MAKALAH BAHASA INDONESIA
SMA NEGERI 1 PASIR SAKTI
DISUSUN OLEH:
HARDIANTO DAN WIRATMAN
PEMERINTAH KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna ibarat kata pepatah “tak ada gading yang tak retak”. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan dan kami harapkan demi terciptanya makalah yang lebih baik dikemudian hari.
Pasir Sakti, 13 januari 2015
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...i
KATA PENGANTAR...v
DAFTAR ISI ...vi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang...1
1.2 Tujuan penulisan...1
1.3 Manfaat penulisan...3
1.4 Rumusan masalah...4
1.5 Ruang lingkup penelitian...5
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Faktor-faktor terjadinya pernikahan dini... BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan ...11
3.2 Saran...11 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
A. Latar Belakang Masalah
Globalisasi lengkap dengan teknologinya tentu membawa dampak yang bersifat positif dan tidak sedikit pula dampak negatif yang ditimbulkan. Salah satu kelompok yang rentan untuk terbawa arus adalah para remaja. Kenapa? Tak lain karena mereka memiliki karakteristik sendiri yang unik atau labil, sedang pada taraf mencari identitas, mengalami masa transisi dari remaja menuju status dewasa, dan sebagainya.
Pertumbuhan fisik yang terjadi pada remaja mengakibatkan remaja mengalami kebingungan akan identitas dirinya, satu hal yang pasti tentang aspek-aspek psikologis dari perubahan fisik pada remaja adalah bahwa remaja disibukkan dengan tubuh mereka dan mengembangkan citra individual mengenai gambaran tubuh mereka yang tidak jarang bertentangan dengan orang tua, para pendidik, dan lingkungan sosial. Remaja adalah sosok individu yang sedang dalam proses perubahan dari masa anak ke dewasa. Secara umum dan dalam kondisi normal sekalipun, masa ini merupakan periode yang sulit ditempuh, baik secara individual ataupun kelompok, sehingga remaja sering dikatakan sebagai kelompok umur bermasalah (the trouble teens).
Maka dari itu kami mengambil sebuah judul pernikahan dini ini agar bermanfaat bagi semua kalangan terutama bagi kaum remaja atau pelajar di Indonesia
B. tujuan
Tujuan kami membuat makalah ini untuk menjadikan para remaja agar bertaubat da menjauhi perbuatan tersebut, sehingga masa depan dari remaja itu sendiri bisa di pastikan cerah. Selain itu makalah ini bisa menjadi tolak ukur bagi remaja sekarang yang sudah terlanjur masuk kedalam perbuatan yang dapat merugikan bagi dirinya sendiri ataupun orang lain.
Dan juga sebagai mahluk tuhan yang bertaqwa sebaiknya kita sebagai remaja harus memikirkan masa depan dari sekarang.
C. manfaat
Manfaat kita membuat makalah ini agar berguna bagi para remaja dan semoga menjadikan blebih berguna bagi agama,nusa dan bangsa.
D. Rumusan masalah
Apakah faktor-faktor penyebab terjadinya pernikahan dini?
E. Ruang lingkup penelitian
Kami meneliti sebuah kasus ini tepatnya di desa adiluhur dengan narasumber yang bernama Yogi priyanto dengan istrinya yang bernama Yuli safitri, Mereka menikah pada tanggal 12 november 2013 Saat itu keduanya masih duduk di kelas dua belas menengah atas. Dan mereka terjebak hamil muda lalu dinikahkan oleh kedua orang tuanya.
Pengertian Pernikahan
Pernikahan adalah kerja sama antara dua orang yang telah sepakat untuk hidup bersama hingga hayatnya. Agar kehidupan rumah tangga ini dapat langgeng sepanjang masa, mutlak diperlukan ikatan yang kuat berupa rasa cinta dan saling memahami.
Pernikahan adalah suatu ikatan janji setia antara suami dan istri yang
didalamnya terdapat suatu tanggung jawab dari kedua belaah pihak. Janji setia yang terucap merupakan sesuatu yang tidak mudah diucapkan.
Dalam pasal 1 Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Pernikahan, mendefinisikan pernikahan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan defenisi pernikahan menurut Duvall & Miller (1985)
“Socially recognized relationship between a man and woman that provider for sexual relationship, legitimates childbearing and establishes a division of labour between spouses”
Jadi dapat disimpulkan bahwa pernikahan bukan semata-mata legalisasi,
dari kehidupan bersama antara seorang laki-laki dan perempuan tetapi lebih dari itu pernikahan merupakan ikatan lahir batin dalam membina kehidupan keluarga.
Dalam menjalankan kehidupan berkeluarga diharpkan kedua individu itu dapat memenuhi kebutuhannya dan mengembangkan dirinya. Pernikahan sifatnya kekal dan bertujuan menciptakan kebahagian individu yang terlibat didalamnya.
Menurut Bachtiar (2004) defenisi pernikahan adalah pintu bagi
bertemunya dua hati dalam naungan pergaulan hidup yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama, yang di dalamnya terdapat berbagai hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pihak untuk mendapatkan
kehidupan yang layak, bahagia, harmonis, serta mendapat keturunan. Pernikahan itu merupakan ikatan yang kuat yang didasari oleh perasaan cinta yang sangat mendalam dari masing-masing pihak untuk hidup bergaul guna memelihara kelangsungan manusia di bumi.
Terruwe menyatakan bahwa pernikahan merupakan suatu persatuan. Persatuan itu diciptakan oleh cinta dan dukungan yang diberikan oleh seorang pria pada isterinya, dan wanita pada suaminya.
Menurut Goldberg pernikahan merupakan suatu lembaga yang sangat
populer dalam masyarakat, tetetapi sekaligus juga bukan suatu lembaga yang tahan uji. Pernikahan sebagai kesatuan tetap menjanjikan suatu keakraban yang bertahan lama dan bahkan abadi serta pelesatarian kebudayaan dan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan interpersonal (http://smktpi99.blogspot.com/2013
/01/pernikahan/15.html diakses pukul 11.34 WIB, 26 Februari 2013). Menurut Kartono (1992), pengertian pernikahan merupakan suatu institusi sosial yang diakui disetiap kebudayaan atau masyarakat. Sekalipun makna
pernikahan berbeda-beda, tetetapi praktek-prakteknya pernikahan dihampir semua kebudayaan cenderung sama pernikahan menunujukkan pada suatu peristiwa saat sepasang calon suami-istri dipertemukan secara formal dihadapan ketua agama, para saksi, dan sejumlah hadirin untuk kemudian disahkan secara resmi dengan upacara dan ritual-ritual tertentu.
Menurut Saxton pernikahan memiliki dua makna, yaitu:
sosial. Eksistensi dari pernikahan itu memberikan fungsi pokok untuk kelangsungan hidup suatu kelompok dalam hal ini adalah masyarakat. b. Makna individual. Pernikahan sebagai bentuk legitimisasi (pengesahan) terhadap peran sebagai individual, tetetapi yang terutama, pernikahan di pandang sebagai sumber kepuasan personal.
Menurut Abdul Jumali pernikahan adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita, hidup bersama dalam rumah tangga, melanjutkan keturunan menurut ketentuan hukum syariat Islam.
Hukum katholik pernikahan adalah ikatan seumur hidup antara seorang
pria dengan seorang wanita sebagai suami istri yang terjadi atas persetujuan kedua belah pihak yang tidak dapat ditarik kembali.
Berdasarkan berbagai definisi tentang pernikahan di atas, dapat