• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI SASTRA MELAYU FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM STUDI SASTRA MELAYU FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM HIKAYAT RAJA PASAI

SKRIPSI

DIKERJAKAN OLEH SIKTUS J BANUREA

130702017

PROGRAM STUDI SASTRA MELAYU FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020

MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

UCAPAN TERIMAKASIH

Puji dan syukur pengkaji ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan kesehatan dan kemudahan pada pengkaji, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Dalam proses penyelesaian skripsi ini, banyak orang-orang yang telah mendukung pengkaji sehingga skripsi ini akhirnya terselesaikan dengan baik, pada kesempatan kali ini pengkaji mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S,. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Rozanna Mulyani, M.A, selaku Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Melayu, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

3. Dra. Mardiah Mawar Kembaren, M.A, Ph.D sebagai Sekretaris Program Studi Bahasa dan Sastra Melayu, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, sekaligus dosen pembimbing pengkaji yang telah membimbing, memotivasi, memberikan saran dan nasehat kepada pengkaji dalam penyusunan skripsi ini.

4. Bapak/Ibu staf pengajar Program Studi Sastra Melayu, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmunya kepada pengkaji selama bangku perkuliahan.

5. Kak Tri dan Bang Prayogo, yang telah banyak membantu dalam peroses penyelesaian berkas-berkas yang terkait pada skripsi pengkaji.

6. Ayahanda J Banurea dan Ibunda R Simangunsong, yang telah

(7)
(8)

Nilai Pendidikan Karakter Dalam Hikayat Raja Pasai

Oleh: Siktus J Banurea

Abstrak

Judul skripsi ini adalah “ Nilai Pendidikan Karakter Dalam Hikayat Raja Pasai” adapun yang menjadi permasalahan dalam skripsi ini, bagaimanakah unsur intrisik dalam Hikayat Raja Pasai, bagaimanakah nilai pendidikan karakter dalam Hikayat Raja Pasai. tujuan penelitian iniadalah mendeskripsikan nilai pendidikan karakter dalam Hikayat Raja Pasai. teori yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan ini yaitu teori pendidikan karakter(zubaedi).

Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif deskriptif.

Hasil analisis dalam Hikayat Raja Pasai memiliki unsur intrinsik yang

meliputi alur lurus, latar dalam Hikayat Raja Pasai yaitu latar tempat, latar

waktu, dan latar sosial budaya dan tokoh-penokohan dalam Hikayat Raja Pasai

yaitu Raja Ahmad, Raja Muhammad, Merah Silau/Sultan Malikul Saleh, Sultan

Malikul Mahmud, Sultan Malikul Mansur, dan Sultan Ahmad Perumundal

Perundal, nilai pendidikan karakter dalam Hikayat Raja Pasai yaitu Religius,

jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreaktif, mandiri, demokratis, rasa ingin

tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat dan

komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan

tanggung jawab.

(9)
(10)
(11)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR DIAGRAM ... vii

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Masalah ... 4

1.4.Manfaat Penelitian ... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.3 Kajian yang relevan ... 5

2.1 Teori yang digunakan ... 6

2.2.1 Teori Struktural ... 6

2.2.2 Antropologi Sastra ... 8

2.2.1.1 Nilai Pendidikan Karakter ... 9

BAB III. METODE PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian ... 13

3.2. Metode Pengumpulan Data... 13

3.3. Sumber Data ... 13

3.4. Teknik Analisis Data ... 14

BAB IV. PEMBAHASAN 4.1 Ringkasan Cerita ... 15

4.2 Alur, Latar Penokohan ... 24

(12)

4.2.1 Alur ... 24

4.2.2 Latar ... 39

4.2.3 Tokoh dan Penokohan ... 50

4.3 NILAI PENDIDIKAN KARAKTER 4.3.1 Religius ... 56

4.3.2 Jujur ... 58

4.3.3 Toleransi ... 59

4.3.4 Disiplin ... 59

4.3.5 Kerja Keras ... 60

4.3.6 Berfikir Kreatif ... 60

4.3.7 Mandiri ... 61

4.3.8 Demokrasi ... 62

4.3.9 Rasa Ingin Tahu ... 63

4.3.10 Semangat Kebangsaan ... 64

4.3.11 Cinta Tanah Air ... 65

4.3.12 Menghargai Prestasi ... 67

4.3.13 Bersahabat dan Komunikatif ... 67

4.3.14 Cinta Damai ... 68

4.3.15 Gemar Membaca... 69

4.3.16 Peduli Lingkungan ... 70

4.3.17 Peduli Sosial ... 70

4.3.18 Tanggung Jawab ... 71

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

(13)

5.2 Saran ... 80

DAFTAR PUSTAKA ...81

(14)

DAFTAR ISI DIAGRAM

4.1 Diagram Struktur Ringkasan Cerita HRP ... 23

4.2.1 Diagram Alur Cerita HRP ... 38

4.2.2 Diagram Latar HRP ... 49

4.2.3 Diagram Tokoh Dan Penokohan HRP ... 55

4.3 Diagram Pendidikan Karakter ... 73

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kesusastraan Melayu tradisional merupakan sumber kajian bagi pengkaji internasional maupun pengkaji nasional sebagai khazanah keintelektualan masyarakat pada masa lampau. Sastra merupakan “suatu ungkapan pribadi manusia berupa suatu pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa (Sumardjo & Saini dalam Rokhmansyah 2013:2). Anggreini (2017:1) mengatakan bahwa karya sastra merupakan ungkapan perasaan masyarakat yang dapat mencerminkan dan mengekspresikan hidup

Karya sastra merupakan “suatu alat penggambaran kehidupan sastrawan yang didasarkan kepada pengalaman yang telah diperolehnya dari realitas kehidupan di masyarakat yang dituangkan ke dalam bentuk karya sastra, dengan menggunakan bahasa sebagai alat untuk menimbulkan rasa khusus yang mengandung nilai estetik, sebagai sarana komunikasi yang mampu menyampaikan informasi pembacanya” (Istiqomah dkk 2014:1).

Hikayat merupakan salah satu jenis prosa Melayu berisi berbagai ragam

cerita yang menggambarkan tentang sastra rakyat, dongeng-dongeng atau cerita-

cerita yang muncul setelah masuknya agama Islam, berupa sastra keagamaan,

sastra sejarah dan sastra undang-undang, (Fang dalam Huda 2012:2). Hikayat

merupakan cerita yang menggambarkan tentang cerita ajaib sebagai hasil dari

imajinasi dan fantasi pengarang yang menceritakan tentang kepahlawanan orang-

orang disekitar istana, para raja, atau orang suci. Cerita dalam hikayat

(16)

mengisahkan tentang peristiwa yang bersifat rekaan tetapi memuat silsilah dan cerita sejarah (historis), (Emeis dalam Sharif 1993:138). Nasution (2017:17) mengatakan bahwa hikayat merupakan karya sastra Melayu tradisional berbentuk prosa cerita , undang-undang, silsilah, bersifat rekaan, keagamaan dan sejarah (historis), biografis atau gabungan sifat-sifat sebagai pelipur lara, semangat juang atau hanya untuk meramaikan pesta.

Beberapa contoh hikayat Melayu yang bersifat sejarah misalnya, Hikayat Raja Banjar Dan Kota Waringin, Hikayat Hang Tua, Misa Melayu, Sejarah Melayu, dan Hikayat Raja Pasai (Baried 1985:22). Hikayat bersifat sejarah mengandung nilai sejarah dan peristiwa yang terjadi adalah peristiwa yang pernah ada (fakta) bukan bersifat imajinasi, (Sharif 1993:138). Karya sastra Melayu bersifat sejarah akan menjadi objek pengkaji yaitu Hikayat Raja Pasai, selanjutnya akan disingkat menjadi HRP.

HRP merupakan karya sastra bersifat sejarah dan karya agung yang mengisahkan tentang negeri, organisasi pemerintahan, sosial budaya dan politik, (Istiqamatunisak 2017:3). HRP merupakan karya sastra sejarah berbentuk tulisan tangan menggunakan huruf jawi dan telah ditransliterasi ke dalam huruf rumi dalam bentuk novel yang dapat dibaca dengan baik, sehingga menjadi bahan kajian.

Jones (1985:8) mengatakan bahwa HRP merupakan cerita yang

mengisahkan peristiwa yang terjadi pada tahun 1250-1350M. HRP mengandung

unsur-unsur yang bersifat mitos yang menguraikan asal-usul keturunan raja,

keluarga raja dan konflik yang terjadi, sedangkan berdasarkan fakta sejarah HRP

(17)

memeluk agama Islam. HRP menceritakan tentang silsilah raja, sejarah negara atau kota, mengambarkan cara berfikir, mengkritik, memberi nasehat, menghargai sejarah dan menunjukkan nilai-nilai budaya yang terkandung pada teks cerita sejarah pada masa lampau (Jeilani 2003:10).

HRP terbagi atas tiga bagian, pertama, awal mula terbentuknya kerajaan Pasai hingga naik tahta kerajaan kepada Sultan Ahmad, kedua, kisah Sultan Ahmad dengan riwaya Tun Biraim Bapa, ketiga, kisah Putri Gemerencang yang jatuh cinta kepada Tuan Abdul Jail serta kisah keruntuhan kerajaan Pasai dan jatuh ke tangan Majapahit.

Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik mengkaji HRP karena melalui penelusuran singkat penulis menemukan nilai pendidikan sebagai bahan pengajaran kepada rei-generasi, alasan yang paling mendasar adalah kajian ini belum ada yang mengkaji tentang pendidikan karakter dalam hikayat.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang dipaparkan di atas maka rumusan masalah dalam kajian ini sebagai berikut;

1. Bagaimana unsur-unsur intrinsik meliputi (alur, latar, tokoh-penokohan) dalam isi cerita HRP?

2. Bagaimana nilai pendidikan karakter dalam isi cerita HRP?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini sebagai berikut;

1. Mendeskripsikan unsur-unsur intrinsik meliputi (alur, latar, penokohan) dalam HRP.

2. Mendeskripsikan nilai pendidikan karakter dalam HRP.

(18)

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian dalam kajian ini terdiri dari;

a. Teoritis

1). Sebagai bahan acuan pustaka selanjutnya khususnya dalam peneltian HRP

2). Sebagai media informasi mengenai naskah HRP dalam khazanah sastra Melayu

3). Memberikan gambaran menyeluruh mengenai objek yang diteliti tentang nilai pendidikan karakter dalam naskah HRP.

b. Praktis.

1). Kajian ini dapat digunakan untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi reigenerasi tentang deskripsi nilai pendidikan karakter dalam naskah HRP.

2). Memperkaya kajian dan mengapresiasikan karya sastra Melayu.

3). Membantu pembaca memahami naskah HRP dalam menerjemahkan

(19)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kepustakaan yang Relevan

Kepustakaan yang releven merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan penganalisisan terhadap buku, literatur, catatan, dan berbagai laporan terdahulu yang berkaitan dengan masalah yang dibahas (Nazir 2005:93).

Dalam penyusunan kajian ini penulis menggunkan jurnal dan skripsi untuk dijadikan sebagai bahan referensi dan pendukung bagai pengkaji dalam menulis kajian ini yaitu:

Skripsi (Ricky Nasution 2017) yang berjudul Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Hikayat Deli”. Skripsi ini mendeskripsi tentang unsur-unsur intrinsik cerita dan nilai pendidikan karakter dalam isi teks Hikayat Deli.

Jurnal (Istiqamatunisak 2017) yang berjudul Sistem Semiologi Dan Idiologi Dalam Hikayat Raja Pasai”. jurnal ini menjelaskan tentang pengaruh Hikayat Raja Pasai pada kemunculan bahasa Melayu dalam kehiduapan masyarakat Aceh pada masa itu dan membahas dua budaya yang saling berkaitan.

Skripsi (Fuadi 2017) berjudul “Analisis Psikologi Sastra Terhadap Tokoh- Tokoh Cerita Hikayat Raja Pasai”. skripsi ini menjelaskan tentang unsur-unsur intrinsik dan aspek-aspek psikologi pada cerita Hikayat Raja Pasai.

Jurnal (Maulidiah Nurfitriana 2018) yang berjudul “Kajian Antropologi

Sastra Dan Nilai Pendidikan Dalam Cerita Rakyat Kalantika Serta Relevansinya

Sebagai Bahan Ajar Di Smp”.jurnal ini menjelaskan tentang tema-tema cerita, ciri

(20)

kebudayaan dalam aktivitas tokoh, hasil budaya, nilai-nilai pendidikan dan relevansi cerita rakyat dalam cerita rakyat Kalantika.

Keempat kajian di atas membantu penulis untuk menyelesaikan kajian ini, kerena membahas tentang analisis karya sastra menggunakan teori antropologi, namun kajian sangat berbeda dengan kajian yang telah dilakukan yaitu kajian pertama membahas tentang nilai-nilai pendidikan karakter pada karya sastra Hikayat Deli, kajian kedua membahas tentang interkulturalisme dalam Hikayat Raja Pasai., kajian ketiga membahas tentang psikologi tokoh-tokoh dalam Hikayat Raja Pasai, dan kajian keempat membahas tentang kajian antropologi tentang unsur-unsur cerita, nilai kebudayaan, hasil budaya, nilai pendidikan dan relevansi cerita rakyat dalam cerita Kalantika, walaupun berbeda kajian tetapi berkaitan dengan analisis teks cerita pada karya sastra.

2.2 Teori yang Digunakan

Memecahkan sebuah masalah dalam penelitian dibutuhkan teori untuk menguraikan persoalan dengan tepat. Landasan teori merupakan seperangkap konsep, definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk memandang fenomena secara sistematis melalului spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena, Neuman (dalam Sugiyono 2012:2).

Pengkaji menggunakan dua teori untuk menganalisis kajian ini sebgai panduan yaitu teori struktural dan teori antropologi sastra.

2.2.1 Teori Struktural

Nurgyantoro (2015:57) mengatakan bahwa analisis struktural terfokus

(21)

membangun untuk menghasilkan makna menyeluruh. Stanton (dalam Nurgyantoro 2015:31) membagi unsur pembangun intrisik atas tiga bagian yaitu (1) fakta cerita yang meliputi tokoh, plot dan latar. (2) Tema cerita merupakan suatau yang menjadi dasar cerita. (3) Sarana cerita yang meliputi sudut pandang, gaya bahasa, simbolis dan ironi. Stanton (dalam Nurgyantoro 2015:32) mengatakan bahwa fakta cerita yang terdiri dari tokoh, plot dan latar dipandang sebagai satu kesatuan dalam rangkaian keseluruhan cerita, bukan sesuatu yang berdiri sendiri dan terpisah satu dengan yang lainya. Maka dalam menganalisis secara struktural kajian ini hanya membatasi pada, alur, latar dan tokoh-penokohan yang ada dalam HRP.

Alur merupakan unsur intrinsik sebagai cerminan atau bahkan berupa perjalanan tingkah laku para tokoh dalam bertindak, berfikir, berasa, dan bersikap dalam menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan cerita (Nurgyantoro 2015:169). Alur merupakan struktur unsur sebuah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau memyebabkan terjadinya peristiwa yang lainnya, Stanton (dalam Nurgyantoro 2015:167).

Latar merupakan struktur intrinsik sebagai landas tumpu yang mengarah

kepada pada pengertian tempat, hubungan waktu sejarah, dan lingkungan sosial

tempat terjadinya peristiwa (Abrams dalam Nurgyantoro 2015:302 ). Unsur latar

terbagi atas tiga yaitu tempat, waktu dan sosial budaya yang menwarkan

permasalahan yang berbeda tetapi saling berkaitan dan mempengaruhi antara satu

dengan yang lainnya (Nurgyantoro 2015: 314).

(22)

Tokoh-penokohan merupakan orang-orang yang digambarkan dalam karya sastra yang ditafsirkan oleh pembaca yang memiliki kualitas moral, seperti apa yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang telah dilakukan dalam tindakan, Abrams (Nurgyantoro 2015:247). Baldic (dalam Nurgyantoro 2015:247) mengatakan bahwa Tokh adalah orang yang menjadi pelaku dalam cerita sedangkan penokohan adalah penghadiran tokoh dalam cerita fiksi dengan cara lansung atau tidak langsung dan mengundang pembaca untuk menafsirkan kualitas dirinya lewat kata dan tindakan.

Nurgyantoro (2015: 258) membagi tokoh berdasarkan fungsi dan sudut pandang penampilan sebgai berikut:

a. Tokoh utama adalah tokoh yang paling banyak diceritakan

b. Tokoh tambahan adalah tokoh yang paling sedikit diceritakan dan kehadirannya ada jika berkaitan dengan tokoh utama.

Sebuah karya sastra umumnya memiliki tokoh utama dan tokoh tambahan yang memliki karakter yang berbeda, sehingga pengkaji menggunakan tokoh utama dalam mengkaji Hikayat Raja Pasai.

2.2.2. Antropologi Sastra

Antropologi sastra merupakan penelitian yang membahas tentang sikap dan perilaku manusia sebagai budaya dalam karya sastra (Endraswara 2013:1).

Ratna (2011:6) mengagaskan bahwa antropologi sastra merupakan analisis terhadap karya sastra yang didalamnya terkandung unsur-unsur antropologi.

Bernard (Ricky Nasution 2017:29) menjelaskan pada umumnya penelitian

(23)

artikel tentang sastra, (c)bibliografi. Ketiga sumber ini biasanya dijadikan sebuah landasan untuk mengungkapkan makna karya sastra.

Berdasarkan ketiga sumber di atas maka penulis menggunakan manusia/orang sebagai tumpuan pengkaji untuk mengungkapkan makna yang terdapat dalam HRP. Kemudian pengkaji akan menggunakan analisis konten untuk menemukan maksud dan tujuan untuk menganalisis nilai pendidikan karakter dalam teks HRP.

