Hubungan Safety climate dan Stress Kerja dengan Safety performance pada Karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi
Vania Galih Prinasti
Prof. Dr. Cholichul Hadi, Drs., M.Si., Psikolog Dewi Syarifah, M.Psi., Psikolog
Dr. Fajrianthi, Psikolog
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan safety climate dan stress kerja dengan safety performance pada karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi. Safety climate merupakan persepsi masing-masing karyawan yang berkaitan dengan aspek – aspek keselamatan dan keamanan kerja (Neal, dkk., 2000). Stress kerja merupakan tekanan psikologis yang dikembangkan dari efek gabungan dari tuntutan pekerjaan dan derajat keputusan yang tersedia untuk karyawan (Karasek, 1979). Safety performance adalah perilaku kerja yang relevan terhadap keselamatan yang dapat dikonseptualisasikan sama dengan perilaku kerja lainnya dalam lingkungan kerja (Neal, dkk., 2000).
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik survey pada 65 karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi. Safety climate diukur dengan menggunakan skala yang dikembangkan oleh Neal, dkk., (2000) yang terdiri atas 24 aitem. Sedangkan stress kerja diukur dengan menggunakan skala yang dikembangkan oleh Theorell (2004) yang terdiri atas 17 aitem. Dan safety performance diukur dengan menggunakan skala yang dikembangkan oleh Neal, dkk., (2000) yang terdiri atas 18 aitem. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Pearson product moment dengan bantuan program SPSS versi 20.
Dari hasil analisis data diperoleh nilai korelasi antara variabel safety climate dan safety performance adalah sebesar 0,744 dengan taraf signifikansi 0,000 (p<0,05) dan pada analisis korelasi antara variabel stress kerja dan safety performance diperoleh hasil sebesar -0,463 Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara safety climate dengan safety performance dan hubungan yang antara stress kerja dan safety performance pada karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi.
Perkembangan zaman menunjukkan adanya kemajuan di berbagai sektor. Termasuk juga beberapa sektor industri di Indonesia yang semakin maju pesat dibanding tahun–tahun sebelumnya. Namun, perkembangan ini tidak luput dari permasalahan terkait keselamatan dan keamanan kerja. International Labor Organization (ILO) memperkirakan setiap tahunnya terjadi 270 juta kasus kecelakaan kerja dan 2,3 juta pekerja meninggal dunia karena hal tersebut. Pada negara berkembang, resiko kecelakaan kerja 10 – 20% lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju (Dong, 2005 dalam Mersha, 2016). Tingkat kecelakaan kerja yang lebih tinggi di negara berkembang ini disebabkan karena kondisi lingkungan kerja yang tidak aman seperti buruknya peralatan dan kondisi yang ada, kurangnya peralatan keselamatan yang memadai dan kurangnya pelatihan yang diterima oleh pekerja. Diantara sekian penyebab, kondisi lingkungan kerja yang tidak aman ditambah dengan faktor individu menjadi masalah utama pada kecelakaan kerja di negara berkembang (Mersha, 2016). Di Indonesia, BPJS Ketenagakerjaan juga mencatat pada tahun 2015, terjadi 105.182 kasus kecelakaan kerja, dengan korban jiwa mencapai 2.375 orang.
Salah satu industri yang dianggap sebagai industri yang paling berbahaya dibandingkan dengan industri lainnya adalah industri konstruksi. Penelitian terdahulu mengenai kecelakaan kerja di industri konstruksi menemukan bahwa korban luka, baik traumatis dan juga fisik serta kematian paling banyak terjadi pada pekerja konstruksi dibandingkan sektor industri lainnya (Probst dkk., 2008; Moore dkk., 2013; Khosravi dkk., 2014 dalam Mersha, 2016). Dalam industri konstruksi, resiko kematian juga 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan industri manufaktur, sementara resiko kecelakaan utama 2.5 kali lebih tinggi (Sawacha dkk., 1999 dalam Mersha, 2016). Hal ini terjadi karena karyawan di sektor konstruksi lebih terekspos faktor resiko seperti faktor mekanis, biologis dan ergonomis (Mersha, 2016).
