Strategi Saut dalam Arena Kultural Sastra: Studi Kasus Sitok Srengenge
(Perspektif Bourdieu)
Tugas Akhir Mata Kuliah Sosiologi Sastra Dosen Pengampu: Dr. Aprinus Salam, M.Hum.
Oleh :
Muammar Kadafi 13/354095/PSA/7577
PROGRAM PASCASARJANA ILMU SASTRA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
Strategi Saut dalam Arena Kultural Sastra: Studi Kasus Sitok Srengenge
(Perspektif Bourdieu)
A. PENDAHULUAN
Komunitas sastra di daerah asal penulis, Makassar, tidak sebanyak dan seramai komunitas sastra ketika penulis menginjakkan kaki di Kota Pelajar, Yogyakarta. Salah satu fenomena yang masih hangat diperbincangkan adalah kasus Sitok Srengenge dari Komunitas Salihara yang menjadi sasaran serangan empuk oleh Boemipoetra. Pemberitaan media online menjadi senjata Saut Situmorang dan karibnya untuk penguatan isu dalam perang wacana ideologi. “Pertarungan” dua komunitas ini kemudian hendak ditelisik oleh penulis sebagai tugas akhir mata kuliah Sosiologi Sastra dari sudut pandang pemikiran Bourdieu.
Arena adalah suatu sistem posisi sosial yang terstruktur (yang dikuasai oleh individu atau institusi) suatu inti yang mendefenisikan situasi untuk mereka anut (Jenkins, 2004: 125). Dalam defenisi lain menurut Johnson, arena-arena didefenisikan sebagai ruang yang terstruktur dengan kaidah-kaidah keberfungsiannya sendiri, dengan relasi-relasi kekuasaannya sendiri, yang terlepas dari kaidah politik dan kaidah ekonomi, kecuali dalam kasus arena ekonomi dan arena politik itu sendiri. Di dalam arena itu, para agen memiliki posisi dan terlibat dalam persaingan kontrol kepentingan atau sumber daya yang khas dalam arena yang bersangkutan. Dalam arena kultural sastra misalnya, kompetensi seringkali berkaitan dengan otoritas inheren didalam pengakuan, konsekrasi dan prestise (Bourdieu, 2010: xvii-xix).
Masalah dan Ruang Lingkup Masalah
Melihat fenomena ini, penulis mencoba menganalisa struktur arena sastra yang ditempati agen-agen yang saling bersaing serta menguraikan strategi dan trakyektori yang dilakukan agen kultural dalam hal ini Boemipoetra pada arena kultural sastra nasional terkait kasus Sitok Srengenge. Secara umum, penelitian ini untuk menentukan apa kepentingan khas dari arena tersebut dan strategi-strategi akumulasi apa yang dipakai oleh agen-agen yang terlibat di dalamnya. Pendekatan Bourdieu dianggap mampu membantu penulis untuk memahami fenomena kompetensi agen antara komunitas seni ini.
B. LANDASAN TEORI
Bourdieu memformulasikan teorinya yaitu (Habitus X Modal) + Arena = Praksis. Namun karena pembahasan lebih ditujukan pada satu kejadian tertentu, maka fokus lebih terarah pada Arena kultural sastra. Sehingga dalam landasan teori, penulis hanya mengambil gambaran umum pemikiran Bourdieu tentang Habitus dan Modal.
