PENGARUH MACAM MEDIA DAN DOSIS KAPUR TERHADAP
PERTUMBUHAN JAMUR TIRAM PUTIH
Disusun Oleh:
1. Andreas Rony Wijaya (M0114002) 2. Dhina Prabandari (M0114010) 3. Dwi Sari Utami (M0114011) 4. Hania Seftianingrum (M0114017) 5. Lestari Jatiningsih (M0114023)
PROGRAM STUDI MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016
I. PENDAHULUAN
Menurut Cahyana dan Bakrun dalam Hanifah (2014) jamur tiram putih merupakan salah satu jamur edibel dan jamur kayu yang banyak dikonsumsi masyarakat karena memiliki kandungan gizi lebih banyak daripada jenis jamur lainnya. Jamur tiram mengandung protein, lemak, fosfor, besi, thiamin, dan
rhiboflavin lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur-jamur lain. Jamur tiram mengandung 18 macam asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh manusia dan tidak mengandung kolesterol. Khasiat jamur tiram untuk kesehatan adalah menghentikan luka pada permukaan tubuh, mencegah penyakit diabetes mellitus, menambah daya tahan tubuh dan memperlancar buang air besar (Djarijah, 2011).
Menurut Gunawan dalam Hariadi, dkk (2013) jamur tiram putih (Pleurotus osreatus) mulai dibudidayakan pada tahun 1900. Budidaya jamur tiram saat ini sangat prospektif karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi, salah satu pangan alternatif yang lezat, sehat, dan bergizi tinggi, tidak memerlukan lahan yang luas, permintaan pasar terhadap jamur tiram masih tinggi, bahan media yang diperlukan dapat diperoleh dengan mudah dan murah. Ketersediaan jamur tiram di pasar lokal masih sangat terbatas dan teknologi budidaya jamur tersebut masih mengandalkan serbuk gergaji sebagai medium utama. Hal tersebut karena teknologi budidaya pada substrat alternatif lain masih belum disempurnakan. Oleh karena itu, percobaan ini dilakukan untuk membandingkan pertumbuhan dan produksi jamur tiram pada berbagai substrat alternatif yang merupakan limbah industri.
Sejalan dengan kebutuhan manusia akan jamur sebagai konsumsi maupun obat, maka perlu usaha budidaya jamur tiram untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas jamur tiram yang perlu dibudidayakan perlu dicari berbagai teknik budidaya yang )cocok. Media tanam yang digunakan untuk budidaya jamur tiram secara umum dapat menggunakan serbuk kayu, ampas tebu, hati kapuk randu, dan air. Selain itu diperlukan juga penambahan kapur untuk mengatur pH media, sehingga dapat membantu meningkatkan pertumbuhan jamur tiram. Oleh karena itu, diperlukan suatu uji untuk mengetahui media terbaik, dosis pemberian kapur yang tepat dan interaksi keduanya pada pertumbuhan jamur tiram putih.
Pada makalah ini digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x2 karena terdapat dua faktor yaitu media dan dosis pemberian kapur. Kedua faktor tersebut diduga saling berinteraksi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa media terbaik untuk pertumbuhan jamur tiram putih?
2. Bagaimana dosis pemberian kapur yang terbaik bagi pertumbuhan jamur tiram putih?
3. Bagaimana interaksi antara macam media dan pemberian dosis kapur terhadap pertumbuhan jamur tiram putih?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui media terbaik untuk pertumbuhan jamur tiram putih.
2. Mengetahui dosis pemberian kapur yang terbaik bagi pertumbuhan jamur tiram putih.
3. Mengetahui interaksi antara macam media dan pemberian dosis kapur terhadap pertumbuhan jamur tiram putih.
II. LANDASAN TEORI
(kurang Uji Hipotesis, UJGD, Statistik Deskriptif, Jamur)
A. Rancangan Percobaan
Rancangan Percobaan merupakan langkah-langkah lengkap yang perlu diambil jauh sebelum percobaan dilakukan agar data yamg semestinya diperlukan dapat diperoleh sehingga akan membawa pada analisis objektif dan kesimpulan yang berlaku untuk persoalan yang dibahas (Sudjana, 1995).
