 luas irigasi Indonesia hanya meningkat 5 persen dari 3,5 juta ha pada tahun 1950 menjadi 5,2 juta ha pada tahun 2000, sedangkan pada kurun waktu yang sama irigasi di dunia meningkat lebih dari tiga kali lipat yaitu dari 80 juta ha pada tahun 1950 menjadi 270 juta ha pada tahun 2000. Rendahnya perluasan sawah irigasi di Indonesia antara lain disebabkan oleh derasnya konversi lahan sawah beririgasi sejak lebih dari dua dasawarsa terakhir, khususnya di pulau Jawa antara tahun 1978 – 1998 misalnya konversi lahan sawah irigasi adalah sebesar satu juta ha (Irawan, 2004).

Padahal kenyataannya sawah irigasi masih tetap merupakan sumber daya lahan yang terpenting dalam mendukung produksi padi. Pangsa areal panen sawah masih memberikan kontribusi sebesar sekitar 90 persen, sedangkan pangsa produksi berkisar 95 persen. Bila terjadi penurunan luas sawah irigasi yang tidak terkendali maka akan mengakibatkan turunnya kapasitas lahan sawah untuk produksi padi. Lebih dari itu jika proses degradasi kualitas jaringan irigasi terus berlanjut maka eksistensi lahan tersebut sebagai sawah sulit dipertahankan.

Data empiris menunjukkan bahwa untuk mencapai pertumbuhan produksi padi sawah 4,78 persen (Tahun 2003 – 2007), dibutuhkan pertumbuhan luas lahan sawah sebesar 2,47 persen. Hal ini menunjukkan penambahan luas lahan sawah masih sangat dibutuhkan dalam peningkatan produksi padi (Munif, A 2009)

Hal yang memprihatinkan dari program investasi publik dibidang irigasi, sawah irigasi yang terkonversi besar peluangnya adalah sawah yang baru direhabilitasi. Misalnya tidak lama setelah sistem irigasi Cisadane direhabilitasi dengan dana bantuan World Bank pada tahun 1970 an sebagian dari sawah

(4)

irigasinya dikonversi menjadi lapangan terbang. Demikian pula perluasan perkotaan dan industri mengkonversi sawah – sawah irigasi dipinggir perkotaan (Firman, 2000).

Rehabilitasi irigasi dianggap yang paling berhasil menunjang peningkatan produksi tanaman pangan khususnya padi walaupun ada kecendrungan terjadinya peningkatan pengeluaran pembiayaan persatuan luas yang cukup menonjol dan menjadi lebih singkatnya daur ulang rehabilitasi irigasi.

Menurut Wittfogel (1850, didalam Pasandaran dan Taylor, 1988) masyarakat yang tergantung pada irigasi untuk penghidupannya, seluruhnya ditata dalam hubungan dengan sistem distribusi dan pengaturan air.

Hal ini menunjukkan bahwa pengadaan proyek irigasi adalah salah satu upaya penting guna membangun masyarakat desa yang menggantungkan harapan penghidupannya dari hasil sektor pertanian. Keberadaan penyediaan air yang cukup tidak hanya memperluas pembukaan areal persawahan tetapi sekaligus meningkatkan intensitas pertanaman dari satu kali dalam setahun menjadi dua kali dalam setahun. Selain itu potensi air yang tersedia akan dapat meningkatkan penganekaragaman hasil pertanian. Peningkatan produksi pertanian sebagai hasil penyediaan air yang cukup juga akan mempengaruhi faktor – faktor produksi yang lain, sekaligus diharapkan akan memotivasi anggota masyarakat untuk bersedia membayar kewajibannya atas jasa pelayanan air yang diterimanya.

Menurut Widoro, 2007. Pembangunan irigasi adalah keharusan yang tidak dapat ditolak bagi pembangunan pertanian dan ketahanan pangan apapun

(5)

ideologinya, karena kerusakan irigasi adalah lonceng kematian bagi kedaulatan pangan.