Permasalahan terkait keselamatan kerja juga dihadapi oleh banyak perusahaan konstruksi di Indonesia. Hal semacam ini juga ditemukan pada perusahaan konstruksi skala nasional di Indonesia. PT. Waskita Karya merupakan salah satu perusahaan skala nasional yang tidak luput dari permasalahn tersebut. Hal ini dapat telihat dari peningkatan jumlah kecelakaan kerja yang meningkat dari tahun ke tahun.
mengumpulkan informasi (preliminary study) pada proyek Jembatan Musi. Berdasarkan preliminary study tersebut didapatkan data, bahwa menurut kepala bagian K3 proyek Jembatan Musi, masih terdapat kecelakaan kerja dan perlu adanya tindakan untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan di lingkungan kerja proyek tersebut.
Berangkat dari fenomena dan kasus yang terjadi, peran karyawan seharusnya sangat dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan keselamatan dan keamanan kerja serta menurunkan resiko terjadinya kecelakaan kerja dengan menampilkan safety performance (Sampson, 2013). Neal, dkk., (2000) mendefiniskan safety performance sebagai perilaku kerja yang relevan terhadap keselamatan yang dapat dikonseptualisasikan sama dengan perilaku kerja lainnya dalam lingkungan kerja. Pembahasan lebih lanjut mengenai safety performance khususnya pada industri konstruksi diperlukan karena berhubungan dengan kinerja karyawan dalam menghadapi resiko bahaya yang ada dan dianggap sebagai konstrak yang tepat dalam mengevaluasi kecelakaan kerja di masa lalu dan memprediksi kecelakaan kerja yang dapat terjadi di masa depan (Molsy, 2015; Sampson, 2014; Clarke, 2006).
Pada penelitian terdahulu mengenai safety performance, ditemukan banyak hal yang dapat memengaruhi safety performance seperti penelitian yang dilakukan oleh Yang, dkk., (2009) pada sektor kesehatan yang menemukan bahwa kepepimpinan berpengaruh terhadap peningkatan safety performance. Selain itu, penelitian lain mengenai safety performance juga mencakup pada ranah industri jasa transportasi dimana Huang, dkk., (2017) menemukan pengaruh komunikasi terhadap safety performance. Pembahasan lebih lanjut mengenai safety performance di berbagai industri diperlukan karena menurut Wu, dkk., (2011) perbedaan bidang industri akan membuat hasil penelitian yang dilakukan lebih beragam.
Untuk meningkatkan safety performance pada karyawan, beberapa penelitian menemukan bahwa bahwa safety climate dapat menjadi solusi untuk menampilkan safety performance yang lebih baik (Barnabelli, dkk., 2015; Clarke, 2006; Vinodkumar & Bashi, 2010; Zahoor, 2017). Safety climate menurut Neal, dkk., (2000) adalah persepsi bersama yang dimiliki karyawan dan berkaitan dengan aspek – aspek keselamatan dan keamanan kerja. Apabaila karyawan mempunyai persepsi yang baik mengenai aspek-aspek keselematan dan keamanan di lingkungan kerja tersebut, maka mereka akan bisa lebih menaati peraturan dan prosedur yang ada dan menunjukkan perilaku keselamatan yang diharapkan (Zahoor, dkk., 2017).
Pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Neal, dkk., (2000) ditemukan bahwa safety climate memiliki hubungan langsung dengan safety performance dan terdapat faktor – faktor dari safety climate yang berhubungan dengan safety performance yang dimediasi oleh motivasi dan pengetahuan. Hasil ini juga selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Cheyne, dkk., (1998 dalam Clarke, 2006) yang menyimpulkan bahwa safety climate yang positif akan meningkatkan perilaku aman termasuk juga keterlibatan pada aktivitas keselamatan. Safety climate organisasi yang baik juga akan berdampak pada meningkatnya kinerja karyawan dan juga meningkatkan standar dari keadaan lingkungan kerja (Zohar, 1980). Selain itu, pada industri konstruksi, safety climate dianggap sebagai solusi yang tepat untuk meningkatkan safety performance karena dapat benar benar merefleksikan secara nyata bagaimana peraturan keselamatan diimplementasikan dan dilakukan di lingkungan kerja (Kim, dkk., 2017).
