• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hutan Rakyat di Kabupaten Ciamis

Kabupaten Ciamis merupakan kabupaten yang memiliki kawasan hutan rakyat yang cukup luas di Provinsi Jawa Barat dengan luasan sekitar 31.707 ha (BPS 2010). Jenis-jenis kayu hutan rakyat yang ditanam adalah jenis sengon, mahoni, kayu rimba campuran (kelapa, tisuk, petai, caruy, kayu afrika), dan jati.

Jenis yang paling dominan dari jenis-jenis yang ditanam adalah jenis sengon.

Menurut Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Ciamis tahun 2011, pada saat ini kebutuhan kayu untuk bahan baku industri di Indonesia mencapai 50-60 juta m³ per tahun. Bahan baku untuk keperluan industri pulp dan kertas sekitar 25 juta m³ yang sebagian besar dipasok dari hutan alam. Namun kemampuan hutan produksi alam dalam penyediaan kayu semakin menurun dan terbatas. Potensi hutan rakyat dapat menjadi substitusi bahan baku kayu yang berasal dari hutan alam tersebut. Pembangunan dan pengembangan hutan rakyat merupakan salah satu bagian dari kegiatan yang termasuk rehabilitasi lahan dan perhutanan sosial.

Produksi kayu hutan rakyat di Kabupaten Ciamis setiap tahunnya mencapai 400.000 m³. Saat ini industri kayu gergajian yang ada di Kabupaten Ciamis sebanyak 438 unit yang tersebar di 22 kecamatan dengan perkiraan kebutuhan kayu bulatnya sebanyak 0,6-1,3 juta m3 per tahun. Dalam mewujudkan pengelolaan hutan rakyat lestari, maka produksi kayu hutan rakyat yang diperoleh setidaknya dapat memenuhi besarnya permintaan akan bahan baku industri.

Tingginya permintaan akan kebutuhan bahan baku kayu untuk industri yang berasal dari hutan rakyat memberikan dampak positif bagi petani. Dampak positif tersebut berupa meningkatkan pengembangan tanaman kayu dengan harapan dapat meningkatkan perekonomian petani hutan rakyat. Dengan meningkatnya perekonomian masyarakat, maka meningkat pula tingkat kesejahteraan masyarakat wilayah Kabupaten Ciamis.

(2)

5.2 Profil Pelaku Pemasaran Kayu Rakyat

Pelaku dalam usaha hutan rakyat dibedakan menjadi dua yaitu petani dan bukan petani hutan rakyat. Petani hutan rakyat merupakan pelaku utama penghasil hutan rakyat dari lahan miliknya. Sedangkan bukan petani hutan rakyat adalah pihak-pihak lain yang yang terkait dalam usaha hutan rakyat, yaitu buruh, penyedia jasa tebang, jasa angkutan, pihak yang bergerak dalam pemasaran, dan industri pengolah hasil hutan rakyat (Fakultas Kehutanan IPB 2000). Pelaku pemasaran kayu rakyat di Desa Sidamulih, Desa Margajaya, Desa Neglasari, dan Desa Bangunsari Kecamatan Pamarican terdiri dari petani hutan rakyat, pedagang pengumpul, dan industri penggergajian (sawmill).

Petani hutan rakyat pada umumnya menanam tanaman kayu di lahan milik sendiri. Jenis tanaman yang paling banyak ditanam adalah sengon (Paraserianthes falcataria), adapun tanaman jenis lain yang ditanam dengan pola hutan rakyat campuran diantaranya: mahoni (Swietenia mahagoni), jati (Tectona grandis), dan jenis kayu rimba. Tujuan petani menanam kayu rakyat yaitu untuk investasi atau tabungan di masa yang akan datang juga dapat meningkatkan perekonomian keluarga. Tabungan ini dapat digunakan untuk memenuhi keperluan mendesak yang pemenuhannya harus dilakukan dengan segera mungkin dalam jumlah yang besar. Maka peran hutan rakyat sebagai investasi atau tabungan sangat penting, karena dapat memenuhi keperluan petani kapan saja.

Pedagang pengumpul sangat berperan penting dalam pemasaran kayu rakyat. Pedagang pengumpul adalah orang yang mendistribusikan kayu rakyat dari petani sampai ke industri penggergajian. Petani dapat menjual hasil kayu rakyatnya dengan mudah dan tanpa dibebankan biaya pemanenan. Pedagang pengumpul melakukan semua kegiatan pemanenan mulai dari menebang, menyarad, dan muat bongkar. Biaya yang dibutuhkan dalam kegiatan pemanenan cukup besar sehingga dalam setiap transaksinya pedagang pengumpul harus memiliki modal yang besar. Pada umumnya pedagang pengumpul memperoleh informasi pasar langsung dari petani dengan cara menawarkan langsung apakah kayu yang dimiliki petani akan dijual. Sehingga kelangsungan usaha pedagang pengumpul ditunjang oleh para petani yang menjual kayunya ke pedagang pengumpul.

(3)

Industri penggergajian mendapatkan bahan baku produknya sebagian besar dari pedagang pengumpul, dapat dikatakan bahwa pedagang pengumpul merupakan pemasok utama bahan baku kayu rakyat untuk industri penggergajian.

Industri ini banyak menjual produk olahan ke industri besar di luar daerah kabupaten. Kapasitas produksi yang besar akan membutuhkan modal yang sangat besar pula. Kegiatan produksi yang paling banyak dilakukan berada di industri penggergajian, sehingga industri ini mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan pelaku pemasaran lainnya. Hal ini menyebabkan industri penggergajian semakin berkembang.

5.2.1 Petani Hutan Rakyat

Dalam penelitian ini, responden petani hutan rakyat yang diambil berasal dari Desa Margajaya dan Desa Sidamulih sebanyak 60 responden. Hal ini dikarenakan desa tersebut memiliki luasan dan potensi kayu rakyat yang paling tinggi dibandingkan dengan desa lain yang berada di Kecamatan Pamarican (BP3K Kecamatan Pamarican 2011). Responden petani hutan rakyat ini dapat dikelompokan berdasarkan luas lahan milik, umur, tingkat pendidikan, dan jumlah anggota keluarga.

Pengelompokan responden petani hutan rakyat pada masing-masing desa penelitian berdasarkan kelompok luas lahan yang dimilikinya dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Distribusi responden petani hutan rakyat berdasarkan luas lahan yang dimilikinya

No Desa n Luas HR (ha) Luas Lahan Pertanian (ha)

< 0,5 0,5-1 > 1 < 0,5 0,5-1 > 1

1 Margajaya 30 5 12 13 24 5 1

2 Sidamulih 30 6 14 10 23 7

jumlah (orang) 60 11 26 23 47 12 1

Persentase (%) 100 18,33 43,33 38,33 78,33 20 1,67

Menurut Fakultas Kehutanan IPB (2000) bahwa hutan rakyat di Jawa pada umumnya hanya sedikit yang memenuhi luasan sesuai dengan definisi hutan, dimana minimal harus 0,25 hektar. Hal tersebut disebabkan karena rata-rata pemilikan lahan di Jawa sangat sempit. Seperti pada Tabel 5 di atas menunjukkan

(4)

bahwa luas lahan yang dimiliki oleh petani berbeda-beda. Hal ini berkaitan dengan tingkat kekayaan setiap keluarga. Persentase terbesar pada luas hutan rakyat yaitu 43,33% terdapat pada responden yang memiliki luas lahan hutan rakyat antara 0,5-1 sebanyak 26 orang. Luasan lebih dari 1 ha sebanyak 23 orang dengan persentase sebesar 38,33%. Sedangkan persentase yang terkecil yaitu 18,33% sebanyak 11 orang terdapat pada responden petani yang memiliki luas hutan rakyat kurang dari 0,5 ha.

Pada luasan lahan pertanian yang memiliki persentase terbesar adalah responden petani yang memiliki luas kurang dari 0,5 ha dengan 78,33% sebanyak 47 orang. Luasan sedang antara 0,5-1 ha memperoleh persentase 20% sebanyak 12 orang, sedangkan persentase terkecil 1,67% terdapat pada responden petani yang memiliki luasan lahan pertanian lebih dari 1 ha sebanyak 1 orang.

