• Tidak ada hasil yang ditemukan

tinjauan hukum islam terhadap pelaksanaan jual beli

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "tinjauan hukum islam terhadap pelaksanaan jual beli"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN JUAL BELI TEMBAKAU DENGAN PERUBAHAN HARGA SEPIHAK

(Studi Kasus Desa Lekor Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah)

Oleh Sofia Firdaus NIM. 180201075

PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARI’AH FAKULTAS SYARI’AH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM

2022

(2)

ii

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN JUAL BELI TEMBAKAU DENGAN PERUBAHAN HARGA SECARA SEPIHAK (Studi

Kasus di Desa Lekor Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Untuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Hukum

Oleh:

SOFIA FIRDAUS NIM. 180201075

PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2022

(3)

iii HALAMAN LOGO

(4)

iv

PERSETUJAN PEMBIMBING

Skripsi oleh: Sofia Firdaus, NIM: 180201075 dengan judul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Jual Beli Tembakau Dengan Perubahan Harga Secara Sepihak (Studi Kasus Desa Lekor Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah)” telah memenuhi syarat dan disetujui untuk diuji.

Disetujui pada tanggal: 05 September 2022

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. H. Miftahul Huda M.Ag Darmini M.H NIP. 196401141996031002 NIP. 198412062019032009

(5)

v

NOTA DINAS PEMBIMBING

Mataram, 05 September 2022

Hal: Ujian Skripsi

Yang Terhormat

Dekan Fakultas Syariah di Mataram

Assalamu’alaikum, Wr. Wb

Dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi, kami berpendapat bahwa skripsi saudara:

Nama Mahasiswa : Sofia Firdaus Nim : 180201075

Jurusan/Prodi : Hukum Ekonomi Syariah

Judul : Tinjauan Hukum Islam Terrhadap Pelaksanaan Jual Beli Tembakau Dengan Perubahan Harga Secara Sepihak (Studi Kasus di Desa Lekor Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah)

Telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam sidang munaqasyah skripsi Fakultas Syariah UIN Mataram. Oleh karena itu, kami berharap agar skripsi ini dapat segera di-munaqasyah-kan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Pembimbing I Pembimbing I

Prof. H. Miftahul Huda M.Ag Darmini M.H NIP. 196401141996031002 NIP. 198412062019032009

(6)

vi

(7)

vii

(8)

viii MOTTO

ْنَع ًة َرا َجِت َن ْوُكَت ْنَا ٰٓ َّلَِا ِل ِطاَبْلاِب ْمُكَنْيَب ْمُكَلا َوْمَا ا ْٰٓوُلُكْأَت َلَ ا ْوُنَمٰا َنْيِذَّلا اَهُّيَآٰٰي

ۗ ْمُكْنِّم ٍضا َرَت

اًمْيِح َر ْمُكِب َناَك َ ّٰاللّ َّنِا ۗ ْمُكَسُفْنَا ا ْٰٓوُلُتْقَت َلَ َو

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu” (QS. An-Nisa‟ 4:29)

(9)

ix

PERSEMBAHAN

“Skripsi ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya tercinta yaitu Ibu Indra Gandi dan Bapak Mahyuti yang selalu memberikan do’a, nasehat, kasih sayang, semangat serta dukungan baik moral maupun material”.

(10)

x KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya. Amin.

Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian propoosal skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membntu sebagai berikut:

1. Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag. selaku Rektor UIN Mataram yang telah memberi tempat bagis penulis untuk menuntut ilmu dan memberi bimbingan dan peringatan untuk tidak berlama-lama di kampus tanpa pernah selesai;

2. Dr. Moh. Asyiq Amrullah, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Syari‟ah;

3. Prof. H. Miftahul Huda, M.Ag. selaku pembimbing I dan Darmini M.H.

selaku pembimbing II yang sudah memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi mendetail, terus-menerus, dan tanpa bosan di tengah kesibukannya dalam suasana keakraban menjadikan proposal skripsi ini lebih matang dan cepat selesai;

4. Dr. Jumarim, M.HI Selaku Dosen Wali Studi yang telah memberikan banyak bimbingan dan bantuan selama peneliti menempuh studi;

5. Dr. Syukri Abu Bakar, M.Ag. sebagai Ketua Program Studi Hukum Ekonomi Syari‟ah;

6. Kedua orang tua beserta saudara-saudara saya tercinta yang telah memberikan dukungan serta do‟a tiada henti sehingga saya mampu menyelesaikan proposal skripsi ini.

7. Teman-Teman saya baik dimanapun kalian berada yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu, terutama untuk teman-teman Jurusan Hukum Ekonomi Syariah angkatan 2018 khususnya Kelas B.

8. Semua pihak yang tidak bisa peneliti sebutkan satu persatu terimaksih untuk segalanya.

Semoga amal kebaikan dari berbgai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semesta. Amin

Mataram, 08 Juni 2022 Penulis

Sofia Firdaus

(11)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

HALAMAN PENGESAHAN ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR LAMPIRAN... xiii

ABSTRAK ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5

D. Ruang Lingkup Dan Setting Penelitian ... 6

E. Telaah Pustaka ... 7

F. Kerangka Teori... 10

G. Metode Penelitian... 25

H. Sistematika Pembahasan ... 28

BAB II GAMBARAN UMUM DESA DAN KEGIATAN JUAL BELI TEMBAKAU DENGAN PERUBAHAN HARGA SECARA SEPIHAK DI DESA LEKOR KECAMATAN JANAPRIA ... 30

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 30

1. Sejarah Desa ... 30

2. Kondisi Geografis ... 30

3. Potensi Ekonomi Masyarakat ... 32

4. Potensi Bisnis Tembakau di Desa Lekor Kecamatan Janapria ... 33

(12)

xii

5. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat ... 34

B. Faktor/penyebab Terjadinya Jual Beli Tembakau dengan perubahan harga secara sepihak oleh pengepul ... 34

C. Tinjauan Hukum IslamTerhadap Perubahan Harga Secara Sepihak jual Beli Tembakau di Desa Lekor Kecamatan Janapria ... 38

BAB III ANALISIS PRAKTIK PELAKSANAAN JUAL BELI TEMBAKAU DENGAN PERUBAHAN HARGA SECARA SEPIHAK DI DESA LEKOR SERTA TINJAUANNYA MENURUT HUKUM ISLAM ... 40

A. Analisis Praktik Pelaksanaan Jual Beli Tembakau dengan Perubahan Harga Secara Sepihak ... 40

B. Analisis Faktor/penyebab Terjadinya Jual Beli Tembakau Dengan Perubahan Harga Secara Sepihak Oleh Pengepul ... 41

C. Analisis Tinjauan Hukum Islam Terhadap Perubahan Harga Secara Sepihak jual beli tembakau di Desa Lekor Kecamatan Janapria ... 43

BAB IV PENUTUP ... 48

A. Kesimpulan ... 48

B. Saran ... 49

DAFTAR PUSTAKA ... 50 LAMPIRAN-LAMPIRAN

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(13)

xiii DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Mata Pencaharian Penduduk Desa Lekor Tabel 2.2 Data Responden

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Dokumentasi Wawancara

Lampiran 2 Surat Izin Penelitian Desa Lekor Lampiran 3 Surat Plagiarisme

Lampiran 4 Kartu Konsultasi Lampiran 5 Riwayat Hidup Lampiran 6 Draf Wawancara

(15)

xv

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN JUAL BELI TEMBAKAU DENGAN PERUBAHAN HARGA SECARA

SEPIHAK

(Studi Kasus Di Desa Lekor Kecamata Janapria Lombok Tengan) Oleh

SOFIA FIRDAUS NIM. 180201075

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana praktek pelaksanaan jual beli tembakau yang dilakukan oleh petani dan pengepul di Desa Lekor Kecamatan Janapria. Pelaksanaan jual beli ini merupakan kegiatan yang selalu dilakukan oleh para petani di Desa Lekor setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing. Akan tetapi jual beli tembakau yang terjadi di Desa Lekor Kecamatan Janapria merupakan jual beli tembakau dengan perubahan harga secara sepihak oleh pembeli, yang mana pada saat transaksi petani dan pengepul sudah menyepakati harga jual tembakau secara sukarela dengan jumlah nominal yang jelas dan waktu pembayaran setelah final. Namun pada saat pembayaran tiba pengepul memberikan pembayaran kepada petani tidak sempurna uang tersebut jumlahnya kurang tidak sesuai dengan jumlah yang sudah disepakati. Sehingga kegiatan tersebut merugikan salah satu pihak yakni pihak petani (penjual). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis praktik jual beli tembakau dengan perubahan harga secara sepihak ditinjau menurut hukum Islam.

