Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Makna Tradisi Lamporan Bagi Masyarakat Desa Kunden di Kabupaten Blora T1 152009023 BAB IV

Teks penuh

(1)

31 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Desa Kunden di Kabupaten Blora

1. Letak Geografik

Desa Kunden adalah suatu kelurahan yang berada dekat dengan kota Blora. Letak yang strategis dekat dengan alun-alun Blora, pasar, masjid, dan rumah Bupati, membuat Desa Kunden semakin ramai oleh lalu-lalang kendaraan seperti halnya angkotan umum dan ojek yang setiap harinya beroperasi. Transportasi menuju Desa Kunden sangat lancar, karena berbagai trasnportasi dalam berbagai jenis dapat diakses.

Ada pun desa-desa yang berbatasan dengan desa Kunden, antara lain yaitu:

Arah Desa

Utara Desa Temurejo

Selatan Kelurahan Mlangsen/ Jetis Barat Kelurahan Kauman

Timur Kelurahan Tempelan

(2)

32 Luas seluruh tanah yang ada di desa Kunden adalah 130. 03 hektar , yaitu:

a. 42, 24 hektar merupakan lahan persawahan. b. 18, 08 hektar merupakan tegalan.

c. 41, 03 hektar merupakan lahan pemukiman. d. 18, 40 hektar lain-lain

2. Kependudukan

Berdasarkan letak geografisnya Desa Kunden memiliki luas daerah 130,03 HA, jumlah penduduk 3098 jiwa, terdiri dari 1516 laki-laki dan 1582 perempuan, yang memiliki ketinggian dari permukaan laut sekitar 30/ 250 M. Berikut keterangan desa menurut kelompok umur:

Tabel 1 Jumlah Penduduk

No Usia Penduduk Jumlah

1 00 – 03 thn 107

2 04 – 06 thn 217

3 07 – 09 thn 621

4 010 – 12 thn 146

5 13 – 15 thn 135

6 16 – 19 thn 1791

(3)

33 Tabel II

Taraf Pendidikan

No Sekolah Jumlah

1 TK -

2 SD 312

3 SMP/ SLTP 163

4 SMA/ SLTA 1572

5 Akademi/ D1 – D3 104

6 Sarjana/ S1 – S3 47

7 Pondok Pesantren -

8 Madrasah -

9 Penduduk Agama 8

10 Sekolah Luar Biasa - 11 Kursus Ketrampilan 13

Lembaga Pendidikan di Desa Kunden terdapat 2 SD/MI, 1 SLTP/MTS dan 2 SLTA/MAN namun untuk pendidikan TK di Desa Kunden tidak tersedia, sehingga untuk pendidikan TK warga Kunden harus pergi keluar desa misalnya Desa Karang Jati, Jetis dan sebagainya untuk menyekolahkan putra-putrinya.

(4)

34 Tabel III

Mata Pencaharian

No Jenis Pekerjaan Jumlah

1 Petani 1271

2 Buruh tani 62

3 Buruh industri -

4 Buruh bangunan 30

5 Pedagang 24

6 PNS 379

7 ABRI 11

8 POLRI 10

9 Pensiunan 217

10 Merantau 8

11 Lain-lain -

B. Penyelenggaran dan Pelaksanaan

1. Latar Belakang Penyelenggaraan Upacara Lamporan

Pengertian masyarakat secara umum tentang lampor merupakan suara makhluk halus yang berarak atau sebagai weweden. (Mangunsuwito, S.A. 2002: 130). Namun berbeda dengan Desa Kunden. Lamporan sendiri berasal dari kata obor/ oncor yang berasal dari kalangan petani dan peternak di Desa Kunden. Dengan tradisi ini masyarakat memercayainya sebagai tradisi tolak

(5)

35 gangguan bagi para petani dan peternak waktu itu. Pencetus diadakannya tradisi Lamporan ini adalah Ibu Manik yang merupakan anak dari doro Sumo yang merupakan tokoh masyarakat.

