• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI D. Strategi Public Relations

F. Logo Palu Arit 3. Pengertian Logo

4. Palu Arit

Setelah revolusi industri di Eropa, kaum buruh dan petani semakin terpinggirkan dan tertindas. Revolusi para pekerja yang tergolong kalangan bawah tersebut mengundang perhatian dunia. Mereka yang menyepelekan kaum pekerja tidak mengira akan kekuatan yang dimiliki oleh persatuan kaum buruh dan petani. Pihak komunis-sosialis, yang sebelumnya menggunakan bendera merah atau sering dikenal dengan tentara merah, memanfaatkan simbol palu dan arit sebagai lambang bendera partai komunis. Simbol palu dan arit yang menyilang muncul sebagai bentuk pengkomunikasian bersatunya kaum buruh dan petani dalam revolusi Bolshevik tahun 1917 di Rusia. Simbol

71 http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/572/jbptunikompp-gdl-tonyvancha-28556-10-unikom_t-i.pdf diakses pada Minggu, 31 Desember 2017 pukul 22.35 WIB.

72 Hadiono, Strategi Komunikasi Pemasaran Pt Global Informasi Bermutu (Global TV) Jakarta Dalam Perubahan Logo dalam https://hadiono.wordpress.com/2008/10/03/ diakses pada Kamis, 8 Februari pukul 03.30 WIB.

 

palu mewakili para buruh dan arit mewakili para petani. Simbol merupakan kode untuk berkomunikasi atau pertukaran informasi dalam interaksi sosial.

Simbol itu muncul dalam bentuk lambang palu dan arit, berupa artefak bendera, atribut, dan lainnya. Adapun beberapa peran artefak dalam pertukaran informasi yaitu, (a) sebagai simbol wilayah kekuasaan & sosial, (b) sebagai simbol penguat kesatuan etnik, (c) sebagai simbol pemeliharaan dan penguatan jaringan pencarian pasangan hidup, (d) sebagai simbol penguatan hubungan antar masyarakat, (e) sebagai simbol kedudukan struktural.73

Pada awalnya, para buruh dan petani menyampaikan eksistensi mereka dalam revolusi melalui simbol palu dan arit. Simbol ini kemudian menjadi identitas para pekerja kasar sebagai solidaritas, pemersatu dan penguat hubungan antar masyarakat. Apabila revolusi yang dilakukan tidak memunculkan simbol, maka akan sulit untuk menunjukkan keberadaan kaum buruh dan petani di mata dunia, serta sulit untuk menggerakkan kaum pekerja yang lain. Dengan demikian simbol palu dan arit memiliki arti penting dalam penyampaian pesan revolusi. Besarnya pengaruh revolusi palu dan arit mengakibatkan orang mengidentikkan lambang palu dan arit sebagai simbol pemberontakan. Namun, dalam perkembangannya, simbol palu dan arit tidak hanya digunakan oleh kaum pekerja tapi juga kaum borjuis (pelajar) saat menolak kebijakan pemerintah. Simbol ini juga digunakan oleh kaum sosialis yang menjunjung tinggi kesetaraan status. Tahun 1922 penggunaan lambang palu dan arit menyilang dengan latar belakang merah diresmikan menjadi bendera komunis di seluruh dunia. Tentara merah meresmikan simbol palu dan

73 https://www.erepublik.com/id/article/arti-lambang-palu-arit-dalam-gerakan-komunis-internasional-2273485/1/20 diakses pada Minggu, 31 Desember 2017 pukul 22.50 WIB.

 

arit yang menyilang dimasukkan ke dalam lambang bendera partai politiknya.

Lambang ini memiliki makna bahwa partai komunis menjunjung tinggi para pekerja kasar. Dari sini diharapkan pendukung partai dapat dihimpun dari para buruh dan petani yang cenderung memiliki massa lebih banyak.74

Di Indonesia, sejak peristiwa G 30 S PKI, simbol palu dan arit menjadi tabu karena diinterpretasikan dengan komunis yang ingin menghancurkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari dalam.

penggunaan simbol palu arit telah dinyatakan terlarang bersama dengan paham komunisme sendiri sejak 1966, sebagaimana telah diatur dalam Undang Undang No. 27 tahun 1999 dan Ketetapan MPRS (TAP MPRS) Nomor XXV/MPRS/1966 tahun 1966, yang secara resmi menyatakan pelarangan terhadap paham komunisme dan Marxisme-Leninisme, serta pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) setelah pecahnya Peristiwa Gerakan 30 September. Gerakan 30 september merupakan gerakan militer yang berhasil menculik dan membunuh, Letjen Ahmad Yani Men/Pangad, Mayjen Suprapto Deputi II /Pangad, Mayjen Haryono M.T., Deputi III Pangad, Mayjen S. Parman Asisten-I Pangad, Brigjen D.I. Pandjaitan Asisten-IV Pangad dan Brigjen Sutojo Siswomiharjo Oditur Jenderal Militer/ Inspektur Kehakiman Angkatan Darat. Penculikan terhadap Jenderal A.H Nasution gagal, karena Menko Hankam/ KASAB berhasil menyelamatkan diri. Tetapi Lettu CZI Pierre Andreas Tendean Ajudan Jenderal A.H. Nasuition diculik.75

74 https://www.erepublik.com/id/article/arti-lambang-palu-arit-dalam-gerakan-komunis-internasional-2273485/1/20 diakses pada Minggu, 31 Desember 2017 pukul 23.00 WIB.