Pada penelitian ini peneliti menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan Deskriptif. Adapun jenis data dalam penelitian ini yakni data primer dan data skunder. Yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dalam pelaksanaan jual beli tembakau ini belum sesuai dengan aturan- aturan dalam jual beli yang benar, jumlah pembayaran yang telah disepakati pada saat akad transaksi kemudian diberikan secara sepihak dan tidak sempurna oleh pengepul.

Dalam hukum Islam mengenai perubahan harga secara sepihak oleh pengepul dalam jual beli tembakau ini tidak sah (batal) karena mengandung unsur Gharar (ketidakjelasan) dan tidak sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Yakni merugikan salah satu pihak yaitu petani

(16)

xvi

karna pembayaran tembakaunya tidak jelas hasil yang diterima dan tidak sesuai dengan kesepakatan pada saat akad.

Kata Kunci: Jual Beli, Tembakau, Perubahan Harga Secara Sepihak, Gharar

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Islam sebagai agama telah diyakini oleh umat manusia hampir separuh dari penduduk bumi, dimana mereka meyakini adanya Tuhan Yang Esa dengan mentauhidkan Allah SWT. Sebagai tuhan yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan serta tidak mebutuhkan bantuan dari makhluknya dan dapat melakukan kekuasaanya tanpa campur tangan dari yang selainnya. Oleh karna itu, umat Islam kemudian melakukan ritual untuk menghambakan diri kepada Allah sebagai kewajiban spiritual agar dapat masuk ke dalam golongan orang yang shaleh.1

Allah SWT telah menjadikan manusia masing-masing saling membutuhkan satu sama lain, dan pada hakikatnya manusia itu disebut sebagai makhluk sosial yang membutuhkan pertolongan dari orang lain untuk melangsungkan hidupnya. Hubungan manusia sebagai makhluk sosial ini sangat dikenal dengan istilah bermuamalah.2 Di dalam Islam kegiatan bermuamalah merupakan salah satu bentuk kemudahan bagi manusia guna untuk memenuhi segala sesuatu yang mana agar bisa berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dalam sehari-hari baik itu sebagai makhluk individu atau makhluk sosial. Bermuamalah sangat erat kaitannya dengan jual beli agar mereka saling peduli antara sesama baik dalam hal kegiatan tolong-menolong, kegiatan tukar-menukar keperluan untuk memenuhi kehidupan mereka.

Dalam bermualah sebenarnya bagaimana supaya kita dapat mewujudkan kemaslahatan bersama dengan memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai hal yang ada dalam situasi dan kondisi yang ada dalam manusia itu sendiri. Bagaimana supaya dalam bermuamalah saling tolong-menolong, jujur, tidak merugikan para pihak, berkeadilan dan harus suka sama suka. Dalam jual beli hal utama yang dimiliki oleh yang bermuamalah adalah sifat keju juran. Karna kejujuran merupakan faktor yang membuat suatu bisnis mendapatkan keberkahan antara penjual dan pembeli.

Jual beli merupakan salah satu perjanjian tukar menukar barang yang mempunyai nilai secara tukar menukar secara sukarela diantara kedua belah pihak, pihak yang satu dapat menerima barang dengan pihak lainnya

1Syaifullah, Etika Jual Beli Dalam Islam, Jurnalhunafa,Vol. 11 Nomor 2, Desember 2014, hlm. 372.

2Ahmad Azhari Basir, Asas-Asas Mu’amalah (Yogyakarta: UII Pres, 2009), hlm. 11.

(18)

2

menerima pembayaran sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati dengan ketetapan hukum Islam.3

Salah satu contoh kegiatan bermuamalah adalah Jual beli (al-bai’). Jual beli merupakan salah satu perjanjian tukar menukar barang yang mempunyai nilai secara sukarela di antara kedua belah pihak, pihak yang satu dapat menerima barang dan pihak lainnya menerima pembayaran sesuai dengan ketetapan hukum Islam.4

Di dalam melakukan jual beli hal yang harus terpenuhi adalah objek jual beli yaitu benda atau barang yang diperjual belikan harus memiliki beberapa persyaratan yaitu salah satu pihak harus mengetahui jenis barang yang diperjualbelikan, keadaan barang, jumlah barang, ukuran barang dan lainnya.

Dan jika dalam kegiatan jual beli keadaan barang, jumlah barang tidak diketahui, maka perjanjian jual beli itu tidak sah. Dan yang paling penting dalam melakukan jual beli adalah akad maupun kesepakatan antara kedua belah pihak harus jelas harus terlebih dahulu dilakukan, keuntungan yang tidak berlebihan atau sesuai dengan syariat Islam, asas suka sama suka dan tidak ada unsur riba didalamnya.5

Dalam melakukan jual beli harus memperhatikan landasan yang kuat dalam Al-Qur‟an dan Hadist. Dalam ayat Al-Qur‟an yang membahas tentang jual beli adalah Firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 29:

ْنَع ًة َرا َجِت َن ْوُكَت ْنَا ٰٓ َّلَِا ِل ِطاَبْلاِب ْمُكَنْيَب ْمُكَلا َوْمَا ا ْٰٓوُلُكْأَت َلَ ا ْوُنَمٰا َنْيِذَّلا اَهُّيَآٰٰي ۗ ْمُكْنِّم ٍضا َرَت

اًمْيِح َر ْمُكِب َناَك َ ّٰاللّ َّنِا ۗ ْمُكَسُفْنَا ا ْٰٓوُلُتْقَت َلَ َو

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.

Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.6

Ayat di atas menjelaskan bahwa orang yang beriman dalam mencari rezeki tidak boleh dengan cara yang batil yaitu segala hal yang bertentangan

3Akhmad Farroh Hasan,Fiqih Muamalah dari Klasik Hingga Kontemporer, (Malang:Uin Maliki Malang Press, 2018), hlm.29

4Siswadi, “Jual Beli Dalam Persfektif Islam”, Jurnal Ummul Qura Vol III, Nomor. 2, Agustus 2013, hlm. 59

5Ade Sholahudin, “Inkonsistensi Harga Secara Sepihak Dalam Jual Beli Sayur Di Desa Batursari Sirampog, (Skripsi, FS UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang, 2021), hlm.1.

6QS An-Nisa‟(4):29

(19)

3

dengan hukum islam dan apabila melakukan jual beli harus berdasarkan asas suka sama suka, saling merelakan, tidak menipu, dan tidak merugikan salah satu pihak.

Jual beli yang dilarang dalam Islam adalah jual beli yang mendatangkan kemudharatan, kemaksiatan, kemusyirikan, jual beli yang mengakibatkan penganiayaan,dan jual beli tanaman yang masih di sawah atau di ladang dan masih banyak lainnya. Antara penjual dan beli harus menghindari perbuatan jual beli yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang sudah diatur di dalam syariat Islam yang merugikan atau yang menyebabkan kerusakan (Gharar).7

Jual beli sesuatu yang terdapat unsur penipuan adalah dilarang oleh hukum Islam. Dengan demikian, penjual tidak boleh menjual ikan yang masih ada di dalam air, dagiing yang masih ada di dalam perut domba, janin binatang yang masih ada di dalam perut, air susu yang masih ada di dalam susu binatang, buah-buahan yang masih kecil (belum matang), barang yang tidak dapat dilihat atau diterima atau diraba ketika sebenarnya barang dagang tersebut ada, dan bila barang dagang itu tidak ada maka tidak boleh memperjualbelikannya tanpa mengetahui sifat ataupun jenis dan keberadaannya (kualitasnya).

Di Desa Lekor Kecamatan Janapria mayoritas penduduknya kebanyakan berprofesi sebagai petani dan pengepul tembakau. Mulai dari petani muda hingga tua, musim tembakau dilakukan 1 (satu) tahun sekali, jika sudah musimnya para petani tetap melakukan penenaman tembakau walaupun biaya yang digunakan sangat besar mulai dari harga bibit, harga pupuk, bayar tenaga, makanan dll. Meski begitu petani tidak segan-segan berusaha sampai mendapatkan biaya untuk membiayai tembakau, dan para petani tetap bekerja keras dari awal proses penanaman tembakau hingga akhir supaya mendapat kualitas yang super sehingga tembakau dari hasil petani menjadi andalan untuk dijual.

Dan biasanya para petani menjual hasil tembakau mereka ke pengepul, pengepul membeli tembakau ke petani dengan berbagai sistem, ada yang membeli tembakau dalam keadaan kering setelah di open, dan juga dengan cara membeli dalam keadaan basah di sawah ketika tembakau sudah selesai dipupuk dan sudah besar. Namun untuk beberapa petani lebih memilih untuk menjual tembakau dalam keadaan basah di sawah dikarenakan beberapa alasan, yakni karena mahal dan langkanya bahan bakar dan bisa mengerjakan

7Rahman Ghazaly, Fiqih Muamalat,(Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 83-84

(20)

4

pekerjaan yang lain lebih cepat. Meski begitu petani tetap menanam tembakau karna itu merupakan mata pencaharaian mereka sebagai petani.

Seperti penjelasan di atas yang terjadi di Desa Lekor Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah kegiatan penanaman tembakau tidak sesuai ekspektasi petani karna ada permaslahan yang terjadi, yakni berawal dari petani bernama A dan pengepul bernama B, antara petani dan pengepul saling mengenal karna memiliki sawah yang berdekatan. Setiap musim tembakau antara keduanya pasti bertemu karena sama-sama mengurus sawah, kemudian mulai dari tembakau ditanam, diberi pupuk setiap minggu sekali sampai tembakau tumbuh besar dengan kualitas baik, kemudian suatu hari pengepul mendatangi petani ketika mereka sama-sama disawah untuk membicarakan masalah tembakau, setiap ke sawahnya untuk bekerja si pengepul pasti melihat bagaimana keadaan dan kualitas tembakau si petani sehingga pengepul tertarik untuk membelinya.

Dan dari situlah terjadinya kegiatan jual beli tembakau antara petani (penjual) dan pengepul (pembeli), mereka tawar menawar hingga terjadi kesepakatan harga, petani memberikan harga 13.500.000 karna menurutnya sesuai dengan kualitas tembakau miliknya dan pengepul setelah tawar menawar dan berhasil menawar dengan harga yang lebih rendah, dan pengepul menyetujui harga tawarannya karena sesuai juga dengan kualitas tembakau yang ia tawar, maka terjadilah kesepakatan harga yaitu 13.000.000 anatara penjual dan pengepul dan pembayaran akan diberikan setelah tembakau dijual ke gudang, kemudian setelah kurang lebih 1 (satu) bulan-an tembakau selesai pengepul mendatangi rumah petani (penjual) untuk memberikan pembayaran tembakau sesuai waktu yang disepakati.

pengepul merubah harga secara sepihak, dengan mudahnya pengepul memberikan uang pembayaran yang tidak sesuai dengan kesepakatan yang telah dilakukan pada awal melakukan jual beli, petani (penjual) sangat merasa dirugikan bahkan sampai tidak mau menerima uang tersebut dan mau mengambil balik tembakau miliknya, namun apa boleh buat tembakau sudah dikirim ke gudang dan jika tidak diambil uang pembayarannya tersebut petani (penjual) akan rugi total karena besar kemungkinan pembayaran tidak akan diberikan sama sekali dengan alasan si pengepul mengalami rugi total pada tembakau si petani (penjual). Petani sangat heran dengan kelakuan pengepul yang bertingkah seperti itu, tidak bertanggungjawab penuh dan tidak mau menanggung resiko.

Jual beli tembakau yang terjadi di Desa Lekor Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah petani sangat mengharapkan keuntungan maupun

(21)

5

balik modal dari hasil pertanian yang telah dirawat dari jerih payah mereka.

Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya tembakau yang mereka jual kepada pengepul ternyata di bayar secara sepihak dengan jumlah pembayaran yang tidak sempurna. Model jual beli seperti ini sangat merugikan salah satu pihak yakni pihak petani.

Masalah yang terjadi dikalangan petani tembakau pada masyarakat Desa Lekor Kecamatan Janapria merupakan hal yang sudah dianggap sebagai kebiasaan oleh para pengepul karena adanya egoisitas dari pihak pengepul yang merasa bahwa hal ini merupakan hal yang jumrah bagi kalangan petani dan pengepul. Kegiatan jual beli dengan perubahan harga sepihak oleh pembeli di Desa Lekor Kecamatan Janapria Lombok Tengah bahwa kegiatan jual beli ini menimbulkan lemahnya masyarakat dalam hal bertani, lemahnya masyarakat untuk kembali menanam tembakau akibat tindakan pengepul.

Selain itu, tindakan tersebut juga sangat merugikan petani. Berdasarkan masalah tersebut peneliti tertarik untuk mengkajinya melalui penelitian dengan judul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Jual Beli Tembakau Dengan Perubahan Harga Secara Sepihak (Studi Kasus Desa Lekor Kecamatan Janapria)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat ditarik rumusan masalah, sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan jual beli tembakau dengan perubahan harga sepihak oleh pembeli di Desa Lekor Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah ?

2. Apa Faktor penyebab terjadinya perubahan harga secara sepihak jual beli tembakau oleh pembeli di Desa Lekor Kecamatan Janapria ?

3. Bagaimana Tinjauan Hukum Islam terhadap pelaksanaan jual beli tembakau dengan perubahan harga sepihak oleh pembeli di Desa Lekor Kecamatann Janapria Kabupaten Lombok Tengah ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Untuk menjelaskan bagaimana pelaksanaan jual beli tembakau dengan perubahan harga sepihak di Desa Lekor Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah

b. Untuk mengetahui dan menjelaskan apa faktor dari perubahan harga secara sepihak jual beli tembakau di Desa Lekor Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah.

(22)

6

c. Untuk menjelaskan Tinjauan Hukum Islam terhadap pelaksanaan jual beli tembakau dengan perubahan harga sepihak di Desa Lekor Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah

2. Manfaat Penelitian a. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan menambah pemahaman ilmu yang sudah dipelajari, mengetahui bagaimana penerapan teori dalam praktek jual beli tembakau dengan perubahan harga secara sepihak di Desa Lekor Kecamatan Janaparia Kabupaten Lombok Tengah, dan diharapkan agar menambah referensi untuk penelitian berikutnya yang memiliki kesamaan objek penelitian.

b. Secara Praktis

a) Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat atau petani pelaku dalam Pelaksanaan jual beli tembakau dengan perubahan harga secara sepihak di Desa Lekor Kecamatan Janapria.

b) Untuk memberikan informasi kepada peneliti berikutnya dalam pembuatan karya ilmiah yang lebih sempurna.

c) Menjadi rujukan dalam hal praktik jual beli terhadap pelaksanaan jual beli dengan perubahan harga sepihak secara relevan, dan sebagai rujukan atau referensi dalam penelitian terkait tema tersebut.

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup

PenelitianDalam penelitian ini menfokuskan pada Tinjauan Hukum Islam terhadap pelaksanaan jual beli Tembakau dengan perubahan harga sepihak (Studi Kasus Desa Lekor Kecamatan Janapria Lombok Tengah).

2. Setting Penelitian

Setting penelitian dilakukan di Desa Lekor Kecamatan Janapria kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Alasan peneliti melakukan penelitian di lokasi tersebut karna menurut peneliti, masyarakat di Desa Lekor Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah sering sekali terjadi jual beli tembakau seperti itu yang mengakibatkan penjual merasa dirugikan karna tidak sesuai dengan aturan-aturan yang ada dalam hukum Islam pada saat akad jual beli dilaksanakan.

E. Telaah Pustaka

(23)

7

Untuk mengetahui lebih jelas penelitian ini, Dalam hal ini kiranya perlu untuk mengetahui penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini, untuk membandingkan penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis, baik secara teori maupun secara kontribusi. Di bawah ini peneliti akan paparkan beberapa hasil penelitian yang mempunyai kesamaan dengan masalah penelitian penulis antara lain :

1. Putri Dwi Rahayu “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Kebiasaan merubah harga secara sepihak pada jual beli Sayur-Mayur”. Dalam skripsi ini membahas mengenai keberagaman dalam praktek jual beli, salah satunya dalam hal jual beli sayur-mayur dengan menggunakan sistem pembayaran diakhir merupakan kebiasaan yang dilakukan di Desa Pedagangan Kecamatan Wringinanom. Kebiasaan merubah harga secara sepihak sudah berlangsung lama sampai saat ini karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para petani di Desa Pedagangan. Kebiasaan yang merugikan pihak petani dalam hal jual beli. Persamaan penelitian ini dengan penelitian peneliti adalah Jual beli dengan perubahan harga secara sepihak.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian peneliti. Penelitian oleh Putri Dwi Rahayu yakni jual beli Sayur-Mayur. Ketika terjadi kesepakatan petani menghargakan sayurnya dengan harga semisal 500.000 dan si pengepul mengiyakan petani tanpa menawar harga, namun ketika diakhir pembayaran pengepul tidak memenuhi perjanjiannya setelah sayur dijual ke pasar. Hingga ada juga pengepul yang membayar hanya setengah harga kepada petani atas sisa pembayaran awal dikarenakan minimnya pengetahuan petani dalam berkomunikasi melalui handphone, sehingga tidak biasanya petani menagih utang yang belum dibayar kepada petani.8

Sedangkan penelitian oleh peneliti yakni jual beli tembakau yang dimana Pengepul melakukan penawaran tembakau ke petani hingga terjadi kesepakatan harga tanpa panjar dan pembayaran dilakukan setelah musim tembakau final dan ketika sudah dijual ke gudang. Selain diatas ada juga perbedaan lain yaitu terkait dengan lokasi dan waktu penelitian.

2. Alfin Naf‟ah Fitriyani “Tinjauan Hukum Islam Terhadap perubahan harga secara sepihak dalam jual beli Ikan segar di tempat pelelangan ikan pengambengan Desa Banyubiru Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Dalam skripsi ini menjelaskan mengenai praktek jual beli. Di Desa Banyu Biru merupakan mayoritas islam, namun dalam melakukan

8Putri Dwi Rahayu, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Kebiasaan merubah harga secara sepihak pada jual beli Sayur-Mayur Studi Kasus di Desa Pedagangan kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik, (Skripsi, FS UIN Sunan Ampel, Surabaya, 2018).hlm.5

(24)

8

transaksi jual beli masyarakat di daerah tersebut seringkali terjadi perubahan kesepakatan secara sepihak, yang pada akhirnya akan merugikan salah satu pihak.

Praktek jual beli ikan segar yang dilakukan melalui sistem pemesanan telpon/sms otomatis jika jual beli dilakukan dengan sistem telpon barang tidak secara langsung dilihat bagaimana kualitasnya dan ukuran, jadinya sulit untuk menentukan harga. Persamaan penelitian ini dengan penelitian peneliti adalah sama-sama tentang jual beli dengan perubahan harga sepihak oleh pembeli.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian peneliti adalah penelitian oleh Alfin Naf‟ah Fitriyani yakni, jual beli ikan segar dilakukan dengan cara pihak pedagang pengecer memesan ikan yang dibutuhkan kepada nelayan memalui telpon atau sms dengan harga awal yang sudah disepakati bersama. Namun ketika ikan sudah tersedia dan ditemukan kecacatan maka pedagang pengecer merubah harga yang sudah disepakati di awal.9 Sedangkan penelitian oleh peneliti yakni mengenai jual beli tembakau yang dimana Pengepul melakukan penawaran tembakau ke petani hingga terjadi kesepakatan harga tanpa panjar, dan pembayaran dilakukan setelah musim tembakau final dan ketika sudah dijual ke gudang. Selain diatas ada juga perbedan lain yaitu terkait dengan lokasi dan waktu penelitian.

3. Eka Tyas Listiana “Tinjauan Hukum Islam terhadap perubahan harga sepihak (Studi kasus dalam jual beli daging sapi antara suplier dan pedagang pengecer di Desa Tanduk Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali). Persamaan penelitian ini dengan penelitian peneliti adalah jual beli dengan perubahan harga sepihak, namun masalah disini tentang perubahan harga sepihak dalam jual beli daging sapi.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian peneliti adalah penelitian oleh Eka Tyas Listiana yakni pada jual beli ini dilakukan dengan sistem telpon /sms yang dimana barang tersebut ada wujudnya namun tidak dihadirkan pada saat akad. Yang dimana penjual ecer melakukan pemotongn harga kepada suplier karna merasa daging yang diterima tidak sempurna menurutnya, peristiwa tersebut sangat merugikan bagi suplier tersebut karna memotong harga tanpa adanya kesepakatan ulang dengan suplier.10

9Alfin Naf‟ah Fitriyani, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap perubahan harga secara sepihak dalam jual beli Ikan segar di tempat pelelangan Ikan pengambengan Desa Banyubiru Kecamatan Jembrana Provinsi Bali, (Skripsi, FS IAIN Jember, 2016).

10Listiana, Eka Tyas, “Tinjauan Hukum Islam terhadap perubahan harga sepihak Studi kasus dalam jual beli Daging Sapi antara Supplier dan pedagang

(25)

9

Sedangkan penelitian oleh peneliti yakni jual beli tembakau yang dimana Pengepul melakukan penawaran tembakau ke petani hingga terjadi kesepakatan harga tanpa panjar, dan pembayaran dilakukan setelah musim tembakau final dan setelah dijual ke gudang. Selain diatas ada juga perbedan lain yaitu terkait dengan lokasi dan waktu penelitian.

Penelitian diatas dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki kesamaan yaitu sama-sama membahas tentang jual beli dengan perubahan harga secara sepihak. Namun pasti ada perbedaan antara penelitian tersebut yaitu terkait dengan lokasi penelitian, waktu penelitian, dan barang yang diperjual belikan. Namun untuk jual beli tembakau dengan perubahan harga secara sepihak belum ada yang secara khusus membahasnya. Maka dari itu penelitian ini akan membahas tentang pelaksanaan jual beli tembakau dengan perubahan harga secara sepihak oleh pembeli di Desa Lekor Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah.

4. Fakhatul Bariroh yang berjudul “Tinjauan Hukum Islam terhadap jual beli tembakau dengan perubahan harga secara sepihak (Studi kasus di Desa Sugihmenak Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grogoban)”. Dalam penelitian ini, dijelaskan bahwa masyarakat di Desa Sugihmenak merupakan masyarakat yang sadar akan membayar zakat fitrah, zakat mal dan banyaknya yang telah melaksanakan haji, dan melakukan kegiatan keagamaan lainnya, namun dalam praktek jual beli hasil pertanian sering kali para pengepul melakukan kecurangan dan hanya memikirkan diri sendiri. Permainan harga yang dilakukan pengepul tanpa kesepakatan harga dengan petani yang menimbulkan kerugian kkepada salah satu pihak.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian peneliti adalah sama- sama membahas tentang tembakau yang dimana dalam jual beli tembakau tersebut pembeli merubah harga secara sepihak padahal pada awal kesepakatan para pembeli menawar tembakau hingga terjadi kesepakatan harga. Akan tetapi para pembeli melakukan kecurangan pada saat memberikan pembayaran dengan jumlah yang tidak sempurna.11

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian peneliti adalah penelitian Fakhatul Bariroh yakni dalam jual beli tembakau tersebut pengepul memberikan panjar terlebih dahulu kepada petani sebagai tanda

pengecer di Desa Tanduk Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali. (Tesis: IAIN Walisongo 2011), hlm.6.

11Fatkhatul Bariroh, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Tembakau Dengan Perubahan harga secara sepihak Studi kasus di Desa Sugihmenak Kecamatan Tanggungharjo Kab. Grogoban, (Skripsi, FS IAIN Walisongo, Semarang, 2012).

Hlm.6

(26)

10

jadi. Kemudian dalam penentuan harga pengepul memberikan harga dengan kehendak sendiri, apabila harga gudang rendah maka pengepul mebayar tembakau petani rendah dan apabila harga gudang naik pengepul diam aja tanpa ikut menaikkan harga seperti harga pabrik. Padahal sudah ada kesepakatan harga. Sedangkan penelitian oleh penelitu dalam jual beli tembakau pengepul membeli tembakau petani hingga terjadi kesepakatan harga tanpa adanya panjar dan perbedaan lainnya yaitu lokasi dan waktu penelitian.

F. Kerangka Teori

1. Jual Beli Dalam Islam

a. Pengertian Jual Beli (Al-Bai‟)

Jual beli adalah suatu akad yang dikeluarkan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan melaksanakan jual beli.

Jadi dapat diambil pengertian jual beli adalah suatu proses tukar menukar suatu barang dan benda atau uang. Namun untuk lebih memahami secara jelas atau detail, kita harus memberi suatu batasan- batasan sehingga jelas bagi kita, apa itu jual beli, baik secara bahasa (Etimologi) dan istilah.12

Secara terminologi fiqh jual beli disebut dengan al-bai’ yang berarti menjual, mengganti, dan menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Lafal al-bai’ dalam terminologi fiqih terkadang dipakai untuk pengertian lawannya, yaitu lafal al-syira yang berarti membeli.

Dengan demikian al-bai mengandung arti menjual sekaligus membeli atau jual beli.13

Adapun makna bai’ ( jual beli ) menurut istilah ada beberapa istilahada beberapa definisi yang paling bagus yang disebutkan oleh Syaikh Al-Qalyubi dalam Hasyiyah-nya bahwa akad saling mengganti dengan harta yang berakibat kepada kepemillikan terhadap satu benda atau manfaat untuk tempo waktu selamanya dan bukan untuk bertaqarrab kepada Allah SWT.14

Secara bahasa, al ba’i (jual beli) berarti pertukaran sesuatu dengan sesuatu. Secara istilah, menurut madzhab Hanafiyah, jual beli

12Mohammad Alim Mutaqin, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Perubahan Harga Secara sepihak Oleh Pembeli Studi kasus jual beli Tembakau di Desa Sukorejo Kecamatan Tegowanu Kabupaten Grogoban, (Skripsi, FS UIN Walisongo, Semarang, 2015), hlm.16.

13Abdul Aziz Muhammad Azzam, Fiqih Muamalat Sistem Transaksi Dalam Islam (Jakarta :Amzah, 2010), hlm.4.

14Abdul Aziz Muhammad Azzam, Fiqih Muamalah, (Jakarta:Amzah, 2010), hlm. 23.

(27)

11

adalah pertukaran harta (mal) dengan harta dengan menggunakan cara tertentu.

Pertukaran harta dengan harta disini, diartikan harta yang memiliki manfaat serta terdapat kecendrungan manusia untuk menggunakannya, cara tertentu yang dimaksud adalah sighat atau ungkapan ijab qabul. Setiap orang mendapatkan rezeki atau kemudahan yang berbeda-beda. Dan apabila sudah menjadi milik orang, maka itu tidak boleh direbut atau diambil kecuali dengan transaksi yang dibenarkan syari‟at. Khususnya yang terkait dengan pengelolaan dana (harta). Akad atau transaksi ini sangat penting.

Karena transaksi inilah yang mengatur hubungan antara dua belah pihak yang melakukan transaksi sejak akad dimulai sampai masa berlakunya habis. Jual beli terdiri dari dua kata yaitu jual dan beli. Kata jual menunjukan adanya perbuatan menjual, sedangkan beli menunjukan adanya perbuatan membeli. Dengan demikian perkataan jual beli menunjukan ada dua perbuatan dalam satu peristiwa, satu pihak penjual dan pihak lain membeli, maka dengan ini terjadilah peristiwa hukum jual beli.15

Dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) Pasal 20 (2) menyebutkan “ba’i” adalah jual beli antara benda dengan benda atau penukaran benda dengan uang .16

Sedangkan pengertian jual beli menurut istilah (Terminology) yaitu sebagai berikut:

1. Pemilikan harta benda dengan jalan tukar menukar harus sesuai dengan aturan syara‟ yaitu dengan prinsip-prinsip ekonomi syariah 2. Menukar barang dengan barang atau barang dengan uang dengan cara melepaskan hak milik dari satu kepada yang lain atas dasar saling merelakan. Artinya setiap transaksi harus dibarenngi dengan sifat ikhlas apabila akad tukar menukar sudah jelas.

3. Melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lain atas dasar saling merelakan.

4. Tidak ada unsur keraguan melepaskan hak milik tersebut.

5. Penukaran benda dengan benda lain atas dasar saling merelakan atau memindahkan hak milik dengan ada penggantinya dengan cara yang dibolehkan atau tidak bertentangan dengan ketentuan hukum.

15Suhrawadi. Lubis, Hukum Ekonomi Islam, (Jakarta:Sinar Grafika, 2000), hal.128.

16Muhammad Azani, “Pelaksanaan Transaksi Jual Beli Dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) Kecamatan Tampan Pekanbaru”, Vol.03, No 2, Agustus 2021, hlm.4.

(28)

12

6. Saling tukar harta, saling menerima, saling memberi dapat dikelola dengan Ijab dan Qabul, yang sesuai dengan dengan ketentuan Syariat Islam.

7. Akad yang tegak atas dasar penukaran harta dengan harta, maka jadilah penukaran hak milik secara tetap.17

b. Dasar Hukum Kebolehan Jual Beli

Dalam hukum Islam, trnsaksi jual beli dihalalkan atau dibenarkan agama asalkan memenuhi syarat-syaratyang diperlukan.

Hukum ini disepakati oleh para ulama, dan tidak ada perbedaan pendapat diantara mereka. Hal ini dikarenakan Al-Qur‟an dengan tegas menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Di dalam Islam juga tidak ada suatu pembatasan untuk memiliki harta dn tidak ada larangan untuk mencari karunia Allah sebanyak- banyaknya, asal jelas penyaluran dan pemanfaatannya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Imran Ayat 14:

اَّنلِل َنِّيُز ِتَّضِفْلاَو ِةَهَّرلا َنِم ِةَرَطْنَقُمْلا ِريِطاَنَقْلاَو َنيِنَبْلاَو ِءاَسِّنلا َنِم ِثاَىَهَّشلا ُّةُح ِس

ُعاَتَم َكِل ََٰذ ۗ ِثْرَحْلاَو ِماَعْنَ ْلْاَو ِتَمَّىَسُمْلا ِلْيَخْلاَو ِةو ٰيَح ۡل

ِبآَمْلا ُنْسُح ُهَدْنِع ُ َّاللََّو ۖ اَيْنُّدلا

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang terrnak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik(surga).”

Semua keinginan manusia yang disebutkan dalam ayat diatas adalah sesuatu yang wajar, karena demikianlah kecendrungan hati manusia. Memiliki harta tidak dilarang oleh Allah, karena harta itu merupakan dari Allah dan perhiasan hidup di dunia.

Manusia merupakan makhluk sosial dapat juga disebut sebagai makhluk ekonomi. Dan pada dasarnya jual beli merupakan akad yang diperbolehkan, hal ini berdasarkan atas dalil-dalil yang tercantum didalam Al-Qur‟an, Hadist, dan Ijma‟ Ulama.

Jual beli telah disahkan oleh Al-qur‟an, Sunnah, dan Ijma‟

ulama. Di antara dalil yang memperbolehkan praktik akad jual beli adalah sebagai berikut:

17Syekh Abdurrahman As-Sa‟di, Fiqih Jual Beli, Panduan Praktis Bisnis Syariah, (Jakarta: Senayan, 2008), hlm.143.

(29)

13 1. Al-Qur‟an Surah Al-Baqarah 2:275

اىٰبِّزلا َمَّز َحَو َعْيَب لا ُهّٰللا َّل َحَا َو ْ

Artinya:”Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Riba adalah haram dan jual beli adalah halal. Jadi tidak semua akad jual beli adalah haram sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang berdasarkan ayat ini.

Ayat tersebut menjelaskan tentang dasar kehalalan (kebolehan) hukum jual beli dan keharaman (menolak) riba. Allah SWT adalah zat yang mahha mengetahui atas hakikat persoalan kehidupan.

Apabila dalam suatu perkara terdapat kemaslahatan, maka akan diperintahkan untuk dilaksanakan. Dan sebaliknya jika menyebabkan kemudharatan, maka Allah SWT akan melarangnya.

Dengan disyariatkannnya jual beli merupakan cara mewujudkan pemenuhan kebutuhan manusia dan sudah jelas sekali berdasarkan dalil-dalil praktik jual beli mendapatkan pengakuan syara‟ dan sah untuk dilaksanakan dalam kehidupan manusia.18

2. Surat An-Nisa ayat 4:29

َن ْىُكَت ْنَا ٓ َّ ِاِلّ ِل ِطاَب ْ

لاِب ْم ُكَنْيَب ْمُكَلاَىْمَا آْىُلُكْأَت َلَ اْىُنَمٰا َنْي ِذَّلا اَهُّيَاي ْنَع ًةَرا َجِت

ا ًمْي ِحَر ْم ُكِب َناَك َهّٰللا َّنِا ْمُك َسُفْهَا آْىُلُتْقَت َلََو ْمُكْنِّم ٍضاَزَت

Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.

Allah telah mengharamkan memakan harta orang lain dengan cara batil yaitu tanpa ganti dan hibah, yang demikian itu adalah batil berdasarkan ijma umat dan termasuk didalamnya juga semua jenis akad yang rusak yang tidak boleh secara syara‟ baik karena ada unsur riba atau jahalah (tidak diketahui), atau karena kadar ganti yang rusak seperti minuman keras, babi, dan yang lainnya dan apabila yang diakadkan itu adalah harta perdagangan, maka boleh hukumnya, sebab pengecualian dalam ayat diatas

18Siswadi, “Jual Beli Dalam Perspektif Islam” Vol. III, Nomor 2, Agustus 2013, hlm. 61-62.

(30)

14

adalah terputus karena harta perdagangan bukan termasuk harta yang tidak boleh dijualbelikan.19

Ayat di atas juga menekankan keharusan adanya kerelaan kedua belah pihak, atau yang diistilahkan dengan kesepakatan.

Walaupun kerelaan adalah sesuatu yang tersembunyi di dalam lubuk hati, tetapi indikator dan tanda-tandanya dapat terlihat. Ijab qabul atau apa saja yang dikenal adat kebiasaan sebagai serah terima adalah bentuk yang digunakan hukum untuk menunjukkan kerelaan.

3. Nabi SAW bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bazzar yang berarti:

Dari Rif’ah Ibn Rafi sesungguhnya Rasulullah pernah ditanya

“Usaha apa yang paling baik? Rasulullah SAW menjawab“

usaha sseorang dengan tangannya sendiri, dan setiap jual beli yang mabrur (jujur).20

Jual beli yang mabrur adalah setiap jual beli yang tidak ada dusta dan khianat, sedangkan dusta itu adalah penyamaran dalam barang yang dijual. Oleh karna itu manusia dianjurkan jual beli yang baik sesuai dengan Syariat Islam. Jual beli yang jujur tanpa diiringi kecurangan-kecurangan, mendapat berkat dari Allah SWT dan Jual beli itu didasarkan atas suka sama suka.21

4. Ijma‟

Ulama muslim telah sepakat terhadap kebolehan akad jual beli. Ijma‟ ini memberikan hikmah serta gambaran bahwa kebutuhan manusia berhubungan dengan sesuatu yang ada dalam kepemilikan orang lain dan kepemilikan sesuatu itu tidak akan diberikan dengan begitu saja atau dengan percuma, namun terdapat kompensasi yang harus diberikan.22

Pada dasarnya semua bentuk jual beli boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Ijma adalah suatu kesepakatan mayoritas mujahidin diantara umat Islam ada suatu masa setelah wafatnya rasulullah SAW atau hukum syar’i mengenai suatu kejadian khusus.

19Mardani, Fiqih Ekonomi Syariah, (Jakarta : Prenadamedia, 2012), hlm. 26- 27.

20Wati Susilawati, “Jual Beli Dan Dalam Konteks Kekinian”, Journal uhamka, Vol 8, Nomor 2, November 2017, hlm.174.

21Mardani, Fiqih Ekonomi Syariah, (Jakarta : Prenadamedia, 2012), hlm. 27

22Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqih Muamalah, ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar) hlm.73

(31)

15

Ijma adalah kesepakatan mayoritas mujahidin diantara umat Islam ada suatu masa setelah wafatnya Rasulullah SAW atau hukum syar’i mengenai suatu kejadian atau kasus

Agama Islam sangat melindungi hak-hak manusia dalam kepemilikan harta yang dimiliki dan memberi jalan keluar untuk masing-masing manusia untuk memiliki harta orang lain dengan jalan yang sudah ditentukan, sehingga dalam Islam Prinsip jual beli telah ditentukan yaitu kesepakatan kedua belah pihak yaitu penjual dan pembeli. Sebagaimana yang telah di tentukan oleh prinsip muamalah yaitu:

a. Prinsip Kerelaan b. Prinsip bermanfaat c. Prinsip tolong menolong d. Prinsip tidak terlarang

Berdasarkan kandungan ayat-ayat Allah, sabda-sabda rasul dan ijma’ di atas, para foqaha mengatakan bahwa hukum asal jual beli adalah boleh.

c. Rukun Jual Beli

Rukun jual beli menurut Hanafiyah adalah ijab dan qabul, ijab dan kabul yaitu suatu perbuatan yang menunjukan bagaimana kesediaan atau kerelaan dua pihak untuk mmenyerahkan hak milik antara pihak satu dengan yang lainnya, dengan menggunakan sebuah perkataan atau perbuatan.

Sebagaimana akad-akad dalam hukum fiqih Yang lain, dalam jual beli terdapat empat rukun yang membentuk terjadinya akad jual beli, yaitu: Sighah (ijab dan qabul), Ba’i (penjual), Musytari (pembeli), dan Mabi’ ( objek yang diperjual belikan). Madzhab Hanafi berpendapat bahwa rukun jual beli hanya satu, yaitu Sighah, penjual dan pembeli serta barang hanyalah sebagai konsekuensi dari rukun ijab dan qabul tersebut.23 Adapun rukun jual beli antara lain:

1) Penjual dan pembeli

Diperlukan syarat memilliki kecakapan bertindak hukum sempurna (berakal, baligh, rusyd) jual beli yang dilakukan anak kecil dan orang gila hukumnya tidak sah. Adapun anak kecil tetapi sudah mumayiz “hukumnya sah, hanya akibat hukumnya (seperti serah terima barang dan harga) belum dapat dilaksanakan, kecuali sudah ada izin dari wali. Tetapi jika barang yang diperjualbelikan itu barang ringan atau kecil-kecilan, tidak diperlukan izin dari wali.

23M. Pudjihardjo, Fiqih Muamalah Ekonomi Syariah, (Malang:UB Press 2019), hlm.5

(32)

16

2) Barang yang diperjualbelikan (objek jual beli)

Objek jual beli terdiri atas benda yang berwujud dan benda yang tidak berwujud, yang bergerak maupun benda yang tidak bergerak, yang terdaftar maupun yang tidak terdaftar.

Syarat-syaratnya adalah :

a) Barang itu ada ketika transaksi (akad), atau barang itu tidak ada ketika akad, tetapi pihak penjual menyatakan kesanggupannya untuk mengadakan barang itu (misal barang itu ada di gudang, karna di ruangan tokonya tidak bisa memuat banyak barang).

Contoh lain, dalam jual beli salam, yaitu jual beli barang pesanan, pembayaran dimuka secara tunai, sedang barang diserahkan dikemudian harisesuai dengan kesepakatan.

b) Barang itu dapat dimanfaatkan atau bermanfaat bagi manusia.

Oleh sebab itu, darah, khamer, binatang babi tidak sah menjadi objek jual beli, karna barang-barang tersebut yang oleh syari‟ah tidak boleh dimanfaatkan bagi orang Islam.

c) Barang itu telah dimiliki, artinya barang yang belum dimiliki seseorang tidak boleh diperjualbelikan. Seperti memperjualbelikan ikan di laut, atau emas yang masih di dalam tanah, karna ikan dan tanah ini belum dimiliki penjual.

Termasuk dalam pengertian ini, bahwa barang yang ada dalam kekuasaan orang lain, seperti sedang disewakan atau masih menjadi barang jaminan utang.

d) Barang itu dapat diserahkan ketika akad berlangsung atau pada waktu lain yang disepakati bersama ketika akad berlangsung (seperti jual beli salam). Kriteria barang harus dijelaskan spesifikasinya, baik jenis, kualitas maupun kuantitasnya.

3) Harga (uang) adalah nilai suatu barang atau jasa yang diukur dengan jumlah yang dikeluarkan oleh pembeli untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dan barang atau jasa sebagai berikut pelayanannya. Dengan adanya suatu harga, maka masyarakat dapat menjual suatu barang yang mereka miliki dengan harga yang umum dan dapat diterima. Dalam penentuan harga pada saat jual beli harga harus diridhai oleh masing- masing pihak, baik pihak penjual maupun pembeli. Adapun syarat- syaratnya sebagai berikut:

a) Harga yang disepakati kedua pihak (pembeli dan penjual) harus jelas jumlah nominalnya. Artiya pada saat melakukan akad jual beli harga barang yang disepakati oleh penjual dan pembeli harus jelas jumlahnya dan disepakati atas dasar saling merelakan

(33)

17

dan saling meridhai sehingga tidak terjadi perselisihan dikemudian hari

b) Harga boleh diserahkan ketika akad, sekalipun secara hukum, baik pembayaran dengan uang tunai maupun cek atau kartu kredit. Jika harga barang dibayar kemudian (utang), maka waktu pembayarannya harus jelas.

c) Jika jual beli itu dilakukan dengan cara barter (tukar-menukar sesama barang) kalau barangnya sejenis maka nilai harga, kuantitas dan kualitas harus sama, tetapi jika barangnya tidak sejenis, maka nilai, harga, kuantitas dan kualitas boleh berbeda tetapi penyerahannya ketika akad berlangsung (tunai).

d) Harga yang ditetapkan harus berdasarkan prinsip keadilan bagi semua pihak dan tidak diperbolehkan adanya pihak yang dirugikan.

4) Ijab Qabul, Adapun syarat-syaratnya sebagai berikut:

a) Ungkapan ijab qabul secara jelas, ada kesesuaian antara ijab dengan qabul. Misalnya, penjual mengatakan “saya jual laptop Toshiba dengan harga 5 (lima) juta”. Pembeli menjawab: “saya beli laptop Toshiba itu dengn harga 5 (lima) juta”. Ungkapan jual beli dalam ijab qabul merupakan kongkretisasi (perwujudan) dari unsur saling ridho (suka sama suka), karna saling ridho itu termasuk urusan batin, maka sebagai kongkretisasinya dalam bentuk ijab qabul. Dengan adanya saling ridho dalam bentuk ijab qabul, maka jual beli atas dasar paksaan, ada unsur penipuan, terdapat mudharat (bahaya kerugian) dan hal-hal lain yang membuat akad jual beli menjadi rusak ataupun terdapat unsur riba dipandang tidak sah.

b) Ijab dan Qabul dilakukan dalam satu majelis, artinya penjual dan pembeli hadir atau berada dalam satu tempat (toko, pasar, dan lain-lain). Teori kesatuan majelis bila dikaitkan dengan kondisi zaman sekarang akan akan mengalami kesulitan, misalnya transaksi itu bisa berlangsung melalui pesawat telpon, dalam kondisi demikian, pelaku jual beli tidak dalam satu tempat artinya bisa juga pembeli berada di semarang, penjualnya ada di bali.

c) Ungkapan ijab dan qabul boleh dengan cara tertulis, lisan, isyarat atau sikap yang dapat menentukan adanya bentuk ijab qabul.

Apalagi dalam zaman modern sekarang ini, ungkapan ijab qabul tidak lagi diucapkan, tetapi cukup dengan sikap mengambil barang dan membayarnya dari pembeli ke penjual. Dalam ijab

(34)

18

qabul perlu dipertimbangkan sifat atau keadaan barang yang menjadi objek jual beli, jika yang menjadi objek jual beli berupa barang-barang yang kecil-kecil tidak perlu pakai ijab qabul secara formal atau tertulis, tetapi jika objek jual beli tersebut berupa barang yang bernilai secara ekonomi, maka diperlukan ijab dan qabul secara formal atau tertulis (semacam kwitansiatau sertifikat balik nama jika objek jual beli berupa tanah atau bangunan rumah).

Dari syarat-syarat diatas, dapat dipahami bahwa jual beli sudah dipandang sah, jika rukun dan syarat telah terpenuhi. Berdasarkan penjelasan tersebut, apabila jual beli sudah terpenuhi rukun dan semua syarat di atas, secara hukum jual beli itu dipandang sah dan mengikat kedua belah pihak, artinya masing-masing pihak (penjual atau pembeli) tidak boleh membatalkan jual beli tersebut kecuali ada izin dari salah satu pihak.24

d. Syarat-Syarat Sah Jual Beli

Akad adalah ikatan kata antara penjual dan pembeli, jual beli belum dikatakan sah sebelum ijab dan qabul dilakukan, sebab ijab dan qabul menunjukan kerelaan (keridhaan), pada dasarnya ijab qabul dilakukan dengan lisan, tapi kalau tidak mungkin seperti bisu atau yang lainnya, maka boleh ijab qabul surat menyurat yang mengandung arti ijab qabul.

Dalam kehidupan bermuamalah islam telah memberikan garis kebijaksanaan perekonomian yang jelas. Transaksi bisnis merupakan hal yang sangat diperhatikan dan dimuliakan oleh Islam. Perdagangan yang jujur sangat disukai oleh Allah, dan Allah memberikan rahmatnya kepada orang-orang yang berbuat demikian. Perdagangan bisa saja dilakukan oleh individual atau perusahaan daan berbagai lembaga tertentu yang serupa.25

Suatu jual beli tidak sah apabila tidak terpenuhi dalam suatu akad tujuh syarat, yaitu:

1. Saling rela antara kedua belah pihak. Kerelaan antara kedua belah pihak untuk melakukan transaksi transaksi syarat mutlak keabsahannya, berdasarkan firman allah dalam QS, an-nisa (4):29, dan Hadis Nabi Riwayat Ibnu Majah:”Jual beli haruslah atas dasar kerelaan (suka sama suka)”

24Harun, Fiqih Muamalah, ( Surakarta: Muhamm adiyah UniversityPress, 2017), hlm. 68-70

25Kutbuddin Aibak, Kajian Fiqih Kontemporer, (Yogyakarta:Kalimedia, 2017), hal 213.

(35)

19

2. Pelaku akad adalah orang yang dibolehkan melakukan akad, yaitu orang yang telah balig, berakal dan mengerti. Maka, akad yang dilakukan oleh anak di bawah umur, orang gila, atau idiot tidak sah kecuali dengan seizin walinya, kecuali akad yang bernilai rendahseperti membeli kembang gula, korek api, dan lain-lain. Hal ini berdasarkan pada firman Allah QS, an-nisaa‟(4):5 dan 6).

3. Harta yang menjadi objek transaksi telah dimiliki sebelumnya oleh kedua belah pihak. Maka, tidak sah jual beli barang yang belum dimiliki tanpa seizin pemiliknya. Hal ini berdasarkan Hadist Nabi SAW Abu Dauddan Tirmidzi, sebagai berikut:”Janganlah engkau jual barang yang bukan milikmu”.

4. Objek transaksi adalah barang yangg dibolehkan agama. Maka tidak boleh menjual barang haram seperti khamar (minuman keras) dan lain-lain. Hal ini berdasarkan Hadist Nabi SAW Riwayat Ahmad:”Sesungguhnya Allah bila mengharamkan suatu barang juga mengharamkan nilai jual barang tersebut”.

5. Objek transaksi adalah barang yang biasa diserahterimakan. Maka tidak sah jual mobil hilang, burung diangkasa karna tidak dapat diserahterimakan. Hal berdasarkan Hadist Nabi Riwayat Muslim:”Dari Abu Hurairah r.a Bahwa Nabi Muhammad SAW melarang jual beli gharar(penipuan)”.Objek jual beli diketahui diketahui oleh kedua belah pihak saat akad. Maka tidak sah menjual barang yang tidak jelas. Misalnya, pembeli harus melihat terlebuh dahulu barang tersebut dan/atau spesifikasi barang tersebut. Hal ini berdasarkan Hadist Riwayat Muslim tersebut.

e. Macam-Macam Jual Beli

Para ulama sepakat bahwa jual beli dihalalkan, dan riba itu diharamkan. Para Imam Mazhab sepakat bahwa jual beli itu diangasp sah jika dilakukan oleh orang yang sudah baligh, berakal, kemauan sendiri, dan berhak membelanjakan hartanya.

Jual beli secara garis besarnya terbagi menjadi dua macam, yaitu:

1. Jual Beli Sah

Jual beli sah adalah jual beli yang telah memenuhi rukun dan semua syarat-syaratnya. Contohnya, ada seseorang yang membeli mobil Honda Brio, mobil itu sudah diperiksa oleh pembeli, tidak adak kerusakan, tidak ada cacat, ada bukti milik sah dari penjual, tidak terjadi manipulasi spesifikasi mobil dan harga, harga mobil itu telah diserahkan, tidak ada hak kiyar dalam jual beli tersebut. Maka akad jual beli tersebut hukumnya sah dan mengikat kedua belah

(36)

20

pihak. Ada beberapa contoh jual beli sah yang sering dipraktikan dalam lembaga keuangan syariah maupun dalam dunia bisnis, yaitu:

a) Jual beli lewat Makelar (perantara), jual beli ini dipandamg sah jika makelar hanya menghubungkan antara penjual dan pembeli dengan mendapat fee dari kedua belah pihak dan besarnya menurut ketentuan adat kebiasan.

b) Jual beli Lelang (Muzayyadah), yaitu jual beli dengan cara menawarkan harga barang yang akan dijual kepada banyak calon pembeli yang tertisnggi. Rasululah menjual sebuah pelana dan sebuah mangkok air dengan berkata siapa yang mau.26membeli pelana dan mangkok ini? seorang laki-laki menyahut aku bersedia membelinya seharga satu dirham, lalu nabi bersabda lagi, siapa yang berani menambah? Maka dibelinya dua dirham oleh seorang laki-laki kepada beliau, lalu dijuallah kedua barang itu kepada laki-laki tadi.

c) Jual beli Salam, adalah jual beli menukar antara hutang dengan barang, jual beli yang barangnya diserahkan secara tertunda namun uangnya diserahkan secara tunai. Yang biasanya terjadi dalam jual beli pada umumnya adalah menukar barang dengan uang, maka dalam jual beli salam yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu menukar hutang (uang) dengan barang.

Diperbolehkan jual beli salam ini, dengn syarat spesifikasi, kuantitas, dan kualitas barang dijelaskan dimuka atau ketika akad (transaksi) dan waktu dan tempat penyerahan barang harus jelas.

d) Jual beli Murabahah, yaitu jual beli barang dengan harga pokok pembelian ditambah dengan margin keuntungan tertentu yang di informasikan kepada pembeli dengan cara pembayaran tertentu (angsuran) sesuai dengan kesepakatan. Rasulullah bersanda:

Ada tiga perkara yang diberkahi Allah, yaitu jual beli yang ditangguhkan (cara pembayarannya berangsur atau bertempo), muqarradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk dijual”.

e) Jual beli Istisna’, yaitu jual beli yang merupakan kelanjutan dari jual beli salam. Suatu akad yang dilakukan seorang produsen dengan seorang pemesan untuk mengerjakan sesuatu yang dinyatakan dalam perjanjian, yakni pemesan membeli sesuatu

26Ibid., hlm. 71

(37)

21

yang dibuat oleh seorang produsen dan barang serta pekerjaan dari pihak produsen.27

f) Jual beli „Urbun, adalah jual beli (jual beli panjer) yang dimana pembeli memberikan uang panjer sebagai tanda jadi atau kesungguhan untuk pembeli. Jika dikemudian hari calon pembeli setuju untuk membeli, maka tinggal melunasi sisa harga barang. Dan apabila jual beli tidak terlaksana maka penjual akan mengambilnnya sebagai hibah dari pembeli.28

2. Jual Beli Tidak Sah

Jual beli tidak sah adalah jual beli yang tidak memenuhi salah satu atau semua rukun atau salah satu atau semua syarat jual beli.

Beberapa contoh jual beli tidak sah;

a) Jual beli yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur dan orang gila.

b) Jual beli barang haram dan najis, yaitu barang yang diperjualbelikan adalah barang-barang yang diharamkan untuk dimanfaatkan oleh syara‟ bagi orang muslim seperti darah, babi dan khamer.

c) Jual beli gharar (bai‟ al-gharar), yaitu jual beli yang mengandung unsur risiko atau spekulasi, dan akan menjadi beban salah satu pihak mengalami kerugian. Gharar artinya sesuatu yang belum bisa dipastikan ada dan tidaknya, hasil dan tidaknya, jelas dan tidaknya, kualitas dan tidaknya, ataupun barang yang tidak bisa diserahterimakan. Gharar sama dengan qimar, karena asasnya sama-sama ketidakjelasan yang berakibat mendatangkan kerugian atau keuntungan. Perbedaan keduanya bahwa qimar biasanya terjadi pada permainan atau perlombaan, seperti dua orang atau lebih melakukan taruhan atau melakukan permainan dan masing-masing mengeluarkan sejumlah uang dengan syarat sebagai pemenang dari permainan tersebut mengambil seluruh uang. Permainan ini sering disebut dengan perjudian.29Sedangkan gharar biasanya terjadi pada jual beli.

27Betti Anggraini, Akad Tabarru’ dan Tijarah Dalam Tinjauan Fiqih Muamalah, ( Bengkulu :CV. Sinar Jaya Berseri, 2022), hlm.90

28Khanifatus Sa‟diyah, Tinjauan Hukum Islam Terhadap „Urbun Dalam Transaksi Pembiayaan Murabahah Studi Kasus Di KSU BMT Mentari Bumi Purbalingga, (Skripsi, FS IAIN Purwokerto, Purwokerto, 2018), hlm. 23.

(38)

22

Seperti menjual anak unta yang masih berada dalam kandungan induknya, dasar hukumnya adalah Nabi SAW melarang jual beli anak unta yang masih berada dalam kandungan induknya dan anak unta yang dihasilkan oleh anak unta pertama.

d) Pendapat Ulama‟ Tentang Perubahan Harga Secara Sepihak Dalam Jual Beli

Mayoritas ulama fiqih sepakat bahwa keridhaan (kerelaan) merupakan dasar berdirinya sebuah akad. Allah SWT melarang kaum muslimin untuk memakan harta orang lain secara bathil dalam konteks ini memiliki arti yang sangat luas. Diantaranya melakukan transaksi ekonomi yang bertentangan dengan syara‟. Seperti halnya melakukan transaksi berbasis riba, transaksi yang bersifat spekulatif, ataupun transaksi yang mengandung unsur gharar (adanya resiko dalam transaksi), serta hal-hal lain yang bisa dipersamakan dengan itu. Dalam hal ini juga memberikan pemahaman bahwa supaya untuk mendapatkan harta tersebut harus dilakukan dengan adanya kerelaan semua pihak dalam transaksi, seperti kerelaan antara penjual dan pembeli.30

Syekh Ahmad Abdurrahman bin Nashir as-Sa‟di ditanya bagaimana hukumnya jika ada perselisihan antara penjual dan pembeli. Beliau menjawab: perselisihan antara penjual dan pembeli dapat disebabkan beberapa hal, antara lain:31

1. Perselisihan tentang harga, misalnya: penjual berkata bahwa barang tersebut dia jual seharga 100 sedangkan pembeli berkata bahwa barang tersebut harganya 80, dan masing-masing menguatkan pengakuannya dengan sumpah, maka keduanya harus membatalkan akad jika tidak ada kesepakatan. apabila barang yang diakadkan mengalami kerusakan, maka harus diganti.

2. Perselisihan tentang bentuk atau ukuran barang.

Menurut pendapat yang sahih hukumnya seperti perselisihan tentang harga. Karena tidak ada perbedaan antara perselisihan dalam harga atau barang yang

29Harun, Fiqih Muamalah, (Surakarta:Muhammadiyah University Press, 2017), hlm. 73-75

30Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqih Muamalah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm.61.

31Abdurrahman As-Sa‟di, Fiqih Jual Beli Panduan Praktis Bisnis Syariah, (Jakarta: Senayan Publishing, 2008), 293-295

Gambar

Gambar    1:  Wawancara  bersama  Pak  Awan  selaku  pengepul  (Pembeli  Tembakau)
Gambar 2: Wawancara bersama Pak Rizal selaku Pengepul (pembeli)
Gambar 3: Wawancara bersama  Ibu Sukarep selaku penjual (petani)
Gambar 4: Wawancara bersama Ibu Aton selaku penjual (petani)

Referensi

Dokumen terkait

BAB II : Kerangka Teori, yang memuat kajian teori terkait judul yakni Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Praktik Jual Beli Mebel (Studi di Rika Mebel Desa