• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KERANGKA TEORI"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

15

BAB II

KERANGKA TEORI

2.1

Penelitian Terdahulu

2.1.1 Penelitian Terdahulu I (Kriscahyanto, 2019)

Penelitian terdahulu pertama yang menjadi acuan penelitian ini adalah sebuah penelitian skripsi yang diterbitkan tahun 2019 milik Oktama Kriscahyanto, seorang mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara. Penelitian ini berjudul Penerapan Mobile and Social Media Journalism: Studi Kasus terhadap Penggunaan Fitur Instagram TV oleh BBC Indonesia (Kriscahyanto, 2019).

Skripsi ini menjelaskan latar belakang permasalahan bahwa munculnya fitur baru pada media sosial Instagram yaitu IGTV yang digunakan oleh BBC Indonesia, merubah pola produksi sebagian konten audio visualnya, maka Oktama Kriscahyanto merumuskan masalah yaitu Bagaimana proses produksi konten media sosial IGTV pada media BBC Indonesia?

Kemudian, peneliti menjabarkan lebih mendalam rumusan masalahnya melalui empat pertanyaan penelitian yang dibuat, di antaranya adalah Konten digital seperti apa yang diproduksi oleh BBC Indonesia?; Seperti apa proses menentukan ide cerita untuk konten digital BBC

(2)

16 Indonesia?; Bagaimana alur proses produksi pembuatan konten untuk media sosial?; Bagaimana BBC Indonesia dalam upaya menjaga audiens media sosial agar terus meningkat?

Penelitian oleh Oktama Kriscahyanto menggunakan empat teori dan konsep, di antaranya adalah teori Mobile and Social Media Journalism, Digital-first Mindset, Media Sosial, dan Distribusi Konten. Teori pertama adalah Mobile and Social Media Journalism, dalam poin ini Kriscahyanto menjelaskan teori yang dijelaskan oleh Adornato pada bukunya yang terbit tahun 2017 berjudul Mobile and Social Media Journalism: A Practical Guide. Peneliti menjabarkannya lebih mendalam dengan menjelaskan poin Mobile First Mindset, Mobile Journalism, Newsroom dan Strategi Editorial, The Art Of Storytelling, Long-form, Infographic, Genre dan Format, serta Medium dan Media. Selanjutnya, Kriscahyanto menggunakan konsep Digital-first Mindset yang didapatkan dari buku karya Adornato berjudul Mobile and Social Media Journalism: A Practical Guide. Konsep ini menjelaskan bagaimana seorang jurnalis menggunakan perangkat seluler dan media sosialnya untuk sebuah pemberitaan, distribusi konten yang telah dibuat, dan apa respons dari audiens. Teori selanjutnya yang digunakan peneliti adalah teori Media Sosial menurut Hill (2019). Peneliti menambahkan media sosial Instagram agar lebih berfokus berdasarkan judul penelitiannya yaitu meneliti fitur Instagram TV (IGTV) BBC Indonesia. Berikutnya, Kriscahyanto menambahkan konsep Distribusi Konten yang terdapat dalam buku karangan Hill. Konsep ini berarti konten terdistribusi merupakan platform media sosial yang digunakan sebagai konten host di aplikasi yang bersangkutan.

(3)

17

Kriscahyanto memilih paradigma konstruktivistik untuk paradigma penelitiannya, sebab peneliti berorientasi untuk menemukan pengertian akan suatu hal, yaitu penerapan Mobile and Social Media Journalism pada BBC Indonesia. Jenis penelitiannya adalah kualitatif, dan sifat penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Sebab, penelitian ini memiliki tujuan untuk menjelaskan fenomena secara mendalam melalui pengumpulan data yang mendalam. Metode penelitian yang dipilih adalah studi kasus oleh Robert E. Stake, karena sesuai dengan paradigma yang dipilih yaitu paradigma konstruktivistik.

Untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan penelitian yang telah dijabarkan, Kriscahyanto melakukan teknik pengumpulan data dengan cara wawancara dan observasi. Kriscahyanto memilih empat informan untuk diwawancarai, di antaranya adalah Heyder Affan seorang Senior Editorial BBC Indonesia, Famega Syavitry seorang Executive Producer Social Media BBC Indonesia, Lesthia Kertopati seorang Senior Broadcast Video Journalist BBC Indonesia, dan Anindita Pradana Gunita seorang Video Journalist BBC Indonesia.

Hasil penelitiannya membuktikan bahwa konten digital yang diproduksi oleh BBC Indonesia adalah Youtube, Facebook, Twitter, dan Instagram (IGTV), serta BBC Indonesia membentuk tim redaksi khusus untuk media sosial agar lebih fokus. Proses menentukan ide cerita untuk konten digital BBC Indonesia adalah memilih ide yang kuat dengan cara newsgathering dan crowdsourcing. Alur proses produksi pembuatan konten untuk media sosial adalah dengan menggunakan konsep digital-first, dengan cara newsgathering, distribution of news, dan audience engagement. Dalam upaya menjaga audiens media sosial agar terus meningkat, BBC Indonesia

(4)

18

selalu membuat konten berkualitas dengan cara membuka ruang diskusi bagi audiensnya.

Penelitian milik Oktama Kriscahyanto merupakan penelitian yang relevan dengan penelitian ini, karena sama-sama membahas sebuah media di Indonesia yang menerapkan Mobile and Social Media Journalism. Namun, penelitian ini memilih BBC Indonesia sebagai subjek penelitiannya dan berfokus pada penggunaan fitur Instagram TV (IGTV).

Penelitian skripsi yang dilakukan oleh Kriscahyanto memberikan celah penelitian baru bagi peneliti untuk mengembangkan penelitian, yaitu memilih media digital atau platform baru untuk diteliti. Dalam hal ini, peneliti memilih TikTok untuk diteliti kualitas berita Kompas.com dan Kumparan yang menggunakan penerapan Mobile and Social Media Journalismnya. Dipilihnya platform TikTok juga menjadi nilai kebaruan dalam penelitian ini.

2.1.2 Penelitian Terdahulu II (Meijer & Bijleveld, 2016)

Penelitian terdahulu kedua yang menjadi acuan penelitian ini adalah sebuah artikel penelitian yang terbit dalam jurnal Journalism Studies pada tahun 2016 milik Irene Costera Meijer & Hildebrand P. Bijleveld. Penelitian ini berjudul Valuable Journalism: Measuring News Quality From a User’s Perspective.

