• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN PERBAIKAN METODE KERJA DAN ALAT BANTU PADA STASIUN KERJA PENGEPAKAN DI CV. BUKITRAYA LAENDRYS - BUKITTINGGI SUMATERA BARAT TESIS OLEH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERANCANGAN PERBAIKAN METODE KERJA DAN ALAT BANTU PADA STASIUN KERJA PENGEPAKAN DI CV. BUKITRAYA LAENDRYS - BUKITTINGGI SUMATERA BARAT TESIS OLEH"

Copied!
244
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN PERBAIKAN METODE KERJA DAN ALAT BANTU PADA STASIUN KERJA PENGEPAKAN

DI CV. BUKITRAYA LAENDRYS - BUKITTINGGI SUMATERA BARAT

TESIS

OLEH

ZAYYINUL HAYATI ZEN 107025004 / TI

F A K U L T A S T E K N I K UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

2 0 1 2

(2)

PERANCANGAN PERBAIKAN METODE KERJA DAN ALAT BANTU PADA STASIUN KERJA PENGEPAKAN

DI CV. BUKITRAYA LAENDRYS - BUKITTINGGI SUMATERA BARAT

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik

dalam Program Studi Teknik industri pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

OLEH

ZAYYINUL HAYATI ZEN 107025004 / TI

F A K U L T A S T E K N I K UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

2 0 1 2

(3)

Judul Penelitian : PERANCANGAN PERBAIKAN METODE KERJA DAN ALAT BANTU PADA STASIUN KERJA PENGEPAKAN DI CV. BUKITRAYA LAENDRYS BUKITTINGGI - SUMATERA BARAT

Nama Mahasiswa : Zayyinul Hayati Zen Nomor Pokok : 107025004

Program Studi : Teknik Industri

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Ir. Sukaria Sinulingga, M.Eng) (Aulia Ishak, ST, MT) Ketua Anggota

Ketua Program Studi Dekan

(Prof. Dr. Ir. Sukaria Sinulingga, M.Eng) (Prof. Dr. Ir. Bustami Syam, MSME)

Tanggal Lulus : 27 Juli 2012

(4)

Telah diuji pada

Tanggal : 27 Juli 2012

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Ir. Sukaria Sinulingga, M.Eng Anggota : Aulia Ishak, ST, MT

Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE Dr. Ir. Nazaruddin, MT

Ir. Rosnani Ginting, MT

(5)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul:

PERANCANGAN PERBAIKAN METODE KERJA DAN ALAT BANTU PADA STASIUN KERJA PENGEPAKAN DI CV. BUKITRAYA LAENDRYS BUKITTINGGI - SUMATERA BARAT

Adalah benar hasil karya saya sendiri dan belum dipublikasikan oleh siapapun sebelumnya. Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara benar dan jelas.

Medan, Juni 2012 Yang Membuat Pernyataan,

Zayyinul Hayati Zen NIM: 107025004/TI

(6)
(7)

ABSTRAK

CV. Bukitraya Laendrys merupakan perusahaan manufaktur usaha menengah yang memproduksi kapur pertanian (kaptan), kapur tohor (quick limes), pupuk dolomite, agrodolomite, kieserite, dan pupuk organik. Hampir seluruh kegiatan dilakukan secara manual yang salah satu dari kegiatan tersebut ialah pemindahan produk dari stasiun pengepakan ke gudang produk jadi. Cara kerja seperti ini menimbulkan rasa lelah (fatique) yang berlebihan dan keluhan musculoskeletal.

Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan rancangan perbaikan metode kerja dan alat bantu pada stasiun kerja pengepakan di perusahaan yang efektif untuk mengurangi kedua masalah tersebut.

Pendekatan yang digunakan untuk memperbaiki metode kerja untuk mendeteksi keluhan musculoskeletal dipakai Standard Nordic Questionnaire, sedangkan untuk menilai postur kerja digunakan metode Quick Exposure Check (QEC). Hasil penilaian untuk kondisi aktual dari metode yang ada dianalisis berdasarkan keluhan musculoskeletal yang terjadi. Kemudian dilakukan penilaian biomekanika dan antropometri operator. Gambaran kondisi aktual yang diperoleh dianalisis dan dievaluasi sehingga dapat menghasilkan rancangan alat bantu yang ergonomis sehingga metode kerja menjadi lebih baik. Rancangan fasilitas alat bantu pemindahan yang cocok adalah berupa trolley berdasarkan prinsip antropometri dengan melibatkan tiga dimensi tubuh yaitu Tinggi Siku Berdiri (TSB), Lebar Bahu (LB) dan Diameter Genggaman (DG). Ketiga dimensi tubuh tersebut menghasilkan sebuah rancangan trolley yang nyaman dan ergonomis digunakan oleh operator dalam aktivitas pemindahan produk dari stasiun pengepakan ke gudang.

Kata Kunci : Perbaikan Metode Kerja, Keluhan Musculoskeletal, Quick Exposure Check (QEC), Biomekanika

(8)

ABSTRACT

CV. Bukitraya Laendrys is a medium manufacturing company producing agricultural lime (kaptan), calcium oxide (quick lime), dolomite, agrodolomite, kieserite and organic fertilizer. Almost all of the activities were carried out manually, one of the activities is handling facility to move products from packing station to the warehouse. This caused the tired (fatigue) is excessive and musculoskeletal disorders.

The purpose of this research was to provide a conceptual design for the improvement of the work method and tools used in the packing station of the company that effective to reduce both of the problems.

The approach applied to improve the work method to detect musculoskeletal disorder were Standard Nordic Questionnaire while the work postures were assessed through Quick Exposure Check (QEC) method. The result of actual condition assessment of existing method was analyzed based on the musculoskeletal disorders occurred and then biomechanics and anthropometry of the operator were assessed.

The description of actual condition was analyzed and assessed to produce an ergonomic tool design that result in a better work method. The design of handling facility that best suitable to the condition was a trolley based on the anthropometric principle involved three body dimensions such as the height of upright elbow, width of shoulder, and grip diameter. The three body dimensions produced a comfortable and ergonomic trolley design used by the operator in the activity of transferring the product from the packing station to the warehouse.

Keywords: Work Method, Improvement, Musculoskeletal Disorder, Quick Exposure Check (QEC), Biomechanics

(9)

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya atas rahmat dan hidayah- Nya yang tak terhingga, penulis diberi kekuatan dan kesabaran dalam menyelesaikan tesis ini. Penulisan tesis ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Program Studi Magister Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, sekaligus mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan.

Dalam penulisan tesis ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada Bapak Prof.Dr.Ir. Bustami Syam,MSME, selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Bapak Prof.Dr.Ir. Sukaria Sinulingga,M.Eng, selaku Ketua Program Studi sekaligus Pembimbing Utama, Bapak Aulia Ishak, ST,MT, selaku anggota pembimbing yang telah bersedia membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan tesis ini.

Demikian juga kepada Bapak Prof. Dr.Ir.A. Rahim Matondang,MSIE, Bapak Dr.Ir.

Nazaruddin,MT, Ibu Ir. Rosnani Ginting,MT, sebagai tim pembanding yang telah banyak memberikan masukan dan saran demi kesempurnaan tesis ini. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh Staf Pengajar pada Program Studi Magister Teknik Industri atas semua pengetahuan yang diberikan. Terima kasih kepada Bapak Ir. Indra Hasan,MT selaku Dekan dan Bapak Dedi Dermawan, ST, MT selaku Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Riau, atas motivasi dan rekomendasi yang diberikan kepada penulis. Demikian juga kepada Bapak Haris Novika, selaku Pimpinan CV. Bukitraya Laendrys, atas semua kemudahan dan

(10)

fasilitas yang diberikan selama penelitian dilaksanakan. Secara khusus penghargaan setinggi-tingginya penulis ucapkan kepada suami tercinta Iqbal Hidayat,ST, terima kasih atas cinta, kasih sayang, kesabaran dan motivasi serta do’anya. Disampaikan juga rasa hormat dan ucapan terima kasih kepada Papa Drs. Zen Alianus, Mama Dra.

Erma Sawier, Papa Drs. Zein Ahsan,MH, Mama Sofianis,BA, adikku tercinta Azizah Zen, Yaumil Fitri Zen, kakak Attya Inayati, S.Farm,Apt. dan Rahmah Alhadi,SH atas segala do’a, kasih sayang, dan motivasi yang diberikan untuk menyelesaikan studi.

Terima kasih atas kebersamaan dan bantuan selama perkuliahan kepada kakakku tersayang Osie Banabana dan rekan-rekan seperjuangan Angkatan 13 (Rini, kak Ella, Margie, Indah, Windi, Bang Fitriadi, Mahdi, Umar), Angkatan 11, 12, 14 dan 15.

Kemudian kepada seluruh pihak yang pernah memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu sangat diharapkan saran dan masukan yang konstruktif untuk perbaikan pada masa yang akan datang. Terima Kasih.

