• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN PEMAHAMAN MATERI AQIDAH AKHLAK DENGAN PERILAKU IHSAN PADA SISWA KELAS IV MI DAKUL MUBTADIIN PUTAT PURWODADI GROBOGAN TAHUN PELAJARAN 2005/2006 - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "HUBUNGAN PEMAHAMAN MATERI AQIDAH AKHLAK DENGAN PERILAKU IHSAN PADA SISWA KELAS IV MI DAKUL MUBTADIIN PUTAT PURWODADI GROBOGAN TAHUN PELAJARAN 2005/2006 - Test Repository"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

M UBTAD1IN PU T A T PU RW OD A D I G ROBO G A N TA H U N PE LA JA R A N 2005/2006

D iaju k an U n tu k M em enuhi Salah Satu S y arat G u n a M em peroleh G e la r S arjan a

D alam Ilm u T a rb iy ah

D isusun O leh :

R ISK H A UMM1 SYAYEKT1 N IM . 11404050

JU R U SA N TA R B IY A H

SE K O L A H T IN G G I A G A M A ISLA M N EG E R I (STAIN) SA LA TIG A

2006

(2)

MUBTADIIN PUT AT PURWODADI GROBOGAN T AHUN PELAJARAN 2005/2006

SKRIPSI

Diajukan untuk memnuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam ilmu tarbiyah

Oleh :

RISKHA UMMI SYAYEKTI NIM :11404050

JURUSAN TARBIYAH

SEKOLAH TrNGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SALATIGA

2006

(3)

(STAIN) SALATIGA

X Tentara pelajar No. 02 teCp. (0298)323706 T a ^ . (0298)323433 S a h tig jl 'W e6site: unvw . stain saldtiga ac.idT.maiC: administrasi@ stainsalatiga.ac.id

NOTA PEMBIMBING

Salatiga, 22 Agustus 2006

Lamp : 1 (Satu) Naskah Hal : Naskah Skripsi

Sdr/i Riskha Ummi Syayekti

Assalamu ’alaikum wr.wb

Setelah kami meneliti dan mengadakan perbaikan, maka bersama ini kami kirimkan naskah skripsi saudara/i:

Nama : RISKHA UMMI SYAYEKTI

NIM : 11404050

Jurusan : Tarbiyah Program Studi PAI

Judul : HUBUNGAN PEMAHAMAN MATERI AQIDAH

AKHLAK DENGAN PERILAKU IHSAN PADA SISWA KELAS IV MI DARUL MUBTADIIN PUTAT PURWODADI GROBOGAN TAHUN PELAJARAN 2005/2006

Dengan ini kami mohon agar skripsi saudara/i tersebut di atas agar dapat dimunaqasahkan.

Demikian agar menjadi perhatian.

Wassalamu ’alaikum wr.wb

Drs. Kastolani, M.Ag N I P .150267026

(4)

Judui

Nama Nim

Program studi

: HUBUNGAN PEMAHAMAN -M ATERI AQ1DAH

AKHLAK DENGAN PERILAKU IHSAN PADA SISWA

KELAS IV MI DARUL MUBTADIIN PUTAT

PURWODADI GROBOGAN TAHUN PELAJARAN 2 0 0 5 /2 0 0 6

: RISKHA UMMI SYAYEKTI : 11404050

: Pendidikan Agama Islam (PAI)

Salatiga, 27 Agustus 2006

Ketua

>rs. Imam Sutomo, M NIP. 150216814

ENGUJI

Sekretaris

Drs. H. M. Saerozi, M. Ag NIP. 150247014

NIP. 150057781

Penguji II

Suwardi, M.Pd NIP. 150295657

(5)

Segala PUJI BAGI Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah Nya kepada penulis, sehingga pada kesempatan ini penulis dapat menyelesaikan skripsi.

Dengan skripsi yang berjudul “HUBUNGAN PEMAHAMAN MATERI AQIDAH AKHLAK DENGAN PERILAKU IHSAN PADA SISWA KELAS IV MI DARUL MUBTADIIN PUTAT PURW ODADI GROBOGAN TAHUN PELAJARAN 2005 / 2006” ini telah disusun sehingga dapat menem ukan salah satu syarat guna memperoleh gelar strata 1 (satu) STAIN Salatiga.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dan saran- saran dari berbagai pihak sehingga penyusunan skripsi ini dapat terealisasikan. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kapada :

1. Bapak Drs. Imam Sutomo, M. Ag selaku ketua STAIN Salatiga

2. Bapak Drs. H. M. Saerozi, M. Ag selaku pembantu ketua 1 STAIN Salatiga 3. Bapak Drs. Kastolani, M .Ag selaku dosen pembimbing skripsi STAIN Salatiga

4. Bapak Suniti N urcham id, A m a selaku kepala MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan, yang telah memberikan izin penelitian dan memberikan informasi serta data yang penulis butuhkan, sehingga skripsi ini selesai tepat pada waktunya.

5. Bapak dan Ibu serta saudara-saudara saya yang langsung maupun tidak langsung telah m em bantu, baik moril maupun materiil dalam penyususnan skripsi ini. Dan semua pihak yang tidak dapat penulis seutkan satu persatu.

Akhirnya penulis menyadari bahwa penyususnan skripsi ini masih jauh mencapai kesempurnaan dalam arti sebenarnya, namun penlis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun para pem baca umumnya. Amin.

Salatiga, 22 Agustus 2006 Penulis

RISKHA UMMI SYAYEKTI

(6)
(7)

Kupersembahakan kepada Bapk, Ibu, Kakak dan Adik-adikku tercinta, Serta orang-orang yang selalu membantuku. Semoga pengorbanan nya selalu diberkati dan diridloi A llah Yang Maha Pengasih dan Penyayang

(8)

Halaman J u d u l... i

Persetujuan Pem bim bing... ii

Pengesahan Skripsi ... iii

Kata Pengantar ... iv

M o tto ... v

Persem bahan... vi

Daftar I s i ... vii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang M asalah... 1

B. Rumusan M asalah... 2

C. Tujuan Penelitian... 2

D. Manfaat Hasil Penelitian... 3

E. Landasan T eoritik... 4

F. H ipotesis... 5

G. Metodologi Penelitian... 6

H. Sistematika Penulisan... 12

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pemahaman Materi aqidah A k h lak ... 14

B. Perilaku Ih san ... 19 C. Hubungan Pemahaman Materi Aqidah Akhlak dengan Perilaku

(9)

A. Sejarah B erdirinya... 48

B. Standar Kompetensi atau Kurikulum 2 0 0 4 ... 48

C. Metode Pembelajaran Materi Aqidah A khlak... 49

D. Struktur Organisasi dan Personalia MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi G robogan... 52

E. Keadaan S isw a... 58

F. Sarana dan Prasarana... 59

G. Sumber Daya M anusia... 61

H. K euangan... 62

I. Kegiatan Keagamaan yang diadakan di MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi G robogan... 62

BAB IV ANALISIS DATA A. Analisa Pendahuluan... 64

B. Analisa L anjut... 67

C. Analisa Uji H ipotesis... 71

BAB V PENUTUP A. K esim pulan... 73

B. Saran-Saran... 74

C. Penutup... 76

(10)

A. Latar Belakang Masalah

Materi Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebagai bagian integral dari pendidikan agama, memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan watak dan kepribadian peserta didik. Tetapi secara substansial materi Aqidah Akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan nilai-nilai akhlaqul kharimah atau perilaku ihsan dalam kehidupan sehari-hari.1

Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan lingkungan.2 Ihsan adalah sesuatu untuk berbuat baik.3 Jadi perilaku ihsan adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan lingkungan dalam berbuat kebaikan.

Kriteria keberhasilan pemahaman materi Aqidah Akhlak antara lain perilaku ihsan. Realitas di lapangan masih sedikit ditemukan siswa dalam berperilaku ihsan. Pandangan umum menyatakan bahwa ketidakberhasilan pemahaman materi Aqidah Akhlak di MI Darul Mubtadiin karena faktor alokasi waktu yang sangat singkat yaitu satu jam pelajaran dalam tiap minggunya. Pandangan tersebut masih perlu dibuktikan kebenarannya melalui

(11)

Penelitian yang sinambung yang mencakup berbagai aspek terkail di dalamnya. Dalam konteks tersebut penulis ingin meneliti mengenai HUBUNGAN PEMAHAMAN MATERI AQIDAH AKHLAK DENGAN

PERILAKU IHSAN PADA SISWA KELAS IV MI DARUL

MUBTADIIN PUTAT PURWODADI GROBOGAN TAHUN

PELAJARAN 2005/2006.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pemahaman materi Aqidah Akhlak Kelas IV pada siswa MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan tahun pelajaran 2005/2006 ?

2. Bagaimanakah perilaku ihsan pada siswa kelas IV MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan Tahun Pelajaran 2005/2006 ?

3. Adakah hubungan antara pemahaman materi Aqidah Akhlak dengan perilaku ihsan pada siswa kelas IV MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan tahun pelajaran 2005/2006 ?

C. Tujuan Penelitian

Agar dapat memberikan gambaran konkrit serta arah yang jelas dalam penelitian ini, maka perlu dirumuskan tujuan yang ingin dicapai yaitu :

(12)

2. Mcngdahui perilaku ihsan pada siswa kelas IV MI Daml Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan tahun pelajaran 2005/2006.