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, peneliti ingin mengetahui berita populer yang diinginkan publik dan kualitas berita yang dibutuhkan publik, biasanya kedua hal tersebut dianggap tidak sesuai dengan yang dianggap sebagai berita penting dalam masyarakat. Asumsi kualitas berita tersebut akan

(5)

19

dikembangkan standar kualitasnya oleh peneliti yang disebut dengan valuable journalism. Pertanyaan penelitian ini adalah Dimensi manakah yang berkontribusi pada valuable journalism?, dan Topik manakah yang perlu lebih diperhatikan oleh media berita regional menurut konsumen berita regional?

Metode penelitiannya adalah kuantitatif, dengan melakukan survei responden. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah Valuable Journalism (jurnalisme berharga) yang merupakan pengembangan dari News Quality (kualitas berita). Ada 4 dimensi dalam konsep ini, di antaranya adalah Urgency, Public Connection, Understanding the Region, dan Audience Responsiveness.

Hasil penelitian pertanyaan penelitian pertama dijelaskan dalam 4 dimensi. Menurut responden, dimensi yang berkontribusi pada valuable journalism yang pertama adalah Urgency, fungsi media adalah untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang berita yang paling mendesak (urgensi) dan mendapatkan berita tersebut secara langsung dengan mudah dan cepat dari media, berita urgensi ini juga berlaku untuk acara publik besar pada wilayah tersebut. Kedua adalah Public Connection, menjelaskan bahwa ada kaitan kuat yang ditemukan antara apresiasi terhadap berita serius, menyajikan berita ringan dan ceria, mendekati orang dengan hormat, dan menyediakan topik untuk percakapan. Ketiga, Understanding the Region yaitu khalayak menyukai informasi latar berita sebagai cara untuk mengetahui bagaimana daerah tersebut bekerja dan terbentuk, memberi wawansan tentang adat istiadat dan sikap dalam kelompok populasi daerah tersebut, dan media sebagai fasilitator dalam bernegosiasi membuat makna terkait komunitas dalam

(6)

20

daerah tersebut. Keempat, Audience Responsiveness, dalam penelitian ini ditemukan adanya apresiasi dan korelasi yang kuat antara dua hal yaitu media yang mengajak masyarakat untuk membuat berita untuk dikirimkan ke media, dan masyarakat yang melihat adanya peristiwa untuk dijadikan berita serta dilaporkan ke media agar media membuat berita terkait peristiwa tersebut, hal ini memungkinkan adanya keterlibatan antara media dengan masyarakat dan mengizinkan masyarakat untuk berbicara, mendengarkan, dan didengar media. Hasil pertanyaan penelitian kedua adalah topik yang perlu lebih diperhatikan adalah berita tentang lingkungan hidup, alam, dan sejarah.

Artikel ilmiah ini yang relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, karena sama-sama meneliti kualitas berita pada media, namun dalam artikel ilmiah ini membahas kualitas berita dengan mengembahkannya lagi menjadi konsep yang disebut valuable journalism. Peneliti mengembangkan penelitiannya menggunakan teori mobile and social media journalism dan meneliti lebih luas dalam ranah social media journalism yaitu kualitas berita yang dihasilkan Kompas.com dan Kumparan pada platform TikToknya.

2.1.3 Penelitian Terdahulu III (Puspita., Suciati., 2020)

Penelitian terdahulu ketiga yang menjadi acuan penelitian ini adalah sebuah artikel ilmiah karya Ratna Puspita dan Titis Nurwulan Suciati yang dipublikasikan tahun 2020 di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Artikel ilmiah ini berjudul Mobile Phone dan Media Sosial: Penggunaan dan Tantangannya pada Jurnalisme Online Indonesia (Puspita., Suciati., 2020).

(7)

21

Artikel ilmiah ini membahas tantangan para jurnalis di era telepon seluler dan media sosial (Mobile and Social Media Journalism). Melalui kajian literatur terdahulu, peneliti ingin melihat perubahan-perubahan apa saja yang dialami pada ranah jurnalisme online Indonesia di tengah tingginya konsumsi telepon seluler dan media sosial beserta tantangan yang dihadapi jurnalisme online.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan kajian literatur dengan systematic review dari penelitian terdahulu mengenai perkembangan jurnalisme di Indonesia. Menurut Dempster, systematic review merupakan tinjauan menyeluruh pada literatur berbeda tentang topik yang berbeda dengan tinjauan literatur tradisional. Penelitian yang dilakukan Puspita dan Suciati, peneliti mengumpulkan studi-studi sebelumnya tentang jurnalisme online di Indonesia untuk digambarkan tentang kemungkinan tantangan yang muncul pada praktik jurnalisme.

Untuk mendapatkan data pendukung dalam penelitian ini dibagi menjadi dua. Pertama didapatkan dari artikel atau karya ilmiah yang menjadikan jurnalisme online sebagai pembahasan utama. Kedua, artikel-artikel non-saintifik yang juga membahas jurnalisme online dan berita online. Tahapan mendapatkan data-data pendukung tersebut didapatkan dari menelusuri internet. Pada data pertama, peneliti melakukan pencarian melalui situs repositori atau penyimpanan jurnal, seperti garuda.ristekdikti.ac.id dan neliti.com, sebab kedua website tersebut memungkinkan hasil artikel dari berbagai jurnal dan tidak dibatasi oleh penerbitannya.

(8)

22

Pada data kedua, didapatkan dengan situs mesin pencari dari Google yaitu Google Scholar, peneliti mencari data tersebut dengan menginput kata-kata kunci di antaranya adalah “jurnalisme online”, “berita online”, dan “media online” dengan rentang tahun 2009 sampai 2019. Kata kunci tersebut digunakan berdasarkan pada judul dan pertanyaan penelitian. Hasil data yang berhasil didapatkan adalah 105 artikel, dan disebut sebagai populasi penelitian.

