STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
i
HUBUNGAN LAMANYA HEMODIALISA DENGAN MEKANISME KOPING KLIEN GAGAL GINJAL KRONIK
DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Achmad Yani Yogyakarta
SOFYAN SYAURI 2212074
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan usulan penelitian yang berjudul: Hubuangan Lamanya Hemodialisa Dengan Mekanisme Koping Pasien Hemodialisa di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Penyusunan usulan penelitian ini merupakan syarat untuk melakukan penelitian dalam rangka menyelesaikan studi S1 Keperawatan di Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta. Penyusunan usulan penelitian ini dapat diselesaikan, atas bimbingan, arahan, dan bantuan berbagai pihak, dan pada kesempatan ini penulis dengan rendah hati mengucapkan terima kasih dengan setulus-tulusnya kepada:
1. Kuswanto Hardjo, dr., M.Kes selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.
2. Tetra Saktika A, M.Kep., Ns., Sp.Kep.MB. selaku Ketua Prodi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Achmad Yani Yogyakarta
3. Tetra Saktika A, M.Kep., Ns., Sp.Kep.MB selaku penguji usulan penelitian yang telah memberikan masukan.
4. Miftafu Darussalam, M.Kep., Ns., Sp.Kep.MB selaku dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan dan masukan kepada saya dalam penyusunan usulan penelitian.
5. Arif Adi Setiawan, S.Kep., Ns selaku dosen Pembimbing II yang telah banyak memberi bimbingan, pengarahan dan masukan kepada saya dalam penyusunan usulan penelitian.
6. Ayah, Ibu, Adek, dan seluruh anggota keluarga yang telah memberikan limpahan cinta, doa dan semangat kepada penulis.
7. Semua sahabat mahasiswa keperawatan angkatan 2012 yang telah memberikan masukan, semangat serta dukungan kepada penulis.
8. Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul, yang memberikan kesempatan bagi saya untuk melakukan studi pendahuluan.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
v
9. Kepada semua pihak yang terlibat dalam penulisan yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terimakasih atas dukungan dan bantuannya. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kebaikan kepada semuanya, sebagai imbalan atas segala amal kebaikan dan bantuannya. Akhirnya besar harapan penulis semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menambah ilmu pengetahuan.
Yogyakarta, 2016 Penulis
Sofyan Syauri
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
vi DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ... i HALAMAN PENGESAHAN ... iiHALAMAN PERNYATAAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR SKEMA ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
INTISARI ... xi
ABSTRACT ... xii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 6
E. Keaslian Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori ... 9 1. Hemodialisa ... 9 2. Mekanisme Koping ... ... 14 B. KerangkaTeori... 18 C. KerangkaKonsep ... 19 D. Hipotesis ... 19
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 20
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 20
C. Populasi dan Sampel ... 20
D. Variabel Penelitian ... 21
E. Definisi Operasional ... 22
F. Alat dan Metode Pengumpulan Data ... 22
G. Validitas dan Reabilitas ... 24
H. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 25
I. Etika Penelitian ... 28
J. Pelaksanaan Penelitian ... 29
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil ... 32
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 32
2. Analisis Univariat ... 33
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
vii
B. Pembahasan . ... 36 C. Keterbatasan Penelitian ... 44
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 45 B. Saran ... 45
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
viii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 Definisi Operasional ... 22
Tabel 2 Kisi-Kisi Kuesioner Mekanisme Koping ... 23
Tabel 3 Tingkat Reliabilitas Berdasarkan Nilai Alpha ... 25
Tabel 4 Karakteristik Responden ... .... 33
Tabel 5 Distribusi Frekuensi Lamanya Hemodialisa ... ... 34
Tabel 6 Distribusi Frekuensi Mekanisme Koping ... ... 34
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
ix
DAFTAR SKEMA
Halaman Skema 2.1.Kerangka Teori ... 18 Skema 2.2.Kerangka Konsep ... 19
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Lembar Permohonan Menjadi Responden Lampiran 2 Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 3 Lembar Karakteristik Responden
Lampiran 4 Kuesioner Mekanisme Koping Lampiran 5 Surat-surat Ijin Studi Pendahuluan Lampiran 6 Surat Ijin Penelitian
Lampiran 7 Lembar Bimbingan Skripsi Lampiran 8 Lembar Penyusunan Proposal Lampiran 9 Lembar Hasil Olah Data
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
xi
HUBUNGAN LAMANYA HEMODIALISA DENGAN MEKANISME KOPING KLIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI RSUD PANEMBAHAN
SENOPATI BANTUL INTISARI
Sofyan Syauri1, Miftafu Darussalam2, Arif Adi Setiawan3
Latar Belakang: Gagal ginjal tergolong penyakit kronis yang memerlukan
hemodialisa untuk mempertahankan hidup. Lama menjalani hemodialisa tersebut akan berdampak terhadap psikologis pasien. Pasien akan mengalami gangguan proses berpikir dan konsentrasi serta gangguan dalam berhubungan sosial. Maka diperlukan mekanisme koping untuk mengatasi masalah tersebut. Koping yang adaptif mengarahkan pasien berperilaku konstruktif, sedangkan koping maladaptif mengarahkan pasien gagal ginjal kronik berperilaku menyimpang.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lamanya
hemodialisa dengan mekanisme koping klien gagal ginjal kronik di RSUD Panembahan Senopati Bantul.
Metode: Penelitian ini menggunakan deskriptif korelasi dengan rancangan
cross-sectional. Jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 70 responden dengan teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling dengan jenis consecutive sampling. Analisis statistik menggunakan uji Rank Spearman dengan
tingkat kepercayaan 95% (α= 0,05).
Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara lamanya
hemodialisa dengan mekanisme koping klien gagal ginjal kronik di RSUD Panembahan Senopati Bantul dengan nilai p=0,000 (p<0,05) dan r=0,669.
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara lamanya hemodialisa
dengan mekanisme koping klien gagal ginjal kronik di RSUD Panembahan Senopati Bantul.
Kata Kunci: gagal ginjal kronik, hemodialisa, mekanisme koping
1
Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta
2 Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta 3 Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
xii
CORRELATION BETWEEN HEMODIALYSIS LENGTH WITH COPING MECHANISM CLIENTS CHRONIC KIDNEY FAILURE IN RSUD
PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL ABSTRACT
Sofyan Syauri1, Miftafu Darussalam2, Arif Adi Setiawan3
Background: Renal failure belongs to a chronic disease that requires
hemodialysis to sustain life. The period of the therapy influence to the psychological of the patient. The patient will be experience the impaired thinking process and concentration of social relationship. Those coping mechanism is needed to overcome problem. Adaptive coping can be direct patients to behave constructively, where as maladaptive coping can direct patient to deviant behavior.
Objective: This research aims to identify the correlation between hemodialysis
length with coping mechanism clients chronic kidney failure in RSUD Panembahan Senopati Bantul.
Methods:The study was descriptive correlation with cross sectional study design. The number of samples obtained 70 respondents to the sampling technique used is nonprobability sampling with consecutive sampling types. Statistical analysis using Spearman Rank test with 95% confidence level (α = 0.05).
