MAKALAH
SEJARAH PERADABAN ISLAM BANGSA ARAB PRA ISLAM
(Makalah Ini Di Buat Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam)
Dosen Mata Kuliah: Dede Gunawan, M.Pd.
Disusun Oleh: Yusup Abdul Rahman
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL-IHSAN BALEENDAH MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur kita panjatkan kepada Allah SWT. yang telah memberikan kita nikmat sehingga kita dapat bernafas dan menjalani kehidupan sampai sekarang ini. Dan atas rahmat dan pertolongannyalah sehingga saya dapat menyelesaikan makalah Sejarah Peradaban Islam ini yang berjudul “Bangsa Arab Pra Islam”. Sholawat beserta salam semoga tetap tercurahlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadikan kita suri tauladan yang baik.
Ucapan terima kepada dosen mata kuliah Sejarah Peradaban Islam yang telah memberikan kepercayaan, bimbingan, dorongan, dan juga ilmu yang bermanfaat bagi kita. Lalu kepada rekan-rekan yang telah memberi saya motivasi dan dorongan sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Atas segala perhatian dan bantuan semua pihak saya mengucapkan terima kasih.
Sekalipun penulisan Makalah ini saya selalu upayakan seoptimal mungkin, agar dapat dijadikan bahan acuan referensi bagi pengetahuan tentang Sejarah Peradaban Islam. Saya berharap kritik dan saran rekan-rekan selalu tersampaikan guna memperbaiki, menambahkan, dan juga mengoptimalkan makalah ini. Dan agar dapat berguna bagi ilmu pengetahuan. Amin.
Baleendah, 14 November 2014 Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……… i
DAFTAR ISI……… ii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang……….. 1
B. Rumusan Masalah……… 2
C. Tujuan Masalah……… 2
BAB II PEMBAHASAN A. Kondisi Agama dan Kepercayaan……… 3
1. Sembahan-Sembahan Yang Mereka Percayai……… 4
2. Macam-Macam Berhala……… 5
B. Kondisi Sosial Budaya Arab……….. 5
1. Perilaku Dan Kebiasaan……… 5
2. Macam-Macam Pernikahan……….. 7
C. Kondisi Ekonomi dan Perdagangan……… 8
1. Nama-Nama Tempat Perdagangan……… 9
D. Kondisi Politik dan Pemerintahan……….. 10
1. Macam-Macam Penemuan Inkripsi……….. 11
2. Berbagai Kerajaan……… 11
E. Kondisi Bahasa dan Seni Sastra………. 12
1. Macam-Macam Sebutan Al-Mu’allaqat……… 14
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan………. 16
B. Kritik dan Saran………. 18
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kehidupan bangsa Arab pra Islam mengalami kekacauan yang luar biasa. Mereka menyekutukan Allah SWT karena belum adanya kepercayaan kepada-Nya. Mereka berbuat maksiat, berbagai bentuk kebobrokan moral, tidak memiliki norma, dan percaya kepada Khurafat dan berhala. Adapun yang menyembah sebuah batu, benda-benda mati yang mereka anggap itu adalah hal yang dapat memberikan berkah dan hikmah bagi kepercayaan mereka. Berbagai paradigma umat sekarang bahwa keJahiliahan, kebodohan, kekacauan bangsa Arab ketika waktu itu selalu tersimpan dan terkemuka dalam pikirannya. Padahal bukti-bukti yang telah terkemuka zaman sekaranglah yang dapat menggambarkan zaman Jahiliah ketika itu. Hanya umat sekarang saja yang belum menerima dan belum pernah menyadari bahwa merekalah yang sekarang mengalami selama ini.
