• Tidak ada hasil yang ditemukan

asuhan keperawatan nutrisi dan cairan pa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "asuhan keperawatan nutrisi dan cairan pa"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Gangguan Kebutuhan Nutrisi dan Cairan pada Lansia

Makalah Ini Digunakan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gerontik

Disusun oleh :

Syafarina Nur W 22020112130090

Nur Khasanah 22020112130112 Veronica Lita W 22020112140022

Ulfah Habibah I 22020112140033

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO

(2)

A. NUTRISI

Kebutuhan nutrisi lansia tidak sama dengan kebutuhan orang dewasa atau yang lebih muda. Pemahaman tentang kebutuhan nutrisi lansia sangat penting untuk memberikan asuhan keperawatan yang baik. Untuk menilai kecukupan nutrisi dan memilih intervensi yang baik, perawat harus memiliki pengetahuan tentang nutrisi dasar dan terapi diet. (1)

Penelitian telah menunjukkan mayoritas lansia di Amerika percaya bahwa nutrisi penting untuk kesehatan. Tapi mereka tidak selalu mengkonsumsi nutrisi yang baik. Informasi dari The National Council Aging mengungkapkan bahwa lansia memiliki resiko tinggi mengalami gizi buruk yang memberikan efek negatif pada kesehatan mereka. Perkiraan lansia yang menderita gizi buruk berkisar dari 15% menjadi 50% dengan resiko kekurangan gizi yang lebih tinggi. Data yang dikumpulkan dari the Elderly Nutrition Programs of the Older Americans mengungkapkan bahwa sekitar 75% dari lansia memiliki resiko sedang sampai tinggi untuk terkena gizi buruk. (1)

Kebutuhan gizi klien lanjut usia perlu dipenuhi secara adekuat untuk kelangsungan proses pergantian sel dalam tubuh,mengatasi proses menua, dan memperlambatusia biologis. Kebutuhan kalori pada klien lanjut usia berkurang karena berkurangnya kalori dasar akibat kegiatan fisik. Kebutuhan kalori klien lanjut usia tidak melebihi 1700 kalori.

1. Karbohidrat

(3)

American Health Association merekomendasikan sekitar 55-60 % kalori dalam tubuh berasal dari karbohidrat kompleks. Rekomendasi lebih ditujukan untuk lansia. (1)

Diet tinggi karbohidrat kompleks direkomendasikan untuk mengontrol terjadinya proses penyakit. Serat yang larut dalam karbohidrat dapat menyerap kolesterol jahat dalam darah yang membantu individu yang memiliki resiko penyakit arteri korener. Karbohidrat kompleks juga memiki peranan penting mengontrol diabetes karena efektivitasnya dalam menghasilkan energi tanpa menyebabkan peningkatan glukosa dalam darah. (1)

2. Protein

Protein terdiri dari asam amino yang penting untuk perbaikan jaringan. RDA protein untuk wanita diatas 50 tahun adalah 50 gram per hari, sedangkan untuk pria diatas 50 tahun, RDA proteinnya adalah 65 gram per hari. Data dari The National Health and Nutrition Examination Survey mengungkapkan bahwa 10 % - 25 % wanita diatas 55 tahun mengonsumsi kurang dari setengah jumlah harian protein yang disarankan. Konsumsi protein pada lansia dapat dipengaruhi oleh banyak factor termasuk kemampuan untuk mendapatkan dan menyiapkan makanan, bahkan kemampuan untuk mengunyah makanan yang mengandung protein tinggi. (1)

Beberapa makanan yang tinggi protein seperti steak, ham, jeroan, kuning telur, dan susu juga mengandung banyak lemak. Konsumsi protein dengan kandungan lemak tinggi yang berlebihan dapat meningkatkan kolesterol dalam darah dan trigliserida, yang pada gilirannya berkontribusi terhadap pembentukan plak aterosklerotik dan perubahan dalam pembuluh darah. Oleh karena itu, banyak dokter dan ahli gizi merekomendasikan bahwa makanan protein dengan lemak tinggi perlu dibatasi. Orang yang melakukan diet lemak harus mengonsumsi protein rendah lemak seperti ikan dan unggas tanpa lemak serta protein dari sumber tanaman seperti kacang polong dan kacang-kacangan. (1)

