• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DI SMA NEGERI 1 RANTAU UTARA PADA TAHUN PEMBELAJARAN 2013/2014.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DI SMA NEGERI 1 RANTAU UTARA PADA TAHUN PEMBELAJARAN 2013/2014."

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MODELPEMBELAJARANBERBASISMASALAHDISMA NEGERI 1 RANTAU

UTARAPADATAHUN PEMBELAJARAN2013/2014

Rizka Jamilah*, dan Binari Manurung

Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Medan.Jl.Willem Iskandar Pasar V Medan 20221*Email: [email protected]

ABSTRACT

This studyaims to determine theimprovement oflearning outcomesandstudent learning activitiesusingproblem-based learning model(PBL) in thematterof environmental pollutionin the classXSMANegeri 1Rantau Utara 2013/2014 Academic Year. This research is aclassroom action research. The study populationwas all studentsof SMA Negeri1Rantau Utara student numbersas many as 46people. While thestudy sampleis takenin totalby the number ofstudentsas many as 46people. Based on the analysisof datait is known thatthere isan increase instudent learning outcomes ineachcycle, in which thepretestpercentagegainwas 2.17% of studentsareclassified as verylow, increasedatposttest-1 (cycle I) amounted to28.26% wereclassified aslowandincreased againwhen theposttest-2 (second cycle) amounted to89.13%, which is high. Forthe dataindicatorsof achievementpercentageis known thatin the first cycleof learningobjectivesset outin thesecondindicatorhas not been achieved, whilethe second cycleindicatorsethas been reached. Forstudent learningactivity datathat the level ofstudent learning activitieshas increasedfrom51% (first cycle) to 75% (cycle II).

ABSTRAK

(2)

89,13% yang tergolong tinggi. Untuk data persentase ketercapaian Indikator diketahui bahwa pada siklus I tujuan pembelajaran yang ditetapkan pada kedua indicator belum tercapai, sedangkan pada siklus II indicator yang ditetapkan telah tercapai. Untuk data aktivitas belajar siswa diketahui bahwa tingkat aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan dari 51% (siklus I) menjadi 75% (siklus II).

Kata Kunci : model pembelajaran berbasis masalah, hasil belajar siswa, aktivitas belajar

PENDAHULUAN

Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan pelatihan. Artinya tujuan kegiatan belajar ialah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap, bahkan meliputi segenap aspek pribadi. Kegiatan belajar mengajar seperti mengorganisasi pengalaman belajar, menilai proses dan hasil belajar, termasuk dalam cakupan tanggung jawab guru (Sabri, 2010).

Menurut Hamalik (2008) bila siswa kurang berminat pada pelajaran maka salah satu penyebabnya adalah masalah metode yang digunakan guru mungkin tidak sesuai dengan materi. Jadi masalah metode ini sangat besar pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa. Oleh sebab itu, guru sebagai pendidik harus selalu memilih metode pembelajaran yang tepat, yang dipandang lebih efektif daripada metode-metode lainnya pada kondisi tertentu sehingga kecakapan dan pengetahuan yang diberikan oleh guru itu benar-benar menjadi milik murid. Jika Semakin tepat metodenya diharapkan semakin efektif pula pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Menurut Aqib (2006), sudah lebih dari sepuluh tahun Penelitian Tindakan Kelas (yang biasanya disingkat dengan PTK) dikenal dengan ramai dibicarakan dalam dunia pendidikan. PTK merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk memperbaiki layanan kependidikan yang harus diselenggarakan dalam konteks pembelajaran di kelas dan peningkatan kualitas program sekolah secara keseluruhan. Hal itu dapat dilakukan mengingat tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan. Tujuan ini“melekat”pada diri guru dalam penuaian misi professional kependidikannya.

Proses dari hasil belajar mengajar yang dilaksanakan merupakan upaya untuk mencapai tujuan belajar yang biasa disebut sebagai hasil belajar. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik (Sudjana,2009).

