• Tidak ada hasil yang ditemukan

AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Vol.02, No.03, Desember 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Vol.02, No.03, Desember 2020"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan ANALISIS PENDAPATAN PEMBUDIDAYA IKAN BANDENG (Chanos-chanos) DI

KELURAHAN KOTA UNENG, KECAMATAN ALOK, KABUPATEN SIKKA

Barnabas Pablo Puente Wini Bhokaleba

1

1

Staff Pengajar Pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UNIPA Maumere Email : [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan, biaya dan pendapatan pembudidaya budidaya ikan bandeng. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel dilakukan dengan kriteria-kriteria tertentu berdasarkan tujuan penelitian. Populasi sampel diambil dari responden pembudidaya ikan budidaya, populasi bandeng yang berada di Kelurahan Kota Uneng. Metode pengumpulan data melalui wawancara, catatan, observasi dan kuesioner. Hasil pendapatan dari budidaya bandeng adalah menggunakan perbedaan antara total penerimaan (TR) dan total biaya investasi, biaya tetap, biaya variabel (TC). Berdasarkan hasil penelitian analisis Pendapatan Pembudidaya Ikan Bandeng di Kelurahan Kota Uneng dapat diketahui bahwa jumlah biaya eksplisit sebesar Rp 80.014.666,67 per musim dengan jumlah penerimaan ikan bandeng dalam satu siklus produksi sebesar Rp 120.000.000 per musim, dimana dari biaya eksplisit tersebut diperoleh pendapatan pembudidaya budidaya ikan bandeng sebesar Rp 39.985.333,33 per musim.

Kata Kunci : Pendapatan, pembudidaya, Budidaya, Ikan Bandeng.

PENDAHULUAN Latar Belakang

Wilayah potensial pertambakan budidaya air payau berada sepanjang pantai utara laut Flores dengan garis pantai sepanjang ± 379,3 km (BPS Kabupaten Sikka, 2015). Jadi luas sebagian besar wilayah Kabupaten Sikka adalah perairan lautan. Ini berarti wilayah perairan lautan dan pesisir pantai harus menjadi menjadi perhatian bersama terutama seluruh stakeholders yang ada baik pemerintah, pengusaha, Perguruan Tinggi, masyarakat maupun pemerhati lainnya untuk menggali potensi dan sumber daya laut dan pesisir pantai guna meningkatkan kesejaterahan masyarakat.

Potensi perikanan di Kabupaten Sikka tidak hanya bertumpuh pada perikanan tangkap, disamping perikanan budidaya juga memberikan kontribusi yang cukup besar.

Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan tahun 2015, Kabupaten Sikka

memproduksi hasil perikanan sebesar 11,938 ton/tahun. Jika dilihat dari jumlah nilai

(2)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan produksi sektor perikanan, dapat disimpulkan bahwa sektor perikanan merupakan salah satu sektor usaha yang menjanjikan bagi kesejahteraan masyarakat petani tambak ikan dan nelayan di Kabupaten Sikka. Namun dalam perkembangannya pendapatan pembudidaya tambak sulit ditentukan, tergantung pada beberapa faktor, diantarannya seperti harga dan juga faktor penyakit ikan. Pembudidaya banyak yang menggunakan pola tradisional dalam mengelola tambak. Di tambak-tambak belum teraturnya air masuk dan keluar yang secara langsung mempengaruhi kualitas air bagi ikan didalam tambak.

Tambak merupakan salah satu alternatif untuk mencari pemanfaatan lahan ditepi pantai, karena tambak merupakan perikanan darat yang hanya dapat dilakukan pada daerah yang didukung kemudahan memperoleh air laut sebagai sarana hidup ikan. Salah satu budidaya ikan yang diusahakan ditambak yaitu ikan bandeng. Ikan bandeng merupakan salah satu ikan yang mempunyai protein dan nilai ekonomi yang tinggi, tak heran ikan ini banyak diminati oleh pembudidaya ikan.

