• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Analisis Kebijakan Pembangunan P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Analisis Kebijakan Pembangunan P"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah Analisis Kebijakan Pembangunan Perikanan

“Perumusan Strategi PengelolaanDaerah Aliran Sungai (DAS) Sail Terhadap Kesejahteraan Masyarakat dan Kelestarian Lingkungan”

Oleh :

Unggul Fitrah Heriadi 1610247902

DOSEN PENANGGUNG JAWAB : Dr. Victor Amrivo, S.Pi. M.Si

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KELAUTAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS RIAU

(2)

I. PENDAHULUAN

Pertambahan jumlah penduduk membutuhkan perluasan lahan sebagai wadah aktivitas yang nantinya tumbuh dan berkembang. Apabila perkembangan tersebut tidak dikendalikan dengan baik maka dapat terjadi konversi lahan untuk aktivitas yang tidak sesuai dengan fungsi dan daya dukungnya yang akan berdampak pada penurunan daya dukung lingkungan. Perubahan penggunaan lahan, utamanya di perkotaan, dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan perkembangan suatu kota. Pada awalnya perubahan penggunaan lahan tersebut terjadi di pusat kota, lama kelamaan, ketika pusat kota telah menjadi jenuh, mengarah ke pinggiran kota. Hal ini akan berakibat semakin banyaknya lahan pertanian ataupun hutan yang berubah menjadi kawasan permukiman, industri, perdagangan, jasa, dan lain sebagainya.

Pemanfaatan sumberdaya alam suatu daerah aliran sungai memerlukan pengelolaan yang baik dan holistik. Pengelolaan sumberdaya alam yang baik mengisyaratkan pengaturan penggunaan ruang dengan mengarahkan pemanfaatan lahan sesuai dengan fungsi dan kemampuan/kesesuaiannya, serta memperhatikan aspek-aspek kelestarian sumberdaya alam.

Perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan fungsi pemanfaatan lahan akan memberi tekanan terhadap ekosistem sumberdaya alam yang ada. Apabila tekanan tersebut melampaui daya dukung yang ada maka akan terjadi permasalahan degradasi lingkungan, seperti terjadinya banjir, erosi, tanah longsor dan kerusakan lingkungan lainnya.

(3)

Sungai Sail merupakan salah satu sungai yang berada di Kota Pekanbaru. Sungai Sail mengalir melewati empat kecamatan yaitu Kecamatan Lima Puluh, Sail, Tenayan Raya dan Bukit Raya. Luas wilayah dari empat kecamatan ini adalah 200,62 km2(31,68%) dari total luas wilayah Pekanbaru sebesar 632,26 km2. Jumlah penduduk pada tahun 2010 untuk empat kecamatan tersebut sebesar 277.840 jiwa (30,95%) dari jumlah total penduduk Pekanbaru sebesar 897.768 jiwa (BPS Kota Pekanbaru, 2011).

Sungai Sail berada dalam wilayah pemukiman padat aktivitas, namun pengelolaan dan pelestarian sungai dari tahun ke tahun belum seperti yang diharapkan. Sebelumnya, Pemko Pekanbaru melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Pekanbaru melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Pekanbaru telah mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2000 tentang kebersihan, bahwa pemerintah akan menindak tegas dan memberikan sanksi bagai siapa saja yang membuang limbah sembarangan ke sungai.

Meningkatnya aktifitas pembangunan yang dilakukan di Kota Pekanbaru menyebabkan terjadinya peningkatan pertumbuhan ekonomi yang pada akhimya memacu peningkatan aktifitas disegala bidang. Kondisi ini akan memicu pertambahan penduduk, dimana saat ini Kota Pekanbaru tergolong kota sedang yang mempunyai jumlah penduduk lebih dan 650.000 jiwa.

(4)

Secara hidrologis DAS memiliki karakteristik khusus yang berhubungan dengan unsur utamanya yaitu jenis tanah, tataguna lahan, topografi, kemiringan dan panjang lereng. Adanya keterkaitan antara input dan output pada suatu DAS dapat dijadikan dasar untuk menganalisis dampak suatu tindakan atau aktivitas pembangunan di dalam DAS terhadap lingkungan.