3. Mengetahui tingkat hubungan antara pemahaman materi Aqidah Akhlak dengan perilaku ihsan pada siswa kelas IV MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan tahun pelajaran 2005/2006.

D. Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi yang jelas tentang hubungan antara pemahaman materi Aqidah Akhlak dengan perilaku ihsan pada siswa kelas IV MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan tahun pelajaran 2005/2006. Dari informasi tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritik dan praktik yaitu :

1. Secara teoritik, diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan pada umumnya, khususnya dapat memperkaya khasanah dunia pendidikan Islam yang diperoleh dari penelitian lapangan.

(13)

E. Landasan Teoritik

Dalam melaksanakan penelitian ini , penulis akan menggunakan dua variabel, pemahaman materi Aqidah Akhlak sebagai variabel independen dan perilaku ihsan pada siswa kelas IV MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan merupakan variabel dependen.

1. Pemaliaman materi Aqidah Akhlak

Pemaliaman adalah mengerti benar tentang sesuatu hal.4 Materi adalah sesuatu yang menjadi bahan (untuk diujikan, dipikirkan, dibicarakan, dikarangkan).5 Pemaliaman materi aqidah akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengimani Allah SWT. Dan merealisasikannya dalam perilaku ihsan dalam kehidupan sehari-hari, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk dalam bidang keagamaan, pendidikan ini juga diarahkan pada peneguhan Aqidah di satu sisi dan peningkatan toleransi serta saling menghormati dengan penganut agama lain dalam rangka mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa.6

2. Perilaku Ihsan

Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan lingkungan.7

4 Kamus Pusat Bahasa, o p. cis., him. 811

s IMsLhlni. 723

(14)

Ihsan adalah berbakti dan mengabdikan diri kepada Allah SWT dengan dilandasi kesadaran dan keikhlasan.8 Jadi perilaku ihsan disini yang dimaksud adalah suatu tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan lingkungan untuk berbakti dan mengabdikan diri kepada Allah SWT dengan dilandasi kesadaran dan keikhlasan. Khususnya pada siswa kelas IV MI Daml Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan tahun pelajaran 2005/2006.

F. Hipotesis

Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan peneliti, sampai terbukti melalui data yang terkumpul9 Hipotesis juga diartikan dugaan sementara yang mungkin benar atau mungkin salah. Data akan ditolak jika salah atau palsu, dan akan diterima jika faktor- faktor membenarkan.

Jika kedua pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa hipotesis adalah dugaan sementara terhadap permasalahan penelitian, yang akan diuji melalui penelitian.

Dalam penelitian ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut.10 1. Hipotesis alternatif (Ha)

Ada hubungan positif antara pemahaman materi Aqidah Akhlak dengan perilaku ihsan pada siswa kelas IV MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan tahun pelajaran 2005/2006.

8 Departemen Agama RI, Pendidikan Agama Islam Buku M odul Pesantren Kilat. Jakarta : Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, 2002, him. l i

9 Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. E disi R evisi V. Jakarta ; Rincka Cipta, 2002. lilin. 64

10 Ibid., him. 66.

(15)

2. Hipotesis Nol (HO). n

Tidak ada hubungan antara pemahaman materi Aqidah Akhlak dengan perilaku ihsan pada siswa kelas IV MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan tahun pelajaran 2005/2006

G. Metodologi Penelitian

1. Populasi dan sampel penelitian a. Populasi penelitian

Populasi adalah Totalitas semua nilai yang mungkin, hasil ataupun pengukuran kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya. 11 12 Dengan kata lain populasi adalah seluruh individu atau penduduk dalam penelitian yang nantinya akan dikenai hasil penelitian. Populasi penelitian ini mencakup seluruh siswa Kelas IV MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan Tahun Pelajaran 2005/2006

b. Sampel menyeluruh

Sampel adalah sebagian dari populasi atau sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi. 13 Dalam pengambilan sampel ini peneliti menggunakan sampel menyeluruh yaitu semua siswa kelas IV MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan tahun pelajaran 2005/2006.

11 Suharsimi Arikunto.op.c/7.. him. 67

12 Sudjana. Meloda statistika. Bandung : Tarsito, 1989. him. 6.

(16)

2. Variabel penelitian

Sutrisno Hadi mendefinisikan variabel sebagai gejala yang bervariasi atau'objek penelitian yang memiliki variasi nilai/telaah yang diteliti.14 Dalam penelitian ini mengkaji dua variabel yaitu pemahaman materi Aqidah Akhlak sebagai variabel independen yang diberi simbul (X) perilaku ihsan sebagai variabel dependen yang diberi simbul (Y). 3. Definisi Operasional Variabel

Untuk menghindari berbagai interprestasi yang keliru dan untuk membatasi ruang lingkup pembahasan dalam penelitian ini perlu dijelaskan kata kunci yang terkandung dalam judul skripsi ini, yaitu: a. Materi Aqidah Akhlak

Kecenderungan siswa kelas IV MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan untuk bertindak, merespon terhadap materi Aqidah Akhlak secara positif atau negatif, dan mencakup komponen kognitif, afektif, dan psikomotorik yaitu merupakan kesediaan untuk bertindak atau berperilaku. Indikator pemahaman materi Aqidah Akhlak meliputi: 1) Ramah Kognitif

Pembelajaran yang mencontohi dan meneladani, tidak hanya Verbalistik.

2) Ramah Afektif

Peserta didik mampu bersikap sebagai seorang muslim yang berakhlak mulia.

(17)

3) Ramah Psikomotorik

Siswa dapat melaksanakan / mempraktekkan pembelajaran materi dengan membiasakan sikap dan perilaku yang baik dan ihsan sesuai dengan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari, b. Perilaku Ihsan

perilaku ihsan adalah sebagai berikut: 1) Dasar-dasar perilaku ihsan

2) Perilaku ihsan dalam keluarga 3) Perilaku ihsan dalam sekolah 4) Perilaku ihsan dalam masyarakat 4. Metode Pengumpulan Data

Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk melihat apa yang ingin dilihat, mendengar apa yang ingin didengarkan dan melakukan apa yang menjadi keinginannya.15

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut:

a. Library Research (Penelitian Kepustakaan)

Library research adalah research kepustakaan. Dalam metode ini peneliti menggunakan untuk mencari data, fakta-fakta dan teori yang dapat mendukung dalam pembahasan ini dan sekaligus sebagai landasan teorinya. Adapun yang digunakan penelitian ini adalah metode sebagai berikut:

(18)

1) Metode Induktif

Yaitu membentuk pengetahuan umum yang kemudian akan dijadikan dasar dedukasi, dijadikan premis major dari silogisme.16 Dengan kata lain pembahasan dari peristiwa atau kejadian khusus untuk digeneralisasikan secara umum.

2) Metode Deduktif

Yaitu Apa saja yang dipandang benar pada semua peristiwa dalam satu kelas atau jenis, berlaku juga sebagai hal yang benar pada semua peristiwa yang termasuk dalam kelas jenis itu.17 Dengan kata lain pembahasan peristiwa atau kejadian umum untuk digeneralisasikan secara khusus.

3) Metode Korelasi

Yaitu metode untuk menghubungkan atau metode berdasarkan hubungan yaitu dengan menghubungkan variabel satu (pemahaman Aqidah Akhlak) dengan variabel dua (perilaku ihsan),

b. Field Research (Penelitian Lapangan)

Yaitu metode untuk mendapatkan dan mengumpulkan data, informasi secara intensif disertai analisis pengajuan kembali atas semua dasar yang dikumpulkan, untuk mendapatkan data konkrit dari sebuah penelitian.

Metode yang digunakan peneliti adalah sebagai berikut: 1) Metode Observasi

Yaitu pengamatan dan pencatatan dengan sistematis terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki.18 Metode ini digunakan untuk

16 SutrisnoHadi, Metodologi Research 1. Yogyakarta : Yayasan Pendidikan Fak. Psikologi UGM. 1981. him. 47.

17 Ibid., him. 41.

(19)

memperoleh data tentang situasi umum di MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan seperti letak MI, sarana dan prasarana, serta keadaan siswa, diamati dan dicatat secara seksama dan sistematis.

2) Metode interview atau wawancara

Yaitu pengumpul data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan berlandaskan kepada tujuan penelitian.19 Metode ini digunakan untuk menggali data yang berupa sejarah, kepengurusan, organisasi pengajaran dan sarana yang dimiliki. Informasinya adalah Kepala Madrasah, pengurus dan guru MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi-Grobogan.

3) Metode Angket

Yaitu teknik pengumpul data melalui daftar pertanyaan tertulis yang disusun dan disebarkan untuk mendapatkan informasi atau keterangan dari sumber data yang berupa orang atau respondent20 Metode ini dipergunakan untuk memperoleh data tentang hubungan pemahaman materi Aqidah akhlak dengan perilaku ihsan baik di rumah, di Sekolah/Madrasah dan di Masyarakat.

4) Metode Dokumentasi

Metode ini dalam arti sempit adalah sebagai kumpulan data verbal yang berbentuk tulisan. Sedangkan dalam arti luas dokumen, sertifikat, foto, tape dan sebagainya.21

19 Ibid., him. 218.

20 Ib id , him. 176.

(20)

Metode ini dipergunakan untuk mengumpulkan data seperti jumlah siswa, buku raport dan struktur organisasi serta daftar inventaris dan brosur-brosur yang peneliti selidiki.

5. Teknik Analisis Data

Ada dua analisis yang peneliti terapkan pada penulisan ini, yaitu a. Analisis data non statistik

Yang berupa pemaparan keadaan dan fenomena-fenomena yang berkaitan dengan pemahaman materi Aqidali Akhlak dengan perilaku Ihsan siswa kelas IV MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan secara diskriptif analitis.

b. Analisis Data Statistik

1) Sebagai analisis pendahuluan yaitu untuk menganalisis pemahaman materi aqidali akhlak sebagai variabel X peneliti menggunakan rumus mean :

m Z FX

N

mx = Mean yang dicari (nilai rata-rata) variabel X FX = Frekuensi dikali variabel X

Z = Jumlah

X = Nilai individu

N = Jumlah responden atau yang diteliti F = Frekuensi

My : Mean yang dicari (nilai rata-rata) untuk variabel Y

I : Jumlah '

(21)

Y : Nilai Individu F : Frekuensi

FY : Frekuensi dikali variabel Y N : Jumlah Responden

3) Sebagai analisis lanjut untuk mengetahui hubungan pemahaman materi Aqidah Akhlak dengan perilaku ihsan atau untuk mengetahui hubungan kedua variabel terbsebut, peneliti menggunakan rum us22:

z x y J ( L x 2) ( X / )

r*y = Koefisien korelasi / hubungan antara X dan Y X = Pemahaman materi Aqidah Akhlak

Y = Perilaku Ihsan

Setelah diketahui nilai rxy maka selanjurnya dihubungkan dengan nilai-nilai r,abd product moment, baik menggunakan taraf signifikan 5 % maupun 1 % maka hipotesa dapat diterima.

H. SISTEMATIKA PENULISAN

Skripsi ini disusun lima bab, yang secara sistematis, dapat dijabarkan sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan

Pada bab pendahuluan ini berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat hasil penelitian, landasan teoritik, hipotesis, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.

(22)

Bab II Landasan Teori

Pada bab landasan teori ini, diuraikan berbagai pembahasan teori yang menjadi landasan teoritik penelitian, khususnya berkaitan dengan variabel penelitian. Yaitu teori-teori mengenai pemahaman materi Aqidah Akhlak dengan perilaku ihsan pada siswa kelas IV MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan tahun pelajaran 2005/2006.

Bab III Laporan Hasil Penelitian

Pada bab ini akan dilaporkan hasil pengumpulan data yang berkaitan dengan variabel penelitian dan hal-hal mengenai situasi umum di MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan tahun pelajaran 2005/2006, yaitu keadaan guru serta keadaan murid. Bab IV Analisis Data

Pada bab analisis data, akan dilakukan analisis terhadap data yang terkumpul, dengan pentahapan : analis pendahuluan, analis lanjut, analis uji hipotesis.

Bab V Penutup

(23)

A. Pemahaman Materi Aqidah Akhlak

1. Pengertian Pemahaman Materi Aqidah Akhlak.

Pemahaman adalah mengerti benar tentang sesuatu hal.21 Materi adalah sesuatu yang menjadi bahan (untuk diujikan, dipekirkan, dibicarakan, dikarangkan)23 24 Aqidah adalah keimanan yang teguh, yang tidak dihinggapi suatu keraguan apapun bagi pemiliknya 25 * Akhlak adalah suatu budi pekerti, kelakuan atau perbuatan yang baik. Jadi pemahaman materi aqidah akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengimami Allah SWT. Dan merealisasikan dalam perilaku ihsan dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk dalam bidang keagamaan, pendidikan ini juga diarahkan pada peneguhan aqidah disatu sisi peningkatan toleransi menghormati penganut agama dalam rangka mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa."27 Disini diharapkan penulis, siswa dapat paham benar mengenai semua materi aqidah akhlak yang telah disampaikan guru di dalam kelasnya, sejak lahir manusia telah dibekali dengan fitrah keagamaan yang harus dikembangkan melalui pendidikan yaitu dalam materi aqidah akhlak yang baik diberikan

23 Kamus Besar Baliasa Indonesia, op.cit., him. 811. " JbjsL. him.723.

‘5 Nashir lbn Abdul Karim Al'Aql, Prins.in~prinsin Aaldah, Jakarta : Gema Insani, 1992 him. 11. Kamus Besar Baliasa Indonesia, op.cit., him. 20.

27 Departemen RJ, SJandar \komptcnsi. op.cit.. him. 17 ~ 18. *

(24)

di MI maupun diluar MI. Mengenai pengenalan materi aqidah akhlak sebaiknya diberikan sedini mungkin terutama di lingkungan keluarga. 2. Dasar dan Tujuan Pemahaman Materi Aqidah Akhlak.

a. Dasar pemahaman materi aqidah akhlak.

Setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai dasar untuk landas an sebagai tempat berpijak yang kuat dan baik, agar dapat mencapai hasil yang diinginkan. Oleh karena itu materi aqidah akhlak untuk membentuk manusia yang sempurna dengan pola takwa, harus mempunyai landasan atau dasar karena semua kegiatan dan kemana semua tujuan pemahaman materi aqidah akhlak itu diarahkan. Dasar materi aqidah akhlak yang dimasksud tidak lain adalah nilai-nilai tertinggi yang dijadikan pandangan hidup (way o f life).

b. Tujuan pemahaman materi aqidah akhlak.

Berbicara tentang tujuan pemahaman aqidah akhlak tidak dapat meninggalkan tentang tujuan hidup, karena aqidah akhlak merupakan bagian yang terpenting dalam kehidupan.

Tujuan dapat mengarahkan kemana suatu proses itu hendak dibawa, disamping itu juga dapat memberikan motivasi terhadap suatu proses. Sedangkan yang dimaksud dengan tujuan pemahaman materi aqidah akhlak adalah perubahan yang diinginkan setelah sesuai dengan konsep dan nilai yang terkandung dalam materi aqidah akhlak. 3. Prinsip-prinsip Aqidah Akhlak

(25)

a. Sumber aqidali adalah kitab Allah (Al-Qur’an), sunah Rasulullah SAW. Yang shahih dan ijma’ para salaf yang sholeh.28

b. Prinsip dalam asma dan sifat Allah adalah menetapkan apa yang ditetapkan Allah untuk dirinya atau yang ditetapkan oldi Rasulluiah SAW tanpa tamtsil (mempersamakan atau menyerupakan Allah dengan makhluk dalam asma atau sifatNya) dan cak vif (mempertanyakan bagaimana sifat Allah, atau menentukan bahwa sifat Allah itu hakikatnya begini) Juga menolak apa yang ditolak Allah terhadap tahrif (mengubah lafaz atau menyelewengkan maknanya ) dengan tanpa ta’thil (mengingkari seluruh atau sebagaian sifat Illahi).29 30 c. Prinsip-prinsip utama dalam agama (ushuludin) semua telah dijelaskan oleh Nabi SAW. Siapapun tidak berhak mengadakan sesuatu yang bani, yang tidak ada sebelumnya, apalagi sampai mengatakan hal tersebut termasuk bagian dari agama.J<)

d. Berserah diri dan patuh hanya kepada Allah dan RasulNya lahir dan batin.

e. Dalil aqli yang benar akan sesuai dengan dalil nakli harus didahulukan. f. Kaum muslimin wajib senantiasa mengikuti manhaj (metode)

Al-Quran dan sunnah dalam menyampaikan sanggahan dalam aqidah dan dalam menjelasakan suatu masalah.

4. Metode Pengajaran atau Pendidikan Materi Aqidali Akhlak.

2g Nashir Ibn Abdul Karim. Al’Aql. oy.cil., him. 13. 29 Ibid, him. 14.

(26)

Didalam menyampaikan materi aqidah akhlak kepada siswa guru dituntut kemampuan dan penguasaan bahan materi, guru juga mampu memilih metode yang tepat dan efektif, sehingga pengajaran dapat menarik minat dan membawa siswa untuk lebih mengerti dan memahami materi yang disampaikan. Adapun metode-metode yang digunakan adalah sebagai berikut:

a. Metode Ceramah

Adalah suatu cara untuk menyampaikan materi Aqidah Akhlak kepada anak didik dengan jalan penuturan secara lisan.

b. Metode Tanya Jawab

Adalah suatu metode pendidikan dan pengajaran dimana guru bertanya, sedangkan siswa menjawab tentang materi Aqidah Akhlak yang akan diperoleh siswa.

c. Metode risitasi (pemberian tugas)

Adalah metode dimana siswa diberi tugas khusus diluar jam pelajaran atau pemberian tugas dirumah.

d. Metode Dokumentasi

Adalah suatu metode mengajar dimana seorang guru atau orang lain yang sengaja diminta atau siswa sendiri memperlihatkan seluruh kelas tentang suatu proses atau sesuatu kaifiah melakukan sesuatu.

e. Metode Diskusi

Adalah suatu metode penyampaian materi Aqidah Akhlak dengan mendiskusikan yang sifatnya untuk dipecahkan bersama.

(27)

f. Metode Drill / latihan ulang.

Adalah suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dengan jalan melatih siswa mengingat materi Aqidah Akhlak yang sudah diberikan digunakan untuk melatih ketrampilan siswa dalam mengerjakan sesuatu dan melatih siswa untuk berpikir cepat serta memperkuat daya tangkap siswa terhadap materi Aqidah Akhlak.

5. Sistem Evaluasi yang Dipakai atau Tes Hasil Belajar

Kualitas suatu tes hasil belajar banyak tergantung proses pengembangan tes itu sendiri, suatu tes berkualitas harus memenuhi syarat-syarat tertentu, antara lain sebagai berikut:

a. Shahih (valid) yaitu mengukur yang harus diukur, sesuai dengan tujuan.

b. Relevan, dalam arti yang diuji sesuai dengan tujuan yang diinginkan. c. Spesifik, soal yang hanya dapat dijawab oleh siswa yang betul-betul

belajar dengan rajin.

d. Tidak mengandung ketaksaan (tafsiran ganda). Harus ada patokan tugas ditulis konkret. Apa yang harus diminta, hams dijawab berapa lengkap.

e. Representatif, soal mewakili materi ajar secara keseluruhan .

f. Seimbang, dalam arti pokok-pokok yang penting diwakili dan yang penting diwakili dan yang tidak penting tidak selalu perlu.* 31

--- \.

(28)

B. Perilaku Ihsan

1. Pengertian Perilaku Ihsan

Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan lingkungan.32 Ihsan adalah sesuatu untuk berbuat kebaikan.33 Jadi perilaku ihsan disini yang dimaksud adalah suatu tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan lingkungan untuk berbuat baik khususnya siswa kelas IV MI DaruI Mubtadin Putat Purwodadi Grobogan tahun Pelajaran 2005/2006.

2. Dasar-Dasar Perilaku Ihsan

Orang tua merupakan perantara adanya manusia didunia, sehingga besar sekali orang tua terhadap kita dan seharusnyalah kita berbuat baik kepadanya dan lemah lembut kepadanya. Islam memiliki konsepsi manusia dan alam semesta yang jelas dan wajib diimani oleh manusia. Konsep-konsep atau dasar-dasar perilaku ihsan itu adalah :

a. Islam memiliki kejelasan pikiran yang menjadi landasan hidup seorang muslim. Artinya seorang muslim menganut pikiran tersebut, mempercayainya, mengikuti peringatannya dan menyerukan secara hati-hati.

b. Islam memiliki kelogisan aqidah dan kesesuaiannya dengan fitrah, akal, dan jiwa manusiawi.

c. Islam memiliki objek keyakinan yang jelas karena disajikan secara memuaskan lewat Al-Qur’an yang perenungan dan kekuasaan manusia

12 Kamus Bahasa Indonesia, op.cit., him. 859.

(29)

pada pengetahuan tentang kekuasaan Allah sesuai dengan tabiat psikologis dan fitrah keagamaan manusia.34

d. Penyajian ayat-ayat Allah tentang semesta, seperti yang dikatakan Sayyid Quthub, dimaksudkan : “agar umat manusia kembali kepada Allah, kepada Manhaj-Nya yang diperuntukan bagi manusia, dan kepada ketinggian dan kemuliaan hidup yang sejalan dengan kemuliaan yang ditetapkan Allah bagi manusia dalam suatu periode sejarah jika gambaran tersebut menjadi sebuah kenyataan, hal itu akan tergambar pada suatu umat yang akan memimpin umat manusia lainnya menuju kebaikan, kemaslahatan dan perkembangan/5

3. Perilaku Ihsan di Rumah, Sekolah dan Masyarakat.

Didalam hidup bermasyarakat, terutama yang anggotanya hitrogen, berbuat baik adalah hal yang sangat utama agar kelangsungan hidup masyarakat tersebut berjalan dengan tertib dan aman. Seorang yang senantiasa berbuat baik dimanapun berada, maka ia akan disenangi dan dihormati lingkungan masyarakatnya sebaliknya bila selalu berbuat keributan dan kerusuhan pastilah orang itu akan terkucil dari anggota masyarakatnya.

Dalam penulisan skripsi ini peneliti akan membahas beberapa perilaku ihsan adalah sebagai berikut:

a. Perilaku ihsan di lingkungan keluarga.

* Abdurrahman, Pendidikan Islam di Rum ah Sekolah dan Masyarakat. Jakarta : Gema

Insani, 1995, him. 35. '

(30)

Pada dasarnya masjid itu menerima anak-anak selelah mereka dibesarkan dalam lingkungan keluarga, dalam asuhan orangtuanya. Dengan demikian, rumah keluarga muslim adalah benteng utamanya tempat anak-anak dibesarkan melalui pendidikan islam. Yang dimaksud dengan keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan aktivitasnya pada pembentukan keluarga yang sesuai dengan syariat islam. Berdasarkan Al-qufan dan As-Sunnah, kita dapat menyatakan bahwa tujuan terpenting dari pembentukan keluarga adalah hal-hal berikut x

Pertama : mendirikan syariat Allah dalam segala permasalahan rumah tangga. Artinya, tujuan berkeluarga adalah mendirikan rumah tangga islam yang mendasarkan kehidupannya pada perwujudan penghambaan kepada Allah.

Kedua : Mewujudkan ketentraman dan ketenangan psikologis. Ketiga : Mewujudkan sunnah Rasulullah SAW. dengan melahirkan

anak-anak saleh.36 37

Keempat: Memenuhi kebutuhan cinta kasih anak-anak naluri menyayangi anak merupakan potensi yang diciptakan bersamaan dengan penciptaan manusia dan binatang.38 Beberapa perilaku ihsan dalam lingkungan keluarga adalah sebagai berikut:

Y

36 Abdurrahman, on. cit.. him. 139.

(31)

1) . Berbakti kepada Allah yakni berbuat sesuatu yang bermanfaat baik bagi diri sendiri, sesama manusia maupun bagi makhluk lainnya. Semua perbuatan itu dilakukan semata-mata karena Allah, seolah-olah orang yang melakukan perbuatan itu berhadapan dengan Allah. 39

2) . Mematuhi nasehat orang tua, dimanapun kita berada, nasehat orang tua hams kita patuhi dan kita laksanakan 40 Misalnya : melaksanakan yang diperintahkannya dan menjauhi yang menjadi larangan-Nya.

Hak dan kewajiban anak terhadap kedua orang tua. Ada orang tua yang berpesan pada anaknya :’’Wahai anaku sayang, ketika engkau merasa berat dalam berbakti pada ayah ibumu, maka sesungguhnya kewajiban kedua orang tuamu terhadap dirimu lebih berat dari itu semua, yang kewajiban itu akan dilipat gandakan atas dirimu”41 Taatilah perintah ayali ibumu, jangan sekali-kali membantahnya, kecuali bila mereka memerintahmu untuk ingkar pada Robbmu. “ Tidakada taat kepada makhluk (sekalipun orang tua sendiri) di dalam melakukan maksiat (dosa) kepada khalik (Allah).”

Berbuat baik kepada adik dan kakak, misalnya : Tidak saling mengganggu kepada adik atau kakaknya, jika adik atau kakaknya mendapat kesulitan maka siap untuk membantu atau menolongnya, b. Perilaku Ihsan di lingkungan sekolah

39 Departemen Agama RI. Pendidikan Agama Islam Buku M odul Pesantren Kilat, op. cit., him. 12.

40 Ibid., him. 46.

(32)

Dalam perkembangannya, seolah-olah baru dapat didirikan seperti sekarang setelah melampaui periode yang cukup panjang. Pengetahuan awal seorang anak bermula dari orang tua dan masyarakat yang secara tidak langsung memberikan berbagai pengetahuan dasar, walaupun tidak sistematis, pengetahuan itu diperoleh anak melalui berbagai cara, diantaranya melalui peniruan, pengulangan, atau pembiasan. Namun, peran agama tetap utama dan istimewa karena bagaimanapun segala penyerapan pengetahuan pada diri anak harus tetap berpedoman pada konsep pendidikan yang bertujuan menghambakan diri kepada Allah dan memiliki materi atau perilaku ihsan yang membawa manusia pada penyerahan diri terhadap syariat Allah yang diturunkan pada Rasul-Nya serta dipelihara dan diamalkan oleh generasi sesudahnya.12

Dalam konsepsi Islam, fungsi utama sekolah atau madrasah adalah sebagai media realisasi pendidikan berdasarkan tujuan pemikiran, aqidah, dan syariat demi terwujudnya penghambaan diri kepada Allah serta sikap mengesakan Allah dan mengembangkan segala bakat atau potensi manusia sesuai fitrahnya sehingga manusia terhindar dari berbagai penyimpangan.'13

Jika sekolah / madrasah dijadikan media untuk mendidik generasi muda, kita dituntut untuk memahami pertumbuhan fungsi dan metode yang dapat meninggikan kualitas dan manfaat media 42 43

42 Abdurrahman an Nahlnwi. op.cit., him. 146. 43 Abdurrahman An Anhlawi. op.cU., him. 152.

(33)

Pendidikan tersebut melalui konsep-konsep pendidikan Islam. Karenanya, konsep pendidikan lebih dititik beratkan pada fungsi sekolah menginduk pada fungsi fundamental Islam. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam melingkupi tujuan pendidikan kontemporer serta mengarahkan pendidikan kontemporer itu kearah ideal sehingga melahirkan insan-insan berkualitas tinggi, baik dalam kehidupan individualnya maupun dalam kehidupan sosialnya. Fungsi-fungsi fundamental pendidikan Islam melalui sekolah / madrasah meliputi hal-hal berikut ini.