Awalnya Ibu Manik memiliki firasat pada bulan Suro, bahwa Nyi Roro Kidul akan mengeluarkan setannya untuk mengganggu petani, dan ini akan mempengaruhi kehidupan dan kesejahteraan masyarakat khususnya di Desa Kunden. Kekuatiran masyarakat terhadap gangguan roh-roh jahat membuat masyarakat rutin mengadakan tradisi ini setiap tahunnya, terlebih kepercayaan masyarakat bahwa Dewi Sri telah dianggap sebagai Dewi Kesuburan yang dapat menolong masyarakat dari masa-masa pageblug dengan melalui tradisi ini. Dalam masyarakat Jawa agraris (petani) Dewi Sri digambarkan sebagai simbol Dewi Kesuburan. Konsep perempuan sebagai simbol kesuburan berkaitan erat dengan masalah produksi dan reproduksi (Gatot Saksono, Djoko Dwiyanto, 2012: 80), sehingga menjadikan tradisi ini menjadi budaya tradisional yang tetap dilestarikan hingga sekarang.

Perlengkapan atau perabotan upacara Lamporan adalah: a. Peralatan

1) Lampu petromak

Berfungsi sebagai penambah penerangan jalan, hal ini karena rute kirap mengeliling Desa Kunden juga melewati persawahan yang gelap dan jauh dari pemukiman desa.

2) Obor/ oncor

(6)

36 difungsikan sebagai bagaian dari ritual. Obor sendiri merupakan lambang cahaya petunjuk kearah kehidupan yang lebih baik. 3) Pecut/ cemeti

Pecut/ cemeti sebagai senjata yang digunakan masyarakat untuk mengusir roh-roh jahat yang mengganggu. Biasanya pecut ini digunakan untuk menggembala sapi sebagai pengendali langkah yang benar, yang dipukul atau disabetkan disepanjang jalan maksudnya agar sengkolo yang ada di Desa Kunden hilang atau menyingkir.

4) Barongan

Barong disini sebagai pengawal dari obor dan pecut untuk menakut-nakuti roh jahat yang ingin datang mengganggu. Hal ini karena rupa barongan yang menyeramkan menyerupai singa/ gendruwon atau sejenis mahkluk halus dipercayai oleh

masyarakat dapat menaku-nakuti setan atau roh-roh jahat. 5) Gamelan

Gamelan berfungsi sebagai musik pengiring pada saat kirap, terutama pada saat atraksi di depan rumah Dinas Bupati Blora. Cara membawanya pun dengan menggunakan sebatang kayu yang dibebankan pada bahu atau pundak yang dibawa oleh dua orang dengan posisi depan belakang.

b. Waktu Pelaksanaan

(7)

37 oleh masyarakat dilaksanakan pada setiap bulan Suro hari Kamis Wage, malam Jum’at Legi, yang jatuh pada bulan November,

tanggal 22-11-2012 berdasarkan penggalan Jawa. Masyarakat beranggapan bahwa hari itu dianggap pas untuk mengadakan ritual. Hal ini karena malam Jam’at Legi merupakan malam yang sakral

dan cocok untuk melakukan ritual tolak bala. Terlebih suasana malam Jum’at terasa berbeda dari malam yang lain. Masyarakat

mempercayai bahwa malam Jum’at biasanya waktu dimana roh-roh

jahat datang untuk mengganggu. Dari anggapan tersebut masyarakat semakin percaya bahwa dengan pelaksanaan tradisi Lamporan ini dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti gangguan roh-roh jahat atau masa pageblug.

