• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN FIQIH TERHADAP PELAKSANAAN SUKU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TINJAUAN FIQIH TERHADAP PELAKSANAAN SUKU"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN FIQIH TERHADAP PELAKSANAAN SUKUK NEGARA IJARAH SALE AND LEASE BACK DI PASAR MODAL SYARIAH INDONESIA

Melati Anjaswati1, Rohimah2,Tuti Suryani3 dan Riska Amalia 4 Program Studi Perbankan Syariah, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI,

Depok, Jawa Barat.

1 amel.anjaswati@gmail.com2imahrohimah195@gmail.com

3pengusaha.muslimah01@gmail.com 4 riskamelia1196@gmail.com

ABSTRAK: Konsep keuangan Islam berbasis syariah (Islamic finance) dewasa ini telah tumbuh secara pesat, diterima secara universal dan diadopsi tidak hanya oleh negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah saja, melainkan juga oleh berbagai negara di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Hal tersebut ditandai dengan didirikannya berbagai Lembaga Keuangan Syariah dan diterbitkannya berbagai instrumen keuangan berbasis syariah. Salah satu bentuk instrumen keuangan syariah yang telah banyak diterbitkan baik oleh korporasi maupun negara adalah sukuk. Di Indonesia, Obligasi Syariah (sukuk) didefinisikan oleh Fatwa DSN-MUI No. 32/DSN-DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah sebagai surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil/margin/fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. Dalam penerbitannya, sukuk negara diterbitkan berdasarkan akad ijarah. Terkait sukuk kepemilikan asset berwujud yang disewakan terimplementasi dalam pasar modal syariah di Indonesia berupa SBSN Ijarah Sale And Lease Back yang ketentuannya diatur dalam Fatwa DSN-MUI No. 72/DSN-MUI/VI/2008 Tentang SBSN Ijarah Sale And Lease Back. Meski telah diatur oleh Fatwa DSN-MUI, struktur ini masih menjadi isu penting yang sering dibahas oleh pakar ekonomi

syari ah karena hal ini merupakan bentuk lain daripada bai al-wafa atau mirip jenis bai istighlal dan bai al-inah yang masih diperdebatkan kebolehannya oleh para Ulama Fiqh. Dengan menggunakan hasil deskripsi melalui studi kepustakaan (library research) yang relevan dengan pokok-pokok permasalahan dan diupayakan pemecahannya, dalam penelitian ini peneliti mencoba memaparkan bagaimana tinjauan fiqih terhadap pelaksanaan SBSN Ijarah Sale And Lease Back di Pasar Modal Syariah Indonesia.

(2)

2 | Riska Amalia : Tinjauan Fiqih Terhadap Pelaksanaan Sukuk Ijarah Negara di Pasar Modal Syariah Indonesia

ABSTRACT: The concept of islamic sharia financial based (islamic fi-nance) today has grown in rapidly, received universally and adopted

not only by negara-negara islam in the middle east course, but also

by various countries in asia, europe, and America. This characterized

by establishment of the various institutions financial syariah and the

enactment of various financial instruments syariah based .One

form of financial instruments syariah that many have published good

by corporations and of the country is sharia bonds. In indonesia ,

sha-ria bonds ( shasha-ria bonds ) defined by fatwa dsn-mui no. 32 / dsn-mui

/ ix / 2002 about sharia bonds as securities long-term based on

sya-riah principle issued issuers to the holder of sharia bonds which

re-quires issuers to pay income to the holder of sharia bonds of for the /

the margin / fee and repay funds bonds on maturity. In her

publish-ing , he said the state published on ijarah agreement. He said related

of asset ownership intangible manufacturing allowed in the capital

market in indonesia of islamic state ijarah sale and lease back that

its requirements arranged in fatwa dsn-mui no. 72 / dsn-mui / vi /

2008 about ijarah state sale and lease back. Although it has governed

by fatwa dsn-mui , this structure is important issues often covered by

economic experts this shaariah ah because it was another form than

bai al-wafa or similar type bai istighlal and ba I al-inah who are still

being debated performed by the clergy fiqh .Using the description of

literature through study ( library research ) relevant to be done

pokok-pokok the problems and breaking, in this research researchers

trying to explain how fiqih review on the state ijarah sale and lease

back in the stock market syariah Indonesia.

(3)

PENDAHULUAN

Konsep keuangan Islam berbasis syariah (Islamic finance) dewasa ini telah tumbuh secara pesat, diterima secara universal dan diadopsi tidak hanya oleh negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah saja, melainkan juga oleh berbagai negara di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Hal tersebut ditandai dengan didiri-kannya berbagai Lembaga Keuangan Syariah dan diterbitdidiri-kannya berbagai instru-men keuangan berbasis syariah. Selain itu, juga telah dibentuk lembaga inter-nasional untuk merumuskan infrastruktur system keuangan Islam dan standar in-strument keuangan Islam, serta didirikannya Lembaga Rating Islam.1

Salah satu bentuk instrumen keuangan syariah yang telah banyak diterbitkan baik oleh korporasi maupun negara adalah sukuk.2 Proses pengembangan

instru-ment / sekuritas Islam yang dapat diperdagangkan dalam hal ini sukuk sendiri telah dilakukan sejak tahun 1980-an. Akan tetapi proses yang baik untuk menerbitkan sukuk baru dimulai pada tahun 1992 di Malaysia dan pada tahun 2001 di Bahrain. Setelah itu dan sampai saat ini pasar sukuk meningkat dengan cepat di hampir se-luruh bagian dunia3

Di beberapa negara, sukuk telah menjadi instrumen pembiayaan anggaran negara yang penting. Pada saat ini, beberapa negara yang telah menjadi penerbit dari sukuk, misalnya Malaysia, Bahrain, Brunei Darussalam, Uni Emirate Arab, Qatar, Pakistan, dan State of Saxony Anhalt - Jerman. Penerbitan sukuk pemerintah bi-asanya ditujukan untuk keperluan pembiayaan negara secara umum (general fund-ing) atau untuk pembiayaan proyek-proyek tertentu, misalnya pembangunan ben-dungan, unit pembangkit listrik, pelabuhan, bandar udara, rumah sakit, dan jalan tol. Selain itu, sukuk juga dapat digunakan untuk keperluan pembiayaan tunai, yaitu dengan menggunakan sukuk dengan jangka waktu pendek yang juga dapat digunakan sebagai instrumen pasar uang.4

Pada awal perkembangannya, seperti yang telah disebutkan di atas bahwa penerbitan sukuk yang baik dimulai pada tahun 1992 di Malaysia dan dinamai Is-lamic Bonds. Penerbitan Islamic Bonds Malaysia ini sebagian besar didasarkan pada prinsip akad bay al inah dan bay al-dayn.5 Oleh karena kontrak jual beli sukuk ini

menggunakan dasar bay al inah dan bay al-dayn , hal ini telah mendapatkan tang-gapan serius dari ulama fiqih di kawasan Timur Tengah, khususnya Dubai, Bahrain, dan Arab Saudi. Mereka mengatakan bahwa penggunaan konsep bay al inah dan

bay al-dayn dalam security utang perlu dikaji ulang sesuai konsep fiqh, yaitu (1) menggunakan bay al inah sebagai dasar pensekuritian,(2) menggunakan bay al -dayn dalam diskoun dan dalam secondary market, dan (3) jual beli bonds kepada pihak ketiga (Nathif J. Adam dam Abdulkader Thomas, 2004:104)6

(4)

4 | Riska Amalia : Tinjauan Fiqih Terhadap Pelaksanaan Sukuk Ijarah Negara di Pasar Modal Syariah Indonesia

dilanjutkan. Hasilnya pada 2001, Kerajaan Bahrain mengembangkan produk sukuk pertama dengan menggunakana konsep ijarah. Konsep ini berkembang dengan ce-pat, hanya dalam 3 tahun produk sukuk telah dijadikan produk unggulan dalam pasar modal Islam antarbangsa sehingga Malaysia secara bertahap telah mereno-vasi produk Islamic Bonds menjadi sukuk7

Di Indonesia sendiri, perkembangan sukuk ditandai dengan diluncurkannya Fatwa oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) sebagai da-sar hokum penerbitan sukuk berdada-sarkan prinsip syariah. Fatwa ini adalah fatwa DSN-MUI No. 32 DSN-MU)/)X/ Tentang Obligasi Syari ah. Fatwa ini mengatur beberapa ketentuan terkait sukuk atau yang lebih sering disebut sebagai obligasi syariah, salah satunya adalah akad yang dapat digunakan dalam penerbitan obligasi syariah, anatara laian : Mudharabah (Muqradhah)/ Qiradh, musyarakah, murabahah, salam, istishna dan ijarah.

Obligasi syariah sebagai bentuk pendanaan (financing) dan sekaligus investasi (investment) memungkinkan beberapa bentuk struktur yang ditawarkan untuk tetap menghindarkan pada riba. Hal ini dikarenakan pembayaran yang dilakukan oleh emiten1 kepada pemegang obligasi syariah tidak berbentuk bunga melainkan

menggunakan mekanisme pendapatan sebagi berikut:8

1. Bagi hasil berdasarkan akad mudharabah/muqaradhah/qiradh atau musyarakah, yaitu kerjasama dengan skema bagi hasil pendapatan atau keun-tungan, obligasi ini akan memberikan return dengan menggunakan term indi-cate/expected return karena sifatnya yang floating dan tergantung pada kinerja pendapatan yang dibagihasilkan.