Secara harfiah, habitus adalah kata Latin yang merujuk pada ‘habitual’, kebiasaan atau kondisi-kondisi tipikal, penampilan, terutama tampilan tubuh. Bagi Bourdieu, habitus adalah sistem skema generatif yang diperoleh dan secara obyektif disesuaikan pada kondisi-kondisi partikular tempat ia berada. Habitus adalah sebuah sistem disposisi yang ‘durable’ juga ‘transposable’ yaitu memiliki kemampuan untuk bertahan lama juga berubah-ubah atau berpindah-pindah. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial: di satu pihak, ia merupakan ‘struktur yang menstruktur’ struktur yang menstruktur kehidupan sosial, di lain pihak ia merupakan ‘struktur yang terstruktur’, distrukturisasi oleh dunia sosial (Bourdieu, 2010: xvi)
Bagi Bourdieu, definisi modal (atau kapital) bisa memiliki cakupan yang luas, dari yang material dan memiliki nilai simbolik, hingga yang ‘tak tersentuh’ namun secara budaya dianggap memiliki atribut-atribut signifikan seperti prestise, status dan otoritas, dianggap sebagai kapital simbolik, sedang kapital budaya didefinisikan sebagai pola-pola yang dilandasi selera dan konsumsi budaya. Karenanya, kapital merupakan relasi atau hubungan sosial dalam satu sistem pertukaran, dan ini berlaku untuk semua benda, material maupun simbolik, tanpa perbedaan, yang merepresentasikan diri sebagai sesuatu yang ‘langka’ dan layak untuk dicari, dikejar dalam satu bentuk formasi sosial tertentu, antara lain kehormatan dan distingsi
Sebagai energi sosial yang membuahkan hasil dalam arena produksi budaya, tempat produksi dan reproduksi, kapital simbolik merujuk pada tingkat akumulasi prestise, kesucian (consecration) dan kehormatan (honour) yang didasari oleh dialektika antara pengetahuan (connaissance) dan pengakuan (reconnaissance) sedang kapital budaya menyangkut segala bentuk pengetahuan tentang kebudayaan, kompetensi atau disposisi.
sebagai seorang pemain yang memiliki legitimasi. Berarti ia harus berupaya menggunakan seluruh pengetahuan, ketrampilan dan talentanya dengan cara yang seefektif mungkin. Untuk berhasil, ia harus menginvestasikan seluruh kapital yang dimilikinya agar bisa memperoleh manfaat yang paling besar atau ‘keuntungan’ dari upayanya berpartisipasi dalam arena. Kapital karenanya harus berada di dalam arena untuk memaknainya.
Arena dan Arena Kultural
Agen-agen tidak bergerak dalam kehampaan, namun dalam situasi-situasi sosial nyata yang ditata dan dikuasai oleh relasi-relasi sosial obyektif. Untuk menjelaskannya, Bourdieu mengembangkan konsep arena. Konsep arena merupakan metafora yang digunakan oleh Bourdieu untuk menggambarkan ‘field of forces’, arena kekuatan-kekuatan yang dinamis tempat beragam potensi dimungkinkan hadir di dalamnya, dimana perubahan posisi-posisi agen mau tak mau menyebabkan perubahan struktur arena (ibid: xviii). Di dalam arena apapun, agen-agen dengan posisi (baik yang tersedia maupun diciptakan sendiri) kompetensi untuk perebutan kontrol kepentingan atau sumber daya yang khas dalam arena yang bersangkutan. Otoritas berbasis konsekrasi atau prestise adalah murni simbolik dan bisa melahirkan kepemilikan atau peningkatan modal ekonomi.
Arena kultural berada dalam subordinat atau terdominasi dalam arena kekuasaan yang prinsip legitimasinya didasarkan pada kepemilikan modal ekonomi atau politik (ibid: xxxiii). Meski memiliki banyak bentuk-bentuk modal simbolis (seperti modal akademis dan kultural) tetapi relatif rendah pada tingkat modal ekonomi yang dimilikinya sehingga terdominasi arena kekuasaan. Namun meski demikian, arena kultural tetap memiliki otonomi yang relatif kuat untuk menolak determinas-determinasi ekonomi dan politik.
Sedangkan arena produksi skala besar mencakup apa yang biasa disebut budaya “massa” atau “populer”, seperti televisi swasta, film populer, radio dan sastra yang diproduksi secara massal. Arena ini telah melibatkan industri budaya yang berskala besar dan kompleks dimana prinsip hirarkisnya yang dominan melibatkan modal ekonomi (ibid: xxxv). Dalam sub-arena ini terdapat dua kutub yaitu kutub otonom dan non-otonom. Kutub otonom berbasis pada modal simbolis dan hanya tunduk pada tuntutan internal yang dipandang positif. Sementara kutub sebaliknya didasarkan pada ketundukan pada tuntutan modal ekonomi dipandang negatif. Di dua kutub ini, terdapat wilayah praktik-praktik kultural yang berupa gabungan keduanya.