Selain berdasarkan luas lahan yang dimiliki, responden petani hutan rakyat dapat dikelompokkan berdasarkan umur petani. Pengelompokkan berdasarkan umur petani pada masing-masing desa penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Distribusi responden petani hutan rakyat berdasarkan umur

No Desa Kelompok Umur (tahun) Jumlah (orang)

30-39 40-49 50-59 > 60

1 Margajaya 2 12 13 3 30

2 Sidamulih 6 9 12 3 30

Jumlah (orang) 8 21 25 6 60

Persentase (%) 13,33 35 41,67 10 100

Tabel 6 di atas menunjukkan bahwa berdasarkan kelompok umur, hutan rakyat lebih banyak diusahakan oleh responden yang berusia 40-59 tahun atau sebanyak 76,67%. Sedangkan persentase terendah 10% terdapat pada responden petani yang memiliki umur lebih dari 60 tahun. Hal ini dikarenakan tenaga yang sudah tidak kuat untuk melakukan pengusahaan hutan rakyat. Sehingga pengusahaanya diturunkan kepada anak laki-lakinya. Kelompok petani yang berusia antara 30-39 memiliki persentase yang cukup kecil pula sebesar 13,33%.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pengusahaan hutan rakyat lebih didominasi oleh generasi tua. Sedangkan generasi muda dengan usia yang produktif lebih memilih bekerja di kota daripada bekerja di desa.

(5)

Pengelompok responden petani hutan rakyat pada masing-masing desa penelitian berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Distribusi responden petani hutan rakyat berdasarkan tingkat pendidikan

No Desa Tingkat Pendidikan Jumlah (orang)

SD SLTP SLTA PT

1 Margajaya 23 6 1 0 30

2 Sidamulih 19 5 5 1 30

Jumlah (orang) 42 11 6 1 60

Persentase (%) 70 18,33 10 1,67 100

Dari hasil wawancara dengan responden dapat diketahui bahwa mayoritas petani hutan rakyat (70%) memiliki tingkat pendidikan yang masih rendah yaitu Sekolah Dasar (SD). Hal tersebut tidak menjadikan alasan bagi petani untuk melakukan pengusahaan hutan rakyat. Namun yang lebih penting adalah pengalaman dalam melakukan pengelolaan lahan yang mereka miliki. Sedangkan petani hutan rakyat yang memiliki tingkat pendidikan SLTP sebesar 18,33%, SLTA sebesar 10%, dan PT sebesar 1,67 dari total responden petani hutan rakyat.

Selain berdasarkan tingkat pendidikan, dapat pula dikelompokkan berdasarkan jumlah anggota keluarga. Pengelompok responden petani hutan rakyat pada masing-masing desa penelitian berdasarkan jumlah anggota keluarga dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Distribusi responden petani hutan rakyat berdasarkan jumlah anggota keluarga

No Desa Jumlah Anggota Keluarga (orang) Jumlah (orang)

1-3 4-6 7-10 > 10

1 Margajaya 17 12 1 0 30

2 Sidamulih 12 18 0 0 30

Jumlah (orang) 29 30 1 0 60

Persentase (%) 48,33 50 1,67 0 100

Responden petani hutan rakyat yang memiliki jumlah anggota keluarga sebanyak 4-6 orang mendapatkan persentase terbanyak 50% dari total responden.

Hal ini menunjukkan bahwa banyaknya jumlah anak akan menambah pula jumlah tenaga yang mereka miliki untuk melakukan pengusahaan hutan rakyat. Sehingga

(6)

mereka dapat bekerja sama dalam pengelolaan lahan miliknya. Namun kesejahteraan petani yang memiliki jumlah anggota keluarga lebih banyak akan berkurang. Hal ini disebabkan banyaknya tanggungan keluarga yang harus dipenuhi.

Hutan rakyat yang berada di Desa Margajaya dan Desa Neglasari memiliki luasan dan potensi pohon yang sangat besar. Rata-rata luas lahan dan jumlah pohon yang dimiliki petani dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Rata-rata luas lahan dan jumlah pohon yang dimiliki petani

No Desa Luas Lahan

Pertanian (ha) Luas HR (ha) Jumlah Pohon yang Dimiliki

1 Margajaya 0,35 1,33 828

2 Sidamulih 0,32 1,10 1.046

Berdasarkan luasannya, Desa Margajaya merupakan desa yang memiliki potensi hutan rakyat yang lebih besar dibandingkan dengan Desa Sidamulih. Hal ini terbukti dengan rata-rata luas hutan rakyat yang dimiliki petani hutan rakyat seluas 1,33 ha dengan jumlah pohon yang dimiliki rata-rata sebanyak 828 pohon.

Sama halnya dengan luasan lahan pertanian yang berada di Desa Margajaya lebih besar (0,35 ha) dibandingkan Desa Sidamulih (0,32 ha). Gambar 3 merupakan hutan rakyat yang berada di Desa Margajaya dengan sistem agroforestri yang memadukan antara tanaman kehutanan dan tanaman pertanian.

Gambar 3 Hutan rakyat di Kecamatan Margajaya.

(7)

Sedangkan rata-rata luas hutan rakyat yang dimiliki petani di Desa Sidamulih seluas 1,10 ha. Namun potensi pohon yang dimiliki petani hutan rakyat di Desa Sidamulih lebih banyak dibandingkan Desa Margajaya sebanyak 1.046 pohon. Hal tersebut dikarenakan jarak tanam yang digunakan di Desa Sidamulih lebih rapat yaitu rata-rata 3 m x 2 m dibandingkan dengan Desa Margajaya yaitu rata-rata 3 m x 6 m. Gambar 4 merupakan hutan rakyat yang berada di Desa Sidamulih dengan sistem agroforestri yang memadukan antara tanaman kehutanan dan tanaman pertanian.

Gambar 4 Hutan rakyat di Desa Sidamulih.

Dilihat dari data rata-rata lahan yang dimiliki petani, menunjukkan bahwa kedua desa tersebut memiliki luasan lahan hutan rakyat lebih besar dibandingkan dengan luas lahan pertanian. Hal tersebut dapat dilihat bahwa masyarakat sudah mulai menyadari pentingnya pembangunan hutan rakyat bagi keadaan ekonomi keluarga, ekologi, dan sosial. Data tentang rata-rata luas lahan dan potensi pohon dari masing-masing desa penelitian dapat dilihat pada Lampiran 1.

Selain dapat dijual, hasil dari kayu rakyat dapat dikonsumsi sendiri untuk pembuatan bangunan rumah dan kayu bakar. Namun pemakaian untuk konsumsi jarang dilakukan, karena kebutuhan pembuatan bangunan rumah tidak sering dilakukan. Penjualan kayu yang dilakukan oleh petani pada umumnya adalah jenis sengon, dikarenakan sengon merupakan jenis yang paling banyak ditanam di lahan para petani juga memiliki umur tebang yang relatif singkat (5 tahun).

Berikut ini disajikan persentase bentuk penjualan kayu oleh petani hutan rakyat dapat dilihat pada Tabel 10.

(8)

Tabel 10 Persentase bentuk penjualan kayu oleh petani hutan rakyat

No Desa Bentuk Penjualan Kayu (%)

Pohon Berdiri Kayu Bulat

1 Margajaya 100 0

2 Sidamulih 100 0

Bentuk penjualan kayu yang dilakukan oleh responden petani hutan rakyat dari kedua desa adalah dalam bentuk pohon berdiri (100%) . Responden petani hutan rakyat menilai bahwa sistem penjualan dalam bentuk pohon berdiri lebih menguntungkan dibandingkan dengan bentuk kayu bulat. Penjualan dalam bentuk kayu bulat mengharuskan petani hutan rakyat melakukan pemanenan sendiri mulai dari menebang sampai menyarad ke pinggir jalan untuk dijual. Hal ini tidak dilakukan karena biaya pemanenan yang cukup mahal dan petani mendapatkan resiko kerugian akibat adanya kayu gerowong yang tidak bisa dijual. Bila dibandingkan dengan pohon berdiri, petani hutan rakyat tidak perlu melakukan pemanenan sendiri karena pemanenan dilakukan sepenuhnya oleh pihak pembeli.

