WILAYAH PEMBANGUNAN II ( SWP ) J AWA TIMUR
SKRIPSI
Oleh :
Dhino Taufan 0611310115 / FE / EP
Kepada
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
J AWA TIMUR
WILAYAH PEMBANGUNAN II ( SWP ) J AWA TIMUR
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Jurusan Ekonomi Pembangunan
Oleh :
Dhino Taufan 0611310115 / FE / EP
Kepada
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
J AWA TIMUR
ii
KATA PENGANTAR
Assalammualaikum Wr.Wb
Dengan memanjatkan syukur alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT dengan
rahmat dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan, akhirnya penyusunan skripsi dapat
diselesaikan dengan tepat pada waktunya dengan judul :
“Analisis Indeks Williamson Pada Satuan Wilayah Pembangunan II ( SWP )
J awa Timur ”.
Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagai persyaratan
dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional
”Veteran” Jawa Timur.
Penulisan skripsi ini tidak dapat terwujud tanpa adanya bantuan dari berbagai
pihak baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk itu dalam kesempatan ini
saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Drs. Ec. Wiwin
Priana, MT selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dalam
memberi bimbingan selama penyusunan skripsi dan tidak lupa pula saya ucapkan
terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP selaku Rektor Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Dr. Dhani Ichsanuddin, MM selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas
ii
3. Bapak Drs. Ec. Wiwin Priana, MT selaku Ketua Jurusan Ekonomi Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
4. Kedua Orang Tua dan keluarga yang telah memberikan dorongan semangat dan
doa yang tulus kepada saya sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini
dengan sebaik – baiknya.
5. Dan semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan skripsi ini
yang tidak mungkin disebutkan satu per satu.
Semoga Allah SWT berkenan dan memberikan balasan, limpahan rahmat
serta karuniaNya. Besar harapan bagi saya semoga penulisan skripsi ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak pada umumnya.
Surabaya, Agustus 2011
viii
ANALISIS INDEKS WILLIAMSON PADA SATUAN WILAYAH PEMBANGUNAN II ( SWP ) J AWA TIMUR
Oleh : DHINO TAUFAN
ABSTRAKSI
Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang lebih luas dari hanya memfokuskan pada pertumbuhan ekonomi. Peningkatan pembangunan ekonokmi merupakan penjingkatan barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara atau daerah dalam kurun waktu tertentu yang lebih tinggi dari pada kenaikan jumlah penduduk sehingga peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah nyata termasuk peningkatan pendapatan perkapita disertai perubahan struktur ekonomi suatu Negara tersebut dan terjadi dalam waktu jangka panjang.
Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) selama tiga tahun yaitu tahun 2006, 2007 dan tahun 2008. Data dianalisis menggunakan Indeks Williamson yaitu suatu analisis untuk mengetahui daerah Satuan Wilayah Pembangunan II (SWP II) Propinsi Jawa Timur yang meliputi Kabupaten Sampang, Kabupaten Sumenep, dan Kabupaten Pamekasan yang merupakan wilayah yang berada di Pulau Madura, mana yang mempunyai korelasi atau kontribusi paling bagus terhadap pertumbuhan di Propinsi Jawa Timur.
Berdasarkan pada tabel uji indeks Williamson diatas, maka dapat diketahui bahwa ke tiga daerah tersebut tidak mengalami ketimpangan maupun ketimpangan pada tahun 2006 hingga tahun 2008 dan dapat disimpulkan bahwa kabupaten Sumenep
DAFTAR ISI
2.2.5. Produk Domestik Regional Bruto per Kapita ... 26
2.2.6. Perubahan Klasifikasi Sektor... 31
2.2.7. Instrumen Analisis Yang Digunakan... 32
2.3. Kerangka Pikir ... 34
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 35
3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 35
3.2. Jenis Dan Sumber Data ... 36
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 41
4.1 Deskripsi Obyek Penelitian ... 41
4.2 Deskripsi Hasil penelitian ... 49
4.2.1. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto
Sektoral Propinsi Jawa Timur ... 49
4.2.2. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto
Sektoral Kabupaten Sampang ... 51
4.2.3. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto
Sektoral Kabupaten Sumenep ... 52
4.2.4. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto
Sektoral Kabupaten Pamekasan ... 53
4.2.5 Jumlah Penduduk Jawa Timur ... 53
4.2.6. Jumlah Penduduk di Satuan Wilayah Pembangunan
II (SWP II) Jawa Timur ... 55
4.3. Analisis dan Pengujian Hipotesis ... 56
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ... 61
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Regression
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Produk Domestik Regional Bruto di Jawa Timur Tahun
2006-2008 (dalam Juta Rupiah) ... 50
Tabel 2 Produk Domestik Regional Bruto Sampang Atas Dasar Harga
Konstan Tahun 2006-2008 (dalam Juta Rupiah ... 51
Tabel 3 Produk Domestik Regional Bruto Sumenep Atas Dasar Harga
Konstan Tahun 2006-2008 (dalam Juta Rupiah)... 52
Tabel 4 Produk Domestik Regional Bruto Pamekasan Atas Dasar
Harga Konstan Tahun 2006-2008 (dalam Juta Rupiah... 53
Tabel 5 Jumlah Penduduk di Propinsi Jawa Timur Tahun 2006-2008
(dalam jiwa) ... 53
Tabel 6 Jumlah Penduduk di Sampang tahun 2006-2008 (dalam jiwa) .. 54
Tabel 7 Jumlah Penduduk di Pamekasan tahun 2006-2008 (dalam
jiwa) ... 55
Tabel 8 Jumlah Penduduk di Sumenep tahun 2006-2008 (dalam jiwa)... 55
Tabel 9 Uji Indeks Williamson SWP II di Kabupaten Sampang dan
Korelasi IW dengan Pertumbuhan Ekonomi di Propinsi Jawa
Timur ... 58
Tabel 10 Uji Indeks Williamson SWP II di Kabupaten Pamekasan dan
Korelasi IW dengan Pertumbuhan Ekonomi di Propinsi Jawa
Timur ... 58
Tabel 11 Uji Indeks Williamson SWP II di Kabupaten Sumenep Dan
Korelasi IW dengan Pertumbuhan Ekonomi di Propinsi Jawa
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suatu Wilayah Pembangunan merupakan gabungan dari beberapa
Kabupaten/Kotamadya.Satuan Wilayah Pembangunan di jawa timur terbagi
menjadi 9 Satuan Wilayah Pembangunan yang ditentukan oleh masing-masing
Pemda berdasarkan acuan dari Menteri Dalam Negeri tahun 1990, dimana
masing-masing Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) ditetapkan berdasarkan
kedekatan dari wilayah dan potensi daerah yang sama.
Perwujudan Wawasan Nusantara pembangunan daerah sebagai bagian
integral dari pembangunan nasional diarahkan untuk mengembangkan daerah dan
menyerasikan laju pertumbuhan antar daerah, antar kota, antar desa antar kota dan
desa antara sektor serta pembukaan dan percepatan pembangunan kawasan
tertingga, daerah terpencil, daerah minus, daerah kritis, daerah perbatasan dan
daerah terbelakng lainnya, yaitu disesuaikan dengan prioritas daerah yang
bersangkutan sehingga akan terwujud suatu pola pembangunan yang merupakan
perwujudan Wawasan Nusantara.
Pembangunan daerah bertujuan meningkatkan taraf hidup dan
kesejahteraan rakyat didaerah melalui pembangunan yang serasi dan terpadu baik
antar pembangunan sektoral dengan perencanan pembangunan oleh daerah yang
efisien dan efektif menuju tercapainya kemandirian daerah dan kemajuan yang
merata diseluruh pelosok tanah air . Dalam berbagai analisa dan penyidikan
mengenai kegiatan ekonomi ditinjau dari sudut penyebaran diberbagai daerah,
perkataan daerah dapat dibedakan dalam tiga pengertian, pengertian yang pertama
menganggap suatu daerah dianggap sebagai suatu space atau ruang dimana
kegiatan ekonomi berlaku dan diberbagai pelosok ruang tersebut sifat-sifatnya
adalah sama. Jadi batas-batasnya diantara satu daerah dengan daerah-daerah
lainnya ditentukan titik dimana kesamaan sifat-sifat tersebut sudah mengalami
perubahan. Persamaan sifat dapat ditinjau dari segi pendapatan perkapita
penduduk, dari segi agama dan suku bangsa masyarakat ataupun dari segi struktur
ekonominya. Pengertian yang kedua, yang paling ideal untuk digunakan dalam
analisa mengenai ekonomi ruang, mengartikan daerah itu sebagai ruang ekonomi.