Strategi dan Trayektori
Strategi dan trayektori adalah dua konsep utama yang digunakan Bourdieu dalam teorinya tentang arena. Strategi bisa dipahami sebagai praksis dengan orientasi spesifik tertentu. Sebagai produk dari habitus, strategi merupakan disposisi yang berada di bawah kesadaran dan bergantung pada posisi yang ditempati oleh agen dalam arena, juga bergantung pada permasalahan apa yang mendasari konfrontasi. Itulah yang ‘membangun’ bentuk pertarungan dan orientasi arah penyelesaiannya. Sedang trayektori bisa dilihat sebagai sesuatu yang merupakan hasil dari pergulatan dan perjuangan untuk mencapai kapital simbolik dalam arena pertarungan, dan bisa diamati melalui jaringan relasi ekonomi, budaya dan sosial (Mahar, Harker, Wilkes 2009: 25)
C. PEMBAHASAN
Komunitas Salihara adalah komunitas yang berdiri sejak tahun 2008. Namun komunitas ini memiliki sejarah panjang yang dirintis oleh Goenawan Mohammad yang berawal dari Komunitas Utan Kayu setelah penutupan Majalah Tempo di tahun 1994. Dari segi modal simbolik, kepenokohan Goenawan Mohammad memberi legitimasi yang kuat bagi komunitas ini untuk bergerak di arena sastra kultural di tingkat nasional. Begitu pun dari segi modal ekonomi, komunitas ini banyak didukung oleh sponsor besar seperti Hivos, Jawa Pos, Tempo, Bakrie untuk Negeri, Mobil Cepu Ltd, The Indonesian Institute, PT. Newmont Pacific Nusantara, Djarum Super on Art, Indosat, BCA dan Telkomsel. Sedangkan dari modal politik, kebesaran nama Goenawan Mohammad mengukuhkan orang-orang dalam komunitas ini, dan memposisikan mereka secara strategis seperti Nirwan Dewanto di Tempo dan Hasif Amin di Kompas. Beberapa organisasi seperti Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Jaringan Islam Liberal (JIL), Kantor Berita Radio 68H, dan Dewan Kesenian Jakarta adalah contoh organisasi yang sangat erat dengan Komunitas Salihara. Secara politis, ini memudahkan orang-orang di komunitas ini untuk berakselarasi dalam pergaulan nasional dan mengukuhkan dominasi mereka seperti Taman Ismail Marzuki di masa keemasannya.
Arena produksi terbatas pada arena kultural sastra nasional di Indonesia adalah arena yang sangat ketat. Kompetensi untuk dapat bermain dalam arena ini tidak semudah yang dibayangkan. Selain karena sastra serius itu sendiri bukan hal yang mudah, tetapi dominasi dari Komunitas Salihara dalam arena ini sangat besar, sehingga terkesan memonopoli. Salah satu yang pernah merasakan “sakit hati” itu adalah Wowok Hesti Prabowo yang terdepak dari Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2006. Pertemuan Wowok dan Saut Situmorang kemudian membuahkan Jurnal Boemipoetra, jurnal yang visinya untuk menyerang “kekuasaan” Goenawan Mohammad dan lingkarnya.
modal simbolik. Hal ini yang menjadi modal Saut dan Boemipoetra-nya untuk bermain dalam arena kultural sastra di Indonesia.
Kasus Sitok Srengenge
Kasus Sitok Srengenge yang dikumpulkan penulis dari beberapa media online cukup beragam. Sejak kasus tersebut dilaporkan pada tanggal 27 November 2013 hingga tanggal 5 Januari 2014, begitu banyak media online yang mengangkat kasus tersebut, seperti Merdeka.com, Detik.com, Tempo.co, Liputan6.com dan Kompas.com. Pada media Merdeka.com misalnya penulis memasukkan “kasus+sitok” maka hasil pencarian mengumpulkan 335.000 (0,26 detik) halaman yang membahas itu, namun yang muncul hanya 90 page yang membahas kasus Sitok Srengenge. Di media ini pula, ketika penulis memasuki tagline #pemerkosaan terdapat 41 halaman berita yang secara khusus membahas kasus Sitok. Selain itu, pada media Detik.com terdapat 57 berita halaman yang terkait kasus Sitok, Tempo.co sebanyak 31 halaman, Liputan6.com sebanyak 2 halaman, dan Kompas.com sebanyak 4 halaman.
