• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM PEMDA Tanggung Jawab Perusahaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUKUM PEMDA Tanggung Jawab Perusahaan"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III PEMBAHASAN

A. Sinkronisasi CSR (Corporate Social Responsibility) dan TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan) dalam Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 3 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan dan Retribusi Perijinan Rumah Susun dengan Peraturan Perundang-Undangan yang Terkait.

Peraturan perundangan yang terkait dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan serta CSR (selanjutnya disebut TJSL dan CSR) dalam hirearki perundang-undangan dimulai dengan Undang-undang. Namun sampai saat ini belum ada undang-undang yang mengatur tentang TJSL dan CSR secara tersendiri dan terpisah. Pengaturan paling tinggi tentang TJSL dan CSR ini terdapat dalam bab V Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Sedangkan untuk pengaturan lebih lanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan.

Dalam prakteknya, penerapan kewajiban TJSL dan CSR ini kemudian pada pelaksanaanya dilimpahkan kepada daerah dengan melalui dibentuknya suatu peraturan daerah yang akan mengaturnya secara lebih rinci dan operasional. Pelimpahan ini menggunakan teori kewenangan dimana pemerintah daerah melaksanakan ketentuan peraturan diatasnya. Dalam hirearkinya CSR dan TJSL ini memiliki peraturan perundang-undangan sebagai berikut:

 Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

 Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Sosial Lingkungan Perseroan Terbatas

 Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

 Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 52 Tahun 2012

(2)

CSR adalah suatu untuk kemanusiaan dan lingkungan sehingga harus diatur secara tegas dan jelas serta dituangkan dalam bentuk peraturan yang sah dan mengikat. Sedangkan pihak yang menentang mengemukakan bahwa pengaturan tentang pelaksanaan TJSL dan CSR tidak perlu diatur dengan tegas menggunakan peraturan perundang-undangan namun cukup diserahkan pada para pelaku untuk bagaimana pengaturannya kedepannya. Dalam ranah hukum indonesia sendiri, sebagai suatu negera berkembang dan sebagai negara tujuan investasi internasional dan pemasaran produk luar negeri, pemerintah memandang bahwa sangat dibutuhkan suatu perangkat yang mengatur dengan tegas tentang perlindungan hukum bagi para pemangku kepentingan dari suatu perusahaan yang pada kaitannya dengan TJSL dan CSR adalah para masyarakat sekitar, konsumen dan karyawan/keluarganya.4

Menurut keputusan Mahkamah Konstitusi sendiri mengenai pengaturan tanggung jawab sosial ini perlu diatur dalam suatu peraturan perundang-undangan. Hal ini karena beberapa poin berikut:

Pertama, MK menganggap peraturan perundangan di Indonesia menjadikan TJSL sebagai suatu kewajiban hukum melalui rumusan Pasal 74 merupakan kebijakan hukum dari pembentuk UU untuk mengatur dan menerapkan TJSL dengan suatu sanksi, dan hal ini adalah benar, karena:

1. Secara faktual, kondisi sosial dan lingkungan telah rusak di masa lalu ketika perusahaan mengabaikan aspek sosial dan lingkungan sehingga merugikan masyarakat sekitar dan lingkungan pada umumnya.5

2. Budaya hukum di Indonesia tidak sama dengan budaya hukum negara lain, utamanya negara industri maju tempat konsep CSR pertama kali diperkenalkan di mana CSR bukan hanya merupakan tuntutan bagi perusahaan kepada masyarakat dan lingkungannya tetapi juga telah dijadikan sebagai salah satu indikator kinerja perusahaan dan syarat bagi perusahaan yang akan go public. Dengan kata lain, MK tampaknya berpendapat bahwa sesuai kultur hukum Indonesia, penormaan TJSL

4 Sri Redjeki Hartono, 2010, Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Suatu Kajian Komprehensif, diakses dari http://www.djpp.depkumham.go.id/hukum-pedata/848-tanggung-jawab-sosial-perusahaan-suatu-kajian-komprehensif.html pada Kamis 16 Mei 2013, 1.28

(3)

sebagai norma hukum yang diancam dengan sanksi hukum merupakan suatu keharusan demi tegaknya TJSL atau CSR.6

