• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PUBLIC RELATIONS BANK INDONESIA DALAM MENANGGAPI ISU LOGO PALU ARIT PADA PECAHAN RUPIAH TAHUN EMISI 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STRATEGI PUBLIC RELATIONS BANK INDONESIA DALAM MENANGGAPI ISU LOGO PALU ARIT PADA PECAHAN RUPIAH TAHUN EMISI 2016"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

PADA PECAHAN RUPIAH TAHUN EMISI 2016

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S. Sos)

Oleh:

Nurul Hidayat NIM: 1113051000219

JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 2018/1439 H

 

(2)
(3)
(4)
(5)

i

Strategi Public Relations Bank Indonesia dalam Menanggapi Isu Logo Palu Arit pada Pecahan Rupiah Tahun Emisi 2016, di bawah bimbingan Mulkanasir, BA, S.Pd, MM.

Di era globalisasi informasi saat ini, Peran Public Relations sangat diperlukan dalam membantu menjawab dan mengelola isu -isu yang berkembang di tengah masyarakat. Tugas dan fungsi Public Relations dalam Bank Indonesia di jalankan oleh departemen komunikasi. Hal itu sesuai dengan salah satu tugasnya yaitu merumuskan strategi dan program komunikasi serta koordinasi komunikasi kebijakan dan isu kritikal (komunikasi krisis) BI.

Pada 19 Desember 2016, Bank Indonesia resmi menerbitkan uang baru Rupiah TE 2016. Hal tersebut berdasarkan amanat undang-undang No.7 tahun 2011 tentang mata uang. Tak lama setelah itu Rupiah TE 2016 ini menimbulkan polemik, karena diisukan memuat logo palu arit pada desain barunya. Isu tersebut menjadi viral di media sosial, sehingga membuat masyarakat percaya akan isu logo palu arit tersebut. Departemen Komunikasi dalam hal ini menjadi garda terdepan dalam menyusun strategi dalam menanggapi isu tersebut agar tidak berkembang menjadi krisis.

Berdasarkan latar belakang tersebut, muncul pertanyaan, bagaimana analisa isu logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016?, kemudian, Strategi apa yang dilakukan Public Relations Bank Indonesia dalam menanggapi isu logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016?

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus penelitian, peneliti melakukan eksplorasi secara mendalam terhadap program, kejadian, proses, aktivitas terhadap satu orang atau lebih. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data observasi partisipasi pasif, wawancara dan dokumentasi.

Adapun teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori Strategi Public Relations Ronald D. Smith yang dikolaborasikan dengan proses manajemen isu Regester & Larkin. Pengolaborasian tersebut menghasilakan beberapa tahapan yang digunakan peneliti untuk membantu menjawab masalah dalam penelitian ini, yaitu: tahap identifikasi isu, tahap analisis isu, tahap strategi dengan strategi respons dinamis, taktik komunikasi, dan evaluasi.

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa Strategi Public Relations Bank Indonesia dalam menanggapi isu logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016 dilakukan adalah dengan melakukan tahap identifikasi isu yakni mengumpulkan isu, tahap analisis isu yakni mencari penyebab isu muncul, tahap strategi dengan menggunakan strategi respons dinamis yakni memberikan klarifikasi isu, tahap taktik komunikasi yakni komunikasi tatap muka, engagement dengan stakeholders, edukasi lewat media sosial, optimalisasi layanan informasi publik dan mengoptimalkan pegawai BI sebagai humas internal, kemudian tahap terkhir adalah evaluasi.

Kata Kunci : Public Relations, Bank Indonesia, Logo Palu Arit, Rupiah TE 2016

 

(6)

ii

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang memberikan kenikmatan, kekuatan, kemudahan dan ilmu pengetahuan sehingga penulis akhirnya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Strategi Public Relations Bank Indonesia dalam Menghadapi Isu Logo Palu Arit pada Pecahan Rupiah Tahun Emisi 2016. Sholawat teriring salam senantiasa tercurahakan kepada Nabi Muhammad Saw yang telah membawa umatnya dari zaman kegelapan menuju zaman terang yang tercerahkan dengan ilmu pengetahuan seperti saat ini.

Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan selesai tanpa doa, bantuan dan dukungan dari semua pihak. Maka dari itu, pada kesempatan kali ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A, selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2. Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Bapak Dr. Arief Subhan, MA, Wakil Dekan I Bidang Akademik, Bapak Suparto, M. Ed, Ph. D, Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, Ibu Dr. Hj. Roudhonah, MA, serta Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Bapak Dr. Suhaimi, M. Si.

3. Drs. Masran, M.A, selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam dan Fita Fatkhurakhamah, M.Si, selaku Sekertaris Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.

4. H. Mulkanasir, BA, S.Pd, MM, selaku dosen pembimbing yang telah

 

(7)

iii

5. Nasichah, MA, selaku pensihat akademik yang senantiasa mendoakan dan mengingatkan penulis untuk semangat dalam penulisan skripsi.

6. Segenap Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis. Semoga apa yang telah diberikan bermanfaat bagi penulis dalam menjalani kehidupan di masyarakat dan menjadi amal soleh yang terus mengalir bagi Bapak dan Ibu sekalian.

7. Seluruh Staf Tata Usaha dan Staf Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

8. Keluarga Penulis. Orang Tua tercinta, Almarhum Ayahanda H. Mulyana dan Ibu Hj. Mukminah yang senantiasa mendoakan kesuksesan anaknya dan memberikan semangat maupun motivasi untuk senantiasa sabar dalam menuntut ilmu sehingga menjadi mahasiswa yang lulus dengan kualitas yang baik. Teruntuk Kakak penulis, Muhyidin (Muki) dan Siti Masitoh yang senantiasa mendoakan adiknya. Semoga adikmu ini bisa menjadi kebanggaan keluarga dan harapan bagi Nusa dan Bangsa.

9. Tim Departemen Komunikasi Bank Indonesia Pak Andi Wiyana, Mas Abraham, Mbak Fita dan Direktur PR Indonesia Mas Asmono Wikan.

Terima kasih atas kesediaan wawancara maupun bantuan data yang penulis butuhkan untuk melengkapi skripsi ini.

10. Guru-Guru tercinta. Alm. Abi KH. Subari, Alm. Abah KH. Nurhasan, Alm.

Abah H. Ghozali, gofarallahu wa rahimallahu lahum dan Abi KH. Bahrudin,

 

(8)

iv

semoga bisa menjadi amal soleh bagi guru-guru tercinta.

11. Rian Hidayat, M.Si, mentor yang selalu membantu dan membimbing penulis dari awal penulisan skripsi ini hingga akhir. Semoga apayang diberikan bisa menjadi bekal bagi penulis dalam menjalin relasi.

12. Sahabat seperjuangan. M. Syuryadi, Ibtisamah Nur Rosyidah, Aida Nur Aida, Abdul Aziz Masindo dll. Terima kasih telah menemani dalam berjuang dan berproses bersama.

13. Keluarga Besar Pengurus Perguruan Tinggi Ikatan Ilmu Komunikasi Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atas segala pembelajarannya mengenai ilmu keorganisasian dan kepemimpinan.

14. Keluarga Besar SDN Setialaksana 03, MTs Nurul Islam, Ponpes Daarurrahmah, Ponpes Al-Falahiyah, Ponpes Al-Muawanah Cikande, yang telah memberikan banyak pelajaran dan pengetahuan kepada penulis baik ilmu agama maupun ilmu dunia.

15. Keluarga Besar Pondok Pesantren Daar El-Hikam khususnya teman-teman Kobong Empang, Arijul Fikri, Badru Hawasi, Abdul Rohman, Ubad, Ahmad Fauzi, Mughni Labib, dll. Terima kasih atas pembelajaranya mengenai ilmu agama Islam dan bagaimana menjalani kehidupan.

