• Tidak ada hasil yang ditemukan

Moch. Taufan Permana P.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Moch. Taufan Permana P."

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Disusun Oleh :

Moch. Taufan Permana P. 15010111130024

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2013

TERAPI PSIKOANALISIS

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah

memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan.

Makalah ini berisikan tentang Terapi Psikoanalisis, khususnya membahas struktur

kepribadian, jenis – jenis terapis yang ada dalam psikoanalisis. Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang materi tersebut.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu

kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi

kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan

serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa

meridhai segala usaha kita. Amin.

Semarang, April 2013

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar isi

Bab I Pendahuluan

1.1Latar Belakang

1.2Rumusan masalah

1.3Tujuan

Bab II Isi

2.1 Pengertian Terapi Psikoanalisis

2.2 Konsep-konsep terapi Psikoanalisis

2.3 Defence Mekanism

2.4 Struktur kepribadian

2.5 Proses Terapeutik

2.6 Jenis – Jenis Terapis

2.7 Kelebihan Dan Kekurangan Terapi Psikoanalisis

Bab III Penutup

Kesimpulan

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Dalam banyak literatur, disebut bahwa, metode terapi atau psikoterapi paling tua adalah,

model terapi yang dikembangkan oleh Sigmund Freud yang disebut sebagai terapi psikoanalitik.

Terlepas dari penyebutannya sebagai yang tertua, terapi psikoanalitik ini banyak dirasa

manfaatnya, bahkan, salah satu model terapinya telah berkembang baik di dalam masyarakat dan

seolah sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Freud mengembangkan teknik Psikoanalisis

sebagai suatu metode penyembuhan penyakit kejiwaan, dan dia merumuskan teori tentang

struktur pribadi manusia yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah teori psikologi yang

bersangkutan dengan rasa cemas, mekanisme mempertahankan diri, rasa tertekan, sublimasi dll.

Freud mungkin paling terkenal dalam hal pengusulan gagasan bahwa gairah seksual yang

tertekan seringkali menjadi penyebab penting dalam hal penyakit jiwa atau neurosis. Dia juga

menunjukkan bahwa gairah seksual dan nafsu seksual bermula saat masa kanak-kanak dan

bukannya pada saat dewasa.

Konseling adalah proses pemberian bantuan, terutama dari aspek psikologi yang dilakukan

oleh seorang ahli kepada siswa-siswa peserta didik dalam memahami dirinya, dan

menghubungkan dengan lingkungannya, serta memilih, menentukan, dan menyusun rencana

sesuai dengan konsep diri yang dituntut lingkungan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Banyak yang mengatakan bahwa psikoanalisa merupakan satu hal yang unik sekaligus

paradoksial, dan juga psiko analisa merupakan sistem yang paling dikenal luas meskipun tidak

dipahami secara universal. Dan disisi lain psiko analisa ini juga banyak pengaruhnya dalam

bidang lain diluar psikologi melalui pemikiran penemunya, Sigmund Freud.

1.2Rumusan Masalah

1. Defisi terapi psikoanalisis

2. Tujuan terapi Konseling

3. Deskripsi Proses Konseling

(5)

1.3Tujuan

Tujuan pembahasan ini untuk menguraikan tentang teori Konseling Psikoanalis. Secara khusus

yang hendak dicapai adalah :

1. Memahami tentang teori Psikoanalisis,

(6)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Terapi Psikoanalisis

Terapi psikoanalisis adalah teknik atau metoda pengobatan yang dilakukan oleh terapis

dengan cara menggali permasalahan dan pengalaman yang direpresnya selama masa kecil serta

memunculkan dorongan-dorongan yang tidak disadarinya selama ini.

Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengubah kesadaran individu, sehingga segala

sumber permasalahan yang ada didalam diri individu yang semulanya tidak sadar menjadi sadar,

serta memperkuat ego individu untuk dapat menghadapi kehidupan yang realita.