Pananggalan Jawa disebut juga kalender Jawa. Kalender adalah penanggalan yang memuat nama-nama bulan, hari, tanggal dan hari-hari keagamaan seperti terdapat pada kalender Masehi. Kalender Jawa mempunyai arti dan fungsi tidak hanya berbagai petunjuk hari, tanggal dan hari libur atau hari keagamaan, tetapi menjadi dasar dan ada hubungannya dengan apa yang disebut Petangan Jazui, yaitu perhitungna baik buruk yang dilukiskan dalam lambang dan watak sesuatu hari, tanggal, bulan, tahun, pranata wangsa, wuku dan lain-lainnya.

(8)

38 sabtu. Nama-nama itu dipakai sejak pergantian kalender Jawa asli

atau kalender saka, menjadi kalender Jawa Sultan Agung yang nama ilmiahnya Anno Jawaneco. Pergantian kalender itu mulai 1 Suro tahun Alip 1555 yang jatuh pada 1 Muharam 1042, sama dengan kalender Masehi 8 Juli 1633. Kalender itu merupakan bukti akulturasi agama Islam dan kebudayaan Jawa yang luar biasa. (Suwardi Endraswara, 2005: 151-154).

c. Tempat Upacara

Upacara tersebut dilaksanakan di Balai Desa Kunden. Hal ini dikarenakan tempat tersebut cukup luas dan nyaman untuk ditempati oleh masyarakat guna melaksanakan tradisi Lamporan setiap tahunnya.

d. Rute Kirap

Seusai shalat Mahgrib, masyarakat yang sudah berkumpul untuk mengikuti acara tahunan ini mulai di jalan RA. Kartini (Balai Desa Kunden) yang dipimpin oleh ketua panitia. Kirap budaya ini diawali dengan pengaturan barisan yang sudah ditentukan panitia sebelum memulai kirap keliling desa Kunden.

(9)

39 finis para peserta kirap singgah sejenak di depan kediaman rumah dinas Bupati untuk menunjukkan atraksi dari Barongan Guntur Seto.

Waktu hampir tengah malam tidak membuat animo masyarakat baik dari dalam maupun luar desa yang ingin melihat tradisi ini berlangsung mengendur, justru masyarakat sangat antusias sekali, hal ini terbukti dengan begitu banyaknya penonton yang memenuhi halaman rumah dinas Bupati Blora tersebut. Usai pertunjukan para peserta kirab melanjutkan perjalannannya menuju Balai Desa Kunden sebagai akhir dari rute kirab budaya Lamporan. e. Sesaji

Sesaji merupakan penghubung antara roh-roh nenek moyang dengan manusia. Karena dengan sesaji para leluhur dapat mengabulkan doa-doa dan harapan yang diinginkan manusia. Sesaji juga merupakan persembahan masyarakat Kunden terhadap kepada leluhur.

(10)

40 lauk dalam tumpeng mampu menggambarkan perjalanan hidup manusia dari ada menjadi tiada, yakni:

1) Telur: melambangkan (benih) terjadinya manusia,

2) Bumbu megang (gudangan): merupakan cikal bakal (embrio) manusia,

3) Cambah: benih atau cikal bakal manusia

4) Kacang panjang: dimaksudkan dapat berumur panjang 5) Brambang: tindakan penuh pertimbangan

6) Kangkung: manusia semacam itu tergolong manusia linangkung (tingkat tinggi)

7) Bayem: hidupnya tentram

8) Lombok abang: melambangkan keberanian

9) Ingkung: tingkah laku manusia dibatasi dengan norma yang berlaku dalam masyarakat

Pelaksanaan tradisi Lamporan juga mengunakan sesaji atau tumpeng yang dibawa warga ke balai Desa Kunden untuk didoakan dan dimakan bersama-sama warga yang hadir dan yang mengikuti prosesi Lamporan dari awal. Sesaji atau tumpeng dimaknai masyarakat sebagai hasil berkah dari wujud kepercayaan masyarakat terhadap Dewi Sri yang telah melindungi pertanian dan peternakan para warga Kunden.