3. Menjadikan TJSL sebagai kewajiban hukum dinilai oleh MK justru untuk memberikan kepastian hukum sebab dapat menghindari terjadinya penafsiran yang berbeda-beda tentang TJSL oleh perseroan sebagaimana dapat terjadi bila TJSL dibiarkan bersifat sukarela. Hanya dengan cara memaksa tersebut akan dapat diharapkan adanya kontribusi perusahaan untuk ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat.7

Kedua, Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa Pasal 74 tidak menjatuhkan pungutan ganda kepada perseroan sebab biaya perseroan untuk melaksanakan TJSL berbeda dengan pajak.8 Lebih jauh, disebutkan oleh MK

bahwa pelaksanaan TJSL didasari oleh kemampuan perusahaan, dengan memerhatikan kepatutan dan kewajaran, yang pada akhirnya akan diatur lebih lanjut oleh PP. Demikian pula tentang sanksi bagi perseroan yang tidak melaksanakan TJSL, Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa Pasal 74 ayat (3) yang merujuk pada sanksi hukum yang terdapat pada perundang-undangan sektoral merupakan rumusan yang tepat dan justru memberikan kepastian hukum, bila dibandingkan kalau UU PT menetapkan sanksi tersendiri.9 Jadi, Mahkamah

Konstitusi tidak sependapat dengan para pemohon yang mengatakan adanya berbagai pasal dalam perundang-undangan yang juga mengatur tentang TJSL mengakibatkan ketidak-pastian hukum dan tumpang tindih sehingga tidak dapat mewujudkan TJSL yang efisien berkeadilan.

Ketiga, Mahkamah Konstitusi menilai bahwa norma hukum yang mewajibkan pelaksanaan TJSL oleh perusahaan tidak berarti meniadakan konsep demokrasi ekonomi yang berintikan pada efisiensi berkeadilan seperti diatur dalam Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 dan tidak akan membuat TJSL sekedar formalitas perusahaan saja, sebab:

1. prinsip demokrasi ekonomi memberi kewenangan kepada Negara untuk tidak hanya menguasai dan mengatur sepenuhnya kepemilikan dan pemanfaatan bumi, air, dan kekayaan alam, serta untuk memungut pajak

(4)

semata, melainkan juga kewenangan untuk mengatur pelaku usaha agar mempunyai kepedulian terhadap lingkungan.10

2. pelaksanaan TJSL menurut Pasal 74 tetap akan dilakukan oleh perseroan sendiri sesuai prinsip kepatutan dan kewajaran, Pemerintah hanya berperan sebagai pemantau. Dengan demikian, tak perlu dikhawatirkan akan terjadi penyalah-gunaan dana TJSL ataupun membuat perseroan melaksanakan TJSL hanya sebagai formalitas belaka.

3. pengaturan TJSL dalam bentuk norma hukum merupakan suatu cara Pemerintah untuk mendorong perusahaan ikut serta dalam pembangunan ekonomi rakyat.11

Dewasa ini, tanggung jawab sosial telah berkembang menjadi etika bisnis yang memiliki pengaruh dalam keberlanjutan usaha dan terutama dalam memberikan suatu konstribusi pengembalian kepada masyarakat sekitar perusahaan tersebut. Dalam prakteknya, penerapan kewajiban TJSL dan CSR ini kemudian dilimpahkan kepada daerah dengan melalui dibentuknya suatu peraturan daerah yang akan mengaturnya secara lebih rinci dan operasional. Salah satu dari peraturan daerah tersebut yang menjadi acuan dalam pembahasan tentang TJSL dan CSR dari pembangunan rumah susun ini sendiri adalah Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (selanjutnya disebut Perda Jatim No 4/2011). Hal ini diperjelas dengan adanya petunjuk pelaksana terhadap peraturan tersebut, yakni terdapat dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 52 Tahun 2012.

Peraturan daerah (selanjutnya disebut Perda) ini memuat ketentuan-ketentuan tentang TJSL dan CSR bagi perusahaan-perusahaan yang ada di daerah Jawa Timur sekaligus menjadi acuan bagi pembentukan perda-perda pelaksana lainnya. Untuk daerah Malang sendiri Rancangan Peraturan Daerah tentang TJSL dan CSR yang menjadi peraturan pelaksana Perda Jatim ini telah diwacanakan sejak bulan Mei tahun 2012 dan direncanakan akan selesai pada bulan Desember 2012. Namun hingga makalah ini dibuat, Raperda tersebut masih belum disahkan menjadi Perda Kota Malang.