Data tentang penjualan kayu rakyat oleh petani hutan rakyat pada masing-masing desa penelitian dapat dilihat pada Lampiran 2.

Pemasaran kayu rakyat di lokasi penelitian termasuk mudah, petani cukup mendatangi pedagang pengumpul dan melakukan transaksinya di lahan milik petani. Harga yang ditentukan yaitu berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.

Dalam sistem penjualannya kayu rakyat biasanya dijual oleh petani dengan beberapa sistem penjualan, yaitu menghitung per pohon, kubikasi, atau borongan.

Sistem penjualan kayu rakyat oleh petani dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Sistem penjualan kayu rakyat

No Desa Sistem Penjualan (%)

Per pohon Kubikasi Borongan

1 Margajaya 0 3 97

2 Sidamulih 0 23 76

Sistem penjualan kayu rakyat oleh petani yang paling banyak digunakan dari kedua desa yaitu dengan sistem borongan sebanyak 76% sampai 97%. Sistem ini adalah sistem penjualan kayu rakyat dengan cara menghitung pohon yang akan dijual dalam luasan lahan tertentu. Harga yang ditentukan dilakukan dengan cara

(9)

kesepakatan antara petani dan pembeli. Pada awalnya petani yang akan menjual kayu menawarkan harga kepada pembeli, setelah itu pembeli menaksir banyaknya pohon yang akan di jual dalam luasan tertentu dan menaksir volume setiap pohonnya. Hasil volume akan dikalikan harga per kubik kayu yang dijualnya.

Sehingga diperoleh harga yang sesuai untuk membeli kayu dan terjadi tawar menawar antara petani dan pembeli.

Menurut petani sistem ini memiliki keuntungan yaitu kayu yang dijualnya dapat diambil semua dan petani tidak mengalami kerugian jika terdapat pohon yang gerowong. Kerugian ini ditanggung oleh pedagang pengumpul sebagai pihak pembeli. Namun sistem ini juga memiliki kekurangan yaitu harga beli yang diberikan oleh pedagang pengumpul ditentukan dengan cara menaksir volume pohon saja. Menaksir dalam hal ini adalah memperkiraan volume pohon yang akan dijual. Sehingga perhitungan volume kurang akurat yang dapat mengakibatkan petani mengalami kerugian.

Namun ada juga sebagian kecil petani yang menjual kayunya dengan sistem kubikasi sebesar 3% sampai 23%. Sistem ini biasanya dipakai jika petani sudah mengerti perhitungan volume pohon. Dalam penjualannya, pohon yang akan dijualnya dihitung diameter dan tinggi taksirannya kemudian pembeli menentukan volume pohon tersebut dengan melihat tabel tarif volume kayu.

Sistem penjualan kubikasi merupakan sistem yang paling baik karena harga beli yang diberikan pedagang pengumpul sesuai dengan volume yang akan dijual oleh petani. Keuntungan sistem ini petani akan mendapatkan harga jual yang sesuai dengan volume jualnya dan petani tidak tertipu oleh harga beli pedagang pengumpul. Namun sistem ini jarang sekali digunakan petani karena keterbatasan informasi cara menghitung volume pohon.

5.2.2 Pedagang Pengumpul

Pedagang pengumpul merupakan salah satu pelaku pemasaran kayu rakyat. Responden ini ditemui di lokasi penelitian sebanyak 15 orang dari 3 desa, yaitu: Desa Neglasari, Desa Sidamulih, dan Desa Margajaya. Pada saat melakukan wawancara terhadap responden pedagang pengumpul ini, pada umumnya dapat ditemui di rumah mereka masing-masing pada waktu tertentu. Hal ini disebabkan

(10)

waktu yang dimiliki responden ini digunakan sebaik-baiknya untuk mencari kayu yang akan dijual. Disamping itu selain menjadi pedagang pengumpul, responden ini juga sering melakukan aktivitas bertani di sawah bersama keluarga dan kerabat dekatnya.

Karakteristik responden pedagang pengumpul pada masing-masing desa dapat dikelompokkan berdasarkan kelompok umur, tingkat pendidikan, dan mata pencaharian. Persentase terbesar pada karakteristik responden pedagang pengumpul berdasarkan umur yaitu 66,67% pada responden yang berusia 40-49 tahun. Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikannya, responden pedagang pengumpul masih memiliki tingkat pendidikan rendah sebesar 66,67% yaitu tingkat pendidikan SD. Pada umumnya mata pencaharian responden pedagang pengumpul yaitu petani. Profesi sebagai pedagang pengumpul biasanya dilakukan pada saat ada penjualan kayu, apabila tidak ada responden ini melakukan kegiatan bertani.

Pengelompokkan responden pedagang pengumpul pada masing-masing desa penelitian berdasarkan umur, tingkat pendidikan, dan mata pencaharian dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12 Karakteristik pedagang pengumpul hutan rakyat di tingkat desa berdasarkan umur, tingkat pendidikan, dan mata pencaharian

Karakteristik Jumlah Persentase (%)

Umur 20-49 13 86,67

>50 2 13,33

Pendidikan SD 10 66,67

SLTP 5 33,33

SLTA 0 0

Mata Pencaharian utama Petani 10 66,67

Wiraswasta 2 13,33

Pengusaha kayu 3 20

Mata Pencaharian Sampingan Pedagang makanan 3 20

Pengusaha kayu 8 53,33

Petani 4 26,67

Responden pedagang pengumpul mendapatkan kayu dari petani langsung.

Pedagang pengumpul ini mendatangi rumah petani dan menawarkan apakah kayu yang dimiliki petani akan dijual atau tidak. Selain itu, ada juga petani yang menemui pedagang pengumpul menawarkan kayunya yang akan dijual. Bentuk

(11)

transaksi jual beli antara petani dengan pedagang pengumpul yaitu tunai. Petani biasanya menjual hasil kayu rakyat pada pedagang pengumpul yang berada pada satu desa ataupun kecamatan. Pedagang pengumpul pada umumnya merupakan keluarga petani yang memiliki modal lebih dari Rp 10 juta, sehingga mampu membeli kayu milik petani pada saat dibutuhkan. Ada pun modal yang dimiliki oleh pedagang pengumpul berasal dari hasil pinjaman industri penggergajian.

Dengan modal pinjaman yang diberikan, mengharuskan pedagang pengumpul menjual kayunya ke industri tersebut.

Kayu yang dipasarkan pedagang pengumpul ke industri penggergajian yaitu berbentuk kayu bulat (log). Hal ini disebabkan karena pedagang pengumpul tidak memiliki alat untuk penggergajian kayu, sehingga kayu yang dibeli kemudian dijual lagi ke industri penggergajian. Lokasi industri penggergajian dengan pedagang pengumpul berada pada satu kecamatan. Dalam usaha pembelian kayu, pedagang pengumpul tidak memiliki target yang tetap setiap bulannya karena daya beli pedagang sangat bergantung pada ketersediaan modal.

Pembelian kayu yang dilakukan pedagang pengumpul per bulannya sekitar 4-20 kali pembelian dan kapasitas pembelian kayu sebanyak 5-70 m³. Data mengenai kapasitas pembelian kayu rakyat oleh pedagang pengumpul dapat dilihat pada Lampiran 3.

Kegiatan pemanenan dilakukan sepenuhnya oleh pedagang pengumpul, mulai dari menebang sampai pengangkutan. Alat yang digunakan untuk menebang yaitu chainsaw, sedangkan alat untuk menyarad kayu ke pinggir jalan yaitu menggunakan motor, mobil dan tenaga manusia. Penggunaan motor dan mobil dapat dilakukan jika keadaan jalan sarad dapat dilewati. Apabila jalan sarad tidak dapat dilewati dengan kendaraan, maka penyaradan dilakukan menggunakan tenaga manusia dengan cara dipikul. Hasil pembelian kayu dapat langsung di angkut ke Tempat Penimbunan Kayu (TPK) dengan menggunakan mobil.