(11)

41 disajikan. Umumnya dalam ritual tradisi sesaji atau tumpeng menggunakan ingkung atau ayam bakar, namun berbeda dengan tradisi Lamporan. Upacara tradisi Lamporan yang terpenting adalah ritual tolak bala. Ritual tolak bala ini dilakukan pada sesi kirab buyadanya.

Prosesi makan Sesaji atau tumpeng dilakukan setelah kirap budaya Lamporan. Warga yang mengikuti pelaksanaan Lamporan sangat antusias untuk mengikuti acara makan sesaji atau tumpeng bersama dengan warga yang lain. Moden membaca doa agar apa yang dilakukan dalam pelaksanaan tradisi Lamporan ini dapat menjadi berkah dan keselamatan bagi para warga Kunden. Usai sesi doa, warga langsung memilih dan memakan sesaji atau tumpeng yang disukai. Suasana kebersamaan makan bersama semakin menambah kenikmatan warga.

(12)

42 sebagai suatu pemberian, sedekah merupakan alat untuk berkomunikasi secara simbolik dengan makhluk-makhluk halus di dunia gaib.

Selametan adalah upacara sedekah makanan dan doa bersama yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan ketentraman. (Purwadi, 2005: 22). Selametan dimaksudkan untuk memuaskan roh-roh (setempat) bagi, terutama, penduduk desa yang mayoritas adalah petani. Roh-roh yang terpuaskan tidak akan mengganggu ketentraman atau agar tidak menimbulkan apa-apa. Para santri tentu saja tidak mempercayai hal ini, tetapi juga tidak menolaknya. Ia tidak menolak karena dalam selametan tidak hanya menggunakan aspek mistis, tetapi juga satuan sosial para pesertanya. Peserta selametan tidak terikat pada kepercayaan agamiah tertentu. Semua tetangga dekat, apa pun agama dan kepercayaannya, diundang. (Sukarno, Gatot, Djoko Dwiyanto, 2012: 93-95).

2. Pelaksanaan Upacara Tradisi Lamporan

(13)

43 Gangguan makhluk gaib atau lelembut ini akan hilang seiring dengan tradisi Lamporan dilaksanakan oleh warga setempat.

a. Tahap persiapan Lamporan

Adapun persiapan yang dilakukan dalam tradisi Lamporan yaitu: 1) Musyawarah Untuk Mufakat

Dalam proses ini, masyarakat bersama-sama bertemu untuk membicarakan/ musyawarah pembentukan panitia beserta perangkat desa sehubung dengan pengadaan tradisi yang akan dilakukan tahun ini. Dalam keputusan musyawarah telah diperoleh keputusan bersama dalam pemilihan ketua panitia untuk memimpin jalannya upacara tradisi Lamporan tersebut beserta anggota-anggota jajarannya.

2) Gotong- royong

Kerja sama dan saling melengkapi menjadi pokok dalam suatu ritual tradisi. Khususnya dalam masyarakat desa gotong-royong masih dianggap perlu dan penting untuk saling menolong dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan.

(14)

44 juga mempersiapkan panggung hiburan dari atraksi barongan Sekar Joyo bersama dengan jasa sewa panggung. Lampu sebagai penerang juga dipasang secara rapi agar pencahayaan dalam tradisi berjalan secara maksimal dan lancar.

b. Tahap pelaksanaan

Tradisi merupakan suatu warisan budaya lokal yang selalu diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Hal ini nampak pada masyarakat di Desa Kunden yang selalu rutin melakukan tradisi upacara Lamporan pada setiap bulan Suro. Tradisi ini yang telah diadakan pada tangal 22 November 2012 tepatnya pada hari Kamis Legi, malam Jum’at Pahing.

