KASUS REKLAMASI DARI PERSPEKTIF PROSEDURAL PLANNING
Oleh: Putu Gde AriastitaDosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS)
Tulisan ini menyambung opini yang disampaikan Rony Megawanto di Harian Kompas, 13 April 2016. Kebetulan hampir bersamaan, kasus reklamasi Teluk Jakarta dan Teluk Benoa, menarik perhatian publik. Tidak hanya masalah yang ditumbulkan, tetapi juga pelajaran yang bisa diambil agar kasus serupa tidak terulang. Tulisan Rony Megawanto mengupas dari substantif planning, dimana penetapan sebagai kawasan penyangga di Teluk Benoa dipandang tidak tepat, yang kemudian memicu adanya rencana reklamasi di lokus tersebut. Tulisan ini akan melihat dari sisi prosedural, mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Beberapa birokrat di bidang kelautan dan perikanan, sudah lama memprediksi bahwa laut akan menjadi masa depan peradaban manusia. Saat populasi semakin meningkat, dan daratan semakin terbatas, jelas habitat baru yang dilirik adalah laut. Reklamasi adalah salah satu jawabannya. Membeli lahan di perkotaan untuk pengembangan perumahan misalnya, ternyata jauh lebih mahal ketimbang mengurug laut untuk dijadikan lahan baru. Karena lahan baru hasil reklamasi tersebut, setelah dibranding sedemikian rupa, nilai jualnya akan jauh lebih menguntungkan.
Umumnya, upaya reklamasi dilakukan untuk membangun atau mengembangkan infrastruktur, seperti pelabuhan, bandara, bahkan jalan raya. Beberapa kasus memang ada yang digunakan untuk permukiman, seperti di Belanda dan Dubai. Namun prinsipnya, upaya menambah darat di laut (reklamasi), bertujuan untuk kepentingan umum. Karena secara filosofis, tidak ada kepemilikan di laut, sehingga jika direklamasi, maka pemanfaatannya pun seharusnya untuk kepentingan umum. Dengan demikian, reklamasi untuk pembangunan infrastruktur, sepertinya adalah suatu kewajaran. Tetapi jika digunakan untuk permukiman dengan skala luas, apalagi ekslusif untuk kelompok masyarakat tertentu, tentunya harus mendapat perhatian yang serius.
Perencanaan
Membangun dengan diawali perencanaan adalah langkah yang tepat, karena pembangunan yang dilakukan akan terarah. Sehingga upaya reklamasi, baik di Teluk Jakarta maupun Teluk Benoa, harus tertuang di dalam dokumen perencanaan yang selanjutnya menjadi kebijakan publik. Kedua upaya reklamasi tersebut telah tertuang di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) wilayahnya masing-masing serta dalam proses perumusan pada Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) nya. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah dokumen-dokumen perencanaan tersebut telah dilakukan dengan proses yang benar?
penting, karena kesepakatan akan melahirkan kontrak dan komitmen bersama untuk melaksanakan dan mengendalikan rencana itu sendiri.
Ini berarti, substansi yang akhirnya dimuat dalam suatu rencana, secara prosedural dibentuk oleh suatu proses yang terdefinisi. Misalnya engineering proses ada pada tahap analisis dan formulasi rencana. Sementara consensus proses biasanya terkomunikasikan pada focus group discussions (FGD) maupun konsultasi publik. Yang menjadi pertanyaan, apakah prosedural ini dilakukan dalam penyusunan perencanaan reklamasi di Teluk Jakarta dan Teluk Benoa?
Proses Apa yang Terjadi
Jika kita telusuri, prosedural tersebut mungkin telah dilakukan. Bahwa FGD dan konsultasi publik mungkin sudah terlaksana, apalagi proses rekayasa teknologi pastinya di klaim telah dilakukan. Namun patut ditanyakan, apakah prosedural tersebut dilakukan dengan benar? Jawabannya diperkirakan tidak. Unjuk rasa masyarakat adat di Bali dan terbongkarnya kasus penyuapan di DPRD Provinsi DKI, patut dicurigai bahwa prosedural perencanaan tidak dilakukan dengan baik. Kalau prosedural tersebut dilakukan dengan benar, seharusnya yang muncul adalah kepakatan, bukan pro dan kontra yang berkepanjangan. Dan tentu saja tidak diperlukan upaya suap-menyuap.