Pedagang pengumpul yang memiliki lahan sendiri untuk dijadikan TPK akan menampung kayunya sementara sebelum kayunya dijual ke industri penggergajian. sebaliknya jika pedagang pengumpul tidak memiliki lahan untuk TPK, maka kayu tersebut dapat langsung di bawa menuju TPK milik industri gergajian.

(12)

Gambar 5 Log di TPK pedagang pengumpul.

Pedagang pengumpul memiliki tenaga kerja yang membantu dalam kegiatan pemanenannya. Pada umumnya memiliki tenaga kerja sebanyak 5-15 orang dengan upah yang diberikan per hari berkisar anatara Rp 25.000 sampai Rp 35.000. Upah yang diberikan jumlahnya berbeda-beda sesuai dengan yang dikerjakannya. Upah operator chainsaw biasanya lebih besar daripada upah kuli panggul dalam pengangkutannya.

5.2.3 Industri Penggergajian

Industri penggergajian yang ditemukan pada saat penelitian yaitu berada di Desa Sidamulih, Desa Bangunsari, dan Desa Neglasari sebanyak 10 responden.

Produk yang dibuat dari industri penggergajian ini yaitu berupa produk olahan seperti papan dan kusen. Jenis dan ukuran produk yang dihasilkan industri penggergajian dapat dilihat pada Lampiran 4. Bahan baku yang dibuat untuk produk olahan yaitu jenis sengon. Gambar 6 merupakan gambar produk olahan kayu gergajian yang dihasilkan oleh industri penggergajian. Produk ini kemudian akan dijual ke industri yang lebih besar di luar kota.

Gambar 6 Produk olahan kayu gergajian.

(13)

Kegiatan produksi pada industri penggergajian sangat bergantung pada ketersediaan modal yang dimiliki. Modal yang dimiliki rata-rata setiap industri penggergajian adalah lebih dari Rp 100 juta. Kapasitas industri penggergajian dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13 Kapasitas industri penggergajian produk olahan

No Responden Nama Industri Lokasi Kapasitas Produksi (m³/bulan)

1 PK. Dua Sekawan Sidamulih 180

2 PK. Sinar Laksana Sidamulih 100

3 PK.Karunia Sidamulih 40

4 PK. Sono Jati Sidamulih 100

5 UD. Citra Mandiri Bangunsari 288

6 PK. Karya Jati Bangunsari 83

7 Timan Bangunsari 40

8 PK. Barokah Jaya Mandiri Bangunsari 80

9 PK. Mandala Neglasari 200

10 Rudi Karya Neglasari 125

Jumlah 1236

Rata-rata 123,6

Tabel 13 menunjukkan bahwa hampir setiap industri penggergajian memiliki nama perusahanya. Hal tersebut membuktikan bahwa industri tersebut legal dan memiliki surat izin yang sah. Rata-rata kapasitas produksi olahan per bulannya sebesar 123,6 m³. Industri ini umumnya menjual produk kayu berupa olahan ke industri besar yang berada di luar kota yaitu diantaranya Surabaya, Bekasi, Tasik, Tanggerang, Banjar, Karawang, Bogor, Depok, Jepara, Cirebon, dan Tegal. Data tujuan pemasaran oleh industri penggergajian dapat dilihat pada Lampiran 5.

Industri penggergajian ini memiliki jumlah tenaga kerja antara 10-50 orang dengan upah per hari sebesar Rp 28.000 sampai Rp 45.000. Alat penggergajian yang digunakan untuk membuat produk olahan adalah mesin Band Saw dengan merk Pandan 36. Jumlah unit yang dimiliki oleh industri penggergajian ini yaitu minimal dua unit.

(14)

Gambar 7 Alat penggergajian kayu.

Ukuran produk olahan yang dibuat berbeda-beda sesuai permintaan industri besar. Ukuran untuk pembuatan produk olahan seperti papan tebal (2,7;

3,7; 5,2) cm, panjang dengan ukuran lebih dari 1 m, dan lebar (8,10,12) cm berlaku kelipatan 2. Produk olahan yang dijual memiliki kualitas seperti super (kualitas A) dan all grade (kualitas B). Kualitas A produk yang bebas dari mata hati dan busuk, maksimal mata hati berjumlah 2. Sedangkan kualitas B boleh terdapat mata hati hanya tidak boleh busuk.

Harga jual setiap industri berbeda-beda sesuai dengan pertimbangan biaya yang mereka keluarkan. Produk olahan memiliki harga jual yang berbeda-beda sesuai kualitas produknya. Produk olahan jenis kualitas A dijual dengan harga rata-rata sekitar Rp 1,2 juta/m³ sedangkan jenis olahan kualitas B sekitar Rp 1 juta/m³. Harga jual rata-rata produk olahan dari industri penggergajian ke industri besar di luar kota yaitu sebesar Rp 1.200.000/m³. Perhitungan harga jual rata-rata untuk produk olahan dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14 Perhitungan harga jual rata-rata produk olahan

No Responden Nama Industri Harga Kayu gergajian (Rp/m³)

1 PK. Dua Sekawan 1.200.000

2 PK. Sinar Laksana 1.250.000

3 PK.Karunia 1.200.000

4 PK. Sono Jati 1.250.000

5 UD. Citra Mandiri 1.200.000

6 PK. Karya Jati 1.200.000

7 Timan 1.200.000

8 PK. Barokah Jaya Mandiri 1.200.000

9 PK. Mandala 1.100.000

10 Rudi Karya 1.200.000

Harga jual rata-rata produk olahan U1.200.000

(15)

Pada umumnya industri ini memperoleh bahan bakunya dari pedagang pengumpul. Bahan baku tersebut akan langsung dikirimkan ke TPK milik industri.

Sehingga industri penggergajian tidak disulitkan dalam hal pemenuhan bahan bakunya.

Gambar 8 Log di TPK industri penggergajian.

5.3 Karakteristik Pengelolaan Hutan Rakyat

Sistem pengelolaan hutan rakyat di Desa Sidamulih dan Desa Margajaya Kecamatan Pamarican hampir sama. Pengelolaan masih dilakukan secara tradisional dan menggunakan alat yang masih manual. Petani hutan rakyat memanfaatkan lahan mereka untuk ditanami jenis-jenis kayu rakyat yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Pola tanam yang dilakukan dalam penanaman adalah pola tanam hutan rakyat campuran (heterogen). Dalam satu luasan lahan terdapat beberapa jenis kayu rakyat yang ditanam. Jenis-jenis tersebut, antara lain:

sengon, jati, mahoni, dan kayu rimba. Petani juga menanam tanaman buah-buahan dan palawija seperti kelapa, durian, kapol, kopi, coklat dan pisang dibawah tegakan. Pengelolaan ini sangat menguntungkan bagi petani karena dapat memanfaatkan hasil yang dipanen dalam jangka waktu yang pendek dan panjang.

Jenis kayu dapat dimanfaatkan hasilnya dalam jangka waktu yang panjang dan sesuai kebutuhan, sedangkan tanaman yang berada dibawahnya dapat dipanen dalam jangka yang pendek untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sistem hutan rakyat dengan pola tersebut adalah sistem agroforestri yang memadukan antara tanaman kehutanan dengan pertanian.

(16)

Gambar 9 Hutan rakyat pola agroforestri.

Dalam pengelolaannya petani menyadari bahwa dengan adanya penanaman hutan rakyat akan memperbaiki fisik tanah, mencegah erosi, dan sebagai penghijauan. Petani pun telah melaksanakan sistem pengelolaan yang lestari dan berkelanjutan dengan memperhatikan aspek ekonomi, sosial, dan ekologi. Penanaman yang dilakukan oleh petani pada saat cuaca memungkinkan.