Results: There was a correlation between hemodialysis length with coping
mechanism clients chronic kidney failure in RSUD Panembahan Senopati Bantul with a p-value = 0.000 (p <0.05) and r = 0.669.
Conclusion: There was a significant correlation between hemodialysis length
with coping mechanism clients chronic kidney failure in RSUD Panembahan Senopati Bantul
Keywords: chronic renal failure, hemodialysis, coping mechanism
1
Nursing of Student of Institute of Health Science Jenderal Achmad Yani Yogyakarta
2
Lecturer of Nursing Department of Institute of Health Science Jenderal Achmad Yani Yogyakarta
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar BelakangPrevalensi penderita gagal ginjal kronik meningkat setiap tahunnya, berdasarkan Center for diseasa control dan prevention, prevalensi gagal ginjal kronik di Amerika Serikat pada tahun 2007 sebanyak 80.000 orang, dan mengalami peningkatan lebih dari dua juta orang. Prevalensi penyakit ginjal kronik di Indonesia di perkirakan mencapai 150.000 pasien. Dari jumlah pasien tersebut membutuhkan Renal Replacement Therapy (RRT) (Simatupang, 2006). Berdasarkan data dari PERNEFRI jumlah pasien hemodialisa di Indonesia tahun 2011 sekitar 13.609 orang. Prevalensi jumlah penderita gagal ginjal kronik di DIY tahun 2012 adalah 461 penderita (Depkes DIY, 2013).
Data yang di peroleh dari Dinkes Pemerintah Kabupaten Bantul menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2011 terdapat 76 kasus penyakit gangguan fungsi ginjal. Menurut data yang diperoleh dari Rumah Sakit Panembahan Senopati, terdapat 178 penyakit Gagal Ginjal Kronik antara bulan Januari tahun 2010 sampai dengan Juni 2011 (Dinkes Bantul, 2013). Sedangkan 119 pasien menjalani hemodialisa di Unit Hemodialisis Rumah Sakit Panembahan Senopati dengan gagal ginjal kronik (RS Panembahan Senopati, 2014).
Gagal ginjal kronik (GGK) adalah gangguan fungsi ginjal yang menahun bersifat progresif dan irreversible, dimana kemampuan tubuh untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit gagal yang menyebabkan uremia yaitu retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah (Smeltzer, 2007). Pasien yang memerlukan tindakan hemodialisa adalah para penderita kegagalan fungsi ginjal, yang dimana kondisi ginjal penderita tidak mampu menjalankan fungsinya untuk mengekskresikan zat-zat sisa metabolisme tubuh. Ketika zat-zat sisa metabolisme ini tidak dapat dikeluarkan, bahkan tertumpuk di tubuh maka akan menimbulkan gejala yang
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
2
sangat tidak nyaman seperti: oedem, sesak nafas, nyeri, mual, muntah, cepat lelah dan lemah, tidak ada nafsu makan, mual, sulit tidur, pruritus, lidah tidak ada rasa, sulit konsentrasi, libido menurun, badan sakit, dan tekanan darah sering tidak terkontrol. Kondisi tersebut menyebabkan pasien disfungsi ginjal memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap tindakan hemodialisa. Bahkan, pasien yang telah dinyatakan menderita gagal ginjal terpaksa harus menjalani tindakan hemodialisa secara rutin sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, pasien di unit hemodialisa cenderung tetap dan bertambah (Lestariningsih, 2012).
Pasien yang menjalani tindakan hemodialisis bervariasi tergantung berapa banyak fungsi ginjal yang tersisa, rata-rata penderita menjalani dua sampai tiga kali dalam seminggu, sedangkan lama pelaksanaan hemodialisis paling sedikit empat sampai lima jam setiap kali tindakan terapi. Penderita yang menjalani hemodialisis terus menerus melakukan hemodialisis secara rutin untuk menyambung hidupnya (Smeltzer & Bare, 2005).
Salah satu tindakan yang dilakukan pasien dengan penyakit ginjal kronik adalah dengan hemodialisis. Hemodialisis adalah salah satu tindakan yang bertujuan untuk membuang zat-zat nitrogen yang bersifat toksik dari dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebih (Brunner & Suddart, 2012).
Supriyadi dkk (2011) dan Rizky dkk (2013), menyatakan proses hemodialisis yang lama pada pasien gagal ginjal kronik akan menimbulkan stress fisik, pasien akan mengalami kelelahan, sakit kepala, dan keluar keringat dingin akibat tekanan darah yang menurun. Selain faktor hemodialisis tersebut, faktor patofisiologis gagal ginjal kronik itu mengakibatkan terjadinya penurunan fungsi ginjal dalam proses eritropoesis yang dapat menyebabkan anemia, terjadinya hipertensi, dan edema sehingga hal tersebut juga akan mempengaruhi keadaan psikologis, gangguan proses berfikir dan konsentrasi serta gangguan dalam hubungan sosial yang bisa berdampak pada segi fisik, mental, dan sosial.
Berbagai masalah dan komplikasi dapat terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisa (Charuwanno, 2005). Gagal ginjal tergolong penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan dan memerlukan pengobatan dan rawat
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
3
jalan dalam jangka waktu yang lama. Kondisi tersebut, tentu saja menimbulkan perubahan seperti, perilaku penolakan, marah, perasaan takut, rasa tidak berdaya, putus asa, cemas bahkan bunuh diri (Chanafie, 2010).
Pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa atau cuci darah harus memiliki cara atau upaya dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya yang sering dikenal dengan mekanisme koping. Mekanisme koping adalah tiap upaya yang untuk penatalaksanaan stres, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan ego yang digunakan untuk melindungi diri (Stuart, 2007).
Koping merupakan suatu respon individu terhadap situasi yang dapat mengancam dirinya baik fisik maupun psikologis. Respon dimana individu berusaha untuk beradaptasi dan mengatasi stressor yang diakibatkan dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya disebut mekanisme koping (Stuart, 2012).
Peningkatan aktualisasi diri adalah penerimaan diri terhadap masalah atau penyakit yang dialami, dimana seseorang menunjukkan jati dirinya sebagai manusia, menunjukkan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat dalam upaya untuk mencari pengakuan. Mekanisme koping adaptif bersifat konstruktif dan merupakan cara yang efektif serta realistis dalam menangani masalah psikologis untuk kurun waktu yang lama. Metode ini meliputi berbicara dengan orang lain, misalnya kepada teman, keluarga atau profesi tentang masalah yang dihadapi; mencari informasi lebih banyak tentang masalah yang dihadapi. Mekanisme koping maladaptif digunakan untuk mengurangi stres atau ketegangan psikologis dan cukup efektif untuk waktu sementara, tetapi tidak efektif jika digunakan dalam jangka panjang. Cara yang termasuk ke dalam metode ini meliputi menggunakan alkohol dan obat-obatan; melamun dan fantasi serta beralih pada aktivitas lain agar dapat melupakan masalah (Rasmun, 2004)
Mekanisme koping itu sendiri diartikan sebagai cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan,
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
4
serta respon terhadap situasi yang mengancam (Keliat, 1999 dalam Nasir & Muhith, 2011). Dalam menghadapi suatu tekanan atau tuntunan, setiap orang beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan memberikan tanggapan yang berbeda-beda. Tanggapan tersebut tidak hanya ditentukan oleh faktor fisiologis saja, melainkan juga ditentukan oleh faktor psikologis, yaitu kepribadian (Jess dan Gregory, 2009).
