commit to user
PERBANDITAN SOSIAL DI KLATEN TAHUN 1870-1900
SKRIPSI
Oleh: ARI KURNIA
K4408002
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
commit to user ii
PERBANDITAN SOSIAL DI KLATEN TAHUN 1870-1900
Oleh: ARI KURNIA
K4408002
Sripsi
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
commit to user iii
PERSETUJUAN
commit to user iv
PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Hari : Kamis
Tanggal : 20 September 2012
commit to user v
ABSTRAK
Ari Kurnia. PERBANDITAN SOSIAL DI KLATEN TAHUN 1870-1900, Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, September 2012
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) faktor munculnya perbanditan sosial di Klaten tahun 1870-1900. (2) aktivitas perbanditan sosial di Klaten tahun 1870-1900. (3) dampak adanya perbanditan sosial di Klaten tahun 1870-1900.
Penelitian ini menggunakan metode sejarah (historis), yaitu prosedur dari cara kerja para sejarawan untuk menghasilkan kisah masa lampau berdasarkan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh masa lampau tersebut. Langkah-langkah dalam metode sejarah adalah heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber tertulis. Sesuai dengan jenis penelitiannya, maka teknik analisis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah teknik analisis historis. Teknik analisis historis yaitu teknik analisis yang mengutamakan ketajaman dalam interpretasi sejarah.
commit to user vi
ABSTRACT
Ari Kurnia.THE SOCIAL BANDITRY IN KLATEN IN 1870-1900. Thesis, Surakarta: Teacher Training and Education Faculty of Surakarta Sebelas Maret University, September, 2012.
The purposes of this research are to know: (1) the causes of social banditry in Klaten in 1870-1900, (3) the activities that happened at the time and (3) the effects of it.
The research used historical method. Historical method is a based-sign of the past technique which use by the historians to write histories in the form of accounts the past. The procedures in this technique were heuristic, critical, interpretation, and historiography. The data were collected using literature study technique. The source of data used in this research are written source. According to the kind of this research, it used historical analysis technique to analyze the data. Historical analysis is a data analytical technique prioritizing the sharpness of the history interpretation.
commit to user vii MOTTO
Manusia membutuhkan tanah dan hasilnya untuk kelangsunan hidup,
membutuhkan tanah untuk tempat hidup dan usaha, bahkan sesudah
meninggalpun masih membutuhkan sejengkal tanah
(Imam Soetiknjo)
Jika seseorang belum menemukan sesuatu untuk diperjuangkan hingga
akhir hayatnya, maka kehidupannya tidak akan berharga
commit to user viii
PERSEMBAHAN
Sripsi ini saya persembahkan untuk:
Bapak Yantoharsana dan Ibu Dayani, Almarhum Ayah dan ibuku yang
senantiasa menjadi sumber kekuatanku
Delapan kakakku: Buk Sisri, Mak Iyur, Mak Lis, Buk Endang, Mbak Tik,
Mbak Kris, Mas Heri, Mama Retno Terimakasih
Semangat dari kalian membuatku dapat menyelesaikan skripsi ini
Keluarga besar yang tidak dapat disebutkan satu persatu
Sahabat “abal-abal”
Teman-teman sejarah ‘08
commit to user ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulisan skripsi ini akhirnya dapat diselesaikan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapat gelar Sarjana Pendidikan.
Hambatan dan rintangan yang penulis hadapi dalam penyelesaian penulisan skripsi ini telah hilang berkat dorongan dan bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan-kesulitan yang timbul dapat teratasi. Oleh karena itu, penulis ucapkan terima kasih kepada :
1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ijin untuk menyusun skripsi.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah menyetujui
atas permohonan skripsi ini.
3. Ketua Program Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan
4. Sri Wahyuning S, M. Pd., selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Dra. Sri Wahyuni, M. Pd., selaku pembimbing II, yang telah memberikan pengarahan dan ijin atas penyusunan skripsi ini.
6. Drs. Leo Agung S, M. Pd selaku pembimbing akademik yang telah memberikan saran dan motivasinya kepada penulis.
7. Bapak dan Ibu Dosen Program Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial yang secara tulus memberikan ilmu kepada penulis
selama ini, mohon maaf atas segala tindakan dan perkataan yang tidak berkenan di hati.
commit to user x
9. Semua saudaraku dan teman-temanku sejarah ’08 terima kasih atas segala doa, masukan dan teguran serta pengorbanan yang diberikan untukku.
10.Kawan “abal-abal” terbaik: Cesilia, Dwiari, Eni, Doni, Suyono, Titis, Tri Pujianto, dan Tea Limostin yang telah memberi motivasi dalam penulisan skripsi ini.
11.Semua pihak yang telah membantu penulis, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Peneliti menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis senantiasa mengharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaan skripsi
ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca dan perkembangan Ilmu Pengetahuan pada umumnya.
Surakarta, September 2012
commit to user xi
DAFTAR ISI
JUDUL ... i
PENGAJUAN SKRIPSI ... ii
PERSETUJUAN ... iii
PENGESAHAN... iv
ABSTRAK ... v
ABSTRACT ... vi
MOTTO ... vii
PERSEMBAHAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang Masalah... 1
B.Rumusan Masalah ... 8
C.Tujuan Penelitian ... 9
D.Manfaat Penelitian ... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 10
A.Tinjauan Pustaka... 10
1. Kolonialisme ... 10
2. Petani ... 16
a. Pengertian Petani ... 16
b. Jenis-Jenis Petani ... 19
3. Konflik ... 21
4. Perbanditan ... 24
5. Perubahan Sosial ... 26
commit to user xii
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 34
A.Tempat dan Waktu Penelitian ... 34
1. Tempat Penelitian... 34
2. Waktu Penelitian ... 34
B.Metode Penelitian ... 35
C.Sumber Data ... 36
D.Teknik Pengumpulan Data ... 38
E.Teknik Analisis Data ... 40
F. Prosedur Penelitian ... 41
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 48
A.Munculnya Perbanditan Sosial di Klaten Tahun 1870-1900 ... 48
1. Identifikasi Bandit Sosial... 49
2. Latar Belakang Munculnya Perbanditan ... 51
a. Kebijakan Politik Pemerintah Kolonial Belanda ... 51
1) Pelaksanaan Sistem Tanam Paksa... 51
2) Pelaksanaan Politik Kolonial Liberal ... 59
3) Perluasan Perkebuan ke Pedesaan... 63
b. Perubahan Status Sosial di Surakarta ... 67
c. Keadaan Ekonomi Surakarta Tahun 1870-1900 ... 70
d. Keadaan Politik Surakarta ... 72
3. Proses Munculnya Perbanditan Sosial ... 73
a. Ideologi dan Keanggotaan Perbanditan Sosial ... 73
b. Sruktur Organisasi Perbanditan ... 75
B. Aktivitas Perbanditan Sosial di Klaten Tahun 1870-1900 ... 77
1. Sasaran Tindakan Perbanditan ... 79
2. Kasus-Kasus Perbanditan di Surakarta... 79
C. Dampak Perbanditan Sosial di Klaten Tahun 1870-1900 ... 81
1. Dampak Perbanditan secara Umum ... 81
commit to user xiii
b. Dampak Dalam Bidang Ekonomi ... 82
c. Dampak Dalam Bidang Budaya ... 83
3. Upaya Penekanan Perbanditan ... 83
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN ... 90
A. Simpulan ... 90
B. Implikasi ... 92
C. Saran ... 93
DAFTAR PUSTAKA ... 95
commit to user xiv
DAFTAR TABEL Tabel
commit to user xv
DAFTAR GAMBAR Gambar
commit to user xvi
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran
1. Angger Nawala Pradata tahun 1844. ... 103
2. Angger Gunung tahun 1844. ... 126
3. Staatsblad tahun 1847 No. 30. ... 136
4. Arsip Pranatan Kasunanan 1870. ... 141
5. Staatsblad tahun 1848 No. 9... 171
6. Staatsblad tahun 1874 No. 211. ... 176
7. Rijksblad Mangkunagaran tahun 1917 No. 12. ... 183
8. Rijksblad Mangkunagaran tahun 1918 No. 8. ... 190
9. Surat Permohonan Izin Menyusun Skripsi ... 198
commit to user 1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu negara agraris yang memusatkan perekonnomian dalam bidang pertanian. Burger dalam Suhartono (1995: 1) mengatakan bahwa sejak tahun 1800 pemerintah kolonial mengubah cara eksploitasinya terhadap Indonesia terutama petani. Pemerintah kolonial mulai
meninggalkan eksploitasi cara lama yaitu memusatkan pada perdagangan yang dikelola oleh Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) menjadi eksploitasi yang dikelola oleh pemerintah Kolonial atau pengusaha swasta. Eksploitasi ini dipusatkan pada pemanfaatan faktor produksi yaitu tanah dan tenaga kerja.
Dengan tersedianya faktor produksi ini maka pemerintah menggantikan tanaman tradisional dengan tanaman komersial.
