Oleh HERNINDYO PRANOWO WIDHI H
Teks penuh
(2) 1. ABSTRAK Hernindyo Pranowo Widhi. H24052502. Analisis Efektivitas Iklan Partai Gerakan Indonesia Raya Pada Media Televisi dan Brand Equity Partai Politik. (Studi kasus: Mahasiswa Program Strata-1 Institut Pertanian Bogor). Di bawah bimbingan Jono M Munandar Saat ini iklan telah dijadikan media pemasaran politik oleh partai politik. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya partai politik yang gencar melakukan kampanye di media televisi. Partai Gerindra merupakan salah satu yang gencar mengiklankan partainya melalui berbagai macam media, termasuk media televisi. Hal ini dilakukan untuk menciptakan ekuitas merek yang kuat di benak masyarakat. Namun permasalahannya adalah apakah iklan yang telah dilakukan oleh Partai Gerindra tersebut telah efektif dalam membangun ekuitas merek partainya. Dengan melihat permasalahan tersebut penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas iklan televisi Partai Gerindra dan menganalisis brand equity Partai Gerindra pada elemen brand awareness, brand association, perceived quality, dan brand loyalty. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari hasil penyebaran kuesioner kepada responden, yaitu mahasiswa program Strata Satu Institut Pertanian Bogor. Data sekunder berasal dari berbagai literatur, seperti buku, tulisan ilmiah, internet, dan media massa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah SpearmanBrown, Product Moment, Alfa Cronbach, analisis deskriptif, Uji Cochran, Skala Semantic Differential, Skala Likert dan Customer Response Index (CRI), dengan menggunakan alat pengolahan data MS Excel 2007 dan SPSS versi.15 for Windows Elemen-elemen brand equity yang dianalisis dalam penelitian ini, yaitu brand awareness, brand association, perceived quality dan brand loyalty. Dalam elemen brand awareness yang dianalisis menggunakan analisis deskriptif, Partai Gerindra masih belum mempunyai tingkat kesadaran yang baik, terlihat dari Partai Gerindra yang hanya menempati posisi pertama pada elemen brand recognition (pengenalan merek), tetapi seluruh responden dalam penelitian ini telah mengenal Partai Gerindra. Dalam analisis brand association yang menggunakan uji Cochran hasil penelitian memperlihatkan bahwa tidak ada asosiasi yang menjadi brand image bagi Partai Gerindra. Analisis perceived quality yang menggunakan skala semantic differential, Partai Gerindra dinilai memiliki keunggulan dalam atribut perhatian kepada pertanian dan media informasi yang lengkap dibandingkan partai politik lainnya yang diteliti. Dan elemen terakhir dari brand equity adalah analisis brand loyalty, hasil penelitian menunjukkan bahwa responden belum memiliki loyalitas yang kuat terhadap Partai Gerindra, hal ini dapat dilihat dari piramida brand loyalty yang tidak berbentuk piramida terbalik. Analisis efektifitas iklan Partai Gerindra dianalisis dengan menggunakan Costumer Response Index (CRI) yang merupakan hasil perkalian antara awareness (kesadaran), comprehend (pemahaman), interest (ketertarikan), intentions (maksud atau terdorong untuk memilih), dan action. Besarnya efektifitas iklan televisi Partai Gerindra adalah 8 persen, hal ini berarti strategi iklan yang dilakukan Partai Gerindra masih belum efektif..
(3) 2. ANALISIS EFEKTIVITAS IKLAN PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA PADA MEDIA TELEVISI DAN BRAND EQUITY PARTAI POLITIK (Studi Kasus: Mahasiswa Program Strata-1 Institut Pertanian Bogor). SKRIPSI Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar SARJANA EKONOMI Pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Oleh HERNINDYO PRANOWO WIDHI H24052502. DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009.
(4) 3. INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN. ANALISIS EFEKTIVITAS IKLAN PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA PADA MEDIA TELEVISI DAN BRAND EQUITY PARTAI POLITIK (Studi Kasus: Mahasiswa Program Strata-1 Institut Pertanian Bogor). SKRIPSI Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar SARJANA EKONOMI Pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Oleh HERNINDYO PRANOWO WIDHI. H24052502 Menyetujui,. Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc. Dosen Pembimbing Mengetahui,. Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc. Ketua Departemen Manajemen Tanggal Lulus :.
(5) 4. Riwayat Hidup. Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 19 Juni 1987, sebagai putra kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan Widyo Pranowo dan Astuti Purwatiningsih. Pendidikan formal yang dilalui penulis adalah Sekolah Dasar Negeri Pengadilan 3 Bogor, kemudian melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 5 Bogor, dan Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Bogor. Saat Sekolah Menengah Atas penulis aktif dalam tim Baseball Dubste. Penulis berhasil membawa Dubste ke puncak kejayaan tim tersebut, hal ini dapat terlihat dari prestasi Dubste dalam memenangkan beberapa turnamen Baseball se- Jabotabek pada saat penulis aktif dalam tim tersebut. Pada tahun 2005 penulis diterima Institut Pertanian Bogor melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dan pada tingkat kedua di IPB, penulis diterima di program studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Selama menjadi mahasiswa penulis aktif dalam organisasi mahasiswa. Pada tahun kedua dan ketiga penulis bergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Selain aktif dalam organisasi mahasiswa, penulis juga aktif dalam berbagai kepanitiaan. Penulis pada tahun kedua, diamanatkan menjadi Ketua Sportakuler FEM IPB dan Ketua Maklop Manajemen IPB..
(6) 5. KATA PENGANTAR. Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul “Analisis Efektivitas Iklan Partai Gerakan Indonesia Raya Pada Media Televisi dan Brand Equity Partai Politik” dengan studi kasus mahasiswa Strata-1 Institut Pertanian Bogor. Dasar pertimbangan yang digunakan mengapa penulis memilih judul tersebut adalah karena penulis melihat bahwa dengan mengetahui efektivitas iklan dan posisi brand equity, maka suatu partai akan dengan mudah menentukan strategi pemasaran untuk memenangkan persaingan. Skripsi ini merupakan syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Atas terselesainya penulisan dan penyusunan skripsi ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Kedua Orangtua, Bapak Widyo Pranowo dan Ibu Astuti Purwatiningsih, atas semua pengorbanan yang tak akan pernah tergantikan oleh apapun. 2. Bapak Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, kritik dan sarannya dalam proses penyusunan dan penulisan skripsi ini. 3. Bapak Prof. Dr. Ir. W. H. Limbong, MS dan Bapak Dr. Ir. Abdul Kohar, M.Sc selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan arahannya untuk penyempurnaan penulisan skripsi ini. 4. Mas Wibowo Pulung Wonodri dan adikku Bayu Arief Pramudito yang selalu memotivasi, menjadi tempat bertukar pendapat dan mengajarkan kehidupan yang sebenarnya. Penulis bangga menjadi salah satu keluarga dari kalian. 5. Teman sepermainan Bowo, Aji, Ncek, Adit, Ari, Hardi, Bejo, Abang, Lele, dan Kamga yang selalu membuat penulis tertawa dan belajar banyak hal tentang kehidupan yang tidak akan terpikirkan oleh orang lain. 6. Lonik, Boy, Iswi, Ade, Feri, Didit, Dicky, Julie, Maia, Opi, Nceq, Mamih, Puti, Irsam dan temen-teman Manajemen 42 yang tidak bisa disebutkan.
(7) 6. namanya satu per satu. Terima kasih atas kebersamaannya selama ini dan atas semua warna yang telah dilukiskan dalam waktu empat tahun ini. 7. Teman satu perjuangan Velma dan Aji yang selalu seiring dan seirama menunggu datangnya hari Jumat. 8. Esa Parahita Hapsari yang selalu menjadi inspirasi, semangat, motivasi dan selalu setia menemani penulis dalam suka dan duka. 9. Diar, Nina, Inka, Mega, Acit, Vidy, Indra dan Dani yang telah membantu penulis dalam pengumpulan data. 10. Indra Harry Perdana dan teman-teman BEM FEM tahun 2007/2008 dan 2008/2009 yang sudah mengajarkan artinya kepemimpinan dan menjadi organisator yang baik. 11. CIBE perjuangan kita belum selesai teman-teman, dunia permusikan Indonesia membutuhkan ide-ide segar dan menunggu karya indah kita. Penulis sepenuhnya menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih terdapat kekurangan dan membutuhkan penyempurnaan. Oleh karena itu segala bentuk kritik, masukan serta saran sangat penulis harapkan sebagai kajian untuk evaluasi dan perbaikan. Akhirnya, penulis berharap bahwa apa yang telah penulis susun dapat memberikan masukkan dan manfaat bagi berbagai pihak untuk meningkatkan dunia pemasaran.. Bogor, Juni 2009. Penulis.
(8) 7. DAFTAR ISI ABSTRAK RIWAYAT HIDUP .............................................................................................. iii KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv DAFTAR GAMBAR............................................................................................ ix DAFTAR TABEL ................................................................................................ x DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xi I. PENDAHULUAN ................................................................................ 1.1. Latar Belakang ............................................................................... 1.2. Perumusan Masalah ........................................................................ 1.3. Tujuan ............................................................................................ 1.4. Manfaat .......................................................................................... 1.5. Ruang Lingkup ................................................................................ 1 1 4 4 5 5. II. TINJAUAN PUSTAKA....................................................................... 2.1. Pengertian Partai Politik ................................................................. 2.2. Pengertian Pemasaran ..................................................................... 2.3. Bauran Komunikasi Pemasaran ...................................................... 2.4. Periklanan ...................................................................................... 2.4.1. Pengertian Iklan ..................................................................... 2.4.2. Efektifitas .............................................................................. 2.4.3. Iklan Efektif........................................................................... 2.4.4. Ciri-ciri iklan ......................................................................... 2.4.5. Klasifikasi iklan ..................................................................... 2.4.6. Fungsi Periklanan .................................................................. 2.4.7. Pesan Iklan ............................................................................ 2.4.8. Iklan Politik ........................................................................... 2.5. Kekuatan dan Kelemahan Televisi Sebagai Media Iklan ................. 2.5.1. Kekuatan Televisi Sebagai Media Iklan ................................. 2.5.2. Kelemahan Televisi Sebagai Media Iklan............................... 2.6. Pengertian merek ............................................................................ 2.7 Brand equity ................................................................................... 2.7.1. Brand awareness ................................................................... 2.7.2. Brand association .................................................................. 2.7.3. Perceived quality ................................................................... 2.7.4. Brand loyalty ......................................................................... 2.8 Penelitian Terdahulu ........................................................................ 7 7 7 8 8 8 9 9 9 10 11 12 13 14 14 14 15 16 17 19 21 22 24. III. METODE PENELITIAN .................................................................. 3.1. Kerangka Pemikiran ....................................................................... 3.2. Metode Penelitian .......................................................................... 3.2.1. Lokasi dan Waktu .................................................................. 3.2.2. Pengumpulan Data ................................................................. 3.2.3. Pengambilan Sampel .............................................................. 3.2.4. Pengujian Kuesioner ............................................................... 26 26 27 27 27 28 28.
(9) 8. 3.2.5. Pengolahan dan Analisis Data ................................................ 31 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................... 4.1. Gambaran Umum Partai Gerindra.................................................... 4.1.1. Visi dan Misi Partai Gerindra ................................................. 4.1.2. Gambaran Umum Iklan Partai Gerindra ................................. 4.2. Hasil Uji Awal................................................................................. 4.2.1. Uji Awal Brand Association................................................... 4.2.2. Uji Awal Perceived Quality ................................................... 4.3 Karakteristik Responden .................................................................. 4.3.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ............. 4.3.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ............................ 4.3.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Penerimaan per Bulan . 4.3.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Pengeluaran per Bulan 4.3.5. Karakteristik Responden Berdasarkan Klasifikasi Pekerjaan .. 4.3.6. Karakteristik Responden Berdasarkan Tempat Tinggal .......... 4.3.7. Karakteristik Responden Berdasarkan Fakultas ...................... 4.4. Analisis Brand Awareness .............................................................. 4.4.1. Top of Mind ........................................................................... 4.4.2. Brand Recall .......................................................................... 4.4.3. Brand Recognition ................................................................. 4.4.4. Unaware of Brand.................................................................. 4.5. Analisis Brand Association ............................................................. 4.5.1. Uji Asosiasi Partai Gerindra ................................................... 4.5.2. Uji Asosiasi Partai Demokrat ................................................. 4.5.3. Uji Asosiasi Partai Golkar ...................................................... 4.5.4. Uji Asosiasi PDIP .................................................................. 4.5.5. Uji Asosiasi PKS ................................................................... 4.6. Analisis Perceived Quality .............................................................. 4.6.1. Skala Semantic Differential .................................................... 4.7. Analisis Brand Loyalty Partai Gerindra ........................................... 4.7.1. Analisis Switcher ................................................................... 4.7.2. Analisis Habitual Buyer ......................................................... 4.7.3. Analisis Satisfied Buyer ......................................................... 4.7.4. Analisis Liking the Brand ....................................................... 4.7.5. Analisis Committed Buyer ...................................................... 4.7.6. Piramida Brand Loyalty ......................................................... 4.8. Efektivitas Iklan Televisi Partai Gerindra ........................................ 4.9. Implikasi Manajerial ........................................................................ 35 35 36 37 37 37 38 42 43 43 43 44 45 45 46 46 46 47 48 49 50 50 51 52 52 53 53 54 57 58 58 59 60 61 62 63 67. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 70 1. Kesimpulan ...................................................................................... 70 2. Saran .............................................................................................. 71 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 73 LAMPIRAN ................................................................................................ 75.
(10) 9. DAFTAR GAMBAR. No Halaman 1. Model Hierarki Tanggapan AIDA ........................................................... 2. Konsep brand equity ............................................................................... 3. Piramida brand awareness ...................................................................... 4. Piramida brand loyalty ............................................................................ 5. Kerangka pemikiran penelitian ................................................................ 6. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin .............................. 7. Karakteristik Responden Berdasarkan Penerimaan per Bulan ................. 8. Karakteristik Responden Berdasarkan Pengeluaran per Bulan ................. 9. Karakteristik Responden Berdasarkan Klasifikasi Pekerjaan ................... 10. Karakteristik Responden Berdasarkan Tempat Tinggal ........................... 11. Karakteristik Responden Berdasarkan Fakultas ....................................... 12. Grafik Semantic Differential Partai Politik .............................................. 13. Piramida Brand Loyalty Partai Gerindra ................................................... 13 17 18 24 27 43 44 44 45 45 46 55 62.
(11) 10. DAFTAR TABEL No. Halaman. 1. Uji Awal Brand Association .................................................................... 2. Nilai validitas uji awal perceived quality Partai Gerindra ........................ 3. Nilai validitas uji awal perceived quality Partai Demokrat ....................... 4. Nilai validitas uji awal perceived quality Partai Golkar ........................... 5. Nilai validitas uji awal perceived quality PDIP........................................ 6. Nilai validitas uji awal perceived quality PKS ......................................... 7. Klasifikasi nilai alpha .............................................................................. 8. Hasil pengujian reliabilitas perceived quality semua partai ...................... 9. Karakteristik responden berdasarkan usia ................................................ 10. Top of Mind partai politik ........................................................................ 11 Brand Recall partai politik ...................................................................... 12. Brand Recognition partai politik.............................................................. 13. Unaware of Brand partai politik .............................................................. 14. Hasil uji Cochran asosiasi Partai Gerindra .............................................. 15. Hasil uji Cochran asosiasi Partai Demokrat............................................. 16. Hasil uji Cochran asosiasi Partai Golkar ................................................. 17. Hasil uji Cochran asosiasi Partai PDIP .................................................... 18. Hasil uji Cochran asosiasi Partai PKS ..................................................... 19. Rataan nilai atribut perceived quality partai politik .................................. 20. Perhitungan analisis switcher Partai Gerindra .......................................... 21. Perhitungan analisis habitual buyer Partai Gerindra ................................ 22. Perhitungan analisis satisfied buyer Partai Gerindra ................................ 23. Perhitungan analisis liking the brand Partai Gerindra .............................. 24. Perhitungan analisis committed buyer Partai Gerindra ............................. 25. Jumlah responden yang sadar dan mengetahui Partai Gerindra ................ 26. Jumlah responden yang memahami isi pesan iklan Partai Gerindra .................................................................................................. 27. Jumlah responden yang merasa tertarik pada iklan Partai Gerindra .................................................................................................. 28. Jumlah responden yang terdorong untuk memilih Partai Gerindra pada saat pemilu ....................................................................... 29. Jumlah responden yang menetapkan pilihan kepada Partai Gerindra pada saat pemilu ........................................................................ 38 39 40 40 41 41 42 42 43 47 48 49 49 50 51 52 52 53 54 58 59 60 61 62 63 64 64 65 66.
(12) 11. DAFTAR LAMPIRAN No 1. 2. 3. 4. 5.. Halaman Kuesioner penelitian ............................................................................... Perhitungan Uji Reliabilitas Brand Association ...................................... Pengujian Validitas dan Reliabilitas ....................................................... Pengujian Brand Association .................................................................. Jumlah Mahasiswa IPB ........................................................................... 76 82 85 90 92.
(13) 12. I.. PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Iklan kini tidak lagi sekadar alat promosi barang dan jasa. Fungsinya pun telah bergeser dari alat pemasaran menjadi instrumen public relations (PR). Bahkan, kini fungsi iklan mengalami diversifikasi dari alat pemasaran produk barang komersial menjadi instrumen pemasaran politik. Instrumen pemasaran politik ditujukan untuk mengangkat citra dan popularitas tokoh maupun partai yang sedang berkompetisi di dunia politik, seperti persaingan dalam Pemilu legislatif atau pemilihan presiden 2009. Pemilu merupakan bentuk partisipasi politik yang dijadikan alat untuk memberikan kesempatan kepada rakyat untuk ikut serta mempengaruhi sistem politik yang berlaku. Partisipasi politik dapat dibangkitkan melalui kegiatan persuasi. Persuasi merupakan suatu usaha komunikator untuk mengubah sikap dan perilaku orang, menanamkan opini baru atau kepercayaan melalui suatu pesan. Perhelatan akbar pesta demokrasi pemilihan umum dilaksanakan pada bulan April 2009. Tak heran bila sosialisasi tokoh dan partai politik dilakukan secara intensif, salah satunya yaitu berkembangnya iklan-iklan politik pada media televisi yang dilakukan oleh partai-partai politik untuk untuk mempersuasikan, menarik simpati dan membentuk citra yang baik pada masyarakat. Hal ini bertujuan untuk memperoleh suara rakyat. Iklan-iklan politik yang saat ini sedang marak di media, khususnya media elektronik dianggap menarik dan berpengaruh besar terhadap perubahan suhu politik di masyarakat. Iklan politik saat ini sebenarnya merupakan perkembangan lebih lanjut dari fenomena pemasaran politik. Dalam konsep pemasaran politik, program kerja partai politik disamakan dengan produk barang dan jasa yang artinya bisa dijualbelikan. Kualitas pribadi tokoh, seperti postur fisik, kecakapan, hobi, prestasi, rekam jejak, dan kemampuan tertentu yang dianggap istimewa, bisa dipromosikan sebagai bentuk pencitraan diri. Sebagai tokoh yang berkapasitas dan berkompetensi untuk menjadi anggota.
