• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL PENELITIAN

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN SIKLUS

MENSTRUASI PADA PENGGUNA ALAT KONTRASEPSISUNTIK

DI WILAYAH KERJAPUSKESMAS TARAWEANG

KABUPATEN PANGKEP

Hasniati

1

, Rusni Mato

2

, Syafaraenan

3

1

Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin

Makassar

2

Dosen tetap Program Studi S1 Keperawatan STIKES Nani

Hasanuddin Makassar

3

Dosen tetap Program Studi S1 Keperawatan STIKES Nani

Hasanuddin Makassar

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KSEHATAN

(2)

MAKASSAR

2013

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN SIKLUS MENSTRUASI PADA PENGGUNA ALAT KONTRASEPSISUNTIK

DI WILAYAH KERJAPUSKESMAS TARAWEANG KABUPATEN PANGKEP

Hasniati1, Rusni Mato2, Syafaraenan3

ABSTRAK

Siklus menstruasi adalah serangkaian periode dari perubahan yang terjadi berulang pada uterus dan organ-organ yang dihubungkan pada saat pubertas dan berakhir pada saat menopause. Stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan. Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan upaya untuk dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perubahan siklus menstruasi pada penggunaan alat kontrasepsi suntik di wilayah kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep. Jenis penelitian ini adalah Survey Analitik menggunakan rancangan Cross Sectional Study dengan desain uji Chi Square. Sampel berjumlah 30 orang responden yang didapat dengan menggunakan teknik Aksidental Sampling. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh stress (p=0.030, OR : 15.1) dan lama pemakaian alat kontrasepsi (p = 0.032, OR : 15.4) terhadap perubahan siklus menstruasi. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh antara stress dan lama pemakaian alat kontrasepsi terhadap perubahan siklus menstruasi di wilayah kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep.

(3)

PENDAHULUAN

Program keluarga berencana mengalami perkembangan yang sangat cepat, baik di tinjau dari ruang lingkup geografis, pendekatan, cara operasional, dan dampaknya terhadap pencegahan kelahiran. Tujuan kelu arga berencana yang utama adalah menjarangkan kelahiran.(Handayani, 2010)

Salah satu jenis kontrasepsi efektif yang menjadi pilihan kaum ibu yaitu kontrasepsi suntik. Ini di sebabkan karena aman, efektif, sederhana dan murah.

World Health organization (WHO) mengatakan bahwa jumlah pengguna kontrasepsi

suntik yaitu sebanyak 4.000.000 atau sekitar 45% . Di Amerika Serikat jumlah pengguna kontrasepsi suntik sebanyak 30%. Sedangkan di Indonesia kontrasepsi yang paling diminati yaitu kontrasepsi suntik. Kontrasepsi suntik yang banyak digunakan diantaranya depo

medroksi progesteron asetat (DMPA), cylofem (suntik satu bulan ), depo provera (suntik tiga

bulan), dari 61,4% warga Indonesia yang menggunakan kontrasepsi sebanyak 31, 6% yang memilih kontrasepsi suntik. (Gabbie, 2006)

Berdasarkan data profil kesehatan provinsi sulawesi selatan 2009, persentase tertinggi keluarga berencana yang digunakan peserta keluarga berencana aktif adalah

suntikan depo medroksi progesterone asetat (44,77%). (DinKes, 2009).

Sementara data dari kabupaten pangkajene dan kepulauan (PANGKEP). Pada wilayah kerja puskesmas taraweang terhitung dari januari 2010 s/d desember 2012 metode yang paling banyak digunakan terdiri dari peserta alat KB suntik serjumlah 602 akseptor (50%). Metode suntikan yang paling banyak digunakan pada puskesmas taraweang kabupaten pangkep adalah depo medroksi progesteron asetat (Depo provera) yaitu 514 (70%). cyclofem (suntik satu bulan) 54 (30%), dan depo noristerat (suntik dua bulan) 34 (10%). Data terbaru dari januari sampai dengan maret 2013 terdapat 58 pengguna kontrasepsi suntik.

Menurut penuturan salah satu badan kordinasi keluarga berencana di puskesmas taraweang kabupaten pangkep masalah kesehatan yang paling sering dialami berhubungan dengan pengguna kontrasepsi lebih banyak dikemukakan oleh peserta kontrasepsi hormonal: pil dan suntik. Pemberian kontrasepsi suntik sering meminimalkan perubahan pada siklus menstruasi dan terjadi perdarahan sedikit demi sedikit, kelainan tersebut menyebabkan banyaknya akseptor keluarga berencana suntik yang menghentikan pemakaian.

Fenomena yang timbul dari pemberian kontrasepsi suntik adalah , menstruasi yang tidak teratur, dan berat badan naik. Efek yang timbul tersebut merupakan masalah yang terdapat pada akseptor kontrasepsi suntik di wilayah kerja puskesmas taraweang kabupaten pangkep. (BKKBN, 2012)

Uraian diatas menjelaskan efek samping yang dapat ditimbulkan pada penggunaan metode kontrasepsi suntik, salah satunya yaitu perubahan siklus menstruasi yang dapat mempengaruhi pengguna alat kontrasepsi suntik di wilayah kerja puskesmas taraweang kabupaten pangkep, oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui seberapa besar akseptor yang mengalami perubahan siklus menstruasi pada pengguna alat kontrasepsi suntik di wilayah kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep.

BAHAN DAN METODE

(4)

Jenis penelitian ini adalah Survey Analitik dengan metode pendekatan cross

sectional. Lokasi penelitian dilaksanakan di puskesmas taraweang kabupaten pangkep.

Waktu pelaksanaanya adalah bulan juni 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengguna kontrasepsi suntik diwilayah kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep. Besar sampel dalam penelitian ini adalah seberapa banyak peserta kontrasepsi suntik yang menggunakan KB suntik diwilayah kerja puskesmas taraweang kabupaten pangkep. Untuk mendapatkan jawaban yang diharapkan, maka peneliti memberikan beberapa kriteria sampel antara lain sebagai berikut :

1) Kriteria Inklusi

a. Pengguna alat kontrasepsi suntik yang mengalami perubahan siklus menstruasi yang berada diwilayah kerja puskesmas taraweang kabupaten pangkep.

b. Bersedia jadi responden.

Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan pengumpulan data dengan cara memeriksa kelengkapan dan kejelasan data observasi.

Selanjutnya memeriksa kebenaran data dari buku registrasi kunjungan akseptor keluarga berencana yang datang untuk mendapatkan obat kontrasepsi setiap kali kunjungan.

2. Koding

Pengukuran Koding dilakukan dengan membuat daftar variabel sesuai dengan tujuan penelitian, membuat daftar koding, dan pemindahan hasil observasi ke daftar koding, selanjutnya dilakukan pengukuran data.

3. Tabulasi data

Setelah data terkumpul, tersusun data selanjutnya data dikelompokkan dalam suatu tabel menurut sifat-sifat yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian dengan menggunakan program SPSS Versi 16.

Analisa Data

1. Analisis univariat

Menganalisis variabel-variabel yang ada secara deskriftif dengan menghitung distribusi frekuensi dengan presentase terhadap setiap variabel dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS Versi 16.

2. Analisis Bivariat

(5)

Data diolah menggunakan uji statistic pailed Sample T-test dengan bantuan komputer program SPSS.

HASIL PENELITIAN 1. Analisa Univariat

Tabel 5.1

Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep Tahun 2013

Umur Responden Jumlah Persentase (%)

20 s/d 29 Tahun 15 50

30 s/d 40 Tahun 15 50

Total 30 100

Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan Tabel 5.1, maka diketahui bahwa kelompok umur 20 s/d 29 tahun dan 30 s/d 40 tahun masing-masing berjumlah 15 orang responden (50%).

Tabel 5.2

Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Pekerjaan di Wilayah Kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep Tahun 2013

Pekerjaan Jumlah Persentase (%)

Ibu Rumah Tangga 17 56.7

Pegawai Negeri Sipil 5 16.7

Swasta 5 16.7

Lain-Lain 3 10

Total 30 100

Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan Tabel 5.2, maka diketahui bahwa kelompok pekerjaan paling banyak adalah ibu rumah tangga dengan jumlah responden sebanyak 17 orang responden (56.7%) sedangkan kelompok pekerjaan paling sedikit adalah kelompok pekerjaan lainnya yaitu sebanyak 3 orang responden (10%).

Tabel 5.3

Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep Tahun 2013

Pendidikan Jumlah Persentase (%)

SD 2 6.7

SMP 3 10

SMA 18 60

D3

S1 52 16.76.7

Total 30 100

(6)

Berdasarkan Tabel 5.3, maka diketahui bahwa kelompok pendidikan paling banyak adalah SMA dengan jumlah responden sebanyak 18 orang responden (60%) sedangkan kelompok pendidikan yang paling sedikit adalah SD dan S1 dengan jumlah responden masing-masing sebanyak 2 orang (6.7%).

Tabel 5.4

Distribusi Responden Berdasarkan Stres di Wilayah Kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep Tahun 2013

Stres Jumlah Persentase (%)

Stres 20 66.7

Tidak Stres 10 33.3

Total 30 100

Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan Tabel 5.4, maka diketahui bahwa dari total 30 orang responden, 20 orang responden (66.7%) dalam kondisi stress sedangkan 10 orang (33.3%) dalam kondisi tidak stress.

Tabel 5.5

Distribusi Responden Berdasarkan Lama Pemakaian Kontrasepsi di Wilayah Kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep Tahun 2013

Lama Pemakaian Kontrasepsi Jumlah Persentase (%)

Lama 22 73.3

Tidak Lama 8 26.7

Total 30 100

Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan Tabel 5.5, maka diketahui bahwa dari total 30 orang responden, 22 orang responden (73.3%) memakai kontrasepsi dengan jangka waktu yang lama, sedangkan 8 orang responden (26.7%) lainnya memakai kontrasepsi dengan jangka waktu yang tidak lama.

Tabel 5.6

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Siklus Menstruasi di Wilayah Kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep Tahun 2013

Siklus Menstruasi Jumlah Persentase (%)

Normal 9 30

Tidak Normal 21 70

Total 30 100

Sumber : Data Primer 2013

(7)

2. Analisa Bivariat

Tabel 5.7

Pengaruh Stres Terhadap Perubahan Siklus Menstruasi pada Pengguna Alat Kontrasepsi Suntik

Berdasarkan Tabel 5.7, maka diketahui bahwa dari total 20 orang responden (66.7%) yang dalam kondisi stress, 3 orang responden (10%) memiliki siklus menstruasi yang normal dan 17 orang lainnya (56.7%) memiliki siklus menstruasi yang tidak normal.sedangkan dari total 10 orang responden (33.3%) yang dalam kondisi tidak stress, 6 orang responden (20%) memiliki siklus menstruasi yang normal dan 4 orang lainnya (13.3%) memiliki siklus menstruasi yang tidak normal.

Setelah dilakukan analisis uji statistic menggunakan uji Chi Square, maka berdasarkan nilai Fisher’s Exatc Test didapatkan nilai p = 0.030 dimana p < α 0.05, maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh stress terhadap perubahan siklus menstruasi pada pengguna alat kontrasepsi suntik di Wilayah Kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep.

Dari nilai odds. Ratio 15.1menunjukkan bahwa responden yang dalam kategori stres berpeluang 15.1 kali mengalami siklus menstruasi yang tidak normal bila dibandingkan dengan responden yang dalam kategori tidak stress.

Tabel 5.8

Pengaruh Lama Pemakaian Kontrasepsi Terhadap Perubahan Siklus Menstruasi pada Pengguna Alat Kontrasepsi Suntik

(8)

memiliki siklus menstruasi yang normal dan 3 orang responden (10%) lainnya memiliki siklus menstruasi yang tidak normal.

Setelah dilakukan analisis uji statistic menggunakan uji Chi Square, maka berdasarkan nilai Fisher’s Exatc Test didapatkan nilai p = 0.032 dimana p < α 0.05, maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh lama pemakaian kontrasepsi terhadap perubahan siklus menstruasi pada pengguna alat kontrasepsi suntik di Wilayah Kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep.

Dari nilai odds. Ratio 15.4menunjukkan bahwa responden yang dalam kategori lama dalam pemakaian kontrasepsi berpeluang 15.1 kali mengalami siklus menstruasi yang tidak normal bila dibandingkan dengan responden yang dalam kategori tidak lama dalam pemakaian kontrasepsi.

PEMBAHASAN

1. Pengaruh stress terhadap perubahan siklus menstruasi pada pengguna alat kontrasepsi suntik di wilayah kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep.

Dari hasil analisa univariat, maka diketahui bahwa dari total 30 orang responden, sebagian besar responden yaitu berjumlah 20 orang responden (66.7%) dalam kondisi stress sedangkan 10 orang (33.3%) dalam kondisi tidak stress.

Dari hasil analisis bivariat, maka diketahui bahwa ada pengaruh stress terhadap perubahan siklus menstruasi pada pengguna alat kontrasepsi suntik di Wilayah Kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep.

Stress yang dialami oleh sebagian responden dalam penelitian ini dapat diasumsikan sebagai model stress berdasarkan transaksional. Pendekatan ini mengacu pada interaksi yang timbul antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya. Antar variabel lingungan, diri sendiri dengan individu terhadap proses penilaian kognitif yang menjadi mediatornya. Studi yang menjadi landasan pada pendekatan ini menyimpulkan bahwa kita tidak akan dapat memprediksikan penampilan seseorang hanya dengan mengenali stimulus, individu bervariasi dalam menyesuaikan diri dengan dirinya dan lingkungannya yaitu dengan meakukan koping terhadap berbagai situasi dan tuntutan (Yosep, I. 2009).

Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat yang dikemukakan oleh Imas Kurniasih (2013) yang menyatakan bahwa Stress emosional mengakibatkan siklus haid tidak teratur. Stress bisa diakibatkan banyak faktor, masalah pekerjaan maupun masalah rumah tangga. Aktivitas yang berlebih (Terlalu Capai) juga bisa menyebabkan gangguan kelenjar hipotalamus, yang nantinya juga mempengaruhi hormon menstruasi , yaitu mempengaruhi pelepasan LS dan FSH, yaitu hormon hipofisis yang memicu ovulasi.

Juga pendapat yang dikemukakan oleh Arina Yulistara (2013) yang menyatakan bahwa siklus menstruasi yang tidak teratur dapat disebabkan oleh faktor stress. Namun faktor hormonal merupakan salah satu penyebab utama tidak teraturnya siklus haid seseorang. Hormon yang mempengaruhi siklus haid adalah estrogen dan progesterone. Hormon-hormon estrogen dan progesteron berperan dalam perubahan rahim selama setiap siklus. Estrogen membangun lapisan rahim. Sedangkan progesteron meningkat setelah ovarium melepaskan sel telur (atau masa ovulasi) pada pertengahan siklus. Hal ini membantu estrogen menjaga lapisan tebal dan siap untuk dibuahi telur. Ketika menstruasi datang, hormon progesteron menurun (bersama dengan estrogen) menyebabkan lapisan rontok. Rontoknya laposan tebal di rahim inilah tandanya menstruasi dimulai.

(9)

Penyebab wanita terlambat menstruasi ada beberapa tetapi hal pertama yang dipikirkan orang ketika mengalami telat menstruasi adalah hamil. Padahal hamil hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor yang menyebabkan haid terlambat datang. Masih banyak faktor yang dapat membuat wanita terlambat datang bulan atau menstruasi. Stress akan mempengaruhi banyak hal dalam hidup termasuk siklus menstruasi. Ketika sedang dalam tekanan, tubuh akan mengurangi produksi hormone GnRH yang menyebabkan tubuh wanita tidak berovulasi atau tidak haid. Setelah masalah selesai atau mendapat bantuan dari dokter haid umumnya dapat normal kembali (Fitria, NH, 2013).

Banyak wanita yang mengeluh karena siklus menstruasinya tidak teratur. Ada yang sering telat atau masa haidnya berlebihan. Penyebab mens yang tidak teratur bisa dikarenakan masalah hormon, kelelahan, stres, hingga adanya penyakit. Wanita yang mempunyai siklus menstruasi tidak normal sebaiknya segera konsultasikan ke dokter kandungan. Umumnya, bila permasalahannya karena Stres maka akan diberikan konseling. Namun kalau ternyata ada gangguan penyakit biasanya akan ditindaklanjuti dengan obat atau operasi (Arina, Y, 2013).

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Desty Nur Isnaeni (2010) yang dalam penelitiannya yang berjudul “Hubungan Antara Stres Dengan Pola Menstruasi Pada Mahasiswa D IV Kebidanan Jalur Reguler Universitas 11 Maret Surakarta” yang menyatakan bahwa Setelah dilakukan perhitungan didapatkan nilai korelasi spearman = 0,282 dan nilai p = 0,016. Hal ini berarti bahwa ada hubungan secara positif antara stres dengan pola menstruasi pada mahasiswa D IV Kebidanan Jalur Reguler Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan kekuatan korelasi lemah. Kesimpulannya terdapat hubungan antara stres dengan pola menstruasi, semakin berat tingkat stresnya maka semakin berpengaruh terhadap pola menstruasi.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka peneliti berasumsi bahwa semakin berat tingkat stress seseorang maka semakin berpengaruh terhadap pola atau siklus menstruasinya. Dalam artian bahwa stress dapat mempengaruhi normal atau tidaknya siklus haid seseorang. Siklus menstruasi yang tidak normal berhubungan dengan stress psikologis. Sewaktu stress terjadi aktivasi aksis hipotalamus-pituitari-adrenal bersama-sama dengan sistem saraf autonom yang menyebabkan beberapa perubahan diantaranya pada sistem reproduksi yaitu siklus menstruasi yang tidak normal.

2. Pengaruh lama pemakaian kontrasepsi terhadap perubahan siklus menstruasi pada pengguna alat kontrasepsi suntik di wilayah kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep.

Dari hasil analisis univariat, maka diketahui bahwa dari total 30 orang responden, 22 orang responden (73.3%) memakai kontrasepsi dengan jangka waktu yang lama, sedangkan 8 orang responden (26.7%) lainnya memakai kontrasepsi dengan jangka waktu yang tidak lama.

Dari hasil analisis bivariat, maka diketahui bahwa ada pengaruh lama pemakaian kontrasepsi terhadap perubahan siklus menstruasi pada pengguna alat kontrasepsi suntik di Wilayah Kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep.

Cyclofem merupakan preparat kontrasepsi suntik terbaru dengan formulasi kombinasi DMPA dan estradiol sipionat diharapkan dapat memberikan siklus haid sealamiah mungkin. Depo provera adalah metoda kontrasepsi untuk mencegah kehamilan dengan cara menyuntikkan obat tertentu kepada wanita usia subur. Depo provera lebih dikenal dengan istilah suntik KB karena merupakan merupakan metoda yang banyak digunakan untuk ber-KB (keluarga berencana).

(10)

alkohol, olahraga yang berlebihan, endometriosis, ataupun penyakit-penyakit yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon seperti sindrom ovarium polikistik, kerusakan ovarium akibat radiasi atau kemoterapi, dan endometriosis (Boy Abidin, 2012).

Menurut dr. Wita Saraswati, Sp.OG (2011) menyatakan bahwa efek samping dari KB suntik biasanya tidak menyenangkan tetapi tidak terlalu berbahaya dan bukan tanda adanya gejala penyakit. Perubahan pola haid biasanya pada tahun pertama pemakaian KB yaitu perdarahan bercak yang dapat berlangsung cukup lama, menyebabkan terjadinya berat badan, dan apabila sudah sering terjadi suntikan ulang seringkali bahkan tidak mengalami menstruasi sama sekali. Namun hal tersebut adalah efek samping yang normal.

Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat yang dikemukakan oleh Fitri Lidia (2012) menyatakan bahwa sejumlah perempuan mengeluhkan pemakaian alat kontrasepsi dengan masalah menstruasi/haid mereka serta lainnya. Masalah tersebut dapat berupa tidak mengalami menstruasi sama sekali sampai menstruasi berat dan berkepanjangan. Oleh karena itu, sebelum menggunakan alat kontrasepsi sebaiknya mengkonsultasikan terlebih dahulu untuk menentukan mana yang sebaiknya digunakan.

Juga pendapat yang dikemukakan oleh Winarni Ahmad (2008) yang menyatakan bahwa salah satu efek samping alat kontrasepsi atau KB suntik adalah gangguan siklus haid. Seperti, menstruasi atau haid tidak teratur atau berhenti sama sekali (amenorhea). Siklus haid akan kembali normal setelah 3 - 6 bulan penggunaan KB suntik dihentikan. Pada beberapa ibu bahkan bisa berlangsung lebih lama lagi. Untuk mengatasi siklus haid tidak teratur, dokter kandungan biasanya akan memberikan pengobatan khusus.

Gangguan siklus menstruasi biasanya banyak terjadi pada ibu usia subur akibat dari pemasangan alat kontrasepsi. Salah satu kerugian atau dampak yang dapat ditimbulkan dari pemakaian kontrasepsi yaitu menyebabkan ketidakteraturan haid Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan penyakit menular seksual, hepatitis B, atau infeksi HIV (Nurul, A. 2012).

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugrahanti, dkk (2009) yang dalam penelitinnya yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) Terhadap Kejadian Gangguan Menstruasi di RSUD dr. Saiful Anwar Malang” yang menyatakan bahwa Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) dapat menyebabkan gangguan menstruasi seperti pemanjangan lama menstruasi dan perdarahan menstruasi, bercak perdarahan, dan nyeri haid. Hal tersebut sering menyebabkan penghentian pemakaian AKDR yang lebih awal.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka peneliti berasumsi bahwa lama pemakaian kontrasepsi dapat berdampak pada ketidak teraturan pola atau siklus menstruasi seseorang. Efek dari pemakaian kontrasepsi dapat berupa perubahan siklus mentruasi seperti tidak teratur, bercak-bercak, mual, nyeri payudara.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan siklus menstruasi pada pengguna alat kontrasepsi suntik di wilayah kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep, maka peneliti menarik kesimpulan penelitian antara lain :

1. Ada pengaruh yang signifikan stress terhadap perubahan siklus menstruasi pada pengguna alat kontrasepsi suntik di wilayah kerja Puskesmas Taraweang Kabupaten Pangkep dimana p value= 0.030 < α 0.05 dengan OR = 15.1

(11)

Saran

Berdasarkan hasil dan kesimpulan penelitian, maka peneliti memberikan beberapa saran natara lain sebagai berikut :

1. Bagi petugas kesehatan baik itu perawat, dokter, bidan dan petugas kesehatan lainnya unutk meningkatkan pemberian informasi terkait masalah perubahan siklus menstruasi agar masyarakat khususnya pengguna kontrasepsi suntik semakin memahami efek dari penggunaan kontrasepsi yaitu dapat mempengaruhi siklus menstruasi jika penggunaannya tidak tepat.

2. Kepada masyarakat khususnya pengguna kontrasepsi suntik agar lebih mengetahui dan memahami terlebih dahulu tentang kontrasepsi sebelum memilih kontrasepsi apa yang sebaiknya digunakan agar dapat meminimalisir dampak dari penggunaan kontrasepsi ketika tidak cocok.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Arina Yulistara, 03 Mei 2013. Liputan Khusus Menstruasi. (Online)

(http://wolipop.detik.com/read/2013/05/03/083623/2236962/1135/, di akses pada 05 Juli 2013).

Divasari. 2012. Jenis stres, Aspek, Penyebab, Reaksi Fisik-Psikologis, KLasifikasi dan

bagaiman mengelolahnya. (online)

(http://stress-jenis-aspek-penyebab-reaksi-fisik.html.blogspot.com).

Anonim. 2012. KB Suntik Kombinasi (Suntik 1 bulan), (online) (http://genniuzz, blogspot.com. Anonim.2010.(online), Asuhan Kebidanan pada Akseptor KB Suntik 3 bulan, (http://midwife

-lida.blogspot.com).

Anurogo D. dkk. 2011. Nyeri Haid. Andg : Yogyakarta

Boy Abidin, 2012. Siklus Menstruasi dan Kontrasepsi. (Online) (http://www.anakku.net/siklus-menstruasi-kontrasepsi.html, di akses pada 21 Juli 2013).

Desty N. I, 2010. Hubungan Antara Stres Dengan Pola Menstruasi Pada Mahasiswa D IV

Kebidanan Jalur Reguler Universitas 11 Maret Surakarta. Skripsi tidak

diterbitkan. Program D IV Kebidanan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Everett S. 2008. Buku Saku Kontrasepsi & Kesehatan Seksual Reproduktif. EGC. Jakarta Fitri Lidia, 2012. KB dan Gangguan Menstruasi. (Online)

(http://www.jambi-independent.co.id/jio/index.php?option=com, di akses pada 05 Juli 2013). Fitria N. H, 29 Januari 2013. 10 Penyebab Wanita Terlambat Datang Bulan. (Online)

(http://www.seksualitas.net/penyebab-telat-datang-bulan-haid.htm, di akses pada 21 Juli 2013).

Glasier A. Dan Gabbi A., 2006. Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta. EGC.

Handayani S. 2010. Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Pustaka Rihama. Ygyakarta Hariwijaya M, dkk. 2011. Panduan Mnyusun Skripsi & Tesis. Siklus : Yogyakarta

Hartanto H., 2006. KB Keluarga Berencana Dan Kontrasepsi. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta

Imas Kurniasih, 04 Mei 2013. Siklus Haid Tidak Teratur, Kenali Penyebabnya. (Online) (http://imaskurniasih.blogdetik.com/2013/05/04/, di akses pada 05 Juli 2013). Suliswati., Payapo. A.T.,Maruhawa.,J.,Sianturi., Yenny., Sumijatun. 2005. Konsep Dasar

Kesehatan JIwa. Jakarta. EGC

Manuaba I.A.C., Manuaba I.B.G.F. dan Manuaba I.B.G., 2012. Ilmu Kebidanan Penyakit

Kandungan dan KB Edisi 2. ECG. Jakarta.

Nugrahanti, Siswanto, Ifadah Zulfatur Rohma. Pengaruh Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) Terhadap Kejadian Gangguan Menstruasi di RSUD dr.

Saiful Anwar Malang. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metode Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi. Rineka Cipta : Jakarta

Nursalam. 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta.

Nurul Aini, 2012. Siklus Menstruasi & Kontrasepsi. (Online)

(http://ainiynurul.wordpress.com/2012/12/07, di akses pada 21 Juli 2013). Saifuddin. 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. PT Bina Pustaka Sarwono

Prawirohardjo. Jakarta

(13)

Sulistyawati A. 2013. Pelayanan Keluarga Berencana. Salemba Medika. Jakarta

Wiknjosastro H., 2009. Ilmu Kandungan cetakan ke 7. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Profil Kesehatan sul-sel. 2010, (online) (http://datinkesssulsel.wordpress. Com

Pinem, Saroha., 2009. Kesehatan Reproduksi dan kontrasepsi.jakarta : Trans Info Media Proverawati A. Misaroh. 2009. Manarache. Nuha Medika : Yogyakarta

Waryana, 2010. Gizi Reproduksi. Pustaka Rihama : Yogyakarta. Winarni A, 2008. Siklus Haid dan KB Suntik. (Online)

(http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/prakonsepsi/, di akses pada 05 Juli 2013).

Wita Saraswati, 2011. Efek Dari KB Suntik. (Online)

Gambar

Tabel 5.3Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Pendidikan di Wilayah Kerja
Tabel 5.4Distribusi Responden Berdasarkan Stres di Wilayah Kerja Puskesmas Taraweang

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis uji chi-square didapatkan hasil dengan nilai p=0,010&lt;α=0,05 yang menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kondisi lingkungan

Setelah diuji dengan statistic chi square ternyata didapatkan nilai p=0,049 (nilai p&lt;0,005) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara paritas dengan

Berdasarkan hasil uji statistik chi- square didapatkan nilai p value = 0,842 lebih besar dari nilai α=0,05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara riwayat

Hasil uji statistik yang digunakan yaitu uji Chi-Square dengan nilai kemaknaan p ≤ 0,05 didapatkan nilai p sebesar 0,048 (p&lt;0,05), maka Ha diterima artinya ada hubungan

Hubungan sikap dengan ketidaklengkapan imunisasi dasar bayi pada analisis diperoleh hasil uji statistic chi- square nilai α = 0,001 (&lt;0,05), Nilai tersebut

Pada tabel Berdasarkan uji chi-square didapatkan nilai ρ value = 0,900 lebih besar dari α=0,05 yang artinya tidak ada hubungan umur ibu dengan kejadian anemia di Puskesmas

Dan dari hasil Uji Chi-Square Test nilai yang dipakai adalah nilai Pearson Chi Square dimana nilai signifikan yang diperoleh adalah 0.047, oleh karena p ˂ α, maka dapat

Dengan Hasil uji chi square dengan tingkat kepercayaan 95% atau α= 0, 05 didapatkan nilai X2 = 55, 662 &gt; X2 tabel (5,991), nilai p =0,000 ternyata X2 hitung lebih besar dari