Bandeng (Chanos chanos) merupakan hewan air yang bandel, artinya bandeng dapat hidup di Air tawar, air asin maupun air payau. Selain itu, bandeng tahan terhadap berbagai jenis penyakit yang biasanya menyerang hewan air (Anonim, 2011). Budidaya Ikan Bandeng di Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka telah lama dilakukan oleh Bapak Eko. Namun, selama ini belum diketahui pendapatan dari hasil kegiatan budidaya Ikan Bandeng tersebut. Berdasarkan kondisi diatas, maka penulis tertarik mengambil judul tentang “Analisis Pendapatan Pembudidaya Ikan Bandeng di Kelurahan Kota Uneng, Kabupaten Sikka’’.

Rumusan Masalah

Sejalan dengan uraian pada latar belakang diatas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini yaitu, bagaimana biaya, penerimaan dan pendapatan pembudidayaIkan Bandeng (Chanos chanos) di Kelurahan Kota Uneng,Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya, penerimaan dan pendapatan

pembudidayaIkan Bandeng (Chanos chanos) di Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok,

Kabupaten Sikka.

(3)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 07 September 2018 sampai 26 September 2018 di Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.

Bahan dan Alat Penelitian a. Benih

b. Pakan

c. Timbangan Ikan d. Ember Pakan . e. Alat Pancing

f. Kantong Keramba Ikan g. Keranjang Penampung h. Jaring Tangkap

i. Alat tulis j. Kuisioner

Analisis Data Analisis Biaya

Fungsi biaya menggambarkan hubungan antara besarnya biaya dengan tingkat produksi. Biaya dapat dibedakan menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan dalam usahatani dan besarnya tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi yang dihasilkan, sedangkan biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan usahatani yang besarnya sangat dipengaruhi oleh produksi yang dihasilkan (Suratiyah, 2006).

Berikut rumus dari analisis biaya :

TC=FC+VC Keterangan:

TC = Biaya Total (Total Cost) FC = Biaya Tetap (Fixed Cost)

VC = Biaya Tidak Tetap (Variable Cost)

(4)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Analisis Penerimaan

Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual (Rahim dan Hastuti, 2007). Secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

TR = Y.Py Keterangan:

TR = Total Penerimaan (Rp)

Y = Produksi Yang Diperoleh (Ekor) Py = Harga Y (Rp)

Analisis Pendapatan

Pendapatan merupakan selisih penerimaan dengan semua biaya produksi.

Pendapatan meliputi pendapatan kotor (penerimaan total) dan pendapatan bersih.

Pendapatan kotor adalah nilai produksi komoditas pertanian secara keseluruhan sebelum dikurangi biaya produksi (Rahim dan Hastuti Dwi R. D, 2007).

Pendapatan dapat dirumuskan sebagai berikut :

Pd = TR – TC

Keterangan:

Pd = Pendapatan Usaha Tani TC = Biaya Total (Total Cost) TR = Total Penerimaan (Rp)

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat

Kehidupan sosial ekonomi masyarakat Kelurahan Kota Uneng sudah tergolong semi modern, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung seperti pekerjaan sebagian besarnya pegawai negeri sipil, yang diikuti pegawai swasta, TNI/POLRI, petani, buruh dan nelayan.

Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tabel 1. Tingkat Pendidikan di Kelurahan Kota Uneng

NO Tingkat Pendidikan Jumlah ( Orang ) Persentase ( % )

1 Belum Sekolah 1.524 18,47

2 Tidak Sekolah 788 9,55

3 Tamat SD 1.431 17,35

(5)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan

4 Tamat SMP 2.300 27,88

5 Tamat SMA 1.133 13,73

6 Tamat Akademi 483 5,86

7 Tamat Perguruan 590 7,15

Total 8.249 100

Sumber : Data Primer (2018)

Berdasarkan data Tabel 1 diatas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Kelurahan Kota Uneng berdasarkan tingkat pendidikan cukup berpendidikan. Hal ini dapat dilihat dari komposisi penduduk yang lebih didominasi oleh penduduk yang tamat SMP dengan jumlah 2.300 orang dengan persentase 27,88 % dan yang paling rendah adalah penduduk yang tamat Akademi dengan jumlah 483 orang dengan persentase 5,86 %.

Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

Komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian disajikan pada Tabel2 dibawah ini.

