• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI MEGA REGIONALISME SEBAGAI SOLUS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STRATEGI MEGA REGIONALISME SEBAGAI SOLUS"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI MEGA-REGIONALISME SEBAGAI SOLUSI ATAS TANTANGAN

EKONOMI SAAT INI?

Berubahnya tatanan ekonomi internasional saat ini sebagai implikasi perkembangan

teknologi, transportasi dan telekomunikasi yang begitu cepat, mengharuskan Amerika Serikat

untuk melakukan penyesuaian terhadap strategi ekonomi luar negerinya. Hal ini seiring juga

dengan pendapat yang mengatakan bahwa Amerika Serikat sedang mengalami perlambatan

ekonomi sehingga menyebabkan melemahnya pengaruh Amerika Serikat.. Namun demikian,

penulis berargumen bahwa Amerika Serikat dapat menerapkan strategi ekonomi

Mega-Regionalisme untuk mendapatkan kembali pengaruhnya sekaligus mencapai

kepentingan nasionalnya. Guna menjelaskannya, tulisan ini akan dimulai dengan penjelasan

argumen Gilpin (2000); diikuti dengan paparan stagnansi strategi ekonomi multilateralisme

Amerika; penjelasan mengenai strategi ekonomi raksasa baru di Timur Asia; serta ditutup

dengan refleksi mega-regionalisme sebagai strategi ekonomi Amerika ke depannya.

I. MULTI-TRACK ECONOMY DALAM STRATEGI EKONOMI AMERIKA1

Permasalahan ekonomi yang melanda Amerika Serikat pada tahun 1980-an merupakan

salah satu titik penting dalam tahapan perkembangan strategi ekonomi luar negeri Amerika.

Pada saat itu setidaknya terdapat dua masalah ekonomi yang menjadi perhatian para pengambil

kebijakan di Amerika Serikat adalah: 1) menurunnya industri-industri domestik dan lapangan

pekerjaan; serta 2) defisit perdagangan yang terjadi dengan Jepang. Presiden Reagan yang saat

itu menjabat melihat akar penyebab permasalahan pertama antara lain adalah banyaknya

jumlah pemerintahan federal, tingginya tingkat pajak yang diterapkan oleh pemerintah federal

serta beban negara yang terlalu berat dalam rangka mewujudkan program-program

welfare-state. Sementara itu, akar permasalahan kedua diungkapkan oleh Presiden Reagan adalah

kecurangan pemerintah Jepang yaitu melalui penerapan hambatan informal !seperti tingginya

standar produk tertentu, sistem keiretsu! dan pembatasan terhadap akses pasarnya.

""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""

1 Bagian ini merupakan rangkuman dari artikel Robert Gilpin, “Chapter 8: American Economic Strategy”, dalam The Challenge of Global

(2)

Guna mengatasi kedua permasalahan tersebut, dua strategi dilakukan oleh Presiden

Reagan: unilateral dan multilateral. Strategi unilateral domestik yang dimaksud adalah

mengurangi jumlah pemerintahan federal, memotong pajak secara signifikan, dan membiarkan

pasar domestik bekerja. Strategi unilateral lain yang dilakukan adalah managed trade; !

termasuk meminta secara langsung negara mitra dagang Amerika untuk mengapresiasi mata

uang masing-masing dalam rangka pengurangan surplus dagang mereka dengan Amerika;

menerapkan “hukuman” terhadap negara-negara yang berlaku curang dalam perdagangan

dengan Amerika Serikat, dan melakukan Structural Impediments Initative (SII)!; serta

penerapan market-sharing agreement dengan Jepang. Sementara itu, strategi multilateral

yang diterapkan oleh Presiden Reagan adalah mengadakan perundingan Uruguay atau GATT.

Tujuannya adalah mendorong negara-negara merendahkan hambatan perdagangannya,

membentuk tata aturan baru terkait perdagangan dan mekanisme penyelesaian sengketa.

Menariknya, pada pertengahan tahun 1980-an, terdapat perubahan dalam strategi

ekonomi Amerika tersebut. Perubahan strategi ekonomi yang dimaksud adalah Amerika

Serikat tidak lagi bergantung pada multilateralisme saja melainkan saat itu mulai mengadopsi

strategi multi-track !kombinasi inisiatif perdagangan unilateral, regional dan multilateral

yang disengaja! untuk mencapai kepentigan ekonomi dan politiknya. Faktor utama perubahan

ini menurut Gilpin (2000) adalah adanya peningkatan regionalisasi di kawasan Eropa Barat.

Tercatat pada tahun 1985, negara-negara Eropa mencapai kesepakatan untuk membentuk

sebuah pasar tunggal.2 Faktor lain perubahan ini juga dikarenakan adanya tekanan dari

konstituen untuk melakukan proteksi perdagangan serta ketakutan masyarakat dan pemerintah

akan memburuknya kondisi dari dua permasalahan ekonomi sebelumnya. Gilpin (2000)

mengungkapkan bahwa tiga komponen penting dalam strategi perdagangan yang multi-track

adalah: 1) Amerika tetap berkomitmen pada rezim perdagangan yang multilateral; 2)

memungkinkan Amerika melakukan unilateralisme secara agresif, menerapkan managed trade

dan perdagangan yang berbasis hasil untuk menekan negara-negara membuka pasarnya; serta

3) perubahan pandangan sejarah terhadap kontinentalisme Amerika Utara. Berangkat dari

paparan mengenai tulisan Gilpin (2000) penulis hendak meninjau kembali dari kombinasi

ketiga jenis strategi ekonomi-perdagangan tersebut, manakah yang lebih efektif untuk

diterapkan pada saat ini.

""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""

2

(3)

II. STAGNANSI STRATEGI MULTILATERALISME AMERIKA

Salah satu strategi perdagangan multilateralisme dominan yang digunakan oleh

Amerika Serikat hingga hari ini adalah memanfaatkan World Trade Organization (WTO).

Merujuk pada Baldwin (2009), organisasi yang lahir hasil perundingan Uruguay ini telah

mencapai beberapa langkah dalam meliberalisasi perdagangan internasional termasuk tata

aturan bersama !mengenai subsidi, anti-dumping, kuota!, kesepakatan perdagangan terkait

hak kekayaan intelektual (TRIPs), kesepakatan perdagangan terkait standar investasi (TRIMs),

serta kesepakatan umum perdagangan di sektor jasa (GATS).3 Namun demikian, WTO dengan

Agenda Pembangunan Doha-nya (DDA) saat ini mengalami beberapa hambatan. Hambatan

tersebut adalah adanya ketidaksepakatan antara negara maju dengan negara berkembang terkait

liberalisasi di sektor agrikultur.4 Munculnya berbagai kelompok dengan kepentingan yang

berbeda !G-20, G-33, dan LDC(s)! di antara negara berkembang juga mempersulit

negosiasi dalam WTO.5 Selain itu, permasalahannya juga adalah lemahnya kapasitas institusi

pedagangan di negara berkembang.6 Ditambahkan, prinsip Most-Favored-Nation WTO juga

sudah semakin tererosi sebagai akibat adanya bilateral dan regional FTA yang berkembang

saat ini.7 Berangkat dari berbagai hambatan di atas, dapat dilihat bagaimana stagnansi di WTO

masih akan terus terjadi dalam waktu dekat. Sehingga, ini akan membuat pemilihan strategi

multilateral !dalam hal ini WTO! menjadi pilihan yang tidak efektif bagi Amerika Serikat

dalam mencapai kepentingan ekonomi nasionalnya.

III. STRATEGI RAKSASA EKONOMI BARU DI ASIA TIMUR

Langkah cepat diambil oleh Cina !raksasa ekonomi baru di Asia Timur! untuk

merespon stagnansi yang terjadi di WTO. Langkah tersebut adalah dengan mengembangkan

kesepakatan perdagangan bebas (FTA).8 Tercatat hingga tahun 2014, setidaknya Cina sudah

menandatangani 12 FTA dengan negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Timur.9 Merujuk

pada Salidjanova (2015) tujuan China melakukan FTA tidak serta merta hanya karena akses

pasar, melainkan juga karena membatasi pergerakan Taiwan; menangkal pemahaman tentang

(4)

Cina sebagai ancaman, berupaya menjadi pemimpin regional serta tujuan politik lainnya.10

Tidak hanya itu, Cina juga memperkuat strategi perdagangannya dengan mengikuti Regional

Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Tiga karakteristik khas dari

mega-regionalisme FTA yang dijalankan oleh Cina ini adalah: 1) berfokus pada kebutuhan

pembangunan ekonomi domestik negara-negara anggota; 2) fokus utama juga diberikan pada

pembukaan akses pasar dengan lingkup kesepakatan yang terbatas mengingat negara anggota

yang mayoritas merupakan negara berkembang: serta 3) ketiadaan perhatian pada inovasi dan

penataan ulang aturan-aturan mengenai kerjasama ekonomi dan perdagangan.11 Anggota

RCEP ini meliputi 10 negara anggota ASEAN, Korea Selatan, Selandia Baru, India, Jepang,

dan Australia.12 Menariknya, Cina berupaya untuk mengeksklusikan Amerika dari

keanggotaan RCEP.13

IV. TRANS PACIFIC PARTNERSHIP: MEGA-REGIONALISME SEBAGAI SOLUSI?

Berangkat dari berbagai jenis tantangan di atas, penulis percaya bahwa Amerika Serikat

perlu memfokuskan strateginya pada bentuk mega-regionalisme14: Trans-Pacific Partnership

(TPP). Institusi perdagangan yang diikuti oleh Amerika Serikat sejak tahun 2010 ini, menurut

Representasi Perdagangan Amerika Serikat (USTR) telah mengeliminasi 18.000 pajak yang

diterapkan pada produk asal Amerika Serikat !termasuk diantaranya pajak terhadap produk

otomotif buatan Amerika dari yang sebelumnya 70% menjadi 55% di negara anggota TPP;

atau produk daging sapi asal Amerika yang sebelumnya terkena 38.5% di Jepang menjadi 9%

setelah TPP! .15 TPP juga dapat melindungi bisnis kecil dan menengah; serta tenaga kerja

Amerika Serikat di luar negeri dikarenakan adanya perhatian yang khusus terhadap kedua hal

tersebut.16 Merujuk pada Salidjanova (2015) setidaknya terdapat tiga keuntungan lain yang

akan didapatkan oleh Amerika Serikat apabila menerapkan strategi mega-regionalisme ini.17

Pertama, TPP akan memperluas akses pasar bagi barang dan jasa Amerika diluar WTO,

khususnya dengan penghilangan hambatan-hambatan non-tarif. Kedua TPP juga dapat

mengkonsolidasikan “kebijakan kembali ke Asia” milik Amerika Serikat guna mengimbangi

(5)

Cina, melalui penguatan hubungan dengan aliansi Amerika di Asia Pasifik. Ketiga, TPP juga

dapat memelihara pengaruh Amerika Serikat dalam rezim perdagangan abad ini melalui

promosi standar “premium” yang mana tidak dapat ditawarkan oleh WTO maupun FTA

kebanyakan. Ditambahkan, menurut Capling dan Ravenhill (2011), TPP juga mampu

mengatasi “tantangan terkait perdagangan abad ke-21” yang lebih dari sekedar akses pasar;

dan juga menyelesaikan “noodle bowl” yang ada.18

Menutup tulisan ini, penulis percaya bahwa meskipun Amerika Serikat sampai saat ini

masih menerapkan strategi multi-track, namun hanya satu jenis strategi yaitu

mega-regionalisme !dalam konteks ini TPP! yang dapat mengalami perkembangan yang efektif.

Selain karena memang keanggotaannya diarahkan pada like-minded countries; serta adanya

tren FTA yang sedang berkembang, pilihan lain juga !unilateral dan multilateral! tidak

begitu memungkinkan untuk mencapai kepentingan luar negeri Amerika Serikat secara

konsisten. Lebih jauh, penulis melihat bahwa strategi ekonomi unilateralisme tidak lagi

tersedia bagi Amerika Serikat di tengah keadaan banyaknya kekuatan alternatif yang ada,

khususnya Cina. Penulis percaya bahwa unilateralisme Amerika Serikat dapat diterapkan

hanya dalam kondisi tertentu !termasuk krisis! saja, jika tidak ini akan menjadi

kontra-produktif bagi Amerika Serikat sendiri.

""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""

18

(6)

DAFTAR PUSTAKA

“Completion of Single Market Proposed”, Delegation of the European Union to the United

States, diakses melalui http://www.euintheus.org/timeline-milestone/?post=13291 pada 10 Oktober 2016, pukul 06.57 WIB.