Pada tahun 1839 pemerintah mengeluarkan peraturan sewa tanah yang mengatur perkebunan dan petani. Sistem sewa tanah ternyata tidak mampu untuk memulihkan keuangan Belanda. Oleh karena itu pemerintah kolonial kemudian berusaha untuk dapat meningkatkan keuangannya dengan cara eksploitasi tanah dan tenaga kerja. Pemanfaatan tanah ini dilakukan oleh pemerintah dengan jalan memungut pajak tanah dari para petani serta melakukan sistem sewa tanah kepada swasta Belanda. Akan tetapi cara ini belum mampu untuk mengisi kas Belanda yang kosong terutama setelah perang Diponegoro (1825-1830). Cara lain yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial yaitu dengan sistem Tanam Paksa yang mampu mengisi kas Belanda dan mampu memberikan keuntungan yang besar.
Ciri pokok tanam paksa terletak pada keharusan rakyat untuk membayar pajak dalam bentuk barang yaitu berupa hasil pertanian mereka, bukan dalam bentuk uang (Noer Fauzi, 1999: 29).
Sistem tanam paksa yang diterapkan pada dasarnya adalah suatu
commit to user
penyerahan wajib dan sistem pajak tanah. Mengenai ketentuan tentang sistem tanam paksa termuat dalam Lembaran Negara (Staatblad) tahun 1834, No.22 antara lain:
1. Melalui persetujuan, penduduk menyediakan sebagian tanahnya untuk penanaman tanaman perdagangan yang dapat dijual di pasaran Eropa; 2. Tanah yang disediakan untuk penanaman tanaman perdagangan tidak
boleh melebihi seperlima dari tanah pertanian yang dimiliki penduduk desa;
3. Pekerjaan yang diperlukan untuk menanam tanaman perdagangan
tidak boleh melebihi pekerjaan yang dibutuhkan untuk menanam padi; 4. Bagian tanah yang ditanami tanaman perdagangan dibebaskan dari
pembayaran pajak tanah;
5. Hasil tanaman perdagangan yang berasal dari tanah yang disediakan
wajib diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda, apabila nilai hasil tanaman perdagangan yang ditaksir itu melebihi pajak tanah yang harus dibayar rakyat, maka selisih positifnya harus diserahkan kepada rakyat;
6. Kegagalan panen tanaman perdagangan harus dibebankan kepada pemerintah, terutama apabila kegagalannya bukan disebabkan oleh kelalaian penduduk;
7. Penduduk desa akan mengerjakan tanah mereka dengan pengawasan kepala-kepala mereka, dan pegawai-pegawai Eropa membatasi pengawasannya pada segi-segi teknis ketepatan waktu dalam pembajakan tanah, panen, dan pengangkutan.
(Sartono Kartodirdjo dan Djoko Suryo, 1991: 56).
Pelaksanaan sistem tanam paksa di daerah-daerah sering tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Contohnya, penyediaan tanah untuk tanaman yang diminta pemerintah tidak sesuai dengan ketentuan karena dilakukan dengan cara paksaan bukan dengan persetujuan sukarela.
commit to user
Demikian pula jumlah pembayaran hasil setoran hasil tanaman banyak yang tidak ditepati menurut jumlahnya serta ditambah dengan kegagalan panen yang sepenuhnya ditanggung oleh rakyat (Noer Fauzi, 1999: 31).
Sistem tanam paksa telah berhasil meningkatkan produksi tanaman ekspor dan mengirimkannya ke negara Belanda yang kemudian dijual ke pasar dunia dengan keuntungan yang besar (H.C Ricklefs, 1992: 184). Dengan cara ini maka hutang Belanda dapat dilunasi serta menjadikan kota Amsterdam sebagai pusat perdagangan dunia untuk komoditi tropis. Sistem tanam paksa ini menimbulkan berbagai akibat pada kehidupan pedesaan di Pulau Jawa yang
menyangkut masalah tanah dan tenaga kerja. Sistem tanam paksa awalnya mencampuri sistem pemilikan tanah di pedesaan karena para petani diharuskan menyerahkan tanahnya untuk penanaman tanaman ekspor. Perubahan ini telah menyebabkan pergeseran sistem penguasaan dan pemilikan tanah untuk penataan
pembagian kewajiban penyediaan tanah dan kerja kepada pemerintah.
Dalam sistem tanam paksa ada kecenderungan tanah petani yang tadinya luas menjadi terpilah-pilah semakin kecil serta adanya kecenderungan tanah perorangan menjadi tanah komunal (Noer Fauzi, 1999: 32). Sistem tanam paksa juga membutuhkan tenaga kerja yang sangat besar untuk penggarapan lahan, penanaman, pemanenan, dan lain-lain yang dilakukan dengan sistem kerja paksa. Sistem kerja paksa ini sangat meberatkan penduduk karena selain tidak diberi upah, penduduk juga harus mengerjakan pekerjaan secara fisik dengan berat. Pelaksanaan sistem tanam paksa telah mengenalkan sistem uang kepada kehidupan pedesaan agraris. Kehidupan desa yang semula tradisional dan subsisten berangsur-angsur berkembang dengan ekonomi uang melalui pembayaran upah tanaman kepada petani dan pembayaran insentif kepada para
pejabat.
Penguasaan tanah yang semula berada di tangan pemerintah atau kerajaan berpindah ke tangan swasta sehingga menimbulkan berbagai masalah sosial ekonomi. Pada masyarakat agraris seperti Indonesia, tanah merupakan
commit to user
tinggi diimbangi dengan kewajiban sebagai pembayar pajak dan tenaga kerja kapada pemerintah atau kerajaan (Suhartono, 1995: 34).
Sistem tanam paksa dihapuskan pada tahun 1870. Setelah adanya penghapusan sistem tanam paksa terjadi pergeseran kekuasaan politik dari kaum konservatif ke kaum liberal (Noer Fauzi, 1999: 32). Kaum liberal menentang sistem eksploitasi oleh negara atau pemerintah. Kaum liberal mengganti sistem tanam paksa dengan sistem perusahaan swasta dan sistem kerja paksa dengan sistem upah bebas. Dengan demikian maka tejadi pembukaan tanah jajahan bagi penanaman modal swasta Belanda dan terjadi pembukaan tanah-tanah perkebunan
swasta di Indonesia.
Pemerintah Hindia Belanda, memandang dirinya sebagai pengganti raja-raja Jawa dan menuntut segala hak yang selama itu selalu diberikan kepada pejabat-pejabat tinggi Jawa. Termasuk didalamnya hak-hak atas pelayanan kerja
yang digunakan untuk membangun prasarana jalan-jalan, perbentengan, saluran air, proyek irigasi, dan bangunan-bangunan umum yang ditanggung pemerintah dengan biaya serendah mungkin (Robert Van Niel, 2003: 207).
Pada tahun 1860-an dan 1870-an para pengusaha perkebunan swasta mulai mengadakan perjanjian kontrak kerja serta perjanjian sewa tanah dengan pihak perorangan dan desa. Sistem tanam paksa tidak mampu berbuat banyak dalam mempersiapkan pembentukan pasar tenaga kerja bebas dan sukarela. Sebaliknya sistem tanam paksa telah menyertakan penilaian negatif pada tenaga kerja karena memberikan kompensasi atau ganti-rugi serendah mungkin sambil terus menggunakan pola-pola kekuasaan tradisional. Sistem tanam paksa juga menciptakan kebutuhan akan tambahan penghasilan di desa-desa tempat budidaya tanaman dagang ekspor dikembangkan. Bagi pengusaha swasta, sistem tanam
paksa membawa keuntungan sekaligus kerugian. Keuntungannya terletak pada kenyataan akan rendahnya tingkat upah yang diberlakukan. Dengan demikian maka para pengusaha swasta dapat terus bersaing di pasar dunia. Sedangkan kerugiannya terletak pada bagaimana cara menarik dan mempertahankan tenaga
commit to user
Pada masyarakat Jawa konsep pemilikan tanah terpengaruh dari agama Hindu yang mengatakan bahwa raja adalah pemilik tanah di seluruh kerajaan (Noer Fauzi, 1999: 15). Dalam menjalankan pemerintahannya, raja dibantu oleh keluarga dan birokrat yang kemudian diberi imbalan berupa sebidang tanah disebut apanage atau lungguh. Selain pejabat kerajaan juga terdapat jabatan diluar kerajaan yang mengawasi petani dalam mengerjakan tanah lungguh.
Tanah lungguh ini merupakan tanah persawahan di luar pusat pemerintahan. Daerah Klaten merupakan tanah lungguh dari Kasunanan sedangkan derah Kulonprogo untuk Kasultanan. Tanah Kerajaan dipilih tanah
yang paling subur dibandingkan dengan tanah-tanah lungguh yang kemudian dijadikan perkebunan. Untuk Kasunanan, pusat perkebunan terletak di Klaten, Sukoharjo, sebagian Boyolali, dan Sragen (Suhartono, 1995: 37) .
