• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS INDEKS WILLIAMSON PADA SATUAN WILAYAH PEMBANGUNAN II ( SWP ) JAWA TIMUR.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS INDEKS WILLIAMSON PADA SATUAN WILAYAH PEMBANGUNAN II ( SWP ) JAWA TIMUR."

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

WILAYAH PEMBANGUNAN II ( SWP ) J AWA TIMUR

SKRIPSI

Oleh :

Dhino Taufan 0611310115 / FE / EP

Kepada

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

J AWA TIMUR

(2)

WILAYAH PEMBANGUNAN II ( SWP ) J AWA TIMUR

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Jurusan Ekonomi Pembangunan

Oleh :

Dhino Taufan 0611310115 / FE / EP

Kepada

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

J AWA TIMUR

(3)

ii

KATA PENGANTAR

Assalammualaikum Wr.Wb

Dengan memanjatkan syukur alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT dengan

rahmat dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan, akhirnya penyusunan skripsi dapat

diselesaikan dengan tepat pada waktunya dengan judul :

“Analisis Indeks Williamson Pada Satuan Wilayah Pembangunan II ( SWP )

J awa Timur ”.

Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagai persyaratan

dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional

”Veteran” Jawa Timur.

Penulisan skripsi ini tidak dapat terwujud tanpa adanya bantuan dari berbagai

pihak baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk itu dalam kesempatan ini

saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Drs. Ec. Wiwin

Priana, MT selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dalam

memberi bimbingan selama penyusunan skripsi dan tidak lupa pula saya ucapkan

terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP selaku Rektor Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Dr. Dhani Ichsanuddin, MM selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas

(4)

ii

3. Bapak Drs. Ec. Wiwin Priana, MT selaku Ketua Jurusan Ekonomi Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

4. Kedua Orang Tua dan keluarga yang telah memberikan dorongan semangat dan

doa yang tulus kepada saya sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini

dengan sebaik – baiknya.

5. Dan semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan skripsi ini

yang tidak mungkin disebutkan satu per satu.

Semoga Allah SWT berkenan dan memberikan balasan, limpahan rahmat

serta karuniaNya. Besar harapan bagi saya semoga penulisan skripsi ini dapat

bermanfaat bagi semua pihak pada umumnya.

Surabaya, Agustus 2011

(5)

viii

ANALISIS INDEKS WILLIAMSON PADA SATUAN WILAYAH PEMBANGUNAN II ( SWP ) J AWA TIMUR

Oleh : DHINO TAUFAN

ABSTRAKSI

Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang lebih luas dari hanya memfokuskan pada pertumbuhan ekonomi. Peningkatan pembangunan ekonokmi merupakan penjingkatan barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara atau daerah dalam kurun waktu tertentu yang lebih tinggi dari pada kenaikan jumlah penduduk sehingga peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah nyata termasuk peningkatan pendapatan perkapita disertai perubahan struktur ekonomi suatu Negara tersebut dan terjadi dalam waktu jangka panjang.

Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) selama tiga tahun yaitu tahun 2006, 2007 dan tahun 2008. Data dianalisis menggunakan Indeks Williamson yaitu suatu analisis untuk mengetahui daerah Satuan Wilayah Pembangunan II (SWP II) Propinsi Jawa Timur yang meliputi Kabupaten Sampang, Kabupaten Sumenep, dan Kabupaten Pamekasan yang merupakan wilayah yang berada di Pulau Madura, mana yang mempunyai korelasi atau kontribusi paling bagus terhadap pertumbuhan di Propinsi Jawa Timur.

Berdasarkan pada tabel uji indeks Williamson diatas, maka dapat diketahui bahwa ke tiga daerah tersebut tidak mengalami ketimpangan maupun ketimpangan pada tahun 2006 hingga tahun 2008 dan dapat disimpulkan bahwa kabupaten Sumenep

(6)

DAFTAR ISI

(7)

2.2.5. Produk Domestik Regional Bruto per Kapita ... 26

2.2.6. Perubahan Klasifikasi Sektor... 31

2.2.7. Instrumen Analisis Yang Digunakan... 32

2.3. Kerangka Pikir ... 34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 35

3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 35

3.2. Jenis Dan Sumber Data ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 41

4.1 Deskripsi Obyek Penelitian ... 41

(8)

4.2 Deskripsi Hasil penelitian ... 49

4.2.1. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto

Sektoral Propinsi Jawa Timur ... 49

4.2.2. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto

Sektoral Kabupaten Sampang ... 51

4.2.3. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto

Sektoral Kabupaten Sumenep ... 52

4.2.4. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto

Sektoral Kabupaten Pamekasan ... 53

4.2.5 Jumlah Penduduk Jawa Timur ... 53

4.2.6. Jumlah Penduduk di Satuan Wilayah Pembangunan

II (SWP II) Jawa Timur ... 55

4.3. Analisis dan Pengujian Hipotesis ... 56

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ... 61

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Regression

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Produk Domestik Regional Bruto di Jawa Timur Tahun

2006-2008 (dalam Juta Rupiah) ... 50

Tabel 2 Produk Domestik Regional Bruto Sampang Atas Dasar Harga

Konstan Tahun 2006-2008 (dalam Juta Rupiah ... 51

Tabel 3 Produk Domestik Regional Bruto Sumenep Atas Dasar Harga

Konstan Tahun 2006-2008 (dalam Juta Rupiah)... 52

Tabel 4 Produk Domestik Regional Bruto Pamekasan Atas Dasar

Harga Konstan Tahun 2006-2008 (dalam Juta Rupiah... 53

Tabel 5 Jumlah Penduduk di Propinsi Jawa Timur Tahun 2006-2008

(dalam jiwa) ... 53

Tabel 6 Jumlah Penduduk di Sampang tahun 2006-2008 (dalam jiwa) .. 54

Tabel 7 Jumlah Penduduk di Pamekasan tahun 2006-2008 (dalam

jiwa) ... 55

Tabel 8 Jumlah Penduduk di Sumenep tahun 2006-2008 (dalam jiwa)... 55

Tabel 9 Uji Indeks Williamson SWP II di Kabupaten Sampang dan

Korelasi IW dengan Pertumbuhan Ekonomi di Propinsi Jawa

Timur ... 58

Tabel 10 Uji Indeks Williamson SWP II di Kabupaten Pamekasan dan

Korelasi IW dengan Pertumbuhan Ekonomi di Propinsi Jawa

Timur ... 58

Tabel 11 Uji Indeks Williamson SWP II di Kabupaten Sumenep Dan

Korelasi IW dengan Pertumbuhan Ekonomi di Propinsi Jawa

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suatu Wilayah Pembangunan merupakan gabungan dari beberapa

Kabupaten/Kotamadya.Satuan Wilayah Pembangunan di jawa timur terbagi

menjadi 9 Satuan Wilayah Pembangunan yang ditentukan oleh masing-masing

Pemda berdasarkan acuan dari Menteri Dalam Negeri tahun 1990, dimana

masing-masing Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) ditetapkan berdasarkan

kedekatan dari wilayah dan potensi daerah yang sama.

Perwujudan Wawasan Nusantara pembangunan daerah sebagai bagian

integral dari pembangunan nasional diarahkan untuk mengembangkan daerah dan

menyerasikan laju pertumbuhan antar daerah, antar kota, antar desa antar kota dan

desa antara sektor serta pembukaan dan percepatan pembangunan kawasan

tertingga, daerah terpencil, daerah minus, daerah kritis, daerah perbatasan dan

daerah terbelakng lainnya, yaitu disesuaikan dengan prioritas daerah yang

bersangkutan sehingga akan terwujud suatu pola pembangunan yang merupakan

perwujudan Wawasan Nusantara.

(12)

Pembangunan daerah bertujuan meningkatkan taraf hidup dan

kesejahteraan rakyat didaerah melalui pembangunan yang serasi dan terpadu baik

antar pembangunan sektoral dengan perencanan pembangunan oleh daerah yang

efisien dan efektif menuju tercapainya kemandirian daerah dan kemajuan yang

merata diseluruh pelosok tanah air . Dalam berbagai analisa dan penyidikan

mengenai kegiatan ekonomi ditinjau dari sudut penyebaran diberbagai daerah,

perkataan daerah dapat dibedakan dalam tiga pengertian, pengertian yang pertama

menganggap suatu daerah dianggap sebagai suatu space atau ruang dimana

kegiatan ekonomi berlaku dan diberbagai pelosok ruang tersebut sifat-sifatnya

adalah sama. Jadi batas-batasnya diantara satu daerah dengan daerah-daerah

lainnya ditentukan titik dimana kesamaan sifat-sifat tersebut sudah mengalami

perubahan. Persamaan sifat dapat ditinjau dari segi pendapatan perkapita

penduduk, dari segi agama dan suku bangsa masyarakat ataupun dari segi struktur

ekonominya. Pengertian yang kedua, yang paling ideal untuk digunakan dalam

analisa mengenai ekonomi ruang, mengartikan daerah itu sebagai ruang ekonomi.

