• Tidak ada hasil yang ditemukan

Term Of Reference Kajian Koperasi Berbas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Term Of Reference Kajian Koperasi Berbas"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 | 1 7 c r e a t e d b y F A S T S p i r i t I n t e r n a t i o n a l / 2 0 1 4 Term Of Reference

KAJIAN PENGEMBANGAN KOPERASI BERBASIS PERTANIAN

DALAM RANGKA MENDUKUNG AKSELERASIPENINGKATAN DAYA

SAING DAERAH

Abstrak

Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisa potensi koperasi pertanian di Aceh dalam rangka mendukung akselerasi peningkatan daya saing daerah. Kajian ini akan menyajikan tiga hal utama yaitu pertama: peran koperasi dalam pengembangan komoditas unggulan daerah; kedua identifikasi profil dan potensi koperasi yang dapat dikembangkan dalam upaya mengembangkan potensi daerah; dan ketiga lahirnya sebuah rencana induk pengembangan koperasi pertanian dalam mendukung akselerasi peningkatan daya daing daerah.

Komoditi unggulan sektor sektor pertanian dalam hal ini ditetapkan tiga komoditi, yaitu kopi, Padi, dan Kakao. Ketiga komoditi ini dipilih karena merupakan sektor pertanian unggulan di daerahnya masing-masing dan juga merupakan komoditi unggulan Provinsi Aceh yang banyak menyerap tenaga kerja lokal.

Data yang digunakan meliputi data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner, focus group discussion, wawancara dengan stakeholders, antara lain :pemerintah daerah, Dewan Koperasi Indonesia di masing-masing daerah, asosiasi koperasi (koperasi sekunder), lembaga keuangan, asosiasi usaha, sektor swasta mitra usaha koperasi dan seterusnya. Sedangkan observasi langsung ke lapangan juga dilakukan untuk mengetahui proses operasional koperasi dan tanggapan anggota dan atau masyarakat guna menjaring informasi yang sedetailnya.Sedangkan data sekunder yang digunakan adalah dokumen-dokumen terkait kebijakan di tnigkat pusat dan daerah, data statistik, dan literatur yang relevan.

(2)

2 | 1 7 c r e a t e d b y F A S T S p i r i t I n t e r n a t i o n a l / 2 0 1 4 1. Latar Belakang

Tuntutan perkembangan globalisasi dan otonomi daerah membawa sebuah konsekuensi logis bahwa tingkat persaingan semakin tajam, baik di tingkat regional, nasional, dan internasional. Setiap daerah dituntut lebih meningkatkan potensi-potensi yang dimilikinya dalam rangka peningkatan perekonomian dan daya saing daerah tersebut.Koperasi sebagai sebuah sistem dan badan usaha tentu diharapkan dapat menjadi aktor penting dalam upaya peningkatan perekonomian dan daya saing tersebut. Di banyak negara maju koperasi telah membuktikan perannya yang sangat besar bagi pendapatan negara dan kemajuan masyarakatnya.

Sebagaimana kita pahami bersama, dalam kajian pembangunan kawasan, konteks keunggulan, keunikan dan perbedaan dengan daerah lain sangat penting untuk diperhatikan. Karena dengan memperhatikan konteks ke-lokal-an tersebut dapat dibangun sebuah kekuatan daerah yang berbasis pada potensi yang dimilikinya, sehingga keunggulan komparatif dan keunggulan daya saing akan muncul.

Konsep pembangunan koperasi sebenarnya selaras dengan konsep pembangunan inward looking, sebuah konsep pembangunan wilayah yang mengacu pada kondisi wilayah itu sendiri. Sebagai Common issue-nya, wilayah tersebut harus menetapkan watak pembangunan yang dipilihnya dalam rangka menyejahterakan warganya. Semua potensi yang dimiliki oleh daerah akan diarahkan kepada tujuan tersebut.

Pembangunan ekonomi yang hanya mengejar pertumbuhan tinggi dengan bertumpu pada keunggulan komparatif berupa kekayaan alam yang berlimpah, upah tenaga kerja murah, dan letak geografis yang strategis sepertinya kedepan sulit dipertahankan lagi.Kedepan, faktor penentu daya saing tidak hanya diperoleh dari murahnya biaya tenaga kerja dan tingginya potensi alam, tetapi harus pula diperoleh dari kemampuan untuk melakukan perbaikan dan inovasi secara berkesinambungan.

