PENINGKATAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA
KELAS XI MIPA DI SMA NEGERI 6 MAROS
Ade Yulianti S
Pendidikan Profesi Guru, IAIN Palangka Raya Email : [email protected]
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti peserta didik kelas XI MIPA di SMA NEGERI 6 MAROS pada materi Pelaksanaan Khotbah dan Tablig melalui model Problem Based Learning. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan subjeknya yakni peserta didik kelas XI MIPA 2 dengan jumlah peserta didik sebanyak 20. Fokus yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar peserta didik melalui model Problem Based Learning. Data yang telah didapat kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif untuk mengetahui hasil belajar peserta didik. Indikator keberhasilan penelitian ini dilihat hasil belajar siswa yang mencapai persentase ketuntasan klasikal sekurang- kurangnya 75 %. Proses penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Pelaksanaan siklus I sudah dirancang sebelumnya. Pelaksanaan siklus II merupakan hasil refleksi dari siklus I. Pengelolaan data dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Hasil dari pengolahan data digunakan untuk menggambarkan ketercapaian tindakan terhadap peningkatan hasil belajar.
Setelah diberi perlakuan dengan penggunaan model Problem Based Learning dalam pembelajaran, nilai rata-rata kelas menunjukkan peningkatan, yaitu pada siklus I dengan nilai 78 sedangkan nilai persentasinya 60% dan siklus II dengan nilai 91 dan nilai persentasi nilainya 100%.
Kata Kunci : Model, Problem Based Learning, Hasil Belajar
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan hak bagi setiap warga negara. Pendidikan sesuatu yang dianggap sebagai sebuah hak asasi yang harus secara bebas bisa dimiliki oleh semua warga Negara. “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”
(Endang, 2014: 120). Tujuan utama Pendidikan Agama Islam di tingkat SMA yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi, menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.
Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) mempunyai peran yang sangat strategis dalam pengembangan potensi yang dimiliki peserta didik supaya dapat menghayati ajaran agama Islam. Guru juga figur utama dalam menanamkan nilai-nilai luhur ajaranagama Islam dalam rangka pembentukan sikap dan watak serta prilaku peserta didik melalui berbagai model pembelajaran yang digunakan. Tugas seorang guru PAI tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi diharapkan dapat memberikan kemudahan belajar kepada seluruh peserta didik, agar mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira, penuh semangat dan menumbuhkan rasa ingin tahunya sehingga muncul minat dan motivasinya untuk belajar (Ismail, 2016: 13).
Salah satu fakta yang ditemukan di lapangan menunjukkan bahwa lebih dari 40% peserta didik belum mengetahui tentang pelaksanaan khotbah dan Tablig. Apabila peserta didik tidak mengetahui tentang khotbah dan tablig tentu mereka juga tidak bisa memahami rukun dan sunahnya serta bagaimana menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain motivasi dan perhatian peserta didik yang rendah, metode pembelajaran yang belum variatif, dan masih mengandalkan metode ceramah, media yang masih terbatas dan faktor lain yang tidak mendukung terlaksananya proses pembelajaran di kelas dengan baik. Indikasi yang sering terjadi menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran belum tercapai didasarkan pada hasil pengamatan dan penilaian selama proses pembelajaran dimana para peserta didik masih banyak yang belum memiliki pemahaman tentang pelaksanaan khotbah.
Saat ini pembelajaran PAI di kelas XI MIPA kurang terlaksanakan dengan baik. Hal ini disebabkan karena pembelajaran di sekolah masih terpusat pada buku pegangan guru. Proses pembelajaran PAI belum sepenuhnya melaksanakan pembelajaran secara aktif dan kreatif dalam melibatkan peserta didik dan pembelajarannya belum terkait dengan dunia nyata peserta didik.
Belum tepatnya penggunaan model pembelajaran pada saat proses pembelajaran menyebabkan pembelajaran berlangsung monoton. Pembelajaran yang monoton menyebabkan peserta didik tidak memahami materi yang diajarkan, sehingga peserta didik asyik sendiri dan kurang berperan atau aktif pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung dan itu semua berdampak kepada hasil belajar peserta didik yang rendah. Sementara itu KKM untuk mata pelajaran PAI di kelas XI MIPA 2 SMA NEGERI 6 MAROS adalah 75.
Berdasarkan kenyataan di atas. Salah satu upaya yang diyakini oleh peneliti yang dapat meningkatkan motivasi peserta didik yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kompetensi peserta didik adalah dengan menggunakan model Problem Based Learning (Sofyan, (2017: 48-49).
