• Tidak ada hasil yang ditemukan

Al-Kahfi: Jurnal Pendidikan Agama Islam Volume 6, No. 1, Ed. Jan-Jun 2021 IMPEMENTASI PENDIDIKAN NILAI-NILAI KARAKTER DI SEKOLAH. Oleh: Herina Yanti

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Al-Kahfi: Jurnal Pendidikan Agama Islam Volume 6, No. 1, Ed. Jan-Jun 2021 IMPEMENTASI PENDIDIKAN NILAI-NILAI KARAKTER DI SEKOLAH. Oleh: Herina Yanti"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

IMPEMENTASI PENDIDIKAN NILAI-NILAI KARAKTER DI SEKOLAH Oleh: Herina Yanti

Abstrak

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Bab II pasal 3 dinyatakan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan pendidikan nasional tersebut tampak ideal dan jika dapat diwujudkan, maka akan dihasilkan manusia yang utuh, sempurna, terbina seluruh potensi jasmani, intelektual, emosional, sosial dan sebagainya. Sehingga ia dapat diserahkan tanggung jawab untuk mengemban tugas baik yang berkenaan dengan kepentingan pribadi, masyarakat dan bangsa.

Namun dalam praktik, ternyata tujuan pendidikan nasional belum sepenuhnya tercapai. Hal itu mengakibatkan lulusan yang dihasilkan belum mencerminkan perilaku-perilaku yang diharapkan oleh tujuan nasional tersebut.

Kata Kunci: Pendidikan, Karakter A. Pendahuluan

Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan pendidik melalui bimbingan, pengajarAn dan pelatihan pada peserta didik mengalami proses diri kearah tercapai dengan demikian, pendidik di harapkan dapat membimbing pendidik menjadi pendidik yang berbudi luhur, santun dan tentunya siap untuk bersaing di era Globalisasi ini. Berbakti kepada orang tua, guru maupun mengabdikan diri untuk masyarakat. Pendidikan berasal dari kata dasar didik yang artinya memelihara dan member latihan, ajaran,bimbingan mengenai ahlak dan kecerdasan. Dilihat dari tujuan undang-undang tentang sitem pendidikan nasional maka dapat di artikan bahwa lulusan pada saat ini belum sesuai dengan harapan bahkan cenderung bersikap sekuler, materialistik, rasionalistik, hedonistik, yaitu manusia yang cerdas intelektualitasnya dan terampil fisiknya, namun kurang terbina mental spiritualnya dan kurang memiliki kecerdasan emosional.1 Akibat dari yang demikian, banyak sekali para pelajar yang terlihat “dalam tawuran”,

1 Daniel Goleman, Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi (Jakarta: Gramedia, 1999), hlm. 9.

(2)

tindakan kriminal, pencurian, Perhatian masyarakat tentang perlunya kecerdasan emosional yang mengimbangi kecerdasan intelektual akhir-akhir ini tampak meningkat, mengingat telah banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa peran IQ dalam keberhasilan di dunia kerja, hanya menempati posisi kedua setelah kecerdasan emosional, dalam menentukan peraihan prestasi puncak dalam pekerjaan. Kecerdasan emosional dapat diartikan sebagai kecakapan mengelola perasaan sedemikian rupa sehingga terekspresikan secara tepat dan efektif yang memungkinkan orang bekerja sama dengan lancar menuju sasaran bersama. Di dalam kecerdasan emosional tercakup kemampuan melakukan sambung rasa, empati dan komunikasi yang terbuka.2 Realitas saat ini sangat miris. Apalagi di Indonesia banyak siswa yang belum memiliki pribadi yang berbudi luhur banyak siswa/I di Indonesia yang belom terbentuk karakternya dan pribadinya apalagi di era globalisasi saat ini semakin runyam kepribadian siswa/I di Indonesia ini.

Kasus demi kasus semakin menjadi kasus siswa berani kepada guru, guru menjadi bulian para siswa peristiwa-peristiwa tersebut harusnya tidak terjadi, inilah permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan sungguh ironi yang perlu di tuntaskan sampai ke akar-akarnya peran orang tua juga harus ikut andil untuk menuntaskan permasalahan tersebut, di rumah siswa harus di ajari tatakrama, di ajari tutur kata lemah lembut dan yang paling utama adalah AGAMA seorang siswa akan baik dan mempunyai ahlak ketika seorang siswa patuh dan menaati semua peraturan agama, semua agama mengajarkan kebaikan semua agama mengajarkan cinta dan kasih sayang.

Semua aspek-aspek tersebut harus berkolaborasi menjadi kuda-kuda yang kokoh untuk membangun pendidikan mencetak benih-benih yang unggul untuk masa depan Indonesia yang akan datang. Dari tahun ketahun, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang dan maju. Negara-negara Berkembang dan Negara-Negara Maju bersaing dalam bidang teknologi Indonesia harus mampu bersaing dengan Negara-Negara yang lain. Perlu kita ketahui sebuah Negara di katakana maju bila pendidikan di Negara tersebut juga maju. Bagai mana dengan Indonesia? Siswa/I Indonesia saat ini, kesadaran siswa/I dalam kewajiban belajarnya sudah hilang. Mereka hanya ingin yang instan tanpa berusaha dengan

2 Tadrîs Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 93

(3)

gigih mereka sekarang lebih mengandalkan internet mereka tergantung dengan internet alhasil ketika ujian atau semesteran nilai mereka sangat tidak memuaskan dan harus mengikuti remedy untuk memperbaiki nilai.