Endraswara (Ricky Nasution 2017: 30) mengatakan bahwa analisis konten merupakan salah satu cara menemukan pemahaman analisis ekstrinsik dalam aspek karya sastra yang di bahas secara mendalam. Unsur ekstrinsik sastra yang menarik perhatian analisis konten cukup banyak, antara lain meliputi: (a) pesan moral/ etika, (b) Nilai pendidikan (didaktis), (c) nilai filosofis, (d) nilai religius, (e) nilai kesejarahan dan sebagainya.

Berdasarkan uraian di atas untuk menemukan perilaku, sistem kepercayaan dan manusia sebagai pelaku budaya dalam teks HRP pengkaji menggunakan kajian antropologi sastra dengan analisis konten nilai pendidikan menggunakan bentuk paparan etnografi (perilaku-perilaku manusisa dan hal-hal humanitis) dalam karya sastra.

2.2.2.1 Nilai Pendidikan Karakter

Zubaedi (2011:15) mengatakan bahwa nilai pendidikan karakter

merupakan segala usaha yang di sengaja (sadar) untuk mewujudkan kebijakan

sehingga menghasilkan kemampuan yang objektif yang berpengaruh baik bagi

individu maupun masyarakat keseluruhan.

(24)

Zubaedi (2011:74) mengatakan bahwa nilai pendidikan karakter terbagi atas 18 nilai yaitu:

a). Religius, adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

b). Jujur, yaitu perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai seorang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan.

c). Toleransi, yaitu sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

d). Disiplin, yaitu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan aturan.

e). Kerja keras, yaitu bekerja dengan sungguh-sungguh tidak kenal lelah dan pantang menyerah, meskipun menghadapi tantangan dan kesulitan.

f). Kreatif berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

g). Mandiri, yaitu sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

h). Demokratis cara berpikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama kewajiban dirinya dan orang lain.

i). Rasa ingin tahu, sikap dan tindakan yang selalu berupaya mengetahui

lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan

didengar.

(25)

j). Semangat kebangsaan, yaitu cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempat kepentingan bangsa dan negara di atas diri sendiri dan kelompok.

k). Cinta tanah air, yaitu cara berpikir, bertindak, berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompok.

l). Menghargai prestasi, sikap, dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.

m). Bersahabat dan komunikatif, yaitu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

n). Cinta damai, yaitu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.

o). Gemar membaca, merupakan kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

p). Peduli lingkungan, sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya, dan mengembangkan upaya- upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang terjadi.

q). peduli sosial, sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan

kepada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

(26)

r). tanggung jawab, yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajiban, yang seharusnya dilakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya) negara tuhan yang maha esa.

Konsep nilai pendidikan karakter inilah yang digunakan penulis untuk

mengkaji nilai pendidikan karakter dalam teks Hikayat Raja Pasai.

(27)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian

Endraswara (2013:8) mengatakan bahwa Metode penelitian sastra merupakan salah satu cara yang gunakan oleh pengkaji dengan mempertimbangkan bentuk, isi, dan sifat sastra sabagai subyek kajian. Metode penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode kulitatif bersifat deskriptif.

Metode kualitatif deskriptif merupakan metode penelitian brtujuan untuk menguraikan data berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka, (Moleong 2005:11). Pengkaji menggunkan metode kualitatif bersifat deskriptif untuk mengungkapkan nilai-nilai pendidikan karakter dalam HRP.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam kajian ini menggunakan metode kepustakaan. Metode kepustakaan merupakan teknik menelaah data dengan melakukan penganalisisan terhadap buku-buku, literatur, catatan dan laporan yang saling berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan (Nazir 2005:13).

3.3. Sumber Data Penelitian

Sumber data dalam pengkajian ini adalah naskah HRP.

Judul : Hikayat Raja Pasai

Translator Versi : Russell Jones

Penerbit : Fajar Bakti Sdn.Bhd

Tahun Terbit 1985

(28)

Tebal :125 Hal

Sampul Depan : Hijau

Sampul Belakang : Hijau

Ukuran : 140 Mm X 210 Mm

Warna Kertas : Coklat

Warna Tulisan : Hitam

3.4 Metode Analisis Data

Metode analisis data merupakan usaha yang dilakukan untuk bekerja dengan data, mengelompokkan data dan milah-milah data, menjadi satuan yang dapat dikelola untuk menemukan fakta-fakta yang terdapat dalam teks yang akan diceritakan kepada orang lain, (Moleong 2005:248).

Adapun langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam menganalisis data adalah sebagai berikut:

1). Membaca objek kajian

2). Mengklasifikasikan dengan menandai kata-kata kunci dan gagasan-gagasan yang ada dalam data.

3). Menganalisis data berdasarkan teori yang digunakan

4). Membuat kesimpulan berdasarkan kajian, sehingga dapat dipaparkan

dengan baik.

(29)

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 RINGKASAN CERITA HIKAYAT RAJA PASAI

Kisah raja bersaudara yang bernama Raja Ahmad dan Raja Muhammad berkeinginan membuka sebuah negeri di Samarlangga. Raja Ahmad dan Raja Muhammad, masing-masing menemukan anak-anaknya dari hutan. Putri Raja Ahmad bernama Putri Betung dan putra dari Raja Muhammad bernama Merah Gajah. Beberapa lama kemudian Putri Betung dan Merah Gajah dan dinikahkan Raja Ahmad dan Raja Muhammad anak-anak mereka masing-masing. Putri Betung dan Merah Gajah di karuniai dua orang anak laki-laki bernama Merah Haum dan Merah Silau.

Pada suatu hari suasana hati Putri Betung sangat bahagia, sehingga

tumbuhlah sehelai rambut berwarna emas di tengah kepala Putri Betung,ketika

Putri betung meminyaki rambutnya Merah Gajah melihat rambut berwarna emas

Putri Betung. Kemudan Merah Gajah mencabut rambut itu dan keluarlah darah

putih yang tiada henti kemudian hilanglah Putri Betung. Raja Muhammad

mendengar tentang Putri Betung, maka Raja Muhammad sangat marah dan

membunuh Merah Gajah. Mendengar kematian Merah Gajah Raja Ahmad sangat

marah dan menimbulkan perpecahan yang sangat luar biasa. Hingga terjadilah

perang saudara hingga matilah Raja Ahmad dan Raja Muhammad,setelah

peperangan usai tinggalah Merah Silau dan Merah Hasum bersama neneknya di

Samarlangga.

(30)

Beberapa lama tinggal di Samarlangga, maka Merah Silau dan Merah Hasum meninggalkan Samarlangga karena mereka berfikir negeri Samarlangga tidak memberi manfaat kepada mereka maka. Merah Silau dan Merah Hasum berangkat dengan mengikuti arah mata angin dan meenukan sebuah desa bernama Biruan. Di negeri Biruan terdapat sungai yang banyak ikannya , maka Merah Silau pergi memancing dan menemukan gelang gelang di bubuannya. Merah Silau menganggap bahwa gelang-gelang tersebut merupakan anugrah dari Tuhan, maka Merah Silau membawa gelang tersebut dan merebusnya. Ketika direbus gelang itu berubah menjadi emas dan Merah Silau menjadi kaya raya. Kekayaan merah silau tidak digunakannya dengan baik sehingga Merah Hasum mengusirnya dan Merah Silau. Merah Silau pergi meninggalkan Merah Hasum karena mengganggap tidak sepemahaman dengannya lagi. Setelah beberapa lama dalam perjalanan Merah Silau menemukan desa bernama Buluh telang

Merah Silau bertemu Megat Sekandar di Buluh Telang. Megat Sekandar menjamu Merah Silau dan mengijinkan Merah Silau tinggal di desa itu bersama rakyatnya dan para prajuritnya. Selama di Buluh Telang Merah Silau sangat bermurah hati. Kemudian Merah Silau di angkat oleh Megat Sekandar menjadi raja di Rimba Jerana. Sultan Malikul Nasir Saudara Megat Sekandar tidak setuju atas kebijakan Megat sekandar sehingga berperanglah Merah Silau dan Sultan Malikul Nasir. Kemudian Sultan Malikul Nasir kalah dan melarikan diri ke Pakersang.

Nabi Muhammad bersabda kepada sahabatnya Khalifah Syarif di Mekkah

(31)

Jika kamu mendengar tentang negeri itu bawalah seluruh peralatan kerajaan ke negeri itu, jadikan masyarakat di sana menganut agama Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat, kemudian bawa seorang fakir dari Negeri Mengiri ke Negeri Samudera itu.

Pada suatu hari Merah Silau pergi berburu ke hutan dengan membawa seekor anjing kesayangannya bernama Pasai, ketika anjing itu dilepas ia menyalak ketika melihat seekor semut besar seperti kucing di atas tanah tinggi. Kemudian Merah Silau membangun sebuah negeri di atas tanah tinggi itu yang diberi nama Samudera yang artinya semut yang saangat besar. Keberadaan Negeri Samudera didengar oleh Khalifa Syarif, maka Khalifah Syarif memerintahkan untuk mengisi perkakas alat kerajaan ke sebuah kapal untuk dibawa ke Negeri Samudera.

Khalifa Syarif mengamanahkan tugas itu kepada Syarif Syekh Ismail, kemudian Syarif Syekh Ismail membawa seorang fakir dari di teluk Negeri Mangiri untuk dibawa ke Negeri Samudera.

Merah Silau bermimpi bertemu dengan seseorang, ia memerintahkan

Merah Silau mengucapkan kalimat syahadat dan mengubah namanya menjadi

Sultan Malikul Saleh. sesampainya Syeikh Ismail di Teluk Terli ia bertemu

penjala ikan yang memberi informasi tentang Negeri Samudera kepada Syeikh

Ismail. Keesokan harinya Syeikh Ismail bertemu Sultan Malikul Saleh. Syeikh

Ismail memerintahkan Sultan Malikul Saleh mengucapkan kalimat dua syahadat

dan mengajak seluruh penduduk di negeri itu menggucapkan kalimat syahadat dan

menamai Negeri Samudera sebagai Negeri Darussalam, lalu Syeikh Ismail

memohon pulang. Sultan Malikul Saleh membekalinya dengan oleh-oleh berupa

(32)

ambar, kapur barus, gaharu cendana, kemenyan, khelembek dan cengkeh pala.

Sultan Malikul Saleh dianjurkan oleh para menterinya menikah dan mendapatkan keturunan. Maka Sultan Malikul Saleh menikahi putri ganggang dari raja parlak. Dari pernikahan Merah Silau dan Putri Ganggang mereka karuniai anak laki-laki yang diberi nama Sultan Malikul Tahir, setelah genap usianya Sultan Malikul Tahir diangkat menjadi raja.

Pada suatu hari Sultan Malikul Saleh pergi berburu ke hutan dengan membawa anjingnya Pasai. Anjingnya itu menemukan seekor pelanduk yang duduk di atas tanah yang tinggi di tempat itulah negeri Pasai didirikan dan diserahkanya kepada Sultan Malikul Tahir. Setelah beberapa lama tinggal di Pasai Sultan Malikul Tahir dikaruniai dua orang putra bernama Sultan Malikul Mahmud dan Sultan Malikul Mansur. Beberapa lama kemudian Sultan malikul Tahir meninggal dunia. Setelah Sultan Malikul Shaleh mangkat, maka Sultan Malikul Mahmud menjadi raja Pasai dan Sultan Malikul Mansur raja di Samudera. Sultan Malikul Mahmud membawa Negeri Pasai mencapai kegemilangannya. Raja Siam mendengar kabar kegemilangan negeri Pasai, kemudian meminta ufti (upeti) dan menyerang pasai, tetapi Sultan Malikul Mahmud tidak melayaninya maka terjadilah perang. Penduduk Pasai banyak yang terlibat dalam perang melawan raja siam dan berakhir menang.

Setelah peperangan selesai Sultan Malikul Mahmud menikah dan

dikaruniai seorang putra dan dua orang putri. Anak laki-lakinya bernama Sultan

Ahmad Perumudal Perumal. Pada suatu hari Sultan Malikul Mahmud pergi

(33)

sungai. Sultan Malikul Mansur diam-diam mengadakan perjamuan di tepi laut setelah mendengar tentang perjamuan yang diadakan oleh Sultan Malikul Mahmud kemudian menghiraukan nasehat menterinya Sayid Samayamuddin.

Ketika mengadakan perjamuan Sultan Malikul Mansur melihat seorang perempuan cantik dari luar istana. Sultan Malikul Mansur menikahi wanita itu dan dikaruniai tiga orang anak satu laki-laki dan dua orang perempuan. Sultan Malikul Mahmud sangat marah ketika mendengar kabar bahwa saudaranya menikahi perempuan dari luar istana. Malikul Mansur di penjara bersama manterinya.

Sultan Malikul Mahmud membunuh Semayamuddin kemudian mengasingkan Sultan Malikul Mansur ke Negeri Tamiang. Sultan Malikul Mahmud menyesali perbuatannya, Sultan Malikul Mahmud mengutus hulubalang untuk menjemput kembali Sultan Malikul Mansur. Sebelum kembali ke Negeri Pasai Sultan Malikul Mansur ziarah ke makam Semayamuddin. Sultan Malikul Mansur meninggal dunia di Padang Maya sebelum sampai ke Negeri Pasai. Sultan Malikul Mahmud sangat berduka hingga sakit dan meninggal dunia, maka Sultan Ahmad naik tahta kerajaan.

Beberapa lama kemudian Sultan Ahmad dikaruniai 30 orang anak diantaranya tiga orang anak laki-laki bernama Tun Beraim Bapa, Tun Abdul Jalil dan Tun Abul Fadil serta dua orang perempuan bernama Tum Medam Peria dan Tun Takiah Dara yang sangat cantik. Sultan Ahmad menyukai kedua putrinya sebagai lawan jenisnya, mendengar hal itu Tun Biraim Bapa membawa kedua saudara perempunya itu ke Tukas.

Pada suatu hari ada sebuah kapal besar berlabuh di Teluk Terli dalam

(34)

kapal tersebut ada empat orang pendekar keling yang perkasa. Mereka ingin mencari lawan dengan cara melanggar aturan ditempat larangan yang ada di Negeri Pasai. Raja Ahmad mendengar kelakuan pendekar itu, kemudian Sultan Ahmad mengutus seseorang untuk meminta bantuan kepada anaknya Tun Beraim Bapa. Tum Beraim Bapa datang dengan segala orang-orangnya untuk melawan pendekar keling itu. Peperang tidak terkendali lagi akhirnya pendekar keling kalah dan pulang ke asalnya.

Pada saat hari jumat Tun Beraim Bapa bermain-main bersama wanita di istana. Sultan Ahmad marah mendengar kabar yang dilakukan Tun Beraim Bapa.

Sultan Ahmad selalu mencoba untuk membunuh Tun Biraim Bapa tetapi selalu gagal. Sultan Ahmad mengutus sesorang pergi ke pantai untuk memberikan obat yang mengandung racun tetapi Tun Biraim Bapa mengetahuinya. Tun Beraim Bapa berfikir lebih baik mati dari pada durhaka terhadap orang tua, ketika Tun Beraim Bapa hendak memakannya Tun Medan Peria dan Tun Takiah Dara menyelamatkanya. Tun Beraim Bapa akhirnya meninggal dunia karena terkena peluru senapan dan mengeluarkan banyak darah. Tun Biraim Bapa dimakamkan di Bukit Fudul Allah atas perintah Sultan Ahmad.

Putri Gemerencang anak Ratu Majapahit dari Negeri Jawa jatuh cinta

kepada Tun Abdul Jalil yang dilihatnya melalui gambar. Sultan Ahmad

mendengar kabar itu merasa cemburu dan membunuh Tun Abdul Jalil. Mayat Tun

Abdul Jalil dibuang ke laut Jambu Air. Kematian Tun Abdul Jalil sampai ke

telinga Putri Gemerancang dari pengawalnya yang mengatakan bahwa ada badak

(35)

Jambu Air. Putri Gemerencang berdoa kapalnya tenggelam agar ia dapat bertemu dengan Tun Abdul Jail akhirnya kapalnya tenggelam dan Putri Gemerencang mati disana. Raja Nata mendengar kabar tentang kematian putrinya, maka diperintahkannya kepada laskarnya untuk menyerang Negeri Pasai. Maka terjadilah perang antar Kerajaan Pasai dan Kerajaan Majapahit. Sultan Ahmad kalah dan melarikan diri ke Menduga. Akhirnya Negeri Pasai mengalami keruntuhan dan jatuh ke tangan Majapahit.

Setelah peperangan usai maka senapati kerajaan majapahit berangkat untuk menghadap sang nata. Mereka membawa seluruh pengawal, rakyat, harta rampasan, dan seluruh hewan, sebelum sampai ke Majapahit mereka berhenti di Jambi dan palembang untuk menaklukkan kedua negeri itu. senapati langsung menghadap sang nata setelah sampai di Majapahit dan menyerahkan seluruh bawaanya. Maka sang nata membagi tiga harta rambasanya dan membebaskan seluruh rakyat tawanan tinggal di tanah jawa dimanapun berada.

Sang Nata memerintahkan Patih Gajah Mada, Temenggung Macan Negara, Demang Singa Perkuasa Dan Senapati Ing Laga untuk menaklukkan beberapa negeri agar tunduk dibawah pemerintahan Majapahit akhirnya mereka membawa hasil yang baik untuk negeri majapahit. Maka kerajaan pasai sangat mansyur, banyak negeri yang takluk kepada Sang Nata kecuali Pulau Parca.

Sang Nata memerintahkan untuk menaklukkan Pulau Parca kepada Patih

Gajah Mada. Berita penyerangan Pulau Parca di dengar oleh Patih Suatang,

kemudian Patih Suatang bertindak dengan mengumpulkan segala hulubalangdan

rakyatnyauntuk bersiap-siap melawan utusan Sang Nata. Seluruh prajurit Sang

(36)

Nata sampai ke Pariangan mereka bertarung dengan cara mengadu laga kerbau dengan syarat jika kerbau Patih Suatang kalah maka mereka harus tunduk kepada Sang Nata Majapahit jika kerbau Sang Nata kalah maka mereka akan memakai pakaian wanita sejawa, maka diterima oleh Patih Suatang.

