• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 51

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Penelitian ini dilakukan pada Sekolah Dasar Negeri di Dabin V Kecamatan Kradenan Kabupaten Grobogan, dimana pada Dabin V Kradenan ini terdapat 10 buah SD Negeri. Adapun sampel yang digunakan dalam penelitian ini hanya 3 SD yaitu SDN 2 Sengonwetan dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang digunakan untuk uji coba, sedangkan SDN 3 Kradenan dan SDN 3 Sambongbangi digunakan sebagai subjek penelitian.

Dalam penelitian ini penulis mengambil dua sekolahan, satu sekolahan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) yaitu SDN 3 Kradenan dengan jumlah siswa sebanyak 20 orang dan sekolahan satunya model pembelajaran Group investigation (GI) yaitu SDN 3 Sambongbangi dengan jumlah siswa sebanyak 18 orang.

Masing-masing siswa pada kelompok dengan model pembelajaran NHT dan dan model pembelajaran GI diberikan angket disiplin belajar yang berjumlah 21 item, sehingga diperoleh total skor dari masing-masing responden yang selanjutnya dilakukan uji normalitas data. Hasil uji normalitas data disiplin belajar dipeeroleh Nilai Lilliefors sebesar 0,246 dengan p < 0,05 yang menunjukkan data berdistribusi data disiplin belajar adalah tidak normal. Maka penentuan tinggi dan rendahnya kategori disiplin belajar menggunakan median. Nilai median yang diperoleh pada total skor data disiplin belajar adalah 78,5 ; sehingga jika skor yang diperoleh < 78,5 maka disiplin belajar siswa termasuk dalam kategori rendah dan jika skor yang diperoleh ≥ disiplin belajar maka disiplin belajar siswa termasuk dalam kategori tinggi (lampiran halaman 117).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dari 29 siswa dalam kelompok siswa dengan model pembelajaran NHT terdapat 9 siswa yang mempunyai disiplin belajar yang tinggi dan sebanyak 11 siswa lainnya mempunyai disiplin belajar rendah.

Sedangkan pada kelompok siswa dengan model pembelajaran GI, dari 18 siswa diketahui terdapat 10 siswa yang mempunyai disiplin belajar tinggi dan 8 siswa lainnya mempunyai disiplin belajar rendah. Pengelompokkan masing-masing kelompok ini dapat dilihat pada tabel berikut :

(2)

commit to user Tabel 5

Pengelompokan Disiplin Belajar Siswa dan Model Pembelajaran B

A

Disiplin belajar

Total

Tinggi Rendah

Model Pembelajaran NHT

N = 9

= 86,67 N = 11 X = 73,25

N =20 X = 77,14 Model Pembelajaran

GI

N = 10 X = 76,29

N = 8 X = 72,86

N = 18 X = 74,76

Total N = 19

X = 81,20

N = 19 X = 73,08

N = 38 X = 8,35 Lampiran 16 halaman 126

Penilaian prestasi belajar IPA diperoleh berdasarkan hasil jawaban soal sebanyak 35 buah soal dengan bobot 100% pada siswa sebagai anggota sampel, yaitu pada kelompok siswa dengan menggunakan model pembelajaran NHT dan model GI.

Prestasi belajar mata pelajaran IPA menggunakan standar penilaian 0 sampai dengan 100, sehingga kategori prestasi belajar IPA ditetapkan berdasarkan lima kategori yaitu :

Tabel 6

Penentuan Kategori Prestasi belajar IPA Rentang Nilai Kategori 80,01 – 100,00 Sangat Tinggi

60,01 – 80,00 Tinggi

40,01 – 60,00 Sedang

20,01 – 40,00 Rendah

0 – 20,00 Sangat Rendah

Statistik deskriptif prestasi belajar IPA pada masing-masing kelompok penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 7

Deskriptif Data Hasil Prestasi Belajar IPA

B

A Sumber

Statistik

Disiplin Belajar

Total Tinggi (B1) Rendah

(B2)

Model

Pembelajaran

NHT (A1)

N 9 11 20

Min 80 60 60

Max 94,29 82,86 94,29

Mean 86,67 73,25 77,14

SD 4,29 6,42 8,35

GI (A2)

N 10 8 18

Min 65,71 57,14 57,14

Max 88,57 77,14 88,57

Mean 76,29 72,86 74,76

SD 7,97 6,66 7,42

(3)

commit to user Total

N 19 19 38

Min 65,71 57,14 57,14

Max 94,29 82,86 94,29

Mean 81,20 73,08 77,14

SD 8,27 6,34 8,35

Lampiran halaman 128

Hasil belajar IPA pada masing-masing kelompok penelitian dapat dilihat pada penjelasan berikut :

1. Prestasi belajar IPA dengan Model Pembelajaran NHT

Berdasarkan data penelitian diketahui bahwa dari 20 siswa yang menggunakan model pembelajaran NHT diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar IPA sebesar 77,14 dan termasuk dalam kategori tinggi, dengan maksimum sebesar 94,29 dan nilai minimum sebesar 60 dengan standar deviasi 8,35. Distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA pada kelompok ini dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut :

Tabel 8

Prestasi Belajar IPA pada Kelompok Model Pembelajaran NHT

Kategori Interval Frekuensi

(orang)

Persentase (%)

