EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan ANALISIS PERSEPSI DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP
KEBERADAAN HUTAN MANGROVE DI DESA REROROJA, KECAMATAN MAGEPANDA, KABUPATEN SIKKA
Sandrovito Yonatan Sing1, Barnabas P.P.W. Bhokaleba2, Maria Imaculata Rume2
1Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, UNIPA, Maumere
2 Staff Pengajar Pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UNIPA Maumere Email : [email protected]
Abstrak
Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi dan sikap masyarakat terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 06 Februari 2021 sampai dengan 06 Maret 2021 di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara mendalam (indepth interview) menggunakan kuesioner dengan jumlah responden 10% dari 855 jumlah KK Desa Reroroja, terdiri dari non penikmat (tinggal jauh) hutan mangrove dan penikmat (tinggal) hutan mangrove. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif dengan penskalaan 1-3-5 (Modifikasi Skala Likert). Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat persepsi masyarakat Desa Reroroja terhadap keberadaan hutan mangrove bernilai 322 artinya termasuk dalam kategori sedang sedangkan sikap masyarakat Desa Reroroja terhadap keberadaan hutan mangrove secara keseluruhan bernilai 322 artinya termasuk dalam kategori tinggi atau setuju. Berdasarkan Modifikasi Skala Likert persentasi respon masyarakat terhadap hutan mangrove di Desa Rerororja yakni 430/442 × 100%= 97,29 % dan tergolong sangat kuat.
Kata Kunci : Mangrove, Persepsi, Sikap, Masyarakat, Modifikasi Skala Likert
PENDAHULUAN Latar Belakang
Menurut Gumilar (2010), luas hutan mangrove di Indonesia pada tahun 2008 mencapai sekitar 2,5 juta ha yang tersebar di Sumatera, Jawa-Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Sulawesi, dan Maluku-Papua. Namun demikian, data luas hutan mangrove di Indonesia sangat bervariasi. Jumlah jenis yang tercatat mencapai 158 jenis yang terdiri dari 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis epifit dan 1 jenis sikas (Bengen, 1999 disitasi Hiariey, 2012).
Fungsi hutan mangrove di wilayah pesisir bukan hanya penting sebagai pelindung fisik, tetapi juga sebagai bagian terintegrasi dari ekosistem pesisir lainnya, seperti ekosistem terumbu karang dan ekosistem padang lamun (Pontoh, 2011). Bagi masyarakat pesisir, ekosistem mangrove berperan penting dalam
EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan menopang kehidupan mereka, baik dari aspek ekonomi maupun ekologi. Pada aspek ekonomi, mangrove digunakan sebagai kayu bakar, alat tangkap ikan tradisional (Paropo), dan tempat penangkapan jenis ikan, udang dan kepiting, sedangkan dari segi ekologis, eksosistem mangrove berfungsi sebagai penghasil bahan pelapukan (Decomposer) yang merupakan sumber makanan penting untuk invertebrata kecil pemakan bahan pelapukan (Detritus) selanjutnya, mangrove juga berperan sebagai makanan bagi hewan yang lebih besar (Khaerullah dkk, 2015).
Desa Reroroja merupakan desa pesisir, terletak di ujung barat Kabupaten Sikka dengan kawasan hutan mangrove yang dijadikan ekowisata bagi penduduk lokal maupun wisatawan luar. Keberadaan hutan mangrove di Desa Reroroja menjadikan salah satu lokasi sumber pencaharian penduduk setempat.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove serta mengetahui sikap atau perilaku masyarakat Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka pesisir dalam pelestarian hutan mangrove.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang dapat dituliskan sebagai berikut :
1. Bagaimana persepsi masyarakat Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove ?
2. Bagaimana sikap atau perilaku masyarakat Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka pesisir dalam menjaga pelestarian hutan mangrove ?
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui persepsi masyarakat Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove.
2. Untuk mengetahui sikap atau perilaku masyarakat Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka pesisir dalam pelestarian hutan mangrove.
EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan METODOLOGI PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 06 Juli 2021 sampai dengan 30 Juli 2021 di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka.
Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan pada penelitian adalah alat tulis-menulis, kamera dan recorder. Bahan digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner (panduan pertanyaan).