Pertama: Fungsi penyederhanaan dan penyimpulan. Pada dasarnya, kebobrokan peradaban, dekandensi moral, tersebarnya materialisme, dan berlomba-lombanya manusia dalam mencari keuntungan yang sejalan dengan lajunya arus komunikasi dan migrasi penduduk merupakan kondisi yang hams diwaspadai.

K edua: Fungsi penyulitan dan pembersihan. Ilmu pengetahuan dan konsep aqidah berpindah dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Akibat berpindah-pindah itu, maka wajarlah jika sejalan dengan perkembangan umat manusia, sedikit demi sedikit, pengetahuan dan konsep aqidah itu bergeser dari yang semestinya44

Ketiga : Memperluas wawasan dan pengalaman anak didik memiliki transfer tradisi. Lembaga pendidikan tidak cukup hanya

--- L

(34)

mengembangkan melalui peniruan atau pemaksanaan alas kondisi tersebut.45

Keempat: Fungsi mewujudkan keterikatan, integrasi, homogenitas dan keharmonisan antar siswa. Sekolah / Madrasah pendidikan didatangi ratusan siswa yang berasal dari lingkungan yang bervariasi, baik itu dalam kekayaannya, kemuliaannya, status sosialnya dan lain-lain.46

Kelima: Fungsi penataan dan validasi sarana pendidikan. Pendidikan yang baik melibatkan berbagai faktor yang satu sama yang lain saling menunjang, yaitu faktor keluarga,. Masyarakat, masjid, sarana informasi atau lingkungan sekitar.

Keenam: Penyempurna tugas keluarga dalam pendidikan. Pada dasarnya keberadaan sekolah / madrasah bukanlah sentral pendidikan karena pendidikan awal anak berpusat dimmah, yaitu dalam perawatan dan pembinaan orang tua baik dalam pengenalan dasar-dasar linguistik, serta konsep-konsep sosial atau interaksi dengan lingkungan dan kondisi

* kehidupan47

Didalam sekolah atau madrasah ada beberapa guru atau seorang pendidik yang memiliki beberapa tugas, Al-Qur’an telah mengisyaratkan peran dai dan pengikutnya dalam pendidikan dan

4- Ibid., him. 155.

46 Ibid., him. 159. ^

(35)

fungsi fundamental mereka dalam pengkajian ilmu-ilmu Ilahi serta aplikasinya. Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung mengisyaratkan bahwa tugas terpenting yang diemban oleh Rasulullah SAW adalah mengajarkan Al Kitab, hikmah dan penyucian diri.

Keutamaan profesi guru sangatlah besar sehingga Allah menjadikannya sebagai tugas yang diemban Rasulullah SAW.

Sifat dan syarat seorang pendidik. Agar seorang pendidik dapat menyalahkan fungsi sebagaimana yang telah dibebankan Allah kepada Rasul dan pengikutnya, maka dia harus memiliki sifat-sifat berikut in i: Pertama Setiap pendidik harus memiliki sifat Rabbani

Kedua Seorang guru hendaknya menyempurnakan sifat Rabbaniahnya dengan keikhlasan. Artinya aktifitas sebagai pendidik bukan semata-mata untuk menambah wawasan keilmuannya lebih jauh dari itu harus ditujukan untuk meraih keridhaan Allah serta mewujudkan kebenaran.

Ketiga : Seorang pendidik hendaknya mengajarkan ilmunya dengan sabar.

Keempat : Ketika menyampaikan ilmunya kepada anak didik, seorang pendidik harus memiliki kejujuran dengan menerapkan apa yang dia ajarkan dalam kehidupan pribadinya.

(36)

Kelima

Keenam

Ketujuh

Kedelapan :

Seorang guru senantiasa meningkatkan wawasan, pengetahuan dan kajiannya, sebagaimana diserukan

Allah kepada para pengikut rasul ini.

Seorang pendidik harus cerdik dan terampil dalam menciptakan metode pengajaran yang variatif serta sesuai dengan situasi dan materi pelajaran khususnya Aqidah Akhlak. Artinya, kepemilikan ilmu saja tampaknya belum memadai peran seorang guru karena bagaimanapun dia dituntut untuk mampu menyampaikan pengetahuannya kepada anak didik sesuai dengan kemampuan dan kapasitas akal anak didik.

Seorang guru dituntut dan untuk memahami psikologi anak, Psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan sehingga ketika anak didiknya sesuai kadar intelektual kesiapan psikologisnya.

Seorang guru dituntut untuk peka terhadap fenomena kehidupan sehingga dia mampu memahami berbagai kecenderungan dunia beserta dampak dan akibatnya terhadap anak didik, terutama dampak terhadap aqidah dan pola pikir mereka.

(37)

Kesembilan : Seorang guru dituntut memiliki sikap adil terhadap seluruh anak didiknya. Artinya, dia berpihak atau mengutamakan kelompok tertentu. 48

Beberapa cara pendidik muslim berdakwah dan menuntun anak didiknya ke jalan Allah.

1) . Pahala yang berlimpah dari Allah SWT.

Semangat seorang pendidik untuk berdakwah kepada anak didik akan bertambah jika seorang pendidik benar-benar memperhatikan anak didik sehingga seorang pendidik memperoleh hidayah dari Allah SWT untuk menjadi muslim sejati.

Sesungguhnya hal itu lebih baik daripada dunia berserta isinya ini. Begitu pula halnya bila seorang pendidik benar-benar memberi kabar gembira kepada anak didik untuk selalu berbuat baik atau berperilaku ihsan. Maka niscaya seorang pendidik akan memperoleh pahala (dengan seijin Allah tentunya) dari perbuatan seorang pendidik terhadap anak didik 49

2) . Setiap pendidik bertanggungjawab terhadap anak didiknya.50 3) . Anak didik anda hari ini adalah pemimpin di masa depan.

Sesungguhnya para anak didik anda hari ini adalah memegang kendali segala permasalahan. Merekalah - yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinannya dimasa depan nanti. Merekalah kelak yang akan menggerakkan lajunya perahu

4R Abdurrahman An Nahlawi. on. cit.,him. 175.

49 DR. Abu Bakar Ahmad As Sayyid, Kepada Para Pendidik Muslim. Jakarta : Gema

Insani, 1V92, him. 10. \

(38)

masyarakal, dan mereka pulalah yang mengatur segala urusan- urusan negara nanti.51 *

4) . Suburnya lahan medan dakwah di lingkungan siswa.

Sesungguhnya ruang lingkup dan medan pengajaran merupakan lahan yang paling subur untuk berdakwah sebab para guru senantiasa berhubungan secara kontinue dengan siswanya dalam waktu yang relatif lama dan panjang.

Oleh karenanya bila para guru itu beriman kepada Allah, selalu konsisten dan konsekuen, merasa bangga dengan keislamannya, merasa berkewajiban menunaikan dakwah, maka dengan mudah ia akan dapat mempengaruhi para anak didiknya dengan sinar keimanan yang dibawa dan diembannya. Ia akan dapat mempengaruhi mereka dengan kalimat Thoyibbah, akhlak yang mulia dan terpuji atau perilaku ihsan.32 Sebagaimana berubahnya benih jika ada yang merawatnya sampai berbunga dan berbuah.

5) . Pendidikan dan pengajaran adalah medan dakwah.

Para pendidik muslim, jihad anda dalam lingkup pengajaran dan pendidikan tidak kurang pentingnya dari jihad dengan meriam, senapan dan peluru kendali. Jihad anda dalam medan pengajaran dan pendidikan adalah untuk mendidik pemudi yang muslimah, mukminah yang komitmen, konsisten dan

Ibid., him. J3.

(39)

konsekuen terhadap Islam, terhadap perintah-perintah Robbnya, terhadap ajaran-ajaran nabi dan rasul-Nya ini akan membawa dampak yang sangat besar dalam kemajuan umat Islam.53

6) . Memerangi Kemaksiatan.

Dewasa ini pintu-pintu dunia semakin terbuka lebar sehingga kemaksiatan dan kerusakan semakin tersebar luas dan muncul dari balik jendela yang beraneka ragam, sehingga kita sulit untuk menghalanginya. Berbagai aliran yang menyesatkanpun semakin giat menyebarkan kebatilan dengan gaya dan corak yang berbeda.54

Sarana-sarana dakwah dalam menyeru anak didik kepada jalan Allah SWT.

7) . Setiap pendidik muslim harus memiliki sikap dan kepribadian yang Islami.

Yang bisa diharapkan dan diinginkan dari seorang pendidik muslim minimal adalah penampilannya yang islami, yang menunjukkan sikap yang sesuai dengan syariat islami.55 8) . Penyatuan antara Islam dan kurikulum.

Memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk memperkuat dan memperkokoh Aqidali kepada Allah. Dari segi mata pelajaran hendaknya para pendidik menyatukan atau menggabungkan (baik secara formal maupun informal) kurikulum dan dasar keislaman

53 Ibid., him. 15

54 Abu Bakar Ahmad As Sayyid. on- cit., him. 16-17.

(40)

(Al-qur’an dan hadisi), sebab pengajaran dan pendidikan adalah sarana pentingnya dalam memantapkan dan mengokohkan aqidah. Selain itu pengajaran juga merupakan sarana yang penting untuk memakmurkan alam raya ini serta untuk beribadah kepada Allah. Jadi tujuan pengajaran Islam bukan hanya untuk memperoleh ijazah apalagi sampai dibangga-banggakan dengan sombongnya didepan umum.56

9) . Sungguh-sungguh dalam mengajar dan bermuamalah.