Sangat Tinggi 80,01 – 100,00 9 45,0

Tinggi 60,01 – 80,00 10 50,0

Sedang 40,01 – 60,00 1 5,0

Rendah 20,01 – 40,00 - -

Sangat Rendah 0,00 – 20,00 - -

Total 20 100,0

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

(4)

commit to user Gambar 1

Prestasi Belajar IPA pada Kelompok Model Pembelajaran NHT

Tabel 8. menunjukkan distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA pada kelompok model pembelajaran NHT, dimana diketahui terdapat 9 siswa (45,0%) yang memperoleh prestasi belajar tergolong sangat tinggi dengan skor antara 80,01 – 100; dan 10 siswa (50,0%) memperoleh prestasi belajar tergolong tinggi dengan skor antara 60,01 – 80; serta 1 siswa (5,0%) memperoleh prestasi belajar tergolong sedang dengan skor antara 40,01 – 60. Berdasarka data tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar IPA pada kelompok model pembelajaran NHT tergolong tinggi.

2. Prestasi belajar IPA dengan Model Pembelajaran GI

Berdasarkan data data penelitian diketahui bahwa dari 18 siswa yang menggunakan pendekatan pembelajaran GI diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar IPA sebesar 74,76 dan termasuk dalam kategori tinggi, nilai maksimum sebesar 88,57 dan nilai minimum sebesar 57,14 dengan standar deviasi 7,42. Distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA pada kelompok ini dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut:

NHT

0 0

1

10

9

0 2 4 6 8 10 12

0 - 20 20,01 - 40 40,01 - 60 60,01 - 80 80,01 - 100

Frekuensi (orang)

(5)

commit to user Tabel 9

Prestasi Belajar IPA pada Kelompok Model Pembelajaran GI

Kategori Interval Frekuensi

(orang)

Persentase (%)

Sangat Tinggi 80,01 – 100,00 3 16,7

Tinggi 60,01 – 80,00 14 77,8

Sedang 40,01 – 60,00 1 5,5

Rendah 20,01 – 40,00 - -

Sangat Rendah 0,00 – 20,00 - -

Total 18 100,0

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Gambar 2

Prestasi Belajar IPA pada Kelompok Model Pembelajaran GI

Tabel 9. menunjukkan distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA pada kelompok model pembelajaran GI, diketahui terdapat 3 siswa (16,7%) memperoleh prestasi belajar tergolong sangat tinggi dengan skor antara 80,01 – 100;

terdapat 14 siswa (77,8%) memperoleh prestasi belajar tergolong tinggi dengan skor antara 60,01 – 80; dan terdapat 1 siswa (5,5%) memperoleh prestasi belajar tergolong sedang dengan skor antara 40,01 – 60. Berdasarka data tersebut dapat

GI

0 0

1

14

3

0 2 4 6 8 10 12 14 16

0 - 20 20,01 - 40 40,01 - 60 60,01 - 80 80,01 - 100

Frekuensi (orang)

(6)

commit to user

disimpulkan bahwa prestasi belajar IPA pada kelompok model pembelajaran GI tergolong tinggi.

3. Prestasi Belajar IPA pada Siswa dengan Disiplin Belajar Tinggi

Hasil penelitian diketahui terdapat 19 siswa yang mempunyai disiplin belajar tinggi dengan nilai rata-rata prestasi belajar IPA sebesar 81,20 dan termasuk dalam kategori sangat tinggi. Nilai maksimum yang diperoleh pada siswa yang memiliki disiplin belajar tinggi adalah 94,29 dan nilai minimum 65,71 dengan standar deviasi 8,27. Distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA pada kelompok ini dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut :

Tabel 10

Prestasi Belajar IPA pada Siswa dengan Disiplin Belajar Tinggi

Kategori Interval Frekuensi

(orang)

Persentase (%)

Sangat Tinggi 80,01 – 100,00 11 57,9

Tinggi 60,01 – 80,00 8 42,1

Sedang 40,01 – 60,00 - -

Rendah 20,01 – 40,00 - -

Sangat Rendah 0,00 – 20,00 - -

Total 19 100,0

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Gambar 3

Prestasi Belajar IPA pada Siswa dengan Disiplin Belajar Tinggi

Disiplin Belajar Tinggi

0 0 0

8

11

0 2 4 6 8 10 12

0 - 20 20,01 - 40 40,01 - 60 60,01 - 80 80,01 - 100

Frekuensi (orang)

(7)

commit to user

Tabel 10. menunjukkan distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA pada siswa yang memiliki disiplin belajar tinggi, diketahui terdapat 11 siswa (57,9%) memperoleh prestasi belajar tergolong sangat tinggi dengan skor antara 80,01 – 100; dan 8 siswa (42,1%) memperoleh prestasi belajar tergolong tinggi dengan skor antara 60,01 – 80. Jadi prestasi belajar IPA pada siswa yang mempunyai disiplin belajar tinggi adalah tergolong sangat tinggi.