Seperti dikatakan oleh Allen dan MacLellan dalam Arsyad (1999:47) :

“perbatasan diantara berbagai daerah ditentukan oleh tempat-tempat dimana

pengaruh dari satu atau beberapa pusat-pusat kegiatan ekonomi digantikan dengan

pengaruh pusat dari lainnya”.

Pada umumnya perkembangan pendapatan daerah bagi daerah-daerah

(13)

pembangunan di daerah khususnya kabupaten tuban tidak dapat dibiayai dengan

kemampuan keuangan pemerintah daerah yang bersangkutan (Syansi, 1992:99)

Bila kita membicarakan pertumbuhan ekonomi, tentunya kita pahami

bahwa yang dimaksud adalah peningkatan produksi nasional secara fisik atau

dalam istilah umum adalah peningkatan Produk Nasional Bruto dan lebih tepat

lagi yaitu Produk Nasional Bruto (Irawan, 1992;443)

Pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan yang

berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan

negara yang melaksanakan tugas mewujudkan pembangunan nasional yang

termaktub dalam pembukaan undang-undang dasar 1945. Pembangunan nasional

diselenggarakan secara bertahap dalam jangka panjang 25 tahun dan jangka

pendek 5 tahun dengan mendayagunakan seluruh sumber daya nasional untuk

mewujudkan pembangunan yakni menciptakan masyarakat yang adil dan makmur

baik materiil maupun spirituil (Anonim, 1998:17)

Pengertian yang ketiga memberikan batasan suatu daerah berdasarkan

pembagian administrative dari suatu Negara. Jadi menurut pengertian terakhir

suatu daerah merupakan suatu ekonomi ruang yang berada di bawah suatu

administrasi tertentu suatu propinsi, Kabupaten/Kotamadya, desa dan sebagainya.

Daerah yang diartikan menurut pengertian ketiga ini dinamakan daerah

(14)

Apabila membahas mengenai pembangunan daerah, pengertian ketiga

merupakan pengertian yang paling banyak digunakan. Lebih populernya

penggunaan pengertian tersebut disebabkan karena dua faktor. Pertama, dalam

melaksanakan kebijaksanaan dan rencana pembangunan daerah diperlukan

tindakan-tindakan berbagai badan pemerintah dengan demikian adalah lebih

praktis apabila suatu Negara dipecah menjadi beberapa daerah ekonomi

berdasarkan satuan administratif lebih mudah dianalisa karena sejak lama

pengumpulan data diberbagai daerah dalam satu Negara pembagiannya

didasarkan pada satuan administratif. (Saerofi; 2005:72).

Dalam menganalisa mengenai proses pembangunan akan bertambah

lengkap apabila memperhatikan juga corak kegiatan ekonomi ditinjau dari sudut

penyebarannya ke berbagai daerah. Betapa pentingnnya memperhatikan corak

lokasi kegiatan ekonomi apabila manganalisa mengenai suatu perekonomian hal

in sesuai dengan pendapat Friedman dan Alonso : “Tanpa melihat dari sudut

ruang analisa masih belum sempurna, dapatlah dimisalkan seperti proyeksi dua

dimensi dari suatu benda yang mempunyai tiga dimensi. Suatu Negara

mempunyai peta bumi ekonomi dengan puncak-puncak dan lembah-lembah

dengan daerah-daerah yang padat dengan kehidupan dan daerah-daerah yang

ditinggalkan, keputusan mengenai di mana akan melaksanakan suatu proyek baru

adalah sama pentingnya dengan keputusan untuk menginvestasi dalam proyek

(15)

mendistribusikan hasil pembangunan ekonomi adalah sama pentingnya dan sama

sukarnya dipandang dari segi golongan masyarakatnya”. (Bintoro;2001:21)

Pernyataan di atas dengan jelas menunjukkan bahwa analisa ekonomi

regional pada hakekatnya membahas mengenai kegiatan perekonomian ditinjau

dari segi sudut penyebaran kegiatan ekonomi ke berbagai lokasi dalam suatu

economic space atau ruang ekonomi tertentu misalnya dalam suatu negara atau

suatu propinsi. Dalam menganalisa ekonomi suatu daerah ditinjau secara sektoral

dan makro. Daerah tersebut dapat berupa suatu propinsi, satu daerah khusus

tertentu atau satu kota besar yang pembangunannya akan digalakkan. Analisa

mengenai perekonomian kota besar merupakan suatu cabang khusus dari analisa

ekonomi regional dan dikenal sebagai analisa urban/urban economic.

Menganalisa perekonomian daerah merupakan pekerjaan yang lebih sulit

kalau dibandingkan dengan menganalisa perekonomian nasional. Keadaan

demikian timbul karena, pertama data mengenai daerah terbatas sekali, apalagi

kalau daerah-daerah dibedakan berdasarkan pengertian daerah nodal. Dengan data

yang sangat terbatas tersebut, sukar untuk menggunakan metode yang telah

dikembangkan dalam memberikan gambaran mengenai perekonomian suatu

daerah. Kedua, data yang diperlukan dalam analisa daerah karena data yang

dikumpulkan tersebut kebanyakan dimaksudkan untuk memenuhi keperluan data

untuk analisa ekonomi pada tingkat nasional. Menentukan aliran modal dan

perdagangan dari suatu daerah ke daerah-daerah lainnya merupakan satu contoh

(16)

faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah dari masa ke masa,

tulisan yang ada dapat dibedakan diantara teori-teori mengenai masalah ekonomi

dan pembangunan daerah yang dipinjam dari teori yang ada mengenai

perekonomian nasional yang kemudian disesuaikan dengan keadaan daerah, dan

teori yang khusus dikembangkan untuk menganalisa masalah ekonomi dan

pembangunan daerah. (Prasetyo;1999:47).

Dengan berbagai pendekatan itu, pembangunan nasional dengan

pembangunan daerah telah mencatat kemajuan yang berarti. Namun dalam

kenyataannya ada perbedaan cukup tajam antara kemajuan suatu daerah dengan

daerah lainnya. Perbedaan laju pembangunan antara daerah menyebabkan

terjadinya kesenjangan kemakmuran dan kemajuan antar daerah, terutama antara

Jawa dan luar Jawa, antara kawasan barat dan kawasan timur, dan antara

perkotaan dan pedesaan.

Sebagai akibat dari tingkat dan laju perkembangan yang tidak seimbang

itu, meskipun semua daerah akan memperoleh kemajuan sebagai hasil dari

pembangunan, tetapi karena tingkat landasannya sudah berbeda, maka tanpa

usaha khusus, dengan kecenderungan yang ada, kesenjangan akan membesar.

Mengatasi keadaan ini bukan pekerjaan mudah karena upaya itu akan

menentang “arus” yang kuat yang menjadi kendala yang tidak mudah diatasi.

Pembangunan daerah agar tujuan dan usahannya dapat berhasil dengan

baik maka pemerintah daerah perlu berfungsi dengan baik. Berdasarkan data-data

(17)

suatu daerah penting sekali artinya dalam usaha untuk mengumpulkan lebih

banyak mengenai sifat-sifat perekonomian suatu daerah dan mengenai proses

pertumbuhan ekonomi daerah. Lebih lanjut Menurut Sukirno (1994:10:10),

mengemukakan: Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu tolak ukur yang dapat

dipakai untuk meningkatkan adanya pembangunan suatu daerah dari berbagai

macam sektor ekonomi yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat

perubahan ekonomi. Sedangkan laju pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai

kenaikan dalam PDRB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau

lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk dan apakah ada perubahan atau

tidak dalam struktur ekonomi. Tingkat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan

yang dihitung dari Produk Domestik Bruto, merupakan rata-rata tertimbang dari

tingkat pertumbuhan sektoralnya. Artinya apabila sebuah sektor mempunyai

kontribusi besar dan pertumbuhannya lambat, maka hal ini akan menghambat

tingkat perekonomian secara keseluruhan, sebaliknya apabila sebuah sektor

mempunyai kontribusi yang besar terhadap totalitas perekonomian, sehingga bila

sektor tersebut mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi, maka sektor tersebut

akan dapat menjadi lokomotif pertumbuhan yang secara total sehingga

menjadikan tingkat pertumbuhannya menjadi besar bagi sebuah daerah.

SWP II yang meliputi Kabupaten Sampang, Kabupaten Sumenep, dan

Kabupaten Pamekasan yang merupakan wilayah yang berada di Pulau Madura

yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang cukup meningkat yang berarti juga

(18)

mengalami ketimpangan dalam pembagian pendapatan. Untuk itu peneliti tertarik

untuk meneliti dengan judul Analisis Indek Williamson Pada Satuan Wilayah

Pembangunan II ( SWP II ) Jawa Timur.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah ada ketimpangan PDRB perkapita di SWP II Jawa Timur ?

2. Apakah ada pengaruh antara ketimpangan dengan pertumbuhan Ekonomi pada

SWP II Jawa Timur ?

1.3 Tujuan penelitian

1. Untuk mengetahui ketimpangan pembagian pendapatan di SWP II Jawa

Timur.