Seperti dikatakan oleh Allen dan MacLellan dalam Arsyad (1999:47) :
“perbatasan diantara berbagai daerah ditentukan oleh tempat-tempat dimana
pengaruh dari satu atau beberapa pusat-pusat kegiatan ekonomi digantikan dengan
pengaruh pusat dari lainnya”.
Pada umumnya perkembangan pendapatan daerah bagi daerah-daerah
pembangunan di daerah khususnya kabupaten tuban tidak dapat dibiayai dengan
kemampuan keuangan pemerintah daerah yang bersangkutan (Syansi, 1992:99)
Bila kita membicarakan pertumbuhan ekonomi, tentunya kita pahami
bahwa yang dimaksud adalah peningkatan produksi nasional secara fisik atau
dalam istilah umum adalah peningkatan Produk Nasional Bruto dan lebih tepat
lagi yaitu Produk Nasional Bruto (Irawan, 1992;443)
Pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan yang
berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan
negara yang melaksanakan tugas mewujudkan pembangunan nasional yang
termaktub dalam pembukaan undang-undang dasar 1945. Pembangunan nasional
diselenggarakan secara bertahap dalam jangka panjang 25 tahun dan jangka
pendek 5 tahun dengan mendayagunakan seluruh sumber daya nasional untuk
mewujudkan pembangunan yakni menciptakan masyarakat yang adil dan makmur
baik materiil maupun spirituil (Anonim, 1998:17)
Pengertian yang ketiga memberikan batasan suatu daerah berdasarkan
pembagian administrative dari suatu Negara. Jadi menurut pengertian terakhir
suatu daerah merupakan suatu ekonomi ruang yang berada di bawah suatu
administrasi tertentu suatu propinsi, Kabupaten/Kotamadya, desa dan sebagainya.
Daerah yang diartikan menurut pengertian ketiga ini dinamakan daerah
Apabila membahas mengenai pembangunan daerah, pengertian ketiga
merupakan pengertian yang paling banyak digunakan. Lebih populernya
penggunaan pengertian tersebut disebabkan karena dua faktor. Pertama, dalam
melaksanakan kebijaksanaan dan rencana pembangunan daerah diperlukan
tindakan-tindakan berbagai badan pemerintah dengan demikian adalah lebih
praktis apabila suatu Negara dipecah menjadi beberapa daerah ekonomi
berdasarkan satuan administratif lebih mudah dianalisa karena sejak lama
pengumpulan data diberbagai daerah dalam satu Negara pembagiannya
didasarkan pada satuan administratif. (Saerofi; 2005:72).
Dalam menganalisa mengenai proses pembangunan akan bertambah
lengkap apabila memperhatikan juga corak kegiatan ekonomi ditinjau dari sudut
penyebarannya ke berbagai daerah. Betapa pentingnnya memperhatikan corak
lokasi kegiatan ekonomi apabila manganalisa mengenai suatu perekonomian hal
in sesuai dengan pendapat Friedman dan Alonso : “Tanpa melihat dari sudut
ruang analisa masih belum sempurna, dapatlah dimisalkan seperti proyeksi dua
dimensi dari suatu benda yang mempunyai tiga dimensi. Suatu Negara
mempunyai peta bumi ekonomi dengan puncak-puncak dan lembah-lembah
dengan daerah-daerah yang padat dengan kehidupan dan daerah-daerah yang
ditinggalkan, keputusan mengenai di mana akan melaksanakan suatu proyek baru
adalah sama pentingnya dengan keputusan untuk menginvestasi dalam proyek
mendistribusikan hasil pembangunan ekonomi adalah sama pentingnya dan sama
sukarnya dipandang dari segi golongan masyarakatnya”. (Bintoro;2001:21)
Pernyataan di atas dengan jelas menunjukkan bahwa analisa ekonomi
regional pada hakekatnya membahas mengenai kegiatan perekonomian ditinjau
dari segi sudut penyebaran kegiatan ekonomi ke berbagai lokasi dalam suatu
economic space atau ruang ekonomi tertentu misalnya dalam suatu negara atau
suatu propinsi. Dalam menganalisa ekonomi suatu daerah ditinjau secara sektoral
dan makro. Daerah tersebut dapat berupa suatu propinsi, satu daerah khusus
tertentu atau satu kota besar yang pembangunannya akan digalakkan. Analisa
mengenai perekonomian kota besar merupakan suatu cabang khusus dari analisa
ekonomi regional dan dikenal sebagai analisa urban/urban economic.
Menganalisa perekonomian daerah merupakan pekerjaan yang lebih sulit
kalau dibandingkan dengan menganalisa perekonomian nasional. Keadaan
demikian timbul karena, pertama data mengenai daerah terbatas sekali, apalagi
kalau daerah-daerah dibedakan berdasarkan pengertian daerah nodal. Dengan data
yang sangat terbatas tersebut, sukar untuk menggunakan metode yang telah
dikembangkan dalam memberikan gambaran mengenai perekonomian suatu
daerah. Kedua, data yang diperlukan dalam analisa daerah karena data yang
dikumpulkan tersebut kebanyakan dimaksudkan untuk memenuhi keperluan data
untuk analisa ekonomi pada tingkat nasional. Menentukan aliran modal dan
perdagangan dari suatu daerah ke daerah-daerah lainnya merupakan satu contoh
faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah dari masa ke masa,
tulisan yang ada dapat dibedakan diantara teori-teori mengenai masalah ekonomi
dan pembangunan daerah yang dipinjam dari teori yang ada mengenai
perekonomian nasional yang kemudian disesuaikan dengan keadaan daerah, dan
teori yang khusus dikembangkan untuk menganalisa masalah ekonomi dan
pembangunan daerah. (Prasetyo;1999:47).
Dengan berbagai pendekatan itu, pembangunan nasional dengan
pembangunan daerah telah mencatat kemajuan yang berarti. Namun dalam
kenyataannya ada perbedaan cukup tajam antara kemajuan suatu daerah dengan
daerah lainnya. Perbedaan laju pembangunan antara daerah menyebabkan
terjadinya kesenjangan kemakmuran dan kemajuan antar daerah, terutama antara
Jawa dan luar Jawa, antara kawasan barat dan kawasan timur, dan antara
perkotaan dan pedesaan.
Sebagai akibat dari tingkat dan laju perkembangan yang tidak seimbang
itu, meskipun semua daerah akan memperoleh kemajuan sebagai hasil dari
pembangunan, tetapi karena tingkat landasannya sudah berbeda, maka tanpa
usaha khusus, dengan kecenderungan yang ada, kesenjangan akan membesar.
Mengatasi keadaan ini bukan pekerjaan mudah karena upaya itu akan
menentang “arus” yang kuat yang menjadi kendala yang tidak mudah diatasi.
Pembangunan daerah agar tujuan dan usahannya dapat berhasil dengan
baik maka pemerintah daerah perlu berfungsi dengan baik. Berdasarkan data-data
suatu daerah penting sekali artinya dalam usaha untuk mengumpulkan lebih
banyak mengenai sifat-sifat perekonomian suatu daerah dan mengenai proses
pertumbuhan ekonomi daerah. Lebih lanjut Menurut Sukirno (1994:10:10),
mengemukakan: Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu tolak ukur yang dapat
dipakai untuk meningkatkan adanya pembangunan suatu daerah dari berbagai
macam sektor ekonomi yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat
perubahan ekonomi. Sedangkan laju pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai
kenaikan dalam PDRB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau
lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk dan apakah ada perubahan atau
tidak dalam struktur ekonomi. Tingkat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan
yang dihitung dari Produk Domestik Bruto, merupakan rata-rata tertimbang dari
tingkat pertumbuhan sektoralnya. Artinya apabila sebuah sektor mempunyai
kontribusi besar dan pertumbuhannya lambat, maka hal ini akan menghambat
tingkat perekonomian secara keseluruhan, sebaliknya apabila sebuah sektor
mempunyai kontribusi yang besar terhadap totalitas perekonomian, sehingga bila
sektor tersebut mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi, maka sektor tersebut
akan dapat menjadi lokomotif pertumbuhan yang secara total sehingga
menjadikan tingkat pertumbuhannya menjadi besar bagi sebuah daerah.
SWP II yang meliputi Kabupaten Sampang, Kabupaten Sumenep, dan
Kabupaten Pamekasan yang merupakan wilayah yang berada di Pulau Madura
yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang cukup meningkat yang berarti juga
mengalami ketimpangan dalam pembagian pendapatan. Untuk itu peneliti tertarik
untuk meneliti dengan judul Analisis Indek Williamson Pada Satuan Wilayah
Pembangunan II ( SWP II ) Jawa Timur.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah ada ketimpangan PDRB perkapita di SWP II Jawa Timur ?
2. Apakah ada pengaruh antara ketimpangan dengan pertumbuhan Ekonomi pada
SWP II Jawa Timur ?
1.3 Tujuan penelitian
1. Untuk mengetahui ketimpangan pembagian pendapatan di SWP II Jawa
Timur.
2. Untuk mengetahui hubungan atau pengaruh ketimpangan di pertumbuhan
1.4. MANFAAT PENELITIAN
a. Sebagai bahan pertimbangan, informasi atau referensi bagi penelitian
selanjutnya yang berhubungan dengan perencanaan pembangunan di
JawaTimur.
b. Sebagai bahan informasi bagi instansi terkait yang diharapkan dapat
bermanfaat dalam memecahkan masalah perencanaan pembangunan di
JawaTimur.
c. Sebagai tambahan pengetahuan dan menambah perbendaharaan perpustakaan
BAB II
TINJ AUAN PUSTAKA
2.1. Hasil Penelitian Ter dahulu
Hasil beberapa penelitian terdahulu yang berhubungan dengan masalah
faktor-faktor yang mempengaruhi Penanaman Modal Asing antara lain :
1. Rangga (2005) dengan judul penelitian “Beberapa Faktor yang
Mempengaruhi Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia”. Dapat ditarik
kesimpulan bahwa dari hasil pengujian secara simultan diperoleh nilai Fhitung >
Ftabel yaitu 4,560 > 3,59 yang berarti ada pengaruh nyata antara variabel bebas
dengan variabel terikat. Secara parsial, untuk Produk Domestik Bruto (PDB)
nilai thitung sebesar 3,624 > ttabel sebesar 2,201. Untuk kurs Dollar AS nilai
thitung sebesar -2,728 < ttabel sebesar -2,201. Untuk inflasi nilai thitung sebesar
-0,221 > ttabel sebesar -2,201. Hal ini menunjukkan bahwa Produk Domestik
Bruto (PDB) berpengaruh nyata terhadap Penanaman Modal Asing (PMA).
Kurs Dollar AS berpengaruh nyata terhadap Penanaman Modal Asing` (PMA)
dan kurs Dollar AS berhubungan negatif terhadap Penanaman Modal Asing
(PMA). Inflasi tidak berpengaruh nyata terhadap Penanaman Modal Asing.
2. Fr edr ik l. (2004) dengan judul penelitian “Analisis faktor-faktor yang
mempengaruhi Foreign Direct Investment (FDI) di Jawa Timur”. Hasil
penelitian ini diperoleh angka penentu kecocokan model R2 sebesar 0,755.
Hal ini berarti variabel-variabel bebas yang menjelaskan variabel terikat
adalah sebesar 75,5% dan 25,5% dijelaskan variabel lain. Hasil penelitian
dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa secara individu hanya
variabel tingkat suku bunga kredit investasi dan jumlah tenaga kerja yang
diserap di sektor industri yang berpengaruh secara nyata terhadap Penanaman
Modal Asing. Sedangkan pada uji F menunjukkan variabel PDRB, tingkat
suku bunga kredit investasi dan jumlah tenaga kerja yang diserap di sektor
industri secara bersama-sama berpengaruh secara nyata terhadap Penanaman
Modal Asing.
3. Dedi (2003) dengan judul penelitian “Analisis Beberapa Faktor yang
Mempengaruhi Penanaman Modal Asing di Jawa Timur”. Dari hasil
pengujian secara simultan nilai Fhitung > Ftabel yaitu 12,710 > 3,48 pada level
signifikansi 0,05 dengan df 4,10. Hal tersebut menunjukkan adanya pengaruh
yang nyata antara tenaga kerja (X1) terhadap Penanaman Modal Asing (Y) di
Jawa Timur. Dari analisis uji t menunjukkan thitung > ttabel yaitu 3,008 > 2,228
untuk jumlah tenaga kerja (X1), untuk kurs valas thitung < ttabel yaitu -4,792 <
2,228, untuk tingkat suku bunga internasional thitung < ttabel yaitu -0,844 <
Hal ini menunjukkan variabel X1, X2, dan X4 berpengaruh secara parsial
terhadap Penanaman Modal Asing (PMA) sedangkan variabel X3 tidak
berpengaruh secara parsial terhadap Penanaman Modal Asing (PMA),
terdapat pengaruh negatif dan signifikan X2 terhadap Penanaman Modal
Asing (PMA), tidak boleh ada pengaruh secara nyata antara X3 terhadap Y
dan pengaruh positif dan signifikan X4 terhadap Y. Secara simultan X1, X2,
X3, X4 berpengaruh terhadap Penanaman Modal Asing (Y) di Jawa Timur.
4. Sar i (2005) dengan judul penelitian “Analisis Beberapa Faktor yang
Mempengaruhi Investasi di Indonesia”. Secara simultan dengan hasil Fhitung >
Ftabel yaitu 3,935 > 3,59 dengan demikian tingkat suku bunga kredit (X1),
tingkat (X2), dan kurs valuta asing (X3) berpengaruh nyata terhadap investasi
di Indonesia (Y). Secara parsial tingkat bunga (X1) diperoleh thitung = 1,789 <
ttabel = 2,201 berarti tidak berpengaruh nyata terhadap investasi di Indonesia
(Y), kurs valas (X3) dengan thitung = 2,729 > ttabel = 2,201 berpengaruh nyata
terhadap investasi di Indonesia (Y). Hal ini berarti bahwa tingkat suku bunga
dan kurs valas berpengaruh secara nyata terhadap investasi di Indonesia.
Sedangkan inflasi tidak berpengaruh nyata terhadap investasi di Indonesia.
5. Sulistiawati (2000) dengan judul penelitian “Analisis tentang Perkembangan
Penanaman Modal Asing dan Beberapa Faktor yang Mempengaruhi di
Indonesia”. Dari hasil analisis dengan menggunakan uji F diperoleh nilai
variabel bebas PDB, inflasi dan kurs Dolar AS berpengaruh secara nyata
terhadap Penanaman Modal Asing, sedangkan dari hasil analisa dengan
menggunakan uji t nilai PDB = 5,709; inflasi = 2,888; kurs Dollar AS =
-3,635 dengan ttabel sebesar 2,2281. Hal ini menunjukkan PDB berpengaruh
secara nyata terhadap Penanaman Modal Asing, sedangkan inflasi dan kurs
Dollar AS berpengaruh secara nyata dan negatif terhadap Penanaman Modal
Asing.
1. Teori Basis dan Non Basis
Teori ini dikembangkan berdasarkan teori perdagangan komparatif dari
David Ricardo dan John Stuart Mill dalam Aziz (1999). Dari studi empiric
yang dilakukan oleh Pfouts (1960) dalam rangka memisah misalkan
sektor-sektor basis dari yang bukan basis daerah perkotaan ternyata dapat
dipergunakan sebagai sarana memperjelas struktur daerah tersebut, dalam
hubungan ini kegiatan ekonomi suatu daerah dibagi dalam dua golongan.
a. Kegiatan ekonomi industri yang melayani kebutuhan akan barang-barang
dan jasa di daerah itu sendiri/daerah swasembada maupun mengekspornya
ke tempat-tempat diluar batas-batas perekonomian daerah tersebut. Daerah
yang demikian disebut sebagai daerah basis atau daerah surplus
b. Kegiatan ekonomi atau industri yang hanya melayani kebutuhan
barang-barang dan jasa bagi masyarakat yang bertempat tinggal didalam
barang kebutuhan tersebut dari tempat/daerah lain karena masih
kekurangan daerah yang demikian ini disebut sebagai daerah non basis
atau daerah minus. Untuk menentukan suatu daerah kedalam salah satu
dari kedua golongan tersebut digunakan metode Locatin Quotien (LQ)
yaitu dengan jalan membandingkan peranan industri tersebut dengan
peranan industri yang sama dalam perekonomian regional. (Glason dalam
Aziz,1999:63).
2. Space Cost Theory
Teori ini dikemukakan oleh Adam Smith dari hasil studi analisis
tentang lokasi industri secara geografi. Dari analisis ia menerapkan suatu
pendekatan yang terbukti lebih praktis terhadap berbagia rumusan tentang
teori lokasi industri menurut Adam Smith, lokasi yang paling
menguntungkan/efisien bagi suatu industri adalah di mana penerimaan
total lebih besar dari pada biaya total atas dasar asumsi maksimilisasi laba
dan out put konstan, dan sebaliknya bila biaya total ternyata lebih besar
dari biaya penerimaan total, maka lokasi tersebut adalah merugikan/tidak
efisien. Analisis ini dapat dipergunakan pula untuk menentukan likasi
industri dengan memperhitungkan antara faktor biaya dan
pasar/permintaan. Dari segi pasar/permintaan antara lain dipengaruhi oleh
kualitas dan kuantitas, tenaga kerja, sarana transportasi dan komunikasi
faktor lingkungan dan pemerintah (pajak dan subsidi).
3. Teori Lokasi Industri
Menurut Weber dalam Sukirno (1991:56) adalah orang pertama
yang menggarap teori tentang lokasi industri secara komprehensif. Teori
lokasi dari Weber ini didasarkan dari penerapan teori Von Thunen yang
berprinsip bahwa pengusaha akan memilih lokasi yang paling kecil. Untuk
itu Weber mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi lokasi
industri atau terbagi dalam dua kelompok yaitu :
c. Regional faktors, yaitu terdiri atas biaya pengangkutan dan tenaga
kerja.
d. Local faktors, yaitu kekuatan-kekuatan aglomerasi dan deglomerasi,
terutama letak dan sifat bahan mentah.
4. Teori Tempat Sentral
Teori ini dikenalkan oleh seorang geograf Jerman yang bernama
Christaller pada tahun 1933. Ia mengemukakan konsep tentang
pembentukan system kota, dari studi empiric konsep tersebut
dikembangkan dari teori-teori yang sudah ada pada waktu itu yakni dari
Weber (1909) dan Thunen (1826) dalam Sukirno (1999:58). Dikatakan
kemudian disebut sebagai tempat sentral, yang menghubungkan
perdagangan setempat dengan dunia luar. Sistem yang diciptakan
didasarkan pada dua faktor lokasi yaitu biaya transfer dan aglomerasi
ekonomi.
Menurut Christaller dalam Sukirno;(2001) adalah bahwa pusat kota
pada umumnya merupakan pusat daerah yang produktif yang didukung oleh
kondisi tanah yang produktif karena berbagai jasa penting harus disediakan,
dengan demikian tempat sentral atau pusat kota tersebut bertindak sebagai
pusat pelayanan bagi daerah belakang/daerah komplementer yaitu
mensuplainya dengan barang dan jasa. Selanjutnya penduduk kota akan
menyebar membentuk hierarki perkotaan yang merupakan sarana yang efisien
untuk administrasi dan alokasi sumber kepada daerah-daerah. Dengan
demikian distribusi ruang dari pusat-pusat kota ini akan menimbulkan
dominasi dan polarisasi.
5. Teori Kutub Pertumbuhan
Teori ini dikembangkan berdasarkan teori tempat sentral Christaller (1909).
Konsep-konsep dasar dan penyempurnaan serta pengembangan teori ini
dilakukan oleh Perroux,’f, Boudenville, Hanssen, Hermansen, Hirchman dan
Myrdal (1967). Dari berbagai tulisan para ahli mengenai kutub pertumbuhan
tersebut, konsep-konsep ekonomi dasar dan perkembangan geogradiknya dapat
a. Konsep Leading Industries dan perusahaan-perusahaan propulsip, menyatakan
pada pusat kutub pertumbuhan terdapat perusahaan propulsip yang besar,
yang termasuk dalam leading industries yang mendominasi unit-unit ekonomi
lainnya, ada kemungkinan bahwa sesuatu komplek industri hanya terdiri dari
satu atau segelintir perusahaan propulsip yang dominan. Lokasi yang
geografik dari industri-industri seperti itu pada titik-titik local tertentu dalam
suatu daerah mungkin disebabkan oleh beberapa faktor lokasi sumber daya
alam, lokasi kemanfaatan-kemanfaatan buatan manusia/komunikasi atau
tempat-tempat sentral berlandaskan kegiatan jasa yang sudah ada, dimana
terdapat keuntungan-keuntungan karena prasarana dan tenaga kerja atau
barangkali hanya bersifat kebetulan saja.
b. Konsep polarisasi menyatakan bahwa pertumbuhan yang cepat dari “Leading
Industries” mendorong polarisasi dari unit-unit ekonomi lainnya kedalam
kutub pertumbuhan implisit dalam proses polarisasi ini adalah berbagai
macam keuntungan aglomerasi (keuntungan ekstern dan intern dari skala).
Polarisasi ekonomi ini pasti menimbulkan polarisasi geografik dengan
mengalirnya sumber daya dan konsentrasi ekonomi pada pusat-pusat yang
tersebut seringkali tetap berkembang dengan baik karena adanya
keuntungan-keuntungan aglomerasi.
c. Konsep “Spread Effect” menyatakan bahwa pada waktunya, kualitas propulsip
dinamik dari kutub pertumbuhan akan memancar keluar dan memasuki uang
disekitarnya. “Trickling Down” atau Spread Effect ini sangat menarik bagi
perencanaan regional dan telah memberikan sumbangan besar bagi
kepopuleran teori ini pada waktu belakangan ini sebagai saran kebijaksanaan.
Dari konsep ini maka dapatlah disimpulkan sebagai suatu kerangka untuk
memahami anatomi regional, teori ini memberikan suatu pelengkap dinamik
yang sangat bermanfaat kepada teori tempat sentral dan walaupun mempunyai
keterbatasan sangat berguna bagi perencanaan regional. Teori ini
menampilkan banyak konsep yang berorientasi perencanaan. Menekankan
kemanfaatan-kemanfaatan komplek industri, “leading industies”, pertubuhan
yang berkutub dan keuntungan-keuntungan aglomerasi dan “Spread Effect”
yang ditimbulkan. Model ini cukup jelas dalam menerangkan pertumbuhan
hierarki kota yang menekankan interdependensi antara pusat kota dan daerah
disekitarnya. Dari kondisi ini mungkin akan timbul persaingan antar daerah
2.2. Pr oduk Domestik Regional Br uto (PDRB)
2.2.1. Penger tian Pr oduk Domestik Regional Bruto (PDRB)
PDRB adalah total nilai produk barang dan jasa yang diproduksi di
suatu wilayah (regional) tertentu dalam waktu tertentu biasanya 1 tahun.
PDRB yang dirinci menurut lapangan usaha merupakan jumlah nilai
produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi
dalam suatu propinsi dalam jangka waktu tertentu. Pada penyajian atas dasar
harga berlaku, semua agregat dinilai atas dasar harga pada tahun yang
bersangkutan baik pada saat menilai produksi dan biaya antara maupun
komponen nilai tambah dan komponen pengeluaran PDRB.
PDRB dapat diartikan satu persatu yaitu sebagai berikut, dinamai
produk oleh karena yang dijumlahkan adalah nilai tambah produk yang
berbentuk barang dan jasa. Dinamai domestik oleh karena produk yang
dihitung itu adalah yang dihasilkan dalam batas-batas suatu negara. Dinamai
regional oleh karena produk itu dihasilkan di wilayah tertentu di suatu
negara. Dinamai bruto oleh karena didalamnya termasuk sejumlah
penyusutan barang-barang modal yang digunakan untuk berproduksi
Sedangkan definisi PDRB menurut lapangan usaha Hotel adalah Sub
sector ini mencakup semua hotel baik berbintang maupun tidak berbintang
serta berbagai jenis penginapan lainnya. Output dihitung dengan cara
mengalikan jumlah malam tamu dan tarifnya, sedangkan persentase nilai
tambah diperoleh dari survey khusus pendapatan nasional. Nilai tambah atas
dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan 2000 dihitung berdasarkan
perkalian antara persentase nilai tambah dengan outputnya (BPS, 2000: )
2.2.2. Car a Menghitung PDRB
Produk Domestik Regional Bruto dapat diukur atau dihitung dengan
tiga macam pendekatan, yaitu:
1. Pendekatan produksi
Menurut pendekatan ini, PDRB adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir
yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara
dalam jangka waktu 1 tahun. Unit produksi tersebut dibedakan menjadi 9
sektor, yaitu:
1. Sektor Pertanian
2. Sektor Pertambangan dan penggalian
3. Sektor Industri pengolahan
4. Sektor Listrik, gas dan air minum
6. Sektor Perdagangan, hotel dan restoran
7. Sektor pengangkutan dan komunikasi
8. Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan
9. Sektor jasa-jasaPemerintahan
2. Pendekatan pendapatan
Menurut pendekatan ini, PDRB adalah jumlah balas jasa yang diterima
oleh faktor-faktor produksi yang turut serta dalam proses produksi di
wilayah suatu negara dalam jangka waktu 1 tahun. Balas jasa produksi
yang dimaksud meliputi upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan
keuntungan.
3. Pendekatan pengeluaran
1. Menurut pendekatan ini, PDRB adalah jumlah seluruh komponen
permintaan akhir, meliputi: Pengeluaran konsumsi rumah tangga dan
lembaga swasta yang tidak mencari keuntungan
2. Pembentukan modal tetap domestik bruto dan perubahan stok
3. Pengeluaran konsumsi pemerintah
4. Ekspor netto (yaitu ekspor dikurangi impor) dalam jangka waktu 1
tahun (Dumairy, 1997:38).