4. Prestasi Belajar IPA pada Siswa dengan Disiplin Belajar Rendah

Data penelitian menunjukkan terdapat 19 siswa yang mempunyai disiplin belajar rendah dengan nilai rata-rata prestasi belajar IPA sebesar 73,08 dan termasuk dalam kategori tinggi. Nilai maksimum yang diperoleh pada siswa yang memiliki disiplin belajar rendah adalah 82,86 dan nilai minimum 57,14 dengan standar deviasi 6,34. Distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA pada kelompok ini dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut :

Tabel 11

Prestasi Belajar IPA pada Siswa dengan Disiplin Belajar Rendah

Kategori Interval Frekuensi

(orang)

Persentase (%)

Sangat Tinggi 80,01 – 100,00 1 5,3

Tinggi 60,01 – 80,00 16 84,2

Sedang 40,01 – 60,00 2 10,5

Rendah 20,01 – 40,00 - -

Sangat Rendah 0,00 – 20,00 - -

Total 19 100,0

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

(8)

commit to user Gambar 4

Prestasi Belajar IPA pada Siswa dengan Disiplin Belajar Rendah

Tabel 11. menunjukkan distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA pada siswa yang memiliki disiplin belajar rendah, diketahui terdapat 1 siswa (5,3%) memperoleh prestasi belajar tergolong sangat tinggi dengan skor antara 80,01 – 100;

dan 16 siswa (84,2%) memperoleh prestasi belajar tergolong tinggi dengan skor antara 60,01 – 80; dan 2 siswa (10,5%) memperoleh prestasi belajar tergolong sedang dengan skor antara 40,01 – 60. Jadi prestasi belajar IPA pada siswa yang mempunyai disiplin belajar rendah adalah tergolong tinggi.

5. Prestasi Belajar IPA pada Siswa Disiplin Belajar Tinggi dengan Model Pembelajaran NHT

Hasil penelitian diketahui terdapat 9 siswa dengan model pembelajaran NHT mempunyai disiplin belajar tinggi diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar IPA sebesar 86,67 dan termasuk dalam kategori sangat tinggi. Nilai maksimum yang diperoleh pada siswa dengan menggunakan model pembelajaran NHT dan disiplin belajar tinggi adalah 94,29 dan nilai minimum sebesar 80 dengan standar deviasi 4,27. Distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA pada kelompok ini dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut :

Disiplin Belajar Rendah

0 0

2

16

1

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

0 - 20 20,01 - 40 40,01 - 60 60,01 - 80 80,01 - 100

Frekuensi (orang)

(9)

commit to user Tabel 12

Prestasi Belajar IPA pada Siswa Disiplin Belajar Tinggi dengan Model Pembelajaran NHT

Kategori Interval Frekuensi

(orang)

Persentase (%)

Sangat Tinggi 80,01 – 100,00 8 88,9

Tinggi 60,01 – 80,00 1 11,1

Sedang 40,01 – 60,00 - -

Rendah 20,01 – 40,00 - -

Sangat Rendah 0,00 – 20,00 - -

Total 9 100,0

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Gambar 5

Prestasi Belajar IPA pada Siswa Disiplin Belajar Tinggi dengan Model Pembelajaran NHT

Tabel 12 menunjukkan distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA kelompok model pembelajaran NHT pada siswa yang memiliki disiplin belajar tinggi, diketahui terdapat 8 siswa (88,8%) memperoleh prestasi belajar tergolong sangat tinggi dengan skor antara 80,01 – 100; dan 1 siswa (11,1%) memperoleh prestasi belajar tergolong tinggi dengan skor antara 60,01 – 80. Jadi prestasi belajar IPA pada kelompok model pembelajaran NHT pada siswa yang memiliki disiplin belajar tinggi adalah tergolong sangat tinggi.

NHT- Disiplin Belajar Tinggi

0 0 0

1

8

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

0 - 20 20,01 - 40 40,01 - 60 60,01 - 80 80,01 - 100

Frekuensi (orang)

(10)

commit to user

6. Prestasi Belajar IPA pada Siswa Disiplin Belajar Rendah dengan Model Pembelajaran NHT

Hasil penelitian diketahui terdapat 11 siswa dengan model pembelajaran NHT mempunyai disiplin belajar rendah diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar IPA sebesar 73,25 dan termasuk dalam kategori tinggi. Nilai maksimum yang diperoleh pada siswa dengan menggunakan model pembelajaran NHT dan disiplin belajar rendah adalah 82,86 dan nilai minimum sebesar 60 dengan standar deviasi 6,42. Distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA pada kelompok ini dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut :

Tabel 13

Prestasi Belajar IPA pada Siswa Disiplin Belajar Rendah dengan Model Pembelajaran NHT

Kategori Interval Frekuensi

(orang)

Persentase (%)

Sangat Tinggi 80,01 – 100,00 1 9,1

Tinggi 60,01 – 80,00 9 81,8

Sedang 40,01 – 60,00 1 9,1

Rendah 20,01 – 40,00 - -

Sangat Rendah 0,00 – 20,00 - -

Total 11 100,0

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Gambar 6

Prestasi Belajar IPA pada Siswa Disiplin Belajar Rendah dengan Model Pembelajaran NHT

NHT - Disiplin Belajar Rendah

0 0

1

9

1

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

0 - 20 20,01 - 40 40,01 - 60 60,01 - 80 80,01 - 100

Frekuensi (orang)

(11)

commit to user

Tabel 13. menunjukkan distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA kelompok model pembelajaran NHT pada siswa yang memiliki disiplin belajar rendah, diketahui terdapat 1 siswa (9,1%) memperoleh prestasi belajar tergolong sangat tinggi dengan skor antara 80,01 – 100; dan 9 siswa (81,8%) memperoleh prestasi belajar tergolong tinggi dengan skor antara 60,01 – 80, serta 1 siswa (9,1%) memperoleh prestasi belajar tergolong sedang dengan skor antara 40,01 – 60. Jadi perastasi belajar IPA pada kelompok model pembelajaran NHT pada siswa yang memiliki disiplin belajar rendah adalah tergolong tinggi.