(5)

Dalam perda yang diangkat dalam makalah ini yaitu Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 3 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan dan Retribusi Perijinan Rumah Susun (selanjutnya disebut Perda Malang No 3/2007) tidak dicantumkan secara gamblang tentang tanggung jawab sosial yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan. Perda ini tidak memuat pasal atau bab tentang tanggung jawab sosial ataupun pengaturan tentang pelaksanaannya. Namun secara komprehensif, yang diambil dalam perda ini justru adalah suatu cikal bakal dari apa yang dapat diterapkan sebagai tanggung jawab sosial perusahaan pembangun atau developer rumah susun apabila rancangan peraturan daerah kota Malang tentang TJSL dan CSR akan disahkan nanti.

Menurut Perda Jatim No 4/2011 sebagai acuan dari peraturan tentang TJSL dan CSR selama perda Kota Malang masih belum disahkan, yang menjadi Program TSP sesuai pasal 11 adalah meliputi:

1. bina lingkungan dan sosial;

2. kemitraan usaha mikro, kecil , dan koperasi; dan 3. program langsung pada masyarakat.

Penjelasan tentang ketiga program ini kemudian dijelaskan pada pasal 12-14 yang jika dijelaskan secara ringkas adalah sebagai berikut :

1. Bina lingkungan sosial yaitu program yang bertujuan mempertahankan fungsi-fungsi lingkungan hidup dan pengelolaannya serta memberi bantuan langsung kepada masyarakat yang berada dalam wilayah sasaran, meliputi bina lingkungan fisik, sosial, usaha mikro dan koperasi. (pasal 12)

2. Program kemitraan usaha mikro ini merupakan program untuk menumbuhkan, meningkatkan dan membina kemandirian berusaha masyarakat di wilayah sasaran. Aspek-aspek kegiatan dalam program ini cukup banyak dan rinci. (pasal 13)

(6)

Jika dikaitkan dengan TJSL dan CSR dalam Perda Malang No 3/2007 diatas maka dapat diamati bahwa tanggung jawab sosial yang dilakukan dapat dilakukan oleh perusahaan developer rumahs susun dalam perda ini masuk dalam kategori bina lingkungan sosial. Hal ini dapat dilihat dari beberapa pasal yang selaras dengan tanggung jawab sosial perusahaan yang tercantum dalam perda Malang 3/2007.12

Hampir semua aspek yang diperhatikan oleh perusahaan developer rumah susun ini meninjau aspek kenyamanan, ketertiban serta keselarasan dengan penghuni dan masyarakat sekitar rumah susun tersebut yang nantinya merupakan pemangku kepentingan dalam TJSL dan CSR nanti. Sehingga bentuk program TJSL yang paling mendekati sesuai dengan kriteria yang dicantumkan dalam ketentuan Perda Jatim No 4/2011 adalah tentang Bina lingkungan sosial.

Sedangkan untuk para pihak yang memberi dan menerima hasil dari tanggung jawab sosial dalam perda Malang No 3/2007 ini jika dikaitkan dengan Perda Jatim No 4/2011 yaitu:

1. Pihak pemberi atau perusahaan. Dalam perda Malang No 3/2007 ini telah disebutkan bahwa badan yang dimaksud dalam perda adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi perseroan terbatas,perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik Negara atau daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis, lembaga, dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainya.13

Pemilik adalah perseorangan atau Badan Hukum yang memiliki satuan Rumah Susun yang memenuhi syarat sebagai pemegang hak atas tanah.

Pembangunan rumah susun dapat diselenggarakan oleh Pemerintah, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah, Koperasi dan Badan Usaha Milik Swasta. (pasal 8 ayat (2))

2. Pemangku Kepentingan seperti yang sesuai dengan ketentuan adalah penghuni rumah susun, masyarakat sekitar, dan karyawan/keluarganya.

12 Pasal-pasal ini akan diterangkan lebih lanjut pada bagian B pembahasan.

(7)

Sehubungan dengan pemangku kepentingan masyarakat, perusahaan developer punya kewajiban menyediakan rumah susun yang layak huni dan berada di lokasi yang tepat. Apabila perusahaan dalam operasinya terpaksa memindahkan penduduk, maka dalam melakukan pemindahan perusahaan wajib melaksanakan konsultasi dengan masyarakat yang tergusur dalam masalah:

1. persetujuan pindah dari masyarakat, 2. kesepakatan nilai kompensasi,

3. kesepakatan mekanisme pemberian kompensasi, dan

4. kepastian dilaksanakannya berbagai kesepakatan, melalui pengawasan pihak ketiga apabila diperlukan.