Hasil dan pembahasan dalam penelitian ini memiliki empat poin hasil, di antaranya adalah Organisasi, Jurnalis, Berita Online, Situs Agregator dan Situs Opini, Situs Disinformasi dan Brand Journalism. Digunakannya perangkat seluler seperti gawai, membuat adanya perubahan pada jurnalisme di Indonesia. Pada era ini, jurnalisme online di Indonesia mengembangkan konten-kontennya dengan serba multimedia dan multiplatfrom, jurnalisme online ini juga mulai mempublikasikan kontennya di media sosial. Jurnalisme online yang awalnya muncul pada tahun 1990-an hingga saat ini telah mengalami banyak perubahan yang tentunya berimplikasi tidak hanya pada konten berita, namun juga pada organisasi media, jurnalis, kode etik, bahkan termasuk dengan adanya praktik di mana organisasi yang bukanlah sebuah media mulai memproduksi tulisan-tulisan dalam kemasan “jurnalisme” yang memiliki tujuan untuk branding dan pemasaran organisasinya.

Di sisi lain, penelitian-penelitian di Indonesia masih belum banyak yang mengkaji akun media sosial sebagai media pelaporan serta penyajian berita. Penelitian model bisnis jurnalisme online yang menyajikan produk jurnalisme juga masih belum banyak dilakukan penelitiannya di Indonesia. Di Indonesia,

(9)

23

jurnalisme online berkembang pada tiga fase dan masih dapat mengalami perubahan. Perkembangan internet yang sangat pesat sangat sulit untuk diprediksi, membuat jurnalisme dalam situasi dan kondisi yang tidak pasti, demikian pula dengan tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh jurnalisme online.

Penelitian milik Ratna Puspita dan Titis Nurwulan Suciati merupakan penelitian yang relevan dengan penelitian ini, karena sama-sama meneliti penggunaan atau penerapan Mobile and Social Media Journalism. Namun, peneliti mengembangkannya dengan menemukan celah penelitian dengan berfokus pada sebuah platform TikTok yang juga menjadi nilai kebaruan dalam penelitian ini. Peneliti juga lebih berfokus pada dua perusahaan media untuk diteliti yaitu Kompas.com dan Kumparan. Serta meneliti kualitas berita yang diproduksi Kompas.com dan Kumparan menggunakan Mobile and Social Media Journalism.

2.2.4 Penelitian Terdahulu IV (Miranda, 2018)

Penelitian terdahulu kedua yang menjadi acuan penelitian ini adalah sebuah penelitian skripsi yang diterbitkan tahun 2018 milik Rahayu Suci Miranda, seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh. Penelitian ini berjudul Pemanfaatan Smartphone Dalam Meningkatkan Kinerja Jurnalis Kampus (Studi Pada Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Sumberpost).

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, peneliti ingin mendapatkan gambaran tentang pemanfaatan smartphone bagi kerja jurnalis kampus secara mendalam dan rinci. Rumusan masalah penelitian ini adalah Apakah penggunaan

(10)

24 smartphone dapat meningkatkan kinerja jurnalis Sumberpost?; dan Bagaimana penggunaan smartphone dalam meningkatkan kinerja jurnalis Sumberpost?

Teori dan konsep yang digunakan dalam penelitian ini di antaranya adalah Smartphone, Jurnalistik dan Pers, Kinerja Jurnalis, dan Teori Performance Dimension. Pertama adalah Smartphone, merupakan sebuah alat komunikasi lisan dan tulisan untuk jarak dekat dan jauh. Telepon genggam pintar menyediakan fitur yang memiliki kemampuan lebih daripada telepon biasa, memiliki kemampuan seperti komputer dengan layar besar dan layar sentuh. Selanjutnya, Jurnalistik dan Pers. Jurnalistik adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis, menyunting, serta dan menyebarkan berita untuk media massa seperti radio, televisi, majalah, surat kabar, dan media online. Pers adalah kegiatan jurnalistik (mencari, menggali, mengumpulkan, mengolah materi, mempublikasikannya) yang berhubungan dengan media dan masyarakat luas. Konsep kinerja jurnalis dijelaskan secara terpisah oleh peneliti, pertama penjelasan kinerja yang berarti hasil kerja seseorang secara kualitasnya maupun kuantitasnya yang dicapai seorang pekerja dalam melakukan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan. Sedangkan jurnalis adalah seorang individu yang terlibat dalam proses pengumpulan dan pembuatan berita. Teori terakhir yang digunakan penelitian ini adalah teori Performance Dimension, merupakan keadaan yang menggambarkan berapa jumlah keseluruhan dari angkatan kerja yang mampu diserap serta ikut aktif bekerja.

Metode penelitian dalam penelitian Miranda adalah kualitatif, dengan menjelaskan penelitiannya melalui kata-kata lisan atau tertulis, benda-benda atau peristiwa yang diamati secara detail agar peneliti dapat menangkap makna tersirat

(11)

25

dalam objek yang diobservasi. Jenis penelitiannya adalah deskriptif, sebab peneliti berusaha untuk mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang ingin diteliti.

Guna mendapatkan jawaban dari rumusan penelitian ini, Miranda memilih informan penelitiannya, di antaranya adalah Pimpinan Umum Sumberpost, Pimpinan Redaksi Sumberpost, Jurnalis Sumberpost, dan Alumni Sumberpost. Total informan dalam penelitian ini adalah 13 orang. Lokasi penelitian dilakukan di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, khususnya kantor Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Sumberpost. Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti adalah wawancara dengan informan yang telah disebutkan di atas, dan observasi atau pengamatan langsung di lokasi penelitian.

Hasil penelitian menyatakan bahwa smartphone meningkatkan kinerja jurnalis Sumberpost. Pernyataan ini didasari dari tiga hasil penelitian, di antaranya adalah sebelum menggunakan smartphone, jurnalis Sumberpost lambat dalam kegiatan jurnalistik sehingga menjadi kurang efektif. Namun, setelah menggunakan smartphone, pekerjaan jurnalis semakin meningkat dan digunakan untuk berkomunikasi melalui aplikasi pesan singkat Whatsapp. Kedua, setelah menggunakan smartphone, jurnalis Sumberpost semakin mudah dalam meliput, mengedit, dan menulis berita. Sebab, smartphone mudah dibawa kemana saja dan lebih efisien tanpa harus membawa kamera, laptop, dan perekam suara. Ketiga, jurnalis Sumberpost menggunakan fitur-fitur yang tersedia di smartphone untuk mempermudah pekerjaannya. Seperti Camera, Voice Recorder, Google, Google Translate, Whatsapp, Notepad, E-mail, dan Instagram.

(12)

26

Penelitian milik Rahayu Suci Miranda merupakan penelitian yang relevan dengan penelitian ini, karena sama-sama meneliti penggunaan atau penerapan jurnalisme seluler. Namun, peneliti mengembangkannya dengan menggunakan teori mobile and social media journalism dan meneliti lebih luas dalam ranah social media journalism yaitu TikTok Kompas.com dan Kumparan.