7. Prestasi Belajar IPA pada Siswa Disiplin Belajar Tinggi dengan Model Pembelajaran GI

Hasil penelitian diketahui terdapat 10 siswa dengan model pembelajaran GI memiliki disiplin belajar tinggi diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar IPA sebesar 76,29 dan termasuk dalam kategori tinggi. Nilai maksimum yang diperoleh pada siswa dengan menggunakan model pembelajaran GI dan disiplin belajar tinggi adalah 88,57 dan nilai minimum sebesar 65,71 dengan standar deviasi 7,97.

Distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA pada kelompok ini dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut :

Tabel 14

Prestasi Belajar IPA pada Siswa Disiplin Belajar Tinggi dengan Model Pembelajaran GI

Kategori Interval Frekuensi

(orang)

Persentase (%)

Sangat Tinggi 80,01 – 100,00 3 30,0

Tinggi 60,01 – 80,00 7 70,0

Sedang 40,01 – 60,00 - -

Rendah 20,01 – 40,00 - -

Sangat Rendah 0,00 – 20,00 - -

Total 10 100,0

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

(12)

commit to user Gambar 7

Prestasi Belajar IPA pada Siswa Disiplin Belajar Tinggi dengan Model Pembelajaran GI

Tabel 14. menunjukkan distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA kelompok model pembelajaran GI pada siswa yang memiliki disiplin belajar tinggi, diketahui terdapat 3 siswa (30,0%) memperoleh prestasi belajar tergolong sangat tinggi dengan skor antara 80,01 – 100; dan 7 siswa (70,0%) memperoleh prestasi belajar tergolong tinggi dengan skor antara 60,01 – 80. Jadi prestasi belajar IPA pada siswa yang memiliki disiplin belajar tinggi dengan kelompok model pembelajaran GI adalah tergolong tinggi.

8. Prestasi Belajar IPA pada Siswa Disiplin Belajar Rendah dengan Model Pembelajaran GI

Hasil penelitian diketahui terdapat 8 siswa dengan model pembelajaran GI mempunyai disiplin belajar rendah diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar IPA sebesar 72,86 dan termasuk dalam kategori tinggi. Nilai maksimum yang diperoleh pada siswa dengan menggunakan model pembelajaran GI dan disiplin belajar tinggi adalah 77,14 dan nilai minimum sebesar 57,14 dengan standar deviasi 6,66.

Distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA pada kelompok ini dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut :

GI - Disiplin Belajar Tinggi

0 0 0

7

3

0 1 2 3 4 5 6 7 8

0 - 20 20,01 - 40 40,01 - 60 60,01 - 80 80,01 - 100

Frekuensi (orang)

(13)

commit to user Tabel 15

Prestasi Belajar IPA pada Siswa Disiplin Belajar Rendah dengan Model Pembelajaran GI

Kategori Interval Frekuensi

(orang)

Persentase (%)

Sangat Tinggi 80,01 – 100,00 - -

Tinggi 60,01 – 80,00 7 87,5

Sedang 40,01 – 60,00 1 12,5

Rendah 20,01 – 40,00 - -

Sangat Rendah 0,00 – 20,00 - -

Total 8 100,0

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Tabel 15. menunjukkan distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA kelompok model pembelajaran GI pada siswa yang memiliki disiplin belajar tinggi, diketahui terdapat 7 siswa (87,5%) memperoleh prestasi belajar tergolong tinggi dengan skor antara 60,01 – 80; dan terdapat 1 siswa (12,5%) memperoleh prestasi belajar tergolong tinggi dengan skor antara 40,01 – 60. Jadi prestasi belajar IPA pada siswa yang memiliki disiplin belajar tinggi pada kelompok model pembelajaran GI adalah tergolong tinggi.

Gambar 8

Prestasi Belajar IPA pada Siswa Disiplin Belajar Rendah dengan Model Pembelajaran GI

GI - Disiplin Belajar Rendah

0 0

1

7

0 0

1 2 3 4 5 6 7 8

0 - 20 20,01 - 40 40,01 - 60 60,01 - 80 80,01 - 100

Frekuensi (orang)

(14)

commit to user 9. Prestasi Belajar IPA Keseluruhan Subjek Penelitian

Berdasarkan data penelitian diketahui dari 38 siswa yang menggunakan model pembelajaran NHT maupun model pembelajaran GI, serta siswa yang memiliki disiplin belajar yang tinggi maupun rendah diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar IPA sebesar 77,14 dan termasuk dalam kategori tinggi. Nilai maksimum yang diperoleh adalah 94,29 dan nilai minimum sebesar 57,14 dengan standar deviasi 8,35. Distribusi frekuensi kategori belajar IPA pada keseluruhan subjek penelitian dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut :

Tabel 16

Prestasi Belajar IPA pada Keseluruhan Siswa

Kategori Interval Frekuensi

(orang)