Menurut Wurara, Kanine, dan Wowiling, (2013) Hasil Penelitian menunjukkan bahwa responden gagal ginjal kronik dengan terapi hemodialisis yang menggunakan koping adaptif sebanyak 27 orang (45,8%), sedangkan yang menggunakan koping maladaptif 32 orang (54,2 %). Penelitian Paputungan, Yusuf, dan Salamanja, (2015) yang berjudul hubungan lama menjalani hemodialisa dengan stres pada pasien gagal ginjal kronik, hasilnya sebagian besar lamanya pasien yang menjalani hemodialisa, kurang dari 2 tahun dari 30 responden yang menjalani hemodialisis, pasien yang mengalami stres sedang persentasinya adalah 60% dari 30 responden yang menjalani hemodialisis. Untuk hasil uji statistik didapatkan signifikansi 0,04 Yang berarti ada hubungan bermakna. Sedangkan penelitian Romani, Hendarsih, dan Asmarani, (2012) Hubungan mekanisme koping individu dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronis. Dimana hasil penelitiannya adalah mekanisme koping individu dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronis sebesar 14,9 dengan nilai ρ-value sebesar 0.001. nilai ρ-value lebih kecil dari 0.05 (signifikansi) yang berarti bahwa ada hubungan antara mekanisme koping individu dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronis.
RSUD Panembahan Senopati Bantul adalah salah satu rumah sakit di DIY dengan jumlah kapasitas pelayanan hemodialisis yang sangat memadai (21 mesin, 10 perawat sertifikat ginjal intensif, dan 4 dokter), unit hemodialisis di RSUD Panembahan Senopati Bantul.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan dari data rekam medik (RM) tahun 2014 terdapat pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis sebanyak 283 orang dan pada tahun 2015 terdapat pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis sebanyak 324 orang. Berdasarkan hasil wawancara
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
5
kepada 5 pasien yang menjalani hemodialisis, pasien pertama mengatakan lama menjalani hemodialisis selama 5 tahun, sedangkan pasien kedua mengatakan lama menjalani hemodialisis selama 6 bulan, pasien ketiga mengatakan lama menjalani hemodialisis selama 5 tahun, pasien keempat menjalani hemodialisis selama 4,5 tahun dan pasien kelima mengatakan lama menjalani hemodialisis selama 4 tahun. Lamanya menjalani hemodialisis sangat bervariasi antara pasien yang satu dengan yang lain dengan lama tindakan 4-5 jam sesuai anjuran dari dokter sehingga kondisi tersebut akan mempengaruhi mekanisme koping pasien.
Berdasarkan masalah diatas, peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai hubungan lamanya hemodialisa dengan mekanisme koping pasien hemodialisa di Rumah Sakit Panembahan Senpati Bantul DIY.
B. Rumusan Masalah
Adakah hubungan lamanya hemodialisa dengan mekanisme koping klien gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Panembahan Senopati Bantul DIY?
C.Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Diketahui hubungan lamanya hemodialisa dengan mekanisme koping klien gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Panembahan Senopati Bantul DIY.
2. Tujuan khusus
a. Diketahui lamanya hemodialisis pada pasien yang menjalani hemodialisis. b. Diketahui mekanisme koping pada pasien yang menjalani hemodialisis di
RSUD Panembahan Senopati Bantul.
c. Diketahui keeratan hubungan lamanya hemodialisis dengan mekanisme koping di RSUD Panembahan Senopati Bantul.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
6
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Perawat Hemodialisis
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pada perawat dalam memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif di ruangan hemodialisis dalam menangani pasien gagal ginjal kronik khususnya perubahan psikologis. 2. Bagi Stikes Achmad Yani Yogyakarta
Dapat digunakan sebagai bahan pustaka dan kajian tentang hubungan lamanya hemodialisis dengan mekanisme koping pasien yang menjalani hemodialisis. 3. Bagi Pasien Hemodialisis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pasien hemodialisis mengenai mekanisme koping terkait dengan waktu lamanya menjalani hemodialisis.
E. Keaslian Penelitian
1. Wurara, dkk, (2013) melakukan penelitian tentang mekanisme koping pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis di rumah sakit prof. dr.r.d kandou manado. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana mekanisme koping pada pasien Penyakit Ginjal Kronik yang menjalani Terapi Hemodialisis, Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif. Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode Accidental sampling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan dengan jumlah sampel 59 responden berdasarkan rumus penentuan besar sample. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kuisioner yang dibuat oleh peneliti dan diisi oleh responden. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa responden yang menggunakan koping adaptif 27 orang (45,8%), sedangkan yang menggunakan koping maladaptif 32 orang (54,2 %), Maka dapat disimpulkan bahwa pasien Penyakit Ginjal Kronik yang menjalani terapi hemodialisis lebih banyak menggunakan mekanisme koping maladaptif. Persamaan penelitian ini adalah pada mekanisme koping, sedangkan perbedaannya adalah pada lokasi penelitian, dan metode penelitian. Metode penelitian sebelumnya adalah Accidental Sampling, sedangkan penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
7
korelasi dengan rancangan penelitian cross sectional dan penentuan sampel menggunakan teknik consecutive sampling.
2. Paputungan, dkk, (2015) melakukan penelitian tentang hubungan lama menjalani hemodialisa dengan stres pada pasien gagal ginjal kronik di rsud prof. Dr. H. Aloei saboe kota gorontalo tahun 2015. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan lama menjalani hemodialisa dengan stres pada pasien gagal ginjal kronik di RSUD Prof. Dr. H Kota Gorontalo. Desain penelitian menggunakan Cross Sectional study. Populasi berjumlah 30 responden yang merupakan pasien gagal ginjal kronik. Sampel berjumlah 30 responden dengan teknik total sampling. Teknik analisis dengan uji fisher. Hasil penelitian sebagian besar lama menjalani hemodialisa, kurang dari 2 tahun dari 30 responden, pasien yang mengalami stres sedang persentasinya 60% dari 30 responden di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Hasil uji statistik didapatkan signifikansi p=0,04 (p<0,05) Yang berarti ada hubungan bermakna. Persamaan penelitian ini adalah pada lama menjalani hemodialisis, desain penelitian dengan cross sectional, sedangkan perbedaannya adalah pada variabel terikatnya yaitu stres pada pasien gagal ginjal kronik, lokasi penelitian dan teknik sampling yaitu consecutive sampling.
