PUISI ESAI: PENULISAN BARU PUISI DI INDONESIA DAN AKURAT SEBAGAI DOKUMEN SOSIAL BUDAYA
Oleh Pertampilan S. Brahmana
1.Kelahiran Puisi Esai
Puisi esai ini dipelopori oleh Deni JA. Latarbelakangnya ilmu sosial bukan ilmu humaniora. Puisi esai mulai diperkenal tahun 2012 dengan terbitnya kumpulan Puisi Esai
Atas Nama Cinta karya Denny JA
Buku berjudul ‘Atas Nama Cinta’ : Sebuah Puisi Esai, memiliki keterangan pada cover: Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta yang Menggetarkan Hati, terbit pada Maret 2012. Buku ‘Atas Nama Cinta’ ini memuat 5 puisi esai bertemakan cinta. Kisah cinta yang dituturkan ini bukan cinta yang berdiri sendiri melainkan bertali-temali dengan kompleksitas persoalan sosial. Di sana ada isu perbedaan agama (Bunga Kering Perpisahan), isu rasial (Sapu Tangan Fang Yin), orientasi seksual (Cinta Terlarang Bantam dan Robin), kekerasan gender (Minah Tetap Dipancung), dan pertentangan sekte agama (Romi dan Yuli dari Cikeusik). Disajikan sedemikian rupa dengan pesan-pesan moral yang dikemas apik dengan bahasa puisi, kelima isu tersebut dibingkai dalam tema besar: masalah diskriminasi. (http://dennyjaworld.com/denny-ja/profil/827)
2.Pengertian Puisi Esai
Menurut Deni JA Puisi esai adalah puisi yang ditulis berdasarkan fakta peristiwa tertentu dan dituangkan dalam bahasa komunikasi yang mudah dipahami.[i]) Puisi esai membedakan dirinya dengan puisi lirik yang memang lebih sering ditulis berdasarkan imajinasi, dan kerap menggunakan bahasa simbolik atau metafor-metafor yang sulit dipahami. Walaupun diangkat dari peristiwa faktual, puisi esai tetaplah fiksi (http://dennyjaworld.com/polemik-diskusi/read/16).
Lebih lanjut dikemukakan Deni jika dalam puisi lirik peristiwa seperti tenggelamnya matahari atau jatuhnya hujan digambarkan sebagai semata-mata peristiwa puitik, maka dalam puisi esai peristiwa yang diangkat adalah peristiwa yang memiliki dimensi sosial dalam ruang dan waktu tertentu. Untuk memahami dengan benar dimensi sosial dari suatu peristiwa seorang penulis puisi esai melakukan riset yang mendalam. Ia membutuhkan referensi untuk memperkuat fakta, menyajikan data, atau memperjelas duduk persoalan. Karena itu puisi esai dilengkapi catatan kaki untuk menegaskan (http://dennyjaworld.com/polemik-diskusi/read/16.
Maka
1. Puisi esai ditulis berdasarkan faktual
2. Ditulis dalam bahasa komunikasi yang mudah dipahami, seperti membaca esai
3. Puisi esai bukan seperti puisi lirik yang sering ditulis berdasarkan imajinasi, dan kerap menggunakan bahasa simbolik atau metafor-metafor yang sulit dipahami
4. Dalam puisi esai peristiwa yang diangkat adalah peristiwa yang memiliki dimensi sosial dalam ruang dan waktu tertentu.
5. Puisi esai panjang-panjang seperti esai bisa lebih empat halaman bahkan biusa lebih sepuluh halaman sesuai data dokumen sosial budaya yang hendak diungkapkan
▸ Baca selengkapnya: contoh puisi hatarakibachi
(2)7. Puisi esai dapat dijadikan referensi tentang sosial budaya tentang kemasyarakatan secara faktual. Se;ama inj referensi tentang sosial budaya tentang kemasyarakatan secara fakta saja, tidak ada rujukannya.