Persentase (%)

Sangat Tinggi 80,01 – 100,00 12 31,6

Tinggi 60,01 – 80,00 24 63,2

Sedang 40,01 – 60,00 2 5,3

Rendah 20,01 – 40,00 - -

Sangat Rendah 0,00 – 20,00 - -

Total 38 100,0

Gambar 9

Prestasi belajar IPA pada Keseluruhan Siswa

Tabel 16 menunjukkan distribusi frekuensi kategori prestasi belajar IPA pada keseluruhan subjek penelitian diketahui terdapat 12 siswa (31,6%) mempunyai prestasi belajar tergolong sangat tinggi dengan skor antara 80,01 – 100; terdapat 24

Total

0 0

2

24

12

0 5 10 15 20 25 30

0 - 20 20,01 - 40 40,01 - 60 60,01 - 80 80,01 - 100

Frekuensi (orang)

(15)

commit to user

siswa (63,2%) mempunyai prestasi belajar tergolong tinggi dengan skor antara 60,01 – 80; dan 2 siswa (5,3%) mempunyai prestasi belajar tergolong sedang dengan skor antara 40,01 – 60. Jadi dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar IPA pada keseluruhan subjek penelitian adalah tergolong tinggi.

B. Uji Prasyarat Analisis 1. Uji Prasyarat

a. Kesamaan Rata-Rata (Uji Tahap Awal)

Data yang digunakan sebagai uji tahap awal untuk kesamaan rata-rata uji keseimbangan adalah nilai rapor mata pelajaran IPA. Hasil nilai mata pelajaran IPA pada siswa kelas V SDN 3 Kradenan yang menggunakan model pembelajaran NHT sebanyak 20 siswa dan siswa kelas V SDN 3 Sambongbangi yang menggunakan model pembelajaran GI sebanyak 18 siswa dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 17

Statistik Deskriptif Nilai Rapor Mata Pelajaran IPA

Sekolah N Min Max Mean Standard

Deviation

SDN 3 Kradenan 20 58 88 73,10 6,80

SDN 3

Sambongbangi 18 61 85 74,22 6,34

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan data hasil penelitian diketahui nilai rapor pelajaran IPA pada siswa kelompok model pembelajaran NHT dan siswa kelompok model pembelajaran GI mempunyai nilai rata-rata yang hampir sama yaitu masing- masing 73,10 dan 74,22. Selanjutnya untuk uji kesetaraan antara kedua kelompok tersebut digunakan uji-t.

Hasil uji-t diketahui tidak terdapat perbedaan yang hasil nilai rapor mata pelajaran IPA pada kelompok model pembelajaran NHT dan siswa kelompok model pembelajaran GI, diperoleh nilai t = 0,525 dan p = 0,603 sehingga p >

0,05; maka disimpulkan bahwa subjek penelitian (kelompok siswa model pembelajaran NHT dan kelompok siswa dengan model pembelajaran GI) mempunyai kemampuan awal yang sama pada mata pelajaran IPA

(16)

commit to user b. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui bahwa kelompok siswa yang dijadikan sampel berasal dari populasi yang normal. Uji normalitas menggunakan SPSS for Windows Release 17.0 dengan uji Lilliefors, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 18

Uji Normalitas Data Prestasi belajar IPA

Kelompok N p Lilliefors Keputusan Uji Simpulan Keseluruhan Subjek 38 0,200 Ho diterima Normal Model Pembelajaran NHT 20 0,200 Ho diterima Normal Model Pembelajaran GI 18 0,200 Ho diterima Normal Disiplin Belajar Tinggi 19 0,200 Ho diterima Normal Disiplin Belajar Rendah 19 0,200 Ho diterima Normal Sumber: Data primer yang diolah, 2015. Lampiran 14 halaman 123

Berdasarkan hasil uji normalitas terhadap prestasi belajar IPA pada kesuluruhan subjek penelitian, kelompok model pembelajaran NHT, kelompok model pembelajaran GI, kelompok siswa dengan disiplin belajar tinggi, dan kelompok siswa dengan disiplin belajar rendah menunjukkan bahwa data memiliki distribusi normal, yang ditunjukkan dengan nilai p > 0,05.

c. Uji Homogenitas

Perhitungan uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah variansi dalam kelompok-kelompok dalam penelitian adalah sama. Uji homogenitas menggunakan SPSS for Windows Release 17.0 dengan uji F Levene Statistic.

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh hasil hitung Levene Statistic lampiran halaman 122, menunjukkan F = 1,144 dengan p = 0,345 sehingga p > 0,05 ; hal ini berarti tidak ada perbedaan varian antara kelompok-kelompok yang ada pada penelitian (yaitu : kelompok model pembelajaran NHT, kelompok model pembelajaran GI, kelompok siswa dengan disiplin belajar tinggi, dan kelompok siswa dengan disiplin belajar rendah), sehingga data prestasi belajar IPA pada kelompok-kelompok yang ada tersebut menunjukkan data yang homogen.

(17)

commit to user C. Pengujian Hipotesis

Uji hipotesis penelitian menggunakan analisis Two-Way Anova dengan formulasi anova 2 x 2, setelah diketahui bahwa data prestasi belajar IPA pada sampel penelitan mempunyai distribusi yang normal dan mempunyai variansi yang homogen.

Rangkuman hasil uji Two-Way Anova dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 19

Uji Hipotesis dengan Uji Two-Way Anova

Sumber JK Dk RK F P Keterangan

Model

Pembelajaran (A)

271,706 1 271,706 6,406 0,016 Signifikan Disiplin

Belajar (B) 664,647 1 664,647 15,669 0,000 Signifikan Interaksi AB 233,801 1 233,801 5,512 0,025 Signifikan

Galat 1442,191 34 Total 228718,719 38 Lampiran halaman 128

Hasil Uji Two-Way Anova pengujian hipotesis dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPA pada kelompok model

pembelajaran NHT dan model pembelajaran GI, dengan nilai F = 6,406 dan p = 0,016 sehingga p < 0,05 dimana nilai rata-rata prestasi belajar IPA pada kelompok model pembelajaran NHT sebesar 79,29 lebih besar dibandingkan dengan nilai rata- rata prestasi belajar IPA pada kelompok model pembelajaran GI sebesar 74,76 sehingga hipotesis diterima.

2. Terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPA pada kelompok siswa yang mempunyai disiplin belajar tinggi dan siswa yang mempunyai disiplin belajar rendah dengan nilai F = 15,669 dan p = 0,000 sehingga p < 0,05 dimana nilai rata- rata prestasi belajar IPA pada siswa yang mempunyai disiplin belajar tinggi sebesar 81,20 lebih besar dibandingkan dengan nilai rata-rata prestasi belajar IPA pada kelompok siswa yang mempunyai disiplin belajar rendah sebesar 73,08 sehingga hipotesis diterima.

3. Terdapat interaksi pengaruh model pembelajaran dan disiplin belajar terhadap prestasi belajar IPA dengan nilai F = 5,512 dan p = 0,025 sehingga p < 0,05 dimana nilai rata-rata prestasi belajar IPA pada kelompok model pembelajaran NHT pada siswa dengan disiplin belajar tinggi mempunyai nilai tertinggi sebesar

(18)

commit to user

86,67. Sedangkan nilai rata-rata terendah sebesar 72,86 terjadi pada kelompok model pembelajaran GI pada siswa dengan disiplin belajar rendah.

Pengujian hipotesis ketiga menunjukkan hasil yang signifikan, sehingga dilakukan pengujian lanjutan yaitu dengan uji Scheffe yang dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar IPA pada empat kelompok dalam penelitian ini yaitu : kelompok model pembelajaran NHT, kelompok pembelajaran GI, kelompok siswa dengan disiplin belajar tinggi, dan kelompok siswa dengan disiplin belajar rendah, yang terangkum pada tabel berikut :

Tabel 20 Hasil Uji Scheffe

Sumber: Data primer yang diolah, 2015 Lampiran halaman 128 No Sumber Variansi

Mean Difference

(I-J)

p Interpretasi Keterangan

1.

Model Pembelajaran NHT dengan

Disiplin Belajar Tinggi vs Rendah

13,413 0,001 p < 0,05 Signifikan

2.

Model Pembelajaran GI dengan Disiplin Belajar Tinggi vs Rendah

3,428 0,747 p > 0,05 Tidak Signifikan

3.

Disiplin Belajar Tinggi pada Model Pembelajaran NHT vs GI

10,328 0,015 p < 0,05 Signifikan

4.

Disiplin Belajar Rendah pada Model Pembelajaran NHT vs GI

0,390 0,999 p > 0,05 Tidak Signifikan

5.

Disiplin Belajar Tinggi pada Model Pembelajaran NHT vs Disiplin Belajar Rendah pada Model Pembelajaran GI

13,809 0,002 p < 0,05 Signifikan

6.

Disiplin Belajar Rendah pada Model Pembelajaran NHT vs Disiplin Belajar Tinggi pada Model Pembelajaran NHT GI

-3,308 0,768 P > 0,05 Tidak Signifikan

(19)

commit to user

Berdasarkan tabel 4.16 tentang uji Scheffe tersebut dapat dijelaskan hasil sebagai berikut :

a. Hasil uji Scheffe diketahui terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPA pada kelompok dengan model pembelajaran NHT antara siswa yang memiliki disiplin belajar tinggi dan rendah, ditunjukkan dengan nilai mean difference (I-J) sebesar 13,413 dan p = 0,001 sehingga p < 0,05.

b. Hasil uji Scheffe diketahui tidak terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPA pada kelompok dengan model pembelajaran GI antara siswa yang memiliki disiplin belajar tinggi dan rendah, ditunjukkan dengan nilai mean difference (I-J) sebesar 3,428 dan p = 0,747 sehingga p > 0,05.

c. Hasil uji Scheffe diketahui terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPA pada siswa yang memiliki disiplin belajar tinggi antara kelompok dengan model pembelajaran NHT dan model pembelajaran GI, ditunjukkan dengan nilai mean difference (I-J) sebesar 10,328 dan p = 0,015 sehingga p < 0,05.

d. Hasil uji Scheffe diketahui tidak terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPA pada siswa yang memiliki disiplin belajar rendah antara kelompok dengan model pembelajaran NHT dan model pembelajaran GI, ditunjukkan dengan nilai mean difference (I-J) sebesar 0,390 dan p = 0,999 sehingga p > 0,05.

e. Hasil uji Scheffe diketahui terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPA pada siswa yang memiliki disiplin belajar tinggi pada model pembelajaran NHT dan siswa yang memiliki disiplin belajar rendah pada model pembelajaran GI, ditunjukkan dengan nilai mean difference (I-J) sebesar 13,809 dan p = 0,002 sehingga p < 0,05.

f. Hasil uji Scheffe diketahui tidak terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPA pada siswa yang memiliki disiplin belajar rendah pada model pembelajaran NHT dan siswa yang memiliki disiplin belajar tinggi pada model pembelajaran GI, ditunjukkan dengan nilai mean difference (I-J) sebesar -3,308 dan p = 0,768 sehingga p > 0,05.

(20)

commit to user D. Pembahasan

Berdasarkan penelitian diperoleh hasil penelitian yang terangkum dalam pembahasan berikut :

1. Perbedaan Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran NHT dan GI terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas V pada Pembelajaran IPA Sekolah Dasar Negeri Dabin V Kecamatan Kradenan Kabupaten Grobogan

Hasil perhitungan analisis Two-Way Anova diketahui terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPA pada kelompok model pembelajaran NHT dan model pembelajaran GI, dengan nilai F = 6,406 dan p < 0,05 ; dimana nilai rata- rata prestasi belajar IPA pada kelompok model pembelajaran NHT lebih besar dibandingkan dengan nilai rata-rata prestasi belajar IPA pada kelompok model pembelajaran GI. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tiara Dewi Gustaviana.2013. Pengaruh model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) terhadap hasil belajar siswa di kelas IV SD di Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikansi yang diperoleh yaitu 0,012 yang < 0.05 α, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan tipe NHT dengan yang menggunakan metode konvensional.

Model pembelajaran NHT merupakan suatu cara penyajian pelajaran dengan melakukan percobaan, mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu permasalahan yang dipelajari. Dengan model NHT siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang suatu objek dan keadaan suatu proses pembelajaran mata pelajaran tertentu. Menurut Muhammad Nur (2005:6) model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok dengan ciri khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya tanpa memberitahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya tersebut. Sehingga cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa. Cara ini upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok. Slavin dalam penelitiannya mengemukakan “bahwa hasil penelitiannya menunjukkan unggul dalam

(21)

commit to user

meningkatkan bahwa teknik-teknik pengajaran kooperatif lebih hasil belajar“, (Ibrahim dkk, 2000:16). Sehingga model pengajaran kooperatif sangat baik digunakan untuk siswa yang berkemampuan rendah, sedang, maupun tinggi. Model pembelajaran Numbered Heads Together juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama mereka. Model ini dapat digunakan untuk semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan peserta didik. Satu aspek penting dalam pengajaran kooperatif adalah bahwa di samping pengajaran kooperatif membantu mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik diantara siswa, pengajaran kooperatif secara bersamaan membantu siswa dalam pengajaran akademis mereka.

2. Perbedaan Pengaruh Disiplin Belajar Siswa Tinggi dan Rendah terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas V pada Pembelajaran IPA Sekolah Dasar Negeri Dabin V Kecamatan Kradenan Kabupaten Grobogan

Hasil perhitungan analisis Two-Way Anova diketahui terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar IPA pada kelompok siswa yang mempunyai disiplin belajar tinggi dan siswa yang mempunyai disiplin belajar rendah, dengan nilai F = 15,669 dan p < 0,05 ; dimana nilai rata-rata prestasi belajar IPA pada siswa yang mempunyai disiplin belajar tinggi lebih besar dibandingkan dengan siswa yang mempunyai disiplin belajar rendah. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kristinawati, Ike. 2010. Pengaruh Disiplin Belajar dan Perhatian Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Akuntansi Keuangan di SMK Negeri 1 Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial diperoleh hasil bahwa variabel disiplin belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar dan variabel perhatian orang tua juga berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa

Kedisiplinan siswa merupakan penuturan terhadap suatu peraturan dengan kesadaran sendiri untuk terciptanya tujuan peraturan itu (Subari, 2004: 164). Setiap pembelajaran pasti ada evaluasi ketika diadakan evaluasi hasil belajar yang dicapai siswa antara siswa yang mempunyai kedisiplinan tinggi dengan siswa yang mempunyai kedisiplinan rendah pasti akan berbeda,sebab dengan adanya kedisiplinan tinggi siswa terdorong untuk belajar sehingga siswa mampu

(22)

commit to user

berpengetahuan yang luas akhirnya hasil belajar yang dihasilkan tinggi dan memuaskan. Siswa yang memiliki kedisiplinan belajar menyadari kebutuhan akan ilmu pengetahuan untuk mendapatkan hasil belajar yang baik. Caranya yakni dengan pembiasaan diri untuk belajar maka siswa tersebut akan giat belajar juga melaksanakan semua tugas sekolahnya tepat waktu. Dengan kedisiplinan belajar, siswa tidak menumpuk tugas pada satu waktu, mempelajari materi ujian dengan bartahap dan siswa mempunyai waktu istirahat yang cukup sehingga siswa akan mendapat hasil yang maksimal dan memuaskan.