Kerbau Sang Nata kalah mereka sangat malu dan hendak pergi tetapi patih

suatang menghentikan mereka. Mereka dijamu dengan cara menuangkan

minuman kemulutnya secara berlebihan hingga mati dan rakyat yang melarikan

diri kembali ke Majapahit dan memberitahu kejadiannya ke pada Sang Nata,

tetapi Sang Nata tidak berkata apa-apa lagi, kerena terlalu banyak prajurit dan

segala hulubalangnya yang hilang, demikianlah cerita HRP. Hal ini dapat dilihat

dalam diagram struktur ringkasan cerita dibawah ini .

(37)

Kisah dua raja bernama Raja Muhammad dan Raja Ahmad di Samarlangga yang masing-masing mendapat anak-anaknya dari

hutan belantara bernama Putri Betung dan Merah Gajah. (HRP: 1-5)

Merah Gajah dan Putri Betung menikah dan memiliki dua orang putra bernama

Merah Silau dan Merah Hasum.

kemudian peperangan antara kerajaan Sultan Ahmad dan Sultan Muhammd akibat kesalahan Merah Gajah (HRP:5-

7)

Kisah Merah Silau dan Merah Hasum meninggalkan Samarlangga dan pengembaraanya untuk mencari negeri

baru hingga diangkat menjadi Raja (HRP:7-12)

Kisah keruntuhan Kerajaan Pasai tangan Sultan Ahmad jatuh ke tangan Majapahit dan pengembaraan Sang Nata dalam menaklukan negeri untuk tunduk kepada Sang Nata dan berakhir dengan kehilangan sang pendekar sakti. (HRP: 67- 75)

Kisah pengembaraan Sultan Malikul Mahmud dimulai dari peperangan penolakan

ufti dari Raja Siam, pengasinganya sudaranya Sultan Malikul Mansur ke Negeri Tamiang hingga penyesalan Sultan Malikul Mahmud yang membawa hingga meninggal

dunia (HRP:26-35).

Kisah pengembaraan Sultan Ahmad dimulai dari kisah Sultan Ahmad birahi terhadap putrinya, kisah Sultan Ahmad mengutus putra untuk melawan pendekar keling yang sedang mencari masalah, kisah rasa cemburu Sultan Ahmad kepada Tun Biraim Bapa dan Tun Abdul Jalil karena seorang wanita hingga kisah penyerangan Kerajaan Pasai dari Negeri Majapahit dan akhir keruntuhannya. (HRP:36-60)

Diagram Struktur Ringkasan Cerita Hikayat Raja Pasai

Kisah pengembaraan Merah Silau dimulai

dari mengubah namanya menjadi Sultan

Malikul Saleh setelah menganut agama

Islam, kisah Sultan Malikul Saleh menikahi

Putri Ganggang dan mengantikan putranya

Sultan Malikul Tahir untuk menjaga negeri

dan putranya hingga menyerahkannya

kembali kepada Sultan Malikul Mahmud

dan Sultan Malikul Mansur (HRP:12-26)

(38)

4.2 Alur, Latar dan Tokoh dalam Hikayat Raja Pasai 4.2.1 Alur Cerita Hikayat Raja Pasai

Tasrif (dalam Nurgyantoro 2015:209-210) mengatakan bahwa tahap alur terbagi atas lima yaitu tahap situation, tahap generating, tahap ricing action, tahap climax dan tahap denouemen. Maka pengkaji memaparkan tahap alur dalam HRP mengunakan Tasrif.

A. Tahap Situasi (Situation)

Tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita, informasi awal yang bertujuan untuk mendukung cerita yang kisahkan pada tahap berikutnya. Terlihat pada kutipan cerita sebagai berikut:

”Maka ada raja dua bersaudara seorang namanya Raja Ahmad dan seorang namanya Raja Muhammad. Adapun yang tua bernama Raja Ahmad. Maka kedua baginda bersaudara itu hendak berbuat negeri di Samarlangga.”

(HRP: 1)

Berdasarkan kutipan di atas bahwa, tahap penyetuasian di awali dengan dua orang raja yang bersaudara yang ingin menbangun dan memperluas negeri samarlangga. Raja Muhammad memulai perluasan daerah dengan menebang hutan yang amat sangat luas, ditengah hutan itu terdapat sekelompok bambu yang sangat luas yang tak habis untuk di tebang. Ketika para rakyat tidak lagi sanggup untuk menebang sekumpulan bambu tersebut, Raja Muhammad turun tangan sendiri dan menemukan seorang putri yang sangat cantik jelita bernama Putri Betung, hal ini dapat dilihat pada kutipan dibawah ini:

“Maka baginda pun berkhabarlah kepada

adinda itu daripada pertamanya datang kepadanya

kesudahannya peri banginda mendapat kanak-

kanak didalam rebung betung, maka dinamai

baginda Putri Betung. (HRP:1-2)

(39)

Berdasarkan kutipan di atas, bahwa Raja Muhammad memberi kabar tentang Putri Betung karena mendapat seorang anak yang ditemukanya dari dalam bambu kemudia raja memberinya nama putri betung. Kabar tentang Raja Muhammad mendapatkan seoarang putri terdengan oleh Raja Ahmad. sesudah mendengarnya Raja Ahmad pergi berburu kehutan. Didalam hutan ia menukan sebuah surau dan seorang kakek . kemudian Raja Ahmad menceritakan kisah Raja Muhammad mendgar kisah itu kakek itu memberi pesan kepda Raja Ahmad untuk menunggu dengan sabar di dekat surau, kemudian Raja Ahmad melihat seekor Gajah dengan sorang anak laki-laki di punggungnya Raja Ahmad kemudian mengambil anak tersebut dan merawatnya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan dibawah ini:

“Maka terlalulah amat baik parasnya, maka dinamainya Merah Gajah. Maka mansyurlah dalam negeri itu Raja Ahmad beroleh anak dan terdengarlah kepada suadaranya Raja Muhammad beroleh kanak-kanak itu” (HRP: 5)

Berdasarkan kutipan di atas, Raja Ahmad menamai anak itu Merah Gajah.

Setelah putra Raja Ahmad ada maka makmur dan sejahteralah negeri itu. Kabar tentang Raja Ahmad menemukan seorang putra terdengar oleh saudaranya Raja Muhammad. Putri Betung dan Merah Gajah menikah setalah tumbuh basar dan dikaruniai dua orang putera. Hal ini dapat dilihat pada kutipan sebgai berikut:

“Alkisah peri mengatakan hikayat Putri Betung dan Merah Gajah diceritakan oleh dua orang yang empunya cerita, hatta maka beberapa lamanya duduk Merah Gajah dengan Putri Betung dua laki istri itu. Syahadan maka dengan takdir Allah Taala maka Putri Betung hamillah;

maka setelah genap bulannya, maka Putri Betung pun beranak laki-laki, maka dinamanya anaknya Merah Silau.

Maka kemudian daripada itu Putri Betung hamil pula.

setelah genaplah bulannya maka ia pun beranaklah. Maka

(40)

anaknya itu pun laki-laki juga. Maka di namanya Merah Hasum.” (HRP: 5)

Berdasarkan kutipan di atas, Merah Gajah dan Putri Betung dikaruniai dua orang putra bernama Merah Hasum dan Merah Silau.

B. Tahap Munculnya Konflik (Generating Circumstances).

Tahap munculnya konflik merupakan tahap permasalahan dan peristiwa- peristiwa terjadinya konflik mulai muncul seperti, munculnya awal konflik dalam cerita HRP. Terlihat dalam kutipan sebagai berikut:

“Maka suatu hari Tuan Putri itu pun tertidur. Maka dibantunnya oleh Merah Gajah rambut istrinya itu, pada bicaranya itu tiada akan mengapa Tuan Putri itu. Maka keluarlah darah daripada liang rambut itu tiada berputusan lagi keluar darahnya putih. Maka berhentilah darahnya itu, Maka tuan putri menghilanglah.”( HRP: 6)

Berdasarkan kutipan di atas, tahap munculnya konflik (generating circumstances) pada cerita Hikayat Raja Pasai, ialah ketika Pada suatu hari ketika Putri Betung tertidur Merah Gajah mencabut rambutnya maka keluarlah darah putih pada bekas cabutannya itu, kemudian Putri Betung menghilang.

Prajurit menyampaikan kabar kepada Raja Muhammad tentang tentang perbuatan Merah Silau terhadap Putri Betung. Raja Muhammad sangat marah mendengar kabar tentang inangnya itu. Raja muhammad membunuh Merah Gajah. Hal ini dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut;

“Maka segala hamba sahayanya pun segeralah berlari

untuk memberitahu kepada ayahanda Raja Muhammad,

maka ujarnya “ ya tuanku, paduka anakda tuan kami Putri

Betung telah hilang sebab dibantunnya oleh Merah Gajah

sehelai rambutnya ditengah kepalanya”. Setelah sesudah

Raja Muhammad mendengar khabar inangnya itu maka ia

pun menghampaskan dirinya dan membelah-belah bajunya

dan mencarik-carik kainnya. Maka ia pun terlalu marah,

(41)

dimendatanginya Merah Gajah lalu membunuhnya.”(

HRP: 6)

Setelah Merah Gajah meninggal dunia, maka seseorang menyampaikan kabar kepada Raja Ahmad bahwa Merah Gajah dibunuh oleh mertuanya.