Berbagai hal muncul dan terkemuka pada zaman bangsa Arab pra Islam. Baik dalam hal kepercayaan, perilaku moral, akhlak, sikap, dan lain sebagainya. Namun tidaklah selalu menitikberatkan bahwa kata Jahiliah adalah kebodohan. Hal ini dapat terbukti dengan banyaknya karya-karya sastra bangsa Arab pra Islam ketika itu. Mereka telah memiliki peradaban dengan berbagai karyanya, baik dalam hal puisi, tulisan, para orator ulung, dan rasa kebersamaan sesama kabilah. Walau dalam kenyataannya bangsa Arab belum memiliki agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Maka selayaknya kita dapat merubah paradigm kita, bahwa yang disebut dengan Jahiliah itu bukanlah dalam hal yang dipandang secara global saja. Karena ada berbagai hal yang telah ditonjolkan oleh mereka. Karena mereka pulalah awal terbentuknya sastra-sastra Arab yang bernilai tinggi. Karenanya kitab suci Al-Qur’an diturunkan di wilayah mereka, karena bahasa dan sastranyalah yang sulit ditiru dan hanya satu yang dimiliki oleh umat Islam.
umat Islam belum mencapai sikap dan adab sebagaimana layaknya umat Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW.
Maka dari itu pentingnya kita mempelajari Sejarah Peradaban Islam guna melihat contoh dan cerminan bagi kita yang berada pada zaman sekarang. Bukan hal yang buruk dari segi sosialnya, namun dalam segi seni dan budayanya. Dari sinilah perlunya saya membuat makalah tentang hal ini agar pembaca dapat mengambil kesimpulan yang baiknya dan dapat mengambil pelajaran dari hal yang buruknya agar tidak kita lakukan pada zaman sekarang
B. Rumusan Masalah
Setelah terpaparkannya latar belakang di atas, maka dapat saya simpulkan rumusan masalah sebagai berikut.
1. Seperti apakah kondisi agama dan kepercayaan bangsa Arab pra Islam ketika dulu?
2. Bagaimana kondisi sosial budaya bangsa Arab pra Islam ketika itu?
3. Seperti apakah kondisi perekonomian dan perdagangan bangsa Arab pra Islam?
4. Bagaimanakah kondisi politik dan pemerintahan bangsa Arab pra Islam ketika itu?
5. Bagaimanakah kondisi bahasa dan seni sastra bangsa Arab pra Islam ketika itu?
C. Tujuan Penulisan
Atas kumpulan rumusan masalah di atas yang telah saya paparkan, maka berikut adalah tujuan dari penulisan makalah ini yang semoga dapat dijadikan dasar kita memahami dengan mudah point-point penting dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Agar pembaca dapat mengetahui kondisi berbagai kepercayaan dan agama bangsa Arab pra Islam.
2. Agar pembaca dapat mengetahui dan dapat mengamalkan hal yang baik dari keadaan sosial budaya bangsa Arab pra Islam.
4. Agar pembaca mengetahui keadaan politik dan pemerintahan bangsa Arab pra Islam.
BAB II PEMBAHASAN
A. Kondisi Agama dan Kepercayaan bangsa Arab pra Islam
Keadaan kepercayaan bangsa Arab pra Islam ketika itu mereka menyembah berhala, batu-batu, kayu, cincin, logam, bebatuan kecil yang digenggam oleh tangan mereka dan lain sebagainya. Sebelum mereka menyembah dan melakukan peribadatan seperti itu, mereka telah diberi kepercayaan dan agama oleh Nabi Ibrahim A.S. yang selalu kita dengar dengan Agama Hanif. Salah satunya ialah bangsa Arab Qathan (Saba) yang berada di Yaman, mereka menganut agama Shabaiyyah. Agama Shabaiyah ini muncul setelah risalah Nabi Ibrahim putus oleh pengikutnya dan pudar. Setelah itu keadaan kepercayaan mereka pun semakin hari semakin kacau tanpa adanya agama yang benar.
Ketika kota Makkah berada di bawah kepemimpinan Juhrum yang dipegang oleh Amr bin Lubayi, letak Kakbah pun dijadikan titik tengah pusat peribadatan penyembahan berhala. Salah satu berhala yang terkenal ketika itu ialah berhala Hubal.[1] Posisi berhala tersebut berada di sekeliling Kakbah yang perkiraannya berjumlah kurang lebih 360 buah. Selain di daerah Kakbah, berhala pun diletakkan di bukit Safa dan Marwah. Sehingga orang yang datang ke Kakbah pun mengikuti peribadatan mereka hingga kaum Quraisy dan yang lainnya pun mengikuti hal ini.