Sebaliknya yang terjadi siswa pada yang mempunyai kedisiplinan rendah maka siswa akan mendapatkan nilai yang rendah karena kurangnya kesadaran dan usaha dalam diri siswa untuk mengembangkan kedisiplinan belajar. Siswa yang memiliki kedisiplinan tinggi memiliki hasil belajar lebih baik daripada siswa yang memiliki kedisiplinan rendah, ketika siswa memiliki kedisiplinan untuk belajar maka kemampuannya akan semakin meningkat, dan hal tersebut berlaku sebaliknya ketika siswa jarang atau malas belajar maka hasil belajarnya juga akan kurang optimal. Berdasarkan hasil penelitian tersebut kedisiplinan siswa mempengaruhi prestasi belajar pada mata pelajaran IPA, siswa yang memiliki kedisiplinan tinggi lebih baik dari siswa yang memiliki kedisiplinan rendah.

3. Interaksi Pengaruh antara Penggunaan Model Pembelajaran dan Disiplin Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas V pada Pembelajaran IPA Sekolah Dasar Negeri Dabin V Kecamatan Kradenan Kabupaten Grobogan

Hasil Hasil perhitungan analisis Two-Way Anova diketahui terdapat interaksi pengaruh media pembelajaran dan disiplin belajar siswa terhadap prestasi belajar IPA dengan nilai F = 5,512 dan p < 0,05 dimana nilai rata-rata prestasi belajar IPA pada kelompok model pembelajaran NHT pada siswa dengan disiplin belajar tinggi mempunyai nilai tertinggi. Sedangkan nilai rata-rata terendah terjadi pada kelompok model pembelajaran GI pada siswa dengan disiplin belajar rendah. Pada model pembelajaran NHT siswa yang memiliki kedisiplinan belajar tinggi memperoleh prestasi belajar IPA yang lebih baik dibandingkan dengan siswa mempunyai disiplin rendah, begitu juga yang terjadi pada siswa yang diberiakan model pembelajaran GI,

(23)

commit to user

siswa yang memiliki kedisiplinan belajar tinggi memperoleh prestasi belajar IPA yang lebih baik dibandingkan dengan siswa mempunyai disiplin rendah

Pada pelaksanaan pembelajaran keberhasilan belajar bukan saja disebabkan adanya faktor dari dalam diri siswa, melainkan juga dari faktor luar siswa. Faktor penggunaan model pembelajaran NHT yang digunakan guru dipandang sebagai faktor dari luar siswa, sedangkan kedisiplinan belajar IPA siswa dipandang sebagai faktor dari dalam siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran NHT dan GI serta dan kedisiplinan siswa mempunyai pengaruh yang besar terhadap peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA.

.

Gambar

Tabel  8.  menunjukkan  distribusi  frekuensi  kategori    prestasi  belajar  IPA  pada  kelompok  model  pembelajaran  NHT,  dimana  diketahui  terdapat  9  siswa  (45,0%)  yang  memperoleh  prestasi  belajar  tergolong  sangat  tinggi  dengan  skor  anta
Tabel  10.  menunjukkan  distribusi  frekuensi  kategori    prestasi  belajar  IPA  pada  siswa  yang  memiliki  disiplin  belajar  tinggi,  diketahui  terdapat  11  siswa  (57,9%)  memperoleh  prestasi  belajar  tergolong  sangat  tinggi  dengan  skor  an
Tabel  11.  menunjukkan  distribusi  frekuensi  kategori    prestasi  belajar  IPA  pada siswa yang memiliki disiplin belajar rendah, diketahui terdapat 1 siswa (5,3%)  memperoleh prestasi belajar tergolong sangat tinggi dengan skor antara 80,01 – 100;
Tabel  13.  menunjukkan  distribusi  frekuensi  kategori    prestasi  belajar  IPA  kelompok  model  pembelajaran  NHT  pada  siswa  yang  memiliki  disiplin  belajar  rendah,  diketahui  terdapat  1  siswa  (9,1%)  memperoleh  prestasi  belajar  tergolong
+4

Referensi

Dokumen terkait

Pada tahun 2014, Jumlah mitra komersial yang menerapkan hasil litbangyasa iptek nuklir ditargetkan sebanyak 3 mitra dengan realisasi sebanyak 3 mitra komersial atau capaian

Tujuan bimbingan karir adalah membantu siswa untuk memahami dan mengarahkan dirinya dalam proses persiapan memasuki dunia kerja atau menyiapkan diri dalam memasuki dunia pendidikan

Menurut PIC ESAP, seiring berjalannya waktu pada program ESAP, timbul berbagai permasalahan seperti peningkatan kemampuan dari para peserta berkemampuan lebih tinggi dan

dampak variabel-variabel risiko dilihat dari sudut pandang frekuensi faktor risiko terhadap biaya dan waktu pelaksanaan proyek serta respon resiko yang akan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 11 Yogyakarta dan SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta didapatkan bahwa responden didominasi oleh tinggal bersama kedua orang tua

Source: Bisnis Indonesia Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, realisasi belanja modal hingga akhir Februari 2021 mencapai Rp 22,8

Hal ini terlihat pada lebar koridor yang lebih lebar dibandingkan dengan area hunian, cahaya pada bukaan jendela yang lebar lebih banyak masuk ke area podium, ruang

Musabaqah Hifzhil Qur’an Battle adalah jenis lomba pelantunan ayat-ayat suci al-Quran dengan metode hafalan yang dipertandingkan, sehingga yang akan diujikan adalah