Penyiapan lahan dilakukan dengan pengolahan tanah dengan cara membersihkan lahan dari gulma dan pemberian pupuk kandang agar tanah menjadi subur. Setelah tanah siap digunakan petani membuat jalur tanam dan ditandai dengan menggunakan ajir dan lubang tanam seluas 30 cm x 30 cm x 30 cm. Petani dapat melakukan penyemaian sendiri disekitar lahan miliknya. Disamping itu juga petani dapat membeli bibit dari pedagang keliling yang datang ke desa. Jarak tanam yang digunakan di Desa Sidamulih rata-rata lebih rapat 3 m x 2 m dibandingkan dengan Desa Margajaya rata-rata 3 m x 6 m.

Sebagian besar petani hutan rakyat di Desa Margajaya dan Desa Sidamulih membiarkan pohonnya tanpa pemeliharaan. Petani hanya mengandalkan air hujan untuk penyiraman. Pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang ataupun buatan jarang sekali dilakukan. Hal tersebut dikarenakan tanaman tersebut telah diberi pupuk pada saat penanaman yang dicampurkan ke dalam media tanam.

Pupuk tersebut berupa pupuk bokasi yang dibuat sendiri dengan menggunakan kotoran ternak. Petani hanya memberi perlakuan terhadap pohon yang terkena hama dengan mengupas kulit dan menempelkan insektisida berupa puradan.

Penyulaman pada tanaman yang mati hanya dilakukan pada saat tanaman berumur 10-20 hari. Penjarangan pun jarang dilakukan petani karena pada saat tanaman masih kecil terdapat pohon yang mati sehingga tidak perlu dilakukan penjarangan.

(17)

Tanaman yang ditanam di bawah tegakan pohon dapat ditanam pada saat pohon kayu rakyat masih kecil. Pada umumnya tanaman buah-buahan ataupun palawija di tanam di sela-sela jarak tanam pohon kayu rakyat. Tanaman buah- buahan dan palawija hanya di pupuk sesekali jika tanaman tersebut kurang baik.

Tanaman sela yang digunakan petani pada umumnya yaitu kapol, karena kapol memiliki harga jual yang cukup tinggi.

Kegiatan Pemanenan hasil kayu rakyat dapat disesuaikan dengan kebutuhan petani. Pohon sengon dapat di panen setelah berumur lebih dari 5 tahun, sedangkan untuk jati dan mahoni dapat dipanen setelah umur lebih dari 15 tahun. Pada umumnya kegiatan pemanenan dilakukan sepenuhnya oleh pembeli kayu rakyat, sehingga petani tidak perlu mengeluarkan biaya untuk kegiatan pemanenan. Berbeda dengan tanaman yang berada dibawah tegakan dapat dipanen oleh petani sendiri berdasarkan musiman.

5.4 Analisis Struktur Pasar

Menurut Hasibuan (1993) terdapat kriteria dalam menentukan struktur pasar, yaitu jumlah perusahaan, kondisi masuk, dan tipe produk yang diperdagangkan.

5.4.1 Struktur Pasar di Tingkat Petani

Analisis struktur pemasaran perlu dilihat dari berbagai sudut pandang pelaku pasar. Pada kondisi pemasaran kayu rakyat di lokasi penelitian, jika dilihat dari sudut pandang produsen kayu (petani) adalah struktur pasar oligopoli murni dari pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul sebagai pihak pembeli kayu dari petani hutan rakyat. Hal tersebut karena dapat dilihat dari jumlah petani yang sedikit, karena pada saat petani menjual kayu tidak dalam waktu yang sama serta sifat produk yang diperjualkannya homogen.

5.4.2 Struktur Pasar di Tingkat Pedagang Pengumpul

Sama halnya jika dilihat dari sudut pandang penjual (pedagang pengumpul) struktur pasar yang terbentuk pada penelitian ini adalah struktur pasar oligopsoni murni terhadap industri penggergajian. Karena jumlah pedagang

(18)

pengumpul lebih sedikit dan komoditas yang diperdagangkannya homogen.

Kondisi ini berarti industri penggergajian sangat bergantung pada pedagang pengumpul dalam pemenuhan bahan baku.

5.4.3 Struktur Pasar di Tingkat Industri Penggergajian

Struktur pasar di tingkat industri penggergajian dilihat dari sudut pandang penjual adalah struktur pasar oligopsoni murni, karena jumlah industri penggergajian lebih sedikit dan produk yang dibuatnya homogen. Penentuan harga jual produk berdasarkan kesepakatan antara industri penggergajian dengan industry besar di kota. Adanya industri penggergajian yang baru akan menjadi pesaing bagi industri lama. Struktur pasar setiap pelaku pemasaran dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15 Struktur pasar kayu rakyat di Kecamatan Pamarican

Pelaku Pasar Sifat Produk Jumlah Produsen Struktur Pasar

Petani Homogen Sedikit Oligopoli Murni

Pedagang Pengumpul Homogen Sedikit Oligopsoni Murni Industri Penggergajian Homogen Sedikit Oligopsoni Murni

Analisis struktur pasar juga dapat dianalisis dengan menggunakan derajat konsentrasi pasar pendekatan indeks herfindahl (H). Indeks ini akan mengukur tingkat konsentrasi pasar yang terjadi dengan memperhitungkan penjumlahan hasil kuadrat dari pangsa pasar setiap pedagang. Nilai H yang diperoleh sebesar 0,188 (mendekati nol) yang berarti jika H < 0,5 maka pasar cenderung kompetitif (Lampiran 3). Kondisi pasar seperti ini akan menguntungkan bagi petani hutan rakyat karena setiap petani mempunyai kebebasan keluar masuk pasar. Sedangkan bagi pedagang pengumpul pada kondisi seperti ini sulit melakukan monopoli harga sehingga posisi tawar petani akan lebih tinggi.

Berdasarkan penelitian Sugih (2009) yang berlokasi di Kabupaten Sukabumi, struktur pasar produk kayu gergajian yang terbentuk pada tingkat petani berbeda dengan Kecamatan Pamarican oligopsoni terdiferensiasi. Hal tersebut dikarenakan struktur pasar dipandang dari sudut pandang penjual dan sifat produk yang diperdagangkannya terdiferensiasi. Sedangkan struktur pasar pada tingkat petani yang berada di Kecamatan Pamarican dilihat dari sudut

(19)

pandang pembeli (pedagang pengumpul) terhadap petani. Jumlah petani sedikit karena pada saat petani menjual kayunya tidak dalam waktu yang sama serta sifat produk yang diperdagangkannya homogen.

Struktur pasar pada tingkat pedagang pengumpul di Kabupaten Sukabumi juga berbeda dengan Kecamatan Pamarican oligopsoni terdiferensiasi. Struktur pasar dipandang sama dari sudut pandang penjual, namun yang membedakan adalah sifat produk yang diperdagangkannya terdiferensiasi. Struktur pasar pada tingkat industri penggergajian adalah pasar persaingan monopolistik, berbeda dengan struktur pasar di Kecamatan Pamarican oligopsoni murni. Hal tersebut karena di Kabupaten Sukabumi memiliki jumlah penjual (industri penggergajian) yang lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah konsumennya serta sifat produk yang diperdagangkan terdiferensiasi. Sedangkan di Kecamatan Pamarican sifat produk yang diperdagangkannya homogen.

5.5 Analisis Saluran Pemasaran Kayu Rakyat

Terdapat beberapa pelaku pemasaran pada pendistribusian kayu rakyat dalam saluran pemasaran diantaranya petani, pedagang pengumpul, dan industri penggergajian. Petani menjual kayu rakyat kepada pedagang pengumpul dan industri penggergajian. Pedagang pengumpul menjual kepada industri penggergajian. Industri penggergajian menjual kepada industri besar di luar kota yang kemudian dijual ke konsumen akhir. Saluran pemasarannya dapat dilihat pada Gambar 10 berikut.

Gambar 10 Diagram saluran pemasaran kayu rakyat.

Konsumen Akhir Petani

Industri Besar Pedagang

Pengumpul

Industri Penggergajian

(20)

Gambar 10 menjelaskan 2 saluran pemasaran yang terbentuk, sebagai berikut:

1. Saluran 1 : Petani → Pedagang Pengumpul → Industri Penggergajian → Industri Besar → Konsumen Akhir

2. Saluran 2 : Petani → Industri Penggergajian → Industri Besar → Konsumen Akhir

Saluran pemasaran yang terjadi bukan dipilih berdasarkan keuntungan yang akan diperoleh, tetapi lebih dikarenakan oleh kondisi pada saat petani menjual kayunya. Seperti pada saluran pemasaran dalam Gambar 10 terlihat bahwa petani dapat menjual kayu rakyat kepada kedua pelaku pemasaran yaitu kepada pedagang pengumpul dan industri penggergajian. Hal tersebut karena petani akan memilih pihak pembeli yang mau membeli kayunya dengan segera dengan sejumlah uang yang dia butuhkan pada saat itu. Adapun karena kedekatan antara petani dengan pihak pembeli. Dalam hal ini keputusan petani untuk memilih kepada siapa kayunya akan dijual tidak didasarkan pada seberapa besar keuntungan yang diperoleh, namun lebih didasarkan pada siapa yang bisa dengan segera membeli kayunya dengan jumlah uang yang dia butuhkan saat itu.

Pedagang pengumpul akan menjual kayunya langsung kepada industri penggergajian. Hal tersebut karena sebagian pedagang pengumpul diberi pinjaman modal dari pihak industri penggergajian yang akan menerima pembelian kayunya.

Pada umumnya mereka memiliki hubungan kekerabatan yang dekat. Industri penggergajian akan menjual hasil produknya ke industri besar yang berada di luar kota.

5.6 Analisis Pendapatan Pelaku Pemasaran Kayu Rakyat

Analisis pendapatan pada pelaku pemasaran dapat dilakukan diantaranya petani, pedagang pengumpul, dan industri penggergajian. Pada penelitian ini analisis dilakukan untuk mengetahui pendapatan pada setiap pelaku pemasaran kayu rakyat.

5.6.1 Analisis Pendapatan Petani Hutan Rakyat

Pada umumnya petani mendapatkan pendapatan dari hasil panen padi yang dapat dipanen dua kali selama satu tahun. Kayu yang dijual oleh petani pada

(21)

umumnya jenis sengon yang telah masak tebang. Harga beli kayu sengon rata-rata Rp 600.000/m³ dari petani. Kayu yang dijual rata-rata memiliki diameter 20-29 cm yang masuk kedalam kualitas OD. Untuk saat ini kualitas OP dengan diameter 10-19 cm dianggap masih kecil oleh petani sehingga akan menghasilkan harga yang lebih murah. Sedangkan kualitas OGD dengan diameter > 30 cm up, jarang sekali petani menghasilkan kayu dengan diameter yang besar karena kebutuhan petani tidak dapat diduga.

Berdasarkan analisis data primer yang diperoleh dari responden petani hutan rakyat, diketahui bahwa pendapatan rata-rata petani yang diperoleh dari hasil hutan rakyat per tahunnya sebesar 31,5% dari total pendapatan petani. Tabel 16 dibawah ini merupakan tabel analisis pendapatan petani hutan rakyat di kedua desa.

Tabel 16 Pendapatan petani hutan rakyat pada masing-masing desa

Desa N Sumber Pendapatan (Rp/tahun)

Total (Rp) Sawah (%) Kayu Rakyat (%)

Margajaya 30 115.600.000 70 50.560.000 30 166.160.000 Sidamulih 30 115.800.000 67 56.310.000 33 172.110.000

Jumlah 60 231.400.000 106.870.000 338.270.000

Rata-rata 3.856.667 68,5 1.781.167 31,5 5.637.834

Tabel 16 menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata setiap petani dari kedua sumber pendapatan sebesar Rp 5.637.834/tahun. Pendapatan yang diperoleh dari hasil kayu rakyat pertahunnya sebesar Rp 1781.167 atau setara dengan 31,5%, sedangkan pendapatan dari hasil sawah sebesar Rp 3.856.666/tahun atau setara dengan 68,5%. Data tersebut menunjukkan bahwa kontribusi nilai ekonomi hutan rakyat relatif lebih kecil. Hal ini disebabkan karena masa panen sawah lebih cepat dua kali dalam satu tahun, sedangkan kayu rakyat dapat dipanen jika pohon sudah lebih dari lima tahun.

Namun hutan rakyat tetap dipelihara dan dilestarikan, karena dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang sifatnya mendadak. Selain itu masyarakat menyadari dengan adanya hutan rakyat dapat menjaga kesuburan tanah dan menjaga agar tidak terjadi erosi. Tanaman yang berada di bawah tegakan kayu

(22)

pun dapat membantu penghasilan keluarga, karena tanaman dibawah tegakan tidak akan tumbuh baik jika di lahan terbuka.

5.6.2 Analisis Pendapatan Pedagang Pengumpul

Biaya yang dikeluarkan pedagang pengumpul dalam memperoleh kayu, antara lain: upah buruh, transportasi, dan ijin tebang. Upah untuk buruh sebesar Rp 22.500/m³, sedangkan biaya untuk membuat surat ijin tebang oleh pedagang pengumpul sebesar Rp 4.000/m³. Surat ijin ini berbentuk lembaran SKAUK (Surat Keterangan Asal Usul Kayu) yang dibuat di desa setempat. Menurut peraturan daerah Kabupaten Ciamis No. 19 tahun 2004, SKAUK adalah dokumen resmi yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang sebagai bukti kepemilikan kayu rakyat. Setiap orang atau badan usaha yang akan menebang pohon kayu rakyat untuk diperjualbelikan wajib membuat SKAUK sebagai bukti kepemilikan.

Jumlah tenaga kerja yang dimiliki rata-rata 10 orang. Rincian biaya pedagang pengumpul dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17 Rincian biaya pedagang pengumpul

Kategori Biaya Jumlah (Rp/bulan) Persentase (%)

Upah 562.500 65

Transportasi 210.000 24

Ijin Tebang 100.000 11

Total 872.500 100

Pedagang pengumpul memiliki kapasitas pembelian kayu yang berbeda- beda tergantung modal yang dimiliki. Pembelian kayu yang dilakukan pedagang pengumpul per bulannya sekitar 4-20 kali pembelian dengan volume rata-rata pembelian sebesar 25 m³/bulan. Rata-rata harga pembelian kayu rakyat dari petani sebesar Rp 600.000/m³. Kemudian pedagang pengumpul akan menjual kayunya kepada industri penggergajian dengan rata-rata harga sebesar Rp 700.000/m³ dengan biaya total yang ditanggung perbulannya sekitar Rp 872.500. Maka dapat dihitung pendapatan rata-rata pedagang pengumpul per bulannya yaitu sebesar Rp 1.627.500 atau Rp 65.100/m³. Analisis pendapatan pedagang pengumpul dapat dilihat pada Tabel 18.

(23)

Tabel 18 Analisis pendapatan pedagang pengumpul kayu rakyat

Kategori Jumlah

Volume rata-rata pembelian (m³/bulan) 25

Harga (Rp/m³) Beli 600.000

Jual 700.000

Biaya (Rp) perbulan (Rp/bln) 872.500

Pendapatan perbulan (Rp/bln) 1.627.500

Per m³ (Rp/m³) 65.100

5.6.3 Analisis Pendapatan Industri Penggergajian

Biaya yang dikeluarkan industri penggergajian sangat besar, yaitu: fixed cost dan variable cost. Biaya fixed cost merupakan biaya tetap atau biaya yang tidak berubah-ubah jika dikeluarkan setiap bulannya walaupun jumlah barang yang dihasilkannya berubah. Pada umumnya industri penggergajian memiliki tempat sendiri sehingga tidak perlu menyewa tempat untuk dijadikan TPK.