3. Romani, dkk, (2012) melakukan penelitian tentang hubungan mekanisme koping individu dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronis di unit hemodialisa rsup dr. Soeradji tirtonegoro klaten. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan mekanisme koping individu dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronis di Unit Hemodialisa RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan studi korelasi serta dengan rancangan cross-sectional. Subyek penelitian adalah pasien GGK yang menjalani hemodialisa rutin di Unit Hemodialisa RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten yang diambil dengan menggunakan teknik Accidental Sampling. Analisa data dilakukan dengan uji Chi Kuadrat. Hasil Penelitian: Uji korelasi antara mekanisme koping individu dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronis
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
8
dengan menggunakan uji Chi Kuadrat didapat hasil X2 sebesar 14,9 dengan
nilai ρ-value sebesar 0.001. nilai ρ-value lebih kecil dari 0.05 (signifikansi) sehingga Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa ada hubungan antara mekanisme koping individu dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronis di Unit Hemodialisa RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Kesimpulan: Ada hubungan antara mekanisme koping individu dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronis di Unit Hemodialisa RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Persamaan penelitian ini adalah pada mekanisme
koping, sedangkan perbedaannya adalah variabel terikatnya yaitu tingkat
kecemasan, lokasi penelitian, metode penelitian dan teknik sampling. Metode penelitian sebelumnya deskriptif analitik, sedangkan penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasi dan penentuan sampel menggunakan teknik consecutivesampling.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
32
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul terletak di Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Bantul. Kedudukan rumah sakit ini sebagai pendukung penyelenggaraan pemerintah daerah yang dipimpin oleh seorang Direktur yang bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit tipe B.
Pelayanan yang tersedia di RSUD Panembahan Senopati Bantul meliputi pelayanan rawat jalan, instalasi gawat darurat, pelayanan rawat inap, pelayanan kebidanan dan perinatologi, kamar operasi, pelayanan radiologi, pelayanan rehabilitasi medik, pelayanan laboratorium, pelayanan farmasi, pelayanan gizi, pelayanan hemodialisis, dan pelayanan penunjang lain.
Peneliti menggunakan unit Hemodialisa RSUD Panembahan Senopati Bantul sebagai lokasi penelitian. Unit Hemodialisa RSUD Panembahan Senpati Bantul memiliki kapasitas pelayanan yang sangat memadai yang terdiri dari 21 mesin cuci darah, 10 perawat sertifikat ginjal intensif, 3 perawat umum dan 4 dokter dan memiliki jadwal rutin 3x/sehari untuk hemodialisis, dimulai pada pukul 07.00 WIB untuk sesi pertama, untuk sesi kedua dimulai pada pukul 11.00 WIB dan pada pukul 16.00 untuk sesi ketiga. Sebelum dilakukan proses hemodialisis pasien terlebih dahulu diukur tanda-tanda vital dan berat badan sebelum dimulai hemodialisis, setelah selesai mengukur tanda-tanda vital dan berat badan pasien perawat hemodialisis menentukan program pasien dengan menghitung BB datang – BB standar + jumlah makan saat hemodialisis kemudian pasien disuruh tidur ditempat yang telah disediakan untuk dilakukan pemasangan alat hemodialisis. Setelah itu perawat memprogram mesin hemodialisis sesuai yang telah ditentukan sebelumnya, selama proses hemodialisis berlangsung kegiatan pasien di ruang hemodialisis RSUD Panembahan Senopati Bantul bermacam-macam, ada yang berbicara kepada sesama yang menjalani hemodialisis, ada yang menonton televisi, dan
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
33
kebanyakan pasien tidur saat menjalani hemodialisis. Setelah proses hemodialisis selesai perawat mengobservasi tanda-tanda vital pasien sebelum pasien diizinkan pulang. Lama penderita yang menjalani hemodialis di unit hemodialisis RSUD Panembahan Senopati sangat bervariasi tergantung kondisi penyakit yang diderita.
2. Analisis Univariat
a. Karakteristik Responden
Karakteristik pasien terdapat dalam tabel 4
Tabel 4 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Status Perkawinan, Lama Hemodialisa, Dan Mekanisme Koping di Ruang Hemodialisa RSUD Panembahan Senopati Bantul, Yogyakarta (N: 70) Tahun 2016
Karakteristik Responden Jumlah (n)
Presentase (%) Jenis kelamin Laki-laki
Perempuan 32 38 45,7 54,3 Umur 30-40 tahun 41-50 tahun >50 tahun 29 28 13 41,4 40,0 18,6 Tingkat Pendidikan SD SMP SMA PT 24 17 25 4 34,3 24,3 35,7 5,7 Pekerjaan Buruh PNS Pegawai Swasta Lain-lain 33 4 18 15 47,1 5,7 25,7 21,4 Status Perkawinan Menikah 70 100 Lama Hemodialisa Baru
Sedang Lama 14 41 15 20,0 58,6 21,4 Mekanisme Koping Maladaptif
Adaptif 24 46 34,3 65,7 (Sumber: Primer 2016)
Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa pasien terbanyak berjenis kelamin perempuan sebanyak 38 responden (54,3%) dengan rentang umur terbanyak berkisar antara 30-40 tahun sebanyak 29 responden (41,4%). Pasien terbanyak dengan status pekerjaan buruh sebanyak 33 responden
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
34
(47,1) dengan tingkat pendidikan terbanyak SMA sebanyak 25 responden (35,7%). Pasien terbanyak dengan status perkawinan menikah sebanyak 70 responden (100%). Pasien dengan lama hemodialisis terbanyak ditemukan pada rentang sedang sebanyak 41 responden (58,6%) dengan mekanisme koping terbanyank adalah adaptif sebanyak 46 responden (65,7%).
b. Gambaran Lamanya Hemodialisis
Tabel 5 Distribusi Frekuensi Lamanya Hemodialisa pada Klien Gagal Ginjal di RSUD Panembahan Senopati Bantul
Lamanya Hemodialisa Jumlah (n) Presentase (%) Baru Sedang Lama 14 41 15 20,0 58,6 21,4 Total 70 100% (Sumber: Primer 2016)
Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa dari 70 responden yang menjalani hemodialisis di RSUD Panembahan Senopati Bantul, lama hemodialisis didominasi oleh responden dengan lama hemodialisis 10-52 bulan sejumlah 41 orang (58,6%).
c. Gambaran Mekanisme Koping
Tabel 6 Distribusi Frekuensi Mekanisme Koping Klien Gagal Ginjal Kronik di RSUD Panembahan Senopati Bantul
Mekanisme Koping Jumlah (n) Presentase (%) Maladaptif Adaptif 24 46 34,3 65,7 Total 70 100% (Sumber: Primer 2016)
Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa dari 70 responden didominasi oleh responden dengan mekanisme koping adaptif sebanyak 46 responden (65,7%).