Fathurrohman (2020: 112) bahwa Problem Based Learning adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata (autentik) yang tidak terstruktur (ill- structured) dan bersifat terbuka sebagai konteks peserta didik untuk mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah dan berpikir kritis serta sekaligus membangun pengetahuan baru. Penggunaan model ini bertujuan untuk memudahkan peserta didik dalam memahami, menguasai dan mempraktikkan apa yang dipelajari oleh peserta didik tersebut.
Masalah yang banyak ditemui sekarang adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Selama proses pembelajaran, peserta didik kurang dimotivasi untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di kelas terlalu diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghapal tanpa dituntut untuk memahami materi yang diperolehnya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya adalah mereka lulus, mereka pintar secara teori tetapi kurang dalam hal aplikasi. Oleh karena itu, guru diharapkan mampu menguasai model-model maupun berbagai metode pelajaran yang dapat digunakan untuk menyajikan materi sesuai dengan kebutuhan dan dengan kompetensi yang ada ditambah dengan pemanfaatan teknologi yang semakin tinggi seperti pemanfaatan ICT dalam proses pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi proses yang menyenangkan bagi peserta didik.
Berdasarkan permasalahan yang ada, maka dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan perlu menggunakan model pembelajaran yang tepat. Model yang digunakan berfungsi untuk membantu guru dalam memberikan penjelasan dengan memfokuskan perhatian peserta didik pada saat proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “PENINGKATAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA PESERTA DIDIK KELAS XI MIPA SMA NEGERI 6 MAROS”.
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observing) dan refleksi (reflecting) (Kasbollah, 2013: 22). Di dalam penelitian ini, peneliti berusaha mendeskripsikan suatu bentuk pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning pada mata pelajaran PAI. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berbentuk deskriptif yaitu mengenai uraian-uraian kegiatan pembelajaran peserta didik dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (Wiriatmadja, 2015: 66). Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya (Arikunto, 2005:12).
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMA NEGERI 6 MAROS yang terletak di Jln. Pendidikan No 20 Bontoa Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros. Beradah dipertengahan kampung dan letaknya sangat strategis yang berakriditasi A. Penelitian dilakukan pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang waktu pembelajarannya selama 3 jam pelajaran dalam satu minggu.
Penelitian ini dilaksanakan selama dua kali pertemuan (2 siklus) dengan menerapkan model yang telah direncanakan.
Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas XI MIPA 2 yang berjumlah 20 orang peserta didik, yang terdiri laki-laki 6 orang dan perempuan 14 orang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan metode tes, dan observasi.
Data yang diperoleh dari instrument tes tersebut dianalisis untuk mengetahui peningkatan hasil belajar peserta didik setelah diterapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Analisis data yang digunakan adalah analisis data ketuntasan belajar secara deskriptif yang menggambarkan perolehan peserta didik secara individu maupun secara kelompok. Analisis secara individu dilakukan dengan ketercapaian nilai KKM yang sudah ditetapkan guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yaitu minimal nilai 75. Analisis secara keseluruhan dilakukan dengan Ketuntasan klasikal dengan rumus :
KK= X x 100%
Y Keterangan:
KK : Ketuntasan Klasikal
X : Jumlah peserta didik yang dapat nilai > 75%
Y : Jumlah peserta didik keseluruhan (Heriyanto, 2011:22).
Untuk mengetahui adanya peningkatan kemampuan pemecahan masalah adalah dengan membandingkan persentase nilai ketuntasan klasikal peserta didik pada siklus satu dengan siklus selanjutnya. Jika siklus sesudahnya lebih besar dari siklus sebelumnya maka dikatakan bahwa terjadi peningkatan kemampuan pemecahan masalah.
Prosedur penelitian yang dilakukan ini terdiri dari beberapa siklus yang dimulai dari siklus pertama, yang terdiri dari satu kali pertemuan. Apabila siklus I belum berhasil maka dilanjutkan dengan siklus ke II untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Penelitian ini memakai rancangan penelitian komponennya adalah:
1. Perencanaan (planning)
Pertama, menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdasarkan kurikulum dan silabus mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas XI MIPA 2 dengan kompetensi dasar. Kedua, mempersiapkan slide PPT, video materi ajar, media dalam bentuk Heyzinebook dan buku pdf yang berkaitan dengan materi. Ketiga, mempersiapkan bentuk penugasan berupa penyelesaian soal-soal tes tertulis. Keempat, mempersiapkan rancangan penilaian. Kelima, mempersiapkan lembaran observasi teman sejawat.
2. Pelaksanaan (Actuating)
Sesuai dengan perencanaan, setelah disusun rencana pembelajaran dan disiapkan instrument penelitian yang dibutuhkan, dilaksanakan proses
belajar mengajar (PBM) di kelas XI MIPA 2 yang dijadikan sebagai subjek penelitian.
