■ DAFTAR ISI,
■ PRAWACANA
▪ “Governance Bencana”
– Dr. Nico L. Kana, 3
■ KAJIAN TEORITIS PENANGANAN BENCANA
▪ Governance by Accident in Indonesian Disaster Mitigation: A Theoretical Literary Review
– Benny D. Setianto, SH. LL.M. MIL, 5
▪ Bencana dalam Perspektif Teologi Kontekstual – Dr. Zakaria Ngelow, S.Th, M.Th, 37
▪ Bencana dalam Berita: Komodiikasi dan Simpliikasi Fakta
–Triyono Lukmantoro, MA, 44
▪ Entitlement, Vunerability and Social Security: Theoritical Contribution to Disaster Mitigation – Kristian Tamtomo, MA, 6
■ MANAJEMEN BENCANA
▪ Komunikasi dan Manajemen Resiko Bencana Flu Burung di Kawasan Perkotaan, Indonesia
– Prof. Dr. Budi Widianarko, 78
▪ Modal Sosial: Partisipasi Warga yang selalu Dinisbikan dalam Governance Kebencanaan. Belajar dari Penanganan Gempa Bumi Yogya - Jateng
▪ Melihat Banjir di Atas Koran dari Segi Semantik – Herudjati Purwoko, Ph.D, 30
■ DAMPAK DAN ADVOKASI PASCA BENCANA
▪ Kearifan Lokal Jawa dan Resiliensi Bencana dalam Folklore Indonesia
– Augustina Sulastri, S.Psi, 49
▪ Antisipasi Bencana dalam Kebijakan Tentang Air. Sebuah Telaah Gerakan Rakyat Menentang Keluarnya Kebijakan Kenaikan Tarif PDAM
– Geritz Febrianto R. Bataragoa, Ir. Nick T. Wiratmoko, M.Si, dan Sumadi, 85
▪ Bantuan Bencana: Potensi Korupsi & Korupsi Potensi
– Yakub Adhi Kristanto, SH, 06
■ TIMBANGAN BUKU
▪ Mendengarkan Suara Korban – Budi Lazarusli, SH.MH, 3
▪ Dialektiak Natur/Alam, Kultur/Budaya, dan Struktur: Analisis Konteks, Proses, dan Ranah dalam Konstruksi Bencana
– Dr. Nico L. Kana, 7
■ TENTANG PARA PENULIS, 3
AB. Widyanta, S.Sos
M
oDal
s
osIal
:
P
artIsIPasI
W
arga
yang
D
InIsbIkan
DalaM
G
overnance
k
ebencanaan
Abstract
The series of natural disaster that hit recently Indonesia did not bring the people of Indonesia to become more sensitive and more prepared in handling any emergency situation. Worse than that, the social capital that sprang up in the wake of the disasters has been marginalized and distorted by government policies that serve only the bureaucratism and corporatism of centralistic government.
Many factors indicated that the central government has undermined local democracy and the spirit of decentralization using the natural disaster as an excuse. As a result, “the damaged” caused by government’s action was no less disastrous than the natural disaster itself.
This article will further scrutinize the implications of post earthquake social capital strengthening vis a vis the weak role and responsibility of the state
in fulilling basic rights of the people, whether the victims or the survivors
of earthquake. In the frame of nation state practice, the strengthening social capital should be viewed as people participation which should
be framed, afirmed, and strengthened by state as an effective control
instrument of power to promote disaster governance that is populist,
equal, and digniied.
(Key words: social capital, participation, local democracy, natural disaster, disaster governance)
Bantuan pencen migunani, nanging langkung migunani malih krenteg manahipun piyambak-piyambak, gumregah tangi lajeng makarya. Mboten perlu ngarep-arep bantuan, mangke mindak kuciwa.Griyo ingkang rubuh njih sampun, mangke menawi wonten ragat dipun bangun malih.
(Mbah Karto, Buletin Suara Edisi 7, 1 Agustus 2006)
Menguatnya Modal Sosial
M
enakjubkan! Kata itulah yang boleh jadi pantas untukmelukis-kan tingginya semangat gotong-royong masyarakat Yogja dan Jateng untuk segera bangkit dan menata diri kembali, setelah gempa bumi berskala 5,9 skala Richter mengguncang ke dua wilayah terse-but selama kurang dari hitungan 1 menit, pada Sabtu Wage, 27 Mei 2006, satu tahun silam. Kendati bencana gempa bumi itu sangat dahsyat, hingga menelan banyak korban dan kerusakan infrastruktur,1 namun bencana itu
tidak serta merta meluluh-lantakkan ikatan solidaritas dan kelembagaan sosial informal di kedua wilayah tersebut. Meski didera kepanikan dan kekalutan massa, lantaran harus mengurusi masifnya korban jiwa dan melarikan korban luka-luka ke rumah sakit (terutama kabupaten Bantul dan Klaten), disusul dengan beredarnya isu tsunami, dan juga gempa-gem-pa susulan, warga korban dengan seluruh sisa-sisa naluri reaktifnya ber-upaya menghidup-hidupkan nalar, kesadaran, kearifan lokal mereka untuk menghadapi prahara yang belum pernah mereka alami sebelumnya itu. Forma jejaring masyarakat sipil, yang pada masa normal teramat samar, mendadak transparan, tergelar, terhampar, dan menggurita hingga men-jangkau ke pelosok-pelosok dusun, bahkan melampaui batas-batas wilayah kabupaten. Dalam hitungan jam, jejaring civil society spontan bangkit dan menggurita.
Masih segar di ingatan, hari pertama dan kedua pasca bencana, masyarakat dari luar daerah bencana telah bergerak mengirimkan ban-tuan logistik maupun relawan untuk membantu warga korban bencana. Dibantu para relawan, tanpa dikomando, warga masyarakat (perempuan-laki-laki, tua-muda, kaya-miskin) gumregah, bangkit, bergerak, bekerja bahu membahu, bergotong royong membersihkan puing-puing dan menata kembali dusunnya masing-masing. Di sana-sini, posko-posko bantuan pun didirikan dan diorganisir secara sigap oleh berbagai paguyuban masyarakat sipil. Secara gesit pula warga membentuk dapur-dapur umum untuk
me-1. Gempa terjadi akibat pergerakan lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang menujam (subducted). Titik pusat gempa sekitar 37 kilometer sebelah selatan kota Yogya (tepatnya 8,240 LS dn 110,430 BT), pada kedalaman
nyajikan makanan bagi warga korban gempa. Tak ada lain, aktivitas massa itu digerakkan oleh spirit altruisme dan kerelawanan (voluntarism) yang sa-ngat tinggi di antara warga sendiri.