16. Anggota geng kosan. Iman Taufiq Muas, Ahmad Mutawally, Farouq Audah, Khairul Umamul Arifin yang selalu memotivasi penulis dalam menyelesasikan skripsi ini.

17. Rekan-rekan mahasiswa Komunikasi dam Penyiaran Islam angkatan 2013

 

(9)

v

18. KKN 2016 Mentari 171, serta warga Desa Pasir Barat yang telah memberikan pelajaran tentang arti kehidupan, kemandirian dan pengabdian masyarakat.

19. Pembaca penulisan skripsi ini. Semoga apa yang penulis tulis dapat bermafaat.

Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam penulisan penulisan ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan masukan baik berupa saran maupun kritik sehingga dapat menjadikan penulisan ini lebih baik lagi. Semoga apa yang penulis tuliskan dalam skripsi ini menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi amal jariyah untuk penulis, keluarga dan para pengajar.

Jakarta, 18 Maret 2018

Nurul Hidayat

 

(10)

vi

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Batasan dan Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

D. Metodologi Penelitian ... 8

E. Tinjauan Pustaka ... 14

F. Sistematika Penulisan ... 16

BAB II LANDASAN TEORI A. Strategi Public Relations ... 18

1. Pengertian Strategi... 18

2. Pengertian Public Relations ... 20

3. Fungsi Public Relations ... 23

4. Peranan Public Relations ... 24

5. Strategi Public Relations ... 26

B. Isu ... 30

1. Pengertian Isu ... 30

2. Tahapan isu ... 33

3. Manajemen Isu ... 35

 

(11)

vii

1. Pengertian Logo... 39

2. Palu Arit... 40

BAB III GAMBARAN UMUM BANK INDONESIA A. Sejarah Bank Indonesia ... 43

B. Status dan Kedudukan Bank Indonesia ... 47

C. Visi, Misi Bank Indonesia ... 50

D. Tujuan Bank Indonesia... 51

E. Tugas Bank Indonesia ... 52

F. Logo Bank Indonesia ... 56

G. Struktur Organisasi ... 58

H. Proses Pencetakan Uang Rupiah ... 61

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA A. Isu Logo Palu Arit pada Pecahan Rupiah TE 2016 ... 65

B. Strategi Public Relations Bank Indonesia dalam Menangapi Isu Logo Palu Arit Pada Pecahan Rupiah TE 2016 ... 73

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 99

B. Saran ... 104 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

 

(12)

viii

Tabel 1 Tabel Frekuensi Isu Logo Palu Arit ... 73 Tabel 1 Tabel Frekuensi Isu Logo Palu Arit ... 77 Tabel 2 Akun Resmi Media Sosial Bank Indoenesia ... 89

 

(13)

ix

Gambar 1 Tiga Pilar Tugas Bank Indonesia ... 52

Gambar 2 Paradigma Kebijakan Bank Indonesia ... 55

Gambar 3 Logo Bank Indonesia ... 56

Gambar 4 Struktur Organisasi Bank Indonesia ... 59

Gambar 5 Struktur Organisasi Departemen Komunikasi Bank Indonesia... 60

Gambar 6 Berita Habib Rizieq Melaporkan Gubernur BI, Menkeu dan Peruri... 68

Gambar 7 Berita Logo Palu Arit yang Populer di Media Sosial ... 70

Gambar 8 Penjelasan Gubernur BI mengenai Isu Logo Palu Arit ... 72

Gambar 6 Berita Logo Mirip Palu Arit yang Heboh di Media Sosial ... 79

Gambar 8 Berita Bantahan Gubernur BI Mengenai Logo Palu Arit ... 97

Gambar 9 Penjelasan Gubernur BI Mengenai Tudingan Logo Palu Arit di Rupiah ... 98

 

(14)

1 A. Latar Belakang

Bagi perusahaan, munculnya isu dalam masyarakat menjadi suatu permasalahan yang akan mempengaruhi jalannya sebuah perusahaan. Banyak isu yang berkembang dalam masyarakat dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan atau organisasi dalam mencapai visi dan misi yang ingin dicapai. Jika isu yang berkembang tidak ditanggapi secara tepat, tidak saja dapat menghambat pencapaian tujuan organisasi, tetapi dapat juga membahayakan kelangsungan hidup organisasi.1

Isu-isu muncul ketika ada ketidaksesuaian antara pengharapan publik dengan praktek organisasi yang jika diabaikan bisa berdampak merugikan bagi organisasi. Isu bisa meliputi masalah, perubahan, peristiwa, situasi, kebijakan atau nilai.2 Adanya isu dapat disebabkan dari pihak dalam (internal) maupun pihak luar (eksternal). Isu yang disebabkan oleh pihak dalam seperti kesalahan strategi bisnis, produk yang kurang sempurna, hubungan kerja yang kurang baik, pergantian manajemen dan sebagainya. Sedangkan isu yang disebabkan oleh pihak eksternal adalah bencana alam, persepsi publik, persaingan bisnis maupun unsur politis.

Pada dasarnya, semakin besar dan berkembangnya suatu perusahaan maka tidak menutup kemungkinan semakin besar juga perusahaan tersebut berpotensi untuk terkena isu. Isu yang tidak dikelola dengan baik, akan menyebabkan krisis dan krisis berpotensi mengancam reputasi perusahaan3. Maka dari itu, dalam

1 G.I. Putra, Manajemen Hubungan Masyarakat, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), hal.

22.

2 Prayudi, Penulisan Naskah Public Relations, (Yogyakarta: penerbit andi, 2007), hal. 26.

3 Firsan Nova, Crisis Public Relations. (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2011), hal. 254

 

(15)

masalah menangani isu di suatu perusahaan atau organisasi, dituntut kepiawaian dari Public Relations (PR) dalam menjalankan peran dan fungsinya. Public Relations harus mampu menjadi mediator yang menjembatani hubungan antara manajemen dan penyebab dari isu tersebut muncul, baik itu dari sisi internal maupun eksternal. Public Relations juga harus mempersiapkan diri atas kemungkinan terburuk dengan melakukan antisipasi dan memberikan respon sebaik-baiknya.

Peran Public Relations dalam organisasi atau perusahaan sangatlah penting terutama dalam manajemen isu (issues management). Manajemen isu merupakan upaya organisasi atau perusahaan untuk melihat kecenderuangan isu atau opini publik yang muncul di tengah masyarakat dalam upaya organisasi memberikan tanggapan atau respon yang sebaik-baiknya. Manajemen isu meliputi dua tindakan mendasar yaitu: (1) melakukan identifikasi awal terhadap isu yang memiliki potensi merugikan organisasi atau perusahaan, (2) memberikan tanggapan terhadap isu untuk meminimalisir konsekuensi dari munculnya isu.4

Menurut Coombs, Public Relations merupakan manajer isu yang dapat berperan dalam proses merumuskan dan mengimplementasikan strategi dalam mengatasi isu.5 Public Relations sebagai fungsi manajemen yang menangani isu harus dapat memelihara citra dan reputasi perusahaan agar tetap positif di mata publiknya. Maka, ketika sebuah perusahaan dilanda isu, praktisi PR harus melakukan strategi-strategi untuk meredam isu dan memulihkan kondisi hingga

4 Rachmat Kriyantono, Public Relation & Management Crisis, (Jakarta: Prenada Media Group, 2012), hal. 174.

5 Rachmat Kriyantono, Public Relation & Management Crisis, hal. 181.

 

(16)

kembali kondusif. Keberhasilan atau kegagalan dalam menangani isu sangat tergantung pada bagaimana praktisi PR mengelola isu.