3. Pengamatan (Observing)
Pengamatan terhadap proses peningkatan kemampuan materi tentang Makna khotbah dengan mengggunakan Problem Based Learning meliputi dua hal. Pertama, pengamatan terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar oleh guru di dalam kelas. Kedua, pengamatan terhadap aktivitas peserta didik selama proses belajar mengajar berlangsung.
Dalam melakukan pengamatan, digunakan bantuan teman sejawat.
4. Refleksi (Reflecting)
Kegiatan pada tahap refleksi adalah peneliti dan guru mata pelajaran mengkaji kekurangan dan hambatan yang muncul pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar, sehingga diperoleh alternatif pemecahan masalah yang muncul pada setiap proses belajar mengajar, dan dapat melakukan perbaikan untuk pelaksanaan siklus selanjutnya. Hasil refleksi pada siklus I untuk merencanakan tindakan pada siklus II. Siklus penelitian ini berdasarkan daur ulang penelitian tindakan kelas berikut ini (Arikunto, 2006:16):
Gambar 1. Model Penelitian Tindakan Kelas Pelaksanaan
Perencanaan Pengamata
n Siklus 1
Refleksi
Perencanaan Pengamatan
Pelaksanaan Refleksi
Siklus 2
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada pre test sebelumnya terdapat 6 orang peserta didik yang dapat menjawab soal dengan nilai di atas KKM sedangkan 14 orang lainnya menjawab soal dengan nilai di bawah KKM dan dikategorikan tidak tuntas. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik belum memahami dan mengerti tentang materi Pelaksanaan Khotbah dan Tablig
Selama proses penelitian, peneliti melihat masih banyaknya peserta didik bingung dengan cara pembelajaran yang dibawakan oleh peneliti yang mengakibatkan peserta didik kurang berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
Dalam hasil tes siklus I yang dilakukan bahwa hanya 10 peserta didik yang tuntas di atas KKM dan 10 peserta didik lainnya masih berada dibawah nilai KKM. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwasannya pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti materi Pelaksanaan Khotbah dan Tablig dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning pada peserta didik kelas XI MIPA 2 SMA NEGERI 6 MAROS mengalami peningkatan.
Jadi hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model Problem Based Learning memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik. Tes hasil belajar dilaksanakan pada akhir pembelajaran tiap siklus pada setiap pertemuan. Peserta didik diberi soal evaluasi berupa pertanyaan, hasil belajar selama penelitian menunjukkan bahwa selalu ada peningkatan pada tiap siklusnya. Hal tersebut bisa dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 1.1
Ketuntasan hasil belajar peserta didik secara kalsikal
No Nama Pretes Siklus 1 Siklus II
1 Abd. Rahim 50 70 85
2 Aisyah 65 70 90
3 Amanda 50 65 90
4 Asdar Ali 85 90 100
5 Fania Mahmud 88 89 100
6 Imelda 60 80 95
7 Irma Dani 89 90 100
8 Karmila 50 80 100
9 Laila Karmila Ramadhani 70 70 95
10 Mawar Melati Putri Herlina 80 85 100
11 Muh. Fajar Hidayat 50 70 100
12 Mutiara 85 90 100
13 Nabira Rafaisal 85 90 100
14 Nadia 60 85 100
15 Nur Alima Mudrika 70 80 100
No Nama Pretes Siklus 1 Siklus II
16 Nur Hikma 70 70 100
17 Radhityah Walhidayah 80 85 100
18 Rahman 50 70 90
19 Saharuddin 60 60 80
20 Sofiatun Nisa 70 80 100
Jumlah 1.367 1.569 1.825
Rata-Rata 68 78 91,25
Persentase Ketuntasan
Jumlah Tuntas X 100 = 20 X 100% = 100%
Jumlah Peserta didik 20
Berdasarkan tabel hasil belajar Peserta didik di atas terjadi peningkatan yang sangat memuaskan, yaitu peserta didik mencapai rata-rata yakni 91,25 dan mencapai persentase ketuntasan 100 %, hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning pada siklus II sudah mengalami peningkatan dari hasil siklus I. Sehingga dapat di simpulkan bahwa pelaksanaan tindakan pada siklus II ini berjalan dengan lancar, penguasaan materi pembelajaran pada siklus II ini sudah sangat meningkat dan dibuktikan dengan adanya hasil post tes pada siklus II.
Tabel 1.2
Perbandingan Ketuntasan Hasil Evaluasi Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II
Evaluasi Interval Nilai
Jumlah
siswa Persentase Tuntas/Tidak Tuntas
Pra Siklus 50-85 20 40% Tidak Tuntas
Siklus I 60-95 20 60% Tidak Tuntas
Siklus II 85-100 20 100% Tuntas
Selain peningkatan jumlah ketuntasan siswa, penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning juga meningkatkan nilai rata-rata kelas. Hal tersebut bisa dilihat pada tabel perbandingan nilai rata-rata kelas sebelum dilakukan tindakan siklus I dan II.