Didalam terapi psikoanalisis ini sangat dibutuhkan sifat dari terapeutik, maksudnya

adalah adanya hubungan interpersonal dan kerja sama yang professional antara terapis dan klien,

terapis harus bisa menjaga hubungan ini agar klien dapat merasakan kenyamanan, ketenangan

dan bisa rileks menceritakan permasalahan serta tujuannya untuk menemui terapis. Karena focus

utama dalam proses terapi ini adalah menggali seluruh informasi permasalahan dan menganalisis

setiap kata-kata yang diungkapkan oleh klien.

Beberapa alasan mengapa tujuan utama dari terapi ini adalah penyadaran individu, yakni :

1. Bila individu menyadari konflik intrapsikisnya atau permasalahan yang ada dalam dirinya,

maka individu tidak perlu lagi banyak mengeluarkan energi psikisnya melakukan defence

mechanism.

2. Penyadaran memungkinkan untuk membentuk kembali struktur kepribadian yang selama ini

terpisah, maksudnya adalah adanya konfilk antara id, ego, superego yang selama ini tidak

berjalan dengan baik. Proses penyadaran dalam terapi ini mengajak individu untuk mengenali

kembali dan menerima bagian-bagian diri yang selama ini ditolak, diserang, dan

diproyeksikan terhadap orang lain. Setelah itu semua disadari, kemungkinan secara bertahap

bagian-bagian dari kepribadian individu akan kembali kokoh.

3. Penyadaran juga memulihkan kembali hubungan antara dunia internal dan realita eksternal,

(7)

2.2 Konsep-konsep terapi Psikoanalisis

Adalah rasa takut yang muncul ketika insting tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan

seseorang melakukan sesuatu yang nantinya akan mendapat hukuman

 Anxiety moral

Adalah rasa takut yang muncul pada orang yang memilki superego yang tinggi,

orang-orang dengan perkembangan moral yang baik akan merasa berdosa ketika merka melakukan

suatu hal yang bertentangan dengaan nilai moral.

2.3 Defence Mekanism

Suatu bentuk perilaku atau cara yang dilakukan individu dalam mengalihkan dan

mengurangi ancaman atau kecemasannya dengan cara tertentu.

System kerja defence mekanisme tergantung pada tingkat perkembangan dan derajat kecemasan

yang dialami individu.

Ego defence mekanisme mempunyai 2 karakteristik :

1. Sifatnya menolak realita atau memputarbalikan realita

2. Beroperasi pada alam bawah sadar

Defence mekanisme bukanlah sebuah patologis atau gangguan, melainkan sebuah

perilaku normal yang dapat digunakan individu untuk mengurangi kecemasan yang dialami,

namun apabila ego defence mekanisme terlalu sering dilakukan maka akan mengalami

gangguan.

Macam-macam bentuk Defence Mekanisme

1. Proyeksi : merupakan suatu perbuatan untuk mengurangi kecemasan/ frustasi dengan cara

melampiaskan keluar sentimen-sentimen dan dorongan-dorongan keluar dalam dirinya.

2. Represi : merupakan suatu perbuatan untuk mengurangi kecemasan/frustasi dengan cara

(8)

3. Regresi : merupakan suatu mekanisme dengan kembali ke masa-masa perkembangan yang

telah dilewati sebelumnya, ketika seseorang menghadapi kesulitan/ kecemasan perilaku yang

muncul adalah kekanak-kanakan atau mundur seperti masa lalu saat mengalami kenyamanan.

4. Rasionalisasi : merupakan mekanisme pertahanan diri untuk mengurangi kecemasan/frustasi

dengan cara memberikan alasan-alasan yang bersifat rasional , atau mencoba memaafkan diri

sendiri dan kesalahan.

5. Reaksi formasi : perbuatan untuk mengurangi kecemasan/frustasi dengan melakukan

perbuatan sebaliknya atau berlawanan dengan kondisi saat mengalami stress/dalam masalah,

misalnya perasaan benci diganti dengan perasaan cinta.

6. Sublimasi : adalah perbuatan untuk mengurangi kecemasan/frustasi dengan cara melakukan

perbuatan yang bersifat positif ataupun melakukan perbuatan sosial.