2. Margin/fee berdasarkan akad mudharabah atau salam atau istishna atau ijarah, dengan kadar murabahah/salam/istishna sebagai bentuk jual beli dengan skema cost plus basis, obligasi jenis ini akan memberikan fixed return.

Di Indonesia sendiri, obligasi syariah yang digunakan adalah obligasi syariah mudarabah dan obligasi syariah ijarah. Pada awal perkembangannya yaitu pada ta-hun 2002 hingga tata-hun 2003 obligasi syariah yang paling banyak digunakan adalah obligasi syariah mudarabah, sedangkan pada tahun 2004 sampai tahun 2005 adalah obligasi syariah ijarah. Dari total 18 obligasi yang diterbitkan, delapan obligasi diter-bitkan dengan akad mudarabah dengan nilai sekitar 0,9 triliun, sedangkan sepuluh obligasi lainnya menggunakan akad ijarah dengan nilai Rp. 1,2 triliun.9

Terkait sukuk berdasarkan konsep ijarah, di Indonesia terdapat dua jenis struktur, yaitu Ijarah Sale and Lease Back dan Asset to be Leased. Ijarah Sale and Lease Back merupakan salah struktur yang digunakan dalam penerbitan SBSN (Su-rat Berharga Syariah Negara) yang merupakan akad jual beli suatu aset yang kemudian pembeli menyewakan aset tersebut kepada penjual. Diman penjual ter-sebuta adalah Negara yang menjual aset berupa Barang Milik Negara yang dapat

(5)

berupa tanah atau bangunan yang digunakan untuk kegiatan operasional dan pem-belinya adalah para investor, karena Negara membutuhkan aset yang telah dijual kepada para investor, Negara pun menyewa aset tersebut dan berjanji untuk mem-belinya kembali. Dilihat dari mekanismenya, penerbitan SBSN ini merupakan akad

bay al- wafa yang dikombinasi dengan akad ijarah yang dikenal dengan istilah bay istighlal. Ada perdebatan ulama atas kebolehan bay al wafa. Jumhur ulama tidak membolehkan akad ini, hanya sedikit ulama yang membolehkan akad ini. Lalu yang menjadi pertanyaannya adalah bila bay al wafa saja masih diperdebatkan

kebole-hannya, bagaimana hukum bay istighlal yang merupakan kombinasi akad bay al

wafa dan ijarah

Sebagai instrument keuangan syariah, akad yang terdapat dalam struktur sukuk pun menjadi penting untuk diperhatikan. Pada dasarnya sukuk pun merupa-kan bagian penunjang dari kegiatan bisnis. Dan dalam dunia bisnis, akad memiliki peranan sangat penting karena keberlangsungan kegiatan bisnis ke depan akan tergantung seberapa baik dan rinci akad yang dibuat untuk menjaga dan mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak yang melakukan akad. Akad merupakan perjanjian yang mengikat hubungan kedua pihak itu sekarang dan yang akan datang. Pemilihan akad akan mencerminkan seberapa besar risiko dan keuntungan bagi kedua pihak, terutama bagi pihak pemodal maupun pihak yang mengelola bisnis atau antara pembeli dengan penjual.10

Ilmu fikih menawarkan berbagai rincian dan penetapan dasar-dasar perjanjian bisnis sehingga dapat merealisasikan tujuan dan kepentingan yang berakad. Selain itu ilmu fikih khususnya ilmu fikih muamalah akan memjawab persoalan serta membuat aturan untuk menjalankan aktivitas bisnis yang sesuai dengan prinsip syariah serta melahirkan kaidah-kaidah dan pandangan yang digunakan untuk transaksi bisnis yang baru muncul dan semakin beragam di era modern. Semakin jelas, cermat serta rinci dalam membuat akad maka semakin kecil kemungkinan terjadi konflik antar kedua belah pihak yang berakad di masa yang akan datang karena masing-masing pihak memahami hak dan kewajibannya.11

Be-berapa prinsip pokok dalam transaksi keuangan sesuai syariah antara lain berupa penekanan pada perjanjian yang adil, anjuran atas sistem bagi hasil atau profit shar-ing, serta larangan terhadap riba, gharar, dan maysir.12

Memang pada dasarnya instrumen-instrumen syariah yang dikeluarkan oleh suatu badan usaha atau lembaga keuangan selalu diawali dengan adanya Fatwa dari Dewan Syariah Nasional (DSN) yang menjadi dasar hukum bagi keabsahan produk.13 SBSN Ijarah Sale and Lease Back pun telah ada fatwa yang mengatur

ke-tentuan-ketentuannya, yaitu Fatwa DSN-MUI No. 72/DSN-MUI/VI/2008. Namun apakah dengan hadirnya Fatwa DSN-MUI menjamin kesesuaian produk pada sya-riah, atau merupakan cara ber-hilah dari riba

(6)

6 | Riska Amalia : Tinjauan Fiqih Terhadap Pelaksanaan Sukuk Ijarah Negara di Pasar Modal Syariah Indonesia

sukuk ijarah yang diterbitkan oleh Negara khususnya SBSN Ijarah Sale and Lease Back, sudahkah sesuai syariah.

TELAAH PUSTAKA A. Sukuk

1. Definisi Sukuk dan Karakteristik Sukuk

Sesungguhnya, obligasi syariah (sukuk) ini bukan merupakan istilah yang baru dalam sejarah Islam. Istilah tersebut sudah dikenal sejak abad pertengahan, di mana umat Islam menggunakannya dalam konteks perdagangan internasional.14 Bahkan menurut Nazaruddi Abdul Wahid

dalam bukunya yang berjudul SUKUK : Memahami & Membedah Obligasi pada Perbankan Syariah menyatakan bahwa sejak zaman Rasulullah telah ada sukuk yang berhubungan dengan jual beli bahan makanan. Bukti paling awal dari bentuk sakk menurut Nathif J. Adam dan Abdulkader Thomas (2004 : 44) ditemukan oleh pengkaji Barat pada kurun abad pertama hijriyah. Dari situ diperoleh data bahwa sukuk sama dengan nota yang dicap untuk bahan makanan yang diperniagakan dalam pasaran dimana penjual tidak memiliki asal bahan makanan itu. 15

Secara bahasa, sukuk adalah akar kata daripada bahasa Arab sakk , jamaknya sukuk atau sakaik , yang berarti memukul atau membentur , dan

juga bisa bermakna pencetkan atau menempa sehingga kalau dikatakan sakkan nuqud bermakna pencetakan atau penempaan uang Majma al -Lughah al-Arabiyah, 1980 : 648 dan Lisan al-Arab, 1985: 172). Istilah sakk bermula dari tindakan membubuhkan cap tangan oleh seseorang atas suatu dokumen yang mewakili suatu kontrak pembentukan hak, obligasi, dan uang. Dalam konsep modern disebutkan sebagai pengamanan pembiayaan yang memberikan hak katas kekayaan dan tanggungan serta bentuk hak milik lainnya (Nathif J. Adam dan Abdulkader Thomas, 2004 :43)16

Di Indonesia, sukuk lebih dikenal dengan sebutan Obligasi Syariah yang didefinisikan oleh Fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSNMUI) No. 32/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah sebagai surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil/margin/fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.

Karakteristik sukuk :

 merupakan bukti kepemilikan suatu aset, hak manfaat, jasa atau kegiatan  investasi tertentu;

 pendapatan yang diberikan berupa imbalan, margin, bagi hasil, sesuai dengan jenis akad yang digunakan dalam penerbitan;

 terbebas dari unsur riba, gharar dan maysir;  memerlukan adanya underlying asset penerbitan;

(7)

2. Jenis Sukuk

Sukuk dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan bentuk akadnya. Menurut fatwa DSN MUI No. 32/DSN-MUI/IX/2002 Tentang Obligasi Syariah, terdapat 4 jenis akad yang dapat digunakan dalam penerbitan sukuk adalah mudharabah (Muqaradhah)/ qiradh. musyarakah, murabahah, salam, istishna dan ijarah. Sehingga jenis-jenis sukuk antara lain :

2.1Sukuk Mudharabah

Sukuk mudharabah adalah sukuk yang menggunakan akad mudharabah. Akad mudharabah adalah akad kerjasama antara pemilik modal (shahibul maal atau investor) dengan pengelola (mudharib atau emiten). Ikatan atau akad mudharabah pada hakikatnya adalah ikatan penggabungan atau percampuran berupa hubungan kerjasama antara pemilik usaha dengan pemilik harta.18 Jenis sukuk ini merupakan salah

satu jenis sukuk yang digunakan di Indonesia dan telah diatur dalam Fatwa DSN MUI Nomor 32/DSN-MUI/IX/2002 Tentang Obligasi Syariah Mudharabah.

