• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN KEKUATAN TEKAN DAN LENTUR JENIS KAYU SEPANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERBANDINGAN KEKUATAN TEKAN DAN LENTUR JENIS KAYU SEPANG"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

i

PERBANDINGAN KEKUATAN TEKAN DAN LENTUR JENIS KAYU SEPANG (Caessalpinia sappan) DAN JENIS KAYU KANDOLE (Diploknema oligomera) SEBAGAI BAHAN BAKU

PASAK PADA KAPAL TRADISIONAL

SKRIPSI

MIFTHAKHUL KHAIR 105950060215

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2021

(2)

ii

PERBANDINGAN KEKUATAN TEKAN DAN LENTUR JENIS KAYU SEPANG (Caessalpinia sappan) DAN JENIS KAYU KANDOLE (Diploknema oligomera) SEBAGAI BAHAN BAKU

PASAK PADA KAPAL TRADISIONAL

MIFTHAKHUL KHAIR 105950060215

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian.

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2021

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan segala puji dan syukur kehadirat Allah subhanahu wata’ala atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan hasil penelitian dengan judul “Perbandingan Kekuatan Tekan dan Lentur Jenis Kayu Sepang (Caessalpinia sappan) dan Kayu Kandole (Diploknema oligomera) Sebagai Bahan Baku Pasak Pada Kapal Tradisional”.

Tak lupa pula kita kirimkan salam dan shalawat kepada junjungan kita baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau yang menjadi surih tauladan bagi kita semua. Penulis menyadari bahwasanya mungkin dalam penulisan hasil ini masih banyak perbaikan dan kekeliruan yang disebabkan keterbatasan penulis, sehingga penulis sangat mengharapkan masukan dan kritikan yang bersifat membangun demi kesempurnaan hasil penelitian ini. Pada kesempatan kali ini pula penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar – besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam terselesaikannya penelitian ini.

Makassar, April 2021

Mifthakhul Khair

(6)

vi

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN KOMISI PENGUJI ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan Penelitian ... 2

1.4. Kegunaan ... 3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Kayu ... 4

2.2. Sifat-sifat Kayu ... 4

2.3. Kelas Kuat Kayu ... 6

2.4. Bahan Baku Pada Kapal ... 12

2.5. Kayu Sepang ... 14

2.6. Kayu Kandole ... 16

2.7. Biro Klasifikasi Kayu ... 18

2.8. Kerangka Pikir ... 19

BAB III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat ... 20

(7)

vii

3.2. Alat dan Bahan ... 20

3.3. Jenis Data ... 20

3.4. Analisis Data ... 21

3.5. Prosedur Penelitian ... 21

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. MOE dan MOR ... 23

4.2. Keteguhan Tekan Sejajar Serat ... 24

4.3. Perbandingan Hasil Pengujian Antara Kayu Sepang, Kandole, Jati dan dan Bangkirai ... 26

BAB V . PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 29

5.2. Saran ... 29 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(8)

viii

DAFTAR TABEL

No. Teks Halaman

1. Kelas Kuat Kayu ... 7

2. Lentur Mutlak Dan Tekan Mutlak ... 10

3. Jenis kayu kelas awet dan kuat serta pemakaiannya pada kapal... 13

4. Kriteria kelas kuat kayu ... 18

5. Pasak Kapal Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) ... 21

6. Hasil Uji (Lentur, Dan Tekan) Pada Kayu Kandole dan Sepang ... 21

7. Hasil Uji MOE Dan MOR ... 21

8. Hasil MOR dan MOE Dari Perhitungan Pengujian Lentur Kayu Sepang dan Kandole ... 23

9. Hasil Pengujian Keteguhan Tekan Sejajar Serat... 25

10. Jenis kayu kelas awet dan kuat serta pemakaiannya pada kapal... 26

11. Perbandingan Hasil Pengujian MoR dan MoE Antara Kayu Sepang, Kandole, Jati dan Bangkirai ... 26

12. Kriteria Kelas Kuat ... 27

13. Rata-rata Hasil Uji MOE dan MOR Kayu Sepang dan Kandole Dengan Nilai MOE dan MOR Kayu Pembanding Jati dan Bangkirai ... 28

(9)

ix

DAFTAR GAMBAR

No. Teks Halaman

1.

Arah serat dan kekuatan kayu terhadap tekan dan tarik... 6

2.

Arah serat dan kekuatan kayu terhadap lentur dan geser ... 6

3.

Kerangka Fikir ... 19

4.

Bagian Tengah Kayu (Kayu Teras) Untuk Sampel ... 22

(10)

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kayu merupakan salah satu material bahan bangunan yang sering digunakan dalam konstruksi dan lain-lain. Setiap kayu memiliki sifat dan ciri tersendiri baik dalam segi keindahan serat, kadar air, keawetan, berat jenis, kerapatan, dan kekuatan. Sebagian material kayu, kegunaan utamanya yakni konstruksi, salah satu pilihan yang diperhitungkan, karena memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan bahan lain seperti baja.

Kayu merupakan hasil hutan dari kekayaan alam, merupakan bahan mentah yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai kemajuan teknologi, Kayu memiliki beberapa sifat sekaligus yang tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain. Sifat fisik kayu seperti lunak (softwood) dan keras (hardwood). Kayu lunak biasanya banyak digunakan untuk pembuatan kertas atau kerajinan yang sifatnya ringan, sedangkan kayu keras (hardwood) digunakan sebagai bahan baku bangunan, seperti tiang, dinding pasak kapal dan lain sebagainya.

Pasak merupakan bagian terpenting pada kapal khususnya kapal phinisi yaitu kapal kayu yang dibuat diKabupaten Bulukumba, jenis-jenis kayu yang dijadikan pasak kapal diantaranya kayu kandole (Diploknema oligomera), kayu besi (Eusideroxylon zwageri), kayu sepang (Caessalpinia sappan), kayu jati (Tectona grandhis), dll. Pemilihan kayu untuk pasak kapal dilihat pada daya gesek dan kelenturan dimana akan dilihat pada kelas keawetan sesuai Biro Klasifikasi Indonesia (BKI).

(11)

2 Kayu yang dijadikan sebagai bahan baku kapal phinisi terdiri atas kayu Besi, Bitti, Kandole, Jati dan Punaga. Bagian bagian kapal phinisi sebagian besar terbuat dari kayu. Pasak merupakan salah satu bagian dari kapal phinisi yang terbuat dari kayu. Jenis kayu yang dijadikan sebagai sebagai bahan baku pasak saat ini adalah kayu Kandole. Kayu kandole dijadikan sebagai bahan baku pasak sejak 15 tahun yang lalu. Sebelum menggunakan kayu kandole sebagai pasak sebelumnya digunakan kayu sepang (Caessalpinia sappan), akan tetapi kayu sepang semakin kurang dan diameternya yang kecil (lebih kecil dari 12 cm), sehingga pengrajin kapal phinisi mengganti dengan kayu kandole (Diploknema oligomera), karena kayu kandole lebih muda didapatkan dan diameternya lebih besar dari kayu sepang.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas penulis tertarik untuk meneliti Perbandingan Kekuatan Tekan dan Lentur Jenis Kayu Sepang (Caessalpinia sappan) dan Kayu Kandole (Diploknema oligomera) Sebagai Bahan Baku Pasak Pada Kapal Tradisional.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kekuatan tekan dan lentur kayu sepang dan kayu kandole sebagai bahan baku.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui kekuatan tekan dan lentur jenis kayu sepang (Caessalpinia sappan) dan jenis kayu kandole (Diploknema oligomera) sebagai bahan baku pasak.