Porter (1990) menyatakan bahwa faktor keunggulan komparatif telah dikalahkan oleh kemajuan teknologi. Namun demikian, setiap wilayah masih mempunyai faktor keunggulan khusus yang bukan didasarkan pada biaya produksi yang murah saja, tetapi lebih dari itu, yaitu adanya inovasi (innovation).

Aceh memiliki sumber daya alam yang tidak cukup untuk menjaga sustainability pembangunan, sehingga paradigma baru pembangunan yang diterjemahkan sebagai pembangunan wilayah yang mengarah pada pembentukan keunggulan daya saing perlu terus digali dan tentunya fokus untuk diimplementasikan.

(3)

3 | 1 7 c r e a t e d b y F A S T S p i r i t I n t e r n a t i o n a l / 2 0 1 4 Atas dasar hal tersebut, maka perlu dilakukan kajian mendalam untuk menggali

potensi yang dimiliki oleh koperasi di Aceh (khususnya koperasi

pertanian/koperasi berbasis pertanian) dalam rangka mendukung akselerasi peningkatan daya saing daerah. Kajian ini tidak hanya melihat potret koperasi secara mikro sebagai badan usaha yang berdiri sendiri, akan tetapi akan mencoba melihat dalam konteks makro-nya sekaligus, yakni melihat bagaimana koperasi sebagai sistem dapat berperan sebagai sistem dan aktor besar dalam mendukung daya saing daerah.

Masih kurangnya kajian komprehensif tentang koperasi khususnya yang berkaitan dengan upaya peningkatan kapasitas peran koperasi dalam mendukung daya saing daerah. Program-program pengembangan koperasi lebih banyak diarahkan untuk mengembangkan koperasi itu sendiri dalam konteks agar koperasi tersebut hidup, berkembang dan memberi manfaat kepada anggota atau masyarakat yang dilayaninya. Pembangunan koperasi dalam arti mikro dan makro belum di-skenario sebagai aktor dalam pembangunan daerah, khususnya dalam upaya peningkatan daya saingnya. Padahal dengan potensi alam Aceh yang besar, kapasitas SDM yang relatif memadai secara jumlah dan kuantitasnya didukung letak geografis yang strategis seharusnya Aceh menjadi daerah yang maju dan berkembang sosial ekonominya. Saat ini, koperasi dianggap masih belum memberikan sumbangsih signifikan terhadap daerah. Sehingga wajar jika timbul pertanyaan mendasar yang mendeskreditkan koperasi, seperti: apakah memang koperasi badan usaha yang cocok di Aceh ? apakah koperasi salah pembinaan ?

Fokus kajian studi ini terbagi dalam tiga hal utama, pertama: peran koperasi dalam pengembangan komoditas unggulan daerah, kedua identifikasi profil dan potensi koperasi yang dapat dikembangkan dalam upaya mengembangkan potensi tersebut, dan ketiga lahirnya sebuah rencana induk pengembangan koperasi pertanian dalam mendukung akselerasi peningkatan daya daing daerah melalui koperasi.

Stern 2002 dalam ADB (2005) menyebutkan bahwa iklim investasi adalah semua kebijakan, kelembagaan, dan lingkungan, baik yang sedang berlangsung maupun yang diharapkan terjadi di masa datang, yang bisa mempengaruhi tingkat pengembalian dan resiko suatu investasi. Pola umum yang terjadi jika iklim bisnis tidak kondusif maka akan terjadi penurunan investasi dan berujung pada penurunan pendapatan daerah. Sedangkan khusus untuk Indonesia selama satu dasawarsa terakhir ini, angka pengangguran sepertinya tidak terpengaruh dan terus tinggi. Iklim bisnis yang tidak kondusif berarti menjadi kondisi yang akan turut memperparah kondisi pengangguran di Indonesia.

(4)

4 | 1 7 c r e a t e d b y F A S T S p i r i t I n t e r n a t i o n a l / 2 0 1 4 2. Tujuan

Secara umum tujuan diadakannya kajian ini adalah lahirnya sebuah rencana induk pengembangan koperasi berbasis pertanian dalam kaitannya dengan akselerasi peningkatan daya saing daerah.

Turunan dari tujuan kajian ini adalah untuk :

 Mengetahui Profil umum kondisi koperasi di Aceh

 Mengidentifikasi profil, kondisi dan potensi koperasi yang bergerak selaras dengan produk unggulan

 Potensi kekuatan, kendala, peluang, dan ancaman yang dimiliki sebagai bahan untuk menyusun strategi umum dan rencana induk/tindak pengembangan kawasan.

3. Hasil yang diharapkan

Kajian ini diharapkan dapat menghasilkan rencana induk pengembangan koperasi berbasis pertanian dalam kaitannya dengan akselerasi peningkatan daya saing daerah.

Secara khusus kajian ini diharapkan akan menghasilkan : a. Profil umum kondisi koperasi di Aceh

b. Profil, kondisi dan potensi koperasi yang bergerak di selaras dengan produk unggulan

c. Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangan koperasi seperti regulasi yang mempengaruhi koperasi, aksestabilitas, konektifitas, kondisi pasar dan kompetitor, serta iklim usaha yang mempengaruhi kinerja koperasi.

d. Rekomendasi isu-isu strategis dan pengembangan rencana induk pengembangan kawasan.

4. Ruang Lingkup

Lingkup studi ini secara spatial mencakup wilayah administratif Pemerintah Aceh. Sedangkan secara substansial, ruang lingkup studi ini sebagai berikut:

a. Dalam analisis ini sektor usaha/ekonomi yang dikaji adalah sub-sektor koperasi sebagai penggerak ekonomi utama dengan jenis usahanya yaitu: (1) koperasi produksi; (2) koperasi konsumsi; (3) koperasi simpan pinjam; (4) koperasi jasa. Namun demikian, jenis koperasi ini akan disesuaikan dengan data-data yang relevan;

b. Kajian daya saing sektor usaha akan dianalisis dari beberapa sudut pandang yang disesuaikan dengan apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Aceh. Adapun daya saing sektor dalam kajian ini merupakan skoring atas:

 Lingkungan usaha  Dinamika usaha  Inovasi usaha

 Efektivitas pemerintah

(5)

5 | 1 7 c r e a t e d b y F A S T S p i r i t I n t e r n a t i o n a l / 2 0 1 4

5. Metodologi

5.1. Model dan pendekatan kajian

Model kajian dikembangkan secara khusus untuk mencapai tujuannya. Sehingga metodologi dan teknis implementasinya mengacu kepada kebutuhan tersebut.

Salah satu pendekatan penting yang akan digunakan dalam kajian ini adalah

pendekatan appreciative inquiry. Sebuah pendekatan yang lebih

mengedepankan sisi-sisi positif dari sebuah fenomena daripada mendahulukan mencari sisi-sisi kekurangan (negatif) berupa masalah (problem based solving). Pendekatan yang perencanaan pembangunanannya diawali dari pendekatan berbasis masalah (problem based solving) pada banyak sisi justru akan memunculkan afirmasi yang negatif (defisit) dan terkesan menjadi berat untuk memperbaikinya, sehingga energi yang besar banyak tercurah untuk mencari masalah dan mengatasi masalahnya akan tetapi kemudian kelelahan untuk memperbaiki dan membangunnya.

Dalam konteks Aceh, jika pengembangan koperasi didekati dengan pemahaman dan pendekatan berbasis masalah (problem solving), maka yang muncul justru sikap pesimistis dan underestimate. Padahal jika pembangunan koperasi dilakukan dengan tepat dan komprehensif baik sebagai mainstream pembangunan ekonomi berbasis masyarakat maupun sebagai badan usaha tentu akan memberikan dampak yang besar bagi Aceh. Sangat disayangkan memang, selama ini pengembangan koperasi yang sebenarnya sudah banyak mendapat berbagai fasilitas ternyata masih jauh panggang dari api.

Melalui pendekatan appreciative inquiry, jika dikaitkan dengan isu pembangunan sosial ekonomi Aceh, termasuk dalam membangun daya saingnya, jika semua pihak sepakat memunculkan koperasi tidak hanya sebagai aktor mikro (baca: badan usaha) semata akan tetapi juga dalam konteks makro sebagai sistem pe-melayanan terhadap warganya. Usaha-usaha pembangunan daya saing daerah melalui sistem koperasi harus banyak digunakan untuk menggali potensi (discovery), menetapkan visi (dream), merancang yang seharusnya dilakukan (design) dan memulai serangkaian tindakan yang mendukung terjadinya perubahan ke arah yang diimpikan (destiny). Dengan demikian, tidak banyak energy defisit, kegagalan dan keputus- asaan dalam merencanakan pembangunan. Semua pihak mendapat kesempatan terbaiknya untuk membangun secara positif, meskipun bukan berarti mengesampingkan permasalahan yang ada.