Dalam lingkungan kerja terutama pada industri yang mempunyai resiko bahaya tinggi, faktor manusia menjadi sangat penting karena merupakan penentu keberlangsungan perusahaan dan juga sebagai tolak ukur bagaimana perusahaan benar-benar mengimplementasikan program keselamatan yang ada. Meskipun terdapat banyak solusi yang ditawarkan untuk menjawab segala permasalahan terkait keselamatan namun masih saja terjadi banyak isu yang terkait oleh hal ini. Oleh karena itu, aspek manusia dalam organisasi perlu melakukan pembenahan agar permasalahan terkait keselamatan kerja dapat teratasi. Dengan menampilkan safety performance, karyawan akan bisa bekerja dengan lebih aman dan tujuan perusahaan berupa zero accident dapat tercapai. Hal inilah yang menjadi sorotan penulis untuk mengetahui bagaimana karyawan dapat bekerja secara aman dan hal apa saja yang dapat membantu untuk mencapainya. Selain itu, penulis juga ingin mengetahui bagaimana safety climate dan stress kerja dapat memengaruhi kinerja karyawan pada proyek jembatan Musi sebagai upaya untuk mengurangi kecelakaan kerja khususnya di Indonesia.
Safety performance
Safety performance merupakan suatu konstrak yang dicetuskan oleh Neal, dkk., (2000) yang berakar pada teori jobperformance. Penelitian mengenai safety performance meningkat karena dinilai mempunyai relasi yang kuat dengan adanya kecelakaan kerja (Clarke, 2006). Neal, dkk., (2000) mendefinisikan safety performance sebagai perilaku kerja yang relevan terhadap keselamatan yang dapat dikonseptualisasikan sama dengan perilaku kerja lainnya dalam lingkungan kerja. Burke (2002, dalam Christian, 2009) juga mendefinisikan safety performance sebagai suatu tindakan atau perilaku yang ditampilkan oleh individu untuk mendukung keamanan dan keselamatan karyawan, klien, masyarakat umum dan juga lingkungan. Dalam penelitiannya, Burke (2002) juga mencantumkan 4 faktor penting dalam safety performance yaitu penggunaan alat pelindung diri (APD), praktik kerja yang mengurangi resiko bahaya, mengkomunikasikan bahaya dan kecelakaan, mensosialisasikan hak dan tanggung jawab karyawan.
Dimensi Safety performance
tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan utamanya namun penting dalam membentuk organisasi, lingkungan sosial dan psikologis karyawan sebagaimana fungsi perusahaan dilakukan (Neal, dkk., 2000 dalam Muniz, 2017). Neal, dkk., membagi dimensi safety performance menjadi 2 yaitu safety compliance dan safety participation.
Safety compliance mengacu pada komponen task performance yang digunakan untuk mendeskripsikan aktivitas keselamatan inti yang digunakan oleh individu untuk menjaga keselamatan di lingkungan kerja. Perilaku pada safety compliance meliputi kepatuhan pada peraturan keselamatan yang ada, penggunaan alat pelindung diri (APD) dan bagaimana individu berperilaku secara aman pada saat bekerja (Neal., dkk. 2000). Safety participation mengacu pada contextual performance yang digunakan untuk mendeskripsikan perilaku-perilaku yang berhubungan dengan partisipasi pada keselamatan lingkungan kerja seperti menghadiri rapat terkait keamanan & keselamatan kerja, mengingatkan sesama rekan kerja untuk selalu berperilaku aman dan bergabung pada aktivitas keamanan (Neal., dkk. 2000).
