• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN ANTI KORUPSIMELALUI HABITUASI DAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN UNTUK MEMBANGUN KARAKTER SISWA UNTUK MEMBANGUN KARAKTER SISWA :Studi Deskriptif di SMP Negeri 1 Cianjur-Jawa Barat.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "IMPLEMENTASI PENDIDIKAN ANTI KORUPSIMELALUI HABITUASI DAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN UNTUK MEMBANGUN KARAKTER SISWA UNTUK MEMBANGUN KARAKTER SISWA :Studi Deskriptif di SMP Negeri 1 Cianjur-Jawa Barat."

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN ANTI KORUPSI MELALUI HABITUASI DAN PEMBELAJARAN

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN UNTUK MEMBANGUN KARAKTER SISWA (Studi Deskriptif di SMP Negeri 1 Cianjur-Jawa Barat)

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan

Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan

Oleh :

APIEK GANDAMANA, S.Pd NIM. 1103325

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEKOLAH PASCA SARJANA

(2)

Halaman Hak Cipta untuk Mahasiswa S2

===============================================================

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Melalui

Habituasi dan Pembelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan Untuk Membangun Karakter Siswa

(Studi Deskriptif di SMP Negeri 1 Cianjur-Jawa Barat)

Oleh

APIEK GANDAMANA

S.Pd UPI BANDUNG, 2010

Sebuah Tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Sekolah Pascasarjana

Prodi Pendidikan Kewarganegaraan UPI

© APIEK GANDAMANA 2014

Universitas Pendidikan Indonesia

Januari 2014

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Tesis ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING

PEMBIMBING I

Dr. Cecep Darmawan, S,Pd., S,IP., M.Si

NIP. 19690929 1994021001

PEMBIMBING II

Dr. Hj. Kokom Komalasari, M.Pd

NIP. 19721001 2001122001

Mengetahui,

Ketua Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan

Prof. Dr. H. Sapriya, M.Ed

(4)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ABSTRAK

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN ANTIKORUPSI MELALUI HABITUASI DAN

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN UNTUK

MEMBANGUN KARAKTER SISWA (Studi Deskriptif di SMP Negeri 1 Cianjur-Jawa Barat). Tesis. Apiek Gandamana, S.Pd, 2013.

Penelitian ini dilatarbelakangi keprihatinan terhadap maraknya perbuatan korupsi pada masyarakat, meningkatnya perbuatan korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara, serta sebagai upaya untuk pencegahan perbuatan korupsi pada generasi muda dalam bentuk implementasi pendidikan antikorupsi. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam implementasi pendidikan antikorupsi. Secara khusus penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam bentuk implementasi pendidikan anti korupsi melalui habituasi dan pembelajaran PKn, faktor-faktor penghambat dan pendukung implementasi pendidikan antikorupsi melalui habituasi dan pembelajaran PKn, serta upaya mengatasi hambatan-hambatan implementasi pendidikan antikorupsi melalui habituasi dan pembelajaran PKn.Penelitian ini berlokasi di SMP Negeri 1 Cianjur. Adapun yang menjadi subjek penelitiannya adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru PKn, dan peserta didik kelas VII dan VIII. Proses penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, studi literatur, dan studi dokumentasi. Dalam penelitian ini, pengolahan data dan analisis melalui proses menyusun, mengkategorikan data, mencari kaitan isi dari berbagai data yang diperoleh dengan maksud untuk mendapatkan maknanya. Penelitian ini dilandasi oleh teori perkembangan moral (Lickona), teori korupsi (Robert Klitgraad), dan kajian

civic education (Cogan).Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) model implementasi

(5)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ABSTRACT

THE IMPLEMENTATION OF ANTI-CORRUPTION EDUCATION THROUGH

HABITUATION AND LEARNING CIVICS TO BUILD STUDENT’S CHARACTER

(Descriptive Study in SMP Negeri 1 Cianjur, West Java).Thesis. Apiek Gandamana,

S.Pd, 2013.

(6)

anti-Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

(7)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR ISI

A.Latar Belakang Penelitian ...

B.Identifikasi dan Perumusan Masalah ...

C.Tujuan Penelitian ...

D.Manfaat Penelitian ...

E. Struktur Organisasi Tesis ...

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A.Korupsi dan Pendidikan Antikorupsi ...

1. Korupsi ...

2. Pengertian Pendidikan Antikorupsi ...

3. Nilai-Nilai Pendidikan Antikorupsi ...

4. Indikator Pendidikan Antikorupsi ...

B.Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ...

1. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan ...

2. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Kewarganegaraan ...

3. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ...

(8)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

A.Pengertian Pembelajaran ………...

B.Komponen-komponen Pembelajaran PKn ………

C.Habituasi………..

1. Pengertian Habituasi………...

2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Habituasi ………...

3. Bentuk-Bentuk Habituasi di Sekolah ………

D.Karakter ………..

1. Hakikat Karakter ………

2. Tujuan, Fungsi, dan Media Karakter ……….

3. Tahap-tahap Pembentuk Karakter ………..

4. Nilai-Nilai Karakter ………...

E. Penelitian Terdahulu ………... F. Kerangka Pemikiran ………

BAB III METODE PENELITIAN

A.Lokasi dan Subjek Penelitian ...

1. Lokasi Penelitian ...

2. Subjek Penelitian...

B.Desain Penelitian ...

C.Pendekatan dan Metode Penelitian ...

1. Pendekatan Penelitian ………

2. Metode Penelitian………...

D.Definisi Operasioanal ...

E. Intrumen Penelitian ……….

F. Uji Validitas Data Penelitian ………..

(9)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Gambaran Umum Lokasi Penelitian...

1. Profil SMP Negeri 1 Cianjur ...

2. Visi dan Misi SMP Negeri 1 Cianjur ...

3. Struktur Kurikulum ...

4. Sarana dan Prasarana SMP Negeri 1 Cianjur ...

5. Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMP Negeri 1 Cianjur ...

6. Peserta Didik ...

B.Deskripsi Hasil Penelitian ...

1. Bentuk implementasi Pendidikan Antikorupsi ...

2. Faktor yang mendukung dan menghambat implementasi Pendidikan

Antikorupsi ...

3. Solusi untuk mengatasi hambatan-hambatan implementasi Pendidikan

Antikorupsi ...

C.Pembahasan Hasil Penelitian ...

1. Bentuk implementasi Pendidikan Antikorupsi ...

2. Bentuk program Pendidikan Antikorupsi ...

3. Model pendidikan antikorupsi ...

a. Model Pendidikan Antikorupsi di dalam kelas ...

b. Model Pendidikan Antikorupsi diluar kelas ...

4. Faktor yang mendukung dan menghambat implementasi Pendidikan

Antikorupsi ...

5. Solusi untuk mengatasi hambatan-hambatan implementasi Pendidikan

Antikorupsi ...

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

(10)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1. Kesimpulan Umum ...

Tingkat korupsi Indonesia tahun 2012 ...

Nilai-nilai Acuan dalam Pendidikan Antikorupsi ...

Indikator Nilai-Nilai Acuan Dalam Pendidikan Antikorupsi...

Hasil identifikasi SK dan KD PAK ………. Subjek Penelitian ……….

Sarana Penunjang Pembelajaran ...

Tenaga Pendidik (Guru) ...

Nilai-nilai Acuan dalam Pendidikan Antikorupsi ...

(11)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Gambar 2.2

Gambar 2.3

Gambar 3.1

Pengembangan Nilai-Nilai Pendidikan Antikorupsi ……….

Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Pembelajaran ………..

Konteks Mikro Pendidikan Karakter di Indonesia ………. Desain Penelitian ………..

Halaman

21

39

49

(12)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

(13)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Praktek kenegaraan dan politik selama ini telah bergelimang dengan

ketidakjujuran dan kemunafikan. Ketidakjujuran itu menjelma dalam

pelaksanaan profesi, tugas, atau pekerjaan yang penuh kelicikan dan

kemunafikan hingga merebaknya ketidakadilan. Dipertegas oleh pendapat

Sutanto dalam Wibowo (2013:9), menyatakan bahwa para ahli psikologi

mengibaratkan sebagai sebuah pembicaraan yang tidak selesai-selesai dan

pembicaraan sirkumstansial-dua simtom dari problem ketidakjujuran telah

merebaknya kerumitan, keruwetan, kepelikan, dan kesulitan luar biasa

kompleks.

Ketidakjujuran dan kemunafikan tersebut merupakan awal dari sikap

korupsi, kolusi, dan nepotisme. Bangsa Indonesia mengalami penyakit yang

luar biasa bahayanya apabila sikap ketidakjujuran dan kemunafikan tersebut

dibiarkan. Wibowo (2013:9) menyatakan bahwa:

Secara nyata, ketidakjujuran telah menggiring bangsa Indonesia pada perjalanan hidup yang kian rumit, berbelit, meniadakan orientasi dan visi nan jelas. Meminjam istilah Limas Sutanto, membenamkan bangsa Indonesia ke disorientasi dan ketiadaan visi yang memusingkan dan memuakkan. Pada akhirnya, membawa bangsa ini pada perputaran-perputaran roda kehidupan yang mengejawantahkan kemandekan sekaligus kemunduran.

Korupsi merupakan suatu masalah yang telah banyak

diperbincangkan. Hampir setiap hari dalam beberapa tahun terakhir, korupsi

selalu menghiasi berbagai surat kabar di Indonesia. Perbuatan korupsi seakan

telah melebur dalam sistem perilaku masyarakat Indonesia sehari-hari.

(14)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dapat dimaklumi sehingga sulit dibedakan mana perbuatan korup dan mana

perbuatan bukan korup.

Korupsi yang terjadi di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan dan

berdampak buruk luar biasa pada hampir seluruh sendi kehidupan. Korupsi

telah menghancurkan sistem perekonomian, sistem demokrasi, sistem politik,

sistem hukum, sistem pemerintahan, dan tatanan sosial kemasyarakatan di

negeri ini. Dilain pihak upaya pemberantasan korupsi yang telah dilakukan

selama ini belum menunjukkan hasil yang optimal. Korupsi dalam berbagai

tingkatan tetap saja banyak terjadi seolah-olah telah menjadi bagian dari

kehidupan kita, bahkan sudah dianggap sebagai hal yang biasa. Jika kondisi

ini tetap kita biarkan berlangsung maka cepat atau lambat korupsi akan

menghancurkan negeri ini.

Pemberantasan korupsi melalui penegakan hukum masih belum

cukup, tetapi harus diimbangi dengan menumbuhkan semangat, atmosfer, dan

budaya anti korupsi. Semangat, atmosfer, dan budaya anti korupsi yang

dimaksud dapat dilakukan melalui pendidikan formal. Hal ini karena salah

satu fungsi pendidikan adalah untuk melakukan koreksi budaya (Eby, 1952;

Darmawan, dkk, 2008; Hassan, 2004; Muhtari, 2004; Zuriah, 2008), yaitu

koreksi terhadap budaya yang tidak baik atau kontraproduktif yang tumbuh

dan berkembang dalam masyarakat. Termasuk di dalamnya mereduksi sikap

dan perilaku korupsi dan menebalkan semangat antikorupsi khususnya

kepada siswa sebagai generasi penerus bangsa. (Harmanto, 2012:3).

Beberapa hasil survey lembaga-lembaga transparansi mengindikasikan

tingginya tingkat korupsi di Indonesia, karena Indonesia sendiri dibandingkan

dengan negara-negara lainnya, berada di posisi kelima terkorup di dunia

menurut Survey Transparency International (TI) pada tahun 2009. Sedangkan

untuk kalangan Asia, Indonesia menduduki sebagai negara terkorup nomor

(15)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Hasil survey Corruption Perception Index (CPI) pada tahun 2011, 5

negara dengan skor tertinggi dalam hal bersih dari korupsi adalah Selandia

Baru, Denmark, Finlandia, Swedia, dan Singapura. Sementara negara-negara

dengan skor terendah adalah Uzbekistan, Afghanistan, Myanmar, Korea

Utara, dan Somalia.

Pada tahun 2011 Corruption Perception Index (CPI) merilis skor

Indonesia dalam tingkat korupsi adalah 3.0. Bersama dengan Indonesia, ada

11 negara lain yang mendapatkan skor 3.0 dalam CPI tahun ini.

Negara-negara tersebut adalah Argentina, Benin, Burkina Faso, Djibouti, Gabon,

Madagaskar, Malawi, Meksiko, Sao Tome & Principe, Suriname dan

Tanzania. Indonesia dan negara-negara tersebut menempati posisi 100 dari

183 negara yang diukur. Di kawasan ASEAN, skor Indonesia berada di

bawah Singapura, Brunei, Malaysia dan Thailand. Sementara Vietnam,

Kamboja, Laos dan Myanmar skornya lebih rendah dari Indonesia.

Organisasi Fund for Peace merilis indeks terbaru mereka mengenai

Failed State Index (negara gagal) 2012 di mana Indonesia berada di posisi 63.

Sementara negara nomor 1 yang dianggap gagal adalah Somalia. Dalam

membuat indeks tersebut, Fund for Peace menggunakan indikator dan

subindikator, salah satunya indeks persepsi korupsi. Dalam penjelasan

mereka, dari 182 negara, Indonesia berada di urutan 100 untuk urusan indeks

korupsi tersebut. Indonesia hanya berbeda 82 dari negara paling korup

berdasarkan indeks lembaga ini. Negara yang dianggap paling baik adalah

New Zealand.

Menurut Tranparency International tahun 2012 skor Indonesia adalah

32, pada urutan 118 dari 176 negara yang diukur. Indonesia sejajar posisinya

dengan Republik Dominika, Ekuador, Mesir dan Madagaskar. Di kawasan

ASEAN posisi Indonesia bisa dilihat di bawah ini:

(16)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Negara Skor CPI Peringkat

Singapura 87 5

Sumber: Corruption Perception Index (CPI), Tranparency International 2012

Secara regional Indonesia tidak banyak mengalami perubahan, masih di

jajaran bawah apabila dibandingkan skor CPI-nya. Skor 32 menunjukkan

bahwa Indonesia masih belum dapat keluar dari situasi korupsi yang sudah

mengakar.

Dari beberapa hasil survey lembaga-lembaga anti korupsi

menunjukkan Indonesia merupakan negara yang tinggi tingkat korupsinya.