Konsultasi dan negosiasi dengan masyarakat sekitar sebelum menggusur juga termasuk salah satu tanggung jawab sosial dari perusahaan. Untuk membangun suatu kesetaraan dan keseimbangan dengan lingkungan dan masyarakat sekitar, perusahaan tidak bisa secara semena-mena mengadakan penggusuran lahan warga. Karena itu butuh diadakan negosiasi dan pemberian kompensasi kepada masyarakat sekitar.

Untuk menghindari masalah-masalah pada kedepannya maka sebelum diadakan pendirian rumah susun, pertama-tama harus melewati tahap analisis AMDAL untuk melihat kelayakan dan kesesuaian lokasi rumah susun tersebut.

Berikut adalah hasil analisis antara Perda No 3/2007 jika dikaitkan dengan Peraturan Daerah Kota Malang No 15 Tahun 2001 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (berikutnya disebut sebagai Perda Malang 15/2001) yaitu:

(8)

penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup, disamping dapat digunakan sebagai masukan bagi perencanaan pembangunan wilayah. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup khususnya dokumen rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup juga merupakan dasar dalam sistem manajemen lingkungan (Environmental Management System) usaha dan atau kegiatan.

Apabila kita lihat dalam Pasal 1 angka 18 Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 3 Tahun 2007 tentang Rumah Susun, terdapat aturan yang serupa dalam syarat kelayakan untuk membuat suatu bangunan. Dalam pasal ini dijelaskan bahwa Rumah Susun harus dibangun dengan memenuhi Persyaratan teknis yaitu persyaratan mengenai struktur bangunan, keamanan, keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan lain-lain yang berhubungan dengan rancang bangun termasuk kelengkapan prasarana dan fasilitas lingkungan yang diatur dengan peraturan perundang-undangan serta disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan. Dan untuk Persyaratan administratif terdapat didalam Pasal 1 angka 19 yaitu persyaratan mengenai perijinan usaha dari penyelenggara pembangunan rumah susun, ijin lokasi dan/atau peruntukkannya perijinan mendirikan bangunan, serta ijin layak huni yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan.

Kedua hal tersebut juga telah diatur dan berkesesuaian dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Penatagunaan Tanah. Dalam penjelasan Pasal 10 berbunyi sebagai berikut:

 Ayat (1)

Syarat-syarat menggunakan dan memanfaatkan tanah, yaitu dalam bentuk pedoman teknis penatagunaan tanah yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari penyelesaian administrasi pertanahan, antara lain pemindahan hak, peralihan hak, peningkatan hak, penggabungan, dan pemisahan hak atas tanah.

 Ayat (5)

(9)

 Pasal 14

Persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal ini antara lain pedoman teknis penatagunaan tanah, persyaratan mendirikan bangunan, persyaratan memanfaatkan bangunan, persyaratan dalam Analisis mengenai Dampak Lingkungan, persyaratan usaha, dan ketentuan lainnya yang diatur dalam peraturan perundangan-undangan.

Salah satu contohnya adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Dedy Rahmawanto pada tahun 2001 tentang AMDAL dari rumah susun Kutobedeh Kota Malang. Penelitian yang diadakan oleh Dedy ini terutama tentang hubungan antara pembangunan rusun di perkampungan Kutobedah dengan dampak sosial pada kawasan. Penelitian ini mengikutsertakan identifikasi aspek-aspek sosial, demografi, ekonomi, budaya dan kesehatan masyarakat yang mengalami perubahan akibat adanya proyek rumah susun.

Hasil temuan Penelitian ini kemudian menunjukkan tidak adanya dampak negatif yang timbul sebagai konsekuensi pembangunan rusun sehingga pada akhirnya dapat menimbulkan implikasi bahwa pemecahan masalah perkampungan kumuh di perkotaan dengan pengadaan rusun yang tidak menggusur penduduk merupakan alternative yang dapat ditempuh oleh pemerintah daerah.

Hal ini adalah salah satu contoh nyata tanggung jawab sosial yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan pembangun/developer/pemilik rumah susun dalam pengadaan proyek rumah susun tersebut yaitu dengan sebelumnya melakukan penelitian tentang dampak pembangunan rumah susun tersebut terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar proyek.