Safety climate
Cheyenne dkk., (1998) melihat safety climate sebagai suatu kondisi terkait keamanaan yang bersifat sementara pada suatu organisasi yang mempunyai karakteristik yaitu persepsi karyawaan secara bersamaan. Sementara itu Zohar (2003) mendefinisikan safety climate sebagai persepsi karyawan yang berkaitan dengan praktik keselamatan, prosedur, peraturan dan hubungannya dengan pentingnya keselamatan di lingkungan kerja. Zohar dan Luria (2005) juga menambahkan bahwa makna utama dari safety climate berhubungan dengan konstruksi sosial yang mengindikasikan adanya perilaku yang diharapkan muncul secara spontan yang berasal dari peraturan dan prosedur dari top management dan praktik dari supervisor.
Neal, dkk., (2000) mendefinisikan safety climate sebagai persepsi bersama yang dimiliki karyawan berkaitan dengan aspek – aspek keselematan dan keamanan kerja. Definisi lain mengenai safety climate dijelaskan Kim & Park (2002) yang menjelaskan bahwa safety climate merupakan jaringan persepsi yang didasarkan pada penilaian personal karyawan terhadap karakterstik keamanan lingkungan kerjanya. Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa safety climate merupakan persepsi dari karyawan mengenai aspek aspek keselamatan dan keamanan di lingkungan kerja yang dapat berpengaruh terhadap kesejahteraan mereka.
sebagai hasil hubungan dari berbagai faktor dalam perusahaan seperti pelaksanaan manajemen K3, Sikap manajer dan karyawan, resiko karyawanan dan kedisiplinan yang ditunjukkan oleh karyawan. Niskanen (dalam Goldenmaud, 2000) mendefinisikan safety climate sebagai sesuatu yang menyediakan hubungan antara atribut yang terjadi pada level individu (karyawan dan supervisor) dengan level organisasi yang dapat diinduksi oleh prosedur dan praktik yang mengikat karyawan dan penyelianya. Dari definisi dari beberapa ahli tersebut dapat dilihat bahwa safety climate merupakan persepsi karyawan mengenai praktik – praktik yang dilakukan oleh manajemen yang berkaitan dengan keselamatan mereka.
Dari beberapa definisi di atas safety climate dari suatu perusahaan sangatlah penting karena berhubungan persepsi karyawan mengenai keselamatan dan keamanannya pada saat bekerja. Menciptakan persepsi yang baik pada karyawan akan mengarahkan perilakunya pada saat bekerja agar sesuai dengan prosedur keselamatan yang ada dan dapat memprediksi kecelakaan kerja yang dapat terjadi di kemudian hari (Kim, dkk., 2017).
Dimensi Safety climate
Stress Kerja
Zimbardo (2003) yang mendefinisikan stress sebagai perubahan fisik ataupun mental seseorang dalam merespon situasi yang dianggap bahaya ataupun mengancam. Banyak penelitian membagi stress menjadi 2 kategori yaitu eustress dan distress (Gaol, 2016). Eustress merupakan stress yang dinilai positif karena bersifat membangun dan memacu seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya saja pada saat akan menghadapi ujian, individu yang memiliki eustress akan belajar dengan maksimal untuk mendapatkan nilai yang baik. Sementara distress merupakan stress yang bersifat negatif karena bisa mengganggu individu dan menimbulkan hal – hal yang kurang baik. Contohnya pada saat putus cinta, individu yang mengalami distress akan tidak bersemangat dalam beraktivitas, malas-malasan dan bahkan menjadi depresi.
Pada ranah industri & organisasi, stress juga dapat terjadi pada karyawan yang. Stress kerja didefinisikan sebagai perasaan karyawan terkait beban kerja, kecemasan, frustasi dan tekanan yang berasal dari karyawanan yang mereka jalani (Cullen dkk., 1986; Parker & DeCotiis,1983 dalam Jin, dkk. 2017). Definisi lain tentang stress kerja menurut National Insitute of Occupational Safety and Health (dalam Park, 2007) adalah gangguan pada kondisi fisik seseorang dan respon emosi pada saat persyaratan kerja tidak sinkron dengan kemampuan karyawan, kebutuhan dan sumber daya yang ada.