Untuk mempermudah pemahaman penelitian terdahulu, peneliti meringkasnya dalam tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu.

Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu Peneliti Judul

Penelitian

Hasil Penelitian Relevansi

Peneliti I Oktama Kriscahya nto (2019) Penerapan Mobile and Social Media Journalism: Studi Kasus terhadap Penggunaan Fitur Instagram TV oleh BBC Indonesia.

1. Konten digital yang diproduksi oleh BBC

Indonesia adalah Youtube,

Facebook, Twitter, dan Instagram (IGTV).

2. BBC Indonesia membentuk tim redaksi khusus untuk media sosial agar lebih fokus. 3. Proses menentukan ide cerita untuk konten digital

BBC Indonesia adalah

memilih ide yang kuat dengan cara newsgathering dan

crowdsourcing.

4. Alur proses produksi pembuatan konten untuk media sosial adalah dengan menggunakan konsep

digital-first, dengan cara

newsgathering, distribution of news, dan audience

engagement.

5. Dalam upaya menjaga audiens media sosial agar terus meningkat, BBC Indonesia selalu membuat konten berkualitas dengan cara membuka ruang diskusi bagi audiensnya.

Sama-sama membahas sebuah media di Indonesia yang menerapkan Mobile and Social Media Journalism. Namun, penelitian ini memilih

BBC Indonesia sebagai subjek

penelitiannya dan berfokus pada penggunaan fitur Instagram TV (IGTV). Penelitian skripsi yang dilakukan oleh Kriscahyanto memberikan celah penelitian baru bagi peneliti untuk mengembangkan penelitian, yaitu memilih media digital atau platform baru untuk diteliti. Dalam hal ini, peneliti memilih TikTok untuk diteliti kualitas berita Kompas.com dan Kumparan yang menggunakan penerapan

Mobile and Social Media Journalismnya. Dipilihnya

platform TikTok juga menjadi nilai kebaruan dalam

penelitian ini. Peneliti II Meijer & Valuable Journalism: Measuring

Dalam valuable journalism yang merupakan

pengembangan dari kualitas

Artikel ilmiah ini yang relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, karena

(13)

27 Bijleveld (2016) News Quality From a User’s Perspective.

berita, ada empat dimensi yaitu Urgency, Public

Connection, Understanding the Region, dan Audience Responsiveness.

Hasil pertanyaan penelitian kedua adalah topik yang perlu lebih diperhatikan adalah berita tentang lingkungan hidup, alam, dan sejarah.

sama-sama meneliti kualitas berita pada media, namun dalam artikel ilmiah ini membahas kualitas berita dengan mengembahkannya lagi menjadi konsep yang disebut valuable journalism. Peneliti mengembangkan penelitiannya menggunakan

teori mobile and social media journalism dan meneliti lebih

luas dalam ranah social media journalism yaitu kualitas berita yang dihasilkan

Kompas.com dan Kumparan

pada platform TikToknya.

Peneliti III Ratna Puspita dan Titis Nurwulan Suciati (2020) Mobile Phone dan Media Sosial: Penggunaan dan Tantangannya pada Jurnalisme Online Indonesia.

Hasil dan pembahasan dalam penelitian ini memiliki empat poin hasil, di antaranya adalah Organisasi, Jurnalis, Berita

Online, Situs Agregator dan

Situs Opini, Situs Disinformasi dan Brand Journalism.

Sama-sama meneliti penggunaan atau penerapan

Mobile and Social Media Journalism. Namun, peneliti

mengembangkannya dengan menemukan celah penelitian dengan berfokus pada sebuah platform TikTok yang juga menjadi nilai kebaruan dalam penelitian ini. Peneliti juga lebih berfokus pada satu perusahaan media untuk diteliti yaitu Kompas.com dan

Kumparan. Serta meneliti

kualitas berita yang diproduksi

Kompas.com dan Kumparan

menggunakan Mobile and

Social Media Journalism

Peneliti IV Rahayu Suci Miranda (2018) Pemanfaatan Smartphone Dalam Meningkatkan Kinerja Jurnalis Kampus (Studi Pada Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Sumberpost). Smartphone meningkatkan

kinerja jurnalis Sumberpost: 1. Sebelum menggunakan

smartphone, jurnalis Sumberpost lambat dalam

kegiatan jurnalistik sehingga menjadi kurang efektif. Namun, setelah menggunakan smartphone, pekerjaan jurnalis semakin meningkat dan digunakan untuk berkomunikasi melalui aplikasi pesan singkat Whatsapp.

2. Semakin mudah dalam meliput, mengedit, dan menulis berita.

Sama-sama meneliti penggunaan atau penerapan jurnalisme seluler. Namun, peneliti mengembangkannya dengan menggunakan teori

mobile and social media journalism dan meneliti lebih

luas dalam ranah social media

journalism yaitu TikTok Kompas.com dan Kumparan.

(14)

28 3. Menggunakan fitur-fitur

yang tersedia di smartphone untuk mempermudah pekerjaannya.

Sumber: Hasil Olahan Peneliti

2.2

Teori dan Konsep

2.2.1 Konsep Persepsi Komunikasi

Persepsi adalah sebagai inti komunikasi, karena apabila persepsi tidak akurat maka komunikasi menjadi tidak efektif. Persepi juga yang menentukan pesan mana yang akan diterima dan pesan mana yang akan diabaikan. Semakin tinggi derajat kesamaan persepsi antarindividu, maka akan semakin mudah dan semakin sering mereka berkomunikasi, dan juga semakin cenderung membentuk kelompok budaya atau kelompok identitas (Mulyana, 2010, p. 180).

Definisi lain tentang persepsi juga dijelaskan oleh beberapa ahli (dalam Mulyana, 2010, p. 180), yaitu pertama menurut Brian Fellows, persepsi merupakan proses yang memungkinkan organisme menerima dan juga menganalisis informasi. Kedua menurut Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken, persepsi yaitu sarana yang memungkinkan seseorang untuk memperoleh kesadaran tentang lingkungan sekitarnya. Ketiga menurut Philip Goodacre dan Jennifer Follers, persepsi merupakan proses mental yang digunakan untuk mengenali rangsangan. Keempat menurut Joseph A. DeVito, persepsi yaitu proses yang menyadarkan seseorang akan banyaknya stimulus yang memengaruhi indra.