2. Untuk mengetahui hubungan atau pengaruh ketimpangan di pertumbuhan

(19)

1.4. MANFAAT PENELITIAN

a. Sebagai bahan pertimbangan, informasi atau referensi bagi penelitian

selanjutnya yang berhubungan dengan perencanaan pembangunan di

JawaTimur.

b. Sebagai bahan informasi bagi instansi terkait yang diharapkan dapat

bermanfaat dalam memecahkan masalah perencanaan pembangunan di

JawaTimur.

c. Sebagai tambahan pengetahuan dan menambah perbendaharaan perpustakaan

(20)

BAB II

TINJ AUAN PUSTAKA

2.1. Hasil Penelitian Ter dahulu

Hasil beberapa penelitian terdahulu yang berhubungan dengan masalah

faktor-faktor yang mempengaruhi Penanaman Modal Asing antara lain :

1. Rangga (2005) dengan judul penelitian “Beberapa Faktor yang

Mempengaruhi Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia”. Dapat ditarik

kesimpulan bahwa dari hasil pengujian secara simultan diperoleh nilai Fhitung >

Ftabel yaitu 4,560 > 3,59 yang berarti ada pengaruh nyata antara variabel bebas

dengan variabel terikat. Secara parsial, untuk Produk Domestik Bruto (PDB)

nilai thitung sebesar 3,624 > ttabel sebesar 2,201. Untuk kurs Dollar AS nilai

thitung sebesar -2,728 < ttabel sebesar -2,201. Untuk inflasi nilai thitung sebesar

-0,221 > ttabel sebesar -2,201. Hal ini menunjukkan bahwa Produk Domestik

Bruto (PDB) berpengaruh nyata terhadap Penanaman Modal Asing (PMA).

Kurs Dollar AS berpengaruh nyata terhadap Penanaman Modal Asing` (PMA)

dan kurs Dollar AS berhubungan negatif terhadap Penanaman Modal Asing

(PMA). Inflasi tidak berpengaruh nyata terhadap Penanaman Modal Asing.

(21)

2. Fr edr ik l. (2004) dengan judul penelitian “Analisis faktor-faktor yang

mempengaruhi Foreign Direct Investment (FDI) di Jawa Timur”. Hasil

penelitian ini diperoleh angka penentu kecocokan model R2 sebesar 0,755.

Hal ini berarti variabel-variabel bebas yang menjelaskan variabel terikat

adalah sebesar 75,5% dan 25,5% dijelaskan variabel lain. Hasil penelitian

dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa secara individu hanya

variabel tingkat suku bunga kredit investasi dan jumlah tenaga kerja yang

diserap di sektor industri yang berpengaruh secara nyata terhadap Penanaman

Modal Asing. Sedangkan pada uji F menunjukkan variabel PDRB, tingkat

suku bunga kredit investasi dan jumlah tenaga kerja yang diserap di sektor

industri secara bersama-sama berpengaruh secara nyata terhadap Penanaman

Modal Asing.

3. Dedi (2003) dengan judul penelitian “Analisis Beberapa Faktor yang

Mempengaruhi Penanaman Modal Asing di Jawa Timur”. Dari hasil

pengujian secara simultan nilai Fhitung > Ftabel yaitu 12,710 > 3,48 pada level

signifikansi 0,05 dengan df 4,10. Hal tersebut menunjukkan adanya pengaruh

yang nyata antara tenaga kerja (X1) terhadap Penanaman Modal Asing (Y) di

Jawa Timur. Dari analisis uji t menunjukkan thitung > ttabel yaitu 3,008 > 2,228

untuk jumlah tenaga kerja (X1), untuk kurs valas thitung < ttabel yaitu -4,792 <

2,228, untuk tingkat suku bunga internasional thitung < ttabel yaitu -0,844 <

(22)

Hal ini menunjukkan variabel X1, X2, dan X4 berpengaruh secara parsial

terhadap Penanaman Modal Asing (PMA) sedangkan variabel X3 tidak

berpengaruh secara parsial terhadap Penanaman Modal Asing (PMA),

terdapat pengaruh negatif dan signifikan X2 terhadap Penanaman Modal

Asing (PMA), tidak boleh ada pengaruh secara nyata antara X3 terhadap Y

dan pengaruh positif dan signifikan X4 terhadap Y. Secara simultan X1, X2,

X3, X4 berpengaruh terhadap Penanaman Modal Asing (Y) di Jawa Timur.

4. Sar i (2005) dengan judul penelitian “Analisis Beberapa Faktor yang

Mempengaruhi Investasi di Indonesia”. Secara simultan dengan hasil Fhitung >

Ftabel yaitu 3,935 > 3,59 dengan demikian tingkat suku bunga kredit (X1),

tingkat (X2), dan kurs valuta asing (X3) berpengaruh nyata terhadap investasi

di Indonesia (Y). Secara parsial tingkat bunga (X1) diperoleh thitung = 1,789 <

ttabel = 2,201 berarti tidak berpengaruh nyata terhadap investasi di Indonesia

(Y), kurs valas (X3) dengan thitung = 2,729 > ttabel = 2,201 berpengaruh nyata

terhadap investasi di Indonesia (Y). Hal ini berarti bahwa tingkat suku bunga

dan kurs valas berpengaruh secara nyata terhadap investasi di Indonesia.

Sedangkan inflasi tidak berpengaruh nyata terhadap investasi di Indonesia.

5. Sulistiawati (2000) dengan judul penelitian “Analisis tentang Perkembangan

Penanaman Modal Asing dan Beberapa Faktor yang Mempengaruhi di

Indonesia”. Dari hasil analisis dengan menggunakan uji F diperoleh nilai

(23)

variabel bebas PDB, inflasi dan kurs Dolar AS berpengaruh secara nyata

terhadap Penanaman Modal Asing, sedangkan dari hasil analisa dengan

menggunakan uji t nilai PDB = 5,709; inflasi = 2,888; kurs Dollar AS =

-3,635 dengan ttabel sebesar 2,2281. Hal ini menunjukkan PDB berpengaruh

secara nyata terhadap Penanaman Modal Asing, sedangkan inflasi dan kurs

Dollar AS berpengaruh secara nyata dan negatif terhadap Penanaman Modal

Asing.

1. Teori Basis dan Non Basis

Teori ini dikembangkan berdasarkan teori perdagangan komparatif dari

David Ricardo dan John Stuart Mill dalam Aziz (1999). Dari studi empiric

yang dilakukan oleh Pfouts (1960) dalam rangka memisah misalkan

sektor-sektor basis dari yang bukan basis daerah perkotaan ternyata dapat

dipergunakan sebagai sarana memperjelas struktur daerah tersebut, dalam

hubungan ini kegiatan ekonomi suatu daerah dibagi dalam dua golongan.

a. Kegiatan ekonomi industri yang melayani kebutuhan akan barang-barang

dan jasa di daerah itu sendiri/daerah swasembada maupun mengekspornya

ke tempat-tempat diluar batas-batas perekonomian daerah tersebut. Daerah

yang demikian disebut sebagai daerah basis atau daerah surplus

b. Kegiatan ekonomi atau industri yang hanya melayani kebutuhan

barang-barang dan jasa bagi masyarakat yang bertempat tinggal didalam

(24)

barang kebutuhan tersebut dari tempat/daerah lain karena masih

kekurangan daerah yang demikian ini disebut sebagai daerah non basis

atau daerah minus. Untuk menentukan suatu daerah kedalam salah satu

dari kedua golongan tersebut digunakan metode Locatin Quotien (LQ)

yaitu dengan jalan membandingkan peranan industri tersebut dengan

peranan industri yang sama dalam perekonomian regional. (Glason dalam

Aziz,1999:63).

2. Space Cost Theory

Teori ini dikemukakan oleh Adam Smith dari hasil studi analisis

tentang lokasi industri secara geografi. Dari analisis ia menerapkan suatu

pendekatan yang terbukti lebih praktis terhadap berbagia rumusan tentang

teori lokasi industri menurut Adam Smith, lokasi yang paling

menguntungkan/efisien bagi suatu industri adalah di mana penerimaan

total lebih besar dari pada biaya total atas dasar asumsi maksimilisasi laba

dan out put konstan, dan sebaliknya bila biaya total ternyata lebih besar

dari biaya penerimaan total, maka lokasi tersebut adalah merugikan/tidak

efisien. Analisis ini dapat dipergunakan pula untuk menentukan likasi

industri dengan memperhitungkan antara faktor biaya dan

pasar/permintaan. Dari segi pasar/permintaan antara lain dipengaruhi oleh

(25)

kualitas dan kuantitas, tenaga kerja, sarana transportasi dan komunikasi

faktor lingkungan dan pemerintah (pajak dan subsidi).