Pada 19 Desember 2016, pemerintah melalui Bank Indonesia secara resmi meluncurkan sebelas uang baru secara serentak yang merupakan pertama kali sejak Indonesia merdeka. Rupiah TE 2016 tersebut, terdiri dari tujuh mata uang Rupiah pecahan kertas, dan empat logam. Tak lama setelah peluncuran, uang baru Rupiah TE 2016 itu pun menuai polemik, karena diindikasikan terdapat logo palu arit pada uang kertas Rupiah TE 2016 dengan nominal Seribu Rupiah sampai dengan Seratus Ribu Rupiah.

Berita tersebut menjadi viral di media sosial dan membuat sebagian masyarakat sempat percaya serta menuduh Bank Indonesia menyelipkan unsur paham komunis dalam uang kertas Rupiah. Bank Indonesia juga dianggap sebagai

‘antek’ Partai Komunis Indonesia, salah satu partai yang sudah tidak ada lagi keberadaannya di Indonesia.6 Selain di media sosial, berita adanya logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016 banyak diberitakan di media-media online nasional seperti, Kompas.com, Tempo.co, Detik.com dan lain sebagainya. Isu tersebut pun menjadi trending topic dan banyak di diskusikan di masyarakat.

Isu logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016 menjadi isu yang sensasional. Hal itu karena ada dukungan dari salah satu stakholders terkenal yaitu, Rizieq Shihab atau biasa dikenal dengan panggilan Habib Rizieq. Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) itu bahkan melaporkan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani ke Mabes Polri mengenai

6 https://www.bi.go.id/id/publikasi/gerai-info/Pages/geraiinfo-64-Komunikasi-Dinamis- Ala-Bank-Sentral.aspx, diakses pada Minggu, 26 Maret 2018 pukul 09.42 WIB.

 

(17)

indikasi adanya muatan logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016. Hal tersebut seperti yang dikutip dari berita kompas.com edisi 11 Januari 2017 sebagai berikut:

Gubernur BI dan Menkeu dianggap bertanggung jawab karena turut membubuhkan tanda tangan pada uang baru tersebut. Selain itu, Rizieq juga akan melaporkan Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) dan desainer logo.

"Kami akan laporkan ke Mabes Polri. Kami akan laporkan Gubernur BI, Menteri Keuangan," kata Rizieq saat menemui pimpinan DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/1/2017).7

Bank Indonesia merupakan bank sentral dan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah serta mencabut, menarik, dan memusnahkan uang dimaksud dari peredaran.Kewenangan BI dalam mengedarkan uang merupakan kewenangan yang dilandaskan pada UU tentang Bank Indonesia (UUBI) No. 23 Tahun 1999. Dalam UUBI diatur beberapa kewenangan BI, antara lain mengeluarkan dan mengedarkan uang sebagai alat pembayaran yang sah (Pasal 2 UUBI). Selain itu, Bank Indonesia juga berwenang menetapkan macam, harga, ciri uang yang akan dikeluarkan, bahan yang digunakan, dan tanggal mulai berlakunya sebagai alat pembayaran yang sah.8

Oleh sebab itu, sebagai bank sentral, Bank Indonesia salah satu lembaga yang paling bertanggung jawab atas terbitnya uang baru Rupiah TE 2016. Bank Indonesia merupakan lembaga Negara hasil proses nasionalisasi De Javasche Bank NV, yang didirikan pada tanggal 1 Juli 1953. Hal tersebut berdasarkan Undang- Undang Pokok Bank Indonesia atau Undang-Undang No. 11 Tahun 1953.9

7halttp://nasional.kompas.com/read/2017/01/11/18334631/rizieq.akan.laporkan.gubernur.

bi.menkeu.dan.peruri.soal.logo.palu.arit, diakses pada 4 Juli 2017 pkl 04.35 WIB.

8 Bank Indonesia, Buku Panduan Uang Rupiah, (Jakarta: Direktorat Pengedaran Uang Bank Indonesia, 2011), hal. 6.

9 www.bi.go.id/id/tentang-bi/profil/Documents/07_sejarah_rev1.pdf, diakses pada Kamis, 27 Juli 2017 pukul 11.24 WIB.

 

(18)

Lembaga ini di dirikan dengan tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan rupiah.

Adanya isu logo palu arit, tentu bisa mengancam reputasi Bank Indonesia bahkan bisa mengganggu kestabilan Rupiah. Isu logo palu arit memang sangat sensitif di Indonesia yang mayoritas penduduknya kaum muslim. Hal tersebut karena, logo palu arit yang menjadi simbol komunisme, dari segi teologi tidak mengenal adanya Tuhan. Sedangkan di Indonesia menganut prinsip berketuhanan, salah satunya adalah umat Islam. Oleh sebab itu, penggunaan simbol palu arit telah dinyatakan terlarang di Indonesia sejak 1966, sebagaimana telah diatur dalam undang-undang no. 27 tahun 1999 dan ketetapan MPRS (TAPMPRS) Nomor XXV/MPRS/1966 tahun 1966.

Suatu isu tidak akan muncul tanpa ada penyebabnya dan suatu krisis biasanya muncul dari isu yang terus berkembang. Jika tidak adanya penanganan isu yang baik oleh Public Relations, maka akan menimbulkan sebuah krisis. Selain itu, salah satu tools yang mempercepat berkembangnya isu di suatu organisasi sampai kepada publik adalah media, terutama media sosial. Pemberitaan di media sosial sangat mempengaruhi berkembangnya isu menjadi krisis. Apalagi jika isu tersebut menjadi viral dan bocor ke media online. Hal tersebut menjadi tantangan bagi Public Relations Bank Indonesia yang fungsi dan tugasnya dijalankan oleh Departemen Komunikasi Bank Indonesia.

Keberhasilan atau kegagalan dalam menangani isu sangat tergantung pada bagaimana PR Bank Indonesia mengelola isu tersebut. Public Relations Bank Indonesia harus melakukan strategi-strategi dalam menanggapi isu logo palu arit yang tengah berkembang dan sudah menjadi viral di media sosial maupun online.

 

(19)

Sehingga isu tersebut tidak berkembang lebih jauh menjadi krisis yang berkepanjangan dan berdampak besar bagi Bank Indonesia.

Strategi menurut Onong Uchjana Effendy pada hakikatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen untuk mencapai suatu tujuan.10 Dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa dalam strategi terdapat perencanaan dan pengaturan agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Jadi, Public Relations Bank Indonesia pada saat terjadi isu harus memutuskan tindakan apa yang mestinya dilakukan dalam menyelesaikan isu tersebut berdasarkan sumber-sumber dan data yang diperoleh dilapangan terkait dengan isu yang dihadapi.

Dari latar belakang diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih mendalam yang dituangkan dalam bentuk penelitian berjudul “Strategi Public Relations Bank Indonesia dalam Menanggapi Isu Logo Palu Arit pada Pecahan Rupiah Tahun Emisi 2016”.

B. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah

Agar penelitian ini lebih terarah dan dan fokus, maka penulis membatasi penelitian ini pada strategi yang dilakukan Public Relations Bank Indonesia dalam menanggapi isu logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016. Mulai dari menganalisa isu, mengidentifikasi isu, merencanakan strategi dan mengimplementasikan strateginya, setelah Bank Indonesia secara resmi menerbitkan uang Rupiah TE 2016 pada 19 Desember 2016.

10Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007). Cet ke-1, hal. 40.

 

(20)

2. Rumusan Masalah

Agar permasalahan lebih fokus dan tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami isi. Maka, dalam pembahasan skripsi ini, peneliti merumuskan beberapa masalah yang dianggap penting, yaitu:

a. Bagaimana analisa isu logo palu arit pada pecahan Rupiah Tahun Emisi 2016?

b. Strategi apa yang diimplementasikan Public Relations Bank Indonesia dalam menanggapi isu logo palu arit pada pecahan Rupiah Tahun Emisi 2016?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui bagaimana analisa isu logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016.

b. Untuk mengetahui strategi yang diimplementasikan Public Relations Bank Indonesia dalam menanggapi isu logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016.