(12)

3 1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini untuk masyarakat kehutanan khususnya peneliti sendiri dapat lebih mengetahui terkait masalah kualitas atau keawetan kayu yang digunakan untuk bangunan kapal, tidak kesulitan dalam memilih jenis kayu bagi pembuat kapal itu sendiri, tidak memfokuskan pembuatan kapal hanya satu atau dua jenis kayu saja.

(13)

4 II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kayu

Kayu merupakan salah satu material bahan bangunan yang sering digunakan dalam konstruksi dan lain-lain. Setiap kayu memiliki sifat dan ciri tersendiri baik dalam segi keindahan serat, kadar air, keawetan, berat jenis, kerapatan, dan kekuatan. Sebagai material kayu, kegunaan utamanya yakni konstruksi, salah satu pilihan yang diperhitungkan, karena memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan bahan lain seperti baja atau beton.

Namun usaha pendayagunaan potensi kayu dirasakan masih kurang, dan dalam prakteknya material kayu yang akan digunakan harus disambung agar konstruksi yang direncanakan dapat diwujudkan.

Konstruksi kayu di Indonesia, dalam pengunaan membutuhkan paku dan baut masih mendominasi pemakaian alat penyambung karena mudah untuk didapatkan dan praktis pemakaiannya. Salah satu masalah yang ditimbulkan penggunaan kedua alat penyambung tersebut adalah membesarnya ukuran kayu yang akan disambung. Secara umum paku dan baut mempunyai efesiensi yang lebih rendah dibandingkan dengan pasak atau perekat. Oleh karena itu jika dipandang dari efesiensi alat penyambung maka penggunaan paku dan baut kurang menguntungkan.

(14)

5 2.2. Sifat-Sifat Kayu

2.2.1. Sifat Fisik Kayu

Sifat fisika kayu merupakan satu bagian daripada sfiat-sifat kayu, yaitu sifat-sifat fisika, sifat mekanika dan sifat kimia kayu. Sifat fisika kayu adalah spesifik karena peranan faktor dalam dari pada struktur kayu sangat menentukan, di samping peran lingkunan dimana kayu tersebut berada. Yang termasuk siat fisika kayu ini antara lain adalah: kadar air kayu, penyusutan atau perubahan dimensi kayu, berat jenis kayu, sifat elektrisnya, sifat-sifat resonasi dan akustiknya, daya apung dan layang, sifat energi dan sebagainya.

2.2.2. Sifat Mekanika Kayu

Sifat mekanika kayu atau mekanika kayu, sering disebut juga dengan kekuatan kayu yaitu sifat-sifat kayu yang dihubungkan dengan kemampuan kayu dalam menahan suatu beban atau muatan yang diberikan kepada kayu tersebut. Dalam berbagai penggunaan kayu, kekuatan kayu sangat penting untuk diketahui, terutama jenis-jenis kayu yang diperdagangkan dan kegunaannya untuk konstruksi/bangunan.

2.2.3. Sifat Kimia Kayu

Sifat kimia kayu adalah sifat-sifat kayu yang berkaitan dengan kandungan zat kimia dalam kayu. Kimia kayu atau komponen kimia penyusun kayu, dibutuhkan keberadaannya dalam industri kimia yang mengolah kayu. Sebagai contoh yang nyata adalah industri rayon, seluloid, pulp & kertas dan sebagainya. Industri- industri ini memanfaatkan komponen kimia yang ada untuk menghasilkan suatu produk tertentu.

Komponen kimia kayu dapat dibedakan atas dua kelompok yaitu:

(15)

6 a. Komponen penyusun dinding sel, seperti: karbohidrat dan lignin

b. Komponen pengisi rongga sel: zat ekstraktif.

2.3. Kelas Kuat Kayu

Sebagaimana di kemukakan pada sifat umum kayu, kayu akan lebih kuat jika menerima beban sejajar dengan arah serat dari pada menerima beban tegak lurus serat. Ini karena struktur serat kayu yang berlubang. Semakin rapat serat, kayu umumnya memiliki kekuatan yang lebih dari kayu dengan serat tidak rapat. Kerapatan ini umumnya ditandai dengan berat kayu persatuan volume / berat jenis kayu. Ilustrasi arah kekuatan kayu dapat ditunjukkan pada Gambar 1

Gambar 1. Arah serat dan kekuatan kayu terhadap tekan dan tarik Sumber: Forest Products Laboratory USDA, 1999

Gambar 2. Arah serat dan kekuatan kayu terhadap lentur dan geser Sumber: Forest Products Laboratory USDA, 1999

(16)

7 Angka kekuatan kayu dinyatakan dapan besaran tegangan, gaya yang dapat diterima per satuan luas. Terhadap arah serat, terdapat kekuatan kayu sejajar (//) serat dan kekuatan kayu tegak lurus (⊥) serat yang masing- masing memilki besaran yang berbeda. Terdapat pula dua macam besaran tegangan kayu, tegangan absolute / uji lab dan tegangan ijin untuk perancangan konstruksi. Tegangan ijin tersebut telah memperhitungkan angka keamanan sebesar 5-10. Dalam buku Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI-NI-5) tahun 1961, kayu di Indonesia diklasifikasikan ke dalam klas kuat I (yang paling kuat), II, III, IV (paling lemah). Tabel 1.

menunjukkan kelas berat jenis kayu dan besaran kuat kayu.

Tabel 1. Kelas Kuat Kayu

Sumber:PKKI,1979 2.3.1 Keteguhan Tekan

Kekuatan tekan atau keteguhan tekan (Compression stregth) suatu jenis kayu adalah kekuatan kayu untuk menahan muatan jika kayu itu dipergunakan untuk tujuan tertentu. Dalam hal ini dibadakan dua macam tekan, yaitu tekan tegak lurus arah serat dan tekan sejajar arah serat.Keteguhan tekan tegak lurus serat menentukan ketahanan kayu terhadap beban.Keteguhan ini mempunyai hubungan juga dengan kekerasan kayu dan keteguhan geser.Keteguhan tekan

(17)

8 tegak lurus arah serat pada semua kayu lebih kecil dibandingkan keteguhan sejajar arah serat.