Penyambutan tradisi Lamporan ini diwarnai animo masyarakat yang positif. Terlebih pada anak-anak yang sering kali turut memeriahkan tradisi tersebut hingga tengah malam, namun tak luput dari pantauan orang tua yang juga turun ikut menyaksikan walaupun dari kejauhan. Pada umumnya peserta Lamporan biasanya banyak diikuti oleh penggembala ternak

(cah anggon) karena pengembala ini dianggap mempunyai

(15)

45 Dalam pelaksanaan tradisi Lamporan, masyarakat sangat antusias sekali untuk ikut dalam prosesnya secara langsung. Mulai dari berkumpul diarea depan kelurahan sambil membawa obor ataupun pecut yang telah disediakan oleh panitia sebelum dilanjutkan berkeliling di Desa Kunden bersama warga yang lain.

Prosesi tradisi ini dianggap sebagai ritual tolak bala pengusiran roh-roh jahat yang datang mengganggu. Khususnya untuk para petani yang khawatir akan adanya wabah penyakit seperti hama dan musim yang tidak mendukung dalam proses pertanian. Hal ini membuat masyarakat percaya dengan pelaksanaan tradisi upacara Lamporan ini membuat pertanian aman dari gangguan dan hasil panen memuaskan, selain itu juga meningkatkan perekonomian dan kemakmuran masyarakat di Desa Kunden.

(16)

46 tersedia cukup banyak, hal ini semakin membuat masyarakat tergiur untuk mengikuti acara tradisi upacara Lamporan ini agar dapat menikmati hidangan/ tumpeng yang sudah disediakan warga.

Pelaksanaan tradisi upacara Lamporan dimulai seusai Shalat Mahgrib sekitar pukul 06.30. Masyarakat Kunden beranggapan bahwa waktu tersebut diangap keluarnya gangguan, baik dari roh halus maupun yang bisa dilihat manusia (hama) yang akan mengganggu manusia dalam pertanian. Persiapan diawali dengan mengumpulkan tumpeng di Balai Desa Kunden selajutnya barulah panitia memulai acaranya.

Pembawa acara mengumumkan urut-urutan barisan pada saat akan melakukan kirap budaya atau keliling di kelurahan Kunden. Pertama yaitu dua orang yang membawa lampu petromak maksudnya untuk penerangan jalan, hal ini karena rute kirap budaya atau keliling Desa Kunden melewati area persawahan yang jauh dari pemukiman penduduk, selanjutnya barisan sepanduk yang bertuliskan “Kirap Budaya Lamporan Assyuro’ 1434 H Kelurahan Kunden”. Berikutnya adalah dua

(17)

47 dalam kirap budaya Lamporan tersebut, maksudnya untuk mengusiran roh-roh jahat yang hendak masuk untuk mengganggu akan dihalau oleh sosok barongan tersebut. Dengan doa-doa khusus yang dipanjatkan sewaktu kirap budaya Lamporan dimulai dengan harapan agar tradisi ini berjalan

lancar dan terhindar dari segala macam gangguan roh-roh jahat. Berikutnya adalah barisan pecut dan obor. Jumlah obor dan pecut yang dibawa dalam kirap budaya Lamporan ini ditentukan masing-masing sejumlah 40 buah. Angka 40 buah terkait filisofi siklus kelahiran manusia. Ibaratnya berasal dari selama proses membentukan darah dalam 40 hari pertama, fase berikutnya menjadi segumpal daging di 40 hari berikutnya, sampai fase dimana bakal janin mendapatkan roh di 40 hari berikutnya.

Obor merupakan lambang cahaya petunjuk ke arah

(18)

48 Barongan Ungkoro Jati menjadi yang terakhir dalam barisan. Usai penataan barisan, acara kirap Lamporan siap dimulai.

Kirap mulai di jalan RA. Kartini (Balai Desa Kunden), Jln. Gunung Wilis. Jln. Agil Kusumodyo II (lewat sawah), Jln. Mustika Raya/ Perumda, Jln. Sonorejo, Jln. Taman Makam Pahlawan, Jln. Tentara Pelajar, Jln. Alun-alun Utara (atraksi di depan Rumah Dinas Bupati), Jln. RA. Kartini, Jln. Abu Umar, Jln. Agil Kusumodyo, Jln. Gunung welis, Jln. RA. Kartini (finis depan Balai Desa Kunden).

