• Tidak ada hasil yang ditemukan

AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Vol.02, No.03, Desember 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Vol.02, No.03, Desember 2020"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan KEANEKARAGAMAN BULU BABI (Echinoidea) DI EKOSISTEM TERUMBU KARANG PANTAI WAIPARE, DESA WATUMILOK, KECAMATAN KANGAE,

KABUPATEN SIKKA

1Maria Yohanista, Yohanes Erifon2

1 Staff Pengajar Pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UNIPA Maumere

2 Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UNIPA Maumere Email : [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan keanekaragaman bulu babi (Echinoidea) di Ekosistem Terumbu Karang Pantai Waipare, Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka. Penelitian menggunakan metode line transek yang ditarik sejajar garis pantai dengan jarak antara garis transek yaitu 10 m. Pada satu garis transek ditempatkan 5 plot atau transek kuadran dengan jarak antar plot yaitu 1 meter dan luas masing-masing plot 1 m2. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa jenis bulu babi yang ditemukan di Ekosistem Terumbu Karang Pantai Waipare sebanyak 4 spesies yaitu Diadema setosum, Echinotrix calamaris, Tripneus dan Diadema antilarum dengan nilai kepadatan tertinggi adalah jenis Diadema setosum sebesar 25,80 Individu/m2 sedangkan kepadatan terendah adalah jenis Echinotrix calamaris sebesar 0,53 Individu/m2.

Nilai kehadiran tertinggi terdapat pada spesies Diadema setosum dan Deadema antilarum yakni sebesar 31,25 % masuk dalam kategori jarang sedangkan Echinotrix calamaris yakni 12,50 % dan Tripneust dengan nilai sebesar 25,00% tergolong sangat jarang kehadirannya.

Nilai keanekaragaman bulu babi tertinggi adalah jenis Diadema setosum sebesar 0,28 sedangkan keanekaragaman terendah adalah jenis Echinotrix calamaris sebesar 0,058 dimana nilai keanekaragaman keseluruhan transek tergolong rendah. Nilai indeks dominasi tertinggi adalah jenis Diadema setosum sebesar 0,4216 sedangkan dominasi terendah adalah jenis Echinotrix calamaris sebesar 0,0002 dimana tergolong kategori nilai dominasi rendah maka tidak ada spesies yang mendominasi. Nilai indeks keseragaman tertinggi adalah jenis Diadema setosum sebesar 0,260 sedangkan keseragaman terendah adalah jenis Echinotrix calamaris sebesar 0,042 artinya pada ekosistem terumbu karang di Perairan Waipare Desa Watumilok penyebarannya tidak merata.

Kata Kunci : Bulu Babi, Termbu karang, Line Transek, Keanekaragaman.

PENDAHULUAN Latar Belakang

Ekosistem terumbu karang ialah salah satu ekosistem yang paling kompleks dan khas disalah satu daerah tropis. Produktivitas dan keanekaragaman yang tinggi merupakan sifat dari ekosistem ini (Nybakken 1992 disitasi Purwandatama, 2014). Ekosistem ini terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih, dan merupakan perairan paling produktif di perairan laut tropis, serta memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Salah satu biota laut yang berasosiasi dengan terumbu karang yaitu bulu babi.

(2)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Bulu babi umumnya hidup didaerah batu karang, lamun dan juga pasir.Bulu babi hidup berkoloni sebagai bentuk pertahanan diri dari predator, namun ada juga yang hidup menyendiri sehingga menyebabkan bulu babi tersebut rentan terhadap predator. Menurut Anwar (2015), bulu babi merupakan salah satu spesies kunci bagi komunitas terumbu karang. Hal ini karena bulu babi adalah salah satu pengendali populasi mikroalga.

Keberadaan bulu babi pada suatu ekosistem tidak lepas juga dari pengaruh faktor fisika kimia pada lingkungan tersebut. Bulu babi termasuk hewan nokturnal atau merupakan hewan yang aktif pada malam hari untuk mencari makan.

Penelitian tentang kelimpahan ikan, moluska dan bentos pada daerah terumbu karang sudah banyak dilakukan, tetapi belum banyak yang meneliti tentang keanekaragaman bulu babi di daerah terumbu karang. Keberadaan bulu babi diekosistem terumbu karang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keseimbangan ekologi.