Tabel 2 Komposisi Penduduk Kelurahan Kota Uneng Berdasarkan Mata Pencaharian

No Jenis Mata Pencarian Jumlah Persentase ( 100 )

1 PNS 456 24,36

2 Pegawai Suasta 447 23,88

3 Petani 246 13,14

4 Buruh 328 17,52

5 Wirasuasta 192 10,26

6 Nelayan 171 9,13

7 TNI/POLRI 32 1,71

Total 1.872 100

Sumber : Data Primer (2018)

Berdasarkan Tabel 2 diatas dapat diketahui jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian di Kelurahan Kota Uneng lebih didominasi oleh penduduk yang bermata pencaharian PNS dengan jumlah 456 orang dengan persentase 24,36 %, sedangkan penduduk yang paling sedikit didominasi oleh penduduk yang bekerja sebagai TNI dan POLRI dengan jumlah 32 orang dengan jumlah persentase 1,71 %.

Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama

Komposisi penduduk berdasarkan Agama dapat disajikan pada Tabel 3 dibawah

ini.

(6)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Tabel 3 Komposisi Penduduk Kelurahan Kota Uneng Berdasarkan Agama

No Agama Orang Presentase

1 Islam 1.786 20,16

2 Katohlik 6.963 78,58

3 Kristen 97 1,09

4 Hindu 4 0,05

5 Budha 11 0,12

Total 8.861 100

Sumber : Data Primer (2018)

Dari Tabel 3 diatas dapat diketahui komposisi pendudukKelurahan Kota Uneng berdasarkan Agama yang dianut lebih didominasi oleh Agama Katholik dengan jumlah 6.963 orang dengan persentase 78,58 % dan yang paling sedikit adalah penduduk yang menganut Agama Hindu dengan jumlah 4 orang dengan persentase 0,05 %.

Karakteristik Responden a) Umur Responden

Umur dari responden yang dipilih sebagai salah satu pembudidaya ikan bandeng di Kelurahan Kota Uneng yaitu 41 tahun

b) Jenis kelamin responden

Responden ini berjenis kelamin laki –laki.

c) Tingkat pendidikan responden

Pendidikan terakhir responden ini adalah sarjana (S1).

d) Pekerjaan

Pekerjaan utama responden adalah PNS dan pekerjaan sampingan responden adalah PembudidayaIkan Bandeng.

Sejarah Usaha Budidaya Ikan Bandeng di Kelurahan Kota Uneng

Usaha budidaya ikan bandeng di Kelurahan Kota Uneng tepatnya ditambak milik

Bapak Eko didirikan pada tahun 1970-an dan bekerjasama dengan Dinas

PerikananKabupaten Sikka hingga saat ini. Awal mula dibangunnya konstruksi tambak

masih sangat tradisional dengan menggunakan dinding kolam dan pematang dari lumpur

dan tanah liat. Pada tahun 2013 – 2015 baru dilakukan perbaikan konstruksi dengan

merubah sebagian besar dinding dan pematangnya menggunakan tembok semen semi

permanen, tetapi teknik budidaya masih secara tradisonal sampai sekarang. Ikan bandeng

(7)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan milik Bapak Eko bukan hanya dijual ke pedagang pengumpul, tetapi juga digunakan sebagai tempat wisata pemancingan, dimana para pengunjung atau para pemancing diwajibkan membayar ikan hasil pemancingan sesuai harga per Kg yang sudah ditentukan oleh pemilik tambak atau pengelola tambak wisata. Pemilik tambak memperkerjakan 1 karyawan yang ditugaskan untuk mengelola dan menjaga keseluruhan proses budidaya ikan bandeng di Tambak.

Analisis Pendapatan Penerimaan

Berikut tabel produksi dan penerimaan budidaya ikan bandng di Kelurahan Kota Uneng dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Produksi dan Penerimaan Budidaya Ikan Bandeng di Kelurahan Kota Uneng

No Uraian Jumlah Produksi

(kg)

Harga Jual Per Kg (Rp)

Penerimaan

1 Produk Ikan Badeng 3.000 40.000 120.000.000

Sumber : Data Primer (2018)

Tabel 4 menunjukkan bahwa produksi ikan bandeng dalam satu kali produksi mencapai 3.000 kg dengan harga per kg sebesar Rp 40.000 sehingga diperoleh penerimaan tambak dalam satu kali produksi sebesar Rp 120.000.000. Jumlah produksi tambak tersebut dihasilkan dari bibit atau nener sebanyak 50.000 ekor ikan bandeng pada tambak dengan luas kurang lebih 1,2 ha. Pemeliharaan Bandeng di Kelurahan Kota Uneng hanya dilakukan dalam 1 siklus dengan lama waktu pemeliharaan selama 8 bulan.

Biaya

Biaya dan pendapatan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal, eksternal dan faktor manajemen (Suratiyah, 2006). Biaya investasi, biaya tetap, dan biaya variabel dapat dilihat pada Tabel 5, 6 dan 7.

Tabel 5. Biaya Investasi Budidaya Ikan Bandeng di Kelurahan Kota Uneng No Jenis Biaya Jumlah (Unit) Nilai Per Satuan Jumlah (Rp)

1 Kolam 3 67.000.000 201.000.000

2 Timbangan Ikan 2 1.000.000 2.000.000

3 Ember Pakan 4 15.000.00 60.000.00

4 Alat Pancing 35 20.000 700.000

5 Kantong Keramba 7 40.000 280.000

6 Keranjang Tampung 4 45.000 180.000

7 Jarring Tangkap 2 1.500.000 3.000.000

(8)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan

Total 207.220.000

Sumber : Data Primer (2018)

Dari Tabel 5 menunjukkan biaya investasi budidaya ikan bandeng di Kelurahan Kota Uneng selama satu ( 1 ) tahun sebesar 207.220.000. Total biaya investasi didapat dari biaya persiapan kolam atau tambak pemeliharaan dan biaya peralatan yang digunakan dalam proses budidaya ikan bandeng.

Tabel 6.Biaya Tetap Budidaya Ikan Bandeng di Kelurahan Kota Uneng No Jenis Biaya Nilai (Rp)

1 Biaya Perawatan 13.814.666,67

2 Biaya Kerja 30.000.000

Total 33.814.666,67

Sumber : Data Primer (2018)

Dari Tabel 6 menunjukkan total biaya tetap budidaya ikan di Kelurahan Kota Uneng selama 1 musim ( 8 ) sebesar Rp. 33.814.666,67 . Total biaya tetap didapat dari biaya perawatan kolam dan biaya tenaga kerja yang berperan penting dalam mengelola tambak budidaya ikan bandeng.

Tabel 7. Biaya Variabel Budidaya Ikan Bandeng di Kelurahan Kota Uneng No Jenis Biaya Satuan Harga Per

Satuan (Rp)

Jumlah (Unit)

Nilai (Rp)

1 Benih Bandeng Ekor 100 50.000 5.000.000

2 Pakan Benih Karung 250.000 10 2.500.000

3 Pakan Ikan Dewasa Karung 330.000 110 36.300.000

4 Listrik Bulan 300.000 12 2.400.000

Total 46.200.000

Sumber : Data Primer (2018)

Biaya totalyang didapat dari biaya biaya tetap dan biaya variabel dalam kegiatan budidaya ikan bandeng di Kelurahan Kota Uneng didapat dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Biaya total = biaya tetap + biaya variabel = 33.814.666,67 + 46.200.000 = 80.014.666,67

Jadi, biaya total dari biaya tetap dan biaya variabel per musim ( 8 bulan ) budidaya ikan

bandeng di Kelurahan Kota Uneng sebesar Rp. 80.014.666,67.

(9)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Pendapatan

Pendapatan budidaya bandeng merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya produksi (eksplisit). Total pendapatan yang diperoleh responden dapat diketahui dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Pendapatan = Penerimaan - (Biaya Tetap + Biaya Variabel) = 120.000.000– (33.814.666,67 + 46.200.000)

= 120.000.000– 80.014.666,67

= 39.985.333,33

Dari hasil perhitungan menggunakan rumus diatas menunjukkan bahwa jumlah penerimaan usaha budidaya bandeng dalam satu siklus produksi sebesar Rp. 120.000.000 per musim ( 8 bulan ) dengan jumlah biaya eksplisit sebesar Rp.80.014.666,67 per musim.

Dari biaya eksplisit tersebut diperoleh pendapatan budidaya ikan bandeng sebesar Rp.

39.985.333,33per musim ( 8 bulan ) dari luas lahan rata-rata 1,2 ha.

PENUTUP Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian Analisis Pendapatan Pembudidaya Ikan Bandeng di Kelurahan Kota Uneng dapat disimpulkan bahwa jumlah biaya eksplisit sebesar Rp 80.014.666,67 per musim ( 8 bulan ) dengan jumlah penerimaan ikan bandeng dalam satu siklusproduksi sebesar Rp 120.000.000per musim ( 8 bulan ). Dari biaya eksplisit tersebut diperoleh pendapatan pembudidaya ikan bandeng sebesar Rp 39.985.333,33 per musim( 8 bulan )dari luas lahan rata-rata 1,2 ha.

DAFTAR PUSTAKA

Algifari. 2000. Analisis Regresi.Edisi Kedua. BPFE: Yogyakarta.

Anonimus. 2009. Gaya Hidup Sehat. Edisi 491. http //E:/Ikan Bandeng/IkanBandeng,«

Heart’s Freedom.htm. (Diakses pada 27 Juni 2015).

Amirin dan Tatang M. 2011. Populasi dan Sampel Penelitian 3 : Pengambilan Sampel dari Populasi Tak-Terhingga dan Tak-Jelas." Tatangmanguny.wordpress.com (13 April 2012).

Aslamyah, S. 2008. Pembelajaran Berbasis SCL pada Mata Kuliah Biokimia Nutrisi.

UNHAS. Makassar.

(10)

EISSN : 2723-0031 AQUANIPA, Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Bambang, S. dan G. Kartasapoetra 1992. Kalkulasi dan Pengendalian Biaya Produksi.

Rineka Cipta. Jakarta. 238 hal.

Eddy, A dan Liviawaty E 2005.Pakan Ikan dan Perkembangannya. Jakarta: Kanisius.

Jogiyanto. 2004. Metodologi Penelitian Bisnis. Edisi Pertama. Cetakan Pertama.

BPFE: Yogyakarta.

Kordi M. Ghufron. 2005. Budidaya Ikan Laut. Rineka Cipta. Jakarta.

Nazir, M., 1999. Metode Penelitian Sosial. Erlangga: Jakarta.

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 18/Permen KP/2016.

Purnomowati, I., Hidayati, D., dan Saparinto, C. 2007. Ragam Olahan Bandeng.

Kanisius: Yogyakarta.

Rahim. Abd. Dan Hastuti. DRW. 2007. Ekonomi Pertanian. Jakarta : Penebar Swadaya

Rusmiyati, S. 2012. Budidaya Bandeng Super. Pustaka Baru Press: Yogyakarta.

Santoso, P.B. 2005. Analisis Statistik dengan Microsoft Excel& SPSS. Penerbit:

Andi. Yogyakarta.

Silva CAR, 2007. Consentration, Stock and Transport Rate of Heavy Metal in A

Tropical Red Mangrove. Marine Chemistry Journal 99: 2-11.

Referensi

Dokumen terkait

ini adalah pendataan pengusaha kuliner yang ada di Kota Ambon dan menentukan 10 pengusaha yang akan dijadikan sasaran kegiatan serta melakukan pendekatan awal dengan

Laju pertumbuhan tertinggi terdapat pada perlakuan dosis 20 mL/kg pakan sebesar 2,36 %, diduga karena pakan dengan penambahan 20 mL/kg probiotik mengandung mikroba

Mengacu pada hipotesis pertama dan hipotesis kedua penelitian ini, dimana citra toko dan kepuasan pelanggan secara parsial berpengaruh positif terhadap loyalitas pelanggan,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 17 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2021 tentang Pemberian Tunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas

Nilai indeks dominasi bulu babi yang ditemukan selama penelitian nilai indeks tertinggi oleh spesies Diadema setosum sebesar 0,4216 sedangkan nilai indeks dominasi

Jumlah sampel ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) yang diidentifikasi sebanyak 30 ekor dengan jenis Ektoparasit yang ditemukan pada organ tubuh insang, sirip dan lendir ikan Lele

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengaruh penambahan probiotik terhadap efisiensi dan konversi pakan benih ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus)

Berdasarkan hasil dan pembahasan hasil penelitian mengenai jenis-jenis ikan Pelagis tangkapan nelayan yang diperdagangkan di Pasar Wuring dan Pasar Alok yang dilaksanakan