Sedangkan Montgomery (1991) menyebutkan rancangan percobaan adalah suatu uji atau serangkaian uji yang dibuat untuk mengamati dan mengidentifikasi perubahan respon dengan adanya variabel-variabel bebas dalam suatu proses atau system.
Menurut Widasari (1988) ada tiga prinsip dasar yang harus dimengerti dalam rancangan percobaan.
1) Randomisasi
Randomisasi dilakukan pada waktu pengalokasian materi percobaan dan pada waktu mengurutkan masing-masing percobaan dari keseluruhan penelitian. Salah satu tujuan randomisasi adalah untuk menghilangkan efek faktor luar atau faktor yang tidak dibahas.
2) Replikasi
yang sama setelah diberi perlakuan yang identik. Meskipun terkadang variasi sesatan telah dapat ditaksir dari asumsi-asumsi yang diberikan.
3) Pemblokan
Pemblokan adalah pengalokasian unit-unit percobaan dalam blok-blok, sedemikian hingga unit-unit percobaan yang berada dalam blok yang sama lebih homogen dibanding dengan blok-blok yang lain.
Suatu perancangan percobaan memiliki beberapa unsur yang sangat berpengaruh terhadap hasil percobaan (Mattjik & Sumertajaya, 2006). Unsur-unsur tersebut antara lain unit percobaan, perlakuan, satuan amatan dan galat.
Unit percobaan adalah unit terkecil dalam suatu percobaan yang diberikan suatu perlakuan. Unit terkecil ini dapat berupa petak lahan, individu, sekelompok ternak, dan sebagainya tergantung percobaan yang sedang dilakukan. Perlakuan adalah sekumpulan kondisi percobaan yang akan digunakan terhadap unit percobaan dalam ruang lingkup rancangan yang dipilih. Dalam rancangan percobaan, variabel bebas dinamakan faktor dan nilai-nilai atau klasifikasi dari sebuah faktor dinamakan taraf faktor. Faktor seringkali dinyatakan dengan huruf kapital, sedangkan taraf faktor dinyatakan dalam angka (Sudjana, 1995).
Satuan amatan adalah anak gugus dari unit percobaan tempat di mana respon perlakuan diukur. Satuan amatan ini merupakan bagian yang nantinya akan diamati responnya terhadap perlakuan yang diberikan. Galat atau kesalahan percobaan adalah keragaman yang diakibatkan oleh ketidakmampuan materi percobaan yang diperlakukan sama untuk menghasilkan perilaku yang sama pula (Harjosuwono dkk, 2011). Galat percobaan berguna untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh perlakuan atau menguji asal perlakuan dari populasi yang sama atau tidak. Selain itu galat juga berfungsi untuk menunjukkan efisiensi dari suatu rancangan percobaan serta mengukur keragaman suatu pengamatan terhadap unit-unit percobaan.
B. Asumsi- Asumsi
Asumsi-asumsi yang harus dipenuhi untuk rancangan faktorial model tetap adalah galat dalam model tersebut adalah berdistribusi normal dan independen serta galat dalam percobaan mempunyai galat yang homogen.
1. Asumsi Normalitas
a. Urutkan nilai residual ( ei ) dari yang terkecil sampai terbesar.
dengan bantuan sebaran normal
baku. F merupakan fungsi sebaran normal kumulatif sedangkan Q(pi) adalah kuantil normal baku.
d. Buat plot antara ei yang telah diurutkan dengan Q
(
pi)
yang merupakan Q-Q plot.Pola pemencaran titik dalam plot yang membentuk garis lurus menjadi petunjuk bahwa sebaran data dapat didekati oleh pola sebaran normal.
Uji kenormalan dapat juga dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov.
Hipotesis :
H0 : Residual berdistribusi normal
H1 : Residual tidak berdistribusi normal
Dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menentukan perbedaan absolut maksimum antara distribusi kumulatif data sampel (observasi) dengan distribusi yang dihipotesiskan.