3. Kekuataan Puisi Esai
3.1 Pengucapan Baru Puisi di Indonesia
Dibandingkan dengan Gurindam, Pantun, Syair, Soneta, Bentuk Bebas, Bentuk Balada (Puisi Liris), Bermain-Main Dengan Tipografi, Mantera Baru, Puisi Konkrit, Puisi Mbeling dengan cirinya masing-masing, puisi esai juga merupakan model pengucapan baru dalam dunia perpuisian di Indonesia. Selama ini belum ada puisi dengan menggunakan catatan kaki secara sistematis.
Puisi WS Rendra misalnya dalam kunpulan Nyanyian Angsa dapat juga dikategorikan penuh sebagai dokumen budaya namun tidak disertai dengan catatan kaki dan ditulis bukan dalam bentuk bahasa esai, kuat dengan gaya bahasa konotatif. Puisi-puisi esai Deni JA dituliss dengan menggunakan bahasa esai kuat dengan gaya bahasa denotatif.
3.2 Kuat Sebagai Dokumentasi Sosial Budaya
Dibandingkan dengan puisi-puisi Indonesia yang sudah ada, puisi esai ini sangat kuat sebagai dokumen sosial budaya yang faktual. Realitas yang dikisahkannya merujuk kepada hal-hal yang faktual dalam masyarakat yang bisa dibaca ditempat lain. Puisi esai bukan fakta namun faktual.
3.3 Memfiksikan Realitas bukan Merealitaskan Fiksi
Karya-karya puisi yang ditulis sebelun puisi esai ada adalah karya-karya puisi yang merealitaskan fiksi. Fiksi yang direalitaskan, Puisi esai adalah sebaliknyas realitass difiksikan Seorang penulis puisi esai sebelum menuliskan puisinya dia melakukan riset yang mendalam tentang tema yang akan ditulisnya, karena itu puisi esai dilengkapi catatan kaki untuk menegaskan. Ini berarti puisi esai berdasarkan realitas (faktual) ini artinya untuk mencapai efek estetisnya puisi esai memfiksikan realitas. Beda dengan puisi non esai yang merealitaskan fiksi.
4.Simpulan
Puisi esai adalah satu bentuk baru penulisan puisi di Indonesia, puisi yang ditulis berdasarkan peristiwa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, maka puisi esai kuat sebagai dokumen sosial budaya. Puisi esai ditulis dengan menggunakan bahasa komunikasi yang mudah dipahami. Puisi esai sangat kuat dengan bahasa denotatif
Referensi
Apa Itu Puisi Esai ? http://dennyjaworld.com/polemik-diskusi/read/16
▸ Baca selengkapnya: tipografi puisi padamu jua
(3)Contoh Puisi Esai’
MINAH TETAP DIPANCUNG
Aku genggam tasbih itu Selalu.
Basah kuyub tasbih itu Oleh air mataku Selalu.
Tangan dan bibirku gemetar Menciuminya
Selalu.
Ampun ya Allah, Ampun, Aku hanya membela diri Tak ada niatku membunuh Bantu aku ya Allah. Apakah ini dzikirku Yang terakhir?
Berguncang-guncang dadaku. Berdesakan dalam benakku: Bayangan suamiku
Bayangan si kecil, Anakku.
Ampun ya Allah, beribu ampun. Tak henti-hentinya kusebut Ahmad, suamiku
Aisah, anakku
Berulang-ulang kusebut Asma Allah.
Aminah namaku,
Minah panggilanku, TKW asal Indonesia Kerja di Saudi Arabia
Sebagai pembantu rumah tangga. Kini aku sudah mati
Algojo memenggal leherku Karena telah membunuh majikan Yang berulang kali memperkosaku Dan menyiksa jiwaku.