(4)

Lansia disarankan mengkonsumsi lemak sekitar 25 % sampai 30 % dari total asupan kalori harian. Saran ini berlaku untuk semua umur. Lemak diperlukan dalam diet untuk membantu dalam penyerapan vitamin yang larut dalam lemak dan memberikan jumlah yang cukup. Lemak dibutuhkan karena dapat memberikan rasa kenyang setelah makan. (1)

Ketika mempertimbangkan asupan lemak dalam makanan , penting untuk memilih jenis lemak yang ingin dikonsumsi. Tubuh menggabungkan lemak menjadi zat yang disebut lipoprotein, yang mengandung kolesterol dan protein . Ada tiga jenis penting dari lipoprotein : high density lipoprotein (HDL), low density lipoprotein (LDL) , dan very low density lipoprotein (VLDL). (1)

LDL terdiri dari kolesterol dan diyakini berkontribusi terhadap penyakit pembuluh darah. VLDL terdiri dari trigliserida dan dapat berkontribusi untuk penyakit pembuluh tetapi tidak signifikan seperti halnya LDL. HDL, yang disebut lemak sehat, terdiri dari protein yang muncul untuk melindungi diri terhadap penyakit pembuluh darah . Beberapa orang yang telah makan makanan kolesterol tinggi selama hidupnya akan susah untuk mengubah kebiasaan makan mereka dengan bertambahnya usia mereka. Mereka mungkin merasa sulit atau tidak suka untuk berbelanja dan menyiapkan makanan dengan cara baru. Namun ada beberapa orang yang berhasil dapat mengubah diet mereka. (1)

4. Vitamin

a. Vitamin yang larut dalam lemak (1) :

Vitamin A : Ditemukan pada susu, mentega, keju, hati, sayur-sayuran hijau dan kuning, dan buah.

Banyak orang tua mungkin kekurangan vitamin A karena kondisi kronis yang mengganggu penyerapan lemak seperti penyakit kandung empedu dan radang usus

Vitamin D : Ditemukan pada susu dan margarin, minyak ikan kod, lemak ikan, dan telur

(5)

Vitamin E : Ditemukan pada jagung dan minyak safflower, margarin, biji-bijian, kacang- kacangan, sayuran berdaun hijau.

Vitamin E mendorong integritas sel darah merah

Vitamin K : Dapat ditemukan pada sayuran berdaun hijau dan hati, sintesis bakteri di usus.

Vitamin K penting untuk pembentukan protrombin, yang diperlukan untuk pembekuan darah.

b. Vitamin yang larut dalam air (1) :

Vitamin B1 : Ditemukan pada jeroan, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Vitamin B1 penting untuk metabolisme karbohidrat

Vitamin B2 : Ditenukan pada susu, keju, telur, jeroan, kacang-kacangan, sayuran berdaun hijau.

Vitamin B2 penting untuk pemeliharaan jaringan dan produksi air mata

Niacin : Ditemukan pada daging tanpa lemak, hati, biji-bijian, kacang-kacangan

Niacin penting untuk melepaskan energi dari lemak, karbohidrat, dan protein

Vitamin B6 : Ditemukan pada biji-bijian, sayur-sayuran, kacang-kacangan, daging dan pisang .

Vitamin B6 bertindak dalam proses sintesis protein dan metabolisme asam amino, dapat berinteraksi dengan levodopa oleh pasien dengan penyakit Parkinson

Asam folat : Ditemukan pada gandum, kacang-kacangan, dan sayuran hijau

Asam folat penting dalam sintesis hemoglobin dan metabolisme asam amino

Vitamin B12 : Ditemukan dalam otot dan daging, telur, kerang, dan susu

(6)

Vitamin C : Ditemukan pada buah jeruk, tomat, kubis, melon, stramberry, paprika hijau sayuran berdaun hijau