(3)

Gagne membagi lima kategori hasil belajar, yakni (a) informasi verbal, (b) keterampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan (e) keterampilan motoris (Sudjana,2009). Menurut Sardiman (2011) mengapa di dalam belajar diperlukan aktivitas? Sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting di dalam interaksi belajar-mengajar. Sebagai rasionalitasnya hal ini juga mendapatkan pengakuan dari berbagai ahli pendidikan. Montessori juga menegaskan bahwa anak-anak memiliki tenaga-tenaga untuk berkembang sendiri, membentuk sendiri. Pendidik akan berperan sebagai pembimbing dan mengamatai bagaimana perkembangan anak-anak didiknya. Pernyataan Montessori ini memberikan petunjuk bahwa yang lebih banyak melakukan aktivitas di dalam pembentukan diri adalah anak itu sendiri, sedang pendidik memberikan bimbingan dan merencanakan segala kegiatan yang akan diperbuat oleh anak didik.

Dalam hal kegiatan belajar ini, Rousseau memberikan penjelasan bahwa segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri, dengan bekerja sendiri, dengan fasilitas yang diciptakan sendiri, baik secara rohani maupun teknis. Ilustrasi ini diambil dalam kamus lingkup pelajaran Ilmu Bumi. Ini menunjukkan setiap orang yang harus belajar harus aktif sendiri. Itulah sebabnya Helen Parkhust menegaskan bahwa ruang kelas harus diubah/diatur sedemikian rupa menajdi laboratorium pendidikan yang mendorong anak didik bekerja sendiri. J.Dewey sendiri juga menegaskan bahwa sekolah harus dijadikan tempat kerja. Sehubungan dnegan itu, ia menganjurkan pengembangan metode-metode proyek, problem solving, yang merangsang anak didik untuk melakukan kegiatan. Semboyan yang ia populerkanleraning by doing.

Menurut Suprijono (2010) model pembelajaran masalah dikembangkan berdasarkan konsep-konsep yang dicetuskan oleh Jerome Bruner. Konsep tersebut adalah belajar penemuan ataudiscovery learning. Mengenaidiscovery learning, Johnson membedakannya dengan inquiry learning. Dalam discovery learning, ada pengalaman yang disebut “..Ahaa

experince” yang dapat diartikan seperti, ...Nah, ini dia”. Sebaliknya, inquiry tidak selalu sampai pada proses tersebut. Hal ini karena proses akhir discovery learning adalah penemuan, sedangkan inquiry learning proses akhir terletak pada kepuasan kegiatan peneliti.

(4)

berbasis masalah menekankan konsep-konsep dan informasi yang dijabarkan dari disiplin-disiplin akademik.

Menurut Pangeran (2004) dalam jurnal Kolber (2011) di dalam model pembelajaran berbasis masalah yang memerlukan kritis analisis, penelitian mendalam, dan pengembangan solusi. Model pembelajaran berbasis masalah telah berhasil digunakan di berbagai bidang termasuk fisika, kimia, dan biologi (Dahlgren 2003; Pangeran dan Felder 2006). Menariknya meskipun pembelajaran berbasis masalah ini siswa tidak melakukan lebih baik pada ujian dibandingkan dengan siswa kuliah, pembelajaran berbasis masalah yang memiliki retensi jangka panjang materi, memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menerapkan materi, dan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah tambahan.

Keberhasilan model pembelajaran berbasis masalah telah menyebabkan eksperimen dengan model pembelajaran berbasis masalah pada jangka panjang (Wankat, 1993,2002; Palmer 1998) di dalam jurnal Kolber (2011). Model pembelajaran berbasis masalah hanya melibatkan satu masalah yang dikembangkan dari seluruh semester melalui menulis tugas. Menurut Karabulut (2002) di dalam jurnal Sungur dan Semra (2006), model pembelajaran berbasis masalah menciptakan lingkungan di mana siswa aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran, mengambil tanggung jawab untuk pembelajaran mereka sendiri, dan menjadi peserta didik yang lebih baik dalam hal keterampilan manajemen waktu dan kemampuan untuk mengidentifikasi masalah-masalah belajar dan untuk mengakses sumber daya. Perry dan rekan mengusulkan bahwa salah satu karakteristik kelas pembelajaran berbasis masalah memberikan kontribusi untuk pengetahuan mandiri adalah kerjasama antar siswa bekerja di kelompok kecil.