Daerah kekuasaan kerajaan Mataram memang merupakan daerah
pedalaman yang subur. Pada tahun 1873 wilayah kota Surakarta terbagi dalam empat afdeeling, yaitu Sragen, Klaten, Wonogiri dan Boyolali. Afdeeling Sragen terdiri dari tujuh distrik, lima diantaranya merupakan wilayah Sunan, yaitu Sragen, Grompol, Sambung Macan, Majenang, dan Karang Duren. Dua distrik selebihnya Karanganyar dan Karang Pandan merupakan wilayah enclave milik Mangkunegaran. Sebagian besar wilayah di Afdeeling Klaten milik Sunan yang terdiri dari tiga kabupaten, yaitu Klaten, Kartasura dan Larangan. Kabupaten Klaten terdiri dari enam distrik, yaitu Klaten, Sepuluh, Prambanan, Gesik Ari, Gedongan, dan Kalisaga. Kabupaten Kartasura terdiri dari lima distrik, yaitu Kartasura, Ketitang, Benda, Taraman, dan Jenon. Yang termasuk dalam wilayah Onderregentschap Larangan adalah Distrik Sukarja, Uter, Tawangsari, dan Masaran (Wasino, 2008: 19).
Salah satu daerah pusat penanaman tebu adalah Klaten. Penyelenggaraan penanaman tebu di bawah peraturan pemerintah setelah 1830 dipusatkan pada perjanjian-perjanjian kontrak. Perjanjian kontrak dilakukan pada dua tahapan untuk dua aspek produksi gula yang terpisah. Kontrak tahap pertama dibuat oleh
commit to user
bagian tertentu tanah desa, memelihara serta menebang tebu dan awalnya mengangkut tebu ke pabrik. Tahapan kontrak yang kedua adalah antara pemerintah lokal yang diwakili pejabat Belanda dengan operator (pengusaha) penggilingan gula yang dengan pinjaman uang pemerintah membangun pabrik, mengolah tebu dan menyerahkan gula kepada pemerintah dengan harga yang telah ditentukan (Robert Van Niel, 2003: 40).
Perkebunan tebu berkembang pesat di wilayah Surakarta baru setelah pertengahan abad XIX yang terlihat dari angka-angka produksinya. Pada tahun 1850 jumlah produksi gula di wilayah Surakarta mencapai 18.600 pikul, masih
dibawah produksi kopi yang mencapai 44.782 pikul. Akan tetapi, pada tahun 1859 jumlah produksi gula melebihi produksi kopi, yaitu 44,054 pikul gula per bahu dibanding 43,009 pikul kopi per bahu. Industri gula swasta baru berkembang secara luas di Surakarta setelah tahun 1859. Liberalisasi atau perizinan terhadap
orang-orang Eropa untuk menanamkan modalnya di wilayah Surakarta serta prospek menguntungkan dalam usaha perkebunan mendorong perkembangan industri ini. Perkembangan perkebunan tebu lebih terkonsentrasi di wilayah Klaten dan Sragen (Wasino, 2008: 34).
Kehadiran komunitas perkebunan di tanah jajahan melahirkan lingkungan yang berbeda dengan lingkungan setempat, baik dari segi lokasi, tata ruang, ekologi, maupun organisasi sosial dan ekonomi. Secara topografis, perkebuanan sering dibangun di daerah yang subur, baik yang ada di dataran rendah maupun yang ada di dataran tinggi. Tanaman yang dibudidayakan lebih bersifat homogen (komoditi ekspor), berbeda dengan tanaman pertanian subsisten setempat. Demikian pula sistem organisasi dan sistem kerja, serta proses produksinya. Bentuk dan orientasi lingkungan perkebunan yang lebih tertuju ke
commit to user
Masuknya perkebunan ke pedesaan berarti eksistensi lembaga desa yang mengatur kehidupan masyarakat mulai terdesak (Suhartono, 1995: 3). Dominasi perkebunan bukan hanya berdampak monodimensi tetapi multidimensi. Dominasi politik yang mempunyai implikasi sosial-ekonomi merambah ke pedesaan juga mendominasi kultural lama. Dengan kata lain kekuatan kultural eksternal mampu mendisorganisasikan lembaga masyarakat yang telah ada.
Kehadiran sistem perkebunan dilingkungan masyarakat agraris tradisional di tanah jajahan atau negara-negara berkembang, dianggap telah menciptakan tipe perekonomian kantong (enclave economic) yang bersifat “dualistik” (“dualistic” economy). Kehadiran perkebunan digambarkan telah menciptakan komunitas sektor perekonomian “modern”, yang berorientasi ekspor dan pasar dunia, ditengah-tengah lingkungan komunitas sektor “tradisional” atau “subsisten”. Hubungan kedua sektor modern dan tradisional dalam perekonomian di negara-negara kolonial atau berkembang sering digambarkan sebagai hubungan perekonomian “dualistik” atau ganda. Dalam sistem dualistik, perkebunan memiliki peran penting dalam eksploitasi dan ekstarsi kolonial. Sistem dualistis merupakan alat yang tepat untuk mempertahankan kondisi dan kebijkan kolonial. Pendirian perkebunan sering diikuti dengan pengambilalihan tanah-tanah milik penduduk pribumi, dan perubahan basis ekologi pertanian subsisten yang ada sebelumnya. Maka dari itu pembukaan perkebunan dapat membawa dampak negatif terhadap pertanian subsisten beserta kehidupan penduduk yang tergantung pada pertanian (SartonoKartodirdjo dan Djoko Suryo, 1991: 7-8).
Ciri perkebunan kolonial adalah adanya upah kerja yang rendah dan fasilitas kehidupan yang terbatas. Namun ada pula perkebunan yang memberikan fasilitas tempat tinggal bagi para pekerjanya, misalnya dalam bentuk barak-barak
atau rumah-rumah tinggal sementara yang dibangun di tanah perkebuanan. Keadaan tempat tinggal itu biasanya jelek. Hal ini berlaku apabila tenaga pekerja itu didatangkan dari tempat yang jauh atau karena lokasi perkebunan jauh dari perkampungan penduduk setempat. Perbedaaan sosial ekomomi yang besar antara
commit to user
Perkebunan yang merupakan perusahaan komersial biasanya dikelola oleh maskapai asing dan berorientasi kepada kepentingan negara-negara besar yang menjadi tempat pemasaran barang produksinya. Perkebunan tidak hanya menempati kedudukan penting dalam bidang ekonomi tetapi juga dalam bidang politik. Perkebunan di tanah jajahan mencerminkan suatu situasi dualistis yang berakar pada deskriminasi ras (Sartono Kartodirdjo dan Djoko Suryo, 1991: 9). Secara struktural di perkebunan terdapat dua lapisan sosial, yaitu lapisan asing dan lapisan pribumi. Golongan pertama menempati jabatan teras dengan pendapatan tinggi, seperti jabatan pimpinan, staf pengelola, administrator, dan
tenaga spesialis. Golongan kedua menempati kedudukan sebagai pekerja kasar atau buruh, dengan upah rendah. Hanya sedikit golongan pribumi yang menempati lapisan menengah.
Praktek perkebunan memang tidak memberi hak hidup pada petani
(Suhartono, 1995: 4). Eksploitasi perkebunan terus berlangsung selama terjadinya fluktuasi ekonomi dunia. Perpindahan penguasaan tanah ke tangan pihak swasta
yang semula dari pemerintah atau kerajaan menimbulkan berbagai masalah sosial dan ekonomi. Dalam daerah atau kerajaan agraris, baik kedudukan dan peranannya sangat ditentukan oleh luas-sempitnya kepemilikan tanah. Bertolak dari tanah garapan itu pemilik sawah sebagai penanggung beban kepada pemerintah kolonial mempunyai tugas berat yaitu membayar pajak natura, innatura dan uang.
Adanya desakan dari perkebunan serta banyaknya beban yang ditanggung oleh petani maka memunculkan suatu gerakan destruktif dari masyarakat khususnya petani. Gerakan destruktif oleh petani yang dimaksud adalah perbanditan. Perbanditan merupakan suatu bentuk protes sosial dari petani
terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda berupa perluasan areal perkebunan yang menggeser kehidupan pertanian. Adanya gerakan destruktif yang berasal dari para petani mengilhami untuk melakukan penelitian tentang
commit to user
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka rumusan masalah adalah sebagai berikut:
1. Mengapa muncul perbanditan sosial di Klaten tahun 1870-1900? 2. Bagaimana aktivitas perbanditan sosial di Klaten tahun 1870-1900? 3. Bagaimana dampak perbanditan sosial di Klaten tahun 1870-1900?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui latar belakang munculnya perbanditan sosial di Klaten
tahun 1870-1900.
2. Mengetahui aktivitas perbanditan sosial di Klaten tahun 1870-1900. 3. Mengetahui dampak perbanditan sosial di Klaten tahun 1870-1900.