2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang dihasilkan dengan adanya penelitian ini adalah sebagai berikut:

 

(21)

a. Manfaat Teoritis / Akademis

Sebagai acuan ilmiah maupun referensi dalam pengembangan ilmu komunikasi, khususnya pada tataran kajian tentang Public Relations.

Kegiatan penelitian ini merupakan stimulus dan kesempatan bagi penulis untuk mengeksplorasi lebih jauh materi-materi yang didapat dibangku perkuliahan yang kemudian diaktualisasikan dalam sebuah tulisan ilmiah. Besar harapan penulis penelitian ini dapat menambah wawasan serta pengetahuan untuk mempelajari langsung strategi Public Relations Bank Indonesia dalam menanggapi isu logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016.

b. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kerja Public Relations mengenai strategi yang harus dilakukan oleh Public Relations ketika menangani sebuah isu terutama bagi lembaga Bank Indonesia. Penelitian ini juga dapat menjadi masukan yang ideal terutama bagi penulis dan umumnya bagi masyarakat luas yang terlibat dalam bidang komunikasi.

D. Metodologi Penelitian 1. Paradigma Penelitian

Paradigma adalah suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata. Paradigma tertanam kuat dalam sosialisasi para penganut dan praktisinya. Paradigma menunjukkan pada mereka apa yang penting, absah, dan masuk akal. Paradigma juga bersifat normatif,

 

(22)

menunjukkan kepada praktisinya apa yang harus dilakukan tanpa perlu melakukan pertimbangan eksistensial atau epitemologis yang panjang.11 Paradigma tersebut menyatakan bahwa individu menginterpretasikan dan bereaksi menurut kategori konseptual dari pikiran. Realitas tidak menggambarkan diri individu namun harus disaring melalui cara pandang orang terhadap realitas tersebut.12

Peneliti menggunakan paradigma konstruktivisme sebagai pedoman proses pelaksanaan penelitian. Menurut Guba konstruktivisme menunjukan adanya realitas dari hasil konstruksi kemampuan berpikir seseorang. Artinya, sebuah realitas terbentuk melalui pikiran manusia yang hendak berpikir mengenai realitas tersebut. Konstruktivisme bersifat tidak tetap atau selalu berkembang, diibaratkan seperti fasilitator yang menjembatani keragaman sikap dan pandangan pelaku sosial. Tujuannya untuk menyusun kembali (rekonstruksi), kemudian menjabarkan seluruh realitas sosial melalui dialog antara peneliti dan yang diteliti.13

2. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yang sumber datanya diperoleh dari hasil wawancara dengan narasumber dan dijelaskan dalam bentuk kata-kata. Penelitian ini bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh Public Relations Bank Indonesia misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan

11 Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003), hal. 9.

12 Elvinaro Ardianto dan Bambang Q Anees, Filsafat Ilmu Komunikasi (Bandung:

PT. Remaja Rosdakarya, 2007), hal. 158.

13 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (Jakarta, PT Bumi Aksara, 2013), hal. 48-49.

 

(23)

dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan Bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan metode alamiah.14

3. Metode Penelitian

Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Studi Kasus atau Case Study karena studi kasus cocok untuk tahap pendekatan kualitatif deskriptif. Studi kasus adalah penelitian yang dilakukan terhadap suatu objek yang disebut sebagai kasus, yang dilakukan secara seutuhnya, menyeluruh dan mendalam dengan menggunakan berbagai macam sumber data. Selain itu, Creswell menyebut metode penelitian studi kasus sebagai salah satu strategi penelitian kualitatif.15

Alasan peneliti memilih metode studi kasus berdasarkan tiga hal yaitu;

Pertama, karena studi kasus merupakan penelitian yang lebih cocok untuk pertanyaan yang berbunyi how atau why, bagaimana dan kenapa. Sesuai dengan perumusan masalah pada skripsi ini yaitu mempertanyakan

“bagaimana strategi Public Relations Bank Indonesia dalam menanggapi isu logo palu arit pada pecahan mata uang rupiah tahun emisi 2016. Kedua, focus penelitian terletak pada fenomena kontemporer atau yang terjadi pada masa sekarang dalam kehidupan nyata. Ketiga, Kesimpulan studi kasus yang diambil tidak berlaku secara umum, tetapi hanya terbatas pada suatu kasus tertentu yang sedang di teliti dan metode ini membutuhkan peran langsung peneliti untuk terjun langsung ke lapangan dalam mengumpulkan data melalui narasumber.

14 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi) (Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 2014), hal.6.

15 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik, hal. 114-115.

 

(24)

4. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah Public Relations Bank Indonesia dan objek penelitiannya adalah Strategi Public Relations Bank Indonesia dalam menanggapi isu logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016.

5. Waktu dan Tempat Penelitian

Penulis melakukan penelitian dari 4 Agustus 2017 sampai dengan 31 Desember 2017. Jl. M.H. Thamrin No. 2, Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta.

6. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini tentunya berpatokan pada kebutuhan analisa. Adapun metode pengumpulan data yang dilakukan adalah:

a. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan sesuatu obyek dengan sistematika fenomena yang diselidiki. Observasi dapat dilakukan sesaat atau pun mungkin dapat diulang.16 Adapun beberapa bentuk observasi yaitu, observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur dan observasi kelompok tidak terstruktur. Dalam hal ini peneliti menggunakan teknik observasi partisipasi dengan jenis observasi partisipasi pasif.

Observasi partisipasi adalah pengumpulan data melalui observasi terhadap objek pengamatan dengan langsung hidup bersama, merasakan

16 Sukandarrumidi, Metodelogi Penilitian: Petunjuk Praktis Untuk Peneliti Pemula, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2002), hal. 69.

 

(25)

serta dalam aktivitas kehidupan objek pengamat.17 Sedangkan, observasi partisipasi pasif adalah peneliti dalam kegiatan pengamatannya tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para pelaku yang diamatinya, peneliti juga tidak melakukan sesuatu bentuk interaksi sosial dengan pelaku atau para pelaku yang diamati.

b. Wawancara

Metode wawancara adalah sebuah proses memperoleh sebuah keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka secara langsung antara pewawancara dengan informan atau narasumber, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara18.

Dalam hal ini peneliti akan melakukan Tanya jawab langsung dengan Deputi Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Pak Andi Wiyana dan Praktisi PR sekaligus Direktur PR Indonesia Pak Asmono Wikan. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keterangan yang jelas tentang strategi Public Relations Bank indonesia dalam menanggapi isu logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016.

sedangkan teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara berstruktur dan tidak berstruktur.19 Hal ini bertujuan memberikan kebebasan kepada narasumber dalam menjawab pertanyaan namun tetap terarah pada permasalahan yang diteliti.

17 Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Politik, dan Ilmu Sosial Lainnya, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 116.

18 Burhan Bungin, Metode Penelitian Kuantitatif, (Jakarta: Prenada Media Group, 2005), hal.126.

19 Rusdin Pohalan, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Yogyakarta: Lanarka, 2007), hal.

58.

 

(26)

c. Dokumentasi

Dokumentasi adalah salah satu instrumen pengumpulan data yang sering digunakan dalam berbagai metode pengumpulan data. Dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara.

Hasil penelitian akan lebih dipercaya jika sertai dengan dokumentasi.

Tujuannya untuk mendapatkan informasi yang mendukung analisis dan interpretasi data. Peneliti mengumpulkan data-data berdasarkan data dilapangan yang didapat dari Departemen Komunikasi Bank Indonesia dan laporan lainnya yang bersangkutan dengan penelitian.

7. Teknik Analisis Data

Setelah mengamati dan mendapatkan berbagai data yang dibutuhkan, selanjutnya peneliti melakukan analisis data. Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data yang kedalam kategori, menjabarkan unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari serta membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.20

Teknik analisis yang digunakan menggunkan strategi umum yaitu analisis deskriptif. Strategi ini lazimnya dilakukan dengan mendeskripsikan masing-masing temuan penelitian berdasarkan masing- masing permasalahan.