Hari-hari berjalan, gerakan solidaritas warga dari luar daerah kian tak terbendung, bahkan kian menjadi-jadi bila hari-hari libur atau Ahad tiba. Dengan menggunakan truk terbuka, lusinan rombongan warga non-korban baik dari dalam dan luar wilayah bencana berarak menyebar ke ber-bagai pelosok desa di daerah Bantul, Prambanan, Klaten dan Gunungkidul. Dalam menjalani misi gotong-royong itu, tanpa ingin merepotkan warga korban yang hendak dibantu, rombongan warga dari daerah Magelang, Wonosobo, Temanggung, dan berbagai kabupaten di Jawa Tengah mem-bekali diri mereka dengan peralatan pertukangan masing-masing. Rupa-rupa nyamikan (makanan ringan), komboran (air minum), nasi bungkus, dan berbagai ransum ala kadarnya sebagai sajian sambatan pun telah mereka siapkan dan bawa sendiri. Tak jarang, mereka juga membawakan oleh-oleh bahan pangan, lusinan batang bambu, bermacam material bangunan, demi meringankan beban penderitaan warga korban. Bambu-bambu dan mate-rial segera bisa digunakan untuk mendirikan naungan sementara, posko, dapur umum, maupun untuk menyulam beberapa komponen rumah yang rusak atau bahkan hancur.
Spirit jawa klasik Holobis Kuntul Baris yang tertoreh di ruang-ruang advertensi publik seolah menjadi mozaik peneguhan atas makna agung dari
laku urip jalma utama: guyub, rukun, dan tepa selira mring pepada (praksis hidup manusia yang pantas diteladani: solider, rukun, dan bertenggang rasa pada sesama). Terasa sungguh betapa warga korban menjadi sangat terbantu, teringankan bebannya, dan terteguhkan hatinya, lantaran kuatnya gerakan solidaritas di antara jejaring masyarakat sipil tersebut. Tercatat, tiga bulan pasca bencana telah menjadi saksi atas bangkitnya gerakan sosial laten di kalangan masyarakat sipil Yogya dan Jateng. Sejumlah kalangan menye-butnya sebagai “gerakan dari rakyat untuk rakyat” (people to people movement). Ada juga yang mengistilahkannya sebagai “gerakan dari desa ke desa” ( vil-lage to vilvil-lage movement). Apapun istilahnya, itulah realitas gerakan solidaritas dari, oleh, dan untuk masyarakat sipil yang spontan muncul pasca bencana Yogya dan Jateng. Di tengah keporak-porandaan harta material duniawi itu, pantas kita berbesar hati lantaran masih bisa menemukan harta karun sosial atau modal sosial yang tak ternilai harganya. Sebuah apresiasi yang representatif muncul dari Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. Le-bih jauh, ia menyatakan:2
Di balik bencana yang telah merusak banyak hal, ternyata masyarakat DIY dan Jateng masih memiliki modal sosial yang tidak rusak. Hal ini terlihat dari tingginya semangat untuk bangkit kembali secara gotong royong yang muncul dimana-mana. “Modal sosial masyarakat DIY dan Jateng ini sungguh luar biasa. Ini lebih penting dan jauh lebih bermakna daripada modal material.
Ungkapan Nashir di atas kiranya tak berlebihan. Memang, musti diakui bahwa modal sosial atau harta karun sosial itulah yang nyata-nyata telah menyelamatkan banyak orang dalam penanganan pasca gempa Yogja dan Jateng tersebut.
Lemahnya Peran Negara
Dalam situasi chaos semacam itu, lantas di manakah sosok negara sebagai pemegang peran regulatif, pelaksana, penanggungjawab, dan
pen-jamin hak-hak dasar warga? Itulah pertanyaan retoris yang musti direlek -sikan kembali oleh kita semua, terlebih jajaran state apparatus. Diakui atau tidak, inisiasi-inisiasi penanganan emergensi (bahkan hingga rehabilitasi, dan rekonstruksi saat ini) dari berbagai komponen masyarakat sipil Yog-ya dan Jateng tersebut secara riil telah berhasil mematahkan bottle-neck
penyaluran bantuan kemanusiaan oleh birokrasi pemerintah. Gerakan so-sial yang sangat massif dari berbagai komponen masyarakat sipil (seperti paguyuban warga, ormas, lembaga keagamaan, LSM, dll) terbukti jauh le-bih cepat ketimbang respon dan gerak birokrasi pemerintah. Jika kita boleh menakar, peran komponen masyarakat sipil ini jauh lebih besar ketimbang peran negara.
Terhitung sejak hari pertama hingga sepekan pasca bencana, aparat pemerintah daerah sebagai representasi negara di tingkat lokal, sangatlah lemah, untuk tidak menyebut lumpuh. Dalih pembenar selalu meluncur latah: “Lantaran banyak aparat pemerintahan juga menjadi korban, wajar saja jika pemerintahan untuk sementara waktu terganggu”, begitulah kira-kira alasan ringkih direka-reka. Alasan itu boleh jadi manusiawi. Namun dalih itu tetap tak bisa diterima oleh publik yang telah mendaulat mereka sebagai pemegang tanggungjawab atas penjamin hak-hak dasar warga ne-gara. Publik pun mengantongi argumennya sendiri. Mengandalkan pada rekaman ingatan dan pengalaman atas praktik kekuasaan selama ini, pu-blik menegaskan: “Jangankan dalam kondisi bencana, dalam kondisi nor-mal pun kinerja pemerintah masihlah compang-camping, bahkan ambu-radul”.
gaya kepemimpinan alamiahnya. Absennya negara dalam situasi semacam itu menandaskan argumen betapa negara sangatlah ringkih, tak sebanding dengan lekatnya karakter angker dan watak represif di masa-masa nor-mal. Sementara di sisi lain, bak mesin gen-set yang serta merta menyala tatkala arus listrik padam, berbagai komponen civil society secara spontan juga merangsek, berakselerasi, dan membentang menjadi jejaring yang tanggap dan tangguh terhadap bencana. Hingga masa rekonstruksi saat ini pun, dramaturgi penanganan bencana masih saja berulang dengan peran dan kapasitas birokrasi negara yang sangat minimal. Negara nampak tak pernah mau belajar dari pengalaman dalam rentetan panjang penanganan bencana sebelumnya.
Nyata benar, sosok negara lenyap di tengah kebangkitan jejaring
civil society tersebut. Namun jika kita timbang lagi, bukankah ketakhadir-an pemerintah itu hketakhadir-anyalah penggalketakhadir-an potret usketakhadir-ang dalam album hitam bangsa kita hingga hari ini? Acapkali ironi kekuasaan memang sulit di-pahami, sesulit ketika kita memahami logika seorang Wapres (sekaligus Ketua Bakornas), Jusuf Kalla, yang teramat responsif (sampai-sampai melupakan pentingnya koordinasi) dan teramat “ringan mulut” merespon bencana Yogya dan Jateng dengan menjanjikan dana bantuan sebesar 10-20-30 juta rupiah untuk rekonstruksi rumah serta bantuan jadup, pakaian, dan peralatan rumah tangga. Tak pelak lagi, pada 28 Mei 2006, “gempa sosial berskala 30 juta” pun mempreteli modal sosial warga Yogya dan Jateng. Bak beras sedang ditampi, gonjang-ganjing (chaos), kaotik sosial kian menguat. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah praktis menuai protes massa. Aksi-aksi protes jalanan menuntut janji JK yang digelar oleh ber-bagai komponen masyarakat sipil turut mewarnai hari-hari sibuk warga dalam masa pemulihan.3 Berbagai kasus konlik horisontal di tingkatan
warga juga kian meningkat, hingga tak habis-habisnya jadi bahan pemberi-taan berbagai media masa. Hal itu berlangsung sampai beberapa bulan pasca gempa.
Kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang tak padu dan saling tumpang tindih semakin menguatkan sinyalemen tentang poli-tisasi bencana di berbagai jenjang state apparatus. Tarik ulur kepentingan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat gamblang terli-hat. Dalam berbagai kasus seperti: penentuan parameter tentang bencana
nasional atau bencana lokal; penetapan masa tanggap darurat; penentuan validasi data korban dan kerusakan; dan penentuan besaran dana jadup (living cost) dan rekonstruksi; semakin mempertegas tarik ulur kepentingan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pada akhirnya, tekanan-berlebih pemerintah pusat berangsur mengendurkan dramaturgi politisasi bencana. Kompromi politik akhirnya melahirkan Keppres No 9/2006 ten-tang Tim Koordinasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Pasca Gempa DIY-Jateng dan Pergub DIY No 23/2006 tentang Petunjuk Operasional Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Gempa Bumi di Propinsi DIY. Mau tidak mau, warga harus menuruti kebijakan yang serba tak bijak, tak par-tisipatif, dan sarat dengan tambal sulam itu. Agar terkesan parpar-tisipatif,
pemerintah propinsi berupaya memoles kebijakan dengan cara mengair -masi pembentukan Kelompok Masyarakat (Pokmas) oleh warga sendiri. Kebijakan yang seolah bottom-up itu, tak urung terbongkar kedoknya juga. Alih-alih mendorong dan menguatkan partisipasi warga, kebijakan itu
jus-tru memicu konlik horisontal.4
Keruwetan pun kian menjadi-jadi. Tak rela ikatan solidaratas di tingkat dusun terusik, warga kembali menggelar serangkaian aksi protes massa yang diberi nama aksi Bagito (dibagi rata). Dalam aksi itu, warga
menuntut dana rekonstruksi—yang putusan inalnya hanya sebesar 15
juta—tersebut dibagi rata. Sementara pemerintah bersikeras memaksakan dana bantuan dibagi berdasarkan prioritas (Bagitas), yang arahannya nan-ti, seturut kesepakatan warga dalam Pokmas. Dalam hal ini, pemerintah propinsi benar-benar terjepit. Di satu sisi ia dituntut untuk mengakomodir aspirasi warganya, di sisi lain ia ditekan untuk menerapkan kebijakan hasil rancangan pemerintah pusat. Kasus ini bisa menjadi sumber kajian ber-harga tentang bagaimana dinamika demokrasi lokal berjalan. Fenomena tentang Bagito versus Bagitas ini tak lain adalah kasus uji dari problematika program desentralisasi dan otonomi daerah setengah hati.5 Kemenangan
4. Simak lebih jauh ulasan Krisdyatmiko tentang Pergub No 23/2006 ini. Menurut Krisdyatmiko Pergub ini lahir dari banyak tekanan. Pertama, pergub ini lahir untuk menyelamatkan muka pemerintah pusa (Jusuf Kalla) yang telah terlanjur menjanjikan dana bantuan untuk rekonstruksi rumah 10-30 juta. Kedua, Pergub ini mengakomodasi tuntutan pemerintah pusat yang menghendaki ada kucuran hutang dari lembaga donor dalam penanganan bencana. Sebagai konsekuensinya, demi tuntutan akuntabilitas oleh pihak donor tersebut, maka mengakibatkan pengucuran dana harus melalui birokrasi yang panjang dan berbelit-belit. Baca lebih lanjut Krisdyatmiko, Kebijakan Rekonstruksi Rumah yang [seolah-olah] Partisipatif dalam Jurnal Flamma (Edisi Khusus), Tanggap Bencana, Yogyakarta: IRE, hlm.28-29.
Bagitas semakin menguatkan argumen bahwa aspirasi/partisipasi warga telah gagal diposisikan dalam kancah demokrasi lokal. Berbagai macam bentuk modal sosial yang diinisiasi secara partisipatif oleh warga dengan gampangya dinisbikan, dan dipelintir demi tetap langgengnya kebijakan pemerintah pusat yang teknokratis. Dalam kasus ini, pemerintah jelas-jelas telah melecehkan, dan celakanya lagi, mengeksploitasi peran partisi-pasi warga. Tanpa adanya transparansi anggaran, pemerintah bersikeras mendesakkan pembentukan Pokmas dengan alasan bahwa itu merupakan wujud keberpihakannya terhadap penguatan partisipasi warga. Padalah
jika dicermati lebih jauh, airmasi pembentukan Pokmas oleh pemerintah
daerah ini menyembunyikan kepentingan politis. Pokmas menjadi ajang cuci tangan pemerintah dari beratnya beban anggaran yang musti dipikul, dengan cara memanfaatkan/mengeksploitasi tenaga sukerala (baca:gratis-an) warga dalam kerja-kerja gotong royong.6 Jelas kiranya, gotong
ro-yong (yang lazim dipahami sebagai mekanisme berbagi beban/tanggung renteng di antara warga lantaran keterbatasan sumberdaya) sebagai salah satu bentuk modal sosial telah dipolitisir oleh negara demi efektivitas dan
eisiensi anggaran.
Beban warga pun kian bertambah berat tatkala muncul ketetapan dari pusat bahwa dana rekonstruksi dikucurkan dalam tiga tahap. Dengan dana yang super cupet itu, warga lagi-lagi harus dihadapkan pada persoalan melonjaknya harga material bangunan di pasaran. Dalam kasus ini, mena-jemen pemerintah benar-benar amburadul. Pemerintah loyo syaraf meng-hadapi kuasa pasar yang membesar seiring meningkatnya permintaan material lantaran meningkatnya kebutuhan warga. Pemerintah mustinya bisa menginisiasi kebijakan untuk perlindungan warga, semisal menstabil-kan harga dengan melakumenstabil-kan kontrol/ intervensi pasar, atau memotong jalur distribusi dengan mendirikan sejumlah depo bahan-bahan material. Meski upaya itu pernah digagas oleh pemerintah propinsi, namun realisasi-nya tetap jauh panggang dari api. Dari seluruh paparan masalah di atas, beban berlipat selalu saja jatuh di pundak warga. Warga yang mustinya dibantu, justru malah dieksploitir dan dijadikan bulan-bulanan oleh kekua-saan negara. Menguatnya modal sosial di tingkat warga tak berarti apa-pun bagi kekuasaan, selain sebagai tumbal. Tak lebih. Kiranya benar apa kata pepatah, ular kobra biasanya mematuk dua kali, malapetaka senan-tiasa memukul beruntun. Berlalunya bencana tak selalu berarti berlalunya petaka bagi warga korban.
Negara, Penanganan Bencana, dan Problem Desentralisasi
Dari kasus penanganan bencana Yogya dan Jateng di atas, ada tiga masalah yang bisa diambil sebagai pelajaran berharga bagi kita. Tiga masa-lah itu adamasa-lah sebagai berikut:
(1) Menguatnya solidaritas sosial yang diinisiasi secara partisipatif oleh masyarakat sipil (paguyuban warga/ Community Based Organisation, or-mas, LSM, dll) merupakan modal sosial yang besar dalam pemulihan pasca bencana. Meski pada akhirnya modal sosial itu kembali dinis-bikan oleh kebijakan pemerintah yang top-down (yang secara inheren tak peka terhadap inisiati-inisiatif lokal);
(2) Ketidakjelasan otoritas formal penanganan bencana antara pemerin-tah pusat dan pemerinpemerin-tah daerah, sehingga posisi kebijakan penangan-an bencpenangan-ana saling tumppenangan-ang tindih dengpenangan-an dokumen kebijakpenangan-an lainnya yang telah ada sebelumnya;
(3) Lemahnya kapasitas pemerintah dalam penanganan bencana (seperti kapasitas respon yang tidak prediktabel; penyediaan anggaran yang tidak prediktabel dan luwes, tidak transparan, tidak dihargainya mar-tabat warga dengan memposisikan warga sebagai korban yang pasif, penciptaan ketergantungan, dll) yang berakibat pada terabaikannya pemenuhan hak-hak dasar penyintas (survivor);
Ketiga masalah tersebut sejatinya tidak mencerminkan seluruh kompleksi-tas persoalan yang berkembang di masyarakat Yogya dan Jateng pasca ben-cana. Ketiganya hanyalah potret makro (boleh jadi simplistis) yang perlu diposisikan sebagai kerangka acuan untuk menguak lebih jauh detil-detil persoalan yang saling paut satu dengan lainnya. Silang kaitnya persoalan
pasca bencana ini mengindikasikan pentingnya identiikasi atas berbagai
macam faktor, aspek, dan aktor yang saling terlibat pula. Karenanya kom-pleksitas persoalan dalam penanganan bencana perlu ditelusur titik-titik simpulnya. Dengannya, kita lebih mudah untuk mengkaji dan menentukan berbagai metode pendekatan, strategi, dan praksis penanganan bencana.
tetap saja tak jelas dan serba tumpang tindih. Persoalan ini sebenarnya merupakan persoalan fundamental yang secara substansial menjadi simpul dari dua persoalan lain (terkait dengan poin 1 dan 3) yang muncul dalam penanganan bencana Yogya dan Jateng.
Jika memang negara ini masih berpegang pada semangat desen-tralisasi dan demokrasi lokal, maka mustinya pemegang otoritas pena-nganan bencana ada di tangan pemerintah daerah. Kejelasan otoritas ini bagaimanapun juga sangatlah penting agar: pertama, pemerintah daerah memiliki wewenang yang leluasa untuk segera menghimpun dan memobili-sir berbagai sumberdaya yang ada demi percepatan pemulihan pasca ben-cana (menjawab kebutuhan anggaran); kedua, pemerintah daerah mengan-tongi wewenang untuk mengatasi masalah-masalah aktual di tingkat lokal (menjawab partisipasi rakyat dan inisiatif lokal); ketiga, pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk menginisiasi sumber informasi utama bagi warga, sehingga warga tidak terombang-ambingkan oleh isu-isu yang ber-edar di media massa (menjawab kebutuhan atas koordinasi dan layanan informasi terpadu).
Dalam konteks ini, negara musti mensinergikan lagi antara doku-men-dokumen kebijakan penanganan bencana dengan dokumen-doku-men kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. Meskipun dalam se-jumlah aspek cukup pelik, semisal masalah perimbangan anggaran antara pusat dan daerah, namun kebijakan penanganan bencana harus tetap mengacu pada prinsip-prinsip dalam dokumen kebijakan desentralisasi tersebut. Tanpa berpegang pada prinsip pokok subsidiaritas (subsidiarity)7
sebagai ruh dari desentralisasi itu sendiri, maka niscaya penanganan ben-cana tak akan sanggup menjawab berbagai kebutuhan lokal dari warga se-bagai penerima manfaat (beneiciaries). Berdasarkan catatan sejarah, bangsa Indonesia sendiri telah meyakini sejak awal bahwa:8
Desentralisasi merupakan sebuah cara untuk membangun pe-merintahan yang efektif, mengembangkan pepe-merintahan yang demokratis, menghargai berbagai keragaman lokal, menghormati dan mengembangkan potensi penghidupan masyarakat lokal, serta memelihara integrasi nasional.
7. Konsep subsidiarity menunjuk pada pengertian tentang praksis pelokalisiran atas pengambilan keputusan dan penggunaan kewenangan oleh struktur atau organisasi di level bawah. Baca lebih lanjut Abdur Rozaki, dkk, Prakarsa Desentralisasi & Otonomi Desa, Yogyakarta: IRE Press, 2005, hlm.160.
Dalam seluruh matra idealnya, desentralisasi itu senantiasa berada dalam “proses menjadi” (state of becoming) seturut determinan sosial-politik yang melingkupinya. Meskipun harus diakui bahwa praktik desentralisa-si dan demokradesentralisa-si lokal saat ini—yang berakar pada UU No.22/1999— masihlah terseok-seok, namun kiranya tugas berat untuk menerapkannya di masa-masa krisis/bencana tetaplah harus dipikul oleh bangsa ini. Dan itulah tantangan riil yang musti dijawab oleh bangsa ini jika benar-benar hendak melahirkan tata-kelola kebencanaan yang handal di masa datang.
Jika dalam setiap penanganan bencana, pemerintah masih mene-rapkan pola kebijakan yang bertentangan dengan hakikat desentralisasi tersebut, maka nyaris bisa dipastikan akan menuai banyak persoalan (terkait dengan poin ke 1). Salah satu contoh riil yang terjadi dalam kasus pena-nganan bencana Yogya dan Jateng adalah terabaikannya/terpinggirkannya kearifan lokal, modal sosial, inisiatif-inisiatif lokal. Kasus terpinggirkan-nya modal sosial sebagaimana telah terpapar di atas menjadi bukti terpinggirkan-nyata bahwa pemerintah benar-benar telah abai terhadap sendi-sendi vital sekali-gus lubrikan dalam demokrasi lokal yang mewujud dalam bentuk jejaring masyarakat sipil.9 Dengan kata lain, negara telah menisbikan partisipasi
rakyat sebagai salah satu elemen penting dalam governance kebencanaan. Jika situasinya sudah seperti itu, maka itu berarti (terkait dengan poin ke 3) penanganan bencana oleh pemerintah samasekali tak akunta-bel.10 Dalam penanganan bencana Yogya dan Jateng, pemerintah
jelas-jelas tak mampu memperkuat kapasitasnya untuk menyelamatkan ke-hidupan dan meringankan penderitaan warga. Sebaliknya pemerintah justru merendahkan martabat warga, dengan menganggap warga sebagai obyek, bukannya subyek. Berlarut-larutnya praktik buruk penanganan ben-cana itu akan menyemai public distrust terhadap pemerintah/ negara. Kita bisa mencermati berbagai ungkapan warga yang sinis dan apatis terhadap keberadaan negara. Ungkapan Siwar—warga Sewon, Bantul—misalnya,
9. Terkait dengan munculnya jejaring sebagai konsekuensi dari desentralisasi ini telah diulas oleh Francis Fukuyama. Lebih jauh Fukuyama menegaskan: “Jalan keluar lain bagi masalah koordinasi dalam organisasi yang sangat terdesentralisasi ialah jaringan. Inilah bentuk tatanan spontan yang muncul dari interaksi di antara para pelaku yang mandiri, dan tidak diciptakan oleh kekuasaan terpusat. Jika jaringan benar-benar sebuah tatanan yang produktif, mau tidak mau harus mengandalkan norma-norma informal sebagai pengganti organisasi formal—dengan kata lain mengandalkan modal sosial. Francis Fukuyama, Guncangan Besar, Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru; Jakarta: Gramedia, 2005, hlm. 243
boleh jadi mewakili public distrust tersebut. Dimintai komentar perihal janji palsu Wapres-Jusuf Kalla, lebih jauh Siwar bertutur:11
Dari tetangga saya memang mendengar katanya akan ada bantuan tiga puluh juta itu. Tapi menurut saya kok ngoyoworo, belum bisa diharapkan. …Kalaupun ada wuah…banyak sekali tentunya kalau dikalikan dengan jumlah rumah yang harus diperbaiki. Biar saya ini orang bodho, Mas, uang itu banyak sekali lho! Apalagi sekarang kan sedang musimnya bencana alam, untuk Jogja saja sudah segitu banyaknya, terus ada banjir di Sulawesi, bahkan katanya Aceh juga belum beres. Apa kita punya uang sebanyak itu?…[Kalau ternyata punya] mendingan buat memperbaiki organisasi pemerintah saja, itu malah bagus, saya ikhlas. Pemerintah kita kan perlu diperbaiki, dan untuk memperbaiki kan butuh biaya. Buat itu saja.
Ditilik dari kultur jawa nrimo ing pandum, ungkapan Siwar di atas mengindikasikan suatu perlawanan tersembunyi, yang memuat kekhasan gaya the art of resistance-nya orang Jawa. Kesinisan Siwar yang diverbalkan secara halus dan seolah-oleh rela menyerahkan sesuatu kepada orang yang tak berhak seperti itu dalam kosa kata jawa disebut mutung (patah harapan) dengan cara nglulu (bibir berkata rela, namun sesungguhnya hati tak rela). Ungkapan Siwar adalah representasi kekecewaan dalam sinisme santun atas negara. Bisa dipastikan, duplikasi Siwar ada di mana-mana, dan perse-maian public distrust pun kian subur. Waktunya negara berkaca dan menata diri kembali. Pemulihan pasca bencana, pemulihan juga untuk negara.
Governance Kebencanaan: Peta Aktor-Aktor dan Pola
Relasi-nya
Governance sebagai sebuah konsep masih dalam proses pem-bentukan, belum menjadi gagasan yang solid dan tentu saja masih layak diperdebatkan. Mendengar kata governance (yang dalam bahasa Indonesia acap diterjemahkan sebagai “tata-kelola”), kita tentu teringat pada konsep World Bank yang sangat populer dalam beberapa tahun lalu, yaitu good governance.
Konsep governance ini mulai latah diadopsi oleh banyak kalangan, terutama apparatus pemerintahan dan kaum intelektual, ketika World Bank tengah giat-giatnya melancarkan kebijakan neoliberalisme di Nega-ra-Negara Sedang Berkembang, salah satunya Indonesia. Melalui program
structural adjustment program, implementasi konsep good governance diinterven-sikan World Bank dalam kebijakan pembangunan Indonesia. Gambaran ideal yang biasanya diobral World Bank mengenai konsep good governance
antara lain terpapar dalam poin-poin berikut:12 good governance adalah (1)
gambar dari sesuatu yang bisa diramalkan, terbuka, dan merupakan sebuah pengambilan kebijakan yang bisa melahirkan pencerahan (yaitu, proses-proses transparansi); (2) suatu birokrasi yang diilhami oleh suatu etos kerja profesional; (3) suatu tangan eksekutif pemerintah yang bertanggungjawab terhadap setiap kinerjanya; (4) dan keterlibatan suatu masyarakat sipil yang kokoh dalam kehidupan publik; (5) namun seluruh kegiatan tersebut mesti dilakukan di dalam sistem dimana hukum sebagai penguasa”.
Senada dengan paparan itu, menurut rincian ESCAP, good govern-ance memuat delapan karakter utama sebagai tolok ukurnya: karakter dasar yang partisipatif, berorientasi pada sistem permufakatan, bisa
dipertang-gung-jawabkan, transparan/terbuka, responsif, efektif dan eisien, sama
rata dan inklusif, hukum sebagai penguasa “rule of law”.13
Konsep good governance itu sendiri banyak ditolak oleh kalangan pro-kerakyatan, lantaran konsep itu bias pada agenda ekonomi politik global yang sama sekali tak berbasis keadilan. Kemunculan konsep good governance
itu tidak didorong oleh menguatnya perhatian terhadap berbagai kebutuh-an hidup rakyat miskin, tetapi disetir oleh kepentingkebutuh-an TNC untuk me-luaskan area pasar melalui pengembangan globalisasi ekonomi, dengan cara mempreteli fungsi-fungsi negara.
Memang tidaklah mudah mendeinisikan istilah governance ini. Kon-sep governance ini telah diterjemahkan dalam pemahaman yang sangat ber-ragam. Terlebih jika itu dikaitkan dengan konsep ideal dan implementasi lapangan yang kerap berseberangan. Terlepas dari itu semua, berikut akan
dipaparkan beberapa deinisi lain tentang governance, guna menemukan arah pemahaman yang relevan untuk kasus penanganan bencana. Dalam pemahaman yang sederhana, konsep governance mengacu pada tingkat keru-mitan aktivitas dengan beragam makna yang luas, serta melibatkan begitu banyak pemain. Secara hati-hati, Garan Heyden mencoba menjelaskankan
governance sebagai konsep yang mendeinisikan sebuah pendekatan atas
komparasi politik. Heyden mengambil penekanan khusus pada aspek “potensi kreatif perpolitikan, terutama kapasitas para pemimpin poli-tik dalam mendorong struktur masyarakat untuk merubah aturan main, sekaligus memberi inspirasi kepada yang lainnya agar bisa ambil bagian dalam upaya mendorong masyarakat ke arah yang baru dan produktif”.14
Dalam penjelasan lain yang juga tak mampu mendeinisikan governance
se-12. http://www.worldbank.org/publicsector/overview.html
13. What is Good Governance? United Nations Economic and Social Commision for the Asia and Paciic (UN
ESCAP): Human Settlements Web Page, http://www.unescap.org/huset/gg/governance.html 14. Governance Barometer: Policy Guidelines for Good Governance, Webside of South Africa’s National Party; http://
cara operasional, Commission on Global Governance menjelaskan governance sebagai berikut:15
Governance adalah hasil dari kumpulan pengalaman para individu dan institusi, umum, dan pribadi, dalam mengelola kehidupan sehari-hari mereka. Governance adalah sebuah proses yang berkelanjutan dimana setiap kepentingan yang saling berbenturan atau yang bermacam-macam itu bisa diakomodir dan disatukan dalam sebuah kerjasama konkret. Hal itu melibatkan institusi-institusi formal dan kelompok-kelompok yang dikembangkan untuk memenuhi persyaratan yang ada maupun hal-hal yang bersifat informal, dimana setiap orang dan institusi terkait telah menyetujuinya atau menerimanya sebagai sesuatu yang bisa mendukung kepentingan mereka.