D. Manfaat Penelitian
1. Teoritis
a. Dengan penulisan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. b. Memberikan pengetahuan umumnya yang berkaitan dengan
perbanditan sosial di Klaten tahun 1870-1900. 2. Praktis
a. Sebagai titik tolak untuk melaksanakan penelitian sejenis secara mendalam.
b. Dapat menambah koleksi di perpustakaan khususnya mengenai perbanditan sosial di Klaten tahun 1870-1900.
commit to user 10 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.Tinjauan Pustaka
1. Kolonialisme
Kolonialisme bangsa Belanda di Indonesia telah mengakibatkan penderitaan lahir dan batin bagi Rakyat Indonesia. Menjelang akhir abad XIX, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat kolonial yang serba terbelakang. Tanah jajahan merupakan obyek eksploitasi untuk diambil keuntungan
sebesar-besarnya oleh penjajah. Masyarakat pribumi dijadikan obyek pengurasan bahan dasar bagi kolonialis dan daerah koloni dijadikan tempat pemasaran barang-barang hasil industri (Suhartono, 1994: 7). Berbagai cara telah ditempuh untuk mengusir kaum penjajah, namun sejak awal tidak juga membawa hasil yang
menggembirakan. Salah satu sebabnya adalah karena bangsa Indonesia belum memiliki rasa persatuan dan kesatuan.
Poerwadharminto (1976: 516) menyatakan:
“Kolonialisme secara etimologis berasal dari kata koloni yang artinya daerah jajahan, daerah jajahan menempatkan penduduk atau kelompok orang yang bermukim di daerah baru yaitu daerah asing dan sering jauh dari tanah air, yang tetap mempertahankan ikatan dengan tanah air atau daerah asalnya”.
Kolonialisme merupakan nafsu untuk menguasai dan sistem penguasaan wilayah bangsa atau negara lain. Hal tersebut dapat diartikan sebagai nafsu untuk menguasai daerah atau bangsa lain beserta perangkat sistem yang digunakan untuk mengatur wilayah yang dikuasai (Suhartoyo Hardjosatoto, 1985: 77). Kansil dan Julianto (1983: 7) mengemukakan bahwa kolonialisme merupakan rangkaian
nafsu suatu bangsa untuk menaklukkan bangsa lain, baik di bidang politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan dengan jalan dominasi politik, eksploitasi ekonomi dan penetrasi dalam bidang kebudayaan.
Soekarno (1947: 28) mengemukakan bahwa kolonialisme merupakan
commit to user
bangsa lain atau dengan kata lain kolonialisme adalah suatu rangkaian daya upaya bangsa untuk menakhlukkan bangsa lain dalam lapangan kehidupan.
Kolonialisme merupakan penguasaan suatu negara atas daerah atau bangsa lain guna memperluas wilayah negaranya (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2003: 333). Kolonialisme mempunyai tujuan untuk menempatkan sebagian masyarakat di luar batas atau lingkungan daerahnya. Usaha lainnya yang dilakukan oleh para kolonialis yaitu menyatukan koloninya menjadi satu sistem penguasaan atau sering disebut dengan imperialisme.
Suhartoyo Hardjosatoto (1985: 37) menyatakan bahwa dalam
pelaksanaan kolonialisme di suatu daerah atau negara jajahan akan berlainan dikarenakan faktor obyektif dari negara jajahan yaitu berdasarkan perbedaan mengenai kekayaan alam, kemajuan teknologi maupun sistem produksi barang. Dengan demikian dapat dimaklumi apabila corak penjajah menentukan sifat dan
perlakuan terhadap tanah air maupun bangsa yang dijajahnya.
Munculnya kolonialisme berhubungan erat dengan adanya nasionalisme Eropa yang pada waktu itu dipengaruhi oleh persaingan besar dari liberalisme. Liberalisme yang berkembang dalam masyarakat industri kapitalis tumbuh menjadi aliran yang penuh dengan emosi dan sentimen. Orang Eropa sering merendahkan bangsa lain, maka dari itu nasionalisme Eropa berhasil melahirkan kolonialisme (kuno) dengan tujuan untuk mengejar kejayaan (glory), kekayaan (gold) dan misi keagamaan (gospel). Namun pada sistem kolonialis kapitalis, kolonialisme bertujuan pada pengambilalihan sumber daya jajahan, penyediaan buruh murah pada perkebunan dan sebagai pasar hasil produksi kaum kapitalis. Kolonialisme tidak dapat dipisahkan dari kapitalisme. Kapitalisme adalah suatu cara berekonomi yang ditandai oleh: a. kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi
oleh pemilik modal, b. adanya hubungan antara majikan dan buruh yang digaji dengan uang, c. produksi ditujukan untuk mancari keuntungan dan pelipatgandaan modal (Noer Fauzi, 1999: 19).
Pemerintahan Belanda di Indonesia telah menerapkan sebuah dominasi,
commit to user
antara penjajah dan kaum terjajah. Negara penjajah semakin besar dan kuat dalam hal modal, teknologi maupun kekuasaan, sedangkan bangsa yang terjajah semakin miskin dan sengsara sehingga menimbulkan sebuah ketergantungan bangsa yang terjajah terhadap kaum penjajah.
Belanda melancarkan ekspansi kekuasaan di Jawa pada abad ke-19. Ekspansi kekuasaan oleh Belanda merupakan gerakan kolonialisme yang paling besar pengaruhnya terhadap perubahan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan di negara-negara yang mengalami penjajahan. Penetrasi Belanda ini telah mengakibatkan transformasi struktural dari politik dan ekonomi tradisional ke
arah yang lebih modern (Sartono Kartodirjo dan Djoko Suryo, 1991: 5).
Menurut Kansil dan Julianto (1983: 23), kolonialisme Belanda di Indonesia mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: a. membeda-bedakan warna kulit, b. menjadikan tanah jajahan sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi
negara induk, c. perbaikan ekonomi sosialnya sedikit, dan d. jarak yang jauh antara bangsa penjajah dan bangsa terjajah.
Menurut Moedjanto (1988: 44), tujuan Belanda melakukan kolonialisme ke dunia Timur (termasuk Indonesia) dalam rangka memperluas pengaruh dan kekuasaan Pemerintah Belanda yang ditempuh dengan cara menyatukan seluruh wilayah kekuasaan daerah jajahan di bawah Kerajaan Belanda atau Pax Neerlandica (Perdamaian Nerlandika) yang mengandung arti penyatuan dan
penentraman. Pax Neerlandica ini diciptakan oleh Gubernur Jenderal J. B. van Heutsz (1904-1909), seorang penakluk Aceh.
Kolonialisme Belanda pada kenyataannya telah mengakibatkan merosotnya keadaan sosial ekonomi penduduk yang hampir tak tertanggulangi. Hal ini dirasakan sebagai akibat dari sistem penjajahan asing yang sedikit demi
sedikit mendorong timbulnya kesadaran kepada masyarakat untuk mencari jalan keluar dan mengakhirinya (Suhartoto Hardjosatoto, 1985: 26). Pelaksanaan kolonialisme telah membawa penderitaan bagi masyarakat pribumi, kemiskinan dan kemelaratan sehingga semakin memperbesar kesenjangan sosial antara bangsa
commit to user
diskriminasi yang cukup mencolok. Situasi yang demikian merupakan tantangan bagi rakyat tanah jajahan untuk berusaha mempertahankan diri dan mengubah situasi yang ada (Kansil dan Julianto, 1983: 11). Hal tersebut sejalan dengan pendapat Raymond Kennedy dalam Moedjanto (1988: 20-21) bahwa ciri-ciri masyarakat kolonial adalah: a. diskriminasi terhadap bangsa berwarna yang dianggapnya inferior (lebih rendah), b. subordinasi (ketaatan) politik dari bangsa pribumi terhadap kekuasaan negara jajahan, c. ekonomi yang tergantung kepada penjajah, d. kurangnya kontak sosial antara golongan rakyat dan penguasa, serta e. kurangnya perhatian terhadap kesejahteraan sosial.
Sebagai suatu usaha untuk menguasai suatu wilayah, maka dalam kolonialisme terdapat pihak-pihak yang terkait dalam mewujudkan cita-cita menguasai wilayah itu. Menurut Soehardjo Hatmosoepraba (1995: 55), pihak yang terkait dalam kolonialisme terdiri dari pihak kolonialis dan penguasa lokal.
Lebih lanjut dikatakan bahwa politik kolonial Belanda sampai kurang lebih tahun 1870 konsisten dengan anggapan umum di negeri Belanda bahwa tanah koloni, khususnya Jawa, adalah produsen komoditi agraris untuk ekspor. Oleh karena itu, untuk mewujudkan cita-cita menguasai Jawa, maka pihak kolonialis mengadakan pendekatan dengan penguasa lokal, dalam hal ini bupati, untuk membantu usaha itu. Tentu saja dengan satu kompensasi bahwa kekuasaan Belanda akan lebih aman.
Adanya ikatan desa dan ikatan feodal yang kuat antara rakyat dengan penguasa merupakan akibat dari penetrasi yang dilakukan Belanda. Belanda telah menegakkan hegemoni politik terhadap penguasa lokal dalam menerapkan sistem kolonialismenya. Dalam konteks ini, kolonialisme Belanda adalah hegemoni politik terhadap bangsa Indonesia yang masih menerapkan pemerintahan
sederhana dengan menempatkan penguasa tradisional sebagai pepimpin.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kolonialisme di Indonesia merupakan sebuah hegemoni dari bangsa kolonial (Belanda) sebagai bangsa yang dominan terhadap bangsa yang berkembang (Indonesia) sebagai
commit to user
Indonesia. Akibat dari hegemoni tersebut berupa pengambilalihan kekuasaan dalam bidang politik, sosial, ekonomi maupun hukum oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Kolonialisme pada dasarnya bergerak pada bidang ekonomi, politik, kebudayaan dan sosial. Melalui bidang-bidang tersebut, kepribadian penduduk pribumi dihancurkan. Di bidang politik, penjajah melakukan dominasi politik, dalam arti kekuasaan pemerintah berada di tangan kaum penjajah yang dapat memerintah dengan sekehendak hatinya. Di bidang ekonomi, penjajah melakukan eksploitasi ekonomi yang mengambil dan mengangkut lebih banyak kekayaan dari
bumi Indonesia ke negerinya demi kemakmuran para kaum kolonial dibandingkan dengan apa yang telah diberikan kepada negeri jajahannya. Di bidang kebudayaan, penjajah melakukan penetrasi kebudayaan dengan berbagai cara, baik halus maupun paksaan, sehingga merugikan kehidupan budaya bangsa
setempat. Sedangkan di bidang sosial, bangsa penjajah menciptakan diskriminasi sosial yang menempatkan penjajah pada kedudukan lebih tinggi sedangkan bangsa terjajah dianggap bangsa kelas rendah (Cahyo Budi Utomo, 1995: 21).
Dalam pergaulan sehari-hari tidak ada kontak sosial justru yang ada hanyalah kontak fisik yang mencolok antara orang-orang Belanda dan penduduk pribumi. Kalangan pribumi dilarang keras untuk mengikuti berbagai perkumpulan maupun memasuki daerah tempat tinggal khusus orang-orang Belanda. Dengan adanya diskriminasi tersebut maka menggugah rakyat untuk melakukan perlawanan untuk dapat lepas dan merdeka dari belenggu penjajahan bangsa Belanda.
Kolonialisme merupakan rangkaian nafsu bangsa penjajah untuk menaklukkan daerah koloninya (dalam hal ini Indonesia) baik dalam politik,
commit to user
Bangsa yang terjajah berusaha untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan dengan cara mengadakan perlawanan. Perlawanan dari bangsa Indonesia yang sangat merugikan pemerintah kolonial Belanda adalah perang Diponegoro (1825-1830). Selain perlawanan terhadap Indonesia, Belanda juga terlibat perang melawan Belgia tahun 1831 (Cahyo Budi Utomo, 1995: 8). Faktor lain yang mengakibatkan pemerintah kolonial Belanda mengalami defisit keuangan antara lain kecurangan pembukuan, korupsi, pegawai yang lemah dalam sistem monopoli serta sistem paksa yang membawa kemerosotan moral para penguasa dan penderitaan penduduk. Pada masa yang sama pemerintah Kolonial
juga mengalami akibat buruk dari perang menghadapi Inggris dalam memperebutkan penguasaan perdagangan. Selain itu, negeri Belanda sendiri juga masih berada di bawah pengaruh kekuasaan Perancis oleh Napoleon Bonaparte (Sartono Kartodirdjo dan Djoko Suryo, 1991: 41).
Tahun 1830-an, Belanda yang dihadapkan pada situasi genting kemudian mencari cara yang dianggap tepat untuk menjamin kepentingan Belanda. Cara yang digunakan untuk memenuhi kas Belanda adalah dengan mengenalkan sistem yang lebih sesuai dengan kebiasaan tradisional yaitu sistem tanam paksa (cultuur stelsel) (Cahyo Budi Utomo, 1995: 8). Pada tahun 1839 pemerintah Kolonial
mengeluarkan peraturan sewa tanah yang mengatur perkebunan dan petani (Suhartono, 1995: 67).
Pelaksanan sistem tanam paksa mendapat kritik dari kaum liberal, meskipun kritik itu hanya bersfat taktis saja. Kaum liberal menganggap bahwa tanaman wajib adalah pemerasan resmi pemerintah terhadap rakyat jajahan. Kritik terhadap sistem tanam paksa ini tidak ditujukan pada pemerasan melainkan keresmian sistem tersebut. Pihak swasta ingin mendapat giliran mengadakan
commit to user
liberal maupun konservatif telah sepakat bahwa daerah jajahan harus membantu negara induk dalam hal kesejahteraan materialnya (Cahyo Budi Utomo, 1995: 11). Kesepakatan yang dibuat oleh golongan liberal dan konservatif telah melahirkan kebijakan pemerintah kolonial liberal. Undang-Undang Agraria tahun 1870 menandakan berakhirnya sistem tanam paksa dan merupakan awal pembukaan Jawa bagi perusahaan swasta. Undang-Undang ini menjamin kebebasan dan keamanan bagi pengusaha swasta. Pemilik tanah hanyalah orang Indonesia, tetapi orang-orang asing diperkenankan menyewa dari pemerintah sampai tujuh puluh lima tahun atau dari pemilik pribumi untuk masa paling lama
antara lima dan dua puluh tahun (tergantung dari persyaratan hak pemilik tanah) (H.C Ricklefs, 1992: 190).
Kebijakan liberal ditandai dengan mulai masuknya perusahaan-perusahaan perkebunan swasta ke Indonesia. Politik liberal berpegangan pada
kebebasan tenaga dan kultur. Adanya politik liberal menciptakan suasana kebebasan berusaha terutama dalam bidang perkebunan dan industri pertanian. Perluasaan perkebunan didelegasikan oleh keluarnya undang-undang persewaan tanah tahun 1839, 1857, dan 1884 (Suhartono, 1995: 68).
2. Petani
Undang-Undang Agraria yang dikeluarkan Pemerintah Kolonial pada tahun 1870 bertujuan untuk memberikan kebebasan kepada perusahaan swasta untuk menanamkan modalnya, dan sejak tahun 1830 di Vorstenlanden sudah mulai berkembang perusahaan perkebunan (Onderneming) milik Pemerintah Kolonial.
a. Pengertian Petani
Di daerah pedesaan sebenarnya terdapat sumber daya manusia yang
banyak dan tidak ternilai, wujudnya dapat berupa kepemimpinan, organisasi energi, keterampilan dan sebagainya. Semua harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengelola, memanfaatkan dan memelihara sumber daya-sumber daya lainnya yang terdapat di pedesaan, seperti kekayaan alam.
commit to user
kata lain, berbicara tentang orang desa pasti membicarakan masalah pertanian (Hadi Prayitno dan Lincolin Arsyad, 1987: 136).
Pada umumnya, pekerjaan di desa masih banyak tergantung kepada alam dan tidak banyak bervariasi. Sebagian besar penduduk desa mempunyai pekerjaan di bidang pertanian (usaha tani, peternakan, perikanan). Sebagaimana diungkapkan oleh Lynn Smith dalam Khairun Hidayat (1991: 6) bahwa pekerjaan di desa mempunyai obyek tentang tanaman dan hewan. Masyarakat desa bekerja ditempat terbuka dan terik matahari, serta pekerjaannya sangat banyak dipengaruhi oleh alam.
Pertanian adalah suatu jenis kegiatan produksi yang berlandaskan proses pertumbuhan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Pertanian dalam arti sempit dinamakan pertanian rakyat sedangkan pertanian dalam arti luas meliputi pertanian dalam arti sempit, kehutanan, peternakan, dan perikanan. Secara garis
besar, pengertian pertanian dapat diringkas menjadi 1). proses produksi, 2). petani
dan pengusaha, 3). tanah tempat usaha, 4). usaha pertanian (farm business) (Soetriono dkk, 2006: 1).
Potensi pertanian dapat dikembangkan dengan cara peningkatan kesuburan alam, meningkatkan prasarana produksi, perhubungan dan pemasaran. Hal ini akan meningkatkan output desa ke tingkat yang tinggi. Swadaya gotong-royong dapat dikembangkan pada tingkat manifest, antara lain peningkatan peranan masyarakat desa di dalam partisipasi pembangunan desa (Sajogyo dan Pudjiwati Sajogyo, 1984: 19). Pertanian tanpa tanah jelas tidak mungkin, maka dari itu kehidupan petani sangat tegantung pada tanah. Tanah yang dimiliki oleh seorang petani jelas akan mempengaruhi hasil yang diperolehnya, karena tanah merupakan tempat untuk berproduksi (Hadi Prayitno dan Lincolin Arsyad, 1987:
142).
Faktor-faktor ekonomi dapat dipergunakan sebagai indikator perkembangan desa (output desa, pendapatan per kapita masyarakat desa dan standart of living), sedangkan faktor dasar alam dan penduduk serta letak desa
commit to user
pembangunan desa untuk dapat memaksimalkan pertumbuhannya, keadaan sosial budaya manusia dapat berperan sebagai pendorong dalam perkembangan desa (Sajogyo dan Pudjiwati Sajogyo, 1984: 19).
Masyarakat desa terpaksa menjadi petani, karena rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki dan variasi lapangan kerja di pedesaan. Dalam bidang pertanian pada umumnya petani di Indonesia yang menjadi petani kebanyakan secara otodidak atau merupakan warisan dari orang tua para petani itu sendiri (Hadi Prayitno dan Lincolin Arsyad, 1987: 142).
Petani adalah seseorang yang mengendalikan secara efektif sebidang
tanah yang terikat oleh ikatan-ikatan tradisi sejak lama. Tanah dan dirinya adalah bagian dari satu hal dan merupakan suatu kerangka hubungan yang telah berdiri lama (Robert Redfield, 1982: 15). Disebutkan pula bahwa petani adalah orang yang mengerjakan sebidang tanah, baik tananhnya sendiri, sebagai penyewa
maupun mengerjakan tanah orang lain dengan imbalan bagi hasil.
Menurut Eric R Wolf (1985: 19), petani bukan hanya sumber tenaga kerja dan barang melainkan juga sebagai pelaku ekonomi (economic agent) dan kepala rumah tangga. Tanahnya adalah satu unit ekonomi dan rumah tangga. Dengan demikian maka unit petani pedesaan (peasent unit) bukan sekedar sebuah organisasi produksi terdiri dari sekian banyak tangan yang siap untuk bekerja di ladang, petani juga merupakan sebuah unit konsumsi yang terdiri dari sekian banyak mulut sesuai banyaknya pekerja.
Ladang kecil biasanya terdiri dari sebidang tanah dan rumah petani. Keluarga petani menghabiskan sebagian usianya dan melaksanakan hampir semua pekerjaannya di dalam areal pertanian keluarga itu. Di dalam suatu keluarga petani terdiri dari petani, istri, dan anak-anaknya. Perbedaan-perbedaan dibuat di
atas dasar kelamin dan umur. Perbedaan ini bukan hanya menentukan pembagian kerja tetapi seluruh kelakuan orang itu. Petani mengarahkan dasar pertanian, menyelenggarakan tugas-tugas bercocok tanam dan juga mengurus ternak. Apabila ada pekerjaan berat maka petanilah yang harus bertanggung jawab. Petani
commit to user
bertanggung jawab bagi keputusan yang diambil tentang bagaimana cara membelanjakan pendapatan. Istri bertanggungjawab mengenai urusan rumahtangga, mengasuh anak-anak, memelihara ayam, dan kadang-kadang bekerja di ladang (Duncan Mitchell, 1984: 62-63).
Kewajiban-kewajiban ini dibagi secara ketat sehingga bagi petani terasa bahwa pembagian tersebut seolah-olah telah berlangsung sejak duhulu kala berdasarkan pada perbedaan bakat antara laki-laki dan perempuan. Anak-anak tidak banyak bekerja kecuali melakukan perintah hingga enam atau tujuh tahun, tetapi dari usia itu anak kemudian berangsur-angsur mengambil tugas-tugas yang
lebih luas menurut jenis kelamin mereka. Hubungan antara ayah dan anak merupakan hubungan super dan sub-ordination, kuasa ibu bapak dan ketaatan anak diikat dengan perasaan saling hormat-menghormati.
Nilai-nilai hidup petani mempunyai keterikatan yang dalam dengan
tanahnya sendiri, sikap hormat terhadap tempat tinggal dan kebiasaan nenek moyang, kekangan terhadap mencari jati diri sendiri secara individual demi keluarga dan komunitas, kecurigaan tertentu, bercampur dengan penghargaan terhadap kehidupan kota, etik yang sederhana dan bersifat duniawi. Menurut seorang penulis Perancis, Rene Porak dalam Robert Redfield (1985: 88), kaum petani begitu mirip sehingga menamakan suatu ras psiko-fisiologis (a psycho-physiological race), dan mengumumkan bahwa antara petani yang tinggalnya
berjauhan lebih serupa daripada orang kota di dalam negeri yang sama. Rene Porak juga menyebutkan ciri-ciri yang dianggap ada di kalangan kaum tani yaitu keluarga sebagai kelompok sosial, keterikatan mistik terhadap pertanian, dan adanya tekanan pada proteksi.
b. Jenis-jenis Petani
Menurut Dawan Rahardjo (1986: 23), kelas-kelas petani yang ada dalam masyarakat pedesan ada beberapa tingkat, yaitu:
1) Tuan tanah, yaitu petani yang memiliki lahan pertanian lebih dari 5,0 ha. Sebagian dari tuan tanah mampu menggarap lahan dengan tenaga
commit to user
Sebagian pula menyewakan (menyewakan dengan sistem bagi hasil) seluruh atau sebagian lahan itu kepada petani penggarap.
2) Petani kaya, yaitu petani yang memliki lahan antar 2,0 sampai 5 ha. Petani semacam ini ada kalanya juga menyewakan kepada orang lain karena tidak mampu menggarap semua lahan yang dimilikinya.
3) Petani sedang, yaitu petani yang memiliki lahan pertanian antara 0,5 ha sampai 2,0 ha.
4) Petani kecil, yaitu petani yang memiliki lahan pertanian antara 0,25 ha sampai 0,5 ha
5) Petani gurem, yaitu petani yang hanya memiliki lahan pertanian antara 0,10 sampai 0,25 ha
6) Buruh tani, yaitu petani yang hanya memiliki lahan kurang dari 0,10 ha. Bahkan petani ini juga dapat digolongkan pada mereka yang tidak
mempunyai lahan sama sekali.
Menurut Sajogya dan Pudjiwati Sajogya (1990: 160), masyarakat desa atau petani dibagi dua kelompok, yaitu:
1) Buruh tani
Buruh tani merupakan golongan yang mempunyai posisi paling rendah, karena buruh tani tidak memiliki lahan sama sekali. Buruh tani hanya bermodal tenaga untuk mendapatkan pekerjaan guna memperoleh sesuatu demi kelangsungan hidupnya. Biasanya buruh tani hidup dalam keadaan yang miskin. Buruh tani berada ditingkat terendah dalam lapisan masyarakat dan tidak mungkin jatuh lebih rendah lagi.
2) Petani bebas
Petani bebas ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
a) Petani bebas kecil
commit to user b) Tuan tanah besar
Di dalam usaha pertanian mereka hanya menjalankan fungsi sebagai pengelola, tuan tanah besar jarang mengerjakan pekerjaan kasar. Masalah perolehan pinjaman, para tuan tanah besar dapat meminjam kepada Dinas Pertanian.
Mentalitas petani di Indonesia, tidak hanya di Jawa, menilai tinggi konsep sama rata sama rasa. Dalam kehidupan masyarakat desa di Jawa, gotong-royong merupakan suatu sistem pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga untuk mengisi kekurangan tenaga pada masa-masa sibuk dalam
lingkaran aktivitas produksi bercocok tanam. Dengan adanya konsep sama rasa sama rata ini kemudian memunculkan suatu pertentangan atau konflik antara petani dengan pemerintah Kolonial. Konflik yang terjadi merupakan satu tindakan destruktif yang dilakukan para petani untuk membela hak-haknya yang telah
tergeser oleh perluasan perkebunan.
3. Konflik
Berkembangnya perusahaan perkebunan (Onderneming) menuntut adanya perluasan perusahaan perkebunan, sehingga menyebabkan masuknya pengaruh barat ke pedesaan semakin intensif. Adanya Undang-Undang Agraria memberi kesempatan kepada para pengusaha swasta untuk dapat menyewa tanah dari pribumi dalam waktu yang cukup lama. Dengan penyewaan tanah-tanah dari penduduk pribumi maupun dari para patuh maka terjadi peralihan hak tanah kepada pihak perkebunan. Dengan beralihnya hak-hak para patuh ke perusahaan perkebunan membuat perusahaan perkebunan mendapat kesempatan untuk memeras rakyat. Beban rakyat menjadi semakin berat karena di satu pihak ada tekanan pajak dari Pemerintah Kolonial yang semakin berat, sedangkan di
pihak lain tekanan dari para Patuh dan pemegang tanah apanage menyebabkan perpindahan hak milik atas tanah pertanian dari pemilik lama ke pemilik baru. Peralihan kepemilikan tanah yang semula dianggap sesuai dengan hukum adat, namun lama-kelamaan, karena terlalu sering terjadi, dan dirasakan oleh rakyat
commit to user
Adanya tindakan sewenang-wenang yang dirasakan oleh rakyat serta perbedaaan sosial ekomomi yang besar anatara kedua golongan itu sering menimbulkan situasi konflik di tanah perkebunan.
Konflik berasal dari bahasa Latin, configere yang berarti saling memukul. Konflik sosial merupakan salah satu bentuk interaksi sosial antara satu pihak dengan pihak yang lain di masyarakat yang ditandai dengan adanya sikap saling mengecam, menekan hingga saling menghancurkan di antara kedua belah pihak. Konflik sosial sebenarnya merupakan suatu proses bertemunya dua pihak atau lebih yang mempunyai kepentingan relatif sama terhadap hal yang sifatnya
terbatas. Dahrendorf dalam Ian Craib (1986: 100) mengatakan bahwa kelas-kelas merupakan kelompok-kelompok konflik yang terlibat dalam konflik yang sangat intensif dan keras yang diarahkan ke perubahan-perubahan yang sangat tiba-tiba dan radikal. Dalam teori konflik umumnya mengarahkan perhatian pada
kepentingan-kepentingan kelompok dan orang yang saling bertentangan dalam struktur sosial dan pada cara di mana konflik kepentingan ini menghasilkan perubahan sosial secara terus-menerus.
Parson dalam Johnson (1990: 161) mengakui bahwa tidak ada sistem sosial yang terintegrasi secara sempurna. Selalu ada kemungkinan ketidaksesuain dalam prioritas yang diberikan pada nilai-nilai yang berbeda, interpretasi yang saling bertentangan mengenai nilai-nilai bersama kalau diterapkan dalam situasi tertentu, konflik peran, motivasi ambivalen atau negatif, ketegangan antara kebutuhan individu dan peran yang ditentukan secara budaya, serta ketidak konsistennya harapan antara individu satu dengan individu lain. Menurutnya, konflik merupakan gejala ketegangan yang harus diatasi oleh sistem itu untuk mempertahankan keseimbangannya.
Marx dan Weber dalam Ian Craib (1986: 100) menekankan bahwa konflik muncul dari pengakuan adanya stuktur kelas dalam masyarakat, kepentingan ekonomi yang saling bertentangan diantara orang-orang dalam kelas berbeda, pengaruh yang besar dari posisi kelas ekonomi terhadap gaya hidup
commit to user
dalam menimbulkan perubahan struktur sosial. Marx meramalkan semakin lebar jarak antara kaum borjuis dan kaum proletar. Ada tiga aspek penting dalam melihat suatu konflik kelas sosial, yaitu: a. kelas sosial secara ekonomis dalam kaitannya dengan situasi pasar, barang-barang yang dibawa seseorang ke pasar dan peluang-peluang kehidupan yang tergantung pada pemilikan barang itu. Pemilikan barang-barang serupa memenuhi peluang-peluang kehidupan yang dimiliki bersama dan kemungkinan untuk pembentukan suatu kelas sosial. Ini berarti terdapat banyak tipe kelas sosial sebanyak tipe-tipe harta yang dimiliki (paling tidak secara potensial), b. kelas-kelas yang didasarkan secara
non-ekonomik bisa menjadi penting dalam kelompok-kelompok status tertentu didasarkan pada suatu gaya hidup atau kehidupan umum dan penghargaan sosial yang dimiliki bersama, c. pentingnya ide-ide dalam proses sosial.
Coser dalamIan Craib (1986: 97) mengatakan bahwa konflik bisa dilihat
sebagai cara untuk mempertahankan stabilitas. Stabilitas disini merupakan stabilitas dalam segala bidang kehidupan petani yang telah terganggu akibat dari penguasaan bangsa Belanda di Indonesia. Penguasaan yang dilakukan oleh Belanda terutama dalam bidang perkebunan dan penguasaan tenaga kerja. Sebagai konsekuensinya maka petani melakukan tindakan kasar seperti yang tercermin dalam budaya pedesaan. Jalan keluar yang diambil petani yaitu dengan melakukan perbanditan yang merupakan suatu wujud protes petani (Suhartono, 1995).
4. Perbanditan
Buruknya kehidupan sosial ekonomi petani yang disebabkan semakin kuatnya desakan perkebunan menimbulkan perasaan tidak puas petani. Para petani merasa bahwa miliknya telah dicuri perkebunan dengan cara modern yang tidak diketahui petani. Kekayaan petani berupa tanah dan tenaga kerja telah diambil alih
commit to user
kriminal seperti pencurian, pembakaran, perbanditan, perampokan bahkan pembunuhan (Suhartono, 1995: 4).
Istilah perbanditan dipandang sangat subyektif berdasarkan sudut pandang masing-masing. Istilah perbanditan muncul dari kalangan penguasa dan akhirnya dapat diterima oleh masyarakat karena perbanditan ini bertentangan dengan pemerintah maupun penguasa. Perbanditan mengacu pada perbuatan individu atau kelompok yang menentang hukum. Selanjutnya, bandit itu mencakup pengertian sebagai: a. perampok kawanan, b. seorang yang mencuri, c. membunuh dengan cara kejam dan tanpa rasa malu (gangster), d. orang yang
mendapatkan keuntungan dengan tidak wajar, e. musuh (Suhartono, 1995: 93). Hobsbawm dalam Suhartono (1995: 93-94) mengatakan bahwa bandit adalah seorang dari anggota kelompok yang menyerang dan merampok dengan kekerasan. Bandit dibedakan menjadi bandit biasa (ordinary bandit) dan bandit
sosial (social bandit). Pada umumnya bandit biasa adalah seorang yang melakukan kejahatan dengan merampok tanpa latar belakang apapun, sedangkan bandit sosial adalah perbuatan seorang untuk merampok yang dilatarbelakangi kepentingan sosial-politik. Gerakan perbanditan dilakukan untuk menghilangkan ketidakadilan, penekanan dan eksploitasi. Perbanditan di pedesaan lebih merupakan suatu protes sosial petani terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Petani yang melakukan perbanditan berusaha untuk memperjuangkan hidup ditengah perluasan perkebunan yang menekan kehidupannya.
Menurut Djoko Suryo dalam Vincent J.H Houben (2002: 440), pelaku perbanditan adalah orang-orang yang putus asa dan tidak beruntung, yang saling bekerja sama dalam jarak yang saling berjauhan dan menggunakan alat transportasi modern termasuk kereta api. Menurut O’Mealley dalam Suhartono
(1995: 94), perbanditan di pedesaan satu pihak dapat dikatakan lebih mengefektifkan mekanisme untuk protes sosial, yang merupakan gerakan-gerakan spontan. Akan tetapi di pihak lain dengan hadirnya organisasi politik yang modern dan mempunyai kepentingan terhadap kepentingan yang berlawanan dengan
commit to user
O’Malley merangkum bahwa pada dasarnya ciri khas bandit adalah: a. tidak meninggalkan komunitasnya, b. mencerminkan nilai moral dan ideologi komunitasnya, c. perbuatannya yang ganas dan konsisten dengan ideologinya, d. Para bandit dibantu baik kata maupun perbuatannya oleh masyarakat. Disini dapat dilihat bahwa bandit tidak meninggalkan komunitasnya maka mendapat dukungan dari masyarakat tingkat bawah.
Kemudian George Rude (1985) dalam Suhartono (1995: 95) membagi perbanditan menjadi: a. kejahatan akuisif (ketamakan), b. kejahatan sosial dan survival, c. kejahatan protes. Perbanditan di Jawa yang terjadi pada pertengahan
abad XIX lebih merupakan protes sosial yang dilakukan oleh petani. Petani melakukan perbanditan karena terdesak oleh perluasan perkebunan. Perbanditan yang merupakan manifestasi protes sosial terjadi di tanah partikelir, tanah kerajaan, dan tanah gubernemen maupun tanah yang disewa. Di setiap tanah yang
disewa perkebunan itu timbul perbanditan dengan istilah yang berbeda-beda. Dimensi baru dari perkembangan perbanditan adalah adanya suasana konflik kelas yang kronis. Petani dan bandit hidup dalam satu lingkungan sosial-ekonomi yang merupakan wadah tempat hidup. Oleh karena itu wajar apabila bandit harus membantu petani sebagai pemilik lingkungan dan yang memberi hak dan kehidupan para bandit.
Perbanditan yang dilakukan oleh para petani dapat disebut sebagai bandit sosial karena para petani yang melakukan tindakan perbanditan tidak menggunakan harta hasil rampokan secara pribadi melainkan harta tersebut dibagi-bagikan kepada masyarakat miskin. Hal pokok mengenai bandit sosial adalah bahwa para bandit merupakan para petani pelanggar hukum yang oleh raja dan negara dianggap sebagai tindak kriminal, tetapi tetap merupakan bagian dari
masyarakat petani, dan oleh masyarakat dianggap sebagai pahlawan, pembela, penuntut balas, pejuang keadilan bahkan mungkin dianggap sebagai pemimpin pembebasan yang dikagumi, didukung dan dibantu (E.J Hobsbawm, 2000: 2).
Dasar ideologi perbanditan sosial adalah anti pengaruh luar yang
commit to user
untuk mewujudkan kebebasan terhadap kungkungan situasi yang melilitnya. Antara pimpinan dan anggotanya berlaku hubungan seperti guru-murid. Loyalitas yang tinggi terhadap pimpinan merupakan syarat mutlak bagi anggota perbanditan sosial ini (Suhartono, 1991: 154).
5. Perubahan Sosial
Perluasan perkebunan mempunyai dua sisi yaitu pengelolaan perkebunan supaya mendapatkan keuntungan yang besar dan satu sisi dengan adanya perluasan perkebunan ini mendesak perekonomian tradisional yang merupakan soko guru kehidupan petani (Suhartono, 1995: 61). Perubahan sosial dapat
dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi di dalam atau mencangkup sistem sosial. Lebih tepatnya, terdapat perbedaan antara keadaan sistem tertentu dalam jangka waktu berlainan. Berbicara tentang perubahan, menurut Strasser & Randel dalam Piotr Szotompka (2008: 3), perubahan dapat dilihat dengan membayangkan
sesuatu yang terjadi setelah jangka waktu tertentu, berurusan dengan perbedaan keadaan yang diamati antara sebelum dan sesudah jangka waktu tertentu. Untuk mendapatkan perbedaannya, ciri-ciri awal unit analisis harus diketahui dengan cermat meski terus berubah. Jadi konsep dasar perubahan sosial mencangkup tiga gagasan yaitu perbedaan, waktu berbeda, dan di antara keadaan sistem sosial yang sama.
Manusia hidup dalam dunia yang terus berubah. Masyarakat dan kebudayaannya terus menerus mengalami perubahan-perubahan, kebiasaannya, aturan kesusilaannya, hukumnya, lembaga-lembaganya, terus berubah, dan semua perubahan-perubahan ini mengakibatkan perubahan lain lagi, secara timbal balik dan berbelit-belit. Perubahan ini langsung terus menerus, walaupun kecepatan perubahannya tidak selalu sama, sehingga pada masyarakat yang seakan-akan
commit to user
Dalam Piotr Szotompka (2008: 4), perubahan sosial dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, tergantung pada sudut pengamatan apakah dari sudut aspek, fragmen atau dimensi sistem sosialnya. Hal tersebut disebabkan keadaan sistem sosial yang tidak sederhana, tidak hanya berdimensi tunggal, tetapi muncul sebagai kombinasi atau gabungan hasil keadaan komponen seperti berikut :
a. Unsur-unsur pokok, yang terdiri dari jumlah, jenis individu dan tindakan masyarakat.
b. Hubungan antar unsur yaitu ikatan sosial, loyalitas, ketergantungan, hubungan individu, dan integrasi.
c. Berfungsinya unsur-unsur di dalam sistem, misalnya peran pekerjaan yang dimainkan oleh individu atau diperlukannya tindakan tertentu untuk melestarikan ketertiban sosial.
d. Pemeliharaan batas, yaitu kriteria untuk menentukan siapa saja yang
termasuk anggota sistem, syarat penerimaan individu dalam kelompok, prinsip rekrutmen dalam organisasi, dan sebagainya.
e. Subsisten, yang terdiri dari jumlah dan jenis seksi, segmen, atau divisi khusus yang dapat dibedakan.
f. Lingkungan, yaitu keadaan alam atau lokasi geopolitik.
Terciptanya keseimbangan atau kegoncangan, konsensus atau pertikaian, harmoni atau perselisihan, kerja sama atau konflik, damai atau perang, kemakmuran atau krisis dan sebagainya, berasal dari sifat saling mempengaruhi dari keseluruhan ciri-ciri sistem sosial yang kompleks. Ada kalanya perubahan hanya terjadi sebagian, terbatas ruang lingkupnya, tanpa menimbulkan akibat besar terhadap unsur lain dari sistem. Sistem dari keseluruhan tetap utuh, tidak terjadi perubahan menyeluruh atas unsur-unsurnya meski di dalamnya terjadi
perubahan sedikit demi sedikit (Piotr Szotompka, 2008: 4).
Menurut Gillin dan Gillin dalam Soerjono Soekanto (1990: 337), perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima oleh masyarakat, baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan meteriil,
penemuan-commit to user
penemuan baru dalam masyarakat. Menurut Macionis dalam Piotr Szotompka (2008: 5), perubahan sosial merupakan sebuah transformasi dalam organisasi masyarakat, dalam pola berpikir, dan dalam perilaku pada waktu tertentu.
Pitirin A. Sorokin dalam Soerjono Soekanto (1990: 338) berpendapat bahwa segenap usaha untuk mengemukakan adanya suatu kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam perubahan-perubahan sosial tidak akan berhasil baik. Pitirin A. Sorokin meragukan kebenaran akan adanya lingkaran-lingkaran perubahan sosial tersebut. Akan tetapi, perubahan-perubahan tetap ada dan yang paling penting adalah lingkaran terjadinya gejala-gejala sosial harus dipelajari
karena dengan jalan tersebut barulah akan dapat diperoleh suatu generalisasi yang benar. Sedangkan Kingsley Davis mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Setiap masyarakat mempunyai sesuatu yang dihargai mungkin berupa uang, mungkin
tanah, mungkin benda-benda yang bernilai ekonomis, mungkin pula berupa kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesalehan dalam agama, atau keturunan dari keluarga tertentu, pekerjaan, kecakapan dan lain lagi. Selama di dalam masyarakat memberikan penghargaan kepada barang sesuatu yang dihargai itu, selama itu masyarakat terbagi atas lapisan-lapisan. Semakin banyak seseorang atau sekelompok orang dapat memiliki sesuatu yang dihargai itu, masyarakat akan menganggapnya mempunyai status dan lapisan yang tinggi sebaliknya mereka yang hanya sedikit atau sama sekali tidak memilikinya, dalam pandangan masyarakat mempunyai kedudukan yang rendah.
Sistem berlapis-lapis dalam masyarakat dapat bersifat tertutup dan dapat pula bersifat terbuka. Pada sistem kelas yang tertutup tidak memungkinkan terjadinya perpindahan anggota-anggota masyarakat dari satu lapisan ke lapisan
commit to user
jatuh ke lapisan bawah. Jadi ada kemungkinan untuk perubahan kedudukan atau status (Adham Nasution, 1983: 128-129).
Di dalam masyarakat di mana terjadi suatu proses perubahan, terdapat faktor-faktor yang mendorong jalannya perubahan. Menurut Soerjono Soekanto (1990: 361-365), faktor-faktor tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
a. Kontak dengan kebudayaan lain.
Salah satu proses yang menyangkut hal ini adalah diffusion. Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu kepada individu lain, dan dari masyarakat ke masyarakat lain. Dengan proses tersebut, manusia mampu
menghimpun penemuan-penemuan baru yang telah dihasilkan. Dengan terjadinya difusi, suatu penemuan baru yang telah diterima oleh masyarakat dapat diteruskan dan disebarkan pada masyarakat luas sampai umat manusia di dunia dapat menikmati kegunaannya.
b. Sistem pendidikan formal yang maju.
Pendidikan mengajarkan aneka macam kemampuan kepada individu. Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama dalam membuka pikirannya serta menerima hal-hal baru dan juga bagaimana cara berpikir secara ilmiah. Pendidikan mengajarkan manusia untuk dapat berpikir secara obyektif, yang akan memberikan kemampuan untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan jaman atau tidak.
c. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju. Apabila sikap tersebut melembaga dalam masyarakat, masyarakat merupakan pendorong bagi usaha-usaha penemuan baru. Hadiah Nobel, misalnya, merupakan pendorong untuk menciptakan hasil-hasil karya yang baru. Di
Indonesia juga dikenal sistem penghargaan tertentu, walaupun masih dalam arti yang sangat terbatas dan belum merata.
d. Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang (deviation), yang bukan merupakan delik.
commit to user
Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal yang luas atau berarti memberi kesempatan kepada para individu untuk maju atas dasar kemampuan sendiri. Dalam keadaan demikian, seseorang mungkin akan mengadakan identifikasi dengan warga-warga yang mempunyai status lebih tinggi. Identifikasi terjadi di dalam hubungan superordinasi-subordinasi. Pada golongan yang berkedudukan lebih rendah, sering terdapat perasaan tidak puas terhadap kedudukan sosial sendiri. Keadaan tersebut dalam sosiologi disebut
status-anxiety. Status-anxiety menyebabkan seseorang berusaha menaikkan
kedudukan sosialnya.
f. Penduduk yang heterogen.
Pada masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial yang mempunyai latar belakang kebudayaan ras ideologi yang berbeda dan seterusnya, mudah terjadinya pertentangan-pertentangan yang mengundang
kegoncangan-kegoncangan. Keadaan demikian menjadi pendorong bagi terjadinya perubahan-perubahan dalam masyarakat.
g. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu. Ketidakpuasan yang berlangsung terlalu lama dalam sebuah masyarakat berkemungkinan besar akan mendatangkan revolusi.
h. Orientasi ke masa depan
i. Nilai bahwa manusia harus senantiasa berikhtiar untuk meperbaiki hidupnya. Menurut Astrid S. Susanto (1983: 157), penyebab lain perubahan sosial yaitu: a. ilmu pengetahuan (mental manusia), b. kemajuan teknologi serta penggunaanya oleh masyarakat, c. komunikasi dan transport, d. urbanisasi, e. perubahan atau peningkatan harapan dan tuntutan manusia (rising demands).
Perubahan sosial yang terjadi di pedesaan adalah perubahan kondisi
masyarakat baik tingkah laku maupun pola pikir masyarakat yang disebabkan oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah kolonial yang berlangsung cukup lama. Ketidakpusaan terhadap kebijakan pemerintah kolonial kemudian memunculkan suatu gerakan destruktif dengan cara menentang