(14) 13. parlemen atau calon presiden. Perbedaannya, jika dalam pemasaran produk bisnis dan industri hasil yang diharapkan dari capaian iklan adalah naiknya omset atau volume penjualan, dalam pemasaran politik, hasilnya adalah tercapainya dukungan politik melalui pemilu. Mungkin yang sama adalah harapan untuk meningkatkan brand equity pada suatu produk. Baik dalam pemasaran barang industri komersial maupun pemasaran politik, pencapaian lain yang tidak kalah penting diharapkan adalah image (citra) dan popularitas. Berdasarkan penelitian lembaga survei AC Nielsen Media Research Indonesia, total belanja iklan di media massa Indonesia selama bulan Januari hingga Juni 2008 mencapai Rp 19,6 triliun atau naik 24 persen dibanding tahun 2007 sebesar Rp 15,8 triliun. Peningkatan belanja iklan itu disumbangkan oleh sektor telekomunikasi (Rp 1,9 triliun), kendaraan bermotor (Rp 850 miliar) dan iklan politik (Rp 769 miliar). Media surat kabar atau koran masih menjadi pilihan favorit bagi pemasang iklan sehingga pertumbuhannya masih tertinggi, yakni 38%. Disusul majalah 24% dan televisi 17%. Sedangkan dari segi pendapatan, televisi masih mendapat perolehan uang tertinggi, mencapai Rp 12 triliun, lalu koran sebesar Rp 6,7 triliun dan majalah hanya sebesar Rp 4 triliun Berdasarkan data AC Nielsen juga menunjukkan bahwa terjadi kenaikkan 79% untuk iklan politik pada semester pertama 2008. Kenaikkan belanja iklan pada sektor politik ini dikarenakan para tokoh dan partai politik sedang gencar menaikkan popularitasnya dalam menyambut pemilihan umum yang dilaksanakan pada tahun 2009. Salah satu partai yang melakukan kampanye melalui periklanan di media televisi adalah Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presidennya. Pada iklan Gerindra tersebut, Prabowo mengajak masyarakat mengingat. bahwa. dahulu. Indonesia. sebagai. “Macan. Asia”. yang. masyarakatnya makmur dan sejahtera. Pada iklan tersebut Partai Gerindra juga memperkenalkan visi dan misi partainya. Tayangan iklan televisi Partai Gerindra merupakan kegiatan promosi yang membutuhkan anggaran yang tidak sedikit, mengingat frekuensi dan waktu penayangan yang dilakukan pada program-program prime time di berbagai stasiun televisi..
(15) 14. Berdasarkan data dari AC Nielsen atas pengeluaran partai politik untuk iklan pada periode 1 Oktober 2008 hingga 2 Februari 2009, memperlihatkan Partai Gerindra merupakan salah satu partai yang paling agresif beriklan diri yakni telah mengeluarkan dana sebesar Rp46,7 miliar. Sementara itu, Partai Demokrat menghabiskan uang Rp36,1 miliar untuk mendukung iklannya, Partai Golkar menghabiskan dana senilai Rp18,873 miliar. Sedangkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah menghabiskan Rp4,8 miliar untuk belanja iklan televisi. (http://www.mediaindonesia.com, 2009). Berdasarkan hasil survei yang dilaksanakan selama 10-22 Desember 2008 oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), memperlihatkan bahwa dari segi intensitas, 73% responden mengaku lebih sering melihat iklan Partai Gerindra dan tokohnya di televisi. Sementara sebanyak 65% responden mengaku sering melihat iklan Partai Demokrat, kemudian 45% Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dan 40% untuk Golongan Karya (Golkar). (http://www.antara.co.id, 2009) Partai Gerindra dalam menghadapi persaingan politik di Indonesia, harus memiliki media komunikasi yang efektif untuk mengkomunikasikan visi misi dan program-program kerja partainya. Media televisi dianggap sebagai media promosi yang baik sehingga pada saat menjelang Pemilu partai-partai politik gencar mengiklankan partainya di televisi. Dengan melihat intensitas iklan Partai Gerindra pada media televisi yang tinggi dan besarnya anggaran iklan yang telah dikeluarkan oleh Partai Gerindra maka diperlukannya riset untuk mengukur efektivitas iklan televisi Partai Gerindra. Selain itu diperlukan riset untuk mengetahui tingkat brand equity partai-partai politik. Hal ini dilakukan untuk mengetahui keunggulan kompetitif suatu partai politik dibandingkan dengan partai politik lainnya. Dengan mengetahui kekuatan merek partainya, Partai Gerindra dapat menyusun strategi pemasaran yang baik dapat bertahan. dan melangkah lebih maju untuk. memenangkan persaingan politik di Indonesia..
(16) 15. 1.2. Rumusan Masalah Saat ini iklan dijadikan media pemasaran politik oleh beberapa partai politik di Indonesia. Partai Gerindra merupakan salah satu yang gencar mengiklankan partainya melalui berbagai macam media, termasuk pada media televisi. Berdasarkan data dari AC Nielsen atas pengeluaran partai politik untuk iklan pada periode 1 Oktober 2008 hingga 2 Februari 2009, memperlihatkan Partai Gerindra merupakan salah satu partai yang paling agresif beriklan diri yakni telah mengeluarkan dana sebesar Rp46,7 miliar. Sedangkan dari hasil survei yang dilaksanakan selama 10-22 Desember 2008 oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), memperlihatkan bahwa dari segi intensitas, 73% responden mengaku lebih sering melihat iklan Partai Gerindra di televisi. Melihat intensitas iklan Partai Gerindra pada media televisi yang tinggi dan besarnya anggaran iklan yang telah dikeluarkan oleh Partai Gerindra maka diperlukannya riset untuk mengukur efektivitas iklan televisi yang telah dilakukan oleh Partai Gerindra dan untuk mengetahui kekuatan brand equity Partai Gerindra di benak masyarakat. Maka dapat dirumuskan perumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana efektivitas iklan televisi Partai Gerindra? 2. Bagaimana brand awareness Partai Gerindra? 3. Bagaimana brand association Partai Gerindra? 4. Bagaimana perceived quality Partai Gerindra? 5. Bagaimana brand loyalty Partai Gerindra? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Menganalisis efektivitas iklan televisi Partai Gerindra. 2. Mengetahui posisi brand awareness di benak pemilih terhadap Partai Gerindra. 3. Menganalisis brand association di benak pemilih terhadap Partai Gerindra..
(17) 16. 4. Menganalisis perceived quality di benak pemilih terhadap Partai Gerindra. 5. Menganalisis brand loyalty pada pemilih terhadap Partai Gerindra. 1.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini dapat bermanfaat bagi: 1. Partai politik Bagi partai politik, penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan yang bermanfaat sebagai pertimbangan evaluasi terhadap iklan politik yang telah diterapkan partai politik dalam menghadapi persaingan politik dan masukan bagi penerapan konsep brand equity pada suatu partai. 2. Pihak Lain Sebagai sumber untuk menambah pengetahuan bagi masyarakat umum dalam bidang pemasaran khususnya dalam dunia periklanan dan brand equity penelitian ini juga dapat dijadikan bahan acuan untuk penelitian lebih lanjut. 1.5. Ruang Lingkup Partai yang dibahas dalam penelitian ini dibatasi menjadi lima partai politik yaitu Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Demokrat, Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Pemilihan partai berdasarkan atas hasil survei yang dilakukan oleh AC Neilsen dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang memperlihatkan bahwa partai-partai tersebut telah mengeluarkan anggaran iklan yang besar dan memiliki intensitas yang tinggi dalam beriklan di media televisi. Berdasarkan data AC Nielsen atas pengeluaran partai politik untuk iklan pada periode 1 Oktober 2008 hingga 2 Februari 2009, memperlihatkan Partai Gerindra merupakan salah satu partai yang paling agresif beriklan diri yakni telah mengeluarkan dana sebesar Rp 46,7 miliar. Sementara itu, Partai Demokrat menghabiskan uang Rp 36,1 miliar untuk mendukung iklannya, Partai Golkar menghabiskan dana senilai Rp 18,873 miliar. Sedangkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah menghabiskan Rp 4,8 miliar untuk belanja iklan televisi. Dari hasil survei yang dilaksanakan selama 10-22.
(18) 17. Desember 2008 oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), memperlihatkan bahwa dari segi intensitas, 73% responden mengaku lebih sering melihat iklan Partai Gerindra dan tokohnya di televisi. Sementara sebanyak 65% responden mengaku sering melihat iklan Partai Demokrat, kemudian 45% Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dan 40% untuk Golongan Karya (Golkar). Pada analisis brand equity, elemen-elemen yang diteliti pada penelitian ini adalah brand awareness, brand association, perceived quality, dan brand loyalty. Penelitian ini dilakukan sebelum dilaksanakannya pemilihan umum legislatif tanggal 9 April 2009. Lokasi penelitian ini bertempat di lingkungan kampus Institut Pertanian Bogor sehingga responden hanya dibatasi pada kalangan mahasiswa Institut Pertanian Bogor..
(19) 18. II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1.Pengertian Partai Politik Menurut Friedrich dalam Fadlillah (2009), partai politik adalah kelompok yang terorganisasi secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan. penguasaan. terhadap. pemerintahan. bagi. pimpinan. partainya. Berdasarkan penguasaan itu memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat idiil dan materiil. Undang-Undang nomor 2 tahun 2008 tentang partai politik menyebutkan bahwa partai politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2.2.Pengertian Pemasaran Menurut Kotler (2005), pemasaran adalah suatu proses sosial yang melibatkan individu dan kelompok mendapatkan apa yang dibutuhkan dan diinginkan. dengan. menciptakan,. menawarkan,. dan. secara. bebas. mempertukarkan produk dan jasa bernilai dengan pihak lain. Tugas para pemasar adalah menyusun program pemasaran yang terdiri dari sejumlah keputusan tentang bauran alat-alat pemasaran (marketing mix), yang diklasifikasikan sebagai 4P, yaitu product (produk), price (harga), place (tempat) dan promotion (promosi). Sedangkan menurut American Marketing Association (AMA) (2005), pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi, dan penyaluran gagasan, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi sasaran individu dan organisasi..
(20) 19. 2.3.Bauran Komunikasi Pemasaran Bauran komunikasi pemasaran adalah kumpulan alat-alat untuk mempromosikan suatu produk. Dalam bauran komunikasi pemasaran dikenal lima cara komunikasi yang utama, yaitu (Durianto, 2003): a) Penjualan perorangan (personal selling) Interaksi langsung dengan satu atau beberapa calon pembeli dengan melakukan presentasi, menjawab pertanyaan dan menerima pesanan. b) Periklanan (advertising) Semua bentuk penyajian non-personal, promosi dan ide tentang barang atau jasa yang dibayar oleh suatu sponsor. c) Promosi penjualan (sales promotion) Berbagai bentuk insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan konsumen untuk mencoba atau membeli suatu produk atau jasa. d) Hubungan masyarakat (public relation) dan publisitas (publicity) Berbagai. macam. program. untuk. memelihara,. menciptakan,. dan. mengembangkan citra perusahaan atau merek suatu produk. e) Pemasaran langsung (direct marketing) Penggunaan surat, telepon, faksimili, e-mail, dan alat komunikasi nonpersonal lainnya untuk melakukan komunikasi secara langsung agar mendapat tanggapan langsung dari pelanggan dan calon pelanggan. 2.4.Periklanan 2.4.1. Pengertian Iklan Iklan berasal dari bahasa Yunani yang artinya kurang lebih adalah “menggiring orang pada gagasan”. Secara komprehensif iklan adalah semua bentuk aktivitas untuk menghadirkan dan mempromosikan ide, barang atau jasa secara non-personal yang dibayar oleh sponsor tertentu (Durianto, dkk., 2003). Menurut Rhenald Kasali (2007), iklan adalah bagian dari bauran promosi (promotion mix) dan bauran promosi adalah bagian dari bauran pemasaran (marketing mix). Iklan dapat didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat suatu media..
(21) 20. 2.4.2. Efektivitas Efektivitas adalah kemampuan untuk menentukan tujuan yang memadai atau bisa diartikan melakukan hal yang tepat. Sedangkan efisiensi berarti kemampuan untuk meminimalkan penggunaan sumber daya dalam mencapai tujuan organisasi atau melakukan sesuatu yang tepat (Stoner, et al.,1996). 2.4.3. Iklan Efektif Iklan yang disampaikan sebaiknya diramu sedemikian rupa, sehingga pesan yang akan disampaikan mudah dicerna dan dimengerti oleh masyarakat, dan mengandung informasi yang benar. Dengan demikian, harga yang dibayarkan oleh konsumen untuk suatu produk setara dengan mutu yang sebenarnya dari produk tersebut. Seandainya suatu iklan dapat terpatri secara mendalam dalam benak konsumen, dan konsumen mencermatinya dengan sudut pandang yang benar, maka hal itu diartikan sebagai hasil kerja mekanisme pasar. Fenomena ini dalam pemasaran dikenal dengan sebutan “iklan yang efektif” (Durianto, dkk, 2003) Agar menghasilkan iklan yang efektif, program periklanan harus disusun dengan memperhatikan lima M, Kotler dalam Durianto, dkk (2003), yaitu: a) Mission (misi): apakah tujuan periklanan? b) Money (uang): berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk belanja iklan? c) Message (pesan): pesan apa yang harus disampaikan? d) Media (media): media apa yang paling efektif dan efisien? e) Measurement (pengukuran): bagaimana mengevaluasi efektivitas iklan? 2.4.4.. Ciri-Ciri Iklan. Menurut Kotler (2005), iklan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1. Penyajian publik (Public Presentation) Iklan merupakan bentuk komunikasi publik yang paling dikenal oleh masyarakat, sehingga produk yang diiklankan tersebut memberikan penawaran yang standar karena setiap orang menerima pesan yang sama..
(22) 21. 2. Daya serap yang tinggi (Pervasiveness) Iklan merupakan suatu media yang mempunyai daya serap tinggi, karena memungkinkan penjual untuk mengulang-ulang pesan mereka. Pesan memungkinkan pembeli untuk membanding-bandingkan dengan tawaran dari penjual lainnya. 3. Menunjukkan ekspresi (Amplified expressiveness) Iklan memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk mengungkapkan produknya memalui lukisan yang indah, bunyi maupun warna. Kadang alat ini berhasil dalam pengekspresiannya tetapi meleset dari pesan. 4. Tidak melakukan hubungan langsung (Impersonality) Iklan tidak melakukan hubungan langsung dengan konsumen, oleh karena itu konsumen tidak merasa berkewajiban untuk memberikan perhatian dan tanggapannya kepada iklan tersebut. Selain itu, iklan juga dapat digunakan untuk membangun citra suatu produk dan akan memacu penjualan produk yang cepat. 2.4.5. Klasifikasi Iklan Tidak ada istilah tunggal, jelas dan menyeluruh yang bisa menggambarkan karakter kompleks periklanan dan fungsi-fungsinya yang majemuk dan saling terkait. Periklanan sering kali diklasifikasikan dalam beberapa tipe besar, seperti periklanan produk, periklanan eceran, periklanan koorporasi, periklanan bisnis-ke-bisnis, periklanan politik, periklanan direktori, periklanan respon langsung, periklanan pelayanan masyarakat, periklanan advokasi (Lee dan Johnson, 2007). 1. Periklanan produk Porsi utama pengeluaran periklanan dibelanjakan untuk presentasi dan promosi produk-produk baru, produk-produk yang ada, serta produkproduk hasil revisi. 2. Periklanan eceran Periklanan ini bersifat lokal dan berfokus kepada toko, tempat dimana beragam produk dapat dibeli atau dimana suatu jasa ditawarkan..
(23) 22. 3. Periklanan korporasi Fokus periklanan ini adalah membangun identitas korporasi atau untuk mendapatkan dukungan publik terhadap sudut pandang organisasi. 4. Periklanan bisnis-ke-bisnis Istilah ini berkaitan dengan periklanan yang ditujukan kepada para pelaku industri, para pedagang perantara, serta para profesional. 5. Periklanan politik Periklanan politik sering kali digunakan para politisi untuk membujuk orang untuk memilih mereka. 6. Periklanan direktori Orang merujuk periklanan direktori untuk menemukan cara membeli sebuah produk atau jasa. 7. Periklanan respon langsung Periklanan respon langsung melibatkan komunikasi dua arah di antara pengiklan dan konsumen. 8. Periklanan pelayanan masyarakat Periklanan pelayanan masyarakat dirancang beroperasi untuk kepentingan masyarakat dan mempromosikan kesejahteraan masyarakat. 9. Periklanan advokasi Periklanan advokasi berkaitan dengan penyebaran gagasan-gagasan dan klasifikasi isu sosial dan kontroversi dan menjadi kepentingan masyarakat. 2.4.6. Fungsi Periklanan Secara umum, menurut Shimp (2003), periklanan dihargai karena dikenal sebagai pelaksana beragam fungsi komunikasi yang penting bagi perusahaan bisnis dan organisasi lainnya. Lima fungsi periklanan, yaitu: 1. Memberi informasi (informing) Digunakan secara besar-besaran pada tahap awal peluncuran suatu jenis produk, dengan tujuan membentuk perminaan pertama. Tujuannya adalah agar konsumen sadar akan sebuah merek baru. Periklanan memfasilitasi pengenalan merek-merek baru, meningkatkan jumlah permintaan terhadap merek-merek yang telah ada dan meningkatkan puncak kesadaran dalam benak konsumen. Informasi yang telah diberikan dapar berupa jenis.
(24) 23. produk yang ditawarkan, harga, tempat pembeliaan produk dan jasa purnajual. 2. Mempengaruhi/membujuk (persuading) Dilakukan dalam tahap persaingan, dengan tujuan membentuk permintaan selektif atas suatu merek tertentu. Iklan efektif akan mampu membujuk pelanggan untuk mencoba produk yang ditawarkan. Fungsi ini dilakukan untuk membangun preferensi merek dalam benak konsumen, mendorong konsumen untuk beralih ke merek lain, dan mengubah persepsi konsumen tentang suatu merek. 3. Mengingatkan (remainding) Fungsi ini penting untuk dilakukan bagi produk yang sudah matang. Tujuannya adalah agar merek produk atau perusahaan tetap segar dalam benak konsumen serta untuk meningkatkan minat konsumen terhadap merek yang sudah ada dan pembelian merek tertentu yang mungkin tidak akan dipilih oleh konsumen. 4. Memberikan nilai tambah (adding value) Periklanan memberi nilai tambah pada merek dengan mempengaruhi persepsi konsumen. Iklan yang efektif menyebabkan merek dipandang lebih elegan, lebih bergaya, lebih bergengsi dan lebih unggul dari tawaran pesaing. 5. Bantuan untuk mendampingi upaya-upaya lain dari perusahaan (assisting) Iklan dapat menjadi pendamping yang memfasilitasi upaya-upaya lain dari perusahaan dalam proses komunikasi pemasaran. Misalnya, iklan digunakan untuk meluncurkan kegiatan promosi penjualan, iklan juga mengawali proses penjualan produk dan memberikan pendahuluan yang bernilai bagi wiraniaga dalam penjulan langsung maupun dalam kegiatan personal selling dengan pelanggan yang prospektif. Iklan juga membantu konsumen dalam mengenali kemasan dan nilai produk dengan mudah. 2.4.7. Pesan iklan Iklan yang baik adalah iklan yang singkat, jelas, mudah dipahami, serta mengandung pengulangan kata (jika dibutuhkan). Menurut Kennedy dan Soemanagara (2006), agar menghasilkan pesan yang kuat dibutuhkan.
(25) 24. kreativitas di dalamnya. Tujuannya adalah agar pesan yang disampaikan melalui media itu dapat menarik perhatian khalayak. Menurut Kotler (2005), sebuah pesan iklan seharusnya mampu mendapatkan perhatian (attention), mampu menarik minat (interest), membangkitkan keinginan (desire), dan menyebabkan tindakan (action). Model pesan iklan seperti ini dikenal dengan model AIDA.. Perhatian (attention). Tahap Kognitif Minat (Interest). Tahap Afektif Keinginan (Desire). Tahap Perilaku Tindakan (Action). Gambar 1. Model Hierarki tanggapan AIDA (kotler 2005) 2.4.8. Iklan Politik Iklan politik di televisi terbagi ke dalam dua jenis, yaitu iklan citra kandidat dan iklan citra institusi. Nimmo dalam Anggraeni (2004) mengemukakan bahwa iklan citra kandidat merupakan imbauan yang ditujukan untuk membina reputasi atau mempromosikan seseorang, yang menghendaki jabatan tertentu sedangkan iklan citra institusi adalah imbauan yang ditujukan untuk mempromosikan sebuah organisasi, institusi atau kelompok tertentu. Pada masa kampanye pemilu, acara televisi banyak diselingi oleh iklan citra kandidat, iklan sejenis ini dijadikan tokoh politik sebagai alat untuk mempengaruhi dan membentuk citra yang baik pada masyarakat..
(26) 25. 2.5.Kekuatan dan Kelemahan Televisi Sebagai Media Iklan 2.5.1. Kekuatan Televisi Sebagai Media Iklan Setiap media iklan memiliki kekuatan dan kelemahan, begitu juga dengan media televisi. Menurut Kasali (2007), ada beberapa hal yang menjadi kekuatan dan kelemahan televisi sebagai media iklan. Kekuatan televisi sebagai media iklan antara lain sebagai berikut: 1. Efisiensi biaya Banyak pengiklan memandang bahwa televisi sebagai media yang paling efektif untuk menyampaikan pesan-pesan komersialnya. Salah satu keunggulannya adalah kemampuan menjangkau khalayak sasaran yang sangat luas. Jutaan orang melihat televisi secara teratur. Jangkauan masal ini menimbulkan efisiensi biaya untuk menjangkau setiap kepala. 2. Dampak yang kuat Keunggulan lainnya adalah kemampuan menimbulkan dampak yang kuat terhadap konsumen, dengan tekanan pada sekaligus dua panca indera: penglihatan dan pendengaran. Televisi juga mampu menciptakan kelenturan bagi pekerja-pekerja kreatif dengan mengkombinasikan gerakan, kecantikan, suara, warna, drama, dan humor. 3. Pengaruh yang kuat Televisi, mempunyai kemampuan yang kuat untuk mempengaruhi persepsi khalayak sasaran. Kebanyakan masyarakat meluangkan waktunya di muka televisi sebagai, media sumber berita, hiburan, dan sarana pendidikan. Kebanyakan calon pembeli lebih percaya pada perusahaan yang mengiklankan produknya di televisi daripada tidak sama sekali. Ini adalah cerminan bonafiditas pengiklanan. 2.5.2. Kelemahan Televisi Sebagai Media Iklan Adapun kelemahan yang dimiliki televisi sebagai media iklan adalah sebagai berikut: 1. Biaya yang besar Kelemahan yang paling serius dalam beriklan di televisi adalah biaya yang sangat ekstrim untuk memproduksi dan menyiarkan siaran komersial. Sekalipun biaya untuk menjangkau setiap kepala adalah rendah, biaya.
(27) 26. absolut membatasi niat pengiklan. Biaya produksi, termasuk pembuatan film dan honorarium artis yang terlibat, bisa menghabiskan jutaan rupiah. Belum lagi penyiarannya yang harus di ulang-ulang pada jam-jam siaran utama. 2. Khalayak yang tidak selektif Sekalipun berbagai teknologi yang telah diperkenalkan untuk menjangkau sasaran yang lebih selektif, televisi tetap sebuah media yang tidak selektif, segmentasinya tidak setajam surat kabar atau majalah. Jadi, iklan-iklan yang disiarkan di televisi memiliki kemungkinan menjangkau pasar tidak tepat. 3. Kesulitan teknis Media ini juga tidak luwes dalam pengaturan teknis. Iklan-iklan yang telah dibuat tidak dapt diubah begitu saja jadwalnya, apalagi menjelang jam-jam penyiarannya. 2.6. Pengertian Merek Menurut American Marketing Association dalam Kotler (2005) dikatakan bahwa merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari hal-hal berikut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual untuk membedakan dari produk lainnya. Undang-Undang di Indonesia yang mengatur tentang merek yaitu UU No.15 tahun 2001. Dalam UU No.15 tahun 2001 pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. Menurut Rangkuti (2002), merek juga dapat dibagi dalam pengertian lainnya, seperti: a. Brand name (nama merek) Nama merek merupakan bagian dari merek yang dapat diucapkan. b. Brand mark (tanda merek) Tanda merek merupakan sebagian dari merek yang dapat dikenali namun tidak dapat diucapkan, seperti lambang, desain huruf, atau warna khusus..
(28) 27. c. Trade mark (tanda merek dagang) Tanda merek dagang merupakan merek atau sebagian dari merek yang dilindungi oleh hukum karena kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu yang istimewa. Tanda merek dagang ini melindungi penjual dengan hak istimewanya untuk menggunakan nama merek (tanda merek). d. Copyright (hak cipta) Hak cipta merupakan hak istimewa yang dilindungi oleh undang-undang untuk memproduksi, menerbitkan, dan menjual karya tulis, karya musik atau karya seni. 2.7. Brand Equity Menurut Aaker (1997) brand equity (ekuitas merek) adalah seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya yang menambahkan dan mengurangi nilai yang diberikan oleh suatu barang atau jasa kepada perusahaan atau pelanggan. Konsep brand equity dapat terlihat pada Gambar 2..
(29) 28. Perceived Quality Brand Association. Brand Awareness Brand Equity Brand Loyalty. Memberikan nilai kepada pelanggan dengan memperkuat: • • •. Intrepetasi / proses informasi Rasa percaya diri dalam pembelian Pencapaian kepuasan dari pelanggan. Other proprietary brand assets. Memberikan nilai kepada perusahaan dengan memperkuat: • • • • • •. Efesiensi dan efektifitas program pemasaran Brand Loyalty Harga/Laba Perluasan merek Peningkatan perdagangan Keuntungan kompetitif. Gambar 2. Konsep brand equity (Aaker, 1997) Menurut Aaker dalam Durianto, dkk (2004), mengelompokkan brand equity ke dalam lima kategori, yaitu: 2.7.1. Brand Awareness (Kesadaran Merek) Kesadaran merek artinya adalah kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu (Aaker, 1997). Menurut Rangkuti (2002), tingkat kesadaran merek secara berurutan dapat di gambarkan sebagai suatu piramida. Penjelasan mengenai piramida brand awareness dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi adalah sebagai berikut:.
(30) 29. a) Unaware of brand (tidak menyadari merek) Merupakan tingkat yang paling rendah dalam piramida kesadaran merek, dimana konsumen tidak menyadari akan adanya suatu merek. b) Brand recognition (pengenalan merek) Tingkat minimal dari kesadaran merek. Hal ini penting pada saat seseorang memilih suatu merek pada saat melakukan pembelian. c) Brand recall (pengingatan kembali terhadap merek) Pengingatan kembali terhadap merek didasarkan pada permintaan seseorang untuk menyebutkan merek tertentu dalam suatu kelas produk. Hal ini diistilahkan dengan pengingatan kembali tanpa bantuan, karena berbeda dari tugas pengenalan, responden tidak perlu dibantu untuk memunculkan merek tersebut. d) Top of mind (puncak pikiran) Apabila seseorang ditanya secara langsung tanpa diberi bantuan pengingatan dan ia dapat menyebutkan satu merek, maka merek yang paling banyak disebutkan pertama kali merupakan puncak pikiran. Dengan kata lain, merek tersebut merupakan merek utama dari berbagai merek yang ada di dalam benak konsumen.. Top of Mind. Brand Recall Brand Recognition. Unaware Brand Gambar 3. Piramida Brand Awareness (Aaker dalam Durianto dkk, 2004).
(31) 30. 2.7.2. Brand Association (Asosiasi Merek) Menurut Durianto, dkk (2004), Brand Association adalah segala kesan yang muncul di benak seseorang terkait dengan ingatannya mengenai suatu merek. Berbagai asosiasi merek yang saling berhubungan akan menimbulkan suatu rangkaian yang disebut brand image. Semakin banyak asosiasi yang saling berhubungan, semakin kuat brand image yang dimiliki oleh merek tersebut. Menurut Aaker dalam Durianto, dkk (2004), fungsi dari brand association adalah: 1. Membantu proses penyusunan informasi 2. Memberikan landasan penting bagi upaya pembeda suatu merek dari merek lain 3. Membangkitkan berbagai atribut produk atau manfaat bagi konsumen (konsumen benefit) yang dapat memberikan alasan spesifik bagi konsumen untuk membeli dan menggunakan merek tertentu. 4. Menciptakan sikap dan perasaan positif atas dasar pengalaman merek serta pengubahan pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang berbeda. 5. Menjadi landasan bagi suatu perluasan dengan menciptakan rasa kesuaian (Sense of fit) antara merek dan sebuah produk baru. Menurut Durianto, dkk (2004) terdapat beberapa acuan dalam penentuan brand association, yaitu: 1. Produk attributes (atribut produk) Mengasosiasikan atribut atau karakteristik suatu produk merupakan strategi. positioning. yang. paling. sering. digunakan.. Mengembangkan asosiasi semacam ini efektif karena jika atribut tersebut bermakna, asosiasi dapat secara langsung diterjemahkan dalam alasan pembelian suatu merek..
(32) 31. 2. Intangibles attributes (atribut tidak berwujud) Suatu faktor tak berwujud merupakan atribut umum, seperti halnya persepsi kualitas, kemajuan teknologi, atau kesan nilai yang mengikhtisarkan serangkaian atribut yang objektif. 3. Customer’s benefits (manfaat dari pelanggan) Manfaat bagi pelanggan dapat terbagi menjadi dua, yaitu rational benefit (manfaat rasional) dan psychological benefits (manfaat psikologis). Manfaat rasional berkaitan dengan atribut dari produk yang dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan yang rasional.. Manfaat. psikologis. sering kali merupakan. konsekuensi ekstrem dalam proses pembentukan sikap, berkaitan dengan. perasaan. yang. ditimbulkan. ketika. membeli. atau. menggunakan merek tersebut. 4. Relative price (harga relatif) Evaluasi terhadap suatu merek di sebagian kelas produk ini akan diawali dengan penentuan posisi merek tersebut dalam satu atau dua dari tingkat harga. 5. Application (penggunaan) Pendekatan ini adalah dengan mengasosiasikan merek tersebut dengan suatu penggunaan atau aplikasi tertentu. 6. User/customer (pengguna/pelanggan) Pendekatan ini adalah dengan mengasosiasikan sebuah merek dengan sebuah tipe pengguna atau pelanggan dari produk tersebut. 7. Celebity/person (orang terkenal/khalayak) Mengkaitkan orang terkenal atau artis dengan sebuah merek dapat mentransfer asosiasi kuat yang dimiliki oleh orang terkenal ke merek tersebut. 8. Life style/personality (gaya hidup/kepribadian) Asosiasi sebuah merek dengan suatu gaya hidup dapat diilhami oleh asosiasi para pelanggan merek tersebut dengan aneka kepribadian dan karakteristik gaya hidup yang hampir sama..
(33) 32. 9. Product class (kelas produk) Mengasosiasikan sebuah merek menurut kelas produknya. 10. Competitors (para pesaing) Mengetahui pesaing dan berusaha untuk menyamai atau bahkan mengungguli pesaing. 11. Country/geographic area (negar/wilayah geografis) Sebuah negara dapat menjadi simbol yang kuat asalkan memiliki hubungan yang erat dengan produk, bahan, dan kemampuan. 2.7.3. Perceived Quality (Kesan Kualitas) Menurut Durianto, dkk (2004), perceived quality dapat didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atas keunggulan suatu produk atau jasa berkenaan dengan maksud yang diharapkan. Perceived quality ini akan membentuk persepsi kualitas dari suatu produk di mata pelanggan. Seorang pelanggan yang tidak memiliki informasi yang cukup dapat mengarahkan kepada penentuan kualitas suatu merek secara objektif. Mungkin pula pelanggan tidak termotivasi untuk memproses informasi, tidak mempunyai kesanggupan dan sumber daya untuk memperoleh dan memproses informasi sehingga perceived quality menjadi sangat berperan dalam keputusan pelanggan. Menurut Durianto, dkk (2004) perceived quality dapat menghasilkan nilai-nilai sebagai berikut: 1. Alasan untuk membeli Keterbatasan informasi, uang dan waktu membuat keputusan pembelian seorang pelanggan sangat mempengaruhi oleh perceived quality suatu merek yang ada di benak konsumen. 2. Diferensiasi atau posisi dan harga premium Salah satu karakteristik yang penting dari merek produk adalah posisinya dalam dimensi perceived quality, apakah merek tersebut merupakan yang terbaik? Atau sama baiknya dengan merek lainnya? Apakah merek tersebut ekonomis? Salah satu keuntungan dari perceived quality adalah dalam menentukan harga premium yang.
(34) 33. dapat meningkatkan laba yang secara langsung dapat meningkatkan profitabilitas. 3. Perluasan saluran distribusi Para pengecer dan distributor akan termotivasi untuk menjadi penyalur produk dan merek dengan perceived quality yang tinggi, yang berarti dapat memperluas distribusi dari merek produk tersebut. Dengan citra menyalurkan produk berkualitas, distributor dapat menawarkan harga-harga yang menarik dan dapat menguasai niaga distribusi. 4. Perluasan merek Suatu merek produk dengan perceived quality kuat dapat dieksploitasi ke arah perluasan merek. Produk dengan merek yang memiliki perceived quality kuat dan mempunyai kemungkinan sukses yang lebih besar dibandingkan dengan merek yang memiliki perceived quality lemah, sehingga perluasan produk dari merek dengan perceived quality yang kuat memungkinkan perolehan pangsa pasar yang lebih besar pula. 2.7.4. Brand loyalty (Loyalitas Merek) Menurut Durianto, dkk (2004), brand loyalty menjadi gagasan inti dari pemasaran dan merupakan ukuran keterkaitan seorang pelanggan pada sebuah merek. Loyalitas merek merupakan salah satu indikator inti dari ekuitas merek yang terkait dengan laba di masa depan, karena secara langsung dihubungkan dengan tingkat penjualan di masa depan. Menurut Aaker dalam Durianto, dkk (2004), loyalitas pelanggan terhadap merek terdiri dari beberapa tingkatan yaitu sebagai berikut: 1. Berpindah-pindah (switcher) Pembeli yang berada pada tingkat loyalitas ini dikatakan sebagai pelanggan yang berada pada tingkat yang paling dasar. Pada tingkatan ini, pelanggan menganggap merek memegang peranan yang sangat kecil dalam pengambilan keputusan pembelian. Ciri.
(35) 34. pelanggan yang berpindah-pindah merek adalah mereka membeli suatu produk karena faktor harga yang murah. 2. Pembeli yang bersifat kebiasaan (Habitual buyer) Pembeli yang berada pada tingkat loyalitas ini dapat dikategorikan sebagai. pembeli yang. puas. dengan. merek. produk. yang. dikonsumsinya atau tidak mengalami ketidakpuasan dalam mengkonsumsi merek produk tersebut. Pembeli ini membeli suatu merek didasarkan kebiasaan. 3. Pembeli yang puas (Satisfied buyer) Pembeli merek ini termasuk dalam kategori puas pada merek yang dikonsumsinya, meskipun mereka menganggung switching cost (biaya peralihan) yang terkait dengan waktu, uang atau resiko kinerja dengan beralih pembeliannya ke merek lain. 4. Pembeli yang menyukai merek (Liking the brand) Pembeli ini merupakan pembeli yang bersungguh-sungguh menyukai merek tersebut. Pada tingkatan ini perasaan emosional sangat terkait pada merek. Rasa suka pembeli dapat didasarkan oleh asosiasi yang terkait dengan simbol, rangkaian pengalaman dalam penggunaan sebelumnya baik yang dialami pribadi maupun oleh kerabatnya ataupun disebabkan oleh perceived quality yang tinggi. 5. Pembeli yang berkomitmen (Committed buyer) Pembeli ini merupakan pelanggan yang setia. Mereka memiliki suatu kebanggaan sebagai pengguna suatu merek dan bahkan merek tersebut menjadi sangat penting dari segi fungsinya maupun sebagai ekspresi diri. Tiap tingkatan brand loyalty mewakili tantangan pemasaran yang berbeda dan mewakili tipe aset yang berbeda dalam pengelolaan ekploitasinya. Konsep brand loyalty dapat terlihat seperti pada Gambar 4..
(36) 35. Committed buyer Liking the brand Satisfied buyer Habitual buyer Switcher. Gambar 4. Piramida brand loyalty (Aaker, 1997) 2.8.Penelitian Terdahulu Menurut Ramdhan (2006) yang meneliti analisis efektivitas iklan semen Holcim PT. Holcim Indonesia, Tbk., pada media televisi menunjukkan hasil yang baik. Sebagian besar responden telah mengetahui hadirnya merek semen Holcim pada pasar segmen nasional. Responden memberikan respon dan sikap yang positif terhadap iklan semen Holcim. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan metode EPIC model, dapat disimpulkan bahwa iklan semen Holcim dinilai efektif ditinjau dari keempat dimernsinya yaitu empati, persuasi, dampak dan komunikasi. Begitu pula halnya dengan hasil analisis yang menggunakan metode DRM, dapat disimpulkan bahwa iklan semen Holcim dinilai efektif dilihat dari kelima dimensinya yaitu perhatian, pemahaman, aspek kognitif, aspek afektif dam sikap responden terhadap iklan. Menurut Mulyadin (2006) dalam penelitiannya tentang analisis efektifitas iklan televisi kecap cap bango dan brand equity produk kecap, hasil dari strategi iklan yang dilakukan cap Bango sudah efektif, hal ini terlihat dari hasil pengukuran melalui CRI (Customer Response Index). Sebagian besar dari responden sudah mengetahui keberadaan kecap cap Bango, hal ini terlihat berdasarkan hasil analisis brand awareness yang menempati posisi tertinggi dibandingkan merek kecap lainnya. Asosiasi.
(37) 36. pembentuk brand image dari cap Bango yaitu iklan di televisi yang gencar, iklan di televisi yang menarik, kualitas yang diperoleh sudah sesuai harga, informasi produk yang lengkap, dan terbuat dari bahan-bahan alami. Pada ukuran persepsi kualitas, kecap merek Bango dinilai lebih unggul pada atribut rasanya yang enak, kekentalannya pas, mudah meresap pada makanan, dan terbuat dari bahan-bahan alami. Sementara pada tingkat loyalitas merek, kecap merek Bango didominasi oleh konsumen yang berada pada tingkatan konsumen yang benar-benar menyukai kecap Bango. Menurut Pratama (2006) dalam analisis brand equity Pocari Sweat dalam persaingan industri minuman bahwa elemen brand awareness merek Pocari Sweat merupakan merek yang paling diingat oleh konsumen. Asosiasi pembentuk brand image pada elemen brand association menunjukkan bahwa merek Pocari Sweat mendapatkan dua brand image, yaitu aman bagi kesehatan dan rasa yang segar pelepas dahaga. Penilaian konsumen pada perceived quality menunjukkan bahwa merek Pocari Sweat lebih unggul dibandingkan merek lainnya dalam atribut manfaat, aman bagi kesehatan, menghilangkan dehidrasi, rasa, dan memulihkan stamina. Hasil analisa perceived quality dengan metode biplot menunjukkan bahwa Pocari Sweat memiliki beberapa karakteristik atribut yang melekat pada mereknya yaitu atribut manfaat, aman bagi kesehatan, menghilangkan dehidrasi dan memulihkan stamina. Analisa pada elemen brand loyalty menunjukkan bahwa merek Pocari Sweat belum memiliki brand loyalty yang kuat. Hal ini tercermin dari bentuk piramida brand loyalty yang mengecil pada tingkatan liking the brand dan committed buyer..
(38) 37. III. METODE PENELITIAN. 3.1.Kerangka Pemikiran Pengaruh iklan televisi terhadap pembentukan brand equity suatu partai merupakan hal yang menarik untuk diteliti. Kampanye iklan yang efektif berperan besar terhadap pencapaian pangsa pikiran dan pangsa pasar. Pada kondisi seperti saat ini dimana terdapat beragamnya partai politik di Indonesia mengharuskan Partai Gerindra mempunyai strategi promosi yang efektif. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan membuat iklan pada media televisi yang bertujuan untuk membangun dan memperkuat brand equity partainya. Penelitian ini menganalisis posisi Partai Gerindra dan partai-partai lainnya seperti Partai Demokrat, Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada elemen-elemen brand equity seperti brand awareness, brand association, dan perceived quality. Sedangkan pada elemen brand loyalty hanya Partai Gerindra saja yang diukur loyalitas mereknya. Metode penelitian yang digunakan dalam mengukur efektivitas iklan televisi Partai Gerindra adalah analisis Customer Response Index (CRI). Pengukuran elemen-elemen brand equity menggunakan beberapa analisis. Pada elemen brand awareness digunakan analisis deskriptif dalam mengukurnya. Pada analisis brand association menggunakan uji Cochran. Analisis semantic differential digunakan untuk mengukur perceived quality dan untuk mengukur brand loyalty responden terhadap Partai Gerindra dianalisis dengan mengunakan analisis deskriptif..
(39) 38. Partai Gerindra. Analisis Brand Equity. Analisis Brand Awareness. Analisis Brand Association. Analisis Deskriptif. Analisis Deskriptif Keragaan Iklan Partai Gerindra. Analisis Perceived Quality. Uji Cochran. Analisis Brand Loyalty. Semantic differential. CRI. Analisis Deskritif. Efektivitas Partai Gerindra Gambar 5. Kerangka Pemikiran 3.2.Metode Penelitian 3.2.1. Lokasi dan Waktu Pemilihan lokasi penelitian terkait dengan tempat penyebaran kuesioner dilakukan secara sengaja (purposive). Lokasi penelitian yang dipilih adalah di lingkungan kampus Institut Pertanian Bogor yang berlokasi di Kecamatan Dramaga. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2009. 3.2.2. Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari hasil penyebaran kuesioner kepada responden, yaitu mahasiswa program Strata Satu Institut. Pertanian. Bogor.. Data. primer. ini. digunakan. untuk.
(40) 39. mendapatkan data yang aktual yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Data sekunder berasal dari berbagai literatur seperti buku, tulisan ilmiah, internet, dan media massa. Data sekunder ini digunakan untuk membantu dan mendukung data primer yang didapatkan. 3.2.3. Pengambilan Sampel Teknik pengambilan contoh yang akan dipakai adalah nonprobability sampling sehingga semua unsur populasi belum tentu memiliki peluang sama untuk dipilih menjadi anggota contoh. Teknik non-probability sampling yang digunakan adalah metode Quota Sampling. Jumlah responden yang diambil berdasarkan rumus Slovin (Umar, 2004), yaitu:. n=. N 1 + Ne 2. ……………………………………….. (1). Keterangan: n =. Jumlah sampel. N =. Ukuran populasi. e. Persen kelonggaran karena kesalahan sampel yang dapat. =. ditolelir atau diinginkan, yaitu sebesar 7,5%. 3.2.4. Pengujian Kuesioner Uji Validitas dan Uji Reliabilitas digunakan untuk menguji kuesioner yang digunakan. Hal ini dilakukan agar kuesioner yang digunakan memang akurat dan layak untuk disebar kepada responden. Uji validitas dilakukan untuk melihat hubungan diantara masingmasing pertanyaan, sehingga memiliki keterkaitan yang erat diantaranya. Sedangkan uji reliabilitas dilakukan agar semua pertanyaan tersebut sesuai dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. a. Uji Validitas. Menurut Umar (2004), uji validitas menunjukkan sejauh mana alat pengukur itu mengukur hal yang akan diukur. Langkahlangkah dalam menguji validitas kuesioner adalah sebagai berikut: a. Mendefinisikan secara operasional konsep yang akan diukur..
(41) 40. b. Melakukan uji coba skala pengukuran pada sejumlah responden. Jumlah responden untuk uji coba adalah 30 orang. c. Mempersiapkan tabel tabulasi jawaban. d. Menghitung korelasi antara masing-masing pertanyaan dengan skor tiap-tiap pertanyaan dengan menggunakan rumus teknik korelasi product moment Pearson, sebagai berikut:. ∑ XY ) − (∑ X ∑ Y ) (N ∑ X − (∑ X ) )(N ∑ Y − (∑ Y ) ) N(. r=. 2. 2. 2. 2. …………..….. (2). Keterangan: N = Jumlah responden X = Skor masing- masing pernyataan dari tiap responden Y = Skor total semua pertanyaan dari tiap responden b. Uji Reliabilitas Jika kuesioner telah dinyatakan sah, maka reliabilitas kuesioner tersebut diuji keandalannya. Menurut Umar (2004), reliabilitas adalah suatu nilai yang menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama. Teknik uji reliabilitas yang akan digunakan adalah Teknik Alfa Cronbach dan metode Spearman-Brown. Metode Alfa Cronbach digunakan pada pengujian elemen perceived quality. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:. ∑. σ b2 k r11 = 1 − k − 1 σt2 . . ……………………………… (3). Keterangan: r 11. = Keandalan instrumen. k. = Banyak butir pertanyaan. Σσb σt. 2. 2. = Jumlah ragam butir = Ragam total.
(42) 41. Analisis uji reliabilitas brand association, metode yang dipakai yaitu metode Spearman-Brown. Dalam metode ini skor yang ang diperoleh dikelompokkan menjadi dua berdasarkan belahan bagian. butirnya,. yaitu. belah. ganjil. dan. genap.. Dengan. menggunakan teknik belah ganjil ganjil-genap, genap, peneliti mengelompokkan skor butir bernomor ganjil sebagai belahan pertama dan skor butir bernomor gena genapp sebagai belahan kedua. Langkah berikutnya adalah mengkorelasikan skor belahan pertama dengan skor belahan kedua sehingga diperoleh nilai rXY.. ∑ XY ) − (∑ X ∑ Y ) (N ∑ X − (∑ X ) )(N ∑ Y − (∑ Y ) ) N(. r=. 2. 2. 2. 2. ………….. (4). Keterangan: ∑X X = total skor ya belahan ganjil ∑Y Y = total skor ya belahan genap ∑XY XY = total skor hasil kali belahan ganjil dan genap Nilai rXY tersebut menunjukkan hubungan antara dua belahan instrumen. Untuk selanjutnya nilai tersebut dimasukkan dalam rumus Spearman-Brown Spearman berikut: ………………………….. (5). Keterangan: r11 = reliabilitas reliabili instrumen rXY = korelasi antara dua belahan instrument Nilai reliabilitas yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan nilai dari tabel r product moment. Jika │r11│< r product moment dapat disimpulkan bahwa instumen yang digunakan tidak reliabel. Sebaliknya jika │r11│ > r product moment dapat disimpulkan bahwa instrumen yang digunakan reliabel dan penelitian dengan menggunakan instrumen yang sama dapat dilanjutkan..
(43) 42. 3.2.5. Pengolahan dan Analisis Data 1) Customer Response Index (CRI) Durianto, dkk (2003) mengatakan bahwa seorang pemasar dapat mengukur efektivitas komunikasi (iklan) yang dijalankan melalui CRI (Customer Response Index) yang merupakan hasil perkalian antara Awareness (kesadaran), Comprehend (pemahaman konsumen), interest (ketertarikan), intentions (maksud untuk membeli), dan action (bertindak). Berdasarkan formulasi dalam memperoleh CRI, diketahui bahwa CRI menampilkan proses pembelian yang berawal dari munculnya awareness (kesadaran) konsumen, yang pada akhirnya mampu mengarahkan konsumen pada suatu aktivitas action (bertindak membeli). Dengan demikian, CRI dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk mengukur efektivitas iklan, karena komunikasi pemasaran sangat berperan penting dalam membangkitkan iklan yang efektif. Adapun rumus yang digunakan untuk mengukur CRI adalah sebagi berikut: CRI = Awareness x comprehend x interest x intentions x action ...(6). 2) Analisis Brand Awareness Pada analisis brand awareness digunakan metode analisis deskriptif. Analisis ini dilakukan dengan mentabulasikan data yang diperoleh. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: P = fi / ∑fi x 100 % ................................................................... (7) Keterangan: P = Persentase responden yang memilih kategori tertentu fi = Jumlah responden yang memilih kategori tertentu. ∑fi= Total responden 3) Analisis Brand Association Pada analisis brand association digunakan alat analisis Uji Cochran. Uji Cochran digunakan pada data dengan skala pengukuran nominal untuk informasi dalam bentuk terpisah dua.
(44) 43. (dikotomi), misal misal informasi “ya” atau “tidak”. Uji ini dilakukan untuk menganalisis hubungan asosiasi antar berbagai atribut dalam elemen brand association. association Asosiasi iasi yang saling berhubungan akan membentuk brand image dari merek tersebut. Adapun rumus umus yang digunakan adalah sebagai berikut:. …………….. ………….. ((8) Keterangan: C = banyaknya variabel (asosiasi) Ri = jumlah baris jawaban “ya” Cj = jumlah kolom jawaban “ya” N = total besar Jika diperoleh nilai Q < X2 tabel. (α,db),maka. H0 diterima. Hal. ini menunjukkan bahwa semua asosiasi yang diuji saling berhubungan membentuk brand image (citra merek). Jika diperoleh Q > X2 tabel (α,db), maka dapat disimpulkan belum cukup kup bukti untuk meneriman H0 yang berarti bahwa tidak semua asosiasi merupakan penyusun brand image, sehingga pengujian ngujian dilanjutkan ke tahap kedua dua dengan cara mencari asosiasi yang memiliki jumlah kolom terkecil yang selanjutnya akan dikeluarkan dari komponen komponen asosiasi pembentuk brand image. Kemudian nilai Q dihitung kembali dan dibandingkan kembali dengan nilai X2 tabel Q < X2 tabel. (α,db),. (α,db). sampai dapat nilai. maka pengujian dihentikan yang berarti brand. image terbentuk dari asosiasi-asosiasi asosiasi sisanya yang belum diuji dan asosiasi terakhir yang diuji. 4) Analisis Perceived Quality Skala semantic differential digunakan untuk menganalisis perceived quality. quality. Metode skala ini digunakan untuk mengukur arti psikologis dari suatu objek di benak responden. Metode ini dibuat dengan menempatkan dua skala penilaian dalam titik-titik titik titik ekstrim yang berlawanan, yang disebut bipolar. Biasanya Biasanya diantara dua titik.
(45) 44. ekstrim terdapat 5 atau 7 titik butir skala dimana responden menilai suatu konsep atau lebih. Sebagai contoh butir-butir skala semantic differential: Baik. (5). ___:___:___:___:___ (1) Baik. Lambat (1). ___:___:___:___:___ (5) Cepat. Lemah (1). ___:___:___:___:___ (5) Kuat. Menarik (5). ___:___:___:___:___ (1)Tidak Menarik. Tahap-tahap. penggunaan. skala. semantic. differential. (Durianto, dkk, 2004): a. Pemilihan konsep yang akan digunakan dalam studi b. Menentukan pilihan dua kata yang akan ditempatkan dalam titik kutub/ekstrim. c. Observasi tanggapan responden terhadap faktor-faktor tersebut, dengan meminta kesediaan responden mengisi kolom-kolom alternatif yang tersedia diantara dua kutub polar d. Menghitung. rata-rata. skor. jawaban. responden. dan. memplotnya dalam suatu grafik yang akan menggambarkan kecenderungan positif dan negatif. 5) Analisis Brand Loyalty Skala Likert dan rata-rata digunakan untuk mengukur brand loyalty. Skala Likert adalah skala pengukuran ordinal yang dapat digunakan untuk menunjukkan tanggapan konsumen terhadap karakteristik suatu produk. Skala Likert memiliki rentang skala dari 1 sampai 5. Pemetaan bobot penilaian adalah sebagai berikut: Skala 1 = bobot 1 (sangat tidak setuju) Skala 2 = bobot 2 (tidak setuju) Skala 3 = bobot 3 (biasa saja) Skala 4 = bobot 4 (setuju) Skala 5 = bobot 5 (sangat setuju).
(46) 45. Setelah data diperoleh, data digolongkan ke dalam ka kategori berdasarkan nilai yang diperoleh dengan cara mengalikan besarnya bobot pada kategori tertentu yang telah ditetapkan dengan jumlah responden yang masuk ke dalam kategori yang sama. Dari data yang diperoleh, dicari nilai rata-ratanya rata ratanya untuk mengetahui ukuran pemusatan dan ukuran keragaman tanggapan responden digunakan digu rumus (Durianto, dkk, 2004), 2004 berikut:. …………….………………….. ………………….. (9) Keterangan: xi = nilai pengukuran ke-i ke fi = frekuensi kelas keke i n = banyaknya pengamatan Hasil dari rata-rata rata tersebut kemudian dipetakan ke rentang skala dengan mempertimbangkan informasi interval berikut:. Setelah besar kelas diketahui, kemudian dibuat rentang skala sehingga dapat diketahui dimana letak rata-rata rata rata penilaian responden terhadap setiap unsur diferensiasinya dan sejauh mana variasinya. Rentang skala tersebut adalah sebagai berikut: 1,00 – 1,80 = sangat buruk 1,80 – 2,60 = buruk 2,60 – 3,40 = cukup 3,40 – 4,20 = baik 4,20 – 5,00 = sangat baik.
(47) 46. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1.Gambaran Umum Partai Gerindra Partai Gerakan Indonesia Raya atau yang terkenal dengan Gerindra merupakan salah satu partai politik pemilu pada tahun 2009. Partai ini didirikan dan dideklarasikan pada bulan Febuari 2008, sehingga termasuk dalam kategori partai baru. Pada periode ini yang menjadi ketua umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerakan Indonesia Raya adalah Prof. Dr. Ir. Suhardi, M.Sc. sedangkan yang dicalonkan menjadi kandidat presiden adalah Prabowo Subianto. Partai Gerakan Indonesia Raya dibentuk dan dideklarasikan sebagai wujud untuk beramal bakti kepada negara dan rakyat Indonesia. Pembentukkan partai ini dilatarbelakangi oleh kondisi pemerintah yang tak kunjung dapat menyelesaikan persoalan rakyat dan bangsa. Sistem politik yang diterapkan oleh pemerintah dipandang belum dapat merumuskan untuk mengangkat. harkat. dan. martabat. mayoritas. rakyat. Indonesia. dari. kemelaratan. Selama ini mayoritas rakyat masih dalam penderitaan, kesengsaraan, dan ketidakadilan, serta jumlah pengangguran yang semakin meningkat. Dengan hadirnya Partai Gerakan Indonesia Raya diharapkan dapat membawa suasana pembaharuan dan perubahan baru sistem politik bangsa Indonesia, sehingga dapat membangun dan mewujudkan tatanan masyarakat Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil dan makmur, serta beradab dan berketuhanan yang berlandaskan pancasila, sebagaimana terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Partai Gerindra adalah partai yang berupa kebangsaan, kerakyatan, relegius, dan keadilan sosial. Partai ini terbuka untuk semua golongan, berkemandirian, merdeka, demokratis serta pantang menyerah. Di antara tugas dijalani oleh Partai Gerindra yaitu: a) Mempertahankan dan mengamalkan Pancasila dan menegakkan UUD 1945, sebagaimana di tetapkan tanggal 18 Agustus 1945. b) Berjuang memperoleh kekuasaan politik secara kontitusional guna mewujudkan pemerintahan, sebagaiman dimaksud dalam Pembukaan.
Dokumen terkait
ABSTRAK: Penelitian dengan tujuan untuk mengetahui: Tingkat validasi modul hasil pengembangan pada konsep sistem reproduksi manusia yang diintegerasikan nilai-nilai
Dalam ilmu komunikasi, Praktik komunikasi sebagai kebutuhan manusia sehari-hari dalam menyampaikan ide dan pesannya membutuhkan dasar-dasar ilmu filsafat sebagai
Hasil : Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat perbedaan tekanan darah pada responden sebelum dan sesudah pemberian jus buah belimbing manis, dengan nilai p
Sistem biaya standar menerapkan konsep tersebut di atas secara lebih luas, dimana jumlah biaya (beban) untuk tiap unit produksi (yang meliputi bahan, upah langsung, maupun
diperoleh Kinerja karyawan adalah (93,208 > 2,72), dengan demikian Hipotesis terdapat pengaruh positif dan signifikan antara budaya organisasi, disiplin kerja dan
Melalui pembelajaran online peserta didik mampu menentukan nilai variabel pada sistem persamaan linear dua variabel dengan metode eliminasi dan substitusi dalam
Ilmu Politik bukan hanya sekedar pengetahuan dan pengantar peserta didik kedunia kerja dan masyarakat saja, namun merupakan bekal utama untuk mengarahkan peserta
Sedangkan kelompok yang dipijat rata-rata kecepatan pengeluaran ASI 11,68 jam lebih cepat dari pada kelompok yang tidak dipijat, ini sejalan dengan penelitian yang