Selain itu bentuk TJSL dan CSR lainnya yang dapat diterapkan yaitu pada para penghuni sekaligus masyarakat sekitar yaitu dengan penanaman pohon disekitar lokasi rumah susun. Dengan adanya penanaman pohon ini selain penghuninya mendapatkan lingkungan yang sehat didalam rumah susun, juga menghijaukan dan melestarikan lingkungan dan pemukiman masyarakat sekitar lokasi rumah susun.

(10)

Nomor 3 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Dan Retribusi Perijinan Rumah Susun serta alasan Ketentuan Tersebut Diatur dalam Perda yang Dimaksud

Tanggung jawab sosial adalah strategi perusahaan mempertahankan keberlanjutannya, dengan memperhitungkan berbagai variabel internal dan eksternal. Berbagai variabel tersebut berwujud pihak-pihak yang dapat terpengaruh serta mempengaruhi jalannya operasi perusahaan dalam mencapai tujuannya. Jika dikaitkan dengan tanggung jawab sosial perusahaan pembangun rumah susun, maka pihak-pihak yang dapat terpengaruh dalam pengoperasian rumah susun ini adalah penghuni dan masyarakat serta karyawan/keluarganya sekitar rumah susun tersebut merupakan beberapa di antara banyak pemangku kepentingan yang sahih, sehingga dampak perusahaan terhadap mereka harus dipikirkan dengan masak.

Salah satu wujud tanggung jawab sosial perusahaan ada yang bersifat internal dan bersifat eksternal. Tanggung jawab sosial yang bersifat internal adalah menjamin kesejahteraan para karyawan. Karyawan beserta keluarganya merupakan bagian tidak terpisahkan dalam roda produksi perusahaan. Sedangkan yang secara eksternal, wujud CSR adalah minimalisasi dampak negatif dan maksimalisasi dampak positif operasi perusahaan. Wujud tanggung jawab sosial perusahaan dalam minimalisasi dampak negatif adalah pemberian kompensasi yang setara terhadap masyarakat terkena dampak bila perusahaan dalam operasinya harus memindahkan kelompok masyarakat tertentu ke luar dari wilayah dampak operasinya.

Sedangkan tanggung jawab sosial perusahaan dimuat dalam dua aksi besar yaitu maksimalisasi dampak positif dan minimalisasi dampak negatif.14 Dampak

positif yang dimaksud dalam klausa ini adalah terhadap kebutuhan masyarakat, penghuni maupun karyawan sekitar perusahaan. Pada saat dan sepanjang kegiatan perusahaan memang untuk memenuhi kebutuhan dan atau permintaan masyarakat, maka kegiatan tersebut dianggap positif. Akan tetapi kegiatan yang dilaksanakan tersebut dapat menimbulkan dampak negatif apabila mempunyai akibat buruk

14 Endro Sampurno, Mekanisme Kontribusi CSR, Disampaikan dalam Seminar Sehari

(11)

bagi lingkungan dan faktor-faktor produksi yang lain. Timbulnya dampak negatif itulah yang perlu dan harus diatur dan diminimalisasi agar tidak merugikan masyarakat dilingkungan dan para pemangku kepentingan.15

Dalam mengadakan pembangunan suatu bangunan termasuk dalam membangun rumah susun, perusahaan developer atau pemiliknya sebelumnya harus sudah memperkirakan beberapa faktor tertentu seperti:

1. Definisi wilayah dampak operasional perusahaan.

2. Pendefinisian wilayah dampak operasional perusahaan sangat penting untuk menentukan cakupan tanggung jawab sosial perusahaan. Wilayah dampak ini kemudian dapat dibedakan menjadi wilayah dampak langsung dan wilayah dampak tak langsung.

3. Pemangku kepentingan (sasaran obyek csr) yang dapat mempengaruhi operasi perusahaan.

4. Beberapa pemangku kepentingan yang penting adalah penghuni, karyawan dan keluarganya, dan masyarakat sekitar.

5. Pendefinisian kebutuhan masyarakat di wilayah dampak, 6. Identifikasi modal-modal masyarakat

7. Identifikasi kelompok rentan di wilayah dampak tersebut yang perlu diberdayakan dalam kegiatan CD Perusahaan.

8. Minimisasi dampak negatif dan maksimalisasi dampak positif

Hal ini sebagai sebuah upaya pengendalian dampak sosial perusahaan yang harus didasarkan pada basis data yang cukup sebagai landasan penyusunan perencanaannya.