Dzikir itu kulakukan semalaman Berharap masih ada mukjizat Yang bisa menyelamatkanku; Aku masih ingin hidup! Namun, hukum dunia
Lebih kejam dari yang kuduga. Kemarin aku mati
Mengintip bulan redup di langit Cirebon Kota kelahiran yang tak lagi beri harapan. Malam itu aku di samping suami tercinta Menyusun rencana.
Sudah sekian lama suamiku nganggur Anak perempuanku, delapan tahun, Belum juga ia bersekolah
Aku belum bisa bayar uang iurannya. Itulah awal tekadku bekerja ke Arab Saudi. Kuyakinkan Suami ijinkan aku pergi, Hidup perlu biaya.
Di depan cermin
Kuperhatikan rupa dan tubuhku –
Aku pantas hidup lebih baik.
Tekadku tak terbendung Harapanku melambung
Membubung dibawa angin gurun: Menjadi TKW aku!
Banyak temanku berhasil Kerja di negeri itu,
Berkirim uang ke kampung Renovasi rumah orang tua. Meniru orang kaya Jakarta. Ingin aku seperti mereka
Satu di antara sekian juta perempuan Yang bekerja di negeri asing
Menjadi apa saja.1
Suamiku tak lagi bisa mencegah. Bapakku menggadaikan sawah (Yang nanti harus kutebus kembali) Untuk calo
Untuk pelatihan Untuk cek kesehatan
Untuk persekot pembekalan akhir Untuk asuransi –
Empat juta rupiah Melayang sudah Dari tanganku.
Perusahaan tenaga kerja meyakinkan kami,
Uang sebegitu tiada arti Dibanding gaji besar nanti.2
1
Setiap bulan ada 60.000 TKI yang berangkat ke luar negeri, atau rata-rata per hari 2000 TKI. Mereka bekerja di berbagai negara: Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Hongkong, Taiwan, Kuwait, Yordania, Arab Saudi, Suriah, Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, dan Bahrain. Sumber: www.bnp2tki.go.id/berita-mainmenu-231/2296-jumhur-sertifikasi-kompetensi-instrumen-lindungi-tki-plrt.html.
2
Aku protes dan bertanya,
Kamu korupsi, ya?
Kamu memoroti kami, ya?
Agen itu menjawab,
Barangkali Babe di atas sana yang korupsi, Bu. Kita mah hanya cari seseran ala kadarnya Buat tambahan istri belanja.
Ya, sudahlah, uangku telah raib entah ke mana – Tapi aku bangga karena mereka
Menyebutku pahlawan devisa Berjasa bagi negara.3
Akhir tahun 2010
Aku dan rombongan berangkat ke luar negeri Dengan tujuan Arab Saudi
Negeri tempat orang berhaji.4
Tak ada seorang teman pun yang menjemputku Ketika sampai di negeri asing itu
Padahal mereka sudah tiba lebih dahulu. Kakiku ragu ketika melangkah
Masuk ke sebuah rumah. Sepi.
Berkelebat wajah-wajah yang kusayangi: Anakku,
Suamiku, Orang tuaku;
Sekejap teringat sepetak sawah Yang harus kubeli lagi nanti Yang sudah digadaikan bapakku. Air mataku pun menetes
Tapi buru-buru kuhapus Saat tuan rumah menyambutku Dengan dingin.
Aku kerja di keluarga Arab yang kaya-raya Rumahnya 20 kali lebih luas
Dari rumah orang tuaku; Toiletnya bagus
Lebih bagus dibanding ruang tamu kepala desa. Majikan perempuan
Menunjukkan kamar tidurku,
3
Para tenaga kerja Indonesia di luar negeri memang sering disebut pahlawan devisa, karena menyumbang banyak sekali devisa kepada negara. Bank Indonesia mencatat jumlah total remitansi TKI sepanjang 2010 yaitu US$ 6,73 miliar. Pengiriman uang dari TKI selama kuartal pertama tahun 2011 mencapai US$1,6 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. Sumber: http://www.neraca.co.id/2011/06/23/
moratorium-tki-berdampak-luas-ke-daerah/.