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu Metode Sensus. Penelitian sensus merupakan penelitian yang mengambil satu kelompok populasi sebagai sampel secara keseluruhan dan menggunakan kuesioner yang terstruktur sebagai alat pengumpulan data yang pokok untuk mendapatkan informasi yang spesifik (Usman & Akbar, 2008). Berdasarkan informasi tersebut, maka penelitian ini merupakan jenis penelitian dengan metode survei dengan bantuan kuesioner, dimana respondennya adalah penduduk yang tinggal di sekitar hutan mangrove dan yang jauh dari kawasan hutan mangrove di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka.
Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Pengambilan data primer meliputi informasi tentang pendapatan keluarga, tingkat pendidikan, umur, jumlah tanggungan keluarga sebagai faktor perilaku masyarakat lokal dalam pelestarian hutan mangrove.
Sedangkan data sekunder meliputi : keadaan fisik lokasi penelitian serta data penunjang yang diperoleh dari sumber yang terkait yaitu instansi-instansi yang berkaitan dengan penelitian yaitu data sosial ekonomi masyarakat serta beberapa literatur (buku dan jurnal).
Prosedur Penelitian
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara langsung dibantu dengan alat kuesioner berupa daftar pertanyaan yang diajukan kepada responden. Jumlah responden diambil sebanyak 10% dari 855 jumlah KK yang ada di Desa Reroroja. Responden yang diambil merupakan non penikmat hutan
EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan mangrove dan penikmat hutan mangrove. Responden yang termaksud non penikmat hutan mangrove antara lain Polisi, Guru, Dokter, Bidan dan mereka yang tinggal jauh dari daerah hutan mangrove sedangkan yang termasuk penikmat hutan mangrove antara lain nelayan dan masyarakat yang tinggal di daerah hutan mangrove. Objek penelitian ini adalah masyarakat di Desa Reroroja Kabupaten Sikka. Pengumpulan data juga dilakukan dengan wawancara mendalam (indepth interview), yang diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih mendalam sehingga dapat menunjang validasi data yang diperoleh dari hasil kuisioner.
Analisis Data
Metode analisis yang digunakan ini adalah metode deskriptif dengan penskalaan 1-3-5 (Modifikasi Skala Likert). Menurut Faisal (2008) disitasi Ramlan (2013), penelitian deskriptif dimaksudkan untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu fenomena sosial dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti. Menurut Riduwan dan Kuncoro (2006) disitasi Siramba (2014), Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Untuk melakukan penskalaan dengan metode ini, setiap responden akan diminta untuk menyatakan jawabannya terhadap pertanyaan-pertanyaan dalam kuisioner dalam tiga kategori jawaban yang telah disediakan, yaitu sebagai berikut :
a. Memahami atau setuju;
b. Kurang memahami atau ragu-ragu;
c. Tidak memahami atau tidak setuju.
Tabel 1. Distribusi Jawaban Informan Mengenai Persepsi dan Sikap Masyarakat Terhadap Keberadaan Eksosistem Hutan Manggrove
Pertanyaan
Kategori Persepsi dan Sikap Memahami/
Setuju
Kurang Memahami/
Ragu-ragu
Tidak Memahami/
Tidak Setuju Pengetahuan
masyarakat mengenai eksosistem
hutan manggrove
Pemahaman masyarakat
mengenai manfaat
dan fungsi dari
EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan eksosistem hutan
mangrove Pemahaman masyarakat
terhadap dampak dari hutan
mangrove
Sumber : Masria, et.al (2015)
Dari distribusi jawaban responden pada kuisioner, maka akan disimpulkan bagaimana persepsi dan sikap masyarakat pesisir Desa Reroroja terhadap ekosistem hutan mangrove. Setelah itu, ditentukan bobot nilai atau skor dari masing-masing jawaban sesuai dengan kategori jawaban seperti yang dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Nilai Skoring Untuk Setiap Kategori Persepsi dan Sikap Kategori Persepsi
dan Sikap Skor Jumlah
Informan
Nilai Skor Akhir (Skor x Jumlah Informan) Tidak Memahami/
Tidak Setuju 1
Kurang Memahami/
Ragu-ragu 3
Memahami/Sangat
Setuju 5
Sumber : Masria, et.al (2015)
Dengan demikian, untuk mengetahui seberapa besar pemahaman dan persepsi dan sikap masyarakat terhadap pelestarian eksosistem hutan mangrove di Desa Reroroja dapat dilihat pada Tabel 3 sebagai berikut :
Tabel 3. Skor Ideal Tingkat Pemahaman dan Persepsi dan Sikap Kategori Pemahaman/
Persepsi dan Sikap
Skor terendah-skor tertinggi
(skor x jumlah informan) Range Skor
Rendah 86-205
Sedang 206-324
Tinggi 325-442
Sumber : Masria, et.al (2015)
Dari hasil pengolahan data dengan metode analisis deskriptif pada penskalaan 1-3-5 di atas, maka dapat diperoleh suatu kesimpulan akhir mengenai tingkat pemahaman persepsi dan sikap masyarakat Reroroja terhadap ekosistem hutan mangrove.
EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Lokasi Penelitian
Desa Reroroja merupakan salah satu desa pesisir, terletak di ujung barat Kabupaten Sikka. Desa ini merupakan salah satu dari 5 desa yang berada di Kecamatan Magepanda dengan batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah utara : Laut Flores
Sebelah selatan : Desa Para Bubu, Kecamatan Mego Sebelah timur : Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda Sebelah barat : Desa Tou Timur, Kecamatan Kota Baru
Bentuk topografi daratan Desa Reroroja adalah dataran rendah. Populasi penyebaran penduduk menyebar secara merata baik dataran pesisir maupun di perbukitan. Pesisir Desa Reroroja pada umumnya berpasir dan ditumbuhi pepohonan yang banyak. Luas wilayah Desa Reroroja sebesar 41,97 Km2 atau
25,26% dari total luas Kecamatan Magepanda sebesar 166,15 Km2 (BPS Sikka, 2018) dengan jumlah penduduk sebanyak 3.372 jiwa, yang terdiri
dari Laki-laki 1.673 jiwa, Perempuan 1.699 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 855 KK. Perekonomian di Desa Reroroja didukung oleh sektor pertanian dan sektor perikanan. Sektor pertanian meliputi produksi hasil tanaman pangan, perkebunan dan peternakan. Sektor perikanan terdiri dari nelayan tradisional yang menangkap ikan untuk konsumsi lokal dan nasional.
Karakteristik Hutan Mangrove di Lokasi Penelitian
Karakteristik hutan mangrove di lokasi penelitian dapat dilihat dari beberapa variabel yaitu luas hutan mangrove, tutupan tajuk, ketebalan areal mangrove, kerapatan, dan dominansi. Luas hutan mangrove Desa Reroroja seluas 55,77 Ha, tutupan tajuk sebesar 66,82%, ketebalan seluas 114,74 meter, kerapatan jenis komunitas total (pohon/Ha) sebanyak 2.411 pohon/Ha, dan dominansi jenis mangrove sekitar 28,29 m2/Ha. Keanekaragaman hayati di hutan mangrove Desa Reroroja terdapat 10 jenis mangrove sejati seperti Avicennia sp (api-api), Rhizophora sp (bakau), Acanthus sp (jeruju), Sonneratia sp (pedada), dan Me liaceae sp (bakau buah jeruk). Selain mangrove sejati terdapat juga mangrove ikutan di sekitar hutan mangrove seperti Barringtonia asiatica (bogem), Ipomea pes-caprae, Pongamia pinnata (kacang laut), Terminalia cattapa (ketapang), dan
EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Hibiscus tiliaceus (waru laut) dengan satwa mulai dari burung, kera, bebek air, bangau, burung migrant dari Australia (pada bulan tertentu) juga kelelawar raksasa dan dihuni berbagai jenis ikan, kepiting, udang, kerangkerangan (Fitrianto, 2015). Penduduk setempat selama ini memanfaatkan areal mangrove sebagai lokasi penangkapan ikan, pencarian kepitng, siput dan kerang. Hutan mangrove di Desa Reroroja termasuk dalam kawasan yang dilindungi.
Persepsi Masyarakat terhadap Keberadaan Hutan Mangrove di Desa Reroroja
Tabel 4. Nilai Skoring informan untuk tingkat Persepsi Kategori Persepsi Skor Jumlah
Informan
Nilai Skor Akhir (Skor Informan x Jumlah Informan) Tidak Setuju/Tidak
Memahami 1 0 0
Ragu-ragu/Kurang
Memahami 3 54 162
Setuju/Memahami 5 32 160
Jumlah 86 322
Sumber : Data Primer ( 2020)
Jumlah informan yang menjawab ragu-ragu atau kurang memahami sebanyak 54 informan karena tingkat pendidikan dan pemahaman tentang pengetahuan masyarakat mengenai eksosistem hutan mangrove, kemudian jumlah informan yang setuju atau memahami sebanyak 32 informan karena sebagian besar responden memahami mengenai ekosistem hutan mangrove, manfaat dan fungsi serta dampak dari hutan mangrove. Berdasarkan pernyataan Masria et.,al (2015) bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat pemahaman masyarakat terhadap hutan mangrove dan fungsinya, yaitu: pendidikan dan mata pencaharian.
Hal tersebut juga sejalan dengan hasil penelitian Suryaningsih (2012), persepsi masyarakat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pengetahuan yang diperoleh secara turun temurun.
1. Tingkat Pendidikan
Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan langsung di Desa Reroroja penyebaran informasi pada tingkat pendidikan yang didominasi oleh informan yang memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar (SD). Hasil
EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan wawancara dari 86 responden mengungkapkan bahwa rata-rata keberadaan kawasan hutan mangrove yang mengetahui pemahaman menempuh pendidikan sekolah dasar (SD), dengan status tidak tamat sekolah. Rendahnya pendidikan menyebabkan masyarakat kurang memiliki pengetahuan yang cukup mengenai ekosistem hutan mangrove dan kelayakan dari perairan yang dijadikan sebagai lahan hutan mangrove. Meski memiliki tingkat pendidikan yang rendah namun persepsi masyarakat tentang keberadaan hutan mangrove dapat dikatakan baik dengan kategori tingkat pemahaman sedang. Hal ini didukung karena adanya kegiatan – kegiatan yang berpusat pada keberadaan hutan mangrove antara lain sosialisasi – sosialiasi dari mangrove, selain itu terdapat tempat wisata terbesar di Kabupaten Sikka, yang dimiliki oleh Desa Reroroja.
2. Mata Pencaharian
Salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi dan sikap masyarakat terhadap hutan mangrove adalah jenis pekerjaan yang mereka geluti.
Berdasarkan hasil wawancara bahwa masyarakat pesisir Desa Reroroja sebagian besar mengandalkan hidupnya dari sektor perikanan (sebagai nelayan), karena sudah memperoleh pemahaman hutan mangrove dari kegiatan – kegiatan sosialisasi dari beberapa lembaga maupun LSM yang bergerak untuk melestarikan hutan mangrove, maka mereka sangat memahami bagaimana pentingnya keberadaan hutan mangrove sebagai salah satu ekosistem besar yang berperan penting terhadap pendapatan mata pencaharian, karena hutan mangrove sangat penting sebagai penyeimbang ekologi perairan.
Sikap Masyarakat Terhadap Keberadaan Hutan Mangrove Tabel 5. Nilai Skoring Jawaban Informan untuk Tingkat Sikap
Kategori Sikap Skor Jumlah Informan
Nilai Skor Akhir (Skor Informan x Jumlah Informan)
Tidak Setuju/Tidak
Memahami 1 0 0
Ragu-ragu/Kurang
Memahami 3 0 0
Setuju/Memahami 5 86 430
Jumlah 86 430
Sumber: Data Primer (2020).
EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Berdasarkan tabel 5 di atas menunjukkan bahwa dengan demikian tingkat sikap masyarakat terhadap ekosistem hutan mangrove, manfaat dan fungsi ekosistem hutan mangrove, serta dampak dari hutan mangrove dikategorikan sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dari adanya peran aktif masyarakat Desa Reroroja dalam menjaga kelestarian hutan mangrove yaitu dengan turut serta mengikuti kegiatan rehabilitasi atau penanaman bibit mangrove yang diselenggarakan oleh beberapa lembaga maupun LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bergerak untuk melestarikan hutan mangrove. Selain itu masyarakat tidak melakukan eksploitasi yang berlebihan terhadap hutan mangrove karena masyarakat mengetahui dengan melakukan ekploitasi yang berlebihan akan mengakibatkan menurunnya luas area hutan mangrove baik secara kualitatif maupun kuantitatif di antaranya akan terjadi erosi garis pantai, banjir, serta menurunnya kualitas perairan yang akan menyebabkan menurununnya produksi perikanan.
Sikap Masyarakat Berdasarkan Analisis Skala Likert
Berdasarkan analisis Modifikasi skala likert bahwa responden masyarakat Desa Reroroja terhadap keberadaan hutan mangrove berada pada tingkat sedang, hasil dari 86 informan berada pada kawasan setuju dan sangat setuju. Secara kontinyu dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini.
Gambar 2 : Anisis Berdasarkan Skala Likert
0 90 180 270 360 430 442
STS TS N S SS
Gambar 2 : Analisis Berdasarkan Modifikasi Skala Likert Sumber : Masria, et.,al (2015)
Berdasarkan Modifikasi skala Likert persentasi respon masyarakat terhadap hutan mangrove di Desa Rerororja yakni 430/442 × 100%= 97,29 % dan tergolong sangat kuat. Dapat dilihat pada peresentase persen pada Gambar 3 di bawah ini.
0 90 180 270 360 430 442
STS STS TS N S TS N S SS
EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan
Gambar 3 : Analisis Berdasarkan Likert Dalam Persen Sumber : Masria, et.al (2015)
Keterangan :
1. 0-20% : Sangat Lemah 2. 21-40% : Lemah
3. 41-60% : Cukup 4. 61-80% : Kuat
5. 81-100% : Sangat Kuat
Secara keseluruhan sikap masyarakat yang diukur berdasarkan perhitungan skala Likert nilai persentase respon masyarakat tergolong sangat kuat (97,29%) terhadap hutan mangrove di Desa Reroroja. Tingkat pemahaman masyarakat yang cukup, sehingga memberikan gambaran perilaku yang eksploitatif terhadap hutan mangrove.
PENUTUP Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Persepsi masyarakat terhadap hutan mangrove dapat diketahui melalui bagaimana pengetahuan mereka tentang manfaat dan fungsi hutan mangrove bagi kehidupan mereka.
2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat persepsi masyarakat Desa Reroroja terhadap fungsi dan manfaatnya hutan manggrove secara keseluruhan berada pada tingkat tinggi dengan nilai 322.
3. Masyarakat Desa Reroroja sudah memiliki pemahaman cukup terhadap hutan mangrove dan fungsinya yang ada di daerah mereka.
0% 20% 40% 60% 80% 97,29% 100%
SL L C
SL L C K SL
EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan 4. Sikap masyarakat Desa Reroroja terhadap keberadaan hutan mangrove berada pada kategori tinggi dengan nilai 430. Hal ini terbukti dengan banyaknya responden yang memahami tentang manfaat dan fungsi dari hutan mangrove.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian maka saran yang dapat diberi, antara lain:
1. Pemerintah dan masyarakat terus melakukan program-program restorasi meliputi pelestarian, penjagaan dan perhatian masyarakat terhadap hutan mangrove.
2. Perlu adanya penelitian lebih lanjut di hutan mangrove Desa Reroroja terutama dari manfaat tidak langsung hutan mangrove terdiri dari nilai warisan, nilai pilihan dan nilai keberadaan.
DAFTAR PUSTAKA
Gumilar I. 2010. Strategi Pengelolaan Ek osistem Hutan Mangrove Berkelanjutan (Studi Kasus di Kabupaten Indramayu Propinsi Jawa Barat) [disertasi]. Bogor (ID) Institut Pertanian Bogor.
Hiariey S. L, Monita K. M. 2012. Teknik Pembibitan Mangrove di Perairan Pantai Desa Passo Kecamatan Teluk Ambon Baguala Kotamadya Ambon Laporan PKL.Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNPATTI Ambo.
Hal 37.
Masria, Golar, dan Moh. Ihsan. 2015. Persepsi dan Sikap Masyarakat Lokal Terhadap Hutan di Desa Labuan Toposo, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala. Jurnal Warta Rimba Vol 3 No2. ISSN 2406-8373. Hal 57-64.
Jurusan Kehutanan Universitas Tadulako.
Pontoh, O. 2011. Penangkapan Ikan dengan Bom di Daerah Terumbu Karang Desa Arakan dan Wawontulap. Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis, 7(1), 56-59.
Ramlan. 2013. Respon Masyarakat Terhadap Pengembangan Hutan Tanaman di Desa Tonusu, Kecamatan Pamona, Puselemba, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi tengah. Skripsi. Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako.
Siramba, J. 2014. Persepsi dan Sikap Masyarakat terhadap Rencana Pengembangan Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Desa Leboni pada Wilayah KPHP Model Sintuwu Maroso, Kabupaten Poso. Skripsi.
Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako.
Usman dan Akbar. 2008. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.