• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMBANGUN DEMOKRASI MELALUI CONSTITUTIONAL COMPLAINT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MEMBANGUN DEMOKRASI MELALUI CONSTITUTIONAL COMPLAINT"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

MEMBANGUN DEMOKRASI

MELALUI

CONSTITUTIONAL COMPLAINT

Oleh: WASIS SUSETIO

Dosen Fakultas Hukum - UIEU

ABSTRAK

Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum, konsep negara hukum sendiri memiliki korelasi erat dengan pembangunan nilai-nilai demokrasi yang ingin diterapkan melalui mekansime yuridis suatu sistem ketatanegaraan. Salah satu sikap politik para anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dalam menerjemahkan keinginan rakyat pasca pemerintahan orde baru adalah membangun sistem demokrasi yang lebih terjamin dalam bingkai yuridis. Konstitusi sebagai hukum tertulis tertinggi merupakan pilar utama Negara Hukum, sehingga dengan ditegakkannya Konstitusi dalam penyelenggaraan pemerintahan akan tegak pula cita Negara Hukum Indonesia yang di dalamnya terkandung luas jiwa dan semangat demokrasi. Negara hukum harus menjamin adanya demokrasi, sebagaimana di dalam setiap Negara Demokrasi harus menjamin penyelenggaraannya berdasar atas hukum, maka perlu ada perlindungan konstitsuional yang menjamin hak-hak masyarakat sebagai perwujudan dari pelaksanaan elemen-elemen demokrasi dalam Konstitusi.

Kata Kunci: Mahkamah Konstitusi, Constitutional Complaint, Demokrasi, Negara Hukum

Pendahuluan

A. Democratische Rechstaat

Salah satu sikap politik para anggota Majelis Permusyawaratan

Rakyat dalam menerjemahkan keinginan rakyat pasca pemerintahan orde baru

adalah membangun sistem demokrasi yang lebih terjamin dalam bingkai

yuridis. Hal ini dituangkan dalam amandemen ketiga UUD 1945 dengan

menambahkan ketentuan dalam Pasal 1

UUD 1945. Pasal 1 ayat (2) menyatakan

bahwa:

kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD 1945”, dan berikutnya pada ayat (3) disebutkan bahwa “Negara Indonesia adalah Negara Hukum (Rechtstaat)”. Dua substansi

pokok dari adanya penambahan kedua ayat tersebut adalah mengkonstruksikan

(2)

tertinggi, dan me-laksanakannya dalam

format negara hukum. Dalam kedudukan tersebut, maka pembangunan

demokrasi di Indonesia diharapkan dapat lebih terjamin.

Konsep negara hukum sendiri memiliki korelasi erat dengan

pem-bangunan nilai-nilai demokrasi yang ingin diterapkan melalui mekanisme

yuridis suatu sistem ketatanegaraan. Hal ini bermula sejarahnya dari

perkembangan ide negara hukum atau disebut Nomocracy sebagai akibat dari

perkembangan teori kedaulatan hukum. Pada zaman modern, konsep negara hukum di Eropa Kontinental

dikembangkan antara lain oleh Immanuel Kant, Paul Laband, Julius

Stahl, Fichte, dan lain-lain dengan menggunakan istilah Jerman, yaitu “Rechtstaat”. Sedangkan dalam tradisi Anglo Saxon, konsep negara hukum

dikembangkan atas kepeloporan A.V Dicey dengan sebutan “The Rule of Law”. Menurut Stahl dalam konsep “Rechtstaat” mencakup 4 (empat) elemen utama, yaitu :

1. Perlindungan hak asasi manusia; 2. Pembagian kekuasaan;

3. Pemerintahan berdasarkan perun-dang-undangan;

4. Peradilan Tata Usaha Negara. Sedangkan A.V. Dicey

meng-uraikan adanya tiga ciri penting dalam

setiap negara hukum yang disebutnya

dengan istilah “The Rule of Law”, yaitu:

1. Supremacy of Law

2. Equality before the Law

3. Due Process of law

( Didi, 1992)

Dari kedua pemikiran terhadap

prinsip-prinsip negara hukum di atas telah mengalami elaborasi yang cukup

signifikan dalam perkembangan nilai-nilai demokrasi, hal ini dapat dilihat dari

hasil pertemuan para juris di South-East Asian and Pacific Con-ference of Jurist

in Bangkok, pada tanggal 15 sampai

dengan 19 Februari 1965 di Bangkok, Thailand yang memperkenalkan adanya

syarat-syarat bagi negara perwakilan yang berbasis The rule of law

(Representative government under the rule of law), yaitu :

(1) Perlindungan konstitusional dalam arti konstitusi selain menjamin

hak-hak individu harus menentukan pula cara prosedural

untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak yang dijamin.