Sistem pendidikan kita telah diarahkan pada suatu bentuk pendidikan yang sangat intelektualistis, karena hanya mengembangkan beberapa aspek terbatas dari intelegensi manusia. Gardner – sebagaimana dikutip Fajar – telah menunjukkan bahwa intelegensia bukan hanya intelegensia akademik saja, tetapi bermacam- macam intelegensia yang perlu dikembangkan untuk menciptakan suatu kebudayaan yang kaya dan dinamis. Pengelolaan pendidikan yang terlalu menekankan pada dimensi kognitif dan mengabaikan dimensi-dimensi lain ternyata telah melahirkan manusiadengan kepribadian pecah (split personality).3

Seiring dengan “kegagalan” pencapaian tujuan pendidikan nasional tersebut, saat ini gagasan mengenai pendidikan karakter semakin mengemuka yang menginginkan perubahan dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya, yang berpegang teguh pada nilai-nilai keagamaan dan kemasyarakatan. Bahkan pendidikan karakter ini menjadi isu utama pendidikan nasional. Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2011, Menteri Pendidikan Nasional M.

Nuh menegaskan bahwa mulai tahun ajaran 2011/2012, pendidikan berbasis karakter akan dijadikan sebagai gerakan nasional, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan Perguruan Tinggi, termasuk di dalamnya pendidikan nonformal dan informal. Karakter yang hendak dibangun, menurut Mendiknas, bukan hanya karakter berbasis kemuliaan diri semata, akan tetapi secara bersamaan membangun karakter kemuliaan sebagai bangsa.4 Dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara, diyakini bahwa nilai dan karakter yang secara legal-formal dirumuskan sebagai fungsi dan tujuan pendidikan nasional, harus dimiliki peserta didik agar mampu menghadapi tantangan hidup pada saat ini sehingga mampu mendorong mereka menjadi anggota masyarakat yang memiliki kepribadian unggul.5 Pemberlakuan

3 A. Malik Fajar, et.al. Platform Reformasi Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Jakarta: Logos, 2001), hlm. 33.

4 Sambutan Menteri Pendidikan Nasional pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2011, Senin, 2 Mei 2011 dengan tema “Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa;

Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti”.

5 Umi Kulsum, Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis PAIKEM (Sebuah Paradigma Baru Pendidikan di Indonesia) (Surabaya: Gena Pratama Pustaka, 2011), hlm. 10.

(4)

pendidikan karakter yang demikian akan menumbuhkan karakter positif pada peserta didik.6 Atas dasar realitas empirik sebagaimana di atas, maka pendidikan karakter sangat tepat dicanangkan pada semua lini dan jenjang pendidikan.

Pendidikan karakter diproyeksikan sebagai core (inti) dari pendidikan nasional yang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) sudah ditegaskan secara jelas, yakni membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, hanya dalam implementasinya belum membuahkan hasil yang diharapkan. Sebagai contoh masih banyak kaum terpelajar yang melakukan pelanggaran moral dan hukum, hal ini bahkan sering terjadi di institusi pendidikan dan pemerintahan yang semestinya tidak patut melakukan hal semacam itu, namun ironisnya mereka yang seharusnya menjadi teladan malah menjadi pesakitan, mereka yang seharusnya menjadi panutan malah menjadi cemoohan, yang semestinya menjadi symbol kehormatan malah menjadi simbol kehinaan, dan lain sebagainya.7

B. Implementasi Pendidikan Karakter Di Sekolah 1. Pendidikan Karakter

a. Pengertian pendidikan

karakter

Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.

Hal ini sesuai yang dinyatakan dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 3, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

6 Abdullah Munir, Pendidikan Karakter, Membangun Karakter Anak Sejak dari Rumah(Yogyakarta: Pedagogia, 2010), hlm. xiii.

7 Yani, “Pendidikan Karakter Berbasis Agama”. Tadrîs Volume 8 96 Nomor 1 Juni 2013

(5)

Berdasarkan tujuan pendidikan nasional tersebut, maka idealnya lulusan satuan pendidikan memiliki kompetensi sikap yang meliputi sikap spiritual (beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa), dan sikap sosial (berakhlak mulia, sehat, mandiri, demokratis, bertanggung jawab), pengetahuan (berilmu) dan keterampilan (cakap dan kreatif). Namun, faktanya dunia pendidikan kita dewasa ini hanya mampu melahirkan lulusan-lulusan manusia dengan tingkat intelektualitas yang memadai. Banyak dari lulusan sekolah yang memiliki nilai tinggi, berotak cerdas, brilian tapi sayangnya tidak sedikit pula diantara mereka yang cerdas itu justru tidak memiliki perilaku cerdas dan sikap yang brilian serta kurang mempunyai mental kepribadian yang baik.8

Pernyataan tersebut dibuktikan dengan banyaknya persoalan yang muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan, perkelahian massa, penyalah gunaan narkoba, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupan politik yang tidak produktif, dan sebagainya. Fenomena tersebut jelas menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi banyak kalangan. Apa jadinya jika negeri ini memiliki banyak orang cerdas, namun ternyata mental dan perilaku mereka sama sekali tidak cerdas? Bahkan, tidak ada korelasi antara tingginya nilai yang diperoleh di bangku pendidikan dengan perilaku mereka di tengah-tengah masyarakat. Akibatnya, muncullah sosok-sosok orang pandai yang memperalat orang bodoh atau orang pandai yang menindas orang lemah. Oleh karena itu sejak tahun 2010, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mencanangkan penerapan pendidikan karakter bagi semua tingkat pendidikan mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi.9 Program ini dicanangkan sebab selama ini dunia pendidikan dinilai kurang berhasil dalam mengantarkan generasi bangsa menjadi pribadi yang bermartabat.