Medan, Juli 2012 Penulis,

Zayyinul Hayati Zen

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di sebuah kota wisata yaitu Bukittinggi Sumatera Barat pada tanggal 14 Januari 1988, sebagai putri pertama dari 3 putri, dari Bapak Drs. Zen Alianus dan Ibu Dra. Erma Sawier. Telah menikah dengan seorang pemuda terbaik Iqbal Hidayat,ST pada tanggal 23 september 2011 dan sekarang menetap di Komplek Damai Langgeng Blok 1/15, Pekanbaru.

Riwayat pendidikan formal yang dilalui penulis berawal dari pendidikan taman kanak-kanak tahun 1992 di TK. Aisyiah di daerah Talago Payakumbuh Sumatera Barat. Melanjutkan ke Sekolah Dasar (SD) tahun 1993-1999 di SD Negeri 19 Koto Kaciak Payakumbuh, Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 1999-2002 di SMP Negeri 3 Bukittinggi, Sekolah Menengah Atas tahun 2002-2005 di SMA Negeri 2 Bukittinggi. Pada tahun 2005 melanjutkan pendidikan Strata-1 di Universitas Bung Hatta, Fakultas Teknologi Industri, Program Studi Teknik Industri, menyelesaikan pendidikan dengan predikat lulusan terbaik pada bulan Oktober 2009.

Sebagai lulusan terbaik di Program Studi Teknik Industri Universitas Bung Hatta, pada awal November 2009 penulis langsung diterima sebagai staf pengajar pada Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Riau.

April 2010 penulis mendapatkan status Dosen Tetap dan Agustus 2010 penulis mendapatkan izin sekolah untuk melanjutkan pendidikan Strata-2 di Program Studi Magister Teknik Industri Universitas Sumatera Utara Angkatan 13.

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Batasan Masalah dan Asumsi... 7

1.5 Sistematika Penulisan Tesis ... 8

BAB 2 TINJAUAN LITERATUR ... 10

2.1 Perancangan Kerja (Work Design) ... 10

2.2 Telaah Metode Kerja ... 10

2.3 Prosedur Sistematis Untuk Melaksanakan Telaah Metode Kerja . 14

2.4 Rancangan Metode Kerja Berdasarkan Konsep Ergonomi ... 15

2.4.1 Definisi Ergonomi... 15

2.4.2 Tujuan Ergonomi... 16

2.4.3 Tipe-tipe Masalah Ergonomi ... 16

2.4.4 Aplikasi Ergonomi untuk Perancangan Tempat Kerja... 18

2.4.5 Peta Kerja... 22

2.4.6 Keluhan Muskuloskeletal... 24

2.4.7 Antropometri... 29

2.4.8 Postur Kerja... 31

2.4.9 The Quick Exposure Check (QEC)... 33

2.5 Biomekanika ... 36

2.5.1 Pengertian Biomekanika... 36

(13)

2.5.2 Keterkaitan Biomekanika dengan Egonomi ... 37

2.6 Manual Material Handling dan Masalah yang Dihadapi ... 39

2.7 Macam-macam Persamaan Pembebanan ... 40

2.7.1 MPL (Maximum Permissible Limit)... 40

2.7.2 RWL (Recommended Weight Limit)... 45

2.8 Penelitian Terdahulu ... 48

BAB 3 GAMBARAN UMUM OBJEK STUDI ... 55

3.1 Sejarah Singkat Perusahaan ... 55

3.1.1 Visi dan Misi Perusahaan ... 56

3.1.2 Produk ... 56

3.2 Organisasi dan Manajemen ... 59

3.2.1 Struktur Organisasi Perusahaan ... 59

3.2.2 Tenaga Kerja dan Jam Kerja... 60

3.2.3 Sistem Pengupahan dan Fasilitas ... 60

3.3 Sumberdaya dan Kapasitas Perusahaan ... 61

3.4 Proses Produksi ... 61

3.4.1 Bahan Baku ... 62

3.4.2 Uraian Proses Produksi ... 62

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN ... 65

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 65

4.2 Objek Penelitian ... 65

4.3 Jenis Penelitian ... 65

4.4 Identifikasi Variabel Penelitian ... 66

4.4.1 Variabel Penelitian... 66

4.4.2 Variabel Dependen ... 67

4.4.3 Kerangka Konseptual Penelitian... 67

4.5 Instrumen Penelitian... 68

4.6 Sumber Data ... 69

4.6.1 Data Primer ... 69

4.6.2 Data Sekunder ... 69

4.7 Pelaksanaan Penelitian ... 70

4.8 Tahap Pengumpulan Data ... 72

4.9 Tahap Pengolahan Data... 73

4.10 Tahap Analisis Pemecahan Masalah ... 76

4.11 Tahap Kesimpulan dan Saran... 77

(14)

BAB 5 PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA ... 79

5.1 Data Standard Nordic Questionnaire (SNQ) ... 79

5.2 Elemen Kegiatan pada Kondisi Aktual ... 85

5.3 Penilaian Postur Kerja Aktual dengan QEC ... 87

5.4 Data Biomekanika Operator ... 95

5.5 Data Antropometri ... 100

5.6 Penilaian Biomekanika Operator ... 100

5.6.1 Penentuan RWL dan LI ... 100

5.6.2 Penilaian Nilai MPL ... 108

5.7 Perhitungan Antropometri untuk Perancangan ... 130

5.7.1 Uji Keseragaman Data ... 130

5.7.2 Uji Kecukupan Data ... 134

5.7.3 Uji Kenormalan Data dengan Chi-Square ... 135

5.7.4 Penetapan Data Antropometri... 136

5.8 Metode Kerja Aktual ... 139

BAB 6 ANALISA PEMECAHAN MASALAH ... 141

6.1 Analisis Keluhan MSDs Berdasarkan SNQ ... 141

6.2 Analisis Postur Kerja ... 142

6.3 Analisis Prosedur Kerja... 143

6.4 Analisis Biomekanika ... 144

6.4.1 Analisis dan Evaluasi Penentuan Nilai RWL dan LI ... 144

6.4.2 Analisis dan Evaluasi Penentuan Nilai MPL ... 150

6.5 Perancangan Fasilitas Kerja Usulan ... 153

6.6 Metode Kerja Usulan ... 156

6.7 Analisis Produktivitas Tenaga Kerja (Operator) ... 158

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN ... 159

7.1 Kesimpulan ... 159

7.2 Saran ... 161

DAFTAR PUSTAKA ... 162

LAMPIRAN ... 164

(15)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1 Penilaian Pekerja (Worker) QEC ... 33

2.2 Penilaian Observer QEC ... 34

2.3 Nilai Level Tindakan QEC ... 35

2.4 Lokasi Pusat Massa Setiap Segmen Tubuh ... 41

2.5 Faktor Pengali Frekuensi (FM)... 47

2.6 Faktor Pengali Kopling (CM) ... 47

2.7 Review Penelitian ... 49

5.1 Hasil Pengolahan Standart Nordic Questionnaire ... 81

5.2 Skor Postur Kerja Pemindahan Produk dari Mesin Hammer Mill ... 88

5.3 Nilai Level Tindakan QEC ... 89

5.4 Skor Postur Kerja Pengepakan Produk ... 90

5.5 Nilai Level Tindakan QEC ... 91

5.6 Skor Postur Kerja Op.A Membantu Op.B Menaikkan ke Punggung ... 92

5.7 Nilai Level Tindakan QEC ... 92

5.8 Skor Postur Kerja Pengangkatan Produk Dipindahkan ke Gudang ... 93

5.9 Nilai Level Tindakan QEC ... 94

5.10 Rekapitulasi Hasil Analisis Postur Kerja... 94

5.11 Data RWL pada Aktivitas Pemindahan Produk ... 96

5.12 Data MPL pada Aktivitas Pengangkatan Produk dari Lantai ke Punggung Operator ... 98

5.13 Data MPL pada Aktivitas Pemindahan Produk dari Stasiun Pengepakan ke Gudang ... 99

5.14 Hasil Rekapitulasi Perhitungan Nilai RWL dan LI untuk Situasi Origin pada Aktivitas Pengangkatan Produk dari Lantai ke Punggung Operator ... 107

5.15 Hasil Rekapitulasi Perhitungan Nilai RWL dan LI untuk Situasi Destination pada Aktivitas Pengangkatan Produk dari Lantai ke Punggung Operator ... 107

(16)

5.16 Hasil Rekapitulasi Perhitungan Nilai MPL untuk Situasi Origin dan Destination pada Aktivitas Pengangkatan Produk dari Lantai ke

Punggung Operator ... 128 5.17 Hasil Perhitungan Nilai MPL Situasi Origin dan Destination pada

Aktivitas Pemindahan Produk dari Stasiun Pengepakan ke Gudang ... 129 5.18 Data Dimensi LB Revisi 1 ... 132 5.19 Perhitungan Uji Kecukupan Data ... 135 5.20 Uji Kenormalan Data dengan Chi-Square Menggunakan