Selain itu pengetahuan mengenai pola penyebaran bulu babi diperlukan untuk mengetahui keberadaannya pada rataan terumbu karang.

Berdasarkan hasil survei Pantai Waipare memiliki tutupan terumbu karang yang tergolong baik sehingga memiliki keragaman bulu babi yang bagus. Status Pantai Waipare yang merupakan objek wisata akan membuat daya dukung lingkungan terhadap organisme laut terutama bulu babi akan terganggu. Semakin terganggu lingkungan tersebut maka jumlah populasi bulu babi akan semakin menurun. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian dengan judul “Keanekaragaman Bulu Babi di Ekosistem Terumbu Karang Pantai Waipare, Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka”.

Rumusan Masalah

Apa saja jenis-jenis bulu babi yang ditemukan dan bagaimana keanekaragaman Bulu Babi diekosistem terumbu karang Pantai Waipare, Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis dan mengetahui keanekaragaman bulu babi di ekosistem terumbu karang Pantai Waipare, Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka.

(3)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan dari Tanggal 28 Agustus sampai Tanggal 28 September 2017, dimulai dari studi literatur, observasi, riset, pengumpulan data dan analisa data. Penelitian dilaksanakan di Pantai Waipare, Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka.

Bahan dan Alat Penelitian Bahan

Bahan yang digunakan selama penelitian adalah bulu babi yang digunakan untuk identifikasi.

Alat

Alat digunakan selama penelitian dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Alat yang Digunakan Selama Penelitian No. Alat dan Bahan Kegunaan

1. GPS Untuk menandai lokasi penelitian

2. Roll meter Untuk pengukuran jarak garis transek dan untuk mengukur penutupan karang

3. Ember Untuk menyimpan dan wadah pembersihan sampel 4. Kantong Plastik Untuk tempat biota

5. Pipet 1 ml Untuk mengambil bahan awetan 6. Kertas Label Untuk pelabelan sampel

7. Cool box Untuk menyimpan sampel

8. Mikroskop Untuk mengidentifikasi sampel babi 9. Buku tulis Untuk mencatat data identifikasi 10. Buku identifikasi Untuk data identifikasi

11. Refraktometer Mengukur salinitas perairan 12. Thermometer Mengukur suhu perairan 13. pH meter Mengukur pH air

14. Secchi disk Mengukur kecerahan 15. DO meter Mengukur oksigen terlarut 16. Larutan Lugol Untuk mengawet bulu babi

17. Aquades Untuk pembersihan sampel bulu babi

18. Tali Rafia Untuk penarikan garis transek untuk lokasi penelitian 19. Besi Siku Untuk pembuatan transek kuadran

20. Snorkel Untuk penyelaman

21. Botol Sampel Untuk penampungan substrat

22. Kuadran Transek Untuk mengukur kelimpahan bulu babi 23.

24.

Timbangan Serok

Untuk mengukur berat bulu babi Untuk mengangkut bulu babi

(4)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Prosedur Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan beberapa langkah, antara lain:

1. Observasi di lapangan secara langsung untuk menentukan lokasi sampling.

2. Memasang line transect yang telah ditandai dengan skala sejajar garis pantai dimana panjang skala disesuaikan dengan luas area penelitian untuk pengambilan data tutupan substrat di terumbu karang, jarak dari garis pantai sampai d tempat pemasangan transek 90 M.

3. Mengambil data kelimpahan bulu babi (Echinoidea) di dalam frame kuadran transek berukuran 1 x 1 meter, jumlah kuadran 5 buah dalam satu garis transekdengan jarak antara kuadran transek 1m serta panjang line transect skala sejajar garis pantai dimana panjang skala disesuaikan dengan luas area penelitian dengan jumlah line sebanyak 3 buah untuk pengambilan biota bulu babi.

4. Mengambil data kelimpahan bulu babi dilakukan sebanyak 15 kali dengan jarak waktu 2 hari pada pukul 20.00 wita tepat pasang surut terendah. Sedangkan pengukuran parameter kualitas air (kecerahan, temperature, salinitas, pH air) dilakukan selama penelitian berlangsung yaitu sebelum dan sesudah pengambilan sampel/data.

5. Mengklasifikasikan jenis bulu babi yang ditemukan berdasarkan identifikasi bulu babi dari Kambey (2015).

Analisis Data 1. Tutupan Karang

Persentase karang hidup, karang mati, pasir dan pecahan karang, dapat dihitung dengan menggunakan rumus (English et al., 1997):

Keterangan:

C = Persentase tutupan karang.

Li = Panjang tutupan karang jenis ke-i.

L = Panjang total transek.

2. Jenis Bulu Babi

Identifikasi bulu babi dengan mencocokkan atau membandingkan bentuk tubuh (regular dan irregular) diameter spikula (test), pola warna duri, pola warna anus atau

(5)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan periprok, karakter duri (panjang dan ujung duri) dari bulu babi dengan menggunakan acuan Jeng (1998) dan Colin and Charles (1995) disitasi Wulandewi, et al., (2015).

3. Densitas Bulu Babi

Densitas Bulu Babi dihitung menggunakan rumus Brower et. al (1990) disitasi Sitorus (2008) sebagai berikut:

Keterangan:

K = Kepadatan suatu jenis.

ni = Jumlah individu suatu jenis.

A = Luas Area.

4. Frekwensi Kehadiran (FK)

Krebs, (1985) disitasi Sembiring, (2008) Frekwensi Kehadiran (FK) dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

x100%

Tabel 3. Klasifikasi Nilai Frekwensi Kehadiran (FK)

5. Indeks Keanekaragaman

Keanekaragaman sumberdaya bulu babi dihitung dengan menggunakan indeks keanekaragaman dari Shannon dan Wiener (1963) disitasi Sitorus (2008) dengan rumus:

Keterangan :

H' = Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner.

Pi = ni/N (Perbandingan jumlah individu suatu jenis dengan seluruh jenis.

Ln = Logaritma Natural.

Angka indeks keanekaragaman tersebut selanjutnya dinilai berdasarkan klasifikasi menurut Krebs (1978) disitasi Sembiring (2008) seperti pada tabel 4 di bawah ini:

Nilai FK Klasifikasi FK 0 – 24,9 % Sangat Jarang 25 – 59,9 % Jarang

60 – 74,9 % Banyak

75 - 100% Sangat banyak

(6)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Tabel 4. Klasifikasi Nilai Indeks Keanekaragaman (H')

Nilai H' Klasifikasi Keanekaragaman 0 < H' < 2,302

2,302 < H' < 6,907 H' > 6,907

Rendah Sedang Tinggi

6. Indeks Dominasi

Indeks dominasi Simpson (Odum, 1998 disitasi Saleky, 2012), bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peranan/dominasi spesies dalam suatu komunitas. Untuk mengetahui nilai indeks dominasi digunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

C = Indeks dominansi.

N = Total individu komunitas.

dengan kriteria; 0.00 < C < 0.50 = dominansi rendah.

0.50 < C < 0.75 = dominansi sedang.

0.75 < C < 1.00 = dominansi tinggi.

7. Indeks Ekuitabilitas/Keseragaman (E)

Indeks ini menggambarkan penyebaran individu-individu di antara jenis.

Perhitungannya menggunakan rumus:

Keterangan:

E = Indeks kemerataan.

H’ = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener.

Ln = logaritma natural.

S = Jumlah spesies.

Menurut Krebs (1989) disitasi Dobo (2009) kriteria keseragaman, atara lain:

0,00 < E < 0,50 = komunitas tertekan.

0,50 < E < 0,75 = komunitas labil.

0,75 < E < 1,00 = komunitas stabil.

Ditambahkan Odum (1994) disitasi Sembiring (2008); Semakin kecil nilai E maka semakin kecil keseragaman suatu populasi ; sebaliknya besar nilai E, maka populasi akan menunjukkan keseragaman artinya pada komunitas tersebut tidak dijumpai kelompok organisme yang terlalu dominan.