Tabel 1.3
Perbandingan Nilai Rata-rata Kelas Hasil Evaluasi Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II
Evaluasi Nilai Rata-rata Kelas
Pra Siklus 68
Sikluas I 78
Siklus II 91
Berdasarkan analisis data, diperoleh hasil belajar peserta didik menunjukkan peningkatan di setiap siklusnya. Sebelum diberi perlakuan yaitu penggunaan model Problem Based Learning dalam pembelajaran, persentase siswa yang tuntas atau yang memiliki nilai ≥ 75 hanya 40% atau 7 peserta didik saja.
Setelah diberi perlakuan yaitu dengan penggunaan model Problem Based Learning dalam pembelajaran, hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan, yaitu pada siklus I persentase peserta didik yang tuntas atau yang memiliki nilai
≥ 75 sebanyak 60 % dan pada siklus II meningkat lagi sebanyak 100%. Jumlah peserta didik yang tuntas pada pra siklus, siklus I dan II berturut-turut sebanyak 7, 10, dan 20 peserta didik.
Demikian juga dalam nilai rata-rata kelas. Sebelum diberi perlakuan dengan penggunaan model Problem Based Learning dalam pembelajaran, nilai rata-rata kelas hanya 68. Setelah diberi perlakuan yaitu dengan penggunaan model Problem Based Learning dalam pembelajaran, nilai rata-rata kelas menunjukkan peningkatan, yaitu pada siklus I dengan nilai 78 dan siklus II dengan nilai 91.
Bertambahnya jumlah peserta didik yang tuntas dan meningkatnya rata- rata kelas setelah diberi perlakuan disebabkan karena penggunaan model Problem Based Learning dapat memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan para peserta didik sehinggah memudahkan dalam memahami materi, serta menjadikan materi pelajaran lebih menetap atau tidak mudah dilupakan.
Dari penjelasan di atas dapat digambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik tiap siklus dapat dilihat pada grafik berikut:
Gravik 4.1
Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Tiap Siklus
Keberhasilan penelitian tindakan kelasini tidak terlepas dari peran guru yang secara kontinyu memperbaiki kemampuannya dalam menerapkan model Problem Based Learning. Model Problem Based Learning. Metode Problem Based Learning ini memiliki beberapa keunggulan di antaranya adalah:
0 20 40 60 80 100 120
Siklus I Siklus II
Peningkatan Hasil Belajar
Nilai Rata-rata Persentasi Ketuntasan Belajar %
1. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Problem based learning menekankan peserta didik terlibat dalam tugas-tugas pemecahan masalah dan perlunya pembelajaran khusus bagaimana menemukan dan memecahkan masalah. Problem Based Learning ini membuat peserta didik lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks.
2. Meningkatkan kecapakan kolaboratif. Pembelajaran Problem Based Learning mendukung peserta didik dalam kerja tim.
3. Meningkatkan keterampilan mengelola sumber. Problem Based Learning memberikan kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, alokasi waktu dan sumber-sumber lain untuk penyelesaian tugas.
KESIMPULAN
Deskripsikan kesimpulan hasil penelitian anda di sini. Berdasarkan temuan-temuan dan pengolahan data yang telah dikemukakan pada uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam memahami materi tentang Pelaksanaan Khotbah dan Tablig pada peserta didik kelas XI MIPA 2 SMA NEGERI 6 MAROS. Setelah diberi perlakuan dengan penggunaan model Problem Based Learning dalam pembelajaran, nilai rata-rata kelas menunjukkan peningkatan, yaitu pada siklus I dengan nilai 78 sedangkan nilai persentasinya 60% dan siklus II dengan nilai 91 dan nilai persentasi nilainya 100%.
DAFTAR PUSTAKA
Endang. 2015. UU-Sisdisdik. Jakarta: Hak Cipta.
Kasbollah. 2013. Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Insane Cendekia.
Fathurrohman. 2020. Karakteristik Problem Based Learning. Bandung: PT Bumi Aksara.
Heriyanto, Slamet. 2011. Tingkat Penugasan Evaluasi. Surabaya: CV Fokus Media.
Ismal, SM. 2004. Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEMI. Semarang:
Rasail Madia Gruf.
Sofyan. 2017. Karakteristik Utama Dari Problem Based Learning (PBL).
Suharsimi, Arikunto. 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Cet. II; PT Bumi Aksara.
Suharsimi, Arikunto. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Cet. I; PT Bumi Aksara.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2003. Jakarta Depdikbud
Wiriatmadja. 2015. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: UPI dan Rosdakarya.