DN =|Fn(X)−F0(X)|
¿
dengan
Fn(X) : distribusi kumulatif data sampel
F0(X) : distribusi kumulatif yang dihipotesakan
Fn(X) diperoleh dengan cara menentukan frekuensi kumulatif residual dari yang terkecil ke yang terbesar kemudian membaginya dengan banyaknya data residual yang ada. Untuk mencari F0(X) terlebih dahulu mencari nilai Z
sebagai berikut: Z=X− ´X
σ . Kemudian nilai Z ini dibandingkan dengan
b. Membandingkan nilai absolut maksimum di atas dengan suatu nilai kritis
DN(α) . DN(α) merupakan nilai kritis yang diperoleh dari tabel
Kolmogorov-Smirnov dengan DN(α)=1,36
√
NKeputusan: tolak H0 jika DN DN(α) atau p-value <
2. Homogenitas Variansi
Pengujian homegenitas varian dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan membuat plot antara residual dengan nilai prediksinya. Bila plot yang terbentuk tidak membentuk suatu pola tertentu maka dikatakan homogenitas varian terpenuhi. Cara lain yaitu dengan uji Barlett. Adapun prosedurnya:
Hipotesis :
2 (varian dari semua perlakuan sama) H1 : paling sedikit sepasang tidak sama.
Statistik uji:
Pengujian keacakan galat dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara visual (dengan grafik) dan cara formal. Pengujian secara visual dengan membuat plot antara nilai galat percobaan (εijk) dengan urutan datanya. Apabila plot yang dihasilkan tidak membentuk pola tertentu maka dapat dikatakan galat percobaan saling bebas (tidak ada korelasi antar galat).
H0 : tidak ada autokorelasi antar galat
H1 : ada autokorelasi antar galat Statistik uji :
d=
∑
i=2n
(ei−ei−1)2
∑
i=1n
ei2
Keputusan: tolak H0 jika d dL, dimana dL adalah nilai batas bawah dari tabel Durbin-Watson.
4. Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial AxB
Rancangan acak lengkap (RAL) merupakan jenis rancangan percobaan yang paling sederhana. Pada umumnya, rancangan ini biasa digunakan untuk percobaan yang memiliki media atau lingkungan percobaan yang seragam atau homogen (Mattjik & Sumertajaya, 2000).
Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial AxB adalah rancangan acak lengkap yang terdiri dari dua peubah bebas (Faktor) dalam klasfikasi silang yaitu faktor A yang terdiri dari a taraf dan faktor B yang terdiri dari b taraf dan kedua faktor tersebut diduga saling berinteraksi. Saling berinteraksi dimasudkan bahwa pengaruh suatu faktor tergantung dari taraf faktor yang lain, dan sebaliknya jika tidak terjadi interaksi berarti berarti pengaruh suatu faktor tetap pada setiap taraf faktor yang lain. Jadi bila tidak terjadi interaksi antar taraf-taraf suatu faktor saling sejajar satu sama lainnya, sebaliknya bila ada interaksi tidak saling sejajar.
Misalkan faktor A terdiri dari 3 taraf yaitu a1, a2 dan a3 dan faktor B terdiri dari
4 taraf yaitu b1, b2, b3 dan b4 maka dapat digambarkan pada Gambar 2.1 dan Gambar 2.2 berikut :
Gambar 2.2 Ada interaksi antara faktor A dengan faktor B
Jika faktor A dengan faktor B tidak berinteraksi, maka garis a1, a2 dan a3 tampak
sejajar, sedangkan jika terjadi interaksi, maka a1, a2 dan a3 tampak tidak sejajar.
Model matematik:
Yijk=μ+Ai+Bj+ABij+Cijk
dengan i = 1, 2, 3, …, a j = 1, 2, 3, …, b k = 1, 2, 3, …, u
Yijk = pengamatan faktor A taraf ke-i, faktor B taraf ke-j dan ulangan ke-k
μ = rataan umum
Ai = pengaruh faktor A pada taraf ke-i
Bj = pengaruh faktor B pada taraf ke-j
ABij = interaksi antara faktor A dengan faktor B
Cijk = pengaruh galat pada faktor A taraf ke-i, faktor B taraf ke-j, dan ulangan ke-k
Model diatas diduga berdasarkan datanya sebagai berikut :
Yijk=Y´´…+
(
Y´´i..−Y´´…)
+(
Y´´. j .−Y´´…)
+(
Y´´ij.−Y´´i .−Y´´. j+Y´´..)
