Perbandingan Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis dan Burung Pipit Dari Timur karya Taufiq El Hakim
(Pembacaan Poskolonialisme)
Oleh: Hizbulloh Huda, M.Pd.
Novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis dan Burung Pipit Dari Timur (روفصع قرشلا نم) karya Taufiq El Hakim memberikan daya tarik luar biasa, di dalamnya
terkisah sebuah romantika muda mudi yang terhalang banyak aral. Pengarang menyuguhkan konflik-konflik yang bertubi-tubi serta dilatari dengan permasalahan
realitas kehidupan, dari ideologi, filsafat, sampai masalah kebangsaan. Karena masalah-masalah tersebut, sepertinya Abdoel Moeis ataupun Taufiq El Hakim sengaja mengajak dialog dengan pembacanya. Memahami serta mendiskusikan
pemikiran-pemikiran tersebut.
Mengikuti alur romantis yang tertuang dalam novel, tentunya dapat membawa
pembaca kepada pemikiran-pemikiran yang sedang diusung oleh Abdoel Moeis maupun Taufiq El Hakim.Namun hal ini bukanlah cara membaca yang baik, karena seorang pembaca harus dapat menyelami serta memilih dengan cerdas kandungan apa
lebih untuk dapat mengungkapkan bagian-bagian tertentu yang yang menjadi kehasan
masing-masing pengarang, serta perbedaan ideologis yang melatarbelakanginya. Salah satu kekhasan novel angkatan Balai Pustaka adalah keterlibatan
langsung dengan Belanda, baik dari segi cerita, penulis, maupun masyarakat sekitarnya. Sehingga nuansa yang terkandung di dalamnya lekat dengan budaya Eropa atau Belanda lebih khususnya. Karena keterlibatan langsung dengan kolonial,
novel ini mengandung banyak ketegangan baik mengenai urusan kebangsaan maupun adat istiadat. Pada bagian yang lain, karya قرشلا نم روفصع yang ditulis pada tahun
1939, merupakan naskah karya sastra yang juga sangat kental dengan kondisi penjajahan Inggris di Mesir, sehingga sangat tepat pula untuk didekati dengan bentuk analisis poskolonial. Pendekatan poskolonial adalah salah satu pendekatan yang
berusaha mengkaji perubahan-perubahan sosial serta ketimpangan yang terjadi akibat penjajahan. Salah satu ciri mendasar dalam wacana poskolonial adalah hibriditas,
yakni perubahan indifidu terjajah menjadi sebuah kedirian baru yang berbeda dengan akar budaya dan adat istiadat yang asli, menjadi seperti penjajah namun tidak pernah bisa seperti mereka, sehingga keasliannya masih terlihat namun ditutup-tutupi.
Macaulay memberikan contoh, ”sebuah kelas orang-orang, yang darah dan warnanya India, tetapi selera, opini, moral, dan inteleknya Inggris.” (Loomba, 2003: 224).
Poskolonial mula-mula diperkenalkan dalam karya sastra oleh Bill Ascroft, dkk. dalam The Empire Writes Back (1989) untuk menunjukkan perbedaan sastra poskolonial, yaitu model “national” dan model “black writing”. (Leela Gandi, 1998:
hibriditas sebagai fokus utama penelitian. Sehingga kebingungan karena keluasan isu
wacana poskolonial dan perbedaan tokoh serta latarbelakang ideologinya dapat diminimalisir.
Hibriditas dihasilkan dari persinggungan dua kultur yang berbeda namun tidak seimbang, kultur yang satu dianggap unggul, prestise dan menekan, dibawa oleh penjajah (Eropa), orang yang berkulit putih serta memegang pemerintahan. Kultur
kedua dianggap rendah, bukan budaya yang baik, dan tertekan. Hal ini membuahkan bentuk baru. Manusia-manusia inlander/bumiputra/kulit hitam, namun memitoskan
barat.
Hanafi dan Muhsin sebagai Tokoh Hibriditas
Merupakan pilihan yang tidak semena-mena bila mengajukan konsep hibriditas sebagai fokus utama dalam analisis novel pada dua novel ini, karena dua
tokoh utama Hanafi dan dan Muhsin adalah simbol utama pergesekan dua budaya besar penjajah dan terjajah, Eropa dan Hindia. Hanafi adalah orang inlander yang mendapatkan pendidikan ala Eropa. Begitu pula Muhsin adalah seorang pribumi
mesir yang mempunyai banyak teman dari pemuda-pemuda inggris.