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
35
Tabel 7 Hubungan Lamanya Hemodialisa Dengan Mekanisme Koping Klien Gagal Ginjal Kronik di RSUD Panembahan Senopati Bantul
Lama Hemodialisa Mekanisme Koping Total r P-value Maladaptif Adaptif N % n % n % Baru Sedang Lama 14 10 0 20,0 14,3 0,0 0 31 15 0,0 44,3 21,4 14 41 15 20,0 58,6 21,4 0,669 0,000 Total 24 34,3 46 65,7 70 100,0 (Sumber: Primer 2016)
Berdasarkan tabel 7 didapatkan hasil bahwa sebagian besar pasien GGK dengan lama hemodialisa sebanyak 41 responden (58,6%), paling banyak memiliki mekanisme koping adaptif sebanyak 31 responden (44,3%) masuk dalam kategori lama hemodialisis sedang, sedangkan total dari 14 responden (20,0%) memiliki lama hemodialisa yang baru seluruhnya mempunyai mekanisme koping maladaptif. Dari 15 responden (21,4%) lama hemodialisis masuk dalam kategori lama seluruhnya memiliki mekanisme koping adaptif. Analisis selanjutnya adalah apakah terdapat hubungan antara lamanya hemodialisis dengan mekanisme koping klien gagal ginjal kronik di RSUD Panembahan Senopati Bantul diperoleh hasil nilai korelasi sebesar 0,669 dengan nilai p-value sebesar 0.000 < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat keeratan hubungan antara lamanya hemodialisis dengan mekanisme koping klien gagal ginjal kronik di RSUD Panembahan Senopati Bantul masuk dalam kategori kuat (Sugiyono, 2014).
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
36
B. PEMBAHASAN
1. Karakteristik responden GGK yang menjalani hemodialisa di RSUD Panembahan Senopati Bantul.
Pada pembahasan, peneliti akan membahas hasil analisis tiap variabel yang diteliti dan hubungan antar variabel. Pembahasan akan dilakukan dengan menganalisa serta membandingkan hasil penelitian yang diperoleh.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah respoden berdasarkan karakteristik jenis kelamin responden, diperoleh data pasien GGK di RSUD Panembahan Senopati Bantul yang berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar 38 orang (54,3%), jenis kelamin laki-laki sebanyak 32 orang (45,7%). Hasil penelitian didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Wurara, Kanine, dan Wowiling (2013) dimana responden yang terbanyak adalah perempuan sebanyak 30 orang (50,8%). Berdasarkan jenis kelamin diperoleh hasil perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah responden laki-laki yang menjalani hemodialisis di ruang hemodialisis RSUD Panembahan Senopati Bantul.
Berdasarkan tabel 4.1 sebagian besar responden yang menjalani terapi hemodialisis memiliki rentang usia 30-40 tahun sebanyak 29 orang (41,4%). Menurut penelitian Wurara, Kanine, dan Wowiling (2013) umur rata-rata pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis adalah 27,1 % dengan rentang usia 36-45 tahun. Proses penuaan merupakan proses biologis yang normal yaitu terjadinya penurunan fungsi organ. Setiap individu akan berbeda tingkat penurunan fungsi organnya. Proses penuaan dapat terjadi secara normal dan dapat terjadi akibat suatu penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes melitus, dan gagal ginjal kronik. Varreli (2005) mengatakan bahwa
gagal ginjal kronik dapat terjadi pada semua usia. Namun pada usia ≥ 30
tahun akan terjadi perubahan fisiologis progresif pada glomerulus akibat glomerulosklerosis sehingga akan terjadi penurunan LFG mencapai 8 ml/menit/1,73m2 dari LFG normal.
Berdasarkan tabel 4.1 pendidikan terakhir responden yang terbanyak adalah SMA yaitu sebanyak 25 orang (35,7%), pendidikan erat kaitannya
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
37
dengan pengetahuan. Hal ini dikarenakan semakin tinggi pendidikan seseorang maka kemampuan serta pemahaman tentang gagal ginjal kronik akan semakin tinggi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Taluta, Mulyadi, dan Hamel (2014) yang mendapatkan hasil responden terbanyak dengan pendidikan SMA sebesar 50%. Notoatmodjo (2010) menyatakan bahwa dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun media masa. Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pengetahuannya.
Berkaitan dengan pekerjaan, berdasarkan tabel 4.1 sebagian besar responden bekerja sebagai buruh yaitu sebanyak 33 orang (47,1%). Pasien dapat terus melakukan pekerjaan dan aktifitasnya apabila pasien rutin dalam mematuhi jadwal terapi hemodialisis yang telah terjadwalkan, pada pasien gagal ginjal kronik kemungkinan yang dapat terjadi adalah kehilangan pekerjaan karena terjadi penurunan fungsi tubuh.. Menurut Lase (2011) Pekerjaan adalah merupakan suatu kegiatan atau aktifitas seseorang yang bekerja pada orang lain atau instansi, kantor perusahaan untuk memperoleh penghasilan yaitu gaji atau upah baik berupa uang maupun barang demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Penghasilan yang rendah akan berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat atau membayar transportasi (Notoatmodjo, 2010).
Pekerjaan adalah kegiatan atau aktifitas utama yang dilakukan secara rutin sebagai upaya untuk membiayai keluarga serta menunjang kebutuhan rumah tangga (Fitriani, 2010). Individu yang status sosial ekonominya berkecukupan akan mampu menyediakan segala fasilitas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, individu dengan status sosial ekonominya rendah akan mengalami kesulitan dalam memenuhi
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
38
kebutuhan hidupnya. Budiarto & Anggraeni (2002) mengatakan berbagai jenis pekerjaan akan berpengaruh pada frekuensi dan distribusi penyakit salah satunya adalah gagal ginjal kronik. Hal ini disebabkan sebagian hidupnya dihabiskan di tempat pekerjaan dengan berbagai suasana lingkungan yang berbeda.
Berdasarkan tabel 4.1 status perkawinan responden sebagian besar responden menikah sebanyak 70 orang (100%). Penelitian oleh Martono (2006) menyebutkan bahwa keluarga memiliki tuntutan lebih kuat di banding tenaga medis karena hubungan kekerabatannya. Tenaga medis mempunyai banyak keterbatasan. Secara etika profesi tenaga medis tidak memungkinkan untuk ikut terlibat jauh dalam urusan pribadi pasien kecuali yang berkaitan dengan penyakitnya. Hal inilah yang membuat dukungan sosial dan partisipasi aktif dari keluarga sangatlah penting untuk membantu meningkatkan kualitas hidup pasien.
2. Lamanya Hemodialisa Klien Gagal Ginjal Kronik di RSUD Panembahan Senopati Bantul
Berdasarkan tabel 4.2 didapatkan hasil bahwa dari 70 pasien, lama responden menjalani hemodialisis <10 bulan (baru) sebanyak 14 orang (20,0%), lama hemodialisis 10-52 bulan (sedang) sebanyak 41 orang (58,6%) sebagai frekuensi terbanyak, dan lama hemodialisis > 52 bulan (lama) sebanyak 15 orang (21,4%). Hal ini sesuai dengan penelitian Nurchayati (2011) yang mengungkapkan bahwa hemodialisis merupakan terapi pengganti ginjal yang digunakan pada pasien dalam keadaan sakit akut dan pasien dengan penyakit ginjal stadium terminal. Seseorang yang telah divonis menderita gagal ginjal harus menjalani terapi pengganti ginjal seumur hidup, dan salah satu pilihannya adalah hemodialisa.