Banyak peneliti yang mengembangkan model teori untuk menjelaskan stress kerja seperti model kognitif transaksional oleh Lazarus (1966), model konflik – teori oleh Irving Janis (1958), model ketepatan individu dan lingkungan (P-E fit) oleh Lewin (1951) dan Murray (1938). Namun model – model tersebut dirasa sudah tidak sesuai dengan kondisi pada abad ke 20 mengingat perbedaan situasi yang berubah secara signifikan. Untuk itu, model yang dirasa tepat untuk menjelaskan tentang stress kerja adalah Job Demans-Job Decision Latitude Model yang dicetuskan oleh Karasek (1979). Hipotesis dalam model ini mencetuskan bahwa stress kerja merupakan tekanan psikologis dikembangkan dari efek gabungan dari tuntutan pekerjaan dan derajat keputusan yang tersedia untuk karyawan. Dalam model ini juga diketaui bahwa tekanan kerja dipengaruhi oleh derajat kontrol yang relatif terhadap jumlah tuntutan yang diberikan kepada individu (Karasek, 1979 dalam Sulsky, 2005).
Dimensi Stress Kerja
Kerangka Konseptual
Tingginya kecelakaan pada karyawan konstruksi Tingginya kecelakaan pada
karyawan konstruksi
Perusahaan harus meningkatkan dan memperbaiki upaya keselamatan di lingkungan
kerja
SDM
Manajemen
Prosedur dan peralamatan keselamatan
Faktor utama yang harus ditingkatkan dalam usaha untuk menciptakan lingkungan
kerja yang aman (Pitroda, 2016)
Karyawan konstruksi harus menampilkan kinerja yang terkait keamanan
Safety Performance (Y) (Neal, dkk., 2000)
Safety Compliance
Safety Participation Safety Climate (X1)
(Neal, dkk., 2000)
Management value
Support
Demand Control
Management practice
Communication Employee Involvement
METODE
Sesuai dengan tujuan penelitian yang untuk mencari hubungan antara safety climate dan stress kerja dengan safety performance maka penelitian ini menggunakan tipe penelitian kuantitatif-eksplanatoris. Penelitian eksplanatoris bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku dan fenomena tertentu dengan menggunakan pengujian teori yang didasarkan pada pertanyaan mengenai penyebab suatu fenomena ataupun perilaku yang kemudian dijelaskan dengan teori yang ada (Neuman, 2007). Berdasarkan dimensi waktunya, penelitian ini memakai metode cross sectional yang bertujuan mengumpulkan data dari beberapa subyek dalam satu waktu (Neuman, 2007).
Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah sesuatu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan bertujuan memperoleh informasi mengenai hal yang ingin diteliti untuk kemudian ditarik kesimpulan berdasarkan hasil penelitian tersebut (Sugiyono, 2010). Terdapat tiga variabel dalam penelitian ini yaitu:
1. Variabel dependen (Terikat / Y) : Safety performance 2. Variabel independen 1 (Bebas / X1) : Safety climate 3. Variabel independen 2 (Bebas / X2) : Stress Kerja
Hubungan antar ketiga variabel di dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
X1 Safety Climate
X2 Stress Kerja
Gambar 1. Hubungan Antar Variabel
Definisi Operasional Variabel Penelitian
Definisi operasional adalah bentuk operasionalisasi definisi konseptual variabel penelitian sehingga dapat diukur atau diobservasi (Neuman, 2007). Tujuan dari adanya definisi operasional adalah untuk menentukan batasan yang jelas terhadap variabel agar sesuai dengan teori yang digunakan. Pada variabel safety climate, pengukuran menggunakan alat ukur safety climate yang mengacu pada teori safety climate menurut Neal, dkk., (2000). Alat ukur ini tersusun atas 24 aitem untuk mengukur 4 dimensi yang ada. Terdapat 8 aitem untuk mengukur dimensi management value, 4 aitem untuk mengukur dimensi management & organizational practice, 4 aitem untuk mengukur dimensi communication dan 8 aitem untuk mengukur dimensi employee involvement. Pada dimensi management value, aitem yang ada mengukur bagaimana persepsi karyawan terkait nilai yang dimiliki manajemen terkait keselamatan dan keamanan kerja (Neal, dkk., 2000). Pada dimensi management & organizational practice, aitem yang ada mengukur persepsi karyawan terkait praktik-praktik yang dilakukan oleh manajemen terkait keselamatan dan keamanan kerja (Neal, dkk., 2000). Pada dimensi communication, aitem yang ada mengukur persepsi karyawan terkait proses komunikasi yang terjadi selama menjalankan aktivitas pekerjaan (Neal, dkk., 2000). Dan pada dimensi employee involvement, aitem yang ada mengukur persepsi karyawan terkait keterlibatannya dalam segala aktivitas yang menunjang keselamatan dan keamanan pada saat bekerja (Neal, dkk., 2000).
