• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN AJAR Kompetensi Dasar Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) TOPIK-4: Evaluasi HAsil Belajar dalam PJJ

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAHAN AJAR Kompetensi Dasar Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) TOPIK-4: Evaluasi HAsil Belajar dalam PJJ"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAHAN AJAR

Kompetensi Dasar Pendidikan Jarak Jauh (PJJ)

TOPIK-4:

Evaluasi HAsil Belajar dalam PJJ

SEAMEO SEAMOLEC Jakarta - INDONESIA 2012

(2)

Pendahuluan

Dalam topik ini akan diuraikan evaluasi hasil belajar PJJ. Setelah mempelajari topik ini peserta didik mampu menjelaskan pengertian evaluasi, menjelaskan jenis-jenis evaluasi dan menjelaskan evaluasi dalam sistem PJJ.

Dalam arti luas, evaluasi merupakan proses pengambilan keputusan tentang keberhasilan suatu program, proses, maupun produk tertentu. Menurut Gronlund dan Linn (1990), evaluasi merupakan suatu proses yang dilakukan secara sistematis untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan informasi guna menentukan sejauh mana siswa mencapai tujuan pendidikan.

Dalam hal ini, evaluasi menjadi suatu bagian yang integral dari proses pembelajaran. Oleh sebab itu, dalam dunia pendidikan evaluasi dilakukan secara terus-menerus, baik berupa evaluasi program pendidikan, evaluasi kurikulum, maupun evaluasi hasil belajar.

Evaluasi hasil belajar merupakan komponen penting dalam kegiatan pembelajaran. Tanpa

evaluasi hasil belajar, kemajuan dan keberhasilan belajar peserta didik akan menjadi sulit

diukur. Peran evaluasi hasil belajar semakin menonjol dalam sistem PJJ karena interaksi fisik

antara pendidik dan peserta didik sangat kurang jika dibandingkan dengan interaksi dalam

pendidikan tatap muka.

(3)

A. Jenis-jenis Evaluasi Hasil Belajar

Ada beberapa jenis evaluasi hasil belajar yang dikenal, seperti:

tes masuk (misalnya tes masuk perguruan tinggi)

tes penempatan (misalnya tes untuk menentukan tingkatan kelas dalam suatu kursus bahasa Inggris)

tes diagnostik (yaitu tes untuk mengetahui kelemahan atau kegagalan belajar siswa) tes formatif (misalnya latihan, pekerjaan rumah)

tes sumatif (misalnya ulangan umum)

Pada sektor pendidikan formal evaluasi hasil belajar umumnya dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu:

evaluasi formatif evaluasi sumatif

1. Evaluasi Formatif

Evaluasi formatif atau tes formatif dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan langkah-langkah perbaikan bukan hanya untuk membuktikan keberhasilan atau kegagalan belajar peserta didik. Tes ini bertujuan untuk memperoleh umpan balik terhadap keberhasilan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung dan dilakukan pada berbagai titik saat berlangsungnya proses pembelajaran, misalnya pada setiap akhir pelajaran atau setiap akhi unit pembelajaran.

Hasil tes digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Kegiatan ini

sebaiknya dilakukan secara terus-menerus selama proses pembelajaran berlangsung,

untuk meningkatkan keberhasilan belajar peserta didik.

(4)

Gambar-1

Peran Tes Formatif dalam Pembelajaran (Gronlund, 1992)

Dari gambar-1 tersebut dapat kita lihat bahwa hasil tes formatif dapat digunakan untuk memutuskan, apakah ada peserta didik yang harus diberi remediasi karena belum menguasai tujuan pembelajaran yang direncanakan. Peran tes formatif sangat penting dalam PJJ. Seperti telah dibahas sebelumnya, peserta didik PJJ melakukan proses belajar sendiri, terpisah secara fisik dari pendidiknya. Mereka belajar secara mandiri menggunakan bahan ajar yang dirancang khusus untuk keperluan belajar mandiri.

Untuk membantu proses belajar peserta didik, dalam bahan ajar disediakan latihan- latihan atau pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas, dan diakhir kegiatan belajar tertentu disediakan tes formatif untuk mengarahkan mereka agar dapat mengukur keberhasilan belajarnya sendiri. Pada program PJJ, tes formatif biasanya ada pada akhir modul.

Latihan-latihan atau pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas berfungsi sebagai alat diagnosis untuk mendeteksi kesulitan-kesulitan peserta didik dalam mempelajari bagian bahan ajar yang sedang dihadapi. Peserta didik mengetahui hasilnya dengan cara membandingkan hasil pengerjaannya dengan jawaban yang telah disediakan di bahan ajar itu sendiri. Demikian juga dengan tes formatif, peserta didik mengerjakan tes formatif yang disediakan, kemudian mencocokkan hasilnya dengan kunci jawaban yang telah disediakan pula.

Ya Tidak

TES FORMATIF (Untuk memonitor proses

pembelajaran)

Apakah peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yang telah

ditentukan?

Berikan remediasi kelompok atau individual

Berikan umpan balik untuk mendukung proses belajar

Melanjutkan proses pembelajaran sesuai rencana TES DIAGNOSTIK

(Untuk mempelajari kesulitan belajar peserta didik)

(5)

Selain bentuk tersebut, juga memungkinkan peserta didik mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh tutor. Tugas tersebut diperiksa oleh tutor, kemudian mengembalikannya kepada peserta didik sebagai umpan balik kepada peserta didik.

Dengan mengerjakan berbagai bentuk alat evaluasi formatif di atas, peserta didik dapat mengetahui kemajuan belajar mereka sendiri dan sekaligus dapat mengetahui kesulitan- kesulitan dalam proses pembelajaran. Bila pencapaian mereka belum memenuhi kriteria tertentu, misalnya 80%, maka peserta didik dianjurkan untuk mengulang atau mempelajari kembali konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang belum dikuasai.

2. Evaluasi Sumatif

Evaluasi sumatif dilakukan pada akhir proses pembelajaran. Evaluasi atau tes ini bertujuan untuk menetukan apakah peserta didik menguasai materi yang telah dipelajari. Dengan kata lain, evaluasi sumatif diberikan untuk mengetahui apakah peserta didik telah mencapai hasil belajar yang diharapkan sesuai yang ditentukan pada tujuan pembelajaran.

Hasil evaluasi digunakan terutama untuk memberikan nilai bagi peserta didik atau menetukan kelulusan peserta didik. Apabila hasil penilaian menunjukkan bahwa peserta didik belum mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan, pengajar dapat memberikan pelajaran tambahan untuk memastikan ketercapaian tujuan pembelajaran tersebut.

Gambar-2

Peran Tes Sumatif dalam Pembelajaran (Dimodifikasi dari Gronlund, 1993) Ya

Tidak

TES SUMATIF (Untuk menilai keberhasilan

belajar)

Apakah peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yang telah

ditentukan?

Berikan umpan balik dan pengalaman belajar tambahan

Berikan nilai atau tanda kelulusan

Evaluasi efektivitas pembelajaran

(6)

Pada sistem PJJ di Indonesia tes sumatif dapat diberikan dalam bentuk:

Tugas Mandiri Ujian Akhir Semester Tugas Tutorial

Ujian Praktek (termasuk pembuatan laporan) Ujian Komprehensif Tertulis

Berdasarkan bentuknya, tes sumatif dapat dideskripsikan sebagai berikut:

a. Tugas Mandiri (TM)

TM setara dengan Ujian Tengah Semester (UTS) pada sistem pendidikan tatap muka. TM diadakan untuk memacu proses belajar peserta didik dan dapat dikerjakan oleh para peserta didik di rumah masing-masing tanpa pengawasan. Dengan mengerjakan TM, baik masing-masing, maupun secara berkelompok, peserta didik diharapkan telah mempelajari materi kuliah. Nilai TM menyumbang sebesar 20% terhadap nilai mata kuliah, Apabila peserta didik tidak menyerahkan TM, nilai akhir mereka dihitung 100% dari UAS.

b. Ujian Akhir Semester (UAS)

Materi yang diujikan pada UAS adalah semua materi bahan ajar dengan proporsi keterwakilan materi substansi yang telah dipertimbangkan oleh penulis soal. UAS dapat menjadi satu-satunya alat ukur keberhasilan jika peserta didik tidak mengirimkan lembar jawaban TM atau nilai TM lebih rendah dari nilai UAS.

c. Tugas Tutorial

Dalam hal ini, yang penting adalah proses bimbingan akademik

yaitu tugas tutor dalam membimbing peserta didiknya. Setiap

tutor biasanya diberi tugas untuk membimbing sekelompok

peserta didik. Tutor bertanggung jawab untuk memberikan tugas,

mengevaluasi tugas-tugas yang telah dikerjakan peserta didik, dan

memberikan umpan balik terhadap tugas-tugas tersebut. Mereka

secara kontinu harus memonitor kemajuan belajar peserta

didiknya. Peserta didik juga diharuskan menghubungi tutornya setiap saat apabila

mereka menemui kesulitan belajar. Jadi, tutor di sini berfungsi sebagai pembimbing

akademik.

(7)

d. Ujian Praktik

Praktik diberikan untuk mata kuliah mata kuliah yang tidak hanya menuntut peningkatan pengetahuan kognitif dari peserta didiknya, namun juga peningkatan keterampilan, misalnya praktik olahraga, praktik pembelajaran atau perencanaan pembelajaran. Nilai praktik dan praktikum mempunyai kontribusi terhadap nilai akhir mata kuliah. Nilai praktik diberikan oleh tutor atau instruktur berdasarkan kinerja yang dilakukan pada saat kegiatan praktik tetapi nilai praktikum diberikan berdasarkan laporan praktikum yang dibuat peserta didik.

e. Ujian Komprehensif Tertulis (UKT)

UKT merupakan ujian akhir program studi bagi peserta didik. Peserta didik yang belum lulus UKT belum dapat dinyatakan lulus program studi yang diikuti, meskipun semua mata kuliah sudah lulus, jumlah SKS sudah melebihi persyaratan kelulusan, dan IPK-nya cukup tinggi.

Materi UKT diambil dari beberapa mata kuliah inti pada program

studi yang bersangkutan. Proses berpikir yang diukur biasanya proses berpikir tinggi

dengan pendekatan pemecahan masalah.

(8)

B. Pelaksanaan Ujian

1. Ujian Tulis

Ujian tulis berkembang karena adanya kebutuhan untuk menguji sejumlah besar peserta tes dan untuk memproses hasil tes secara cepat dan efisien. Hal ini menimbulkan perubahan mendasar dalam cara merancang, melaksanakan dan memproses tes.

Agar tes dapat dilaksanakan secara masal dan diberi skor secara objektif, para pengembang tes banyak yang memilih menggunakan tes objektif, khususnya tes pilihan ganda meskipun ujian tulis sebetulnya dapat diberikan dengan tes uraian maupun tes objektif.

Format tes pilihan ganda ini sangat efisien karena peserta tes dapat menghitamkan jawaban yang dipilih pada Lembar Jawaban Ujian (LJU) yang sudah didesain khusus.

Jawaban peserta tes pada LJU dengan cepat dapat diberi skor sebagai jawaban yang benar atau salah. Kepopuleran tes pilihan ganda ini terjadi karena berkembangnya mesin-mesin scanner, yang dapat menerjemahkan kode pada LJU yang dihitamkan peserta tes menjadi data elektronik atau magnetik, sehingga dapat diproses lebih lanjut secara terkomputerisasi, yaitu untuk proses penilaian. Perubahan dalam praktik pengujian ini ditunjang oleh kemajuan yang pesat dalam bidang teknologi elektronik dan komputer.

Salah satu kelebihan tes pilihan ganda yang banyak diakui adalah kemudahan dalam pelaksanaan tes. Tes ini dapat diujikan secara serentak di beberapa tempat sekaligus kepada semua peserta tes yang cukup banyak. Karena tes ini dilaksanakan secara tatap muka, artinya peserta tes harus datang ke lokasi tes pada jadwal yang telah ditentukan dengan membawa kartu identitas yang relevan, maka, pengawas ujian harus dapat memastikan kebenaran identitas peserta ujian.

Namun, penyelenggaraan dan pengawasan tes pilihan ganda ini memerlukan biaya yang besar karena banyaknya naskah ujian yang harus disediakan dan pengawas yang harus direkrut. Meskipun pemrosesan hasil ujian dapat dilakukan secara lebih cepat, pembelian dan perawatan mesin scanner memerlukan biaya yang tidak sedikit.

2. Ujian Berbantuan Komputer

Dengan perkembangan teori pengukuran dan evaluasi serta perkembangan teknologi

informasi dan komunikasi maka saat ini telah berkembang pesat penyelenggaraan ujian

yang menggunakan komputer, yang dikenal dengan istilah ujian berbantuan komputer

atau Computer Based Testing (CBT).

(9)

Ada dua macam CBT, yaitu:

linear test (tes linier)

Tes linier terdiri atas seperangkat soal, dari yang termudah sampai yang tersukar, tanpa memperhatikan kemampuan peserta tes

adaptive test (tes adaptif)

Tes adaptif adalah tes komputer yang mampu memberikan soal-soal yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan peserta tes.

Tes adaptif dirancang untuk setiap individu peserta tes (Waineer, 1990) :

a. Peserta tes akan diberi satu set soal yang memenuhi spesifikasi rancangan tes (kisi- kisi) dan biasanya sesuai dengan tingkat kemampuan setiap individu.

b. Tes dimulai dengan soal-soal yang tidak terlalu sukar.

c. Setiap peserta tes menjawab soal, komputer akan memberikan skor.

d. Jawaban terhadap soal tersebut akan menentukan soal yang akan ditampilkan oleh komputer selanjutnya.

e. Setiap menjawab soal dengan benar, peserta tes akan diberi soal yang lebih sukar.

Sebaliknya, bila menjawab salah, komputer akan memilihkan soal yang lebih mudah.

f. Urutan soal disajikan tergantung pada jawaban terhadap soal-soal sebelumnya dan pada kisi-kisi tes.

g. Komputer diprogram untuk memberikan soal yang sesuai dengan kisi-kisi tes, sekaligus secara terus-menerus mencari soal-soal yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat kemampuan peserta ujian.

h. Peserta ujian harus menjawab semua soal.

Keuntungan tes adaptif adalah bahwa pada setiap layar hanya ditampilkan satu butir soal sehingga peserta tes dapat berkonsentrasi untuk menjawab soal tersebut. Setelah memberikan konfirmasi terhadap jawaban yang dipilih, peserta ujian tidak akan dapat mengulang soal-soal yang bersangkutan dan mengganti jawabannya. Salah satu contoh institusi penyelenggara ujian di Amerika yang telah memanfaatkan teknologi komputer adalah Educational Testing Service (ETS, 2002) yang telah menyediakan ujian seperti ini.

3. Ujian Praktik

Kegiatan praktik dilakukan untuk beberapa program studi seperti praktikum, praktik olahraga, perencanaan pembelajaran atau praktik pembelajaran. Dalam satu mata kuliah, peserta didik harus melakukan praktik atau praktikum yang sudah ditentukan.

Dengan demikian, tidak ada ujian yang diberikan khusus untuk mata kuliah praktik,

kecuali untuk mata kuliah Pengembangan Kemampuan Mengajar (PKM). Khusus untuk

mata kuliah ini, peserta didik melakukan praktik mengajar berdasarkan rencana

pembelajaran yang telah dibuatnya. Ujian praktik mengajar ini dinilai oleh suatu tim

penilai. Kegiatan ujian ini dapat dilakukan di sekolah tempat mereka mengajar dengna

mengikuti prosedur yang telah ditentukan.

(10)

C. Penilaian dan Pelaporan

Penilaian merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam evaluasi hasil belajar peserta didik. Fungsi penilaian pada dasarnya ada tiga, yaitu untuk:

mengukur keberhasilan belajar mahasiswa, mengevaluasi efektivitas mengajar dosen, dan memberikan umpan balik kepada mahasiswa.

Nilai diperlukan agar mahasiswa mengetahui keberhasilan belajarnya. Oleh karena itu, nilai yang diberikan harus valid. Nilai haruslah mencerminkan tingkat keberhasilan yang dicapai mahasiswa. Nilai tertinggi harus diberikan kepada mahasiswa yang dapat mencapai tingkat penguasaan yang tertinggi terhadap tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Sebaran nilai yang diperoleh sekelompok peserta didik diharapkan dapat menggambarkan kualitas proses belajar-mengajar di kelompok tersebut. Pada sistem pendidikan tatap muka, bila banyak peserta didik yang tidak lulus suatu mata pelajaran/kuliah, tercermin bahwa pengajar tersebut tidak dapat menstimulasi proses belajar-mengajar yang baik sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai. Kemungkinan lain, dosen menentukan tujuan pembelajaran yang terlalu sulit untuk dicapai para peserta didiknya.

Penilaian juga berfungsi untuk memacu, mengarahkan, dan memberikan penghargaan atas usaha peserta didik dalam belajar. Setiap peserta didik berhak mendapatkan umpan balik dari pengajarnya untuk setiap tugas yang dikerjakannya. Dengan demikian, peserta didik dapat mengetahui kesalahannya dalam menjawab atau mengerjakan tugas, dan sebaliknya dapat mengetahui apakah jawaban atau tugas yang dikerjakannya sudah benar. Mengetahui kesalahan dalam belajar dapat memotivasi peserta didik untuk belajar lebih keras. Begitu pula informasi keberhasilan peserta didik dalam belajar dapat menimbulkan rasa bangga, yang pada akhirnya akan lebih memacu semangat belajarnya.

Sistem penilaian pada dasarnya adalah suatu cara untuk mengkomunikasikan hasil pengukuran belajar peserta didik. Nilai yang diberikan harus mempunyai arti yang sama bagi semua pihak yang menggunakannya, baik bagi pengajar, peserta didik, orang tua, lembaga pendidikan yang bersangkutan, maupun pihak pengguna lainnya (misalnya tempat bekerja).

Untuk itu, pihak-pihak yang berkepentingan harus mengetahui pendekatan-pendekatan

yang digunakan dosen dalam melakukan penilaian. Penilaian yang dilakukan secara asal-

asalan, tidak akan berpengaruh positif terhadap usaha belajar mahasiswa. Penilaian hasil

belajar peserta didik yang tidak tepat akan merugikan masa depan mahasiswa karena nilai

merupakan dasar pengambilan keputusan bagi pendidikan dan karir mahasiswa di masa

depan. Oleh karena itu, dosen harus selalu berusaha meningkatkan validitas dan ketepatan

nilai yang diberikan kepada mahasiswa.

(11)

1. Pendekatan Penilaian

Terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian terhadap hasil belajar mahasiswa, yaitu pendekatan:

a. Penilaian Acuan Norma (PAN) dan b. Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Pendekatan untuk melakukan penilaian terhadap hasil belajar yang didasarkan pada perbandingan kemampuan seorang peserta didik terhadap peserta didik lain yang mengikuti tes yang sama adalah pendekatan penilaian yang didasarkan pada acuan norma.

Artinya, pemberian nilai mengacu kepada perolehan nilai kelompok. Bila peserta didik yang mengikuti tes banyak sekali, hingga mencapai ratusan jumlahnya, maka perlu digunakan statistik sederhana untuk menentukan besarnya skor rata-rata peserta tes (mean) dan simpangan bakunya (standard deviation=SD). Penggunaan nilai mean dan SD akan memberikan informasi bagaimana posisi kemampuan seorang peserta didik dalam kelompoknya, dimulai dari yang terpandai, pandai, sedang, kurang, dan sangat kurang (bodoh). Penilaian terhadap hasil belajar mahasiswa yang mengacu pada kriteria yang dibakukan, disebut penilaian yang menggunakan PAP.

Untuk dapat menentukan kelulusan peserta didik, terlebih dahulu harus ditentukan sejumlah patokan atau Kriteria yang mengacu pada Tujuan Pembelajaran Umum dan Tujuan Pembelajaran Khusus yang akan menjadi dasar penentuan kelulusan. Bila seorang peserta didik telah memenuhi kriteria yang telah ditentukan, maka ia dapat dinyatakan lulus atau dianggap telah menguasai bahan yang diujikan. Keberhasilan peserta didik dalam proses pembelajaran ditentukan oleh tingkat penguasaan tujuan pembelajaran.

Artinya, nilai atau kelulusan seorang peserta didik ditentukan oleh penguasaannya atas tujuan pembelajaran.

Penilaian dengan pendekatan PAP digunakan dalam sistem belajar tuntas. Pada sistem belajar tuntas, semua tujuan pembelajaran, baik yang penting atau pun yang tidak penting, yang mudah maupun yang sukar, harus dikuasai peserta didik.

Dalam hal ini, semua tujuan pembelajaran harus ada butir soalnya. Karena penguasaan 100% bahan ajar sukar dicapai, banyak lembaga pendidikan yang menentukan patokan kelulusan atau tingkat penguasaan bahan 75% atau 80% saja. Misalnya, seorang peserta didik dikatakan telah menguasai satu pokok bahasan tertentu bila ia telah dapat menjawab dengan benar 80% dari butir soal yang berasal dari pokok bahasan tersebut.

Bagi peserta didik yang persentase jawaban benarnya kurang dari 80%, dianggap

belum menguasai bahan atau dianggap belum lulus.

(12)

Ada lembaga pendidikan yang melakukan penilaian dengan menggunakan kategori lulus dan tidak lulus. Ada juga yang menggunakan kategori A, B, C, D, dan E sedangkan nilai E dinyatakan tidak lulus karena penguasaan peserta didik terhadap bahan yang diujikan kurang dari 50%.

Apabila peserta didik mempelajari bahan ajar secara teratur dan bertahap sesuai urutan modul, selalu mengerjakan tes formatif, dan mengulang materi yang belum dikuasai seperti yang disarankan, dapat dikatakan bahwa peserta didik tersebut telah mempelajari bahan ajar secara tuntas. Dengan demikian, seharusnya peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam mempersiapkan diri menempuh UAS.

2. Proses Penilaian

Pemrosesan hasil ujian PAP untuk peserta tes yang banyak, mencapaii ribuan, dilakukan dengan menggunakan komputer. Penggunaan komputer dalam proses penilaian akan memberikan hasil yang lebih akurat dengan lebih cepat dan ekonomis.

Proses penilaian untuk ujian objektif dilakukan dengan menggunakan komputer. Untuk itu, diperlukan mesin pembaca lembar jawaban ujian (scanner) dan LJU, yang khusus didesain untuk mesin pembaca LJU tersebut. Peserta ujian menjawab ujian dengan cara menghitamkan huruf-huruf atau kode-kode yang tersedia dalam LJU dengan menggunakan pensil khusus (2B) Setelah mesin scanner membaca LJU, komputer dapat diprogram untuk melakukan penilaian dan melakukan konversi menjadi nilai huruf (grading).

Untuk ujian uraian, pemberian skor dilakukan secara manual dan skor yang diperoleh kemudian diketik ke dalam komputer, selanjutnya dilakukan proses penilaian dan pemberian nilai huruf secara terkomputerisasi seperti halnya pada ujian objektif. Bila jumlah peserta ujian banyak, dimungkinkan pemeriksaan ujian uraian dilakukan secara terkomputerisasi, mengingat sudah tersedia berbagai perangkat lunak yang dapat membaca tulisan tangan. Jika hal ini dapat dilakukan maka proses penilaian akan semakin cepat karena yang sering menyebabkan nilai tertunda adalah pemeriksaan hasil ujian uraian yang lama.

Untuk tes adaptif, proses penilaian merupakan bagian dari rancangan tes (ETS, 2002).

Peserta tes secara otomatis akan mengetahui skor yang telah diperolehnya. Skor yang diberikan tergantung pada jumlah soal yang dijawab dan jawaban terhadap soal yang diberikan. Soal yang diberikan oleh komputer akan mencerminkan keberhasilan dalam menjawab soall sebelumnya dan kisi-kisi tes. Kisi-kisi tes meliputi:

a. tingkat kesulitan soal yang diberikan, b. tipe soal yang diberikan, dan

c. cakupan materi tes yang sesuai.

(13)

Soal yang pertama diberikan, merupakan soal yang tidak terlalu sulit. Benar tidaknya jawaban menentukan apakah selanjutnya peserta tes akan diberi soal-soal yang lebih mudah atau lebih sukar. Dengan demikian, peserta tes akan mendapatkan skor-skor yang mencerminkan kebenaran jawaban terhadap setiap soal dan tingkat kesulitan setiap soal.

Bila ada dua peserta tes yang mempunyai jumlah jawaban benar yang sama, peserta tes yang menjawab soal-soal yang lebih sulit akan mendapatkan skor yang lebih tinggi.

Demikian juga, bila ada dua peserta tes mendapatkan dua set soal yang tingkat

kesulitannya sama, peserta tes yang lebih cepat menjawab dan mempunyai jumlah

jawaban soal benar lebih banyak akan mendapatkan skor yang lebih tinggi.

(14)

Rangkuman

Evaluasi Hasil Belajar (EHB) mempunyai peran yang sangat penting dalam sistem PJJ.

Seringkali EHB merupakan satu-satunya tolok ukur yang dapat digunakan untuk memperoleh gambaran tentang keberhasilan belajar mahasiswa pada system pendidikan ini.

Oleh karena itu, penyusunan alat EHB harus direncanakan secara matang berdasarkan pada kisi-kisi tes dan dikembangkan dengan mengacu pada rambu-rambu penulisan soal yang baik. Selain evaluasi sumatif yang bertujuan untuk mengukur keberhasilan belajar mahasiswa, evaluasi formatif merupakan suatu hal yang mutlak harus diberikan kepada mahasiswa PJJ untuk mengarahkan belajar mereka.

Pada sistem PJJ, tes online tampaknya merupakan suatu keharusan agar institusi PJJ dapat

memberikan layanan ujian secara individual dan sekaligus dapat melaksanakan tes yang

tidak seragam di lokasi ujian yang berbeda. Penilaian harus dilakukan secara objektif serta

terstandar dan hasil belajar harus dapat segera diketahui peserta didik dengan cepat melalui

berbagai media.

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai rumusan masalah yang telah ditentukan, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan Model Group Investigation terhadap hasil belajar

 Evaluasi hasil belajar peserta didik adalah penilaian yang dilakukan terhadap hasil proses belajar peserta didik dalam bentuk tatap muka dan jarak jauh berbasis

Melalui kegiatan evaluasi ini, guru juga dapat mengetahui kemampuan yang telah dimiliki siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, dan melalui kegiatan evaluasi ini pula

Dengan mendasarkan pada makna evaluasi sebagai proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui tingkat pencapaian belajar peserta didik, maka evaluasi diharapkan

Hal-hal yang dilakukan pada tahap pelaksanaan evaluasi hasil belajar peserta didik secara online, yaitu (a) browser yang digunakan oleh peserta didik adalah

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan evaluasi belajar tidak hanya mengetahui hasil belajar Peserta didik tetapi juga untuk mengetahui

Pencapaian hasil belajar peserta didik yang masih belum maksimal sesuai dengan KKM yang ditentukan pada mata pelajaran PKn disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu: guru kurang

Kemudian untuk mengetahui persentase ketuntasan klasikal ditentukan jika dalam satu kelas peserta didik yang telah tuntas belajarnya mencapai ≥ 85%, atau dapat dirumuskan: 1