7. Displacement : merupakan perbuatan untuk mengurangi kecemasan/frustasi dengan

mengalihkan ke perbuatan negatif.

Pandangan tentang sifat manusia

o pandangan freud tentang sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministic (tidak mampu memahami dan mengontrol), kepribadian terbentuk pada pengalaman masa

lalu dan dipengaruhi oleh lingkungan.

Kesadaran & ketidaksadaran

konsep ketidaksadaran

 mimpi-mimpi → merupakan representative simbolik dari kebutuhan-kebutuhan, hasrat-hasrat konflik

 salah ucap / lupa → terhadap nama yang dikenal

 sugesti pascahipnotik

 informasi yg berasal dari teknik-teknik asosiasi bebas  informasi yg berasal dari teknik proyektif

2.4Struktur Kepribadian

Struktur kepribadian disini terbagi menjadi 3, yaitu :

 Id

Id (berkembang sejak lahir hingga usia dua tahun) merupakan lapisan psikis yang paling

(9)

emosional: “sebuah dunia yang tidak logis”. Naluri bawaan seperti seks, agresif, dan

keinginan-keinginan yang direpresi berada di sini. Prinsip kesenangan mendominasi bagian

ini sedangkan ruang, waktu, beserta logika yang berkenaan dengan hukum kontradiksi tidak

berlaku. Dalam Id energi dipergunakan untuk memuaskan naluri melalui tindakan refleksi

dan pemuasan keinginan segera. (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)

Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja

menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.

 Ego

Ego (berkembang sejak berusia dua tahun) beraktivitas di semua lapisan; bersifat sadar

manakala melakukan aktivitas sadar seperti persepsi lahiriah, persepsi batiniah, dan

proses-proses intelektual; berlaku prasadar saat melakukan fungsi ingatan; dan aktivitas tak sadar

Ego merupakan struktur kepribadian yang berkembang untuk menghadapi dunia nyata atau

secara harfiah “aku”. Bekerja berdasarkan prinsip kenyataan atau reality principle. Ego dijalankan dengan mekanisme pertahanan (defence mechanisms). Mekanisme pertahanan diri

dapat dilakukan dengan cara sublimasi (misalnya mengatasi stres dengan melukis atau olah

raga), represi, regresi, fiksasi, identifikasi, proyeksi, penolakan, dan pengalihan

(displacement). Mempertahankan keutuhan kepribadian dan adaptasi dengan lingkungan

melalui prinsip realitas adalah peran utama Ego. (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)

 Superego

Superego (berkembang saat berusia tiga tahun dan dipengaruhi orang tua) dibentuk melalui

internalisasi larangan atau perintah yang berasal dari luar hingga menjadi sesuatu yang

menjadi milik subjek sendiri. Aktivitas Superego sebagai dasar hati nurani saat menyatakan

diri dalam konflik dengan Ego yang dirasakan dalam emosi seperti rasa bersalah, menyesal,

dan sebagainya. Termasuk di sini observasi diri, kritik diri inhibisi. Jika Superego

mempertimbangkan orang lain, maka Id dan Ego bersifat egois. Konsekuensi teori ini

(10)

melainkan pertahanan Ego terhadap dorongan naluriah. (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)

2.5Proses Terapeutik

Tujuan terapi Psikoanalisis

 Membentuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari didalam diri klien

 Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa kanak-kanak.

Fungsi & peran Terapis

 Terapis / analis membiarkan dirinya anonym serta hanya berbagi sedikit perasaan &

pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada teapis / analis.

 Peran terapis.

 Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan

hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.

 Membangun hububungan kerja dengan klien, dengan banyak mendengar & menafsirkan.  Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien.

 Mendengarkan kesenjangan-kesenjangan & pertentangan-pertentangan pada cerita klien.

Pengalaman klien dalam terapi

o Bersedia melibatkan diri kedalam proses terapi yang intensif & berjangka panjang. o Mengembangkan hubungan dengan analis / terapis.

o Mengalami krisis treatment.

o Memperoleh pemahaman atas masa lampau klien yang tak disadari.

o Mengembangkan resistensi-resistensi untuk belajar lebih banyak tentang diri sendiri. o Mengembangkan suatu hubungan transferensi yang tersingkap.

o Memperdalam terapi.