(2) Badan kehakiman yang bebas dan

tidak memihak.

(3) Kebebasan untuk menyatakan

pendapat.

(4) Pemilihan umum yang bebas.

(3)

(6) Pendidikan kewarganegaraan

(civic education).

Sementara Konstitusi sebagai

hukum tertulis tertinggi (staat- fundamentalnorm) merupakan pilar

utama negara hukum, sehingga dengan ditegakkannya konstitusi dalam

penyelenggaraan pemerintahan akan tegak pula cita Negara Hukum Indonesia

(Rechtstaatsidee) yang di dalamnya terkandung luas jiwa dan semangat

demokrasi.

B. Kewenangan

Constitutional

Complaint Mahkamah Konsti-

Tusi

Dalam salah satu syarat penerapan the rule of law oleh negara hukum yang disebutkan di atas, maka

perlu ada perlindungan konstitusional yang menjamin hak-hak masyarakat

sebagai perwujudan dari pelaksanaan elemen-elemen demokrasi dalam

Konstitusi. Dengan demikian dibutuhkan suatu mekanisme

perlindungan konstitusional yang efektif, dan hal ini merupakan

keniscayaan dengan terbentuknya Mahkamah Konstitusi Republik

Indonesia (MKRI) pada tahun 2003 sebagai lembaga yang berwenang untuk

mengawal konstitusi dalam praktek ketatanegaraan di Indonesia. Dengan kata lain, Mahkamah Konstitusi

menjadi instrumen penting dalam

pembangunan demokrasi di Indonesia. Tetapi seberapa jauh

ke-wenangan Mahkamah Konstitusi untuk menjaga keberlangsungan proses

tersebut? Dalam Pasal 24 C UUD 1945 disebutkan bahwa Mahkamah Konstitusi

berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya

bersifat final untuk menguji undang-undang ter-hadap UUD 1945, memutus

sengketa kewenangan lembaga negara, me-mutus pembubaran partai politik,

memutus perselisihan hasil pemilu, dan memutus pendapat DPR terhadap perkara impeachment terhadap presiden

dan / atau wakil presiden.

Dari kelima kewenangan

tersebut, khususnya pengujian undang-undang yang pengajuannya

di-mungkinkan juga oleh warganegara perorangan (pasal 51 Undang-Undang

Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi) maka hal itu

sesungguhnya merupakan upaya penegakkan prinsip-prinsip negara hukum yang menjamin peran serta

masyarakat dalam proses pengambilan keputusan kenegaraan, sehingga setiap

undang-undang yang ditetapkan dan ditegakan mencerminkan perasaan

keadilan yang hidup di tengah masyarakat. Dalam bahasa

(4)

undang-undang yang berlaku, tidak

boleh ditetapkan dan diterapkan secara sepihak oleh dan/atau hanya untuk

kepentingan penguasa secara bertentangan dengan prinsip-prinisp

demokrasi yang tertuang dalam konstitusi. Dengan demikian, negara

hukum (rechtsaat) yang di-kembangkan bukanlah “absolute rechstaat”, melainkan “democratische rechtsaat”, negara hukum harus menjamin adanya

demokrasi, sebagaimana di dalam setiap Negara Demokrasi harus menjamin

penyelenggaraannya berdasar atas hukum (Jimly,2005)

Akan tetapi kewenangan

Mahkamah Konstitusi yang terbatas pada pengujian undang-undang terhadap

UUD 1945 terasa belum cukup, sebab masih banyak keputusan penguasa

(public authorities) termasuk peraturan pelaksana undang-undang, kebijakan

maupun putusan pengadilan yang semestinya merupakan obyek pengujian

di Mahkamah Konstitusi juga. Hal tersebut dapat berupa keluhan konstitusional (constitutional complaint)

di mana setiap orang dapat mengajukan komplain terhadap dugaan atas kerugian

hak konstitu-sional mereka akibat adanya putusan, kebijakan maupun

peraturan per-undang-undangan yang bertentangan dengan Konstitusi.

Memang dalam pasal 24 A ayat

(1) UUD 1945 mengatur pengujian (judicial review) di Mahkamah Agung

(MA) terhadap peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang,

seperti misalnya Peraturan Pemerintah (PP), Presiden (Perpres), dan lain-lain.

Demikian pula dengan kompetensi Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN),

namun hal tersebut hanya untuk perkara pengaduan tindakan para pejabat yang

melakukan pe-langgaran undang-undang. Sehingga hal ini akan terhenti

kepada penilaian normatif atas undang-undang bukan terhadap ketentuan UUD 1945.

Adanya Contitutional complaint memungkinkan masyarakat mendapat-

kan hak konstitusionalnya kembali akibat dirugikan oleh putusan dari

pejabat publik termasuk pengadilan. Praktek constitutional complaint dapat

mengambil contoh dalam Konstitusi Jerman (Bundesverfassungsgerichtsge-

setz)

Pasal 93 ayat (1):

“A constitutional complaint may relate to any act by a public authority violating a basic right: a law, a directive of an administrative agency, or a court decision. However, the

requirement for lodging such a

complaint with the Federal

(5)

jurisdiction (e.g. civil, criminal or administrative) must therefore first be exhausted before having recourse to the Federal Constitutional Court.”

Di Jerman sendiri tidak kurang

dari 5000 kasus setiap tahunnya, sementara dari sejak dimulainya

ke-wenangan constitutional complaint pada Mahkamah Konstitusi Jerman pada

tahun 1958 hingga tahun 2004 telah ada sekitar 140.000 kasus yang terkait

dengan constitutional complaint (German Law Journal No. 5 (1 May

2005).

Constitutional complaint hanya

dilakukan untuk memulihkan hak

konstitusional bagi pihak yang dirugikan, tanpa perlu membatalkan

suatu ketentuan perundang-undangan dalam hal judicial review. Dengan

demikian, suatu peraturan perundang-undangan dapat tetap diberlakukan

sesuai asas erga omnes (berlaku untuk seluruhnya) kecuali bagi mereka yang

dianggap menderita kerugian atas berlakunya peraturan

perundang-undangan tersebut. Menurut Jan Klucka (Klucka, 1997) maka secara umum ada 4 karakter dari constitutional complaint

yaitu:

1. They provide a judicial remedy

against violations of constitutional

rights;

2. They lead to separate proceedings

which are concerned only with the

constitutionality of the act in

question and not with other legal

issues connected with the same

case;

3. They can be lodged by the person

adversely affected by an act in

question;

4. The court which decides the

constitutional complaint has the

authority to annul the act that it

deems unconstitional. Such

annulment is indispensable to

constitutional justice and it must be

read as a corollary of the power of

constitutional court to interpret

constitution as a basic legal text of

each state and to ascertain its

violation.

Sebagai contoh jika ada suatu putusan tingkat akhir berkekuatan tetap

(incracht) yang sifatnya merugikan kepentingan seseorang. Dalam dasar

pertimbangan hukum putusan pengadilan tersebut dianggap telah mencederai hak konstitutional orang

yang bersangkutan, dan tidak ada upaya hukum lain yang dapat dilakukan. Maka

dalam posisi kasus demikian, orang tersebut dapat mengajukan permohonan

kepada Mahkamah Konstitusi untuk meminta pengujian terhadap keputusan

(6)

constitutional complaint, dengan melakukan eksaminasi konstitusional terhadap pertanyaan apakah putusan

pengadilan terhadap dirinya bertenta-ngan debertenta-ngan ketentuan Konstitusi?

misalnya putusan pengadilan yang bersangkutan bertentangan dengan

penerapan asas kepastian hukum yang dijamin oleh Konstitusi.

Contoh lain adalah adanya complaint terhadap keberlakuan suatu

aturan yang berkenaan dengan hak kosntitusional seseorang atau

sekelom-pok orang. Di Jerman pernah terjadi adanya pengajuan complaint terhadap larangan penyembelihan hewan (animal

slaughter). Aturan tersebut diprotes

serta digugat ke pengadilan oleh warga

muslim Jerman yang secara syariah Islam diwajibkan untuk mengeluarkan

darah hewan melalui tenggorokan dengan cara menyembelih hewan

tersebut, apalagi adanya alasan kewajiban penyembelihan hewan pada

setiap hari Raya Qurban (Iedul Adha). Pengujian aturan setingkat Peraturan Pemerintah tersebut dilakukan

di Mahkamah Agung. Namun hasilnya menolak permohonan pemohon dengan

dalih kewenangan negara untuk menentukan aturan, dan menyatakan

bahwa aturan tersebut tetap mengikat secara umum termasuk kepada

pemohon. Akhirnya para pemohon

mengajukan ke Mahkamah Konstitusi

untuk menguji putusan Mahkamah Agung tersebut melalui penilaian

terhadap ketentuan konstitusional, khususnya terhadap pasal tentang

kebebasan beragama (freedom of religion). Dari putusan Mahkamah

Konstitusi tersebut telah terjadi terobosan hukum melalui interpretasi

terhadap paradigma atas kedaulatan Tuhan yang di-implementasikan ke

dalam kaedah-kaedah agama, termasuk pe-nyembelihan hewan korban.

Dalam posisi ini, secara yuridis kedaulatan Tuhan dapat menegasikan kedaulatan negara yang membuat aturan

larangan penyembelihan hewan, dengan demikian aturan tersebut dinyatakan

tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sepanjang bagi para warga

muslim Jerman, namun tetap di-berlakukan bagi warga lainnya

(Decision of the Federal Constitutional Court, 1 BvR 2790/04 of December 28,

2004).

Kewenangan untuk mengadili perkara constitutional complaint di

beberapa negara yang memiliki Mahkamah Konstitusi, seperti Austria,

Korea Selatan, Rusia, Kroasia, Afrika Selatan, dll (seluruhnya ada 78 negara

yang memiliki Mahkamah Konstitusi) telah diatur dalam Konstitusi mereka.

(7)

negara-negara tersebut memiliki

pengalaman politik masa lalu terhadap praktek penyimpangan konstitusional

dalam penyelenggaraan negara yang merugikan hak-hak masyarakat yang

sesungguhnya dilindungi oleh Konstitusi sebagai bentuk kontrak sosial antara

Penyelenggara Negara dengan Rakyatnya (Strong,1960).

Berbagai keluhan masyarakat saat ini akibat banyaknya praktek

putusan pengadilan, keputusan pemerintah, maupun peraturan yang

merugikan, sangatlah relevan untuk diajukan kepada Mahkamah Konstitusi untuk mengadilinya berdasarkan

parameter normatif konstitusional. Meskipun Mahkamah Konstitusi

memiliki keterbatasan kewenangan sebagaimana diatur dalam UUD 1945,

khususnya pasal 24 C , namun masih ada keniscayaan untuk dilakukan secara

pragmatis melalui 2 (dua) cara, baik oleh pembentuk undang-undang maupun

oleh hakim konstitusi.

Bagi pihak pembentuk undang-undang dapat melalui legislative review

terhadap undang-undang nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah

Konstitusi yaitu melalui penambahan (secara addendum) terhadap penjelasan

atas makna pengujian undang-undang. Dalam posisi ini, para pembentuk

undang-undang dituntut untuk memiliki

political will yang kuat untuk

menjalankan amanah Konstitusi UUD 1945 dan menegakkan nilai-nilai

demokrasi di dalamnya.

Pembentuk undang-undang

tidak perlu khawatir dengan melakukan legislative review atas Undang-Undang

Mahkamah Konstitusi tersebut, sebab hal itu akan memperlihatkan kepada

masyarakat bahwa sikap dan kedewasaan politik DPR maupun

pemerintah semakin matang dan commit terhadap penegakan nilai-nilai

demokrasi dalam koridor yuridis konstitusional.