+(Yijk−Y´´ij .)Y
(¿¿ijk− ´´Y…)=
(
Y´´i..−Y´´…)
+(
Y´´. j .−Y´´…)
+(
Y´´ij .−Y´´i .−Y´´. j+Y´´..)
+(Yijk−Y´´ij .)¿
Derajat Bebas
(abu - 1) = (a-1) + (b-1) + (ab-a-b+1) + (abu-ab) = (a-1) + (b-1) + (a-1)(b-1) + ab(u-1)
1 2 y121 y122 y123 y124 y12.
Tabel 2.2 dua arah antara faktor A dan faktor B Faktor A
Tabel 2.3 Daftar sidik ragam
S K D B J K K T F H F Tabel P
0.05 0.01
A (a-1) JK A JK A/(a-1)=A A/G
B (b-1) JK B JK B/(b-1)=B B/G
AB (a-1)(b-1) JK AB JKAB/(a-1)(b-1)=AB AB/G Galat ab(u-1) JK G JK G/kp(u-1)=G
Total (abu – 1) JK T C. Penggunaan Software SPSS
tetapi seiring meluasnya penggunaan teknologi, SPSS mulai banyak digunakan di berbagai bidang lain juga sehingga kemudian namanya diubah menjadi Statistical Product and Service Solutions. Selain itu, kini SPSS tidak hanya mampu menangani permasalahan statistik saja tetapi juga telah meluas ke bidang eksplorasi data serta
predictive analytic (Santoso, 2008). Pada penelitian ini penulis menggunkaan software
SPSS 19.
1. Tampilan Antar Muka
Tampilan awal SPSS dapat digambarkan seperti pada Gambar 2.3 berikut.
Gambar 2.3 Tampilan awal SPSS
Gambar 2.4 Area Kerja SPSS
Keterangan gambar:
a. Jendela kerja d. Title bar b. Menu bar e. Status bar c. Tool bar
2. Analisis Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial
Analisis sidik ragam menggunakan software SPSS dimaksudkan untuk mempercepat perhitungan tanpa menghilangkan pemahaman tentang rancangan percobaannya. Penggunaan software SPSS untuk melakukan perhitungan pada rancangan acak lengkap dapat dijabarkan dengan langkah-langkah sebagai berikut (Harjosuwono dkk, 2011).
Gambar 2.5 Menginput Data ke dalam Area Kerja SPSS.
b. Pada Variable View masing-masing kode dapat didefinisikan seperti Gambar 2.6. Tulis pada baris pertama (perlakuan pertama), baris kedua (perlakuan kedua), baris ketiga (ulangan/blok), dan baris keempat (hasil). Kemudian pada “Values” di baris perlakuan pertama, kedua, dan blok diberi kode seperti pada Gambar 2.7.
Gambar 2.7 Mengidentifikasi value labels setiap variable
c. Untuk melakukan proses analisis dapat dilakukan dengan cara klik “Analyze”, “General Linear Model”, dan “Univariate” seperti Gambar 2.8 berikut.
Gambar 2.8 Menganalisis Data Hasil Pengamatan
Gambar 2.9 Mengatur Proses Analisis
e. Untuk menampilkan hasil yang diinginkan dari data yang diolah perlu dilakukan pemilihan deskripsi hasil seperti Gambar 2.10 dan Gambar 2.11 berikut ini.
Gambar 2.11 Pemilihan deskripsi selanjutnya
f. Setelah seluruh proses dijalankan maka akan didapatkan hasil analisis seperti Gambar 2.12 dan Gambar 2.13 di bawah ini.
Gambar 2.13 Hasil Perhitungan Menggunakan SPSS
Pada Gambar 2.12 di atas muncul nilai F dan nilai Sig hasil perhitungan. Jika nilai Sig yang dihasilkan kurang dari taraf signifikansi yang telah ditentukan maka dapat disimpulkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap respon yang diamati. Begitu pula sebaliknya, jika nilai Sig melebihi taraf signifikansi yang telah ditentukan, maka perlakuan tidak berpengaruh terhadap respon yang diamati.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diambil dari data skripsi Hanif Budi Prasetyo, mahasiswa Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian UNS pada tahun 2006 dengan judul “Pengaruh Macam Media dan Dosis Kapur terhadap Pertumbuhan Jamur Tiram Putih”.