(7)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan HASIL DAN PEMBAHASAN

Jenis Bulu Babi Yang Ditemukan Di Wilayah Perairan Pantai Waipare, Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 4 jenis bulu babi diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Diadema setosum

Gambar 1. Diadema setosum Klasifikasi

Kingdom : Animalia.

Phyllum : Echinodermata.

Class : Echinoidea.

Ordo : Diademamatoieda.

Familly : Didematidae.

Genus : Diadema.

Species : Diadema setosum.

2. Echinotrix Calamaris

Gambar 2. Echinotrix calamaris

(8)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Klasifikasi Echinotrix calamaris (Katili, 2011) adalah :

Kingdom : Animalia Phylum : Echinodermata Kelas : Echinoidea Family : Echinometridae Genus : Echinotrix

Spesies :Echinotrix calamaris.

3. Tripneust

Gambar 3. Tripneustes Klasifikasi

Phyllum : Echinodermata.

Class : Echinoidae.

Ordo : Temnopleuroida.

Familly : Toxopneutidae.

Species : Tripneustes.

4. Deadema antilarum

Gambar 4. Diadema Antilarum Klasifikasi

Kingdom : Animalia Phyllum : Echinoermata Class : Echinoidea Ordo : Diadematoida Genus : Diadema

(9)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Species : Diadema Antilarum.

Tutupan Karang

Menurut Supriharyono (2007) disitasi Purwandatama, dkk (2014), terumbu karang dengan kondisi yang baik juga akan memiliki produktivitas primer yang tinggi karena memiliki kemampuan untuk menahan nutrien yang masuk ke dalam ekosistem tersebut serta karena adanya dukungan produksi dari sumber-sumber lain, seperti phytoplankton, lamun, mikro dan makroalga.

Gambar 5. Diagram Tutupan Karang

Berdasarkan hasil penelitian, total persentase penutupan karang di Perairan Waipare, Desa Watumilok sebesar 48,32% dimana jenis Karang Pada transek I terdiri dari Soft coral (SC) mati dengan persentase tutupan sebesar 25,46% dan Acropora brancing (ACB) mati sebesar 3,09%, kemudian pada transek II terdiri dari Soft coral (SC) mati dengan persentase tutupan sebesar 10,22%, Acropora brancing (ACB) mati sebesar 1,78% dan Acropora brancing (ACB) Hidup sebesar 0,44%. Sedangkan pada transek III hanya terdapat jenis karang Soft coral (SC) mati dengan persentase tutupan sebesar 17,32%, substrat tersebut merupakan habitat bagi pertumbuhan bulu babi sehingga dari hasil pengamatan dari tiga transek selama penelitian akan mempengaruhi jenis dan jumlah jenis bulu babi (echinoidea) yang diketemukan, dimana dari keseluruhan jenis karang pada keseluruhan transek persentase tutupan karang didominasi oleh karang mati dengan persentase sebesar 47,87% sedangkan karang hidup hanya sebesar 0,44%.

Hal ini berarti bahwa hampir seluruh bagian lokasi penelitian memiliki kondisi karang mati dimana menurut Purwandatamaet al., Churun dan Suryani (2014) bahwa kondisi penutupan terumbu karang ini dipengaruhi oleh panjang tutupan

(10)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan karangyang ditemukan di lokasi penelitian dimana di ekosistem terumbu karang Perairan Waipare Desa Watumilok memiliki panjang karang sekitar 20 cm sampai 40 cm dalam keadaan mati adapun karang yang baru tumbuh memiliki panjang sekitar 22 cm – 28 cm. Banyaknya karang mati di wilayah Perairan Waipare Desa Watumilok disebabkan oleh aktivitas manusia seperti penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, pengambilan karang untuk berbagai keperluan. Jika hasil penelitian ini dibandingkan dengan hasil penelitian Suryanti dan Ruswahyuni (2014) yang dilakukan di Taman Nasional Karimunjawa diperoleh 55,29% karang dalam kondisi baik.

Komposisi Jenis dan Jumlah Bulu Babi pada Ekosistem Terumbu Karang Pantai Waipare, Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka

Tabel 5. Jumlah Individu dan Spesies pada Setiap Transek

Sumber : Pengolahan Data Primer (2017)

Berdasarkan berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa presentase total individu tertinggi spesies Diadema setosum 64,93% sedangkan jumlah total individu terendah spesies Tripneust 4,03% dari total spesies, jika dibandingkan dengan hasil penelitian Agustia(2016) maka jenis spesies di ekosistem terumbu karang Perairan Pantai Waiparetergolong rendah namun pada hasil penelitianini diperoleh jenis spesies Deadema antilarum yang tidak ditemukan di Pantai Pulau Kapota. Jenis spesies yang sedikit ditemukan diduga disebabkan olehkeadaan tutupan karang di perairan Pantai Waipare yaitu terdapat lebih banyak tutupan karang dalam keadaan mati atau rusak akibat aktifitas nelayan atau masyarakat pesisir. Jenis spesies Diadema setosum adalah 64,93 merupakan spesies dengan jumlah terbanyak, hal ini diduga sangat berhubungan dengan kodisi terumbu karang di Perairan Waipare dimana 47,87% karang mati dan 0,44% karang hidup. Bila kondisi terumbu karang kondisi terumbu karang buruk maka ruang untuk tempat berkembang alga akan semakin terbuka sehingga akan

(11)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan meningkatkan keberadaan (jumlah) Diadema setosum yangdidukung dengan ketersediaan alga sebagai sumber makanan. Hal ini didukung dengan pendapat Yusron (2003) dan McCorry (2002) dimana spesies jenisDiadema setosum bersifat hervopora dan merupakan kelompok hewan tipe grazerdan jenis makanan paling disukainya adalah alga Galaxaura oblongata dibandingkan jenis alga yang lain dimana hidup didaerah pantai berbatu dan daerah terumbu karang dan ditemukan diseluruh perairan pantai, mulai dari daerah pasang surut sampai perairan dalam dengan perairan yang jernih dan airnya relatif tenang. Hasil penelitian Thamrin, Setiawan dan Siregar (2011) pada kondisi terumbu karang berbeda di Desa Mapur Kepulauan Riau dimana diperoleh jumlah spesies Diadema setosum sekitar 8,8 individu/m2 sampai 32,08 individu/m2 yang disebabkan oleh kondisi terumbu karang sangat baik, dalam arti kata persentase tutupan karang tinggi yang akan mempersempit tempat (space)untuk tumbuh alga yang menjadi makanan bulu babi Diadema setosum.

Indeks Kepadatan, Frekuensi Kehadiran Bulu Babi, Indeks Keanekaragaman Bulu Babi, Indeks Dominasi Bulu Babi dan Indeks Ekuitabilitas/Keseragaman

Tabel 6. Nilai Indeks Kepadatan (K), Frekuensi Kehadiran Bulu Babi (FK), Indeks Keanekaragaman Bulu Babi (H’), Indeks Dominasi Bulu Babi (C) dan Indeks Ekuitabilitas/Keseragaman (E)

No Spesies K (Individu/m2) FK (%) H’ C E 1 Diadema setosum 25,80 31,250 0,280 0,4216 0,202 2 Deademaantilaru 11,80 31,250 0,361 0,0882 0,260 3 Echinotrix calamaris 0,53 12,500 0,058 0,0002 0,042

4 Tripneust 0,60 25,00 0,129 0,0016 0,093

Sumber : Pengolahan Data Primer (2017)

Berdasarkan hasil penelitian total nilai kepadatan tertinggi terdapat pada spesies Diadema setosum yakni sebesar 25,80 Individu/m2 artinya setiap luas area (m2) terdapat rata-rata 25,80 atau kurang lebih 25-26 individu spesies Diadema setosum pada luasan transek sedangkan kepadatan terendah adalah spesies Echinotrix calamaris dengan nilai sebesar 0,53 Individu/m2 artinya setiap luas area (m2) terdapat rata-rata 0,53 atau kurang lebih 1-2 individu spesies Echinotrix calamaris pada luasan transek.

Total nilai kehadiran tertinggi terdapat pada spesies Diadema setosumdan Deadema antilarum yakni sebesar 31,250 % sedangkan nilai indeks kehadiran terendah adalah spesies Tipneust dengan nilai sebesar 25,00%. Menurut kategori Krebs (1985) disitasi Sembiring(2008) bahwa frekuensi kehadiran spesies selama penelitian di Perairan Waipare Desa Watumilok tergolong jarang untuk spesies Diadema setosum dan Deadema

(12)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan antilaru karena nilai berkisar 25 – 59,9 % sedangkan spesies Echinotrix calamaris dan Tripneust tergolong sangat jarang karena nilai frekuensi kehadiran sekitar 0 –24,9 %.

Diadema setosum memiliki tempat hidup di ekosistem terumbu karang, dimana jenis ini bisa menempati rataan pasir, daerah pertumbuhan algae, pecahan karang dan karang mati (Sugiarto dan Supardi, 1995 disitasi Suryanti dan Ruswahyuni, 2014).

Hasil penelitian menjelaskan bahwa keanekaragaman bulu babi yang ditemukan selama penelitian di Perairan Waipare Desa Watumilok tergolong dalam kategori keanegaragaman rendah (1<H’<3) menurut kriteria Shannon dan Wienner (1963) Faktor yang mempengaruhi rendahnya nilai indeks keanekaragaman antara lain banyak terumbu karang yang mati sehingga tidak tersedian makanan ataupun alga yang merupakan makanan untuk bulu babi juga tidak adanya substrat untuk tempat hidup bulu babi melekat/menempel di daerah sekitar penelitian karena daerah terumbu karang dijadikan sebagai tempat penangkapan ikan oleh masyarakat sekitar. Ditambahkan oleh pendapat Krebs (1989) disitasi Wulandewi, dkk (2015) bahwa bila semakin banyak jenis yang ditemukan dalam tiap lokasi maka semakin tinggi pula indeks diversitas atau keseragaman (H’) yang didapat.

Nilai indeks dominasi bulu babi yang ditemukan selama penelitian nilai indeks tertinggi oleh spesies Diadema setosum sebesar 0,4216 sedangkan nilai indeks dominasi terendah adalah spesies Echinotrix calamaris sebesar 0,0002 artinya pada ekosistem terumbu karang di Perairan Waipare Desa Watumilok tidak ada spesies yang keberadaannya mendominasi hal ini dibandingkan dengan kategori Indeks dominasi Simpson Odum (1998) disitasi Syaleki (2012) dimana 0,00 < C ≤0,50 tergolong kategori nilai dominasi rendah maka tidak ada spesies yang mendominasi.

Hasil penelitian menjelaskan bahwa nilai indeks keseragaman bulu babi yang ditemukan pada keseluruhan transek tertinggi spesies Deadema antilarum sebesar 0,260 dan yang memiliki nilai indeks keseragaman terendah adalah spesies Echinotrix calamaris sebesar 0,042 artinyapada ekosistem terumbu karang di Perairan Waipare Desa Watumilok penyebarannya tidak merata (0,00<E≤0,50) menurut Krebs (1989) disitasi Wulandewi, dkk (2015) artinya penyebaran individu yang tidak merata. Menurut Dahuri (2003) nilai keseragaman (E) akan semakin meningkat apabila semakin banyak jumlah jenisdan semakin merata penyebaran individunya.

(13)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di wilayah perairan pantai Waipare Desa Watumilok Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka dapat disimpulkan bahwa selama penelitian ditemukan 4 spesies yaitu Diadema setosum, Deadema antilarum, Echinotrix calamaris, Tripneust dengan nilai kepadatan, Frekuensi kehadiran, Keanekaragaman, Nilai indeks dominasi tertinggi adalah spesies Diadema setosum sedangkan nilai indeks keseragaman tertinggi adalah spesies Deadema antilaru.

Saran

Wilayah Perairan Pantai Waipare Desa Watumilok Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka mempunyai keanekaragaman bulu babi yang masih tergolong rendah. Usaha pelestarian perlu mendapatkan perhatian yang cukup baik bagi masyarakat sekitar maupun Pemerintah Daerah setempat untuk selalu menjaga kelestarian keanekaragaman jenis pada wilayah perairan agar tetap lestari dan hendaknya mesyarakat sekitar dapat memanfaatkan dagingnya sebagai sumber makanan dan harus tetap menjaga kelestariannya.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, C., 2015. Bioekologi Bulu Babi (Echinoidea) di Perairan Laut Teluk Dalam Desa Malang Rapat Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan. Skripsi. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Maritim Raja Ali Haji.

Kambey A.G., 2015. Komunitas Echinodermata Di Daerah Intertidal Perairan Pantai Mokupa Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa. Jurnal Ilmiah Platax.

Vol3.ISSN 2300-3589. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNSRAT.

Manado.

McCorry, D. (2002). Hong Kong's scleractinian coral communities: status, threats andproposals for management. unpub. Ph.D thesis. Dept. of EcologyandBiodiversity,The University of Hong Kong, Hong Kong. pp 204.

Purwandatama, R.W., 2014. Kelimpahan Bulu Babi (SeaUrchin) Pada Karang Massive dan Branching Di Daerah Rataan Dan Tubir Di Legon Boyo, Pulau Karimunjawa, Taman Nasional Karimunjawa. Diponegoro Journal Of Maquares. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Hlm. 17-26. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro.

Sembiring, 2008, Frekuensi Kehadiran.Fauna Echinodermata dari Pulau-Pulau Karimunjawa, Jepara. Ilmu Kelautan 14 (Vi) : Hal 83-87.

(14)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Sitorus 2008, Densitas Bulu Babi. BTNKJ. 2007. Monitoring Lamun di Taman

Nasional Karimunjawa. Balai taman nasional karimunjawa.Jepara.

Thamrin,Y. J. Setiawan dan S. H. Siregar. 2011. Analisis Bulu Babi Diadema setosum Pada Kondisi Terumbu Karang Berbeda di Desa Mapur Kepulauan Riau. Jurnal Ilmu Lingkungan Universitas Riau. 5(1) : 45 – 48.

Wulandewi, I., L., K., 2015. Jenis dan Densitas Bulu Babi (Echinoidea) Di Kawasan Pantai Sanur dan Serangan Denpasar- Bali. Jurnal Simbiosis iii (1)269-280.ISSN:2337-7224. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Udayan.

Yusron, E.2003. Beberapa Catatan Fauna Ekhinodermata dari Perairan Tapak Tuan, Aceh Selatan Nangroe Aceh Darussalam. Makara, Sains, Vol. 7, No.3: 97-104.

Gambar

Gambar 1. Diadema setosum  Klasifikasi  Kingdom   : Animalia.   Phyllum   : Echinodermata
Gambar 4. Diadema Antilarum  Klasifikasi   Kingdom  : Animalia   Phyllum  : Echinoermata   Class  : Echinoidea   Ordo  : Diadematoida   Genus  : Diadema
Gambar 5. Diagram Tutupan Karang
Tabel 5. Jumlah Individu dan Spesies pada Setiap Transek

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove serta mengetahui

Tanaman yang memiliki INP tertinggi adalah durian dengan nilai INP 59.40% dan Keanekaragaman tertinggi adalah tanaman ramania dengan H’ 2.82, faktor yang mempengaruhi

0 Signifikan Sumber: Data primer yang diolah ,2014 Hasil uji f menunjukkan bahwa perolehan nilai f hitung sebesar 92,523 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 dengan

Berdasarkan hasil dan pembahasan hasil penelitian mengenai jenis-jenis ikan Pelagis tangkapan nelayan yang diperdagangkan di Pasar Wuring dan Pasar Alok yang dilaksanakan

Hasil uji hedonik pada karakteristik aroma, roti tawar dengan penambahan tepung tulang nila merah sebesar 5% berdasarkan tepung terigu memiliki nilai rata-rata

Hasil regresi antara penurunan luasan mangrove terhadap perubahan garis pantai yang terjadi di kecamatan Legonkulon menunjukkan adanya korelasi dengan nilai R 2

Sedangkan di periode akhir kejadian upwelling (Oktober), daerah prediksi masih ditemukan di empat lokasi yang sama dengan bulan Agustus namun dengan luasan daerah

Hal ini dilihat dari nilai rata-rata BOD 5 dan COD pada stasiun 4 merupakan nilai rata-rata tertinggi dari stasiun lainnya yaitu sebesar 12,62 mg/L dan 15,34 mg/L