2.2. Kecukupan Pangan

Apapun argumentasi yang dikemukakan dalam pencukupan pangan nasional, beras tetap menjadi pangan pokok sebagian besar bangsa Indonesia dimasa depan. Kebutuhan beras nasional akan terus meningkat oleh adanya penambahan penduduk yang masih tinggi pertambahan penduduk Indonesia pertahun sekitar 4 – 5 juta jiwa, sehingga dalam 35 tahun ke depan (tahun 2045) penduduk Indonesia mencapai 320 juta jiwa, yang memerlukan beras sebanyak 40 juta ton pertahun. Kebutuhan beras dalam jangka menengah tahun 2020 saat penduduk Indonesia mencapai sekitar 275 juta jiwa sudah mencapai 34 juta ton.

Faktor empiris menunjukkan bahwa pangan harus tersedia secara cukup setiap saat, guna ketenangan hidup bangsa dan guna kelangsungan hidup masyarakat. Sebagian orang menganggap bahwa pangan adalah barang yang akan ada dan cukup dengan sendirinya sesuai dengan kebutuhan manusia. Dari 220 juta penduduk Indonesia hanya sekitar 10 persen penduduk yang secara langsung memproduksi beras (12,67 juta kk petani padi) (Sumarno, 2007).

Definisi ketahanan pangan yang telah diterima secara luas adalah bahwa tiap orang setiap saat memiliki akses secara fisik dan ekonomi terhadap pangan yang cukup agar hidup sehat dan produktif. Undang – undang nomor 7 tahun 1996 menjelaskan bahwa, ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik

(6)

jumlah maupun mutunya, aman merata, dan terjangkau. Kecukupan pangan adalah suatu kondisi pada suatu negara yang cukup akan jumlah pangan, mutu baik, mudah diperoleh, aman dikonsumsi dan harga terjangkau. (Bahua, Mi.2009). Hingga awal tahun 2000 – an, sebelum pemanasan global menjadi suatu isu penting, dunia selalu optimis mengenai ketersediaan pangan. Bahkan waktu itu FAO memprediksi bahwa untuk 30 tahun ke depan, peningkatan produksi pangan akan lebih besar dari pada pertumbuhan penduduk dunia. Peningkatan produksi pangan yang tinggi itu akan terjadi dinegara – negara maju. Selain kecukupan pangan, kualitas makanan juga akan membaik. Prediksi ini didasarkan pada data historis selama dekade 80 – an hingga 90 – an yang menunjukkan peningkatan produksi pangan di dunia rata – rata pertahun mencapai 2,1 persen. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk dunia hanya 1,6 persen per-tahun. Memang, untuk periode 2000 – 2015 laju peningkatan produksi pangan diperkirakan akan menurun menjadi rata – rata 1,6 persen per-tahun, namun ini masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk dunia yang di prediksi 1,2 persen per-tahun. Untuk periode 2015 – 2030 laju pertumbuhan produksi pangan diprediksikan akan lebih rendah lagi yakni 1,3 persen per-tahun, tetapi masih lebih tinggi dari pada pertumbuhan penduduk dunia sebesar 0,8 persen per-tahun, juga FAO memprediksikan waktu itu bahwa produksi biji – bijian dunia akan meningkat sebesar 1 miliar ton selama 30 tahun ke-depan, dari 1,84 miliar ton ditahun 2000 menjadi 2,84 miliar ton di tahun 2030. (Husodo, 2002, dari Tambunan, T, 2008).

(7)

Namun dalam beberapa tahun belakangan ini, masalah kecukupan pangan dunia menjadi isu penting, dan banyak kalangan yakin bahwa dunia sedang menghadapi krisis pangan sejak 2007 karena laju pertumbuhan penduduk di dunia yang tetap tinggi setiap tahun, sementara, disisi lain, lahan yang tersedia untuk kegiatan – kegiatan pertanian terbatas, atau laju pertumbuhannya semakin kecil, atau bahkan secara absolut cenderung semakin sempit. Pandangan ini persis seperti teori Malthus yang memprediksi suatu saat dunia akan dilanda kelaparan karena defisit produksi.