Pembentukan opini dari media pemberitaan yang terdapat pada pemberitaan kasus Sitok, media Merdeka.com, Detik.com dan Kompas.com dimulai dari judul berita. Hal ini dapat dilihat pada beberapa contoh judul berita di bawah ini:
Sastrawan Sitok Srengenge dilaporkan karena menghamili mahasiswi (Merdeka.com; Jumat,
29 November 2013 pukul 18:37 WIB)
Korban Sitok Srengenge beberkan awal kenalan hingga pencabulan (Merdeka.com; Selasa,
24 Desember 2013 pukul 16:05 WIB)
Korban Sitok buka suara, siapa selanjutnya (Merdeka.com; Rabu, 18 Desember 2013 pukul
08:31 WIB)
Beban berat mahasiswa UI dicabuli Sitok Srengenge hingga hamil (Merdeka.com; Jumat, 13
Desember 2013 pukul 08:42 WIB)
Kisah seniman Lekra dipecat PKI karena selingkuh (Merdeka.com; Jumat 6 Desember 2013
pukul 11:58 WIB)
Mahasiswi yang Dihamili Sitok Srengenge Akan Diperiksa Polisi Pekan Depan (Detik.com;
Jumat, 6 Desember 2012; 15:09 WIB)
RW Depresi dan Hampir Bunuh Diri akibat Hubungannya dengan Sitok Srengenge
RW Tak Sudi Dinikahi Sitok Srengenge (Kompas.com; Kamis, 12 Desember 2013 pukul
16:20 WIB)
Pada pemilihan kata-kata di atas, terlihat posisi media dalam melihat kasus ini. Merdeka.com misalnya memilih kata-kata “sastrawan”, “mahasiswi”, “cabul”, “pencabulan” dan ”korban”. Hal ini mampu mengarahkan pembaca untuk melihat negatif sosok Sitok sebagai seorang sastrawan yang di mata masyarakat memiliki tempat khusus. Kekhususan itu kemudian disandingkan dengan kekhususan yang lain yaitu mahasiswi, terlebih dengan mencantumkan label “UI” akan mengundang orang untuk membaca berita tersebut. Kemudian kata “cabul” dan “pencabulan” lebih bersifat merendahkan, dalam konteks ini mengarah kepada status sastrawan Sitok. Yang menarik lagi adalah komparatisasi yang dilakukan oleh media Merdeka.com dengan mengorek sejarah yang pernah terjadi pada salah satu anggota Lekra dengan kasus yang hampir sama. Menurut penulis, ini lebih mengajak pembaca untuk melihat sikap yang diambil orang-orang terdekat Sitok dan komunitas tempatnya tumbuh, yaitu Salihara.
Media Detik.com sendiri dalam memilih judul berita lebih menunjukkan kenetralannya. Penggunaan kata “menghamili” lebih menghadirkan kesan yang tidak menjatuhkan sehingga pada media ini lebih fokus kepada jalanya proses hukum terhadap kasus tersebut. Begitu pula dengan Kompas.com yang lebih memfokuskan pada korban yang berinisial RW, ini menunjukkan isu yang hendak disampaikan adalah isu yang berkaitan dengan hak-hak perempuan.
Sedangkan Tempo.co sendiri juga ikut memberitakan kasus ini. Namun seperti yang telah dipahami bahwa kedekatan Tempo dan Komunitas Salihara juga tampak dalam pemberitaan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari judul berita berikut ini:
Ayu: Kasus Sitok Berlawanan dengan Isu Perempuan Salihara (Tempo.co; Selasa, 3
Desember 2013 pukul 20:25 WIB)
Bisakah Kasus Pemerkosaan Diberitakan? (Tempo.co; Rabu, 11 Desember 2013 pukul 02:52
WIB)
Strategi dan Trayektori BoemiPoetra
Sebelum membahas strategi dan trayektori yang dilakukan oleh Saut Situmorang dan Jurnal Boemipoetra, terlebih dahulu penulis hendak mengungkapkan beberapa hal menarik dari trayektori yang dilakukan oleh Goenawan Mohammad dalam arena kultural sastra di Indonesia. Goenawan Mohammad dikenal sebagai Angkatan Pujangga 66 yang juga ikut menanda tangani Manifesto Kebudayaan 1965. Kehadiran kolom Catatan Pinggir di Majalah Tempo yang mempopulerkan nama dia. Dan aktifitas berkarya dan merapatkan barisan sastrawan dan intelektual mengokohkan dirinya sebagai orang yang besar di dunia sastra. Satu hal yang menurut penulis ikut menaikkan nama Goenawan Mohammad adalah “perang”nya dengan Pramoedya Ananta Toer. Posisi Pram dalam arena kultural sastra pada waktu itu sangat besar, sehingga sangat “menggiurkan” termasuk Goenawan Mohammad. Respon Pram terhadap surat Goenawan Mohammad yang menyinggung sejarah kelam di Indonesia dan sikap seorang Nelson Mandela, pada akhirnya menyejajarkan posisi Goenawan Mohammad sebagai rivalnya. Ini merupakan strategi investasi modal simbolik yang paling menentukan dalam trayektori Goenawan Mohammad.
Berkaca dari situ, Saut Situmorang pun dengan frontal pada visi Jurnal Boemipoetra hendak menyerang Goenawan Mohammad dan komunitasnya, Teater Utan Kayu dan Salihara. Apabila dulu Goenawan Mohammad menyerang dominasi Pram, maka kini Saut memposisikan dirinya untuk menyerang dominasi Goenawan Mohammad. Namun pertanyaan yang paling mendasar adalah apa yang kemudian memfrontasi keduanya? Hal ini pun tidak lepas dari sejarah pergerakan sastra nasional di Indonesia yang berakar dari ideologi yang eksis di tengah masyarakat, yaitu Kapitalisme-Liberal dan Sosialisme-Komunis. Pertarungan dua ideologi ini tampak dalam Lekra dan Manikebu di masa Orde Lama. Kemudian pada Orde Baru tampak dalam korespondensi Pramoedya dan Goenawan. Kini di masa reformasi, Saut Situmorang membawa warna yang sama dalam pertarungannya dengan Goenawan Mohammad.
ditumbangkan Saut dan Boemipoetra. Pada kasus Sitok sendiri, penulis menemukan beberapa status akun Twitter Saut Situmorang (@AngrySipebelegu), seperti berikut ini:
(Sumber: Timeline Twitter @AngrySipebelegu dan Kronologi Facebook Page Boemipoetra)
followers yang me-Retweet maka akan muncul di Timeline followers mereka juga, ada dua kemungkinan, mereka akan ikut me-Retweet atau sekedar membaca. Dengan membaca saja, anggaplah adalah 10 orang (kemungkinan paling rendah) dari masing-masing follower, maka 10 dikalikan 2.937 adalah 29.370 orang yang telah membaca status itu. Hal ini lebih efektif dalam melemparkan isu, mengingat pembaca media cetak dan televisi mengalami pengurangan signifikan sejak kemajuan teknologi komunikas akhir-akhir ini.
Menurut penulis, pada kasus Sitok yang berakhir pada pengunduran diri Sitok dari Komunitas Salihara adalah satu momentum ledakan balon gas. Ledakan besar yang sangat cepat terjadi, namun tidak meninggalkan bekas apapun. Saut Situmorang menjadikan kasus ini untuk menyerang Goenawan Mohammad dan Komunitas Salihara. Tidak ada tendensi selain untuk membuka isu secara lebih luas pada skandal-skandal dalam komunitas tersebut. Sasarannya jelas untuk menghancurkan modal simbolik yang dimiliki Goenawan Mohammad. Namun yang perlu dilihat juga, sikap diam Goenawan Mohammad atas ulah Saut dan terkesan menghindari konfrontasi langsung, menunjukkan kepiawaian dirinya. Goenawan tidak ingin menjadikan Saut sebagai rivalnya, karena ketika dirinya merespon Saut, maka hal yang sama akan terjadi ketika Pram merespon dirinya. Sehingga Goenawan Mohammad masih kokoh dalam posisinya terkait strategi yang dijalankan Saut dalam mem-blowup kasus Sitok.
D. KESIMPULAN
Daftar Pustaka
Bourdieu, Pierre. 2010. Arena Produksi Kultural: Sebuah kajian Sosiologi Budaya. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Harker Richard, Mahar Cheelen, Wilkes Chris. 2009. (HabitusXModal) +Ranah=Praktik: Pengantar Komprehensif kepada pemikiran Pierre Bourdieu. Yogyakarta: Jalasutra.
Jenkins, Richard. 2010. Membaca Pikiran Piere Bourdieu. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Sumber Internet:
http://www.salihara.org
http://www.boemipoetra.wordpress.com
http://www.merdeka.com
http://www.detik.com
http://www.tempo.co
http://www.liputan6.com
http://www.kompas.com
http://www.twitter/angrysipebelegu
http://www.facebook/pages/jurnalsastraboemipoetra