Apabila dibiarkan tidak mustahil korupsi di Indonesia bisa menjadi suatu

budaya yang mengakibatkan rusaknya perekonomian, moral, hukum,

pendidikan, dan lain sebagainya. Menurut Sumiarti (2007:2) menyatakan

bahwa korupsi yang terjadi di Indonesia sudah mencapai taraf yang sangat

memprihatinkan dan jika dibiarkan akan menyebabkan bangsa dan negara

Indonesia semakin terpuruk ke dalam jurang kemiskinan, kebodohan, dan

keterbelakangan. Senada dengan pernyataan di atas Tanya (2006:168)

mengungkapkan:

(17)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Upaya pemerintah selama ini dalam memberantas korupsi belum

mendapatkan titik terang. Menurut ahli hukum Baharudin Lopa, yang menjadi

faktor kegagalan pemberantasan korupsi yaitu penegakan hukum masih

lemah dan tidak rapihnya manajemen birokrasi serta pengawasan dari tim

independen masih kurang sehingga menyebabkan korupsi ini terus tumbuh

baik secara akut maupun kronis akibatnya sangat sulit sekali untuk diketahui

dan dikendalikan.

Masalah yang berkaitan dengan praktik korupsi adalah berkaitan

dengan masalah kesadaran. Upaya pemberantasan korupsi berarti

mengembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bersikap

kritis serta dapat merencanakan tindakan untuk merubah lingkungannya. Oleh

karena itu, perlu adanya pemahaman tentang perbuatan korupsi dimana salah

satu caranya yaitu dengan membiasakan siswa untuk menerapkan nilai-nilai

antikorupsi.

Menurut Franz Magnis Suseno dalam Djabbar (2008:1), ada tiga sikap

moral fundamental yang akan membuat orang menjadi kebal terhadap godaan

korupsi, yaitu: kejujuran, rasa keadilan, dan rasa tanggung jawab. Yang

dimaksud nilai antikorupsi ini adalah nilai-nilai tanggung jawab, disiplin,

jujur, sederhana, kerja keras, mandiri, adil, berani, dan peduli (KPK RI,

2008).

Sumiarti (2007:6) mengatakan, education is a mirror society,

pendidikan adalah cermin masyarakat. Artinya, kegagalan pendidikan berarti

kegagalan dalam masyarakat. Demikian pula sebaliknya, keberhasilan

pendidikan mencerminkan keberhasilan masyarakat. Pendidikan berkualitas

akan menciptakan masyarakat yang berkualitas pula.

Pendidikan sebagai tugas imperatif manusia selalu membawa

implikasi individual dan sosial. Secara individual, pendidikan merupakan

(18)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

maupun akal. Pendidikan yang baik pastilah bisa mengembangkan potensi

manusia tersebut secara bertahap menuju kebaikan dan kesempurnaan. The

perfect man (insan kamil) merupakan manusia yang memiliki performance

jasmani yang sehat dan kuat, otak yang cerdas dan pandai, serta kualitas

spiritual yang baik. Secara sosial, pendidikan merupakan proses pewarisan

kebudayaan.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal sangat berperan untuk

mencegah terjadinya perbuatan korupsi dan menanamkan nilai-nilai dan sikap

antikorupsi terhadap siswanya. Maka sekolah wajib untuk menerapkan

nilai-nilai antikorupsi melalui pembiasaan/habituasi dan pembelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan.

Penerapan pendidikan antikorupsi di sekolah diharapkan dapat

meningkatkan karakter siswa. Penerapan pendidikan antikorupsi di sekolah

akan memberikan kesadaran kepada generasi muda akan bahaya korupsi

kemudian bangkit melawannya.

Fathah (2008:3) menyatakan bahwa membangun karakter bangsa

(nation character building) merupakan hal yang sangat penting dalam

menjaga dan memelihara eksistensi suatu bangsa dan negara. Namun hingga

kini karakter warga negara belum menunjukkan karakter baik, salah satunya

yaitu masih maraknya perbuatan korupsi.

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah nama salah satu mata

pelajaran sebagai muatan wajib dalam kurikulum pendidikan dasar dan

menengah (Pasal 37 Ayat 1 UU Sistem Pendidikan Nasional). Selanjutnya

dalam Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun

2006 Tentang Standar Isi ditegaskan bahwa PKn termasuk cakupan kelompok

mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dimaksudkan untuk

(19)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia. Selain hal tersebut, perlu

ditanamkan kesadaran wawasan kebangsaan, jiwa patriotisme dan bela

negara, penghargaan terhadap hak asasi manusia, kemajemukan bangsa,

pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan gender, demokrasi, tanggung jawab

sosial, ketaatan pada hukum, ketaatan membayar pajak, sikap serta perilaku

antikorupsi, kolusi dan nepotisme.

Secara konsep, dapat dikemukakan bahwa Pendidikan

Kewarganegaraan adalah pengorganisasian dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan

humaniora dengan penekanan pada pengetahuan dan kemampuan dasar

tentang hubungan antar warga negara dan warga negara dengan negara yang

didasari keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, nilai luhur

dan moral budaya bangsa, memiliki rasa kebanggan (nasionalisme) yang kuat

dengan memperhatikan keragaman agama, sosiokultural, bahasa dan suku

bangsa serta memiliki jiwa demokratis yang diharapkan dapat diwujudkan

dalam perilaku sehari-hari. Dengan kata lain, konten PKn di Indonesia terdiri

atas berbagai disiplin ilmu yang memerlukan pengorganisasian materi secara

sistematis dan pedogagik seperti ilmu hukum, politik, tata negara, humaniora,

moral, psikologi, nilai-nilai budi pekerti, dan disiplin ilmu lainnya. Dengan

demikian, secara substansi mata pelajaran PKn terbuka terhadap perubahan

dan dinamika yang berkembang dalam kehidupan bermasyarakat dan

bernegara.

PKn bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, wawasan dan sikap

serta perilaku antikorupsi, kolusi dan nepotisme. Korupsi merupakan salah

satu masalah serius yang dihadapi masyarakat dan negara Indonesia, karena

saat ini semakin marak bahkan telah menyentuh dan menjadi “the way of life

bangsa Indonesia. Oleh karena itu, PKn harus memberikan kontribusi dalam

(20)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

wadah yang lebih luas bagi terselenggaranya pendidikan antikorupsi dalam

proses pembelajarannya. Dengan penekanan dan wadah yang lebih luas

tersebut diharapkan peserta didik sejak dini sudah dapat memahami bahaya

korupsi dan selanjutnya terbangun sikap antikorupsi dan perilaku untuk tidak

melakukan korupsi (Permendiknas No 22 Tahun 2006).

Salah satu wujud perhatian pemerintah terhadap bahaya korupsi

adalah menetapkan kebijakan tentang pemberantasan korupsi yang

dituangkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 tahun 2004 tentang

Percepatan Pemberantasan Korupsi. Pada bagian Diktum ke-11 (Instruksi

Khusus) poin ketujuh menugaskan kepada Menteri Pendidikan Nasional

(sekarang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) untuk menyelenggarakan

pendidikan yang bersubstansikan penanaman, semangat dan perilaku

antikorupsi baik pada jenjang pendidikan formal maupun nonformal. Hal ini

diperkuat dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 17 tahun

2011 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2012.

Handoyo (2007:13) mengungkapkan bahwa:

Pendidikan antikorupsi adalah usaha sadar untuk memberi pemahaman dan mencegah terjadinya perbuatan korupsi yang dilakukan dalam proses pembelajaran di sekolah. Pendidikan anti korupsi akan lebih efektif apabila diterapkan pada masyarakat usia dini. Pendidikan antikorupsi pada dasarnya dapat dilakukan pada pendidikan informal di lingkungan keluarga, pendidikan nonformal, dan pendidikan formal pada jalur sekolah. Namun karena otoritas yang dimiliki dan kultur yang dipunyai, jalur formal atau sekolah dipandang lebih efektif untuk menyiapkan generasi muda berperilaku anti korupsi.