Jika masing-masing permasalahan diperkirakan dalam beberapa fokus, maka analisis data dilakukan dengan deskripsi masing-masing kasus.

20 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Alfabeta, 2010), hal. 89.

 

(27)

Peneliti membuat penafsiran langsung terhadap data-data dengan membuat pola-pola dan mencari hubungan antara dua kategori atau lebih.

Penafsiran langsung diberikan untuk memberikan pemaknaan-pemaknaan dari masing-masing data temuan yang di paparkan pada Bab IV.

Dalam mengembangkan generalisasi naturalistik terhadap strategi Public Relations dan menghadapkannya dengan teori-teori yang dipergunakan penelitian ini sebagaimana dimuat dalam Bab II. Langkah generalisasi ini lebih tepat sebagai langkah pemotretan secara umum dalam bentuk analisis terhadap temuan-temuan penelitian pada Bab IV. Sebagai sebuah studi kasus, maka generalisasi dibuat untuk memperjelas konteks khusus strategi Public Relations Bank Indonesia dalam menanggapi isu logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016.

E. Tinjauan Pustaka

Sebelum melakukan penelitian ini lebih lanjut dan menyusunnya menjadi sebuah karya ilmiah, maka langkah awal peneliti adalah dengan menelaah terlebih dahulu beberapa karya ilmiah yang berkaitan atau hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Pada penelitian ini akan disampaikan strategi Public Relations Bank indonesia dalam menaggapi isu logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016. merujuk pada penelitian terdahulu seperti:

1. Strategi Public Relations Bank Muamalat Indonesia (BMI) dalam Mempertahankan Citra Perusahaan, skripsi mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Nuraini menemukan bagaimana strategi

 

(28)

Public Relations Bank Muamalat Indonesia dalam mempertahankan citra perusahaan tahun 2016. Adapun persamaannya dengan penelitian ini terletak pada penggunaan strategi Public Relations dalam sebuah lembaga bank. Sedangkan perbedaanya terletak pada objek penelitian. Jika penelitian ini membahas strategi Public Relations Bank Muamalat Indonesia dalam mempertahankan citra perusahaan, sedangkan penulis membahas strategi Public Relations Bank Indonesia dalam menanggapi isu logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016.

2. Analisis Strategi Humas Universitas Indonesia dalam Menangani Isu dan Krisis Organisasi (Studi Kasus pada Pemberitaan di Media Online Mengenai Save UI), skripsi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Dwika Aldila menemukan bagaimana strategi Humas UI dalam menangani isu dan krisis organisasi mengenai kasus Save UI. Persamaan dengan skripsi ini terletak pada fokus strategi Public Relations dalam menangani isu. Sedangkan perbedaanya terdapat pada subjek penelitian.

3. Strategi Public Relations Kantor Staf Presiden Republik Indonesia dalam Mengelola Isu Keagamaan di Media Massa, skripsi mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ayu Utami Saraswati menemukan strategi yang diimplementasikan oleh Public Relations Kantor Staf Presiden Republik Indonesia dalam Mengelola Isu Keagamaan di Media Massa. Persamaan dengan skripsi ini adalah terdapat pada strategi Public Relations dalam mengelola isu. Sedangkan perbedaannya adalah

 

(29)

pada subjek penelitiannya. Pada skripsi ini subjek penelitiannya adalah Public Relations Kantor Staf Presiden Republik Indonesia sedangkan subjek penelitian dari penulis adalah Public Relations Bank Indonesia.

F. Sistematika Penulisan

Secara sistematis penulisan skripsi ini dibagi menjadi lima bab. Untuk lebih jelasnya penulis uraikan sebagai berikut:

1. BAB I Pendahuluan

Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan.

2. BAB II Landasan Teori

Bab ini menguraikan mengenai pengertian strategi selanjutnya membahas mengenai Public Relations mulai dari pengertian, fungsi dan tujuan. Lalu ditutup dengan menjelaskan teori strategi public relations dan konsep manajemen isu.

3. BAB III Gambaran Umum Bank Indonesia

Bab ini terdiri dari sejarah, visi dan misi, perkembangan, struktur organisasi, kedudukan tugas dan fungsi, struktur bidang Public Relations Bank Indonesia dan proses pencetakan uang rupiah.

4. BAB IV Hasil Temuan dan Analisis Data

Dalam bab ini akan diuraikan hasil analisa temuan di lapangan berupa kronologis isu logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016 terjadi strategi PR Bank Indonesia dalam menanggapi isu logo palu arit pada pecahan Rupiah TE 2016.

 

(30)

5. BAB V Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi kesimpulan dan saran. Pada bagian akhir penulisan skripsi penulis menyajikan daftar pustaka yang menjadi referensi dalam penulisan skripsi ini dan lampiran-lampiran.  

(31)

18 BAB II

LANDASAN TEORI D. Strategi Public Relations

6. Pengertian Strategi

Strategi merupakan hal penting bagi kelangsungan hidup dari suatu perusahan untuk mencapai sasaran atau tujuan perusahaan yang efektif dan efisien, perusahaan harus bisa menghadapi setiap masalah-masalah atau hambatan yang datang dari dalam perusahaan maupun dari luar perusahaan.

Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan, dalam pengembangannya konsep mengenai strategi harus terus memiliki perkembangan dan setiap orang mempunyai pendapat atau definisi yang berbeda mengenai strategi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.21 Pada mulanya istilah strategi digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Secara etimologi kata strategi menurut Ali Murtopo berasal dari kata majemuk bahasa Yunani, yaitu stratos dan agein. Stratos sendiri artinya pasukan dan agein berarti memimpin.22 Jadi strategi bisa diartikan memimpin pasukan dan ilmu strategi adalah ilmu tentang memimpin pasukan.

Secara terminologi banyak ahli telah mengemukakan definisi strategi dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Seperti halnya Onong Uchjana Effendy yang beranggapan bahwa strategi pada hakikatnya adalah

21 Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), hal. 1092.

22 Ali Murtopo, Strategi Kebudayaan. (Jakarta: Center for Strategic and Internasional Studies-CSIS, 1978), hal. 7.

 

(32)

perencanaan (planning) dan manajemen untuk mencapai suatu tujuan tersebut.23 Dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa dalam strategi terdapat perencanaan dan pengaturan agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Tak berbeda jauh Ahmad S. Adnanputra dalam Rosady Ruslan berpendapat bahwa strategi adalah bagian terpadu dari suatu rencana (plan), sedangkan rencana merupakan produk dari perencanaan (planning), yang pada akhirnya perencanaan adalah salah satu fungsi dari proses manajemen.24

Menurut John A. Pearce II dan Richard B. Robinson, yang berpendapat bahwa strategi adalah rencana berskala besar, dengan orientasi masa depan, guna berinteraksi dengan kondisi persaingan untuk mencapai tujuan.25 Begitupun Freddy Rangkuti, menurutnya strategi adalah perencanaan induk yang komprehensif, yang menjelaskan bagaimana perusahaan akan mencapai semua tujuan yang telah ditetapkan berdasarkan misi yang telah ditetapkan sebelumnya.26

Sementara itu, Glueck William F dan Jauch Lawrence berpandangan strategi adalah rencana yang disatukan, luas dan berintegrasi yang menghubungkan keunggulan strategis perusahaan dengan tantangan lingkungan, yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama dari perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi.27

23 Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007). Cet ke-1, hal. 40.

24 Rosadi Ruslan, Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006), hal.133.

25 John A pearce II dan Richard B Robinson Jr, Manajemen Strategis 10, (Jakarta: Salemba Empat,2008), hal. 2.

26 Freddy Rangkuti, Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis, (Jakarta: PT Gramedia pustaka utama,2013), hal. 183.