3. Teori Lokasi Industri

Menurut Weber dalam Sukirno (1991:56) adalah orang pertama

yang menggarap teori tentang lokasi industri secara komprehensif. Teori

lokasi dari Weber ini didasarkan dari penerapan teori Von Thunen yang

berprinsip bahwa pengusaha akan memilih lokasi yang paling kecil. Untuk

itu Weber mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi lokasi

industri atau terbagi dalam dua kelompok yaitu :

c. Regional faktors, yaitu terdiri atas biaya pengangkutan dan tenaga

kerja.

d. Local faktors, yaitu kekuatan-kekuatan aglomerasi dan deglomerasi,

terutama letak dan sifat bahan mentah.

4. Teori Tempat Sentral

Teori ini dikenalkan oleh seorang geograf Jerman yang bernama

Christaller pada tahun 1933. Ia mengemukakan konsep tentang

pembentukan system kota, dari studi empiric konsep tersebut

dikembangkan dari teori-teori yang sudah ada pada waktu itu yakni dari

Weber (1909) dan Thunen (1826) dalam Sukirno (1999:58). Dikatakan

(26)

kemudian disebut sebagai tempat sentral, yang menghubungkan

perdagangan setempat dengan dunia luar. Sistem yang diciptakan

didasarkan pada dua faktor lokasi yaitu biaya transfer dan aglomerasi

ekonomi.

Menurut Christaller dalam Sukirno;(2001) adalah bahwa pusat kota

pada umumnya merupakan pusat daerah yang produktif yang didukung oleh

kondisi tanah yang produktif karena berbagai jasa penting harus disediakan,

dengan demikian tempat sentral atau pusat kota tersebut bertindak sebagai

pusat pelayanan bagi daerah belakang/daerah komplementer yaitu

mensuplainya dengan barang dan jasa. Selanjutnya penduduk kota akan

menyebar membentuk hierarki perkotaan yang merupakan sarana yang efisien

untuk administrasi dan alokasi sumber kepada daerah-daerah. Dengan

demikian distribusi ruang dari pusat-pusat kota ini akan menimbulkan

dominasi dan polarisasi.

5. Teori Kutub Pertumbuhan

Teori ini dikembangkan berdasarkan teori tempat sentral Christaller (1909).

Konsep-konsep dasar dan penyempurnaan serta pengembangan teori ini

dilakukan oleh Perroux,’f, Boudenville, Hanssen, Hermansen, Hirchman dan

Myrdal (1967). Dari berbagai tulisan para ahli mengenai kutub pertumbuhan

tersebut, konsep-konsep ekonomi dasar dan perkembangan geogradiknya dapat

(27)

a. Konsep Leading Industries dan perusahaan-perusahaan propulsip, menyatakan

pada pusat kutub pertumbuhan terdapat perusahaan propulsip yang besar,

yang termasuk dalam leading industries yang mendominasi unit-unit ekonomi

lainnya, ada kemungkinan bahwa sesuatu komplek industri hanya terdiri dari

satu atau segelintir perusahaan propulsip yang dominan. Lokasi yang

geografik dari industri-industri seperti itu pada titik-titik local tertentu dalam

suatu daerah mungkin disebabkan oleh beberapa faktor lokasi sumber daya

alam, lokasi kemanfaatan-kemanfaatan buatan manusia/komunikasi atau

tempat-tempat sentral berlandaskan kegiatan jasa yang sudah ada, dimana

terdapat keuntungan-keuntungan karena prasarana dan tenaga kerja atau

barangkali hanya bersifat kebetulan saja.

b. Konsep polarisasi menyatakan bahwa pertumbuhan yang cepat dari “Leading

Industries” mendorong polarisasi dari unit-unit ekonomi lainnya kedalam

kutub pertumbuhan implisit dalam proses polarisasi ini adalah berbagai

macam keuntungan aglomerasi (keuntungan ekstern dan intern dari skala).

Polarisasi ekonomi ini pasti menimbulkan polarisasi geografik dengan

mengalirnya sumber daya dan konsentrasi ekonomi pada pusat-pusat yang

(28)

tersebut seringkali tetap berkembang dengan baik karena adanya

keuntungan-keuntungan aglomerasi.

c. Konsep “Spread Effect” menyatakan bahwa pada waktunya, kualitas propulsip

dinamik dari kutub pertumbuhan akan memancar keluar dan memasuki uang

disekitarnya. “Trickling Down” atau Spread Effect ini sangat menarik bagi

perencanaan regional dan telah memberikan sumbangan besar bagi

kepopuleran teori ini pada waktu belakangan ini sebagai saran kebijaksanaan.

Dari konsep ini maka dapatlah disimpulkan sebagai suatu kerangka untuk

memahami anatomi regional, teori ini memberikan suatu pelengkap dinamik

yang sangat bermanfaat kepada teori tempat sentral dan walaupun mempunyai

keterbatasan sangat berguna bagi perencanaan regional. Teori ini

menampilkan banyak konsep yang berorientasi perencanaan. Menekankan

kemanfaatan-kemanfaatan komplek industri, “leading industies”, pertubuhan

yang berkutub dan keuntungan-keuntungan aglomerasi dan “Spread Effect

yang ditimbulkan. Model ini cukup jelas dalam menerangkan pertumbuhan

hierarki kota yang menekankan interdependensi antara pusat kota dan daerah

disekitarnya. Dari kondisi ini mungkin akan timbul persaingan antar daerah

(29)

2.2. Pr oduk Domestik Regional Br uto (PDRB)

2.2.1. Penger tian Pr oduk Domestik Regional Bruto (PDRB)

PDRB adalah total nilai produk barang dan jasa yang diproduksi di

suatu wilayah (regional) tertentu dalam waktu tertentu biasanya 1 tahun.

PDRB yang dirinci menurut lapangan usaha merupakan jumlah nilai

produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi

dalam suatu propinsi dalam jangka waktu tertentu. Pada penyajian atas dasar

harga berlaku, semua agregat dinilai atas dasar harga pada tahun yang

bersangkutan baik pada saat menilai produksi dan biaya antara maupun

komponen nilai tambah dan komponen pengeluaran PDRB.

PDRB dapat diartikan satu persatu yaitu sebagai berikut, dinamai

produk oleh karena yang dijumlahkan adalah nilai tambah produk yang

berbentuk barang dan jasa. Dinamai domestik oleh karena produk yang

dihitung itu adalah yang dihasilkan dalam batas-batas suatu negara. Dinamai

regional oleh karena produk itu dihasilkan di wilayah tertentu di suatu

negara. Dinamai bruto oleh karena didalamnya termasuk sejumlah

penyusutan barang-barang modal yang digunakan untuk berproduksi

(30)

Sedangkan definisi PDRB menurut lapangan usaha Hotel adalah Sub

sector ini mencakup semua hotel baik berbintang maupun tidak berbintang

serta berbagai jenis penginapan lainnya. Output dihitung dengan cara

mengalikan jumlah malam tamu dan tarifnya, sedangkan persentase nilai

tambah diperoleh dari survey khusus pendapatan nasional. Nilai tambah atas

dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan 2000 dihitung berdasarkan

perkalian antara persentase nilai tambah dengan outputnya (BPS, 2000: )

2.2.2. Car a Menghitung PDRB

Produk Domestik Regional Bruto dapat diukur atau dihitung dengan

tiga macam pendekatan, yaitu:

1. Pendekatan produksi

Menurut pendekatan ini, PDRB adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir

yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara

dalam jangka waktu 1 tahun. Unit produksi tersebut dibedakan menjadi 9

sektor, yaitu:

1. Sektor Pertanian

2. Sektor Pertambangan dan penggalian

3. Sektor Industri pengolahan

4. Sektor Listrik, gas dan air minum

(31)

6. Sektor Perdagangan, hotel dan restoran

7. Sektor pengangkutan dan komunikasi

8. Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan

9. Sektor jasa-jasaPemerintahan

2. Pendekatan pendapatan

Menurut pendekatan ini, PDRB adalah jumlah balas jasa yang diterima

oleh faktor-faktor produksi yang turut serta dalam proses produksi di

wilayah suatu negara dalam jangka waktu 1 tahun. Balas jasa produksi

yang dimaksud meliputi upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan

keuntungan.

3. Pendekatan pengeluaran

1. Menurut pendekatan ini, PDRB adalah jumlah seluruh komponen

permintaan akhir, meliputi: Pengeluaran konsumsi rumah tangga dan

lembaga swasta yang tidak mencari keuntungan

2. Pembentukan modal tetap domestik bruto dan perubahan stok

3. Pengeluaran konsumsi pemerintah

4. Ekspor netto (yaitu ekspor dikurangi impor) dalam jangka waktu 1

tahun (Dumairy, 1997:38).

Dari beberapa penjelasan diatas tentang pengertian Produk Domestik

(32)

produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu wilayah regional terentu

dan dalam waktu tertentu.