“Regional Comprehensive Economic Partnership”, Asia Regional Integration Center diakses

melalui https://aric.adb.org/fta/regional-comprehensive-economic-partnership pada 10 Oktober

2016

“TPP Overall U.S. Benefits”, USTR, diakses melalui

https://ustr.gov/sites/default/files/TPP-Overall-US-Benefits-Fact-Sheet.pdf pada 11 Oktober 2016 pukul 13.00 WIB

Baldwin, Robert E. “Chapter 3: History of U.S. Trade Policy Since 1934”, dalam U.S. Trade

Policy Since 1934: An Uneven Path Toward Greater Trade LiberalizationNBER Working Paper No. 15397, (2009), hlm. 59-123

Capling, Ann dan John Ravenhill, “Multilateralizing Regionalism: What role for the Trans-

Pacific Partnership Agreement?”, The Pacific Review, Vol. 24 No. 5 (Dec., 2011), hlm. 553-575

Clapp, Jennifer, “Developing Countries and the WTO Agriculture Negotiations”, Working

Paper No. 6 (Maret, 2006) hlm. 1-32

Hamanaka, Shintaro,“Trans-Pacific Partnership versus Comprehensive Economic

Partnership: Control of Membership and Agenda Setting”, ADB Working Paper Series on Regional

Economic Integration No. 146 (Dec. 2014), hlm. 1-20

Gilpin, Robert, “Chapter 8: American Economic Strategy”, dalam The Challenge of Global

Capitalism: The World Economy in the 21st Century”, (New Jersey: Princeton University Press, 2000) hlm.227-264

Lewis, Meredith Kolsky, “The Prisoners’ Dilemma and FTAs”, dalam Ross P. Buckley, Vai

Io Lo, Laurence Bouelle, Challenges to Multilateral Trade: The Impact of Bilateral, Preferential,

and Regional Agreements, hlm.21-41

Li, Ronglin, dan Yang Hu, “RCEP, TPP and China’s FTA Strategies”, International Institute

for Sustainable Development, (2015) hlm. 1-21

Salidjanova, Nargiza, “China’s Trade Ambitions: Strategy and Objectives behind China’s

Pursuit of Free Trade Agreements”, U.S.-China Economic and Security Review Commission Staff

Report (2015), hlm. 1-43

Ostry, Sylvia, “Trade, Development and the Doha Development Agenda”, dalam The WTO

after Hongkong: Progress in, and prospect for, the Development Agenda, diedit oleh Donna Lee dan Rorden Wilkinson, (New York: Routledge, 2007), hlm. 26-35

Zhao, Longyue ,“China Trade Strategy: FTAs, Mega-Regionals, and the WTO”, Robert

Referensi

Dokumen terkait

Bangunan ini memiliki susunan atap seperti pada rumah limasan pokok yaitu mempunyai 4 buah sisi yang ditambahkan 4 buah emper yang mengelilingi bangunan tersebut dan mempunyai

Menurut Napier dan Napier (1985) terdapat tiga tipe kelompok pada satwa primata, yaitu: (1) multi- male group, yang terdiri dari beberapa jantan dewasa, beberapa

Tujuan penelitian ini adalah untuk menyeleksi atribut pengukuran dielektrik (parameter dielektrik, kondisi rangkaian alat dan frekuensi), memformulasi desain sensor

Tetapi jika kita ingin meninjau indeks saham secara gabungan dari kelima perusahaan tersebut, maka yang dihitung nantinya disebut IHSG (Indeks Harga saham Gabungan). Maka

Sementara itu, kelompok bukan makanan yang mengalami peningkatan volume konsumsi tertinggi pada triwulan II-2017 terjadi pada kelompok pakaian dengan nilai indeks sebesar 122,68..

Aset diklasifikasikan menjadi Aset Lancar, Investasi, Aset Tetap, Piutang Jangka Panjang dan Aset Lainnya.. Catatan atas Laporan Keuangan | Penjelasan Pos-pos

Berdasarkan analisis tentang world view pengarang dapat disimpulkan bahwa secara simbolik cerita dalam naskah drama Aa-Ii-Uu sebagaimana karya Arifin C.. Noer yang lain

program (mengembangkan program pendidikan nilai). Dari pendapat Kirschenbaum ini maka para guru/dosen Pendidikan Agama termasuk para guru/dosen yang lain harus berusaha