Sedangkan variable cost merupakan biaya yang dapat berubah-ubah tergantung dari jumlah barang yang dikeluarkannya. Biaya tersebut diantaranya biaya dokumen dan transportasi. Jenis yang diperjualbelikannya adalah jenis produk olahan berupa kayu gergajian. Rincian dan persentase biaya industri penggergajian produk olahan dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19 Rincian dan persentase biaya industri penggergajian produk olahan kayu gergajian

Fixed Cost Jumlah (Rp/bln) % Variable Cost Jumlah (Rp/bln) % Upah buruh 2.781.000 9,28 Dokumen 4.944.000 16,49

0 Transportasi 22.248.000 74,23

Total 2.781.000 9,28 Total 27.192.000 90,72

Tabel 19 menunjukkan bahwa persentase biaya variable sebesar (90,72%) lebih besar dibandingkan dengan biaya tetap sebesar 9,23%. Biaya dokumen untuk jenis olahan yang dikeluarkan salah satunya Faktur Angkutan Kayu Olahan (FAKO). Dalam pengiriman produk olahan ke luar kota harus disertai dengan FAKO, dokumen ini harus dibuat sebelum kegiatan pengiriman barang ke industri yang berada di luar kota. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa kayu yang dikirim merupakan kayu legal. Biaya untuk pembuatan dokumen FAKO rata-rata sebesar Rp 40.000/m³, sedangkan biaya transportasi tiap pengiriman produk olahan kayu gergajian ke luar kota yaitu rata-rata sebesar Rp 180.000/m³. Dari

(24)

biaya-biaya diatas dapat dihitung pendapatan yang diterima oleh industri penggergajian dalam bentuk produk olahan yang dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20 Analisis pendapatan industri penggergajian produk olahan kayu gergajian

Jenis Produk

Volume Jual (m³/bln)

Harga (Rp/m³) Biaya Total (Rp/bln)

Pendapatan (Rp/bln)

Beli Jual

Palet 123,6 700.000 1.200.000 29.973.000 31.827.000

Berdasarkan data primer yang telah diolah, volume jual industri penggergajian dalam bentuk kayu olahan perbulannya rata-rata 123,6 m³. Industri penggergajian ini mendapatkan bahan baku kayu dalam bentuk log dari pedagang pengumpul dengan harga Rp 700.000/m³. Bahan baku yang diperoleh diolah menjadi produk kayu olahan yang dijual ke luar kota dengan harga rata-rata Rp 1.200.000/m³, sehingga industri penggergajian ini memperoleh pendapatan sebesar Rp 31.827.000/bulan.

5.7 Analisis Marjin dan Efisiensi Pemasaran Kayu Rakyat 5.7.1 Analisis Marjin Pemasaran Kayu Rakyat

Marjin pemasaran kayu rakyat merupakan perbedaan harga yang diterima oleh petani sebagai produsen dengan harga yang diterima konsumen. Marjin pemasaran kayu rakyat dianalisis berdasarkan saluran pemasaran yang terjadi dengan menghitung keuntungan pemasaran yang diperoleh dan biaya pemasaran yang dikeluarkan. Dalam hal ini yang dipasarkan adalah produk kayu olahan.

Besarnya biaya, marjin, dan keuntungan pemasaran kayu rakyat dapat dilihat pada Tabel 21.

Tabel 21 Biaya, marjin, dan keuntungan pemasaran kayu sengon

Saluran Pelaku Pemasaran Rasio

Petani (%)

Pedagang Pengumpul (%)

Industri Penggergajian (%)

Pemasaran Farmer's

Share C π Marjin C π Marjin π/C

1 50 3,87 4,46 8,33 21,88 19,79 41,67 2,06

2 54,17 25,75 20,08 45,83 0,78

Keterangan: c = biaya, π = keuntungan

(25)

Pemasaran produk kayu sengon berdasarkan Tabel 21 di atas, marjin pemasaran tertinggi diterima oleh industri penggergajian pada saluran 2 yaitu sebesar 45,83% dari harga beli konsumen (industri besar). Pada saluran 2 ini, industri penggergajian bertindak sebagai pengolah kayu dan menjual kayunya dalam bentuk kayu olahan. Industri penggergajian ini mendapatkan bahan baku kayu rakyat langsung dari petani. Sedangkan marjin pemasaran yang paling kecil diterima oleh pedagang pengumpul pada saluran 1 sebesar 8,33%. Hal ini dikarenakan pendistribusian bahan baku yang dilakukan oleh pedagang pengumpul hanya kepada industri penggergajian. Sehingga akan mendapatkan keuntungan yang relatif lebih kecil.

Marjin yang diterima masing-masing saluran pemasaran ditentukan oleh biaya yang dikeluarkan dan keuntungan yang diperoleh. Pada lokasi penelitian, dalam pemasaran kayu rakyatnya biaya pemanenan tidak menjadi tolok ukur utama bahkan cenderung diabaikan. Dalam hal ini, pedagang pengumpul memperoleh marjin yang kecil. Sehingga pedagang pengumpul harus menekan harga serendah mungkin ditingkat petani agar keuntungan yang diperoleh semakin besar.

Saluran pemasaran kayu rakyat pada lokasi penelitian memiliki total marjin pemasaran antara 45,83% sampai 50%. Total marjin pemasaran yang paling tinggi pada saluran 1 sebesar 50%. Sedangkan saluran kedua memiliki total marjin yang rendah 45,83% (Lampiran 7). Adapun total biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing saluran pemasaran adalah sama sebesar 25,75%. Dan total keuntungan yang diperoleh dari saluran 1 dan 2, yaitu: sebesar 24,25% dan sebesar 20,08%.

5.7.2 Analisis Efisiensi Pemasaran Kayu Rakyat

Efisiensi pemasaran dapat dilihat berdasarkan marjin pemasaran, biaya pemasaran, dan farmer’s share yang diterima oleh petani. efisiensi dari suatu tindakan ekonomi adalah besarnya keuntungan yang diperoleh dan sedikitnya biaya yang dikeluarkan. Dengaan hal itu, maka efisiensi pemasaran dapat terjadi jika biaya yang dikeluarkan sangat kecil untuk memperoleh keuntungan

(26)

pemasaran yang besar. Terdapat beberapa pelaku pemasaran kayu rakyat diantaranya petani hutan rakyat, pedagang pengumpul, dan industri penggergajian.

Dari pelaku-pelaku pemasaran tersebut membentuk dua saluran pemasaran dalam mendistribusikan hasil hutan rakyat. Farmer’s share menggambarkan tingginya harga jual di tingkat petani, sehingga saluran pemasaran yang memiliki farmer’s share yang tinggi akan menjadi saluran pemasaran yang menguntungkan bagi petani. Besarnya marjin pemasaran yang diperoleh akan mempengaruhi besarnya farmer’s share pada tingkat petani. Nilai farmer’s share yang diterima oleh petani pada saluran 1 dan 2, yaitu: sebesar 50% dan sebesar 54,17%.

Keuntungan pemasaran dapat diperoleh dari pengurangan marjin pemasaran dengan biaya pemasaran. Semakin besar biaya pemasaran yang dikeluarkan maka keuntungan yang diperoleh semakin kecil. Biaya pemasaran dan keuntungan pemasaran dapat digabungkan dengan rasio π/C. Rasio ini merupakan perbandingan antara keuntungan dan biaya yang dikeluarkan. Nilai dari perbandingan ini dapat digunakan sebagai indikator efisiensi pemasaran.

Nilai perbandingan π/C pada saluran 1 dan 2, yaitu: sebesar 2,06% dan sebesar 0,78%.

Berdasarkan nilai farmer’s share dan nilai marjin pemasaran, saluran pemasaran yang paling efisien di lokasi penelitian adalah saluran pemasaran 2.

Karena saluran pemasaran 2 ini memiliki nilai farmer’s share yang paling besar, walaupun saluran ini memiliki rasio K/B yang terkecil dibandingkan saluran pemasaran 1. Tetapi saluran 2 ini memiliki nilai marjin yang paling kecil dibandingkan nilai farmer’s share-nya.

5.8 Kecenderungan Hubungan Antar Karakteristik Petani Hutan Rakyat Analisis tabulasi silang digunakan untuk mengetahui kecenderungan hubungan antar karakteristik petani hutan rakyat. Karakteristik yang digunakan, yaitu: luas hutan rakyat, luas lahan pertanian, pendapatan, umur, pendidikan, dan sistem penjualan.