Software SPSS 19.0 ... 136 6.1 Rekapitulasi Hasil Analisis Postur Kerja... 142 6.2 Nilai RWL dan LI pada Aktivitas Pengangkatan Produk dari Lantai

ke Trolley pada Kondisi Origin ... 149 6.3 Nilai RWL dan LI pada Aktivitas Pengangkatan Produk dari Lantai

ke Trolley pada Situsi Destination ... 149 6.4 Nilai RWL dan LI pada Aktivitas Pemindahan Produk Melalui Trolley

dari Stasiun Pengepakan Menuju Gudang pada Kondisi Origin ... 150 6.5 Nilai RWL dan LI pada Aktivitas Pemindahan Produk Melalui Trolley

dari Stasiun Pengepakan Menuju Gudang pada Kondisi Destination .. 150 6.6 Nilai MPL pada Aktivitas Pengangkatan Produk dari Lantai ke

Punggung Operator pada Kondisi Origin dan Destination ... 152 6.7 Nilai MPL pada Aktivitas Pemindahan Produk dari Stasiun

Pengepakan ke Gudang pada Kondisi Origin dan Destination ... 152

(17)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

1.1 Beberapa Aktivitas Operator Penyebab Keluhan MSDs ... 4

2.1 Langkah-langkah dalam Telaah Metode Kerja ... 11

2.2 Interaksi Faktor-Faktor Produksi dalam Analisa Metode Kerja ... 13

2.3 Standard Nordic Questionnaire ... 28

2.4 Persentase Persegmen Tubuh ... 40

2.5 Model Sederhana dari Punggung Bawah (Low Back) ... 43

3.1 Merek Dagang CV. Bukitraya Laendrys ... 56

3.2 Struktur Organisasi CV. Bukitraya Laendrys ... 60

3.3 Blok Diagram Proses Produksi CV. Bukitraya Laendrys... 64

4.1 Kerangka Konseptual Penelitian ... 67

4.2 Blok Diagram Prosedur Penelitian ... 78

5.1 Keluhan Musculoskeletal pada Pekerja 1 dan 2 ... 82

5.2 Keluhan Musculoskeletal pada Pekerja 3 dan 4 ... 83

5.3 Keluhan Musculoskeletal pada Pekerja 5 dan 6 ... 84

5.4 Aktivitas Memindahakan Produk dari Corong Mesin Hammer Mill ... 85

5.5 Aktivitas Pengepakan Produk Jadi ... 86

5.6 Aktivitas Op.A Membantu Op.B Menaikkan Produk ke Punggung .... 86

5.7 Pengangkatan Produk Dipindahkan ke Gudang ... 87

5.8 Pemindahan Produk dari Corong Mesin Hammer Mill ... 88

5.9 Pengepakan Produk ... 90

5.10 Op.A Membantu Op.B Menaikkan Produk ke Punggung ... 91

5.11 Pengangkatan Produk Dipindahkan ke Gudang ... 93

5.12 Aktivitas Pengangkatan Produk ... 101

5.13 Sudut yang Terbentuk di Telapak Tangan ... 109

5.14 Free Body Diagram Segmen Tubuh Telapak Tangan Aktivitas Pengangkatan Produk dari Lantai ke Punggung Operator pada Situasi Origin ... 109

5.15 Sudut yang Terbentuk di Lengan Bawah ... 111

(18)

5.16 Free Body Diagram Segmen Tubuh Lengan Bawah Aktivitas Pengangkatan Produk dari Lantai ke Punggung

Operator pada Situasi Origin ... 111

5.17 Sudut yang Terbentuk di Lengan Atas ... 113

5.18 Free Body Diagram Segmen Tubuh Lengan Atas Aktivitas Pengangkatan Produk dari Lantai ke Punggung Operator pada Situasi Origin ... 113

5.19 Free Body Diagram Segmen Tubuh Bagian Punggung Aktivitas Pengangkatan Produk dari Lantai ke Punggung Operator pada Situasi Origin ... 115

5.20 Sudut yang Terbentuk di Telapak Tangan ... 118

5.21 Free Body Diagram Segmen Tubuh Telapak Tangan Aktivitas Pengangkatan Produk dari Lantai ke Punggung Operator pada Situasi Destination ... 119

5.22 Sudut yang Terbentuk di Lengan Bawah ... 120

5.23 Free Body Diagram Segmen Tubuh Lengan Bawah Aktivitas Pengangkatan Produk dari Lantai ke Punggung Operator pada Situasi Destination ... 121

5.24 Sudut yang Terbentuk di Lengan Atas ... 122

5.25 Free Body Diagram Segmen Tubuh Lengan Atas Aktivitas Pengangkatan Produk dari Lantai ke Punggung Operator pada Situasi Destination ... 123

5.26 Sudut yang Terbentuk di Punggung ... 124

5.27 Free Body Diagram Segmen Tubuh Bagian Punggung Aktivitas Pengangkatan Produk dari Lantai ke Punggung Operator pada Situasi Destination ... 125

5.28 Uji Keseragaman Dimensi LB ... 131

5.29 Uji Keseragaman Dimensi LB (Revisi 1) ... 133

5.30 Peta Aliran Proses ... 140

6.1 Data Total Keluhan Standart Nordic Questionnaire ... 141

6.2 Kondisi Kerja Aktual pada Aktivitas Pemindahan Produk dari Stasiun Pengepakan Menuju Gudang ... 153

6.3 Alat Bantu Usulan (Trolley) untuk Pemindahan Produk Pupuk ... 154

6.4 (a) Kondisi Trolley sebelum Diletakkan Produk Pupuk (b) Kondisi Trolley setelah Diletakkan Produk Pupuk ... 155

6.5 Peta Aliran Proses Usulan ... 157

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Standard Nordic Questionnaire (SNQ) ... 163

2. Hasil Penilaian Postur Kerja Aktual dengan Software Quick Exposure Check for Work-Related Musculoskeletal Risk 2003 Version ... 170

3. Data Pengukuran Antropometri Lab. Ergonomi dan Perancangan Sistem Kerja ... 178

4. Rekapitulasi Uji Keseragaman Data ... 187

5. Uji Kecukupan Data ... 191

6. Perhitungan Nilai RWL dan LI setelah Evaluasi (Perancangan) ... 194

7. Perhitungan Nilai MPL setelah Evaluasi (Perancangan) ... 202

8. Perhitungan Produktivitas ... 221

(20)

ABSTRAK

CV. Bukitraya Laendrys merupakan perusahaan manufaktur usaha menengah yang memproduksi kapur pertanian (kaptan), kapur tohor (quick limes), pupuk dolomite, agrodolomite, kieserite, dan pupuk organik. Hampir seluruh kegiatan dilakukan secara manual yang salah satu dari kegiatan tersebut ialah pemindahan produk dari stasiun pengepakan ke gudang produk jadi. Cara kerja seperti ini menimbulkan rasa lelah (fatique) yang berlebihan dan keluhan musculoskeletal.

Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan rancangan perbaikan metode kerja dan alat bantu pada stasiun kerja pengepakan di perusahaan yang efektif untuk mengurangi kedua masalah tersebut.

Pendekatan yang digunakan untuk memperbaiki metode kerja untuk mendeteksi keluhan musculoskeletal dipakai Standard Nordic Questionnaire, sedangkan untuk menilai postur kerja digunakan metode Quick Exposure Check (QEC). Hasil penilaian untuk kondisi aktual dari metode yang ada dianalisis berdasarkan keluhan musculoskeletal yang terjadi. Kemudian dilakukan penilaian biomekanika dan antropometri operator. Gambaran kondisi aktual yang diperoleh dianalisis dan dievaluasi sehingga dapat menghasilkan rancangan alat bantu yang ergonomis sehingga metode kerja menjadi lebih baik. Rancangan fasilitas alat bantu pemindahan yang cocok adalah berupa trolley berdasarkan prinsip antropometri dengan melibatkan tiga dimensi tubuh yaitu Tinggi Siku Berdiri (TSB), Lebar Bahu (LB) dan Diameter Genggaman (DG). Ketiga dimensi tubuh tersebut menghasilkan sebuah rancangan trolley yang nyaman dan ergonomis digunakan oleh operator dalam aktivitas pemindahan produk dari stasiun pengepakan ke gudang.

Kata Kunci : Perbaikan Metode Kerja, Keluhan Musculoskeletal, Quick Exposure Check (QEC), Biomekanika

(21)

ABSTRACT

CV. Bukitraya Laendrys is a medium manufacturing company producing agricultural lime (kaptan), calcium oxide (quick lime), dolomite, agrodolomite, kieserite and organic fertilizer. Almost all of the activities were carried out manually, one of the activities is handling facility to move products from packing station to the warehouse. This caused the tired (fatigue) is excessive and musculoskeletal disorders.