5.2.Fokus pelaksanaan kajian

Berbeda dengan pendekatan konvensional dalam perencanaan fisik wilayah yang selama ini lebih banyak menaruh perhatian pada aspek demografi, tata letak kota, kepadatan penduduk dan sebagainya, pendekatan baru yang akhir-akhir ini popular digunakan mengutamakan konsentrasi wilayah produksi dan komoditas unggulan.

(6)

6 | 1 7 c r e a t e d b y F A S T S p i r i t I n t e r n a t i o n a l / 2 0 1 4 dinilai cukup efektif karena bersifat inward looking/locality, memiliki aksestabilitas tinggi dan memungkinkan terbangunnya sinergitas diantara pelaku-pelaku terkait. Dengan demikian, fokus kajian adalah bagaimana mengembangkan suatu wilayah dengan basis komoditas unggulan.

Kajian ini mengambil studi kasus pada tiga komoditi unggulan Aceh. Di mana kriteria produk unggulan adalah (Tambunan dan Nasution, 2006): (1) menggunakan bahan baku lokal, (2) sesuai dengan potensi dan kondisi daerah, (3) memiliki pasar yang luas, (4) mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak, (5) merupakan sumber pendapatan masyarakat, (6) volume produksi yang cukup besar dan berkelanjutan, (7) merupakan ciri khas daerah, (8) memiliki daya saing relatif tinggi, dan (9) dapatmemacu perkembangan komoditas yang lain. Penetapan produk unggulan tentu juga harusdidasarkan pada keunggulan bersaing produk tersebut dibandingkan dengan produk sejenis di luar daerah atau bahkan produk sejenis di pasar internasional. Komoditiyang menjadi studi kasus adalah komoditi Kopi,komoditi padi, dan Komoditi kakao. Pemilihan komoditi didasarkan atas beberapa pertimbangan, yaitu merupakan komoditi unggulan strategis Aceh dan merupakan komoditi yang sebagian besar usahanya merupakan berskala kecil yang banyak menyerap tenaga kerja lokal. Variabel daya saing daerah yang akan dianalisis meliputi

a. Lingkungan usaha, terkait dengan (i)prospek masa lalu (kondisi sub-sektor

perdagangan sekitar dua tahun lalu), (ii) prospek masa depan (kondisi sub-sektor perdagangan pada masa yang akan datang), (iii) kesulitan rintangan usaha, (iv) masalah terkait dengan pemasaran, distribusi, dan pengadaan, (v) masalah terkait dengan tenaga kerja, dan (vi) ketersediaan bergabung dengan asosiasi bisnis perdagangan.

b. Dinamika Usaha, terkait dengan (i) pelaku bisnis pemula (%

koperasi/pengusaha yang masuk sub-sektor tersebut kurang dari 10 tahun), (ii) kapasitas pelibatan tenaga kerja (% usaha dengan tenaga kerja kurang dari 20 orang), (iii) produktivitas pemasaran, distribusi, dan pengadaan (% usaha dengan omset diatas 500 juta), (v) keinginan menggunakan kredit, (vi) kesediaan untuk mengajukan kredit, (vii) perbandingan modal dan utang, (viii) bentuk hukum, (ix) kapasitas manajerial (% usaha dengan pemilik lulus akademi dan universitas)

c. Inovasi Usaha, terkait dengan (i) inovasi dalam pemasaran atau promosi, (ii) inovasi dalam penjaminan kepuasan konsumen, (iii) kemampuan dalam menggunakan jasa seperti: konsultasi, pelatihan pemasaran, hukum, akuntansi, manajemen yang merepresentasikan keinginan sektor usaha dalam meningkatkan inovasi.

d. Efektivitas pemerintahan, terkait dengan (i) konsistensi kebijakan sub-sektor perdagangan yang dibuat oleh pemerintah, (ii) korupsi/ pembayaran informal, (iii) kepastian hukum/ kepercayaan pada sistem hukum yang berlaku, (iv) tingkat atau derajat dampak peraturan pada sub-sektor perdagangan, (v) formalisasi usaha (% usaha yang terdaftar), dan (vi) kesadaran tentang peraturan.

(7)

7 | 1 7 c r e a t e d b y F A S T S p i r i t I n t e r n a t i o n a l / 2 0 1 4 5.3. Sasaran/target Kajian

Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, maka setelah ditetapkan komoditas unggulan yang ingin dikaji, maka langkah selanjutnya adalah menentukan koperasi yang tepat untuk menjadi sasaran kajian. Untuk itu, kriteria komoditas unggulan akan difinalisasi dengan tim terkait terlebih dahulu, baru kemudian dilakukan identifikasi koperasi yang bergerak dalam bidang pertanian dan memenuhi kriteria untuk menjadi sasaran/target kajian.

5.4. Sumber data

Data-data yang digunakan dalam kajian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan melalui :

 Alat ukur Penilaian kapasitas koperasi (Cooperative Capacity Assessment/ CCA)

Focus group discussion (FGD),  Kuesioner-kuesioner

 wawancara semi terstruktur dengan responden kunci di setiap pelaku koperasi, yaitu koperasi itu sendiri, pemerintah daerah, unit usaha, asosiasi usaha, serta lembaga-lembaga pendukung (lembaga pendidikan dan pelatihan, lembaga keuangan, lembaga kajian dan pengembangan, serta lembaga bantuan pengembangan bisnis).

 Observasi langsung ke unit usaha juga perlu dilakukan untuk mengetahui proses produksi dan kondisi usaha tersebut, terutama dalam menjaring informasi mengenai kendala yang dihadapi. Data sekunder yang digunakan antara lain dokumen-dokumen kebijakan, data statistik BPS,

Identifikasi sumber data primer :

Internal (supply side) koperasi Internal (Demand side)anggota/pasar

Front liner atau Marketing staff Pasar/mitra kerja

Dokumentasi koperasi Pelaku usaha komoditas unggulan

diluar koperasi

Observasi Rantai Pasar komoditas unggulan

(8)

8 | 1 7 c r e a t e d b y F A S T S p i r i t I n t e r n a t i o n a l / 2 0 1 4 Identifikasi kebutuhan data sekunder

 Data Koperasi (profil, hasil pemeringkatan dan kesehatan Koperasi)  Data UKM

 Data tentang komoditas unggulan  Kebijakan penataan ruang

 Kebijakan perencanaan dan pengembangan ekonomi wilayah  Prioritas pengembangan ekonomi wilayah

 Profil daerah (sosial, ekonomi, pemerintahan, dsb)

 Profil industri (jumlah, skala industri, ekspor-impor, dsb)  Data industri (jumlah, skala, ekspor-impor, dsb)

 Kebijakan dan program investasi usaha  Kebijakan dan program perijinan usaha  Kebijakan dan program ekspor dan impor

 Kebijakan dan program perlindungan produk usaha  Kebijakan dan program pajak dan retribusi

 Kendala-kendala yang dihadapi dalam pengembangan klaster  Kebijakan pajak dan retribusi usaha

 Kebijakan prosedur perijinan usaha

 Peran koperasi sekunder terhadap pengembangan usaha anggota  Program dan kegiatan koperasi sekunder

 Kendala-kendala yang dihadapi dalam pengembangan klaster  Profil perusahaan penampung

 Data input perusahaan (bahan baku, tenaga kerja, modal/keuangan, sarana produksi, teknologi informasi)

 Data penjualan dan pemasaran

 Kegiatan kerjasama, kemitraan, dan jaringan

 Kendala-kendala yang dihadapi dalam pengembangan klaster

5.5. Metode pengumpulan data

Sesuai dengan pendekatan yang digunakan, maka metode pengumpulan data pada kajian ini menggunakan metode khas kajian kualitatif, seperti wawancara mendalam, diskusi terarah, dokumentasi dan observasi.

a. Interview Mendalam

Wawancara mendalam ini sangat penting sebagai instrumen utama dalam menggali data dan mendapatkan penjelasan yang lengkap mengenai segala sesuatu yang dibutuhkan. Untuk itu narasumber yang diwawancarai harus merupakan key person dari sumber data yang dibutuhkan sehingga dapat diperoleh kedalaman data yang dibutuhkan.