75 Hendro Subroto, Dewan Revolusi PKI, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2008), hal. 23.

 

43 BAB III

GAMBARAN UMUM A. Sejarah Bank Indonesia

Pada 1746 VOC mendirikan De Bank van Leening yang kemudian menjadi De Bank Courant en Bank van Leening pada 1752. Bank itu adalah bank pertama yang lahir di nusantara, cikal bakal dari dunia perbankan pada masa selanjutnya.

Setelah itu pada 24 Januari 1828, pemerintah Hindia Belanda mendirikan bank sirkulasi dengan nama De Javasche Bank (DJB). Ketika masa pendudukan Jepang, kegiatan DJB dan perbankan Hindia Belanda dihentikan untuk sementara waktu.76

Pada masa revolusi, Hindia Belanda mengalami dualisme kekuasaan, antara Republik Indonesia (RI) dan Nederlandsche Indische Civil Administrative (NICA).

Begitupun dengan perbankan yang terbagi menjadi dua, antara DJB dan bank-bank Belanda di wilayah NICA dengan "Jajasan Poesat Bank Indonesia" dan Bank Negara Indonesia di wilayah RI. Hal ini dikarenakan sesudah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Dewan Menteri Republik Indonesia pada 19 September 1945 yang dipimpin oleh Presiden Soekarno mengambil keputusan untuk mendirikan sebuah Bank Negara Indonesia. Untuk mempersiapkannya, telah ditugaskan R.M. Margono Djojohadikusumo dengan surat kuasa pemerintah Republik Indonesia tanggal 16 September 1945 yang ditanda tangani oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Untuk merealisasikan pendirian tersebut, maka diambil langkah praktis oleh pemegang kuasa dengan membentuk Jajasan Poesat Bank Indonesia (JPBI) dengan akte notaris R.M

76 http://www.bi.go.id/id/tentang-bi/museum/sejarah-bi/pra-bi/Pages/sejarah_prabi_1.aspx diakses pada Sabtu, 10 Januari 2018 WIB pukul 13.00 WIB.

 

Soerojo No. 14 tanggal 9 Oktober 1945 di Jakarta. Dalam akte tersebut dikemukakan bahwa pembentukan JPBI ini dimaksudkan sebagai persiapan untuk menyelengarakan pendirian Bank Negara Indonesia.77

Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 mengakhiri konflik Indonesia dan Belanda. Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung di Den Haag, Belanda, menghasilkan salah satu keputusan penting yaitu menunjuk De Javasche NV sebagai bank sentral untuk Republik Indonesia. De Javasche NV adalah bank komersil dari sirkulasi milik pemerintah Kolonial Belanda yang sudah berdiri sejak tahun 1828.78 De Javasche NV didirikan dalam rangka membantu pemerintah Belanda untuk mengurus keuangannya di Hindia Belanda pada waktu itu. Selain itu, De Javasche Bank didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai bank sirkulasi yang bertugas mencetak dan mengedarkan uang.79

Berikutnya, mengingat pentingnya peranan bank sentral yang bersifat nasional bagi perekonomian suatu negara yang merdeka dan berdaulat, maka pada 30 April 1951, Menteri Keuangan, Mr. Jusuf Wibisono, mengumumkan maksud pemerintah untuk menasionalisasikan De Javasche Bank. Dalam keterangan pemerintah dihadapan Dewan Perwakilan Rakyat pada 28 Mei 1951, Pemerintah mengemukakan keinginan untuk menasionalisasikan De Javasche Bank.

Pengumuman tersebut segera ditindaklanjuti dengan pembentukan suatu panitia oleh pemerintah pada 19 Juni 1951 dengan nama panitia Nasionalisasi De Javasche

77 Dawam Raharjo, Bank Indonesia Dalam Kilasan Sejarah Bangsa, (Jakarta: LP3ES, 1995), hal. 50.

78 Didik J. Rachbini dkk, Bank Indonesia Menuju Independensi Bank Sentral, (Jakarta: PT.

Mandi Mulyo, 2000), hal. 1.