Data tersebut terdiri dari data pengamatan saat muncul badan buah jamur tiram putih pertama, data pengamatan jumlah badan buah jamur tiram putih panen yang pertama, data pengamatan jumlah badan buah jamur tiram putih panen yang kedua, data pengamatan lebar tudung terlebar jamur tiram putih panen yang pertama, data pengamatan lebar tudung terlebar jamur tiram putih panen yang kedua, data pengamatan interval panen, data pengamatan berat basah badan buah jamur tiram putih panen yang pertama, dan data pengamatan berat basah badan buah jamur tiram putih panen yang kedua.
B. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini yaitu: 1. Variabel terikat
Pertumbuhan jamur tiram putih yang dilihat berdasarkan:
a. Saat pertama muncul badan buah jamur tiram putih yang diamati dalam satuan hari.
b. Berat basah jamur tiram putih dari hasil panen pertama dan kedua yang diamati dalam satuan gram.
c. Jumlah badan buah jamur tiram putih dari hasil panen pertama dan kedua. d. Interval panen (lamanya hari antara waktu panen pertama dan kedua) yang
diamati dalam satuan hari.
Pada penelitian ini menggunakan rancangan percobaan factorial dengan pola dasar rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari dua factor perlakuan yang masing-masing diulang tiga kali. Faktor pertama adalah faktor macam media (M) yang terdiri dari tiga taraf faktor yaitu serbuk kayu sengon (M1), ampas tebu (M2), dan hati kapuk
faktor yaitu tanpa kapur (K0), 100 gram kapur (K1), 200 gram kapur (K2), dan 300 gram
kapur (K3). Kombinasi perlakuan dari kedua faktor yaitu sebagai berikut:
M1K0 : Media serbuk kayu sengon, tanpa kapur
M1K1 : Media serbuk kayu sengon, 100 gram kapur
M1K2 : Media serbuk kayu sengon, 200 gram kapur
M1K3 : Media serbuk kayu sengon, 300 gram kapur
M2K0 : Media ampas tebu, tanpa kapur
M2K1 : Media ampas tebu, 100 gram kapur
M2K2 : Media ampas tebu, 200 gram kapur
M2K3 : Media ampas tebu, 300 gram kapur
M3K0 : Media hati kapuk randu, tanpa kapur
M3K1 : Media hati kapuk randu, 100 gram kapur
M3K2 : Media hati kapuk randu, 200 gram kapur
M3K3 : Media hati kapuk randu, 300 gram kapur
D. Langkah-langkah Analisis Data
(buat kayak langkah-langkah operasional buat analisis data)
Dari hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, analisis ragam (uji F 5%), dan jika terjadi perbedaan yang nyata diantara perlakuan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJGD) pada taraf 5%.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Penelitian
A. Saat muncul badan buah jamur tiram putih pertama
(Lihat skripsi). Adapun hasil pengamatan yang ditunjukkan pada tabel berikut:
M3K0 30 66 80 176 58.66
M3K1 84 86 68 238 79.33
M3K2 68 68 70 206 68.66
M3K3 56 52 53 161 53.66
Sebelum melakukan pengujian analisis ragam, berikut ini akan dilakukan pengujian asumsi analisis ragam:
(residu harus homogen, independen, dan normal)
B. Untuk mengetahui pengaruh macam media dosis dan pemberian kapur terhadap pertumbuhan jamur tiram putih yang dilihat berdasarkan saat muncul badan buah jamur tiram putih pertama untuk tiap faktor dan interaksinya dilakukan uji analisis varian (ANAVA) yang ditunjukkan pada tabel berikut:
Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable:Hasil
Source
Type III Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Model 2984.306a 11 271.301 1.986 .078
Intercept 127568.028 1 127568.028 933.804 .000
Perlakuan1 609.556 2 304.778 2.231 .129
Perlakuan2 752.306 3 250.769 1.836 .168
Perlakuan1 * Perlakuan2
1622.444 6 270.407 1.979 .109
Error 3278.667 24 136.611
Total 133831.000 36
Corrected Total 6262.972 35
a. R Squared = .476 (Adjusted R Squared = .237)
Pengaruh utama faktor macam media (M) (i) Hipotesis
H0 : M1 =M2 = M3 = 0 (Ketiga macam media tidak mempengaruhi pertumbuhan
H1 : paling sedikit ada satu i dimana Mi 0 (Ada macam media yang mempengaruhi
pertumbuhan jamur tiram putih yang dilihat berdasarkan saat muncul badan buah jamur tiram putih pertama)
(ii) Tingkat signifikansi
Digunakan tingkat signifikansi α=5
(iii) Daerah Kritis H0 ditolak jika p-value < α
p-value < 0,05
(iv)Statistik Uji
Dari output software IBM SPSS 19 diperoleh p-value = 0,129 (v) Kesimpulan
Karena diperoleh p-value = 0,129 > α=0,05 maka H0 tidak ditolak, artinya ketiga
macam media tidak mempengaruhi pertumbuhan jamur tiram putih yang dilihat berdasarkan saat muncul badan buah jamur tiram putih pertama pada tingkat signifikansi α=5 .