tentang hubungan yang dimiliki karyawan dengan rekan kerja dan juga atasannya (Karasek, dalam Aleves dkk., 2004).
Pada konstrak safety performance, pengukuran menggunakan skala yang sesuai dengan teori safety performance milik Neal, dkk., (2000). Alat ukur ini tersusun atas 18 aitem untuk mengukur 2 dimensi yang ada. Terdapat 11 aitem untuk mengukur dimensi safety compliance dan 7 aitem untuk mengukur dimensi safety participation.Pada dimensi safety compliance, aitem yang ada menilai bagaimana karyawan menjalankan pekerjaan utamanya sesuai dengan peraturan terkait keselamatan dan keamanan yang berlaku (Neal, dkk., 2000). Pada dimensi safety participation, aitem yang ada ini menilai bagaimana karyawan berpartisipasi pada setiap aktivitas yang menunjang pekerjaannya yang berhubungan dengan keselamatan dan keamanan kerja (Neal, dkk., 2000).
Subjek Penelitian
Populasi penelitian merupakan keseluruhan dari objek yang akan diteliti (Neuman, 2007). Populasi yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah Karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi sejumlah 95 orang.
Teknik Pengumpulan data
Pada penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data dalam bentuk angka atau lebih dikenal sebagai teknik kuantitatif (Neuman, 2007). Penulis menggunakan kuisioner berbentuk self report dengan mengajukan sejumlah pertanyaan tertulis yang sama terhadap sampel sebagai instrument pengumpulan data.
Validitas menunjukkan suatu kondisi yang sebenarnya dan mengacu pada kesesuaian antara konstruk atau cara peneliti mengkonseptualisasikan suatu ide dan ukuruan. Validitas mengacu pada seberapa baik ide tentang realitas dan sesuai dengan keadaan sebenarnya. Sederhananya, validitas membahas tentang seberapa baik realitas sosial yang diukur dalam penelitian sesuai dengan konstrak yang digunakan oleh peneliti untuk memahaminya. (Neuman, 2007). Dalam penelitian ini, pendekatan validitas yang digunakan adalah content validity, dimana validitas diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional judgement (Azwar, 2010). Dalam validasi ini, penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauhmana item-item tes mewakili komponen-komponen dalam keseluruhan isi objek yang hendak diukur (aspek representasi) dan sejauh mana item-item tes mencerminkan ciri perilaku yang hendak diukur (aspek relevansi) (Azwar, 2010).
dalam tes sesuai dengan indikator perilaku yang akan diukur. Judgement diberikan oleh tenaga ahli lulusan fakultas Psikologi Universitas Trisakti dan Universitas Indonesia yang bekerja di bidang SDM PT. Waskita Karya dan PT. HM. Sampoerna.Tbk.
Reliabilitas mengacu pada suatu konsistensi yang menunjukkan bahwa pengukuran atribut yang sama dan diulang akan memberikan hasil kondisi yang sangat mirip. (Neuman, 2007). Dalam penelitain kuantitatif, reliabilitas ditunjukkan dengan hasil numerik yang dihasilkan oleh suatu indikator yang sama karena karakteristik dari proses pengukuran atau instrumen dari pengukuran itu sendiri (Neuman, 2007). Pengujian reliabilitas menggunakan pendekatan konsistensi internal dengan teknik Alpha Cronbach melalui perhitungan program SPSS 20 for Windows.
Uji Korelasi Variabel Safety climate dan Stress Kerja dengan Safety performance
Uji korelasi pada penelitian ini menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Pengukuran ini diperlukan untuk mengetahui ada atau tidak hubungan antar variabel yang dapat dilihat dari nilai p (taraf signifikansi). Selain melihat ada atau tidak hubungan antar variabel, teknik korelasi juga dapat menunjukkan kekuatan hubungan (r).
Pada penelitian ini, korelasi antara variabel safety climate dan safety performance memiliki nilai signifikansi sebesar 0,00 dimana jika dilihat dari probabilitas p < 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan antara safety climate dan safety performance. Kekuatan korelasi yang didapat adalah sebesar 0,744. Hal ini menunjukkan, variabel safety climate dan safety performance memiliki hubungan yang positif sehingga semakin tinggi nilai dari variabel safety climate maka semakin tinggi pula nilai dari variabel safety performance.
Pada hasil korelasi antara variabel stress kerja dan safety performance diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,00 dimana jika dilihat dari probabilitas p < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara stress kerja dan safety performance. Kekuatan korelasi yang didapat adalah sebesar -0,463. Hal ini menunjukkan, variabel stress kerja dan safety performance memiliki hubungan yang negatif sehingga semakin tinggi nilai dari variabel stress kerja maka semakin turun nilai dari variabel safety performance.
Kesimpulan
climate dan stress kerja dengan safety performance pada karyawan PT. Waskita Karya proyek Jembatan Musi dapat diterima.
Referensi
Azwar, Saifuddin. (2012). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Barnabelli,C., Petitta, L., & Probst, T.M. (2015). Does safety climate predict safety performance in Italy and the USA? Cross-cultural validation of a theoretical model of safety climate. Journal of Accident Analysis and Prevention, 77,35-44.
Burke, M. J., Sarpy, S. A., Tesluk, P. E., & Smith-Crowe, K. (2002). General safety performance: A Test Of a Grounded Theoretical Model. Personnel Psychology, 429-457.
Christian, M. S., Bradley, J. C., Wallace, J. C., & Burke, M. J. (2009). Workplace safety: A meta-analysis of the roles of person and situation factors. Journal of Applied Psychology, 1103-1127.
Clarke, S. (2006). The relationship between safety climate and safety performance: A meta-analytic review. Journal of Occupational Health Psychology, 315-327.
Dewe, P. J., O’Driscoll, M. P., & Cooper, C. L. (2012). Theories of Psychological Stress at Work. Handbook of Occupational Health and Wellness, 23-38. DeJoy., D.M Schaffer, B.S., Wilson, M.G Vandenberg, R.J. & Butts, M.M. (2004).
Creating safer workplaces: Assesing the determinants and the role of safety climate. Journal of Safety Research.
Feng, Y. (2013). Effect of safety investments on safety performance of building projects. Safety Science, 59, 28-45.
Griffin, M. A., & Neal, A. (2000). Perceptions of safety at work: A framework for linking safety climate to safety performance, knowledge, and motivation. Journal of Occupational Health Psychology, 347-358.
Griffin, M. A., Neal, A., & Parker, S. K. (2007). Work Performance Scale. Psyctest Dataset.
Guldenmund, F.W. (2000). The nature of safety culture: A review of theory and research. Journal of Safety Scienes.
Hanna, M., Seid, T. M., & Lamessa, D. (2017). Prevalence of occupational injuries and associated factors among construction workers in Addis Ababa, Ethiopia. Journal of Public Health and Epidemiology, 1-8.