Hibriditas yang banyak tertuang dalam novel ini tidak hanya terjadi pada diri
Hanafi sebagai simbol utama, tetapi Abdoel Moeis juga memunculkan banyak fenomena hibriditas. Masyarakat sekitar, orang-orang yang menduduki jabatan pemerintahan, dan bahkan kedudukan keagamaan juga mengalami hal yang sama.
perubahan mode pakaian. Tidak semerta-merta pakaian dengan model baru dapat
langsung diterima oleh masyarakat, akan tetapi dengan proses yang panjang, akhirnya sebuah model pakaian dapat diterima dan diminati oleh masyarakat. Tentunya dengan
tidak meninggalkan strategi penguasaannya, baik dengan jalan iklan maupun pemaksaan. Begitu juga hibriditas, dengan cara yang sangat lunak, melalui pendidikan, keagamaan, dan bermacam propaganda yang lain, lambat-laun bentuk
budaya baru yang dibawa oleh penjajah dapat dipakai dan diminati, bahkan dipercaya sebagai bentuk budaya baru yang lebih tinggi.
Sejalan dengan tokoh hanafi, Tokoh Muhsin pada novel Taufiq Al Hakim juga menjadi tokoh sentral dalam menggambarkan perubahan-perubahan yang dialami oleh pemuda saat itu, yang mulai berlaku seperti orang-orang eropa. Meskupun
Muhsin tetap memaksakan diri terhadap keunggulan budaya khas Mesir, dengan mengkritik secara tajam bentuk-bentuk budaya Eropa, Taufiq juga tetap memberikan
ruang dalam proses penyerapan budaya baru tersebut pada bagian modernisasi pemikiran, sehingga terhadap budaya lama yang penuh takhayul dengan halus Taufiq berusaha untuk membumbuinya agar dapat sedikit demi sedikit dapat terhapus dan
lebih kepada rasionalisme.
Perubahan seperti ini digambarkan dengan sangat gamblang oleh Abdoel
Moeis. Dengan memakai tokoh Hanafi, Abdoel Moeis menunjukkan perubahan mendasar dan perilaku hybrid pada diri Hanafi. Setelah menamatkan sekolah HBS di Betawi, muncullah Hanafi baru. Mulailah ia mengolok-olok segala adat istiadat
sebagaimana bentuk rumah Belanda, ada kursi dan meja berbeda dengan kebiasaan
rumah bumiputra di Solok yang biasa duduk lesehan ketika menerima tamu, membuang jauh-jauh kebiasaan bersirih di rumah, meskipun itu adalah kebiasaan
ibunya. Dengan pangkat sebagai Komis, Hanafi lebih suka berkawan dengan orang Belanda.
Bentuk kritik Taufi dengan memakai tokoh Muhsin, tidak seperti cara Abdoel
Moeis yang secara merta-merta memasukkan Hanafi sebagai ikon perubahan. Taufiq lebih menggunakan Muhsin sebagai tokoh yang melanglang buan dalam budaya
barat, akan tetapi juga tidak terlalu meniru, meski dalam beberapa hal, Muhsin tampaknya juga menjadi ikon dari perubahan juga. Taufiq lebih menggunakan Muhsin sebagai bentuk kritik terhadap budaya Eropa pada awal-awal cerita, akan
tetapi selanjutnya Muhsin lebih banyak belajar sehingga dapat dibilang Muhsin banyak mendapat bentuk-bentuk baru dari budaya Eropa.
Sebagaimana kritik yang digambarkan oleh Taufiq pada awal cerita, yang lebih mengedepankan konsepsi teologis, sehingga seperti memposisikan Muhsin sebagai pribadi yang memang kualitas rasionalnya masih belum mumpuni, sehingga
pemaknaan-pemaknaan teologis menjadi tolak ukur utama dalam menerjemahkan budaya.
Tidak seperti Abdoel Moeis yang secara gamblang memposisikan hanafi
sebagai manusia yang berubah sejak awal cerita, Taufiq memakai Muhsin sebagai indifidu yang awalnya kokoh seperti batu, tak lapuk perubahan sekelilingnya, namun
karena derasnya airbah yang bertubi-tubi menerjangnya, akhirnya batu tersebut meski tak pecah terjebur juga kedalam air, dan tenggelam.
Dan Cella mengikutinya dari baris ke baris, Muhsin mendekat dan membaca bersama untuk yang kedua kalinya. Mengulang dan mengulang lagi. Hingga Muhsin merasakan bau harum rambutnya . merasakan basah bibirnya. Merasakan lembut kulitnya. Saling memeluk dan beraduk seperti layaknya kehidupan Paris. (Taufiq Al Hakim, 2003: 98)
Perilaku hybrid anak negeri yang digambarkan oleh Hanafi, sejurus memang
terkesan sesuai dengan alur perubahan zaman, lebih suka bercelana dari pada memakai sarong, memakai jas daripada baju gamis Melayu. Namun dari alasan
alih-alih perubahan zaman inilah modernitas Eropa menggerus budaya lain. Eropa dengan isu modernitasnya, membangun sebuah kerangka ideologi baru yang menerjang ideologi-ideologi dunia ketiga, dengan menganggapnya anti modernitas dan
irrasional, sehingga ditegakkanlah budaya baru Eropa yang superior.
“itulah kesalahannya, Ibu, bangsa kita dari kampung; tidak suka menurutkan putaran zaman. Lebih suka duduk rungkuh dan duduk mengukul saja sepanjang hari. Tidak ubah dengan kerbau bangsa kita, Bu! Dan segala sirih menyirih itu … brrr!” (Moeis, 2006: 25).
Poskolonial sebagai bentuk antithesis dari ideologi modernitas Eropa, melayangkan kritik dengan mengungkap perubahan-perubahan mendasar yang terjadi
di dunia ketiga bekas kolonialisme Eropa. Namun bukan hanya yang terlihat ini saja yang menjadi titik dasar kritik poskolonial. Namun yang lebih penting adalah mental.
Serangan utama poskolonial adalah mental inferior dunia ketiga. Sikap
inferior merupakan masalah mental yang nyata menyebabkan sikap tidak menghargai eksistensi diri. Seakan kediriannya hanyalah pelengkap terhadap dominasi superior.
Untuk menghilangkan kesan ini, identitas harus dibersihkan dari sifat-sifat rendah yang dimiliki oleh budaya asal. Budaya Belanda maupun Inggris adalah budaya penjajah, budaya Eropa, dan budaya dominan, tentunya kebudayaan ini adalah
kebudayaan unggul dan superior. Budaya Melayu adalah budaya terjajah, Asia, dan Subaltern, tentunya adalah budaya rendah dan inferior. Demikianlah sikap inferior,
karena merasa diri lebih rendah derajatnya tiada jalan lain untuk menjadi lebih baik kecuali dengan menghapuskan budaya rendah yang dimilikinya.
Keadaan seperti itu tidak hanya terjadi pada Hanafi maupun Muhsin, namun
juga berlangsung secara fenomenal pada masyarakat terjajah. Subjektivitas yang dimiliki masyarakat terjajah sama sekali hilang, karena dominasi wacana yang ada
dan dapat dianggap benar adalah wacana kolonial. Dalam “Black Skin, White Masks” Frantz Fanon mengungkapkan bahwa kolonialismelah yang mengasingkan dan melencengkan kejiwaan mereka yang terjajah. Yang terjajah tidak bisa
menanggulangi apa yang sedang terjadi karena kolonialisme mengikis kediriannya, subjektifitasnya. (Loomba, 2003: 185)
Dalam memahami konsepsi di atas, Abdoel Moeis dan Taufiq dapat dilihat sebagai seorang nasionalis sejati, mengingat novel yang banyak menggambarkan Hanafi dan Taufiq sebagai orang yang telah menghapus eksistensi kediriannya, diberi
Belanda. Terlihat sangat gamblang dan seakan hal itu terjadi secara lumrah bagi
orang-orang muda yang telah mengenyam pendidikan ala Belanda pada zamannya. Yakni orang-orang bumiputra yang menjadi Belanda karena pendidikannya.
“sepuhan semua Bu! Sepuhan semua. Anak-anak itu tahu abc, pandai sedikit-sedikit bahasa Belanda, disangka orang mereka sudah ada di puncak gunung kepandaian. Tapi pengetahuan umum, yang dikatakan orang Belanda algemene ontwikkeling, itu semua hanya didapatkan dari HBS saja dan kalau lama bercampur gaul atau tinggal di rumah orang Belanda. (Moeis, 2006: 32).
Kata-kata tersebut diucapkan oleh Hanafi yang sedang berdebat dengan
Ibunya mengenai adat kebiasaan. Ibunya memegang teguh budaya asalnya Melayu, sedang Hanafi bersikeras mengunggulkan Eropa dan memandang rendah budaya ibunya. Kalau orang-orang muda berpendidikan yang di bawah Hanafi saja sudah
dianggap banyak orang sebagai orang-orang yang berperadaban tinggi, apalagi Hanafi.
Hibriditas yang terjadi pada diri Hanafi maupun Muhsin dan kaum terpelajar lainnya, tidak terjadi dengan sendirinya, namun banyak dibumbui oleh pandangan-pandangan baru mengenai ideologi. Pandangan hidup yang dibawa Eropa merupakan
pandangan hidup yang logis dan rasional, karena semuanya didasarkan kepada pemikiran rasional. Berbeda dengan pemahaman dunia ketiga yang banyak dibumbui
oleh tahayul dan irrasional.
Kembalinya Si Anak Hilang
diawal cerita yang sangat kokoh dalam memegang konsep-konsep teologisnya, harus
masuk kedalam bentuk budaya baru yang tidak bisa tidak selalu mengitarinya dan akhirnya menyeretnya dalam rengkuhan budaya Eropa tersebut.
Dalam keadaan yang selalu terombang-ambing dalam kehidupan baru tersebut, yang secara mental selalu menyiksanya karena pada dasarnya bertentangan dengan hati nuraniya, pada akhirnya Muhsin dapat kembali menguatkan dirinya dan
kembali memegang teguh keyakinannya.
Dalam hal ini, Taufiq memang sengaja melakukan kritik terhadap budaya
barat, dengan tidak membabi buta, masuk kedalamnya untuk kemudian kembali mengambil bagian di budaya asalnya secara lebih baik dan rasional. Hal inilah yang membedakannya dengan Abdoel Moeis, Taufiq tetap memepercayakan kekuatan
teologis dan keyakinan timurnya pada diri Muhsin. Muhsin meski juga pernah lapuk dalam budaya Eropa, namun terus menerus proses terjerumus tersebut menjadi bahan
tersendiri bagi Taufiq untuk melakukan kritik terhadap Barat simbol kolonialisme.
Kesombongan Bangsa
Pertentangan terhadap kawin campur merupakan masalah yang sangat umum dalam kebudayaan. Seseorang yang mungkin tidak terlalu memperdulikan perbedaan
budaya dan tidak merasa rendah diri terhadap budaya lain, akan menjadi berbeda ketika dihadapkan kepada masalah perkawinan campur. Artinya, bagian tertentu dalam mental seseorang masih saja dihinggapi masalah ‘kesombongan bangsa.’
sebagai bangsa yang berbudaya tinggi, masyarakatnya tentu akan menolak
keras-keras perkawinan campuran dengan bumiputra. Karena hal itu akan mengakibatkan nista dan merendahkan martabat bangsa Eropa. Di sisi lain, Hanafi seorang
Bumiputra, telah menanggalkan segala kebumiputraannya. Bahkan telah mendaftar sebagai warga Belanda.
Kawin campuran itu sesungguhnya banyak benar rintangannya, yang ditimbulkan oleh manusia juga Corrie! Karena masing-masing manusia dihinggapi oleh suatu penyakit ‘kesombongan bangsa’. Sekalian orang, masing-masing dengan perasannya sendiri, menyalahi akan bangsanya … (Moeis, 2006: 15).
Kritik ini menjadi semakin pedas, karena Abdoel Moeis memakai tokoh du
Bussee bapak Corrie seorang pejabat tinggi di Solok berbangsa Perancis. Hal ini menunjukkan bahwa sikap seorang penjajah pun belum tentu benar-benar sombong
dan mementingkan keunggulan budayanya. Namun kenyataan tersebut tidaklah menyurutkan terjadinya perubahan pada warga bumiputra. Karena mereka yang berpendidikan sebagaimana tokoh Hanafi, adalah manusia hybrid,
manusia-manusia berpendidikan yang menjadi Belanda karena malu menjadi bangsa sendiri. Merasa kehilangan eksistensi kebangsaan sehingga lebih suka menghamba dan
mengakui superioritas penjajah.
Tidak salahlah Fanon dalam menyebut kolonialisme dengan sebutan penyakit psikopatologis. Penyakit mental yang memelencengkan hubungan-hubungan manusia
dan menyebabkan semua orang yang berada di dalamnya sakit. (Loomba 184). Si bumiputra sakit karena ingin menjadi setingkat dengan penjajah, dengan
penjajah selalu melakukan othering dengan berpandangan bahwa kebalikan putih
adalah hitam, selain putih adalah hitam, maka bumiputra adalah orang lain (the other).
Keberpihakan Abdoel Moeis dalam menonjolkan nasionalisme terlihat dari konflik-konflik yang terjadi antara corrie dan Hanafi setelah keduanya menikah. Hal yang diidamkan baik Hanafi maupun corrie benar-benar dapat terjadi dan akhirnya
meski telah berpisah lama, jalinan cinta mereka tetap merekah dan akhirnya mereka menikah. Hanafi mendaftarkan diri menjadi warga Belanda dengan mengganti
namanya menjadi Hannetje.
Setelah keduanya menikah, ternyata keindahan yang dibayangkan keduanya tidaklah sesuai dengan kenyataan. Corrie yang dicintainya seringkali marah-marah
dan tidak manja seperti dahulu ketika masih gadis. Setelah diturut ternyata masalahnya adalah hilangnya teman-teman Belanda corrie, karena menganggap corrie
telah menjadi nista karena kawin dengan orang bumiputra. Berlarut-larutnya masalah tersebut dan keduanya tidak dapat memadamkannya, akhirnya keduanya bercerai dan kemudian corrie meninggal karena kholera.
Abdoel Moeis mengingatkan kepada pembaca bahwa keinginan tidak selalu sesiai dengan kenyataan. Akan tetapi tidak sesederhana itu, Hanafi adalah seorang
bumiputra yang menjadi Belanda. Menimang masalah yang mengakibatkan keterpurukan itu adalah orang-orang Belanda sendiri, semakin jelaslah bahwa Abdoel Moeis kembali mengingatkan mengenai kesombongan bangsa. Tentusaja yang
dirinya untuk menjadi Eropa, tetap saja dia tidak pernah diakui sebagai Eropa karena
kebumiputraannya. Inilah inti dari maksud kesombongan bangsa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Abdoel Moeis. Akan tetapi karena penulisan terjadi pada masa
kolonialisasi, tidak akan mungkin ditulis dengan cara lugas. Kalaupun tertulis secara lugas, tidak akan terbaca sampai sekarang.
Kesimpulan
Novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis dan Burung Pipit dari Timur karya Taufiq Al Hakim ini, mengingatkan penulis pada komentar-komentar beberapa penulis teori poskolonial terhadap Fanon dalam Black Skin, White Masks-nya.
Seorang yang dikatakan sebagai pendekar dunia ketiga, karena kritik pedasnya terhadap kolonialisme. Gambaran Hanafi sebagai tokoh utama benar-benar
menggambarkan tokoh hybrid, karena mental dan perangainya seperti memakai White Mask.
Lebih-lebih yang menarik adalah sifat antagonis dalam novel ini tidaklah
tersirat secara jelas, karena semua tokoh tidak dapat dihukumi secara langsung dengan ciri-ciri antagonistik. Satu-satunya yang mempunyai sifat antagonis adalah
‘keadaan’. Yakni keadaan kolonialisme. Keadaan yang menjadikan Hanafi ataupun Muhsin harus kehilangan eksistensi kebangsaannya.
Meski tidak menyertakan secara keseluruhan ciri-ciri poskolonial dan akibat
yang ada dalam novel. Pengarang banyak menyuguhkan masalah-masalah mental
akibat penjajahan. Meski tidak memunculkan akibat-akibat fisik seperti kesengsaraan dan kemelaratan akibat penjajahan, pengarang dapat menunjukkan masalah yang
lebih sulit dicarikan obatnya, yakni masalah mental orang-orang terjajah.
Dengan memberikan contoh-contoh perubahan perilaku yang terjadi pada hasil pendidikan Belanda dan Inggris, Abdoel Moeis dan Taufiq Al Hakim pada
dasarnya bersuara “bolehlah berpendidikan akan tetapi ingatlah pada bangsa sendiri”. Sebagaimana Fanon memberikan contoh Mahatma Gandhi yang banyak belajar
tentang ideologi-ideologi barat, akan tetapi menggunakan dan memanfaatkannya untuk perjuangan bangsanya.
Kepustakaan
Gandhi, Leela. 2001. Teori Poskolonial; Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat. Jogjakarta: Penerbit Qalam.
Hakim, Taufiq Al, 2003. Terj. Burung Pipit Dari Timur (قرشلا نم روفصع ). Jogjakarta: Tawang Press.
Loomba, Ania. 2003. Kolonialisme/Pascakolonialisme. Jogjakarta: Bentang Budaya.