MENHIR DAN AKAR BUDAYA POLA HIAS MINANGKABAU
Oleh: Herwandi
Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang
Abstract
West Sumatra province has many prehistoric archaeological sites. Most of the sites are found at Limapuluh Koto district. The kinds of archaeological finding at those sites are menhir (stone act), and some of them decorated. The decorated menhir at archaeological sites in Limapuluh Koto are decorated with many ornamental design like geometrical and floral design. That prehistoric ornamental design has linked with the Minangkabau traditonal ornamental design that are used at tradisional and modern buildings like house, surau, and mosque.
Kata kunci: menhir berhias, pola hias, akar budaya, Minangkabau.
Pengantar
Provinsi Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Limapuluh Koto kaya akan peninggalan kebudayaan prasejarah, terutama peninggalan tradisi megalitik. Peninggalan tersebut ditemukan di permukaan tanah hak milik keluarga, suku, dan ulayat masyarakat, berserakan hampir di seluruh Kecamatan dan Nagari-Nagari
Tulisan ini mencoba mengidentifikasi pola hias yang dipakai untuk meng-hiasi menhir yang berkembang pada masa megalitik di Limapuluh Koto dan ber-usaha menghubungkannya dengan pola-pola hias tradisional Minangkabau yang berkembang kemudian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Kajian yang mempergunakan menhir berhias sebagai objek utama bukan-lah sesuatu yang baru sama sekali, karena sebelumnya sudah ada yang melaku-kannya. Husnizon (1996) misalnya, meski mengkaji menhir berhias, tetapi kajian-nya tidak menghubungkan pola hias di menhir tersebut dengan pola hias tradisio-nal yang berkembang di Minangkabau kemudian. Meskipun begitu kajian tersebut telah memberi kontribusi banyak dalam kajian ini.
Menhir Berhias di Limapuluh Koto
Di dalam masyarakat Minangkabau istilah yang dipergunakan untuk menhir adalah batu tagak. Istilah ini tidak jauh berbeda artinya dengan pengertian yang biasanya dipergunakan dalam dunia keilmiahan, terutama bagi arkeolog di Indonesia. Berdasarkan penelitian terdahulu kata menhir yang berasal dari bahasa Breton --Inggris Utara, berarti batu berdiri (Sukendar 1993, 1). Sedangkan kata
batu tagak jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti batu berdiri, seperperti arti yang biasa digunakan dalam dunia keilmiahan, para arkeolog di Indonesia (Herwandi: 1993: 1).
Menhir adalah produk tradisi megalitik, tradisi yang telah muncul semen-jak prasejarah yang menggunakan batu-batu besar sebagai materi kebudayaan;
berlangsung semenjak zaman neolitik. Menhir pada awalnya dapat digolongkan ke dalam produk tradisi megalitik tua yang telah muncul semenjak awal tradisi itu, meskipun demikian tradisi pendirian menhir masih berlanjut sampai sekarang ini. Prinsip pendirian menhir berkaitan erat dengan unsur penghormatan dan pengagungan arwah nenek moyang, dan sering dihubungkan dengan kesakralan dan kesaktian leluhur (Sukendar: 1980, 82). Hal ini terjadi karena manusia pendukung tradisi megalitik beranggapan bahwa nenek moyang yang telah meninggal, arwahnya dianggap masih hidup terus di dunia arwah, dan bersemayam di tempat-tempat yang tinggi (Soejono: 1987). Oleh sebab itu tidak jarang menhir dijadikan sebagai benda sakral, didirikan di tempat-tempat yang tinggi, atau dibuat sedemikian rupa menghadap ke tempat-tempat yang dianggap suci.
masyarakat untuk menghormati tempat-tempat yang tinggi. Sedangkan arah hadap menhir yang cenderung ke gunung Sago merefleksikan gunung tersebut merupakan tempat yang dianggap suci. Hal demikian seiring pula dengan arti kata gunung Sago yang berkonotasi mensucikan gunung itu: Sago berasal dari kata
saugo yang dapat diartikan dengan Surga (Sudibyo: 1984: 28).