2.2Sukuk Musyarakah

Musyarakah adalah kerjasama atau kemitraan dimana dua orang atau lebih bersepakat untuk menggabungkan modal dan terlibat dalam pengelolaan usaha tersebut. Sukuk musyarakah merupakan sertifikat nilai yang sama yang diterbitkan untuk memobilisasi dana, yang digunakan berdasarkan persekutuan sehingga pemegangnya menjadi pemilik proyek yang relevan.19

2.3Sukuk Murabahah

Sukuk murabahah adalah surat berharga yang berisi akad muraba-hah dimana keduanya bersepakat soal harga perolehan dan keuntungan. Penjual membeli barang dari pihak lain dan menjualnya kepada pembeli dengan memberitahukan harga pembelian dan keuntungan yang ingin diperoleh dari penjualan barang tersebut.20

2.4Sukuk Salam

Salam adalah kontrak dengan pembayarannya dilakukan di muka, yang dibuat untuk barang-barang yang dikirim kemudian. Tidak diper-bolehkan menjual komoditas yang diurus sebelum menerimanya.21

2.5Sukuk Istishna

(8)

8 | Riska Amalia : Tinjauan Fiqih Terhadap Pelaksanaan Sukuk Ijarah Negara di Pasar Modal Syariah Indonesia

2.6Sukuk Ijarah

Sukuk ijarah adalan sekuritas yang mewakili kepemilikan aset yang keberadaannya jelas dan diketahui, yang melekat pada kontrak sewa beli (lease), sewa dimana pembayaran return (keuntungan) pada pemegang sukuk.23

Di Indonesia, pada umumnya jenis sukuk yang digunakan adalah jenis sukuk Mudharabah dan jenis sukuk ijarah. Sedangkan berdasrkan penerbitnya, jenis sukuk terdiri dari sukuk korporasi dan sukuk Negara. Dalam penelitian ini yang akan kami bahas adalah sukuk Negara, dimana merupakan sukuk yang diterbitkan oleh Negara dengan maksud untuk menutupi defisit APBN dan ditujukan kepada investor WNI. Akad yang digunakan sebagai dasar penerbitan sukuk Negara adalah sukuk Ijarah.

B. Konsep Ijarah

1. Pengertian Ijarah

Sewa-menyewa dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Ijârah. Ijârah berasal dari kata ajara ( رجا ) dan memiliki beberapa sinonim, dapat diartikan: menyewakan, memberinya upah dan memberinya pahala. Menurut bahasa, ijârah artinya, sewa menyewa atau jual beli manfaat. Sayid Sabiq mengemuka-kan, bahwa al-ijârah berasal dari kata al-ajru ( رجاا yang berarti al-iwâdh (sewa atau imbalan, ganjaran atau pahala). Jadi Ijarah menurut bahasa dan

secara syara memiliki makna jual beli manfaat.24

Ijarah menurut arti bahasa adalah nama upah. Menurut pengertian syara, Al-ijarah ialah suatu jenis akad untuk mengambil manfaat dengan jalan penggantian.25

Dari pengertian di atas terlihat bahwa yang dimaksud dengan sewa menyewa itu adalah pengambilan manfaat sesuatu benda, jadi dalam hal ini bendanya tidak kurang sama sekali, dengan perkataan lain dengan terjadinya sewa-menyewa, yang berpindah hanyalah manfaat dari benda yang disewakan tersebut, dalam hal ini dapat berupa manfaat barang seperti kendaraan, rumah, dan manfaat karya seperti pemusik, bahkan dapat juga karya pribadi pekerja.26 Atau bisa disebutkan juga bahwa ijârah merupakan bentuk jual beli

manfaat, untuk mendapatkan imbalan.

2. Dasar Hukum IJarah

Al-ijarah dalam bentuk sewa menyewa maupun dalam bentuk upah mengupah merupakan muamalah yang telah disyariatkan dalam Islam. Hukum asalnya menurut Jumhur Ulama adalah mubah atau boleh bila

dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh syara

(9)

Adapun dasar hukum tentang kebolehan al-ijarah dalam al-qur an terdapat dalam beberapa ayat diataranya seperti firman Allh SWT :

(Q.S. Al-Zukhruf [43]: 32)

َضۡعَب ܛَݜۡعَفَرَو ۚܛَيۡن܆دٱ قةٰݠَيَ

ۡٱ قِ ۡݗُݟَܢ َشيقع܅م ݗُݟَݜۡيَب ܛَݜۡݙ َسَق ُݚۡ

ۡ

َ ۚ َݑقكبَر َܠَ َۡۡر َنݠُݙقسۡݐَي ۡݗُه

َ

َ

ث

ُݟ

ۡݗ

َنݠُعَݙۡ ََ ܛ܅ݙقك ٞ َۡۡخ َݑقكبَر ُܠَ َۡۡرَو ۗܛمكيقܱۡܮُس ܛ مضۡعَب ݗُݟُضۡعَب َܰقܮ܅ܢَقكّ لܠٰ َجَرَل لضۡعَب َقۡݠَف

٢

32. Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan

(Q.S at-thalaq :6)

܅ݚُك نِ ۚ ܅ݚقݟۡيَݖَع ْاݠُݐقكيَضُقِ ܅ݚُهو܆رَٓضُت َََو ۡݗُكقܯۡجُو ݚقكم ݗُܢݜَݓَس ُܣۡيَح ۡݚقم ܅ݚُهݠُݜقݓۡسَث

َف ۡݗُكَل َݚۡع َضۡ

َ

ث ۡنقإَف ۚ ܅ݚُݟ

َݖۡ َۡ َݚۡع َضَي ٰ ܅ََح ܅ݚقݟۡيَݖَع ْاݠُݐقفنَأَف لݔۡ َۡ قܠَٰلْوُث

܅ݚُهَرݠُج

ُ

ث ܅ݚُهݠُتܛ

ۡيَب ْاوُܱقݙَت

أَو

ۡ

ٰىَܱۡخ

ُ

ث كۥُ

َ ُ݅ قضۡ ُُ َسَف ۡݗُتۡ ََܛَعَت نِ ۖ لفوُܱۡعَݙقب ݗُكَݜ

َ

٦

6. Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya

(Al-qhasas : 26)

َتۡسٱ قܠَب

أٓ َي ܛَݙُݟٰىَܯۡحقإ ۡܠ

َ

َلܛَق

َتۡسٱ قݚَم َ َۡۡخ ܅نقإ ُ ܱۡقر

نقم

َ ۡ

َٱ ܆ قݠَݐ

ۡلٱ َ َܱۡر

÷

ُ฀

٦

26. Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya"

Hadits

(10)

10 | Riska Amalia : Tinjauan Fiqih Terhadap Pelaksanaan Sukuk Ijarah Negara di Pasar Modal Syariah Indonesia

م

يْل ف اًرْيِج أ ر ج ْأ تْسا ِن

. ه رْج أ هْ ِلْع

Barang siapa mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya. (H.R. Abd ar-Razzaq).

3. Rukun ijarah

Rukun ijârah menurut Hanâfiyah adalah ijâb dan qabul, yaitu dengan lafadz ijârah. Sedangkan rukun ijârah menurut mayoritas ulama ada empat, yaitu dua pelaku akad (pemilik sewa dan penyewa), sighah (ijâb dan qabul), upah, dan manfaat barang28.

Dalam hal Objek Ijârah terbagi empat29:

 Ijarah terhadap manfaat dari barang, disebut juga ijârah ala al -manâfi atau ijârah al-a yân. Contohnya seperti menyewakan ge-dung, rumah, kapal, mobil dan lainnya.

Ijârah terhadap manfaat dari pekerjaan manusia (ijârah ala al

-a m-al). Seperti mengupah seorang manajer untuk mengelola perus-ahaan, dan tukang angkat untuk memindahkan barang.

Ijârah terhadap perpaduan manfaat manusia dan barang (Ijârah

ala al-manâfi wa al-a mal). Seperti mengupah seorang atau lem-baga membangun rumah sedang alat-alat berasal dari pekerja atau lembaga tersebut; atau mengendarai angkutan umum di mana upah diberikan untuk sopir dan mobil atau kendaraan beratnya.

 Bila dimasukkan pendapat Ibnu Qayim, maka terdapat objek Ijârah keempat, yaitu: ijârah bukan tehadap manfaat, tapi terhadap

ba-rang -ain, yaitu hasil berkelanjutan dari suatu barang asal, namun zat barang tersebut tetap ada, seperti buah sebagai hasil dari penyewaan pohon.

a. Imbalan atau jasa yang diberikan disebut upah atau sewa (ujrah)

4. Syarat ijarah

a. Aqid, Kedua belah pihak yang melakukan akad disyaratkan memiliki kemampuan, yaitu berakal dan dapat membedakan (baik dan buruk). 30

Menurut ulama Syafi iyah dan (anabilah, disyaratjan telah baligh dan

berakal31

b. Sigat akad antara mu jir dan musta jir Syarat sah sigat akad dapat dilakukan dengan lafad atau ucapan dengan tujuan orang yang melakukan perjanjian atau transaksi dapat dimengerti32 sebagai tanda kerelaannya

dalam melakukan akad.

c. Manfaat yang jadi objek ijarah harus diketahui secara sempurna, sehingga tidak muncul perselisihan. Kejelasan manfaat ini dapat dilakukan dengan menjelaskan jenis manfaatnya dan berapa lama manfaat tersebut ditangan penyewa.33

(11)

e. Ujrah (upah) Para ulama telah menetapkan syarat upah, yaitu: pertama, berupa harta tetap yang dapat diketahui. Kedua, tidak boleh sejenis dengan barang manfaat dari ijarah, seperti upah menyewa rumah untuk ditempati dengan menempati rumah tersebut. Upah (ujrah) dapat digolongkan menjadi 2, yaitu35 :

 Upah yang telah disebutkan (ajr al-musamma), yaitu upah yang telah disebutkan pada awal transaksi, syaratnya adalah ketika disebutkan harus disertai adanya kerelaan (diterima oleh kedua belah pihak).  Upah yang sepadan (ajr al-miṭli) adalah upah yang sepadan dengan

kerjanya serta sepadan dengan kondisi pekerjaannya. Maksudnya adalah harta yang dituntut sebagai kompensasi dalam suatu transaksi yang sejenis pada umumnya.