(11)

Hubungan terapis & klien

 Hubungan dikonseptualkan dalam proses tranferensi yang menjadi inti Terapi Psikoanalisis.  Transferensi mendorong klien untuk mengalamatkan pada terapis “ urusan yang belum

selesai” yang terdapat dalam hubungan klien dimasa lalu dengan orang yang berpengaruh.

 Sejumlah perasaan klien timbul dari konflik-konflik seperti percaya lawan tak percaya, cinta

lawan benci.

 Transferensi terjadi pada saat klien membangkitkan kembali konflik masa dininya yang

menyangkut cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan & dendamnya.

 Jika analis mengembangkan pandangan yang tidak selaras yang berasal dari konflik-konflik

sendiri, maka akan terjadi kontra transferensi.

 Bentuk kontratransferensi

→ perasaan tidak suka / keterikatan & keterlibatan yang berlebihan

 Kontratransferensi dapat mengganggu kemajuan terapi.

2.6Jenis – Jenis Terapis

Asosiasi Bebas

Asosiasi Bebas merupakan teknik utama dalam psikoanalisis. Terapis meminta klien agar

membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan-renungan sehari-hari, serta

sedapat mungkin mengatakan apa saja yang muncul dan melintas dalam pikiran. Cara yang

khas adalah dengan mempersilakan klien berbaring di atas balai-balai sementara terapis

duduk di belakangnya, sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat-saat asosiasinya

mengalir dengan bebas.

Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman

masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa lalu,

yang kemudian dikenal dengan katarsis.

Asosiasi bebas, sebagai suatu metode terapi, tentu saja memiliki tujuan. Salah satunya, adalah apa

yang disebutkan oleh Goble (1991: 137) sebagai berikut, “Teori yang mendasarinya [asosiasi bebas]

ialah bahwa lewat diskusi yang kelihatannya tanpa tujuan ini, dilengkapi dengan analisis terhadap

mimpi-mimpi pasien, maka pasien itu akan menjadi insaf tentang kejadian-kejadian di masa lalunya

yang telah menyebabkan atau tengah menjadi sebab bagi kesulitannya [sekarang]. Sebagai contoh,

(12)

meminta nasihat mengenai suatu masalah. Sejam kemudian, sesudah puas dia berbicara,

sementara selama itu sang terapisnya sendiri tidak mengatakan sepatah kata pun, dia telah

memecahkan masalahnya secara memuaskan dan berterima kasih sedalam-dalamnya kepada

sang terapis atas jasa-jasa keahliannya.”

Dengan demikian, asosiasi bebas menunjukkan kesanggupannya untuk dapat dikatakan

sebagai suatu metode terapi. Bahkan Maslow pernah mewawancarai 34 orang yang baru

menjalani pelbagai terapi (salah satunya yang paling dominan adalah asosiasi bebas) dalam

suatu tahun terakhir. “Dua puluh empat di antaranya melaporkan bahwa mereka sangat puas

dengan bantuan yang telah mereka terima dan bahwa bantuan tersebut sungguh-sungguh

menolong mereka.” Maslow sendiri, rupa-rupanya, walau tidak termasuk ke dalam neofreudian, telah mempraktikan asosiasi bebas dalam praktiknya sebagai psikologi.

Penafsiran (Interpretasi)

Penafsiran merupakan prosedur dasar di dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi,

resistensi, dan transferensi. Caranya adalah dengan tindakan-tindakan terapis untuk

menyatakan, menerangkan, dan mengajarkan klien makna-makna tingkah laku apa yang

dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi, dan hubungan terapeutik itu

sendiri. Fungsi dari penafsiran ini adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan

baru dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah sadar secara lebih lanjut.

Penafsiran yang diberikan oleh terapis menyebabkan adanya pemahaman dan tidak

terhalanginya alam bawah sadar pada diri klien.

Rambu-rambu Interpretasi :

 Interpretasi disajikan pada saat gejala yg diinterpretasikan berhubungan erat dengan

hal-hal yg disadari klien.

 Interpretasi dimulai dari permukaan menuju hal-hal yg dalam (dialami oleh situasi

emosional klien).

 Menetapkan resistensi atau pertahanan sebelum menginterpretasikan emo-si atau

(13)

Analisis Mimpi

Studi Freud yang mendalam tentang mimpi melahirkan pandangan-pandangan kritisnya

tentang hal ini. Bukunya yang berjudul “The Interpretation of Dreams” (1899) adalah telaah

intensif atas mimpi yang dilakukannya. Mimpi bagi Freud sejajar dengan gejala-gejala

penderita neurosis dan interpretasi atasnya selalu mendukung hipotesisnya. Baginya mimpi

adalah merupakan pemenuhan yang tersamar dan bersifat halusinasi atas

keinginan-keinginan yang terpaksa ditekan. Bagian teori tentang mimpi yang paling hakiki dan vital

bagi Freud adalah adanya kaitan antara distorsi mimpi dengan suatu konflik batiniah atau

semacam ketidakjujuran batiniah (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)

Analisis mimpi adalah prosedur atau cara yang penting untuk mengungkap alam bawah sadar

dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak

terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, sehingga perasaan-perasaan

yang direpres akan muncul ke permukaan, meski dalam bentuk lain. Freud memandang

bahwa mimpi merupakan "jalan istimewa menuju ketidaksadaran", karena melalui mimpi

tersebut hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan.

Beberapa motivasi sangat tidak dapat diterima oleh seseorang, sehingga akhimya

diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau disimbolkan dalam bentuk yang berbeda.

Mimpi memiliki dua taraf, yaitu isi laten dan isi manifes. Isi laten terdiri atas motif-motif

yang disamarkan, tersembunyi, simbolik,dan tidak disadari. Karena begitu menyakitkan dan

mengancam, maka dorongan-dorongan seksual dan perilaku agresif tak sadar(yang

merupakan isi laten) ditransformasikan ke dalam isi manifes yang lebih dapat diterima, yaitu

impian yang tampil pada si pemimpi sebagaimana adanya. Sementara tugas terapis adalah

mengungkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang

terdapat dalam isi manifes. Di dalam proses terapi, terapis juga dapat meminta klien untuk

mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian untuk mengungkap

makna-makna yang terselubung.

Sebagai contoh, Tedi bermimpi terbang menaiki Garuda Indonesia. “Terbang” adalah muatan yang tampak atau muatan manifes dari mimpi. Freud percaya bahwa “terbang” merupakan simbol dari ereksi, jadi mungkin muatan laten dari mimpi merefleksikan isi bawah sadar

(14)

Analisis mimpi, sebenarnya lebih dapat dipahami sebagai suatu bentuk asosiasi bebas, tapi

dalam konsep Freud, mimpi merupakan suatu bentuk kegiatan mental yang sangat

terorganisasi sehingga patut diperhatikan secara khusus. Bukunya yang terbit tahun 1900,

yaitu The Interpretation of Dream menjadi bukti konkret akan bentuk perhatian khusus itu.

Analisis Resistensi

Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien

mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien

dapat menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan, dan

pengalaman tertentu. Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika tak

sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa

dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan atau perasaan yang

direpres tersebut.

Analisis Transferensi

Resistensi dan transferensi merupakan dua hal inti dalam terapi psikonalisis. Transferensi

dalam keadaan normal adalah pemindahan emosi dari satu objek ke objek lainnya, atau

secara lebih khusus pemindahan emosi dari orangtua kepada terapis. Dalam keadaan

neurosis, merupakan pemuasan libido klien yang diperoleh melalui mekanisme pengganti

atau lewat kasih sayang yang melekat dan kasih sayang pengganti. Seperti ketika seorang

klien menjadi lekat dan jatuh cinta pada terapis sebagai pemindahan dari orangtuanya.