Mendengar kematian Merah Gajah, maka Raja Ahmad sangat marah. kemudian Raja Ahmad memerintahkan seluruh pendekarnya untuk berperang yang dilengkapi dengan senjata. Maka terjadilah perang saudara antara Raja Muhammad dan Raja Ahmad yang saling membunuh hingga mati. Hal dapat dilihat dalam kutipan sebagai berikut:

“Setelah Merah Gajah mati, maka seseorang segeralah membawa kabar kepada ayahanda Raja Ahmad, demikian katanya, “ wah, tuanku paduka anakda Merah Gajah itu/

telah mati dibunuh oleh mertuanya* sebab karna ia membantunkan sehelai rambut yang ada ditengah kepala Putri Betung itu. Maka fikir anakda Merah Gajah itu tiada akan| mati”. Setelah sesudah ia mendengar ayah bondanya akan sembah orang itu. maka ia pun mengempaskan dirinya dan menbelah-belah bajunya dan mencarik-carik kainnya. Maka Raja Ahmad pun terlalu sangat marahnya serta ia menghimpunkan segala lasykarnya lengkap dengan segala senjatanya. Maka ketika pada yang baik, maka berangkatlah Raja Ahmad itu pergi mendatangi saudaranya Raja Muhammad. Maka apabila berhadapanlah kedua pihak laskar itu, maka peranglah mereka itu terlalu ramai kalam-kabut. Maka duli* pun berbangkit lalu ke udara tiadalah berkenalan lagi seorang dengan seorang jua pun.

Maka tempik segala hulubalang dan segala rakyat juga yang kedengaran dan gemercang bunyi segala senjata dan pendahan segala pahlawan juga kedengaran. Maka bahananya datang ke tengah rimba belantara. Maka kedua belah pihak laskar itu banyaklah mati dan luka sebab beramuk-amukan sama sendirinya dan berbunuh-bunuhan mereka itu hingga matilah kedua raja-raja.” (HRP: 6-7)

Berdasarkan kutipan di atas sudah muncul permasalahan dan peristiwa-

peristiwa yang menyebabkan konflik muncul setelah cerita awal. Dari kisah di

(42)

atas jelas bahwa penulis mulai menggerakkan jalan cerita sehingga penikmat karya sastra mulai tertarik dengan cerita selanjutnya.

C. Tahap Peningkatan Konflik (Rising Action)

Tahap peningkatan konflik merupakan konflik yang terjadi sebelumnya semakin berkembang secara intensif yang mengarah kepada klimaks yang tidak dapat terhindari, seperti peristiwa-peristiwa yang mulai berkembang dalam HRP.

Terlihat dalam kutipan sebagai berikut:

“maka kedengaranya wartanya kepada saudaranya Merah Hasum akan Merah Silau karna bermain akan binatang tiada berguna kepada orang banyak. Maka tempat itu dinamai Kerbau Kampungan, maka merah hasum pun marah akan saudaranya merah sialau itu. maka dipanggilnyalah sahayanya seorang “pergi engkau katakan kataku ini kepada saudaraku merah silau. Kenapa gunanya bermain binatang yang tiada gunanya kepada orang banyak itu ? maka memberi malu jua, tiada didengarnya kataku ini maka nyahilah ia dari negeri ini, janganlah ia duduk bersama sama dengan aku”. (HRP: 8-9).

Berdasarkan pada kutipan di atas, bahwa Merah Silau dengan Merah Hasum tidak sepemahaman. Akhirnya Merah Silau di usir oleh Merah Hasum dari Negeri Biruan karena mengunakan kekayaan untuk kegitan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Merah Silau meninggalkan Negeri Biruan dan pergi ke Negeri Buluh

Telang. Merah Silau bertemu Megat Sekandar dan menjamunya di Negeri Buluh

Telang. Selama di Buluh Telang Merah Silau berbuat baik dan Megat sekandar

mengangkat menjadi raja. Akan tetapi Sultan Malikul Nasir saudari dari Megat

Sekandar tidak menyetujui Merah Silau sebagai raja, Maka Merah Silau dan

Sultan Malikul Nasir berperang. Hal ini dapat dilihat pada kutipan HRP sebagai

(43)

“setelah sesudah ia menjadi raja, maka didatangilah Sultan Malikul Nasir ke Rimba Jerana. Maka berperanglah* ia dengan Sultan Malikul Nasir. Hatta maka ghaliblah Perang Merah Silau, maka pecah perang Sultan Malikul Nasir”. (HRP: 11)

Berdasarkan kutipan di atas, bahwa Merah Silau menghampiri Sultan Malikul Nasir ke Rimba jerana untuk berperang, peperangan mereka sangat besar dan dasyat. Maka Sultan Malikul Nasir kalah dan melarikan diri ke Pakersang.

Zaman Nabi Muhammad ada cerita bahwa Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wassalam) bersabda kepada sabahatnya di mekah untuk negeri Samudera. Hal ini dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut:

“Maka bersabda ia kepada sahabat baginda di mekkah, demikian sabda baginda “bahawa ada peninggalanku wafat itu, ada sebuah negeri di bawah angin, samudera namanya; apabila ada didengar khabar negeri itu, maka kamu suruh sebuah kapal membawa perkakas alat kerajaan dan kamu bawa orang dalam negeri itu masuk agama Islam serta mengucapkan dua kalimat syahadat.” (HRP:

12)

Berdasarkan kutipan di atas, bahwa pesan yang disampaikan oleh Rasullullah ialah membawa peralatan kerajaan serta mengajak masyarakat di negeri itu untuk menganut agama Islam. Allah Subhanahu Wataala akan menjadikan negeri itu sebagai wali terbanyak dari segala negeri. Langkah pertama yang dilakukannya adalah membawa seorang fakir dari negeri Mangiri.

Merah Silau pergi ke hutan untuk berburu, ia membawa seekor anjing

kesayangannya bernama Pasai. Pasai menemukan seekor semut yang amat besar

di atas tanah tinggi. Merah Silau membangun sebuah negeri disana dan dinamai

negeri itu Negeri Samudera. Negeri Samudera terdengar oleh Syarif Syeikh

Ismail. Sebelum bertemu dengan Syarif Syeikh Ismail Merah Silau bertemu

(44)

dengan Allah SWT dalam mimpinya ia di perintah untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Akhirnya Merah Silau menjadi penganut agama Islam dan mengubah namanya menjadi Sultan Malikul Saleh. Syarif Syeikh Ismail menghampiri Sultan Malikul Saleh untuk menyebarkan Islam di Negeri Samudera. Sultan Malikul Saleh menikahi Putri Ganggang dari negeri Perlak dan di karuniai seorang anak bernama Sultan Malikul Tahir.

Sultan Malikul Saleh pergi kehutan untuk berburu dengan membawa Pasai, kemudian Pasai menemukan seekor pelanduk di atas tanah tinggi. Sultan Malikul Saleh membangun negeri di sana negeri itu di namai Pasai karena disanalah anjing kesayangan Sultan Malikul Saleh di kubur. Kemudian Sultan Malikul Tahir menikah dan di karuniai oleh dua orang anak bernama Sultan Malikul Mahmud dan Sultan Malikul Mansur. Setelah Sultan Malikul Saleh wafat negeri Samudera di berikan kepada cucunya Sultan Malikul Mahmud sedangkan pasai diberi kepada Sultan Malikul Mansur. Hal ini dapa lihat pada kutipan di bawah ini:

“Maka Sultan Malikul Mahmud itulah Kerajaan Pasai dan Sultan Malikul Mansur itulah kerajaan di Samudera.

Maka negeri yang kedua itu pun terlalu ramai dan memberi segala rakyat dalam negeri itu beberapa daripada gajah dan kuda jenuh* makanannya dan beberapa daripada segala rezeki yang lain tiada terhisapkan banyak zaman baginda kedua bersuadara itu.” (HRP: 26)

Berdasarkan kutipan di atas, kedua bersaudara itu hidup dengan makmur.

Kehidupan seluruh rakyatnya diperhatikan oleh sultan malikul mahmud dan sultan

Malikul Mansur dengan cara membagi rezeki berupa hewan peliharaan dan

makanan kepada rakyat yang tidak habis-habis. Kejayaan Negeri Pasai terdengar

(45)

yang akan berangkat ke Pasai dengan tujuan meminta ufti (upeti ). Utusan raja siam yang berada dalam perahu menyampaikan maksud dan tujuannya kepada seorang laksamana utusan Sultan Malikul Mahmud, dapat dilihat melalui kutipan sebagai berikut:

“ Adapun perahu kami ini datangnya dari Benua Siam dan akan maksud kami disuruh oleh Raja Siam untuk meminta ufti negeri ini. Jikalau ada maksud seperti kami ini, niscaya kembalilah kami membawa ufti itu dan jikalau tidak demikian itu, niscaya kami pun perangilah negeri kamu ini, dan Talak Sejang panglimanya.”( HRP: 27).