Pembelajaran berbasis masalah merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada (Tan, 2000) di dalam Rusman (2010).

Karakteristrik pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut: a. Permasalahan menjadistarting pointdalam belajar;

b. Permasalahan yang di angkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak terstruktur;

c. Permasalahan membutuhkan perspektif ganda(multiple perspective);

d. Permasalahan, menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar;

e. Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama;

(5)

g. Belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif;

h. Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan maslah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan;

i. Keterbukaan proses dalam PBM meliputi sistesis dan integrasi dari sebuah proses belajar; dan

j. PMB melibatkan evaluasi danreviewpengalaman siswa dan proses belajar.

Berfikir digunakan dalam PBM ketika siswa merencanakan, membuat hipotesis, menggunakan perspektif yang beragam, dan bekerja melalui fakta dan gagasan secara sistematis. Resolusi masalah juga melibatkan analisis logis dan kritis, penggunaan analogi dan berfikir divergen, integrasi kreatif dan sintesis.

Proses PBM dan latihan melibatkan penggunaan otak atau pikiran untuk melakukan hubungan melalui refleksi, artikulasi, dan belajar melihat perbedaan pandangan. Dalam proses PBM, skenario masalah dan urutannya membantu siswa mengembangkan koneksi kognitif. Kemampuan untuk melakukan koneksi intelegen merupakan kunci dari pemecahan masalah dalam dunia nyata. Pelatihan dalam PBM membantu dalam meningkatkan konektivitas, pengumpulan data, elaborasi, dan komunikasi informasi.

Tujuan PBM adalah penguasaan isi belajar dari disiplin heuristic dan pengembangan keterampilan pemecahan masalah. PBM juga berhubungan dengan belajar tentang kehidupan yang lebih luas (lifewide learning), keterampilan memaknai informasi, kolaboratif dan belajar tim, dan keterampilan berfikir reflektif dan evaluatif.

Dengan sebuah ide yang jelas di mana PBM akan dimasukkan dan kaitannya dengan ruang lingkup PBM, kemudian tujuan pembelajaran dikembangkan meliputi pemecahan masalah, kerja tim, pengembangan kemampuan, dan materi belajar yang spesifik pula. Struktur pembelajaran biasanya digunakan dalam sebuah bentuk formulasi seperti berikut:

1. Menemukan Masalah  Analisa Masalah  Penemuan dan Pelaporan Integrasi dan Evaluasi

2. Menemukan Masalah  Inquiry Masalah  Mengangkut Isu Belajar  Penemuan dan Peer TeachingMenyajikan SolusiReview

3. Menemukan Masalah  Analisis Penelitian & Kerja Lapangan Pelaporan dan Peer TeachingMenyajikan TemuanRefleksi dan Evaluasi

(6)

Ibrahim dan Bur (2000:13) dan Ismail (2002:1) di dalam Rusman (2010) mengemukakan bahwa langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Masalah adalah sebagai berikut:

Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Masalah

Fase Indikator Tingkah Laku Guru 1. Orientasi siswa pada

masalah

Menjelaskan tujuan pembelajaran, menejelaskan logistik yang diperlukan, dan memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah

2. Mengorganisasi siswa untuk belajar

Membantu siswa mendefinisikan dan meng- organisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

3. Membimbing pengalaman

individual/kelompok

Mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah

4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya sesuai seperti laporan, dan membantu mereka untuk berbagai tugas dengan temannya

5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan

Peran Guru dalam Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)

(7)

kelas. Guru dalam PBM terus berfikir tentang beberapa hal, yaitu: 1) bagaimana dapat merancang dan menggunakan permasalahan yang ada di dunia nyata, sehingga siswa dapat menguasai hasil belajar?; 2) bagaimana bisa menjadi pelatih siswa dalam proses pemecahan masalah, pengarahan diri, dan belajar dengan teman sebaya?; 3) dan bagaimana siswa memandang diri mereka sendiri sebagai pemecah masalah yang aktif? Guru dalam PBM juga memusatkan perhatiannya pada: 1)memfasilitasi proses PBM; mengubah cara berfikir, mengembangkan keterampilan inquiry, menggunakan pembelajaran kooperatif; 2) melatih siswa tentang strategi pemecahan masalah; pemberian alasan yang mendalam, metakognisi, berfikir kritis, dan berfikir secara sistem; dan 3) menjadi perantara proses penguasaan informasi; meneliti lingkungan informasi, mengakses sumber informasi yang beragam, dan mengadakan koneksi.