2.2.3. Definisi Pr oduk Domestik Regional Br uto

a. Menurut Sukirno (2001:165) Produk Domestik Bruto didefinisikan

sebagai jumlah nilai tambah bruto dari semua sektor dan diperoleh dari

sebagaian selisih antara nilai bruto yang dinilsi atas dasar harga konstan

yang diterima oleh produsen dikurangi pemakaian bahan baku dan

penolong yang dininai atas dasar pembelian.

b. Gross Domestik Bruto adalah nilai barang jadi yang diproduksi dalam

negeri (Doembusch dan fisher, 1992:30).

c. Menurut Rosyidi (1997:203), salah satu pengukuran Produk Domestik

Bruto, dengan menghitung seluruh pengeluaran untuk penelitian barang

dan jasa yang dihasilkan oleh Negara yang bersangkutan yaitu :

a. Konsumsi rumah tangga

b. Konsumsi pemerintah

c. Investasi Pemerintah dan swasta

d. Ekspor barang dan jasa

(33)

d. GDP (Gros Domestik Bruto), merupakan cara untuk mengukur output

total menurut harga faktor produksi di dalam negeri dengan cara

menjumlahkan nilai tengah dari setiap industri(Lipsey,dkk, 1992:50)

e. Produk Domestik Bruto adalah jumlah barang dan jasa akhir kali harga

sebagai alat produksi barang dan jasa suatu Negara ditmbah dengan hasil

produksi barang dan jasa dan perusahaan asing (Partadireja, 1982:50)

f. Menurut Suparmoko (1991:205) yang dimaksud dengan permintaan

agregat (output total) adalah jumlah barang dan jasa yang akan dibeli oleh

konsumen perusahaan dan pemerintah, pada tingkat harga tertentu

pendapatan tertentu serta variable-variabel tertentu, pendapatan tertentu

serta variable ekonomi lainnya

g. Produk Domestik Regional Bruto adalah nilai total produksi barang dan

jasa yang diproduksi diwilayah regional tertentu dalam waktu

(34)

2.2.4. Pendekatan Per hitungan Pr oduk Domestik Br uto

Cara perhitungan Produk Domestik Regional Bruto dapat diperoleh melalui

tiga pendekatan yaitu pendekatan produksi, pendekatan Pendapatan,

pendekatan pengeluaran yang selanjutnya dijelakan berikut :

2.2.4.1. Menur ut Pendekatan Pr oduksi

PDRB adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan

oleh berbagai unit produksi disuatu wilayah dalam jangka waktu tertentu/satu

tahun.

Unit-unit produksi tersebut didalam penyajiannya dikelompokkan menjadi 9

sektor lapangan usaha yaitu :

a). Pertanian

b). Pertambangan dan Penggalian

c). Industri pengolahan

d). Listrik, Gas dan air bersih

e). Konstuksi

f). Perdagangan, Hotel danRestoran

g). Pengankutan Dan Komunikasi

h). Jasa Keuangan, Persewaan, dan jasa Perusahaan

(35)

2.2.4.2. Menur ut pendekatan Pengeluar an

PDRB Produk Domestik Regional Bruto adalah penjumlahan semua

komponen permintaan akhir yaitu :

a. Pengeluaran Konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta yang tidak

mencari untung.

b. Konsumsi Pemerintah

c. Pembentukan Modal tetap domestik bruto

d. Perubahan stok

e. Ekspor netto dalam jangka waktu tertentu biasanya satu tahun

2.2.4.3. Menur ut Pendekatan Pendapatan

Produk Domestik Regional Bruto merupakan jumlah balas jasa yang

diterima oleh faktor produksi yang ikut srta dalam proses produksi disuatu

wilayah dalam jangka waktu tertentu. Balas jasa faktor produksi yang

dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan.

Semua hitungan tersebut sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak

langsung lainnya. Dalam pengertian Produk Domestik Regional Bruto,

kecuali faktor pendapatan, termasuk semua komponen penyusutan dan pajak

yak langsung netto. Jumlah semua komponen pendapatan ini menurut sektor

disebut sebagai nilai tambah bruto sektoral. Produk Domestik Bruto

merupakan nilai tambah bruto seluruh sektor/lapangan usaha. Dari tiga

(36)

tadi harus sama dengan jumlah pendapatan untuk faktor-faktor produksinya.

Selanjutnya Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar, karena

mencakup komponen pajak tidak langsung (Anonim, 1995:3).

2.2.5. Pr oduk Domestik Regional Br uto per Kapita

Bila Produk Domestik Regional Bruto dibagi dengan jumlah

penduduk pertengahan tahun yang tinggal di wilayah ini, maka akan

diperoleh suatu Produk Domestik Regional Bruto per kapita

(Anonim,1995:4)

a. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan

Angka-angka pendapatan Regional atas dasar harga konstan 1993

sangat penting untuk melihat perkembangan riil dari tahun ketahun bagi

setiap agregat ekonomi yang diamati. Agregat yang dimaksud tersebut

dapat merupakan produk domestik regional bruto secara keseluruhan, nilai

tambah sektoral/ Produk Domestik Regional Bruto sektoral ataupun

komponen penggunaan produk domestik regional bruto. Pada dasarnya

dikenal empat cara untuk memperoleh nilai tambah sektor atas dasar harga

(37)

b. Revaluasi

Cara ini dilakukan dengan menilai produksi dan biaya antara

masing-masing tahun dengan harga pada tahun dasar 1993. Hasilnya merupakan

output dan biaya antara atas dasar harga konstan 1993. Selanjutnya nilai

tambah bruto atas dasar harga konstan diperoleh dari selisih antara output

dan biaya antara atas dasar harga konstan 1993. Dalam praktek sangat

sulit melakukan revaluasi terhadap biaya antara yang digunakan, karena

mencakup komponen input yang sangat beragam, disamping data harga

yang tersedia tidak dapat memenuhi semua kebutuhan tersebut. Oleh

karena itu biaya antara atas dasar harga konstan masing-masing tahun

dengan rasio (tetap) biaya antara terhadap output pada tahun dasar atau

dengan rasio biaya antara terhadap output terhadap tahun berjalan.

c. Ekstrapolasi

Nilai tambah masing-masing tahun atas dasar harga konstan 1993

diperoleh dengan cara mengalikan nilai tambah pada tahun dasar 1993

dengan indeks ini bertindak sebagai ekstrapolasi yang dapat merupakan

indeks dari masing-masing kuantum produksi yang dihasilkan ataupun

indeks dari berbagi indicator kuantum produksi produksi lainnya seperti

tenaga kerja, jumlah perusahaan yang dianggap cocok dengan jenis

kegiatan yang sedang dihitung. Ekstrapolator dapat juga dilakukan

(38)

rasio nilai tambah terhadap output akan diperoleh perkiraan nilai tambah

atas dasar harga konstan.

d. Deflasi

Nilai tambah atas dasar harga konstan 1993 dapat diperoleh dengan cara

membagi nilai tambah atas dasar harga berlaku pada masing-masing tahun

dengan indeks harga. Indeks harga yang digunakan sebagai deflator

biasanya merupakan indeks harga konsumen. Tergantung indeks mana

yang dianggap lebih cocok. Indeks harga tersebut dapat pula pakai sebagai

inflator, yang berarti nilai tambah atas dasar harga yang berlaku diperoleh

dengan mengalikan nilai tambah atas dasar harga konstan dengan indeks

tersebut.

e. Deflasi berganda

Dalam deflasi berganda ini, dideflasikan adalah output dari biaya antara,

sedangkan nilai tambah diperoleh dari selisih antara output antara hasil

pendeflasian tersebut. Indeks harga yang digunakan sebagai deflator

biasanya merupakan indeks harga produsen atas harga perdagangan besar

sesuai dengan cakupan komoditinya, sedangkan indeks harga untuk biaya

antara adalah indeks harga dari komponen input besar. Dalam

kenyataanya, sangat sulit melakukan deflasi terhadap biaya antara,

(39)

indeks harga yang cukup mewakili sebagai deflator. Oleh karena itu

didalam perhitungan nilai tambah atas dasar harga konstan, deflasi

berganda ini belum banyak dipakai, termasuk dalam publikasi ini.

Perhitungan komponen penggunaan produk domestik regional bruto atas

dasar harga konstan juga dilakukan dengan menggunakan cara-cara diatas,

tetapi mengingat terbatasnya data yang tersedia maka cara deflasi dan

ekstrapolasi lebih banyak dipakai.

f. Pergeseran Tahun Dasar Perubahan Klasifikasi Sektor

Berdasarkan data historis, harga satuan maupun produksi atau indicator

produksi yang digunakan untuk perhitungan Produk Domestik Regional

Bruto mengalami perubahan tiap tahun. Hal ini menyebabkan sumbangan

nilai tambah setiap sektor terhadap Produk Domestik Regional Bruto akan

berubah juga. Jika perubahan secara sektoral menunjukkan angka-angka

yang proporsional maka sumbangan terhadap PDRB akan berubah juga

dan akan relative sama dari tahun ke tahun. Akan tetapi boleh dikatakan

bahwa fenomena tersebut jarang sekali terjadi, biasanya perkembangan

setiap sektor tidak proporsional, misalnya beberapa sektor tertentu

melajudengan cepat sedangkan sektor lainnya relative lamat. Akhirnya

dalam jangka panjang sumbangan setiap sektor akan berubah secara

nyata/signifikan. Perubahan ini dikenal dengan perubahan struktur

(40)

dan perencanaan ekonomi karena berarti juga bahwa dasar/base komposisi

sektoral yang dianggap tulang punggung perekonomian harus ditinjau

kembali. Demikian juga perekonomian ini menjadi faktor-faktor penentu

dalam menilai prestasi-prestasi suatu negara, bangsa atau

wilayah.(Anonim,1995:27).

g. Latar Belakang Perubahan Tahun Dasar

Landasan pemikiran dalam melakukan perubahan tahun dasar tersebut

dapat diekspresikan dalam dua alasan pokok sebagi berikut :

1. Struktur ekonomi selama 10 tahun telah berubah dengan drastis

sehingga kurang relevan jika prestasi dan perkembangan ekonomi

masih dihitung berdasarkan cerimanan struktur yang lama. Perubahan

struktur, seperti yang telah bisebut, ditandai dengan perubahan

dominasi sektoral yang sebelumnnya berada pada sektor pertanian

menjadi sektor industri sekarang ini.