Menurut Sukendar (1993: 92-108) di dalam khasanah penemuan arkeologis di Indonesia menhir berfungsi sebagai monumen tanda peringatan terhadap keagungan arwah para leluhur. Sukendar juga menjelaskan bahwa menhir dapat berfungsi sebagai batas (patok) antara suatu lokasi yang dianggap sakral dengan yang tidak, dan dapat sebagai tanda kubur (Sukendar: 1983). Meskipun begitu khu-sus pada menhir-menhir yang dijumpai di Kabupaten Limapuluh Koto berfungsi sebagai tanda kubur dan lebih cenderung merupakan bagian dari sistem pengubur-an. Hal ini dapat dibuktikan berdasarkan hasil ekskavasi yang dilakukan di kawa-san tersebut. Dalam ekskavasi yang dilakukan terhadap 12 menhir di situs Ronah, Bawah Parit, Belubus Limapuluh Koto, ternyata 10 menhir buah berisi kerangka manusia (Sukendar: 1993, 468).
Mehir-menhir di Kabupaten Limapuluh Kota diperkirakan berjumlah ribu buah yang tersebar di puluhan situs, terdiri dari berbagai ukuran dan bentuk, baik yang masih sederhana maupun telah dikerjakan dengan halus serta dihiasi. Secara garis besar bentuk-bentuk menhir yang muncul di Limapuluh Koto adalah: menhir tipe pedang; tipe tanduk; tipe kepala binatang; tipe phalus; dan tipe tonggak persegi --tipe pedang merupakan bentuk yang popular (Herwandi: 1994).
Balai Adat, Guguk Nunang, Ampang Gadang, P. Batung, Balai Batu, Ateh Sudu, Ronah, Bawah Parit, dan Koto Tangah, tersebar di dua kecamatan di Limapuluh Koto: Kecamatan Guguk dan Suliki Gunung Mas. Menurut Husnizon di 11 situs tersebut dijumpai 38 buah menhir berhias (Husnizon 1989, 59), tetapi penulis ha-nya menemukan 37 buah. Di antara situs-situs tersebut yang paling baha-nyak mem-punyai tinggalan menhir berhias adalah situs Bawah Parit yang memmem-punyai ting-galan sebanyak 13 buah menhir berhias, kemudian disusul oleh situs Ateh Sudu dan Belubus yang mempunyai masing-masing 5 buah, dan situs Balai Batu seba-nyak 3 buah. Pada tabel 1 di bawah ini dapat dilihat populasi menhir berhias di situs-situs tersebut.
Tabel. 1. Populasi Jenis Menhir Berhias di Limapuluh Koto
Situs Lokasi Jenis
Desa Kecamatan Kecil Sedang Besar
Kubang Kubang Guguk 1 -
-Belubus Belubus Guguk 1 3 1
Ampang Gadang Ampang Gadang Guguk - 2
-Balai Adat Guguk Guguk - - 2
Guguk Nunang Guguk Nunang Guguk 2 1
-P. Betung Pin. Betung Guguk - 1
-Balai Batu Kt. Gadang Suliki Gng. Mas - 3
-Ateh Sudu Kt. Gadang Suliki Gng. Mas - 5
-Ronah Mahat Suliki Gng.Mas - 1
-Bawah Parit Kt. Tinggi Suliki Gng.Mas 3 10
-Koto Tangah Kt. Tangah Suliki Gng. Mas - 1
-Jumlah 7 27 3
Sumber: Husnizon Nizar (1989, 59) dan Observasi lapangan
Teknik Pengerjaan dan Klassifikasi Pola Hias Pada Menhir
Tabel. 2. Teknik menghias Menhir Limapuluh Koto
No Situs Jumlah
Temuan menhir berhias
Teknik Menghias Menhir
Temuan Timbul Gores Timbul & Gores
1 Kubang 1 Menhir 1 - - X
2 Ampang Gadang 2 Menhir 1 - X
Menhir 2 - X