C. Konsep Jual Beli

1. Definisi jual beli

Jual beli dalam fiqih disebut dengan al-bay yang berarti menjual, mengganti dan menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Lafal al-bay dalam bahasa Arab terkadang digunakan untuk pengertian lawannya, yakni kata asy-syira beli . Dengan demikian, kata al-bay berarti jual, tetapi sekaligus juga berarti beli.36

Secara terminologi, jual beli adalah transaksi tukar menukar yang berkonsekuensi beralihnya hak kepemilikan, dan hal itu dapat dapat terlaksana dengan akad, baik berupa ucapan maupun perbuatan.37

2. Dasar Hukum Jual Beli Al-baqarah : 275

َݚقم ُݚٰ َطۡي ܅ش ٱ ُݝ ُط܅ܞَܮَܢَي ق

َٱ ُعݠُݐَي ܛَݙَك

܅

َقإ َنݠُ ݠُݐَي

܅

َ ْاٰݠَبقكܱ ٱ َنݠ

َ

ُݖُكۡأَي َݚيق ܅َٱ

ٰݠَبقكܱ ٱ َع܅َܱحَو َ݅ۡيَ

ۡٱ ُ ܅َٱ ܅ݔَح

ۡ

َ

ثَو ْۗاٰݠَبقكܱ ٱ

ُݔۡثقم ُ݅ۡيَ ۡۡٱ ܛَݙ܅نقإ ْاكݠُܛَق ۡݗُݟ܅نَأقب َݑقَٰذ ۚ قكسَݙۡٱ

ݚَݙَف ْۚا

ۥُ َءكܛَج

َل ََ ۡݚَمَو ق ܅َٱ

َقإ كۥُ ُܱۡ

َ

َ

ثَو َفَݖَس ܛَم ۥُݝَݖَف ٰ َََܢنٱَف ۦقݝقكب܅ر ݚقكم

ٞܟَ݄قعۡݠَ

َنوُ قِٰ َخ ܛَݟيقف ۡݗُه ۖقرܛ܅نٱ ُܜٰ َح ۡص

َ

ث َݑقئٓ

َلْوُأَف

٥

(12)

12 | Riska Amalia : Tinjauan Fiqih Terhadap Pelaksanaan Sukuk Ijarah Negara di Pasar Modal Syariah Indonesia

maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya

Dari kandungan ayat-ayat Allah dan sabda-sabda Rasul, para ulama fiqh mengatakan bahwa hukum asal dari jual beli adalah mubah (boleh). Akan tetapi, pada situasi tertentu, menurut Imam As-Syathibi (w. 790 H), pakar fiqh Maliki, hukumnya boleh berubah menjadi wajib, misalnya dalam praktik ikhtikar, pemerintah memaksa pelaku ikhtikar untuk menjual barang dagangannya sesuai dengan harga yang berlaku, maka penjual yang merupakan pelaku ikhtikar wajib menjualnya.38

3. Rukun dan Syarat Jual Beli

Menurut jumhur ulama bahwa rukun jual beli itu ada empat, yaitu :39

a. Ada orang yang berakad atau al-muta aqadain (penjual dan pembeli) b. Ada shigat (lafal ijab dan qabul)

c. Ada barang yang dibeli

d. Ada nilai tukar pengganti barang.

Adapun syarat-syarat jual beli sesuai dengan rukun jual beli yang dikemukakan jumhur ulama di atas adalah sebagai berikut 40:

a. Syarat orang yang berakad  Berakal

 Yang melakukan akad itu adalah orang yang berbeda. Artinya, seseorang tidak dapat bertindak dalam waktu yang bersamaan sebagai penjual sekaligus pembeli.

b. Syarat orang yang terkait dengan Ijab Qabul :

 Orang yang mengucapkannya telah baligh dan berakal  Qabul sesuai dengan Ijab

 Ijab dan qabul dilakukan dalam satu majelis c. Syarat Barang yang dijualbelikan

 Barang itu ada, atau tidak ada di tempat, tetapi pihak penjual menyatakan kesanggupannya untuk mengadakan barang itu.

 Dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi manusia  Milik seseorang.

 Boleh diserahkan saad akad berlangsung atau pada waktu yang disepakati bersama ketika transaksi berlangsung.

d. Syarat-syarat Nilai Tukar (Harga Barang)

 Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya  Boleh diserahkan pada waktu akad, sekalipun secara hukum, seperti

(13)

 Apabila barang itu dilakukan dengan saling mempertukarkan barang, maka barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang

diharamkan syara

METODE PENELITIAN

Penelitian menggunakan hasil deskripsi melalui studi kepustakaan (library re-search) yang relevant dengan pokok-pokok permasalahan dan diupayakan pemec-ahannya. Untuk memenuhi kriteria tulisan yang bermutu dan mengarah pada obyek kajian serta sesuai dengan metode pendekatan maka penulis menggunakan sumber data dan analisis data sebagai berikut:

1. Pendekatan penelitian

Penelitian menggunakan pendekatan normatif yang didasarkan pada kon-sep-konsep muamalah di lakukan dengan meneliti bahan kepustakaan dan mengidentifikasi konsep dan asas-asas serta prinsip syariah yang digunakan da-lam penelitian. (Khanif, 2012)41

2. Library research (penelitian kepustakaan)

Metode library research, ialah menggumpulkan data dan informasi dengan bantuan macam-macam materi yang terdapat di ruang perpustakaan misalnya buku-buku, majalah, naskah-naskah, catatan, kisah sejarah, dokumen dan lain-lain yang berkaitan dengan judul jurnal ini. Di dalam library research menggunakan metode tambahan berupa dokumentasi, Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda, dan sebagainya. (Khanif, 2012).

3. Sumber Data

Sumber data adalah subjek dari pada data yang diperoleh. Sumber data peneliti terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang langsung diperoleh dari sumber data pertama, tentang masalah yang diungkap penulis, secara sederhana data ini disebut data asli bersifat teknis. Sumber data itu ialah (DSN-MUI) sebagai dasar hukum penerbitan sukuk ber-dasarkan prinsip syariah. Fatwa ini adalah Fatwa DSN-MUI No. 72/DSN-MUI/VI/2008 Tentang SBSN Ijarah Sale and Lease Back. Sedangkan data sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data. Data sekunder yang dimaksud ialah buku-buku atau tulisan-tulisan lain yang ada relevansinya dalam kajian penelitian ini. (Khanif, 2012).

4. Metode analisis data

(14)

14 | Riska Amalia : Tinjauan Fiqih Terhadap Pelaksanaan Sukuk Ijarah Negara di Pasar Modal Syariah Indonesia

dan Analisis diilustrasikan berasal dari rangkuman dokumen. Dalam pembaha-san lebih lanjut dan penganalisipembaha-san data yang diperoleh dari penelitian menggunakan analisis kualitatif dengan metode deskriptif analisis, yaitu suatu metode analisis data untuk memecahkan masalah yang sedang diselidiki dengan mendeskripsikan keadaan subjek atau objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya (Khanif, 2012).

HASIL DAN ANALISIS

Seperti yang telah dijelaskan bahwa berdasarkan penerbitnya, sukuk dibagi menjadi dua yaitu sukuk korporasi dan sukuk negara. Sukuk negara lebih dikenal dengan SBSN atau Surat Berharga Syariah Negara. Menurut UU No. 19 Tahun 2008, Surat Berharga Syariah Negara selanjutnya disingkat SBSN, atau dapat disebut Sukuk Negara, adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap Aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing.

Dalam penerbitannya, sukuk negara diterbitkan berdasarkan akad ijarah, yang diklasifikasikan menjadi sukuk kepemilikan manfaat, sukuk kepemilikan jasa dan sukuk kepemilikan asset berwujud yang disewakan. Sukuk kepemilikan manfaat, diterbitkan dengan tujuan menyewakan asset / manfaat asset demi uang sewa, pemegang sukuk menjadi pemilik manfaat dari asset. Sedangkan tujuan penerbitan sukuk kepemilikan jasa yaitu untuk menyediakan jasa melalui penyedia jasa dan mendapatkan fee, sehingga pemegang sukuk menjadi pemilik jasa. Penerbitan sukuk kepemilikan asset berwujud yang disewakan, diterbitkan oleh pemilik asset yang disewakan atau yang akan disewakan dengan tujuan untuk menjual asset demi memperoleh dana, sehingga pemegang sukuk menjadi pemilik asset.42

Berdasarkan deskripsi fatwa AAOIFI dari segi obyek akad, terdapat tiga jenis sukuk ijarah. Pertama, Sukuk ijarah Manafi al-A yan al-Musta jarah atau Certificates of ownership of usufructs of existing assets, yaitu sukuk ijarah yang melambangkan kepemilikan atas manfaat dari aset (bukan wujud aset). Contohnya : Investor menyewa pesawat terbang, kemudian disewakan lagi kepada maskapai penerbangan.43

Jenis sukuk ijarah kedua adalah sukuk ijarah Milkiyah al-A mal al-Mujarah atau Certificates of ownership of services of a specified supplier. Contoh : jasa cleaning service sebuah rumah sakit selama jangka waktu tertentu, pelayanan perbaikan system pendingin ruangan dan lift, perusahaan penerbangan, kapal laut, computer, penyulingan minyak.