4
Sepanjang tahun 2010 Indonesia mengirimkan 570.285 orang TKI ke seluruh dunia. Dari jumlah tersebut sekitar 60% berangkat ke Arab Saudi (sebanyak 228.890 orang) dan Malaysia (sebanyak 115.624 orang). Sumber: http://fokus.vivanews.com/news/read/
Besar, bersih;
Jendela menghadap halaman belakang. Rumah itu dikelilingi pagar terali Yang kokoh dan tinggi.
Belum sempat aku merebahkan diri Untuk melepas lelah
Majikan perempuan memanggilku; Didiktekannya daftar panjang tugasku: Memasak, mencuci, menyetrika, Dan membereskan seluruh rumah. Alhamdulilah!
Masakanku disukai dan dipuji, Maklum aku perempuan kampung Biasa menghabiskan waktu di dapur.
Hari-hariku bermekaran, seperti dalam mimpi Seperti bunga-bunga pagar
Yang tak pernah terlewat kusirami.
Di halaman rumah itu selalu tumbuh keinginanku Menyulap waktu agar cepat berlalu –
Terbayang olehku: uang yang nanti kudapat Dari kucuran keringatku sendiri
Akan kukirim kepada Suami Untuk menyambung hidup Untuk menyekolahkan Anak.
Guru ngajiku di pesantren dulu mengajarkan Agar aku bersikap sopan
Tahu tata cara dan bertutur kata. Aku suka tersenyum –
Tapi celaka, majikan pria Keliru mengartikannya Dikiranya aku penggoda. Mana mungkin aku berani? Dan lagi, ha-ha-ha,
Suamiku lebih ganteng darinya.
Aku tidak paham budaya, terus terang saja, Bagiku orang Arab dan Indonesia sama saja Kan sama-sama Islam agamanya,
Dan menurut guru ngajiku
Senyum sama dengan sedekah nilainya. Ketika majikan perempuan tidur lelap Majikan pria mendekatiku
Rupanya ia berusaha merayuku; Aku hanya bisa senyum
Tapi mulai merasa takut Tak berani menatap matanya. Dengan cepat zaman berubah.
Berulang kupanggil suamiku Dalam hati.
Ahmad, ketika kita dekat Aku menjauh cari rejeki Ketika kita jauh
Aku ingin berada di sisimu. Tiba-tiba aku takut, Ahmad. Dan anakku yang mungil itu, Yang suka minta uang jajan? Tak terukur rinduku
Dan kupanggil Aisah buah hatiku,
Anakku Aisah, maafkan ibu Tak bisa setiap hari menyuapimu. Dulu ibu kira kalau kerja di negeri jauh Akan membawa kebahagiaan bagimu, Akan bisa menyekolahkanmu.
Tapi kini, wahai, Ibu merasa hampa dan jemu. Mengumpulkan harta – itu tujuanku.
Tapi belum ada yang bisa dikirim sekarang. Aku tak tahu bagaimana rasanya
Menerima gaji pertama – tapi kapan? Tidak ada perjanjian.
Burung yang terkurung di sangkar emas Masih tetap bisa bernyanyi
Tapi di rumah yang megah ini Mulutku malah terkunci,
Tak ada siapa-siapa untuk berbagi cerita Karena tak boleh keluar rumah.5
Hari dan tanggal tak lagi kutahu
Bekerja dan bekerja saja, terus-menerus menunggu, Tak ada yang pasti bagiku.
Selepas pagi
Pekerjaan rutin telah selesai
Tinggal beberapa potong pakaian yang harus kusetrika; Aku ingin salat Dhuha dulu.
Hari itu rumah sepi, majikan pria pergi bekerja, Majikan perempuan entah ke mana.