3 Belubus 5 Menhir 1 - X
Menhir 2 X
-Menhir 3 - X
Menhir 4 - - X
Menhir 5 - - X
4 Balai Adat 2 Menhir 1 - X
Menhir 2 X
-5 Guguk Nunang 3 Menhir 1 X
-Menhir 2 X
-Menhir 3 X
-6 Pincuran Betung 1 Menhir 1 X
-7 Balai Batu 3 Menhir 1 - X
Menhir 2 . X
Menhir 3 - X
8 Ateh Sudu 5 Menhir 1 - X
Menhir 2 X
-Menhir 3 - X
Menhir 4 - X
Menhir 5 - X
9 Ronah 1 Menhir 1 - X
10 Bawah Parit 13 Menhir 1 - - X
Menhir 2 - X
Menhir 3 - X
Menhir 4 - X
Menhir 5 - X
Menhir 6 X
-Menhir 7 X
-Menhir 8 - X
Menhir 9 - X
Menhir 10 - X Menhir 11 - X Menhir 12 - X Menhir 13 - X
11 Koto Tangah 1 Menhir 1 X
-Jumlah, 11 situs 37 37 menhir 10 23 4
Sumber: Husnizon Nizar (1989, 64) dan observasi lapangan
pucuk pakis, dedaunan dan akar-akaran, sementara bentuk faunal seperti cacing (spiral), dan burung. Dari hiasan-hiasan yang dijumpai pada menhir-menhir tersebut di antaranya ada yang masih dalam bentuk sederhana, tertapi ada yang sudah berupa pola hias yang lengkap, mirip dengan pola hias tradisional Minangkabau seperti motif sulur-sulur berupa pola kaluak dan akar-akaran, serta motif segitiga berupa pola hias saik galamai dan wajik (segitiga dan belah ketupat). Ragam pola hias yang dipergunakan pada menhir tersebut dapat dilihat tabel berikut:
Tabel. 3. Macam Hiasan Pada Menhir
Pola Hias Situs
Kb Ag Bl Ba Gn Pb Bb As Rn Bp Kt
Pucuk pakis X X - X - X - - - -
-Spiral - - X X - - X - - X X
Sulur - - X - X - X X - X
-Segi tiga - - X X X - X X X X
-Medalion - - X - - -
-Kelamin - - - X - - -
-Pilin berganda - X - - - X - X X
Wajah Manusia - - - X - -
-Belah Ketupat - - - X - -
-Meander - - - X
-Keterangan:
Kb=Kubang, Ap=Ampang Gadang, Bl=Belubus, Ba=Balai Adat, Gn=Guguk Nunang, Pb=Pincuran Betung, Bb=Balai Batu, As=Ateh Sudu, Rn=Ronah, Bp= Bawah Parit, Kt=Koto Tangah.
X = dijumpai, - = tidak dijumpai
Hubungan Pola Hias Tradisional Minangkabau dengan Hiasan Pada Menhir di Situs-Situs Megalitik Limopuluh Koto
a. Pola Hias Tradisional Minangkabau
Lebih ba-nyak motifnya diangkat dari tumbuh-tumbuhan; akar, daun ranting, buah, bunga, dan lain-lain. Lebih jauh Navis mengatakan pada dasarnya variasi-variasi pola hi-as tersebut diberi nama berdasarkan garis dominan seperti ;
1) Lingkaran yang berjajar dinamakan ular gerang (Ular Garang) karena lingkaran itu menimbulkan asosiasi pada bentuk ular yang melingkar. 2) Lingkaran yang berkaitan dinamakan saluak (seluk) karena bentuknya yang berseluk atau berhubungan satu sama lain.
3) Lingkaran berjalin dinamakan jalo (jala) atau tangguak tangguk) atau
jarek (jerat) karena menyerupai jalinan benang pada jala penangkap ikan. 4) Lingkaran sambung-bersambung disebut aka (akar), karena bentuknya merambat. Akar ganda yang paralel dinamakan kambang (kembang). 5) Lingkaran bercabang atau beranting terputus disebut kaluak (keluk). 6) Lingkaran yang bertingkat dinamakan salompek (selompat).
Di samping itu masih ada motif geometris, bentuk dasar segi tiga, empat, dan gen-jang (Navis: 1986, 184).
Dari uraian tersebut kelihatan dengan jelas betapa bentuk melingkar men-jadi sesuatu yang utama dan mendominasi bentuk pola hias tradisional Minangka-bau. Meskipun begitu keberadaan dari motif geometris masih mendapat tempat di dalam khasanah ragam hias Minangkabau.
Pada dasarnya pola hias tradisional Minangkabau bersumber kepada ling-kungan dan alam sekitarnya, sesuai dengan dasar filsafah adat Minangkabau,
cino sa-gagang (akar Cina satu gagang), aka cino duo gagang (akar Cina dua gagang), aka cino tangah duo gagang (akar Cina satu setengah gagang), sikambang manih (si kembang manis), siriah gadang (sirih besar), siku-siku badaun (siku-siku ber-daun), pucuak rabuang (pucuk rebung), sitaba (daun
sitaba). Motif yang muncul dari nama binatang seperti; kumbang papo (kumbang papa), sikumbang janti (si kumbang janti), kuciang lalok (kucing tidur), sipatung tabang (si capung terbang), bada mudiak (ikan kecil-kecil ke mudik), cincadu bararak (cancadu bararak), itiak pulang patang (itik pulang petang), cincadu manyasok (cancadu menghisap bunga), dan lain-lain. Sedangkan dari motif lain yang diambil dari nama alat per-kakas seperti; jarek takambang (jerat terkembang), tangguak lamah (tangguk lemah). Umumnya nama motif yang telah disebutkan mempunyai prototipe garis melingkar (lengkung), Sedangkan nama-nama yang mempunyai prototipe garis lu-rus adalah seperti; wajik (jajaran genjang), dan motif campuran seperti; siku-siku badaun (siku-siku berdaun), siku-siku baragi (siku-siku berenda), siku-siku babu-ngo (siku-siku berbunga), saik galamai (potong gelamai), sikambang perak (si kembang perak) (Navis: 1986,
[image:9.595.113.515.580.757.2]XXXIX-L). Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut.
Tabel. 4. Motif dan Pola Dasar Hiasan Minangkabau
Motif Pola Dasar
Flora Fauna Geometris Alat Gabungan
Aka cino sagagang X - - -
-Aka cino tangah duo gagang X - - -
-Aka cino duo gagang X - - -
-Aka cino bakaluak _ - - -
-Aka barayun X - - -
-Aka baduyun X - - -
-Aka basau X - - -
-Lumuik hanyuik X - - -
-Sikambang manih X - - -
-Siriah gadang X - - -
-Sitampuak manggih X - - -
-Tangguak lamah X - - -
-Jarek takambang X - - -
-Rajo tigo selo X - -
-Siku kalalawa bagayuik - - X - X
Saik galamai X - X - X
Wajik - - X -
-Siku-siku badaun X - X - X
Siku babungo X - X - X
Siku-siku baragi X - X - X
Sikambang perak X - X - X
Pucuak rabuang salompek gunuang X - X - X
Pucuak rabuang bajari - - X -
-Pucuak Rabuang basisiak - - X -
-Pucuak Rabuang baselo - - X -
Salompek X - - -
-Kuciang lalok X X - -
-Sikumbang Janti X X - -
-Sipatuang tabang - X - -
-Bada mudiak - X - -
-Cancadu Bararak - X - -
-Itiak pulang patang a . - X - -
-Itiak pulang patang b - - X -
-Cancadu manyasok Bungo X X - - X
Karih pusako - - - X
-Bugih batali - - - X
-Sumber: diolah dari A.A. Navis (1984), dan observasi lapangan
Penggunaan pola hias tradisional Minangkabau masih dapat diobservasi dari ben-da-benda budaya. Di Minangkabau umumnya benda budaya yang mempunyai fungsi sosial dan budaya banyak yang diberi ukiran atau hiasan, sebutlah misalnya mesjid (musajik), surau (langgar), rumah gadang (rumah tradisional Minangka-bau) tak terkecuali juga rumah biasa, bahkan beberapa atribut kuburan seperti ni-san dan cungkub.
Rao-Rao, Mesjid Saadah di Gurun di Kabupaten Tanah Datar, dan Mesjid Asasi di Kota Padang Panjang, Mesjid Raya Batang di Pariaman, Surau Atap Ijuk di Sicincin Kab Padang Pariaman, Surau Lubuk Bauk di Batipuh Kabupaten Tanah Datar raya dengan ukiran terutama yang bermotif floral, yang diselingi oleh motif geometris (lihat juga Sugiharta: 2005). Sedangkan pada atribut kuburan beberapa motif tersebut tak jarang juga dijumpai, yang kadang-kadang diselingi oleh motif lain seperti hiasan senjata pedang atau keris, seperti yang dijumpai di beberapa makam kuno Islam sekitar Pagarruyung, Saruaso, dan Talago Gunung di Kabupa-ten Tanah Datar (Herwandi: 1994).
b. Mencari Akar Budaya.
Kalau diperhatikan lebih jauh, pola hias tradisional Minangkabau yang berkembang sekarang jelas sekali mempunyai hubungan yang erat dengan pola hias yang muncul di situs-situs megalitik Kabupaten Limapuluh Koto. Hal ini dapat menjelaskan bahwa sejarah asal muasal pola hias Minangkabau berasal dari masa prasejarah, terutama masa megalitik. Dari pola hias masa megalitik itulah pola hias tradisional Minangkabau yang berkembang sekarang berawal. Artinya cikal bakal pola hias Minangkabau telah muncul semenjak zaman megalitik, kira-kira 1500 th yang lalu. Pola hias masa megalitik tersebut jelas telah melalui perjalan panjang seiring dengan perkembangan sejarah Minangkabau pada masa berikut, masa Hindu-Budha dan masa Islam. Meskipun telah melalui beberapa periodisasi namun masih dapat ditelusuri bentuk-bentuk pola dasarnya.
dalam pola hias tradisional Minangkabau seperti berbentuk; wajik, saik galamai, siku kalalawa bagayuik, siku-siku badaun, siku-siku baragi, siku-siku babungo,
pucuak rabuang, pucuak rabuang salompek gunuang, pucuak rabuang bajari,
pu-cuak rabuang basisik, sisik batang pinang, kaluak balingka, kalauak rantai,
kalu-ak babungo, bugih batali, itikalu-ak pulang patang, bungo sitaba, dan lain-lain. Se-dangkan bentuk dasar pucuk pakis dan guratan dasar garis melengkung kemudian berkembang ke dalam motif seperti; aka cino, aka cino tangah duo gagang, aka cino duo gagang, lumuik hanyuik, aka baduyun, aka basau, tangguak lamah,
si-kambang manih, jarek tasi-kambang, rajo tigo selo, siku kalalawa bagayuik, siku
badaun, siku baragi, salompek, siriah gadang, pucuak rabuang salompek
gunu-ang, sikumbang janti, kuciang lalok, kambang papo, sitampuak manggih, aka
ba-sau, saik galamai, sikambang perak, sipatuang, cancadu manyasok bungo, dan beberapa motif lain. Di dalam motif hiasan Minangkabau juga diberi nama dari lingkungan fauna, namun sebetulnya masih mengembangkan prototipe pucuk pa-kis dan guratan dasar garis melengkung seperti pola hias; sikumbang janti, sipatu-ang, cancadu bararak, bada mudiak, cancadu manyasok bungo (Untuk lebih je-lasnya lihat bagan bergambar di lampiran).
EPILOG
tra-disi megalitik di Kabupaten Limapuluh Koto yang sarat dimuati dengan pola-pola hias, terutama sekali menhir.
Pada dasarnya prototipe pola hias yang berkembang pada menhir-menhir di Kabupaten Limapuluh Koto adalah guratan garis lurus membentuk pola hias geometris seperti segi tiga, segi empat, jajaran genjang, serta guratan garis leng-kung membentuk pola hias berkeluk seperti pucuk pakis sehingga berkembang menjadi motif akar dan dedaunan. Dari pola hias tersebutlah munculnya akar pola hias Minangkabau masa sekarang. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa pola hias masa megalitik di situs-situs megalitik Kabupaten Limapuluh Koto adalah cikal bakal pola hias tradisional Minangkabau.
Pola hias yang berkembang di situs-situs megalitik Kabupaten Limapuluh Koto merefleksikan betapa besarnya pengaruh alam terhadap hiasan-hiasan yang muncul, seperti hiasan berupa kepala binatang, muka manusia, dan beberapa motif hiasan lain seperti pucuk pakis dan geometris. Hal ini menandakan bahwa masya-rakat pendukung kebudayaan megalitis pada masa prasejarah di kawasan tersebut telah mampu beradaptasi dan belajar dari alam sekitarnya. Prinsip belajar dari alam barangkali merupakan dasar pemikiran adat-istiadat Minangkabau yang ber-kembang saat ini yaitu, alam takambang jadi guru.
Oleh sebab itu kajian tentang pola hias ini juga memberikan semacam pe-tunjuk bahwa dasar-dasar pembentukan sendi adat dan rekonstruksi awal adat Mi-nangkabau dapat dirunut jauh ke masa-masa prasejarah. Isyarat ini juga menjung-kir balikkan paradigma pemimenjung-kiran tradisional yang tertuang dalam tambo
DAFTAR PUSTAKA
Brandes, J. 1889 "Een Jayapattra of Aote van Eene Rechterlijke-Uitspraak van caka 849", dalam Tijschrift voor Indische Taal-, en Volkenkude, XXXII.
Batavias Gravenhage: Martinus Nijhoff.
Herwandi . 1994. "Nisan-Nisan di Situs Mejan Tinggi, Desa Talago Gunung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat: Kajian tentang Kelanjutan Buda-ya Tradisi Megalitik ke BudaBuda-ya Islam". Tesis Magister. Jakarta: Univ. Indonesia. 1994.
Kartodirdjo, Sartono 1975. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Depdikbud. Navis, A.A. 1986 Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan
Minang-kabau. Jakarta: Grafiti Press.
Nizar, Husnison 1986. "Menhir Berhias dari Situs Megalitik Limapuluh Koto Sumatera Barat". Skripsi. Jakarta: Universitas Indonesia.
Sedyawati, Edi & Djoko Damono, Sapardi (edts.) 1982. Beberapa Masalah Per-kembangan Kesenian Indonesia Deuasa ini Untuk Matakuliah Perkembangan Masyarakat dan Kesenian Indonesia. Jakarta: Fak. Sastra UI.
Soejono, R.P. 1987 "Sistem-Sistem Penguburan pada akhir masa Prasejarah di Bali". Disertasi. Jakarta: Universitas UI.
Sugiharta, Sri. 2005.Masjid-Masjid Kuna di Sumatera Barat, Riau, dan kepulauan
Riau Batusangkar: BP3.
Sukendar, Haris. 1980. "Tradisi Megalitik di Indonesia", dalam Analisis Kebuda-yaan. Jakarta.
Sukendar, Haris. 1993."Peranan Menhir dalam Masyarakat Prasejarah Indonesia",
Sudibyo, Yuwono. 1983. Mahat dengan Peninggalan Sejarahnya. Padang: PPSP Sumatera Barat.
Sudibyo, Yuwono. 1983. Menhir di Kawasan Limapuluh Koto, Sebuah Pengan-tar. Padang: PPSP.
Tim Peneliti Tradisi Megalitik Sumatera Barat (TPTMSB). 1984. Laporan
Penelitian Tradisi Megalitik di Kabupaten Limapuluh Koto Propinsi Sumatera Barat. Jakarta: Puslit-Arkenas.