Berdasarkan kutipan di atas, utusan Raja Siam menyampaikan maksud dan tujuan mereka untuk meminta ufti dalam negeri itu. Jikalau tidak panglima perang Talak Sejang akan menyerang Pasai jika tidak mendapatkan tujuannya. Seorang laksamana menyampaikan kabar yang didapatkannya kepada Sultan Malikul Mahmud mendengar hal itu Sultan Malikul Mahmud sangat marah, kemudian memerintahkan Sayid Ali Ghiatuddin mengumpulkan hulubalang dan seluruh rakyat untuk berperang. Talak Sejang mendengar kabar itu, kemudian memerintahkan seluruh prajuritnya naik ke darat untuk berperang. Peperangan antar kedua pihak membuat konflik semakin memuncak.

D. Tahap klimaks (climax)

Tahap klimaks merupakan konflik pertentangan yang dilakukan oleh para tokoh mencapai puncak, seperti klimaks dalam HRP. Terlihat dalam kutipan berikut ini;

“Maka Sultan Malikul Mahmud terlalu amarah melihat

hal itu. Maka Sultan pun menyuruh menghimpunkan

segala rakyat besar kecil hingga dapat memegang senjata

masing-masing dengan senjatanya. Maka Sultan pun

keluar sendiri pergi mendatangi talak sejang. Maka ia pun

keluar dari dalam kotanya berdiri di medan bersaf-saf,

maka berhadapanlah kedua pihak laskar itu.” (HRP: 28)

(46)

Berdasarkan kutipan di atas, Sultan Malikul Mahmud memerintahkan seluruh rakyatnya beperang sambil membawa senjatanya masing-masing untuk menyerang pasukan Talak Sejang. Sultan Malikul Mahmud melawan Talak Sejang ketempatnya. Pertempuran antara Talak Sejang dengan Sultan Malikul Mahmud tidak dapat dihindari sehingga banyak prajurit kedua belah pihak yang mati dan terluka. Sultan Malikul Mahmud menang dalam peperangan itu.

Sultan Malikul Mahmud dikarunia seorang anak laki-laki dan dua orang perempuan. Anak laki-lakinya bernama Sultan Ahmad Perumudal Perumal.

setelah beberapa lama Sultan Malikul Mahmud memerintah dalam kerajaan itu, maka Sultan Malikul Mahmud pergi ke hulu sungai untuk mengadakan perjamuan dengan seluruh hulubalang dan prajuritnya. Sultan Malikul Mansur mendengar perjamuan yang diadakan oleh Sultan Malikul Mahmud, maka Sultan Malikul Mansur diam-diam mengadakan perjamuan ke tepi laut. Sayid Semayamuddin menasehati Sultan Malikul Mansur tetapi dihiraukanya. Sultan Malikul Mansur bertemu dengan seorang wanita yang dicintainya dari luar istana ketika Sultan Malikul Mansur dalam perjalanan pulang, kemudian Sultan Malikul Mansur menikahinya. Sultan Malikul Mahmud sangat marah ketika mendengar kabar Sultan Malikul Mansur yang menikahi gadis yang tidak berasal dari istana. Sultan Malikul Mahmud mengasingkan Sultan Malikul Mansur, hal ini dapat dilihat dalam kutipan sebagai berikut:

“Maka disuruh Sultan lengkapi perahu barang empat

lima buah perahu mengantarkan Sultan Malikul Mansur

ke Negeri Tamiang, akan memeliharakan Tun Jaya

Pangliran. setelah itu, maka Sultan Malikul Mansur pun

(47)

Berdasarkan kutipan di atas, Sultan Malikul Mansur diasingkan ke Negeri Tamiang beserta hartanya sebanyak lima buah perahu untuk mengantarkan Sultan Malikul Mansur dengan membawa beberapa harta dan seluruh pelayannya.

Menteri Sayid Samayamuddin di bunuh. Kepala Sayid Samayamuddin diikatkan di perahu Sultan Malikul Mansur. Sultan Malikul Mansur melihat jasad Sayid Samayamuddin lalu di kuburkannya di Padang Maya. Sultan Malikul Mahmud menyesal dan mengutus seseorang untuk menjemput kembali Sultan Malikul Mansur. Sebelum kembali Sultan Malikul Mansur berziarah ke makam Sayid Samayamuddin. Dalam perjalanan menuju istana Sultan Malikul Mansur meninggal dunia ia dikuburkan di Padang Maya bersebelahan dengan menterinya.

Mendengar kabar kematian saudaranya Sultan Malikul Mahmud sangat sedih dan menyesal, dapat dilihat dalam kutipan sebagai berikut.

“Maka Sultan Malikul Mahmud pun sangatlah dukacitanya lagi dengan pencintaanya dan sesalnya pun tiada|

berkesudahan. Setelah beberapa lamanya demikian itu, maka baginda pun turunlah dari kerajaanya; maka Sultan Ahmadlah dirajakan oleh baginda dalam Pasai.” (HRP: 35)

Berdasarkan kutipan di atas, Sultan Malikul Mahmud sangat berduka dan menyesali perbuatannya, kemudian Sultan Malikul Mahmud mangkat dan memberi tahta kerajaan pasai kepada Sultan Ahmad putranya.

Setelah beberapa lama Sultan Ahmad memiliki 30 anak , diantaranya tun

Biraim Bapa, Tun Abdul Jalil, Tun Abdul Fadil dan dua orang putri bernama Tun

Medan Peria, dan Tun Takiah Dara. Kedua putri Sultan Ahmad di bawa oleh Tun

Biraim Bapa karena Sultan Ahmad memiliki perasaan cinta dan kasih sayang

sebagai lawan jenis kepada kedua putrinya. Tun Biraim Bapa seorang peterung

yang hebat dan menyayangi saudara-saudaranya. Pada suatu hari ada empat orang

(48)

pendekar keling datang untuk mencari masalah. Tun Biraim Bapa melawan pendekar keling itu sampai kalah. Tun Biraim Bapa menikahi Tun Fatimah Lempau. Sultan Ahmad merasa cemburu, maka Sultan Ahmad membunuh Tun Biraim Bapa dengan berbagai cara hingga mati. Sultan Ahmad memerintahkan Tun Abdul Jalil untuk tinggal di Negeri Pasai untuk memperbaiki negeri.

Putri Gemerencang anak Raja Majapahit menyukai Tun Abdul Jalil mendengar hal itu Sultan Ahmad membunuh putranya karena merasa cemburu, dapat dilihat dalam kutipan sebgai berikut:

“Maka tatkala terdengarlah warta angkatan Radin Galuh Gemerencang anak Ratu Majapahit datang dari Jawa itu hendak ke benua Pasai, daripada sebab birahi akan Tun Abdul Jalil itu, setelah didengar Sultan Ahmad, maka Sultan pun tiada lagi karar hatinya daripada hendak membicarakan daya upaya membunuh * Tun Abdul Jalil itu jua siang dan malam. Maka pada suatu hari Sultan Ahmad bersabda kepada Dara Zulaikha Tingkap| amanaku padamu huyubaya-huyubaya jangan engkau katakan pada seorang jua pun jikalau Tun Abdul Jalil tiada kubunuh kerajaanku janagn kekal dan tuan Putri Gemerencang pun jangan kuperoleh.” Setelah itu dicaharinya daya upaya hendak membunuh Tun Abdul Jalil. Pada suatu ketika, maka Tun Abdul Jalil disuruhnya dibunuh, maka dibunuh oranglah ia. Maka Tun Abdul pun berpulang ke Rahmatullah taala;maka disuruh sultan buangkan mayat beginda itu kelaut ke jambu air.” (HRP: 63)

Berdasarkan kutipan di atas, Sultan Ahmad mendengar bahwa Putri

Gemerencang yang datang dari jawa hendak berkunjung ke Negeri Pasai karena

menyukai Tun Abdul Jalil. Maka Sultan Ahmad sangat tidak tenang ia

memikirkan segala cara untuk membunuh Tun Abdul Jalil. Kemudian Tun Abdul

Jalil dibunuh oleh Dara Zulaikha Tingkap atas perintah Sultan Ahmad kemudian

mayatnya dibuang ke laut Jambu Air. Putri Gemerencang mendengar kematian

(49)

anaknya. Putri Gemerencang sangat sedih dan berserah kepada Allah Subhanahu Watala untuk bertemu dengan Tun Abdul Jalil, maka kapal Putri Gemerenacang tengelam. Kematian Putri Gemerencang sampai ke Jawa dan didengar oleh Sang Nata. Sang Nata mengumpulkan prajuritnya ke Pasai untuk berperang, dapat dilihat dalam kutipan cerita sebagai berikut:

“Maka Sang Nata memberi titah kepada Patih menyuruh mengimpunkan segala menteri dan segala panggawa yang kuasakuasa dan segala rakyat dan segala balatentaranya.