Menurut Mulyana (2010, p. 181), persepsi meliputi pengindraan yaitu sensasi melalui alat-alat indra (indra peraba, indra penglihatan, indra penciuman, indra

(15)

29

pengecap, dan indra pendengaran), atensi, dan interpretasi. Mulyana juga berpendapat, reseptor indrawi (lidah, hidung, kulit, mata, dam telinga) merupakan penghubung otak manusia dengan lingkungan sekitar, misalnya adalah mata yang bereaksi pada gelombang cahaya, telinga bereaksi pada gelombang suara, kulit terhadap temperatur dan tekanan, hidung bereaksi pada wewangian, dan lidah bereaksi pada rasa-rasa. Kemudian rangsangan-rangsangan yang menyentuh indra tersebut kemudian dikirimkan ke otak.

Kenneth K. Sereno, Edward M. Bodaken, Judy C. Pearson, dan Paul E. Nelson (dalam Mulyana, 2010, p. 181) menjelaskan bahwa persepsi terdiri dari tiga aktivitas, yaitu seleksi, organisasi, dan interpretasi. Menurut mereka, seleksi mencakup sensasi dan atensi, sedangkan organisasi melekat pada interpretasi, sehingga didefinisikan sebagai meletakkan rangsangan bersama dengan rangsangan lainnya sehingga menjadi suatu keseluruhan yang bermakna. Mereka juga berpendapat, ketiga tahap persepsi (seleksi, organisasi, dan interpretasi) sulit dibedakan secara tegas kapan satu tahap itu dimulai dan kapan satu tahap itu telah berakhir, biasanya dalam banyak kasus ketiga tahapan tersebut dapat terjadi secara bersamaan atau serempak.

Manusia dapat mengetahui dunia melalui pengindraan, karena melalui pengindraan manusia dapat mempersepsi apa yang dilihat, dicium, didengar, disentuh, dan dicicipi. Atensi (termasuk dalam seleksi) tak dapat dihindari, karena sebelum merespons atau menafsirkan kejadian atau rangsangan apapun sebagai persepsi, manusia harus memperhatikan kejadian atau rangsangan tersebut. Hal tersebut berarti bahwa persepsi mensyaratkan adanya suatu objek untuk dipersepsi,

(16)

30

termasuk orang lain dan diri sendiri. Biasanya, rangsangan yang lebih menarik perhatian cenderung dianggap lebih penting dibandingkan rangsangan yang kurang menarik perhatian, sehingga cenderung menjadi penyebab kejadian-kejadian berikutnya. Hal ini berlaku pada manusia, biasanya orang yang paling diperhatikan akan dianggap lebih berpengaruh (Mulyana, 2010, p. 182)

Tahap paling penting dalam persepsi adalah interpretasi atas informasi yang telah didapatkan dari salah satu atau lebih indra manusia. Manusia tak dapat menginterpretasikan makna objek secara langsung, namun dapat menginterpretasikan makna informasi yang dipercayai mewakili objek tersebut. Sehingga pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi bukan pengetahuan mengenai objek yang sebenarnya, melainkan pengetahuan mengenai bagaimana tampaknya objek itu. Norwood Russell Hanson seorang filosof pengetahuan (dalam Mulyana, 2010, p. 182) juga menyetujui karakteristik pengamatan ini, menurutnya manusia tidak pernah bisa hanya mengamati dan bahwa pengamatan murni tidak mungkin dilakukan.

Menurut Mulyana (2010, p. 184) persepsi manusia terbagi menjadi dua, persepsi terhadap manusia dan persepsi terhadap objek (lingkungan fisik). Persepsi terhadap manusia (atau bisa juga disebut persepsi sosial) lebih kompleks, hal ini dikarenakan manusia bersifat dinamis. Untuk memahami persepsi sosial secara utuh, harus memahami persepsi objek (lingkungan fisik) karena ini merupakan dua hal yang berbeda, perbedaannya yaitu:

- Persepsi terhadap objek dilakukan melalui lambang fisik, dan persepsi terhadap manusia melalui lambing verbal & nonverbal, karena manusia

(17)

31

lebih aktif dibandingkan kebanyakan objek dan lebih sulit untuk diramalkan.

- Persepsi terhadap objek (lingkungan sosial) melihat sifat-sifat luar, dan persepsi terhadap manusia melihat sifat-sifat luar dan dalam (seperti perasaan, harapan, motif, dan lainnya). Kebanyakan objek tidak mempersepsi manusia ketika manusia mempersepsi objek, atau bisa juga diartikan persepsi terhadap manusia sifatnya interaktif.

- Objek tidak bereaksi, sedangkan manusia bereaksi. Dapat juga diartikan objek bersifat statis dan manusia bersifat dinamis. Maka, persepsi terhadap manusia dapat berubah dari waktu ke waktu dan lebih cepat daripada persepsi terhadap objek. Dapat dikatakan bahwa persepsi terhadap manusia lebih berisiko daripada persepsi terhadap objek.

Konsep persepsi digunakan dalam penelitian ini karena membahas bagaimana persepsi khalayak dari Generasi Z tentang kualitas berita vaksinasi Covid-19 di TikTok Kompas.com dan Kumparan. Konsep ini menjelaskan bagaimana proses terjadinya persepsi seseorang (dalam hal ini adalah khalayak dari Generasi Z sebagai subjek penelitian) terhadap kualitas berita yang telah ditontonnya.

2.2.2 Konsep Kualitas Berita

Konsep yang digunakan untuk menjadi pisau bedah dalam penelitian ini adalah menurut Urban & Schweiger (2013), yaitu ada enam dimensi kualitas dasar untuk menentukan apakah sebuah berita dapat dikatakan berkualitas atau tidak.

(18)

32

Pertama, keberagaman (diversity), semua kelompok sosial harus mempunyai kesempatan dan peluang untuk berada dalam sebuah liputan jurnalistik atau berita. Kedua, relevansi (relevance), sebuah berita fokus pada isu-isu aktual, relevan, dan menyajikan aspek-aspek penting dari isu tersebut. Ketiga, akurasi (accuracy), sebuah berita memiliki informasi lengkap dan akurat sehingga audiens memahami permasalahannya dan akan membentuk opini untuk membuat keputusan. Keempat, mudah dipahami (comprehensibility), sebuah berita harus mudah dipahami oleh audiens agar informasi dapat tersampaikan. Kelima, imparsialitas (impartiality), sebuah berita harus bersifat netral dan seimbang dari semua fakta, tuntutan, dan posisi. Keenam, kepatuhan terhadap standar etika (ethics), sebuah berita harus mematuhi etika-etika yang berlaku seperti menghormati hak, suku, ras, dan agama lain (Urban & Schweiger, 2013).