Hemodialisa merupakan salah satu terapi pengganti yang menggantikan sebagian kerja dari fungsi ginjal dalam mengeluarkan sisa hasil metabolisme dan kelebihan cairan serta zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh melalui difusi hemofiltrasi. Menurut Brunner & Suddart (2012) juga menyatakan kehidupan berencana dalam waktu lama, yang berhubungan
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
39
dengan terapi hemodialisis dan pembatasan asupan makanan dan cairan, pasien gagal ginjal kronik sering menghilangkan semangat untuk hidup sehingga dapat mempengaruhi pola fikir pasien dalam menjalani terapi hemodialisis.
Berdasarkan hasil penelitian Paputungan, Yusuf, dan Salamanja, (2015) lama menjalani hemodialisis seorang pasien gagal ginjal kronik dapat dipengaruhi oleh penyakit sebelumnya yang dapat berakibat komplikasi lanjut, serta mengalami penurunan fungsi tubuh menyebabkan pasien dalam kehidupan sehari-harinya terganggu sehingga masalah tersebut dapat menyebabkan pasien tidak merasa berguna. Terapi hemodialisis sangat mempengaruhi keadaan psikologi pasien. Pasien akan mengalami gangguan proses berpikir dan konsentrasi serta gangguan dalam berhubungan sosial. 3. Mekanisme Koping Klien Gagal Ginjal Kronik di RSUD Panembahan
Senopati Bantul
Berdasarkan tabel 4.3 didapatkan hasil bahwa dari 70 responden, 14 orang (34,3 %) menggunakan mekanisme koping maladaptif dan 46 orang (65,7%) menggunakan mekanisme koping adaptif. Mekanisme koping adaptif bersifat konstruktif dan merupakan cara yang efektif serta realistis dalam menangani masalah psikologis untuk kurun waktu yang lama. Metode ini meliputi berbicara dengan orang lain, misalnya kepada teman, keluarga atau profesi tentang masalah yang dihadapi, mencari informasi lebih banyak tentang masalah yang dihadapi, sedangkan koping maladaptif mengarahkan pasien gagal ginjal kronik berperilaku menyimpang, cara yang termasuk ke dalam metode ini meliputi menggunakan alkohol dan obat-obatan; melamun dan fantasi serta beralih pada aktivitas lain agar dapat melupakan masalah (Rasmun, 2004). Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis lebih banyak menggunakan mekanisme koping adaptif. Menurut Asmadi (2008) penggunaan mekanisme koping menjadi efektif bila didukung oleh keyakinan dari diri sendiri. Responden dengan suport sistem lebih cenderung menggunakan koping. Dukungan tidak hanya dari diri sendiri tetapio dapat
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
40
juga diperoeh dari keluarga, kerabat maupun tenaga kesehatan dan juga dari sesama pasien hemodialisis. Stuart (2009) menyatakan bahwa salah satu sumber koping yaitu dukungan sosial membantu individu dalam memecahkan masalah melalui pemberian dukungan. Mekanisme koping yang terbentuk melalui proses belajar dan mengingat, belajar yang di maksud adalah kemampuan beradaptasi pada pengaruh faktor internal dan eksternal, bila mekanisme koping berhasil maka orang tersebut dapat beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi (Nursalam, 2007).
Menurut Rasmun (2004) koping adalah proses yang dilalui oleh individu dalam menyelesaikan situasi stressfull. Koping tersebut adalah merupakan respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologis. Folkman dan Lazarus (2008) menyatakan koping sebagai pikiran dan perilaku yang dilakukan untuk mengelola tuntunan internal dan eksternal dari situasi yang dinilai sebagai stres. Menurut Berman dkk (2008) koping merupakan suatu cara untuk memberi respon terhadap perubahan lingkungan atau masalah yang spesifik baik secara alami atau dipelajari.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Taluta, Mulyadi, dan Hamel (2014) didapatkan hasil sebesar 62,5% responden menggunakan mekanisme koping adaptif. Hasil penelitian Romani, Hendarsih, dan Asmarani (2012) didapatkan responden terbanyak dalam penelitian ini menggunakan mekanisme koping adaptif yaitu 40 orang (71,4%).
4. Hubungan Lamanya Hemodialisa dengan Mekanisme Koping Klien Gagal Ginjal Kronik di RSUD Panembahan Senopati Bantul
Berdasarkan hasil penelitian di RSUD Panembahan Senopati Bantul, hasil uji korelasi Spearman diperoleh p-value =0,000 (p<0,05) yang berarti bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara lamanya hemodialisa dengan mekanisme koping klien gagal ginjal kronik. Kekuatan hubungan dalam kategori kuat yaitu r=0,669 berada pada interval 0,600-0,800.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
41
Terapi hemodialisis sangat mempengaruhi keadaan psikologis pasien. Pasien akan mengalami proses berpikir dan konsentrasi serta gangguan dalam berhubungan sosial (Paputungan, Yusuf, dan Salamanja, 2015). Hemodialisis adalah suatu proses pembersihan darah dengan menggunakan ginjal buatan (dialyzer), dari zat-zat yang konsentrasinya berlebihan di dalam tubuh. Zat-zat tersebut dapat berupa Zat-zat yang terlarut dalam darah, seperti toksin ureum dan kalium, atau zat pelarutnya, yaitu air atau serum darah (Suwitra, 2006). Hemodialisis adalah suatu bentuk tindakan pertolongan dengan menggunakan alat yaitu dialyzer yang bertujuan untuk menyaring dan membuang sisa produk metabolisme toksik yang seharusnya dibuang oleh ginjal (Rizky, Rudiansyah, dan Triawanti, 2013).
Hemodialisis adalah proses pembersihan darah oleh akumulasi sampah buangan. Hemodialisis digunakan bagi pasien dengan tahap akhir gagal ginjal atau pasien berpenyakit akut yang membutuhkan dialisis waktu singkat. Nursalam dan Fransisca (2009). Hal ini sesuai dengan penelitian Nurchayati (2011) yang mengungkapkan bahwa hemodialisis merupakan terapi pengganti ginjal yang digunakan pada pasien dalam keadaan sakit akut dan pasien dengan penyakit ginjal stadium terminal. Seseorang yang telah divonis menderita gagal ginjal harus menjalani terapi pengganti ginjal seumur hidup, dan salah satu pilihannya adalah hemodialisa.
Hemodialisis umumnya diberikan sebanyak 2 kali dalam seminggu dengan setiap hemodialisis selama 5 jam atau sebanyak 3 kali seminggu dengan setiap hemodialisis selama 4 jam (Suwitra, 2006). Lama hemodialisis berkaitan erat dengan efisiensi dan adekuat hemodialisis, sehingga lama hemodialisis juga dipengaruhi oleh tingkat uremia akibat progresivitas perburukan fungsi ginjal dan faktor-faktor komorbiditasnya, serta kecepatan aliran darah dan kecepatan aliran dialisat (Swartzendrubber dkk, 2008). Namun demikian, makin lama proses hemodialisis, maka semakin lama darah berada di luar tubuh, sehingga banyak antikoagulan yang dibutuhkan dengan konsekuensi sering timbulnya efek samping (Roesli, 2006).