27 Glueck William F dan Jauch Lawrence, Manajemen dan Strategis Kebijakan Perusahaan, (Jakarta: Erlangga, 1989), hal. 9.

 

(33)

Sedangkan menurut George Steiner & John Mineer, strategi adalah penempatan misi perusahaan, penempatan sasaran organisasi dalam mengikat kekuatan eksternal dan internal, perumusan kebijakan dan strategi tertentu untuk mencapai sasaran dan memastikan implementasinya secara tepat, sehingga sasaran organisasi akan tercapai.28 Dari beberapa pendapat di atas bisa dikatakan strategi merupakan perencanaan jangka panjang perusahaan dalam menetapkan garis-garis besar tindakan strategis yang akan diambil perusahaan dalam kurun waktu tertentu di masa yang akan datang.

7. Pengertian Public Relations

Kehadiran Public Relations sangat dibutuhkan oleh setiap organisasi, baik itu organisasi yang bersifat komersial (perusahaan) maupun non komersial seperti lembaga pemerintahan, karena Public Relations merupakan salah satu elemen yang menentukan kelangsungan suatu organisasi secara positif. Public Relations merupakan mediator yang berada antara pimpinan organisasi dengan publiknya, baik dalam upaya membina hubungan masyarakat internal maupun eksternal. Sebagai publik, mereka berhak mengetahui rencana kebijaksanaan aktivitas, program kerja dan rencana usaha-usaha suatu organisasi atau perusahaan berdasarkan keadaan, harapan-harapan dan sesuai dengan keinginan publik sasarannya.

Keutaaman dari Public Relations dalam mewakili top manajemen suatu lembaga atau organisasi adalah bentuk kegiatan two ways communication yang merupakan ciri khas dari fungsi dan peranan Public Relations. Hal tersebut dikarenakan salah satu tugas Public Relations adalah bertindak

28 George Steiner & John Mineer, Manajemen Strategik, (Jakarta: Erlangga), hal. 20.

 

(34)

sebagai nara sumber informasi (source of information) dan merupakan saluran informasi (channel of information).29

Banyak pandangan yang beragam terkait definisi Public Relations dari para ahli. International Public Relations Association (IPRA) mendefinisikan Public Relations adalah fungsi manajemen dari ciri yang terencana dan berkelanjutan melalui organisasi dan lembaga swasta atau publik untuk memperoleh pengertian, simpati dan dukungan dari mereka yang terkait atau mungkin ada hubungannya dengan penelitian opini publik di antara mereka.30

Dalam Public Relations News, Public Relations adalah fungsi manajemen yang menilai sikap publik, menyatakan kebijaksanaan dan prosedur dari individu atau organisasi atas dasar kepentingan publik dan melaksanakan program kerja untuk memperoleh pengertian dan pengakuan dari publiknya.31 Pendapat tak jauh pun dikemukakan oleh J.C, Seidel PR Director, yang di kutip oleh Soleh Soemirat yang berpendapat bahwa Public Relations adalah proses yang berkelanjutan dari usaha-usaha manajemen untuk memperoleh goodwill (kemauan baik) dan pengertian dari pelanggan, pegawai dan publik yang luas. Ke dalam mengadakan analisis dan perbaikan diri sendiri sedangkan keluar memberikan pernyataan-pernyataan.32

Berbeda halnya dengan Frank Jefkins yang menyatakan bahwa Public Relations adalah sesuatu yang merangkum keseluruhan komunikasi yang

29 Rosady Ruslan, Manajemen Public Relations & Media Komunikasi, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006), hal. 14-15.

30 Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto, Dasar-Dasar Public Relations, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hal. 14.

31 Neni Yulianita, Dasar-Dasar Public Relations, (Bandung: Pusat Penerbit Universitas, 2007), hal. 25.

32 Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto, Dasar-Dasar Public Relations, hal. 12.

 

(35)

terencana, baik itu kedalam maupun keluar, antara suatu perusahaan atau organisasi terhadap khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian.33 Begitupun pernyataan Edward Bernays yang dikutip oleh Onong Uchjana Effendi dalam mendefinisikan Public Relations: “information given to the public, persuasion directed at the public to modify attitude and actions, and efforts to integrate attitude and actions of an institution with its public with those of that institution”. Maksudnya adalah memberikan informasi secara langsung dan persuasif kepada publik agar merubah tindakan atau sikap publik untuk dapat berintegrasi dengan tindakan dan sifat publik dari suatu institusi.34

Sementara Coombs dalam Rachmat Kriyantono mempunyai pandangan lain dalam mendefinisikan Public Relations. Menurut Coombs Public Relations merupakan manajer krisis yang dapat berperan dalam proses merumuskan dan mengimplementasikan strategi dalam mengatasi krisis.35 Public Relations sebagai fungsi manajemen yang menangani isu dan krisis harus dapat memelihara citra dan reputasi perusahaan agar tetap positif di mata publiknya. Maka, ketika sebuah perusahaan dilanda isu atau krisis, praktisi PR harus melakukan strategi komunikasi untuk meredam isu dan memulihkan kondisi hingga kembali kondusif. Keberhasilan atau kegagalan dalam menangani isu maupun krisis sangat tergantung pada bagaimana praktisi PR mengelola isu dan krisis.

33 Frank Jefkins, Public Relations, (Jakarta: Erlangga, 2002), hal. 10.

34 Onong Uchjana Effendi, Human Relations dan Public Relations, (Bandung: Mandar Maju, 1993), hal. 116.

35 Rachmat Kriyantono, Public Relation & Management Crisis, (Jakarta: kencana Prenada Media group, 2012,) hal. 181.

 

(36)

Dari berbagai definisi tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa Public Relations adalah fungsi manajemen yang menjadi jembatan penghubung antara organisasi atau perusahaan dengan publiknya dan mampu membantu menciptakan alur komunikasi dengan baik untuk mewujudkan pengertian satu sama lain serta ikut terlibat dalam menangani masalah atau isu-isu yang berkaitan dengan perusahaannya.

8. Fungsi Public Relations

Fungsi utama Public Relations adalah mengetahui langkah-langkah terbaik dan tepat untuk menjaga hubungan baik antara antara internal (hubungan ke dalam) dan eksternal (hubungan ke luar) organisasi. Dalam prakteknya, fungsi Public Relations terbagi menjadi tiga, yakni mengetahui secara pasti dan mengevaluasi pendapat umum yang berkaitan dengan organisasinya, menasihati para eksekutif mengenai cara-cara menangani pendapat umum yang timbul, serta menggunakan komunikasi untuk mempengaruhi pendapat umum.36

Betrand R. Canfield dalam bukunya “Public Relations Principles and Problems” mengemukakan tiga fungsi PR yaitu: pertama, Mengabdi kepada kepentingan umum (It should serve the publics interest). Kedua, Memelihara komunikasi yang baik (Mantaian a good communication) dan ketiga, menitikberatkan pada moral dan tingkah laku yang baik (To stress a good morals and manners).14 Sedangkan Edwin Emery dalam bukunya Introduction to Mass Communications menegaskan bahwa fungsi Public Relations adalah menciptakan opini publik yang menguntungkan perusahaan

36 Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992), hal. 134.