Tabel 22 menunjukkan bahwa semakin luas lahan pertanian maka luas lahan hutan rakyat cenderung meningkat. Hal ini dikarenakan pada umumnya pekerjaan petani yang memiliki lahan hutan rakyat adalah bertani. Petani yang

(27)

memiliki luasan lahan pertanian yang lebih luas akan mendapatkan pendapatan yang lebih besar. Pada umumnya petani akan menginvestasikan kekayaannya dengan mengusahakan hutan rakyat, maka semakin luas lahan pertanian akan semakin luas pula lahan hutan rakyat yang dimiliki petani.

Tabel 22 Rata-rata luas lahan pertanian dan rata-rata luas hutan rakyat

Luas Lahan Pertanian (ha) Luas Hutan Rakyat (ha) Jumlah

0,21 < 0,5 11

0,24 0,5-1 26

0,52 > 1 23

Tabel 23 dibawah ini menunjukkan bahwa semakin luas lahan hutan rakyat, maka akan semakin tinggi pendapatan yang diperoleh. Hal ini dikarenakan kayu rakyat yang dapat dipanen akan lebih banyak dibandingkan dengan luasan lahan hutan rakyat yang lebih kecil.

Tabel 23 Rata-rata luas hutan rakyat dan rata-rata pendapatan responden Luas Hutan Rakyat (ha) Rata-Rata Pendapatan (Rp) Jumlah

< 0,5 6.727.273 11

0,5-1 7.617.308 26

> 1 10.882.609 23

Kecenderungan hubungan antara luas lahan hutan rakyat dengan umur yaitu berbanding lurus. Pada umumnya petani yang lebih tua memiliki lahan hutan rakyat yang lebih luas. Hal ini menunjukkan bahwa pengusahaan hutan rakyat lebih didominasi oleh generasi tua. Pada umumnya generasi muda tidak tertarik untuk melakukan pengusahaan hutan rakyat dan lebih memilih bekerja di kota.

Tabel 24 di bawah ini merupakan kecenderungan hubungan antara rata-rata luas lahan hutan rakyat dan sebaran umur petani.

Tabel 24 Rata-rata luas hutan rakyat dan sebaran umur responden

Luas Hutan Rakyat (ha)

Umur (tahun)

Jumlah 30-39 40-49 50-59 >60

< 0,5 3 2 3 2 10

0,5-1 2 13 11 1 27

> 1 3 6 11 3 23

Jumlah 8 21 25 6 60

(28)

Secara umum dapat dikatakan bahwa luas kepemilikan hutan rakyat di Kecamatan Pamarican tidak berhubungan dengan tingkat pendidikan responden.

Tingkat pendidikan responden yang tinggi tidak selalu paralel dengan kepemilikan hutan rakyat yang lebih luas. Tabel 25 merupakan kecenderungan hubungan antara rata-rata luas hutan rakyat dan pendidikan responden.

Tabel 25 Rata-rata luas hutan rakyat dan tingkat pendidikan responden

Luas Hutan Rakyat

Pendidikan

Jumlah

SD SLTP SLTA PT

< 0,5 6 3 1 0 10

0,5-1 21 4 2 0 27

> 1 15 4 3 1 23

Jumlah 42 11 6 1 60

Tabel 26 menunjukkan bahwa pada umumnya petani yang memiliki luas hutan rakyat lebih besar cenderung memilih menggunakan sistem penjualan borongan. Sistem penjualan borongan ini lebih menguntungkan, karena petani tidak perlu melakukan pemanenan mulai dari menebang sampai muat bongkar.

Biaya pemanenan akan ditanggung oleh pihak pembeli. Namun sistem ini juga memiliki kekurangan yaitu harga beli yang diberikan oleh pedagang pengumpul ditentukkan dengan cara menaksir volume pohon. Sistem penjualan kubikasi merupakan sistem penjualan yang paling baik karena harga beli yang diberikan oleh pedagang pengumpul sesuai dengan volume yang akan dijual. Namun sistem ini jarang sekali digunakan karena keterbatasan petani dalam menghitung volume pohon.

Tabel 26 Sistem penjualan kayu rakyat dan rata-rata luas hutan rakyat rakyat Sistem Penjualan Rata-Rata Luas Hutan Rakyat (ha) Jumlah

Perpohon 0 0

Kubikasi 1,18 8

Borongan 1,24 52

Tabel 27 menunjukkan bahwa pada umumnya petani yang menggunakan sistem penjualan borongan memiliki rata-rata pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem penjualan lain. Hal ini karena dengan sistem penjualan borongan petani dapat menjual kayu lebih banyak.

(29)

Tabel 27 Sistem penjualan kayu rakyat dan rata-rata pendapatan responden Sistem Penjualan Rata-Rata Pendapatan (Rp) Jumlah

Perpohon 0 0

Kubikasi 7.825.000 8

Borongan 8.787.736 52

Tabel 28 menunjukkan bahwa petani yang memiliki umur yang lebih tua cenderung memilih sistem penjualan borongan. Hal ini dikarenakan petani hutan rakyat memiliki keterbatasan dalam menghitung volume pohon. Kecenderungan tersebut dapat dilihat pada Tabel 28 dibawah ini.

Tabel 28 Sistem penjualan kayu rakyat dan sebaran umur responden

Sistem Penjualan

Umur

Jumlah 30-39 40-49 50-59 > 60

Perpohon 0 0 0 0 0

Kubikasi 0 5 3 0 8

Borongan 8 16 22 6 52

Jumlah 8 21 25 6 60

Secara umum dapat dikatakan bahwa sistem penjualan kayu rakyat di Kecamatan Pamarican tidak berhubungan dengan tingkat pendidikan responden.

Tabel 29 Sistem penjualan kayu rakyat dan tingkat pendidikan responden

Sistem Penjualan

Pendidikan

Jumlah

SD SLTP SLTA PT

Perpohon 0 0 0 0 0

Kubikasi 4 2 2 0 8

Borongan 38 9 4 1 52

Jumlah 42 11 6 1 60

Gambar

Tabel  5    Distribusi  responden  petani  hutan  rakyat  berdasarkan  luas  lahan  yang  dimilikinya
Tabel 6  Distribusi responden petani hutan rakyat berdasarkan umur
Tabel 7  Distribusi responden petani hutan rakyat berdasarkan tingkat pendidikan
Tabel 9  Rata-rata luas lahan dan jumlah pohon yang dimiliki petani
+7

Referensi

Dokumen terkait

Petani dengan luas lahan hutan rakyat yang besar juga memiliki lahan pertanian yang ditanami dengan tanaman pangan sehingga mereka tidak lagi akan mengkonversi hutan

Rata- rata SDM petani masih relatif rendah. Hal ini terlihat dari rata-rata petani yang berpendidikan SMP dan SMA. Tetapi walaupun berpendidikan rendah, petani

Dari data yang diperoleh dapat diketahui bahwa terdapat beragam jenis tanaman yang ditanam oleh petani hutan rakyat di Kabupaten Kulonprogo, baik dari

Upaya pengelolaan yang dilakukan oleh petani hutan terhadap tegakan sengon dapat dilihat dari pernyataan ke 9 yang menyatakan bahwa penanaman sengon di daerah Pasir Madang

Responden dikelompokan ke dalam tiga skala usaha berdasarkan luasan lahan murbei yang dimiliki, yaitu skala usaha I dengan luas lahan 1 ha di Desa Sukamekar, skala usaha II

Petani dengan luas lahan hutan rakyat yang besar juga memiliki lahan pertanian yang ditanami dengan tanaman pangan sehingga mereka tidak lagi akan mengkonversi hutan rakyatnya menjadi

Biaya pajak tanah pertanian yang dikeluarkan dalam usahatani kopi arabika Poktan Hutan Giri Senang untuk luas lahan rata-rata yang dimiliki petani kopi yaitu 2 Ha dan rata-rata pohon

Hasil Produksi yang diterima petani karet juga berdasarkan dari luas lahan yang dimiliki petani, jika apabila rata-rata luas lahan petani hanya 2 Ha maka dapat dilihat hasil produksi