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
42
Menurut Wurara, Kanine, dan Wowiling, (2013) Lama menjalani terapi hemodialisis merupakan rentang waktu responden menjalani hemodialisis. Hasil penelitian lama menjalani terapi yang terbanyak adalah yang telah menjalani terapi antara 1-12 bulan yaitu 29 orang (49,2%). Dari total 59 responden yang menjalani hemodialisis rentang waktu lama menjalani hemodialisis sangat berpengaruh terhadap keadaan dan kondisi pasien baik fisik maupun psikisnya. Perasaan takut adalah ungkapan emosi dari pasien yang paling sering diungkapkan. Pasien sering merasa takut akan masa depan yang akan dihadapi dan perasaan marah yang berhubungan dengan pertanyaan mengapa hal tersebut terjadi pada dirinya. Ketakutan dan keputusasaan juga kerap datang karena harus tergantung dengan alat hemodialisis. Lamanya hemodialisis dapat menyebabkan perubahan fungsi tubuh yang menyebabkan pasien harus beradaptasi dan melakukan penyesuain diri selama hidupnya. Karena hemodialisis masih sebagai terapi utama dalam penanganan gangguan ginjal kronik, namun memiliki dampak yang bervariasi, diantaranya komplikasi intradialisis efek hemodialisis yang kronik berupa Fatigue (Sulistini dkk, 2012).
Dalam aspek sosial, pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis mengalami gangguan peran dan perubahan gaya hidup sangat berhubungan dengan beban fisik dan psikologis karena sakit, pasien tidak diikut sertakan dalam kehidupan sosial keluarga dan masyarakat, tidak boleh mengurus pekerjaan, sehingga terjadi perubahan peran dan tanggung jawab dalam keluarga. Pasien merasa bersalah karena ketidak mampuan dalam berperan, dan ini merupakan ancaman bagi harga diri pasien (Suharyanto, 2009).
Semakin lama menajani hemodialisis maka akan berpengaruh terhadap bagaimana cara menyelesaikan masalah, salah satunya adalah dengan mekanisme koping. Koping merupakan respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologi. Stuart dan Sundeen (2007) mengemukakan bahwa kemampuan koping dipengaruhi oleh faktor internal meliputi umur, kepribadian, pendidikan, kepercayaan, budaya, emosi dan kognitif dan faktor eksternal, meliputi suport sistem, lingkungan
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
43
keadaan finansial penyakit. Pemilihan mekanisme koping individu dapat dipengaruhi berbagai faktor. Hal-hal yang mempengaruhi pemilihan mekanisme koping menurut Rasmun (2004) yaitu bagaimana individu mempersepsikan stressor, bagaimana intensitas terhadap stimulus, jumlah stressor yang harus dihadapi pada waktu yang sama, lamanya pemaparan stressor, pengalaman masa lalu, dan tingkat perkembangan. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi strategi koping menurut Berman dkk (2008) antara lain jumlah, durasi, dan intensitas dari stressor; pengalaman yang terdahulu dari individu; sistem dukungan yang ada untuk individu (dukungan sosial); serta kualitas personal dari seseorang.
Stuart (2009) menyatakan bahwa salah satu sumber koping yaitu aset ekonomi dapat membantu meningkatkan koping individu dalam mengahadapi situasi stressful. Menurut Stuart (2012) menyatakan bahwa mekanisme koping dibagi menjadi 2 yaitu mekanisme koping adaptif dan maladaptif. Mekanisme koping adaptif adalah mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar, dan mencapai tujuan. Sedangkan mekanisme koping maladaptif adalah mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, menghambat pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan.
Mekanisme koping terbanyak dari penelitian Romani, Hendarsih, dan Asmarani (2012) adalah mekanisme koping adaptif 71,4%. Sahara (2010) menyatakan dalam penelitiannya adalah sebagian besar menggunakan koping yang adaptif yakni optimis dengan masa depan, adanya harapan akan kesembuhan, berbicara dengan orang lain, mendapatkan dukungan sosial, dan menerima kenyataan hidup, hal ini sesuai dengan penelitian ini bahwa masih lebih banyak responden menggunakan mekanisme koping adaptif sebanyak 46 orang (65,7%).
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
44
C. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah peneliti tidak mengontrol variabel pengganggu yaitu faktor internal yang meliputi kepribadian, sudut pandang pasien, keterampilan, pengetahuan dan faktor eksternal yang meliputi dukungan sosial lingkungan, keadaan keuangan, perkembangan penyakit yang dapat mempengaruhi mekanisme koping responden.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
45
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan
1. Lamanya menjalani terapi hemodialisis adalah sebagian besar responden dengan lama menjalani hemodialisis sebanyak 41 orang (58,6%) masuk dalam kategori sedang.
2. Mekanisme koping pada klien gagal ginjal kronik di RSUD Panembahan Senopati Bantul sebanyak 46 orang (65,7%) berada pada kategori adaptif. 3. Terdapat keeratan hubungan antara lamanya hemodialisa dengan
mekanisme koping klien gagal ginjal kronik di RSUD Panembahan Senopati Bantul, di ditunjukan dengan hasil uji statistik menggunakan Spearman dengan nilai p-value sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai (p<0,05).
B.Saran
1. Bagi Perawat Hemodialisis di RSUD Panembahan Senopati Bantul
Penerapan asuhan keperawatan pada pasien GGK di ruangan hemodialisis dalam menangani pasien gagal ginjal kronik perlu mempertimbangkan aspek psikologis.
2. Bagi Pasien Hemodialisis
Pasien harus dapat informasi tentang pentinganya hemodialisis dan mekanisme koping dalam menghadapi kondisi penyakit serta pengobatannya terkait dengan waktu lamanya menjalani hemodialisis.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisis Revisi. Jakarta : Rineka Cipta.
Asmadi. (2008). Teknik Prosedural Keperawatan; Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika
Berman, A., Snyder, S.J., Kozier, B., Erb, G. (2008). Kozier & Erb’s Fundamental
Of Nursing: Concepts, Proses and Practice. Eight Edition. New Jersey: Pearson Education.
Brunner & Suddarth (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta.
___________.(2012). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta: EGC
Budiarto & Anggraeni. 2002. Pengantar Epidemiologi, Edisi 2. Jakarta: EGC.
Canisti, Riseligna. ( 2008). Gambaran kecemasan dan Depresi pada Penderita Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Terapi Hemodialisa.
Charuwanno, R (2005). Meaning Of Quality Of Life Among Thai Esrd Patients On Maintenance Hemodialysis. Washington, D.C : The Catholic University Of Amerika
Chanafie. (2010). Mengatasi Dampak Psikologis Pasien Gagal Ginjal. Diakses tanggal 15 maret 2016. www.ikcc.or.id
Darmojo dan Martono. (2006). Geriatri. Jakarta : Yudistira.
Depkes DIY. (2013). Profil Kesehatan Provinsi DIY Tahun 2012. Yogyakarta:Dinkes DIY
Dinkes Bantul, (2013). Profil Kesehatan Kabupaten Bantul Tahun 2012. Dinas kesehatan bantul
Fitriani, (2010). Jurnal Hubungan Pendidikan Ilmiah Volume Ii1 No. 2 . Jakarta.
Fitriani, E. (2008). Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Menopause Dengan Mekaisme Koping Pada Wanita Menpause Di Dusun Taskombang Wilayah Kerja Puskesmas Bantul. [Skripsi]. Yogyakarta : Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
Folkman, S., dan Lazarus, R.S. (2008). Stress Appraisal and Coping. New York: Springer
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
Haven. (2005). Hemodialisis: Bila Ginjal Tak Lagi Berfungsi. www.wartamedika.com, diperoleh tanggal 20 februari 2016
Hidayat, AAA. (2007). Metode Penelitian Keperawatan& Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika
Jess, F & Gregory J.F. (2009). Teori Kepribadian. Jakrata: Salemba Humanika Keliat. (2011). Penatalaksanan Stress. Jakarta: EGC
Kusumadewi, S. (2007). Hubungan Antara Dukungan Sosial Dan Strategi Koping Pada Pasien Fraktur Pasca Gempa Di Kecamatan Jetis Bantul Yogyakarta. [Skripsi]. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Lase, W. N. (2011). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisa di RSUP Haji Adam Malik Medan. Skripsi Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
Lestariningsih, (2012). Pelayanan Hemodialisis dan Perkembangan di Indonesia. Simposium Nasional Peningkatan Pelayanan Penyakit Ginjal Kronik Masa Kini dan Indonesian Renal Registry Joglosemar 2012. 18 Februari 2012. PERNEFRI: 5-13.
Nasir, A., Muhith, A. (2011). Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika
Nasir, A., Muhith, A., & Ideputri, M.E. (2011). Buku Ajar: Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta Novalia, B.E. (2011). Koping Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Terapi
Hemodialisa Di RSUP Haji Adam Malik Medan. [Skripsi]. Medan: Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
Novicki, Donald. (2007). Hemodialysis for Kidney Failure : Is it Right for You? http://www.mayoclinic.com/health/hemodialisis.htm. Diperoleh 15 Maret
2016
Nurchayati, Sofiana. (2011). Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Di Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap Dan Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas. Depok: FIK UI
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
Nursalam, Kurniawati D.N (2007). Asuhan Keperawatan Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Salemba Medika: Jakarta
Paputungan, R., Yusuf, K.Z., dan Salamanja, V. (2015). Hubungan Lama Menjalani hemodialisa Dengan Stress Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Ejournal keperawatan (e-kp) volume 1. No. 1 Maret 2015
Rasmun. (2004). Stres, Koping, dan Adaptasi. Jakarta: CV. Sagung Seto.
Rizky.A.A.R., Rudiansyah M., dan Triawanti (2013). Hubungan Antara Adekuasi Hemodialisis Dan Kualitas Hidup Pasien Di RSUD Ulin Banjarmasin: Tinjauan Terhadap Pasien Penyakit Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis Rutin, Berkala Kedokteran Vol.9 No.2 September 2013. Roesli, Rully M.A. (2006). Terapi Pengganti Ginjal Berkesinambungan. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I, Edisi IV. Jakarta. Pusat Penelitian Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal: 596-599
Romani, K.N., Hendarsih, S., dan Asmarani, L.F. (2012). Hubungan Mekanisme Koping Individu Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronis di Unit Hemodialisa RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Ejournal keperawatan (e-kp) volume 1. No. 1 September 2012
Sahara H. 2010. Koping Lansia terhadap Penyakit Kronis di Kelurahan Kedai
Durian Kecamatan Medan Johor Medan. [Skripsi]. Medan: Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24806/4/Chapter%20II.pdf Simatupang, Toga.A. (2006). Gangguan Kardiovaskuler Pada Penderita Penyakit
Ginjal.http://www.apotik2000.net, diperoleh tanggal 18 Maret 2016
Situmorang, D.Dr.KGH. (2007). Makalah Kursus Pelatihan Intensif Ginjal Di Rumah Sakit PGI Cikini.Jakarta
Smeltzer & Bare (2008). Textbook Of Medical Surgical Nursing Vol. 2. Philadelphia Linppicont William & Wiilkins.
__________.(2007). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Alih bahasa: dr. H. Y. Kuncara. Jakarata: EGC
__________.(2005). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart. Edisi 8. Alih bahasa agung waluyo dkk. Jakarta: EGC.
__________.(2007). Brunner & Suddarth’s Textbook Of Medical Surgicalnursing (12th edition ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
Stuart dan Laraia. (2006). Prinsip dan Praktek Keperawatan Psikiatri. Edisi 8. St. Louis: Mosby Book INC
Stuart, G.W, & Sundeen, S.J. (2007). Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 5. Jakarta; EGC
Stuart, G.W. (2006). Keperawatan Jiwa, Edisi ke 5. Jakarta: EGC
__________.(2009). Principles And Practice Of Psychiatric Nursing 9th Edition. Canada: Mosby Elsevier
__________.(2012). Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi Revisi. Jakarta: EGC Sugiyono. (2014). MetodePenelitianPendidikan (Pendekatankuantitatif,
Kualitatif, dan R&D), Alfabeta: Bandung
Suharyanto, Toto dan AbdulMadjid. (2009). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta: Trans Info Media.Jakarta Suliswati., Payapo, T.A., Maruhawa, J., Sianturi, Y., & Sumijatun. (2005).
Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC
Sulistini R., Yetti K., Haryati T.S., (2012). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Fatigue Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis. Jurnal Keperawatan Indonesia, volume 15, no 2. Juli 2012.
Supriyadi, Wagiyo & Sekar, (2011). Tingkat Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik Terapi Hemodialisa. Journal kesehatan masyarakat
Suwitra, Ketut.(2006).Penyakit Ginjal Kronik, Dalam Aru W. Sudoyo et al., Buku AjarIlmu Penyakit Dalam. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Swartzendrubber, Donna; Smith, Lyle; Peacock, Eileen; McDillon, Debra. 2008. Hemodialysis Procedures And Complication.
Taluta, Yanes, P., Mulyadi., dan Hamel, Rivelino, S. (2014). Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Mekanisme Koping Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe II Di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Tobelo Kabupaten Halmahera. Ejournal keperawatan (e-kp) volume 2. No 1 Februari 2014
Verelli, M. (2005). Chronic Renal Failure. Available from: http://www.eMedicine.com. Diakses tanggal 20 Agustus 2016
Wagner, L.N. (2008). Urbanization : 21St century issues and challenges. New York : Nova Science Publisher
STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA
PERPUSTAKAAN
Wurara, Yemima, G.V., Kanine, Esrom., dan Wowiling, Ferdinand. (2013). Mekanisme Koping Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Yang Menjalani Terapi Hemodialisis di Rumah Sakit Prof. Dr. R.d Kandou Manado. Ejournal keperawatan (e-kp) volume 1. No. 1 Agustus 2013
Zuyana L dan Adriani (2013). Perbedaan Asupan Makanan Dan Status Gizi Antara Pasien Hemodialisis Adekuat Dan Inadekuat Penyakit Ginjal Kronik. Media Gizi Indonesia Volume 9. No. 1 Januari-Juni 2013