Baru saja menggelar sajadah Kudengar pintu pagar dibuka – Majikan pria melangkah masuk. Matanya nyalang menatapku:
5
Para TKW di Arab Saudi tidak diizinkan ke luar rumah, berbeda dengan TKW yang bekerja di Hongkong, Korea, atau Taiwan, yang setiap akhir pekan bisa menikmati indahnya taman kota, berjalan-jalan di pusat-pusat perbelanjaan, atau bertemu dan mengobrol dengan teman-temannya sesama TKW. Sumber:
http://www.duniatki.com/
aturan_kerja_di_luar_negeri-informasi3_tki_duniatki-2. html; lihat juga sebagai perbandingan, http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/06/03/
Kuduga ia membayangkan Apa yang ada di balik sarungku. Ia bergerak mendekat
Memegang punggungku Lalu meremas payudaraku.
Jangan, Tuan!
Aku berontak Kuterjang ia – Tapi ia perkasa
Menarik sarungku dengan paksa. Ia tampaknya sudah gelap mata. Aku berteriak sekuat-kuatnya Kudorong tubuhnya
Sampai membentur dinding. Tapi lelaki itu kembali mendekat
Menyebut beberapa patah kata bahasa Arab Yang tak kupahami artinya.
Begitu sigap tindakannya
Seakan apa yang hendak dilakukannya Tidak menyalahi aturan agama.
Aku terkesima Aku tercampak Aku terhina!
Aku ludahi mukanya,
Aku bukan budak Aku bekerja di sini Tidak untuk diperkosa.
Ia tak paham bahasa Indonesia
Dan aku juga tak bisa mengatakan apa pun Dalam bahasanya.
Ia terus mendekat, Aku kembali berteriak Aku mengancamnya
Tapi semua itu lenyap begitu saja Menguap di udara.
Aku melawan sampai kehabisan nafas Sampai tenagaku habis terkuras – Tak berdaya,
Aku kalah.
Tinggal tangis yang masih tersisa. Usai menunaikan nafsu bejatnya Ia lemparkan
Beberapa helai uang real. Aku tak lagi punya tenaga. Sekali terjadi,
Terulang dua kali, Tiga kali,
Berkali-kali!
(Sebagai ibu muda yang lugu dari desa
Minah tak mengerti pernah ada sebuah zaman Ketika budak boleh diperkosa majikan
Kebiasaan itu masih dipercayai oleh banyak orang Di zaman Facebook dan Twitter sekalipun
Ia tak pernah membayangkan itu terjadi padanya) Di dalam kamarku
Kalau tengah malam tiba Aku lihat kotak itu: Begitu banyak sudah real Yang diberikannya
Setiap selesai memperkosaku. Pernah aku tergoda
Untuk mengambil uang itu Kukirim ke kampung halaman – Keluargaku sudah lama menunggu itu Sedangkan gaji tak kunjung dibayar. Terbayang sepetak sawah
Yang bisa kutebus kembali dengan uang itu. Terbayang sekolah dasar
Terbayang anakku Aisah berlarian dan berlajar. Tapi kudengar lantang suara hatiku,
Jangan kaubohongi suamimu Jangan kausekolahkan anakmu Dengan uang si bejat itu!
Aku teringat dulu di pesantren Guru ngaji mengajarkan Agar patuh Suami
Agar berjuang mencari rejeki. Aku pun melancarkan protes, Kutegakkan kepala,
Gusti Allah,
Sudah kulakukan semua ajaran baik Tapi mengapa tetap saja kena celaka? Kau berjanji melindungi
Kaum tertindas, kaum yang lemah – Aku ini lemah,
Sangat lemah.
Tak kutahu kenapa mulanya Aku jadi sangat marah; Aku teriak sangat keras Dalam hati.
Ya, Gusti Allah
Kenapa begini jadinya? Ampun, ya Allah.
Dan uang di kotak itu pun Aku sobek
Tertahan.
Kubayangkan diriku sudah jadi gila! Lama aku terbaring.
Mendadak kurasakan niat suci Untuk memberontak.