Usai kirap masyarakat yang kelelahan setelah menempuh jarak yang kurang lebih 3 Km itu sangat antusias mengikuti acara selanjutnya yaitu makan tumpeng bersama di Balai Desa Kunden. Banyaknya orang yang tak sabar menunggu baik dari anak-anak maupun orang dewasa untuk segera menikmati makan tumpeng yang sudah tersedia.

Di Balai Desa Kunden masyarakat berkumpul dengan tertib mendengarkan doa yang dibacakan oleh Moden selaku pembaca doa. Usai moden menbacakan doa, langsung saja semua orang yang berkumpul di Balai Desa Kunden berkerumunan untuk memakan tumpeng dan memilih-milih hidangan yang disukai. Tidak ada rasa malu atau pun canggung, yang ada hanya rasa kebersamaan diantara para masyarakat yang ikut mengikutinya.

(19)

49 1) Sambutan Ketua Panitia

Sambutan dari ketua panita yang intinya mengucapkan terimakasih atas segelap kinerja panitia yang sudah bekerja keras dalam penyelenggakan tradisi Lamporan tersebut dan masyarakat yang terlibat serta tamu undangan yang datang untuk turut memeriahkan acara.

2) Sambutan oleh Kepala Desa

Pembukaan dilakukan oleh Kepala Desa yang berterimakasih kepada panitia penyelenggara beserta tamu undangan yang datang dan seluruh warga masyarakat yang hadir. Dan berharap ditahun-tahun berikutnya tradisi Lamporan terus dilaksanakan dari generasi-kegenerasi.

3) Kirap Lamporan Berkeliling Desa

Dalam kirap ini merupakan acara inti dari tradisi Lamporan, para masyarakat pun yang telah mempersiapkan diri dengan peralatan sudah siap berbaris untuk mengadakan kirap keliling Desa Kunden. Yang diawali dan akhiri di Balai Desa Kunden. Namun sebelum finis, masyarakat berhenti sejenak di depan rumah Dinas Bupati Blora untuk melaksanakan pertunjukan barongan Risang Guntur Seto yang ditabuhi gamelan. Pertunjukan ini pun banyak disaksikan warga dari beberapa daerah, untuk melihat atraksi barongan sebagai wujud pelestarian budaya.

(20)

50 Sambutan yang diberikan intinya sangat berteimakasih atas semua yang terlibat dalam tradisi Lamporan ini. Terutam pada masyarakat yang masih melakukan tradisi Lamporan secara turun-temurun dan menjadikan tradisi Lamporan menjadi budaya lokal kota Blora.

5) Pembacaan Doa oleh Moden

Pembaca doa memiliki tugas yang sangat penting, hal ini karena dalam doa yang dibacakan berisikan permohonan dan permintaan yang mulia agar lahan pertanian terhindar dari hama dan wabah penyakit atau pageblug (sulit sandang pangan). Sehingga kehidupan perekonomian di Desa Kunden berjalan dengan baik dan kesejahteraan masyarakat terjamin dengan hasil panen yang melimpah. Pembacaan doa dipimpin oleh moden dengan bahasa Arab yaitu surat Al Fatihah, Doa Sapu Jagad dan Doa Selamat. 6) Istirahat/ makan bersama

Usai doa bersama masyarakat yang turut mengikuti kirap sangat bersemangat menikmati tumpeng yang telah disiapkan oleh masing-masing RT tersebut. Usai makan dan istirahat acara dilanjutkan dengan hiburan kesenian Barongan Sekar Joyo.

7) Hiburan

(21)

51 dapat melestarikan budaya kesenian asli Kunden dan menjadikan kesenian barong menjadi ciri khas kota Blora.

C. Makna Tradisi Lamporan

1. Makna Tradisi Lamporan dalam bidang religi/ agama

Masyarakat kuno atau masyarakat Jawa pada dasarnya merupakan orang yang percaya akan roh-roh nenek moyang. Hal ini juga dipercayai oleh masyarakat Kunden.

Makna adalah arti atau maksud dari sesuatu kata. (Poerwadarminta, W. J. S. 1976: 624). Pada hakekatnya unsur kebudayaan yang disebut religi adalah amat komplek, dan berkembang atas berbagai tempat di dunia. Semua manusia tahu bahwa akan adanya suatu alam dunia yang tak nampak, yang ada di luar batas pancaindranya dan diluar batas akal. Dunia supranatural menurut kepercayaan manusia adalah dunia gaib yang memiliki kekuatan yang sehingga ditakuti manusia. (Koentjaraningrat, 1977: 228-229).

(22)

52 Masyarakat Kunden sendiri mayoritas beragam Islam, dalam pelaksanaan tradisi masyarakat tidak membeda-bedakan satu dengan yang lannya. Justru dengan pelaksanaan tradisi ini masyarakat memanfaatkannya untuk silahturahmi antar warga guna menjaga hubungan antar tetangga.

2. Makna Tradisi Lamporan dalam bidang sosial

Desa Kunden merupakan masyarakat yang cukup padat penduduknya. Setiap tahunnya banyak penduduk yang datang dan pergi, sehingga banyak warga yang tidak saling mengenal satu dengan yang lain. Kependudukan yang semakin meningkat membuat masyarakat menjadi sulit membedakan mana yang warga asli ataupun pendatang.

Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial yang hidup di dalam lingkungan alam. Dalam kaitannya dengan pembicaran tentang kebudayaan manusia dipandang sebagai makhluk sosial. (Suwaji Bostami, 1992: 4). Maka dengan pelaksanaan tradisi Lamporan dapat membuat masyarakat yang tadinya tidak saling mengenal menjadi tahu satu sama lain. Mengenal dan berkumpul dalam tradisi Lamporan ini menambah nilai kerukunan dan solidaritas dalam masyarakat sebagai wujud makhluk sosial.

Tradisi Lamporan membuktikan bahwa selain untuk tujuan tolak bala juga sebagai pemersatu kekerabatan antar warga untuk menjalin

(23)

53 dalam pelaksanakan tradisi Lamporan ini, karena dalam tradisi ini persaudaraan antar masyarakat terjalin dengan sangat baik.

3. Makna Tradisi Lamporan dalam bidang ekonomi

Tradisi Laporan setiap tahun rutin diadakan dan dimanfaatkan masyarakat Kunden sebagai bentuk tolak bala. Ritual tradisi Lamporan bertujuan agar roh-roh jahat tidak akan datang menggangu dan mata pencaharian masyarakat akan stabil. Hal ini karena mata pencaharian masyarakat sebagian besar warga Kunden adalah petani. Para petani di masyarakat Kunden sangat berharap dengan adanya tradisi Lamporan ini pertanian akan subur dan hasil panen melimpah dan terhindar dari pageblug.

Dalam artikelnya yang berjudul The Dynamics of Religious Economies, Roger Finke dan Rodney Stark menjelaskan bahwa frase

ekonomi religius tersebut berarti suatu subsistem yang mengandung seluruh aktivitas religius yang berlangsung dalam masyarakat apapun, sekumpulan

dari satu atau lebih organisasi yang mencoba untuk menarik atau

mempertahankan pengikut-pengikut, dan kultur religius yang ditawarkan

oleh organisasi. (http://muhammadsaingblog.blogspot.com/2011/10/teori-ekonomi-religius-rodney-stark-dan.html).

Kepercayaan masyarakat terhadap Dewi Sri sebagai yang digambarkan sebagai simbol Dewi Kesuburan, membuat tradisi Lamporan semakin diminati sebagai ritual tolak bala untuk pengusiran

(24)

54 menjadi tenang karena terhindar dari segala gangguan roh-roh jahat baik yang tidak nampak ataupun yang nampak yang berupa hama pertanian.

Harapan masyarakat dalam pelaksanaan tradisi Lamporan sangat besar, hal ini nampak pada animo masyarakat yang datang untuk mengikutinya secara langsung. Besarya harapan masyarakat akan hasil panen yang melimpah terhadap pelaksanaan tradisi Lamporan membuat ritual tradisi ini menjadi semakin hikmat dan sakral. Dengan demikian adanya tradisi Lamporan, khususnya bagi masyarakat Desa Kunden mempunyai peranan yang besar dalam menunjang perekonomian.

4. Makna tradisi Lamporan dalam bidang pendidikan

Pelaksanaan tradisi Lamporan sendiri banyak menarik perhatian tidak hanya dari Desa Kunden tetapi juga dari luar desa lainnya. Masyarakat yang datang pun dari berbagai kalangan. Tidak hanya dari kalangan orang dewasa atau orang yang sudah bekerja saja, namun tak sedikit juga para pelajar yang datang untuk sekedar menyaksikan saat acara berlangsung.

Begitu banyaknya masyarakat dari berbagai kalangan membuat tradisi Lamporan menjadi semakin dikenal. Hal itu membuat masyarakat terdorong untuk ikut melestarikan budaya lokal yang merupakan ciri khas Desa Kunden di Kabupaten Blora.

(25)

55 dengan belajar. Maka para pelajar yang datang dalam pelaksanaan tradisi Lamporan dapat menjadikan tradisi ini masukan dalam mata pelajaran IPS khususnya sejarah mengenai kebudayaan lokal. Dengan begitu masyarakat dan para pelajar dapat memahami nilai-nilai kerukunan dan solidaritas dalam meningakatkan persatuan antar warga Kunden.

D. Pergeseran Makna

1. Pergeseran dalam bidang religi

(26)

56 Religi/ agama dalam kepercayaan masyarakat Kunden sangat berpengaruh penting dalam kehidupan. Hal ini bukan semata tidak mengahargai warisan leluhur terdahulu dalam pelaksanaan tradisi Lamporan, melainkan pengaruh agama Islam yang kuat bahwa tiada

yang lain selain Allah untuk disembah. 2. Pergeseran dalam bidang perlengkapan

Awal mulanya obor dan pecut dalam pelaksanaan tradisi Lamporan masing-masing berjumlah 40 buah. Seiring dengan

perubahan jaman jumlah Obor dan pecut semakin bertambah, kurang lebih tedapat 100 buah, hal ini karena masyarakat percaya dengan angka 100 yang disimbolkan sebagai kesempurnaan yang dimiliki Tuhan Sang Maha Pencipta, merupakan wujud dari masyarakat yang sudah mengenal agama.

Masyarakat yang mayoritas beragama Islam tidak menghilangkan kesakralan dalam pelaksanaan tradisi Lamporan. Justru dengan tradisi Lamporan menjadikan wujud nyata dalam torelansi beragama. Tradisi Lamporan sendiri membuat kalangan masyarakat menjadi sadar akan pentingnya untuk saling menghargai dan menghormati terhadap sesama manusia.

(27)

57 tidak punah. Maka kesenian barongan diikut sertakan dalam ritual tradisi Lamporan. Keikut sertaan barongan dalam kirap budaya tradisi Lamporan

ini bukan sebagai bentuk dari hiburan, melainkan juga bagaian dari ritual tolak bala, yaitu sebagai pengawal yang dapat menakut-nakuti gendrowon

Figur

Tabel II      Taraf Pendidikan

Tabel II

Taraf Pendidikan p.3

Referensi

Memperbarui...