The purpose of this research was to provide a conceptual design for the improvement of the work method and tools used in the packing station of the company that effective to reduce both of the problems.

The approach applied to improve the work method to detect musculoskeletal disorder were Standard Nordic Questionnaire while the work postures were assessed through Quick Exposure Check (QEC) method. The result of actual condition assessment of existing method was analyzed based on the musculoskeletal disorders occurred and then biomechanics and anthropometry of the operator were assessed.

The description of actual condition was analyzed and assessed to produce an ergonomic tool design that result in a better work method. The design of handling facility that best suitable to the condition was a trolley based on the anthropometric principle involved three body dimensions such as the height of upright elbow, width of shoulder, and grip diameter. The three body dimensions produced a comfortable and ergonomic trolley design used by the operator in the activity of transferring the product from the packing station to the warehouse.

Keywords: Work Method, Improvement, Musculoskeletal Disorder, Quick Exposure Check (QEC), Biomechanics

(22)
(23)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sumber daya manusia sebagai komponen utama dalam sistem kerja perlu mendapatkan perhatian khusus karena keterbatasan kemampuannya. Kemampuan manusia terbatas untuk melaksanakan berbagai macam kegiatan, baik yang bersifat mental maupun fisik. Banyak faktor yang mempengaruhi keterbatasan tersebut, diantaranya fasilitas dan metode kerja yang digunakan. Metode kerja dan fasilitas kerja merupakan komponen yang berhubungan langsung dengan manusia dimana rancangan metode kerja yang baik sangat diperlukan sesuai dengan kemampuan manusia untuk berinteraksi dengan fasilitas kerjanya.

Fasilitas dan metode kerja pada suatu industri merupakan aspek penting yang berpengaruh terhadap kegiatan produksi. Kedua aspek tersebut saling berhubungan dan mendukung satu sama lain dalam menciptakan suatu kondisi kerja yang kondusif.

Dengan adanya fasilitas dan metode kerja yang baik, maka dapat meningkatkan performansi dari para pekerja yang meminimumkan kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Oleh karena itu dibutuhkan perbaikan metode kerja dan perancangan fasilitas kerja yang memperhatikan aspek egronomis, agar dapat menciptakan suatu kenyamanan dan keamanan dalam bekerja.

Pengaturan metode kerja yang baik adalah memaksimalkan efisiensi dalam pelaksanaan suatu produksi. Sistem kerja terdiri dari empat komponen utama yaitu manusia, bahan, peralatan/fasilitas kerja dan lingkungan kerja seperti ruangan dan

(24)

keadaan pekerja di sekelilingnya (Sritomo, 2008, p. 91). Dari keempat komponen utama, komponen manusia adalah pusat dalam sistem kerja karena pada dasarnya manusia selain berperan sebagai perencana suatu sistem kerja, juga sebagai pelaksana dan pengendali yang harus berinteraksi dengan sistem untuk dapat mengendalikan proses yang sedang berlangsung pada sistem kerja secara keseluruhan. Sistem kerja yang baik dan memuaskan para pekerja tentu akan meningkatkan produktivitas kerjanya. Sebaliknya sistem kerja yang tidak baik akan menurunkan produktivitas kerja para pekerja dan secara tidak langsung juga menurunkan produktivitas perusahaan.

CV. Bukitraya Laendrys yang berlokasi di desa Durian Kamang Mudik, Bukittinggi, Sumatera Barat merupakan salah satu perusahaan manufaktur usaha menengah memproduksi kapur pertanian (kaptan) merk BIOTAN, kapur tohor (quick limes), pupuk dolomite, agrodolomite, kieserite, dan pupuk organik. Produk-produk yang dihasilkan perusahaan digunakan oleh berbagai sektor industri, mulai dari sektor pertanian (produk pupuk alam), subsektor perikananan untuk pakan ikan, pakan ternak, tambak udang, sektor usaha air minum, industri gula, industri tambang batu bara, bahkan industri pulp & paper membutuhkan produk kaptan untuk pemutih kertas-kertas hasil produksinya.

Sehubungan dengan banyaknya peminat dari produk-produk yang dihasilkannya, CV. Bukitraya Laendrys sangat berpotensi untuk dikembangkan. Hal ini juga didukung oleh kemudahan dan ketersediaan bahan bakunya. Perusahaan ini memiliki peluang besar untuk terus berproduksi dalam jangka panjang karena semua bahan baku

(25)

tersedia di sekeliling area perusahan, yaitu berupa perbukitan batu kapur yang banyak mengandung unsur kapur.

Dalam menjalankan proses produksinya, perusahaan menggunakan bahan baku langsung dari sekitar area industri. Proses produksinya mulai dari menghancurkan dengan cara menggiling batu dengan menggunakan mesin stone crusher, penghalusan dengan menggunakan hammer mill, dan pengepakan pupuk pada corong pengisian pupuk dan mesin jahit. Hampir seluruh kegiatan dilakukan secara manual, salah satunya kegiatan pengangkatan yang dilakukan untuk memindahkan produk dari stasiun pengepakan ke gudang produk jadi. Kegiatan manual dengan sikap kerja yang tidak benar dan berlebihan dapat menyebabkan kelelahan bagi operator, selain itu fasilitas kerja yang ada juga kurang memadai sehingga dapat menyebabkan sikap kerja yang tidak benar pada operator saat melakukan kegiatannya, serta menimbulkan postur kerja yang tidak alamiah yang hasilnya menyebabkan keluhan sampai dengan cidera otot bagi operator.

Keluhan muskuloskeletal yang dirasakan operator berasal dari kegiatan yang tidak ergonomis dan dari kondisi lingkungan kerja di lantai produksi. Khusus pada stasiun pengepakan telah ditemukan bahwa para operator bekerja memindahkan produk kapur pertanian dengan cara mengangkat secara manual sehingga cara kerja ini dapat menimbulkan rasa lelah (fatique) yang berlebihan. Dari kuisioner yang dibagikan kepada 6 orang operator di stasiun pengepakan dan pemindahan produk didapat bahwa operator mengalami sakit pada bahu kiri dan kanan, lengan atas dan bawah, leher, dan punggung belakang. Hal itu disebabkan karena tidak tersedianya

(26)

fasilitas kerja untuk memudahkan operator di dalam melakukan pekerjaannya, sebagaimana terlihat pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1 Beberapa Aktivitas Operator Penyebab Keluhan MSDs

Kondisi yang terlihat pada Gambar 1.1, operator bekerja menggunakan metode kerja yang tidak ergonomis seperti membungkuk secara berulang-ulang pada waktu yang cukup lama. Selain itu terlihat pada proses pemindahan produk pupuk setelah pengepakan ke gudang masih dilakukan dengan manual. Tidak ada fasilitas kerja yang dapat digunakan sebagai alat bantu pemidahan produk tersebut. Operator sering melakukan gerakan relaksasi yaitu gerakan untuk perenggangan otot agar dapat

(27)

menghilangkan rasa lelah. Jika keluhan musculoskeletal disorders terjadi terus menerus akan mengakibatkan kondisi tubuh yang melemah. Ini pastinya akan berdampak kepada kinerja operator yang berakibat menurunnya hasil produksi perusahaan atau tidak tercapainya target produksi yang telah ditentukan oleh perusahaan.

Dengan memperhatikan keadaan banyaknya keluhan operator selama melaksanakan pekerjaannya, maka peneliti perlu mengadakan penelitian tentang

“Perancangan Perbaikan Metode Kerja dan Alat Bantu pada Stasiun Kerja Pengepakan di CV. Bukitraya Laendrys”. Diharapkan dengan adanya usulan rancangan tersebut keluhan-keluhan operator dapat diminimisasi dan diharapkan produktivitas untuk setiap operator dapat ditingkatkan.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Banyaknya operator yang mengalami keluhan musculoskeletal disorders pada aktivitas pengangkatan dan pemindahan produk dari stasiun pengepakan ke gudang produk jadi.

2. Tidak adanya tata cara kerja yang baku sehingga masing-masing operator dalam melakukan pekerjaannya memiliki tata cara masing-masing agar dapat menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu yang singkat.

(28)

1.3 Tujuan, Sasaran dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan dan Sasaran Penelitian

Tujuan dari penelitian yang dilakukan ini adalah untuk mendapatkan sebuah usulan rancangan perbaikan metode kerja dan alat bantu yang efektif diimplementasikan di perusahaan, dalam mengatasi masalah-masalah yang terjadi guna meningkatkan produktivitas perusahaan.

Sasaran dari penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi keluhan muskuloskeletal yang dialami operator di stasiun pengepakan dan pemindahan produk ke gudang.

2. Menganalisa dan menilai serta mendapatkan skor dan level resiko postur kerja aktual operator di stasiun pengepakan pemindahan produk ke gudang dengan menggunakan Quick Exposure Check (QEC).

3. Merumuskan tindakan perbaikan yang mungkin dilakukan terhadap postur kerja aktual.

4. Merancang perbaikan metode kerja dan membuat standar operasional metode kerja baru pada stasiun kerja pengepakan dan pemindahan produk ke gudang.