Jenis sukuk yang ketiga adalah sukuk ijarah Milkiyah al-A yan al-Mu jarah atau certificates of ownership in leased assets. Sukuk ijarah Milkiyah al-A yan al

-Mu jarah yaitu sukuk ijarah yang melambangkan kepemilikan atas aset yang bertujuan untuk disewakan (investor adalah pemilik atas aset dan tentu saja berikut manfaatnya). Contohnya : Investor membeli mesin pabrik kemudian disewakan kepada pemesan.

(15)

Lease Back dan Fatwa DSN-MUI No. 72/VI/2008 Tentang SBSN Ijarah Sale and Lease Back.

Konsep Sale and Lease Back Berdasarkan Fatwa DSN No. 71/VI/2008 Tentang Sale and Lease Back.

Fatwa ini dikeluarkan dengan menimbang bahwa dalam masyarakat berkembang suatu kebutuhan jual beli suatu aset untuk kemudian pembeli menyewakan kembaliaset kepada penjual, yang disebut dengan Sale and Lease Back yang sesuai dengan prinsip syariah. Sehingga fatwa ini berisi beberapa ketentuan terkait dengan Sale and Lease Back yang sesuai dengan prinsip syariah, diantaranya adalah :

Pertama : Ketentuan Umum

Sale and Lease Back adalah jual beli suatu aset yang kemudian pembeli menyewakan aset tersebut kepada penjual.

Kedua : Ketentuan Hukum

Sale and Lease Back hukumnya boleh. Ketiga : Ketentuan Khusus

1. Akad yang digunakan adalah Bai' dan Ijarah yang dilaksanakan secara terpisah.

2. Dalam akad Bai', pembeli boleh berjanji kepada penjual untuk menjual kembali kepadanya aset yang dibelinya sesuai dengan kesepakatan.

3. Akad Ijarah baru dapat dilakukan setelah terjadi jual beli atas asset yang akan dijadikan sebagai obyekIjarah.

4. Obyek Ijarah adalah barang yang memiliki manfaat dan nilai ekonomis.

5. Rukun dan syarat Ijarah dalam fatwa Sale and Lease Back ini harus memperhatikan substansi ketentuan terkait dalam fatwan DSN-MUI Nomor: 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah.

Keempat : Penutup

1. Jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka

2. penyelesaiannya dilakukan berdasarkan peraturan perundang - undangan

3. yang berlaku dan sesuai prinsip syariah.

4. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika

5. di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan

6. disempurnakan sebagaimana mestinya

Konsep SBSN Ijarah Sale And Lease Back Berdasarkan Fatwa DSN-MUI No. 72/DSN-MUI/VI/2008 Tentang SBSN Ijarah Sale And Lease Back

(16)

16 | Riska Amalia : Tinjauan Fiqih Terhadap Pelaksanaan Sukuk Ijarah Negara di Pasar Modal Syariah Indonesia

memerlukan instrument keuangan berbasis syariah berupa Surat Berharga Syariah Negaran (SBSN) yang menggunakan akad Ijarah dengan mekanisme Sale and Lease Back. Sehingga dikeluarkannya lah fatwa ini yang berisi

3. prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian ( ةصح ) kepemilikan aset

4. Sale and Lease Back adalah jual beli suatu aset yang kemudian pembeli menyewakan aset tersebut kepada penjual.

5. SBSN Ijarah Sale and Lease Back adalah SBSN yang diterbitkan dengan menggunakan akad Ijarah dengan mekanisme Sale and Lease Back

Kedua : Ketentuan Khusus

1. Pemerintah boleh melakukan transaksi dengan Perusahaan Penerbit SBSN yang didirikan oleh Pemerintah atau dengan pihak lain yang ditunjuk oleh Pemerintah.

2. Pemerintah menjual aset yang akan dijadikan Obyek Ijarah kepada Perusahaan Penerbit SBSN atau pihak lain melalui wakilnya yang ditunjuk dan pembeli berjanji untuk menjual kembali aset yang dibelinya sesuai dengan kesepakatan. 3. Pemerintah atau Perusahaan Penerbit SBSN menerbitkan

SBSN sebagai bukti atas bagian ( ةصح ) kepemilikan Obyek Ija-rah, yang dibeli oleh investor pada tingkat harga tertentu sesuai kesepakatan.

4. Pemerintah menyewa Obyek Ijarah dengan memberikan imba-lan (ujrah) kepada Pemegang SBSN selama jangka waktu SBSN. 5. Pemerintah sebagai Penyewa wajib memelihara dan menjaga

Obyek Ijarah sampai dengan berakhirnya masa sewa.

6. Pemerintah dapat membeli sebagian atau seluruh Aset SBSN sebelum jatuh tempo SBSN dan/atau sebelum berakhirnya masa sewa Aset SBSN, dengan membayar sesuai dengan kese-pakatan.

7. Untuk pembelian Aset SBSN sebelum jatuh tempo se-bagaimana dimaksud pada angka 6, para pihak melakukan pe-rubahan atau pengakhiran terhadap akad SBSN.

8. Pemegang SBSN dapat mengalihkan kepemilikan SBSN Ijarah kepada pihak lain dengan harga yang disepakati.

Ketiga : Penutup

(17)

2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Skema pelaksanaan sukuk ijarah Milkiyah al-A yan al-Mu jarah atau di Indonesia disebut dengan SBSN Ijarah Sale and Lease Back adalah sebagai berikut : 45

Berikut ini adalah penjelasan yang disederhanakan dan disertai dengan contoh untuk memahami pola tsb :

1. Asset Kementrian Keuangan berupa tanah dan gedung yang selama ini digunakan untuk beraktivitas sehari-hari dinilai secara wajar misalnya 100 miliar.

2. Asset tersebut dijual kepada kepada sekelompok investor (yang terdiri dari 50 orang) seharga Rp. 100 miliar, namun dalam perjanjian jual beli itu disebutkan

PEMERINTAH

(OBLIGATOR)

SPV

(PENERBITAN)

Purchase and sales Undertaking

PEMEGANG SUKUK

(INVESTOR)

(3)

penyewaan

kembali aset

(1) Penjualan

aset

ASET

Rp.

ASET

Rp. (2)

penerbitan sukuk

(18)

18 | Riska Amalia : Tinjauan Fiqih Terhadap Pelaksanaan Sukuk Ijarah Negara di Pasar Modal Syariah Indonesia

bahwa para investor harus menjual kembali asset tersebut 5 tahun kemudian kepada kementrian keuangan sebesar 100 miliar. Bisa juga bahwa investor tidak harus menjual kembali asset tersebut hanya saja nantinya kementrian keuangan dibolehkan untukl menyewa asset tersebut dengan skema sewa dengan opsi kepemilikan bagi penyewa di akhir atau ijarah muntahiya bit tamlik.

3. Setiap orang memiliki porsi Rp. 2 miliar atas asset tersebut (2%) dari total nilai asset keseluruhan (Rp. 100 miliar)

4. Untuk mengkoordinasi 50 investor tersebut dibentuklah badan usaha khusus untuk mengkoordinasi alias special pupose vehicle (SPV) yang akan bertindak untuk dan atas nama para investor dan kementrian keuangan.

5. Jadi secara formal, kementrian keuangan menjual asetnya kepada SPV tersebut tetapi secara hakikat, kementrian keuangan menjual asetnya pada para investor. Nantinya seluruh transaksi antara investor dan kementrian keuangan diperantai oleh SPV ini.

6. Apakah pegawai kementrian keuangan pindah dari gedung tersebut? Tidak, kementrian keuangan, menyewa gedung tersebut untuk tetap digunakan sebagai kantor para pegawainya dari para investor, dengan biaya sewa Rp. 8,75 miliar per tahun selama 5 tahun.

7. Pada akhir tahun ke-5, kementrian keuangan membayar kepada para investor RP. 100 miliar untuk kembali memiliki gedung tersebut dan akibatnyta berhenti membayar biaya sewa.

Dilihat dari mekanisme pelaksanaan Sukuk Negara Ijarah Sale and Lease Back di atas, terdapat beberapa kritik atau perdebatan tentang kebolehannya, diantaranya kritik atas kerumitan mekanisme sukuk ijarah yang memungkinkan adanya celah atau dosa atau pelanggaran yang disampaikan oleh Chandra Natadiputra dalam bukunya yang berjudul 101 Ekonomi Islam. Kritikannya ini ber-dasarka salah satu kaidah fiqih yang berbunyi46 :

ْلاِب ِدو ق عْلا ىِف ً رْ ِعْلا

ِ اِ لا وي ِطا فْل أاِب ا يِن ا ع ْلا و ِدِص ا ق

Yang dapat dijadikan pegangan akad adalah maksud dan makna ; bukan

lafadz dan bentuk perkataan.