79 http://www.bi.go.id/id/tentang-bi/museum/sejarah-bi/pra-bi/Pages/sejarah_prabi_1.aspx diakses pada Sabtu, 10 Februari 2018 pukul 13.45 WIB.

 

Bank berdasarkan keputusan pemerintah No. 118 tanggal 2 Juli 1951.80 Terdapat tiga tugas panitia Nasionalisasi De Javasche Bank masing-masing; pertama, mengajukan asal-usul mengenai langkah-langkah nasionalisme; kedua mengajukan rancangan Undang-Undang nasionalisme dan ketiga merancang UU baru tentang bank sentral. Rancangan Undang-Undang tersebut diajukan ke DPR dan dibahas di DPR pada 10 April 1953. Setelah diadakan beberapa perubahan penting rancangan UU tersebut sudah disahkan menjadi Undang-Undang No. 11 tahun 1953 tanggal 19 Mei 1953 tentang penetapan UU pokok Bank Indonesia yang diumumkan pada tanggal 2 Juni 1953 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 1953.

Undang-Undang Pokok Bank Indonesia menetapkan pendirian Bank Indonesia untuk menggantikan fungsi De Javasche Bank sebagai bank sentral.

Terdapat tiga tugas utama De Javasche Bank yakni di bidang moneter, perbankan dan sistem pembayaran. Di samping itu, Bank Indonesia diberi tugas penting lain dalam hubungannya dengan Pemerintah yakni membantu pemerintah sebagai agen pembangunan untuk mendorong kelancaran produksi dan pembangunan serta memperluas kesempatan kerja guna meningkatkan taraf hidup rakyat, sebagai kasir pemerintah dan banker’s bank. Meskipun Bank Indonesia merupakan bank sentral tapi Bank Indonesia masih melanjutkan fungsi bank komersial yang dilakukan oleh DJB sebelumnya.81

Pada 1967 peran BI sebagai kasir pemerintah berdampak buruk bagi masyarakat. Hal tersebut terlihat ketika terjadi hiperinflasi akibat pencetakan uang besar-besaran untuk menutupi defisit fiskal. Sehingga fungsi BI sebagai bank

80 Dawam Raharjo, Bank Indonesia Dalam Kilasan Sejarah Bangsa, (Jakarta: LP3ES, 1995), hal. 60.

81 www.bi.go.id/id/tentang-bi/profil/Documents/07_sejarah_rev1.pdf diakses pada Sabtu, 10 Februari 2018 pukul 14.00 WIB.

 

komersial pada Undang-Undang baru yakni UU No. 3 tahun 1968 dihapuskan, sedangkan tugas yang lain seperti tugas sebagai agen pembangunan, kasir pemerintah, dan bank banker’s masih dipertahankan. Tugas tambahan tersebut membuat BI sangat didikte oleh pemerintah yang membuat transparansi dan akuntabilitasnya sangat lemah. Sehingga menyebabkan terjadinya krisis moneter 1997 yang berdampak besar bagi reformasi indonesia, terutama status dan kedudukan Bank Indonesia sebagai bank sentral.

Tahun 1999 merupakan tonggak reformasi Bank Indonesia, sesuai dengan UU No.23 tahun 1999 tantang Bank Indonesia yang menyatakan bahwa Bank Indonesia merupakan lembaga negara yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya memelihara kestabilan nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, Bank Indonesia mempunyai tugas menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran serta mengatur dan mengawasi perbankan. Bank sentral pun dituntut untuk transparan dan memenuhi akuntabilitas publik dalam menetapkan kebijakannya serta terbuka bagi pengawasan oleh masyarakat.82

Pada 2004, Undang-Undang Bank Indonesia diamandemen dengan fokus pada aspek penting yang terkait dengan pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia, termasuk penguatan governance. Adapaun perubahan dan tambahan lain dalam Undang-Undang ini antara lain penetapan saasaran inflasi oleh pemerintah (inflation targeting framework), penundaan pengalihan tugas pengawasan bank dan pembentukan Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI). Undang Republik

82 Undang-Undang BI No. 23 Tahun 1999 diakses melalui www.bi.go.id/id/tentang-bi/uu bi/ pada Sabtu, 10 Februari pukul 23.52 WIB.

 

Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia juga menyatakan bahwa Bank Indonesia adalah badan hukum berdasarkan undang- undang ini.83 Kemudian tahun 2009, Undang-Undang Bank Indonesia kembali diamandemen dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undan-Undang (PerPPU) No. 2 tahun 2008 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang N0. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia menjadi Undang No.6 tahun 2009. Undang-Undang ini diamandemen sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan terkait krisis global yang berawal dari Amerika Serikat dan dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan perbankan nasional menghadapi krisis melalui peningkatan akses perbankan terhadap Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek (FPJP) dari bank indonesia.