Aku harus melawan
Apa pun yang akan terjadi. Aku mencari jalan,
Mengadu kepada majikan perempuan Berharap mendapatkan perlindungan. Namun, bukan pembelaan yang kudapat Malah penyiksaan berlipat-lipat.
Aku dituduh menggoda suaminya dengan senyumku. Dan aku pun disiksa:
Tubuhku dicambuk Rambutku dijambak Pahaku diseterika. Aku menjerit
Tapi jeritan-tangisku sia-sia Wakil Indonesia di Arab sana6 Bekerja seperti biasa.
(Sebagai ibu muda yang lugu dari desa
Minah tak mengerti bahwa tak semua TKW berperilaku baik Ada juga yang sengaja menjadi pelacur
Dan merepotkan ibu rumah tangga dan polisi di sana) Betapa sering aku ingin melarikan diri
Tapi takut tertangkap polisi.7 Pasporku pun dipegang majikan.8 Pernah terpikir aku melompat saja
6
Siksaan seperti yang dialami Aminah telah menjadi cerita umum di kalangan para TKW. Sepanjang tahun 2010, sebanyak 1.075 TKW Indonesia disiksa majikannya. Tak jarang, penyiksaan tersebut berujung kematian. Migrant Care mencatat dari tahun 2007 hingga 2011 ada 10 orang TKW di berbagai negara yang meninggal karena disiksa majikannya. Mereka yang meninggal karena kekerasan oleh majikannya ini ialah: (1). Kurniasih TKW asal Pati Jawa Tengah, meninggal karena disiksa di Malaysia tahun 2007; majikan bebas. (2) Animah binti Jari, TKW asal Banten, meninggal karena disiksa di Kuwait tahun 2007 (3). Siti Tarwiyah, TKW asal Ngawi, meninggal karena disiksa di Arab Saudi, Agustus 2009. Kasus hukum berhenti karena kompensasi (4). Susmiyati, TKW asal Pati, meninggal karena disiksa di Arab
7
Para TKW yang mengalami nasib seperti Aminah biasanya melarikan diri, tapi itu sangat beresiko. Hal ini pernah dialami Rusniah binti Azis, TKW asal Karawang, Jawa Barat, yang menjadi pembantu rumah tangga di rumah keluarga Abdullah Muhammad Al-Sah, di Arab Saudi. Rusniah tewas terjatuh dari lantai tujuh ketika berusaha kabur dari rumah majikannya pada 17 Mei 2011. Maskendi binti Kulin, TKW asal Sumbawa Besar, NTB, juga pernah kabur dari majikannya di Arab Saudi pada Juli 2009 karena tak tahan dengan siksaan kedua majikannya. Selama 2 tahun 6 bulan ia belum digaji sama sekali. Kondisinya memprihatinkan, ada luka bakar di tangan, muka, dan punggung. Mukanya cacat karena dipukul dengan gayung sayur yang panas sehingga kulit terbakar; giginya rontok disabet selang air. Sumber: http://www.metrotvnews.com/read/news/
2011/06/25/55843/TKW-Asal-Karawang-Tewas-Terjatuh-dari-Lantai-7-Rumah-Majikan.
8
Dalam MoU yang ditandatangani dengan majikan tidak disebutkan bahwa paspor tetap akan dipegang Aminah. Pejabat-pejabat kita yang berwenang tidak memikirkan soal ini, yang berdampaknya sangat besar pada orang-orang yang bernasib seperti Aminah. Akibatnya, apapun masalah yang dia alami di rumah itu tidak akan bisa mengadu kepada siapapun di luar rumah. Sumber: http://www.republika.co.id/berita/nasional/
Dari jendela lantai tiga – Tapi setelah itu ke mana?
Ya Gusti,
Kenapa Kau-tinggalkan aku sendiri Terkapar antara hidup dan mati?
Suatu malam kejadian itu kembali terulang. Majikan menyelinap
Masuk kamar;
Kini aku harus melawan Lebih dari biasanya.