Pentingnya penerapan pendidikan karakter di satuan pendidikan juga diperkuat oleh beberapa hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kesuksesan dan kegagalan seseorang disegala aspek kehidupan tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis saja, tetapi lebih pada faktor kepribadian

8 Aunillah, Nurla Isna. 2011. Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah.

Yogyakarta: Laksana. Hal. 9

9http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?

option=com_content&view=article&id=293:implementasikarakter&catid=42:ebuletin&Itemid=21 5 Artikel LPMP SulSel Desember 2014 ISSN. 2355-3189

(6)

atau sikap. Hasil-hasil penelitian yang dimaksud antara lain; hasil penelitian di Universitas Standford menyimpulkan bahwa kesuksesan ditentukan oleh 87,5%

attitude (sikap) dan hanya 12,5% karena kemampuan akademik seseorang.10 Hal yang sama juga ditunjukkan oleh hasil penelitian dari Institut Teknologi Carnegie yang mengatakan bahwa dari 10.000 orang sukses, 85% sukses karena faktor kepribadian dan 15% karena faktor teknis.11 Demikian pula hasil penelitian Dr.Albert Edward Wiggam dalam Kurniawan yang menyatakan bahwa dari 4000 orang yang kehilangan pekerjaan, 400 orang (10%) karena kemampuan teknis, sedangkan 3.600 orang (90%) karena faktor kepribadian.

Hasil-hasil penelitian tersebut tentunya sangat menarik untuk dicermati.

Sebab ternyata faktor utama dari kesuksesan dan kegagalan itu adalah kepribadian atau lebih spesifik lagi adalah sikap dari orang tersebut. Hal ini mengisyaratkan perlunya mengimplementasikan pendidikan karakter di satuan pendidikan untuk membentuk karakter atau perilaku baik peserta didik selain pengetahuan dan keterampilannya.

Pendidikan karakter terdiri dari dua kata, yakni pendidikan dan karakter.

Kedua kata ini memiliki arti dan makna yang berbeda. namun ketika digabungkan akan memiliki makna dan semangat lain hingga memiliki kekuatan tersendiri untuk mengubah kepribadian anak. Jika dilihat Kamus Bahasa Indonesia (2003:263) pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Jadi pendidikan mengandung arti proses dalam membina, melatih, memelihara anak atau siapa pun sehingga menjadi manusia yang santun, cerdas, kreatif, berguna bagi diri, keluarga, masyarakat dan bangsa.12

Sementara Karakter jika dilihat Kamus Bahasa indonesia,13 berarti sifat- sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Menurut Munir karakter dalah sebuah pola, baik itu pikiran, sikap,

10 Mardiansyah, Dudi dan Senda, Irawan. 2011. Keajaiban Berperilaku Positif Jakarta:

TanggaPustaka. Hal. 88

11 Kurniawan, Boy Hadi. 2010. Yakinlah Anda Pasti Bisa Sukses Solo: Pustaka Iltizam. Hal.

87

12 Hendri Kak. 2013. Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Hal. 1

13 Depdiknas, Pusat Bahasa. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Hal. 506

(7)

maupun tindakan yang melekat pada diri seseorang dengan sangat kuat dan sulit dihilangkan.14 Sudewo membedakan karakter dengan tabiat, karakter adalah perilaku baik sedangkan tabiat adalah perilaku buruk. Lebih lanjut Sudewo mengemukakan bahwa karakter adalah kumpulan sifat baik yang menjadi perilaku sehari-hari, sebagai perwujudan kesadaran menjalankan peran, fungsi, dan tugasnya dalam mengemban amanah dan tanggung jawab.15

Berdasarkan arti dan makna dari dua kata di atas, yakni pendidikan dan karakter, maka pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik, yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilainilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan maupun bangsa sehingga terwujud insan kamil.16 Sejalan dengan pendapat tersebut, Samani dan Heriyanto mengemukakan bahwa pendidikan karakter adalah upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai kepada para siswanya. Menurut Kemendiknas (2010) pendidikan karakter adalah pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.17

Griek yang dikutip dari zubaedi, merumuskan defenisi karakter sebagai panduan dari segala tabiat manusia yang bersifat tetap sehingga menjadi tanda yang khusus untuk membedakan orang yang sat dengan yang lainnya. Batasan ini menunjukkan bahwa karakter sebagai identitas yang dimiliki seseorang yang menetap sehingga seseorang itu berbeda dengan yang lainnya.18

Dari beberapa definisi tentang pendidikan karakter sebagaimana dikemukakan di atas, nampak bahwa meskipun secara redaksional berbeda, namun intinya sama yakni pendidikan karakter adalah upaya pendidik untuk

14 Munir, Abdullah. 2010. Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Pedagogia.Hal. 3

15 Sudewo, Arie. 2011. Character Building. Jakarta: Republika Penerbit. Hal. 13-14

16 Aunillah, Nurla Isna. 2011. Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah.

Yogyakarta: Laksana. Hal. 18

17 Hendri Kak. 2013. Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Hal. 2

18 Syamsul kurniawan, 2016. Pendidikan karakter: konsepsi dan implementasinya secara terpadu di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, yokyakarta: ar-ruzz Media. Hal. 28