Dari beberapa penjelasan diatas tentang pengertian Produk Domestik
produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu wilayah regional terentu
dan dalam waktu tertentu.
2.2.3. Definisi Pr oduk Domestik Regional Br uto
a. Menurut Sukirno (2001:165) Produk Domestik Bruto didefinisikan
sebagai jumlah nilai tambah bruto dari semua sektor dan diperoleh dari
sebagaian selisih antara nilai bruto yang dinilsi atas dasar harga konstan
yang diterima oleh produsen dikurangi pemakaian bahan baku dan
penolong yang dininai atas dasar pembelian.
b. Gross Domestik Bruto adalah nilai barang jadi yang diproduksi dalam
negeri (Doembusch dan fisher, 1992:30).
c. Menurut Rosyidi (1997:203), salah satu pengukuran Produk Domestik
Bruto, dengan menghitung seluruh pengeluaran untuk penelitian barang
dan jasa yang dihasilkan oleh Negara yang bersangkutan yaitu :
a. Konsumsi rumah tangga
b. Konsumsi pemerintah
c. Investasi Pemerintah dan swasta
d. Ekspor barang dan jasa
d. GDP (Gros Domestik Bruto), merupakan cara untuk mengukur output
total menurut harga faktor produksi di dalam negeri dengan cara
menjumlahkan nilai tengah dari setiap industri(Lipsey,dkk, 1992:50)
e. Produk Domestik Bruto adalah jumlah barang dan jasa akhir kali harga
sebagai alat produksi barang dan jasa suatu Negara ditmbah dengan hasil
produksi barang dan jasa dan perusahaan asing (Partadireja, 1982:50)
f. Menurut Suparmoko (1991:205) yang dimaksud dengan permintaan
agregat (output total) adalah jumlah barang dan jasa yang akan dibeli oleh
konsumen perusahaan dan pemerintah, pada tingkat harga tertentu
pendapatan tertentu serta variable-variabel tertentu, pendapatan tertentu
serta variable ekonomi lainnya
g. Produk Domestik Regional Bruto adalah nilai total produksi barang dan
jasa yang diproduksi diwilayah regional tertentu dalam waktu
2.2.4. Pendekatan Per hitungan Pr oduk Domestik Br uto
Cara perhitungan Produk Domestik Regional Bruto dapat diperoleh melalui
tiga pendekatan yaitu pendekatan produksi, pendekatan Pendapatan,
pendekatan pengeluaran yang selanjutnya dijelakan berikut :
2.2.4.1. Menur ut Pendekatan Pr oduksi
PDRB adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan
oleh berbagai unit produksi disuatu wilayah dalam jangka waktu tertentu/satu
tahun.
Unit-unit produksi tersebut didalam penyajiannya dikelompokkan menjadi 9
sektor lapangan usaha yaitu :
a). Pertanian
b). Pertambangan dan Penggalian
c). Industri pengolahan
d). Listrik, Gas dan air bersih
e). Konstuksi
f). Perdagangan, Hotel danRestoran
g). Pengankutan Dan Komunikasi
h). Jasa Keuangan, Persewaan, dan jasa Perusahaan
2.2.4.2. Menur ut pendekatan Pengeluar an
PDRB Produk Domestik Regional Bruto adalah penjumlahan semua
komponen permintaan akhir yaitu :
a. Pengeluaran Konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta yang tidak
mencari untung.
b. Konsumsi Pemerintah
c. Pembentukan Modal tetap domestik bruto
d. Perubahan stok
e. Ekspor netto dalam jangka waktu tertentu biasanya satu tahun
2.2.4.3. Menur ut Pendekatan Pendapatan
Produk Domestik Regional Bruto merupakan jumlah balas jasa yang
diterima oleh faktor produksi yang ikut srta dalam proses produksi disuatu
wilayah dalam jangka waktu tertentu. Balas jasa faktor produksi yang
dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan.
Semua hitungan tersebut sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak
langsung lainnya. Dalam pengertian Produk Domestik Regional Bruto,
kecuali faktor pendapatan, termasuk semua komponen penyusutan dan pajak
yak langsung netto. Jumlah semua komponen pendapatan ini menurut sektor
disebut sebagai nilai tambah bruto sektoral. Produk Domestik Bruto
merupakan nilai tambah bruto seluruh sektor/lapangan usaha. Dari tiga
tadi harus sama dengan jumlah pendapatan untuk faktor-faktor produksinya.
Selanjutnya Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar, karena
mencakup komponen pajak tidak langsung (Anonim, 1995:3).
2.2.5. Pr oduk Domestik Regional Br uto per Kapita
Bila Produk Domestik Regional Bruto dibagi dengan jumlah
penduduk pertengahan tahun yang tinggal di wilayah ini, maka akan
diperoleh suatu Produk Domestik Regional Bruto per kapita
(Anonim,1995:4)
a. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan
Angka-angka pendapatan Regional atas dasar harga konstan 1993
sangat penting untuk melihat perkembangan riil dari tahun ketahun bagi
setiap agregat ekonomi yang diamati. Agregat yang dimaksud tersebut
dapat merupakan produk domestik regional bruto secara keseluruhan, nilai
tambah sektoral/ Produk Domestik Regional Bruto sektoral ataupun
komponen penggunaan produk domestik regional bruto. Pada dasarnya
dikenal empat cara untuk memperoleh nilai tambah sektor atas dasar harga
b. Revaluasi
Cara ini dilakukan dengan menilai produksi dan biaya antara
masing-masing tahun dengan harga pada tahun dasar 1993. Hasilnya merupakan
output dan biaya antara atas dasar harga konstan 1993. Selanjutnya nilai
tambah bruto atas dasar harga konstan diperoleh dari selisih antara output
dan biaya antara atas dasar harga konstan 1993. Dalam praktek sangat
sulit melakukan revaluasi terhadap biaya antara yang digunakan, karena
mencakup komponen input yang sangat beragam, disamping data harga
yang tersedia tidak dapat memenuhi semua kebutuhan tersebut. Oleh
karena itu biaya antara atas dasar harga konstan masing-masing tahun
dengan rasio (tetap) biaya antara terhadap output pada tahun dasar atau
dengan rasio biaya antara terhadap output terhadap tahun berjalan.
c. Ekstrapolasi
Nilai tambah masing-masing tahun atas dasar harga konstan 1993
diperoleh dengan cara mengalikan nilai tambah pada tahun dasar 1993
dengan indeks ini bertindak sebagai ekstrapolasi yang dapat merupakan
indeks dari masing-masing kuantum produksi yang dihasilkan ataupun
indeks dari berbagi indicator kuantum produksi produksi lainnya seperti
tenaga kerja, jumlah perusahaan yang dianggap cocok dengan jenis
kegiatan yang sedang dihitung. Ekstrapolator dapat juga dilakukan
rasio nilai tambah terhadap output akan diperoleh perkiraan nilai tambah
atas dasar harga konstan.
d. Deflasi
Nilai tambah atas dasar harga konstan 1993 dapat diperoleh dengan cara
membagi nilai tambah atas dasar harga berlaku pada masing-masing tahun
dengan indeks harga. Indeks harga yang digunakan sebagai deflator
biasanya merupakan indeks harga konsumen. Tergantung indeks mana
yang dianggap lebih cocok. Indeks harga tersebut dapat pula pakai sebagai
inflator, yang berarti nilai tambah atas dasar harga yang berlaku diperoleh
dengan mengalikan nilai tambah atas dasar harga konstan dengan indeks
tersebut.
e. Deflasi berganda
Dalam deflasi berganda ini, dideflasikan adalah output dari biaya antara,
sedangkan nilai tambah diperoleh dari selisih antara output antara hasil
pendeflasian tersebut. Indeks harga yang digunakan sebagai deflator
biasanya merupakan indeks harga produsen atas harga perdagangan besar
sesuai dengan cakupan komoditinya, sedangkan indeks harga untuk biaya
antara adalah indeks harga dari komponen input besar. Dalam
kenyataanya, sangat sulit melakukan deflasi terhadap biaya antara,
indeks harga yang cukup mewakili sebagai deflator. Oleh karena itu
didalam perhitungan nilai tambah atas dasar harga konstan, deflasi
berganda ini belum banyak dipakai, termasuk dalam publikasi ini.
Perhitungan komponen penggunaan produk domestik regional bruto atas
dasar harga konstan juga dilakukan dengan menggunakan cara-cara diatas,
tetapi mengingat terbatasnya data yang tersedia maka cara deflasi dan
ekstrapolasi lebih banyak dipakai.
f. Pergeseran Tahun Dasar Perubahan Klasifikasi Sektor
Berdasarkan data historis, harga satuan maupun produksi atau indicator
produksi yang digunakan untuk perhitungan Produk Domestik Regional
Bruto mengalami perubahan tiap tahun. Hal ini menyebabkan sumbangan
nilai tambah setiap sektor terhadap Produk Domestik Regional Bruto akan
berubah juga. Jika perubahan secara sektoral menunjukkan angka-angka
yang proporsional maka sumbangan terhadap PDRB akan berubah juga
dan akan relative sama dari tahun ke tahun. Akan tetapi boleh dikatakan
bahwa fenomena tersebut jarang sekali terjadi, biasanya perkembangan
setiap sektor tidak proporsional, misalnya beberapa sektor tertentu
melajudengan cepat sedangkan sektor lainnya relative lamat. Akhirnya
dalam jangka panjang sumbangan setiap sektor akan berubah secara
nyata/signifikan. Perubahan ini dikenal dengan perubahan struktur
dan perencanaan ekonomi karena berarti juga bahwa dasar/base komposisi
sektoral yang dianggap tulang punggung perekonomian harus ditinjau
kembali. Demikian juga perekonomian ini menjadi faktor-faktor penentu
dalam menilai prestasi-prestasi suatu negara, bangsa atau
wilayah.(Anonim,1995:27).
g. Latar Belakang Perubahan Tahun Dasar
Landasan pemikiran dalam melakukan perubahan tahun dasar tersebut
dapat diekspresikan dalam dua alasan pokok sebagi berikut :
1. Struktur ekonomi selama 10 tahun telah berubah dengan drastis
sehingga kurang relevan jika prestasi dan perkembangan ekonomi
masih dihitung berdasarkan cerimanan struktur yang lama. Perubahan
struktur, seperti yang telah bisebut, ditandai dengan perubahan
dominasi sektoral yang sebelumnnya berada pada sektor pertanian
menjadi sektor industri sekarang ini.
2. Beberapa sektor mengalami perubahan data-data dasar, misalnya
cakupan komoditi dan kegiatan sebelumnya hanya ditampung dalam
besaran mark-up yang sudah tidak mewakili lagi. Perubahan kegiatan
ini telah diantisipasi sebelumnya tetapi belum diakomodasikan dalam
perhitungan nilai tambah bruto karena jika dimasukkan hasilnya dapat
mengakibatkan pertumbuhan yang melonjak pada tahun dimana
Untuk itu perubahan tahun dasar merupakan kesempatan yang baik
untuk melakukan beberapa perbaikan data dasar dan juga perbaikan
metode perhitungan.(Anonim,1995:28)
2.2.6. Per ubahan Klasifikasi Sektor
Klasifikasi sektor Produk Domestik Regional Bruto antara seri lama dan
seri baru mengalami perubahan dari 11 sektor menjadi 9 sektor perubahan.
Hal ini didasarkan pada dua alasan, yaitu :
1. Klasifikasi baru mengacu pada klasifikasi yang direkomendasikan SNA
1993/ SNA-System of National Account buku acuan perhitungan Produk
Domestik Regional Bruto secara internasional yang direkomendasikan
Perserikatan Bangsa Bangsa. Klasifikasi menjadi lebih umum dan
bermanfaat untuk membandingkan data-data Produk Domestik Regional
Bruto dengan negara-negara lain secara total maupun sektoral.
2. Klasifikasi baru pada umumnya lebih rinci pada tingkat subsektor dengan
maksud lebih berorientasi pada penggunaan data. Data yang lebih terinci
akan lebih banyak kegunaannya dibanding dengan data yang terbatas
2.2.7. Instr umen Analisis Yang Digunakan
Indeks Williamson meneliti hubungan antara disparitas regional dan
tingkat pembangunan ekonomi dengan menggunakan data ekonomi Negara
yang sudah maju dan yang sedang bberkembang. Ditemukan bahwa selama
tahap awal pembangunan, disparitas regionanl menjadi lebih besar dan
pembangunan terkonsentrasi di daerah-daerah tertentu. Pada tahap yang lebih
“matang”, dilihat dari pertumbuhan ekonomi, tampak adanya keseimbangan
antar daerah dan disparitas berkurang dengan signifikan. Ketimpanag
pembangunan antar Kecamatan yang terjadi di SWP II Jawa Timur dapat
dianalisis dengan menggunakan indeks ketimpanagan regional (regional
inequality) yang dinamakan Indeks Williamson ( Sjafrizal, 1997 ):
Y
Keterangan:
Yi = PDRB per kapita di SWP II Jawa timur
Y = PDRB per kapita rata-rata di Jawa Timur
Fi = jumlah penduduk di kabupaten
Masalah ketimpangan ekonopmi antar daerah tidak hanya tampak
pada wajah ketimpangan perekonomian di SWP II Jawa Timur melainkan juga
luar SWP II. Berbagai program yang dikembangkan untuk menjembatani
ketimpanagan antar daerah selama ini ternyata belum mencapai hasil yang
memadai. Alokasi penganggaran pembangunan sebagai instrument untuk
mengurangi keetimpangan ekonomi tersebut tampakanya perlu lebih diperhatikan
di masa yang akan datang. Strategi alokasi anggaran itu harus mendorong dan
memepercepat pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menjadi alat Mengurangi
2.3. Ker angka Pikir
Dalam kerangka pikir ini peneliti akan menganalisa dengan indeks
williamson dengan instrument PDRB perkapita di SWP II Jawa Timur dengan
melihat indeks williamson perkabupaten maka akan diketahui perkecamatan mana
yang mengalami ketimpangan dan kecamatan mana yang tidak timpang,
kemudian dari ,indeks Williamson perkabupaten dihubungkan dengan
pertumbuhan ekonomi apakah ada hubungannya antara ketimpangan dengan
pertumbuhan ekonomi perkabupaten di SWP II Jawa Timur.
Pertumbuhan Perkapita
Indeks Williamson
Timpang Tidak Timpang
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Definisi Operasional dan Pengukur an Var iabel
Definisi operasional dalam hal ini untuk menjelaskan dan menerangkan
variabel-variabel yang di pergunakan dalam penelitian.
Pengukuran variabel-variabel penelitian secara operasional berdasarkan teori
adapun ukuran definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. PDRB Perkapita adalah :
Nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu masyarakat dibagi dengan
jumlah penduduk dengan satuan rupiah.
b. Jumlah Penduduk adalah :
Jumlah orang yang berdiam disuatu tempat dari berbagai tingkatan umur
bawah sampai atas satuan jiwa.
c. Indeks Williamson adalah
Suatu Indeks untuk mengukur disparitas regional dan tingkat pembangunan
ekonomi dengan satuan indek
d. Pertumbuhan Ekonomi adalah Perkembangan PDRB suatu daerah dari
tahun ke tahun dengan satuan persen.
3.2. J enis Dan Sumber Data
1. Jenis Data
Sampel yang diamati dalam penelitian ini mencangkup wilayah Jawa Timur
khususnya SWP II. Sifat data yang di gunakan adalah data berkala (time
series). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder,
yang diambil dari tahun 3 (tiga) tahun sampai dengan 2006 - 2008.
2. Sumber Data
Sumber data diperoleh Kantor Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Timur,
Perpustakaan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
dan perpustakaan-perpustakaan lainnya baik itu milik lembaga pendidkan
3.3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua cara
yaitu :
3.3.1. Data Sekunder
Data yang diperoleh dan buku atau literatur pada instansi yang bukan
pemilik data.
3.3.2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data yang diperoleh
dan Dinas Pariwisata Jawa Timur dan Badan Pusat Statistik.
3.3.3 Studi Kepustakaan
Pengumpulan data yang dilakukan dengan membaca buku-buku literatur
sebagai bahan pustaka yang dapat menunjang masukan yang dibahas dalam
skripsi ini.
3.3.4 Studi Lapangan
Penelitian lapangan ini dimaksudkan untuk mendapatkan data-data sekunder
yang diperlukan untuk menulis skripsi, data laporan, catatan-catatan yang
berhubungan dengan masalah yang dibahas pada lembaga-lembaga yang
3.4. Teknik Analisis
Dalam penelitian ini untuk menentukan sektor unggulan yang dapat
dijadikan prioritas pembangunan, teknik analisa dilakukan berdasarkan
informasi yang diperoleh dari data-data yang dikumpulkan dan diolah
kembali diduga bahwa di SWP II Jawa Timur yang di lihat Indeks
Williamson.
3.4.1. Analisis Indeks Williamson
Alat analisis berasumsi bahwa suatu daerah merupakan suatu pemicu
dalam laju pertumbuhan ekonomi wilayah yang bersangkutan. Adanya
heterogenitas dan beragam karekteristis suatu wilayah menyebabkan
kecenderungan terjadi ketimpangan antar daerah dan antar sektor ekonomi
suatu daerah. Bertitik tolak dari kenyataan itu, Ardani (1992) mengemukakan
bahwa kesenjangan/ketimpangan antar daerah merupakan konsekuensi logis
pembangunan dan merupakan suatu tahap perubahaan dalam pembangunan
itu sendiri.
Teknik analisis ini di awali dengan perhitungan perubahan PDRB suatu sektor
di suatu daerah antara 3 tahun, yaitu:
Keterangan
Yi = PDRB per kapita di SWP II Jawa Timur
Y = PDRB per kapita rata-rata di Jawa Timur
Fi = jumlah penduduk di SWP II
N = jumlah penduduk di Jawa Timur
3.4.2. Teknik Analisis Regresi
Untuk menganalisa hubungan antara : Indeks Williamson dengan
pertumbuhan ekonomi di SWP II Jawa Timur digunakan analisis kuantitatif
dengan mengunakan alat perhitungan, table statistic. Untuk menganalisis data
yang konkrit dalam pengertian ini digunakan analisis regresi sederhana untuk
mengetahui variable terikat secara timbale balik adalah sebagai berikut:
Y= βο + βҳ + e
Dimana :
Y = Pertumbuhan ekonomi di SWP II Jawa Timur
Βo = Konstanta
Β = Koefisien Regresi
X = Indeks Williamson
Y = βο + βҳ + e
Dimana :
Y = Indeks Williamson di SWP II Jawa Timur
O = Konstanta
B = Koefisien Regresi
X = Pertumbuhan Ekonomi
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskr ipsi Obyek Penelitian
4.1.1 Kondisi Geogr afis di J awa Timur
Jawa Timur terletak antara 110.54 dan 115.57 BT , 5.37 dan 8.48 LS.
Dengan luas daratan mencapai 46.712,80 km2 dan terbagi dalam 37 wilayah
Kabupaten/Kota. Menurut kondisi geografisnya, Jawa Timur dibagi menjadi 3
bagian : dataran tinggi (lebih 100 meter di atas permukaan laut), sedang (45-100
meter), dan rendah (di bawah 45 meter) Jumlah penduduk Jawa Timur
berdasarkan sensus bulan Juni 2000 mencapai 34.525.588 jiwa terdiri dari
16.980.594 jiwa laki-laki dan 17.544.944 jiwa perempuan, dengan tingkat
kepadatan penduduk mencapai 720 jiwa/km2.
Berdasarkan letak geografis, kondisi sosio-kultur, potensi alam dan
infrastruktur, maka Jawa Timur dibagi 4 bagian:
•Bagian Utara dan Pulau Madura, merupakan daerah pantai dan dataran rendah
serta daerah pegunungan kapur yang relatif kurang subur.
• Bagian Tengah merupakan daerah dataran rendah dengan perbukitan dan
gunung-gunung berapi yang relatif subur.
•Bagian Selatan-Barat (Daerah Mataraman) merupakan daerah pegunungan
dengan gunung-gunung berbatu dan kapur yang relatif kurang subur.
• Bagian Timur, karena posisinya sebagai penghubung dengan Pulau bali dan
Indonesia bagian Timur, maka industri dan perdagangan merupakan sektor
yang potensial untuk dikembangkan.
4.1.2. Per tumbuhan Ekonomi J awa Timur Tr iwulan I tahun 2010
Pada triwulan I periode Januari - Maret tahun 2010 ini kinerja ekonomi
Jawa Timur mengalamipeningkatan yang signifikan, ditandai dengan beberapa
fenomena ekonomi yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Jawa
Timur, seperti membaiknya ekonomi global yang ditandai dengan cukup tinggi
kenaikan ekspor-impor Jawa Timur ke dan dari luar negeri sehingga sektor riil
Jawa Timur tumbuh cukup tinggi, selain itu sektor non tradeable goods Jawa
Timur tumbuh sangat tinggi akibat permintaan domestik dan hal ini didukung
oleh dorongan kredit perbankan, arus transportasi barang/penumpang dan
pemakaian sarana komunikasi yang cukup tinggi serta adanya 10 hari
long-weekend selama bulan Januari - Maret 2010, membuat subsektor hotel, restoran
dan jasa hiburan juga meningkat. Fenomena lain, persiapan menjelang Pilkada
di beberapa Kabupaten/Kota, dan beberapa kebijakan fiskal dan moneter baik
dari pemerintah pusat maupun provinsi, telah membuat kinerja perekonomian
Jawa Timur tumbuh cukup tinggi yang mencapai angka 5,82 persen.
Pertumbuhan ini sangat menggembirakan, karena telah melewati besaran
Kinerja perekonomian Jawa Timur triwulan I tahun 2010 yang tumbuh
5,82 persen, ditandai oleh pertumbuhan yang tinggi di sektor Perdagangan,
Hotel dan Restoran sebesar 9,62 persen, sektor Pengangkutan dan Komunikasi
10,62 persen, dan sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan sebesar
10,14 persen. Kinerja ketiga sektor tersebut, diiringi pula dengan sumbangan
pertumbuhan dari ketiga sektor yang cukup tinggi, masing-masing sebesar 2,84
persen, 0,63 persen, dan 0,48 persen. Pendorong pertumbuhan sektor
Perdagangan, Hotel dan Restoran, untuk subsektor perdagangan terutama
karena hasil-hasil sektor pertanian (di luar subsektor tabama) dan sektor industri
Jawa Timur cukup tinggi dalam memenuhi permintaan luar negeri dan domestik
selain masuknya pasokan barang impor baik dari luar negeri maupun lintas
provinsi, sementara subsektor hotel dan restoran didorong oleh cukup tinggi
kunjungan wisman dan khususnya wisnus dalam memanfaatkan 10 hari
long-weekend selama Januari – Maret 2010. Seiring dengan perkembangan
perdagangan, hotel dan restoran, maka pertumbuhan sektor Pengangkutan dan
Komunikasi juga tumbuh tinggi terutama untuk angkutan rel dan jalan raya,
selain angkutan udara dan laut, sementara subsektor Komunikasi, tumbuh
karena kebutuhan masyarakat akan komunikasi masih cukup tinggi. Yang juga
tumbuh tinggi adalah subsektor Jasa Penunjang Angkutan, terutama dengan
dibukanya Jembatan Suramadu, yang membuat arus barang dan orang bergerak
Sektor lain yang tumbuh tinggi adalah sektor pertambangan dan
penggalian yang mencapai 9,89 persen dan sektor konstruksi sebesar 6,12
persen, dengan memberikan sumber pertumbuhan masing-masing sebesar 0,19
persen dan 0,17 persen. Kegiatan eksplorasi dan eksploitas migas di beberapa
lokasi seperti lepas pantai Madura dan daratan Bojonegoro ikut meningkatkan
pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian, sementara pertumbuhan
sektor konstruksi didorong oleh cukup berkembangan pengembangan properti
dan kantor yang baru selain, pembangunan jalan/jembatan dan pembangunan
PLTU di Pacitan. Sedangkan sektor pertanian hanya tumbuh sebesar 0,99
persen oleh karena adanya pergeseran panen raya padi yang semula
diperkirakan pada Februari-Maret 2010 menjadi Maret-April 2010, meskipun
subsektor perikanan, perkebunan, dan peternakan tumbuh cukup tinggi.
Walaupun hanya tumbuh 0,99 persen tetapi sektor pertanian mampu
memberikan kontribusi pertumbuhan sebesar 0,20 persen. Sektor industri
pengolahan tumbuh hanya 3,73 persen, terutama ada dorongan pertumbuhan
dari subsektor industri barang dari kayu dan industri semen dan barang galian
bukan logam, tetapi sektor industri masih mampu memberikan kontribusi
pertumbuhan sebesar 0,93 persen. Selanjutnya sektor Listrik, Gas dan Air
Bersih tumbuh sebesar 4,77 persen, terutama karena perkembangan gas kota
yang cukup tinggi, meskipun hanya mampu memberikan sumber pertumbuhan
pekembangan jasa hiburan yang tumbuh tinggi, walau hanya mampu
menyumbang sumber pertumbuhan sebesar 0,30 persen.
4.1.3. Kondisi Umum Kabupaten Sampang
Kabupaten Sampang secara geografis terletak antara 6o05 - 7o13
Lintang Selatan dan 113o08 - 113o39 Bujur Timur. Wilayah Kabupaten
Sampang di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa dan sebelah timur
berbatasan dengan Kabupaten Pamekasan sedangkan sebelah barat berbatasan
dengan Kabupaten Bangkalan dan sebelah selatan berbatasan dengan Selat
Madura. Luas wilayah Kabupaten Sampang 1.233 Km2 yang terbagi menjadi
dua belas kecamatan dengan Sampang sebagai ibukota dari Kabupaten
Sampang. Padi merupakan komoditi unggulan disektor pertanian Kabupaten
Sampang. Komoditi pertanian lain yang sedang dikembangkan berupa bentul
(sejenis talas), jambu air putih, dan jambu mete.
Dilaut sampang banyak menghasilkan ikan, terutama di daerah selatan seperti
Pulau Mandangin. Terdapat 28 jenis hasil laut, salah satunya adalah ikan
kembung dan lemuru yang merupakan unggulan dari sampang. Sementara dari
tambak, dihasilkan ikan bandeng dan udang windu. Diluar padi, perikanan dan
tambak salah satu hasil dari Sampang adalah garam. Dari 4.900 hektar, sekitar
3.000 hektar hamparan lahan tambak produktif mampu menghasilkan 60 sampai
65 ton garam per tahun.
Kabupaten Sampang terdiri dari 14 kecamatan (DDA 2005
luas wilayahnya mencapai 1233,30 km2. Wilayahnya juga mencakup juga
Pulau Kambing, yang berada di selatan Pulau Madura. Masakan khas kota ini
adalah kaldu. Selain itu makanan khasnya adalah nasi jagung, dan Jumlah
penduduk berdasarkan BPS Kabupaten Sampang pada tahun 2005 sejumlah
794.914 jiwa.
4.1.4. Kondisi Umum Kabupaten Sumenep
Kabupaten Sumenep adalah salah satu kabupaten di wilayah Propinsi
Jawa Timur dan berada di ujung timur Pulau Madura. Dalam catatan sejarah
Kabupaten Sumenep di berbagai naskah kuno, nama Sumenep lebih dikenal
dengan sebutan “songeneb” yang secara secara etimologis mempunyai
pengertian (1) lembah bekas endapan yang tenang, (2) lembah endapan yang
sejuk dan rindang, dan atau (3) cekungan atau lembah tenang atau pelabuhan
yang tenang.
Kabupaten Sumenep mempunyai banyak pulau kecil berbentuk gugusan
pulau. Dari keseluruhan 25 kecamatan, 9 diantaranya merupakan kecamatan
yang memiliki pulau, 48 pulau diantaranya telah berpenghuni, sedangkan
sisanya (78 pulau) belum berpenghuni dan atau tidak layak huni. Dengan
demikian jumlah pulau di kabupaten ini sekitar 126 pulau. Berdasarkan gugusan
pulau-pulau di Kabupten Sumenep, pulau terjauh yang berada di wilayah paling
utara adalah Pulau Keramaian (Kecamatan Masalembu) yang berjarak ±151 mil
wilayah paling timur adalah Pulau Sekala (Kecamatan Arjasa) yang berjarak
±165 mil dari Pelabuhan Kalianget. Informasi ini mengindikasikan bahwa
Kabupaten Sumenep dapat disebut dengan daerah kabupaten kepulauan dengan
salah satu karakteristik yang menonjol adalah orientasi dan struktur
perekonomian sebagian penduduknya tidak jauh dari sektor kelautan dan
perikanan, terutama di daerah kepulauan.
Kabupaten Sumenep yang berbatasan langsung dengan Kabupaten
Pamekasan merupakan daerah maritim yang memiliki 126 pulau dengan luas
wilayah daratan 1.146,93 km2 (54,79%) dan wilayah kepulauan 946,53 km2
(45,21%). bagian daratan memiliki 18 kecamatan, bagian kepulauan memiliki 9.
Berdasarkan estimasi produksi dari luas perairan laut tersebut mampu
menghasilkan ikan pertahun sebesar = 50.000 Km2 x 4,58 ton = 229.000 ton
pertahun. Sedangkan menurut estimasi potensi sumber lestari dihitung 60% dari
jumlah potensi yang ada atau sebesar 60% x 229.000 ton = 137.400 ton.
Sementara ini produksi perikanan yang dicapai Kabupaten Sumenep pada tahun
2005 baru mancapai 35.188,12 ton per tahun atau baru 25,61 % dari potnsi
lestari. Berarti potensi perikanan yang masih belum tergali sebesar 102.211,88
ton per tahun atau 74,39% dari potensi lestari. Produksi tahun 2005 mengalami
penurunan sebesar 9.353,81 ton atau 6,81% dibandingkan dengan produksi
tahun 2004 sebesar 44.541,93 ton (Sumber : Profil dan Potensi Kab. Sumenep
Kabupaten Sumenep terletak diantara 113o32’54” BT – 116o16’48” BT
dan diantara 4o55’ LS - 7o24’ LS dengan batas-batas sebagai berikut :
∼ Sebelah Utara : Laut Jawa
∼ Sebelah Timur : Laut Jawa / Laut Flores
∼ Sebelah Selatan : Selat Madura
∼ Sebelah Barat : Kabupaten Pamekasan
Secara geografis wilayah Kabupaten Sumenep terbagi atas dua yaitu :
∼ Bagian Daratan dengan luas 1.146,93 Km2 (54,79%) yang terbagi atas tujuh
belas Kecamatan dan satu pulau di Kecamatan Dungkek.
Bagian Kepulauan dengan luas 946,53 Km2 (45,21%) yang meliputi 126
buah pulau, 48 pulau berpenghuni dan 78 pulau tidak berpenghuni, 104 buah
pulau bernama dan 22 buah pulau tanpa nama.
4.1.5. Kondisi Umum Kabupaten Pamekasan
Secara geografis Kabupaten Pamekasan yang merupakan bagian dari
wilayah Propinsi Jawa Timur terletak di sebelah timur Pulau Jawa pada salah
satu Kabupaten kawasan Pulau Madura memiliki luas 792,30 Km2, tepatnya
pada koordinat 6o51' - 7o31' LS (Lintang Selatan) dan 113o19' - 113o58 BT'
(Bujur Timur). Secara administrasi, Kabupaten Pamekasan terletak di :
• Sebelah selatan berbatasan selat Madura
• Sebelah utara berbatasan laut Jawa, dan
• Sebelah barat berbatasan Kabupaten Sampang
Kabupaten Pamekasan secara Demografis memiliki penduduk 695.505
jiwa. Dengan kepadatan penduduk per Km2 cukup bervariatif. Secara
Administratif Kabupaten Pamekasan terdiri dari 13 Kecamatan dan 189
Desa/Kelurahan. Sehingga Keberhasilan pembangunan tidak bisa dilepaskan
dari permasalahan kependudukan mengingat penduduk merupakan subyek
maupun obyek pembangunan itu sendiri. Guna mendukung tercapainya
hasil-hasil pembangunan yang optimal, data kependudukan merupakan hal yang
mutlak diperlukan meliputi jumlah, laju pertumbuhan penduduk, komposisi
penduduk, penyebaran penduduk serta hal-hal terkait lain.
Secara struktur Geologi, wilayah Kabupaten Pamekasan mempunyai
sumber daya alam yang tak ternilai dengan bahan tambang terdiri dari Holosen
Alluvium, Pliosen Limestone Facies, Miosen Sendimentary Facies, Cleiston
Clay Sedementary.
4.2. Deskr ipsi Hasil Penelitian
4.2.1. Per kembangan Produk Domestik Regional Br uto Sektoral Pr opinsi J awa
Timur .
Produk Domestik Regional Bruto di Provinsi Jawa Timur setiap tahun
mengalami peningkatan hal ini disebabkan pemerintah Pemprov Jatim telah
terutama di SWP II Jatim yang meliputu Kabupaten Sampang, Sumenep, dan
Pamekasan , maka dapat lebih mudah untuk mengkoordinasi perencanaan –
perencanaan pembangunan. Untuk dapat melihat besarnya Pertumbuhan
Produk Domestik Regional Bruto di Provinsi Jawa Timur dari tahun ke tahun
dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1: Pr oduk Domestik Regional Br uto di Pr ovinsi J awa Timur tahun 2006 – 2008 (dalam J uta Rupiah )
Tahun Pr oduk Domestik Regional Br uto Per kembangan (% )
2006
Sumber : Badan Pusat Statistik (diolah)
Dari tabel diatas dapat dilihat Produk Domestik Regional Bruto Jawa
Timur dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2006 Produk
Domestik Regional Bruto Jawa Timur sebesar Rp 273.249.316,7 juta
sedangkan Produk Domestik Regional Bruto Jawa Timur tahun 2007 naik
menjadi Rp 287.796.183,9 juta meningkat sebesar 6,10 %. Sedangkan untuk
Produk Domestik Regional Bruto Jawa Timur tahun 2008 mengalami
peningkatan sebesar Rp. 304.798.966,4 juta, yang mengalami perkembangan
sebesar 5,90 % dari tahun 2007, sedangkan perkembangan tertinggi terjadi pada