Seorang pendidik muslim hendaklah mengajar dengan baik dan benar. Ia wajib ikhlas dalam menyiapkan pelajaran- pelajaran dan menjelaskannya serta menyampaikan maklumat kepada anak didiknya.

Pendidik Muslim hendaklah memperlakukan mereka dengan baik seperti terhadap saudara atau anaknya sendiri, dan hendaklah senantiasa mengasihi mereka. 57

10) . Amar Ma’rufNahi Munkar.

Mengajak pada kebaikan dalam mengajar sangat dianjurkan (bahkan wajib dan ditekankan. Hal ini karena aspek mengajar adalah tugas utama dan mulia. Oleh karena itu seorang pendidik muslim akan menjadikan Islam sebagai agamanya dan iman adalah manhaj prinsip dan pola hidupnya.58

11) . Memberikan motivasi dengan anjuran-anjuran yang Islami.

56 Ihid.. hlm.40.

(41)

Para pendidik muslim hendaknya memberikan imbalan kepada siswa yang bersungguh-sungguh dan berprestasi dengan berbagai hadiah dan pemberian yang islami, yang dapat bermanfaat bagi mereka dengan seijin Allah (manfaat dunia-akhirat).59

12) . Kegiatan yang beraneka ragam

Arahkan kegiatan para anak didik anda pada kegiatan yang Islami. Pimpinlah kegiatan para siswa itu dan tunaikanlah dengan baik serta arahkanlah mereka pada ajaran Islam.60

13) . Hak dan Kewajiban terhadap teman

Seorang pelajar atau siswa yang menuntut ilmu itu adalah yang memiliki banyak teman. Mereka adalah saudara dan temanmu dalam pergaulan. Karena itu jangan engkau menyakiti hati atau berlaku buruk terhadap mereka.61

Bila engkau duduk janganlah engkau persempit tempat bagi temanmu, lapangkanlah tempat sehingga temanmu dapat duduk dengan leluasa. Sesungguhnya menyempitkan tempat duduk (tidak memberi kesempatan untuk duduk) pada orang lain itu termasuk perbuatan yang menyesalkan dan menyakitkan hati, sehingga membuat tidak enak diliati serta memunculkan banyak keburukan.62

” Ibid., him. 41.—

(42)

Hindarilah olehmu kata-kata yang menyinggung dan menghina temanmu, atau menunjukkan wajah sinis karena kurang berkenan atas pertanyaan temanmu itu.63

Jangan engkau persempit jalan menuntut ilmu bagi teman-temanmu ketika mereka bertanya pada guru tentang masalah yang benar-benar belum diketahui. Bila engkau menghendaki suatu manfaat, temanilah mereka dalam menyimak penjelasan guru (sekalipun engkau telah paham dan mengerti).

Jika engkau tinggal bersama beberapa temanmu dalam satu asrama, jaga dirimu jangan sampai meresahkan mereka. Bila waktu istirahat tiba jangan engkau mengganggu mereka dengan suaramu yang keras dalam membaca atau menghafal pelajaranmu. Belajarlah dengan sopan di asrama.64

Bila temanmu membutuhkan pertolonganmu, janganlah engkau merasa berat untuk menolongnya. Jauhkan sikap membanggakan dirimu, bahwa engkau lebih memiliki keutamaan dari temanmu.65

c. Perilaku Ihsan di lingkungan Masyarakat

Tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan anak-anak menjelma dalam beberapa perkara dan cara yang dipandang merupakan metode pendidikan masyarakat yang utama. Cara yang terpenting adalah :

63 Ibid., him. 22

(43)

Pertama : Allah menjadikan masyarakat sebagai penyunih kebaikan dan pelarang kemunkaran 66

Kedua : Dalam masyarakat Islam, seluruh anak-anak dianggap anak sendiri atau anak saudaranya.

Ketiga : Untuk menghadapi orang-orang yang membiasakan dirinya berbuat buruk. Islam membina mereka mealui salah satu cara membina dan mendidik manusia, yaitu kekerasan atau kemarahan. Rosulullah SAW sendiri telah menjadikan masyarakat sebagai sarana membina seseorang.

Keempat : Masyarakat pun dapat melakukan pembinaan melalui pengisolasian, pemboikotan atau pemutusan hubungan kemasyarakatan. Atas izin Allah, Rosulullah SAW menjadikan masyarakat sebagai sarana membina umat Islam yang tidak mau terlibat dalam peperangan.

Kelima : Pendidikan kemasyarakatan dapat juga dilakukan melalui kerja sama yang utuh karena bagaimanapun, masyarakat Muslim adalah masyarakat yang padu/’ Keenam : Pendidikan kemasyarakatan bertumpu pada iandasan

afeksi masyarakat, khususnya rasa saling mencintai. Dalam diri generasi m uda perasaan cinta tumbuh

(44)

seiring dengan kasih sayang yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya sehingga mereka memiliki kesiapan untuk mencintai orang lain 68

Ketujuh : Pendidikan masyarakat harus mampu mengajak generasi muda untuk memilih teman dengan baik dan berdasarkan ketakwaan kepada Allah. 69

Beberapa macam perilaku Ihsan di lingkungan masyarakat adalah : 1) . Al Amanah : Jujur, dapat dipercaya

Sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang , baik harta atau ilmu dan lainnya yang wajib dipelihara atau disampaikan kepada yang berhak menerimanya.70

2) . Al Aliefah : disenangi.

Hidup dalam masyarakat yang heterogen memang tiada mudah, sebab anggota-anggota masyarakat terdiri dari bermacam- macam sifat, watak, kebiasaan dan kegemaran yang satu berbeda dengan orang lain. 71

3) . Al ‘Afwu : Pemaaf

Manusia tiada sunyi dari khilaf dan salah. Maka apabila orang berbuat sesuatu terhadap dirimu yang mungkin karena khilaf atau salah, maka patutlah engkau pakai sikap lemah lembut sebagai

Ibid., him. 18J.

69 Abdurrahman An Nahlawi. o p. cit.. him. 185.

(45)

rahmat Allah SWT.72 4) . An i sail: Manis Muka

Menghadapi sikap orang yang menjemukan engkau, mendengar berita fitnah yang memburukkan nama baikmu, sambutlah semuanya itu dengan manis muka, dengan senyum kata orang.

5) . Al Kliairu : Kebaikan, baik

Betapa banyaknya ayat Al-qur’an yang menyebutkan apa yang dinamakan “baik”. 73 74

6) . Al Khusyuu’ : tekun sambil menundukkan diri

Khusyuu’ adalah dalam perkataan, maksudnya kepada Allah Robbul ‘alam i n dengan tekun sambil menundukkan diri, terbitnya khusyuu’ dari dalam hati.71

7) . Ad Dhiyaafah : Menghormati tamu

Menghormati tamu adalah salah satu ciri orang yang benar- benar beriman kepada Allah SWT. Termasuk dalam arti menghormati tamu ialah menyediakan makan minum dan tempat tidurnya jika ia bermalam di rumah kita selama tiga hari tiga malam.

8) . Al Khufraan : Suka memberi maaf. 9) . Al Hayya-u : Malu kalau diri tercela

72 Ibid., him. 72.

(46)

Perasaan malu dalam liati dikala akan melanggar larangan agama, malu kepada Tuhan bahwa jika ia mengerjakan pekerjaan akan mendapat siksa yang pedih 75

10) . Al Hilmu : Menahan diri dari berlaku maksiat

Kelambatan melekatnya pengertian dalam kalbu atau ilmu pengetahuan hanya sekedar ilmu pengetahuan saja dan tidak segera menggerakkan amal, ini disebabkan perbuatan maksiat yang dikerjakan, karena maksiat adalah penghalang segala kebaikan.76 11) . Al Hukmu Bil ‘A d li: Menghukum secara adil

Adil dalam setiap, artinya memberikan hak kepada yang mempunyai adil terhadap sesama manusia dalam perkataan atau perbuatan.77

12) . Al lkhaa-u : Menganggap bersaudara

Setiap mukmin adalah bersaudara, karena itu perbaikilah hubungan antara saudaramu itu , demikian tegas Al qur’an menyatakan.78

13) . Al Tfaafah : Memelihara kesucian diri

Menjaga diri dari tuduhan (tuhmah) juga menjaga diri dari berbuat dosa atau dari fitnah, jelasnya menjaga kehormatan, hendaklah dilakukan ditiap waktu, jangan menurutkan panggilan

T i 76 77 7»

Ibid., him. 75

Departemen Agama, Modul Pesantren Kilat, np. cit.. him. 75.

Ibid., him. 76. »

(47)

nafsu atau himbauan syahwat, karena manusia menguasai nafsu, sedangkan hewan dikuasai nafsu.79 80

14) . Al Muruah : Berbudi tinggi

Sifat muruah artinya berbudi tinggi, ksatria dalam membela yang benar, malu dan tidak puas bila maksud belum tercapai, ‘azam belum berhasil, padahal pekerjaan dan tujuan itu benar dan mulia sebagai suatu kewajiban dari Allah SWT.