Prosesnya pelaksanaan, peneliti mengajukan beberapa pertanyaan yang bersifat terbuka yang telah tersusun dalam outline besar agar dijawab oleh narasumber. Meski peneliti telah membawa outline pertanyaan akan tetapi terbuka sekali kemungkinan bagi interviewer untuk mengajukan pertanyaan lainnya di luar outline sesuai dengan kebutuhannya.

(9)

9 | 1 7 c r e a t e d b y F A S T S p i r i t I n t e r n a t i o n a l / 2 0 1 4 b. Kuesioner

Salah satu instrumen pengumpul data dalam kajian ini adalah kuesioner, kuesioner ini biasanya berkaitan erat dengan masalah kajian, atau juga hipotesis penelitian yang dirumuskan.

c. Diskusi Kelompok Terarah (FGD)

Metode ini juga menjadi salah satu metode yang krusial. Dalam metode ini, beberapa peserta diskusi sudah ditentukan terlebih dahulu dan mempunyai kapasitas mewakili kelompok/institusi yang diwakilinya. Dengan jumlah peserta yang terbatas dengan dipandu dengan fasilitator yang kompeten, metode ini akan menghasilkan informasi yang banyak, beragam, klarifikatif dan solutif. Karena setiap peserta dengan masing-masing latar belakangnya sudah pasti memiliki pemahaman tentang informasi yang akan diberikannya.

FGD akan melibatkan peserta dari lintas koperasi ditambah dengan unsur ekternal seperti Bank Indonesia setempat, Dinas Koperasi dan UKM, asosiasi usaha, pihak Pedagang produk (Toke, agen, dst) dan seterusnya. Pelibatan unsur luar ini adalah melakukan pengembangan dan pengayaan atas semua informasi dan data sekaligus (jika memungkinkan) untuk menyusun kerangka strategi yang dibutuhkan. Dengan demikian tim selanjutnya akan lebih mudah mematangkan strategi pengembangan koperasi kedepannya.

d. Dokumentasi, yaitu proses penghimpunan, klarifikasi dan pengkayaan terhadap data tertulis dan dokumenter yang dibutuhkan oleh peneliti sesuai dengan kebutuhan data.

e. Observasi, yaitu proses peninjauan langsung ke lapangan untuk melakukan pengamatan terhadap kondisi fisik bangunan kantorkoperasi, sarana dan prasarana, perilaku anggota/masyarakatsecara langsung guna memperkuat data yang telah diperoleh.

5.6. Analisis data dan penyusunan kesimpulan

Analisis deskriptif kualitatif dilakukan dengan analisis komparasi tiap variabel, melalui karakteristik potensi dan masalah serta skoring dalam pemeringkatan daya saing koperasi.Analisis implikasi potensi dan masalah yang dihadapi pelaku usaha khususnya koperasi dan pemerintah dalam konteks pengembangan ekonomi lokal disintesiskan dengan mengkaji keunggulan komoditas lokal, serta dorongan terhadap munculnya pertumbuhan ekonomi akibat efek multiplier tau nilai tambah baik dari aspek penyerapan tenaga kerja maupun peningkatan pendapatan masyarakat di Aceh.

(10)

10 | 1 7 c r e a t e d b y F A S T S p i r i t I n t e r n a t i o n a l / 2 0 1 4 seperti regulasi yang mempengaruhi koperasi, aksestabilitas, konektifitas, kondisi pasar dan kompetitor, serta iklim usaha yang mempengaruhi kinerja koperasi.

Proses analisis dalam studi ini terbagi dalam dua aspek analisis utama, yaitu analisis mengenai kondisi internal dan kondisi eksternal. Analisis mengenai kondisi eksternal dikaitkan dengan kebijakan pemerintah dalam peningkatan daya saing dan kebijakan pengembangan ekonomi koperasi.Analisis kondisi internal terdiri dari analisis mengenai peringkat daya saing dan analisis mengenai pengembangan ekonomi lokal berbasis koperasi. Model analisis digambarkan sebagai berikut:

(11)

11 | 1 7 c r e a t e d b y F A S T S p i r i t I n t e r n a t i o n a l / 2 0 1 4

6. Proses Pelaksanaan Kajian

Proses pelaksanaan kajian dapat diuraikan sebagai berikut :