Pengaruh utama faktor dosis pemberian kapur (K) (i) Hipotesis
H0 : K1 = K2 =K3 = K4 = 0 (Keempat dosis pemberian kapur tidak mempengaruhi
pertumbuhan jamur tiram putih yang dilihat berdasarkan saat muncul badan buah jamur tiram putih pertama)
H1 : paling sedikit ada satu i dimana Mi 0 (Ada dosis pemberian kapur yang
mempengaruhi pertumbuhan jamur tiram putih yang dilihat berdasarkan saat muncul badan buah jamur tiram putih pertama)
(ii) Tingkat signifikansi
Digunakan tingkat signifikansi α=5 (iii) Daerah Kritis
H0 ditolak jika p-value < α
p-value < 0,05 (iv)Statistik Uji
Dari output software IBM SPSS 19 diperoleh p-value = 0,168 (v) Kesimpulan
Karena diperoleh p-value = 0,168 > α=0,05 maka H0 tidak ditolak, artinya
yang dilihat berdasarkan saat muncul badan buah jamur tiram putih pertama pada tingkat signifikansi α=5 .
Pengaruh interaksi faktor macam media (M) dan dosis pemberian kapur (K) (i) Hipotesis
H0 : (MK)11 = (MK)12 =… = (MK)34 = 0 (Keduabelas interaksi macam media dan
dosis pemberian kapur tidak mempengaruhi pertumbuhan jamur tiram putih yang dilihat berdasarkan saat muncul badan buah jamur tiram putih pertama)
H1 : paling sedikit ada sepasang (i,j) dimana (MK)ij 0 (Ada interaksi macam media
dan dosis pemberian kapur yang mempengaruhi pertumbuhan jamur tiram putih yang dilihat berdasarkan saat muncul badan buah jamur tiram putih pertama)
(ii) Tingkat signifikansi
Digunakan tingkat signifikansi α=5
(iii) Daerah Kritis H0 ditolak jika p-value < α
p-value < 0,05
(iv)Statistik Uji
Dari output software IBM SPSS 19 diperoleh p-value = 0,109 (v) Kesimpulan
Karena diperoleh p-value = 0,109 > α=0,05 maka H0 tidak ditolak, artinya
keduabelas interaksi macam media dan dosis pemberian kapur tidak mempengaruhi pertumbuhan jamur tiram putih yang dilihat berdasarkan saat muncul badan buah jamur tiram putih pertama pada tingkat signifikansi α=5 .
DAFTAR PUSTAKA
Cahyana, M., dan M. Bakrun. 1999. Pembibitan, Pembudidayaan, Analisis usaha Jamur tiram. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hanifah, Evy. 2014. Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) pada Komposisi Media Tanam Serbuk Gergaji, Ampas Tebu, dan Jantung Pisang yang Berbeda. Artikel Publikasi Ilmiah. Surakarta.
Hariadi, N., Lilik Setyobudi, dan Ellis Nihayati. 2013. Studi Pertumbuhan dan Hasil
Produksi Jamur Tiram Putih (Pleorotus ostreatus) pada Media Tumbuh Jerami Padi dan Serbuk Gergaji. Jurnal Produksi Tanaman. Vol:1, No. 1. Jawa Timur.
Harjosuwono, B. A., Arnata, I. W. dan Puspawati, G. A. K. D. 2011. Rancanga Percobaan Teori, Aplikasi SPSS dan Excel. Lintas Kata Publishing. Malang.
Mattjik, Ahmad Ansori dan Sumertajaya, Made. 2006. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab Jilid I. IPB Press. Bogor.
Montgomery, D. C. 1991. Design and Analysis of Experimens. John Willey & Sons. New York.
Santoso, Singgih. 2008. Panduan Lengkap Menguasai SPSS 16. PT Elex Media Komputindo. Jakarta.
Sudjana. 1995. Desain dan Analisis Eksperimen, Edisi IV. Tarsito. Bandung.
Widasari, S. 1988. Materi Pokok Rancangan Percobaan. Karunika Universitas Terbuka. Jakarta.
LAMPIRAN
1. Tabel data pengamatan saat muncul badan buah jamur tiram putih pertama
2. Data pengamatan jumlah badan buah jamur tiram putih panen yang pertama
3. Data pengamatan jumlah badan buah jamur tiram putih panen yang kedua
Perlakua
4. Data pengamatan lebar tudung terlebar jamur tiram putih panen yang kedua
Perlakua
M1K0 23.7 24 25 72.7 24.23
M1K1 24.5 23.7 29.7 77.9 25.97
M1K2 27.3 29 31.3 87.6 29.20
M1K3 25.3 25.5 23.4 74.2 24.73
M2K0 31.3 26 28 85.3 28.43
M2K2 35.2 34.1 29.3 98.6 32.87
M2K3 29.8 25.5 27.4 82.7 27.57
M3K0 22.4 21.2 19.9 63.5 21.17
M3K1 27.3 29.2 24.5 81 27.00
M3K2 30.1 28.5 35.7 94.3 31.43
M3K3 19.7 20 22.5 62.2 20.73
5. Data pengamatan lebar tudung terlebar jamur tiram putih panen yang pertama
Perlakua
M1K0 16.2 21.6 24.2 62 20.67
M1K1 30 27.8 26.9 84.7 28.23
M1K2 35.7 34.1 32.9 102.7 34.23
M1K3 24.9 26.4 27.4 78.7 26.23
M2K0 22.5 23.4 24.3 70.2 23.40
M2K1 27.3 26.4 28.3 82 27.33
M2K2 37 39 36 112 37.33
M2K3 21.8 18.2 21.4 61.4 20.47
M3K0 12.2 29.7 24.5 66.4 22.13
M3K1 36.4 35.2 34.7 106.3 35.43
M3K2 16.5 45.7 26.5 88.7 29.57
M3K3 27 24 24 75 25.00
6. Data pengamatan interval panen
Perlakua
7. Data pengamatan berat basah badan jamur tiram putih panen kedua
n 1 2 3
M1K0 73.22 66 54 193.22 64.41
M1K1 68 60 80 208 69.33
M1K2 62.49 98 80 240.49 80.16
M1K3 77 60 67 204 68.00
M2K0 40 52 30 122 40.67
M2K1 39.43 28 70.1 137.53 45.84
M2K2 55.82 89.06 60.71 205.59 68.53
M2K3 164.66 92.74 30 287.4 95.80
M3K0 42.92 45.8 66.6 155.32 51.77
M3K1 50 70 66 186 62.00
M3K2 18.72 43.93 80 142.65 47.55
M3K3 60 56 70 186 62.00
8. Data pengamatan berat basah badan jamur tiram putih panen pertama
Perlakua
M1K0 143.9 74.56 120 338.46 112.82
M1K1 125 90 110 325 108.33
M1K2 177.1 108.8 145.53 431.43 143.81
M1K3 66 104 72 242 80.67
M2K0 34 63 45 142 47.33
M2K1 74.2 37.99 98.94 211.13 70.38
M2K2 167.52 87.62 55.82 310.96 103.65
M2K3 74.34 69.97 35.5 179.81 59.94
M3K0 76.3 47.16 40.9 164.36 54.79
M3K1 33.26 44 40 117.26 39.09
M3K2 43.93 83.42 63.73 191.08 63.69