1. Sembahan yang mereka percayai ialah sebagai berikut. Diantaranya ialah sebagai berikut.
a. Malaikat yang dianggap sebagai puteri Tuhan.
b. Jin, ruh, setan, hantu dan lain sebagainya. Darahim adalah salah satu tempat peribadatan bagi yang mempercayai hantu. Adapun yang percaya pada setan ialah selalu disebut dengan Ifrid.
c. Bintang, bulan, matahari. Mereka percaya bahwa benda itulah yang menggerakan alam ini.
3) Cincin, tembaga, dan logam yang dianggap akan menambah kekuatan.
e. Asaf, Nailah, Wudd, Yaghuts, Suwa, Ya’ng. Mereka menjadikan berhala-berhala ini sebagai perantara kepada Tuhan.[2]
Namun setelah peribadatan ini berjalan, ada sekelompok orang yang menentang mereka. Diantaranya ialah Waraqah bin Naufal, Umayyah Ibn Salath, Qus Saidah, Usman Ibn Hudairis, Abdullah Ibn Jahsyi, Zainal bn Umar. Mereka yang menolak dan menjadi pelopor pemberontakan terhadap keadaan peribadatan bangsa Arab pra Islam.[3]
B. Kondisi Sosial Budaya bangsa Arab pra Islam
Bangsa Arab pra Islam sering disebut dengan Jahiliah yang berarti kebodohan, ketidaktahuan, tidak adanya bimbingan Nabi, agama dan Al-Quran. Seperti itulah nyatanya yang kita ketahui, bahwa mereka mempunyai kebiasaan yang sangat buruk, tidak bermoral, berperilaku layaknya orang primitif dan lain sebagainya.
1. Perilaku dan kebiasaan
Berikut diantara perilaku dan kebiasaan mereka yang dikatakan Jahiliah ialah sebagai berikut.
a. Meminum arak (khamr), berjudi (maisir), merampok harta orang lain. b. Membunuh anak yang dianggap akan miskin di masa depannya.
c. Para wanita ber-Tabarruj (wanita berjalan ke tengah banyaknya laki-laki dengan cantik agar mengikat pandangan mereka kepadanya).
d. Salah satu suku yang tradisinya adalah mengubur anak perempuan karena tidak mau memiliki anak yang akan hina dan menjatuhkan martabat orang tuanya. Hal ini terkemuka di dalam Al-Quran.
ÿ¾ÏmÎ/ 4 ¼çmä3Å¡ôJãƒr& 4’n?tã Acqèd ôQr& ¼çm”™ß‰tƒ ’Îû É>#uŽ—I9$# 3 Ÿwr& uä!$y™ $tB tbqßJä3øts† ÇÎÒÈ
‘’Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah.’’(58) ‘’Ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.’’(59) Q.S. An-Nahl ayat :58-59
e. Berperang antar kabilah.
f. Orang merdeka bekerja dengan berdagang, bersyair, menunggang kuda, dan sombong akan hartanya.
g. Orang-orang budak berkerja dengan rasa keras dan sulit.
h. Wanita diperlakukan seperti halnya binatang, semaunya dan sekehendaknya.
i. Fanatisme antar kabilah atau kaum.[4] 2. Macam-macam pernikahan
Abu Daud meriwayatkaan dari Aisyah R.A. bahwa pernikahan pada masa bangsa Arab pra Islam ialah sebagai berikut.
a. Pernikahan secara spontan, ialah seorang laki-laki datang kepada wali perempuan dan jika wali perempuan tersebut mengkendaki, seketika itu pula pernikahan itu syah.
b. Pernikahan Istibdha’, ialah seorang laki-laki menyerahkan istrinya kepada laki-laki lain guna mempunyai keinginan agar anaknya menjadi pintar, cerdas, dan baik.
c. Poliandri, ialah seorang perempuan yang dikawini oleh 10 orang laki-laki kurang lebih, lalu perempuan tersebut mengumpulkan para lelaki yang menggaulinya dan menunjuk salah satu dari mereka agar menjadi pengurus anak yang ada dalam kandungannya.