2. Beberapa sektor mengalami perubahan data-data dasar, misalnya

cakupan komoditi dan kegiatan sebelumnya hanya ditampung dalam

besaran mark-up yang sudah tidak mewakili lagi. Perubahan kegiatan

ini telah diantisipasi sebelumnya tetapi belum diakomodasikan dalam

perhitungan nilai tambah bruto karena jika dimasukkan hasilnya dapat

mengakibatkan pertumbuhan yang melonjak pada tahun dimana

(41)

Untuk itu perubahan tahun dasar merupakan kesempatan yang baik

untuk melakukan beberapa perbaikan data dasar dan juga perbaikan

metode perhitungan.(Anonim,1995:28)

2.2.6. Per ubahan Klasifikasi Sektor

Klasifikasi sektor Produk Domestik Regional Bruto antara seri lama dan

seri baru mengalami perubahan dari 11 sektor menjadi 9 sektor perubahan.

Hal ini didasarkan pada dua alasan, yaitu :

1. Klasifikasi baru mengacu pada klasifikasi yang direkomendasikan SNA

1993/ SNA-System of National Account buku acuan perhitungan Produk

Domestik Regional Bruto secara internasional yang direkomendasikan

Perserikatan Bangsa Bangsa. Klasifikasi menjadi lebih umum dan

bermanfaat untuk membandingkan data-data Produk Domestik Regional

Bruto dengan negara-negara lain secara total maupun sektoral.

2. Klasifikasi baru pada umumnya lebih rinci pada tingkat subsektor dengan

maksud lebih berorientasi pada penggunaan data. Data yang lebih terinci

akan lebih banyak kegunaannya dibanding dengan data yang terbatas

(42)

2.2.7. Instr umen Analisis Yang Digunakan

Indeks Williamson meneliti hubungan antara disparitas regional dan

tingkat pembangunan ekonomi dengan menggunakan data ekonomi Negara

yang sudah maju dan yang sedang bberkembang. Ditemukan bahwa selama

tahap awal pembangunan, disparitas regionanl menjadi lebih besar dan

pembangunan terkonsentrasi di daerah-daerah tertentu. Pada tahap yang lebih

“matang”, dilihat dari pertumbuhan ekonomi, tampak adanya keseimbangan

antar daerah dan disparitas berkurang dengan signifikan. Ketimpanag

pembangunan antar Kecamatan yang terjadi di SWP II Jawa Timur dapat

dianalisis dengan menggunakan indeks ketimpanagan regional (regional

inequality) yang dinamakan Indeks Williamson ( Sjafrizal, 1997 ):

Y

Keterangan:

Yi = PDRB per kapita di SWP II Jawa timur

Y = PDRB per kapita rata-rata di Jawa Timur

Fi = jumlah penduduk di kabupaten

(43)

Masalah ketimpangan ekonopmi antar daerah tidak hanya tampak

pada wajah ketimpangan perekonomian di SWP II Jawa Timur melainkan juga

luar SWP II. Berbagai program yang dikembangkan untuk menjembatani

ketimpanagan antar daerah selama ini ternyata belum mencapai hasil yang

memadai. Alokasi penganggaran pembangunan sebagai instrument untuk

mengurangi keetimpangan ekonomi tersebut tampakanya perlu lebih diperhatikan

di masa yang akan datang. Strategi alokasi anggaran itu harus mendorong dan

memepercepat pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menjadi alat Mengurangi

(44)

2.3. Ker angka Pikir

Dalam kerangka pikir ini peneliti akan menganalisa dengan indeks

williamson dengan instrument PDRB perkapita di SWP II Jawa Timur dengan

melihat indeks williamson perkabupaten maka akan diketahui perkecamatan mana

yang mengalami ketimpangan dan kecamatan mana yang tidak timpang,

kemudian dari ,indeks Williamson perkabupaten dihubungkan dengan

pertumbuhan ekonomi apakah ada hubungannya antara ketimpangan dengan

pertumbuhan ekonomi perkabupaten di SWP II Jawa Timur.

Pertumbuhan Perkapita

Indeks Williamson

Timpang Tidak Timpang

(45)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Definisi Operasional dan Pengukur an Var iabel

Definisi operasional dalam hal ini untuk menjelaskan dan menerangkan

variabel-variabel yang di pergunakan dalam penelitian.

Pengukuran variabel-variabel penelitian secara operasional berdasarkan teori

adapun ukuran definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. PDRB Perkapita adalah :

Nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu masyarakat dibagi dengan

jumlah penduduk dengan satuan rupiah.

b. Jumlah Penduduk adalah :

Jumlah orang yang berdiam disuatu tempat dari berbagai tingkatan umur

bawah sampai atas satuan jiwa.

c. Indeks Williamson adalah

(46)

Suatu Indeks untuk mengukur disparitas regional dan tingkat pembangunan

ekonomi dengan satuan indek

d. Pertumbuhan Ekonomi adalah Perkembangan PDRB suatu daerah dari

tahun ke tahun dengan satuan persen.

3.2. J enis Dan Sumber Data

1. Jenis Data

Sampel yang diamati dalam penelitian ini mencangkup wilayah Jawa Timur

khususnya SWP II. Sifat data yang di gunakan adalah data berkala (time

series). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder,

yang diambil dari tahun 3 (tiga) tahun sampai dengan 2006 - 2008.

2. Sumber Data

Sumber data diperoleh Kantor Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Timur,

Perpustakaan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

dan perpustakaan-perpustakaan lainnya baik itu milik lembaga pendidkan

(47)

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua cara

yaitu :

3.3.1. Data Sekunder

Data yang diperoleh dan buku atau literatur pada instansi yang bukan

pemilik data.

3.3.2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data yang diperoleh

dan Dinas Pariwisata Jawa Timur dan Badan Pusat Statistik.

3.3.3 Studi Kepustakaan

Pengumpulan data yang dilakukan dengan membaca buku-buku literatur

sebagai bahan pustaka yang dapat menunjang masukan yang dibahas dalam

skripsi ini.

3.3.4 Studi Lapangan

Penelitian lapangan ini dimaksudkan untuk mendapatkan data-data sekunder

yang diperlukan untuk menulis skripsi, data laporan, catatan-catatan yang

berhubungan dengan masalah yang dibahas pada lembaga-lembaga yang

(48)

3.4. Teknik Analisis

Dalam penelitian ini untuk menentukan sektor unggulan yang dapat

dijadikan prioritas pembangunan, teknik analisa dilakukan berdasarkan

informasi yang diperoleh dari data-data yang dikumpulkan dan diolah

kembali diduga bahwa di SWP II Jawa Timur yang di lihat Indeks

Williamson.

3.4.1. Analisis Indeks Williamson

Alat analisis berasumsi bahwa suatu daerah merupakan suatu pemicu

dalam laju pertumbuhan ekonomi wilayah yang bersangkutan. Adanya

heterogenitas dan beragam karekteristis suatu wilayah menyebabkan

kecenderungan terjadi ketimpangan antar daerah dan antar sektor ekonomi

suatu daerah. Bertitik tolak dari kenyataan itu, Ardani (1992) mengemukakan

bahwa kesenjangan/ketimpangan antar daerah merupakan konsekuensi logis

pembangunan dan merupakan suatu tahap perubahaan dalam pembangunan

itu sendiri.

Teknik analisis ini di awali dengan perhitungan perubahan PDRB suatu sektor

di suatu daerah antara 3 tahun, yaitu:

(49)

Keterangan

Yi = PDRB per kapita di SWP II Jawa Timur

Y = PDRB per kapita rata-rata di Jawa Timur

Fi = jumlah penduduk di SWP II

N = jumlah penduduk di Jawa Timur

3.4.2. Teknik Analisis Regresi

Untuk menganalisa hubungan antara : Indeks Williamson dengan

pertumbuhan ekonomi di SWP II Jawa Timur digunakan analisis kuantitatif

dengan mengunakan alat perhitungan, table statistic. Untuk menganalisis data

yang konkrit dalam pengertian ini digunakan analisis regresi sederhana untuk

mengetahui variable terikat secara timbale balik adalah sebagai berikut:

Y= βο + βҳ + e

Dimana :

Y = Pertumbuhan ekonomi di SWP II Jawa Timur

Βo = Konstanta

Β = Koefisien Regresi

X = Indeks Williamson

(50)

Y = βο + βҳ + e

Dimana :

Y = Indeks Williamson di SWP II Jawa Timur

O = Konstanta

B = Koefisien Regresi

X = Pertumbuhan Ekonomi

(51)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskr ipsi Obyek Penelitian

4.1.1 Kondisi Geogr afis di J awa Timur

Jawa Timur terletak antara 110.54 dan 115.57 BT , 5.37 dan 8.48 LS.