15) . An Nadhaafah : bersih

Membersihkan badan, pakaian, tempat tinggal adalah suruhan agama, maka seyogianyalah manusia membersihkan badannya dengan mandi, menggunting rambut dan memotong kuku, membersihkan mulut, hidung, telinga dan anggota yang lain.81

16) .Rohmah : Belas kasih

Manusia hendaknya mempunyai belas kasih terhadap yang lemah, yang fakir dan miskin, yang muda menghormati yang tua, pendek kata yang lebih menyayangi, menghormati, membantu yang kurang.82

17) . As Sakhaa-u : Pemurah

79 Ibid., him. 80.

80 Departemen Agama RI Modul Pesantren Kilat. op.cit. him. 81.

81 Ibid., him. 81 \

(48)

Pemurah ialah memberikan harta sebagai tambahan dari yang wajib dan ini adalah sifat yang baik, perangai terpuji.83

18) . Ash-Shidqatu : Benar, jujui

Benar atau jujur adalah alat mencapai keselamatan, n,

keberuntungan, kebahagiaan. 19) . Asy Syaja’ah : Berani

Yang dinamakan berani adalah keteguhan hati dalam membela dan mempertahankan yang benar, tidak mundur karena dicela, tidak maju karena dipuji, jika salah ia terus terang dan tiada

oc

malu mengakui kesalahannya.

20) . At Ta’awun : bertolong - tolongan

Bertolong - tolongan adalah ciri kehalusan budi, kesucian jiwa ketinggian akhlak dan membuahkan cinta antara teman, penuh

solidaritas dan penguat persahabatan dan persaudaraan.80 * * 21) . At Tadharru: Merendahkan diri kepada Allah SWT.

Beribadat, berdo’a atau bermohon kepada Allah SWT. Hendaklah dengan merendahkan diri kepada-Nya dan dengan sepenuh hati, mengucapkan tasbih, takbir, tahmid, tahlil memuja asma Tuhan, lebih-lebih lagi tadharru dikala sujud.87

22) . At Tawaadhu’ : Merendahkan diri terhadap sesama manusia

” Ibid., him 8.1.

84 Departemen Agama RI Modul Pesantren Kilat, on. cit., him. 83.

,5 Ibid., him. 84. ,

(49)

Tawadhu’ lawannya takabur adalah memelihara pergaulan dan hubungan dengan sesama manusia tanpa perasaan kelebihan diri dari orang lain serta tidak merendahkan orang lain, maksudnya memberikan setiap hak pada yang mempunyai, tidak meninggikan diri dan derajat yang sewajarnya, tidak menurunkan pandangan terhadap orang lain dari tingkatnya, dimana tawaadhu’ menyebabkan diri memperoleh ketinggian dan kemuliaan.88

23) . Qona’ah : Merasa cukup dengan apa yang adanya

Yang dikatakan kaya adalah karya jiwa, bukanlah kaya harta dan yang dikatakan qona’ah itu qona’ah hati, bukan qona’ah ikhtiar, jadi berusaha dengan cukup, bekerja dengan giat, sebab hidup berarti bekerja, jangan sekali-kali ragu menghadapi hidup.89 24) . “ Izzalun N afsi: Berjiwa kuat

Dengan jiwa yang kuat manusia akan memperoleh kehormatan dan kemuliaan didunia dan diakhirat, karena ia bekerja dengan mengenal kapasitas dirinya dan orang yang mengenal kapasitas dirinya dilimpah rahmat Allah SWT.90

Dalam hidup bermasyarakat kita harus mempunyai adab dalam berbicara yaitu :

25). Selalu mengarah pada hal-hal yang baik.91 Berdasarkan sabda Rasulullah SAW :

! ’ °

1 1

r ! [ . ' V , , AZ . . -f - t > ' / c ? ' ( J S L iia

y 1

£

)

J

Ali

I U

IS

88 Departemen Agama, Modul Pesantren Kilat, o p. cit., him. 87. 89 ibid., him. 87.

90 Ibid^ him. 88.

(50)

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (Muttafaq alaih).

26) . Menjauhkan diri dari pembicaraan yang bercampur dengan kebatilan.92

27) . Jauhi hal-hal yang mendatangkan pertengkaran dan perkelahian walaupun dalam kondisi benar.

28) . Tidak berlebih-lebihan dalam berbicara. 93

29) . Diam tatkala ada orang sedang berbicara dan tidak memotong pembicaraannya. Tidak main-main dan juga tidak memalingkan pandangan darinya.

30) . Waspada, gliibah, karena banyaknya madharal yang timbul darinya. 94

31) . Menjauhkan diri dari sifat namimah yaitu menyebarkan perkataan d i an tara manusia dengan tujuan merusak.95

t ' / 5 " s Z ° o ?

b

^ J J ) f

^ A lzJ i (Jjx.

A

j V

“Tidak akan masuk surga para penyebar fitnah (HR.Muslim)

Selain adab berbicara dalam masyarakat juga ada adab berkunjung antara lain adalah sebagai berikut:

92 Mulwmmad Ahmad Abbud. on. rit., him. 19. 93 Ibid., him. 20 .

94 Ibid., him. 21. i

Ibid., him. 22.

(51)

1) . Mengunjungi seorang dengan niat yang baik.96

2) . Mengatur waktu yang sesuai untuk berkunjung jangan merepotkan

orang yang dikunjungi.

3) . Menjaga adab-adab memasuki rumah

4) . Menggunakan waktu-waktu berkunjung untuk hal-hal yang

bermanfaat.97

Selain adab berbicara dan adab berkunjung juga ada adab salam secara

umum antara lain sebagai berikut :98

1) . Orang yang berjalan menyampaikan salam pada orang yang duduk.

2) . Orang yang mau masuk menyampaikan salam kepada orang yang

ada didalam rumah.

3) . Tidak boleh memulai salam kepada orang-orang kafir.

4 ) . Tidak m enyam paikan salam kepada pelaku dosa besar kecuali jik a

hal itu dimaksudkan untuk memberi petunjuk kepada mereka atau

menghindarkan mereka dari kemungkaran.

5) . Orang yang berkendaraan menyampaikan salam kepada orang yang

berjalan kaki.

6) . Orang yang sedikit jumlah menyampaikan salam kepada orang

yang banyak jum lahnya.

96 Ibid., him. 23 .

07 r

(52)

7) . Mengucapkan salam sebaikmana yang disyare’atkan.

8) . Anak kecil menyampaikan salam kepada yang lebih besar.

9) . Laki-laki menyampaikan salam kepada laki-laki.

10) .Wanita menyampaikan salam kepada wanita.

11 ).Hendaknya menjawab salam orang-orang kafir dengan lafadz “wa’alaika” saja.

Sesuatu yang termahal yang dimiliki manusia. Agar kita menjaga nilai manusiawi ini, saat kita berinteraksi dengan manusia, kita mesti memperhatikan dengan baik beberapa fakta dan selanjutnya kita

OO bertindak sesuai dengan hal itu.

Fakta Pertama : Kita semua , tanpa kecuali, mencintai diri kita sendiri dan hal ini tidak berarti bahwa manusia seluruhnya egois. Namun, mereka memiliki sikap cinta terhadap diri mereka sendiri.

Fakta Kedua : Perhatian seseorang terhadap dirinya lebih besar dari perhatiannya terhadap apapun.

Fakta Ketiga : Semua, manusia yang berinteraksi dengan anda, ingin merasa bahwa ia penting bagi diri anda dan ia bearti sesuatu.

Fakta Keempat: Semua manusia yang berinteraksi dengan kita mempunyai keinginan kuat dari dalam dirinya untuk

(53)

menjadi manusia yang diterima oleh anda dan semua manusia.100

Ikhlas dalam berinteraksi, aman dan spontanitas memainkan

peran utama dalam membuat anda sosok yang diterima. Oleh karena

itu. Anda harus ikhlas tidak hanya kepada orang lain saja, namun juga

kepada diri anda.101

Keluwesan merupakan salah satu sifat yang membuat diri

anda sebagai sosok diterima orang lain.102

Beberapa cara memelihara interaksi dalam bermasyarakat antara lain adalah sebagai berikut. 103

1) . Ketika berinteraksi dengan sesama, anda harus dalam tampil dalam watak asli anda tanpa pemalsuan atau sikap dibuat-buat.

2) . Ketika berinteraksi dengan orang lain, usahakanlah untuk mencurahkan seluruh upaya anda untuk menyenangkan mereka secara maknawi atau kejiwaan dan berusaha membuat mereka puas tanpa merugikan diri anda atau kepentingan pribadi anda.

3) . Saat berinteraksi dengan sesama, anda harus mencari sisi kesamaan dirinya yang mungkin dapat dibangun hubungan yang kuat dengan mereka.

4) . Pergunakanlah selalu redaksi pujian yang lembut dan jujur kepada orang lain, bukan sikap menjilat yang jelas dan vulgar. *

100 Yusuf A!-Uqshari. on.cit.. him. 28. 10| M cL him. 89

(54)

5) . Terimalah orang lain sebagaimana adanya dan jangan jadikan orang

lain sebagai foto kopi diri anda.104

6) . Dengarkanlah, dengan penuh perhatian, pendapat, pemikiran,

obsesi, harapan dan kepedihan orang lain.

7) . Jagalah nuansa gembira ketika berinteraksi dengan sesama.

8) . Terimalah perbaikan kesalahan-kesalahan anda dengan lapang

dada.

9) . Hindarilah debat dan perbedaan pendapat dengan orang lain dengan seluruh wasilah yang memungkinkan.