Sementara bagi para hakim

Konstitusi dapat melakukan penemuan hukum (rechtsvinding) melalui judicial

interpretation secara teleologis dan ekstensif dengan mengacu kepada

sumpah jabatan mereka, khususnya terhadap kata-kata “…menegakkan

konstitusi dengan selurus-lurusnya”. Dalam hal tersebut, hakim dapat

melakukan analogi sejarah pertama kali terjadinya judicial review oleh hakim John Marshal pada tahun 1803, sebagai

Hakim Mahkamah Agung Amerika yang meskipun tidak diberi kewenangan oleh

Konstitusi Amerika namun melakukan penafsiran ekstensif berdasarkan

(8)

C. Kesimpulan

Hukum merupakan suatu wahana untuk menciptakan tatanan masyarakat yang dikehendaki

sebagaimana dikatakan oleh Roscou Pound , “The law is a tool of social

engineering”, salah satunya untuk membangun masyarakat yang

demokratis. Agar pelaksaanaan hukum berjalan efektif maka diperlukan

pengawasan masyarakat dengan mengajukan perkara ke Mahkamah

Konstitusi yang memiliki kewenangan untuk menerima constitutional

complaint, sehingga fungsi dan

kewenangan Mahkamah Konstitusi dapat benar-benar menjamin penegakan

nilai-nilai konstitusi yang didalamnya termaktub pula pem-bangunan Negara

Hukum yang demokratis.

Daftar Pustaka

Asshidiqie, Jimly, “Konstitusi dan

Konstitusionalisme di

Indone-sia”, Konstitusi Press, Jakarta,

2005.

Choper, Jose H., “Judicial review and

the National Political Process”, The University of Chicago

Press, London,1980.

C.F., Strong OBE, “Modern Political

Constitutions An Introduction to

the Comparative Study of their

History and Existing Form”,pp

123-124, Sidwick & Jacson

Limited, London,1960.

Decision of the Federal Constitutional

Court, 1 BvR 2790/04 of December 28, 2004, at

http://www.bverfg/entscheidung en/rk20041228_1bvr279004.ht

ml.

Friedman, Wolffgang, “Teori dan

Filsafat Hukum, Telaah Kritis Atas Teori-Teori Hukum”,

Rajawali Press, Jakarta, 1980. Klucka, Jan, “Suitable Rights for

Constitutional Complaint”, Paper in Workshop on “The

Functioning of the

Constitutional Court of The

Republic of Latvia”, Riga,

Latvia, 3-4 July 1997.

South-East Asian and Pacific

Conference of Jurist, “The

Dynamic Aspects of the Rule of

Lawin Modern Age,

International Commission of

Jurist”, Bangkok,1965.

Yunas, Didi Nazmi, “Konsepsi Negara Hukum”, Angkasa, Padang,

(9)

Referensi

Dokumen terkait

Inilah yang perlu ditata lebih baik, se- hingga penerapan kebebasan warga negara dan demokrasi tetap berada dalam koridor hukum dan tidak mengganggu kepentingan umum..

Hukum internasional tidak hanya menjamin perlindungan dan pemenuhan kedaulatan setiap negara, hukum internasional bahkan melalui prinsip dasar pertanggungjawaban

bahwa setiap tindakan harus berdasarkan sebagaimana yang diatur dalam undang-undang, sama halnya dengan hukum pidana Indonesia.. 3 Setiap warga Negara Indonesia dapat

Oleh karena itu untuk menjamin pelak sa naan prinsip-prinsip demokrasi , negara berdasarkan atas hukum dan lain - lain hal yang sudah ditentukan maka tidak ada

Dalam konteks ini, terdapat upaya hukum untuk menggugat keputusan tersebut ke pengadilan tata usaha negara, namun apabila nantinya putusan pengadilan tata usaha

Penyelenggaraan Peradilan Tata Usaha Negara atau penegakan hukum harus dipahami sebagai sarana untuk menjamin adanya suatu proses yang adil, dalam rangka

Gereja Katolik secara khusus memberi perhatian mengenai perjanjian internasional ini dalam Kitab Hukum Kanonik kanon 3. Di sana diuraikan secara gamblang mengenai prosedur pelaksanaan perjanjian antara Vatikan dengan negara lain. Perlu diingat juga bahwa perjanjian yang dibuat oleh Vatikan dengan negara-negara lain bukanlah perjanjian politis melainkan perjanjian pastoral. Hal tersebut tentu menjadi indikasi tidak adanya kepentingan politis, tetapi lebih sebagai upaya untuk menjamin keberadaan dan hak umat Katolik yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Lalu bagaimana kanon 3 ini menunjukkan perannya dalam kehidupan Gereja Katolik di tengah dunia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis akan membahasnya dalam paper

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,