oleh orang para laki-laki, dan yang mendapatkan undian tersebut dapat mengambil anak yang dikandungnya. (Prostitusi)
e. Poligami yang tidak terbatas jumlahnya.[5]
Atas point-point di atas yang menandakan keJahiliahan mereka, maka adapula kelebihan dari segi sosial budaya yang mereka miliki, yaitu rasa pertahanan setiap kabilah, rasa percaya diri, kuat, rasa pejuang, cinta kebebasan, bersyair, mahir, erat kekeluargannya, solidaritasnya tinggi, dan lain sebagainya. Adapula pria yang ingin berkuasa adalah pria yang harus banyak dibicarakan para wanita. Mereka memiliki berbagai kelas, terbagi atas kelas bangsawan, perbudakan, dan kelas merdeka.[6]
Bangsa Arab pra Islam mempunyai berbagai suku dan kabilah, terkelompokan berdasarkan sistem patrinial (Patriarchat-Agnatic) atau sistem keturunan, lazim pula disebut dengan Bani atau Dinasti. Setiap suku dikepalai oleh Patriarkh, Perimus Interpares, atau disebut juga Sekh.
Mereka dikatakan masyarakat Feodal, yaitu memiliki sistem perbudakan, dan hukum rimbalah yang berlaku ketika itu, yakni siapa yang menang ialah yang berkuasa. Dengan demikian garis besar kondisi sosial budaya bangsa Arab pra Islam ialah ammoralitas, primitive, otoriter penguasanya, lemah, bodoh, perpempuan diperlakukan layaknya binatang, penuh dengan kebebasan, namun dipenuhi pula oleh rasa pejuang, solidaritas, dan lain sebagainya.
C. Kondisi Perekonomian dan Perdagangan bangsa Arab pra Islam
Keadaan perekonomian dan perdagangan bangsa Arab pra Islam ketika itu tergantung letak geografis dan keadaan sosial mereka. Dengan keadaan yang tandus dan gersangnya keadaan disana, maka keadaannya pun tidak akan jauh dari pertanian dan perdagangan. Salah satu tempat yang terkenal di Makkah sebagai pusat perdagangan ialah Hijaz. [7]
1. Nama-nama tempat perdagangan
a. Pasar Ukazh berada di Makkah, diadakan pada bulan-bulan tertentu seperti bulan Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram yang bertepatan dengan ibadah haji.
b. Dzi Majaz. c. Majinnah. [8]
Masyarakat pedalaman atau pedesaan memliki keseharian sebagai penggembala unta, biri-biri, dan kambing. Dengan hewan ternaknyalah bangsa Arab pra Islam pedesaan hidup, yang selanjutnya dapat dijadikan dagangan bahkan kebutuhan makanan bagi kesehariannya. Salah satu suku pedalaman ialah suku Badui. Mereka hidup dengan bertani dan pertanianlah yang menunjang kehidupan mereka. Salah satu sektor pertanian disana ialah sering dinamakan Oase. Hingga di tengah-tengah Jazirah Arab pun terdapat pertanian dan tempat penggembalaan hewan.
Adapula masyarakat perkotaan yang hidup dengan perdagangan. Salah satunya kaum Quraisy, mereka berdagang setiap dua musim sekali dalam setahun. Mereka pergi ke Syam setiap musim panas, lalu berdagang ke Yaman setiap musim dingin. Namun, walau adanya perdagangan dan perekonomian yang dibilang berkembang tetap saja hasil kerajinan bangsa Arab bukanlah asli dari mereka, melainkan berasal dari Yaman, Hirrah,dan pinggiran Syam.
Tetapi semua ini masih saja menimbulkan adanya kemiskinan, orang telanjang yang dirasa tidak asing lagi di hadapan masyarakat banyak, peperangan antar suku, dan berpindah-pindah. Semua ini karena setiap suku selalu ingin berebut lahan yang memiliki air dan rumput yang digunakan untuk bertahan hidup. Inilah yang dinamakan Jahiliah, walau sudah ada perdagangan namun tetap saja keterpurukan masih ada.[9]
D. Kondisi Politik dan Pemerintahan bangsa Arab pra Islam
Sekh. Hubungan per kabilah pun sukar terjadi, hanya sebatas kerjasama yang didasari kepentingan bersama saja. Maka dari itu, rasa solidaritas mereka antar kabilah kurang, namun antar individu yang berada di kabilah itu solidaritasnya sangat erat. Seperti apa yang di paparkan dalam keadaan sosial di atas.
Kerajaan-kerajaan kecil yang berada di sekitar Jazirah Arab diantaranya ialah Kerajaan Mu’in Himyar, Saba’ Hirrah, Gassan dan yang lainnya. Salah satu suku yang berada dikota Makah ialah suku Quraisy. Mereka berasal dari keturunan Qusai bin Kilab.
Pemerintahan di kota tersebut berjalan dengan lancar ketika kekuasaan dipegang oleh Qusai bin Kilab. Mereka disegani dan dihormati karena bersal dari keturunan Quraisy. Namun, kota Makah mengalami perselisihan antar pemimpin yang ketika itu dipimpin oleh anaknya Qusai, yakni Abdul Al-Dar. Dia berselisih dengan anak saudaranya Abdul Al-Manaf yang disebabkan oleh kota Makkah. Hal ini pun berlanjut sampai lahirnya Nabi Muhammad SAW.
1. Macam-macam penemuan inkripsi
Catatan sejarah yang disusun oleh Wahb ibn Munabih pada 729 M dan ekspedisi yang dilakukan oleh Edward Glaser pada 1894 telah menemukan 2000 inkrpsi, diantaranya adalah sebagai berikut.
a. Nazar atau kaul
Lukisan pada lempengan perunggu yang merupakan bagian dari benda untuk menyembah dewa.
b. Prasasti
Terdapat pada dinding bangunan lama untuk mengingat pendirinya. c. Pemakaman
Beberapa nama dari anggota kerajaan kuno arab.[10] 2. Berbagai Kerajaan
Catatan sejarah dan beberapa peninggalan yang dapat membuktikan bahwa struktur pemerintahan berbentuk kerajaan ketika itu sudah dikenal dalam kehidupan arab sebelum Islam. Kerajaan-kerajaan arab tersebut adalah sebagai berikut.
Kerajaan saba merupakan kerajaan arab pertama yang lahir di peradaban arab praIslam, yang berasal dari sebuah suku dari keturunan Qahthan. Kerajaan ini mengalami masa keemasannya pada pemerintahan ratu Balqis.
b. Kerajaan Minaiyah
Kerajaan yang berdiri di daerah Yaman yang beribukotakan Qarnaw (Ma’in). Bahasa yang digunakan memliki kesamaan dengan bahasa dari kerajaan Saba’. c. Kerajaan Himyariah
Kerajaan yang didirikan oleh Bani Himyar yang mempunyai hubungan darah dengan kerajaan Saba’. Oleh karena itu kerajaan ini memiliki kesamaan bahasa dengan kerajaan Saba’.[11]
E. Kondisi Bahasa dan Seni Sastra bangsa Arab pra Islam
Bangsa Arab sebelum Islam mengalami distribusi ilmu pengetahuan yang di dapatkan dari berimigrasinya bangsa Babilonia yang dijajah oleh bangsa Persia. Mereka telah mengenal Ilmu Astronomi, Perbintangan, dan lain sebagainya. Lalu selain dari mereka pun ada bangsa lain yang mendistribusikan peranannya terhadap kondisi ilmu pengetahuan bangsa Arab pra Islam. Mereka adalah bangsa Kaldam, bangsa Kaldam memberikan distribusi ilmu pengetahuannya berupa cara pengobatan penyakit yang disebut AL-Tahib.
Telah kita ketahui bahwa jika adanya ilmu pengetahuan, maka bahasa pun sudah berkembang di kalangan bangsa Arab pra Islam. Mereka yang berdiam dalam berbagai suku dan wilayah pun memiliki satu bahasa yang satu. Baik dari Qhataniyah maupun Adnaniyah, karena mereka dituntut oleh watak dan filsafat bahasanya. Itulah alas an mengapa mereka dapat mempunyai satu bahasa walau dalam keadaan masayarakatnya yang berbagai macam suku dan wilayah.
berkala, baik dalam mingguan, bulanan, dan tahunan. Para pujangga syair pun sangat dihormati dan di tinggikan kedudukannya di kalangan masyarakat lainnya. Karena dengan adanya merekalah, kedudukan masyarakat sejahtera dan disegani oleh wilayah lain.