Vitamin C penting penting dalam pembentukan dan pemeliharaan struktur kolagen jaringan ikat, mendorong penyembuhan dan elastisitas dinding kapiler

5. Air

Sekitar 60% dari rata-rata tubuh orang dewasa terdiri dari air. Laki-laki dewasa memiliki cairan tubuh yang sedikit lebih banyak dari perempuan. Lansia biasanya memiliki cairan tubuh yang kurang dibandingkan orang dewasa muda. Jumlah total cairan tubuh berkurang sekitar 8% pada lansia. Jumlah air dalam aliran darah tetap relatif konstan, tetapi orang dewasa yang lebih tua cenderung memiliki cairan kurang dalam ruang intraseluler dan interstitial daripada orang yang lebih muda. hasil penurunan cairan hilangnya turgor kulit dan menyebabkan penampilan keriput yang umum dengan penuaan. cairan menurun meningkatkan risiko ketidakseimbangan cairan seperti dehidrasi. kebanyakan orang dewasa membutuhkan 2.000-3.000 ml cairan setiap hari. Lebih banyak konsumsen yang mengonsumsi air dalam bentuk teh, kopi, dan jus. (1)

Air biasanya dikeluarkan melalui, keringat, pernapasan, dan defekasi. Kehilangan cairan yang abnormal biasanya terjadi pada diare, muntah, diaphoresis, penyedotan lambung, dan drainase luka, mineral penting sering hilang bersama dengan air. Jumlah cairan yang masuk kedalam tubuh harus seimbang dengan jumlah dieliminasi dari tubuh, ini mengacu pada keseimbangan sebagai cairan. (1)

Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Gizi Lanjut Usia

1. Berkurangnya kemampuan mencerna makanan ( akibat kerusakan gigi/ ompong) 2. Berkurangnya cita rasa

3. Berkurangnya koordinasi otot 4. Keadaan fisik yang kurang baik 5. Faktor ekonomi dan social

(7)

7. Berat badan (lemak tubuh) cenderung meningkat dengan bertambahnya usia, sedangkan sel-sel lemak mengandung sedikit air, sehingga komposisi air dalam tubuh lansia kurang dari manusia dewasa yang lebih muda atau anak-anak dan bayi

8. Fungsi ginjal menurun dengan bertambahnya usia. Terjadi penurunan kemampuan untuk memekatkan urin, mengakibatkan kehilangan air yang lebih tinggi.

9. Terdapat penurunan asam lambung, yang dapat mempengaruhi individu untuk mentoleransi makanan-makanan tertentu. Lansia terutama rentan terhadap konstipasi karena penurunan pergerakan usus. Masukan cairan yang terbatas, pantangan diit, dan penurunan aktivitas fisik dapat menunjang perkembangan konstipasi. Penggunaan laksatif yang berlebihan atau tidak tepat dapat mengarah pada masalah diare.

10. Lansia mempunyai pusat haus yang kurang sensitif dan mungkin mempunyai masalah dalam mendapatkan cairan ( misalnya gangguan dalam berjalan ) atau mengungkapkan keinginan untuk minum (misalnya pasien stroke).

Proses Penuaan Normal Pada Saluran Gastrointestinal

Proses penuaan memberikan pengaruh pada setiap bagian dalam saluran gastrointestinal dalam beberapa derajat. Namun karena luasnya persoalan fisiologis pada system gastrointestinal hanya sedikit masalah-masalah yang berkaitan dengan usia yang dilihat dalam kesehatan lansia. Banyak masalah-masalah gastrointestinal yang dihadapi oleh lansia lebih erat dihubungkan dengan gaya hidup mereka.

1. Rongga mulut

Penampilan fisik, kemampuan berkomunikasi dan asupan nutrisi ditingkatkan oleh bersiham mukosa mulut dan keutuhan gigi. Walaupun tanggalnya gigi bukan suatu konsekuensi dasar dari proses penuaan, banyak lansia mengalami penanggalan gigi sebagai akibat dari hilangnya tulang penyokong pada permukaan periosteal dan periodontal. Mukosa mulut tampak merah dan mengkilat pada lansia karena adanya atrofi. Bibir dan gusi tampak tipis karena epithelium telah meyusut dan menjadi lebih mengandung keratin. Aliran air liur tetap normal pada lansia yang sehat dan tidak mendapatkan pengobatan yang akan dapat menyebabkan mulut menjadi kering.

(8)

Motilitas esophagus tetap normal meskipun esophagus mengalami sedikit dilatasi seiring penuaan. Sfingter esophagus bagian bawah (kardiak) kehilangan tonus. Reflex muntah pada lansia akan melemah. Kesulitan dalam mencerna makanan adalah akibat dari atrofi mukosa lambung dan penurunan motilitas lambung. Atrofi mukosa lambung merupakan akibat dari penurunan sekresi asam hidroklorit (hipoklohidria), dengan pengurangan absorbs zat besi, kalsium, dan vitamin B12. Motilitas gaster biasanya menurun dan melambatnya gerakan dari sebagian makanan yang dicerna keluar dari lambung terus melalui usus halus dan usu besar.

3. Saluran empedu, hati, kandung empedu dan pancreas

Kapasitas fungsional hati dan pancreas dalam rentang normal karena adanya cadangan fisiologis dari hati dan pancreas. Setelah usia 70 tahun ukuran hati dan pancreas akan mengecil, terjadi penurunan kapasitas menyimpan dan kemampuan mensintesis protein dan enzim-enzim pencernaan. Proses penuaan telah mengubah proporsi lemak empedu tanpa perubahan metabolism asam empedu yang signifikan. Factor ini mempengaruhi peningkatan sekresi kolesterol

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pengkajian Nutrisi Pada Lansia 1. Memastikan asupan kalsium yang adekuat

a. Kalsium terdapat di produk susu, tahu, sayuran hijau, tiram, salmon dan sarden sangat penting untuk mepertahankan densital tulang dan mencegah osteoporosis.

b. Anjurkan pasien untuk makan makanan yang mangandung kalsium setiap harinya. c. Serat tyang adekuat penting dalammeningkatkan defekasi teratur dan dapat mencegah

kanker colon. Sumber seratyang baik bagi tubuh pada sereal gandum utuh dan roti, buah dengan kulit, sayuran, kacang-kacangan. Makana inangat bauik dikonsumsi setipa harinya

2. Mencegah interaksi obat dengan makanan

Obat dapat mempengaruhui status nitrisi pasiendengan cara merubah absorbs nutrisi,metabolism, pemakaina atau sekresi. Demekian juga berbagai makanan, minuman dan suplemen mineral atau vitamin dapat mempengaruhi absorbs dan keefektifan obat-obatan. Interaksi ini harus diperhatikan ketika melakukan evaluasi regimen pengobatan pada pasien.

(9)

Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalai pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan. Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi.

2. Gizi kurang

Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi.

3. Kekurangan vitamin

Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.

Pemantauan Status Nutrisi 1. Penimbangan Berat Badan

a. Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali, waspadai peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu. Peningkatan BB lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap kelebihan berat badan dan penurunan berat badan lebih dari 0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan berat badan.

b. Menghitung berat badan ideal pada dewasa :

Rumus : Berat badan ideal = 0.9 x (TB dalam cm – 100)

Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150 cm dan pria dengan TB kurang dari 160 cm, digunakan rumus :

(10)

Waspadai lansia dengan riwayat : Pendapatan yang kurang, kurang bersosialisasi, hidup sendirian, kehilangan pasangan hidup atau teman, kesulitan mengunyah, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, sulit untuk menyiapkan makanan, sering mangkonsumsi obat-obatan yang mangganggu nafsu makan, nafsu makan berkurang, makanan yang ditawarkan tidak mengundang selera. Karena hal ini dapat menurunkan asupan protein bagi lansia, akibatnya lansia menjadi lebih mudah sakit dan tidak bersemangat.

3. Kekurangan vitamin D

Biasanya terjadi pada lansia yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari, jarang atau tidak pernah minum susu, dan kurang mengkonsumsi vitamin D yang banyak terkandung pada ikan, hati, susu dan produk olahannya.

B. CAIRAN

Manusia perlu minum untuk mengganti cairan tubuh yang hilang setelah melakukan aktivitas. Air sangat besar artinya bagi tubuh kita, karena air membantu menjalankan fungsi tubuh, mencegah timbulnya berbagai penyakit disaluran kemih seperti kencing batu, batu ginjal, dll. Air juga sebagai pelumas bagi fungsi tulang dan sendi. Manfaat lain dari minum air putih adalah mencegah sembelit karena untuk mengolah makanan dalam usus sangat dibutuhkan air, tentu saja tanpa air yang cukup kerja usus tidak dapat maksimal dan timbullah sembelit. Air mineral atau air putih lebih baik daripada kopi, teh kental, softdrink, alkohol, es, maupun sirup dan dianjurkan minimal kita minum air putih 1.5 sampai dengan 2 liter/hari. Minuman seperti kopi, teh kental, softdrink, alkohol, es, maupun sirup bahkan tidak baik untuk kesehatan dan harus dihindari terutama bagi para lansia yang mempunyai penyakit-penyakit tertentu seperti kencing manis, darah tinggi, obesitas, dan jantung.

Hal yang harus diperhatikan : Mencegah dehidrasi

a. Nasehati pasien untuk mengurngi munuman yang mengandung alcohol dan kafein b. Pantau asupan dan keluaran, pastikan asupan cairan minimal 1500 ml/oral dan

haluaran urine sampai 1500 ml/24 jam. c. Mengkaji turgor kulit dan membrane mukosa d. Mengkaji TTV dan hasil laboratorium

(11)

f. Jika pasien tidak dapat menerima cairan secara per oral maka programkan pasien untukmendapatkancairan melalui IV

Pemantauan Status Cairan Pada Lansia 1. Tanda-tanda kekurangan cairan

a. Tanda – tanda vital

 Terjadi peningkatan suhu tubuh

 Dapat terjadi peningkatan frekuensi pernafasan dan kedalaman pernafasan (normal : 14 – 20 x/mnt)

 Peningkatan frek. denyut nadi (normal : 60-100 x/mnt), nadi lemah, halus

 Tekanan darah menurun b. Pemeriksaan Fisik :

 Kulit kering dan agak kemerahan

 Lidah kering dan kasar

 Mata cekung

 Penurunan BB yang terjadi scr tiba2/drastic

 Turgor kulit menurun (Lansia kurang akurat) c. Perilaku :

o Penurunan kesadaran

o Gelisah

o Lemah

o Pusing

o Tidak nafsu makan

o Mual dan muntah

o Kehausan (pada lansia kurang signifikan) d. Terjadi penurunan jumlah urin

2. Tanda-tanda kelebihan cairan a. Tanda –tanda vital

o Terjadi penurunan suhu tubuh

(12)

o Denyut nadi teraba kuat dan frekuensinya meningkat

o Tekanan darah meningkat b. Pemeriksaan fisik :

o Turgor kulit meningkat (lansia kurang akurat)

o Edema

o Peningkatan BB secara tiba-tiba

o Kulit lembab

c. Perilaku : o Pusing

o Anoreksia / tidak nafsu makan

o mual muntah

d. Peningkatan jumlah urin (jika ginjal masih baik)

C. GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN PADA LANSIA 1. Dispagia

Dispagia adalah kesulitan menelan akibat beberapa penyebab yaitu gangguan neuromuscular (misalnya stroke, multiple sclerosis dan penyakit parkinson), gangguan struktur kerongkongan ( misalnya tumor, divertikula, dan striktur), gangguan pembuluh darah (misalnya aneurismia aorta), radang tenggorokan (infeksi sekunder dan obat ) tumor leher dan tiroid.(2)

Dispagia di kelompokan menjadi 2 bagian yaitu dispagia orofaringeal dan esophagus. Dispagia orofaringeal memiliki tanda seperti kesulitan menelan dan transfer makan cepat pada spinter esophagus bagian atas. Dispagia esophagus merupakan hasil aktivitas peristaltic esophagus yang teratur dan obstruksi spinter esophagus bagian bawah. Dispagia terjadi setelah menelan, di ikuti batuk dan tersedak. Kelaparan, dehidrasi, dan aspirasi pneumonia merupakan akibat dari dispagia. (2)

Tanda dan gejala dispagia biasanya di tandai dengan adanya keluhan menelan, sering tersedak, perubahan suara, pneumonia berulang, nyeri ulu hati, air liur, kelemahan otot atau massa di tenggorokan, napas tidak normal terdengar suara sekunder pneumonia/ pneumonitis, abnormal sualar vascular (bising) dapat dikaitkan adanya dispagia. (2)

(13)

1. Anjurkan klien untuk sering mengkonsumsi makanan untuk mengurangi perut kembung 2. Meningkatkan asupan cairan saat makan ( memfasilitasi transfer bolus dari mulut ke

kerongkongan )

3. Anjurkan klien untuk menghidari berbaring setelah makan ( agar tidak terjadi refluks karena dapat mengiritasi esophagus bawah)

4. Pantau efek samping obat yang dikonsumsi klien ( obat obat anti inflamasi nonsteroid dan antibiotik tertentu dapat mengiritasi kerongkongan )

5. Perhatikan keadaan organ hati klien untuk menentukan respon klien terhadap dispagia 6. Amati klien pada saat makan

7. Perhatikan bagaiman klien mengelola cairan dan makanan dari konsistensi yang berbeda 8. Kaji kemampuan produksi air liur klien

9. Amati penurunan berat badan dan tanda-tanda dehidrasi 10. Perhatikan pola bicara dan kelainan nada hypernasal

Cara menilai kemampuan reflex menelan klien adalah sebagai berikut (2) :

1. Minta pasien untuk menempatkan nya lidah terhadap langit-langit mulut. Gerakan ini diperlukan untuk mendorong makanan ke dalam tenggorokan.

2. Lengkungan tonsil pasien dan langit-langit di letakkan kapas lembab dan tanyakan apakah bisa dirasakan. Beberapa dorongan diperlukan untuk menelan .

3. Uji kontrasi faring dengan merangsang lengkungan tonsi dengan kapas basah. Kapas basah harus dapat melembab dengan air lemon dingin untuk diperoleh kontrasi otot faring.

Setelah teridentifikasi memilki disfagia sekunder terhadap gangguan neuromuscular maka perawat lebih berfokus pada strategi untuk mengurangi resiko

1. Kaji kemampuan klien untuk menelan 2. Posisi klien dengan nyaman dalam

5. Periksa mulut klien adanya lendir dan suction jika diperlukan.

(14)

Menggunakan sendok teh atau jarum suntik jika diperlukan..

7. Letakkan makanan di dekat molar belakang pasien.

8. Periksa sisa makanan dalam mulut di akhir makan.

9. Jika tersedak , tempatkan dagu klien dada dan Fleksikan tubuhnya di bagian pinggang. Suction makanan dari mulut 10. Biarkan clien duduk tegak selama 30

menit setelah makan.

2. Gangguan usus kecil

Ganggaun paling umum dari usus kecil pada lansia adalah penyerapan makanan yang buruk ( malabsorpsi ). Malabsorpsi di sebabkan kurangnya sekresi asam lambung, penggunaan antasida jangka panjang, dan obat –obatan antikolinergik dan narkotik dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri. (2)

Malabsorpsi pada lansia mungkin akan mengakibatkan inskemia , Ketika aliran darah ke usus terganggu, efisiensi usus yang berkurang, sehingga menyebabkan malabsorpsi. Kontaminasi usus halus oleh bakteri perut (sindrom blind loop) juga dapat menyebabkan malabsorpsi. Bakteri menyerang empedu, merusak fungsi penyerapan lemak. malabsorpsi paling sering dihubungkan dengan usus kecil dan stasis setelah gastrektomi parsial. (2)

Tanda dan gejala malabsorpsi :

1. Peradangan usus 2. Diare

3. Sakit perut 4. Perdarahan anus

5. Kurus, membrane mukosa pucat dan turgor kulit kering 6. DemamTekanan darah rendah

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan oleh perawat yaitu : 1. Kaji penggunaan antasida yang berlebihan

(15)

3. Diskusikan dengan anggota keluarga untuk memberikan dorongan makan makanan sehat bagi klien

4. Anjurkan keluarga klien untuk memberikan makanan yang mudah dicerna 5. Kaji pola eliminasi dan asupan makanan

6. Kaji tanda-tanda dan gejala dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit 7. Kaji diet yang pernah dilakukan sebelumnya

3. Gangguan Usus Besar

Penyakit yang terdapat pada usus besar adalah penyakit divertikular, kanker, sembelit, dan diare. (2)

a. Penyakit diverticular

Penyakit diverticular merupakan kekuatan mukosa kolon dalam menanggapi peningkatan tekanan intrluminal. Penyakit divertikular di sebabkan oleh makanan yang diproses, obesitas dan diet rendah serat.

Tanda dan gejala penyakit divertikular tidak menunjukan gelaja tetapi beberapa orang akan mengalami sembelit, kembung, ketidaknyamanan dan distensi perut. Komplikasi dari diverculosis muncul ketika ada imflammations akut (diverticulitis, pecahnya satu atau lebih divertikula), perdarahan, atau obstruksi. Divertikulitis terjadi ketika ada microforporation dan kebocoran isi usus ke dalam jaringan sekitarnya yang menyebabkan peradangan. pasien akan mengalami rasa sakit, nyeri perut, demam, dan massa teraba. (2)

Ketika divertikulum pecah merupakan sebuah ancaman maka dilakukan kolostomi. Pada lansia penyakit divertikulum/ obstruksi usus adalah penyebab kematian terbanyak pada lansia. (2)

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut ;

1. Berikan pendidikan kesehatan mengenai tanda-tanda kanker usus besar dan factor resiko

2. Kaji kebiasaan buang air besar, pola makan dan rasa sakit 3. Kaji cairan dan elektrolit yang hilang

b. Sembelit

Masalah umum yang disebabkan kurang aktivitas dan diet rendah serat.

Lansia mengalami sembelit karena penurunan sensasi saraf, pengosongan usus, dan gagal menerima sinyal defekasi. Penurunan frekuensi BAB berkepanjangan. (2)

Pencegahan yang dapat dilakukan :

1. Berikan penkes mengenai eliminasi dan cara mengurangi sembelit 2. Berikan asupan cairan yang cukup

3. Anjurkan untuk rajin olahraga

(16)

5. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menakibatkan pasien pada risiko tinggi untuk sembelit

6. Isolasi dan memodifikasi elemen yang berpengaruh pada masalah sembelit

Daftar Pustaka

Referensi

Dokumen terkait

Hipotesis dari penelitian ini adalah konsumsi minuman bubuk kakao bebas lemak yang mengandung senyawa antioksidan dapat mengurangi terjadinya peroksidasi lipid sel

Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan ukuran dan bobot tubuh, rendemen, komposisi kimia (kadar air, abu, lemak, dan protein kasar), serta komposisi mineral

Hipotesis dari penelitian ini adalah konsumsi minuman bubuk kakao bebas lemak yang mengandung senyawa antioksidan dapat mengurangi terjadinya peroksidasi lipid sel

Pada bayi dan anak sering terjadi gangguan keseimbangan tersebut yang biasanya disertai perubahan Ph cairan tubuh (Irwan, 2013).2. Cairan merupakan komposisi terbesar

Adapun pada hasil analisis daya serap air menunjukkan bahwa nilai daya serap air meningkat seiring dengan bertambahnya komposisi silika, hal ini disebabkan silika memiliki

Tujuan Diet Garam Rendah adalah membantu menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.. Diet garam rendah diberikan

Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan ukuran dan bobot tubuh, rendemen, komposisi kimia (kadar air, abu, lemak, dan protein kasar), serta komposisi mineral

Diketahui bahwa kadar air pada perlakuan cenderung mengalami peningkatan seiring bertambahnya konsentrasi jus daun sirih sehingga kadar protein yang dihasilkan menurun dan kadar lemak