Namun dengan meningkatnya pendidikan, pengetahuan mengenai gizi, dan kesejahteraan masyarakat, ditambah dengan pertumbuhan penduduk setiap tahun, konsumsi masyarakat Indonesia terhadap produk pangan sangat berpotensi meningkat. Diperkirakan konsumsi beras rata – rata perkapita tahun 2035 sebesar 90 kg, yang berarti penurunan yang cukup besar jika dibandingkan dengan tahun 2001. Namun dengan perkiraan laju pertumbuhan penduduk rata – rata pertahun tetap positif, maka kebutuhan nasional untuk beras tetap besar yang pada tahun 2035 diperkirakan sebanyak 36 juta ton. Konsekuensinya, kenaikan itu akan menuntut peningkatan penyediaan produk pangan yang amat besar, yang apabila tidak dapat terpenuhi oleh produksi dalam negeri dengan sendirinya akan meningkatkan ketergantungan Indonesia terhadap impor.

2.3. Produksi dan Pendapatan

Produksi dalam arti teknis adalah proses menjadikan barang atau zat dari bahan – bahan yang tersedia. Sedangkan dalam arti ekonomi mempunyai

(8)

pengertian yang lebih luas seperti dikemukakan oleh Sumodiningrat dan Iswara (1987) bahwa : “Produksi adalah setiap perbuatan manusia yang menjadikan barang dapat lebih sempurna untuk memenuhi kebutuhan manusia”.

Setiap produksi yang dihasilkan dalam setiap proses produksi pertanian, bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani. Pendapatan petani dari usaha taninya dapat diperhitungkan dari total penerimaan yang berasal dari penjualan produksi ditambah nilai yang dikonsumsi sendiri dikurangi dengan total pengeluaran yang meliputi benih, pupuk,upah tenaga kerja dan lain-lain. . Sebagai landasan teoritis dalam menganalisa peningkatan produksi dan pendapatan petani adalah analisis fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu fungsi yang menunjukkan hubungan antara hasil produksi fisik (output) dengan faktor – faktor produksi/ input ( Mubyarto, 1989).

Analisis ini akan dijadikan sebagai dasar untuk mengetahui sampai sejauh mana pengaruh dari masing – masing faktor produksi dan pendapatan petani dari usaha tani padinya, yang secara matematis fungsi produksinya dapat ditulis sebagai berikut :

Y = f (X1, X2, X3, ………Xn)

Dimana

Y = Hasil produksi fisik

X1……. X2 = Faktor – faktor produksi (input)

Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin banyak dimanfaatkan faktor – faktor produksi, diharapkan produksi dapat meningkat. Tapi kenaikan tersebut adalah memiliki suatu batasan yang harus tunduk pada hukum yang disebut

(9)

penggunaannya sedang input – input lain tetap maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahan satu unit - input lain tetap maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahan satu unit input yang ditambahkan tadi mula – mula menaik, tetapi kemudian seterusnya menurun bila input tersebut terus menambah (Boediono,1982).

Faktor produksi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah luas lahan sawah yang dipanen dalam hektar/ tahun, jumlah biaya produksi cash/ tunai yang dikorbankan dan factor irigasi sebagai variable dummy.

Variabel dummy adalah sebagai variabel yang sifatnya kualitatif yang menunjukkan ada tidaknya (presence or absence) suatu quality atau suatu attribute (Supranto, 1983). Faktor irigasi sebagai variable dummy dalam penelitian ini yang tidak dapat diukur dalam bentuk angka, tetapi sangat berpengaruh terhadap produksi pertanian akan dirubah sehingga berbentuk angka. Cara untuk membuat kualisifikasi dari data kualitatif (tak terbentuk angka) adalah dengan jalan memberikan nilai 1 (satu) kalau attribute yang dimaksud ada (yang mempunyai air irigasi) atau 0 (nol) kalau attribute yang dimaksud tidak ada (yang tidak mendapatkan irigasi.

2.4. Produktivitas Padi Sawah

Dalam upaya meningkatkan produktivitas pemerintah membuat kebijaksanaan perangsang berproduksi, yaitu dengan kebijakan harga dan non harga. Kebijakan harga seperti penetapan harga dasar yang dimaksudkan untuk merangsang petani melakukan usaha taninyadengan baik. Sedangkan

(10)

kebijaksanaan non harga yaitu dengan membangun Koperasi Unit Desa (KUD) atau kios – kios saprodi di sentra – sentraproduksi atau dekat dengan tempat tinggal petani agar sarana produksi seperti pupuk, bibit dan obat – obatan (pestisida) lebih cepat tersedia pada saat dibutuhkan serta memudahkan petani untuk memasarkan produksinya.

Tersedianya sarana atau faktor produksi atau input belum berarti produktivitas yang diperoleh petani akan tinggi. Namun bagaimana petani melakukan usaha taninya secara efisien adalah upaya yang sangat penting (Soekartawi, 1993).

Secara umum produktivitas dipengaruhi oleh kendala biologi dan kendala sosial ekonomi. Kendala biologi yaitu disebabkan perbedaan varitas, adanya tumbuhan pengganggu, serangan hama dan penyakit, perbedaan kesuburan tanah dan sebagainya. Kendala sosial ekonomi yaitu perbedaan besarnya biaya dan penerimaan usaha tani, kurangnya biaya usaha tani yang diperoleh dari kredit, harga produksi, kebiasaan dan sikap, kurangnya pengetahuan, tingkat pendidikan petani, adanya faktor ketidakpastian, resiko berusaha tani dan sebagainya.

Terjadinya kendala biologi dan kendala sosial ekonomi, seringkali berlainan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Jadi sifatnya sangat lokal dan spesifik atau sangat kondisional sekali. Pertama di dataran tinggi akan berbeda dengan situasi pertanian didataran rendah dan pertanian didaerah pasang surut akan berbeda dengan pertanian di daerah persawahan.

(11)

2.5. Pengembangan Wilayah

Menurut Sumodiningrat, 2004, wilayah adalah suatu area geografis yang memiliki ciri tertentu dan merupakan media bagi segala sesuatu untuk berlokasi dan berintegrasi.

Sedangkan pengembangan wilayah mengandung arti yang luas, tetapi pada prinsipnya merupakan berbagai upaya yang dilakukan untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan hidup disuatu wilayah tertentu. Dari segi sosial ekonomis pengembangan wilayah adalah upaya memberikan kesejahteraan kualitas hidup masyarakat.

Dalam upaya pengembangan wilayah pada suatu daerah tertentu biasanya terkait dengan masalah ketidak seimbangan demografi, tingginya biaya atau ongkos produksi, penutunan taraf hidup masyarakat, ketinggalan pembangunan atau adanya kebutuhan yang sangat mendesak. Pengembangan wilayah merupakan program yang menyeluruh atau terpadu dari semua kegiatan dengan menghubungkan sumber daya yang ada kontribusinya pada pengembangan suatu wilayah.

Ada beberapa kata kunci yang harus terdapat dalam pengembangan wilayah, yaitu :

a. Program yang menyeluruh atau terpadu

Berbagai upaya yang dilaksanakan dalam rangka pengembangan suatu wilayah harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu. Hal ini dapat berupa berbagai program pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah setempat. Dalam pengembangan wilayah terdapat dua pendekatan yang harus dilakukan melalui

(12)

Departemen atau instansi sektoral dan pendekatan regional atau teritorial yang dilakukan oleh daerah atau masyarakat setempat. Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah selama ini cenderung didominasi oleh program – program yang saat sektoral, sehingga apa yang dilaksanakan dan dihasilkan dari program tersebut sering kurang mencerminkan keinginan dari masyarakat setempat. Akhirnya banyak dijumpai hasil pembangunan yang tidak termanfaatkan secara optimal. Pemberian otonomi kepada daerah diharapkan dapat mengurangi dominasi dari program – program regional.