Berikut kritikan tersebut :

Analisis Kekeliruan Akad Sukuk Ijarah47

(19)

1. Akad Sewa Digunakan Sebagai Kamuflase

Kalau objek akadnya melibatkan benda tangible (asset atau komoditas), maka akad yang memberikan kepastian hasil adalah murabahah. Kalau objek akadnya intangible (misalnya manfaat sewa) maka akad yang memberikan kepastian hasil adalah ijarah (sewa). Sewa itu bisa sewa operasional atau sewa sewa manfaat atau sewa dengan pilihan untuk dimiliki di akhir (ijarah muntahiya bittamlik). Disini penggunaan akad sewa diperlukan karena rate (tingkat imbal hasil) yang hendak diberikan kepada investor biasanya adalah flat rate, sebagaimana lazimnya obligasi. Jarang obligasi ditawarkan dalam kupon floating rate (tingkat imbal hasil mengambang). Jadi yang keliru adalah cara berpikirnya atau mungkin juga niatnya. Cara berpikir yang keliru ini adalah bagaimana caranya agar kebutuhan pasar berupa surat berharga (sekuritas) syariah yang menawarkan flat rate dapat terpenuhi tanpa ada unsur bunga di dalamnya? Padahal yang seharusnya kita menggali semangat dari syariah itu sendiri. Apa yang benar-benar diinginkan Al-Quran ketika melarang riba itu? Bukan bagaimana caranya agar kita bisa menyuguhkan produk beraroma riba tapi tanpa melanggar fiqih. Mau dinamakan sewa, mau dinamakan jual beli, mau dinamakan apapun, namun akad ini pada hakikatnya adalah akad pinjaman.

2. Kepemilikan semu

Kepemilikan sejati suatu asset adalah kenikmatan bagi para pemiliknya. Misalnya kenikmatan yang didapat dari asset property :

a. Perasaan memiliki dan berkuasa atas sesuatu itu sendiri sebuah kenikmatan dari allah SWT kepada manusia, sesuatu yang tidak allah SWT berikan kepada hewan dan tumbuhan

b. Kenikmatan dapat diperoleh dari manfaat dari asset tersebut, misalnya digunakan untuk keperluan tempat tingal atau kantor

c. Kenikmatan meningkatnya harga asset. Kecuali dalam beberapa kasus, karena jumlah tanah cenderung tetap sementara kebutuhan manusia akan property terus meningkat seiringan dengan laju pertumbuhan penduduk, maka dalam jangka panjang harga property mengalami peningkatan. Namun dalam akad sukuk ijarah ini kita tidak menemukan kepemilikan sejati para investor pada asset yang ia kuasai. Buktinya adalah sebagai berikut :

a. Pada kasus ijarah mutahiya bit tamlik, pada akhir periode investor melepas kepemilikannya kepada penyewa, akad yang dipakai biasanya adalah hibah atau jual beli. Jadi dalam kasus ini, aset yang dijual kepada penyewa dihargai sama dengan harga lima tahun yang lalu. Apakah lazim di dunia ini aset property harganya sekarang dan lima tahun lagi persis sama ? sedangkan lazimnya aset property harga jualnya cenderung mengalami kenaikan.

(20)

20 | Riska Amalia : Tinjauan Fiqih Terhadap Pelaksanaan Sukuk Ijarah Negara di Pasar Modal Syariah Indonesia

kantor, kekuatan harga para penyewa, kurs rupiah, kondisi ekonomi secara umum. Kecuali untuk kasus-kasus yang sangat khusus, tidak lazim kita mendapatkan harga sewa yang sama dari tahun ke tahun. Sebagi bukti pasal a dan b, berikut ini adalah data harga jual dan sewa property komersil di Jakarta.

tahun Harga sewa/ bulan/ m2

Okupansi sewa

Harga jual / m2

2004 98,200 81,20% 11,198,048

2005 109,083 84,75% 12,176,778

2006 109,086 84,94% 12,176,772

2007 135,400 81,20% 13,722,000

2008 154,016 87,52% 15,910,000

2009 154,726 86,37% 15,200,000

2010 157,111 89,68% 15,200,000

2011 162,629 93,15% 16,850,000

2012 183,267 98,45% 26,760,000

2013 156,072 98,53% 30,640,303

Dari data di atas, dapat kita simpulkan bahwa terdapat kecenderungan harga sewa dan jual property dari tahun ke tahun mengalami kenaikan.

a. Di Jakarta pertumbuhan harga sewa dan harga jual ruangan kantor pertahuinnya adalah masing-masing 11,24% dan 11,85% dalam rentang 5 tahun peningklatan harga sewa dan harga jual property perkotaan dijakarta masing-masing naik 56,85% dan 42,07%, sedangkan dalam 10 tahun peningkatan harga sewa jual property b. Tidak ditemukan harga sewa yang flat dan harga jual yang flat dalam

jangka panjang.

c. Penggunaan tingkat sewa yang flat dan harga beli kembali yang sama (flat) dalam jangka waktu tertentu dalam akad sukuk ijarah adalah diluar kelaziman, dengan demikian akad sewa dan jual-beli kembali ini tidak sesuai dengan hakikat dari transaksi sewa dan jual beli yang sesuai dengan prinsip syariah islam.

(21)

Sejak awal akad ini memang digunakan sebagai hilah, yaitu upaya mencari cara-cara fiqh yang legal untuk membenarkan penyerapan dana masyarakat melalui pinjaman namun tanpa memasukkan unsur bunga. Singkatnya : bagaimana bisa membungakan uang tapi sah secara fiqih. Karena niat awalnya adalah upaya hilah atau rekayasa, maka dalam praktiknya yang koita dapati adalah apa yang diniatklan itu yaitu praktik pinjam meminjam

dengan imbalan bunga .

Penerapan kaidah lima asas pada akad sukuk ijarah

Asas yang dilanggar adalah asas keberadaan (mawjuud) dan keseteraan (musawwats) karena ia mengandung akad ijarah, padahal sebenarnya tidak ada yang secara nyata disewakan. Asas musawwats juga dilanggar karena :

1. Tingkat harga sewa yang dimaksud diluar kelaziman, ijarah harga sewa bersifat tetap sedangkan terdapat kecenderungan harga sewa secara umumnya (market based rent price) dari tahun ke tahun bervariasi (dalam kasus di atas cenderung mengalami kenaikan).

2. Harga jual kembali yang sama dengan harga beli juga berada di luar kelaziman, dimana terdapat kecenderungan bahwa harga jual property dari tahun ke tahun bervariasi (dalam kasus si atas cenderung mengalami kenaikan)

Selain kritikan tersebut, dalam struktur sukuk ijarahsale and lease back ini

masih menjadi isu penting yang sering dibahas oleh pakar ekonomi syari ah karena dianggap tidak sesuai dengan prinsip syari ah, karena hal ini merupakan bentuk lain

daripada bai al-wafa atau hampir sama dengan jenis bai istighlal dan bai al-inah yang masih diperdebatkan kebolehannya oleh para Ulama Fiqh.48

Berdasarkan kepada kumpulan fatwa dari majma fiqh Islami (Markas Riset Fiqh Islam) yang berpusat di Jeddah yang dikeluarkan pada tahun 1992 M menyatakan bahwa mayoritas Ulama tidak membolehkan jual beli dalam bentuk ini, sedangkan minoritas Ulama membolehkannya, sehingga hasil keputusan akhir dari sidang fatwa tersebut memutuskan tidak boleh bermuamalah dengan bentuk jual beli seperti ini. Adapun pokok masalah yang diperdebatkan tentang kebolehan jual beli jenis ini karena dalam kontrakijarah sale and lease back berlaku dimana aset yang telah dijual oleh pemiliknya kemudian disewakan kembali kepada penjual tersebut, sehingga jenis ini dianggap menyerupai salah satu bentuk bai al-inah yang dilarang dalam hadith Rasulullah SAW dimana penjual dan pemberi sewa membuat syarat sebelum terjadi akad, dengan janji pembelian kembali aset pada harga yang disetujui oleh penjual asal.49

1. Bay al-Wafâ 50

(22)

22 | Riska Amalia : Tinjauan Fiqih Terhadap Pelaksanaan Sukuk Ijarah Negara di Pasar Modal Syariah Indonesia

Tengah (Bukhâra dan Balkh) pada pertengahan abad ke 5 Hijriyah dan merambat ke Timur Tengah, dengan tujuan menghindari terjadinya riba dalam pinjam me minjam. Pada masa itu banyak di antara orang kaya tidak mau meminjamkan uangnya tanpa ada imbalan yang mereka terima. Sementara banyak juga para peminjam uang tidak mampu melunasi uangnya akibat imbalan yang harus mereka bayarkan bersamaan dengan sejumlah uang yang mereka pinjam. Menurut para fukaha imbalan yang diberikan atas dasar pinjam meminjam uang ini termasuk riba.

Akad bay al-wafa adalah akad jual beli, maka pembeli dapat dengan bebas memanfaatkan barang yang dibeli tersebut. Hanya saja, pembeli tidak boleh menjual barang tersebut kepada orang lain selain kepada penjual. Menurut ulama, jual beli ini dibolehkan, karena tujuannya untuk menghindari riba. Definisi lain, bay al-wafa adalah jual beli yang meletakkan syarat bahwa apabila penjual membayar kembali harga barang yang dijual maka pembeli akan mengembalikan barang yang dijual kepada penjual.