(8)

menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik- buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari- hari dengan sepenuh hati. Penerapan pendidikan karakter bagi semua tingkat pendidikan, mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi telah dicanangkan oleh pemerintah sejak tahun 2010. Pencanangan ini menurut Aunillah dilakukan sebab selama ini, dunia pendidikan dinilai kurang berhasil dalam mengantarkan generasi bangsa menjadi pribadi-pribadi yang bermartabat.19

Bahkan sejak ribuan tahun yang lalu Socrates pun telah mengemukakan bahwa tujuan paling mendasar dari pendidikan adalah membuat seseorang menjadi good and smart (orang yang memiliki perilaku baik dan cerdas). Oleh karena itu manusia yang terdidik seharusnya menjadi orang bijak yang dapat menggunakan ilmunya untuk hal-hal yang baik dan dapat hidup secara bijak dalam seluruh aspek kehidupan.

2. Memahami Makna Pendidikan Karakter a) Konsep Karakter

Secara umum, istilah “karakter” yang sering disamakan dengan istilah

“temperamen” ,”tabiat”, “watak” atau “akhlak” mengandung definisi pada sesuatu yang menekankan unsure psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Secara harfiah, karakter memiliki berbagai arti seperti “character” (latin) berarti instrument of marking,

“Charessein” (Prancis) berarti to engrove (mengukir),

“watak”(Indonesia) berarti sifat pembawaan yang mempengaruhi tingkah laku, budi pekerti, tabiat, dan peringai. Dari sudut pandang behavioral yang menekankan unsure somatopsikis yang dimiliki sejak lahir, istilah karakter dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan.20 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah

“karakter” berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang

19 Aunillah, Nurla Isna. 2011. Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah.

Yogyakarta: Laksana. Hal. 9

20“Model Pendidikan Karakter Bangsa” dalam http://www.scribd.com/ doc/50719355/Model- Pendidikan-Karakter-Bangsa

(9)

membedakan seseorang dari yang lain: tabiat, watak.21 Dalam istilah Inggris, karakter berpadanan dengan “character” yang berarti: All the mental and moral qualities that make a person, groups of people, and places different from others (semua kualitas mental dan moral yang membuat seseorang, kelompok orang atau tempat berbeda dari yang lain).22

Dengan demikian dapat dipahami bahwa karakter mempunyai makna psikologis atau sifat kejiwaan karena terkait dengan aspek kepribadian (personality), akhlak atau budi pekerti, tabiat, watak, dan sifat kualitas yang membedakan seseorang dari yang lain atau kekhasan (particular quality) yang dapat menjadikan seseorang terpercaya dari orang lain.

Dalam perspektif ini, karakter mengandung unsur moral, sikap bahkan perilaku karena untuk menentukan apakah seseorang memiliki akhlak atau budi pekerti yang baik, hanya akan terungkap pada saat seseorang itu melakukan perbuatan atau perilaku tertentu. Kertajaya mengemukakan bahwa karakter adalah “ciri khas” yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah “asli” dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, dan merupakan mesin yang mendorong cara seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespon sesuatu. Karakter memungkinkan individu untuk mencapai pertumbuhan yang berkesinambungan karena karakter memberikan konsistensi, integritas, dan energi.23 Dalam konteks lebih luas, karakter dipahami sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.24

21 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), hlm. 444.

22 AS Hornby, Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (tt: Oxford University Press, 1995), hlm. 186. Tadrîs Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 97

23 Hermawan Kertajaya, Grow with Character: The Model Marketing (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010), hlm. 3.

24 18Akhmad Sudrajat, “Tentang Pendidikan Karakter” dalam http://akhmadsudrajat.

(10)

b) Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Pendidikan karakter merupakan upaya mengembangkan potensi peserta didik dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa agar mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan sebagai warganegara. Sedangkan menurut Thomas Lickona, sebagaimana dikutip Suyatno, pendidikan karakter adalah upaya terencana dalam membantu seseorang untuk memahami, peduli, dan bertindak atas nilai-nilai etika/moral.25 Menurut Sudrajat, pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di sekolah perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkan secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah.

Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia

wordpress.com/2010/09/15/konsep-pendidikan-karakter/ Tadrîs Volume 8 98 Nomor 1 Juni 2013

25

(11)

sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Dengan demikian, pendidikan karakter dipahami sebagai suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter yang baik kepada semua yang terlibat dan sebagai warga sekolah sehingga mempunyai pengetahuan, kesadaran, dan tindakan dalam melaksanakan nilai-nilai tersebut.

Semua warga sekolah yang terlibat dalam pengembangan karakter yang baik ini sesungguhnya dalam rangka membangun karakter anak didik. Hal ini penting agar anak didik menemukan contoh dan lingkungan yang kondusif dengan karakter baik yang sedang dibangun dalam kepribadiannya.