Daya dukung lingkungan suatu wilayah menjadi faktor penting yang harus diperhatikan agar proses pembangunan yang dilaksanakan dapat berkelanjutan dalam arti mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengabaikan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu setiap upaya pemanfaatan sumberdaya alam untuk kegiatan pembangunan haruslah berwawasan lingkungan (Soemarwoto, 1987). Salah satu cara pemanfaatan sumberdaya alam yang berwawasan lingkungan adalah menggunakan pendekatan satuan wilayah ekologis seperti Daerah Aliran Sungai (DAS).

Kebijakan pemerintah dalam membangun fasilitas publik sebagai upaya untuk meningkatkan nilai tambah dalam pembangunan merupakan suatu rencana yang sangat direspon baik bagi penggunanya. Pada prinsipnya tidak ada pembangunan yang tidak menggunakan ruang, artinya semakin banyak kebijakan penggunaan lahan yang berguna untuk pembangunan secara tidak langsung akan mengakibatkan kerusakan pada lingkungan seperti hutan dan sungai-sungai yang berada di perkotaan.

(5)

akan membawa perubahan tata ruang, apabila perubahan ini tidak terencana maka akan menimbulkan perubahan tata ruang yang mengandung banyak permasalahan seperti kerusakan lingkungan dan meningkatnya pemanfaatan ruang dan sumberdaya alam melebihi batas ambang toleransi yang diperbolehkan.

Melihat dengan kondisi sungai sail kota pekanbaru saat ini secara visual ada beberapa permasalahan yang sangat memprihatinkan antara lain pendangkalan ataupun berkurangnya debit air yang semakin luas. Selain itu sulitnya permasalahan lingkungan yang berdampak pada keberadaan organisme perairan yang semakin berkurang. Dengan melihat kondisi sungai sail yang telah disebutkan diatas, maka penulis merasa perlu untuk dilakukan analisis strategi pengelolaan DAS sungai Sail kota pekanbaru terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat disekitar sehingga sungai sail dapat dijadikan sebagai ikon kota pekanbaru.

(6)

II. PEMBAHASAN

Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang, meminimalkan kelemahan dan ancaman. SWOT adalah singkatan dari lingkungan internal Strength dan Weakness serta lingkungan eksternal Opportunities dan Threats yang dihadapi dunia bisnis. Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal peluang (opportunities) dan ancaman (threats) dengan faktor internal kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses).

Dilihat dari sejarahnya dan penggunaannya saat ini, metode SWOT banyak dipakai di dunia bisnis dalam menetapkan suatu perencanaan strategi perusahaan (strategic planning) sehingga literatur mengenai metode ini banyak berkaitan dengan aspek penerapan di dunia bisnis meskipun pada beberapa analisa ditemukan pula penggunaan SWOT untuk kepentingan public policy. Metode SWOT pertama kali digunakan oleh Albert Humphrey yang melakukan penelitian di Stamford University pada tahun 1960-1970 dengan analisa perusahaan yang bersumber dalam Fortune 500. Meskipun demikian, jika ditarik lebih ke belakang analisa ini telah ada sejak tahun 1920-an sebagai bagian dari Harvard Policy Model yang dikembangkan di Harvard Business School. Namun pada saat pertama kali digunakan terdapat beberapa kelemahan utama di antaranya analisa yang dibuat masih bersifat deskripstif dan belum/tidak menghubungkan dengan strategi-strategi yang mungkin bisa dikembangkan dari analisa kekuatan-kelemahan yang telah dilakukan.

(7)

kekuatan utama, kekuatan tambahan, faktor netral, kelemahan utama dan kelemahan tambahan berdasarkan analisa lingkungan internal dan eksternal yang dilakukan. Dari analisa tersebut potensi dari suatu institusi untuk bisa maju dan berkembang dipengaruhi oleh : bagaimana institusi memanfaatkan pengaruh dari luar sebagai kekuatan tambahan serta pengaruh lokal dari dalam yang terdapat empat langkah utama yang harus dilakukan, yaitu :

1. Mengidentifikasi existing strategy yang telah ada dalam institusi sebelumnya. Strategi ini bisa jadi bukan merupakan strategi yang disusun berdasarkan kebutuhan institusi menghadapi gejala perubahan lingkungan eskternal yang ada melainkan merupakan strategi turunan yang telah ada sejak lama dipegang institusi.