 

(37)

atau organisasi maupun lembaga pemerintah. Untuk mencapai tujuan atau sasaran tersebut, perlu diupayakan hubungan harmonis antara Public Relations dengan lingkungannya.37 Pendapat tak jauh dari Cutlip dan Center yang dikutip dalam Rosadi Ruslan mengatakan bahwa fungsi Public Relations meliputi hal-hal berikut:

a. Menunjang kegiatan manajemen dan mencapai tujuan organisasi

b. Menciptakan komunikasi dua arah secara timbal balik dengan menyebarkan informasi dari perusahaan kepada publik dan menyalurkan opini publik kepada perusahaan

c. Melayani publik dan memberikan nasihat kepada pimpinan organisasi untuk kepentingan umum

d. Membina hubungan secara harmonis antara organisasi dan publik, baik internal maupun eksternal.38

9. Peranan Public Relations

Peranan Public Relations di dalam perusahaan merupakan pendukung fungsi manajemen dalam mencapai tujuan perusahaan. Salah satu contohnya adalah mengelola isu dan krisis yang dihadapi oleh perusahaan.39 Di dalam Kode Etik Asosiasi Public Relations Internasional (International Public Relations Association Code of Conduct) dijelaskan bahwa Public Relations harus bersikap terbuka dalam menjelaskan kepada publik mengenai masalah, konflik dan pertikaian yang sedang di hadapi dan juga dituntut untuk memberi

37 Edwin emery, Introduction to Mass Communcations, edisi kesembilan (New York:

Happerrow, 1998), hal. 382.

38 Rosady Ruslan, Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), hal. 19.

39 Rosady Ruslan, Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi, hal 23.

 

(38)

klarifikasi atau kebenaran informasi jika terserang isu-isu krusial yang berdampak krisis dan tidak diperbolehkan mengelabui ketidaktahuan publik.

Peran Public Relations bersifat dua arah pertama, membina hubungan ke dalam sebagai perusahaan atau organisasi itu sendiri. Dan mampu mengidentifikasi atau mengenali hal-hal yang menimbulkan gambaran negatif di dalam masyarakat, sebelum kebijakan itu dijalankan oleh organisasi, kedua, membina hubungan keluar yaitu membina hubungan dengan publik atau masyarakat. Mengusahakan tumbuhnya sikap dan gambaran yang positif dari publik terhadap lembaga yang diwakilinya.

Sedangkan Menurut Dozier dan Broom yang dikutip Rosady Ruslan menyatakan bahwa peranan Public Relations dibagi menjadi empat kategori dalam suatu organisasi, yaitu sebagai berikut:

a. Penasihat Ahli (Expert prescriber)

Public Relations diharuskan memiliki kemampuan tinggi dan dapat memberikan solusi kepada manajemen dalam penyelasaian masalah dengan publiknya. Pihak manajemen bertindak pasif dalam menerima atau mempercayai apa yang telah disarankan oleh Public Relations dalam memecahkan dan mengatasi permasalahan yang tengah dihadapi oleh organisasi yang bersangkutan.

b. Fasilitator Komunikasi (Communication fasilitator)

Dalam hal ini Public Relations bertindak sebagai mediator untuk membantu pihak manajemen dalam hal untuk mendengar apa keluhan dan keinginan publiknya serta dapat menjelaskan apa keinginan dan kebijakan perusahan kepada publiknya.

 

(39)

c. Fasilitator Proses Pemecahan Masalah (Problem solving process fasilitator)

Public Relations mempunyai peranan untuk membantu pimpinan organisasi baik sebagai penasihat hingga mengambil tindakan eksekusi dalam mengatasi persoalan atau krisis yang tengah dihadapi secara rasional dan professional.

d. Teknisi Komunikasi (Communication technician)

Peranan teknisi komunikasi ini menjadikan Public Relations journalist in resident yang hanya menyediakan teknis komunikasi atau dikenal dengan methode of communication in organization. Sistem komunikasi dalam organisasi tergantung dari masing-masing bagian atau tingkatan (level), yaitu secara teknis komunikasi baik arus maupun media komunikasi yang dipegunakan dari tingkatan pimpinan dengan bawahan akan berbeda dari bawahan ke tingakat atasan. Begitupun pada arus media komunikasi satu level, misalnya komunikasi karyawan satu departemen dengan lainnya.40

10. Strategi Public Relations

Menurut Rhenald Kasali, kata strategi memiliki pengertian yang terkait dengan hal-hal seperti kemenangan, kehidupan atau daya juang.

Artinya menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan mampu atau tidaknya perusahaan menghadapi tekanan yang muncul dari dalam atau dari luar.

Kalau dapat, ia akan terus hidup, kalau tidak, ia akan mati seketika. Maka

40 Rosady Ruslan, Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), hal 20-21.

 

(40)

dari itu strategi membenarkan perusahaan untuk mengambil tindakan pahit sekalipun seperti amputasi (pengurangan unit usaha, dirumahkannya karyawan, pemangkasan, dan lain-lain) sepanjang hal itu dilakukan demi kehidupan perusahaan atau organisasi dalam jangka panjang.41 Kaitan Public Relations dan Strategi adalah, yang menjalankan strategi dan mengaturnya bersama pimpinan adalah seorang praktisi Public Relations. Karena sesuai dengan fungsinya, seorang praktisi Public Relations memiliki pekerjaan untuk mengawasi setiap kegiatan ke dalam maupuan ke luar perusahaan.

Sehingga apabila perusahaan tersebut memiliki konflik, permasalahan dan sebagainya, PR perusahaan itulah yang mengetahui terlebih dahulu lalu menyusun strategi untuk mengatasinya.

Strategi pada hakikatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai suatu tujuan. Akan tetapi untuk mencapai suatu tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan jalan saja, melainkan harus menunjukkan bagaimana tak tik operasionalnya. Sebagaimana fungsi dari Public Relations yaitu untuk mengawasi setiap kegiatan ke dalam maupuan ke luar perusahaan. Sehingga apabila perusahaan tersebut memiliki konflik, permasalahan dan sebagainya, PR perusahaan itulah yang mengetahui terlebih dahulu lalu menyusun strategi untuk mengatasinya. Menurut Ronald D. Smith ada beberapa langkah yang digunakan dalam teori strategi Public Relations. Ronald D. Smith adalah Praktisi Public Relations dan anggota dari

41 Rhenald Kasali. Manajemen Public Relations, (Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 2003), hal. 35.

 

(41)

Public Relations Society of America. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

a. Formative Research

Fase pertama dalam proses perencanaan strategis menurut Smith adalah riset formatif atau riset stategis adalah kegiatan pendahuluan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi dan menganalisa situasi yang dihadapi . Dalam fase ini terdapat tiga tahap yakni analisis situasi, analisis organisasi dan analisis publik.

1) Analyzing the situation (menganalisa situasi)

Merupakan bagian yang penting sebagai proses awal penentuan strategi dimana setiap tahap ini digunakan untuk mengumpulkan semua informasi dan sekaligus menganalisa situasi.

2) Ananlyzing the organization (menganalisa organisasi)

Pada tahap ini diperlukan pengamatan yang tepat terhadap tiga aspek perusahaan yaitu lingkungan internalnya (misi, performance, dan sumber daya perusahaan), reputasi dan lingkungan eksternalnya.

3) Ananlyzing the public (menganalisa publik)

Merupakan tahap untuk mengidentifikasikan dan menganalisa publik yang menjadi sasaran. Hal ini akan membuat perusahaan mampu mengatur prioritas dalam berhubungan dengan publiknya yang beragam.

b. Strategy

Strategi merupakan jantung nya perencanaan Public Relations maupun masaran dan bidang lainnya yang berkaitan. Strategi adalah

 

(42)

keseluruhan rencana organisasi, meliputi apa yang ingin dicapai dan bagaimana cara mencapainya. Strategi memiliki tiga tahap, yakni menetapkan tujuan dan sasaran, memformulasikan aksi dan strategi respon, kemudian menggunakan komunikasi efektif.

1) Establishing goals and objectives (menentukan sasaran dan objektif) Tahap ini dapat membuat perusahaan mengembangkan objektif yang jelas, spesifik dan terukur (measurable) sesuai dengan yang diinginkan perusahaan.

2) Formulating action and response strategies (memformulasikan aksi dan respon)

Tahap ini merupakan tahap dimana antara kegiatan atau aksi dipadukan dengan respon yang akan diterima.