5. Perancangan alat bantu ergonomis pemindahan produk dari stasiun pengepakan ke gudang produk jadi berdasarkan dimensi dan prinsip data antropometri.

(29)

1.3.2 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan keterampilan peneliti untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang sebenarnya terjadi di lapangan melalui penerapan ilmu yang telah didapatkan di bangku perkuliahan.

2. Sebagai bahan masukan bagi perusahaan dalam perbaikan metode kerja untuk meningkatkan produktivitas pekerja.

3. Bagi pekerja, metode kerja yang diusulkan diharapkan akan meningkatkan kemampuan kerja sehingga pekerja dapat melakukan pekerjaan secara optimal.

1.4 Batasan Masalah dan Asumsi

Agar penyelesaian masalah tidak menyimpang dari tujuan dan menghindari kemungkinan meluasnya pembahasan dari yang seharusnya diteliti, maka penulis membuat batasan masalah dan asumsi.

Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Penelitian dilakukan pada pekerja di CV. Bukitraya Laendrys pada stasiun kerja pengepakan produk kapur pertanian dan pupuk.

2. Faktor lingkungan kerja tidak mempengaruhi hasil dari penelitian yang dilakukan.

3. Penggunaan alat bantu usulan yang akan dirancang dibatasi untuk penduduk (operator) Indonesia saja.

(30)

4. Tidak ada dilakukan kajian aspek biaya dalam perancangan metode kerja dan alat bantu.

5. Rekayasa yang dilakukan sebatas rekayasa teknik, rekayasa manajemen diabaikan.

Sedangkan asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Operator yang diamati adalah operator yang bekerja dalam kondisi normal serta sehat secara jasmani dan rohani.

2. Tempat kerja dan susunan fasilitas kerja tidak menjadi penghambat, artinya operator leluasa bekerja.

3. Mekanisme dan aktivitas pada proses produksi kapur pertanian dan pupuk pada perusahaan berjalan normal.

4. Rancangan yang dibuat hanya berupa usulan kepada perusahaan.

1.5 Sistematika Penulisan Tesis

Agar penulisan tesis ini dapat dipahami dengan mudah, maka disusun sistematika yang digunakan dalam penulisan tesis ini terdiri atas beberapa bagian, yaitu:

BAB I : PENDAHULUAN

Menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, asumsi penelitian dan sistematika penulisan tesis.

(31)

BAB II : TINJAUAN LITERATUR

Menguraikan literatur yang melandasi dan mendukung penelitian ini.

Memberikan pemahaman singkat melalui penjelasan umum, uraian pengertian, dan teori-teori.

BAB III : GAMBARAN UMUM OBJEK STUDI

Menguraikan tentang gambaran umum perusahaan, ruang lingkup usaha dan proses serta fasilitas produksi yang ada di perusahaan.

BAB IV : METODOLOGI PENELITIAN

Menguraikan metodologi penelitian sebagai kerangka pemecahan masalah baik dalam mengumpulkan data ataupun dalam menganalisis data yang diperoleh.

BAB V : PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Menguraikan data yang dikumpulkan untuk kepentingan penelitian dan pengolahan data tersebut sesuai dengan metodologi penelitian. Kemudian pada bab ini juga dilakukan pengolahan data penelitian.

BAB VI : ANALISA PEMECAHAN MASALAH

Pada bab ini akan dipaparkan hasil perancangan yang dianalisa dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan.

BAB VII : KESIMPULAN DAN SARAN

Menguraikan tentang kesimpulan yang didapat dari hasil rancangan dan saran-saran yang diberikan kepada pihak perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(32)
(33)

BAB 2

TINJAUAN LITERATUR

2.1 Perancangan Kerja (Work Design)

Perancangan kerja (work design) adalah bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan performansi kerja (Sritomo, 2008, p. 33), melalui:

a. Work method, berupa pengembangan tata cara kerja lebih efektif dan efisien dalam proses produksi.

b. Environment, berupa pengaturan kondisi lingkungan yang lebih ergonomis.

c. Organization, berupa pemanfaatan dan pendayagunaan secara maksimal semua potensi SDM.

Teknik tata cara kerja merupakan suatu ilmu yang terdiri dari teknik–teknik dan prinsip-prinsip untuk mendapatkan rancangan (desain) terbaik dari sistem kerja, teknik dan prinsip–prinsip ini digunakan untuk mengatur komponen-komponen sistem kerja yang terdiri dari manusia dengan sifat dan kemampuannya, bahan, perlengkapan dan peralatan kerja serta lingkungan kerja sehingga tercapai tingkat efisien dan produktivitas tinggi yang diukur dengan waktu yang dihabiskan.

2.2 Telaah Metode Kerja

Telaah metode adalah kegiatan pencatatan secara sistematis dan pemeriksaan dengan seksama mengenai cara-cara yang berlaku atau yang diusulkan untuk melaksanakan kerja. Sasaran pokok dari efektifitas ini adalah mencari,

(34)

mengembangkan dan menerapakan metode kerja yang lebih efektif dan efesien dengan tujuan akhir adalah waktu penyelesaian lebih singkat dan cepat (Sritomo, 2008, p. 91).

Dengan telaah metode kerja, atau yang lazim disebut dengan istilah “method analysis”, maka hal ini dimaksudkan untuk mempelajari prinsip-prinsip dan teknik- teknik pengaturan kerja yang optimal dalam suatu sistem dimana komponen- komponen kerja seperti manusia (operator), mesin dan/atau fasilitas kerja lainnya, material serta lingkungan kerja fisik akan berinteraksi. Hal ini secara skematis dapat diperlihatkan dalam Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Langkah-langkah dalam Telaah Metode Kerja

Dari gambar yang ada jelas bahwa di dalam telaah/analisis metode, maka ada 4 macam komponen sistem kerja yang harus diperhatikan guna memperoleh metode kerja yang sebaik-baiknya, meliputi:

ANALISIS METODE KERJA

SISTEM KERJA

Pekerja Bahan Mesin/peralatan

Lingkungan

Alternatif-alternatif

PEMILIHAN ALTERNATIF SISTEM KERJA

TERBAIK

EFEKTIF

EFISIEN

(35)

1. Komponen material: Bagaimana cara menempatkan material, jenis material yang mudah diproses dan lain-lain. Yang dimaksudkan material disini meliputi bahan baku, supplies (komponen, parts, dan lain-lain) produk jadi, limbah dan lain-lain.

2. Komponen manusia: Bagaimana sebaiknya posisi orang pada saat proses kerja berlangsung agar mampu memberikan gerakan-gerakan kerja yang efektif dan efisien (duduk, berdiri, jongkok, merunduk, dan lain-lain).

3. Komponen mesin: Bagaimana desain dari mesin dan/atau peralatan kerja lainnya, apakah sudah sesuai dengan prinsip ergonomi.

4. Komponen lingkungan kerja fisik: Bagaimana kondisi lingkungan kerja fisik tempat operasi kerja tersebut dilaksanakan, apakah dirasa cukup aman dan nyaman.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan pokok dari kegiatan telaah metode ini adalah sebagai berikut:

1. Perbaikan proses dan tata cara pelaksanaan penyelesaian pekerjaan.

2. Perbaikan dan penghematan penggunaan material, tenaga mesin/fasilitas kerja lainnya serta tenaga kerja manusia pekerjanya.

3. Pendayagunaan usaha manusia dan pengurangan keletihan yang tidak perlu.

4. Perbaikan tata ruang kerja yang mampu memberikan suasana lingkungan kerja yang nyaman dan aman.

(36)

Gambar 2.2. selanjutnya akan menunjukkan faktor-faktor produksi yang harus diperhatikan didalam menganalisa metode kerja dengan tujuan pokok mencari tata kerja dengan tujuan pokok mencari tata kerja yang lebih sederhana, efektif dan efisien.

Gambar 2.2 Interaksi Faktor-Faktor Produksi dalam Analisa Metode Kerja

Penelitian metode kerja adalah penelitian tentang prinsip-prinsip pengaturan komponen-komponen sistem kerja untuk memperoleh beberapa alternatif sistem kerja yang baik. Komponen sistem kerja ini diatur dan secara bersama-sama berada dalam suatu komposisi yang baik, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha.

2.3 Prosedur Sistematis Untuk Melaksanakan Telaah Metode Kerja

Sebelum diputuskan apakah perlu dilaksanakan kegiatan telaah metode kerja maka terlebih dahulu hal-hal berikut ini dipertimbangkan benar-benar (Sritomo, 2008, p. 93):

METODE KERJA

(prosedur, langkah, urutan, dll.)

Operator, Mesin &

Fasilitas Kerja Lainnya Bahan Baku &

Supplies Input

PRODUK JADI (Output) Lingkungan Kerja Fisik

(temperatur, penerangan, noise, dll.)

(37)

1. Adakah keuntungan ekonomis yang bisa dipakai sebagai hasil akhir dari pelaksanaan kegiatan telaah metode ini?

2. Adakah tersedia cukup pengetahuan teknis yang melatar-belakangi proses kerja yang akan ditelaah?

3. Apakah benar-benar tidak ada reaksi yang negatif terhadap pelaksanaan aktivitas telaah motode yang berasal dari pekerja?

Kalau tiga pertanyaan tersebut diatas sudah berhasil dijawab dengan jenis dan positif maka langkah-langkah berikut harus ditempuh guna memperoleh hasil analisis yang sebaik-baiknya yaitu:

1. Identifikasi operasi kerja yang harus diamati dan dipelajari. Kumpulkan semua data dan fakta yang ada terutama yang berkaitan dengan komponen- komponen yang berkaitan dengan komponen-komponen yang terlihat didalam sistem kerja tersebut.

2. Apabila diperlukan maka dapatkan input data dari pekerja ataupun penyelia atau supervisor langsung, terutama untuk pekerjaan yang telah berlangsung lama (dalam hal ini metode kerja tersebut perlu ditelaah lagi sebab dianggap tidak efektif dan efisien).

3. Dokumentasikan metode kerja yang sesuai dengan langkah-langkah urutan kerja yang sistematis dan logis. Untuk menggambar prosedur kerja ini direkomendasikan untuk menggunakan bantuan peta proses (proses chart) atau peta kerja lainnya.

4. Buat usulan metode kerja yang baru yang dianggap lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan metode kerja sebelumnya.

(38)

5. Buatlah beberapa alternatif untuk ini dan pilih alternatif yang terbaik yaitu alternatif metode kerja yang mampu memberikan kesederhanaan prosedur yang harus ditempuh (work simplification), kemudahan dan kenyamanan pelaksanaan kerja, serta waktu lebih singkat.

6. Terapkan metode kerja yang baru ini dan ikuti terus pelaksanaannya sampai akhirnya benar terbukti bahwa perbaikan metode kerja yang diinginkan tercapai.

2.4 Rancangan Metode Kerja Berdasarkan Konsep Ergonomi 2.4.1 Definisi Ergonomi

Istilah “Ergonomi” berasal dari bahasa Latin, yaitu Ergon (kerja) dan Nomos (hukum), sehingga ergonomi dapat didefenisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen, dan desain/perancangan. Ergonomi berkenaan juga dengan optimisasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan manusia di tempat kerja, di rumah, dan dimana saja manusia berada (Eko Nurmianto, 2004, p. 1).

Ergonomi merupakan studi tentang manusia, fasilitas kerja dan lingkungan yang saling berinteraksi dengan tujuan utama yaitu menyesuaikan suasana kerja dengan manusia.

2.4.2 Tujuan Ergonomi

Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi (Tarwaka, 2004, p. 7) adalah:

(39)

1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental dan mengupayakan kepuasan kerja.

2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkan jaminan sosial baik selama waktu produktif maupun setelah tidak produktif.

3. Menciptakan keseimbangan rasional antara aspek teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari sistem kerja, sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.

2.4.3 Tipe-tipe Masalah Ergonomi

Masalah ergonomi dapat dikategorikan ke dalam bermacam-macam grup yang berbeda, bergantung kepada wilayah spesifik dari efek tubuh seperti (Tarwaka, 2004, p. 8):

a. Anthropometric

Antropometri berhubungan dengan dimensi antara ruang geometri fungsional dengan tubuh manusia. Antropometri ini merupakan pengukuran dari dimensi tubuh secara linier, termasuk berat dan volume, jarak jangkauan, tinggi mata saat duduk, dan lain-lain. Masalah antropometri merupakan ketidaksesuaian antara dimensi terhadap desain ruang dan sarana kerja. Pemecahan masalah ini dengan memodifikasi desain dan menyesuaikan kenyamanan.

(40)

b. Cognitive

Masalah cognitive muncul ketika beban kerja berlebih atau berada di bawah kebutuhan proses. Keduanya dalam jangka waktu panjang maupun dalam jangka waktu pendek dapat menyebabkan ketegangan. Pada sisi lain fungsi ini tidak sepenuhnya berguna untuk pemeliharaan tingkat optimum.

Pemecahan masalah ini dengan melengkapkan fungsi manusia dengan fungsi mesin untuk meningkatkan performansi.

c. Musculoskeletal

Ketegangan otot dan sistem kerangka termasuk dalam kategori ini. Hal tersebut dapat menyebabkan insiden kecil atau trauma efek kumulatif.

Pemecahan masalah ini terletak pada penyediaan bantuan performansi kerja atau mendesain kembali pekerjaan untuk menjaga agar kebutuhannya sesuai dengan batas kemampuan manusia.

d. Cardiovaskular

Masalah ini diakibatkan oleh ketegangan sistem sirkulasi, termasuk jantung.

Jantung memompa lebih banyak darah ke otot untuk memenuhi tingginya permintaan oksigen. Pemecahan masalah ini dengan mendesain kembali pekerjaan untuk melindungi pekerja dan melakukan rotasi pekerjaan.

e. Psychomotor

Permasalahan dalam hal ini adalah ketegangan pada sistem psychomotor.

Pemecahannya adalah dengan menegaskan kebutuhan pekerjaan untuk disesuaikan dengan kemampuan manusia dan menyediakan bantuan performansi pekerjaan.

(41)

2.4.4 Aplikasi Ergonomi untuk Perancangan Tempat Kerja

Penerapan ergonomi pada umumnya merupakan aktivitas rancang bangun (desain) ataupun rancang ulang (re-desain). Hal ini dapat meliputi perangkat keras seperti misalnya perkakas kerja (tools), control and display, dan lain-lain.

Ergonomi dapat berperan sebagai desain pekerjaan pada suatu organisasi, misalnya penentuan jumlah jam istirahat, pemilihan jadwal pergantian waktu kerja (shift kerja), meningkatkan variasi pekerjaan, dan lain-lain.

Ergonomi juga memberikan peranan penting dalam meningkatkan faktor keselamatan dan kesehatan kerja, misalnya desain suatu sistem kerja untuk mengurangi rasa nyeri dan ngilu pada sistem kerangka dan otot manusia dan desain stasiun kerja untuk alat peraga visual (Visual Display Unit Station). Hal tersebut untuk mengurangi ketidaknyamanan visual, postur kerja, serta desain suatu perkakas kerja untuk mengurangi kelelahan kerja, desain suatu peletakan instrumen dan sistem pengendalian untuk mendapatkan optimasi dalam proses transfer informasi dengan dihasilkannya suatu respon yang cepat dengan meminimumkan resiko kesalahan serta upaya untuk mendapatkan optimasi, efisiensi kerja dan hilangnya resiko kesehatan akibat metode kerja yang kurang tepat.

Ilmu ergonomi dalam penerapannya perlu informasi yang lengkap mengenai kemampuan manusia dengan segala keterbatasannya. Manusia tidak cukup mempelajarinya dari satu segi ilmu saja, tetapi diperlukan berbagai disiplin ilmu antara lain psikologi, antropologi, faal kerja, biologi, sosiologi, perencanaan kerja, fisika, dan lain-lain. Disiplin ilmu tersebut berfungsi sebagai pemberi informasi dan

(42)

para ahli teknis bertugas untuk meramu masing-masing informasi sebagai pengetahuan untuk merancang fasilitas sehingga fasilitas tersebut mencapai kegunaan yang optimal. Usaha yang dapat ditempuh untuk memperoleh informasi tersebut (Sutalaksana, 1979, p. 64) adalah:

1. Penyelidikan tentang display

Display adalah bagian dari lingkungan yang mengkomunikasikan keadaannya langsung kepada manusia dalam bentuk lambang atau tanda.

Persoalan yang sering terjadi adalah display yang tidak mengkomunikasikan keadaan secara langsung dan oleh karena itu kita perlu memikirkan bagaimana merancang suatu alat yang bisa menerjemahkan informasi sehingga mudah dimengerti manusia. Display harus dirancang dengan baik agar dapat menjalankan fungsinya untuk menyajikan informasi yang diperlukan manusia dalam melaksanakan pekerjaannya. Perancangan display yang baik adalah apabila display tersebut dapat menyampaikan informasi selengkap mungkin tanpa menimbulkan banyak kesalahan dari manusia yang menerimanya.

2. Penyelidikan Mengenai Hasil Kerja Manusia dan Proses Pengendaliannya Dalam hal ini dilakukan penyelidikan tentang aktivitas manusia pada saat bekerja dan kemudian mempelajari cara mengukur setiap aktivitas tersebut.

Penyelidikan ini banyak berhubungan dengan biomekanika. Hal ini mencakup pengukuran kekuatan/daya tahan fisik manusia ketika bekerja dan mempelajari bagaimana cara bekerja sehingga peralatan harus

(43)

dirancang agar sesuai dengan kemampuan fisik manusia ketika melakukan aktivitas tersebut. Pengukuran kekuatan fisik manusia dalam hal ini adalah mengukur berapa besarnya tenaga yang dibutuhkan oleh seorang pekerja untuk melaksanakan pekerjaannya. Secara umum kriteria pengukuran aktivitas dapat dibagi dalam dua kelas, yaitu:

a. Kriteria Fisiologi

Kriteria ini merupakan kegiatan manusia yang ditentukan berdasarkan kecepatan denyut jantung dan pernafasan. Usaha untuk menentukan besarnya tenaga yang akurat berdasarkan kriteria ini agak sulit karena perubahan fisik dari keadaan normal menjadi keadaan fisik yang aktif akan melibatkan beberapa fungsi fisiologis, seperti tekanan darah, peredaran udara dalam paru-paru, jumlah oksigen yang digunakan, jumlah karbondioksida yang dihasilkan, temperatur badan dan sebagainya.

b. Kriteria Operasional

Kriteria ini melibatkan teknik untuk mengukur atau menggambarkan hasil yang bisa dilakukan tubuh atau anggota tubuh pada saat melaksanakan gerakan. Secara umum gerakan yang dapat dilakukan tubuh atau anggota tubuh dapat dibagi dalam bentuk range (rentang) gerakan, pengukuran aktivitas berdasarkan kekuatan, ketahanan, kecepatan dan ketelitian.

3. Penyelidikan Mengenai Tempat Kerja.

(44)

Ukuran tempat kerja harus sesuai dengan ukuran dimensi tubuh manusia.

Hal ini dipelajari di antropometri. Data hasil pengukuran (data antropometri) dijadikan sebagai data untuk perancangan peralatan.

4. Penyelidikan Mengenai Lingkungan Fisik.

Lingkungan fisik meliputi ruangan dan fasilitas yang digunakan manusia serta kondisi lingkungan kerja yang keduanya banyak mempengaruhi tingkah laku manusia. Pendekatan khusus yang ada dalam disiplin ergonomi adalah aplikasi yang sistematis dari segala informasi relevan yang berkaitan dengan karakteristik dari prilaku manusia dalam perancangan peralatan, fasilitas dan lingkungan kerja yang dipakai. Untuk analisa dan penelitian maka ergonomi akan meliputi hal yang berkaitan dengan :

a. Anatomi (struktur), fisiologi, dan antropometri tubuh manusia.

b. Psikologi yang fisiologis mengenai berfungsinya otak dan sistem syaraf yang berperan dalam tingkah laku manusia.

Kondisi kerja yang dapat mencederai baik dalam waktu yang pendek maupun panjang, atau membuat celaka manusia sehingga diperlukan desain kondisi kerja yang dapat membuat nyaman manusia dalam bekerja.

2.4.5 Peta Kerja

2.4.5.1 Definisi Peta Kerja

Peta kerja adalah suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas. Dengan menggunakan peta kerja dapat dilihat semua langkah atau kejadian yang dialami oleh benda kerja mulai dari masuk ke pabrik yang berbentuk bahan baku, kemudian menggambarkan semua langkah yang dialaminya seperti

(45)

transportasi, operasi, pemeriksaan dan perakitan, sampai menjadi produk, baik produk jadi atau produk setengah jadi. Dengan menggunakan peta kerja maka usaha memperbaiki metode kerja dari suatu proses produksi akan lebih mudah dilaksanakan.

Peta kerja merupakan alat yang baik untuk menganalisa suatu pekerjaan sehingga akan mudah untuk menganalisa dan memperbaiki kesalahan, dan akan sangat bermanfaat dalam perencanaan sistem kerja. Perbaikan yang mungkin dilakukan antara lain:

1. Menghilangkan operasi yang tidak perlu.

2. Menggabungkan suatu operasi dengan operasi lainnya.

3. Menemukan urutan kerja/proses produksi yang lebih baik.

4. Menentukan mesin yang lebih ekonomis.

5. Menghilangkan waktu menunggu antar operasi.

Pada dasarnya semua perbaikan tersebut ditujukan untuk mengurangi biaya produksi secara keseluruhan, jadi peta ini merupakan alat yang baik untuk menganalisis suatu pekerjaan sehingga mempermudah perencanaan perbaikan.

2.4.5.2 Jenis-jenis Peta Kerja

Berdasarkan kegiatannya peta kerja dibagi atas dua kelompok besar, yaitu:

1. Peta kerja untuk menganalisis kegiatan kerja keseluruhan.

Yang termasuk peta kerja keseluruhan yaitu:

a. Peta Proses Operasi (Operation Process Chart) b. Peta Aliran Proses (Flow Process Chart)

c. Peta Proses Perakitan (Assembly Process Chart) d. Peta Proses Kelompok Kerja (Gang Process Chart)

(46)

e. Diagram Aliran (Flow Diagram)

2. Peta-peta kerja untuk menganalisis kegiatan kerja setempat.

Yang termasuk peta kerja setempat yaitu:

a. Peta Pekerja dan Mesin (Man-Machine Chart) b. Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan

Suatu kegiatan disebut kegiatan kerja keseluruhan apabila kegiatan tersebut melibatkan sebagian besar atau semua fasilitas yang diperlukan untuk membuat produk yang bersangkutan. Sedangkan suatu kegiatan disebut kegiatan kerja setempat apabila kegiatan tersebut terjadi dalam suatu stasiun kerja yang biasanya melibatkan orang dan fasilitas dalam jumlah terbatas. Hubungan antara kedua macam kegiatan adalah untuk menyelesaikan suatu produk diperlukan beberapa stasiun kerja, di mana satu sama lainnya saling berhubungan dan kelancaran proses produksi secara keseluruhan tergantung pada kelancaran setiap stasiun kerja.

2.4.6 Keluhan Muskuloskeletal

Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan pada otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai pada yang sangat sakit.

Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama, maka dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen, dan tendon.

Keluhan hingga kerusakan ini disebut juga musculoskeletal disorders (MSDs) atau cedera pada sistem muskuloskeletal (Tarwaka, 2004, p. 117).

Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

(47)

1. Keluhan sementara (Reversible), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot menerima beban statis, keluhan tersebut segera hilang apabila pembebanan dihentikan.

2. Keluhan menetap (Persistent), yaitu keluhan otot yang bersifat menetap.

Walaupun pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot masih berlanjut.

Keluhan muskuloskeletal dapat terjadi oleh beberapa penyebab, diantaranya adalah:

1. Peregangan otot yang berlebihan.

Peregangan otot yang berlebihan pada umumnya sering dikeluhkan oleh pekerja yang aktivitas kerjanya menuntut pengerahan tenaga yang besar seperti aktivitas mengangkat, mendorong, menarik, dan menahan beban yang berat.

2. Aktivitas berulang.

Aktivitas berulang adalah pekerjaan yang dilakukan secara terus-menerus seperti pekerjaan mencangkul, membelah kayu, dan sebagainya. Keluhan otot terjadi karena otot menerima tekana akibat beban kerja secara terus- menerus tanpa memperoleh waktu untuk relaksasi.

3. Sikap kerja tidak alamiah.

Posisi bagian tubuh yang bergerak menjauhi posisi alamiah, misalnya pergerakan tangan terangkat, punggung terlalu membungkuk, kepala terangkat, dan sebagainya dapat menyebabkan keluhan pada otot skeletal.

(48)

4. Faktor penyebab sekunder.

Faktor sekunder yang juga berpengaruh terhadap keluhan muskuloskeletal adalah tekanan, getaran dan mikroklimat.

5. Penyebab kombinasi.

Resiko terjadinya keluhan otot skeletal akan semakin meningkat apabila dalam melakukan tugasnya pekerja dihadapkan pada beberapa faktor resiko dalam waktu yang bersamaan, misalnya pekerja harus melakukan aktivitas mengangkat beban di bawah tekanan panas matahari.

Langkah-langkah untuk mengatasi keluhan muskuloskeletal sebagai berikut:

1. Rekayasa Teknik

Rekayasa teknik dilakukan melalui pemilihan beberapa alternatif sebagai berikut:

a. Eliminasi, yaitu menghilangkan sumber bahaya yang ada. Hal ini jarang dapat dilakukan mengingat kondisi dan tuntutan pekerjaan yang mengharuskan menggunakan peralatan yang ada.

b. Substitusi, yaitu mengganti alat/bahan lama dengan alat/bahan baru yang aman, menyempurnakan proses produksi dan menyempurnakan prosedur penggunaan peralatan.

c. Partisi, yaitu melakukan pemisahan antara sumber bahaya dengan pekerja, contohnya memisahkan ruang mesin yang bergetar dengan ruang kerja lainnya.

(49)

d. Ventilasi, yaitu dengan menambah ventilasi untuk mengurangi resiko sakit, misalnya akibat suhu udara yang terlalu panas.

2. Rekayasa Manajemen

Rekayasa manajemen dapat dilakukan melalui tindakan sebagai berikut:

a. Pendidikan dan pelatihan

Melalui pendidikan dan pelatihan, pekerja menjadi lebih memahami lingkungan dan alat kerja sehingga diharapkan lebih inovatif dalam upaya pencegahan resiko sakit akibat kerja.

b. Pengaturan waktu kerja istirahat yang seimbang

Menyesuaikan kondisi lingkungan kerja dan karakteristik pekerjaan sehingga dapat mencegah paparan yang berlebihan terhadap sumber bahaya.

c. Pengawasan yang intensif

Melalui pengawasan yang intensif dapat dilakukan pencegahan secara lebih dini terhadap kemungkinan terjadinya resiko sakit akibat kerja.

2.4.6.1 Standard Nordic Questionnaire (SNQ)

Ada beberapa cara dalam melakukan evaluasi ergonomi untuk mengetahui hubungan antara tekanan fisik dengan resiko keluhan otot skeletal. Pengukuran terhadap tekanan fisik ini cukup sulit karena melibatkan berbagai faktor subjektif seperti kinerja, motivasi, harapan dan toleransi kelelahan. Salah satunya adalah melalui Standard Nordic Questionnaire (SNQ). Melalui kuesioner ini dapat diketahui

(50)

bagian otot yang mengalami keluhan dengan tingkat keluhan mulai dari Tidak Sakit (TS), Agak Sakit (AS), Sakit (S) dan Sangat Sakit (SS). Dengan melihat dan menganalisis peta tubuh seperti pada Gambar 2.3. maka dapat diestimasi jenis dan tingkat keluhan otot skeletal yang dirasakan oleh pekerja.

(51)

Gambar 2.3 Standard Nordic Questionnaire Keterangan:

TS : Tidak Sakit AS : Agak Sakit S : Sakit

SS : Sangat Sakit

NO JENIS KELUHAN

TINGKAT KELUHAN TS AS S SS 0 Sakit kaku di leher bagian atas

1 Sakit kaku di bagian leher bagian bawah 2 Sakit di bahu kiri

3 Sakit di bahu kanan 4 Sakit lengan atas kiri 5 Sakit di punggung 6 Sakit lengan atas kanan 7 Sakit pada pinggang 8 Sakit pada bokong 9 Sakit pada pantat 10 Sakit pada siku kiri 11 Sakit pada siku kanan 12 Sakit pada lengan bawah kiri 13 Sakit pada lengan bawah kanan 14 Sakit pada pergelangan tangan kiri 15 Sakit pada pergelangan tangan kanan 16 Sakit pada tangan kiri

17 Sakit pada tangan kanan 18 Sakit pada paha kiri 19 Sakit pada paha kanan 20 Sakit pada lutut kiri 21 Sakit pada lutut kanan 22 Sakit pada betis kiri 23 Sakit pada betis kanan 24 Sakit pada pergelangan kaki kiri 25 Sakit pada pergelangan kaki kanan 26 Sakit pada kaki kiri

27 Sakit pada kaki kanan

(52)

2.4.7 Antropometri

Istilah Antropometri berasal dari kata “anthro” yang berarti manusia dan

“metri” yang berarti ukuran. Antropometri dapat diartikan sebagai studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia (Sritomo, 2008, p. 60). Manusia pada umumnya memiliki bentuk, ukuran, berat dan lain-lain yang berbeda satu dengan lainnya. Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal:

1. Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dan lain-lain).

2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas, dan sebagainya.

3. Perancangan produk konsumtif seperti pakaian, kursi, meja, komputer, dan lain-lain.

4. Perancangan lingkungan kerja fisik.

Pada dasarnya peralatan kerja yang dibuat dengan mengambil referensi dimensi tubuh tertentu jarang sekali bisa mengakomodasikan seluruh range ukuran tubuh dari populasi yang akan memakainya. Kemampuan penyesuaian (adjustability) suatu produk merupakan satu prasyarat yang sangat penting dalam proses perancangan, terutama untuk produk yang berorientasi ekspor.

Beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran tubuh manusia dan seorang perancang produk harus memperhatikan faktor tersebut, yaitu:

(53)

1. Umur

Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah besar dengan bertambahnya umur sejak awal kelahiran sampai dengan umur sekitar 20 tahunan.

2. Jenis kelamin (Sex)

Dimensi ukuran tubuh laki-laki umumnya akan lebih besar dibandingkan dengan ukuran tubuh wanita, kecuali untuk beberapa ukuran tubuh tertentu seperti pinggul, dan sebagainya.

3. Suku/bangsa (Ethnic)

Setiap suku, bangsa ataupun kelompok etnik akan memiliki karekteristik fisik yang akan berbeda satu dengan yang lainnya.

4. Posisi tubuh (Posture)

Posisi tubuh standar harus diterapkan untuk survei pengukuran karena berpengaruh terhadap ukuran tubuh. Pengukuran posisi tubuh dapat dilakukan dengan dua cara pengukuran yaitu:

a. Pengukuran dimensi struktur tubuh (Structural Body Dimension).

Posisi tubuh diukur dalam berbagai posisi standar dan tidak bergerak.

Istilah lain dari pengukuran tubuh dengan cara ini dikenal dengan “Static Anthropometry”. Ukuran diambil dengan persentil tertentu seperti 5-th, 50-th dan 95-th.

b. Pengukuran dimensi fungsional tubuh (Functional Body Dimensions).

Disini pengukuran dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat melakukan gerakan tertentu. Hal pokok yang ditekankan dalam pengukuran dimensi

(54)

fungsional tubuh ini adalah mendapatkan ukuran tubuh yang nantinya berkaitan erat dengan gerakan nyata yang diperlukan tubuh untuk melaksanakan kegiatan tertentu. Cara pengukuran semacam ini juga biasa disebut dengan “Dynamic Anthropometry”.

5. Cacat tubuh

Data antropometri diperlukan untuk perancangan produk bagi orang cacat seperti kursi roda, kaki/tangan palsu, dan lain-lain.

6. Tebal/tipisnya pakaian yang dipakai

Faktor iklim yang berbeda akan memberikan variansi yang berbeda pula dalam bentuk rancangan dan spesifikasi pakaian. Dengan demikian dimensi tubuh orangpun akan berbeda dari satu tempat dengan tempat yang lain.

7. Kehamilan (Pregnancy)

Kondisi ini jelas akan mempengaruhi bentuk dan ukuran tubuh (khusus bagi perempuan). Hal tersebut jelas membutuhkan perhatian khusus terhadap produk yang dirancang bagi segmentasi ini.

2.4.8 Postur Kerja

Pertimbangan ergonomi yang berkaitan dengan postur kerja dapat membantu mendapatkan postur kerja yang nyaman bagi pekerja, baik itu postur kerja berdiri, duduk maupun postur kerja lainnya. Pada beberapa jenis pekerjaan terdapat postur kerja yang tidak alami dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Hal ini akan mengakibatkan keluhan sakit pada bagian tubuh, cacat produk bahkan cacat tubuh.

Gambar

Gambar 1.1 Beberapa Aktivitas Operator Penyebab Keluhan MSDs
Gambar 2.1 Langkah-langkah dalam Telaah Metode Kerja
Gambar 2.3 Standard Nordic Questionnaire  Keterangan:   TS    :  Tidak Sakit  AS    :  Agak Sakit  S  :  Sakit  SS  :  Sangat Sakit  NO  JENIS KELUHAN  TINGKAT  KELUHAN TS AS S   SS 0 Sakit kaku di leher bagian atas
Gambar 3.2 Struktur Organisasi CV. Bukitraya Laendrys
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk peta tangan kiri dan tangan kanan pada kegiatan pengukuran plat coil (elemen B) pada operator 1 waktu penyelesaian sebelum dilakukan perbaikan sebesar 15 detik dan

Simulasi desain perbaikan dilakukan dengan menggunakan software blender dan setelah melalui simulasi posisi postur tubuh operator pada saat melakukan

Kegiatan menaikkan TBS ke truk menyebabkan tubuh operator pada bagian kanan memiliki skor 10 dengan kategori perlu tindakan secepatnya, sedangkan untuk tubuh bagian kiri memiliki

Keluhan dirasakan operator saat memasukkan bahan baku dacron ke dalam mesin pencacah dalam posisi tubuh berdiri dan operator mengumpulkan dacron yang berserakan

Analisis Risiko Muscoskeletal Disorders (MSDs) pada Operator Forklift di PT.LLI.. Ergonomi Konsep Dasar dan

Pada penelitian ini peneliti menggunakan tingkat kepercayaan 95% dan tingkat ketelitian 5% karena tujuan penelitian yaitu merancang fasilitas kerja yang ergonomis

Rak trolley ini selain sebagai alat untuk menampung dan memindahkan, dapat digunakan sebagai alat bantu pekerja di stasiun pencucian untuk melakukan aktivitas mengambil