Tak kuduga ia mengambil pisau Komat-kamit bicara
Aku tak paham maknanya. Secepat kilat ia kuasai diriku. Astaga! Dijepitnya leherku Dibekapnya mulutku – Aku tak bisa bernafas. Entah dengan kekuatan apa Aku sebut nama Allah, Aku rebut pisau itu
Kutancapkan tepat di perutnya. Aku selamat dari sergapan Tapi malam itu pula sirna sudah Semua impian.
Ia terkapar, tak bernyawa.
Ya Allah…
Hanya itu yang terucap.
Aku hanya mempertahankan diri Tapi ada yang mati.
(Sebagai ibu muda yang lugu dari desa Minah tak mengerti walau membela diri Jika majikan mati di tangannya
Ia juga bisa mati – dipancung) Harus kuhadapi pengadilan, Tanpa perlindungan;
Hukum yang berlaku di negeri Arab Nyawa berbayar nyawa.9
Pemerintah memberikan tanggapan Tapi untuk kasusku,
Itu sudah ketinggalan kereta. Upaya hukum telat
9
Upaya diplomasi politik tak dirintis dari awal Dan tidak ada pembelaan di pengadilan – Ya, ya, harus aku jalani
Hukuman pancung.
Ya, ya, aku harus dipancung! Seorang pengacara dikirim Untuk membantuku, Aku dengar cerita
Rakyat Indonesia membelaku.
Bagaimanapun, aku pahlawan devisa. Pak Menteri panjang lebar pidato Akan berjuang membebaskanku Tapi semuanya terlambat sudah. Aku terus melawan walau sendiri Dengan segala cara.
Kepada pengacara kutuliskan Urutan peristiwaku
Dalam membela kehormatan
Yang oleh hukum dunia disebut pembunuhan. Aku mohon itu disiarkan seluas-luasnya. Aku ikhlas mati tapi memberi makna Aku ikhlas mati tapi mempunyai arti. Selebihnya, aku pasrah;
Aku hanya mohon bisa bertemu anakku Aisah Untuk terakhir kali.
Ingin kutanyakan ikhwal sekolahnya – Tapi permintaan itu pun susah dipenuhi. Aku hanya bisa titipkan surat
Salam untuk suamiku
Dan pesan khusus agar kelak Anakku satu-satunya
Tidak menjadi TKW sebelum ada perlindungan hukum. (Sebagai ibu muda yang lugu dari desa
Minah tak mengerti TKW sudah jadi industri Pengiriman TKW tak bisa distop
Jika tak ingin pengangguran merajalela) Aku sudah tiada
Tetapi masih teringat malam Sebelum kepala
Dipisahkan dari tubuhku.
Di malam terakhir itu aku teringat sawah di kampung. Aku, suami, dan anakku bersantap di saung,
Aisah, kata suami kepada anakku, Ibumu akan ke Saudi,
Bekerja di sana;
Nanti Ibu akan pulang membawa rejeki Dan kita akan membeli sawah ini
Sejak dulu ia senang Duduk di saung. Di malam terakhir Aku terus berdzikir Kuharapkan ada mukjizat Menyelamatkan diriku. Bayangan suami dan anakku Berseliweran dalam benakku Mengaduk-aduk perasaanku.
Ampun ya Allah Siapkan hatiku Ampun ya Allah Siapkan jiwaku.
Terus aku berdzikir
Hingga tak ingat apa-apa lagi. Dalam dzikirku malam terakhir itu Terbayang suamiku datang ke kamarku Dan dibisikkannya,
Aminah, betapa bangga aku padamu: Kau berjuang untuk keluarga
Membela kehormatan diri. Guru ngaji di pesantren Tak akan menyalahkanmu. Meski besok dipancung Kau tetap hidup di hatiku Dan di hati Aisah, anak kita itu.
Coba kupeluk bayangan suamiku Bayangan anakku
Hangat terasa – aku tersenyum Dan itu senyumku yang terakhir.
***