HUBUNGAN ANTARA SPIRITUALITAS
DENGAN PROACTIVE COPING PADA SURVIVOR
BENCANA GEMPA BUMI DI BANTUL
SKRIPSI
Oleh:
ARDIMAN ADAMI
01 320 314
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
HUBUNGAN ANTARA SPIRITUALITAS
DENGAN PROACTIVE COPING PADA SURVIVOR
BENCANA GEMPA BUMI DI BANTUL
SKRIPSI
Diajukan Kepada Program Studi Psikologi
Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Guna Memperoleh
Derajat Sarjana S-1 Psikologi
Oleh:
ARDIMAN ADAMI
01 320 314
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
HALAMAN PENGESAHAN
Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi
Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat
Guna Memperoleh Derajat Sarjana S-1 Psikologi
Pada Tanggal
Mengesahkan, Program Studi Psikologi
Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Ketua Program Studi
Qurotul Uyun, S.Psi., M.Si.
Dewan Penguji Tanda Tangan
1. Rr. Indah Ria Sulistiyorini, S.Psi., Psi.
2. Hj. Ratna Syifa’a Rahmahana, S.Psi., M.Si.
HALAMAN PERNYATAAN
Bersama ini saya menyatakan bahwa selama melakukan penelitian dan dalam membuat laporan penelitian, tidak melanggar etika akademik, seperti penjiplakan, pemalsuan data, dan manipulasi data. Apabila di kemudian hari saya terbukti melanggar etika akademik, maka saya sanggup menerima konsekuensi berupa pencabutan gelar kesarjanaan yang telah saya peroleh.
Yang menyatakan,
Syair
Sabtu, 27 Mei
Siang dan malam semuanya menatap utara
siapa yang pernah menyangka
selatan justru mengguncangkan bencana
Sekian ribu nyawa melayang dalam cekam
rumah-rumah dan gedung berdebam
desa dan kota tinggallah puing reruntuhan
Duhai jiwa yang pagi-pagi tersentak derita
masihkah cermin tak retak untuk berkaca
bagi langkah yang limbung tak lagi gempa
HALAMAN PERSEMBAHAN
“Risalah ini kutulis buat jiwa yang merengkuh jiwaku,
buat segumpal hati yang mengalirkan rahasia-rahasianya ke dalam hatiku,
buat jemari yang menyalakan bara kasihku.”
(Kahlil Gibran)
Ibunda dan Ayahanda tercinta: Rusniah dan Adami...
“Selaksa sujud Ananda buat orang yang telah memberikan nafas kasih
kehidupannya, belaian sayang dan dekapan ketulusannya, pengorbanan
serta untaian doa restu yang dialirkan dalam setiap detik nafas kehidupannya
untuk merajut benang kehidupan menjadi lembaran-lembaran kesuksesan.”
Kakak-kakakku terkasih: Arman, Arniawati, dan Aryani...
“Hamparan kecintaan, kesabaran dan kekagumannya telah memberikan
motivasi bagi saya dalam meraih impian dan menggapai cita-cita.”
Teman-teman seperjuangan di Imamupsi...
“Terbanglah dengan sayap keilmuan, naiki tangga-tangga ketuhanan,
nikmati indahnya kebersamaan, genggam erat persaudaraan.”
Kekasihku yang selalu istimewa: Dinda...
“Engkaulah yang telah menghidupkan relung-relung jiwa, meniupkan
gairah kehidupan ke dalam dada, teman berbagi cerita dalam suka maupun
HALAMAN MOTTO
“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang
melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak
akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”
(QS. Ath-Thalaaq [65]: 7)
* * *
Take time to THINK. It is the source of power.
Take time to READ. It is the foundation of wisdom. Take time to QUITE.
It is the opportunity to seek God. Take time to DREAM. It is the future made of.
Take time to PRAY. It is the greatest power on earth.
PRAKATA
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Seiring dengan tumbuh dan berseminya bunga kebahagiaan di hati, tiada yang lebih tepat untuk mewakili bahasa nurani, kecuali puji syukur ke hadirat ILLAHI ROBBI atas petunjuk serta tuntunan-Nya selama ini, sehingga saya tegar meniti jalan panjang kehidupan, melewati hamparan padang ujian dan jurang-jurang romantika kehidupan untuk merengkuh cita-cita masa depan. Untaian salam dan sanjungan shalawat sudah sepantasnya dihaturkan kepada Nabi agung, penyampai risalah kebenaran, panutan kemuliaan, Rasulallah Muhammad SAW putra Abdullah, buah hati Aminah.
Bantul berduka. Ketika orang-orang sibuk, juga cemas, siang-malam menunggu dan mewaspadai letusan Gunung Merapi, tiba-tiba kita dikejutkan oleh musibah yang jauh lebih dramatis: gempa bumi! Padahal, tak ada isyarat apapun dari alam ketika itu. Bencana itu pun meninggalkan kesedihan, penderitaan, juga kerugian. Kita bisa menyaksikan wajah-wajah para korban tampak murung, putus asa. Leleh air mata tiada henti mengalir.
Pasca gempa memang masih menyesakkan dada. Peristiwa memilukan tersebut menyisakan berbagai kondisi yang sungguh memprihatinkan. Tidak hanya luka fisik, para korban pun mengalami gangguan psikologis yang berdampak pada kondisi psikis dan spiritual mereka. Mereka cenderung mengalami masalah penyesuaian perilaku dan emosional.
Penanganan korban stres akibat gempa memang tidak mudah. Pengalaman traumatis telah mengguncangkan pertahanan individu dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup sehari-hari. Karena itu, saya merasa perlu mengangkat tema “Hubungan antara Spiritualitas dengan Proactive Coping pada Survivor Bencana Gempa Bumi di Bantul” untuk diteliti.
Harapannya, penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap proses rehabilitasi psikologis pada survivor bencana gempa bumi. Selain itu, penelitian ini dapat pula menjadi masukan yang berarti bagi para relawan atau siapapun untuk melibatkan pendekatan psikologis dan spiritual dalam penanganan masalah pada survivor bencana gempa bumi.
Ibarat musafir di padang sahara yang menemukan air pelepas dahaga, mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kebahagiaan saya setelah berhasil menyelesaikan skripsi ini. Betapa tidak, skripsi ini bukan yang pertama. Saya pernah gagal menyelesaikan skripsi dengan tema lain. Agaknya, benar kata orang bijak, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
1. Bapak H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., Psikolog, selaku Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, yang telah membantu kelancaran penyusunan skripsi ini.
2. Ibu Qurotul Uyun, S.Psi., M.Si., selaku Ketua Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, yang juga telah membantu kelancaran penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Arief Fahmie, S.Psi., M.A., Psikolog, dan Ibu Hj. Ratna Syifa’a Rahmahana, S.Psi., M.Si. selaku dosen pembimbing akademik, yang dengan kesabarannya memberikan dukungan dan semangat kepada saya untuk segera menyelesaikan skripsi.
4. Ibu Rr. Indah Ria Sulistyorini. S.Psi., Psikolog, selaku dosen pembimbing, yang dengan ketulusan dan kesabarannya memberikan arahan dan bimbingan yang luar biasa kepada saya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik dalam kurun waktu yang relatif cepat.
5. Kedua orangtua saya; Rusniah dan Adami, atas sujud panjang dan lantunan doa yang senantiasa menyertai saya. Kakak-kakak saya; Arman, Atha, dan Ani, serta keponakan saya; Farid, atas pengertian dan kesabarannya untuk menunggu saya menyelesaikan kuliah. Mohon maaf atas keterlambatan ini. Mudah-mudahan saya bisa selalu memberikan yang terbaik.
7. Warga Bantul di Dusun Blunyahan, Pendowoharjo, Sewon; Dusun Ngentak, Wijirejo, Pandak; Dusun Prayan, Srimulyo, Piyungan; Desa Priyan, Trirenggo; Dusun Plebengan, Sidomulyo, Bambanglipuro; Dusun Turi, Sidomulyo, Bambanglipuro; dan Desa Karanggayam, Bantul, yang bersedia meluangkan waktunya untuk mengisi angket penelitian saya. Mugi Gusti Allah tansah paring kanugerahan dumateng panjenengan sedoyo.
8. Teman-teman yang mau membantu kelancaran penelitian ini; Ravi, Eko, Pandu, Ayu, Angga, Anwar, Nico, Taufik, Keristo, Al-Husna, Mas Budi, Mas Soleh, Mas Rizky, dan Jo, serta adik-adik saya; Henny, Chika, Evi, dan Nunuy. Dukungan dan bantuan kalian sangat berarti bagi saya.
9. Saudara dan adik-adik saya di Imamupsi UII; Finta, Laras, Eko, Nita, Ikhwan, Anton, Hariz, Elin, Galuh, Tina, Rulan, Mamat, Asri, Vista, Ajie, Yanti, Dessi, Ema, Nana, Ria, Syuhada, Ardian, Shinta, Ermi, Metha, dan kawan-kawan, yang senantiasa memberikan dukungan dan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini. Perjuangan ini belum berakhir. Keep the spirit of creative!