Sudah menjadi fenomena umum dalam stakeholders pembangunan, kelompok government dan private sector memiliki hegemoni yang lebih besar ketimbang society. Sangat dimungkinkan, karena government memegang regulasi dan private sector memiliki sumberdaya finansial yang besar. Kekuatan tersebut sangat berpotensi “menyelewengkan” prosedural perencanaan, jika tidak ada kontrol yang kuat dari masyarakat (society). Dalam beberapa kasus, proses komunikasi diklaim telah dilakukan melalui FGD dan konsultasi publik. Tetapi siapa yang diundang dalam forum-forum tersebut. Apakah sudah ada keterwakilan semua kelompok. Saat Gubernur Bali menantang debat publik bagi kelompok yang kontra reklamasi, apakah aspirasi mereka didengarkan untuk kemudian dijadikan input dalam pengambilan keputusan. Terkadang proses penggalian aspirasi dilakukan, tetapi tidak semua pihak yang berkepentingan yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Bisa dikatakan, proses komunikasi yang dilakukan berjalan dengan semu.
Penetapan Kawasan Budidaya di Teluk Benoa yang disinyalir tidak tepat menurut opini Megawanto di harian Kompas, tentu akan benar adanya, bila melihat secara prosedural perencanaan tersebut tidak dilakukan dengan baik. Bahkan bila ditanyakan lebih mendasar, apakah reklamasi di Teluk Jakarta dan Teluk Benoa memang dibutuhkan? Jangan-jangan memang dibutuhkan, tetapi untuk investor, bukan untuk kepentingan umum.
Lalu bagaimana selanjutnya
Dalam kasus Reklamasi Teluk Benoa, pemerintah perlu meninjau kembali Peraturan Presiden No 51 Tahun 2014 tentang Perubahan Rencana Tata Ruang Kawasan Sarbagita, karena penetapan Teluk Benoa sebagai kawasan penyangga tidak tepat, apalagi secara prosedural perencanaan tidak dilakukan dengan baik. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Provinsi Bali pun perlu segera disusun, untuk lebih memastikan lagi pemanfaatan Teluk Benoa, yang tentunya memberikan ruang komunikasi yang baik dan adil bagi seluruh stakeholders dalam prosedural penyusunannya.
Secara makro, Peraturan Pemerintah tentang Rencana Tata Ruang Laut Nasional juga mendesak untuk diselesaikan, dengan mengakomodasi berbagai aspirasi dari daerah. Peraturan pemerintah ini akan memberikan kepastian arahan bagi daerah-daerah dalam menata kawasan pesisirnya. Dalam jangka panjang, penguatan civil society dan akses komunikasi kepada masyarakat dalam prosedural perencanaan juga perlu dilakukan. Sehingga kekuatan civil society ini dapat menjadi penyeimbang bagi pemerintah dan private sektor dalam pengelolaan pembangunan.
Pada pelajaran di sekolah telah disebutkan bahwa komposisi bumi ini adalah 1/3 daratan dan 2/3 perairan. Barangkali keseimbangan bumi ini memang dibuat sedemikian oleh Sang Pencipta. Kalau kita mereklamasi perairan dalam jumlah tertentu, mungkin saja dalam jumlah tersebut juga ada daratan yang akan terendam air. Di lain pihak, peradaban manusia memang dilahirkan di daratan, kalau kemudian kita ekspansi ke laut, yang perlu diingat adalah disana telah ada peradaban lain yang hidup lebih dahulu. Sehingga mestinya kita menyesuaikan dengan mahluk hidup yang telah lebih dahulu menempatinya. Mohon ijin sebagai diskusi dalam isu reklamasi.
Alamat: