Afdhal, Ahmad Fuad, Tips & Trik Public Relations, (Jakarta: Grasindo, 2008).
Ardianto, Elvinaro dan Anees, Bambang Q, Filsafat Ilmu Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007).
Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007).
Bank Indonesia, Buku Panduan Uang Rupiah, (Jakarta: Direktorat Pengedaran Uang Bank Indonesia, 2011).
Basri, Amran, Hukum Perbankan Indonesia, (Medan: Universitas Al-Azhar, 2006).
Bungin, Burhan, Metode Penelitian Kuantitatif, (Jakarta: Prenada Media Group, 2005).
Bungin, Burhan, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Politik, dan Ilmu Sosial Lainnya, (Jakarta: Kencana, 2009).
Effendi, Onong Uchjana, Human Relations dan Public Relations, (Bandung:
Mandar Maju, 1993).
Effendi, Onong Uchjana, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 1992).
Emery, Edwin, Introduction to Mass Communcations, 9th ed. (New York:
Happerrow, 1998).
Gunawan, Imam, Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (Jakarta, PT Bumi Aksara, 2013).
Iswari, Andriana Noro, Efektifitas Kegiatan Media Relations Melalui Humas Di Bank Indonesia, Skripsi S1, Universitas Sebelas Maret Surakarta 2010.
Jefkins, Frank, Public Relations, (Jakarta: Erlangga, 2002).
Kasali, Rhenald, Manajemen Public Relations, (Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 2003).
Krisyantono, Rachmat, Public Relation & Management Crisis, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2015).
Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi) (Bandung:
Remaja Rosdakarya Offset, 2014).
Mulyana, Deddy, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2003).
Murtopo, Ali, Strategi Kebudayaan. (Jakarta: Center for Strategic and Internasional Studies-CSIS, 1978).
Nova, Firsan, Crisis Public Relations. (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2011).
Olii, Helena, Opini Publik, (Jakarta: PT Indeks, 2007).
Pearce II, John A. dan Robinson Jr, Richard B, Manajemen Strategis 10, (Jakarta:
Salemba Empat,2008).
Pohalan, Rusdin, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Yogyakarta: Lanarka, 2007).
Prayudi, Penulisan Naskah Public Relations, (Yogyakarta: penerbit andi, 2007).
Putra, G.I., Manajemen Hubungan Masyarakat, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008).
Rachbini, Didik J. dkk, Bank Indonesia Menuju Independensi Bank Sentral, (Jakarta: PT. Mandi Mulyo, 2000).
Raharjo, Dawam, Bank Indonesia Dalam Kilasan Sejarah Bangsa, (Jakarta:
LP3ES, 1995).
Rangkuti, Freddy, Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis, (Jakarta: PT Gramedia pustaka utama,2013).
Regester. dkk. Risk Issues and Crisis Management in Public relations, (New Delhi:
Crest Publishing House, 2003).
Ruslan, Rosady, Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi, (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 1999).
Ruslan, Rosady, Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006)
Smith, Ronald D, Strategic Planning For Public Relations, (Lawrence Erlbaum Associates, 2002, USA).
Soemirat, Soleh dan Ardianto, Elvinaro, Dasar-Dasar Public Relations, (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2010).
Steiner, George dan Mineer, John, Manajemen Strategik, (Jakarta: Erlangga).
Subroto, Hendro, Dewan Revolusi PKI, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2008).
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Alfabeta, 2010).
Sukandarrumidi, Metodelogi Penilitian: Petunjuk Praktis Untuk Peneliti Pemula, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2002).
Surianto, Rustan, Mendesain Logo, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009).
William F. Glueck dan Lawrence, Jauch, Manajemen dan Strategis Kebijakan Perusahaan, (Jakarta: Erlangga, 1989).
Yulianita, Neni, Dasar-Dasar Public Relations, (Bandung: Pusat Penerbit Universitas, 2007).
Internet
http://kbbi.web.id/isu, diakses pada Rabu 1 Februari 2018.
http://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Pages/sp_1810716.aspx, diakses pada Selasa, 13 Februari 2018.
http://www.bi.go.id/id/tentang-bi/fungsi-bi/misi-visi/Contents/Default.aspx, diakses pada Sabtu, 10 Januari 2018.
http://www.bi.go.id/id/tentang-bi/fungsi-bi/status/Contents/Default.aspx, diakses pada Sabtu, 10 Januari 2018.
http://www.bi.go.id/id/tentang-bi/fungsi-bi/tujuan/Contents/Default.aspx, diakses pada Sabtu, 10 Januari 2018. pukul 23.50 WIB.
http://www.bi.go.id/id/tentang-bi/fungsi-bi/tujuan/Contents/Pilar1.aspx, diakses
kelembagaan/negara/Contents/Default.aspx, diakses pada Sabtu, 24 Februari 2018.
http://www.bi.go.id/id/tentang-bi/museum/sejarah-bi/pra-bi/Pages/sejarah_prabi_1.aspx, diakses pada Sabtu, 10 Januari 2018.
http://www.bi.go.id/id/tentang-bi/museum/sejarah-bi/pra-bi/Pages/sejarah_prabi_1.aspx, diakses pada Sabtu, 10 februari 2018.
https://finance.detik.com/moneter/3399459/mengintip-proses-cetak-uang-rupiah, diakses pada Selasa, 13 Februari 2018.
https://kumparan.com/@kumparannews/habib-rizieq-ada-palu-arit-di-uang-baru, diakses pada Senin, 12 Maret 2018.
https://melawinews.com/2016/11/12/netizen-heboh-logo-bi-uang-rp-100-ribu-ada-gambar-palu-arit/, diakses pada Rabu, 7 maret 2018.
https://news.detik.com/kolom/d-3568784/redenominasi-rupiah, diakses pada Minggu, 12 Maret 2018.
https://www.bi.go.id/id/publikasi/gerai-info/Pages/geraiinfo-64-Komunikasi-Dinamis-Ala-Bank-Sentral.aspx, diakses pada Minggu, 12 Maret 2018.
https://www.erepublik.com/id/article/arti-lambang-palu-arit-dalam-gerakan-komunis-internasional-2273485/1/20, diakses pada Minggu, 31 Desember 2017.
Situs resmi Bank Indonesia www.bi.go.id, diakses pada 27 Juli 2017 pukul 11.24 www.bi.go.id/id/tentang-bi/profil/Documents/07_sejarah_rev1.pdf diakses pada
Sabtu, 10 Februari 2018.
Hadiono, Strategi Komunikasi Pemasaran PT Global Informasi Bermutu (Global TV) Jakarta Dalam Perubahan Logo, artikel diakses pada kamis, 8 Februari 2018 dari https://hadiono.wordpress.com/2008/10/03/.
halttp://nasional.kompas.com/read/2017/01/11/18334631/rizieq.akan.laporkan.gu bernur.bi.menkeu.dan.peruri.soal.logo.palu.arit, diakses pada 4 Juli 2017.
http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/572/jbptunikompp-gdl-tonyvancha-28556-10-unikom_t-i.pdf, diakses pada Minggu, 31 Desember 2017.
https://nasional.kompas.com/read/2016/05/31/21560771/pbnu.ada.lima.alasan.pki.
tidak.boleh.ada.di.indonesia, diakses pada Rabu, 7 maret 2018.
https://regional.kompas.com/read/2016/04/07/14013651/Buktikan.Klaim.sebagai .Ormas.Terbesar.NU.Terbitkan.Kartu.Anggota.Nasional, diakses pada Minggu, 12 Maret 2018.
Undang-Undang BI No. 23 Tahun 1999, diakses melalui www.bi.go.id/id/tentang-bi/uu bi/ pada Sabtu, 10 Februari 2018.
www.bi.go.id/id/tentang-bi/organisasi/Documents/visi_dkom.pdf, diakses pada Kamis, 1 Maret 2018.
Wawancara dengan Pak Andi Wiyana, Deputi Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Senin, 18 Desember 2017 di Gedung Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Jakarta Pusat.
Q: Pewawancara A: Narasumber
Q : Menanggapi isu logo palu arit pada pecahan uang Rupiah emisi 2016.
Isu tersebut menjadi kontroversial di media massa. Isu tersebut dianggap berkaitan dengan PKI, reputasi BI menjadi rendah. Isu tersebut tingginya di bulan Januari 2017, kemudian di bulan Februari reda dan malah hilang. Yang ingin saya tanyakan dalam skripsi saya strategi Public Relations (PR) Bank Indonesia (BI) sehingga isu yang tadinya kontroversial bisa redup?
A : Dalam menangani isu kita tidak bisa menggunakan strategi komunikasi yang secara umum. Strategi yang kita jalankan kemarin adalah strategi komunikasi menghadapi krisis, krisis manajemen di bidang komunikasi. Jika berbicara terkait krisis manajemen kita harus jernih melihat permasalahannya, dimana dan kenapa masalah itu muncul. Terutama kepada bank sentral seperti BI yang tidak boleh cepat bereaksi. Bank indonesia adalah bank sentral, sebagai bank sentral ada 2 hal yang harus dijaga, pertama adalah keberadaan BI ditengah-tengah publik di Indonesia, jika dihipotesakan pertanyaannya adalah indonesia butuh apasi dari bank Indonesia.
yang kedua adalah keberadaan BI di tengah-tengah komunitas Bank sentral dunia yang dimana harus mempunyai common practice atau etika bisnis, artinya bank sentral itu power full tidak bisa marah-marah di depan publik karena nanti masyarakat akan berpikir bagaimana bisa jagain ekonomi kalo bank sentralnya sendiri pun pemarah. Harus tenang, harus cool, tidak terburu-buru, harus conservative, walaupun indonesia mungkin membutuhkan bank sentral yang agresif.
Saat itu kita maping dimana adanya isu tersebut, ternyata isu tersebut berada di sosial media yang bocor ke online. Sekarang kita lihat mayoritas media massa di indonesia adalah media online. Dan media online mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, bisnis modernnya berbeda-beda. Ada 3 motif orang membuat media online
1. Orang-orang jurnalistik yang mempunyai idealisme jurnalistik lalu memlih channel, apakah membuat media electronic seperti TV, Radio, media cetak seperti koran, majalah dsb atau memilih media online. Jadi media online adalah wadah untuk menuangkan idealisme jurnalistiknya.
2. Di dorong bisnis motif untuk memperluas jangkauan audience, seperti orang yang sudah mempunyai koran, radio, TV tapi ingin memperluas jangkuan audiencenya dengan membuat media online seperti tempo.co, republika.co.id, kompas dsb untuk kelengkapan.
3. Motif yang ketiga adalah orang yang ingin bisnis di online, pilihannya adalah membuat market place seperti go jek, traveloka atau virtual.
Media sensasional (yang ketiga) tidak belajar etika jurnalistik, kaidah jurnalistik, yang penting memiliki uang. Semakin kontroversial berita yang dibuat maka akan semakin menarik. Dari ketiga kategori tersebut rupanya masalah kontroversial muncul di yang ketiga. Dia bukan teman-teman jurnalistik yang bekerja di online.
Strategi yang saya gunakan bukan strategi jurnalistik, tetapi membalas sensasional informasi. Yang mau diseimbangkan adalah sensasionalnya jika unsur sensasionalnya tidak lagi sensasional (berhenti). Kalau di jurnalistik, maka saya harus berargumen jurnalistik, faktanya harus dijelaskan. Namun tidak dalam kasus media yang menyebarkan informasi sensasional ini.
Saya di sini membuat fakta yang sensasional. Setelah saya amati ternyata ini ada unsur politiknya. Namun saya tidak bicara soal politiknya, saya akan memberitahu cara menghadapinya. Tetap fakta yang dikeluarkan tetapi fakta yang sensasional supaya mereka mengcounter. Mereka mnegatakan bahwa presiden yang sekarang tidak peduli dengan isu komunis. Presiden yang sebelum-sebelumnya juga tidak peduli tentang komunis namun isu ini baru merebak sekarang. Lalu mengapa dulu isu ini tidak merebak?
Q : Sebetulnya siapa yang mendorong isu ini. Kenapa isu ini dulu tidak merebak dan sekarang baru merebak?
A : Saya bukan pengikut presiden manapun. BI tidak boleh berpolitik (independen). Ini sudah ada sejak tahun 2000. Saya bicara dengan kelompok pertama, ini undang-undang dan keputusannya, ini dulu memakai SK Presiden
tahun 2000. Itu jika berhadapan dengan orang dari jurnalistik. Jika berhadapan dengan orang bisnis seperti ini, saya akan bicara dari proses pembuatan uang, sistem pengamanan dan sebagainya. Jadi umpamanya ada kericuhan pertandingan sepak bola, kita harus mengetahui siapa yang menyebabkan kericuhan, apakah pemainnya, supporternya atau pengurusnya. Jika pengurusnya, kita akan berbicara mengenai bisnis. Yang terakhir saya katakan, saya mengirim sinyal kepada orang-orang politik, saya tahu bahwa sedang terjadi pertengkaran politik. Jika terjadi hal seperti ini tolong jangan memakai isu mengenai BI. Jika isu mengenai BI ini digunakan, maka siapapun penguasanya nanti akan jadi repot. Kita pernah mengalami krisis ekonomi dan waktu yang dibutuhkan untuk recovery paling lama di dunia (15 tahun). Artinya kalau ingin menjatuhkan presiden dengan cara seperti ini maka akan berdampak pada presiden selanjutnya yang akan mengalami kesusahan. Tapi itu adalat the art of communication (tidak bisa dibicarakan). Jadi kita mengirim sinyal untuk menghentikan keributan di bidang ini (BI).
Q : Di uang baru tersebut logo berubah, sebenarnya sama hanya saja pengamannya dirubah, namun kenapa pengemannya terlihat seperti logo palu arit?
A : Tidak juga, itu kan dipotongnya diagonalnya, tidak mirip sama sekali dengan logo palu arit.
Q : Kenapa tidak memakai desain lain?
A : Karena memang logo BI seperti itu, dipotongnya secara diagonal dan itu tidak untuk dilihat di satu sisi, itu harus dilihat utuh. Jika dilihat dari jauh akan terlihat logo BI nya, namun dari dekat ini terlihat dipotongnya. Ini hanya masalah persepsi/cara pandang. ini masalah yang harus diluruskan oleh anda dan teman-teman di kampus.
Q : Apakah pemotongan logo BI tersebut diatur dalam undang-undang?
A : Tidak, itu murni masalah security (keamanan). Bagaimana cara yang paling susah untuk ditiru, karena harus memiliki mesin cetak yang presisi di bagian depan dan belakang.
Q : Masyarakat yang belum teredukasi pastilah akan terbawa isu saja kalau ini adalah logo palu arit, bagaimana cara mengatasinya?
A : Itulah sebabnya mengapa kita tidak melakukan campaign di media-media konvensional/media online besar karena masalahnya tidak terjadi di situ. Ini terjadi di media online tipe 3. Di Kompas dan Tempo juga ada penjelasan-penjelasan yang sebetulnya di awal-awal tidak kita lakukan, baru ada di akhir-akhir saja.
Q : Pak Agus menjelaskan di Kompas, ada atau tidakkah koordinasi antara Pak Agus dengan Depkom?
A : Iya tentu saja, kita yang membuat semuanya. Kita membuat yang namanya pesan utama,, kita desain poin-poin apa yang akan disampaikan/dijelaskan kepada masyarakat. Kalau yang ditanya bagaimana menjawabnya, itu harus dijawab sesuai dengan desain kita. Bukan hanya untuk Pak Agus namun ke semua pimpinan BI.
Jadi siapapun yang ditanya maka jawabannya sama. Kalau sudah komunikasi krisis, yang penting kita harus cepat, tidak membuat kegaduhan yang berlebih dan konsistensi semua orang menjawab sama dan tahu kapan harus berhenti. Jika sudah selesai ya sudah. Kita lebih banyak berkomunikasi di luar media, kita berkomunikasi dengan dengan pesantren-pesantren, pemuka masyarakat/pemuka agama itu lebih banyak dengan cara bertemu langsung. Seperti bertemu dengan ketua MUI, NU dan Muhammadiyah. Di seluruh Indonesia, kita bertemu dengan pesantren-pesantren besar karena itu isunya lebih banyak ke muslim. Kita bertemu stakeholder di wilayah/daerah-daerah. Karena ini dipicu dari sosial media kemudian dimasukkan ke media online yang orientasinya bukan jurnalistik.
Q : Isu ini kontroversial juga karena ada stakeholder umat muslim seperti Habib Rizieq yang mengatakan ini logo PKI dan mau melaporkannya.
Strategi dari BI untuk mengcounter hal itu seperti apa?
A : Saya bertemu dengan Habib Rizieq langsung, kita jelaskan Habib Rizieq bilang bahwa ia harus mengatakan ke umatnya. Habib Rizieq tidak terima karena Habib Rizieq adalah orang yang sensasional. Kami juga bertemu dengan gurunya Habib Rizieq . saya bilang ke Habib, “Bib, kalau kita ribut, terus Habib ketahuan salah lan nanti rugi”. Saya memberitahu faktanya saja. Karena kan isu tersebut kontroversial karena ada stakeholdernya yang mendukung.
Q : Apakah peluncuran uang baru tersebut sudah ada undang-undangnya?
A : Undang-undang mata uang tahun 2013 (kalau tidak salah) bahwa ada batas waktu (tentang uang NKRI).
Q : Apa saja hambatan yang dialami BI dalam melakukan strategi-strategi tersebut?
A : Begini, tidak semua yang saya tahu bisa dibicarakan dan tidak bisa semua orang mengerti apa yang terjadi. Sehingga yang tidak mengerti ini, demografinya lebih banyak anak muda daripada orang tuanya. Anak muda ini senang lah lucu-lucuan apalagi sekarang dengan adanya sosial media mereka bermain ledek-ledekan. Jika ada masalah atau kegagalan terus- menerus ya kita meminta maaf. Ini masalah-masalah teknis yang sedang mencari sensasi dan kita balas dengan sensasi juga.
Q : Logo BI ini diganti setelah ada isu tersebut?
A : Tidak, logo tetap seperti itu. Kalau kita ganti berarti kita membenarkan isu tersebut. Setiap masalah kita selesaikan di tempatnya harus mapping dengan baik masalahnya dimana dan kenapa. Kita harus tenang. Oh, ternyata masalah yang lari ke sosial media, sosial media yang bagaimana, yang sensasional atau tidak.
Hambatannya hanya di persepsi masyarakat dan ada yang membangun isu tersebut.
Wawancara Pribadi dengan Asmono Wikan, Praktisi PR, Direktur Serikat Perusahaan Pers (SPS) dan PR Indonesia, pada Jum’at, 23 Februari 2018 di Kebon Sirih, Kantor Serikat Perusahaan Pers, Jakarta.
Menanggapi isu logo palu arit pada pecahan uang Rupiah emisi 2016. Isu tersebut menjadi kontroversial di media massa. Isu tersebut dianggap berkaitan dengan PKI, reputasi BI menjadi rendah. Isu tersebut tingginya di bulan Januari 2017, kemudian di bulan Februari reda dan malah hilang.
Q : Yang ingin saya tanyakan dalam skripsi saya strategi PR sehingga isu yang tadinya kontroversial bisa redup? Strategi PR ada 4 yaitu identifikasi, analisis, implementasi strategi dan evaluasi. BI pertama tama mengidentifikasi terlebih dahulumunculnya isu tersebbut paling besar dimana? Ternyata di media online. Setelah ditelusuri dibuatlah klarifikasi oleh BI bahwa ini adalah rectoverso dan bukan logo PKI. Semua internal BI menjadi PR sekaligus media yang menyalurkan berita klarifikasi mengenai isu ini ke masyarakat. Yang ingin saya tanyakan adalah pertama dari segi pandangan praktisi PR, kira apakah kalau dari kerangka media kira-kira seharusnya penggunaan media dalam mengantisipasi isu tersebut seperti apa?
A : Sebenarnya banyak isu yang didrive oleh media sosial. Saat ini lebih mudah dalam tanda kutip kita mengorganisir isu yang muncul di media konvensional misal cetak, jadi itu lebih mudah. Kenapa? Karena jelas user/playernya itu siapa. Kalau di media online dalam bentuk portal itu juga mudah tapi jika situsnya anonim maka akan sulit. Tapi sepengetahuan saya, isu yang kemarin itu munculnya dari sosial media. Ada yang mempost kemudian ia coba kaitkan dengan logo PKI. Apalagi di tahun 2017 itu ingatan orang masih belum lupa mengenai Jokowi yang waktu itu diblack campaign sebagai pedoman PKI itu masih ada. Nah mengapa?. Kalau orang nomor satu yang terkena isu ini kan sulit.
Saya punya kepercayaan, saya punya teori begini, ketika isu itu semakin keras, maka akan sulit bagi orang-orang akan mengcounter isu. Maka yang paling tepat dilakukan adalah isu itu didiamkan pada tingkat tertentu. Karena begitu isu itu dicounter terus oleh orang itu sendiri akan sulit. Atau yang kedua ada yang namanya
organik sistem yang muncul secara natura untuk mengcounter isu itu. Meskipun kadang-kadang itu menjadi sebuah keajaiban. Jadi, kembali ke pangkal soal bagaimana mengolah isu, saya kira mungkin untuk di media konvensional itu sudah di siapkan platform komunikasinya ketika mau dirilis mata uang ini. Bahkan waktu itu Peruri sempat ikut mengalami kerepotan meredam isu supaya tidak berkeliaran sampai di jalanan. Jadi, semestinya kalau ini belum dilakukan oleh Bank Indonesia maka ini perlu dijaga ke teman-teman di BI. Maksudnya, BI sudah menyediakan platformnya untuk menjawab segala kemungkinan bahwa isu logo palu arit ini akan muncul.
Saya tidak tahu tapi bila BI sudah mengantisipasi itu semestinya isu itu harus segera diatasi lebih cepat. Sayangnya sentimen orang terhadap isu itu kuat sekali.
Jangankan orang memastikan, mendengar ada yang mengatakan itu saja cepat
‘kebakaran jenggot’. Audiens kita di kelompok sosial media ini sangat-sangat sensitif. Perilaku mereka memang tidak bisa dikendalikan.
Q : Apalagi isu tersebut ibaratnya ditunggangi langsung oleh ketua FPI, Habib Rizieq, waktu itu yang langsung melaporkan Menteri Keuangan dan Gubernur BI yang otomatis masyarakat pun semakin tinggi antusiasmenya dalam memerhatikan isu tersebut?
A : Tapi coba kita lihat ketika Habib Rizieq pergi dari negeri ini, isu itu hilang dengan sendirinya. Ya sebenarnya tidak ada hubungannya sih dengan Habib Rizieq.
Saya kira jawabannya awal saya adalah bahwa semestinya ada proses melakukan antisipasi terhadap isu apapun ketika mau meluncurkan suatu produk yang benar-benar sangat besardan bakal mempunyai magnitudo yang kuat pada publik harusnya ada. Kalaulah misalnya isunya itu menjadi aneh-aneh pun smestinya sudah ada pagar pengaman bahwa ini adalah sebuah visual mata uang dan itu harus berulang-ulang. Sekarang kan orang-orang itu main keras-kerasan suara. Kalau kita kalah suara ya akan sulit. Makanya kalau kita tidak mungkin untuk bersuara keras/
kalah keras lebih baik kita diam kemudian kita melakukan kampanye yang lebih edukatif. Pada akhirnya jika isu ini muncul di publik, secara alami adalah bahwa orang mengatakan begini, oh tidak, yang dituduhkan itu bukan sesuatu yang benar.
Jadi, orang yang terkena isu ituakan mendapatkan endorsment dari publik yang
teredukasi secara diam-diam tadi. Daripada kita harus berbenturan, saling teriak keras-kerasan padahal belum tentu suara kita lebih keras.
Q : Saya sudah tanyakan kepada Pak Andi, kenapa logo BI tersebut harus dibuat secara rectoverso dan potongan diagonalnya menyerupai logo palu arit milik PKI. Mengapa tidak dibuat bentuk lain yang tidak menyerupai logo tersebut. Menurut Pak Andi, itu hanya masalah persepsi saja. Pada kenyataannya itu adalah rectoverso. Dari pandangan PR sendiri, apa hal terpenting untuk mengcounter isu ini?
A : Yang pertama adalah pemetaan stake holder. BI sebenarnya tidak menyangka kalau ini akan menjadi kontroversi maka dia tahu kepada siapa dia akan meredam isu tersebut. Artinya ada pre isu yang harus disiapkan. Apapun kebijakan yang akan kita keluarkan harus di test to water dulu supaya meminimalisir dampak negatif dari kebijakan baru. Terkadang lembaga pemerintahan terlalu percaya diri untuk tidak melakukan test to water sebuah kebijakan. Mereka mengira kebijakan ini akan diterima oleh masyarakat begitu saja. Padahal belum tentu. Tapi saya tidak tahu apakah Bank Indonesia (BI) melakukan itu.
Bagi saya, sebagai pengamat, dalam common sense Public Relations (PR) harusnya seperti itu. PR harus membentengi sebuah kebijakan baru. PR harus membuat stake holder mapping dahulu, apakah kebijakan baru ini akan diterima atau tidak. Jika tidak, maka yang harus dilakukan BI dalam hal ini adalah harus mengatakan pada divisi kreatifnya untuk melakukan penyesuaian pada desain pecahan mata uang Rupiah yang baru. Setelah itu, baru bisa diluncurkan. Sekarang pertanyaannya
Bagi saya, sebagai pengamat, dalam common sense Public Relations (PR) harusnya seperti itu. PR harus membentengi sebuah kebijakan baru. PR harus membuat stake holder mapping dahulu, apakah kebijakan baru ini akan diterima atau tidak. Jika tidak, maka yang harus dilakukan BI dalam hal ini adalah harus mengatakan pada divisi kreatifnya untuk melakukan penyesuaian pada desain pecahan mata uang Rupiah yang baru. Setelah itu, baru bisa diluncurkan. Sekarang pertanyaannya