Salah satu yang paling efektif untuk menghindari kesimpang siuran program adalah menyusun semua rencana sektoral dan regional dalam suatu rencana induk pengembangan atau sering disebut master plan. Sebuah rencana induk harus dibuat secara bersama – sama, menyeluruh dan terpadu sehingga instansi akan mematuhi dan melaksanakan setiap rencana yang disepakati.

b. Sumber Daya yang Tersedia dan Kontribusinya Kepada Wilayah

Sumber daya yang dimiliki oleh suatu wilayah terbagi dalam sumber daya alam dan sumber daya manusia. Dalam suatu upaya pengembangan wilayah nasional disebutkan bahwa perkembangan Indonesia dalam dua atau tiga dasawarsa mendatang akan sangat tergantung pada kemampuannya menggerakkan tiga unsur pokok, yaitu :

1. Ketersediaan sumber daya alam 2. Kemampuan sumber daya manusia

(13)

3. Pemanfaatan teknologi yang kesemuanya harus ditujukan terutama untuk kesejahteraan masyarakat.

Berkembangnya suatu wilayah sangat ditentukan oleh pemanfaatan dari ketiga sumber daya tersebut, sehingga upaya pengembangan yang harus dilakukan akan berbeda antara wilayah yang satu dengan yang lain.

2.6. Penelitian Terdahulu

Malian, 1992, Di wilayah irigasi Bah Bolon dilaporkan bahwa umumnya petani bertanam padi dua kali dalam satu tahun dan bahkan ada yang bertanam lima kali dalam dua tahun. Produksi padi yang diperoleh dari lahan sawah irigasi berkisar antara 4,5 – 6,0 ton/ ha, sedangkan pada lahan sawah tadah hujan hanya 1,5 – 4,0 ton/ ha. Tingkat hasil ini masih jauh lebih rendah dari potensi produksi padi IR 64 sebesar 8,0 ton/ ha atau hasil pengujian Proyek Irigasi Bah Bolon yang mencapai 9,1 ton/ ha.

Dwi Haryono, Dampak pembangunan jaringan irigasi terhadap produksi, pendapatan dan distribusi pendapatan di Daerah Irigasi Punggur Utara Kabupaten Lampung Tengah, pada MT 1991/ 1992 (sebelum dibangun jaringan irigasi) dan MT 1996/ 1997 (setelah dibangun jaringan irigasi) bahwa terjadi peningkatan produksi padi sawah dari 1.408, 90 Kg per Hektar menjadi 2.67,81 Kg per Hektar.

Setyohadi, Agung, pada tahun 2005, Kajian manfaat jaringan irigasi terhadap pertumbuhan ekonomi sektor pertanian Kabupaten Magelang, diperoleh bahwa Kinerja Jaringan Irigasi lebih dominan peranannya dalam hal peningkatan produksi padi dan palawija. Bahwa dengan kondisi jaringan irigasi (saluran

(14)

maupun bangunan) yang baik dimana Operasi dan Pemeliharaan (O & P ) juga berjalan dengan baik sehingga mampu menjamin tersedianya air di lahan pertanian, merupakan faktor penunjang yang dominan terhadap upaya peningkatan produksi padi dan palawija.

2.7. Kerangka Pemikiran

Kabupaten Deli Serdang sebagai Kabupaten Lumbung Beras dan sentra produk pertanian terus berupaya mendorong pembangunan sektor pertanian melalui peningkatan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan, terutama beras, yang semakin meningkat, pemerintah telah berupaya membangun beberapa irigasi teknis maupun setengah teknis. Daerah Irigasi Bandar Sidoras adalah merupakan salah satu Irigasi yang ada di Deli Serdang yang diharapkan mampu mengairi areal persawahan tadah hujan seluas 3.017 ha menjadi areal persawahan teknis.

Rata – rata produktivitas padi sawah di Kecamatan Percut Sei Tuan pada tahun 2007 adalah 68,42 kw/ ha, dari luas panen 10.085 Ha. Sedangkan rata – rata produktivitas padi sawah di Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2007 adalah 51,96 kw/ ha dari luas panen 74.438 Ha.