Dengan luas daratan mencapai 46.712,80 km2 dan terbagi dalam 37 wilayah

Kabupaten/Kota. Menurut kondisi geografisnya, Jawa Timur dibagi menjadi 3

bagian : dataran tinggi (lebih 100 meter di atas permukaan laut), sedang (45-100

meter), dan rendah (di bawah 45 meter) Jumlah penduduk Jawa Timur

berdasarkan sensus bulan Juni 2000 mencapai 34.525.588 jiwa terdiri dari

16.980.594 jiwa laki-laki dan 17.544.944 jiwa perempuan, dengan tingkat

kepadatan penduduk mencapai 720 jiwa/km2.

Berdasarkan letak geografis, kondisi sosio-kultur, potensi alam dan

infrastruktur, maka Jawa Timur dibagi 4 bagian:

•Bagian Utara dan Pulau Madura, merupakan daerah pantai dan dataran rendah

serta daerah pegunungan kapur yang relatif kurang subur.

• Bagian Tengah merupakan daerah dataran rendah dengan perbukitan dan

gunung-gunung berapi yang relatif subur.

•Bagian Selatan-Barat (Daerah Mataraman) merupakan daerah pegunungan

dengan gunung-gunung berbatu dan kapur yang relatif kurang subur.

(52)

• Bagian Timur, karena posisinya sebagai penghubung dengan Pulau bali dan

Indonesia bagian Timur, maka industri dan perdagangan merupakan sektor

yang potensial untuk dikembangkan.

4.1.2. Per tumbuhan Ekonomi J awa Timur Tr iwulan I tahun 2010

Pada triwulan I periode Januari - Maret tahun 2010 ini kinerja ekonomi

Jawa Timur mengalamipeningkatan yang signifikan, ditandai dengan beberapa

fenomena ekonomi yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Jawa

Timur, seperti membaiknya ekonomi global yang ditandai dengan cukup tinggi

kenaikan ekspor-impor Jawa Timur ke dan dari luar negeri sehingga sektor riil

Jawa Timur tumbuh cukup tinggi, selain itu sektor non tradeable goods Jawa

Timur tumbuh sangat tinggi akibat permintaan domestik dan hal ini didukung

oleh dorongan kredit perbankan, arus transportasi barang/penumpang dan

pemakaian sarana komunikasi yang cukup tinggi serta adanya 10 hari

long-weekend selama bulan Januari - Maret 2010, membuat subsektor hotel, restoran

dan jasa hiburan juga meningkat. Fenomena lain, persiapan menjelang Pilkada

di beberapa Kabupaten/Kota, dan beberapa kebijakan fiskal dan moneter baik

dari pemerintah pusat maupun provinsi, telah membuat kinerja perekonomian

Jawa Timur tumbuh cukup tinggi yang mencapai angka 5,82 persen.

Pertumbuhan ini sangat menggembirakan, karena telah melewati besaran

(53)

Kinerja perekonomian Jawa Timur triwulan I tahun 2010 yang tumbuh

5,82 persen, ditandai oleh pertumbuhan yang tinggi di sektor Perdagangan,

Hotel dan Restoran sebesar 9,62 persen, sektor Pengangkutan dan Komunikasi

10,62 persen, dan sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan sebesar

10,14 persen. Kinerja ketiga sektor tersebut, diiringi pula dengan sumbangan

pertumbuhan dari ketiga sektor yang cukup tinggi, masing-masing sebesar 2,84

persen, 0,63 persen, dan 0,48 persen. Pendorong pertumbuhan sektor

Perdagangan, Hotel dan Restoran, untuk subsektor perdagangan terutama

karena hasil-hasil sektor pertanian (di luar subsektor tabama) dan sektor industri

Jawa Timur cukup tinggi dalam memenuhi permintaan luar negeri dan domestik

selain masuknya pasokan barang impor baik dari luar negeri maupun lintas

provinsi, sementara subsektor hotel dan restoran didorong oleh cukup tinggi

kunjungan wisman dan khususnya wisnus dalam memanfaatkan 10 hari

long-weekend selama Januari – Maret 2010. Seiring dengan perkembangan

perdagangan, hotel dan restoran, maka pertumbuhan sektor Pengangkutan dan

Komunikasi juga tumbuh tinggi terutama untuk angkutan rel dan jalan raya,

selain angkutan udara dan laut, sementara subsektor Komunikasi, tumbuh

karena kebutuhan masyarakat akan komunikasi masih cukup tinggi. Yang juga

tumbuh tinggi adalah subsektor Jasa Penunjang Angkutan, terutama dengan

dibukanya Jembatan Suramadu, yang membuat arus barang dan orang bergerak

(54)

Sektor lain yang tumbuh tinggi adalah sektor pertambangan dan

penggalian yang mencapai 9,89 persen dan sektor konstruksi sebesar 6,12

persen, dengan memberikan sumber pertumbuhan masing-masing sebesar 0,19

persen dan 0,17 persen. Kegiatan eksplorasi dan eksploitas migas di beberapa

lokasi seperti lepas pantai Madura dan daratan Bojonegoro ikut meningkatkan

pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian, sementara pertumbuhan

sektor konstruksi didorong oleh cukup berkembangan pengembangan properti

dan kantor yang baru selain, pembangunan jalan/jembatan dan pembangunan

PLTU di Pacitan. Sedangkan sektor pertanian hanya tumbuh sebesar 0,99

persen oleh karena adanya pergeseran panen raya padi yang semula

diperkirakan pada Februari-Maret 2010 menjadi Maret-April 2010, meskipun

subsektor perikanan, perkebunan, dan peternakan tumbuh cukup tinggi.

Walaupun hanya tumbuh 0,99 persen tetapi sektor pertanian mampu

memberikan kontribusi pertumbuhan sebesar 0,20 persen. Sektor industri

pengolahan tumbuh hanya 3,73 persen, terutama ada dorongan pertumbuhan

dari subsektor industri barang dari kayu dan industri semen dan barang galian

bukan logam, tetapi sektor industri masih mampu memberikan kontribusi

pertumbuhan sebesar 0,93 persen. Selanjutnya sektor Listrik, Gas dan Air

Bersih tumbuh sebesar 4,77 persen, terutama karena perkembangan gas kota

yang cukup tinggi, meskipun hanya mampu memberikan sumber pertumbuhan

(55)

pekembangan jasa hiburan yang tumbuh tinggi, walau hanya mampu

menyumbang sumber pertumbuhan sebesar 0,30 persen.

4.1.3. Kondisi Umum Kabupaten Sampang

Kabupaten Sampang secara geografis terletak antara 6o05 - 7o13

Lintang Selatan dan 113o08 - 113o39 Bujur Timur. Wilayah Kabupaten

Sampang di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa dan sebelah timur

berbatasan dengan Kabupaten Pamekasan sedangkan sebelah barat berbatasan

dengan Kabupaten Bangkalan dan sebelah selatan berbatasan dengan Selat

Madura. Luas wilayah Kabupaten Sampang 1.233 Km2 yang terbagi menjadi

dua belas kecamatan dengan Sampang sebagai ibukota dari Kabupaten

Sampang. Padi merupakan komoditi unggulan disektor pertanian Kabupaten

Sampang. Komoditi pertanian lain yang sedang dikembangkan berupa bentul

(sejenis talas), jambu air putih, dan jambu mete.

Dilaut sampang banyak menghasilkan ikan, terutama di daerah selatan seperti

Pulau Mandangin. Terdapat 28 jenis hasil laut, salah satunya adalah ikan

kembung dan lemuru yang merupakan unggulan dari sampang. Sementara dari

tambak, dihasilkan ikan bandeng dan udang windu. Diluar padi, perikanan dan

tambak salah satu hasil dari Sampang adalah garam. Dari 4.900 hektar, sekitar

3.000 hektar hamparan lahan tambak produktif mampu menghasilkan 60 sampai

65 ton garam per tahun.

Kabupaten Sampang terdiri dari 14 kecamatan (DDA 2005

(56)

luas wilayahnya mencapai 1233,30 km2. Wilayahnya juga mencakup juga

Pulau Kambing, yang berada di selatan Pulau Madura. Masakan khas kota ini

adalah kaldu. Selain itu makanan khasnya adalah nasi jagung, dan Jumlah

penduduk berdasarkan BPS Kabupaten Sampang pada tahun 2005 sejumlah

794.914 jiwa.

4.1.4. Kondisi Umum Kabupaten Sumenep

Kabupaten Sumenep adalah salah satu kabupaten di wilayah Propinsi

Jawa Timur dan berada di ujung timur Pulau Madura. Dalam catatan sejarah

Kabupaten Sumenep di berbagai naskah kuno, nama Sumenep lebih dikenal

dengan sebutan “songeneb” yang secara secara etimologis mempunyai

pengertian (1) lembah bekas endapan yang tenang, (2) lembah endapan yang

sejuk dan rindang, dan atau (3) cekungan atau lembah tenang atau pelabuhan

yang tenang.

Kabupaten Sumenep mempunyai banyak pulau kecil berbentuk gugusan

pulau. Dari keseluruhan 25 kecamatan, 9 diantaranya merupakan kecamatan

yang memiliki pulau, 48 pulau diantaranya telah berpenghuni, sedangkan

sisanya (78 pulau) belum berpenghuni dan atau tidak layak huni. Dengan

demikian jumlah pulau di kabupaten ini sekitar 126 pulau. Berdasarkan gugusan

pulau-pulau di Kabupten Sumenep, pulau terjauh yang berada di wilayah paling

utara adalah Pulau Keramaian (Kecamatan Masalembu) yang berjarak ±151 mil

(57)

wilayah paling timur adalah Pulau Sekala (Kecamatan Arjasa) yang berjarak

±165 mil dari Pelabuhan Kalianget. Informasi ini mengindikasikan bahwa

Kabupaten Sumenep dapat disebut dengan daerah kabupaten kepulauan dengan

salah satu karakteristik yang menonjol adalah orientasi dan struktur

perekonomian sebagian penduduknya tidak jauh dari sektor kelautan dan

perikanan, terutama di daerah kepulauan.

Kabupaten Sumenep yang berbatasan langsung dengan Kabupaten

Pamekasan merupakan daerah maritim yang memiliki 126 pulau dengan luas

wilayah daratan 1.146,93 km2 (54,79%) dan wilayah kepulauan 946,53 km2

(45,21%). bagian daratan memiliki 18 kecamatan, bagian kepulauan memiliki 9.

Berdasarkan estimasi produksi dari luas perairan laut tersebut mampu

menghasilkan ikan pertahun sebesar = 50.000 Km2 x 4,58 ton = 229.000 ton

pertahun. Sedangkan menurut estimasi potensi sumber lestari dihitung 60% dari

jumlah potensi yang ada atau sebesar 60% x 229.000 ton = 137.400 ton.

Sementara ini produksi perikanan yang dicapai Kabupaten Sumenep pada tahun

2005 baru mancapai 35.188,12 ton per tahun atau baru 25,61 % dari potnsi

lestari. Berarti potensi perikanan yang masih belum tergali sebesar 102.211,88

ton per tahun atau 74,39% dari potensi lestari. Produksi tahun 2005 mengalami

penurunan sebesar 9.353,81 ton atau 6,81% dibandingkan dengan produksi

tahun 2004 sebesar 44.541,93 ton (Sumber : Profil dan Potensi Kab. Sumenep

(58)

Kabupaten Sumenep terletak diantara 113o32’54” BT – 116o16’48” BT

dan diantara 4o55’ LS - 7o24’ LS dengan batas-batas sebagai berikut :

∼ Sebelah Utara : Laut Jawa

∼ Sebelah Timur : Laut Jawa / Laut Flores

∼ Sebelah Selatan : Selat Madura

∼ Sebelah Barat : Kabupaten Pamekasan

Secara geografis wilayah Kabupaten Sumenep terbagi atas dua yaitu :

∼ Bagian Daratan dengan luas 1.146,93 Km2 (54,79%) yang terbagi atas tujuh

belas Kecamatan dan satu pulau di Kecamatan Dungkek.

Bagian Kepulauan dengan luas 946,53 Km2 (45,21%) yang meliputi 126

buah pulau, 48 pulau berpenghuni dan 78 pulau tidak berpenghuni, 104 buah

pulau bernama dan 22 buah pulau tanpa nama.

4.1.5. Kondisi Umum Kabupaten Pamekasan

Secara geografis Kabupaten Pamekasan yang merupakan bagian dari

wilayah Propinsi Jawa Timur terletak di sebelah timur Pulau Jawa pada salah

satu Kabupaten kawasan Pulau Madura memiliki luas 792,30 Km2, tepatnya

pada koordinat 6o51' - 7o31' LS (Lintang Selatan) dan 113o19' - 113o58 BT'

(Bujur Timur). Secara administrasi, Kabupaten Pamekasan terletak di :

• Sebelah selatan berbatasan selat Madura

(59)

• Sebelah utara berbatasan laut Jawa, dan

• Sebelah barat berbatasan Kabupaten Sampang

Kabupaten Pamekasan secara Demografis memiliki penduduk 695.505

jiwa. Dengan kepadatan penduduk per Km2 cukup bervariatif. Secara

Administratif Kabupaten Pamekasan terdiri dari 13 Kecamatan dan 189

Desa/Kelurahan. Sehingga Keberhasilan pembangunan tidak bisa dilepaskan

dari permasalahan kependudukan mengingat penduduk merupakan subyek

maupun obyek pembangunan itu sendiri. Guna mendukung tercapainya

hasil-hasil pembangunan yang optimal, data kependudukan merupakan hal yang

mutlak diperlukan meliputi jumlah, laju pertumbuhan penduduk, komposisi

penduduk, penyebaran penduduk serta hal-hal terkait lain.

Secara struktur Geologi, wilayah Kabupaten Pamekasan mempunyai

sumber daya alam yang tak ternilai dengan bahan tambang terdiri dari Holosen

Alluvium, Pliosen Limestone Facies, Miosen Sendimentary Facies, Cleiston

Clay Sedementary.

4.2. Deskr ipsi Hasil Penelitian

4.2.1. Per kembangan Produk Domestik Regional Br uto Sektoral Pr opinsi J awa

Timur .

Produk Domestik Regional Bruto di Provinsi Jawa Timur setiap tahun

mengalami peningkatan hal ini disebabkan pemerintah Pemprov Jatim telah

(60)

terutama di SWP II Jatim yang meliputu Kabupaten Sampang, Sumenep, dan

Pamekasan , maka dapat lebih mudah untuk mengkoordinasi perencanaan –

perencanaan pembangunan. Untuk dapat melihat besarnya Pertumbuhan

Produk Domestik Regional Bruto di Provinsi Jawa Timur dari tahun ke tahun

dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1: Pr oduk Domestik Regional Br uto di Pr ovinsi J awa Timur tahun 2006 – 2008 (dalam J uta Rupiah )

Tahun Pr oduk Domestik Regional Br uto Per kembangan (% )

2006

Sumber : Badan Pusat Statistik (diolah)

Dari tabel diatas dapat dilihat Produk Domestik Regional Bruto Jawa

Timur dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2006 Produk

Domestik Regional Bruto Jawa Timur sebesar Rp 273.249.316,7 juta

sedangkan Produk Domestik Regional Bruto Jawa Timur tahun 2007 naik

menjadi Rp 287.796.183,9 juta meningkat sebesar 6,10 %. Sedangkan untuk

Produk Domestik Regional Bruto Jawa Timur tahun 2008 mengalami

peningkatan sebesar Rp. 304.798.966,4 juta, yang mengalami perkembangan

sebesar 5,90 % dari tahun 2007, sedangkan perkembangan tertinggi terjadi pada

Gambar

Tabel 1: Produk Domestik Regional Bruto di Provinsi Jawa Timur tahun 2006 –   2008 (dalam Juta Rupiah )
Tabel 2 : Produk Domestik Regioanl Bruto Sampang Atas Dasar Harga Konstan
Tabel 3 :  Produk Domestik Regioanl Bruto Kabupaten Sumenep Atas Dasar
Tabel 4 :  Produk Domestik Regioanl Bruto Kabupaten Pamekasan Atas Dasar
+3

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Disparitas Pembangunan Ekonomi Wilayah terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) IV Propinsi Jawa Timur; Angeline Marzella, 110810101039; 2015;

4) Pendapatan nasional (PN) atau National Income (NI) adalah ukuran dari nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu Negara dalam kurun waktu tertentu yang biasanya satu

Arti dari pernyataan tersebut adalah pembangunan ekonomi dalam suatu negara pada suatu tahun tertentu tidak hanya diukur dari kenaikan produksi barang dan jasa yang berlaku

Hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa derajat desentralisasi fiscal di Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) IV Jawa Timur masih sangat rendah yaitu dibawah 25% dan

Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu keadaan dimana terdapat peningkatan pendapatan domestik bruto (PDB) dari suatu negara pada kurun waktu tertentu. Pembangunan ekonomi

produk nasional bruto atau Gross National Product (gnp) adalah seluruh produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara dalam kurun waktu satu tahun termasuk

jumlah pendapatan yang didapat dari hasil penjualan suatu barang atau jasa dalam. kurun

Oleh karena dalam rangka pemerataan pembangunan, untuk mengurangi ketimpangan dan mengembangkan pembangunan wilayah berdasarkan potensi masing-masing maka pengembangan