Huang, Y., Zohar, D., Lee, J., & Robertson, M. (2014). A mediation model linking dispatcher leadership and work ownership with safety climate as predictors of truck driver safety performance. Journal of Applied Ergonomics.
Huang, Y., Lee, J., Mcfadden, A. C., Murphy, L. A., Robertson, M. M., & Zohar, D. (2016). Beyond safety outcomes: An investigation of the impact of safety climate on job satisfaction, employee engagement and turnover using social exchange theory as the theoretical framework. Journal of Applied Ergonomics, 248-257.
Karasek, R. (1979). Job demands, job decision latitude, and mental strain: implications for job redesign. Administrative Science Quartely, 24 (2), 285-308.
Lingard, H., Cooke, T., & Blismas, N. (2012). Do Perceptions of Supervisors’ Safety Responses Mediate the Relationship between Perceptions of the Organizational Safety climate and Incident Rates in the Construction Supply Chain?. Journal of Construction Engineering and Management, 234-241. Liu, X., Huang, G., Huang, H., Wang, S., Xiao, Y., & Chen, W., (2015) Safety
climate, safety behavior and worker injuries in Chinese manufacturing industry. Journal of Safety Scienes, 173-178.
Nahrgang, J. D., Morgeson, F. P., & Hofmann, D. A. (2011). Safety at work: A meta-analytic investigation of the link between job demands, job resources, burnout, engagement, and safety outcomes. Journal of Applied Psychology, 96 (1), 71-94.
Neal, A., Griffin, M., & Hart, P. (2000). The impact of organizational climate on safety climate and individual behavior. Safety Science, 34 (1-3), 99-109. Neal, A., Griffin, M. A., & Hart, P. M. (2000). Safety climate
Measure. PsycTESTS Dataset.
Neal, A., & Griffin, M. A. (2002). Safety climate and Safety Behaviour. Australian Journal of Management, 67-75.
Neal, A., & Griffin, M. A. (2006). A study of the lagged relationships among safety climate, safety motivation, safety behavior, and accidents at the individual and group levels. Journal of Applied Psychology, 91 (4), 946-953. Neuman, W. L. (2007). Basics of Social Research: Qualitative and Quantitative
Approaches (2nd ed.). Boston: Pearson Education, Inc.
Sampson. (2013). Safety of Repair, Maintenance, Minor Alteration, and Addition (RMAA) Works. Journal of Applied Psychology.
Sawacha, E., Naoum, S., & Fong, D. (1999). Factors affecting safety performance on construction sites. International Journal of Project Management, 17 (5), 309-315.
Schneider, B., & Barbera, K. M. (2014). The Oxford handbook of organizational climate and culture. Oxford: Oxford University Press.
Sulsky, L., & Smith, C. (2005). Work stress. Belmont, CA: Wadsworth.
Vinodkumar, M., & Bhasi, M. (2010). Safety management practices and safety behaviour: Assessing the mediating role of safety knowledge and motivation. Accident Analysis & Prevention, 42 (6), 2082-2093.
Wehbe, F., Hattab, M. A., & Hamzeh, F. (2016). Exploring associations between resilience and construction safety performance in safety networks. Safety Science, 82, 338-351.
Wu, T., Chang, S., Shu, C., Chen, C., & Wang, C. (2011). Safety leadership and safety performance in petrochemical industries: The mediating role of safety climate.
Yuan, Z., Li, Y., & Tetrick, L. E. (2015). Job hindrances, job resources, and safety performance: The mediating role of job engagement. Applied Ergonomics, 51, 163-171.
Zahoor, H., Chan, A. P., Utama, W. P., & Gao, R. (2017). A Research Framework for Investigating the Relationship between Safety climate and Safety performance in the Construction of Multi-storey Buildings in Pakistan. Procedia Engineering, 118, 581-589.
Zohar, D. (1980). Safety climate in industrial organizations: Theoretical and applied implications. Journal of Applied Psychology, 65 (1), 96-102.