Dalam penelitian ini, hanya menggunakan lima dari enam dimensi yang lebih relevan dengan topik vaksinasi Covid-19, dimensi kualitas oleh Urban & Schweiger (2013) yang digunakan di antaranya keragaman (diversity), relevansi (relevance), akurasi (accuracy), pemahaman (comprehensibility), dan ketidakberpikahan (impartiality). Alasan dimensi kualitas etika (ethics) tidak digunakan karena pada topik vaksinasi Covid-19, jarang sekali berita yang membahas tentang isu ras, agama, suku, budaya, dan gender.

Kualitas konten berita menurut Picard (2004) adalah jurnalisme yang berkualitas harus mempunyai makna sosial, budaya, atau politik dalam setiap berita yang dipublikasikan dan dinikmati audiens. Sebagai contoh, konten berita

(19)

33

memastikan peran sebuah media sebagai watchdog atau pengawas pemerintah dan sebagai promotor demokrasi partisipatoris.

Dalam penelitian yang dilakukan Picard menunjukkan bahwa di antara editor surat kabar, semakin tinggi rasio konten yang diproduksi sendiri dengan materi yang dicari sendiri, semakin tinggi rasio materi editorial dengan iklan, dan liputan lokal menjadi dipandang sebagai faktor penting dalam kualitas berita jurnalisme. Hal itu karena menjamin tingkat akurasi dan keragaman pendapat menjadi lebih tinggi, sehingga membantu media untuk memenuhi peran mereka dalam demokrasi (Picard, 2004).

Picard (2004) juga berpendapat bahwa penggunaan berbagai sumber membantu memberikan akurasi, keterwakilan, dan luasnya cakupan masalah, sehingga dapat menghindari bias yang mungkin saja terjadi jika hanya menggunakan satu atau dua sumber.

Pentingnya jurnalisme atau pers yang berkualitas adalah sebagai perisai dari penyalahgunaan kekuasaan dan memastikan pemerintah mewakili rakyatnya. Maka dari itu, pers disebut sebagai watchdog atau pengawas pemerintah. Pers yang menyeluruh, waspada, berkualitas, dan kritis sangat penting untuk mencegah perilaku pejabat pemerintah yang tidak etis, ceroboh, melakukan kejahatan dan korupsi. Sudah banyak produk jurnalisme yang berkontribusi menyingkap penyalahgunaan kekuasaan oleh pemerintah (Skripeland, 2012).

Skripeland (2012) juga menjelaskan, selain sebagai pengawas pemerintah, berita yang berkualitas juga penting secara sosial dan budaya. Dengan membaca berita yang berkualitas, dapat dikatakan sebagai perekat sosial, misalnya dapat

(20)

34

berbagi dan mendiskusikan berita dengan orang lain. Serta dalam konteks budaya, membaca berita berkualitas dapat meningkatkan keterampilan menulis dan berbahasa. Dari penjelasan yang dipaparkan Skripeland (2012), berita berkualitas memegang peran penting dalam aspek sosial, budaya, dan demokrasi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa jurnalisme yang berkualitas memberikan manfaat bagi masyarakat.

Konsep kualitas berita sangat penting dalam penelitian ini karena dimensi kualitas berita oleh Urban & Schweiger (2013) menjadi pisau bedah untuk mengetahui apakah konten berita Kompas.com dan Kumparan di TikToknya memenuhi dimensi kualitas berita oleh khalayak dari Generasi Z yang akan diwawancarai sebagai subjek penelitian.

2.2.3 Konsep Mobile and Social Media Journalism

Dari data penelitian Maverick (2020) didapatkan bahwa penonton semakin banyak yang mengakses berita di perangkat seluler melalui media sosial, maka secara langsung juga akan berdampak pada bagaimana cara dan di mana jurnalis akan mempublikasikan konten beritanya. Melalui pendekatan digital-first, jurnalis modern saat ini dapat menggunakan smartphone atau perangkat seluler untuk memberikan informasi yang ada di lapangan melalui platform media sosial. Perangkat seluler dibutuhkan pada saat proses peliputan di lapangan untuk memudahkan dan mempercepat proses pengumpulan, produksi, dan publikasi konten ke berbagai platform (Adornato, 2017).

(21)

35

Adornato (2017) juga mengatakan bahwa Mobile and Social Media Journalism mempersiapkan para jurnalis pemula untuk memanfaatkan smartphone dan media sosial sebagai jurnalis profesional dengan tiga cara utama, mulai dari mengumpulkan berita, mendistribusikan konten, dan menciptakan keterlibatan audiens. Mereka akan mempelajari keterampilan dasar jurnalistik masa kini.

Dalam bukunya, Adornato (2017) menjelaskan bahwa sebelum adanya media sosial, jurnalisme adalah komunikasi satu arah. Karena hal ini berkaitan dengan perbedaan yang mendasar antara teknologi yang berkembang saat ini dan teknologi sebelum adanya media sosial (contohnya adalah media cetak dan televisi), jurnalisme berbasis cetak dan siaran televisi tradisional berdasar pada model komunikasi massa dari satu arah. Ciri-cirinya adalah penonton yang pasif, komunikasi satu arah, serta berasal dari satu entitas, orang, atau kelompok hingga audiens yang banyak.

Jurnalis sebagai produsen informasi bertugas memberitahu publik apa saja yang perlu mereka ketahui dengan sedikit atau bahkan tanpa interaksi dengan audiensnya (memberi informasi satu arah). Dalam komunikasi model satu arah ini, audiens bisa berinteraksi namun hanya sedikit interaksinya, misalnya dengan menulis surat ke editor atau menelepon saluran berita tersebut (Adornato, 2017).

Model ini sangat berbanding terbalik dengan munculnya mobile and social media journalism (MSMJ), karena dengan adanya MSMJ, jurnalis dengan audiensnya dapat berinteraksi langsung melalui media sosialnya dan menjadi audiens aktif (memiliki sarana untuk berbicara). Mobile and social media journalism memiliki ciri khas, yaitu aksesibilitas karena hampir semua audiensnya

(22)

36

memiliki smartphone untuk berinteraksi dengan jurnalis, audiens aktif yang dapat membuat serta mempublikasikan sebuah konten, dan interaktivitas antara jurnalis dengan audiens (Adornato, 2017).