No Fokus Aktifitas Input/Output Sasaran/

Tempat PIC

 Renstra Kementrian Koperasi dan diskop

(12)

12 | 1 7 c r e a t e d b y F A S T S p i r i t I n t e r n a t i o n a l / 2 0 1 4

3 Penggandaan

Media/Tools

 Copy paket panduan kajian dan tools

 Berita acara penyerahan paket tools

 Banda Aceh Logistik team

4

Meeting team

pelaksana

 Penyiapan tempat kegiatan untuk 1 s/d 2

hari

 List lengkap semua tim

 Undangan

 Media/tools yang diperlukan lainnya

 Banda Aceh Team Leader

Riset Advisor

B Pelaksanaan

1 Pelaksanaan kajian

secara komprehensif  Penyiapan kebutuhan mobilisasi dan

logistic

 Daftar subyek kajian

 Jadwal pelaksanaan Daftar subyek kajian

 Jadwal monitoring/supervisi team kajian

 Penyiapan bank data (Tabulation center)

 Banda Aceh

dan Perbaikan data  Tim tabulasi dan verifikasi data

 QC indicator tool

Banda Aceh Team Leader

Riset Advisor

(supervise & QC)

Data Processor

3 Analisis data  Input semua hasil kajian lengkap dengan

lampirannya

 Rapat Tim penyusun hasil kajian

Banda Aceh Team Leader

Riset Advisor

(13)

13 | 1 7 c r e a t e d b y F A S T S p i r i t I n t e r n a t i o n a l / 2 0 1 4

4 Penyusunan Rencana

Induk

 Input semua hasil kajian lengkap beserta

data sekunder

 Penyusunan Rencana Induk

Banda Aceh Team Leader

Riset Advisor

Researcher

5 Presentasi Dokumen

Rencana induk  Dokumen rencana induk

Banda Aceh Team Leader

 Riset Advisor

6 Revisi dan Finalisasi

hasil kajian

Banda Aceh Team Leader

 Riset Advisor

C Pasca Pelaksanaan

1 Pelaporan

 Hasil lengkap kajian

 Dokumen rencana induk

 Input dan perbaikan laporan

Banda Aceh Team Leader

Advisor riset

Data Processor

Referensi :

Meyer Dan Stamer, 2003, The PACA Book of Concepts, www.mesopartner.com

Tambunan, T., dan Nasution, F., 2006, “Pengkajian Peningkatan Daya Saing UKM yang Berbasis Pengembangan Ekonomi Lokal”, Jurnal

Pengkajian Koperasi danUKM, Nomor 2 Tahun I, 26 – 40. Diakses dari http://www.depkop.go.id pada tanggal 7 September 2010.

(14)
(15)

Referensi

Dokumen terkait

a) Panggilan Terminasi yang berasal dari Penyelenggara jasa merupakan panggilan terminasi ke Telkomsel dari penyelenggara jasa yang memiliki jaringan dan kode akses. b)

Hasilnya menunjukkan bahwa dalam keadaan stedi sistem yang menggunakan campuran R290/R600a memiliki kinerja yang lebih baik dari kedua refrigeran lainnya, dan memiliki

Struktur bawah suatu jembatan adalah merupakan suatu pengelompokan bagian bagian jembatan yang menyangga jenis jenis beban yang sama dan.. menberikan jenis reaksi

Saya menyatakan bahwa Tugas Akhir berjudul “ Analisis Pengaruh Pengalaman Kerja, Independensi, Objektivitas, Integritas dan Kompetensi Aparat Pengawas Intern Pemerintah

Berdasarkan pertanyaan yang diajukan kepada seluruh pasien rawat inap di KSH yang menjadi responden diperoleh hasil bahwa variabel kepuasan konsumen terbukti secara

, (2009) menunjukkan biodegradable film berbahan baku tapioka dengan penambahan selulosa residu rumput laut memiliki nilai persen pemanjangan sebesar 2,23% pada

Sehingga apabila endofit yang diisolasi dari suatu tanaman obat dapat menghasilkan alkaloid atau metabolit sekunder sama dengan tanaman aslinya atau bahkan dalam jumlah yang

Penyebab ROA tidak berpengaruh terhadap return saham yaitu pihak manajemen kurang efisien dalam menggunakan aktiva sebagai sumber dana bank dalam kegiatan