Senada dengan pendapat di atas, Djabbar dalam Annas (2011:3)

Materi pendidikan antikorupsi di sekolah tidak hanya sekedar pemberian

wawasan di ranah kognitif (materi), tidak sekedar pemahaman dan

(21)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

afektif dan psikomotorik. Membentuk sikap dan perilaku antikorupsi pada

siswa. Menuju penghayatan dan pengamalan nilai-nilai antikorupsi.

Penerapan pendidikan antikorupsi di sekolah diharapkan dapat

menjadi tempat untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan,

keterbukaan, dan tanggung jawab kepada siswa sejak dini. Pendidikan

antikorupsi di sekolah akan memberikan kesadaran kepada generasi muda

akan bahaya korupsi kemudian bangkit melawannya.

Korupsi dalam konteks pendidikan adalah tindakan untuk

mengendalikan atau mengurangi korupsi. Merupakan keseluruhan upaya

untuk mendorong generasi-generasi mendatang mengembangkan sikap

menolak dengan tegas setiap bentuk tindak korupsi. Penerapan nilai-nilai

pendidikan antikorupsi sangat penting dilakukan dengan harapan agar

generasi muda secara sadar dan bertanggung jawab mampu untuk mencegah

perbuatan korup bahkan dapat memberantas perilaku korupsi.

Atas dasar pemikiran di atas, bahwa untuk membentuk karakter yang

baik tidak cukup hanya melalui proses pembelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan di dalam kelas, tetapi perlu diiringi dengan penerapan

nilai-nilai yang baik yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kilpatrick

dalam Megawangi (2004:113) menyatakan bahwa; „salah satu penyebab

ketidakmampuan seseorang untuk berperilaku baik, walaupun secara kognitif

mengetahuinya, adalah tidak terlatih untuk melakukan kebajikan atau

perbuatan yang bermoral (moral action)‟.

Lickona dalam Megawangi (2004:113) berpendapat bahwa orang

yang berkarakter sebagai sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara

bermoral yang dimanifestasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku

yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain dan karakter

(22)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, maka perlunya sinergi

yang saling mendukung antara pendidikan antikorupsi melalui pembiasaan /

habituasi dan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang mengajarkan

nilai, norma, dan moral di ruang kelas dan dalam kehidupan sehari-hari

sebagai faktor yang menentukan karakter siswa.

Dengan latar belakang tersebut, maka hal ini mendorong peneliti

untuk melakukan penelitian dengan harapan akan mendapatkan gambaran

tentang implementasi pendidikan antikorupsi melalui pembiasaan / habituasi

dan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, serta diharapkan mampu

memberikan kontribusi terhadap peningkatan nilai-nilai antikorupsi dan

karakter baik disekolah, maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa

dan bernegara.

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah sebagaimana diuraikan di

atas, maka yang menjadi persoalan inti dan sekaligus menjadi fokus telahaan

dalam penelitian ini adalah bagaimana implementasi pendidikan antikorupsi

melalui habituasi dan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk

membangun karakter siswa?

Mengingat identifikasi dan rumusan masalah tersebut di atas begitu

luas maka secara khusus peneliti ingin mengungkapkan beberapa

permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana bentuk implementasi pendidikan antikorupsi melalui habituasi

dan pembelajaran PKn di SMP Negeri 1 Cianjur?

2. Faktor-faktor apa dan mengapa yang mendukung dan menghambat

implementasi pendidikan antikorupsi melalui habituasi dan pembelajaran

(23)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3. Bagaimana solusi untuk mengatasi hambatan-hambatan implementasi

pendidikan antikorupsi melalui habituasi dan pembelajaran PKn di SMP

Negeri 1 Cianjur?

C. Tujuan Penelitian

Secara umum, studi atau penelitian ini bertujuan untuk

mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam implementasi

pendidikan antikorupsi melalui habituasi dan pembelajaran Pkn. Secara

khusus penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis

secara mendalam:

1. Bentuk implementasi pendidikan antikorupsi melalui habituasi dan

pembelajaran PKn.

2. Faktor-faktor apa dan mengapa yang menghambat dan mendukung

implementasi pendidikan antikorupsi melalui habituasi dan pembelajaran

PKn.

3. Upaya mengatasi hambatan-hambatan implementasi pendidikan

antikorupsi melalui habituasi dan pembelajaran PKn.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam

pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya bagi Pendidikan

Kewarganegaraan. Adapun lewat penelitian ini diharapkan memberikan

manfaat secara teoretis dan praktis.

1. Teoritis

Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah

ilmu pengetahuan dalam bidang Pendidikan Kewarganegaraan, khususnya

(24)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

tunas-tunas bangsa terhindar dari perbuatan korup sesuai dengan tujuan PKn

yaitu to be good citizenshif (membentuk warga negara yang baik).

2. Praktis

Dari temuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis bagi

beberapa pihak sebagaimana diuraikan berikut :

a. Bagi peneliti

 Mampu menelaah secara kritis tentang proses implementasi pendidikan antikorupsi bagi peserta didik SMP sebagai generasi penerus bangsa

agar terhindar dari perbuatan korup.

 Memberikan kontribusi positif terhadap berbagai pihak mengenai pentingnya memahami dan mengarahkan sikap antikorupsi bagi peserta

didik khususnya di SMP Negeri 1 Cianjur.

b. Bagi pihak-pihak lain

a) Sekolah

Membangun kehidupan sekolah khususnya SMP Negeri 1 Cianjur

sebagai lingkungan bebas korupsi dengan mengembangkan kebiasaan

(habit) dan pembelajaran antikorupsi dalam kehidupan sehari-hari.

b) Guru

Membantu guru dalam mengembangkan pendidikan antikorupsi dan

mengevaluasi implementasi pendidikan antikorupsi melalui habituasi

dan pembelajaran PKn.

c) Siswa

 Membantu memberikan pembelajaran terhadap generasi muda pada umumnya dan peserta didik SMP Negeri 1 Cianjur pada khususnya

untuk membenahi dan meningkatkan peranan dan dukungan

terhadap edukasi antikorupsi sejak dini.

(25)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu E. Struktur Organisasi Tesis

Penelitian ini terdiri atas lima bab, bab pertama berupa pendahuluan

yang terdiri dari lalar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan

penelitian, manfaat penelitian dan struktur organisasi tesis. Bab kedua

merupakan kajian pustaka yang di dalamnya membahas pengertian korupsi,

pendidikan antikorupsi, Pendidikan Kewarganegaraan, habituasi, dan

karakter.

Bab tiga merupakan bagian yang menguraikan metode penelitian,

pada bab ini di uraikan mengenai lokasi dan subjek penelitian, desain

penelitian, pendekatan dan metode penelitian, penjelasan istilah, instrumen

penelitian, uji validitas data penelitian, teknik pengumpulan data dan prosedur

penelitian. Selanjutnya, bab empat membahas tentang hasil penelitian dan

pembahasannya, bab ini terdiri dari deskripsi lokasi penelitian, deskripsi hasil

penelitian, analisis hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian.