Mustafa Ahmad al-Zarqa mendefinisikan, bay al-wafa ialah dua jual beli yang dilakukan oleh dua pihak yang diikuti dengan syarat bahwa barang yang dijual itu dapat dibeli kembali oleh penjual, apabila tenggang waktu yang ditentukan telah tiba. Tenggang waktu pembelian kembali dapat terjadi satu ta-hun atau dua tata-hun. Sayyid Sabiq mendefinisikan bay al-wafa merupakan jual beli pelunasan yakni seseorang yang memerlukan uang tunai menjual barang, na-mun jika pembayaran tersebut telah dilunasi dan dibayar kembali kepada pem-iliknya, maka barang yang dijualnya hendaklah dikembalikan lagi kepada pemilik asal. Hukum jual beli seperti ini sama seperti gadai menurut pendapat yang pal-ing kuat.

Bay al-wafa ini sangat populer di kalangan mayoritas mazhab Hanâfi. Pada hakikatnya akad ini merupakan perpaduan antara akad jual beli (bay) dengan akad gadai (rahn). Mazhab Hanâfi membolehkan hukum jual beli al-wafa dan be-berapa negara telah mengakui dan memasukkannya dalam perundang-undangan

perdata, seperti Turki Usmani dan Lebanon, namun para ulama Syâfi iyyah,

Mâ-likiyah dan Hanâbilah tidak setuju dengan kebolehan bay al-wafa .

Musthafa Ahmad al-Zarqa mengemukakan bahwa barang yang diperjualbe-likan dalam bay al-wafa, adalah barang tidak bergerak, seperti tanah perke-bunan, rumah, tanah perumahan, dan sawah.56 Ulama Hanâfiyah menganggap

bay al-wafa adalah sah dan tidak termasuk ke dalam larangan Rasulullah Saw. yang melarang jual beli yang diikuti syarat, karena, sekalipun disyaratkan bahwa harta itu harus dikembalikan kepada pemilik awal, namun pengembalian itu pun harus melalui akad jual beli.

Mekanisme akad bay al-wafa terdiri atas tiga tahapan, yaitu:

Pertama, ketika dilakukan transaksi, akad ini merupakan jual beli, karena di dalam akad dijelaskan bahwa transaksi itu adalah jual beli, melalui ucapan

(23)

barang yang dijual itu harus dikembalikan kepada penjual, sekalipun pemegang harta itu berhak memanfaatkan dan menikmati hasil barang itu selama waktu yang disepakati.

Ketiga, di akhir akad, ketika waktu yang disepakati berakhir, bay al-wafa ini sama dengan al-rahn, karena dengan jatuh tempo yang telah disepakati kedua pihak, penjual harus mengembalikan barang yang dibeli itu kepada penjual secara utuh. Jadi bay al-wafa merupakan gabungan antara akad jual beli dengan akad gadai yang pada awalnya dipraktikkan untuk menghindari riba dan sebagaian be-sar ulama membolehkannya dengan syarat barang yang dijual berupa harta tidak bergerak seperti tanah, bangunan, rumah dan lainnya.

Bay wafa dalam Majallah al-Ahkam al-adliyah51 Pasal 116 :

Dalam hal suatu jual beli yang tergantung pada hak penebusan kembali, maka penjual bisa mengembalikan uang seharga barang yang dijual dan meminta kem-bali barangnya. Sama halnya pembeli bisa mengemkem-balikan barang tersebut dan meinta uangnya kembali seharga barang itu. (jika telah jatuh tempo)

Berdasarkan definisi tersebut, harga pembelian kembali oleh penjual harus sama dengan harga penjualan pertama. Jika terjadi kelebihan, maka jual beli tersebut tergolong jual beli al inah yang dilarang dalam Islam.

2. Bay Istighlâl 52

Bay istighlal sebenarnya hampir sama dengan jual beli al-wafa, namun pada jual beli istighlâl benda yang dijual tersebut disewa kembali oleh penjual se-hingga akad bay al-wafa berubah menjadi bay istighlâl. Bay istighlâl merupakan jual beli wafa dengan syarat bahwa penjual menyewa kembali barang yang dijual-nya dari pembeli. Bay istighlâl ini telah dicantumkan pada kitab Undang-undang Perdata Turki (Majallah al-Ahkâm al-Adiyah, pasal 119).

3. Akad Bay al-Inah

Kata al-inah berasal dari bahasa Arab yang berarti tunai atau segera . Tetapi, yang dimaksud dengan bay-inah adalah menjual harta dengan bayaran angsuran, kemudian segera membelinya kembali dengan bayaran tunai. Menurut al-Bahuty, bay al-inah adalah penjualan barang kepada seseorang dengan harga kredit dan barang diserahkan kepada pembeli, kemudian dibeli kembali oleh penjual sebelum mengambil bayarannya dengan uang tunai lebih kecil dari harga asalnya.

Pendapat ulama berbeda tentang bay al-inah, Abu Hanîfah mengatakan hukum nya fâsid, sedangkan Imam Mâlik dan Hambali mengatakan akadnya batal. Abu Yusuf berpendapat bahwa bay al- inah hukumnya makruh, sedangkan

pan-dangan para sahabat seperti Aisyah dan )bn Abbas dan dari tabi in )bn Sirin, al

-Sha bi dana pandangan jumhur ulama hukum bay al-inah haram. Mayoritas ulama

fikih selain )mam Syâfi i menyatakan bahwa jual beli ini adalah rusak (fâsid) dan tidak sah. Karena, jual beli ini menjadi sarana munculnya riba dan menyebabkan terjadinya sesuatu yang dilarang oleh Allah sehingga jual beli ini tidak sah.26

(24)

24 | Riska Amalia : Tinjauan Fiqih Terhadap Pelaksanaan Sukuk Ijarah Negara di Pasar Modal Syariah Indonesia

akad jual beli yang dilakukan telah memenuhi rukun yaitu ijâb dan qobul, tanpa memandang kepada niat pelaku.

Terakhir, jika kita merujuk pada fatwa DSN-MUI No. 71/DSN-MUI/VI/2008 Tentang Sale And Lease Back, pada ketentuan khusus dikatakan bahwa akad yang

digunakan adalah akad bai dan ijarah yang dilakukan secara terpisah, pada praktiknya bahwa antara akad bai dan ijarah terlihat terjadi bersamaan, karena

pada tidak adanya pemindahan kepemilikan secara jelas.

SIMPULAN

Dari pembahasan mengenai pelaksanaan akad Sale And Lease Back maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Berdasarkan Fatwa DSN MUI No:72/DSN-MUI/VI/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara menggunakan akad Ijarah - Sales and Lease Back sesuai dengan prinsip syariah, yaitu kombinasi antara akad al-bay jual beli dan akad al -ijarah (sewa) (anwar, 2010)53

2. Akad al-bay jual beli yang terdapat pada struktur akad Sales and Lease Back adalah bentuk akad al-bay jual beli bersyarat bay al-wafa , yaitu mensyaratkan pembeli Aset Barang Milik Negara untuk menjual kembali BMN (underlying asset) kepada penjual semula (Pemerintah) setelah masa jatuh tempo selama 5 tahun, dari tanggal 25 Februari 2009 sampai dengan tanggal 25 Februari . Dan bentuk jual beli bersyarat bay al-wafa ini dibolehkan

berdasarkan Urf )stihsan kebiasaan yang berlaku , karena dapat

menghindarkan masyarakat dari transaksi ribawi. (anwar, 2010)54

3. Akad al-ijarah (sewa) yang terdapat pada struktur akad Sales and Lease Back sudah sesuai dengan rukun dan syarat yang berlaku pada akad al-ijarah (sewa), rukun dan syarat itu di antaranya:

a. Al-muta aqidain dua pihak yang berakad .

Dalam hal ini Pemerintah sebagai penyewa musta jir , dan pihak pemegang

sukuk sebagai pemberi sewa mu jir .

b. Imbalan/sewa/nominal.

Pemerintah memberikan imbalan atas sewa Barang Milik Negara kepada pihak pemegang sukuk sebesar 1 % dari nilai pokok pembelian SBSN selama 5 tahun.

(25)

Penyewa (Pemerintah) mendapatkan manfaat dari penyewaan Barang Milik Negara berupa tanah dan bangunan.

d. Shighot, Ijab dan Qabul.

Dalam hal ini Pemerintah membuat akad Ijarah berupa dokumen perjanjian antara Pemerintah (penyewa) dan pemegang Sukuk Negara Ritel (yang menyewakan). (anwar, 2010)

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, A. F. (2016, September 09). DNA TRIBUNE. Diambil kembali dari DNA TRIBUNE:

http://www.dnatribune.net/2016/09/09/3-konsep-ijarah-dalam-fiqih-ekonomi-dan-implementasinya-di-pasar-modal-syariah/

anwar, D. a. (2010). Akad sale And Lease Back pada Transaksi sukuk Ritel di PT.BNI Securities.

128.

Fathoni, M. (2010). Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Ijarah Sale And Lease Back

Pada Obligasi Syariah Negara Ritel (Studi Analisis di Bank Mandiri Syariah Cabang

Surabaya). Skripsi.

Huda, N. d. (2008). Investasi Pada Pasar Modal Syariah. Jakarta: Kencana.

Khanif, N. K. (2012). Tinjauan Hukum Islam terhadap transaksi Jual Beli sukuk Ritel Menggunakan

sistem akad Ijaroh Serta Relevansinya dengan Lingkungan Investor. 15.