Adornato juga mengatakan jurnalisme telah bergeser dari komunikasi satu arah menjadi dua arah, yang menjelaskan bagaimana jurnalis melaporkan dan berinteraksi dengan audiens, biasanya bernada informal dan keterbukaan jurnalis pada feedback audiens. Dengan dilibatkannya audiens, tentu akan membangun kepercayaannya juga.

Istilah gatekeeping digunakan untuk menjelaskan proses pemilihan konten berita yang berhasil melewati “gerbang” dan menjadi produk berita yang akan dikonsumsi audiens seperti situs berita, media cetak, atau siaran berita. Tugasnya untuk menentukan konten mana yang paling relevan, ditujukan untuk siapa, dan bagaimana cara penyampaiannya.

Gatekeeper dalam mobile and social media journalism adalah audiens aktifnya. Konsep gatekeeper tradisional telah dibalik, kini editor, direktur berita, produser, dan jurnalis tidak lagi memiliki kendali tunggal atas konten yang telah melalui gatekeeping. Mereka membuat keputusan akhir mengenai berita apa yang masuk ke dalam situs web, surat kabar, atau siaran, pengaruh audiens pada proses tersebut tidak perlu dipertanyakan lagi (Adornato, 2017).

Mendistribusikan sebuah berita dengan menggunakan mobile and social media journalism mengharuskan seorang jurnalis untuk membagikan konten berita diberbagai platform saat melaporkan dari lapangan, memberikan update terbaru

(23)

37

pada sebuah konten berita, dan menggunakan perangkat seluler untuk mengambil, memproduksi, dan mempublikasikan konten berita (Adornato, 2017).

Social media dalam konsep ini merupakan tempat jurnalis untuk menyebarkan beritanya, berita yang telah diproduksi dengan smartphone (mulai dari proses riset, melakukan peliputan, hingga proses editing) kemudian dipublikasikan di platform-platform media sosial seperti Instagram, TikTok, Twitter, Facebook, dan sebagainya.

Konsep Media and Social Media Journalism yang dikemukakan oleh Adornato digunakan dalam penelitian ini karena untuk mengetahui bagaimana penerapan Media and Social Media Journalism yang dilakukan oleh Kompas.com untuk memproduksi konten beritanya di TikTok.

2.2.4 Konsep Media Online

Jurnalisme digital tidak lepas dari platform digitalnya, yaitu media online. Foust (2005, p. 2) menjelaskan media online dapat memberi pembaca sebuah bentuk baru berita dan informasi di segala waktu dan segala tempat. Selain situs web tradisional, media online membuat konten berita untuk perangkat seluler seperti smartphone melalui teknologi geolokasi (terdapat pada smartphone) sehingga konten berita dapat disesuaikan dengan lokasi pengguna.

Foust (2005, p. 2) menjelaskan dengan adanya media online, memudahkan pembaca mendapatkan berita yang dibuat oleh jurnalis media online, dan jika semakin mudah diakses maka semakin banyak pula yang mengkonsumsinya,

(24)

38

karena kemudahan mengakses inilah menjadi alasan peneliti untuk ingin berfokus pada platform media online.

Media online atau yang dalam bahasa Indonesia disebut media daring adalah sebuah media yang berbasis internet. Media online lebih dipilih pada zaman sekarang karena interaktivitas yang dimiliki sebagai salah satu kriteria media berbasis dalam jaringan (daring). McQuail (2010) pada bukunya menyebutkan bahwa ada 8 kriteria media online yakni berbasis pada teknologi computer, memiliki potensi interaktivitas, saling terhubung satu sama lain, memiliki fungsi publik dan privat, dapat digunakan sebagai komunikator, regulasi hukum yang mengatur tidak terlalu ketat, berfungsi sebagai medium untuk komunikasi secara personal & global, dan bersifat hybrid

Media online yang merupakan new media, memiliki beberapa karakteristik yang membedakan tipe komunikasi media online dengan media lainnya adalah:

a) New textual experiences (pengalaman tekstual baru): genre dan bentuk teks, hiburan, kesenangan baru dan pola konsumsi media.

b) New ways of representing the world (cara baru untuk mewakili dunia): media dengan cara yang tidak selalu jelas terdefinisi, menawarkan kemungkinan dan pengalaman representasional baru (lingkungan virtual imersif, multimedia interaktif berbasis layar)

c) New relationships between subjects and media technology (hubungan baru antarsubjek dan teknologi media): perubahan dalam penggunaan dan penerimaan gambar dan media komunikasi dalam kehidupan sehari-hari dan dalam arti yang diinvestasikan dalam teknologi media

(25)

39

d) New experiences of the relationship between embodiment, identify and community (pengalaman baru dari hubungan antara perwujudan, identitas, dan komunitas): pergeseran dalam pengalaman pribadi dan sosial waktu, ruang dan tempat yang memiliki implikasi terhadap cara-cara di mana kita mengalami diri kita sendiri dan tempat kita di dunia.

e) New conceptions of the biological body’s relationship to technological media (konsep baru tentang hubungan tubuh biologis dengan media teknologi): tantangan untuk menerima perbedaan antara manusia dan teknologi buatan, alam dan teknologi, nyata dan virtual.

f) New patterns of organization and production (pola baru organisasi dan produksi): penataan kembali dan integrasi yang lebih luas dalam budaya media, industri, ekonomi, akses, kepemilikan, kontrol dan regulasi (Lister, Dovey, Giddings, Grant, & Kelly, 2009).

Penelitian ini berfokus pada media online Kompas.com dan Kumparan untuk diteliti bagaimana kualitas berita vaksinasi Covid-19 Kompas.com dan Kumparan pada platform TikToknya.

2.2.5 Konsep Media Sosial

2.2.4.1 TikTok

TikTok adalah platform media sosial berisi video-video dengan durasi pendek, biasanya berdurasi 15 sampai 60 detik per video. Video TikTok dapat dinikmati melalui aplikasi di perangkat seluler, dengan mengunduh aplikasi dan mendaftarkan akun maka audiens dapat menikmati video hiburan yang ada di

(26)

40

aplikasi ini (About TikTok, 2020). TikTok dimiliki oleh perusahaan ByteDance asal Cina yang diluncurkan pada September 2016, aplikasi ini menempati peringkat sebagai salah satu aplikasi media sosial yang paling banyak diunduh sejak tahun 2018 yaitu lebih dari 1,5 miliar kali, dengan memiliki 800 juta pengguna aktif bulanan, dan menjadi platform ketujuh yang paling banyak digunakan di dunia (CIGIOnline.org, 2020).