Menurut Tsoumis (1991) sifat mekanis kayu adalah ketahanan terhadap gaya yang berasal dari luar yang cenderung merubah bentuknya. Selanjutnya menurut Haygreen dan Bowyer (1996) sifat mekanis kayu adalah sifat yang berhubungan dengan kemampuan kayu untuk menahan beban atau gaya luar yang bekerja padanya. Kekuatan dan ketahanan terhadap perubahan bentuk suatu bahan disebut sebagai kekuatan mekanisnya. Kekuatan adalah kemampuan suatu bahan untuk memikul bahan atau gaya yang mengenainya.

Ketahanan terhadap perubahan bentuk menentukan banyaknya bahan yang dimanfaatkan, terpuntir, atau terlengkungkan oleh beban yang mengenainya.

Perubahan-perubahan bentuk yang terjadi segera sesudah beban dikenakan dan dapat dipulihkan jika beban dihilangkan disebut perubahan bentuk elastis.

Sifat-sifat mekanis biasanya menjadi parameter penting pada produk-produk kayu yang digunakan untuk bahan bangunan gedung (Haygreen dan Bowyer, 1996).

Menurut Bodig dan Jayne (1982) ada dua macam tegangan yang terjadi selama pembebanan berlangsung sehingga patah, yaitu tegangan pada batas proporsi/keteguhan lentur (Modulus of Elasticity) MOE dan tegangan pada batas maksimum/keteguhan patah (Modulus of Rupture) MOR, Tsoumis (1991) mengatakan bahwa pada beberapa material, termasuk kayu, hubungan antara tegangan dan regangan di bawah batas proporsional adalah linear.

Penambahan tegangan di atas batas proporsional menyebabkan perubahan

(18)

9 bentuk (deformasi) pada material. Hubungan antara tegangan dan regangan didefinisikan sebagai Modulus of Elasticity (modulus young) disingkat MOE.

Bila pemberian beban telah melewati batas proporsi, maka setelah beban dilepaskan, balok kayu akan mengalami perubahan bentuk yang tetap. Jika pembebanan diteruskan, maka balok kayu akan mengalami kerusakan dan lama kelamaan akan patah. Keadaan ini menyatakan ukuran 4 balok kayu dan merupakan sifat kritis kayu yang biasa disebut Modulusof Rupture (MOR).

Kerapatan dan Berat Jenis Kayu Kerapatan digunakan untuk menerangkan massa suatu bahan persatuan volume. Sedangkan berat jenis didefinisikan sebagai perbandingan antara kerapatan (atas dasar berat kering tanur) dengan kerapatan benda standar, air pada suhu 40 C kerapatan 1 g/cm3 atau 1000 kg/m3 (Haygreen dan Bowyer, 1996). Dalam satu spesies berat jenis kayu bervariasi baik antar pohon maupun di dalam satu pohon. Dalam satu pohon berat jenis kayu bervariasi, pada sumbu longitudinal umumnya berat jenis berkurang dari arah pangkal ke tengah batang lalu bertambah besar lagi ke arah pucuk (Tsoumis, 1991).

Menurut USDA (1999) berat jenis merupakan indikator utama dari sekian banyak zat (bahan) dalam sepotong kayu. Berat jenis juga merupakan indikator yang baik dari sifat mekanis dalam kayu tanpa cacat, miring serat, dan tanpa kerusakan. Menurut Haygreen dan Bowyer (1996). semakin tinggi berat jenis kayu maka semakin banyak zat kayu pada dinding sel yang berarti semakin tebal dinding sel tersebut. Karena kekuatan kayu terletak pada dinding sel, maka semakin tebal dinding sel semakin kuat kayu tersebut. Kelas kuat

(19)

10 kayu di Indonesia dibagi ke dalam lima kelas yang ditetapkan menurut berat jenisnya ( Den Berger 1923 dalam Martawijaya 1981).

Tabel 2. Lentur Mutlak Dan Tekan Mutlak Kelas

Kuat Berat Jenis

Tegangan Lentur Mutlak

Kg/m2

Tegangan Tekan Mutlak

Kg/m2 I

II III IV V

> 0,90 0,60 - 0,90 0,40 - 0,60 0,30 - 0,40

< 0,30

> 1100 725 - 1100

500 -725 360 - 500

< 360

> 650 425 – 650 300 – 425 215 – 300

< 215

2.3.2. Keteguhan Lentur

Kelenturan kayu adalah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang berusaha melengkungkan kayu atau untuk menahan beban-beban mati maupun hidup selain beban pukulan yang harus dipikul oleh kayu tersebut. Dalam pembahasan laporan ini mencakup mengenai elastisitas kayu, batas ketahanan kayu dan hubungan beban dengan defleksi. Hasil akhirnya akan didapatkan nilai MOR (Modulus of Rupture) dan MOE (Modulus of Elastic) dari data pengamatan yang dilakukan.

Kayu juga tahan terhadap gaya yang berusaha melengkungkan kayu dengan satu kali tekanan secara terus menerus atau berkali-kali (secara mendadak, seperti pukulan). Modulus elastisitas merupakan ukuran kemampuan kayu menahan perubahan bentuk atau lentur yang terjadi sampai batas proporsi. Semakin besar beban yang diberikan semakin besar tegangan yang yang timbul dan perubahan bentuk yang terjadi sampai batas proporsi.

Hubungan regangan dan tegangan membentuk garis lurus. Batas bidang

(20)

11 proporsi itu adalah bila beban yang bekerja dilepaskan benda akan kembali ke bentuk semula .

Sifat mekanika kayu terdiri dari kekuatan tarik, kekuatan tekan/kompressi, kekuatan geser, kekuatan lengkung (lentur), kekakuan, keuletan, kekerasan, dan kekuatan belah. Dalam laporan ini, percobaan yang dilakukan khusus mengenai kekuatan lengkung (lentur).

Kekuatan lengkung/lentur adalah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang berusaha melengkungkan kayu atau untuk menahan beban mati maupun hidup selain beban pukulan. Terdapat 2 (dua) macam kekuatan yaitu :

a. Kekuatan lengkung statik, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara perlahan-lahan.

b. Kekuatan lengkung pukul, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara mendadak, misalnya pukulan.

Dengan mengetahui sifat-sifat mekanik kayu, kita dapat memastikan fungsi spesifik dari suatu bahan dan kita bisa mengetahui bahan tersebut cocok digunakan untuk bidang tertentu. Karena setiap bahan memiliki sifat-sifat mekanik dan fisik yang berbeda maka pengetahuan tentang sifat-sifat ini adalah hal yang mutlak untuk diketahui.

MOE dapat dihitung berdasarkan uji kekuatan lengkung. Untuk mengerjakan gelagar diberi beban sedang dan defleksinya diukur. Dari data ini MOE dapat dihitung dengan menggunakan hubungan antara MOE, ukuran gelagar, bentangan, beban dan defleksinya. Cara ini umum untuk menentukan MOE kayu utuh, partikel dan produk-produk serat. Ini merupakan pengujian

(21)

12 yang lebih sederhana yang dapat dilakukan dan lebih dekat hubungannya dengan kebanyakan situasi dari MOE yang ditentukan dari uji tarik dan tekan.