Maslakah, E. (2013). Konsep Ijarah dalam Fiqh. Skripsi.

MUI, D. S. (2014). Himpunan Fatwa Keuangan Syariah. Jakarta: Erlangga.

Natadipurba, C. (2016). Ekonomi Islam 101 Edisi 2. Bandung: PT Mobidelta Indonesia.

Nurseha, M. A. (2010). Tinjauan Hukum Islam Terhadap Akad Ijarah Al Muntahiyah Bi At-Tamlik

(26)

26 | Riska Amalia : Tinjauan Fiqih Terhadap Pelaksanaan Sukuk Ijarah Negara di Pasar Modal Syariah Indonesia

Republik I do esia No or Tahu Te ta g “urat Berharga “yariah Negara .

Skripsi.

Rachman, E. N. (2015). Akad Jual Beli Dalam Perspektif Fikih Dan Praktiknya di Pasar Modal

Indonesia. AL-'ADALAH Vol. XII, No. 4, 783.

Siamat, D. (2010). Tanya Jawab Seputar Surat Berharga Syariah Negara. Jakarta.

Suheri. (t.thn.). Ekonomi Syariah. Diambil kembali dari Suheri : Ekonomi Syariah :

https://suherilbs.wordpress.com/fiqih/

Sutedi, A. (2009). Aspek Hukum Obligas & Sukuk. Jakarta: Sinar Grafika.

Trisilo, R. B. 4 . Pe erapa Akad Pada ObligasiI “yariah Da “ukuk Negara “urat Berharga

Syariah Negara / SBSN). Economic : Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, Vol. 4 No. 1.

Tuasika, A. (2008, Juli 4). Muslim. Diambil kembali dari Muslim.or.id:

http://muslim.or.id/222-jual-beli-dan-syarat-syaratnya.html

Wahid, N. A. (2010). SUKUK : Memahami & Membedah Obligasi pada Perbankan Syariah.

Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

1 M. Fathoni, Skripsi : Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Ijarah Sale And Lease Back Pada

Obligasi Syariah Negara Ritel (Studi Analisis di Bank Mandiri Syariah Cabang Surabaya)” (Surabaya : IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2010), hal. 1.

2 Ibid, 2

3 Mustafa Edwin Nasution dan Nurul Huda, Investasi Pada Pasar Modal Syaria (Jakarta : Kencana Prenada

Media Group, 2008), hal. 149

4 Loc. Cit, hal. 2

5Mustafa Edwin Nasution dan Nurul Huda, Investasi Pada Pasar Modal Syaria (Jakarta : Kencana

(27)

6Nazaruddi Abdul Wahid, “UKUK : Me aha i & Me edah O ligasi Pada Pe a ka “ya iah

(Yog-yakarta : Ar-Ruzz Media, 2010) , hal. 106

7Ibid, hal. 106-107

8M. Achid Nurseha, Skripsi “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Akad Ijarah Al Muntahiyah Bi At-Tamlik

Pada Penerbitan Surat Berharga Syariah Negara(Studi Pasal 11 Dan 12 Undang-Undang Republik Indo-nesia Nomor 19 Tahun 2008 Tentang Surat Berharga Syariah Negara)” (Yogyakarta : IAIN Sunan Kali-jaga Yogyakarta, 2010), hal. 3.

9 Ibid, hal. 4

10Ab Mumin bin Ab Ghani & Eka Nuraini Rachmawati, Akad Jual Beli Dalam Perspektif Fikih Dan

Prak-tiknya Di Pasar Modal Indonesia”. AL-‘ADALAH Vol. XII, No. 4, Desember 2015, hal. 785

11 Ibid, hal 785-786

12 M. Fathoni, Skripsi : Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Ijarah Sale And Lease Back Pada

Obligasi Syariah Negara Ritel (Studi Analisis di Bank Mandiri Syariah Cabang Surabaya)” (Surabaya : IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2010), hal. 1.

13Adria “utedi : Aspek Hukum Obligasi & “ukuk (Jakarta :Sinar Grafika, 2009), hal. 134

14Ibid, hal. 95

15Nazaruddi Abdul Wahi, “UKUK : Me aha i & Me edah O ligasi Pada Pe a ka “ya iah

(Yog-yakarta : Ar-Ruzz Media, 2010) , hal. 102-103

16Ibid, hal. 92

17 Dahla “ia at Tanya Jawab Seputa “u at Be ha ga “ya iah (Jakarta, 10 juni 2010), hal 9

18Nurma Khusna Khanifa, Skripsi :

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Transaksi Jual Beli Sukuk Ritel Menggunakan Sistem Akad Ijarah Serta Relevansinya Dengan Perlindungan Investor (Semarang : IAIN Walisongo Semarang, 2012), hal. 40

19Ibid, hal. 41

20Ibid, hal. 40

21Ibid, haL. 41

22Ibid

23Ibid, hal. 42

24 Ab Mumin bin Ab Ghani & Eka Nuraini Rachmawati, Akad Jual Beli Dalam Perspektif Fikih Dan Prak-tik ya Di Pasa Modal I do esia . AL-‘ADALAH Vol. XII, No. 4, Desember 2015, hal. 793

25E Maslakah. “kripsi Ko sep ija ah dala Fi h (Surabaya : UIN Surabaya, 2013), hal, 22

26Ibid

27Ibid

(28)

28 | Riska Amalia : Tinjauan Fiqih Terhadap Pelaksanaan Sukuk Ijarah Negara di Pasar Modal Syariah Indonesia

29Ibid

30E Maslakah ko sep ija ah dala fi ih (Surabaya : UIN Surabaya, 2013), hal 31

31 Dani Arsyad Anwar, Skiripsi : Akad “ale A d Lease Ba k Pada T a saksi “ukuk Ritel di PT. BNI

Securitie, (Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah, 201), hal. 23

32Loc. Cit

33Loc. Cit, hal. 24

34Ibid, hal. 26-30

35Loc. Cit

36Loc. Cit, hal. 38

37http://muslim.or.id/222-jual-beli-dan-syarat-syaratnya.html, . Abduh Tuasikal, (4 juli, 2008) yang

diakses pada 24 Desember 2016 pukul 14.30

38Loc. Cit , hal. 43-44

39Ibid, hal. 45

40Ibid, hal. 45-47

41 Nurma Khusna Khanifa, Tinjauan Hukum Islam terhadap transaksi Jual Beli sukuk Ritel Menggunakan

sistem akad Ijaroh Serta Relevansinya dengan Lingkungan Investor (Semarang : 2012), hal 15

42Rudi Bambang Trisilo, Penerapan Akad Pada ObligasiI Syariah Dan Sukuk Negara (Surat

Ber-harga Syariah Negara / SBSN) , Economic : Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, Vol. 4, No. 1 (Jakarta, 2014), hal. 25

43Ibid.hal. 26

44 Dewan Syariah Nasional MUI, Hi pu a Fatwa Keua ga “ya iah (Jakarta : Erlangga, 2014), hal.

680-689

45 Chandra Natadipurba, 101 Ekonomi Islam (Bandung : PT Mobidelta Indonesia, 2016), hal. 272

46Ibid, hal. 249

47Ibid, hal. 272-274

48 Ahmad Fauzan Abdullah, Konsep Ijarah Dalam Fiqih Ekonomi Dan Implementasinya Di Pasar

Modal Syari ah diakses dari http://www.dnatribune.net/2016/09/09/3-konsep-ijarah-dalam-fiqih-ekonomi-dan-implementasinya-di-pasar-modal-syariah/ pada 25 Desember 2016 pukul 16.00

49Ibid

(29)

51 Suheri,FiqihMuamalah Islam (Jual Beli dalam Islam) diakses melalui

https://suherilbs.word-press.com/fiqih/ pada 26 desember 2016 18:44

52Loc. Cit.

53anwar, D. a. (2010). Akad sale And Lease Back pada Transaksi sukuk Ritel di PT.BNI Securities. 128.

Referensi

Dokumen terkait

Penegakan hukum di Indonesia sepenuhnya menjadi tanggung jawab negara yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga penegakan hukum di Indo Sistem pemenjaraan yang sangat

Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: a) ekstrak buah maja mempunyai efektivitas sebagai insektisida nabati terhadap hama walang sangit, b)

Fauzik Lendriyono, M.Si selaku Kepala Laboratorium Program Studi Kesejahteraan Sosial sekaligus Dosen Pembimbing II yang telah memberikan arahan, dukungan serta motivasinya

Berdasarkan hasil uji aktivitas antioksidan secara kuantitatif dari beberapa ekstrak kulit batang jamblang (Syzygium cumini) yang dilakukan dengan beberapa variasi

Penggumpalan protein pada pembuatan tahu kacang koro pedang dapat terjadi dengan menggunakan koagulan whey tahu pada pH 6,2 atau sioko pada pH 6,7 menggunakan suhu

Alhamdulillah penulis ucapkan kepada Sang Khaliq Allah SWT yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan dalam waktu yang telah ditetapkan

Data dari hasil penelitian selanjutnya diolah oleh penulis dan dianalisi secara deskriptif dengan pendekatan kualitatif sebagai berikut : Membahas perlakuan fiskal

HTHR Diverifikasi/ t Applicable No pemegang Pemanfaatan Hasil Izin Hutan Kayu (IPK) pada penggunaan kawasan hutan negara untuk.. kegiatan Hutan Tanaman Hasil