Lalu karya syair terbaik pun akan di simpan di depan Kakbah, atau disebut dengan Mu’allaqat. Karya ini bernilai tinggi karena di dalamnya terdapat makna yang menggambarkan kehidupan dan pandangan masyarakat bangsa Arab pra Islam ketika itu. Hal pemasangan karya ini di Kakbah adalah bukan sesuatu yang aneh, karena suatu apapun yang di anggap penting dan bersifat informatif pasti akan disimpan di dinding Kakbah.
Atas semua paparan di atas, maka keadaan bahasa dan sastra bangsa Arsb pra Islam ketika itu berkembang dan maju. Hal ini karena dorongan bangsa Babilonia dan Kaldam yang dilanjutkan oleh para penyair ulung yang kedudukannya disegani dan karyanya sangat bernilai tinggi. Dan makna syair atau karya lainnya pun didalamnya tergambarkan sosok kehidupan dan keadaan mereka.
1. Macam-macam sebutan Al-Mu’allaqat
Puisi al-Mu’allaqat di atas dapat berbentuk qasidah (ode) panjang, dan memiliki tema bermacam-macam, yang menggambarkan keadaan, cara, dan gaya hidup orang-orang Arab Jahiliah. Selain memiliki sebutan al-Mu’allaqat, puisi-puisi yang digantungkan tersebut juga memiliki sebutan lain, antara lain adalah sebagai berikut.
a. As-Sumut (Kalung), adalah rangkaian puisi-puisi yang tergantung pada dinding Kakbah berbentuk seperti kalung yang tergantung pada dada wanita. b. Al-Mudzahhabaat (yang ditulis dengan tinta emas), adalah puisi yang tergantung pada dinding Kakbah dan ditulis dengan menggunakan tinta yang terbuat dari emas.
c. Al-Qasha’id al-Masyhuraat (Kasidah-kasidah yang terkenal), adalah puisi yang tergantung pada dinding Kakbah dan puisi tersebut terkenal saat itu dibandingkan dengan puisi-puisi yang lainnya.
panjang. Nama ini diberikan oleh orang yang berpendapat bahwa puisi yang tergantung pada dinding Kakbah tersebut ada tujuh buah.
e. Al-Qasha’id al-Tis’u (Sembilan buah kasidah), adalah puisi yang tergantung pada dinding Kakbah yang terdiri dari sembilan buah puisi. Nama ini diberikan oleh orang-orang yang berpendapat bahwa puisi-puisi yang tergantung tersebut terdiri dari sembilan buah puisi.
f. Al-Qasha’id al-‘Asru (Sepuluh buah kasidah), adalah puisi yang tergantung pada dinding Kakbah yag terdiri dari sepuluh buah puisi. Nama ini diberikan oleh orang-orang yang berpendapat bahwa puisi-puisi yang tergantung tersebut terdiri dari sepuluh buah puisi.
Sejarah sastra Arab mencatat ada sepuluh penyair al-Mu’allaqat, diantaranya yaitu Umru al-Qais bin Hujrin bin al-Harits al-Kindi, Zuhair bin Abi Sulma, an-Nabigah adz-Dzibyani, al-A'sya al-Qaisi, Lubaid bin Rabi'ah al-Amiri, Amr' bin Kultsum at-Taghlibi, Tharafah bin Abdul Bakri, Antarah bin Syaddad Absi, al-Harits bin Hiliziah al-Bakri, dan Umayyah bin ash-Shalt.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Atas paparan makalah di atas, maka dapat disimpulkan bahwa keadaan bangsa Arab pra Islam ketika itu tidak selayaknya dikatakan Jahiliah. Karena berbagai aspek yang mendukung keberadaan mereka, diantaranya adalah:
1. Kondisi Agama dan Kepercayaan
Bangsa Arab pra Islam banyak yang mempercayai benda-benda mati dan mereka menyembah berhala, batu, kayu, logam, besi, dan lain sebagainya. Mereka percaya bahwa Tuhan mereka adalah Malaikat, Jin, Ruh, dan benda-benda yang selayaknya bukan Tuhan.