Dengan cara ini, maka diharapkan klien dapat menghidupkan kembali masa lampaunya

dalam terapi dan memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat-sifat dari

fiksasi-fiksasi, konflik-konflik, serta mengatakan kepada klien suatu pemahaman mengenai

pengaruh masa lalu terhadap kehidupannya saat ini.

Adapun tujuan dari metode terapi psikoanalisa/psikoanalisis ini antara lain:

1. Membentuk kembali struktur karakter individu dengan cara membuat kesadaran yang

tidak disadari di dalam diri klien.

(15)

2.7 Kelebihan Dan Kekurangan Terapi Psikoanalisis

Kelebihan

 Terapi ini memiliki dasar teori yang kuat.

 Dengan terapi ini terapis bisa lebih mengetahui masalah pada diri klien, karena prosesnya dimulai dari mencari tahu pengalaman-pengalaman masa lalu pada diri klien.

 Terapi ini bisa membuat klien mengetahui masalah apa yang selama ini tidak disadarinya.

Kekurangan

 Waktu yang dibutuhkan dalam terapi terlalu panjang.

 Memakan banyak biaya bagi klien.

 Karena waktunya lama, bisa membuat klien menjadi jenuh.

(16)

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Terapi psikoanalisis adalah teknik atau metoda pengobatan yang dilakukan oleh terapis

dengan cara menggali permasalahan dan pengalaman yang direpresnya selama masa kecil serta

memunculkan dorongan-dorongan yang tidak disadarinya selama ini.

Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengubah kesadaran individu, sehingga segala

sumber permasalahan yang ada didalam diri individu yang semulanya tidak sadar menjadi sadar,

serta memperkuat ego individu untuk dapat menghadapi kehidupan yang realita.

Didalam terapi psikoanalisis ini sangat dibutuhkan sifat dari terapeutik, maksudnya adalah

adanya hubungan interpersonal dan kerja sama yang professional antara terapis dan klien, terapis

harus bisa menjaga hubungan ini agar klien dapat merasakan kenyamanan, ketenangan dan bisa

rileks menceritakan permasalahan serta tujuannya untuk menemui terapis.

Struktur kepribadian dalam psikoanalisis terdiri dari 3, yaitu:

1 Id

2 Ego, dan

3 Superego

Tujuan terapi Psikoanalisis

 Membentuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari didalam diri klien

(17)

Adapun tujuan dari metode terapi psikoanalisa/psikoanalisis ini antara lain:

1. Membentuk kembali struktur karakter individu dengan cara membuat kesadaran yang

tidak disadari di dalam diri klien.

(18)

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Psikoanalisis

http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2010/12/27/terapi-psikoanalitik-328149.html

Corey Gerald. 2005. Theory and Practice of Counseling and Psychoterapy. Thompson learning:

USA.

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan peningkatan serapan Cd(II) pada pH yang lebih tinggi atau pada pH optimum dapat disebabkan karena sisi aktif dari penyusun protein dan selulosa dalam biomassa

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang yang mempengaruhi ma- hasiswa dalam memilih Program Studi Matematika FMIPA dan FKIP UNSRI adalah

(MEA), siswa lebih antusias dalam belajar terlihat jelas dari langkah awal guru dalam menyajikan materi pembelajaran matematika dengan pendekatan berbasis heuristik,

Dalam konteks masyarakat kolonial, the others tidak selalu penduduk pribumi tetapi dapat juga sekelompok atau anggota masyarakat tertentu seperti golongan Indo,

salah satu titik penting dalam tahapan perkembangan strategi ekonomi luar negeri Amerika. Pada saat itu setidaknya terdapat dua masalah ekonomi yang menjadi perhatian para

Selain proses peradilan pidana yang di lakukan menurut hukum acara yang berlaku di lingkungan peradilan umum, penyidik Polri yang melakukan salah tangkap juga

Kalau ekspresi_boolean bernilai false, m aka Pernyat aan2 n.. Cet ak SELESAI ,

Dan nenek yang paling setia menasehati saya Cut Laili ( Nyaksyik) terima kasih untuk semua doa dan dukungan yang sangat berarti yang diberikan selama proses ini