MOE dapat dihitung sebagai berikut:

MOE = 3 PL /48 ID Dimana :

P = beban (pon) L = bentangan (in)

I = momen inersia (in4) D = defleksi ditengah bentang (in)

Kekuatan lengkung kayu utuh dan produk-produk asal kayu biasanya dinyatakan dalam istilah modulus patah (MOR). I dihitung dari beban maksimum (beban patah) dalam uji kekuatan lengkung, dengan menggunakan cara pengujian yang sama seperti untuk menentukan MOE. Perhitungan MOR penampang persegi sebagai berikut :

MOR = 1.5 PL/db2 psi Dimana

P = beban maksimum atau beban patah (pon) L = bentangan penyangga (in) b = lebar gelagar (in) d = tebal gelagar (in)

2.4. Bahan Baku Pada Kapal

Kayu balau merupakan jenis kayu yang dianjurkan oleh pihak BKI. Kayu ini termasuk dalam kelas awet I-II yang dapat bertahan delapan tahun walaupun selalu berinteraksi dengan air. Kayu ini pun tahan terhadap serangan oleh rayap. Kayu ini termasuk dalam kelas kuat III yang memiliki berat jenis kering udara kurang dari 0,9 serta kukuh lentur dan tekanan mutlaknya yang

(22)

13 tinggi dibandingkan jenis kayu lain. Untuk kelas kuat, kelas awet dan penggunaannya bisa di lihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Jenis kayu kelas awet dan kuat serta pemakaiannya pada kapal Nama

dagang Nama latin Kelas

Pemakaian

Awet Kuat

Kompas Compassia

Malacencis III-IV I-II Lunas

Malas Parastenon sp II-III I

Lunas luas Dasar Mesin Linggi Haluan

Linggi dalam Casco Tiang as

Balau Shorea sp I-II I-II

Tiang utama Dasar mesin Balok geladak Gading-gading

Dinding Lambung Papan geladak

Linggi

Meranti Shorea platiclad os II-III II-IV

Dek kapal Dinding angin

Transom Papan tenda Sumber : BKI (1996) untuk standar kelas awet dan kuat.

Pada Tabel 3 diatas dapat dilihat bahwa ada empat kayu yang sering digunakan pada pembuatan kapal dengan kelas kuat dan awet yang bervariasi.

Penggunaan kayu tersebut umumnya digunakan sebagai Tiang utama, Dasar mesin, Balok geladak, Gading-gading, Dinding, Lambung, Papan geladak dan Linggi. Diantara beberapa jenis kayu tersebut yang paling banyak digunakan pada kapal yaitu kayu Balau.

(23)

14 2.5. Kayu Sepang (Caesalpinia sappan L)

Sumatra : seupeung (Aceh), sepang (Gayo), sopang (Batak), cacang (Minangkabau). Jawa : secang (Sunda), kayu secang, soga jawa (Jawa), kaju secang (Madura). Nusa tenggara : cang (Bali), sepang (Sasak), supa, supang (Bima), sepel (Timor), hape (Sawu), hong (Alor), sepe (Roti). Sulawesi : Kayu sema (Manado), dolo (Bare), sapang (Makassar), sepang (Bugis). Maluku : sefen (Halmahera selatan), sawala, hinianga, sinyiaga, singiang (Halmahera Utara), sunyiha (Temate), roro (Tidore), Sapan (Pilipina), Su mu (Cina).

a. Morfologi tumbuhan

Semak atau pohon kecil, tinggi sampai 10 m. Ranting-Rnting berlantisel dan berduri, bentuk duri bengkok, tersebar. Daun majemuk, panjang 25 cm sampai 40 cm, bersirip, panjang sirip 9 cm sampai 15 cm, setiap sirip mempunyai 10 sampai 20 pasang anak daun yang berhadapan. Anak daun tidak bertangkai, bentuk lonjong, pangkal hampir rompang, ujung bundar serta sisinya agak sejajar, panjang anak daun 10 mm sampai 25 mm, lebar 3 mm sampai 11 mm.perbungaan berupa malai, terdapat di ujung, panjang malai 10 cm sampai 40 cm, panjang gagang bunga 15 cm sampai 20 cm, pinggir kelopak berambut, panjang daun kelopak yang terbawah lebih kurang 7 mm, lebar lebih kurang 4 mm, tajuk memencar berwarna kuning, helaian bendera memundar bergaris tengah 4 mm sampai 6 mm, empat helai daun tajuk lainnya juga membundar dan bergaris tengah lebih kurang 10 mm, panjang benagsari lebih kurang 15 mm,panjang putik lebih kurang 18 mm. Polong berwarna hitam, panjang 8 cm sampai 10 cm, lebar 3 cm sampai 4 cm, berisi 3 sampai 4 biji,

(24)

15 panjang biji 15 mm sampai 18 mm, lebar 8 mm sampai 11 mm, tebal 5 mm sampai 7 mm.

b. Sifat dan khasiat

Kayu secang mempunyai berbagai macam khasiat antara lain: sebagai pewarna pada bahan anyaman, kue, minuman atau sebagai tinta. Karena Kayu secang apabila direbus akan memberikan warna merah gading muda. Selain khasiat tersebut di atas, kayu secang juga berkhasiat untuk obat berbagai macam penyakit. Beberapa penyakit yang dapat diobati adalah : Diare, disentri, TBC, luka dalam, sifilis, darah kotor, berak darah, memar berdarah, malaria, tetanus, tumor, radang selaput lender mata.

c. Kandungan kimia

Kayu secang mengandung: Asam galat, tanin, resin, resorsin, brasilin, brasilein, d-alfa-phellandrene, oscimene, minyak atsiri. Daun: 0,16%-0,20%

minyak atsiri yang berbau enak dan hampir tidak berwarna.

d. Klasifikasi

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Class : Dicotyledone

Ordo : Rosales

Famili : Caesalpiniaceae Genus : Caesalpinia

Spesies : Caesalpinia sappan L

(25)

16 2.6. Kayu Kandole (Diploknema Oligomera)

Sulawesi : kandole (KENDARI), kandole (BULUKUMBA), Nangroe Aceh Darussalam :Kandole,

a. Morfologi Tumbuhan

Buah kandole koleksi Kebun Raya Bogor berbentuk bulat telur, rata-rata berukuran sekitar 10 x 8 cm; panjang tangkai sekitar 1 cm; kulit buah tipis sekitar 1 mm, mudah dikupas; daging buah tebal sekitar 2 cm dan empuk, berwarna putih susu, rasa buahnya mirip dengan buah alpukat. Biji berbentuk lonjong, terdapat di dalam buah, 1–2 biji pada setiap buahnya, panjang rata-rata sekitar 7 cm, dengan diameter rata-rata 3,5 cm. Buah yang berisi 2 biji, kondisi bijinya berdempet dan Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil PPM IPB 2016 148 saling merekat, berbentuk cembung dengan tebal sekitar 2,5 cm, dan panjangnya mencapai 7,5 cm.

b. Sifat dan Khasiat

Kayu Kandole mempunyai berbagai macam khasiat antara lain:

Berdasarkan hasil pengamatan, kandole berpotensi sebagai tanaman buah lokal.

Kandole juga memi- liki postur yang tegap, kokoh, batangnya lurus, bertajuk seperti kubah, daunnya rimbun, dan jarang rontok. Kondisi seperti ini, kandole berpotensi sebagai tanaman peneduh yang baik.

c. Secara Ekonomi

Kayu Kandole diketahui sebagai tanaman kayu komersial. Muslich dan Rulliaty (2011) menyatakan bahwa kayu kandole tergolong kelas awet I sekelas dengan resak (Cotylelobium flavum Pierre.), ulin (Eusideroxylon zwageri T.et

(26)

17 B.), keruing a (Dipterocarpus glabrigemmatus P.S.Aston), keruing b (Dipterocarpus stellatus Vesque), kayu besi (Metrosideros petiolata Kds.), dan pelawan merah (Tristania maingayi Duthie). Hasil klasifikasi keawetan beberapa jenis kayu Sulawesi menunjukkan bahwa kandole termasuk kelas awet I sama dengan ulin (Muslich & Sumarni, 2008). Kandole termasuk ke dalam dua ratus jenis tumbuhan langka yang ada di Indonesia. Tumbuhan langka akan menjadi punah apabila tidak dilakukan upaya pelestariannya. Jika punah maka hilang pula kesempatan untuk menggali potensi- nya (Mogea et al. 2001). Untuk itu kandole harus dilestarikan jangan sampai punah. Upaya pelestarian kandole secara ex-situ dilakukan melalui eksplorasi, penanaman, dan perbanyakan.

Eksplorasi merupakan kegiatan pengoleksian mate- rial tumbuhan hidup dari habitat alaminya untuk dikonservasi secara ex-situ di Kebun Raya. Tumbuhan hasil eksplorasi menjadi tanaman koleksi yang memer- lukan pengelolaan sehingga tumbuh menjadi tanaman dewasa yang beregenerasi dan dapat dimanfaatkan (Puspitaningtyas et al. 2011). Perbanyakan akan meng- hasilkan bibit yang berguna untuk kesejahteraan manusia. Konservasi ex-situ kandole bertujuan untuk menyelamatkan tumbuhan tersebut dari kepunahan.

d. Klasifikasi

Kingdom : Plantae Divisio : Angiosperms Sub divisi : Eudicots

Class : Asterids

Ordo : Ericales

(27)

18 Famili : Sapotaceae

Genus : Diploknema

Spesies : Diploknema oligomera H.J.Lam 2.7. Biro Klasifikasi Indonesia (BKI)

Tabel 4. Kriteria kelas kuat kayu

Kelas Kuat Kukuh Lentur Mutlak (Kg/cm2 ) I

II III IV V

≥ 1100 1100 – 725

725 – 500 500 – 360

≤ 360

Sumber: Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (1996)

Dengan memperhatikan pokok permasalahan yang terdapat pada latar belakang maka diambil beberapa rumusan masalah pada Tugas Akhir ini diantaranya bagaimana analisa kekuatan bentuk sambungan kayu pada kapal yang akan diteliti, serta pengaruh ukuran baut pengikat terhadap MOE (Modulus of Elasticity) dan MoR (Modulus of Repture). Dengan memperhatikan latar belakang dan permasalahan pada penelitian ini maka tujuan dari penelitian ini diantaranya mengetahui nilai kuat lentur dari 3 sambungan dengan variasi diameter baut untuk mengetahui MOE dan MOR, menentukan sambungan yang mimiliki MOR tertinggi diantara sambungan yang digunakan. Dan membandingkan nilai kuat kayu Balau kuning dengan peraturan kapal kayu BKI tahun 1996.

2.8. Kerangka Pikir

Dalam kontruksi pembuatan kapal tradisional yang menjadi bahan baku

(28)

19 utamanya ialah kayu, dan salah satu bagian yang sangat penting pada kontruksi pembuatan kapal kayu yaitu bagian pasak. Jenis kayu yang digunakan yaitu kayu sepang dan kandole, kemudian kedua jenis kayu tersebut akan dilakukan pengujian kekuatan tekan dan kekuatan lentur, kemudian hasil pengujian akan di bandingkan dengan Biro Klasifikasi Indonesi (BKI) untuk mendapatkan atau memenuhi syarat sebagai bahan baku pasak kapal.

Gambar 3.

Kerangka Fikir

III. METODE PENELITIAN

(29)

20 3.1 Waktu Dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2019 sampai dengan bulan Januari 2020 yang bertempat di Laboratorium Pemanfaatan Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin dan adapun pengambilan sampel kayu sepang (Caessalpinia sappan) ( di Kabupaten Soppeng) dan jenis kayu kandole (Diploknema oligomera) (di Kabupaten Bulukumba)

3.2 Alat Dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Universal Testing Machine (UTM) dan bahan yang digunakan sebagai sampel yaitu jenis kayu sepang (Caessalpinia sappan) 4 batang dengan ukuran masing-masing 2 x 2 x 30 cm 2 batang dan 2 x 2 x 8 cm 2 batang dan kayu kandole (Diploknema oligomera) 4 batang masing-masing 2 batang ukuran 2 x 2 x 30 cm dan 2 batang ukuran 2 x 2 x 8 cm (Lebar, Tebal, Dan Panjang).

3.3 Jenis Data a. Data Primer

Data Primer merupakan data yang diambil dari observasi langsung.

Jenis data primer yang digunakan berupa data kuantitatif dimana keteguhan tekan dan kelenturan menjadi tujuan untuk penggunaan pasak kapal.

b. Data Sekunder

Data Sekunder merupakan data yang diambil dari referensi jurnal atau data dari pihak instansi tempat penelitian dilaksanakan.

3.4 Analisis Data

(30)

21 Penentuan jenis kayu khususnya untuk pembuatan pasak kapal dilakukan dengan tabulasi hasil referensi yang telah dikumpulkan misalnya dari jurnal Kayu Indonesia (KI) . Untuk menentukan pasak kayu terlebih dengan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) haruslah dilakukan dengan teliti dengan perhitungan yang sangat detail.

Tabel 5. Pasak Kapal Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) No Jenis Kayu Kelas Kuat Keteguhan

Tekan Keterangan

1 Kandole

2 Sepang

Tabel 6. Hasil Uji (Lentur, Dan Tekan) Pada Kayu Kandole dan Sepang

No Jenis Kayu Lentur Tekan

1 Kandole

2 Sepang

Tabel 7. Hasil Uji MOE Dan MOR

No Jenis Kayu Hasil Uji BKI

MOE MOR MOE MOR

1 Kandole

2 Sepang

3.5 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian disusun berdasarkan penelitian yang akan dilakukan untuk kemudahan dalam pelaksanaan penelitian berikut ini :

a. Mengambil sampel berupa kayu untuk jenis kayu sepang (Caessalpinia sappan) dan kayu kandole (Diploknema oligomera) berukuran 2 x 2 x 30 cm dan 2 x 2 x 8 cm masing-masing dua batang. Pemilihan sampel kayu harus bebas dari cacat kayu seperti mata kayu, lubang gerek, dll.

(31)

22 b. Sampel kayu kemudian dimasukkan kedalam laboratorium dan akan diuji dengan alat Universal Testing Machine (UTM) untuk diuji keteguhan tekan, kelenturan, dan daya gesek.

c. Setelah mendapatkan hasil uji laboratorium kemudian nilainya dihitung dalam Microsoft excel untuk mendapatkan MOE dan MOR.

d. Dari Hasil nilai MOE dan MOR kayu kandole dan kayu sepang akan diketahui perbandingannya dan dicocokkan dengan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI)

Gambar 4. Bagian Tengah Kayu

(Kayu Teras) Untuk Sampel

(32)

23 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 MOE dan MOR

Dari hasil penelitian yang dilakukan di laboratorium dengan uji lentur jenis kayu Sepang (Caesalpinia sappan L) dan Kandole (Diploknema Oligomera) didapatkan hasil pengujian MoR dan MoE pada Tabel 8 sebagai berikut :

Tabel 8. Hasil MOR dan MOE Dari Perhitungan Pengujian Lentur Kayu Sepang dan Kandole.

Kode Sampel

P (Beban) Maksimal

(kg)

MOR (kg/cm2)

MOE (kg/cm2) Sepang 1 (S1)

Sepang 2 (S2) Kandole 1 (K1) Kandole 2 (K2)

368 311 239 246

1946 1525 1421 1465

152.634 112.309 110.453 115.767 Sumber: Data Primer Setelah Diolah 2020

Berdasarkan Tabel 8 pada hasil pengujian kelenturan didapatkan nilai MOR dan MOE pada kayu sepang 1 (S1) nilai MoR 1946 kg/cm2 dan MOE 152634 kg/cm2 pada beban maksimal 368 kg ;Sepang 2 (S2) nilai MOR 1525 kg/cm2 dan MOE 112.309 kg/cm2 pada beban maksimal 311 kg; Kandole 1 (K1) nilai MOR 1421 kg/cm2 dan MOE 110.453 kg/cm2 pada beban maksimal 239 kg;Kandole 2 (K2) ) nilai MOR 1465 kg/cm2 dan MOE 115.767 kg/cm2 pada beban maksimal 246 kg. Pada hasil pengujian kelenturan menunjukkan bahwa pada saat beban kayu mencapai beban maksimal (P) maka sampel uji rusak atau sudah sampai beban maksimum.

(33)

24 Menurut data di atas pada Tabel 8, dapat diketahui bahwa kayu sepang dan kandole yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini dengan nilai MoR kayu sepang 1 (S1) 1946 kg/cm2, Sepang 2 (S2) nilai MOR 1525 kg/cm2, Kandole 1 (K1) nilai MOR 1421 kg/cm2 dan Kandole 2 (K2) ) nilai MOR 1465 kg/cm2 . Berdasarkan kelas kuat kayu di Indonesia yang disajikan pada Tabel 2, untuk kayu sepang dan kandole tergolong kayu kelas I. Dari data di atas pada Tabel 3 maka dapat diketahui bahwa kayu sepang dan kandole yang digunakan sebagai sampel penelitian dengan nilai MOE sebesar kayu sepang 1 (S1) 152.634 kg/cm2 ,Sepang 2 (S2) MOE 112.309 kg/cm2 , Kandole 1 (K1) nilai MOE 110.453 kg/cm2 dan Kandole 2 (K2) ) MOE 115.767 kg/cm2. Berdasarkan nilai MOE (Modulus of Elasticity) PKKI 1961 (Peraturan Kontruksi Kayu Indonesia) membagi kekuatan

kayu Indonesia dalam empat kelas kuat, kayu sepang dan kandole termasuk tergolong kelas kayu II.

4.2 Keteguhan Tekan Sejajar Serat

Dari hasil penelitian yang dilakukan di laboratorium dengan uji keteguhan tekan sejajar serat jenis kayu Sepang (Caesalpinia sappan L) dan Kandole (Diploknema Oligomera) didapatkan hasil pengujian pada Tabel 9 sebagai berikut

(34)

25 Tabel 9. Hasil Pengujian Keteguhan Tekan Sejajar Serat

Kode Sampel

Beban (P)

Maksimal Keteguhan Tekan Sejajar Serat (kg/cm2)

(kg) S1 (Sepang 1)

S2 (Sepang 2) K1 (Kandole 1)

K2 (kandole 2)

2800 2636 2248 1842

750.22 693.98 647.61 487.78 Sumber: Data Primer Setelah Diolah 2020

Hasil pengujian keteguhan tekan sejajar serat pada kayu sepang dan kandole yang disajikan pada Tabel 9 dengan beban maksimal tekanan yaitu S1 2800 kg, S2 2636 kg, K1 2248 kg dan K2 1842 kg. Beban maksimal tertinggi yaitu pada kayu sepang (S1) dan beban maksimal terendah yaitu kayu kandole (K2). Untuk pengujian tekan sejajar serat pada kayu sepang dan kandole menunjukkan bahwa pada saat beban kayu mencapai beban maksimal sampel uji rusak atau sudah mencapai beban maksimum sehingga diperoleh nilai keteguhan tekan sejajar serat pada kayu sepang 1 (S1) sebesar 750.22 kg/cm2 , sepang 2 (S2) sebesar 693.98 kg/cm2, Kandole 1 (K1) sebesar 647.61 kg/cm2 dan Kandole 2 (K2) sebesar 487.78 kg/cm2 . Menurut kelas kuat kayu di Indonesia yang disajikan pada Tabel 1, nilai keteguhan tekan sejajar serat untuk kayu sepang tergolong kayu kelas I dan kayu kandole tergolong kayu kelas II.

(35)

26 Tabel 10. Jenis kayu kelas awet dan kuat serta pemakaiannya pada kapal

Nama dagang

Nama latin Kelas Pemakaian

Awet Kuat Sepang

Kandole

Caessalpinia sappan Diploknema oligomera

I

I

II

Pasak

Pasak

Pada Tabel 10 tersebut dapat dilihat bahwa penggunaan kayu Sepang (Caessalpinia sappan) dan kayu Kandole (Diploknema oligomera) sebagai bahan baku pembuatan pasak kapal memiliki kelas awet I untuk kayu Sepang dan Kandole serta untuk kelas kuat untuk kayu Sepang termasuk kelas I dan untuk kayu Kandole termasuk kelas kuat II.

4.3 Perbandingan Hasil Pengujian Antara Kayu Sepang, Kandole, Jati dan Bangkirai

Tabel 11. Perbandingan Hasil Pengujian MoR dan MoE Antara Kayu Sepang, Kandole, Jati dan Bangkirai

Kode Sampel P (Beban) Maksimal (kg) MOR (kg/cm2)

MOE (kg/cm2) Sepang 1 (S1)

Sepang 2 (S2) Kandole 1 (K1) Kandole 2 (K2)

Jati Bangkirai

368 311 239 246 1.573 1.668

1.946 1.525 1.421 1.465 1.273 1.400

152.634 112.309 110.453 115.767 109.818 124.146

Perbandingan hasil pengujian MoR dan MoE antara kayu sepang, kandole, jati dan bangkirai yang disajikan pada Tabel 11 dapat dilihat bahwa kayu jati dan kayu bangkirai memiliki beban maksimal sangat tinggi bila dibandingkan dengan

(36)

27 kayu sepang dan kandole. Berdasarkan hasil studi analisis kuat lentur terhadap variasi jenis kayu Jati dan Bangkirai (Sidik pamungkas, 2016), sehingga dapat dibandingkan bahwa nilai MoR pada Tabel 10 diatas, untuk kayu Sepang dan Kandole lebih tinggi dari kayu Jati dan Bangkirai yaitu dengan MOR; Sepang 1 (S1) 1.946 kg/cm2 , Sepang 2 (S2) 1.525 kg/cm2, Kandole 1 (K1) 1.421 kg/cm2, Kandole 2 (K2) 1.465 kg/cm2, Jati 1.273 kg/cm2 dan Bangkirai 1.400 kg/cm2. Untuk Nilai MOE dari dari kayu Sepang dan Kandole lebih tinggi dari kayu Jati, sedangkan nilai MOE dari kayu Bangkirai Lebih tinggi dari kayu Kandole, yaitu dengan MOE; Sepang 1 (S1) 152.634 kg/cm2 , Sepang 2 (S2) 112.309 kg/cm2, Kandole 1 (K1) 110.453 kg/cm2, Kandole 2 (K2) 115.767 kg/cm2, Jati 109.818 kg/cm2 dan Bangkirai 124.146 kg/cm2. Hasil perbandingan antara kayu Sepang dan Kandole dengan Kayu Jati dan Bangkirai dimana Berdasarkan PKKI NI 5-1961 kayu Bangkirai merupakan kayu kelas 1 dan kayu Jati kelas 2, dapat dilihat bahwa nilai MOR dan MOE Sepang dan Kandole cukup tinggi, namun dari segi beban yang diberikan kayu Jati dan bangkirai lebih besar.

4.4 Pembandingan Hasil Pengujian Dengan Syarat Bahan Kapal Kayu Berdasarkan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI)

Berdasarkan kelas kuat kayu dari Biro Klasifikasi Indonesia didapatkan persyaratan seperti Tabel berikut ini

Tabel 12.Kriteria Kelas Kuat

Kelas kuat Kukuh Lentur Mutlak (Kg/cm2 ) (MOR)

I II III IV V

≥ 1100 1100 – 725

725 – 500 500 – 360

≤ 360

(37)

28 Sumber: Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (1996)

Tabel 13. Rata-rata Hasil Uji MOE dan MOR Kayu Sepang dan Kandole Dengan Nilai MOE dan MOR Kayu Pembanding Jati dan Bangkirai

Jenis Kayu MOE

(kg/cm2)

MOR (kg/cm2) Sepang

Kandole Jati Bangkirai

132.472 113.110 109.818 124.146

1.735 1.443 1.273 1.400

Berdasarkan hasil pengujian kayu Sepang dan Kandole pada Tabel 12 memiliki rata-rata keteguhan kuat lentur untuk Sepang sebesar 1.735 kg/cm2 dan Kandole sebesar 1.443 kg/cm2, termasuk kelas kuat I ( ≥ 1100 Kg/ cm2 ), serta untuk kayu pembanding jenis Jati dan Bangkirai dengan keteguhan kuat lentur masing- masing 1.273 kg/cm2 dan 1.400 kg/cm2 termasuk kelas kuat I berdasarkan kelas kuat kayu dari Biro Klasifikasi Indonesia yang tersaji pada Tabel 12. Oleh karena itu, kayu Sepang dan Kandole ini dapat digunakan untuk bahan utama pembuatan pasak kapal tradisional.

(38)

29 V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka disimpulkan bahwa nilai dari hasil pengujian uji lentur kayu sepang memiliki nilai MOR dan nilai MOE lebih tinggi, begitupun untuk uji tekan sejajar serat nilai hasil pengujian kayu sepang (Caessalpinia sappan) lebih tinggi dari kayu kandole (Diploknema oligomera).

Berdasarkan kelas kuat kayu dari Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) kayu Sepang dan Kandole termasuk kelas kuat I, serta cocok untuk bahan baku pasak pada kapal tradisional. Maka dari itu kayu Kandole dan Kayu Sepang sangat cocok untuk bahan baku pasak pada pembuatan kapal.

5.2 Saran

Dari hasil pengujian yang telah dilakukan yaitu bahwa kayu sepang memiliki nilai uji lentur dan tekan yang lebih tinggi sehingga dapat disarankan untuk bisa dijadikan sebagai pasak untuk pembuatan kapal tradisonal, namun kayu ini termasuk langka dan memiliki ukuran yang kecil.

(39)

30 DAFTAR PUSTAKA

Dumanauw, J. F. 1990. Mengenal Kayu. Yogyakarta : Kanisius

Dumanauw, J.F. 1982. Mengenal Kayu, Penerbit PT Gramedia, Jakarta.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Terjemahan : Badan Litbang Kehutanan Jakarta. Jilid II dan III. Cetakan Kesatu. Jakarta : Yayasan Sarana Wana Jaya. 56.

Hygreen, J. G. dan Bowyer, J. L. 1993. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu Suatu Pengantar. Diterjemahka oleh Hadikusumo, S. A dan Prawirohatmodjo, S.

Gajahmada University Press. Yogyakarta.

Johanis. P. Mogea dkk. 2001. Lipi Seri Panduan Lapangan Tumbuhan Langka, Indonesia. Bogor : Paslitbang. LIPI.

Muslich M, Sumarni G. 2008. Standarisasi Mutu Kayu Berdasarkan Ketahanannya Terhadap Penggerek di Laut. Prosiding PPI Standarnisasi 2008.

Muslich M, Rulliaty S. 2011. Kelas Awet 250 Jenis Kayu Indonesia Terhadap Penggerek di Laut. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) XIV. Halaman : 129-141.

Padmaningrum, Regina. T. 2012. Karakter Ekstrak Zat Warna Kayu Secang (Caesalpinia Sapenolfaleina L) Sebagai Indikator Titrasi Asam Basa.

Prosiding Seminar Nasional Penelitian. Pendidikan dan Penerapan MIPA.

Fakultas MIPA. Universitas Negeri Yogyakarta.

Puspitaningtyas DM, Fijridiyanto IA, Putri WU, Ngatari. 2011. Teknik Eksplorasi.

Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor.

SK-SNI-03-2445-1991. Spesifikasi Ukuran Kayu untuk Bangunan Rumah dan Gedung.

(40)

31

LAMPIRAN

Lampiran 1. Data Hasil Pengujian Uji Lentur dan Tekan Pada Kayu Sepang dan Kandole

Kode Sampel

Lebar (mm) Tebal (mm)

L rata-

rata T rata-

rata

Jarak Sangga

P Max

∆P/∆Y (A)

∆P/∆Y

(A) MOR MOE

1 2 3 1 2 3 (cm)

(cm) (cm) (kg) (kg/mm) (kg/cm) (kg/cm2) (kg/cm2) S1 20.67 20.42 20.08 19.76 19.70 19.74 2.04 1.97 28 368 43.58 435.8 1.946,61 152.634,55 S2 19.88 20.30 20.88 20.16 20.68 20.70 2.04 2.05 28 311 35.95 359.5 1.525,11 112.309,65 K1 19.38 19.22 19.26 19.02 19.32 19.06 1.93 1.91 28 239 27.19 271.9 1.421,70 110.453,19 K2 19.04 19.10 19.21 19.23 19.35 19.04 1.91 1.92 28 246 28.57 285.7 1.465,10 115.767,48

Kode Sampel

Lebar (mm) Tebal (mm)

L rata-

rata T rata-

rata

Luas P maks

Keteguhan Tekan Sejajar

Serat

1 2 3 1 2 3 (cm)

(cm) (cm2) (kg) (kg/cm2) S1 19.75 19.58 19.20 19.09 19.13 19.17 1.95 1.91 3.73 2800 750.22 S2 19.65 19.80 19.92 19.08 19.20 19.30 1.98 1.92 3.80 2636 693.98 K1 19.10 19.05 19.12 18.20 18.30 18.05 1.91 1.82 3.47 2248 647.61 K2 19.48 19.60 19.72 19.41 19.22 19.17 1.96 1.93 3.78 1842 487.78

(41)

32 Kode

Sampel S1

Kode

Sampel S2 Kode

Sampel K1 Kode

Sampel K2 Defleksi

(mm)

Beban (kg)

Defleks i (mm)

Beba n (kg)

Defleks i (mm)

Beba n (kg)

Defleks i (mm)

Beba n (kg)

2.5 90.0 2.32 60.0 1.3 30.0 2.18 40.0

2.74 100.0 2.6 70.0 1.66 40.0 2.54 50.0

2.95 110.0 2.9 80.0 2.02 50.0 2.88 60.0

3.16 120.0 3.19 90.0 2.38 60.0 3.22 70.0

3.36 130.0 3.53 100.0 2.73 70.0 3.65 80.0

3.58 140.0 3.78 110.0 3.1 80.0 3.98 90.0

3.81 150.0 4.05 120.0 3.48 90.0 4.35 100.0

4.04 160.0 4.3 130.0 3.9 100.0 4.66 110.0

4.25 170.0 4.57 140.0 4.28 110.0 4.98 120.0 4.48 180.0 4.83 150.0 4.58 120.0 5.3 130.0 4.72 190.0 5.1 160.0 4.95 130.0 5.64 140.0 4.98 200.0 5.38 170.0 5.32 140.0 6.02 150.0

5.22 210.0 5.66 180.0 5.7 150.0 6.4 160.0

5.44 220.0 5.97 190.0 6.79 170.0

5.7 230.0 6.28 200.0 5.98 240.0

(42)

33 Lampiran 2. Grafik Hubungan Beban Dengan Defleksi Kayu Sepang dan

Kandole.

y = 43.577x - 17.236 R² = 0.9989

0 50 100 150 200 250 300

0 1 2 3 4 5 6 7

P (beban) kg

Y (Defleksi) mm

Grafik Hubungan Beban Dengan Defleksi Sepang 1

y = 35.954x - 24.505 R² = 0.9994

0 50 100 150 200 250

0 1 2 3 4 5 6 7

P (Beban) kg

Y (Defleksi) mm

Grafik Hubungan Beban Dengan Defleksi Sepang 2

(43)

34

y = 27.189x - 4.9534 R² = 0.9997

0 50 100 150 200 250 300 350 400

0 1 2 3 4 5 6

P (Beban) kg

Y (Deleksi) mm

Grafik Hubungan Beban Dengan Defleksi Kandole 1

y = 28.572x - 22.739 R² = 0.9994

0 20 40 60 80 100 120 140 160 180

0 1 2 3 4 5 6 7 8

P (Beban) kg

Y (Deleksi) mm

Grafik Hubungan Beban Dengan Defleksi Kandole 2

(44)

35 Lampiran 3. Dokumentasi Penelitian

(45)

36

(46)

37

(47)

38

(48)

39

(49)

40

(50)
(51)
(52)
(53)

Gambar

Gambar  1.  Arah  serat  dan  kekuatan  kayu  terhadap  tekan  dan  tarik  Sumber: Forest Products Laboratory USDA, 1999
Tabel 1. Kelas Kuat Kayu
Tabel 2. Lentur Mutlak Dan Tekan Mutlak  Kelas
Tabel 3 Jenis kayu kelas awet dan kuat serta pemakaiannya pada kapal  Nama
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kekayaan Organisasi Pemuda Pancasila setelah dibubarkan akan ditentukan di dalam Musyawarah Besar yang membubarkan organisasi sesuai Bab X Pasal 21 Anggaran Dasar1. BAB XIV

Sanggahan atas pengumuman ini dapat diajukan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari setelah diumumkan. UNIT LAYANAN PENGADAAN UNIT LAYANAN PENGADAAN UNIT LAYANAN PENGADAAN UNIT

pada tanggal 20 Mei 2014). Iran sangat terbantu dengan dukungan yang diberikan oleh Tiongkok,. sehingga seperti yang sudah dijelaskan bahwa pilar utama hubungan

Pemeriksaa iksaan n lapan lapangan gan adala adalah h peme pemeriksa riksaan an yang yang dilaku dilakukan kan terhadap wajib pajak di tempat wajib pajak yang dapat

Which makes me feel more comfortable and get something different with the discipline of the disciplined Japanese people is after we buy the food that is in Asakusa

Trečioje straipsnio dalyje nagri- nėjamas ir pagrindžiamas naujos redakcijos apgaulingo buhalterinės apskaitos tvarkymo pažeidimo sudėties poreikis rengiamame Lietuvos

Secara umum, konteks ilmu pengetahuan itu meliputi hal-hal berikut, (i) berkait dengan inti pengetahuan ( body of knowledge ) yang mencakup isi pengetahuan sehinggalah proses ke arah

Secara in vitro, suatu eksplan atau bagian dari tumbuhan dapat berkembang menjadi tanaman yang sempurna yang memiliki organ yang lengkap. Pembentukan organ pada tanaman secara