Pertama, harus dikatakan bahwa tanggung jawab sosial menunjukkan kepedulian perusahaan terhadap kepentingan pihak-pihak lain secara lebih luas daripada sekadar terhadap kepentingan perusahaan belaka. Artinya, keuntungan dalam bisnis tidak mesti dicapai dengan mengorbankan kepentingan pihak lain, termasuk kepentingan masyarakat luas.

Dalam penggunaan istilah TJSL dan CSR terdapat beberapa pandangan yang ada, yaitu beberapa yang menganggap kedua istilah ini artinya sama, dan ada

(12)

pula yang membedakan keduanya. Di Indonesia sendiri kedua istilah ini dikenal berbeda. Perbedaan kedua istilah ini sudah diterangkan dalam tinjauan pustaka diatas.

Dalam prakteknya di Indonesia sendiri istilah yang digunakan tergantung pada peraturan perundang-undangan yang digunakan. Menurut undang-undang tertinggi yang mengatur tentang Tanggung jawab sosial yaitu Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut UU No 40/2007) pasal 1 angka 3, istilah yang digunakan adalah TJSL (Tanggung jawab sosial lingkungan) sebagai pengertian dari istilah CSR sendiri.

Dalam perkembangan etika bisnis yang lebih mutakhir, ada empat bidang yang dianggap dan diterima termasuk dalam apa yang disebut sebagai tanggung jawab sosial perusahaan. Dalam dewasa ini bidang-bidang ini adalah untuk apa yang dikenal sebagai CSR modern yang definisnya lebih luas daripada Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan.

1. Keterlibatan perusahaan dalam kegiatan-kegiatan sosial yang berguna bagi kepentingan masyarakat luas. Keterlibatan perusahaan dalam kegiatan sosial ini secara tradisional dianggap sebagai wujud paling pokok, bahkan satu-satunya, dari apa yang disebut sebagai tanggung jawab sosial perusahaan.

2. Perusahaan telah diuntungkan dengan mendapat hak untuk mengelola sumber daya alam yang ada dalam masyarakat tersebut dengan mendapatkan keuntungan- keuntungan bagi perusahaan tersebut. Demikian pula, sampai tingkat tertentu, masyarakat telah menyediakan tenaga-tenaga professional bagi perusahaan yang sangat berjasa mengembangkan perusahaan tersebut.

3. Dengan tanggung jawab sosial, perusahaan memperlibatkan komitmen moralnya untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan bisnis tertentu yang dapat merugikan kepentingan masyarakat luas.

(13)

Dalam perda tentang rumah susun ini, tanggung jawab sosial yang lebih terlihat adalah dibidang keempat yaitu keterlibatan sosial perusahaan dengan masyarakat sekitarnya agar perusahaan tersebut dapat lebih diterima oleh masyarakat tersebut. Hal ini dapat dilihat dari isi dari pasal-pasal yang diatur dalam perda tersebut lebih menekankan pada tanggung jawab developer terhadap kenyamanan dan keserasian pembangunan rumah susun tersebut dengan masyarakat sekitarnya. berikut adalah poin-poin tanggung jawab sosial perusahaan pembangun rumah susun terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

TJSL perusahaan terhadap penghuni dan masyarakat sekitar rumah susun yang terdapat dalam Perda No 3/2007 adalah sebagai berikut:

1. Pasal 3 huruf b, membangun rumah susun perlu diperhatikan beberapa faktor penting seperti harus meningkatkan daya guna dan hasil guna tanah di daerah perkotaan tersebut. Dalam pengadaan rumah susun ini juga harus memperhatikan kelestarian sumber daya alam dan menciptakan lingkungan pemukiman dan usaha yang lengkap, serasi dan seimbang. Asas serasi dan seimbang yang dimaksud dalam pasal ini lebih dimaksudkan kepada pemanfaatan rumah susun untuk mencegah timbulnya kesenjangan sosial.