10) .Jangan menjadi orang yang perfeksionis dalam berinteraksi dengan orang lain atau menjadi orang yang mengetahui segala sesuatu.105 11) .Jadilah orang yang jujur dan ikhlas dalam berinteraksi dengan

sesama dan jangan katakan kecuali apa yang anda maksudkan dengan pasti.

12) .Jagalah selalu kata-kata anda, apapun harganya dan apapun hasilnya.

13) . Perlakukanlah orang lain seperti mereka memperlakukan anda. Ciri-ciri orang-orang yang mempunyai kepribadian sosial adalah orang yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Mereka suka berkumpul dengan teman-teman, keluarga dan kerabat secara berkesinambungan. Mereka membuka diri terhadap dunia,

Yusuf Al-Uqshnri. op.cit., him. 71.

(55)

berinteraksi dengan cinta dan kehangatan dalam hubungannya

dengan manusia. 106

Bila engkau bicara dengan seseorang jangan engkau keraskan suaramu melebihi suara teman bicaramu. Jadilah engkau seorang yang halus dan sopan dalam pembicaraan. Jangan engkau bicara dengan kata-kata yang dapat menjatuhkan martabatmu, walaupun orang itu sebaya dan setaraf denganmu dalam usia atau kedudukan. Bila ada orang yang berbicara denganmu, dengarkan baik-baik jangan engkau menanggapinya dengan keras dan kasar. Pergaulilah umat manusia itu dengan akhlak yang baik atau perilaku ihsan.107

C. H ubungan Pem aham an M ateri Aqidah A khlak dengan perilaku Ihsan (di keluarga, di sekolah dan di m asyarakat)

Sebagaimana diketahui, bahwa pemahaman materi aqidah akhlak sangat erat hubungannya dengan perilaku ihsan misalnya : di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat merupakan satu aspek pembangunan spiritual (rohaniah) untuk dilaksanakan secara kontinue, sehingga mampu melahirkan manusia yang berkepribadian muslim, yaitu berkepribadian yang seluruh aspek-aspeknya yakni baik tingkah lakunya.

Untuk itulah pemahaman materi Aqidah Akhlak mempunyai tujuan- tujuan sebagai berikut:

1. Persiapan untuk tujuan dunia dan akherat

'°* Yusuf Al- Uq Slwri, o p. cit., him. 173. 1(17 Muliainmad Syak i r. op. cil.. him. .30-31.

(56)

2. Perwujudan diri sendiri sesuai dengan pandangan Islam

3. Persiapan untuk menjadi warga negara yang baik

4. Perkembangan yang menyeluruh dan terpadu bagi pribadi siswa.

Selain tujuan-tujuan di atas, pemahaman materi aqidah akhlak (pada

sekolah atau MI) mengandung juga beberapa fungsi sebagai berikut:

1. Fungsi spiritual yang berkaitan dengan aqidah dan Iman

2. Fungsi psikologis yang berkaitan dengan tingkah laku individual,

termasuk nilai-nilai akhlak yang mengangkat manusia ke derajat yang

lebih sempurna.

3. Fungsi sosial yang terkait dengan aturan main dalam hidup bermasyarakat

(berhubungan dengan manusia lain), sehingga tcrcipta suasana yang

(57)

A. Sejarah Berdirinya

MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan didirikan oleh Bapak KH. Ahmad kholil pada 1 Januari 1964. status tanahnya adalah tanah wakaf (sertifikat masih dalam proses) yang luas tanahnya ± 380 m2 dan. lapangannya ± 1400 m2 dibangun oleh swadaya masyarakat yang beralamatkan di RT 01 RW 03 Dusun Gebangan Desa Putat Kecamatan Purwodadi Kabupaten Grobogan.

Pada tahun 1964 1 ruang kelas yaitu untuk kelas 1 yang dikepalai oleh bapak KH. Abdul Cholil dan seorang guru Bapak Suniti Nurchamid. Kultur dan lingkungan sangat mendukung yaitu suasana keislaman. Keadaan di MI Darul Mubtadiin putat Purwodadi Grobogan baik fisik, maupun psikologis akan membentuk karakter Islami terhadap siswa dan membentuk kegiatan-kegiatan yang Islami. Suasana sosial hubungan Madrasah dengan pemerintah desa serta lembaga Pendidikan yang lain ada koordinasi kerja sama dengan baik dalam memperingati hari-hari nasional maupun kegiatan- kegiatan penting lainnya. Peran serta pengurus Majelis / Komite Madrasah sangat mendukung sekali dalam kegiatan Proses Belajar Mengajar (KBM).

B. Standar Kompetensi atau Kurikulum 2004

Adapun standar kompetensi materi Aqidah Akhlak yang di pakai sebagai pedoman mengajar oleh guru di MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan tahun 2005 / 2006 adalah kurikulum 2004, yang

(58)

dikeluarkan oleh Departemen Agama RI Direktorat Jendral Kelembagaan

Agama Islam Jakarta.

Standar kompetensi Materi Aqidali Akhlak berisi sekumpulan

kemampuan minimal yang harus dikuasai peserta didik selama

menempuh pendidikan di MI. Kompetensi ini berorientasi pada perilaku

afektif dan psikomotorik dengan dukungan pengetahuan kognitif dalam

rangka memperkuat Aqidah serta meningkatkan kualitas akhlak sesuai

dengan ajaran Islam.108

Sedang penyelesaian kurikulum 2004 atau standar kompetensi

untuk Materi Aqidah Akhlak di MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi

Grobogan telah diusahakan semaksimal mungkin, sehingga apa yang

diharapkan untuk dapat menyampaikan semua materi Aqidah Akhlak

dapat terpenuhi.

Disamping itu sebagai penunjang untuk memperlancarkan proses belajar

mengajar adalah buku pegangan Materi Aqidah Akhlak yang dipinjami

dari MI Darul Mubtadiin Putat Purwodadi Grobogan untuk tiga siswa

satu buku materi aqidah akhlak.

C. Metode Pem belajaran M ateri A qidah A khlak

Didalam menyampaikan materi Aqidali Akhlak pada siswa

disamping guru dituntut kemampuan dan penguasaan materi pelajaran,

guru juga dituntut mampu memilih metode yang tepat dan efektif,

sehingga pengajaran dapat menarik minat dan membawa siswa untuk

(59)

lebih mengerti dan memahami materi aqidah akhlak yang disampaikan.

Adapun metode-metode yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Metode ceramah

Metode ceramah adalah suatu cara untuk menyampaikan materi

aqidah akhlak pada siswa MI Danil Mubtadiin Putat Purwodadi

Grobogan dengan jalan penerangan dan penuturan secara lisan.

Metode ini digunakan apabila siswa belum mengetahui dasar

pengetahuan dan sifatnya untuk menggugah dan memberi informasi

kepada siswa supaya nantinya paham materi Aqidah Akhlak.

2. Metode tanya jawab

Metode tanya jawab adalah suatu metode pendidikan dan pengajaran

dimana guru bertanya, sedangkan siswa menjawab tentang materi

Aqidah Akhlak yang akan diperoleh siswa. Metode ini dipergunakan

terutama sebelum materi Aqidah Akhlak dimulai sebagai pra test dan

sesudah materi Aqidah Akhlak selesai sebagai Post test untuk

mengetahui pemahaman siswa terhadap materi Aqidah Akhlak yang

telah disampaikan disamping sebagai selingan metode ceramah.

3. Metode Resitasi (Pemberian Tugas)

Metode resitasi adalah metode dimana siswa diberi tugas khusus

diluar jam pelajaran. Metode ini dipergunakan apabila guru

mengharapkan agar semua pengetahuan yang diterima siswa menjadi

lebih baik dan agar siswa lebih rajin juga mengaktifkan siswa

Gambar

Distribusi Frekuensi Pemahaman Materi Aqidah Akhlak Siswa Kelas IVTabel I
Tabel 11Distribusi Frekuensi Perilaku Ihsan
Koefisien Korelasi Antara Variabel X (Pemahaman Materi Aqidah Akhlak)Tabel III

Referensi

Dokumen terkait

45 Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk (i) mengetahui proses dalam merancang dan mengembangkan modul remedial biologi materi keanekaragaman hayati, (ii)

Menurut Siregar (2005), dari hasil penelitiannya diperoleh bahwa faktor-faktor motivasi yang dapat mendorong motivasi kerja karyawan yaitu bekerjasama, bekerjakeras

tingkat kematangan yang diharapkan (Expected Maturity Level ) pada Sistem Informasi SIAKAD di Pusat Komputer IAIN Raden Intan Lampung bertujuan untuk mengetahui

Berdasarkan hasil penelitian tingkat nyeri kala I fase aktif sebelum dilakukan massage effleurage: dua responden (7,1% ) mengalami tingkat nyeri ringan pada angka 1 dan 2

Untuk menentukan dengan pasti tipe sel yang berkembang pada kultur primer sel syaraf dapat dikonfirmasi dengan uji imunohistokimia, namun saat penelitian metode ini tidak

Perbaikan : Karena sistem Milk-run mengharuskan adanya loading pattern yang pasti dari beberapa supplier yang diangkut oleh logistic partner, maka polybox harus

Dengan terganggunya utara kepulauan Natuna dalam sengketa Laut Cina Selatan akan berdampak terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi, kerena Indonesia memiliki

Adapun tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui bagaimana proses penyelesaian perkara kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kematian dalam putusan nomor: