III
OBJEK DAN METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah pegawai di UPT BBIB Singosari yang berlokasi di desa Toyomarto, Malang Jawa Timur. Variabel yang diamati yaitu gaya kepemimpinan sebagai variabel bebas dan motivasi kerja pegawai sebagai variabel terikat.
3.2 Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei. Metode survei adalah penelitian yang dilakukan dengan cara menghimpun informasi dari sampel yang diperoleh dari suatu populasi, dengan tujuan untuk melakukan generalisasi sejauh populasi darimana sampel itu diambil (Paturochman, 2012).
3.2.1 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data diperoleh dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari responden melalui teknik wawancara dengan menggunakan kuesioner yang telah disusun dan diobservasi terhadap keadaan dilapangan. Data sekunder diperoleh untuk melengkapi data primer melalui literatur yang berhubungan dengan penelitian ini serta dari BBIB Singosari.
3.2.2 Teknik Pengumpulan Sampel
Penarikan sampel dilakukan secara Proportional Random Sampling.
Teknik ini merupakan teknik pengambilan proporsi untuk memperoleh sampel yang representatif dan pengambilan subjek dari setiap bidang ditentukan secara
seimbang atau sebanding. Penentuan responden ini dilakukan dengan pertimbangan banyaknya jumlah pegawai dan sebagai asas keterwakilan dari sejumlah pegawai. Responden berjumlah 32 dari 100 orang pegawai yang bekerja di BBIB Singosari.
UPT BBIB terbagi ke dalam 3 bagian, yaitu bagian umum, bidang pelayanan teknik, dan bidang pemasaran. Pada bagian umum terdiri dari sub bagian program dan keuangan, sub bagian kepegawaian dan tata usaha, dan sub bagian rumah tangga dan perlengkapan. Pada bidang pelayanan teknik terdiri dari seksi pemeliharaan dan peningkatan mutu genetik ternak dan seksi produksi semen dan pengembangan inseminasi buatan. Pada bidang pemasaran dan informasi terdiri dari seksi pemasaran dan seksi informasi dan pemantauan mutu semen. Jumlah responden ditentukan dengan menggunakan rumus Parel, yang menyatakan bahwa metode tersebut merupakan desain pengambilan sampel yang setiap elemen tunggal dalam peluang mempunyai peluang diketahui dan sama untuk terpilih menjadi subjek. Rumus Parel dkk.,(1983), yang digunakan yaitu:
nh = Dimana:
nh = Jumlah responden sampel Nh = Jumlah populasi pegawai
N = Jumlah populasi seluruh pegawai n = Jumlah responden sampel
Sampel diambil sebanyak 32 orang pegawai untuk mewakili ketujuh bidang tersebut. Hal ini berdasarkan pada ketentuan bahwa sampel yang besar jika jumlahnya lebih besar atau sama dengan (≥) 30, maka akan mendekati
kurva distribusi normal (Singarimbun dan Efendi, 1989). Jumlah responden pada masing-masing bidang dapat dilihat pada Tabel 1
Tabel 1. Jumlah responden
No Bidang Seksi/sub bagian Kepala Bidang
Jumlah Pegawai
Jumlah Responden 1
Pelayanan Teknik
Seksi produksi semen dan
pengembangan IB
1
21 7
Seksi pemeliharaan dan peningkatan mutu genetik ternak
34 10
2
Pemasaran dan
Informasi
Seksi pemasaran dan kerjasama
1
11 3
Seksi informasi dan pemantauan mutu semen
5 2
3
Umum
Sub bagian
program keuangan
10 3
Sub bagian kepegawaian dan tata usaha
7 2
Sub bagian rumah tangga dan
perlengkapan
11 3
Jumlah 2 99 30
Berdasarkan rumus yang telah diuraikan, penetuan sampel untuk masing- masing bidang yaitu:
= 7 orang sampel pegawai di seksi produksi semen dan pengembangan IB
= 10 orang sampel pegawai di seksi pemeliharaan dan peningkatan mutu genetik ternak
= 3 orang sampel pegawai di seksi pemasaran dan kerjasama
= 2 orang sampel pegawai di seksi informasi dan pemantauan mutu semen
= 3 orang sampel pegawai di sub bagian program keuangan
= 2 orang sampel pegawai di sub bagian kepegawaian dan tata usaha
= 3 orang sampel pegawai di sub bagian rumah tangga dan perlengkapan
1 orang sampel kepala bidang pemasaran dan informasi = 1 orang sampel kepala bidang pelayanan teknis.
3.3 Operasional Variabel
Penelitian ini memiliki dua variabel yaitu variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable). Variabel yang menjadi perhatian utama adalah sebagai berikut :
3.3.1 Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan adalah perilaku atau cara yang dipilih dan dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan perilaku bawahan. Gaya kepemimpinan pun dibagi menjadi empat (Thoha, 2009), diantaranya yaitu
direktif, konsultasi, partisipasi, dan delegasi. Pengukuran gaya kepemimpinan dilihat dari jumlah skor indikator komunikasi, pengambilan keputusan, empati, dan partisipasi. Skor untuk tingkat gaya kepemimpinan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Gaya Kepemimpinan
Skor Tingkat Gaya Kepemimpinan
20-34 Rendah
>34-48 Sedang
>48 Tinggi
Indikator dari gaya kepemimpinan dijelaskan sebagai berikut:
a) Komunikasi: suatu proses berbagi pesan melalui kegiatan penyampaian dan penerimaan pesan. Analisa data dilakukan dengan menggunakan skala likert (Sugiono, 2011). Komunikasi pun terbagi atas 3 bagian, yang masing- masing mempunyai skor berdasarkan :
1) Rendah : frekuensi komunikasi yang dilakukan dengan pemimpin kurang dari atau sama dengan satu kali ( 1) dalam satu bulan (skor 1).
2) Sedang : frekuensi komunikasi yang dilakukan dengan pemimpin 2-3 kali dalam sebulan (skor 2).
3) Tinggi : frekuensi komunikasi yang dilakukan dengan pemimpin lebih dari empat kali ( ) dalam satu bulan (skor 3).
b) Pengambilan keputusan: memecahkan suatu permasalahan oleh atasan dalam mengambil keputusan. Pengambilan keputusan pun terbagi dalam 3 bagian yang masing-masing mempunyai skor, yaitu:
1) Rendah : pengambilan keputusan dilakukan pemimpin kali dalam sebulan (skor 1).
2) Sedang : pengambilan keputusan dilakukan pemimpin 2-3 kali dalam sebulan (skor 2).
3) Tinggi : pengambilan keputusan dilakukan pemimpin lebih dari kali dalam sebulan (skor 3).
c) Empati : kemampuan menghubungkan dan merasakan pikiran, emosi ataupun perasaan orang lain. Orang-orang yang empatik sering dilihat oleh orang lain sebagai orang yang memahami dan mampu memberikan dukungan kepada orang lain secara tepat dengan perasaan peka dan peduli.
Empati pun terbagi dalam 3 bagian yang masing-masing mempunyai skor, yaitu:
1) Rendah : pemimpin kurang menunjukkan kepeduliannya (skor 1) 2) Sedang : pemimpin bersedia untuk mendengarkan keluh kesah yang
dialami pegawai (skor 2)
3) Tinggi : pemimpin sering mendengarkan keluh kesah pegawai dan membantu kesulitan yang dihadapi pegawai ( skor 3)
d) Partisipasi : Partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosional dari orang dalam situasi kelompok, serta mendorong mereka untuk berkontribusi pada tujuan kelompok, dan juga berbagai tanggung jawab dalam mencapai tujuan (Davis dkk, 2000). Kegiatan rutin yang diselenggarakan BBIB Singosari adalah rapat internal setiap seminggu sekali, senam pagi setiap jumat, dan evaluasi secara keseluruhan pada awal/akhir tahun. Partisipasi pun terbagi dalam 3 bagian yang masing-masing mempunyai skor, yaitu :
1) Tidak Pernah : partisipasi pemimpin dalam kegiatan sama dengan atau kurang dari 1 kali dalam sebulan (skor 1)
2) Kadang : partisipasi pemimpin dalam kegiatan 2-3 kali dalam sebulan (skor 2)
3) Sering : partisipasi pemimpin dalam kegiatan lebih dari 4 kali dalam sebulan (skor 3)
Nilai masing-masing indikator diperoleh dari total skor jawaban responden atas pertanyaan pada indikator tersebut yang terdiri dari 3 nilai berskala ordinal yang terdiri dari 3, 2, dan 1. Pembagian ketiga kelas kategori dengan menggunakan rumus (Sudjana, 2012). Perhitungan kategori untuk setiap indikator dengan masing-masing 5 pertanyaan adalah sebagai berikut :
= 4 Dengan :
Kategori kelas untuk masing-masing indikator adalah :
5-9 : rendah
>9-13 : sedang
>13 : tinggi
Nilai gaya kepemimpinan (X1) diperoleh dari nilai total seluruh jawaban responden pada semua indikator di variabel bebas. Penilaian dikategorikan menjadi 3 kelas dengan jumlah pertanyaan sebanyak 20 butir. Batas atas kelas 48 dan batas bawah kelas 20 serta panjang interval 14.
= 14 Kategori kelas untuk gaya kepemimpinan yaitu : 20-34 : Gaya kepemimpinan rendah
34-48 : Gaya kepemimpinan sedang : Gaya kepemimpinan tinggi
3.3.2 Variabel Terikat
Motivasi adalah dorongan atau keinginan yang dimiliki oleh seorang pegawai untuk bekerja dengan giat dalam mencapai tujuan dirinya dan tujuan instansi. Motivasi dikelompokkan menjadi 3 bagian yang mempunyai skor masing-masing, yang dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Skor untuk Tingkat Motivasi
Skor Tingkat Motivasi
35-59 Rendah
>59-82 Sedang
>82 Tinggi
Indikator motivasi terbagi menjadi dua yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik dijelaskan sebagai berikut :
a. Faktor Intrinsik
1. Prestasi : hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung
jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegara, 2005) dalam hal ini, digolongkan menjadi beberapa kategori yaitu:
1) Kurang baik: tidak mencapainya target sesuai dengan apa yang diharapkan (skor 1).
2) Cukup baik: mendekatinya pencapaian target sesuai dengan apa yang diharapkan (skor 2).
3) Baik: tercapainya target sesuai dengan yang apa yang diharapkan (skor 3).
2. Tanggung jawab sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya., digolongkan menjadi beberapa kategori, yaitu :
1) Tanggung jawab yang rendah: pekerja tidak bersungguh-sungguh dalam bekerja dan tidak menjalankan pekerjaan dengan baik (skor 1).
2) Tanggung jawab yang sedang: pekerja biasa-biasa saja dalam bekerja, tidak terlalu buruk dan tidak terlalu baik (skor 2).
3) Tanggung jawab yang tinggi: pekerja bersungguh-sungguh dalam bekerja dan menjalankan pekerjaan dengan baik (skor 3).
3. Pengakuan : pengakuan yang diperoleh pegawai dari pihak perusahaan bahwa ia adalah orang, berprestasi, baik, diberi penghargaan, pujian, dimanusiakan, dan sebagainya, digolongkan menjadi beberapa kategori, yaitu :
1) Pengakuan yang rendah: tidak adanya penghargaan dari atasan dan instansi atas prestasi kerja (skor 1).
2) Pengakuan yang sedang: adanya penghargaan atas prestasi kerja hanya berupa pujian dari atasan (skor 2).
3) Pengakuan yang tinggi: adanya penghargaan atas prestasi kerja baik berupa pujian dari atasan maupun penghargaan yang diberikan
instansi (skor 3).
2. Faktor Ekstrinsik
1. Upah pegawai adalahhak pegawai yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan kepada pegawai yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesempatan atau peraturan perundangan-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh, dalam hal ini dikategorikan berdasarkan:
1) Rendah: upah hanya berupa upah pokok yang diberikan instansi (skor 1).
2) Sedang: upah berupa upah pokok dan tunjangan-tunjangan yang diberikan instansi (skor 2).
3) Tinggi: upah berupa upah pokok dan upah tambahan yang berasal bonus dan tunjangan-tunjangan dari instansi (skor 3).
2. Hubungan dengan rekan sekerja adalah hubungan yang terjalin antara rekan sekerja dan sebidang, digolongkan menjadi beberapa kategori, diantaranya yaitu :
1) Kurang baik: kurangnya kerjasama yang baik antar sesama pekerja sehingga tercipta kondisi yang kurang harmonis (skor 1).
2) Cukup baik: terjalinnya kerjasama yang baik tetapi hanya sebatas hubungan kerja (skor 2).
3) Baik: terjalinnya persahabatan yang erat antar sesama pekerja baik dalam bekerja maupun di luar pekerjaan (skor 3).
3. Hubungan atasan dengan bawahan adalah hubungan yang terjalin antara pegawai dengan pemimpin BBIB, dalam hal ini digolongkan menjadi beberapa kategori yaitu:
1) Kurang baik: atasan tidak pernah memberikan pengarahan, pujian/penghargaan, motivasi dalam bekerja dan tidak menjalin persahabatan dengan bawahan, baik dalam bekerja maupun di luar pekerjaan (skor 1).
2) Cukup baik: atasan hanya sekedar memberikan pengarahan,
pujian/penghargaan, motivasi hanya sebatas hubungan kerja tetapi tidak menjalin persahabatan di luar pekerjaan (skor 2).
3) Baik: atasan sering memberikan pengarahan, pujian/penghargaan, motivasi, perhatian terhadap ide bawahan dan hubungan saling mempercayai dalam bekerja serta terciptanya hubungan persahabatan antara atasan dengan bawahan didalam bekerja maupun diluar
pekerjaan (skor 3).
4. Peraturan dan kebijakan instansi, dalam hal ini dikategorikan sebagai berikut :
1) Kurang disiplin: kurangnya pengawasan dalam bekerja dari instansi, baik berupa kontrak tertulis maupun tidak tertulis (skor 1).
2) Cukup disiplin: adanya pengawasan dari instansi pada waktu-waktu tertentu saja (skor 2).
3) Disiplin: adanya pengawasan yang sangat ketat dari instansi, baik berupa kontrak tertulis maupun tidak tertulis (skor 3).
Perhitungan kategori untuk setiap indikator dengan masing-masing 5 pertanyaan adalah sebagai berikut :
= 4 Kategori kelas untuk masing-masing indikator adalah :
5-9 : rendah
>9-13 : sedang
>13 : tinggi
Nilai motivasi kerja (Y1) diperoleh dari nilai total seluruh jawaban responden pada semua indikator di variabel terikat. Penilaian dikategorikan menjadi 3 kelas dengan jumlah pertanyaan sebanyak 35 butir. Batas atas kelas dan batas bawah kelas 35 serta panjang interval 14.
= 24 Kategori kelas untuk motivasi yaitu :
35-59 : Motivasi kerja rendah
>59-83 : Motivasi kerja sedang : Motivasi kerja tinggi
3.4 Teknik Analisis
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan dan menginterpretasikan data yang ada untuk menggambarkan fenomena yang terjadi. Pengukuran masing-masing indikator variabel dilakukanr dengan skala ordinal. Skala orndinal merupakan skala pengukuran yang menunjukan persamaan serta menunjukan adanya urutan, ranking atau tingkatan. Data yang terkumpul di skoring dan dikategorikan dengan kelas-kelas interval.
3.4.1 Koefisien Korelasi
Data masing-masing variabel dijumlahkan skornya lalu dianalisis menggunakan teknik analisis non parametrik korelasi Rank-Spearman untuk mengetahui keeratan hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat (Sugiyono,2014). Rumus Rank-Spearman sebagai berikut :
Rs =
Dengan :
Rs : koefisien korelasi di : selisih setiap Rank N : banyaknya pasangan data
atau
Dimana :
x2 = Tx =
y2 = Ty =
Keterangan :
rs : Koefisien korelasi Rank-Spearman : Jumlah variabel x
: Jumlah variabel y
: Jumlah kuadrat perbedaan ranking N : Jumlah responden
Tx : Jumlah rank kembar pada variabel bebas (Xi) Ty : Jumlah rak kembar pada variabel terikat (Yi)
3.4.2 Pengujian Hipotesis Penelitian
Pengujian hipotesis dilakukan untuk menguji apakah terdapat korelasi antara variabel bebas dan variabel terikat. Untuk memperkuat validitas analisis penelitian ini dilakukan pula uji signifikansi hipotesis tersebut dengan uji t (Siegel,1997).
Keterangan :
Korelasi akan signifikan jika thitung ttabel dengan taraf nyata =0,01 yang berarti variabel tersebut reliable.
H0 : Tidak terdapat hubungan yang kuat antara gaya kepemimpinan dengan motivasi kerja pegawai.
H1 : Terdapat hubungan yang kuat antara gaya kepemimpinan dengan motivasi kerja pegawai.
Kaidah keputusan :
thitung ttabel, maka H0 diterima, artinya tidak terdapat hubungan yang kuat antara gaya kepemimpinan dengan motivasi kerja pegawai.
thitung ttabel, maka H0 ditolak, artinya terdapat hubungan yang kuat antara gaya kepemimpinan dengan motivasi kerja pegawai.
Interpretasi keeratan hubungan antara kedua variabel menggunakan aturan Guilford (Jalaludin Rakhmat,1998) pada Tabel 4.
Tabel 4. Derajat Hubungan dan Penafsiran
Nilai Koefisien Hubungan
rs < 0,020 Hubungan dua variabel sangat lemah 0,20 rs 0,40 Hubungan dua variabel lemah 0,40 rs 0,70 Hubungan dua variabel cukup berarti 0,70 rs 0,90 Hubungan dua variabel kuat
0,90 rs 1,00 Hubungan dua variabel sangat kuat