Berangkat dari paparan di atas, berikut ini kita akan melacak lebih jauh hal ihwal governance kebencanaan. Di sini, karakter-karakter dasar dari
governance bisa kita jadikan alat bantu untuk memahami governance kebenca-naan. Limitasi atas konsep governance kebencanaan akan disaji tuliskan pula sebagai sebuah pembelajaran penting yang diperoleh berdasar peng-alaman penanganan pasca gempa Yogja-Jateng.
Dalam konteks kebencanaan, pola hubungan di antara aktor yang terlibat dalam penanganan bencana sangatlah menentukan kualitas suatu governance kebencanaan. Bila dipetakan berdasarkan kategori besar atas fungsi dan perannya maka terdapat lima entitas aktor yang terlibat dalam governance kebencanaan. Dalam Bagan 1 kita bisa melihat kelima en-titas aktor tersebut adalah: pemerintah, warga, ormas/orpol/LSM, me-dia massa, dan pelaku bisnis. Di setiap entitas aktor tersebut me-diandaikan memuat berbagai elemen dan komponen kecil yang tercakup didalamnya. Setiap entitas aktor tersebut tersambungkan antara satu dengan lainnya oleh garis penghubung sebagai simbol dari pola relasi yang resiprokal di antara kelima entitas aktor tersebut. Garis-garis penghubung berpola je-jaring segi lima merupakan simbol dari pola relasi yang terintegrasi un-tuk menjelaskan tentang pentingnya koordinasi dan sharing informasi di antara entitas aktor-aktor. Persis pada Bagan 1, Bagan 2 menggambarkan lima entitas aspek yang terintegrasi dalam penangananan bencana: ekologi, kelembagaan sosial dan budaya, politik kebijakan struktural, ekonomi, hu-kum dan pengawasan.
Apa yang tergambar dalam Bagan 1 dan 2 tersebut pada dasarnya hanyalah pembaganan secara sangat sederhana (boleh jadi simplistis) dan ideal atas kompleksitas governance kebencanaan. Terbentuknya jejaring enti-tas aktor berikut entienti-tas aspek yang dikelolanya akan sangat menentukan
tingkat akuntabilitas governance kebencanaan itu sendiri. Dalam berbagai ka-sus penanganan bencana, banyak persoalan muncul lantaran tidak adanya pola relasi yang sinergis. Kesinergisan itu akan tercipta ketika ruang-ruang dialog, komunikasi, koordinasi, dan sharing data/informasi dijalankan se-cara intensif di antara entitas aktor di berbagai lini. Ketidakberesan dan tidak berfungsinya satu entitas aktor pastilah akan berdampak pada ketidak-beresan aktor lainnya. Secara hakiki, berbagai mekanisme dalam governance
kebencanaan itu difungsikan demi memberikan pelayanan yang maksimal terhadap pemenuhanan hak-hak dasar korban.
Mendasarkan diri pada pembaganan sederhana di atas ternyata ti-dak memadai dalam perjuangan politik korban. Ketika posisi Negara di letakkan secara simetris dengan aktor lainnya, maka Negara justru tidak akan bisa maksimal dalam melakukan peran perlindungan dan pemenuhan terhadap hak-hak dasar warganya. Belajar dari penanganan gempa Yog-ja-Jateng, negara berkecenderungan abai terhadap hak-hak dasar warga dengan dalih memberi ruang partisipasi bagi aktor-aktor yang lain. Rakyat misalnya, partisipasi rakyat justru ditelikung melalui pelembagaan Pokmas yang tidak mengikut mekanisme sosial masyarakat, sekadar untuk menu-tup lemahnya/rapuhnya Negara.
Atas nama berbagi peran, apparatus Negara memberi kebebasan seluasnya bagi pelaku bisnis untuk menjalankan mekanisme pasar dalam penanganan bencana. Walhasil, sebagaimana paparan di atas, harga mate-rial yang dibutuhkan warga membumbung tinggi sehingga mengakibatkan daya beli warga turun. Hukum ekonomi yang bekerja atas dasar permintaan dan penawaran tak mampu dikendalikan oleh hukum Negara. Kalau ke-mudian berpijak pada tesis good governance, bahwa Negara memegang fungsi regulasi, fungsi yang sangat minimalis itupun tak mampu dimainkan secara adekuat oleh Negara.
pencerahan (yaitu, proses-proses transparansi), good governance kebencanaan sungguh-sungguh tak bekerja. Tiadanya state apparatus yang mampu mem-prediksi peristiwa bencana secara akurat dan mentransformasikan pada publik, serta tiadanya kebijakan dan anggaran yang antisipatif dan memadai
untuk mitigasi hingga rekonstruksi bencana, merupakan releksi dari kega -gapan atau bahkan kegagalan konsep ini untuk diaplikasikan.
Kegelapan bagi warga merupakan akibat dari cara kerja birokrasi yang tak peka, tanggap dan tangguh dalam menghadapi situasi krisis ke-bencanaan. Ketika pabrik mie instant dan material bangunan bisa lekas berk-oordinasi untuk membuat perencanaan sistematis dalam rangka merespon kebutuhan yang meningkat di daerah bencana, state apparatus negara ini malah sibuk bersilang statement dan saling lempar tanggung jawab. Koor-dinasi antar state apparatus untuk membuat perencanaan strategis lamban digagas karena diperkeruh oleh lips service pejabat negara yang justru mem-pertunjukkan gagal koordinasi dengan jajarannya.
Birokrasi pun bekerja secara sangat tak professional, bahkan tak punya sense of crisis. Ketegaan meminta persyaratan yang berbelit bagi war-ga yang hendak mencairkan bantuan jadup selama fase tangwar-gap darurat merupakan potret ironis birokrasi. Bagaimana mungkin warga yang rumah-nya hancur atau bahkan kehilangan sanak saudara masih sempat memikir untuk menyelamatkan identitas seperti KTP atau bahkan Kartu Keluarga ketika nyawa terancam kerawanan pangan pasca bencana?
Kekaburan tanggungjawab Negara kian disempurnakan ketika partisipasi mampu dimainkan dengan lebih peka dan tanggap oleh masya-rakat sipil. Problem ketidaktanggungjawaban negara bukan terletak pada ketiadaan kapasitas negara, namun mindset negara beserta state aparatusnya tidak dikonstruksi untuk melayani masyarakatnya. Padahal kalau Negara berkehendak, situasi krisis yang melanda masyarakat bisa menjadi moment untuk mengikat kembali masyarakat pada makna penting bernegara.
Dengan demikian, good governance sebagai sebuah konsep ideal dima-na semua aktor tatakelola pemerintahan didudukkan secara setara adalah ilusi. Di luar kertas kerja World Bank maupun apparatus pemerintahan, konsep ini tidak akan pernah bekerja karena dibangun berdasar pada surga pemikiran. Dalam situasi normal sekalipun, konsep dus aplikasi good gov-ernance mendapat kritik yang sangat besar akibat ketidakmampuan untuk menjawab problem kepemerintahan. Apalagi ketika situasi krisis ketika rea-litas bekerja berdasar logika lain, gagasan good governance menjadi tak lebih dari utopia.
bertang-gung jawab pada rakyatnya. Cara pikir yang sama ketika diletakkan dalam governance kebencanaan adalah sebuah petaka bagi rakyat. Negara me-nyandar pada kapasitas aktor yang lain untuk memberikan peran perlin-dungan bagi rakyatnya. Namun tak semua aktor governance berangkat dari semangat memberdayakan. Dari pengalaman penanganan gempa Yogja-Jateng, pelaku bisnis justru memancing di air keruh, mendulang emas di balik lumpur. Pelaku bisnis sungguh-sungguh tak bisa diharapkan untuk memposisikan warga korban di atas kepentingannya untuk mendulang ke-untungan (proit).
Pertanyaannya kemudian adalah, dimanakah posisi warga dalam governance kebencanaan? Dalam situasi normal (tidak terjadi krisis), keti-ka rakyat berkemampuan untuk berdiketi-kari atas hidupnya, negara pun masih dibutuhkan oleh rakyat. Pelayanan publik, perlindungan hak-hak asasi dan hak-hak dasar merupakan peran hakiki yang diembankan rakyat kepada pemerintahnya sebagaimana termaktub dalam Undang-undang Dasar. Se-mangat welfare state yang mendasari pembentukan Negara ini masih men-jadi semangat yang diidam-idamkan rakyat. Rakyat tidak pernah emoh Ne-gara, apalagi dalam situasi krisis kebencanaan. Terbukti ketika pemerintah (wakil presiden) mengobral janji 30 juta, rakyat begitu “gembira.” Dan bukan semata karena 30 juta, tapi karena pemerintah Negara ini yang ter-kenal abai ternyata masih memikirkan nasib rakyatnya.
Kalau kemudian ludah yang telanjur keluar ditelan kembali oleh pemerintah, itu masalah lain bahwa pemerintah pura-pura lupa cara ber-tanggung jawab pada rakyatnya. Reaksi rakyat tak seperti biasanya, perla-wanan dalam diam kiranya tak mencukupi lagi. Karenanya, pada tanggal 19 Juli 2007, rakyat melancarkan aksi massa yang dikenal sebagai Gerakan Aksi Tagih Janji (Ganti). Gerakan untuk membangkitkan tanggungjawab Negara ini adalah bukti bahwa berbagai elemen warga korban bencana, mahasiswa, dan LSM masih peduli pada eksistensi Negara.
Dalam wujudnya yang sangat chaotic sekalipun, aksi jalanan itu
merupakan releksi dari macetnya saluran aspirasi rakyat. Melalui aksi
jalanan, rakyat mengingatkan pemerintahnya untuk kembali bertanggung-jawab atas mandat yang sudah diberikan. Melalui aksi jalanan ini pula, rakyat menaikkan posisi tawarnya dihadapan negara yang sudah kelewat mahal memberi harga pada dirinya sendiri.
Dalam desain pokmas, keterlibatan warga hanya sebagai pelaksana pro-gram pemerintah.
Partisipasi warga dilokalisir hanya pada tataran yang sangat akar rumput. Partisipasi pada level yang lokal itupun seringkali mengalami
kega-galan dan berujung pada sejumlah konlik horizontal akibat
ketidakmampu-an Pokmas memperjuketidakmampu-angkketidakmampu-an aspirasi warga. Fenomena ini tergelar di se-jumlah Pokmas. Hal ini diakibatkan oleh kebijakan top down Pokmas tidak sesuai dengan kondisi sosial kultural masyarakat. Ketidakpuasan warga
inilah yang memicu sejumlah konlik horisontal. Ketika pemerintah pusat
dan daerah bisa menutup mata atas resistensi masyarakat. Aparat dusun, desa maupun kecamatan-lah yang sering menuai badai karena kebijakan yang tak menghargai dinamika lokal. Respon atas gerakan ketidakpuasan rakyat pun sangat parsial: sejumlah kepala desa maupun camat diganti, dan bukannya pada perubahan substansi kebijakan itu sendiri.
Penanganan gempa bumi Yogja-Jateng memberi pembelajaran betapa berharganya partisipasi warga meski dalam aras yang sangat lokal sekalipun. Model-model partisipasi yang sangat spontan, mandiri dan di-gerakkan oleh spirit altruistik dan norma informal merupakan ciri modal sosial yang berbasiskan warga. Sebagaimana ditandaskan oleh Fukuyama, modal sosial yang mewujud dalam jaringan warga merupakan jalan pintas yang mengatasi masalah koordinasi dalam organisasi yang sangat terdesen-tralisasi.16 Dalam penanganan gempa bumi Yogja-Jateng, modal sosial
ber-basis warga inilah yang menjadi jaring pengaman bagi korban dan penyin-tas (survivor) untuk melampaui krisis pasca bencana.
Modal sosial yang digerakkan oleh norma sosial terabaikan dalam pendekatan teknokrasi rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana. Kebi-jakan pemulihan pasca gempa yang cenderung top down bahkan menisbi-kan warga sebagai entitas yang aktif dalam pemulihan harkat hidupnya. Pokmas, sebagaimana dicontohkan di atas hanyalah penggalan kecil dari penisbian warga dalam governance kebencanaan.
Perlawanan rakyat melalui gerakan aksi tagih janji dan sejumlah
per-lawanan pada level akar rumput merupakan releksi proses governance (tata kelola) yang tak tertata dengan baik. Governance kebencanaan mensyaratkan tegasnya posisi Negara dalam menjaminkan hak-hak dasar warga korban. Pengalaman penanganan gempa kemarin menunjukkan ketidaktegasan posisi negara yang berdiri diantara dua kapal, terkadang Negara berposisi sebagai pemilik dan pengontrol dari produksi dan semua aktivitas sosial
ekonomi terkadang negara hanya berposisi sebagai penyedia regulasi dan infrastruktur17.
Dalam sebuah governance kebencanaan, Negara harus kuat dan berdaya. Negara bukan hanya regulator tapi pelindung bagi setiap aktor untuk berpihak kepada korban. Konsep yang mengarah kepada Welfare State ini menjadi lebih masuk akal untuk diaplikasi menimbang pentingnya pemenuhan hak-hak dasar korban. Di sisi lain, penghargaan atas modal so-sial dan partisipasi warga juga harus dipahami sebagai sebuah upaya untuk menguatkan warga sebagai entitas yang berdaya. Artinya, penghormatan mekanisme sosial kultural masyarakat penting untuk dijadikan landasan kebijakan kebencanaan. Peran yang bijak untuk diambil Negara adalah peran yang tak terlingkupi oleh kapasitas warga maupun penguatan modal sosial.
Lagi-lagi perlu ditegaskan bahwa kualitas dari governance bukan
sekadar ditentukan oleh eisiensi keuangan, tiadanya korupsi maupun
layanan serta kontrol ekonomi, namun juga melingkupi kapasitas untuk meraih integrasi internal antara rakyat dengan negara.18
Epilog: Bencana sebagai Momentum
Belajar dari carut marutnya kasus penganan bencana gempa Yogya
dan Jateng di atas, kini kita diajak untuk mereleksikan kembali perihal
komitmen moral yang mesti diemban dalam setiap pelayanan bantuan ke-manusiaan. Tindakan responsif, kompeten, berkeadilan, dan bermartabat, merupakan mandat moral yang musti dipegang teguh dan dan diupayakan semaksimal mungkin agar warga korban terposisikan sebagai subyek yang aktif dan bukannya obyek yang pasif; sebagai subyek yang otonom dan bukan obyek yang tergantung.
Dalam kerangka mandat moral itu pula, dalam implementasinya bisa diwujudkan dengan menghargai berbagai kearifan lokal dan budaya masyarakat setempat. Dalam konteks masyarakat Yogya dan Jateng seperti telah terurai di atas misalnya, aktivitas gotong royong sebagai salah satu perwujudan dari kearifan lokal dan harta karun sosial haruslah dihargai dan dijunjung tinggi sesuai dengan kemartabatan warga yang ngagem (me-ngenakan) dan ngugemi (mengukuhi) nilai-nilai tradisi itu sendiri. Aktor-aktor yang terlibat dalam penanganan bencana harus membaca gotong
17. Pemikiran yang terakhir inilah yang mewarnai proses governance yang digerakkan oleh arus anti Negara yang berkembang di Negara demokrasi barat pada periode 1980-an. Lihat Subramanian, Quality Governance For Sustainable Development : India’s Obligation To Set A Model, International Review Of Administrative Sciences 69 (4). Journal of Sage Publication. Hal 476.
royong itu sebagai partisipasi warga yang merepresentasikan eksistensinya sebagai subyek otonom yang tidak meminta untuk dikasihani. Sebuah ung-kapan dari Mbah Karto yang teramat bersahaja berikut ini mungkin cukup mewakili betapa martabat tak kan bisa dinilai harganya. Lebih jauh Mbah Karta mengungkapkan:19
Bantuan pancèn migunani, nanging langkung migunani malih krenteg manahipun piyambak-piyambak, gumregah tangi lajeng makarya. Mboten perlu ngarep-arep bantuan, mangké mindak kuciwa. Griyo ingkang rubuh njih sampun, mangké menawi wonten ragat dipun bangun malih.
Kiranya, merupakan tugas besar bagi negara ini untuk merombak sesat pikir dan sesat tindakannya atas modal sosial berupa partisipasi warga ini. Terkaitan dengan salah urus oleh pemerintah atas modal sosial ini, Fukuyama lagi-lagi telah mengingatkan bahwa:20
Pemerintah mampu membentuk modal sosial, tapi juga bisa meng-hancurkannya... Negara-negara yang tidak berhasil menjamin keaman-an masyarakat atau hak milik pribadi cenderung menghasilkkeaman-an warga yang tidak saja tidak percaya kepada pemerintah, melainkan juga kepada sesama warga lainnya dan sulit menjalin ikatan dengan orang lain. Pertumbuhan negara-negara kesejahteraan modern, pemusatan fungsi-fungsinya, dan campur tangannya dalam hampir semua bidang kehidupan cenderung memperlemah hubungan spontan antarwarga. Negara sebagai sekutu dan sebagai seteru modal sosial.
Dalam hal ini, pemerintah rupanya harus belajar mengerti dan mempraktikkan pemahaman penting dan mendasar tentang hakekat par-tisipasi ini. Secara fundamental, parpar-tisipasi sangat dibutuhkan untuk men-jaring informasi terpercaya, dan kemudian dipergunakan sebagai alat kon-trol yang riil, dan akhirnya berfungsi sebagai penjaga gawang dari setiap tindakan pemerintah. Dari sisi berbeda, partisipasi juga sangat dibutuhkan sebagai taji penghujam yang mampu mendorong kinerja pemerintah
un-tuk lebih eisien dan menciptakan pengaruh balik bagi layanan publik.
Ini merupakan sesuatu yang penting untuk mengawasi akses dan kualitas pelayanan publik oleh negara. Berbagai bukti empirik mengindikasikan bahwa sebuah masyarakat sipil yang kuat dan kaya dengan modal sosial akan mampu memerankan peran kritis di dalam mendorong governance ke-bencanaan yang handal.
Inilah pelajaran berharga bagi kita semua. Memang sejarah peradaban selalu mencatat bahwa dalam situasi krisis orang cenderung mengabaikan berbagai peluang yang terkandung di dalamnya. Padahal se-sungguhnya krisis bisa menyadarkan kita untuk menyusun langkah-lang-kah strategis dan taktis untuk mencegah berbagai bencana di masa depan. Di sinilah, bencana kita dudukkan sebagi suatu momentum bagi kiprah kehidupan yang lebih baik.
Daftar Pustaka
Analisis CSIS, vol 33, No 3, September 2004, Penguatan dan Modal Sosial Masyarakat Flamma, Edisi 26, Juli-Agustus 2006, Menata Kembali Yogyakarta
Flamma, Edisi Khusus, Tanggap Bencana
Fukuyama, Francis, 2005, Guncangan Besar (terjemahan bahasa Indonesia oleh Masri Maris), Jakarta: Gramedia.
Rozaki, Abdur dkk, Prakarsa Desentralisasi & Otonomi Desa, Yogyakarta: IRE Press Suara Korban Bencana Edisi 13, 13 Sept 2006
Suara Korban Bencana Edisi 14, 20 September 2006
Suara Korban Bencana Edisi 3, 4 Juli 2006; Yogyakarta : Forum Suara Korban Bencana Suara Korban Bencana, Edisi 11, 30 Agustus 2006
Suara Korban Bencana, Edisi 7, 1 Agustus 2006
Suara Korban Bencana, Edisi Khusus Peringatan 100 Hari Gempa, 5 September 2006 Suara Korban Bencana, Setelah 5,9 SR; Kompilasi 28 Edisi Buletin SKB
Subramanian, Quality Governance For Sustainable Development : India’s Obligation To Set A Model, International Review Of Administrative Sciences 69 (4). Journal of Sage Publication. Hal 476.
Surat Kabar :
Harian Kedaulatan Rakyat, 7 juli 2006
Kompas, Senin 12 juni 2006 Total kerugian Akibat gempa RP 29, 2 trilyun.
Situs :
http://insist.or.id.
http://www.oneworld.org/ombudsman. http://www.cgg.ch/welcome.html