Bab terakhir dalam penulisan penelitian ini adalah bab lima. Bab lima

terdiri dari kesimpulan hasil penelitian dan rekomendasi bagi pihak-pihak

(26)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB III

METODE PENELITIAN

A.Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Adapun yang menjadi lokasi penelitian adalah di Sekolah Menengah

Pertama (SMP) Negeri 1 Cianjur yang beralamat di Jl. Siliwangi No. 94

Kelurahan Pamoyanan Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur Provinsi

Jawa Barat 43211.

2. Subjek Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan ini tergolong penelitian kualitatif,

maka subjek penelitian merupakan pihak-pihak yang menjadi sasaran

penelitian atau sumber yang dapat memberikan informasi yang dipilih

secara purposif bertalian dengan tujuan tertentu. Hal tersebut sesuai dengan

pendapat Creswell (2010 :266) bahwa partisipan dan lokasi penelitian itu

dipilih secara sengaja dan penuh perencanaan, penelitian yang dapat

membantu peneliti memahami masalah penelitian.

Subjek dalam penelitian ini agar memperoleh informasi yang valid

dan bertalian, maka yang menjadi subjek penelitiannya seperti terdapat

dalam tabel berikut ini:

Tabel 3.1

Subjek Penelitian

No Informan Jumlah

1. Kepala Sekolah 1 orang

2. Waka.Urusan Kesiswaan/Non Akademik 1 orang

3. Guru PKn 2 orang

4. Peserta Didik Kelas VII dan VIII 10 orang

(27)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Sumber : hasil olah data peneliti

B.Desain Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti membuat suatu desain penelitian sebagai

gambaran tahapan yang akan ditempuh oleh peneliti. Adapun

tahapan-tahapan tersebut terdapat pada gambar di bawah ini:

Bagan 3.1 Desain Penelitian

Studi Pendahuluan Penentuan Masalah Studi Empiris

Identifikasi Masalah

Analisis

Perumusan Masalah

Pengumpulan Data PenyusunanInstrumen/ Pedoman wawancara Kajian Pustaka

(28)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu C.Pendekatan dan Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif didasarkan pada

dua alasan. Pertama, permasalahan yang dikaji dalam penelitian tentang

implementasi pendidikan antikorupsi melalui habituasi dan pembelajaran

PKn membutuhkan sejumlah data lapangan yang sifatnya kontekstual.

Kedua, pemilihan pendekatan ini didasarkan pada keterkaitan masalah

yang dikaji dengan sejumlah data primer dari subjek penelitian yang tidak

dapat dipisahkan dari latar alamiahnya, tanpa ada rekayasa serta pengaruh

dari luar. Hal ini senada dengan Moleong (2004:3) bahwa “penelitian

kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data kualitatif

berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari perilaku orang-orang yang

diamati”.

Atas dasar itulah maka penelitian ini dapat digolongkan kedalam

penelitian kualitatif-naturalistik. Cresswell (1994:15) mendefinisikan

penelitian kualitatif sebagai berikut:

Qualitatif research is an inquairy process of understanding based on distinctmethodological tradition of inquiry that explore a sosial or human problem. The researcher build a complex, holistic picture, analysis words, report detailed views on informants, and conducts teh study in a natural cetting.

Pendapat tersebut menjelaskan bahwa penelitian kualitatif

didasarkan pada tradisi metodologi penelitian dengan cara menyelidiki

(29)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kompleks, gambaran secara menyeluruh, menganalisis kata-kata,

melaporkan pandangan-pandangan para informan secara rinci, dan

melakukan penelitian dalam situasi yang alamiah.

Karakteristik pokok yang menjadi perhatian dalam penelitian

kualitatif adalah kepedulian terhadap “makna”. Dalam hal ini penelitian

naturalistik tidak peduli terhadap persamaan dari objek penelitian,

melainkan sebaliknya mengungkap tentang pandangan tentang kehidupan

dari orang-orang yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tidak mungkin untuk

mengungkap kenyataan yang ada dalam diri orang yang unik atau

menggambarkan alat lain kecuali manusia sebagai instrumen dan peneliti

mendatangi sendiri sumbernya secara langsung.

Peneliti memilih pendekatan ini karena ingin mengetahui secara

langsung dan mendalam mengenai implementasi pendidikan antikorupsi

melalui habituasi dan pembelajaran PKn. Dari penelitian ini diharapakan

dapat dikumpulkan data sebanyak mungkin dengan tidak

mengesampingkan keakuratan data yang diperoleh.

2. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis, yaitu

penelitian yang didasarkan pada pemecahan masalah berdasarkan

fakta-fakta dan kenyataan-kenyataan yang ada pada saat sekarang dan

memusatkan pada masalah sosial aktual yang terjadi pada saat penelitian

dilaksanakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Nazir (1998 : 63) yang

menyatakan bahwa :

(30)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Metode deskriptif semata-mata menerangkan atau mendeskripsikan

kenyataan sosial tertentu dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel

penelitian. Penelitian ini merupakan studi deskriptif analitik maka untuk

memperoleh data sebanyak-banyaknya dilakukan dengan cara mendalam

artinya melalui berbagai teknis yang disusun secara sitematis serta dicari

informasi selengkapnya untuk tujuan pengumpulan data hasil penelitian

yang lebih sempurna.

Alasan peneliti melakukan penelitian dengan studi deskripstif ini

karena sesuai dengan sifat dan tujuan penelitian yang ingin diperoleh,

bukan untuk menguji hipotesis akan tetapi berusaha untuk mendapatkan

gambaran yang nyata tentang bagaimana implementasi pendidikan

antikorupsi melalui habituasi dan pembelajaran PKn. Karena penelitian ini

bersifat kualitatif, maka instrument utama penelitian adalah peneliti sendiri

yang terjun langsung ke lapangan untuk mencari informasi melalui

observasi dan wawancara. Sebagaimana dikemukakan Moleong (2000:103)

bahwa “bagi peneliti kualitatif manusia adalah instrument utama karena ia

menjadi segala bagi proses penelitian. Ia sekaligus merupakan perencana,

pelaksana, pengumpul data, analisis, penafsir, dan akhirnya ia menjadi

pelapor penelitian”.

D.Definisi Operasional

Dalam penelitian ini, terdapat lima konsep utama, yaitu korupsi,

pendidikan antikorupsi, habituasi, Pendidikan Kewarganegaraan, dan karakter.

1. Korupsi

Korupsi adalah kejahatan, kebusukan, dapat disuap, tidak bermoral,

kebejatan, dan ketidak jujuran. Andi Hamzah (1984: 9)

(31)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Pendidikan anti korupsi adalah usaha sadar untuk memberi pemahaman dan

mencegah terjadinya perbuatan korupsi yang dilakukan dalam proses

pembelajaran di sekolah. Handoyo (2007:13)

3. Habituasi

Habituasi adalah proses penciptaan aneka situasi dan kondisi (persistent life

situation) yang berisi aneka penguatan (reinforcement) yang memungkinkan

peserta didik pada satuan pendidikannya, rumahnya, dilingkungan

masyarakatnya membiasakan diri berperilaku sesuai nilai dan menjadikan

perangkat nilai yang telah diinternalisasi dan dipersonalisasi melalui proses

olah hati, olah pikir, olah raga dan karsa itu sebagai karakter atau watak.

Dasim Budimansyah (2010:63)

4. Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan kewarganegaraan adalah proses pendewasaan bagi warga negara

dengan usaha sadar dan terencana melalui pengajaran dan pelatihan

sehingga terjadi perubahan pada warga negara tersebut dalam hal

pengetahuan, sikap dan perilaku yang bersifat kritis dan emansipatoris.

Sofhian dan Gatara (2011: 6)

5. Karakter

Karakter adalah watak, sifat, atau hal-hal yang memang sangat mendasar

yang ada pada diri seseorang. Hernowo (2004: 175)

E.Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif-naturalistik, peneliti memperlakukan dirinya

sebagai instrumen utama (human instrumen) yaitu bergerak dari hal-hal yang

(32)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

sedemikian rupa sehingga pada akhirnya dapat ditemukan

kesimpulan-kesimpulan, sebagaimana dikemukakan oleh Creswell (2010: 261-264) bahwa

“peneliti berperan sebagai instrumen kunci (researcher as key instrument) atau yang utama. Peneliti terlibat dalam pengalaman yang berkelanjutan dan terus

menerus dengan partisipan”.

Peneliti terjun langsung ke lapangan untuk mencari informasi/data melalui

dokumentasi, observasi, dan wawancara. Dalam penelitian ini peneliti

menggunakan pendekatan antar manusia, artinya selama proses penelitian

peneliti akan lebih banyak mengadakan kontak dengan orang-orang sekitar

lokasi penelitian yaitu di SMP Negeri 1 Cianjur. Dengan demikian peneliti

lebih leluasa mencari informasi dan data yang terperinci tentang berbagai hal

yang diperlukan untuk kepentingan penelitian.

F. Uji Validitas Data Penelitian

Penelitian kualitatif seringkali diragukan terutama dalam hal kesahihan

data (validitas data). Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan

pengecekan validitas data melalui “derajat keterpercayaan (credibility),

keteralihan (tranferbility), ketergantungan (defendebility), dan kepastian

(confirmabality)” (Satori dan Komariah, 2011:164).

1. Keterpercayaan (Credibility/validitas Internal)

Salah satu pengecekan validitas data yaitu kredibilitas atau

keterpercayaan. Kredibilitas adalah adalah “ukuran data yang

dikumpulkan, yang menggambarkan kecocokan konsep peneliti dengan

hasil penelitian (Satori dan Komariah, 2011:165)”. Untuk memenuhi

kredibilitas data penelitian ini, maka ada beberapa cara yang dapat

dilakukan agar kebenaran hasil penelitian dapat dipercaya dalam rencana

(33)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

a. Memperpanjang Masa Observasi

Agar penelitian ini dipercaya, maka peneliti perlu

memperpanjang observasi atau pengamatan. Peneliti harus cukup

waktu untuk benar-benar mengenal suatu lingkungan, mengadakan

hubungan baik dengan orang-orang di sana, mengenal kebudayaan

lingkungan dan mencheck kebenaran informasi. Lingkungan,

orang-orang, dan perilaku dalam penelitian ini, yaitu SMP Negeri 1 Cianjur

dengan segala proses interaksinya.

Sedangkan usaha peneliti dalam memperpanjang waktu

penelitian guna memperoleh data dan informasi yang valid dari sumber

data adalah dengan meningkatkan intensitas pertemuan dan melakukan

penelitian dalam kondisi yang wajar, dimana mencari waktu yang tepat

guna berinteraksi dengan sumber data.

b. Pengamatan Terus-Menerus

Pengamatan terus-menerus dilakukan agar penelitian ini dapat

dipercaya, dengan pengamatan terus-menerus atau kontinu peneliti

dapat memperhatikan sesuatu lebih cermat, terinci, dan mendalam.

Apa saja harus dianggapnya penting. Lambat laun akan dapat

membedakan hal-hal yang bermakna untuk memahami gejala tertentu.

Maksudnya agar tingkat validitas data yang diperoleh mencapai

tingkat yang tinggi, maka dalam penelitian ini harus mengamati setiap

perkembangan yang terjadi pada subjek penelitian.

c. Trianggulasi

Data atau informasi dari satu pihak harus dicek kebenaran

dengan cara memperoleh data itu dari sumber lain, misalnya dari pihak

kedua, ketiga, dan seterusnya dengan menggunakan metode yang

berbeda-beda. Tujuan trianggulasi yaitu menchek kebenaran data

(34)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

lain, pada berbagai fase penelitian lapangan, pada waktu yang

berlainan, dan sering dengan menggunakan metode yang berlainan.

Cara demikian untuk menghindari subjektifitas yang tinggi.

d. Peer Debriefing (Diskusi dengan Teman Sejawat)

Peer debriefing maksudnya bahwa penelitian ini didiskusikan

dengan orang lain terutama dengan teman sejawat posisinya dengan

peneliti untuk menerima masukan berupa pandangan-pandangan yang

objektif dalam memperkuat penelitian yang ada. Moleong (Satori dan

Komariah, 2011:172) mengungkapkan bahwa “diskusi dengan teman

sejawat akan menghasilkan: (1) pandangan kritis terhadap hasil

penelitian; (2) temuan teori substantif; (3) membantu mengembangkan

langkah berikutnya; (4) pandangan lain sebagai pembanding”.

e. Negative Case Analysis (Analisis Kasus Negatif)

Kasus negatif adalah “...kasus ganjil yang ditemukan saat

penggalian data dan kasus tersebut bertentangan dengan data yang

lainnya serta dapat menjadi kunci keajegan data sebelumnya/yang

lainnya” (Satori dan Komariah, 2011:172).

Dengan analisis kasus kualitatif, maka penelitian ini diupayakan

untuk menelusuri data-data yang berbeda atau bertentangan dengan

data penelitian ini yang telah ditemukan. Artinya ketika penelitian

sebelumnya yang diselidiki kebenarannya dianggap benar, pada suatu

saat rupanya tidak benar lagi, atau disangsikan kebenarannya bila

dihadapkan kasus negatif, maka perlu diuji atau dirumuskan kembali.

f. Menggunakan Bahan Referensi

Penelitian ini menggunakan bahan referensi yaitu bahan

dokumentasi, hasil rekaman wawancara dengan subjek penelitian,

(35)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

menarik perhatian informan, sehingga informasi data yang diperlukan

dengan tingkat kesahihan yang tinggi.

2. Keteralihan (Tranferbility/Validitas eksternal)

Salah satu pengecekan validitas data yaitu dengan transferbilitas atau

keteralihan. Transferbilitas menurut Satori dan Komariah (2011:165)

bahwa “berkenaan dengan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat

digeneralisasikan atau diterapkan pada populasi dimana sampel tersebut

diambil atau pada setting sosial yang berbeda dengan karakteristik yang

hampir sama”.

Terkait dengan penelitian ini, untuk mendapatkan derajat

transferbilitas yang tinggi maka peneliti akan berupaya mengangkat

makna-makna esensial, melakukan refleksi, dan telaah kritis tentang

masalah pokok penelitian ini, yaitu implementasi pendidikan antikorupsi

melalui habituasi dan pembelajaran PKn, secara jelas, rinci, sistematis, dan

dapat dipercaya, sehingga penelitian ini dapat dipahami dan digunakan

disituasi dan tempat yang lain.

3. Kebergantungan (Defendability/Reliabilitas)

Salah satu pengecekan validitas data yaitu defendability atau

kebergantungan. Defendability menurut istilah konvensional disebut

reliability” atau reliabilitas. Menurut Stainback (Satori dan Komariah,

2011:166) bahwa “reliabilitas berkenaan dengan derajat konsistensi dan

stabilitas data atau temuan”.

Untuk mencapai derajat reliabilitas yang tinggi, maka dibutuhka alat yang

reliable dalam memperoleh data yang valid. Alat tersebut adalah peneliti

sendiri yang bertindak sebagai instrumen utama (key instrument). Dengan

demikian, peneliti terjun langsung ke lapangan guna mendapatkan data

secara langsung dalam situasi yang alamiah (natural cetting).

(36)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Salah satu pengecekan validitas data yaitu confirmability. Satori dan

Komariah (2011:166) mengungkapkan bahwa:

Confirmabilitas berhubungan dengan objektivitas hasil

penelitian. Hasil penelitian dikatakan memiliki derajat objektifitas yang tinggi apabila keberadaan data dapat ditelusuri secara pasti dan penelitian dikatakan objektif bila hasil penelitian telah disepakati banyak orang.

Oleh karena itu, agar penelitian ini dapat menjaga kebenaran dan

objektifitas, maka peneliti akan berusaha mendapatkan kepastian artinya

jejak yang dapat dilacak. Dalam pengertian ini artinya pemeriksaan

keseluruhan proses penelitian. Dalam rangka penulisan tesis ini

comfirmabilty dilakukan oleh pembimbing. Pembimbing berkewajiban

untuk memeriksa proses penelitian serta taraf kebenaran data serta

tafsirannya. Cara ini dilakukan untuk mengetahui apakah laporan

penelitian ini sesuai dengan data yang dikumpulkan atau tidak, untuk

menjamin kebenaran sebuah penelitian.

G. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian kualitatif, untuk memperoleh data dan informasi yang

akurat dan representatif dibutuhkan teknik pengumpulan data yang dipandang

tepat, dimana peneliti bertindak sebagai instrumen utama (key instrument)

yang menyatu dengan sumber data dalam situasi yang alamiah (natural

cetting).Pengumpulan data dan informasi dalam penelitian ini dilakukan

dengan berbagai cara dan teknik yang berasal dari berbagai sumber baik

manusia maupun bukan manusia.Teknik pengumpulan data pada penelitian

kualitatif adalah teknik observasi partisipatif, wawancara, dokumentasi, dan

literatur. Keempat teknik ini diharapkan bisa saling melengkapi dalam

memperoleh data yang diperlukan. Adapun penjelasan dari beberapa teknik

(37)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 1. Observasi

Menurut Creswell (2010:267) bahwa “observasi yang dilakukan dalam penelitian kualitatif adalah observasi yang didalamnya peneliti

turun langsung ke lapangan untuk mengamati perilaku dan

aktivitas-aktivitas individu-individu di lokasi penelitian”. Maksudnya dalam

penelitian ini, peneliti terjun langsung ke lapangan untuk mengamati dan

menyajikan secara realistik informasi tentang implementasi pendidikan

antikorupsi melalui habituasi dan pembelajaran PKn.

2. Wawancara

Teknik wawancara merupakan kegiatan pengumpulan data dalam

penelitian kualitatif dengan menggunakan pedoman wawancara. Menurut

Satori dan Komariah (2011:130) bahwa “wawancara adalah suatu teknik

pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber

data langsung melalui percakapan atau tanya jawab”.

Wawancara harus dilakukan oleh peneliti kepada subjek penelitian

untuk memperoleh data yang diperlukan. Seorang peneliti dapat

menggunakan wawancara sesuai dengan kondisi subjek yang terlibat

dalam interaksi sosial yang dianggap memiliki pengetahuan yang memadai

dan mengetahui informasi yang dibutuhkan agar memperoleh data yang

digunakan untuk menjawab fokus penelitian.

3. Studi Dokumentasi

Creswell (2010:269-270) mengemukakan bahwa “pengumpulan

data dalam penelitian dilakukan melalui dokumen publik, dokumen privat,

dan materi audio visual”. Dokumen publik yang dimaksud adalah koran,

majalah, dan laporan kantor. Dokumen privat yang dimaksud yaitu buku

harian, diary, surat, dan email. Sedangkan dokumen materi audio visual

(38)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Pemilihan teknik ini dilandasi oleh pemikiran bahwa selain data

diperoleh dari sumber lisan, namun untuk meyakinkan secara faktual maka

sumber data secara lisan dapat dilengkapi oleh data pendukung seperti

tulisan, suara (video), dan gambar atau foto. Studi dokumentasi merupakan

pelengkap dari penggunaan teknik observasi dan wawancara.

4. Studi Literatur

Satori dan Komariah (2011:147) mengemukakan bahwa “literatur

adalah bahan-bahan yang diterbitkan secara rutin ataupun berkala”. Lebih

lanjut menurut Green (Satori dan Komariah, 2011:152) bahwa:

Suatu literatur menjadi dokumen kajian dalam studi literatur karena memiliki kriteria yang relevan dengan fokus kajian, yang dimaksud relevan adalah sesuatu sifat yang terdapat pada dokumen yang dapat membantu pengarang dalam memecahkan kebutuhan akan informasi. Dokumen dinilai relevan (relevance) bila dokumen tersebut mempunyai topik yang sama, atau berhubungan dengan subjek yang diteliti (topical relevance).

Studi literatur dilakukan dengan cara membaca, mempelajari,

menganalisis, dan memahami buku-buku yang relevan dengan masalah

yang diteliti. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh data secara teoritis

yang dapat mendukung kebenaran data yang diperoleh dan sebagai

penunjang kenyataan yang berlaku pada penelitian.

H. Prosedur Penelitian

Pada dasarnya prosedur penelitian memuat tentang tahapan-tahapan yang

harus dilakukan oleh peneliti. Adapun tahapan-tahapan tersebut akan

dijelaskan berikut ini.

1. Tahap Pra-Penelitian

Tahap pra-penelitian sebagai langkah awal yaitu memilih masalah,

(39)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

keperluan dan demi kepentingan masalah yang akan diteliti. Setelah

masalah dan judul penelitian disetujui oleh pembimbing, peneliti

melakukan studi pendahuluan guna memperoleh gambaran awal tentang

subjek yang akan diteliti.

Setelah memperoleh gambaran subjek yang akan diteliti dan

masalah yang relevan dengan kondisi objektif di lapangan, selanjutnya

peneliti menyusun proposal penelitian. Sebelum melaksanakan penelitian,

terlebih dahulu peneliti harus menempuh prosedur perizinan sebagai

berikut:

a. Mengajukan surat permohonan izin untuk mengadakan penelitian

kepada Ketua Progran Studi Pendidikan Kewarganegaraan

Pascasarjana, selanjutnya diteruskan kepada Asisten Direktur I untuk

mendapatkan surat rekomendasi dari Kepala BAAK UPI yang secara

kelembagaan mengatur segala jenis urusan administratif dan

akademis.

b. Pembantu Rektor I atas nama Rektor UPI mengeluarkan surat

permohonan izin penelitian untuk disampaikan kepada Kepala SMP

Negeri 1 Cianjur.

c. Kepala SMPN Negeri 1 Cianjur mengeluarkan surat Rekomendasi

izin untuk disampaikan kepada pihak yang terkait dengan penelitian.

I. Tahap Pelaksanaan Penelitian

Setelah tahap pra penelitian selesai, maka penulis mulai terjun ke

lapangan untuk memulai penelitian. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan

dengan mengumpulkan data dari informan. Selain itu, peneliti

mengumpulkan hasil observasi di lapangan. Pada tahap pelaksanaan

(40)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

a. Menghubungi Kepala SMP Negeri 1 Cianjur untuk meminta izin

mengadakan penelitian di lembaga yang dipimpinnya, serta untuk

melakukan wawancara

b. Menghubungi Guru PKn di SMP Negeri 1 Cianjur untuk mengadakan

wawancara.

c. Menghubungi Wakil Kepala Urususan Kesiswaan/Non Akademik

SMP Negeri 1 Cianjur untuk mengadakan wawancara.

d. Menghubungi para Peserta didik SMP Negeri 1 Cianjur mengadakan

wawancara.

e. Menghubungi penanggung jawab kantin kejujuran SMP Negeri 1

Cianjur untuk mengadakan wawancara.

f. Melakukan studi dokumentasi dan membuat catatan yang diperlukan

yang dianggap berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.

g. Memperhatikan dan mengikuti kegiatan yang terkait dengan masalah

yang akan diteliti

Setelah selesai mengadakan wawancara, peneliti menuliskan

kembali data yang terkumpul kedalam catatan lapangan dengan maksud

agar dapat mengungkapkan data secara terperinci. Data yang diperoleh

dari hasil wawancara, disusun dalam bentuk catatan lengkap setelah

didukung oleh dokumen lainnya.

2. Tahap Pengolahan dan Analisis Data Penelitian

Dalam penelitian ini, pengolahan data dan analisis melalui proses

menyusun, mengkategorikan data, mencari kaitan isi dari berbagai data

yang diperoleh dengan maksud untuk mendapatkan maknanya. Data yang

diperoleh dan dikumpulkan dari informan melalui hasil observasi,

wawancara, dan studi dokumentasi di lapangan untuk selanjutnya

(41)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Proses analisis data kualitatif mencakup penggalian makna yang

ada didalam data tertulis maupun gambar. Proses ini meliputi persiapan

analisis data, menyajikan data, penggalian makna yang mendalam

terhadap data, menyajikan data, dan membuat interpretasi yang lebih luas

tentang makna data (Creswell, 2010:190).

Analisis data kualitatif terdiri dari tiga alur kegiatan yang

dilakukan secara bersamaan yaitu: reduksi data, sajian data, dan penarikan

kesimpulan. Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemfokusan,

penyederhanaan, abstraksi dan transformasi terhadap data “kasar” yang

diperoleh darai catatan lapangan. Reduksi data merupakan suatu bentuk

analisis data yang bertujuan untuk menajamkan, mengelompokkan,

memfokuskan, pembuangan yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data

untuk memperoleh kesimpulan final. Penyajian data dilakukan dengan

menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun dalam suatu kesatuan

bentuk yang disederhanakan, selektif dalam konfigurasi yang mudah

dipakai sehingga memberi kemungkinan adanya pengambilan keputusan.

Setelah data tersaji secara baik dan terorganisasi maka dilakukan

penarikan kesimpulan atau verifikasi

Proses pengumpulan dan analisis data (termasuk penulisan

laporan) merupakan proses yang simultan dalam penelitian kualitatif. Pada

saat pengumpulan data peneliti dapat langsung melakukan analisis

informasi yang terkandung dalam data untuk menemukan gagasan pokok.

Proses ini juga dapat bersifat interaktif, dimana pengumpulan dan analisis

data dapat dilakukan secara bolak-balik dan seterusnya. Peneliti dapat

melakukan wawancara ulang terhadap individu apabila terjadi kekurangan

(42)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Berdasarkan pendapat di atas, dapat dijelaskan bahwa dalam

pengolahan data dan menganalisis data dilakukan melalui langkah-langkah

sebagai berikut:

a. Reduksi Data

Dalam penelitian ini aspek yang direduksi adalah Bagaimana

Implementasi Pendidikan Antikorupsi Melalui Habituasi dan

Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun

Karakter Siswa, yang meliputi: 1) Bagaimana bentuk implementasi

pendidikan anti korupsi melalui habituasi dan pembelajaran PKn di

SMP Negeri 1 Cianjur; 2) Faktor-faktor apa yang mendukung dan

menghambat implementasi pendidikan anti korupsi melalui habituasi

dan pembelajaran PKn di SMP Negeri 1 Cianjur; 3) Bagaimana solusi

untuk mengatasi hambatan-hambatan implementasi pendidikan anti

korupsi melalui habituasi dan pembelajaran PKn di SMP Negeri 1

Cianjur;

b. Display Data

Setelah informasi dan data yang diperoleh dari lapangan

direduksi, selanjutnya penulis melakukan display data, yakni

menyajikan data secara singkat dan jelas. Hal ini dimaksudkan agar

dapat melihat gambaran keseluruhan dari hasil penelitian atau

bagian-bagian tertentu dari hasil penelitian tersebut.

c. Kesimpulan/Verifikasi

Sebagai langkah akhir dari proses pengolahan dan analisis data

adalah penarikan kesimpulan yang dimaksudkan untuk mencari

makna, arti, penjelasan terhadap data yang telah dianalisis dengan

(43)

Apiek Gandamana, 2014

Implementasi Pendidikan Anti Korupsi Dalam Pembelajaran PKN Dan Habituasi Untuk Membangun Karakter Siswa

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

singkat dan jelas agar memudahkan bagi berbagai pihak untuk

memahaminya.

Dengan demikian secara umum proses pengolahan data dimulai

dengan pencatatan data lapangan (data mentah), kemudian ditulis

kembali dalam bentuk unifikasi dan kategorisasi data. Setelah data

dirangkum, direduksi dan disesuaikan dengan masalah pokok

penelitian, selanjutnya data analisis dan diperiksa keabsahannya

melalui beberapa teknik sebagai berikut:

1) Data yang diperoleh disesuaikan dengan data pendukung lainnya

untuk mengungkapkan permasalahan secara tepat.

2) Data yang terkumpul setelah dideskripsikan kemudian

didiskusikan, dikritisi ataupun dibandingkan dengan pendapat

orang lain.

3) Data yang diperoleh kemudian difokuskan pada subtantif masalah

Gambar

Tabel 3.1
gambaran tahapan-tahapan yang akan ditempuh oleh peneliti. Adapun tahapan-

Referensi

Dokumen terkait

Secara teoritis, semiotika komunikasi hadis dapat dijabarkan dengan penjelasan bahwa Nabi Muh } ammad merupakan source atau komunikan dalam komunikasi lintas ruang

Big data preliminary processing and analysis subsystem designed to identify the facts of planning, preparation, and implementation of cyber- attacks in real (quasi-real) time in

Tattwa Rudra terjadi dari Siwa sebagai realitas tertinggi, lalu bersatu dengan Rudra menjadi Purusa, dari Purusa lahir Awyakta, dari awyakta lahir Buddhi, dari

SEGMEN BERITA REPORTER A jogjakarta sebagai pusat film

Sehingga penulisan sejarah yang membahas mengenai perjuangan kemerdekaan RI tidak banyak ditulis oleh para sejarawan, terutama yang berkaitan dengan peran

Mengidentifikasi risiko pembiayaan yang melekat pada seluruh produk dan aktifitasnya, untuk kegiatan pembiayaan penilaian risiko pembiayaan memperhatikan

Poin 6d (Pencantuman Pelabelan Label tidak boleh dihapus, dicabut, ditutup, diganti, dilabeli kembali; diganti tanggal, bulan, dan tahun kadaluwarsa), 6e

Hal ini menunjukkan bahwa proses peleburan yang dilakukan untuk penambahan unsur Ti dan Y sebagai bahan pemadu tambahan pada logam SS 316L berhasil dengan