3. Nilai-Nilai Pembentuk Karakter

Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter pada satuan pendidikan, telah teridentifikasi 18 nilai pembentuk karakter bangsa yang bersumber dari Agama, Pancasila, Budaya, dan Tujuan Pendidikan Nasional (Kemendiknas, 2010:9). Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran sehingga lambat laun akan membentuk karakter peserta didik. Uraian dari 18 nilai pembentuk karakter bangsa yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a. Religius, adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

b. Jujur, adalah perilaku yang didasarkan pada

upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan

c. Toleransi, adalah sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya

d. Disiplin, adalah tindakan yang menunjukkan

perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan

(12)

e. Kerja keras, adalah perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

f. Kreatif, adalah berpikir dan melakukan

sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

g. Mandiri, adalah sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

h. Demokratis, adalah cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

i. Rasa ingin tahu, adalah sikap dan tindakan

yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

j. Semangat kebangsaan, adalah cara berpikir,

bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya

k. Cinta tanah air, adalah cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

l. Menghargai prestasi, adalah sikap dan

tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

m. Bersahabat/komunikatif, adalah tindakan

yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

n. Cinta damai adalah sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya

(13)

o. Gemar membaca, adalah kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

p. Peduli lingkungan, adalah sikap dan

tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upayaupaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

q. Peduli sosial, adalah sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

r. Tanggung jawab, adalah sikap dan perilaku

seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Meskipun telah dirumuskan 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun tidak menutup kemungkinan bagi pendidik atau satuan pendidikan untuk menambah dengan nilai karakter lain sesuai dengan karakteristik materi maupun kegiatan pembelajaran. Pemilihan nilai-nilai tersebut beranjak dari kepentingan dan kondisi satuan pendidikan masing-masing, yang dilakukan melalui analisis konteks sehingga dalam implementasinya dimungkinkan terdapat perbedaan jenis nilai karakter yang dikembangkan antara satu satuan pendidikan dengan satuan pendidikan yang lain, misalnya nilai karakter yang melekat pada mata pelajaran muatan local.

2. Implementasi Pendidikan Karakter

Dalam implementasinya pendidikan karakter tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan menggunakan strategi yang sesuai dengan kondisi. Strategi implementasi pendidikan karakter di satuan pendidikan merupakan suatu kesatuan dari program manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah yang terimplementasi dalam pengembangan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum oleh satuan pendidikan. Menurut Kemendiknas,26 strategi

26 Kemendiknas. 2011. Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Kemendiknas.

Hal.14

(14)

implementasi pendidikan karakter di satuan pendidikan meliputi langkah-langkah sebagai berikut

Pertama, integrasi dalam mata pelajaran. Setiap mata pelajaran terdapat muatan nilai-nilai karakter yang perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.

Misalnya pembelajaran tentang Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) dalam bahasa Indonesia terdapat muatan nilai-nilai rasa ingin tahu, kritis, tanggung jawab, kejujuran yang perlu dikembangkan. Oleh karena itu dalam penulisan karya tulis ilmiah pendidik perlu mengingatkan kepada peserta didiknya bahwa dalam menulis itu kita tidak boleh meniru karya atau tulisan orang lain. Kalau harus meniru tulisan orang lain maka harus dituliskan sumbernya. Dengan demikian peserta didik akan terbiasa untuk berperilaku jujur dan bertanggung jawab.

Melalui mata pelajaran IPS peserta didik dapat diarahkan untuk menjadi warga negara Indonesia yang yang cinta tanah air, demokratis dan bertanggung jawab serta warga dunia yang cinta damai. Misalnya pada Kompetensi Dasar

“Mendeskripsikan peristiwa-peristiwa sekitar Proklamasi dan proses terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia” mengandung nilai karakter peduli lingkungan, peduli sosial dan cinta tanah air. Demikian pula Kompetensi Dasar

“Mengidentifikasi kegunaan energi listrik, konversi energy listrik, transmisi energy listrik, dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari- hari” pada mata pelajaran IPA mengandung nilai karakter rasa ingin tahu, kerja keras, kreatif dan hemat. Sedangkan Kompetensi Dasar “Menggambar grafik fungsi aljabar sederhana dan fungsi kuadrat” pada mata pelajaran Matematika mengandung nilai karakter rasa ingin tahu, teliti, mandiri dan kreatif. Oleh karena itu segenap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik seharusnya tidak hanya untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik tetapi juga dapat membentuk sikap atau karakternya sebagaimana nilai-nilai karakter yang melekat pada mata pelajaran tersebut.

Kedua, integrasi dalam muatan lokal. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 79 Tahun 2014, muatan

(15)

lokal adalah bahan kajian atau mata pelajaran pada satuan pendidikan yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal yang dimaksudkan untuk membentuk pemahaman peserta didik terhadap keunggulan dan kearifan di daerah tempat tinggalnya. Muatan local diajarkan dengan tujuan membekali peserta didik dengan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan untuk (a) mengenal dan mencintai lingkungan alam, sosial, budaya, dan spiritual di daerahnya, dan (b) melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan daerah yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan nasional. Nilai-nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran muatan lokal antara lain; peduli lingkungan, peduli sosial, cinta tanah air, rasa ingin tahu, kerja keras, kreatif, serta mandiri.

Ketiga, pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar.

Pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar dilakukan melaui kegiatanpengembangan diri, yang meliputi:

a. Pengkondisian, yaitu penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter, misalnya kebersihan badan dan pakaian, toilet yang bersih, tersedianya tempat sampah, halaman yang hijau dengan pepohonan, poster kata-kata bijak di sekolah dan di dalam kelas.

b. Kegiatan rutin, adalah kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat, misalnya kegiatan upacara hari Senin, upacara besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan, piket kelas, shalat berjamaah, berbaris ketika masuk kelas, berdoa sebelum pelajaran dimulai dan diakhiri, dan mengucapkan salam apabila bertemu guru, tenaga pendidik dan teman

c. Kegiatan Spontanitas, merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik secara spontan pada saat itu juga, misalnya, mengumpulkan sumbangan ketika ada teman yang terkena musibah atau sumbangan untuk masyarakat ketika terjadi bencana.

d. Keteladanan, merupakan perilaku, sikap guru, tenaga kependidikan dan peserta didik dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik lain, misalnya nilai disiplin (kehadiran guru yang lebih awal dibanding peserta

(16)

didik), kebersihan, kerapihan, kasih sayang, kesopanan, perhatian, jujur, kerja keras dan percaya diri.

Keempat, kegiatan pembelajaran. Salah satu upaya untuk mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam kegiatan pembelajaran adalah dengan merancang dan menerapkan pendekatan atau strategi pembelajaran aktif atau pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Beberapa pendekatan dan strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam kegiatan pembelajaran antara lain; pendekatan kontekstual, pendekatan saintifik, pembelajaran discovery, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek dan strategi pembelajaran lainnya yang berbasis aktivitas. Dalam kurikulum 2013 yang sarat dengan muatan karakter, kegiatan pembelajaran dirancang dan diterapkan dengan menggunakan pendekatan saintifik (pendekatan keilmuan). Penerapan pendekatan saintifik meliputi lima pengalaman belajar yakni; mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi atau menalar dan mengkomunikasikan, disingkat 5M (permendikbud nomor 103 tahun 2014). Pendekatan tersebut digunakan untuk menciptakan pembelajaran berbasis aktivitas, dalam hal ini peserta didik yang aktif melakukan pengamatan fakta, mengajukan pertanyaan dari apa yang diamati, mengumpulkan informasi, menalar berdasarkan informasi yang dikumpulkan, kemudian mengkomunikasikan temuan/hasil pembelajarannya. Dengan demikian penerapan pendekatan saintifik dalam kegiatan pembelajaran selain mengembangkan pengetahuan dan mengasah keterampilan juga dapat membentuk karakter peserta didik. Nilai-nilai karakter yang dapat diintegrasikan dan dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran melalui penerapan pendekatan saintifik adalah sebagai berikut: Mengamati, meliputi kegiatan membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat) Kesungguhan, ketelitian, mencari informasi Menanya, meliputi kegiatan mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik) Kreativitas, rasa ingin tahu, kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat Mengumpulkan informasi, meliputi kegiatan melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek/

(17)

kejadian/aktivitas, wawancara dengan nara sumber Teliti, jujur,sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat. Mengasosiasi/menalar, meliputi kegiatan pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan Jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan Mengkomunikasikan, meliputi kegiatan menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya Jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

Kelima, kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Menurut permendikbud nomor 62 tahun 2014, kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan kurikuler yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler, di bawah bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan. Kegiatan ekstrakurikuler diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, kemandirian serta nilai-nilai karakter peserta didik secara optimal dalam rangka mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional. Kegiatan ekstrakurikuler sebagaimana diuraikan dalam permendikbud nomor 62 tahun 2014 terdiri atas kegiatan ekstrakurikuler wajib dan kegiatan ekstrakurikuler pilihan. Kegiatan ekstrakurikuler wajib adalah kegiatan ekstrakurikuler yang wajib dilaksanakan oleh satuan pendidikan dan wajib diikuti oleh seluruh peserta didik yaitu pendidikan kepramukaan. Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler pilihan merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang dikembangkan dan diselenggarakan oleh satuan pendidikan sesuai bakat dan minat peserta didik. Bentuk kegiatan ekstrakurikuler dapat berupa: (a) Krida, misalnya kepramukaan, Latihan Kepemimpinan Siswa

(18)

(LKS), Palang Merah Remaja (PMR), Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), dan lainnya; (b) Karya ilmiah, misalnya Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian, dan lainnya; (c) Latihan olah-bakat latihan olah-minat, misalnya pengembangan bakat olahraga, seni dan budaya, pecinta alam, jurnalistik, teater, teknologi informasi dan komunikasi, rekayasa, dan lainnya; (d) Keagamaan, misalnya pesantren kilat, ceramah keagamaan, baca tulis alquran, retreat; (e) Bentuk kegiatan lainnya. Satuan pendidikan wajib menyusun program kegiatan ekstrakurikuler yang merupakan bagian dari Rencana Kerja Sekolah (RKS).

Program kegiatan ekstrakurikuler pada satuan pendidikan dikembangkan dengan mempertimbangkan penggunaan sumber daya bersama yang tersedia pada gugus/

klaster sekolah. Penggunaannya difasilitasi oleh pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangan masingmasing. Program kegiatan ekstrakurikuler disosialisasikan kepada peserta didik dan orangtua/wali pada setiap awal tahun pelajaran.

3. Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Religius

Ada empat jenis karakter yang selama ini dikenal dan dilaksanakan dalam proses pendidikan, yaitu sebagai berikut:

a. Pendidikan karakter berbasis nilai religius, yang merupakan kebenaran wahyu Tuhan (konservasi moral).

b. Pendidikan karakter berbasis nilai budaya, antara lain yang berupa budi pekerti, pancasila, apresiasi sastra, keteladanan tokoh-tokoh sejarah dan para pemimpin bangsa (konservasi lingkungan).

c. Pendidikan karakter berbasis lingkungan (konservasi lingkungan)

d. Pendidikan karakter berbasis potensi diri, yaitu sikap pribadi, hasil proses kesadaran pemberdayaan potensi diri yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan (konservasi humanis).27

Secara spesifik, pendidikan karakter yang berbasis nilai religious mengacu pada nilai-nilai dasar yang terdapat dalam agama (Islam). Nilai-nilai karakter yang menjadi prinsip dasar pendidikan karakter banyak kita temukan dari beberapa

27 Yahya Khan, Pendidikan Karakter, hlm. 2.

(19)

sumber, di antaranya nilai-nilai yang bersumber dari keteladanan Rasulullah yang terjewantahkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari beliau, yakni shiddîq (jujur), amânah (dipercaya), tablîgh (menyampaikan dengan transparan), fathânah (cerdas). Berikut akan dijelaskan secara lebih rinci dari keempat sifat tersebut.28

Shiddîq adalah sebuah kenyataan yang benar yang tercermin dalam perkataan, perbuatan atau tindakan dan keadaan batinnya. Pengertian shiddîq ini dapat dijabarkan ke dalam butir-butir:

1. memiliki sistem keyakinan untuk merealisasikan visi, misi dan tujuan

2. memiliki kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, jujur, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.

Amânah adalah sebuah kepercayaan yang harus diemban dalam mewujudkan sesuatu yang dilakukan dengan penuh komitmen, kompeten, kerja keras dan konsisten. Pengertian amanah ini dapat dijabarkan ke dalam butir-butir:

1. rasa memiliki dan tanggung jawab yang tinggi.

2. memiliki kemampuan mengembangkan potensi secara optimal.

3. memiliki kemampuan mengamankan dan menjaga kelangsungan hidup 4. memiliki kemampuan membangun kemitraan dan jaringan.

Tablîgh adalah sebuah upaya merealisasikan pesan atau misi tertentu yang dilakukan dengan pendekatan atau metode tertentu. Jabaran pengertian ini diarahkan pada:

1. memiliki kemampuan merealisasikan pesan atau misi 2. memiliki kemampuan berinteraksi secara efektif

3. memiliki kemampuan menerapkan pendekatan dan metodik yang tepat.

Fathânah adalah sebuah kecerdasan, kemahiran, atau penguasaan bidang tertentu yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.

Karakteristik jiwa fathânah meliputi arif dan bijak, integritas tinggi, kesadaran untuk belajar, sikap proaktif, orientasi kepada Tuhan, terpercaya dan ternama, menjadi yang terbaik, empati dan perasaan terharu, kematangan emosi, keseimbangan, jiwa penyampai misi, dan jiwa kompetisi. Sifat fathânah ini dapat dijabarkan ke dalam butir-butir:

28 M. Furqon Hidayatullah, Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010), hlm. 61-63.

(20)

1. Memiliki kemampuan adaptif terhadap perkembangan dan perubahan zaman

2. Memiliki kompetensi yang unggul, bermutu dan berdaya saing.

3. Memiliki kecerdasan intelektual, emosi, dan spiritual.

Di samping itu sumber lainnya dapat juga ditemukan dalam teks-teks agama, baik al-Qur’an, hadits, maupun kata-kata hikmah para ulama. Dalam teks- teks agama tersebut banyak ditemukan anjuran untuk bersikap/berperilaku terpuji (akhlak al-karîmah), seperti ramah, adil, bijaksana, sabar, syukur, sopan, peduli, tanggap, tanggung jawab, mandiri, cinta kebersihan, cinta kedamaian, dan lain sebagainya sebagaimana yang melekat pada diri Rasulullah.29

Sebaliknya menghindarkan diri dari perilaku tercela (akhlak al- madzmûmah).30 Lebih lanjut, Azzet mengemukakan bahwa di antara nilai karakter yang baik yang hendaknya dibangun dalam kepribadian anak adalah bisa bertanggung jawab, jujur, dapat dipercaya, menepati janji, ramah, peduli kepada orang lain, percaya diri, pekerja keras, bersemangat, tekun, tak mudah putus asa, bisa berpikir secara rasional dan kritis, kreatif dan inovatif, dinamis, bersahaja, rendah hati, tidak sombong, sabar, cinta ilmu dan kebenaran, rela berkorban, berhati-hati, bias mengendalikan diri, tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang buruk, mempunyai inisiatif, setia mengharga waktu, dan bisa bersikap adil.

Dengan membiasakan diri secara terus-menerus akhirnya tertanam kuat dalam diri, itulah yang disebut karakter. Karakter seseorang tidak bisa langsung tiba-tiba terbentuk menjadi baik, akan tetapi membutuhkan proses internalisasi dan pengalaman panjang serta penuh dengan tantangan. Dalam pendidikan karakter, anak didik memang sengaja dibangun karakternya agar mempunyai nilai-nilai kebaikan sekaligus mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik itu kepada Tuhan Yang Maha Esa, dirinya sendiri, sesama manusia, lingkungan sekitar, bangsa, negara maupun hubungan internasional sebagai sesama penduduk dunia.

4. Siswa dalam pelaksanaan pendidikan karakter.

29 Lihat kembali QS. al-Ahzab: 21.

30 Yani, “Pendidikan Karakter Berbasis Agama”.Tadrîs Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 101

(21)

Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan.

Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokkan dalam olah hati (spiritual and emotional development), olah pikir (intellectual development), olah raga dan kinestetik (physical and kinestetic development), serta olah rasa dan karsa (affective and creativity development).

Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut.31

Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.32

Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik.33

C. Penutup

31 ibid

32Tim Penyusun, Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama (Jakarta:Kementerian Pendidikan Nasional, 2010)

33 ibid

(22)

Dalam suatu pendidikan jangan hanya dituangkan pengetahuan semata- mata kepada anak didik, tetapi harus juga diperhatikan pembinaan moral, sikap dan tingkah laku. Oleh karena itu, dalam setiap pendidikan pengetahuan harus ada pendidikan moral dan pembinaan kepribadian yang sehat. Dasar dan tujuan pendidikan moral biasanya ditentukan oleh pandangan hidup dari lembaga pendidikan itu sendiri, sertajuga harus sesuai dengan dasar dan tujuan negara.

Kalau negara itu berdasarkan Demokrasi, maka pendidikan yang dilakukan terhadap anak-anakjuga bertujuan membina jiwa demokrasi. Begitu juga halnya kalau negara itu berdasarkan Otokratis, Ketuhanan. Untuk mencapai tujuan itu, seharusnyalah orang tua dan para pendidik umunya membantu dengan jalan:

a. Memberikan kebebasan bergaul dengan siapapun saja dalam masyarakat, dengan mengingat norma-norma pergaulan keluarga dan sekolah.

b. Mendidik anak agar memiliki rasa harga diri yang sehat, misalnya dengan jalan membiarkan anak didik berfikir sendiri, berbuat sendiri dan berpendapat sendiri. Tumbuhnya harga diri yang sehat akan membantu anak untuk menjadi warga masyarakat bahkan warga Negara yang sehat.

(23)

DAFTAR KEPUSTAKAAN

A. Malik Fajar, et.al. Platform Reformasi Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Jakarta: Logos, 2001)

Abdullah Munir, Pendidikan Karakter, Membangun Karakter Anak Sejak dari Rumah(Yogyakarta: Pedagogia, 2010)

Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam diIndonesia (Jakarta: Kencana, 2003)

AS Hornby, Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (tt:

Oxford University Press, 1995), hlm. 186. Tadrîs Volume 8 Nomor 1 Juni 2013

Aunillah, Nurla Isna. 2011. Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Laksana.

Daniel Goleman, Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi (Jakarta:

Gramedia, 1999)

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), hlm. 444.

Depdiknas, Pusat Bahasa. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Hendri Kak. 2013. Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Hermawan Kertajaya, Grow with Character: The Model Marketing (Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama, 2010)

Kemendiknas. 2011. Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta:

Kemendiknas.

Kurniawan, Boy Hadi. 2010. Yakinlah Anda Pasti Bisa Sukses Solo: Pustaka Iltizam.

(24)

M. Furqon Hidayatullah, Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010

Mardiansyah, Dudi dan Senda, Irawan. 2011. Keajaiban Berperilaku Positif Jakarta: TanggaPustaka.

Munir, Abdullah. 2010. Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Pedagogia.

Sambutan Menteri Pendidikan Nasional pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2011, Senin, 2 Mei 2011 dengan tema “Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa; Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti”.

Sudewo, Arie. 2011. Character Building. Jakarta: Republika Penerbit.

Syamsul kurniawan, 2016. Pendidikan karakter: konsepsi dan implementasinya secara terpadu di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, yokyakarta: ar-ruzz Media.

Tadrîs Volume 8 Nomor 1 Juni 2013

Tim Penyusun, Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama (Jakarta:Kementerian Pendidikan Nasional, 2010)

Umi Kulsum, Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis PAIKEM (Sebuah Paradigma Baru Pendidikan di Indonesia) (Surabaya: Gena Pratama Pustaka, 2011)

wordpress.com/2010/09/15/konsep-pendidikan-karakter/ Tadrîs Volume 8 98 Nomor 1 Juni 2013

Yani, “Pendidikan Karakter Berbasis Agama”. Tadrîs Volume 8 96 Nomor 1 Juni 2013

http://www.scribd.com/doc/50719355/Model-Pendidikan-Karakter-Bangsa

http://akhmadsudrajat

http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?

option=com_content&view=article&id=293:implementasikarakter&catid=

42:ebuletin&Itemid=215 Artikel LPMP SulSel Desember 2014 ISSN.

2355-3189

Referensi

Dokumen terkait

Dimensi sosial pada individu dengan halusinasi menunjukkan adanya kecenderungan untuk menyendiri. Individu asyik dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat

Pengendalian internal yang memadai yaitu didalamnya terdapt unsur-unsur pengendalian yang diharapkan dapat menjamin kelancaraan proses pemberian kredit dan dapt melindungi hak

Dalam menjawab tujuan dilakukan dua cara yaitu untuk menjawab tujuan mengenai: (1) Mengetahui proses penerapan sebagai gambaran umum pemberian kredit pola Grameen

Penentuan Jumlah responden sebanyak 30 pemburu madu yang dilakukan secara sengaja (purposive sampling) yaitu dengan menentukan 10 orang pemburu madu pada smasing-masing KPH dan

Bagian Tata Usaha mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Badan lingkup ketatausahaan yang meliputi pengelolaan administrasi umum, keuangan dan penyusunan program.. 

Kode 1902 : Kontrol risiko, yaitu tindakan individu untuk mengerti, mencegah, mengeliminasi atau mengurangi ancaman kesehatan yang telah dimodifikasi, meningkat dari 2

Masalah yang sering terjadi adalah banyaknya hotel bintang lima di kota Medan dengan berbagai fasilitas dan keunggulannya masing-masing, membuat wisatawan bingung

The development of ICT especially games as a positive, an opportunity for the provision of an alternative environment for anti- corruption education for children