Di SMA Negeri 1 Rantau Utara hasil belajar siswa dalam pembelajaran biologi masih sangat rendah dan aktivitas belajar siswa juga masih rendah dikarenakan siswa kurang mampu memecahkan masalah. Dalam proses pembelajaran masih banyak guru yang cenderung mengunakan model konvesional (ceramah). Maka peneliti melakukan penelitian tentang “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Dan Aktivitas Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Di SMA Negeri 1 Rantau Utara Pada Tahun pemblejaran 2013/2014”.

METODE

Penelitian ini dilaksanakan di kelas X SMA Negeri 1 Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu terletak di Jalan Mahoni, Rantauprapat. Penelitian ini di laksanakan pada bulan April 2014 Pada Tahun Pembelajaran 2013/2014. Adapun subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas X SMA Negeri 1 Rantau Utara. Siswa dikelas ini berjumlah 46 orang siswa. Sebagai variable bebas penelitian ini adalah penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah. Sebagai variable terikan adalah hasil belajar dan aktivitas siswa dalam materi Pencemaran Lingkungan.

Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data

(8)

Metode pengambilan data menggunakan metode tes. Tes yang digunakan dalam pengambilan/pengumpulan data adalah tes pilihan ganda (multiple choice test).

Uji Instrumen 1. Validitas Tes 2. Reliabilitas Tes 3. Daya Pembeda Soal 4. Tingkat Kesukaran Soal

Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini data yang diolah adalah hasil belajar dan aktivitas belajar siswa di kelas subjek. Setelah data dari kelas subjek diperoleh maka yang dilakukan adalah:

1. Menghitung pretest dan postes (siklus I), dan postest (siklus II) secara perorangan dan secara klasikal didalam kelas tersebut.

2. Menghitung aktivitas siswa yang menggunakan lembar observasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Data Penelitian

Dari hasil uji coba instrument yang terdiri dari 50 butir soal diperoleh hasil 35 soal yang valid, dan 25 soal yang tidak valid. Berdasarkan hasil tersebut, maka jumlah butir soal yang digunakan untuk mendapatkan data penelitian yaitu 30 butir yang telah dinyatakan valid. Sedangkan butir soal yang dinyatakan tidak valid, tidak diikutkan dalam penelitian. Sementara hasil perhitungan reliabilitas diperoleh rhit= 0,938 yang berarti tingkat reliabilitas

instrument termasuk kategori tinggi. Sedangkan daya pembeda soal yang diperoleh adalah 6 soal tergolong baik, 27 soal tergolong cukup dan 16 soal tergolong jelek. Dari hasil tingkat kesukaran soal diketahui 14 soal dikategorikan sukar, 32 soal dikategorikan sedang dan 4 soal dikategorikan mudah. Dengan diketahuinya nilai validitas, reliabilitas, daya pembeda soal dan tingkat kesukaran soal tersebut, maka instrument tersebut dinyatakan layak untuk digunakan dalam mendapatkan data penelitian.

Data yang diperoleh pada siklus I untuk hasil belajar siswa terdiri dari dua jenis yaitu pretest dan postest dan lembar observasi untuk mengetahui aktivitas belajar siswa. Sedangkan disiklus II hanya terdiri dari postest dan lembar observasi aktivitas siswa.

Deskripsi Data Hasil Pretest Siswa (Siklus I)

(9)

dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah pada materi Pencemaran Lingkungan.

Deskripsi Data Nilai Postest Siswa (Siklus I)

Hasil postest (siklus I) adalah 28,26% siswa yang tuntas dan 71,74% siswa yang tidak tuntas. Sedangkan hasil aktivitas belajar (siklus I) diperoleh 51% secara klasikal. Berdasarkan tes hasil belajar tersebut setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah pada materi Pencemaran Lingkungan. Hasil tersebut belum mencapai kriteria ketuntasan hasil belajar maka dilakukan pembelajaran siklus II.

Deskripsi Data Nilai Postest Siswa (Siklus II)

Pada postest (siklus II) diperoleh nilai 89,13% siswa yang tuntas dan 10,87% siswa yang tidak tuntas. Sedangkan hasil aktivitas belajar (siklus II) diperoleh 75% secara klasikal. Hasil tes belajar siswa telah mencapai kriteria ketuntasan yaitu 85%.

Perbandingan Hasil Pengamatan Setiap Siklus

Pada kegiatan pembelajaran ini, peneliti melakukan dua siklus. Dimana pada setiap siklus diakhir dengan melakukan postes pada saat pembelajaran telah berakhir, yang bertujuan untuk mengetahui hasil keberhasilan belajar siswa dalam menguasai materi pencemaran lingkungan. Pada siklus I, sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai maka dilakukan terlebih dahulu pretest yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Adapun nilai rata-rata pretest siswa yaitu 31,59. Kemudian setelah dilakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBM) diperoleh data untuk setiap akhir siklus yaitu postes I dan postes II.

(10)

Tabel 41 orang yang tuntas, dapat d dapat dilihat pada gambar 3.

el 1. Hasil Pretes, Postes I dan Postes II

ambar 1. Perbandingan Nilai Rata-rata

s dapat dilihat perbandingan antara nilai rata st I, postest II. Setelah diperoleh data nilai

hui bahwa adanya peningkatan ketuntasan ha

tase ketuntasan hasil belajar siswa secara kla orang yang tuntas. Sedangkan pada sik swa secara klasikal meningkat yaitu 89,13% den

t dilihat pada tabel 2 dan gambar 2. Peningka .

abel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa

Siklus I Siklus II

Tes Hasil Belajar Rata-rata Hasil Belaja

(11)

Gam peneliti terlebih dahulu m kemampuan siswa meng pengajaran dengan model rata-rata nilai pretes sisw

0%

ambar 2. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa

Gambar 3. Perbandingan Aktivitas Siswa

bar grafik 4.8 dapat dilihat bahwa terjadi penin s I dan siklus II.

sil deskripsi data penelitia di atas maka bebera temuan penelitian ini yaitu sebelum melaksa memberika pretest kepada siswa untuk m

(12)

429 sangatlah rendah. Hasil tersebut dapat dimaklumi karena siswa sama sekali belum mendapatkan materi pengajaran dari guru.

Menurut (Djamarah,1995), apabila 85% dari jumlah siswa yang mengikuti proses belajar mengajar mencapai taraf keberhasilan kurang (di bawah taraf minimal), maka proses belajar mengajar hendaknya bersifat perbaikan (sehingga peneliti melanjutkan ke siklus II). Namun pada siklus I hasil pengamatan masih rendah dengan persentase ketuntasan 28,26%, dengan ini peneliti melanjutkan perbaikan ke siklus II untuk mendapatkan hasil keberhasilan yang tuntas yaitu 85%. Pada siklus II hasil pengamatan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari 28,26% pada siklus I menjadi 89,13% sesudah siklus II dan telah tuntas secara klasikal. Peningkatan ini terjadi karena pada siklus II peneliti melakukan perencanaan sebagai upaya perbaikan pada siklus sebelumnya.

Menurut Sadirman (2011) mengungkapkan bahwa tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau asas sangat penting di dalam interaksi belajar-mengajar. Menurut Sanjaya (2006) dalam penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menetapkan topik masalah, walaupun sebenarnya guru sudah mempersiapkan apa yang harus dibahas. Proses pembelajaran diarahkan agar siswa mampu menyelesaikan masalah secara sistematis dan logis. Menurut Rusyan (2003) pada dasarnya penggunaan metode pembelajaran mengajar merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi hasil belajar siswa.jika metode pembelajaran mengajar yang digunakan dalam mengajarkan suatu materi pelajaran itu tepat, hasil belajar siswa juga cenderung meningkat lebih baik dan sebaliknya jika metode pembelajaran mengajar yang digunakan itu tidak tepat, peningkatan hasil belajar siswa juga kurang begitu berarti. Pada siklus I aktivitas siswa masih banyak siswa yang tidak menunjukkan kemampuan dirinya, bahkan masih ada yang tidak mendengarkan guru disaat pembelajaran berlangsung. Peneliti lebih berupaya lebih memotivasi siswa untuk belajar agar lebih aktif dan tidak banyak diam di saat guru menerangkan didepan kelas dan disaat pembagian tugas kelompok. Pada siklus II aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar meningkat. Peningkatan persentase aktivitas belajar siswa terlihat setelah peneliti memberikan motivasi, membimbing siswa dimana siswa diberikan tugas kelompok yang bersangkutan dengan sub materi pencemaran lingkungan kemudian setiap kelompok mempersentasekan di depan kelas. Guru juga memberikan referensi sumber dari internet dan buku lain untuk membantu siswa menemukan informasi.

(13)

430 pembelajaran dengan model pembelajaran Problem Based Learning yang sangat baik digunakan. Penggunaan model Problem Based Learning ini akan membantu siswa dalam memahami materi pelajaran dan bersama-sama dengan kelompoknya mempelajari materi dalam lembaran kerja, mendiskusikan materi, saling memberikan arahan dan saling memberikan pertanyaan dan jawaban. Tingkat penguasaan siswa di SMA Negeri 3 Binjai Tahun Pembelajaran 2012/2013 sebelum diberikan pengajaran menggunakan model Problem Based Learning termasuk kategori sangat rendah dengan nilai 52,67%. Setelah diberikan pengajaran menggunakan model Problem Based Learning tergolong kategori tinggi dengan nilai 91,67%. Wirianingrum (2007), menggunakan model Problem Based Learning mampu membuat siswa dalam memahami istilah-istilah penting dalam biologi serta mampu melatih kejelian dan kekompakan siswa. Purnamaningrum (2012), hasil penelitian dengan penerapan modep Problem Based Learning di kelas X SMA negeri 3 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012 menunjukkan persentase tiap aspek kemampuan berfikir kreatif berdasarkan tes pada siklus I belum memenuhi target, ketercapaian aspek fluency sebesar 69,70%, kemampuan berfikir luwes sebesar 63,64%, kemampuan berfikir orisinil sebesar 49,24%, kemampuan memperinci 56,82%, kemampuan menilai 49,24%. Hasil siklus II meningkat, namun ada aspek yang belum memenuhi target. Ketercapaian aspek pada siklus II yaitu fluency 79,55%, kemampuan berfikir luwes sebesar 73,11%, kemampuan berfikir orisinil 54,55%, kemampuan memperinci 60,23%, kemampuan menilai 57,58%. Belum seluruhnya aspek memenuhi target, sehingga tindakan dilanjutkan ke siklus III. Hasil yang telah dicapai di siklus III, aspek fluency 85,86%, kemampuan berfikir luwes sebesar 78,03%, kemampuan berfikir orisinil sebesar 63,64%, kemampuan memperinci 60,23%, kemampuan menilai sebesar 62,12%. Seluruh aspek kemampuan berfikir kreatif sudah memenuhi target, sehingga tindakan dihentikan.

Dari hasil peneliti selama melakukan penelitian, membuktikan bahwa dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) tampak siswa menjadi lebih antusiasme bahkan mampu berfikir kritis dan semangat belajar siswa pada setiap siklus meningkat ke arah yang lebih baik. Mekanisme pelaksanaan model pembelajaran tersebut menjadikan kegiatan belajar mengajar menjadi menantang dan menarik bagi siswa, karena siswa diajak untuk berfikir kritis dan diajak untuk menemukan sendiri informasi belajar yang dibutuhkannya dengan berdiskudi dalam satu kelomponya. Bentuk pembelajaran ini akan membuat siswa lebih mengemukakan pendapatnya sendiri terhadap teman-temannya daripada kepada guru.

(14)

431 untuk menggali informasi selanjutnya. Jika siswa diberikan peluang untuk menemukan sendiri informasi belajar, maka kegiatan belajar mengajar akan lebih menarik dan adanya tantangan dalam belajar. Jadi kegiatan pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk beraktivitas dan berfikir kritis antar individu maupun untuk dirinya sendiri yaitu melalui model pembelajaran berbasis masalah (PBM).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Hasil belajar siswa melalui penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah melalui alur Penelitian Tindakan Kelas pada pateri pokok Pencemaran Lingkungan di kelas X SMA Negeri 1 Rantau Utara Pada Tahun Pembelajaran 2013/2014 meningkat dari 28,26% (siklus I) menjadi 89,13% (siklus II).

2. Aktivitas belajar siswa melalui penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah melalui alur Penelitian Tindakan Kelas pada pateri pokok Pencemaran Lingkungan di kelas X SMA Negeri 1 Rantau Utara Pada Tahun Pembelajaran 2013/2014 mengalami peningkatan dari 51% (siklus I) menjadi 75%(siklus II).

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, dkk., (2006),Penelitian Tindakan Kelas, PT Bumi Aksara, Jakarta.

Arikunto, S., (2010), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Arikunto, S,. (2009),Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, PT Bumi Aksara, Jakarta.

Aqib, Z., (2006), Penelitian Tindakan Kelas Untuk: Guru, Penerbit Yrama Widya, Bandung.

Hamalik, O., (2008),PerencanaanPengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, PT Bumi Aksara, Jakarta.

Kolber, J, B., (2011), Extended Problem-Based Learning Improves Scientific Communication In Senior Biology Students41 (1) 32-39.

Purnamaningrum, A., (2012), Peningkatan Kemampuan Berfikir Kreatif Melalui Problem Based Learning (PBL) Pada Pembelajaran Biologi Siswa Kelas X-10 SMA Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012, UNS. Surakarta.

Rusman., (2010), Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, PT Raja Grafindo, Jakarta.

Rusyan., (2003),Pembelajaran Yang Efektif, Tarsito, Bandung.

(15)

432 Sagala, S., (2009),Konsep dan Makna Pembelajaran,Penerbit Alfabeta, Bandung.

Salha, F., (2013),Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Sub Materi Pokok Sistem Ekskresi Pada Manusia Di Kelas XI IPA.3 SMA Negeri Binjai Tahun Pembelajaran 2012/2013, FMIPA Universitas Negeri Medan, Medan.

Sanjaya, W., (2006), Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Sardiman, A.M., (2011), Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, PT Grafindo Persada, Jakarta.

Sudjana, N., (2009), Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Sungur, S., (2006), Effects Of Problem-Based Learning And Traditional Instruction On Sel-Regulated Learning99 (5) 307-317.

Sukardi, (2009),Metodologi Penelitian Pendidikan. PT Bumi Aksara, Jakarta.

Suprijono, A., (2010),Cooperative Learning, Pustaka Belajar, Yogyakarta.

Suwarno., (2009), Panduan Pembelajaran Biologi Untuk SMA/MA, Penerbit Aneka Ilmu, Jakarta.

Gambar

Tabelel 1. Hasil Pretes, Postes I dan Postes II

Referensi

Dokumen terkait

Faktor eksternal yang dibahas adalah lingkungan non sosial yang terdiri dari faktor instrumental merupakan perangkat proses pembelajaran dibagi lagi kedalam

[r]

Yang telah melimpahkan segala nikmat-Nya pada kita, sehingga kita dapat menjalankan aktifitas sehari-hari dengan baik. Sehubungan akan diadakannya ”Role play” , yang

Selain dengan menghitung determinan, ada beberapa ukuran lain yang dapat digunakan untuk memeriksa apakah sistem persamaan lanjar berkondisi buruk [NAK92]:.. Mencoba

Hubungan Pelaksanaan Intervensi Keperawatan Dengan Pengendalian Diri Pasien Halusinasi Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatra Utara Tahun 2012.. Ilmu Keperawatan,

Sehingga sistem informasi manajemen tersebut dapat memberikan solusi pada perusahaan untuk menentukan jumlah persediaan produk jadi yang sesuai.

Masalah ini dapat diatasi dengan membuat sistem pendukung keputusan yang ditujukan untuk membantu pembeli memilih laptop.. Metode Sistem Inferensi Fuzzy Tsu- kamoto merupakan salah

Jumlah peserta yang mendaftar sampai dengan sebelum dimulainya Rapat Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing) berjumlah 12 (Dua Belas) Peserta.. Tidak