Tidak tersedianya air, baik secara kualitas maupun kuantitas pada lahan sawah pada saat musim kering secara langsung akan berpengaruh terhadap produksi dan pendapatan yang diterima petani, disamping faktor – faktor produksi lainnya.

(15)

Belum sempurnanya penggunaan faktor – faktor produksi seperti belum diterapkannya benih unggul yang bermutu, pengolahan tanah belum sempurna, penggunaan pupuk belum seimbang, dan rendahnya intensitas pertanaman yang dilakukan oleh petani non irigasi juga merupakan hal penting dalam mempengaruhi peningkatan produksi pertanian.

Agar kehadiran Proyek Irigasi Bandar Sidoras dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, maka perlu diikuti dengan kegiatan pembinaan oleh instansi terkait, terutama dalam hal penggunaan input produksi yang tepat serta pemeliharaan irigasi yang berkesinambungan.

Usaha tani dilahan sawah tadah hujan sangat berbeda pengolahannya dengan lahan sawah beririgasi teknis. Dengan adanya perubahan pandangan tersebut, maka masyarakat perlu terus dimotivasi agar mereka tahu mau dan mampu melaksanakan kegiatan usaha tani menjadi lebih baik.

Semakin tinggi persepsi masyarakat terhadap pentingnya irigasi, maka irigasi tersebut akan semakin bermanfaat didalam pengelolaan usaha tani. Persepsi masyarakat sangat erat hubungannya dengan umur, pendidikan dan lama bekerja sebagai petani. Selain itu untuk menjaga agar kelangsungan irigasi tersebut berfungsi dan dimanfaatkan oleh masyarakat tani sesuai dengan kebutuhan, maka sangat diperlukan adanya partisipasi masyarakat, terutama dalam keanggotaan P3A, gotong royong, keikut sertaan dalam rapat P3A, bimbingan dan penyuluhan serta kesediaan membayar iuran air, baik dalam jumlah maupun ketepatan waktu.

Semakin besar aktifitas terhadap proses kegiatan produksi, maka diharapkan produksi dan pendapatan yang diterima petani akan semakin

(16)

meningkat. Meningkatnya produksi padi maupun tanaman lainnya diharapkan dapat memenuhi kecukupan pangan petani dan masyarakat sekitarnya dan mampu memenuhi kebutuhan daerah.

Pada sisi lain dengan tersedianya air secara teratur dan semakin luasnya jangkauan pelayanan irigasi Bandar Sidoras, diharapkan pengelolaan usaha tani pada daerah irigasi tersebut akan menjadi semakin baik. Dengan membaiknya pengelolaan usaha taninya, diharapkan pertumbuhan ekonomi diwilayah tersebut akan semakin berkembang lebih baik yang pada gilirannya akan dapat memacu pertumbuhan dan perkembangan kegiatan ekonomi dan jasa lainnya.

Secara skematis, kerangka pemikiran penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.

PEMBANGUNAN IRIGASI

ANALISIS POTENSI

Gambar 1. Kerangka Pemikiran PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN PENERIMAAN INTENSITAS PERTANAMAN KECUKUPAN PANGAN PENGEMBANGAN WILAYAH

(17)

2.8. Hipotesis

Sesuai dengan perumusan masalah diatas, maka hipotesis dalam penelitian adalah pemanfaatan irigasi Bandar Sidoras memberikan penyebaran pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan pada wilayah sekitarnya. Secara lebih rinci, hipotesis tersebut dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut :

1. Terdapat perbedaan pengaruh penggunaan faktor – faktor produksi pada lahan sawah beririgasi dan lahan sawah non irigasi terhadap produksi padi petani di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang

2. Terdapat perbedaan potensi lahan sawah beririgasi terhadap peningkatan intensitas pertanaman dibanding dengan lahan sawah non irigasi di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang

3. Terdapat perbedaan hasil produksi, produktivitas dan penerimaan petani pada lahan sawah beririgasi dan lahan sawah non irigasi di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang

4. Tercapainya kecukupan pangan beras dan pengembangan wilayah setelah adanya irigasi di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :