• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASESMEN dalam PSIKOLOGI KLINIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ASESMEN dalam PSIKOLOGI KLINIS"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

ASESMEN dalam

PSIKOLOGI KLINIS

(2)

PENGERTIAN ASESMEN

“Proses mengumpulkan informasi yang

biasanya digunakan sebagai dasar untuk

pengambilan keputusan yang nantinya

akan dikomunikasikan kepada pihak-pihak

(3)

PROSES ASESMEN KLINIS

PLANNING DATA COLLECTION

PROCEDURES

COLLECTING ASSESSMENT DATA

COMMUNICATING ASSESSMENT

DATA

DATA PROCESSING AND

(4)

I

. PLANNING DATA

COLLECTION

PROCEDURES

Usaha-usaha atau penekanan asesmen yang

dilakukan disesuaikan dengan pendekatan

atau teori yang akan digunakan.

Penekanan asesmen berkaitan dengan

dinamika kepribadian, latar belakang

lingkungan sosial dan keluarga, pola interaksi

dengan orang lain, persepsi terhadap diri dan

realita atau riwayat secara genetis dan

(5)

Tabel Tingkat asesmen dan data yang berkaitan

TINGKAT ASESMEN JENIS DATA

1. Somatis Golongan darah, pola respon somatis terhadap stres, fungsi hati, karakteristik genetis, riwayat penyakit, dsb

2. Fisik Berat/tinggi badan, jenis kelamin, warna kulit, bentuk tubuh, tipe rambut, dsb

3. Demografis Nama, umur, tempat/tanggal lahir, alamat, nomor telepon, pekerjaan, pendidikan, penghasilan, status perkawinan, jumlah anak, dsb

4. Overt behavior Kecepatan membaca, koordinasi mata-tangan, kemampuan conversation, ketrampilan bekerja, kebiasaan merokok, dsb

5. Kognitif/intelektual Respon terhadap tes intelegensi, daya pikir, respon terhadap tes persepsi, dsb

6. Emosi/afeksi Perasaan, respon terhadap tes kepribadian, emosi saat bercerita, dsb

(6)

PEDOMAN PENDATAAN KASUS :

 Identifikasi data, meliputi : nama, jenis kelamin, pekerjaan, penghasilan, status perkawinan, alamat, tempat tanggal lahir, umur, agama, pendidikan, suku bangsa.

Alasan kedatangan dan keluhan, harapan-harapan klien.  Situasi saat ini, meliputi : di tempat tinggal, kegiatan

harian, perubahan dalam hidup yang terjadi dalam satu bulan, dsb.

Keluarga, meliputi : deskripsi orang tua, saudara, figur lain dalam keluarga yang dekat dengan klien (signifcant

other), peran dalam keluarga, dsb.

 Ingatan awal, mendeskripsikan tentang kejadian dan situasi pada awal kehidupannya.

(7)

Lanjutan

 Kondisi fisik dan kesehatan, meliputi : penyakit sejak kecil, penggunaan obat dokter atau obat terlarang yang berturut-turut, merokok, alkohol, kebiasaan makan atau olahraga, dsb.  Pendidikan, meliputi : riwayat pendidikan, bidang pendidikan

yang diminati, prestasi, bidang yang dirasa sulit, dsb.

Pekerjaan, meliputi : alasan berhenti atau pindah kerja, sikap dalam menghadapi pekerjaan, dsb.

Minat dan hobi, meliputi : kesenangan, ekspresi diri, hobi, dsb.

Perkembangan seksual, meliputi : aktivitas seksual, ketepatan dalam pemuasan kebutuhan seksual, dsb.

(8)

Lanjutan

 Dukungan sosial, minat sosial dan komunikasi dengan

orang lain, meliputi : tingkat frekuensi untuk

berhubungan dengan orang lain, kontribusi selama berinteraksi, kesediaan menolong orang lain, dsb.

 Self description, meliputi : kekuatan dan kelemahan,

daya imajinasi, kreativitas, nilai-nilai dan ide.

 Pilihan dalam hidup, meliputi : keputusan untuk

berubah, kejadian penting, dsb.

Tujuan dan masa depan, meliputi : harapan pada 5 – 10

tahun yang akan datang, hal-hal yang perlu disiapkan untuk itu, kemampuan untuk menetapkan tujuan, daya realistis berhubungan dengan waktu, dsb.

Hal-hal lain dapat dilihat dari riwayat atau latar

(9)

Pedoman tersebut harus selalu disesuaikan dengan pendekatan yang akan digunakan :

 Psikodinamika lebih memfokuskan pada

pertanyaan seputar motif bawah sadar, fungsi ego, perkembangan pada awal kehidupan (5 tahun

pertama) dan berbagai macam defense mechanism.

 Kognitif-behavior memfokuskan pada skill, pola berpikir yang biasa digunakan, berbagai stimulus yang mendahului serta permasalahan perilaku

yang menyertainya.

 Fenomenologi cenderung mengikuti outline

asesmen dan melihat bahwa serangkaian asesmen merupakan kolaborasi untuk memahami klien

(10)

TUJUAN ASESMEN KLINIS

1. Klasifkasi Diagnostik

Untuk menentukan jenis

treatment

yang tepat.

Suatu

treatment

sangat bergantung pada

bagaimana pemahaman klinisi terhadap kondisi

klien termasuk jenis gangguannya (vermande,

van den Bercken, & De Bruyn, 1996).

Untuk keperluan penelitian. Penelitian tentang

berbagai penyebab suatu gangguan sangat

bergantung kepada validitas dan reliabilitas

diagnostik yang ditegakkan.

Memungkinkan klinisi untuk mendiskusikan

gangguan dengan cara efektif bersama

(11)

Klasifkasi Diagnostik

Sejak thn 1900, sdh dilakukan teknik pengklasifikasian

gangguan mental, tp baru diakui thn 1952 ketika APA

(American Psychiatric Association) menerbitkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, yg dikenal dg

DSM I.

Thn 1968 WHO mengeluarkn International Classifcation of

Diseases (ICD), shg DSM I drevisi dan disamakan dg ICD, kmd terbit DSM II.

DSM I dan II menyeragamkan terminologi utk mndeskripsikn

dan mendiagnosa perilaku abnormal, ttp tdk mnjelaskan ttg aturan sbg pedoman dlm memutuskan suatu diagnostik (tdk ada kriteria yg jelas shg sulit utk pngklasifikasikan

(12)

Lanjutan...

Thn 1980 DSM II berubah mjd DSM III,

Thn 1987 direvisi menjadi DSM III-R, sdh ada kriteria

operasional utk msg2 label diagnostik, yg meliputi simptom utama dan simptom spesifik serta durasi

simptom muncul, juga digunakan pendekatan multiaxial, dimana klien dideskripsikan ke dlm 5 dimensi (axix),

yaitu:

 Axix I : 16 gangguan mental major

Axis II: Berbagai problem perkembangan & gangguan

kepribadian,

Axis III : Gangguan fisik atau kondisi2 yg mungkin berhub

dg gangguan mental.

 Axis IV : Stressor psikososial (lingkungan) yg mungkin

memberi kontribusi thd gangguan pd axix I dan II.

 Axis V : Rating thd fungsi psikologis, sosial dan pekerjaan

(13)

Lanjutan...

Thn 1988, APA membuat DSM IV, dg alasan:

Bbrp kriteria diagostik DSM III-R msh tll samar dan mbuka peluang utk muncul bias dlm

pnggunaannya.

 Pd axis II, IV dan V punya kekurangan dlm pengukurannya.

DSM IV tetap mnggunakan pendekatan

multiaxial, hanya ada modifikasi dlm terminologi

sblmnya dan skema rating yg digunakan pd bbrp

axis.

Saat ini yg digunakan DSM IV-TR (

Text Revised

)

(14)

Diagnostik

multiaxial DSM IV-TR

Axis I : Gangguan klinis & kondisi lain yang

mungkin menjadi fokus klinis

Axis II : Gangguan kepribadian & mental retardasiAxis III : Kondisi medis umum

Axis IV : Problem psikososial dan lingkungan

Axis V : GAF (Global Assessment of Functioning)

rating terhadap fungsi psikologis, sosial dan pekerjaan dalam satu tahun

(15)

Axis I :

Clinical Disorders, Other

Conditions

That May Be a Focus of

Clinical

Attentions

Ditujukan untuk melaporkan semua

gangguan klinis atau kondisi-kondisi

lain yang mungkin menjadi fokus

perhatian klinis kecuali untuk

gangguan kepribadian dan retardasi

mental (yang dilaporkan pada aksis

(16)

Kelompok Gangguan Axis I

Gangguan yang biasanya didiagnosis pada bayi,

masa anak-anak atau remaja, dewasa dan orang

tua (lansia), kecuali retardasi mental yang

didiagnosis pada aksis II.

Delirium, Demensia, Amnesia, dan gangguan

kognitif lain.

Gangguan mental karena kondisi medis umum.

Gangguan yang terkait dengan penggunaan zat.

Gangguan mood.

Gangguan kecemasan.

(17)

Kelompok Gangguan Utama Axis 1

Gangguan factitious

Gangguan disosiatif

Gangguan identitas seksual dan gender

Gangguan makan

Gangguan tidur

Gangguan impuls kontrol yang tidak

terklasifikasikan di tempat lain.

Gangguan penyesuaian.

Kondisi-kondisi lain yang mungkin jadi fokus

(18)

Axis II :

Personality Disorders,

Mental Retardation

Aksis II ditujukan untuk

melaporkan gangguan

kepribadian dan retardasi

mental. Mungkin juga digunakan

untuk memperhatikan ciri-ciri

kepribadian

maladaptive

yang

(19)

Jenis Gangguan Aksis II

Gangguan kepribadian paranoidGangguan kepribadian narcissisticGangguan kepribadian schizoid

Gangguan kepribadian menghindarGangguan kepribadian schizotypalGangguan kepribadian dependenGangguan kepribadian anti sosial

Gangguan kepribadian obsessive-kompulsifGangguan kepribadian boderline

Gangguan kepribadian yang tidak ditetapkanGangguan kepribadian histrionik

(20)

Axis III :

General Medical Conditions

Aksis III untuk melaporkan

kondisi-kondisi medis umum

yang tengah terjadi dan secara

potensial relevan dengan

(21)

Axis IV :

Psychosocial and

Environtmental Problems

Aksis IV ditujukan untuk

melaporkan problem psikososial

dan lingkungan yang mungkin

mempengaruhi diagnosis,

pengobatan, dan prognosis

(22)

Problem2 yg dikelompokan

dlm Axis IV

Problem dengan primary support groupProblem terkait dengan lingkungan sosialProblem pendidikan

Problem pekerjaanProblem perumahanProblem ekonomi

Problem yang berkaitan dengan pelayanan

perawatan kesehatan

Problem yang berkaitan dengan sistem

legal/kriminalitas

(23)

Axis V:

Global Assessment of

Functioning (GAF)

Ditujukan untuk pertimbangan terhadap tingkat fungsi

keseluruhan seseorang. Informasi ini bermanfaat dalam merencanakan perawatan dan mengukur dampaknya, serta dalam memprediksi hasil.

Pelaporan fungsi umum pada aksis V bisa dilakukan

dengan menggunakan Global Assessment of Functioning (GAF) Scale.

Skala GAF secara khusus bermanfaat untuk

mengetahui kemajuan klinis seseorang secara global, menggunakan satu ukuran. Skala GAF dinilai hanya berkaitan dengan fungsi psikologi, sosial, dan

(24)

2. DESKRIPSI

Untuk memahami content dari perilaku klien secara utuh

harus mempertimbangkan tentang context sosial, budaya dan fisik klien.

Asesmen diharapkan dapat mendeskripsikan kepribadian

seseorang secara lebih utuh dengan melihat pada

person-environtment interactions.

Dalam asesmen harus bs menggambarkan motivasi

klien, fungsi intrapsikis, respon terhadap tes,

pengalaman subjektif, pola interaksi, kebutuhan (needs) dan perilaku.

Dengan menggunakan pendekatan deskriptif akan

memudahkan klinisi untuk mengukur perilaku pra

treatment, merencanakan jenis treatment dan

(25)

3. PREDIKSI

Asesmen digunakan sebagai dasar untuk

melakukan prediksi dan seleksi.

True positive, jika prediksi klinisi berbahaya dan

ternyata klien menunjukkan perilaku berbahaya.

True negative, jika prediksi klinisi tidak berbahaya

dan ternyata klien menunjukkan perilaku yang tidak berbahaya.

False negative, jika prediksi klinisi tidak berbahaya

tetapi klien menunjukkan perilaku berbahaya.

False positive, jika prediksi klinisi berbahaya tetapi

Referensi

Dokumen terkait

1) Orang tua sebagai lingkungan inti dimana tempat anak tinggal mempun- yai peran utama untuk menjadi figur model yang secara efektif dapat mengurangi perilaku agresi

Keluarga sangat berperan terhadap tingkat interaksi sosial klien Skizofrenia, hal tersebut didukung dengan adanya hasil pada tabel 5.11 bahwa peran keluarga dalam memenuhi

Peran bimbingan orang tua dalam pekembangan sosial anak, yang meliputi antara lain: (a) keadaan sosial ekonomi keluarga (b) keutuhan keluarga dan (c) sikap dan

Riwayat keluarga memberi informasi tentang keluarga dekat pasien, termasuk orang tua, saudara kandung dan anak-anak. Hal ini membantu mengidentifikasi gangguan genetic atau familial

Orang tua sebagai figur pendidik pertama dan utama bagi anak-anak tentu memiliki peran yang teramat besar dalam memberikan dasar bagi pendidikan putra putrinya,

-Klien mengatakan saat sakit keluarga klien membantu perawatan klien dan hubungan dengan keluarga/orang lain masih baik tetapi peran dalam keluarga berkurang. berhubungan dengan

Nama : Malika Lituhayyu 228110199 Psikologi klinis G *Budaya dalam kehidupan pribadi yang di wariskan oleh keluarga besar dan keluarga inti,dan berpengaruh dalam perilaku pribadi

Disinilah peran orang tua, keluarga, dan orang-orang yang ada di sekitar anak sangat penting sebagi figur untuk menemani anak dalam mengawasi dengan membatasi penggunaan gawai agar anak