Setelah itu, maka disuruh baginda mustaibkan segala kelengkapan dan segala alat senjata peperangan akan mendatangi negeri Pasai itu, sekira-kira empat ratus jong yang besar-besar dan lain daripada itu banyak lagi melambang* dan kelulus.”( HRP: 65)

“Maka pada keesokan harinya, maka berbunyilah genderang perang daripada kedua pihak, dan segala laskar berdirilah di medan, maka kedua pihak pun sama menempuh. Maka berperanglah daripada kedua pihak laskar pun banyaklah yang mati dan luka. Maka genderang pun kembali dipalukan oranglah. Maka kedua pihak layskar pun kembalilah masing-masing pada tempatnya.

Demikian lah perang itu pada tiap tiap hari, kira-kira tiga bulan lamanya perang itu, tiada jua beralahan, karna jawa sebagai datang jua bantunya dari benua asing.” (HRP: 66)

Berdasarkan kutipan di atas, Kerajaan Pasai dan Kerajaan Majapahit berperang. Para prajurit saling melawan satu sama lain akibatnya banyak prajurit yang mati dan terluka. Peperangan dua kerajaan itu terjadi selama tiga bulan.

Kerajaan Majapahit mendapatkan bantuan dari benua asing dalam peperangan

tersebut. Sultan Ahmad mendengar banyak hulubalang, prajurit dan rakyat yang

mati.

(50)

E. Tahap penyelesaian (denouement)

Tahap penyelesaian merupakan konflik yang telah mencapai klimaks diberi jalan untuk menyelesaikan masalah dan cerita yang diakhiri, seperti tahap penyelesaian pada Hikayat Raja Pasai. Terlihat dalam kutipan sebagai berikut

“Setelah itu, maka Sultan Ahmad pun keluarlah dari dalam istananya dengan segala isi istananya dan segala perkakasnya alat kerajaannya barang yang terbawa. Maka Sultan Ahmad pun lalu berangkat pindah pada suatu tempat yang bernama Menduga, di sanalah tempat baginda diam kira-kira lima belas hari perjalanan dari Negeri Pasai.” (HRP: 67)

Berdasarkan kutipan di atas, konflik cerita sudah mulai berkurang karena Sultan Ahmad melarikan diri ke Negeri Menduga dengan membawa segala isi istananya. Kerajaan Pasai runtuh di tangan Raja Ahmad. Seluruh rakyat Pasai melarikan diri dan hancur. Kerajaan Pasai kalah melawan kerajaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit merayakan kemenangannya di Negeri Pasai. kemudian prajurit kerajaan Majapahit kembali kejawa menghadap Sang Nata. Sesampainya di Kerajaan Majapahit seluruh rakyat tawanan yang dibawa dari Pasai di bebaskan tinggal di jawa sesuai keinginan mereka. Kerajaan Majapahit menaklukkan beberapa negeri untuk tunduk kepada sang nata dan ada satu negeri yang tidak tunduk kepada Sang Nata yaitu Pulau Parca. Maka Sang Nata memerintahkan Patih Gajah Mada untuk menaklukan pulau parca tetapi gagal banyak prajurit dan hulubalang Sang Nata meninggal dunia. Beberapa rakyat yang melarikan diri kembali ke Majapahit, hal ini dapat di lihat pada kutipa Hikayat Raja Pasai sebagai berikut:

“Maka segala rakyat yang lari itu pun pulanglah ia ke

(51)

beberapa lamanya ia di laut, maka sampailah ia ke Majapahit lalu naik kedarat sekalian menghadap Sang Nata, serta mempersembahkan perihal daripada permulaannya datang kepada kesudahanya: katanya demikianlah tuanku akan halnya itu” maka Sang Nata pun tiada berkata-kata lagi, terlalu amat sangat masygulnya akan segala penggawalnya dan menteri baginda yang besar-besar yang diharapkannya. Demikainlah yang empunya cerita ini.” (HRP: 75)

Berdasarkan kutipan di atas bahwa, cerita Hikayat Raja Pasai diakhiri

dengan rakyat yang melarikan diri pulang ke Majapahit. Rakyat Majapahit berhasil

keluar dari Jambi dan sampai ke pulau Jawa menghadap Sang Nata, rakyat itu

menceritakan awal mula hingga menceritakan kekalahan mereka, kemudian Sang

Nata tidak berkata apa-apa lagi. Maka berakhirlah kisah HRP. Alur cerita pada

HRP dapat dilihat dalam diagram dibawah ini

(52)

KLIMAKS

pengasingan Sultan Malikul Mansur.

Kemudian Sultan Ahmad membunuh tun biraim bapa dan tun abdul jalil hingga Kerajaan Majapahit menyerang Pasai.

Tahap Peningkatan Konflik Merah Silau meninggalkan Samarlangga dan berperang melawan Sultan Malikul Nasir, ia mengubah nama menjadi Sultan Malikul Saleh setelah menganut agama Islam, setelah ia wafat tahta kerajaan jatuh ke tangan kedua cucunya. Sultan Malikul Mahmud melawan Talak Sejang.

Pemunculan Konflik Merah Gajah mencabut rambut Putri Betung hingga hilang akibatnya perbuatannya terjadilah perang saudara. Raja Muhammad dan Raja Ahmad wafat tinggalah Merah Silau dan Merah Hasum

PENYELESAIAN Sultan Ahmad melarikan diri dengan membawa peralatan kerajan ke Menduga. Akhirnya Kerajaan Pasai jatuh ke tangan kerajaan Majapahit. Kerjaan Majapahit tidak dapat menaklukkan Pulau Parca dan berakhir kehilangan prajurit.

Tahap Penyetuasian

Kehidupan dua orang raja bersaudara Raja Ahmad dan Raja Muhammad yang

menemukan anaknya dari dalam hutan. Raja Ahmad dan Raja Muhammad Menikahkan

4.2 .1 Diagram Alur Cerita HRP

(53)

4.2.2 Latar Dalam HRP

Nurgyantoro (2015:314) mengatakan bahwa unsur latar terbagi atas tiga unsur pokok yaitu tempat, waktu, dan sosial-budaya, setiap unsur menawarkan masalah yang berbeda dan saling berkaitan dengan yang lainya. Ketiga unsur tersebut dapat di kaji secara terpisah sebagai berikut:

A. Latar Tempat dalam HRP

Latar tempat mengacu terhadap lokasi terjadinya peristiwa yang dicerita dalam cerita. Unsur tempat digunakan berupa tempat-tempat dengan nama, inisial, atau lokasi tertentu tanpa nama yang jelas dan tempat-tempat bernama yang dijumpai dalam dunia nyata, (Nurgyantoro 2015:314). Dalam Hikayat Raja Pasai terdapat beberapa tempat yang dijumpai dalam dunia nyata dan berwujud hingga saat ini, yaitu:

1. Hutan

Hutan luas/rimba merupakan latar tempat yang ada di cerita Hikayat Raja Pasai. Rimba adalah tempat ditemukanya Putri Betung. Di tengah rimba itu terdapat sekelompok betung yang sangat luas, kemudian ditengah betung itu terdapat rebung yang besar, ketika Raja Muhammad memotong rebung tersebut keluarlah seorang kanak-kanak yang cantik. Di tengah rimba di jelaskan dalam kutipan cerita HRP sebagai berikut:

“Maka ada di tengah rimba itu serumpun betung terlalu amat tebal. Maka ditebas segala rakyat itu tiada habis ditebasnya, habis-habis tumbuh pula. Maka berangkatlah raja kediri menebas betung itu, maka habislah betung itu.

Maka dilihat Raja Muhammad di tengah betung

itu ada rebungnya seperti badannya besar; maka

hendak diparang Raja Muhammad itu, maka

Gambar

Diagram Struktur Ringkasan Cerita Hikayat Raja Pasai

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Tujuan merancang sebuah antenna J-Pole yang bekerja pada frekuensi 900 MHz dan 1800 MHz dengan polaradiasi J-pole berpolarisasi vertikal dengan arah pancaran yang omnidirectional

Remembering engages other parts of the brain – our imagination and visual sense – which can come to our exam when we’re trying to recall facts.. Because the complex structure

Modernisme masyarakat Muslim yang terjadi pada era ini sebagiannya merupakan kelanjutan dari gerakan pembaruan abad 18-19M, dan sebagian yang lain adalah suatu cara untuk

[r]

YOGYAKARTA TENTANG PENGANGKATAN DOSEN PENASEHAT AKADEMIK BESERTA MAHASISWA YANG DIBIMBING PROGRAM STUDI S.1 IKOR FAKULTAS IIMU.. KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI

Silase dibuat dengan mencacah bahan hijauan menjadi ukuran yang kecil-kecil, kemudian menyimpannya kedalam ruang kedap udara.Pencacahan dilakukan untuk mendapatkan

The results showed that there was an interaction between the sugar cane levels and the drying methods on the protein content and tenderness of ground beef “dendeng”

Untuk mencari nilai h, kita harus memenuhi persamaan (12), di mana nilai yang dibutuhkan pada karakteristik udara pada suhu 55 o C dapat dilihat pada tabel 2... Untuk mencari