2. Pasal 24 ayat 1, rumah susun harus ditempatkan atau dilokasikan sesuai peruntukannya dan memperhatikan keserasian lingkungannya. 3. Pasal 24 ayat 2, lokasi rumah susun harus ditempatkan pada lokasi

yang memiliki akses dan hubungan dengan saluran pembuangan sampah, pembuangan air hujan dan saluran pembuangan limbah. Saluran-saluran ini harus ditempatkan sedemikian rupa agar tidak memberikan dampak lebih lanjut kepada masyarakat sekitarnya. pengelolaan saluran-saluran ini juga merupakan tanggung jawab dari pemilik gedung rumah susun tersebut.

(14)

susun dilokasi tersebut harus mengindahkan ketertiban apakah rumah susun itu memberikan gangguan terhadap lokasi sekitar. Faktor-faktor ini harus diperhatikan sebagai wujud tanggung jawab sosial dari pemilik atau developer rumah susun tersebut.

Lebih lanjut juga ditegaskan bahwa dalam tata letak bangunan rumah susun itu harus memperhatikan kepadatan lingkungan sekitar lokasi dan keserasian serta keselamatan lingkungan sekitar.

5. Pasal 27, dilengkapi prasarana lingkungan dan fungsi penghubung baik ke dalam maupun ke luar dengan penyediaan jalan setapak, kenderaan dan tempat parkir.

6. Pasal 28, rumah susun dilengkapi dengan prasarana lingkungan dan utilitas umum.

(15)

BAB IV PENUTUP

A. Simpulan

(16)

Daftar Pustaka

Daftar Pustaka Buku

 Hendrik Budi Untung. 2008. Corporate Social Responsibility. Jakarta: Sinar Grafika.

 Amin Widjaja. 2008. Corporate Social Responsibility (CSR). Jakarta: Harvarindo.

 Helmi. 2010. Hukum Lingkungan Dan Perizinan Bidang Lingkungan Hidup. Bandung: Unpad Press.

Daftar Pustaka Internet

 Endro Sampurno. Mekanisme Kontribusi CSR. Disampaikan dalam Seminar Sehari Keterlibatan Corporate Social Responsibility (CSR). [online]. Diakses dari www.CSRIndonesia.com. [8 Mei 2013, 00.27]

 Sri Redjeki Hartono. 2010. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Suatu Kajian Komprehensif. [online]. Diakses dari

http://www.djpp.depkumham.go.id/hukum-pedata/848-tanggung-jawab-sosial-perusahaan-suatu-kajian-komprehensif.html [16 Mei 2013, 1.28]

 Maria R. Nindita Radyati. 2012. Pemangku Kepentingan dan Penentuan Strategi. [online]. Diakses dari http://www.mmcsrusakti.org/printpdf/865 [16 Mei 2013, 03.54]

 Sri Redjeki Hartono. 2010. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Suatu Kajian Komprehensif. [online]. Diakses dari

http://www.djpp.depkumham.go.id/hukum-pedata/848-tanggung-jawab-sosial-perusahaan-suatu-kajian-komprehensif.html [16 Mei 2013, 1.28]

Peraturan Perundang-undangan

 Mahkamah Konstitusi. Above Nomor 4 Bagian 3. Pertimbangan hukum, sub-bagian Pendapat Mahkamah, nomor 3.19.

(17)

 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwasanya Pemahaman konsep matematis peserta didik lebih baik memakai model pembelajaran ADDIE dikarnakan model ini mampu memberikan kesempatan

Selain PT Garuda Indonesia, PT Dirgantara Indonesia Bandung yang memiliki bisnis yang hampir sama dengan PT GMF AeroAsia yaitu berhubungan dengan pesawat terbang

Penelitian ini menyimpulkan bahwa dosis optimum dari ekstrak etanol tumbuhan suruhan ( Peperomia pellucida [L.] Kunth) yang efektif dalam menurunkan kadar glukosa

Sebelum mengantarkan pasien secepatnya ke rumah sakit, jangan sekali-kali sembarang memindahkan pasien, jika ingin memindahkan pasien, tetapkan dulu bagian leher pasien,

masyarakat masih menganggap bahwa problematika visual merupakan masalah yang tidak perlu dipikirkan dengan kening berkerut,...” permasalahan inilah yang membuat

Bahasa tersebut digubah dengan gaya sastra yang tinggi, dengan cirinya adalah irama atau metrumnya, setiap segmen terdiri atas empat atau lima suku kata, berbeda dengan puisi

Merasakan diri pulih sepenuhnya setelah menjalani pemulihan dipusat serenti ini dan bersyukur kerana tidak terlibat dengan dadah yang lebih berat seperti heroin