3) Using effective communication (menggunakan komunikasi yang efektif)

Tahap ini berhubungan dengan beragam keputusan yang diambil terhadap pesan yang disampaikan, seperti: sumber yang akan menyampaikan pesan kepada publik kunci, isi dari pesan, bunyi dan gayannya dan lain-lain.

c. Tactics

Setelah strategi di buat, kini tiba gilirannya untuk memasuki fase ketiga yaitu taktik. Pada fase ini terdiri dari pemilihan taktik komunikasi yang akan digunakan dan melakukan implementasi rencana strategis yang sudah disusun.

 

(43)

1) Choosing communication tactics (memilih taktik komunikasi) Ada empat kategori dalam komunikasi, seperti: komunikasi tatap muka, organizational media, media berita, iklan dan media promosional dan lainnya.

2) Implementing the strategic plan (mengimplementasikan strategi) Di tahap ini dikembangkan budget dan jadwal yang dipersiapkan untuk mengimplementasikan program komunikasi yang ditentukan.

d. Evaluative Research

Pada fase terakhir adalah untuk mengetahui efektivitas berbagai taktik komunikasi yang digunakan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditentukan. Tahap ini adalah tahap akhir dimana dikembangkan metode yang spesifik dalam mengukur keefektifan dari strategi yang ditempuh.42

E. Isu

5. Pengertian Isu

Isu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kabar yang tidak jelas asal usulnya dan tidak terjamin kebenarannya, bisa juga disebut kabar angin atau desas-desus.43 Isu adalah sebuah kondisi atau peristiwa, baik internal maupun eksternal organisasi yang jika berlanjut akan mempunyai efek

42 Ronald D. Smith, Strategic Planning for Public Relations, (Lawrence Erlbaum Associates, 2002, USA), hal. 9-11.

43 http://kbbi.web.id/isu, diakses pada Rabu, 1 Februari 2018 pukul 03.00 WIB.

 

(44)

signifikan pada berfungsinya atau performa organisasi atau pada kepentingan organisasi di masa datang.44

Harrison seperti dikutip dalam Rachmat Kriyantono memberikan definisi bahwa isu adalah berbagai perkembangan, biasanya di dalam arena publik, yang jika berlanjut dapat secara signifikan memengaruhi operasional atau kepentingan jangka Panjang dari organisasi. Sedangkan menurut the Issue Management Council, jika terjadi gap atau perbedaan antara harapan publik dengan kebijakan, operasional, produk atau komitmen organisasi terhadap publiknya, maka disitulah muncul isu.45

Aktivitas Organisasi

Isu Gap

Harapan Publik

Firsan Nova (2011) dalam bukunya menyatakan isu adalah peristiwa yang terjadi di luar kendali perusahaan, yang berdampak pada tujuan strategis perusahaan, core business-nya dan keberadaan perusahaan yang mungkin memerlukan respons tertentu dari perusahaan.46 Sementara itu Onong U.

Effendy dalam kamus komunikasi (1989) menyebutkan isu adalah kabar yang beredar di masyarakat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya disebabkan sumbernya yang tidak jelas.47

Menurut Regester dan Larkin sebuah isu merepresentasikan suatu kesenjangan antara praktek korporat dengan harapan-harapan para stakeholder

44 Rachmat Kriyantono, Public Relation and Crisis Management, (Jakarta: kencana Prenada Media group, 2012), hal. 150.

45 Rachmat Kriyantono, Public Relation & Management Crisis, hal. 152.

46 Firsan Nova, Crisis Public Relations, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2011), hal. 239.

47 Helena, Olii, Opini Publik, (Jakarta: PT Indeks, 2007), hal. 55.

 

(45)

(a gap between corporate practice and stakeholder expectation). Dengan kata lain, sebuah issue yang timbul ke permukaan adalah suatu kondisi atau peristiwa, baik di dalam maupun di luar organisasi, yang jika dibiarkan akan mempunyai efek yang signifikan pada fungsi atau kinerja organisasi tersebut atau pada target-target organisasi tersebut di masa mendatang.48

Gaunt dan Ollen Burger membagi isu menjadi dua jenis, yakni isu internal dan isu eksternal.49 Isu internal adalah isu yang berkembang di dalam organisasi dan diketahui oleh orang-orang yang tergabung di organisasi itu, sedangkan isu eksternal adalah isu yang berkembang di luar organisasi dan diketahui oleh publik yang cakupannya lebih besar. Lain halnya pendapat dari Harrison, ia membagi isu menjadi dua aspek, aspek pertama yakni aspek dampak yang terdiri dari Defensive issues dan Offensive issues¸ aspek kedua yakni aspek keluasan isu yang terdiri dari isu-isu universal, isu-isu advokasi, isu-isu selektif, dan isu-isu praktis.50

Defensive issues adalah isu-isu yang membuat cenderung memunculkan ancaman terhadap organisasi, karenanya organisasi harus mempertahankan diri agar tidak mengalami kerugian reputasi. Sementara offensive issues adalah isu-isu yang dapat digunakan untuk meningkatkan citra dan reputasi perusahaan.3 Kedua, aspek keluasan isu. Ada 4 (empat) jenis isu, yaitu (1) isu-isu universal, yaitu isu-isu yang mempengaruhi banyak orang secara langsung, bersifat umum, dan berpotensi mempengaruhi secara

48 Regester, Michael, Judy Larkin, Risk Issues and Crisis Management in Public relations, (New Delhi: Crest Publishing House, 2003), hal. 42.

49 Rachmat Krisyantono, Public Relation & Management Crisis, (Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2012), hal. 156-157.

50 Rachmat Krisyantono, Public Relation & Management Crisis, hal. 158.

 

(46)

personal, sifatnya lebih imminent. (2) isu-isu advokasi, yaitu isu-isu yang tidak mempengaruhi sebanyak orang seperti pada isu universal. Isu ini muncul karena disebarkan kelompok tertentu yang mengaku representasi kepentingan publik. Isu ini bersifat potensial. (3) isu-isu selektif, yaitu isu-isu yang hanya mempengaruhi kelompok tertentu. Bisa saja isu yang muncul berkaitan dengan kepentingan orang banyak, tetapi hanya pihak tertentu saja yang terpengaruh oleh isu tersebut dan lebih memperhatikan isi ini. (4) isu-isu praktis, yaitu isu- isu yang hanya melibatkan atau berkembang diantara para pakar.51

6. Tahapan isu

Perbedaan antara isu dan krisis sangatlah tipis untuk itu sangatlah penting bagi Public Relations untuk memahami tahap perkembangan isu.

Menurut Crable dan Vibbert (Smudde, 2001), serta Gaunt, ada empat tahap perkembangan isu yaitu, tahap origin, mediation dan Amplification, Organization dan Resolution.52

a. Tahap Origin (Potential Stage)

Pada tahap ini isu-isu belum menjadi perhatian pakar dan publik secara luas, meskipun beberapa sudah menyadarinya. Di tahap ini seseorang atau kelompok mengekspresikan perhatiannya pada isu dan memberikan opini. Dimungkinkan juga mereka mereka melakukan tindakan- tindakan tertentu berkaitan dengan isu yang dianggap penting. Tahap ini dianggap penting karena menentukan apakah isu dapat di manajemen dengan baik atau tidak.53

51 Ahmad Fuad Afdhal, Tips & Trik Public Relations, (Jakarta: Grasindo, 2008), hlm. 117.

52 Rachmat Kriyantono, Public Relation & Management Crisis, (Jakarta: Prenada Media Group, 2015), hal. 159-161.

53 Rachmat Kriyantono, Public Relation & Management Crisis, hal. 159.

 

Gambar

Tabel 1 Tabel Frekuensi Isu Logo Palu Arit .................................................
Gambar 3.3  Logo Bank Indonesia

Referensi

Dokumen terkait