2. Mengidentifikasi perubahan-perubahan lingkungan yang dihadapi institusi dan masih mungkin terjadi di masa mendatang.

3. Membuat cross tabulation antara strategi yang ada saat ini dengan perubahan lingkungan yang ada.

4. Menentukan katagorisasi kekuatan dan kelemahan berdasarkan penilaian apakah strategi yang saat ini ada masih sesuai dengan perubahan lingkungan di masa mendatang : Jika masih sesuai strategi tersebut menjadi kekuatan/peluang, dan sudah tidak sesuai merupakan kelemahan.

Walaupun terdapat beberapa metode penentuan faktor SWOT, secara umum terdapat keseragaman bahwa penentuan tersebut akan tergantung dari faktor lingkungan yang berada di luar institusi. Faktor lingkungan eksternal mendapatkan prioritas lebih dalam penentuan strategi karena pada umumnya faktor-faktor ini berada di luar kendali institusi (exogen) sementara faktor internal merupakan faktor-faktor yang lebih bisa dikendalikan.

Faktor-faktor yang menjadi kekuatan-kelemahan peluang dan ancaman.

 Kekuatan dan Kelemahan. Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi

(8)

(distinctive competence) hanya akan menjadi competitive advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut terkait dengan lingkungan sekitarnya, misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Jika pada instutusi lain juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki core competence yang sama, maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan relatif suatu institusi dibandingkan dengan institusi yang lain. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua kekuatan yang dimiliki institusi harus dipaksa untuk dikembangkan karena adakalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika dilihat dari lingkungan yang lebih luas. Hal-hal yang menjadi opposite dari kekuatan adalah kelemahan. Sehingga sama dengan kekuatan, tidak semua kelemahan dari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar.

 Peluang dan Ancaman. Peluang adalah faktor yang di dapatkan dengan membandingkan

analisa internal yang dilakukan di suatu institusi (strenghth dan weakness) dengan analisa internal dari kompetitor lain. Sebagaimana kekuatan peluang juga harus diranking berdasarkan success probbility, sehingga tidak semua peluang harus dicapai dalam target dan strategi institusi. Peluang dapat dikatagorikan dalam tiga tingkatan :

o Low, jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluang pencapaiannya juga

kecil.

o Moderate : jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namun peluang pencapaian

kecil atau sebaliknya.

o Best, jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluang tercapaianya besar.

(9)

o Ancaman utama (major threats), adalah ancaman yang kemungkinan terjadinya tinggi dan

dampaknya besar. Untuk ancaman utama ini, diperlukan beberapa contingency planning yang harus dilakukan institusi untuk mengantisipasi.

o Ancaman tidak utama (minor threats), adalah ancaman yang dampaknya kecil dan

kemungkinan terjadinya kecil

o Ancaman moderate, berupa kombinasi tingkat keparahan yang tinggi namun kemungkinan

terjadinya rendah dan sebaliknya.

 Sehingga dari kacamata analisa lingkungan eksternal dapat dijelaskan bahwa :

o Suatu institusi dikatakan memiliki keunggulan jika memiliki major opportunity yang besar

dan major threats yang kecil

o Suatu institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity dan threats pada saat

yang sama

o Suatu institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan threat

o Suatu institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan high threats.

Tujuan penetapan visi antara lain adalah : (1) mencerminkan apa yang akan dicapai

(2) memberikan arah dan fokus strategi yang jelas

(3) menjadi perekat dan menyatukan berbagai gagasan strategik (4) memiliki orientasi terhadap masa depan.

Meskipun sifatnya adalah impian, visi harus memenuhi kriteria diantaranya adalah : a) Dapat dibayangkan oleh seluruh anggota organisasi

b) Mengandung nilai yang diinginkan oleh anggota organisasi c) Memungkinkan untuk dicapai

d) Terfokus pada efisiensi, efektivitas dan ekonomis

(10)

f) Dapat dikomunikasikan dan dimengerti oleh seluruh anggota organisasi.

Dari visi akan dituangkan cara yang digunakan institusi dalam mencapai visi. Secara konseptual cara tersebut akan tertuang dalam misi dan secara aplikatif akan terlihat dalam strategi.

Untuk mendapatkan informasi dari berbagai narasumber melalui analisis SWOT di atas digunakan metode survey dengan frame sample pihak-pihak (stakeholders) yang bisa memberikan penilaian aspek internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja suatu institusi atau lembaga. Untuk itu, dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk mendapatkan gambaran awal dari peta permasalahan yang ada di institusi. FGD harus dilakukan dengan komprehensif artinya melibatkan seluruh stakeholders sehingga peta yang terbentuk telah mewakili seluruh kepentingan stakeholders. Karena sifatnya yang bersumber dari informasi kualitatif pemilihan responden yang credible sangat mempengaruhi hasil akhir dari analisa SWOT sehingga hendaknya harus dilakukan dengan beberapa kualifikasi.

2. Pembuatan kuesioner SWOT berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan dalam FGD. Secara umum kuesioner ini memiliki katagorisasi penilaian sebagai berkut:

 Penilaian faktor internal dan eksternal. Di sini responden memberikan preferensi opini

terhadap faktor-faktor internal dan eksternal dari institusi pada saat ini dan perkiraan di masa mendatang.

(11)

 Setelah kuesioner terisi dan terkumpul semua, penilaian faktor dilakukan dengan

meranking bobot penilaian pada ”penilaian responden” yang memiliki nilai maksimal 6 dan minimal 1. Faktor-faktor yang memiliki nilai di atas median (atau rata-rata dilihat dari persebaran distribusi probabilitasnya) disebut dengan ”kekuatan” pada analisa internal dan

”peluang” pada analisa eskternal. Sebaliknya faktor-faktor yang memiliki nilai penilaian di bawah median disebut dengan ”kelemahan” pada analisa internal dan ”ancaman” pada analisa

eksternal.

 Membentuk suatu kuadran faktor pembangunan, yaitu suatu blok yang menjelaskan posisi dari kombinasi faktor internal dan eksternal pembangunan, dengan kombinasi : kekuatan-peluang (S-O), kekuatan-ancaman (S-T), kelemahan-kekuatan-peluang (W-O) dan kelemahan-ancaman (W-T). Sebelum menentukan kuadran pembangunan, harus dilihat terlebih dahulu uji konsistensi dari pengolahan kuesioner SWOT.

 Membuat pola strategi pembangunan berdasarkan Indeks Penilaian Kuadran. Prioritas

strategi pembangunan berdasarkan skenario ini ditetapkan dengan menjalankan kombinasi kebijakan dengan indeks nilai paling kecil berurutan ke yang paling besar. Dengan kata lain, daerah akan berusaha untuk mengatasi seluruh faktor yang paling lemah yang dimiliki untuk kemudian beralih pada kombinasi strategi yang telah memiliki indeks baik/tinggi. Dari contoh di atas strategi pembangunan yang dilakukan institusi akan bergerak dari WT_ ST_ WO_ SO.

Sebagai contoh penggunaan SWOT dalam kehidupan dan lingkungan sekitar kita yaitu dengan menerapkan SWOT pada analisis pengelolaan DAS terhadap kelestarian lingkungan.

(12)

inventarisasi faktor internal dan eksternal. Deskripsi faktor-faktor dari unsur SWOT diuraikan sebagaimana tabel 1.

Tabel 1. Deskripsi faktor internal dan eksternal

No Unsur SWOT Deskripsi Keterangan berkaitan dengan ekositem DAS dan masyarakat yang berinteraksi dengannya yang menguntungkan untuk mendukung kelestarian DAS.

Kelemahan adalah segala hal yang ada dan berkaitan dengan ekositem DASdan masyarakat yang berinteraksi dengannya, yang merugikan atau tidak mendukung pemberdayaan dan kelestarian DAS.

Peluang adalah segala hal yang ada diluar ekosistem DAS dan masyarakat yang berinteraksi dengannya yang memberikan keuntungan atau mendukung bagi pemberdayaan dan kelestarian DAS.

Ancaman adalah segala hal yang ada diluar ekosistem DAS dan masyarakat yang berinteraksi dengannya yang menghambat keuntungan atau merugikan bagi pemberdayaan dan kelestarian DAS ditabulasikan dalam tabel 2 berikut :

Tabel 2. Inventarisasi faktor internal dan eksternal.

No Variabel S W O T

(13)

Tabel 3. Kriteria penilaian terhadap aspek nilai, bobot dan rating pada unsur SWOT. No. Aspek Penilaian Klasifikasi keterangan 1. Nilai 1-4 1 = tidak penting

2 = cukup penting 3 = penting 4 = sangat penting 2. Bobot 0,01-0,20 0,01–0,05 = tidak penting

0,06–0,10 = cukup penting 0,11–0,15 = penting 0,16–0,20 = sangat penting 3. Rating 1-2 1 = respon rendah

2 = respon tinggi

Aspek nilai bagi faktor kekuatan dan peluang berlaku semakin tinggi nilai akan menunjukan semakin baiknya kondisi faktor tersebut. Sementara aspek nilai bagi faktor kelemahan dan ancaman berlaku semakin tinggi nilai akan menunjukkan semakin buruknya kondisi faktor tersebut. Tolak ukur tidak penting, cukup penting, penting ataupun sangat penting dalam aspek bobotpada suatu parameter adalah dengan membandingkan dengan parameter lainnya. Sementara pada aspek rating, penilaian pada faktor-faktor kekuatan dan peluang diberikan nilai 2 untuk respon rendah. Sedangkan untuk faktor-faktor kelemahan dan ancaman diberikan nilai 2 untuk respon rendah dan nilai 1 untuk respon tinggi.

(14)

Tabel 4. Penghitungan nilai, bobot dan rating pada unsur SWOT

Penilaian dilakukan oleh responden, responden yang ditunjuk adalah pihak-pihak yang terkait dalam pengelolaan DAS.

No. Nama Pekerjaan/Jabatan Instansi

1.`

(15)

Tabel 5. Matriks SWOT untuk merumuskan alternatif strategi

Analisa SWOT dapat menghasilkan empat kemungkinan strategi alternatif yaitu :

Strategi Strenght Oportunities (SO). Strategi ini dibuat berdasarkan jalan

pikiran pengelola, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.

Strategi Weaknesses Opportunityies (WO). Strategi ini diterapkan

berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.

Strategi Strenght Threats (ST). Adalah strategi dalam menggunakan

kekuatan yang dimilik pengelola untuk mengatasi ancaman.

Strategi Weaknesses Threats (WT). Strategi ini didasarkan pada kegiatan

yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.

(16)

Tabel 6. Penyusunan skala prioritas rumusan strategi SWOT

Pengelolaan DAS pada dasarnya adalah semua kegiatan yang dilakukan baik upaya perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan konservasi, pendayagunaan sumberdaya air dan daya rusak air. Pengelolaan ini juga harus memperhatikan aspek-aspek sumberdaya alam yang saling berkaitan satu sama lain dalam sistem DAS, baik vegetasi, tanah maupun air.

(17)

sampai ke sistem sungai akan meningkatkan debit puncak banjir untuk curah hujan yang relatif sama setiap tahunnya, dan (2) debit rendah (low flow), debit rendah atau bahkan kekeringan adalah salah satu permasalahanyang dihadapi pada pengelolaan DAS. Pada debit rendah tidak hanya terjadi pengurangan pada jumlah air yang ada untuk pemenuhan kebutuhan tapi juga membawa pada penurunan kualitas air, seperti kemampuan pengenceran dan reaerasi dari sungai berkurang, serta pengaruh terhadap degradasi estetika yang mempunyai efek terhadap channel reach (Ward and Robinson, 1990), serta (3) Erosi dan Sedimentasi, erosi pada daerah hulu sungai yang diakibatkan tergerusnya dasar sungai akibat aliran, akan membawa sedimen ke hilir atau muara sungai dan akan menutup muara sungai. Hal ini menyebabkan penampang sungai di hilir lebih kecil dari penampang sungai di hulu, sehingga sungai tidak dapat meneruskan debit yang besar dari hulu dan menyebabkan banjir di bagian hulu sungai. Ketiga permasalahan diatas merupakan masalah-masalah yang erat kaitannya dalam pengelolaan sistem DAS.

(18)

Sistem pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu kegiatan pembangunan dalam pemanfaatan sumberdaya alam.Salah satu upaya dalam pengelolaan DAS adalah berupa pengaturan penggunaan lahan dan pelaksanaan usaha-usaha rehabilitasi lahan dan konservasi tanah.Sasaran dari upaya tersebut adalah terwujudnya keadaan tata air DAS yang optimal dalam aspek kuntitas dan kualitas (Waljiyanto, 1997).

Analisis Lingkungan Strategis (SWOT) Sub DAS Sail. 1. Penilaian lingkungan eksternal.

Banjir yang melanda Kabupaten Pelalawan tidak saja merusak lahan perkebunan, insfrastruktur seperti jalan, akan tetapi mengakibatkan Rumah Tangga Miskin (RTM) bertambah banyak. Sebelum kejadian banjir, jumlah RTM hanya 2.537, namun pasca banjir meningkat menjadi 2.767. disebabkan belum bisa digunakannya lahan perkebunan serta berhentinya usaha pembuatan batu bata sementara di wilayah tersebut akibat banjir yang melanda wilayah tersebut berbulan-bulan.

Penggunaan lahan adalah pemanfaatan lahan dan pengelolaan termasuk di dalamnya pola kemampuan penggunaan lahan. Pengaturan fungsi penggunanaan lahan telah ditetapkan oleh pemerintah dalam sebuah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), namun pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang tidak mentaati dan bahkan ada kecenderungan mengabaikan, misalnya pada lahan-lahan untuk peruntukan fungsi kawasan lindung digunakan untuk pemukiman ataupun lainnya yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Demikian pula pada pola tanam belum memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah.

2. Penilaian lingkungan internal.

(19)

seluruh wilayah hutannya. Sedangkan hampir 75% kawasan hutan menjadi wilayah hutan kritis di hulu DAS.

Hasil yang dapat diambil dari analisis hidrologi yg telah dilakukan adalah bahwa banjir yang terjadi di Kota Pekanbaru khususnya Kabupaten Pelalawan merupakan akibat dari perubahan tataguna lahan yang cukup tinggi, dari pengurangan kawasan hutan menjadi kawasan pemukiman dan pertambangan terbuka. Begitu juga dengan validitas pemetaan yang ada, karena berdasarkan hasil tinjauan lapangan ditemukan ketidaksesuaian antara pemetaan yang tersedia dengan kondisi tata guna lahan nyata. Lahan hutan pada kondisi sebenarnya adalah ladang berpindah serta lahan bekas galian B dan C.

Hal ini mempunyai dampak yang sama besarnya dalam analisis debit banjir maupun analisis ketersediaan air di sub DAS Sail yang memerlukan penanganan sesegera mungkin untuk menghindarkan akibat banjir yang semakin besar.

Merumuskan isu-isu kunci.

Gambar

Tabel 1. Deskripsi faktor internal dan eksternal
tabel 5.
Tabel 5. Matriks SWOT untuk merumuskan alternatif strategi
Tabel 6. Penyusunan skala prioritas rumusan strategi SWOT

Referensi

Dokumen terkait

Sebelum waktu pensiun itu, semuanya harus bekerja, tetapi sesudah pensiun malah semuanya terjamin, ya itu yang menyebabkan saya ingat bahwa orang lain tidak pernah makan roti

pembelajaran, guru dapat: memberikan perhatian akan kebutuhan dan keinginan siswa; melibatkan siswa dalam aktivitas pembelajaran dengan menggunakan kata ganti orang pertama jamak,

Pokja Pengadaan Barang Biro Administrasi Pengadaan Barang/Jasa Setda Provinsi Bali akan melaksanakan Pelelangan Pelelangan Sederhana dengan pascakualifikasi secara

Secara keseluruhannya, dapatan kajian ini tidak banyak berbeza dengan kajian-kajian yang lepas di mana kesan positif yang signifikan wujud terhadap kadar pulangan

 mengidentifikasi alat gambar teknik  menyebutkan macam-macam alat gambar Siswa mampu:  menjelaskan o prinsip-prinsip bahan logam o prinsip-prinsip bahan non logam Aplikasi

(2) Pemindahtanganan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, yang tidak memerlukan persetujuan DPRD, apabila : a. sudah

Untuk nilai hisapan seperti pada Gambar 3 tampak bahwa pada hisapan yang masih kecil hasil yang diperoleh dari perhitungan tampak masih cukup baik artinya nilai

Hasil analisa statistik dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan mengenai mobilisasi dini terhadap pelaksanaan