Video yang tersedia di TikTok sangat beragam, mulai dari video tips dan trik, edukasi, tarian, challenge, memasak, humor, bahkan berita. Namun video di TikTok biasanya dikemas dengan ringan dan sebagian besar adalah konten hiburan. Aplikasi TikTok sedang menjadi tren saat ini karena banyak video bermanfaat dan menarik untuk ditonton. Selain itu juga kreator TikTok diharuskan untuk membuat video yang memiliki kreativitas tinggi agar konten videonya banyak ditonton dan memiliki views, comments, serta likes yang banyak. TikTok telah memiliki kantor global di kota-kota besar di berbagai negara, di antaranya adalah Los Angeles, New York, London, Berlin, Paris, Mumbai, Dubai, Singapura, Seoul, Tokyo, dan Jakarta.

Penelitian ini memilih TikTok karena pada era ini, TikTok sedang tren dan banyak orang yang menggunakan aplikasi hiburan ini. Bahkan, banyak perusahaan media di Indonesia yang menggunakan aplikasi TikTok untuk membuat konten berita, yaitu Kompas.com (@Kompascom) dan Kumparan (@Kumparan).

(27)

41 2.2.6 Konsep Generasi Z

Menurut Grail Research (2011), karakteristik Generasi Z adalah generasi pertama yang benar-benar menggunakan internet atau disebut sebagai digital natives, mereka yang lahir dari tahun 1995 hingga 2010. Generasi Y masih mengalami transisi teknologi hingga menuju era internet, sedangkan Generasi Z lahir saat teknologi internet sudah tersedia.

Hal tersebut yang menyebabkan Generasi Z memiliki karakter yang menggemari teknologi, fleksibel, cerdas, dan toleran pada perbedaan budaya. Generasi Z lebih terhubung secara global dan virtual dengan orang lain di internet. Grail juga mengatakan Generasi Z lebih menyukai budaya instan dan kurang peka terhadap esensi privat karena sering mengunggah kehidupan pribadinya di media sosial (Grail, 2011).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nielsen (2016), Generasi Z selalu terhubung dengan internet karena mereka lahir pada era digital dan internet sudah menjadi kebutuhan. Hal ini dibuktikan jika pada sepuluh tahun lalu, Generasi Z mengakses internet di Warung Internet (Warnet) pada anak-anak (81%) dan remaja (56%), dan di tahun 2016 anak-anak (93%) dan remaja (97%) mengakses internet melalui perangkat seluler yang dimiliki. Generasi Z paling banyak mengakses internet untuk berinteraksi lewat media sosial, menjelajah internet, bermain game, dan mendengarkan musik.

(28)

42

2.3 Alur Penelitian

Berkembang pesatnya teknologi informasi memunculkan berbagai platform media sosial baru di dunia internet, hadirnya aplikasi TikTok sebagai media sosial hiburan menjadi sebuah tren bagi kalangan pengguna smartphone atau perangkat seluler pintar. Adanya platform terbaru dan sedang tren, membuat jurnalis juga harus mampu beradaptasi dan mengikuti tren tersebut agar dapat mencapai audiens pada platform tersebut. TikTok menjadi tantangan baru bagi para jurnalis, diharuskan untuk memasuki platform tersebut dan memproduksi serta mempublikasikan konten beritanya dengan mengikuti ciri khas platform TikTok yang merupakan media sosial berisi hiburan ringan. Hal ini menjadi sebuah tantangan bagi para jurnalis, khususnya jurnalis Kompas.com dan Kumparan yang membuat konten berita di akun TikTok @Kompascom dan @Kumparan.

Berita yang biasanya bersifat serius harus disajikan sesuai ciri khas TikTok yaitu santai dan mudah dicerna audiens, namun tetap harus mengikuti kaidah jurnalisme. Tak hanya itu, konten berita TikTok juga dibuat dengan menerapkan Mobile and Social Media Journalism, hal ini juga menjadi tantangan baru para jurnalis untuk mampu membuat berita dengan menggunakan smartphone.

TikTok berisi video hiburan ringan berdurasi pendek (15-60 detik), apakah dengan keterbatasan durasi tersebut jurnalis Kompas.com dan Kumparan dapat membuat berita yang berkualitas dengan memenuhi lima dimensi kualitas berita? Dari penjelasan tersebut, maka penelitian ini akan berfokus pada bagaimana kualitas berita vaksinasi Covid-19 Kompas.com dan Kumparan di platform TikTok

(29)

43

yang menggunakan penerapan Mobile and Social Media Journalism dan akan meneliti pada khalayak yaitu Generasi Z.

Gambar

Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di home industry pembuatan sandal Kelurahan Pamoyanan RW 04 Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor Tahun 2019 mengenai

penulis baik dari materi, waktu dan semua hal. Buat BFF, sahabat dari SMP N. 21 Medan yaitu Ayu, Bulan, Wanti Isa Dora, Chandra Sihombing, Bangun Dedo Samosir, dan Satria

11 Integrated Drilling Rig Services (sub-contractor to PT. Huabei Petroleum Service) Pengadaan Jasa Jambi, Sumatera August – October 2015 Ranhill Jambi Inc. Bohai

Potensi dalam penelitian ini yaitu terdapat pada komik berbasis digital yang berfungsi sebagai media pembelajaran untuk kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV SD

antara peserta dalam sistem pemerintahan, Pemegang saham pengendali+ "ang mungkin merupakan individu+ kepemilikan keluarga+ aliansi blok+ atau perusahaan lain "ang

Pemeriksaan fungsi motorik konvensional dapat dilakukan pada anak yang kooperatif, biasanya pada usia di atas enam tahun, meski dapat dilakukan dengan baik pada anak berusia

Analisis regresi linear berganda bertujuan untuk menghitung seberapa besar pengaruh veriabel terikat dalam penelitian ini. Untuk mengetahui besarnya koefisien regresi

Penelitian dimulai dengan memilih jenis bahan material untuk rangka dan body, menyiapkan komponen-komponen yang diperlukan serta melakukan langkah-langkah dalam