Keadaan perempuan dan cara mereka menikah pun banyak macamnya, baik yang Poligami, Nkah Spontan, Poliandri, dan lain sebagainya. Anak perempuan disana adalah masa depan yang buruk bagi anggapan mereka. Karena keadaannya akan membawa hal yang sial, selain sial perempuan disana pun disamakan seperti binatang. Karena para perempuan diperlakukan menjadi seorang pelacur dan bukan selayaknya perempuan.
3. Kondisi Ekonomi dan Perdagangan
4. Kondisi Politik dan Pemerintahan
Bangsa Arab pra Islam dalam catatan sejarahnya tidak pernah mengalami penjajahan dari bangsa asing, melainkan setiap wilayahnya berusaha untuk mendaulatkan keberadaannya. Mereka hidup bersuku dan berwilayah. Dan belum ada kesatuan politik ketika itu. Mereka hidup dikelilingi dengan kerajaan-kerajaan, salah satunya adalah Kerajaan Saba dan lain sebagainya. Hal ini terbukti dalam catatan penemuan yang ketuai oleh Wahb Ibn Muhaib dalam ekspedisinya, bahwa adanya kerajaan terbukti dalam penemuan Nazar, Makam, dan lain sebagainya.
5. Kondisi Bahasa dan Seni Sastra
Pada kondisi ini bangsa Arab pra Islam menjadi pendobrak sastra Arab. Mereka yang mengawali adanya sastra Arab degan kelihaiannya membuat sebuah syair, puisi, sajak dan karya-karya sastra yang lainnya. Keadaannya pun semakin berkembang sampai ke zaman setelah agama Islam masuk.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Abu, Su’ud. 2003. Islamologi, Sejarah Ajaran, dan Peranannya Dalam Peradaban Umat Manusia. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Departemen Agama RI. Al-Quran dan Terjemahnya. QS. An-Nahl : 58-59. Fauzi, Imron. Sumber: www.mahluktermulia.wordpress.com
Hourani, Albert.Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim.Bandung : Mizan. 2004.
Ibrahim, Hassan. Sejarah Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Kota Kembang. 1989. Karim, Khali Abdul. Hegemoni Quraisy: Agama, Budaya, Kekuasaan.
Yogyakarta: Lkis. 2002.
Shafiyyurahman, Syaikh. 2007. Sirah Nabawiyah. Jakarta: PUSTAKA AL-KAUTSAR.
Yatim, Badri. 2002. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. http://www.taqrib.info/indonesia
http://sejarahstpm.blogspot.com/2009/04/agama-dan-kepercayaan-masyarakat-arab.html,
http://kumpulan-makalah-7.blogspot.com/2013/03/makalah-arab-pra-islam.html
http://archiple.blogspot.com/2014/07/lanskap-puisi-arab-pra-islam.html
http://archiple.blogspot.com/2014/07/lanskap-puisi-arab-pra-islam.html
[1] Hubal adalah salah satu berhala yang terletak di Kabah berjumlah 360 dan muncul setelah Makkah dikuasai oleh Juhrum dan terbuat dari batu akik merah berbentuk patung manusia.
[2] Badri Yatim. 2000. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, hlm. 29
[3] Ibid., halaman 35
[4] Imron Fauzi. Sumber: www.mahluktermulia.wordpress.com
[6] Su’ud Abu. 2003. Islamologi, Sejarah Ajaran, dan Peranannya Dalam Peradaban Umat Manusia. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, hlm. 53
[7] Ibid., hlm. 56
[8] Syaikh Shafiyyurahman. 2007. Sirah Nabawiyah. Jakarta: PUSTAKA AL-KAUTSAR.hlm. 62
[9] Ibid., hlm. 62
[10] Hassan Ibrahim. Sejarah Kebudayaan Islam.Yogyakarta: Kota Kembang.1989.
[11] Khalil Abdul dan Karim. Hegemoni Quraisy:Agama, Budaya,Kekuasaan.Yogyakarta: LkiS.2002.
[12] http://archiple.blogspot.com/2014/07/lanskap-puisi-arab-pra-islam.html