10. Teman-teman KKN Angkatan 29 Unit SL-60; Arif, Jack, Fadhil, Yudi, Yunan, Nino, Danang, Sita, Uut, Ajeng, Jatu, Septin. Akhirnya, saya bisa juga menyusul kalian menjadi sarjana.
11. Warga Sporty Community; Pak Bingar dan keluarga, Bang Sandra, Ipunk, Boy, Zoon, Bang Didit, Mas Eko, Edi, Mas Dedy, Bang Nandar, Mas Yudi, Gusta, Udin, Ifan, Yusuf, Rio, dan Risky, yang telah berbagi keceriaan sehingga saya bisa melupakan sejenak kepenatan yang ada.
Semoga segala amal baik yang telah kalian berikan mendapatkan keridhaan dan balasan yang setimpal dari Allah ‘Azza wa jalla. Mahabenar Allah dalam firman-Nya: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Al-Zalzalah [99]: 7)
Kritik dan saran apapun yang sifatnya membangun sangat saya harapkan sebagai masukan untuk kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya, mudah-mudahan skripsi ini memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Yogyakarta, 6 Desember 2006
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERNYATAAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
PRAKATA ... vi
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
INTISARI ... xvi
BAB I PENGANTAR ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Tujuan Penelitian ... 11
C. Manfaat Penelitian ... 11
D. Keaslian Penelitian ... 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 15
A. Proactive Coping ... 15
1. Pengertian Coping ... 15
2. Fungsi Coping ... 17
3. Pengertian Proactive Coping ... 18
B. Spiritualitas ... 25
1. Pengertian Spiritualitas ... 25
2. Aspek-aspek Spiritualitas ... 32
3. Spiritualitas dan Religiusitas ... 37
C. Survivor Bencana Gempa Bumi di Bantul ... 40
1. Pengertian Survivor ... 40
2. Pengertian Bencana Gempa Bumi ... 40
3. Bencana Gempa Bumi di Bantul ... 42
D Dinamika Psikologis antara Spiritualitas dengan Proactive Coping pada Survivor bencana Gempa Bumi di Bantul .. 43
E. Hipotesis Penelitian ... 48
BAB III METODE PENELITIAN ... 49
A. Identivikasi Variabel-variabel Penelitian ... 49
B. Definisi Operasional ... 49
C. Subjek Penelitian ... 51
D. Metode Pengumpulan Data ... 51
E. Metode Analisis Data ... 55
BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN ... 57
A. Orientasi Kancah dan Persiapan Penelitian ... 57
1. Orientasi Kancah ... 57
2. Persiapan Penelitian ... 58
a. Persiapan Administrasi ... 58
b. Persiapan Alat Ukur ... 58
c. Hasil Uji Coba Alat Ukur ... 59
C. Hasil Penelitian ... 62
1. Deskripsi Subjek Penelitian ... 62
2. Deskripsi Data Penelitian ... 62
3. Uji Asumsi ... 65
a. Uji Normalitas ... 65
b. Uji Linieritas ... 66
4. Uji Hipotesis ... 66
D. Pembahasan ... 67
BAB V PENUTUP ... 73
A. Kesimpulan ... 73
B. Saran-saran ... 73
1. Bagi Survivor Bencana Gempa Bumi di Bantul ... 73
2. Bagi Para Relawan dan Konselor Survivor Gempa .. 74
3. Bagi Pejabat Pemerintahan dan Tokoh Masyarakat Setempat ... 75
4. Bagi Peneliti Selanjutnya ... 75
DAFTAR PUSTAKA ... 76
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1: Distribusi Item Skala Spiritualitas Sebelum Uji Coba ... 52
Tabel 2: Distribusi Item Skala Proactive Coping Sebelum Uji Coba ... 54
Tabel 3: Distribusi Item Skala Spiritualitas Setelah Uji Coba ... 60
Tabel 4: Distribusi Item Skala Proactive Coping Setelah Uji Coba ... 61
Tabel 5: Deskripsi Subjek Penelitian ... 62
Tabel 6: Deskripsi Data Penelitian ... 63
Tabel 7: Kategorisasi Subjek Berdasarkan Skor Spiritualitas ... 64
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1: Alat Ukur Sebelum Uji Coba ... 82
Lampiran 2: Tabulasi Data Uji Coba Skala ... 98
Lampiran 3: Uji Realibilitas dan Validitas Skala ... 110
Lampiran 4: Alat Ukur Setelah Uji Coba ... 115
Lampiran 5: Tabulasi Data Penelitian ... 127
Lampiran 6: Uji Asumsi ... 142
Lampiran 7: Uji Hipotesis ... 145
Lampiran 8: Frekuensi ... 147
Lampiran 9: Histogram ... 151
Lampiran 10: Surat Izin Penelitian ... 154
HUBUNGAN ANTARA SPIRITUALITAS DENGAN PROACTIVE COPING
PADA SURVIVOR BENCANA GEMPA BUMI DI BANTUL
Ardiman Adami Rr. Indah Ria Sulistyorini
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara spiritualitas dengan proactive coping pada survivor bencana gempa bumi di Bantul. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara spiritualitas dengan proactive coping pada survivor bencana gempa bumi di Bantul. Semakin tinggi tingkat spiritualitas survivor gempa, semakin baik
proactive coping yang dilakukannya. Sebaliknya, semakin rendah tingkat spiritualitas survivor gempa, semakin buruk proactive coping yang dilakukannya.
Subjek dalam penelitian ini berjumlah 92 orang adalah warga Bantul yang menjadi survivor bencana gempa bumi pada 27 Mei 2006 lalu. Adapun skala yang digunakan adalah Skala Proactive Coping pada Survivor Gempa yang mengacu pada Proactive Coping Inventory (Greeanglass, 2002). Skala ini terdiri atas enam aspek, yaitu proactive coping, reflective coping, strategic planning,
preventive coping, instrumental support seeking, dan emotional support seeking
yang dikemukakan oleh Greenglass (2001). Koefisien reliabilitas (α) skala
proactive coping sebesar 0,909 dan memiliki korelasi item-total bergerak yang dari 0,253-0,772. Sementara Skala Spiritualitas yang digunakan mengacu pada
Spiritual Transendence Scale (Piedmont, 1999). Skala ini terdiri atas tiga aspek, yaitu prayer fulfillment (pengamalan ibadah), universality (universalitas), dan
connectedness (keterkaitan) yang dikemukakan oleh Piedmont (2001). Koefisien reliabilitas (α) skala spiritualitas sebesar 0,933 dan memiliki korelasi item-total yang bergerak dari 0,268-0,789.
Metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan analisis korelasi product moment Pearson melalui prosedur bivariate correlation
dari komputer program SPSS 12.0 for Windows untuk menguji apakah terdapat hubungan antara kedua variabel. Analisis data menunjukkan adanya korelasi yang sangat signifikan sebesar 0,741 (p = 0,000 atau p < 0,01), dengan sumbangan efektif sebesar 54,9 %. Hal ini berarti, baik atau buruknya proactive coping pada survivor gempa dipengaruhi oleh tingkat spiritualitas individu, di mana spiritualitas memiliki peranan sebesar 54,9 % terhadap proactive coping
pada survivor bencana gempa bumi di Bantul.
BAB I
PENGANTAR
A. Latar Belakang Masalah
Bencana gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter telah mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya, Sabtu (27/05/2006) pukul 05:53 WIB. Bencana ini merupakan peristiwa katastropik dan traumatis terburuk yang pernah terjadi di Indonesia, setelah bencana gempa dan gelombang tsunami yang melanda Provinsi Aceh dan Sumatrera Utara di penghujung Desember 2004 yang menewaskan sekitar 170.000 jiwa (Kompas, 28/05/2006).
Gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta kali ini telah menewaskan lebih dari 6.000 jiwa serta meluluhlantakkan ribuan bangunan, infrastruktur, dan memutuskan jaringan telekomunikasi di Yogyakarta dan Bantul. Khusus wilayah Bantul, sebanyak 4.143 korban tewas dan 779.287 jiwa lainnya harus tinggal di tenda-tenda pengungsian. Adapun kerusakan rumah warga yang ditimbulkan oleh gempa adalah sebanyak 71.763 unit roboh, 71.372 unit rusak berat/sedang, serta 73.669 unit rusak ringan (http://www.portalinfaq.org).
untuk diperhatikan pula bagaimana kondisi psikis dan spiritual masyarakat Yogyakarta, terutama mereka yang secara langsung menjadi korban bencana.
Penanganan stres pada survivor akibat gempa di Yogyakarta memang tidak mudah. Pengalaman traumatis karena gempa telah menggoncangkan dan melemahkan pertahanan individu dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup sehari-hari. Apalagi kondisi trauma, kondisi fisik dan mental, aspek kepribadian masing-masing survivor tidak sama.
Masyarakat yang menjadi survivor dari suatu bencana cenderung memiliki masalah penyesuaian perilaku dan emosional. Perubahan mendadak sering membawa dampak psikologis yang cukup berat. Beban yang dihadapi oleh survivor tersebut dapat mengubah pandangan mereka tentang kehidupan dan menyebabkan tekanan pada jiwa mereka. Kejadian gempa di Yogyakarta menjadi beban dan tekanan tersendiri bagi para survivor karena musibah ini baru pertama kali dialami dan merupakan kejadian yang tidak terduga sama sekali.
Ketika melakukan pendampingan psikologis kepada beberapa survivor di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta (18-20/06/2006), penulis melihat langsung kondisi mereka. Korban luka di rumah sakit tersebut banyak yang mengalami berbagai tekanan psikologis sekaligus rasa sakit yang mendalam. Kehilangan anggota keluarga telah membuat luka psikis yang dalam. Apalagi kejadiannya begitu mendadak dan mereka menyaksikan langsung anggota keluarga yang luka maupun meninggal. Kehilangan tempat tinggal juga merupakan pukulan berat bagi mereka yang harus menyaksikan rumahnya yang dibangun dengan berbagai usaha hancur berantakan. Ada yang dengan menabung selama bertahun-tahun, hasil bekerja di luar kota maupun luar negeri, bahkan dengan pinjaman bank yang belum lunas.
Seminggu setelah bencana gempa (07/06/2006), penulis juga sempat mewawancarai beberapa warga di Pedukuhan Jombok, Desa Sumbermulyo, Bantul. Bagi beberapa survivor, kehilangan rumah yang roboh bukan sekedar kehilangan fisik bangunan semata, akan tetapi kehilangan kenangan dan sejarah. Hal ini terjadi karena banyak rumah yang sudah berumur puluhan tahun yang mempunyai nilai sejarah bagi penghuninya. Kehilangan rumah dan anggota keluarga serta masa depan yang tidak menentu membuat tekanan psikologis yang berat. Kondisi ini diperparah dengan adanya tindak pencurian dan penjarahan di tengah bencana yang membuat mereka marah dan menghancurkan kepercayaan terhadap sesama. Begitu pula dengan distribusi bantuan yang kurang merata membuat emosi mereka mudah tersulut.
Masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat sangat kompleks, seperti yang dialami oleh warga Dusun Kwasen, Piyungan, Bantul berikut ini:
1. Keputusasaan. Rasa putus asa dialami oleh beberapa anggota masyarakat karena melihat tumpukan reruntuhan yang begitu parah dan mereka bingung harus memulai dari mana untuk menata kembali kehidupan mereka. Kondisi ini menyebabkan mereka merasa tidak berdaya.
2. Marah kepada Tuhan. Hal ini disebabkan oleh adanya perasaan ketidakadilan Tuhan terhadap mereka karena kenapa Tuhan menurunkan musibah yang begitu besar kepada mereka. Apalagi sehari pasca gempa, hujan turun selama tiga hari berturut-turut. Hujan itu telah menghancurkan sebagian harta benda mereka yang tertimbun puing-puing. Selain itu, beberapa dokumen penting, seperti ijazah anak-anak mereka hanyut dan hancur. Padahal, menurut mereka, selama ini mereka tidak melakukan perbuatan yang dilarang Tuhan, bahkan kelompok pengajian berjalan rutin. 3. Individualistis. Sikap ini muncul dari orang-orang yang merasa dirinya
memiliki status sosial lebih baik dari orang lain. Seperti yang dulunya kaya, mereka tidak mau satu tenda dengan orang-orang yang tidak sama status sosial dengan dirinya. Hal ini dapat dilihat dari pengelompokkan diri mereka pada tenda-tenda tertentu atau mereka umumnya lebih memilih tinggal di tenda pribadi dan tidak mau bergabung dengan orang lain.
Sedangkan perasaan lelah terjadi karena sebagian masyarakat sudah mulai membersihkan puing-puing reruntuhan rumah mereka, baik secara individual maupun secara bersama-sama dengan kepala keluarga yang lain. Selain lelah fisik, beberapa di antara mereka mengalami lelah secara psikis. Kondisi ini terjadi karena mereka melihat orang-orang di sekelilingnya sudah mulai membersihkan reruntuhan rumahnya, sementara beberapa masyarakat belum mampu berbuat apa-apa karena faktor tenaga dan biaya yang tidak memungkinkan. Hal tersebut terpikirkan terus oleh orang tadi dan akhirnya menimbulkan kelelahan secara psikis.
5. Beberapa anak menjadi pendiam dan jarang sekali berbicara dan tertawa. Menurut informasi dari ibunya, anak tersebut mengalami perubahan sikap sejak gempa terjadi. Menurut ibunya, mungkin hal ini disebabkan karena anak itu satu-satunya anggota keluarga yang tertimbun reruntuhan dan berada di dalam rumah pada saat gempa terjadi.
6. Orangtua menjadi kurang memperhatikan anak-anaknya karena mereka masih sibuk membersihkan reruntuhan rumahnya yang roboh. Anak-anak mereka kadangkala dibiarkan saja dengan kondisinya, seperti diam, bermain sendiri, atau menangis.
7. Trauma tidak mau masuk rumah atau bangunan, meskipun bangunan atau rumah itu termasuk aman (tidak roboh) dan masih layak digunakan. Hal ini dirasakan oleh anak-anak dan ibu-ibu. Mereka lebih memilih tinggal di tenda pengungsian atau kandang hewan ternak yang sudah dibersihkan.
Berbagai masalah tersebut di atas sangat sering ditemui pada survivor
bencana alam di mana saja. Apalagi datangnya bencana tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Gejala-gejala stres yang muncul pasca-bencana adalah reaksi wajar dari pengalaman yang tidak wajar. Tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mereka memerlukan cara yang tepat untuk mengatasi masalah yang dialami. Dalam hal ini, konsep coping merupakan hal yang penting untuk dibicarakan. Konsep coping menunjuk pada berbagai upaya, baik mental maupun perilaku, untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, atau meminimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan. Dengan kata lain, coping merupakan suatu proses di mana individu berusaha untuk menanggani dan menguasai situasi yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya (Mu’tadin, 2002).
Menurut Lazarus (Taylor, 1995), cara untuk mengatasi permasalahan kehidupan adalah dengan jalan mengatur berbagai sumber masalah berdasarkan potensi yang dimilikinya. Artinya, individu akan memilih kemampuannya yang tepat dalam menghadapi masalah yang menekannya. Perilaku inilah yang biasa disebut sebagai coping.
Di Pedukuhan Suko, Desa Karang Asem, Kecamatan Pundong, Bantul, terdapat kandang sapi milik seorang warga yang sudah beralih fungsi menjadi tempat tinggal sementara. Sejak malam pertama setelah gempa, anak-anak, ibu-ibu rumah tangga, dan perempuan lanjut usia, menghabiskan malam dengan bau kotoran sapi. Sementara kaum laki-laki memberanikan diri tidur di pelataran rumah yang rusak berat. Sebenarnya sudah ada sumbangan tenda, tetapi belum mencukupi untuk semua warga. Pamong desa setempat tidak mau mengambil risiko membagikannya. Mereka khawatir dapat memicu kecemburuan karena tidak semua warga kebagian tenda (Tempo, 11 Juni 2006).
Munculnya gejala-gejala stres, seperti rasa takut, cemas, duka cita yang mendalam, tidak berdaya, putus asa, kehilangan kontrol, frustrasi sampai depresi semuanya bermuara pada kemampuan individu dalam memaknai suatu musibah secara lebih realistis. Tentu saja hal tersebut harus segera dicari pola penanganan dalam bentuk perilaku coping yang efektif agar masalahnya tidak berlarut-larut. Dalam hal ini, para survivor gempa dituntut untuk memiliki kemampuan proactive coping yang baik untuk keluar dari tekanan psikis yang dialami dan menata kembali kehidupan mereka pasca-bencana berdasarkan tujuan hidup yang hendak dicapai.
Greenglass (2001) mengungkapkan bahwa secara teoritis, proactive
coping diarahkan oleh sikap yang proaktif. Sikap tersebut merupakan kepercayaan yang relatif terus menerus ada pada setiap individu, di mana apabila terjadi perubahan-perubahan yang berpotensi mengganggu keseimbangan individu, maka sikap tersebut mampu memperbaiki diri dan lingkungannya. Lebih lanjut menurut Greenglass, dkk. (1999), proactive coping
1. Kemampuan untuk mengintegrasikan rencana, strategi-strategi preventif dengan cara proaktif untuk pengaturan diri dalam rangka mencapai tujuan. 2. Kemampuan untuk melakukan identifikasi dan menggunakan sumber-sumber
sosial dalam rangka mencapai tujuan secara proaktif.
3. Menggunakan penyelesaian masalah secara emosional dengan proaktif untuk pengaturan diri dalam rangka mencapai tujuan.
Proactive coping pada survivor bencana gempa bumi di Bantul berkisar pada usaha untuk menata kembali kehidupan mereka, seperti membangun rumah seadanya, sampai mencari dukungan emosional untuk mengurangi tekanan psikis yang mereka alami. Sampai saat penelitian ini dilakukan, masih ada warga yang tinggal di tenda-tenda ataupun di rumah gedheg (rumah bambu sementara). Bantuan dana rekonstruksi dan rehabilitasi untuk membangun kembali rumah warga korban gempa bumi di Yogyakarta belum sepenuhnya diterima. Akan tetapi, hal tersebut tidak menjadikan warga berdiam diri. Keterbatasan biaya dan tenaga tidak menghalangi mereka untuk membangun kembali rumah mereka yang rusak akibat gempa.
Ketika seseorang tertimpa suatu musibah, biasanya ia akan mendekat kepada Tuhan dengan meningkatkan ibadah dan perbuatan baik lainnya. Hal ini diperlihatkan oleh sebagian besar warga Bantul yang mengaku tawakal dengan memasrahkan segalanya kepada Tuhan. Mereka bersyukur masih diberi keselamatan, sehingga menjadikan mereka semakin dekat kepada Tuhan serta menyadari berbagai dosa dan kesalahan yang telah diperbuat selama ini. Bencana gempa ditafsirkan sebagai peringatan keras Tuhan kepada manusia yang telah lama berkubang dalam dosa dan dusta (Maarif, 2006).
Kenyataan tersebut mengingatkan bahwa manusia adalah satu kesatuan utuh yang meliputi sisi psikologis, sosial, dan spiritual. Menurut Bastaman (1995), untuk dapat memahami manusia seutuhnya, baik dalam keadaan sehat maupun sakit, pendekatan yang digunakan mestinya tidak lagi memandang manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosial (jasmani, psikologis, dan sosial), melainkan manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosio-spiritual (jasmani, psikologis, sosial, dan spiritual). Dalam konteks ini, penting untuk diperhatikan bagaimana kondisi spiritualitas para survivor bencana gempa bumi di Bantul.
Secara eksplisit, Piedmont (2001) memandang spiritualitas sebagai rangkaian karakteristik motivasional (motivational trait); kekuatan emosional umum yang mendorong, mengarahkan, dan memilih beragam tingkah laku individu. Richards, dkk. (1999) mendefinisikan spiritualitas sebagai suatu bagian dalam diri seseorang yang menghasilkan arti dan tujuan hidup, yang terungkap dalam pengalaman-pengalaman transendental individu dan hubungannya dengan ajaran-ajaran ketuhanan (universal order).
yang diperoleh melalui kesadaran dimensi transendental yang ditandai oleh nilai-nilai yang mampu diidentifikasi baik yang datang dari diri sendiri, orang lain, alam, kehidupan maupun nilai-nilai yang mengarahkan orang untuk mencapai tujuan puncak (Ultimate).
Sementara itu bagi seorang muslim, spiritualitas adalah perasaan tunduk dan berserah diri pada Sang Pencipta; pada kekuasaan dan ilmu-Nya, yang muncul lantaran kesadarannya terhadap hubungannya dengan Tuhan. Spiritualitas yang meningkat akan menjadikan seorang muslim senantiasa hidup dalam suasana iman. Dia pun akan semakin tegas dan konsisten dalam sikap dan langkah hidupnya. Dia akan semakin terikat dengan aturan Sang Pencipta dengan perasaan ridha dan tenteram. Perasaan itu akan menjadikannya kuat dalam menghadapi segala persoalan hidup. Selain itu, spiritualitas seorang muslim akan menimbulkan rasa takut kepada Allah (khasyiatullah). Rasa takut tersebut menjadikannya memiliki kekuatan dan ketegaran yang luar biasa (http://www.hizbut-tahrir.or.id).
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah yang menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini adalah: “Apakah ada hubungan antara spiritualitas dengan proactive coping pada survivor
bencana gempa bumi di Bantul?”
B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris ada atau tidaknya hubungan antara spiritualitas dengan proactive coping pada survivor
bencana gempa bumi di Bantul.
C. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat untuk menambah kajian spiritualitas dalam hubungannya dengan proactive coping pada survivor bencana gempa bumi di Bantul, serta memberi wacana baru bagi khasanah pengembangan kajian psikologi Islami, khususnya usaha yang berkenaan dengan peningkatan spiritualitas, serta memberi informasi tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan aktivitas spiritual dan dinamika pembentuknya.
2. Manfaat Praktis
D. Keaslian Penelitian
Sepanjang pengetahuan penulis, penelitian tentang proactive coping
belum banyak dilakukan. Pandu (2006) meneliti hubungan antara kematangan emosi dengan proactive coping pada mahasiswa berorganisasi. Penelitian tersebut memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis dalam hal variabel tergantung serta teori dan alat ukur penelitian, yaitu proactive coping yang mengacu pada teori yang dikembangkan oleh Greenglass (2001). Perbedaannya terletak pada variabel bebas dan subjek penelitian. Variabel bebas dalam penelitian tersebut adalah kematangan emosi, sedangkan penulis akan menggunakan spiritualitas sebagai variabel bebas. Adapun subjek dalam penelitian tersebut adalah mahasiswa yang aktif pada Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Indonesia, sedangkan subjek dalam penelitian penulis adalah survivor bencana gempa bumi di Bantul.
Nisa’ (2006) meneliti proactive coping mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir ditinjau dari self-efficacy. Penelitian tersebut memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis dalam hal variabel tergantung serta teori dan alat ukur penelitian, yaitu proactive coping
yang mengacu pada teori yang dikembangkan oleh Greenglass (1999). Perbedaannya terletak pada variabel bebas dan subjek penelitian. Variabel bebas dalam penelitian tersebut adalah self-efficacy, sedangkan penulis akan menggunakan spiritualitas sebagai variabel bebas. Adapun subjek dalam penelitian tersebut adalah mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang sedang mengerjakan tugas akhir, sedangkan subjek dalam penelitian penulis adalah
Penelitian lain yang menggunakan proactive coping sebagai salah satu variabel penelitian juga dilakukan di luar negeri. Greenglass (2001) meneliti hubungan antara proactive coping dengan stres kerja (burnout). Penelitian tersebut memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis dalam hal variabel tergantung serta teori dan alat ukur penelitian, yaitu proactive coping yang mengacu pada teori yang dikembangkan oleh Greenglass (1999) berdasarkan teori Aspinwall & Taylor (1997). Perbedaannya terletak pada variabel bebas dan subjek penelitian. Variabel bebas dalam penelitian tersebut adalah stres kerja (burnout), sedangkan variabel bebas yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini adalah spiritualitas. Adapun subjek dalam penelitian tersebut adalah para pekerja di sebuah kota besar di Kanada, sedangkan subjek dalam penelitian penulis adalah survivor bencana gempa bumi di Bantul.
Schwarzer & Taubert (2002) meneliti hubungan antara proactive coping
dengan self-efficacy, self-regulation, dan procrastination. Penelitian tersebut memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis dalam hal variabel tergantung serta teori dan alat ukur penelitian, yaitu proactive coping
yang mengacu pada teori yang dikembangkan oleh Greenglass (2001). Perbedaannya terletak pada variabel bebas dan subjek penelitian. Variabel bebas dalam penelitian tersebut adalah self-efficacy, self-regulation, dan
procrastination, sedangkan variabel bebas yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini adalah spiritualitas. Adapun subjek dalam penelitian tersebut adalah para guru di Jerman, sedangkan subjek dalam penelitian penulis adalah survivor
bencana gempa bumi di Bantul.
Sundberg (2005) meneliti tentang hubungan antara proactive coping
Penelitian tersebut memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh proactive coping yang mengacu pada teori yang dikembangkan oleh Greenglass (2001). Perbedaannya terletak pada variabel bebas dan subjek penelitian. Variabel bebas dalam penelitian tersebut adalah kepuasan kerja, ketidakhadiran, keterlambatan dan prestasi kerja, sedangkan variabel bebas yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini adalah spiritualitas. Adapun subjek dalam penelitian tersebut adalah para perawat di Rumah Sakit Midwestern, Inggris, sedangkan subjek dalam penelitian penulis adalah survivor
bencana gempa bumi di Bantul.
Penulis sendiri akan meneliti hubungan antara spiritualitas dengan
proactive coping pada survivor bencana gempa bumi di Bantul. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menggunakan skala dalam proses pengumpulan data. Variabel penelitian adalah spiritualitas dan proactive coping pada survivor bencana gempa bumi. Sedangkan subjek penelitian adalah
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Proactive Coping
1. Pengertian Coping
Dalam menghadapi masalah, konsep coping merupakan hal yang penting untuk dibicarakan. Konsep coping digunakan untuk menjelaskan hubungan antara masalah dengan perilaku individu dalam menghadapi masalah tersebut. Kata coping itu sendiri berasal dari kata cope yang dapat diartikan sebagai menghadapi, melawan, ataupun mengatasi. Walaupun demikian, belum ada istilah yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk mewakili istilah ini.
Pengertian coping hampir sama dengan adjusment (penyesuaian). Bedanya, adjusment mengandung pengertian yang lebih luas jika dibandingkan dengan coping, yaitu semua reaksi terhadap tuntutan, baik yang berasal dari lingkungan maupun dari dalam diri seseorang. Sedangkan coping dikhususkan pada bagaimana seseorang mengatasi tuntutan yang menekan (Lazarus, 1976).
Sementara itu, Shin, dkk. (1984) mengungkapkan bahwa coping adalah usaha untuk mengurangi stres dan tekanan perasaan. Tekanan tersebut bisa terjadi karena adanya hal-hal atau masalah-masalah yang tidak dapat terpecahkan. Oleh karena itu, coping berfungsi untuk menyeimbangkan emosi individu dalam situasi yang penuh dengan tekanan (Solomon, dkk. 1988).
sehingga ia harus melakukan penyeimbangan dalam usaha untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan (Sarafino, 1990).
Sedangkan Keliat (1998) mendefinisikan coping sebagai cara yang dilakukan oleh individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, dan merespon situasi yang mengancam. Upaya individu tersebut dapat berupa perubahan pola pikir (kognitif), perubahan perilaku (afeksi), atau perubahan lingkungan yang bertujuan untuk mengatasi stres yang dihadapi. Perilaku coping yang efektif akan menghasilkan adaptasi.
Coping menurut Miller (Folkman & Lazarus, 1988) didefinisikan sebagai perilaku-perilaku yang dipelajari yang membantu untuk kelangsungan hidup dalam menghadapi bahaya yang mengancam. Baron & Byrne (1991) mengemukakan bahwa coping adalah respon terhadap stres, yaitu apa yang dilakukan oleh individu yang dirasakan dan dipikirkannya untuk mengontrol dan mengurangi efek negatif dari situasi yang dihadapi. Levine (Garmezy & Rutter, 1983) menyatakan bahwa coping merupakan proses aktif yang terjadi karena usaha untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang menekan.
Namun pada umumnya, para ahli mendefinisikan istilah coping dengan mengacu pada konsep Lazarus. Menurut Lazarus & Folkman (1984), coping
merupakan usaha-usaha yang meliputi tindakan dan usaha-usaha intrafisik untuk mengatur tuntutan-tuntutan lingkungan maupun internal serta konflik-konflik yang dinilai dapat membebani atau melampaui potensi yang dimiliki oleh individu. Proses pengaturan tersebut meliputi usaha untuk menguasai, mengurangi, mentoleransi, dan meminimalkan tuntutan yang dihadapi oleh individu.
dalam menghadapi tuntutan, baik yang bersifat internal maupun eksternal yang membebani atau melampaui kemampuan yang dimiliki oleh individu. Usaha-usaha tersebut meliputi bagaimana menguasai, mengurangi, mentoleransi, dan meminimalkan tuntutan yang ada.
2. Fungsi Coping
Taylor (1995) mengungkapkan bahwa coping berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan emosi, mempertahankan self image yang positif, mengurangi tekanan lingkungan atau menyesuaikan diri terhadap kejadian yang negatif, dan tetap menjaga interaksi dengan orang lain.
Sementara itu, Pearlin dan Schoaler (Siegel & Smith, 1991) mengemukakan bahwa fungsi coping meliputi usaha untuk:
1. Menghilangkan atau mengubah situasi yang menyebabkan masalah.
2. Mengendalikan makna dari situasi yang dialami, sehingga situasi tersebut menjadi kurang bermasalah.
3. Menerima konsekuensi emosional dalam batas yang dapat diatur.
Sedangkan White (Lazarus & Folkman, 1984) menyebutkan beberapa fungsi coping yang pada dasarnya tidak berbeda dengan pendapat Pearlin dan Schoaler di atas, yaitu:
a. Menyimpan informasi mengenai lingkungan yang dihadapi.
b. Memelihara kondisi internal dengan sebaik-baiknya agar dapat memproses informasi tersebut dan merencanakan tindakan yang diperlukan.
3. Pengertian Proactive Coping
Aspinwall dan Taylor (1997) mengungkapkan bahwa perilaku proaktif merupakan suatu proses di mana seseorang mengantisipasi penyebab stres yang berpotensi mengganggu keseimbangan emosinya dan bertindak dalam rangka mencegah hal tersebut terjadi dalam dirinya.
Menurut Schwarzer (Greenglass, 2001), proactive coping adalah suatu pencapaian tujuan menuju sikap mandiri dan perbaikan diri dengan berusaha merealisasikan tujuan tersebut melalui proses pengaturan diri untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan menjelaskan apa yang memotivasi seseorang dalam mencapai tujuan tersebut, serta berkomitmen terhadap diri sendiri untuk memanajemen kualitas pribadi.
Sementara itu, Greenglass (2001) mendefinisikan proactive coping
sebagai strategi coping yang multidimensional dan lebih banyak melihat pada pencapaian tujuan akhir. Proactive coping memfokuskan pada perbaikan kualitas hidup (personal quality of life management) dengan menggabungkan elemen-elemen psikologi positif. Lebih jauh menurut Greenglass, proactive coping
mengintegrasikan proses dari kualitas personal dalam memanajemen kehidupan dengan pengaturan diri (self regulatory) untuk mencapai tujuan. Proactive coping
ditunjukkan dengan tiga hal utama, yaitu:
a. Kemampuan untuk mengintegrasikan rencana dan strategi-strategi preventif dengan cara proaktif untuk pengaturan diri dalam rangka pencapaian tujuan. b. Kemampuan untuk melakukan identifikasi dan menggunakan sumber-sumber
sosial (social resources) untuk mencapai tujuan secara proaktif.
Proactive coping berbeda dengan konsep coping yang sifatnya tradisional. Hal ini dibedakan Greenglass (2001) dalam tiga hal, yaitu:
a. Coping tradisional (reactive coping) cenderung menjadi coping yang sifatnya reaktif ketika berhadapan dengan kejadian-kejadian penyebab stres yang telah terjadi di masa lampau dengan mengganti kehilangan dan mengurangi kerugian yang dialami. Sedangkan proactive coping lebih melihat orientasi ke masa depan yang terdiri dari usaha-usaha untuk mengembangkan sumber-sumber umum (general resources) atau potensi yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang menantang dan pertumbuhan personal.
b. Coping tradisional (reactive coping) lebih memperhatikan manajemen resiko yang dihadapi, sedangkan proactive coping lebih memperhatikan manajemen tujuan. Pada proactive coping, individu memiliki visi, di mana mereka melihat resiko serta tuntutan dan peluang di masa depan. Akan tetapi, mereka tidak melihat situasi yang sulit tersebut sebagai sesuatu yang mengancam atau merugikan, bahkan rasa kehilangan. Lebih dari itu, mereka melihat situasi sulit sebagai sesuatu yang menantang bagi dirinya.
c. Motivasi yang terdapat dalam proactive coping lebih bersifat positif daripada
coping tradisional. Hal tersebut dapat dilihat dari penerimaan situasi sebagai hal yang menantang dan membangkitkan semangat, sedangkan coping
tradisional (reactive coping) lebih melihat penilaian pada resiko yang dihadapi. Sebagai contoh, coping tradisional melihat tuntutan lingkungan dari sisi negatif, yakni sebagai ancaman atau hambatan.
a. Reactive Coping, yakni usaha individu untuk menghadapi situasi stres yang telah terjadi, bahkan yang sedang terjadi. Coping ini dilakukan untuk mengurangi sesuatu yang membahayakan. Ketika coping ini dilakukan, individu biasanya memfokuskan diri pada masalah yang dihadapi, pada emosi personal, maupun fokus pada hubungan sosialnya.
b. Anticipatory Coping, yakni usaha individu untuk menghadapi ancaman yang akan mengancam dirinya. Resiko yang dihadapi ketika coping ini digunakan adalah kemungkinan akan menyebabkan kerugian dan kehilangan atas sesuatu. Coping ini dapat juga dimaknai sebagai manajemen untuk mengetahui resiko, termasuk di dalamnya penanaman sumber-sumber kemampuan diri (investing one’s resources) untuk mencegah dan melawan sumber stres, atau memaksimalkan pengharapan yang menguntungkan. c. Preventive Coping, yakni usaha individu untuk membangun sumber-sumber
pertahanan umum (general resistance resources) untuk mengurangi kemungkinan stres yang hendak menyerang seseorang.
d. Proactive Coping, yakni usaha individu untuk membangun sumber-sumber yang memfasilitasi seseorang dalam pencapaian tujuan (challenging goals) dan pertumbuhan personal (personal growht). Sumber-sumber tersebut meliputi: strategi penanganan masalah, kepribadian individu, seperti self
efficacy, dan dukungan sosial.
Berdasarkan penjelasan para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
efikasi diri individu dalam melihat resiko, di mana tuntutan dan hambatan yang ada selama proses pencapaian tujuan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang menantang dan bukan sebagai ancaman.
4. Aspek-aspek Proactive Coping
Greeglass, Schwarzer, Jakubiec, Fiksenbaum, dan Taubert (Greenglass, 2001) mengungkapkan bahwa proactive coping terdiri dari enam aspek, yaitu: 1. Proactive Coping, yakni mekanisme pengatasan masalah yang
mengkombinasikan potensi kognitif dan perilaku individu untuk mencapai tujuan (goal attainment) dengan cara mengatur diri.
2. Reflective Coping, yakni mekanisme penanganan masalah yang mengacu pada ranah kognitif secara maksimal untuk berimajinasi (imagined effectiveness) ataupun melakukan refleksi atas pengalaman yang telah lalu berkaitan dengan pencarian solusi. Individu mengingat dan meniru alternatif tindakan yang memungkinkan untuk dilakukan dengan membandingkan apa yang ada di pikirannya, seperti melakukan brainstorming, menganalisa masalah dan sumber-sumber yang ada, serta memikirkan segala kemungkinan hasil akhir yang akan dicapai.
3. Strategic Planning, yakni strategi pengatasan masalah yang memfokuskan pada proses pencapaian tujuan yang berorientasi pada aksi yang telah terjadwal dan telah disusun dengan cara memilah-milah masalah menjadi beberapa bagian masalah yang lebih kecil.
usaha memaksimalkan potensi diri, yaitu dari pengalaman, antisipasi-antisipasi, dan pengetahuan yang dimiliki.
5. Instrumental Support Seeking, yakni strategi pengatasan masalah yang memfokuskan pada masalah yang dihadapi dengan pencarian dukungan berupa nasihat atau masukan dari orang lain, informasi-informasi yang ada, dan mendapatkan timbal balik dari orang lain ketika dalam keadaan tertekan atau ketika menghadapi masalah.
6. Emotional Support Seeking, yakni strategi pengatasan masalah yang berupa pencarian dukungan emosional ketika dalam keadaan stres atau tertekan dengan lebih memfokuskan pada pencarian dukungan emosional untuk mengatur diri daripada pemecahan masalah itu sendiri. Strategi ini dilakukan melalui pendekatan perasaan, membangkitkan empati, dan mencari dukungan emosional dari orang-orang terdekat.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa proactive coping teridiri atas enam aspek, yaitu proactive coping, reflective coping,
preventive coping, strategic coping, instrumental support seeking, dan emotional support seeking.
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proactive Coping
1. Faktor Internal
Bandura (O’Brien, 2003) mengungkapkan bahwa self efficacy merupakan keyakinan individu tentang kemampuan dirinya dalam melaksanakan tugas atau melakukan suatu tindakan yang diperlukan untuk mencapai suatu hasil tertentu. Sementara itu, dalam Encyclopedia of Psychology (Kazdin, 2002) menjelaskan
self efficacy sebagai kepercayaan diri individu pada kemampuan yang dimilikinya untuk memberikan kontrol pada semua kejadian yang akan mempengaruhi hidupnya. Kepercayaan diri tersebut akan lebih menguatkan individu untuk menyelesaikan masalah yang ada dalam kehidupannya. Akan tetapi, bila individu merasa tidak percaya akan kemampuan yang ada pada dirinya dalam menyelesaikan masalah, maka hal tersebut akan menyulitkan individu untuk menyelesaikan masalah. Hal tersebut terjadi karena dari dirinya sendiri sudah merasa tidak mampu untuk melakukan penguatan keyakinan bahwa sebenarnya individu tersebut mampu menyelesaikan masalah yang ia hadapi.
yang harus dihadapi. Orang yang optimis percaya bahwa apa yang menjadi tujuan hidupnya pasti akan dapat tercapai (Greeanglass, 2001).
2. Faktor Eksternal
Para ahli berpendapat bahwa dukungan sosial dapat disimpulkan sebagai transaksi interpersonal yang ditunjukkan dengan memberikan bantuan kepada individu lain, di mana bantuan tersebut diperoleh dari orang yang berarti bagi individu yang bersangkutan. Dukungan sosial tersebut dapat berupa pemberian informasi, pemberian bantuan tingkah laku atau materi yang diperoleh dari hubungan sosial yang akrab, atau hanya disimpulkan dari keberadaan mereka yang membuat individu merasa diperhatikan, bernilai, dan dicintai (Sarason, 1983). Bentuk-bentuk dukungan sosial yang diterima oleh individu dapat berupa perhatian emosional, dukungan instrumental yang berupa penyediaan sarana, dukungan informasi, dan penilaian positif.
Dukungan sosial dapat berasal dari keluarga dan lingkungan sekitar. Orang yang memperoleh dukungan sosial yang tinggi akan mengalami hal yang positif dalam kehidupannya, mempunyai harga diri yang lebih tinggi, dan mempunyai pandangan yang lebih optimistis terhadap kehidupannya dibandingkan dengan orang yang mendapatkan dukungan sosial yang rendah.
kehidupan yang berpotensi penuh stres. Melalui dukungan sosial, kesejahteraan psikologis akan meningkat karena adanya perhatian dan pengertian yang akan menimbulkan perasaan memiliki, meningkatkan harga diri, dan kejelasan identitas diri, serta memiliki perasan positif mengenai diri sendiri.
B. Spiritualitas
1. Pengertian Spiritualitas
Istilah spiritualitas sudah jamak digunakan secara luas. Namun demikian, istilah ini memiliki makna yang beragam, tergantung pada waktu, tempat, dan bidang keilmuan di mana istilah ini digunakan. Menurut Stoll (Emmons, 2000), deskripsi dari spiritualitas sangat beragam dan hampir tidak ada satu definisi yang disepakati bersama. Oleh karena itu, definisi spiritualitas tergantung pada perspektif apa yang digunakan.
Secara terminologis, spiritualitas berasal dari kata “spirit”. Dalam literatur agama dan spiritualitas, istilah spirit memiliki dua makna substansial, yaitu:
a. Karakter dan inti dari jiwa-jiwa manusia, yang masing-masing saling berkaitan, serta pengalaman dari keterkaitan jiwa-jiwa tersebut yang merupakan dasar utama dari keyakinan spiritual. “Spirit” merupakan bagian terdalam dari jiwa, dan sebagai alat komunikasi atau sarana yang memungkinkan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan.
b. “Spirit” mengacu pada konsep bahwa semua “spirit” yang saling berkaitan merupakan bagian dari sebuah kesatuan (conciousness and intellect) yang lebih besar (http://www.wikipedia.com).
dimaksud dengan spiritualitas dan apa yang dimaksud dengan agama sering dianggap sama dan kadang membingungkan. Namun kemudian, spiritualitas telah dianggap sebagai karakter khusus (connotations) dari keyakinan seseorang yang lebih pribadi, tidak terlalu dogmatis, lebih terbuka terhadap pemikiran-pemikiran baru dan beragam pengaruh, serta lebih pluralistik dibandingkan dengan keyakinan yang dimaknai atau didasarkan pada agama-agama formal (http://www.wikipedia.com).
Spiritualitas merupakan sebuah bentuk multidimensi dan dinamis. Emmons (2000) mengatakan bahwa sangatlah terlalu sederhana untuk menganggap spiritualitas sebagai tingkah laku yang pasif dan statis yang dimiliki seseorang, atau perilaku yang terikat di dalamnya, seperti ritual-ritual. Dia memandang spiritualitas sebagai sebuah rangkaian keahlian (skills), kekayaan (resources), kekuatan (capacities), atau kemampuan-kemampuan (abilities) yang memungkinkan seseorang untuk bisa memecahkan masalah serta mencapai tujuan-tujuan di dalam kehidupan mereka sehari-hari. Berdasarkan alasan-alasan tersebut, Emmons berpendapat bahwa spiritualitas dapat dipahami sebagai sebuah bentuk dari kecerdasan.
kehidupan. Spiritualias merupakan suatu hubungan dengan diri sendiri, orang lain serta sesuatu yang mutlak yang melewati dan melampaui ruang dan waktu.
Sejalan dengan definisi ini, Larson (2003) menyatakan bahwa spiritualitas mengacu kepada orientasi seseorang terhadap pengalaman-pengalaman transedensi atau karakteristik hakiki dari kehidupan, seperti makna, arah dan tujuan hidup, serta keterkaitannya. Kadang-kadang spiritulitas mengacu pada pencarian hal-hal suci dalam kehidupan.
Transendensi mengacu pada kemampuan seseorang untuk melibatkan diri dalam wujud kesadaran yang luar biasa dan mampu melampaui batasan-batasan umum dalam wujud fisik (the ordinary limits of physicality). Lebih jauh Emmons (2000) menjelaskan bahwa kemampuan tersebut mengacu kepada kemampuan melampai kondisi fisik untuk menciptakan sebuah kesadaran diri yang tinggi. Adapun Piedmont (2001) mengambarkan transedensi sebagai kemampuan mendasar yang dimiliki oleh individu yang memudahkannya untuk merasakan keterpaduan hidup serta untuk mengembangkan ikatan kemanusiaan yang tidak dapat dihilangkan.
Kedua, kemampuan untuk memasuki kondisi kesadaran spiritual yang lebih tinggi (heightened spiritual states of consciusness). Komponen tersebut membentuk sebuah kesadaran akan realitas tertinggi yang menciptakan perasaan bersatu dengan orang lain tanpa adanya batasan-batasan, seperti perbedaan suku dan lainnya.
ketuhanan. Studi modern menemukan bahwa terdapat konsekuensi-konsekuensi penting dari kemampuan ini. Emmons menyebutkan penemuan Mahoney, dkk. (Smith, 1994) yang mengungkapkan bahwa bila pasangan yang menikah memandang hubungan mereka sebagai hal yang suci, mereka dikatakan memiliki tingkat kepuasan yang lebih besar pada pernikahannya, tingkah laku yang lebih mendukung pemecahan masalah, konflik-konflik pernikahan makin sedikit, serta komitmen yang lebih besar terhadap sebuah hubungan pernikahan, dibandingkan dengan pasangan-pasangan yang sudah menikah tetapi tidak memandang pernikahan sebagai hal yang suci.
Sebagai bentuk kecerdasan, penyucian diri dilihat sebagai bentuk keahlian yang membawa seseorang mampu memecahkan masalah serta bertingkah laku secara tepat. Emmons (2000) mengatakan bahwa ketika seseorang melakukan kegiatan dengan perasaan yang suci, mereka menjadi semakin kuat dan lebih mampu untuk menemukan makna, dibandingkan dengan mereka yang tidak menganggap kegiatan mereka sebagi hal yang suci. Penemuan-penemuan yang ada mengindikasikan bahwa bila orientasi hidup masyarakat mengacu pada kepeduliannya yang mutlak. Mereka cenderung untuk mengalami rasa kebermaknaan (meaningfulness), pengamalan (fulfillment), dan kesatuan pribadi (personal integration).
serta memilih dan menerapkan sebuah rencana tindakan yang tepat. Emmons (2000) mengatakan bahwa spiritualitas dapat memprioritas-ulangkan tujuan-tujuan (reprioritization of goals). Terlebih lagi, pribadi yang spiritual lebih mudah menyesuaikan diri pada saat menangani kejadian-kejadian traumatis; mereka juga lebih bisa menemukan makna dalam krisis traumatis dan memperoleh panduan untuk memutuskan hal-hal tepat apa saja yang harus dilakukan.
Kelima, kemampuan untuk bertingkah laku yang baik, seperti menunjukan rasa belas kasihan, mengungkapkan rasa terima kasih, menunjukkan rasa malu, menunjukkan kasih sayang, dan menunjukkan rasa rela berkorban atas nama kasih (Emmons, 2000). Hal ini mensyaratkan sebuah pola tingkah laku yang konsisten untuk menjadi lebih baik. Sikap dan tingkah laku yang baik menjadi sumber kekuatan manusia yang akan memudahkan masyarakat untuk berperan dengan tepat dalam kehidupannya.
Beberapa ahli menyamakan konsep spiritualitas dengan agama atau praktik-praktik keagamaan (Emblen & Halstead, 1993; dalam Smith, 1994). Menurut mereka, spiritualitas tidak bertentangan dengan agama, tetapi spiritualitas merupakan fenomena yang lebih inklusif. Bagi beberapa individu, spiritualitas bisa dihubungkan serta diungkapkan melalui agama formal, sedangkan bagi sebagian individu yang lain, spiritualitas dianggap tidak berkaitan dengan keyakinan-keyakinan keagamaan ataupun afiliasi keagamaan yang lainnya (Elkins, dkk. 1998, dalam Smith 1994).
individu untuk memahami sebuah makna yang luas akan pemaknaan pribadi dalam konteks kehidupan setelah mati (eschatological). Hal ini berarti bahwa sebagai manusia, kita sepenuhnya sadar akan kematian (mortality). Dengan demikian, kita akan mencoba sekuat tenaga untuk membangun beberapa pemahaman akan tujuan dan pemaknaan akan hidup yang sedang kita jalani.
Dalam terminologi Islam, konsep spiritualitas berhubungan langsung dengan Alquran dan Sunnah Nabi. Nasr (1994) menyatakan bahwa ayat-ayat Alquran dan perilaku Nabi Muhammad mengandung praktik-praktik serta makna-makna spiritual. Alquran maupun Sunnah Nabi mengajarkan beragam cara untuk meraih kehidupan spiritual yang tertinggi. Dalam sejarah Islam, aspek tradisi ini dikenal sebagai ath-thariqah ila-Allah (jalan menuju Tuhan), yang sekarang lebih dikenal dengan nama tasawuf. Tasawuf bertujuan untuk mempertahankan nilai-nilai Alquran dan Sunnah Nabi melalui sikap hidup yang baik. Hal ini menyangkut kesucian batin dalam segala aspek, menjaga kejujuran, ketulusan, kesungguhan, kesederhanaan, kepedulian, serta kemampuan untuk mencari dan memahami substansi Islam dalam maknanya yang paling dalam.
Transendensi bisa jadi merupakan kualitas tertinggi dari kehidupan spiritual. Istilah transendensi oleh para teolog dan kalangan religius biasanya diartikan sebagai suatu yang berada di balik dunia fisik. Menurut Zohar & Marshall (2001), transendensi merupakan sesuatu yang membawa seseorang untuk mengatasi masa kini, mengatasi rasa suka atau duka, bahkan mengatasi dirinya pada saat ini, dan membawanya melampaui batas-batas pengetahuan dan pengalaman, serta menempatkannya ke dalam konteks yang lebih luas. Transendensi memberi kita kesadaran akan sesuatu yang luar biasa dan tak terbatas, baik yang berada di dalam diri maupun di alam sekitar kita.
Sementara itu, Klass (Thoresen, 1998), serta Prest dan Keller (Richards, dkk. 1999) mendefinisikan pengalaman spiritual sebagai:
a. Pengalaman pribadi yang mendalam tentang penyatuan diri dengan dengan sesuatu di luar dirinya yang membebaskan terjadinya transendensi individu (individual transcendence), dan
b. Kemampuan untuk merasakan adanya kekuatan yang lebih besar dari diri sendiri, di mana diri sendiri itu menjadi salah satu bagiannya.
Menurut Holt, dkk. (2003), sedikitnya ada dua bentuk dimensi dari spiritualitas, yaitu:
a. Dimensi keimanan (the beliefs dimension) yang melibatkan keyakinan spiritual dan aktivitas yang tak kasat mata. Misalnya, merasakan hubungan yang dekat dengan Tuhan.
Elkins, dkk. (Smith 1994) mendeskripsikan spiritualitas dari perspektif humanis dan eksistensial dengan menciptakan definisi dari tulisan-tulisan Maslow, Dewey, dan Frankl tentang potensi-potensi positif manusia. Elkins, dkk. kemudian memandang spiritualitas sebagai suatu fenomena yang secara potensial berada di dalam diri setiap manusia. Menurut mereka, spiritualitas dapat diartikan sebagai jalan untuk menjadi dan mengalami kesadaran spiritual yang diperoleh melalui kesadaran dimensi transendental yang ditandai oleh nilai-nilai yang mampu diidentifikasi baik yang datang dari diri sendiri, orang lain, alam, kehidupan maupun nilai-nilai yang mengarahkan seseorang orang untuk mencapai tujuan puncak (Ultimate).
Berdasarkan uraian di atas, maka definisi yang paling integratif untuk digunakan dalam penelitian ini adalah berdasarkan konsep Piedmont (2001) yang mendefinisikan spiritualitas sebagai usaha individu untuk memahami sebuah makna yang luas akan pemaknaan pribadi dalam konteks kehidupan setelah mati (eschatological). Definisi ini dipakai karena berkaitan dengan pemahaman survivor gempa akan tujuan dan pemaknaan kehidupan berdasarkan kesadaran akan kematian (mortality).
2. Aspek-aspek Spiritualitas
Elkins, dkk. (Smith 1994) menjelaskan spritualitas sebagai sebuah bentuk multidimensi yang dibangun dari sembilan aspek utama, yaitu:
b. Makna dan tujuan dalam hidup (meaning and purpose in life), yakni setiap orang memiliki tujuan hidup yang muncul dari sebuah proses pencarian makna secara terus menerus.
c. Misi dalam hidup (mission in life), yakni memiliki rasa tanggung jawab terhadap hidup dengan memahami bahwa eksistensi dirinya terdiri dari beragam kewajiban yang harus dijalani.
d. Kesucian dalam hidup (sacredness of life), yakni meyakini bahwa semua kehidupan dan semua hal di dalamnya adalah suci.
e. Nilai-nilai kebendaan (material values), yakni menyadari bahwa kepuasan dan kebahagiaan tertinggi berasal dari nilai-nilai spiritual, bukan berasal dari hal-hal yang bersifat kebendaan.
f. Altruisme (altruism), yakni menyakini keadilan sosial, dan menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang dapat hidup tanpa adanya interaksi sosial dengan orang lain.
g. Idealisme (idealism), yakni menghormati potensi-potensi positif dalam semua aspek kehidupan seseorang.
h. Kesadaran akan kemampuan tinggi untuk berempati (awareness of high
emphatic capacity), yakni kesadaran yang mendalam untuk mengambil makna dari rasa sakit, penderitaan, serta kematian; bahwa hidup itu bernilai. i. Manfaat spiritualitas (fruits of spirituality), yakni nilai-nilai spiritualitas bisa
diwujudkan dalam hubungan dengan diri sendiri, orang lain, dan alam.
Smith (1994) merangkum sembilan aspek spiritualitas yang diungkapkan oleh Elkins, dkk. tersebut menjadi empat aspek sebagaimana berikut:
b. Memiliki sebuah komitmen terhadap aktualisasi potensi-potensi positif dalam setiap aspek kehidupan. Hal ini mencakup kesadaran bahwa nilai-nilai spiritual menawarkan kepuasan yang lebih besar dibandingkan nilai-nilai material, serta spiritualitas memiliki hubungan integral dengan seseorang, diri sendiri, dan semua orang.
c. Menyadari akan keterkaitan dalam kehidupan. Hal ini mencakup kesadaran akan musibah dalam kehidupan dan tersentuh oleh penderitaan orang lain. d. Meyakini bahwa berhubungan dengan dimensi transendensi adalah
menguntungkan. Hal ini mencakup perasaan bahwa segala hal dalam hidup adalah suci.
Manifestasi utama yang pertama dari spiritualitas adalah perasaan yakin bahwa hidup itu sangat bermakna. Rogers (Smith, 1994) menyatakan bahwa dalam proses evolusi, pencarian orang akan makna memasuki dimensi baru. Elkins, dkk. (Smith, 1994) menggambarkan pribadi spiritual sebagai seseorang yang telah memahami kebutuhan akan pemaknaan dan tujuan hidup, serta telah memunculkan kepercayaan bahwa hidup sangat bermakna dan eksistensi diri seseorang memiliki tujuan.
Carson (Smith, 1994) membedakan perkembangan spiritual dari perkembangan religius. Dia melihat bahwa pertumbuhan spiritualitas sebagai sebuah proses dinamis, di mana individu menjadi bertambah sadar akan makna, tujuan, dan nilai-nilai dalam kehidupan. Secara singkat, Stoll (Emmons, 2000) mendeskripsikan spiritualitas sebagai pembawa makna dan tujuan dalam kehidupan seseorang.
Manifestasi utama yang kedua dari spiritualitas adalah komitmen terhadap aktualisasi dari potensi positif individu di semua aspek kehidupan. Maslow (Hall & Lindsay, 1997), memandang kehidupan sebagai sebuah proses yang sedang berjalan dari pilihan-pilihan yang ada. Maslow juga mendeskripsikan pergerakan ke arah aktualisasi diri dapat menciptakan pilihan-pilihan yang lain. Stoll (Smith, 1994) mendeskripsikan spiritualitas dengan istilah gerakan mengalir: kadang kala tenang, kadang bergelombang, dan sesekali menjadi gelombang tinggi dari ‘pengalaman-pengalaman puncak’ terhadap pemenuhan kebutuhan seseorang. Stoll menyakini bahwa spiritualitas seperti dimensi psikologi manusia lainnya yang selalu dapat berubah.
Elkins (Smith, 1994) mengkategorikan altruisme sebagai sebuah ekspresi spiritualitas. Ia menggambarkan hal ini seperti perasaan tersentuh oleh kepedihan dan penderitaan orang lain, serta memiliki perasaan yang kuat terhadap keadilan sosial (social justice). Banks, Poehler, dan Russell (Smith, 1994) mengungkapkan bahwa perasaan ketiadaan diri (selflessness) dan perasaan bagi orang lain sebagai ekspresi spiritualitas, yakni sebuah keinginan untuk berbuat lebih kepada orang lain dari pada buat dirinya sendiri yang merupakan sebuah komponen yang sangat penting dari dimensi spiritual. Carson (Smith, 1994 dan Emmons, 2000) mengungkapkan bahwa pengembangan spiritual mencakup pelayanan terhadap orang lain, sementara ahli lain telah menghubungan spiritualitas dengan cinta, perhatian, kebijaksanaan, imajinasi, pengampuan dan kasih sayang.
Sementara itu, Piedmont (2001) mengembangkan sebuah konsep spiritualitas yang disebutnya sebagai Spiritual Transcendence, yaitu kemampuan individu untuk berada di luar pemahaman dirinya akan waktu dan tempat, serta untuk melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas dan objektif. Perpektif transendensi tersebut merupakan suatu perspektif di mana seseorang melihat satu kesatuan fundamental yang mendasari beragam kesimpulan akan alam semesta. Konsep ini terdiri atas tiga aspek, yaitu:
a. Prayer Fulfillment (pengamalan ibadah), yaitu sebuah perasaan gembira dan bahagia yang disebabkan oleh keterlibatan diri dengan realitas transenden. b. Universality (universalitas), yaitu sebuah keyakinan akan kesatuan kehidupan
alam semesta (nature of life) dengan dirinya.
c. Connectedness (keterkaitan), yaitu sebuah keyakinan bahwa seseorang merupakan bagian dari realitas manusia yang lebih besar yang melampaui generasi dan kelompok tertentu.
Berdasarkan uraian di atas, maka aspek yang paling integratif untuk dipakai sebagai rumusan alat ukur dalam penelitian ini adalah berdasarkan konsep Piedmont (2001) yang membagi spritualitas ke dalam tiga aspek utama, yaitu prayer fulfillment (pengamalan ibadah), universality (universalitas), dan
connectedness (keterkaitan). Aspek-aspek tersebut dipakai karena erat kaitannya dengan keyakinan individu terhadap musibah yang terjadi.
3. Spiritualitas dan Religiusitas
sangat luas karena mencakup keyakinan-keyakinan serta perwujudan-perwujudan, baik yang religius maupun yang bukan religius.
Richards, dkk. (1999) menekankan pentingnya membuat perbedaan antara spritualitas dan religiusitas. Meskipun agama secara tradisi bersumber dari hal-hal di mana spiritualitas berkembang, namun sudah jamak untuk mencapai kesucian dalam hubungan seseorang melalui seni, puisi, atau alam. Sampai sekarang, seringkali bila seseorang memiliki pengalaman spiritual, dia akan mulai mengungkapkan kondisi spiritualnya melalui tradisi religius (Klass, 1995; dalam Richards, dkk. 1999). Meskipun demikian, terkadang spiritualitas disamakan dengan kereligiusan (Emmons, 2000).
Sementara itu, menurut Lukoff, dkk. (Richards, dkk. 1999), religiusitas telah didefinisikan sebagai keterlibatan dengan sistem yang dibentuk dari tradisi-tradisi dan aturan-aturan yang membentuk tindakan (practices), keyakinan (beliefs), dan sikap (attitudes). Lebih lanjut, Glock & Stark (Ancok & Nashori, 2004) mendefinisikan religiusitas sebagai sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan sistem perilaku yang terlembagakan, yang semuanya itu berpusat persoalan-persoalan yang dihayati paling dalam (ultimate meaning).
sebagai sebuah bentuk hubungan manusia dengan dimensi yang lebih tinggi (The Higher Power) dan Tuhan di dalam dirinya. Agama lebih merupakan sebuah sistem keyakinan dengan sekumpulan dogma religius.
Agama hanya merupakan satu aspek dari spiritualitas seseorang. Agama adalah bentuk keyakinan akan adanya Tuhan, penguasa alam semesta. Ritual-ritual, mitos-mitos, doktrin-doktrin, norma-norma, harapan-harapan sosial, serta pengalaman-pengalaman pribadi menjadikan munculnya agama-agama. Ritual dipraktekkan di dalam upacara pemujaan (worship services) dan pengorbanan (sacrifices), seperti ritual berpuasa selama bulan suci Ramadhan atau perjalanan haji ke Mekah. Mitos adalah cerita-cerita yang relatif kebenaranya yang sengaja diciptakan untuk menjelaskan keyakinan-keyakinan mendasar dari sebuah agama yang bersumber pada kitab suci agama (Ondeck, 2002).
Spiritualitas memiliki wilayah yang lebih luas dibandingkan dengan agama atau keagamaan, dan mencakup tidak hanya keyakinan-keyakinan yang mendasar dari agama tetapi juga tentang kesejatian hidup. Hal ini lebih sulit untuk didefinisikan karena spiritualitas tak terdefinisikan Tetapi secara umum, spiritualitas mencakup kekuatan di dalam diri yang memberikan tujuan dalam hidup, baik secara fisik maupun psikologi. Spiritualitas dilihat sebagai makna yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman hidup, yang mungkin atau mungkin juga tidak bernuansa ketuhanan (May, 1982; dalam Graham, 2001).
Meskipun demikian, individu-individu yang mungkin belum memiliki keterkaitan secara religius bisa menjadi sosok spiritual (Ondeck, 2002).
C. Survivor Bencana Gempa Bumi di Bantul
1. Pengertian Survivor
Secara terminologis, korban adalah orang, binatang dan sebagainya yang menderita, mati, dan sebagainya akibat suatu kejadian dan sebagainya (Salim & Salim, 1991). Sementara survivor adalah orang yang terluput dari bencana, orang yang selamat (Hornby, dkk, 1977). Dalam penelitian ini, digunakan istilah
survivor untuk menekankan pada mereka yang selamat dari gempa.
2. Pengertian Bencana Gempa Bumi
Indonesia adalah wilayah yang sangat rawan terjadi bencana alam. Selain wilayahnya yang dilintasi jajaran pegunungan berapi, letak di antara dua samudera besar, yakni Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, memberikan kemungkinan Indonesia akan sering dilibas bencana alam yang hebat. BPPT pernah memberikan peringatan bahwa Indonesia akan menjadi sasaran Tsunami setelah Amerika Selatan dan Jepang (Kedaulatan Rakyat, 12/03/2003). Peringatan itu benar terjadi ketika Aceh dan sebagian Sumatera Utara diguncang gempa tektonik berkekuatan 9,2 skala Richter pada tanggal 26 Desember 2004 yang mengakibatkan terjadinya tsunami.
Menurut catatan The Global Seismic Hazard Assesment Program (Agus, 2005), Indonesia merupakan wilayah yang dilintasi secara sinambung jaring kerja